Category Archives: Puisi

Hari #3, Sebagaimana Juni

tak lagi bisa kusekap segalamu
dalam ruang kenangku
kau telah menjadi seekor burung bebas
yang tak butuh rumah kembali

adakalanya aku merasa menjadi semesta
yang menaungi air mata dan cerita
dan bila malam tiba, seluruhku
akan memelukmu dari hujan bulan juni
yang dingin dan tabah itu
aku lupa pada sisasisa debu
yang lengket di wajah, menjadi jerawat kecil atau komedo
karena kututup mata ketika hidung kita bertemu
bertingkah laiknya orang eskimo
bertukar napas yang menderu

kemudian udara menjauh, kau mengibasnya
angin terakhir musim kemarau ingin pergi juga
ke kutub utara, katamu

aku tak tahu, aku tak tahu
apakah kau mengenangku
seperti aku mengenangmu
apakah ciumanmu seperti
juga ciumanku yang pertama
begitu pasrah menerima

tapi pertanyaanpertanyaan itu
hanyalah kerikil yang dilempar ke sungai
menanti tenggelam dan hanyut

seperti juga kenanganku, yang tak seorangpun tahu

Kesedihan

aku akan memulai cerita ini dengan kita

di ruang keluarga, televisi menyala, pembaca berita berkata

pertumbuhan ekonomi indonesia melambat, rakyat

bersedih, pejabat

bersuka cita dan negara dalam angan-angan

memiliki kebebasan berbuat, keadilan

pada titik itu, keadilan tidak menarik

aku menghabiskan dua piring nasi goreng karena

tubuhku yang besar, mandi dengan dua ember air

dan menghabiskan satu sabun dalam seminggu

sementara kau hanya minta setengahnya

keadilan tidak berarti semua orang harus hidup

dan dunia dipenuhi rumah susun, berlantai tiga ratus tiga tujuh

satu keluarga butuh waktu seumur hidup untuk turun tangga;

keluarga kita yang sederhana

memimpikan taman dengan bunga-bunga

tanaman labu siam yang merambat di pagar

semut pekerja yang menunggu mati 45 hari lagi

semua itu hanya ada dalam cerita

dan aku memelukmu, pelukanmu

yang lama tak kukenakan

kesedihanku bermula, berakhir juga dari dirimu

tak dapat memberikan hal paling berharga

sebagai hadiah ulang tahunmu nanti

membuatku patah, ranting kering di musim kemarau kemarin

aku harus katakan, mencintaimu dengan cara ini

adalah satu-satunya

tak akan ada yang bisa menirunya, dan meletakkan namamu

dalam fiksi-fiksi mereka

 

Pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku adalah yahudi terkutuk
yang berjalan, tak sampai-sampai

hingga malam demi malam hanya untuk
sebuah gerhana penuh
berwarna merah darah

yang kemudian dikhianati mendung
hanya seekor burung muda tersesat
di langit, terbang, tak tahu pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku begitu muda, ingat pulang
tapi tak punya tempat.

Tips Menulis Puisi Pringadi Abdi Surya

Menulis adalah proses. Baru beberapa tahun belakangan, menulis adalah sesuatu yang populer. Di blog, di media sosial mana pun, bermunculan berbagai tulisan dan orang-orang yang ingin menulis, ingin menjadi penulis, ingin menerbitkan buku. Hal ini positif di satu sisi, karena buku akan menjadi semakin banyak, dan kita tidak akan kekurangan bacaan. Namun seringkali ada satu hal yang dilupakan, menulis adalah proses, bukan sesuatu yang instan. Segala hal yang berbau instan akan meminimumkan kualitas, kecuali mie instan (Hidup anak kos!).

 

Saya selalu mengingat, ada empat kemampuan berbahasa

1. Menyimak.

Menyimak itu pekerjaan yang melibatkan indra, yakni melihat, mendengar segala sesuatu dengan seksama, dengan detil, dengan khusuk dan tawadhu. Menyimak juga berarti melatih kepekaan kita sebagai manusia terhadap lingkungan sekitar.

2. Membaca

Ada satu hal yang menjadi titik tumpu dari membaca, yakni analisis. Membaca bukan berarti membaca buku, tapi membaca adalah sebuah proses belajar. Adalah hal yang normal, dan sangat normal, jika kita membaca, pertanyaan-pertanyaan hadir di benak kita. Ada usaha untuk memahami hal-hal yang kita baca: buku, situasi, perasaan…

3. Menulis

Hukum alam, input ~ output. Artinya, semakin banyak kita membaca, semakin banyak kita ingin menulis. Menulis adalah upaya penegasan atas pertanyaan yang hadir tatkala kita membaca, baik itu berupa jawaban atas pertanyaan, pengulangan atas pertanyaan itu, atau kegundahan yang mendalam karena kita tidak kunjung mendapatkan jawaban.

4. Berbicara

Adalah hal yang baik bila anak-anak kita diajarkan berbahasa sejak dini. Berbahasa yang baik dan benar lebih cepat merangsang otak seorang anak ketimpang pelajaran matematika. Sebab bahasa adalah tentang struktur, cara berpikir, ketenangan dalam menyusun kata untuk menyampaikan informasi secara tepat. Pada saat berbicara, itu bisa berarti kemampuan otak dalam membuat kalimat dan memerintahkan mulut untuk mengucapkannya sama baiknya. Berbicara yang tepat adalah kita telah memahami hal yang hendak kita katakan, bukan sekadar asal bunyi.

 

Menulis Kreatif

Kreatifitas adalah kemampuan untuk mencipta, berinovasi. Secara alami, manusia adalah makhluk yang kreatif, meski banyak hambatan untuk menuju kreativitas.

Hambatan terbesar justru datang dari pengalaman masa kecil, ketika orang tua dan lingkungan membiasakan kita dengan kata “Jangan begini, jangan begitu…” atau kata “Tidak boleh ini dan itu..” Kita telah terbiasa dengan larangan. Padahal hukum agama pun asalnya mubah/diperbolehkan, ketika itu menjadi larangan di kitab suci, dengan alasan yang kuat, ia baru menjadi haram. Begitu pun seharusnya manusia, yang membolehkan, membebaskan anak-anaknya untuk mencoba hal ingin mereka lakukan, kecuali hal itu berefek pada keselamatan atau nyawa si anak.

Secara singkat, hambatan-hambatan lainnya adalah

1.       Kebiasaan. Secara alami untuk berubah. Orang merasa nyaman ketika   mengikuti kebiasaannya, jadi secara alami sulit keluar dari kebiasaannya

2.       Malas. Keluar dari kebiasaan perlu usaha

3.       Kurang percaya diri. Akibat kurang pengalaman jadi kurang percaya diri

4.       Takut gagal. Karena pengalaman pernah ide-ide mereka ditertawakan atau takut dikritik orang lain.

5.       Karena pikiran kreatif dihambat oleh aturan, etika, tidak ada masalah atau         kebanjiran masalah, tidak punya waktu atau terlalu banyak waktu

 6.       Atau karena banyak pikiran lain yang mengganggu.

 

Solusinya? Salah satunya adalah dengan brainstorming. Badai otak—kata google translate.

 

Proses berpikir kreatif tidak bisa dipaksakan. Ide kreatif akan muncul pada saat kita sedang santai. Pada saat duduk di toilet itu ide paling sering muncul. Salah satu cara untuk bisa masuk mudah ke dalam tingkat getaran otak yang kreatif adalah dengan proses re-creation atau menciptakan kembali. Kita menggunakan satu karya kreatif untuk memicu aliran kreatifitas kita.

Kebanyakan orang mengatakan “saya tidak bisa menulis” karena “tidak berbakat,” juga tidak kreatif. Jika Anda bisa berbicara, menulis surat di selembar kertas, mengetahui struktur dasar kalimat, menulis pesan terima kasih, Anda memiliki keterampilan berbahasa yang cukup untuk belajar menulis secara alami. Pengetahuan mengenai tatabahasa bukan persyaratan minimal. Anda hanya perlu memanfaatkan otak Anda dengan benar sehingga memunculkan pemikiran yang kreatif.

 

Pertama, pikirkan sebuah kata benda. Kemudian, tentukan 10 kata benda lain yang langsung terlintas berhubungan dengan kata tersebut. Setelah itu, gunakan 11 kata tersebut ke dalam puisi yang kita buat.

Sebagai contoh, kata intinya adalah Prancis. Sepuluh kata yang berhubungan dengannya adalah eiffel, revolusi, roti, bahasa, cinta, perang, gantungan, perempuan, hati, pedang. Diusahakan sepuluh kata tersebut datang dengan tanpa berpikir panjang. Spontanitas. Puisi yang kemudian kuciptakan dari kata-kata tersebut seperti di bawah ini:

Kau Akan Mengajari Aku Bahasa Prancis

 

seorang pria romantis harus bisa bahasa prancis

dan memiliki cita-cita berkunjung ke eiffel

 

di sana tak akan ada tiang dan tali gantungan

yang dijanjikan pelaku korupsi satu rupiah

 

orang-orang hanya akan memadu kasih, mencicip

bibir masing-masing yang seringnya lancip

seperti pedang milik joan of arc, perempuan orleans

yang menaklukkan kuda seperti menaklukkan hati para pria

 

berbicara bahasa prancis, segala sesuatu harus dilatih

terutama lidah. kau pun mulai mengajariku makan masakan

prancis, roti prancis dan seharusnya lidah orang prancis

yang lincah dan terkenal dengan ciuman-ciumannya

 

sehingga kemudian begitu mudah mengucap revolusi

 

seorang pria romantis adalah seseorang yang memimpin

revolusi itu dan berteriak perang pria kecil

tidak cukup di atas ranjang

 

aku bertanya-tanya seberapa penting menjadi pria romantis

tapi mengingat kau akan mengajarkan aku bahasa prancis,

aku menjadi teramat bahagia

 

dan berterima kasih kepada tuhan

yang telah menciptakan kebahagiaaan

Cara kedua, adalah melihat karya seni lain. Bisa lukisan, musik, atau karya sastra yang lain. Dengan melihat karya seni lain, itu akan memantik kesadaran kesenian kita dan memicu kesadaran kreatif kita.

Ini adalah puisi Subagio Sastrowardoyo:

NADA AWAL

Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh takada titik darah. tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

 

Reaksi atas puisi tersebut:

Nada Kedua

 

pada tanah basah, aku tak akan mengeruk

rahasia. sesuatu yang terkubur

atau tertanam, akan menumbuhkan

kenyataan-kenyataan. kau tak akan butuh lisanku

yang lambat mengucap kasih

yang teramat pedih bila selalu direnungkan

atau bila nanti bertemu, biarlah

 

dalam nada kedua inilah, kita harus terpisah

 

Dan yang ketiga adalah cari sebuah puisi berbahasa asing yang benar-benar asing alias kita tidak tahu artinya. Kemudian, reka-rekalah artinya, jadikan puisi itu milik Anda. Coba perhatikan puisi di bawah ini dan silakan mencobanya.

Hagamos un trato

Si una vez adviertes que te miro a los ojos,
y una veta de amor reconoces en los míos,
no pienses que deliro,
piensa simplemente que puedes contar conmigo.
Si otras veces me encuentras huraña sin motivo,
no pienses que es flojera;
igual puedes contar conmigo.
Pero hagamos un trato: yo quisiera contar contigo,
es tan lindo saber que existes,
uno se siente vivo y cuando digo esto,
no es para que vengas corriendo en mi auxilio,
sino para que sepas tú siempre puedes contar conmigo.

Mario Benedetti

 

Semoga bermanfaat!

Buku Puisi

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih

56 puisi, 108 halaman

Harga Rp40.000,-

http://bukuindie.com/buku/puisi-sastra/aku-cukup-menulis-puisi-masih-kau-bersedih/

atau SMS/WA 085239949448

Ini bukanlah buku puisi pertamaku. 

Dulu, ketika aku masih kelewat percaya diri, aku mencetak sebuah buku puisi. Judulnya Alusi. Aku cetak sebanyak 1000 eksemplar dengan penerbitnya Pustakapujangga. Itu uang sendiri. Aku masih ingat, biaya cetaknya 5 juta rupiah. Selesai cetak, Mas Nurel mengantarkan buku itu ke Bandung. Kebetulan Aan Mansyur datang ke Bandung kala itu. Ia mengadakan bedah buku puisinya di Ultimus. Aku datang sekalian untuk berpacaran dengan Zane.

Buku puisi itu laku lebih kurang 300 eksemplar yang kujual sendiri. Di toko, ia laku sekitar 100 eksemplar saja. Sisanya aku berikan ke Mayoko Aiko, untuk dibagi-bagikan setiap kali ia mengadakan kuis atau door prize. Rugi? Tidak. Aku jual buku itu seharga Rp25.000,-. Aku masih mendapatkan uang lebih, aku pun mendapat banyak pengalaman dalam berhubungan dengan banyak orang. Aku juga belajar bahwa puisi-puisiku amatlah buruk.

Setelah itu, aku tak menerbitkan buku puisi atas namaku sendiri. Hanya ada beberapa antologi, hasil proses kurasi berbagai event yang memuat namaku. Belasan atau mungkin dua puluhan. Aku tidak terlalu memikirkan mereka sampai-sampai arsip buku-buku itu aku tak punya. Ada satu buku yang memuat cukup banyak puisiku, sekitar 40 puisi bahkan. Judulnya Sebuah Medley. Itu buku puisi atas nama dua orang, aku dan Andi Arnida Massusungan. Beliaulah yang mendanai buku tersebut dan mengajakku untuk mengikutsertakan puisiku di dalamnya.

Dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun itu, setelah Alusi pada tahun 2009, aku lebih dikenal sebagai prosais.

Aku rajin mengirimkan cerpen ke koran. Kumpulan cerpen pertamaku terbit di 2011, Dongeng Afrizal. Beberapa antologi cerita pendekku pun, termasuk dalam Temu Sastrawan Indonesia, cerpenku lah yang terpilih. Pada tahun 2014, Gramedia Pustaka Utama yang banyak didambakan penulis juga menerbitkan kumpulan cerpenku dan Sungging Raga dalam Simbiosa Alina. Ternyata keren diterbitkan GPU itu cuma mitos.

Belum cukup itu, aku pun belajar menulis novel dan kebetulan pada Lomba Novel DKJ 2014 lalu, aku masuk 11 besar. Pun ada novel yang ditulis berempat, berjudul 4 Musim Cinta, sudah digadang-gadang akan terbit 2015.

Orang-orang lupa aku menulis puisi.

Adalah Irwan Bajang yang mengemukakan ide itu pada akhir September 2014. Kami bertemu di perayaan buku puisi Khrisna Pabichara. Ia bertanya padaku, “Pring, mana puisimu, sini kuterbitkan?”

Irwan Bajang adalah pemilik Indie Book Corner. Biasanya kau tahu, untuk terbit, itu artinya kamu harus bayar biaya cetak. Tapi ini tidak. Dia meminta naskahku.

“Mulai tahun 2015 ini, aku mau menerbitkan buku-buku sastra. Dea, Kekal, Kau….” lanjutnya.

Aku sumringah dalam hati. Di balik itu aku berpikir apakah naskahku layak diterbitkan. Belakangan, aku didera penyakit tidak percaya diri pada karya-karyaku. Aku juga lebih suka menulis puisi di facebook, di blog, dan tak ada dari mereka yang dimuat di koran-koran.

“Kenapa?” tanyaku. “Aku juga punya naskah cerita, dengan konsep seperti Surga Sungsang, cerita pendek yang berkesinambungan, seperti sebuah novel, tapi belum selesai, kau mau lihat?” Aku melanjutkan pertanyaan karena aku tak siap mendengar jawaban yang pertama.

Dia mengangguk dan membaca naskahku itu. Dia memuji caraku membuka cerita. “Seperti biasanya, pembukaanmu istimewa…” katanya. “Tentang puisi itu…” lanjutnya.

“Kau serius?” sergahku dengan pertanyaan. “Bila ya, segera kukumpulkan puisiku, dan aku harap kau memilih dan memilahnya. Aku ingin sebuah konsep.”

Itulah sekelumit pembicaraan kami saat itu. Dan baru pada Maret 2015, buku itu terbit, berbarengan dengan buku puisinya Dea Anugerah.

 

Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari

Kita memasukkan diri ke dalam barisan

seperti kawanan domba yang hendak disembelih.

Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium

sol sepatu para pembunuh.

Mereka menculik anak Maryam

padahal ia masih bayi. Mereka mencuri

dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk,

dan aprikot dan rimbun semak mint,

dan lilin dari masjid-masjid.

Mereka meletakkan di tangan kita

sekaleng sarden bernama Gaza

dan sepotong tulang kering bernama

Yerikho. Mereka membiarkan kita

tumbuh sebagai tubuh tanpa tulang,

sepasang lengan tanpa jemari.

Setelah perselingkuhan rahasia yang basah

di Oslo, kita dilanda kekeringan.

Mereka memberi kita tanah air

yang lebih kecil dari sebiji gandum.

Tanah air yang akan kita telan tanpa air,

seperti sebutir aspirin.

Kita memimpikan perdamaian yang hijau

dan bulan sabit putih

dan laut biru.

Namun, kini, kita menemukan diri kita

cuma seonggok tinja.

*

Tuan Sultan

Jika ada yang menjamin keselamatanku,

jika aku mampu bertemu dengan Sultan,

aku akan mengatakan kepadanya: O Tuanku Sultan!

Anjing Tuan yang rakus merobek-robek jubahku,

mata-mata Tuan mengikutiku sepanjang waktu.

Mata mereka, hidung mereka, kaki-kaki mereka

mengejarku seperti takdir, seperti nasib.

Mereka menginterogasi istriku

dan menulis nama semua sahabatku.

Wahai, Sultan!

Karena aku berani mendekati dindingmu yang tuli,

karena aku mencoba mengungkapkan kesedihan

dan kesusahanku, aku dipukuli

dengan sepatu bututku sendiri.

Wahai, Tuan Sultan!

Engkau telah kalah perang dua kali

karena setengah dari orang-orang kita

tidak memiliki bahkan sepotong lidah.

 

*

 

Bahasa

Ketika seorang lelaki jatuh cinta,

kenapa ia harus memakai kata-kata?

Apakah para wanita mendambakan

kekasih mereka berbaring di dekatnya

sebagai ahli bahasa?

Aku tidak mengucapkan apa pun

kepada wanita yang aku cintai.

Aku memasukkan kamus-kamus

ke dalam koper dan melarikan diri

dari semua bahasa.

*

Percakapan

 

Jangan kausebut cintaku

seikat cincin atau gelang.

Cintaku adalah pengepungan.

Keberanian dan kemauan keras

yang bangkit dari kematian mereka.

Jangan kausebut cintaku

sebagai semata bulan.

Cintaku lebih hebat dari ledakan

cahaya.

*

 

Surat dari Bawah Laut

 

Jika engkau sahabatku,

bantu aku menanggalkanmu.

Atau, jika engkau kekasihku,

bantu aku menyembuhkan diri darimu.

Andai aku tahu lautan sedalam ini,

aku tidak akan menceburkan diri,

Andai aku tahu bagaimana aku berakhir,

aku tidak akan pernah memulai.

Aku mendambakanmu, maka ajari aku ketidakinginan.

Ajari aku mencabut akar cintamu dari kedalaman.

Ajari aku memadamkan kesedihan di mata

hingga cinta memutuskan bunuh diri.

Jika engkau seorang nabi,

bersihkan aku dari kutukan ini,

bebaskan aku dari ketiadaan iman.

Mencintaimu ibarat tak memeluk satu agama pun,

maka sucikan aku dari kehampaan ini.

Jika engkau kuat,

angkat aku dari dasar laut ini

karena aku tidak tahu berenang.

Ombak biru di sepasang matamu

menarikku ke palung paling dalam

biru

biru

seluruh biru

dan aku tidak memiliki pengalaman

mencintai dan tidak ada perahu

sama sekali.

Jika engkau mengasihiku

ulurkan lenganmu, rengkuh aku,

sebab aku dipenuhi nafsu

dari rambut hingga kuku-kuku

kakiku.

Aku bernapas dari sini, di bawah laut.

Aku tenggelam,

tenggelam,

tenggelam.

Cahaya Lebih Penting daripada Lampu

Cahaya lebih penting daripada lampu,

puisi lebih penting daripada buku catatan,

dan ciuman lebih penting daripada sepasang bibir.

Surat-suratku kepadamu

lebih agung dan lebih penting daripada kita berdua.

Lembaran-lembaran itu satu-satunya dokumen

di mana orang-orang kelak menemukan

kecantikanmu

dan kegilaanku.

*

Wahai,Kekasihku

Wahai, Kekasihku,

jika kau berada di sini, di puncak kegilaanku,

kau akan menyingkirkan semua perhiasanmu,

kau akan menjual habis gelang-gelangmu,

dan pulas tertidur di mataku.

*

Tentang Menyelami Lautan

 

Cinta, pada akhirnya, tiba juga

dan kita memasuki surga,

menyelusup

di bawah kulit air

seperti ikan.

Kita melihat mutiara laut berkilau

dan mata kita dipenuhi kekaguman.

Cinta, pada akhirnya, menimpa kita juga,

tanpa paksaan, dengan keinginan yang setara,

sebesar yang kuberi, sebesar yang kauberi,

dan kita merasa sama adil.

Cinta menyerahkan diri, pasrah,

seperti mata air yang terbit begitu saja

dari balik tanah.

 

*

 

Coretan-coretan Anak Kecil

 

Kesalahanku, kesalahan terbesarku,

Duhai, Putri bermata laut,

adalah mencintaimu

seperti seorang anak kecil mencintai.

Namun, kekasih paling mulia,

sesungguhnya, adalah anak kecil.

Kesalahan pertamaku

dan bukan yang terakhir

adalah hidup

di pusat keingintahuan

selalu siap terkesiap

bahkan oleh peralihan sederhana

kelam dan terang. Malam dan siang.

Dan menyediakan diri kepada setiap perempuan

yang aku cintai untuk memecahkan diriku

menjadikanku ribuan serpihan,

mengubahku jadi kota terbuka dan terluka,

dan meninggalkanku di balik punggungnya

sebagai kepulan debu.

Kelemahanku adalah melihat dunia

dengan pikiran anak kecil.

Dan, sungguh, kesalahanku adalah menyeret cinta

keluar dari gua, melepaskannya ke udara,

memugar dadaku jadi gereja

yang menerima semua pecinta.

*

Cintamu adalah Sekolahku

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

yang membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

Cintamu, Duhai Perempuanku, mengenalkanku kebiasaan buruk

paling buruk, mengajariku meminum ribuan gelas kopi setiap malam,

mengajakku ke laboratorium mengamati bahan-bahan kimia,

memaksaku mengunjungi dokter dan para peramal,

Cintamu mengajariku meninggalkan rumah

menelusuri ruas-ruas jalan, mencari wajahmu

di benang-benang hujan dan lampu-lampu kendaraan,

mengamati pakaianmu di tubuh orang-orang yang tak kukenal,

mencari senyummu di poster-poster dan iklan-iklan koran.

Cintamu mengajariku mengembara, mencari model rambut

yang membuat semua perempuan gipsi cemburu, mencari

wajah dan suara yang lebih indah dari seluruh wajah dan suara.

Cintamu, Perempuanku, memasukkanku ke dalam kesedihan,

kota yang tidak pernah kudatangi sebelum menemukanmu.

Aku tidak tahu, kesedihan adalah manusia itu sendiri.

Tanpa air mata, manusia hanya kenangan.

Bayangan belaka.

Cintamu mengajariku menggambar wajahmu dengan kapur

seperti seorang anak kecil. Di tembok-tembok kota, di dinding

perahu para nelayan, di lonceng-lonceng geraja, di patung-patung

Yesus.

Cintamu mengajariku bahwa cinta mampu mengubah peta waktu.

Cintamu mengajariku bahwa jika aku mencintai, bumi akan tertegun

dan lupa bagaimana cara perputar.

Cintamu mengajarkan kepadaku hal-hal yang tak masuk akal.

Aku membaca buku-buku dongeng. Aku memasuki kastil

para peri. Aku bermimpi mereka akan menikahkan aku

dengan putri Sultan. Duhai, sepasang mata itu, lebih bening

daripada mata air, lebih segar dari buah-buah delima.

Aku bermimpi jadi seorang pangeran dan menculiknya.

Dan aku bermimpi memberikannya seuntai kalung mutiara.

Cintamu, Wahai Perempuanku, mengajariku arti hayalan

dan kegilaan. Mengajariku bahwa hidup akan baik-baik saja

meskipun putri Sultan tidak pernah datang. Mengajariku

menemukan dan mencintaimu dalam hal-hal sederhana.

Di pohon-pohon musim gugur yang telanjang, di daun-daun

kering yang jatuh, di butiran-butiran hujan, di ketenangan kuil,

di tengah riuh kafe tempat orang mabuk, dalam malam-malam

senyap, dalam bergelas-gelas kopi hitam.

Cintamu mengungsikanku di kamar-kamar hotel murah tak bernama,

di gereja-gereja tak bernama, di rumah-rumah kopi tak bernama.

Cintamu mengajariku bagaimana malam dipenuhi kesedihan

orang-orang asing. Mengajariku melihat Beirut sebagai perempuan,

kekejaman godaan sebagai perempuan, memasangkan gaun

paling indah yang dia punya ke tubuh setiap malam,

dan menumpahkan parfum ke dadanya.

Cintamu mengajariku menangis tanpa air mata.

Mengajariku menidurkan kesedihan, seperti anak kecil

dan kakinya yang kelelahan berjalan dari Rouche ke Hamra.

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

untuk membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

*

Ketika Aku Mencintai

 

Ketika aku mencintai,

aku merasa akulah penguasa waktu,

aku pemilik bumi dan segala sesuatu di atasnya,

dan aku menunggang kuda dan melaju

menuju matahari.

Ketika aku mencintai,

aku adalah lelehan cahaya,

kasat mata, dan puisi di buku catatanku

tumbuh jadi taman bunga paling indah.

Ketika aku mencintai,

air mengalir dari sela jari-jariku,

rumput tumbuh di lidahku,

Ketika aku mencintai,

aku menjadi waktu di luar seluruh waktu .

Ketika aku mencintai seorang wanita,

semua pohon, tanpa alas kaki,

berjalan ke arahku.

*

Ketika Aku Mencintaimu

Ketika aku mencintaimu,

bahasa baru terbit seperti mata air,

kota baru, negara-negara baru, ditemukan .

Jam dinding bernapas seperti anak-anak anjing.

Gandum tumbuh di halaman-halaman buku.

Burung-burung berlepasan dari matamu

seperti lelehan madu. Serombongan kafilah

datang dari dadamu membawa ramuan India.

Buah-buah mangga berjatuhan dari dahan,

hutan terbakar, dan gendang-gendang Nubia

tak henti menyeru para penari.

Ketika aku mencintaimu,

sepasang payudaramu melepaskan rasa malu,

berubah menjadi petir dan gelegar guntur,

sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat .

Ketika aku mencintaimu,

kota-kota Arab bangkit dan meneriakkan

perlawanan terhadap zaman penindasan,

menumpahkan kemarahan kepada hukum

yang menganiaya suku-suku tertentu.

Dan aku, ketika aku mencintaimu,

aku ikut berbaris melawan semua kejahatan,

melawan pengusaha yang menimbun garam,

melawan penguasa yang mengubah gurun

jadi kebun sendiri.

Dan aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang,

Aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang

menghapus dunia.

*

Pada Musim Panas

Pada musim panas,

kubawa diriku ke pantai

berbaring dan memikirkanmu.

Kutumpahkan ke dada laut

seluruh perasaanku kepadamu.

Laut akan menanggalkan pantai,

meninggalkan karang-karang,

kerang-kerang, juga ikan-ikan,

dan berjalan mengikutiku pulang.

 

*

 

Kekasihku Bertanya Kepadaku

Kekasihku bertanya kepadaku:

“Apa bedanya aku dengan langit?”

Perbedaannya, Sayang,

adalah jika kau tertawa,

aku lupa apa itu langit.

*

Puisi tentang Laut

Di pelabuhan biru matamu

berembus hujan dan kilau suar

ibarat suara-suara yang merdu.

Matahari gemetar dan layar

melukis perjalanan mereka

ke keabadian.

Di pelabuhan biru matamu

lautan terbuka seperti jendela.

Burung-burung datang dari jauh,

mencari pulau-pulau yang tiada

dalam peta.

Di pelabuhan biru matamu

salju jatuh menyelimuti bulan Juli.

Kapal sarat dengan bebatuan mulia

tumpah ke laut dan tidak tenggelam.

Di pelabuhan biru matamu

aku menyusur pantai bagai anak kecil.

Menghirupembuskan aroma garam

dan memulangkan burung-burung

yang kelelahan ke sarang.

Di pelabuhan biru matamu

karang bersenandung pada malam hari.

Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi

ke dalam lembaran buku tertutup di matamu?

Andai saja, andai saja aku seorang pelaut,

andai saja ada seorang memberiku perahu,

aku akan menggulung layarku setiap malam

dan bersandar di pelabuhan biru

matamu.