Category Archives: Puisi

Puisi Nizar Qabbani

Nizar Qabbani lahir di Damaskus, 21 Maret 1923. Ia pernah bekerja di Departemen Luar Negeri Suriah dan bertugas di Mesir dan Inggris. Namun, pada tahun 1944 ia tinggalkan pekerjaannya untuk mencurahkan perhatian pada satu-satunya hal yang ia cintai: puisi. Karya-karya Qabbani terdiri dari lusinan antologi puisi yang sangat populer di dunia Arab. Banyak puisinya yang dijadikan lirik lagu para penyanyi Arab kontemporer. Karena sikap politiknya, ia pernah dimusuhi oleh para pemimpin negara-negara Arab hingga terpaksa mengasingkan diri ke London, Inggris. Ia meninggal pada tahun 1998 di London. 

 

Peramal (Qariul Finjan)

dengan mata yang cemas
dia duduk
merenungi gelas yang terbuka
kemudian berkata,
“tak usah bersedih, anakku
kau telah ditakdirkan untuk jatuh cinta.”
anakku, siapa pun yang mengorbankan dirinya
untuk kekasihnya
adalah seorang martir.

telah lama kupelajari ramalan
namun tak pernah kubaca gelas seperti milikmu
telah lama aku belajar ramalan
dan tak pernah kulihat penderitaan
seperti penderitaanmu
kau telah ditakdirkan
terus berlayar dalam lautan cinta
kehidupanmu telah ditakdirkan
menjadi buku air mata
dan terus terpenjara
di antara api dan air

namun di balik seluruh kepedihan
di balik kesedihan yang mengurung kita
siang dan malam
di balik angin
udara yang basah
dan hembusan siklon
ada cinta, anakku
yang akan tetap
menjadi hal terbaik
dari sebuah takdir

akan ada seorang perempuan
dalam hidupmu, anakku
maha besar tuhan!
matanya sungguh indah
mulut dan desah tawanya
dipenuhi bebungaan dan melodi
kecintaan dan kegilaannya pada kehidupan
melingkupi dunia

seorang perempuan yang kau cintai
adalah seluruh duniamu
namun langitmu akan tetap mendung
jalanmu tertutup,
tertutup, anakku

kekasihmu, anakku
tertidur dalam istana
yang dijaga ketat
siapa pun yang mencoba
mendekati dinding-dinding tamannya
atau memasuki ruangannya
dan menawarkan diri padanya
atau mengurai sanggulnya
hanya akan membuatnya musnah
hilang, anakku

kau akan mencarinya ke manapun, anakku
kau akan bertanya pada gelombang laut
kau akan bertanya pada pantai
kau akan mengarungi samudra
dan air matamu mengalir seperti sungai
dan di akhir kehidupanmu
kau akan mengetahui bahwa
kekasihmu tak memiliki tanah,
tempat tinggal, ataupun alamat

saat itu kau tersadar
kau telah mengejar
jejak-jejak kabut

akan sulit, anakku
mencintai perempuan
yang tak memiliki tanah
ataupun tempat tinggal

Kita Akan Dianggap Teroris

kita akan dianggap teroris
jika kita berani menuliskan
puing-puing tanah air
yang berhamburan dan membusuk
dalam kemunduran dan kekacauan

tentang sebuah tanah air
yang tengah mencari tempat
dan tentang sebuah bangsa
yang tak lagi memiliki wajah

tentang tanah air
yang tak mewarisi apapun
dari puisi-puisi masa lalunya
yang luar biasa
selain ratapan dan elegi

tentang tanah air
yang tak memiliki apapun
dalam horizonnya

tentang kebebasan
beragam kelompok dan ideologi

tentang sebuah tanah air
yang melarang kita
membeli surat kabar
atau mendengarkan segala sesuatu

tentang sebuah tanah air
yang melarang burung-burung bernyanyi

tentang sebuah tanah air
yang para penulisnya
terpaksa menulis
dengan tinta transparan
agar terhindar dari kekejaman

tentang tanah air
yang menyerupai puisi di negeri kita
disusun, diedarkan, hilang,
dan tak memiliki batasan
dengan lidah dan jiwa orang asing
memisahkan lelaki dan tanahnya
menghapus seluruh keadaan mereka

tentang sebuah tanah air
yang dinegosiasikan di sebuah meja
tanpa harga diri
atau pun sepatu

tentang sebuah tanah air
yang tak lagi memiliki lelaki-lelaki tabah
dan hanya berisi para wanita

kegetiran di mulut kita
dalam kata-kata kita
dalam mata kita
akankah kekeringan juga menjangkiti jiwa kita
sebagai sebuah warisan
dari masa lalu?

tak seorang pun tersisa di negeri kita
bahkan sedikit kemenangan
tak seorang pun berkata ‘tidak’
di hadapan mereka
yang menyerahkan tempat tinggal,
makanan, dan mentega kita
mengubah sejarah kita yang berwarna
menjadi sebuah sirkus

kita tak memiliki satu pun
puisi yang jujur
puisi yang tak kehilangan kemurniannya
di tangan para penguasa harem

kita telah terbiasa terhina
kita tumbuh dengan penuh kehinaan
apakah arti seorang lelaki
jika ia merasa nyaman
dalam keadaan seperti itu?

aku cari-cari buku sejarah
aku cari-cari orang-orang luar biasa
yang akan mengeluarkan kita
dari kegelapan
dan menjaga perempuan-perempuan kita
dari kekejian dan kekejaman

aku mencari lelaki masa lalu
namun yang kutemukan
hanyalah kucing pengecut
yang takut pada jiwa mereka sendiri
dan kekuasaan para tikus

apakah kita dipukul
oleh nasionalisme buta
atau kita menderita
buta warna

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak mati
di bawah kekuasaan tirani israel
yang merintangi persatuan kita
sejarah kita
injil dan quran kita
tanah para nabi kita
jika semua itu adalah dosa
dan kejahatan kita
maka terorisme
bukan sesuatu yang buruk

kita dianggap teroris
jika kita menolak
disingkirkan oleh orang-orang biadab,
mongol maupun yahudi

jika kita memilih menghancurkan
kaca-kaca dewan keamanan
yang dihuni oleh raja caesura

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak berunding
dengan serigala
dan berbicara pada pelacur

amerika menentang budaya manusia
karena tak memiliki sesuatu
dan melawan peradaban
karena membutuhkan sesuatu
amerika adalah bangunan raksasa
namun tak memiliki dinding

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak arus zaman
ketika amerika yang arogan, kaya, dan kuat
menjadi penerjemah orang-orang yahudi

Yerusalem (al-Quds)

Aku menangis
hingga air mataku mengering
aku berdoa
hingga lilin-lilin padam
aku bersujud
hingga lantai retak
aku bertanya
tentang Muhammad dan Yesus

Yerusalem,
O kota nabi-nabi yang bercahaya
jalan pintas
antara surga dan bumi!
Yerusalem, kota seribu menara
seorang gadis cilik yang cantik
dengan jari-jari terbakar

Kota sang perawan,
matamu terlihat murung.
Oasis teduh yang dilewati sang Nabi,
bebatuan jalananmu bersedih
menara-menara masjid pun murung.

Kota yang dilaburi warna hitam,
siapa yang akan membunyikan
lonceng-lonceng makam suci
pada hari Minggu pagi?
siapa yang akan memberi mainan
bagi anak-anak
pada perayaan natal ?

Kota penuh duka,
O, air mata yang sangat besar
bergetar di kelopak matamu,
siapa yang akan menyelamatkan Injil?
siapa yang akan menyelamatkan Quran?

siapa yang akan menyelamatkan Kristus,
siapa yang akan menyelamatkan manusia?
Yerusalem, kotaku tercinta

esok pepohonan lemonmu akan berbunga
batang dan cabangmu yang hijau
tumbuh dengan gembira
dan matamu berseri-seri.
merpati-merpati yang bermigrasi
akan kembali ke atap-atapmu yang suci
dan anak-anak akan kembali bermain

orang tua dan anak-anak akan bertemu
di jalananmu yang berkilauan
kotaku, kota zaitun dan kedamaian.

 

Diterjemahkan oleh Irfan Zaki Ibrahim

 

Syair

 

1

Kawan

Kata-kata lama telah mati.

Buku-buku lama telah mati.

Pembicaraan kita mengenai lubang seperti sepatu usang telah mati.

Mati adalah pikiran yang mengarahkan pada kekalahan.

 

2

Puisi-puisi kami sudah basi.

Rambut perempuan, malam hari, tirai, dan sofa

Sudah basi.

Segalanya sudah basi.

 

3

Negeri duka-citaku,

Secepat kilat

Kau merubah aku dari seorang penyair yang menulis puisi-puisi cinta

Menjadi seorang penyair yang menulis dengan sebilah pisau.

 

4

Apa yang kami rasa lebih dari sekadar kata-kata:

Kami harus malu lantaran puisi-puisi kami.

 

5

Dikendalikan oleh omong kosong Oriental,

Oleh sombongnya keangkuhan yang tak pernah membunuh seekor lalat pun,

Oleh biola dan beduk,

Kami pergi berperang,

Lalu menghilang.

 

6

Teriakan kami lebih lantang ketimbang tindakan kami,

Pedang kami lebih panjang ketimbang kami,

Inilah tragedi kami.

 

7

Pendeknya

Kami mengenakan jubah peradaban

Namun jiwa kami hidup di zaman batu.

 

8

Kau tak memenangkan perang

Dengan buluh dan seruling.

 

9

Ketaksabaran kami

Membayar kami lima puluh ribu tenda baru.

 

10

Jangan mengutuk sorga

Jika ia membuang dirimu,

Jangan mengutuk keadaan,

Tuhan memberi kemenangan pada siapa yang Ia kehendaki

Tuhan bukanlah seorang pandai yang dapat kau minta menaklukan senjata.

 

11

Betapa menyakitkan mendengar berita pagi hari

Betapa menyakitkan mendengar salak anjing.

 

12

Musuh-musuh kami tak melintasi perbatasan kami

Mereka merayap melalui kelemahan kami seperti semut.

 

13

Lima ribu tahun

Janggut tumbuh

Di goa-goa kami.

Mata uang kami tak diketahui,

Mata kami sebuah surga bagi serangga.

Kawan,

Bantinglah pintu,

Cucilah otakmu,

Cucilah pakaianmu.

Kawan,

Bacalah buku,

Tulislah buku,

Tumbuhkan kata-kata, anggur dan delima,

Berlayarkah ke negeri kabut dan salju.

Tak seorang pun tahu kau hidup di goa-goa.

Orang-orang mengambilmu untuk pengembangbiakan anjing liar.

 

14

Kami adalah orang berkulit tebal

Dengan jiwa yang kosong.

Kami habiskan hari-hari kami dengan belajar sihir,

Main catur dan tidur.

Adakah kami “Bangsa di mana Tuhan memberkati manusia?”

 

15

Minyak gurun kami bisa menjadi

Belati nyala api dan api.

Kamilah aib bagi nenek moyang kami yang mulia:

Kami biarkan minyak kami mengalir lewat jemari kaki para pelacur

 

16

Kami berlari serampangan di jalan-jalan

Menarik orang-orang dengan tali,

Menghancurkan jendela dan kunci.

Kami memuji bagai katak,

Mengubah orang kerdil jadi pahlawan,

Dan pahlawan menjadi sampah:

Kami tak pernah berhenti dan berpikir.

Di mesjid

Kami tertunduk malas

Menulis puisi-puisi,

Pepatah-pepatah,

Memohon pada Tuhan untuk kemenangan

Atas musuh kami.

 

17

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Dan dapat melihat Sultan,

Inilah yang akan kukatakan:
‘Sultan,

Anjing-anjingmu yang liar merobek pakaianku

Mata-matamu mengintaiku

Mata mereka mengintaiku

Hidung mereka mengintaiku

Kaki mereka mengintaiku

Mereka mengintaiku bagai Takdir

Menginterogasi istriku

Dan mencatat nama-nama kawanku.

Sultan,

Saat aku mendekati dindingmu

Dan bicara mengenai lukaku,

Tentara-tentaramu menyiksaku dengan boot mereka,

Memaksaku memakan sepatu.

Sultan,

Kau kehilangan dua perang,

Sultan,

Setengah rakyat kita tanpa lidah,

Apalah gunanya seorang manusia tanpa lidah?

Setengah rakyat kita

Terjebak bagai semut dan tikus

Di sela dinding.’

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Akan kukatakan padanya:

‘Kau kehilangan dua perang

Kau kehilangan kontak dengan anak-anak.’

 

18

Jika kami tak mengubur persatuan kami

Jika kami tak merobek tubuh-tubuh segar dengan bayonet

Jika ia berdiam di mata kami

Anjing-anjing tak kan mencincang daging kami membabi-buta.

 

19

Kami tidak menginginkan sebuah generasi yang marah

Untuk membajak langit

Untuk meledakkan sejarah

Untuk meledakkan pikiran-pikiran kami.

Kami menginginkan sebuah generasi baru

Yang tak memaafkan kesalahan

Yang tak membungkuk.

Kami menginginkan sebuah generasi raksasa.

 

20

Anak-anak Arab,

Telinga jagung masa depan,

Kalian akan memutuskan rantai kami,

Membunuh opium di kepala kami,

Membunuh ilusi.

Anak-anak Arab,

Jangan membaca generasi kami yang tercekik,

Kami hanyalah sebuah kotak tanpa harapan.

Kami sama tak berharganya dengan kulit semangka.

Jangan baca kami,

Jangan turuti kami,

Jangan terima kami,

Jangan terima pikiran kami,

Kami hanyalah bangsa bajingan dan pemain akrobat.

Anak-anak Arab,

Hujan musim semi,

Telinga jagung masa depan,

Kalian adalah generasi

Yang akan mengatasi kekalahan.

Pelajaran Menggambar

 

Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar seekor burung.

Kucelupkan kuasku pada cat abu itu

kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu.

Matanya terbelalak heran:

“… Ayah, bukankah ini penjara,

tahukah kau bagaimana menggambar burung?”

Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku.

Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.”
Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar tangkai gandum.

Kugenggam pena

lantas kugambar tangkai senapan.

Anakku menertawakan kebodohanku,

bertanya

“Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan

tangkai gandum dan senapan?”

Kukatakan padanya, “Nak,

aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum

sekerat roti

dan kembang mawar.

Tapi di saat segenting ini

pohon-pohon hutan telah bergabung

dengan pasukan tentara

mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam.

Kini saatnya tangkai gandum bersenjata

burung-burung bersenjata

budaya bersenjata

bahkan agama pun bersenjata.

Kau tak bisa membeli roti

tanpa menemukan peluru di dalamnya

kau tak bisa memetik mawar

tanpa duri memercik di wajahmu

kau tak bisa membeli sebuah buku

yang tak meledak di sela jemarimu.”

 

Anakku duduk di tepi tempat tidur

lalu memintaku membacakan sebuah puisi.

Sebutir airmata jatuh di atas bantal.

Anakku merabanya, heran, berkata:

“Ayah, ini airmata, bukan puisi!”

Lalu kukatakan padanya:

“Nak, saat engkau tumbuh dewasa,

dan membaca diwan-diwan puisi Arab

kau akan temukan bahwa puisi dan air mata tiada bedanya.

Dan puisi-puisi Arab

tak ubahnya kucuran airmata dari jemari yang menulis.”

 

Anakku meletakkan pena dan kotak krayon miliknya

di depanku

lalu memintaku menggambar sebuah tanah air untuknya.

Kuas di tanganku seketika gemetar

aku tenggelam, dan menangis.

 

 

Saat Aku Mencintaimu

 

Saat aku mencintaimu

sebuah bahasa baru terpancar,

kota-kota dan negeri-negeri baru ditemukan.

Jam bernapas seperti anak anjing,

gandum tumbuh di sela halaman-halaman buku,

burung-burung terbang dari matamu bersama gelombang madu,

para kafilah bertolak dari payudaramu membawa herbal India,

buah mangga berjatuhan di mana-mana, hutan menyergap nyala api

dan beduk Suku Nubia berbunyi.

 

Saat aku mencintaimu payudaramu melepaskan rasa malunya,

berubah menjadi petir dan guntur, pedang, dan badai pasir.

Saat aku mencintaimu kota-kota Arab berloncatan dan unjuk rasa

menentang abad penindasan

serta abad pembalasan dendam terhadap aturan suku.

Lalu aku, saat aku mencintaimu,

aku berjalan menentang keburukan,

menentang raja garam,

menentang pelembagaan gurun.

Dan aku akan terus mencintaimu hingga banjir dunia tiba,

aku akan terus mencintaimu hingga saatnya banjir dunia tiba.

 

 

Saat Aku Jatuh Cinta

 

Saat aku jatuh cinta

Kurasa akulah raja waktu

Aku pemilik bumi dan segala di atasnya

Kutuju matahari dengan kuda tungganganku.

 

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi cahaya cair

Yang tak kasat mata

Dan sajak-sajak dalam catatanku

Menjelma jadi ladang bunga poppy dan mimosa.

 

Saat aku jatuh cinta

Jemariku memancarkan air

Dan lidahku menumbuhkan rumput

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi waktu di luar segala waktu.

 

Saat aku jatuh cinta pada seorang wanita

Seluruh pohonan

Berlari telanjang kaki menghadapku.

 

 

Perbandingan

 

Cintaku, aku tak serupa kekasihmu yang lain.
Jika seseorang memberimu segumpal awan
kuberi kamu hujan.
Saat seseorang memberimu lentera

kuberi kamu bulan.
Saat seseorang memberimu dedahan
kuberi kamu pohonan
Dan jika seorang yang lain memberimu kapal
kuberikan padamu petualangan.

 

 

Cahaya Lebih Penting Ketimbang Lentera

 

Cahaya lebih penting ketimbang lentera,

Puisi lebih penting ketimbang buku catatan,

Dan lebih penting ketimbang bibir ialah ciuman.

 

Surat-suratku kepadamu

Lebih besar dan lebih penting ketimbang kita berdua.

Merekalah satu-satunya catatan

Di dalamnya orang-orang kan temukan

Kecantikanmu

Kegilaanku.

 

 

Percakapan

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sebatas cincin atau gelang.

Cintaku adalah kepungan,

Berani dan keras kepala.

Ia berlayar mencari kematiannya sendiri.

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sepotong rembulan.

Cintaku, percikan ledakan.

 

 

Kekasihku Bertanya Padaku

 

Kekasihku bertanya padaku:

“Apa beda diriku dan angkasa?”

Bedanya, kasihku,

ialah saat kau tertawa,

kulupakan angkasa.

 

 

Sajak Maritim

 

Di dermaga biru matamu

hujan cahaya berembus sendu

matahari dan layar-layar

melukis perjalanan menuju keabadian.

 

Di dermaga biru matamu

jendela bagi laut yang terbuka

burung-burung terbang jauh

mencari pulau yang belum tercipta.

 

Di dermaga biru matamu

salju jatuh di bulan juli

kapal-kapal dengan muatan pirus bertumpahan

melintasi laut, tapi tak tenggelam.

 

Di dermaga biru matamu

bagai seorang bocah aku lari di atas batu berserakan

menghirup aroma lautan

melepas seekor burung kelelahan

 

Di dermaga biru matamu

batu-batu bernyanyi malam hari

siapa yang menyembunyikan seribu puisi

pada buku tertutup pejam matamu?

 

Andai, aku seorang pelaut

andai saja seseorang memberiku perahu

setiap malam akan kugulung layarku

di dermaga biru matamu.

 

Diterjemahkan Zulkifli Songyanan

Sajak Pembuka

sebuah tafsir bebas atas Surat Al Fatihah

 

aku sebatang ilalang patah, merunduk bukan karena angin

kau yang menundukkan aku dan kucium bau tanah basah

kulewati malam yang hening hanya ditemani dingin

di saat itulah kurasakan kekosongan dan kurindukan rumah

 

sesaat setelah kubuka pintu, kulihat sebuah jembatan

kau berada di seberang, tersenyum penuh kegetiran

aku harus meniti pada jalan yang lebih tipis dari ingatan

di bawahku jurang, batu-batu tajam memanggil kematian

 

sebutkan padaku makna dari ketakutan

tak bahagia di dunia ini atau tak bahagia nanti di pelukanmu

atau karena kita terus berpisah, tak kunjung bertemu

 

sekian lama aku tersesat, dan kini merasa sampai padamu

peluhku menetes pasrah, bercampur dengan darah

apakah kau akan menerimaku atau justru menolakku?

 

(2016)

Puisi-puisi Saut Situmorang

huSaut Situmorang lahir 29 Juni 1966 di kota kecil Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Tapi ia besar di Medan. Pada 1989-2000, ia menetap di Selandia Baru. Di sana, ia belajar Sastra Inggris (BA) dan Sastra Indonesia (MA) di Victoria University of Wellington dan University of Auckland. Ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karya-karyanya diterbitkan di Indonesia, Selandia Baru dan Australia. Buku kumpulan puisinya adalah “Saut Kecil Bicara Pada Tuhan (2003)” dan “Catatan subversif (2004)”. Berikut ini adalah sejumlah puisinya yang termaktup dalam buku puisi Saut Kecil Bicara Pada Tuhan.

INSOMNIA

hampir. tengah malam. jalan.
jalan. kota sudah sepi. mobil
kadang lewat. mengiris. dingin. malam.
di kamar. sendiri. aku mendengar.
musik. dari tempat. yang jauh.
tentang tempat. yang jauh.
malam. hampir. begitu. sepi.
tak. ada. jangkrik. tak. ada. burung. malam.
darahku. menari. mengikuti. suara. gondang.
tempat. yang jauh. memanggil. manggil.
masa lalu. malam. kota. sepi.
di kamarku. sendiri. angin. sudah lama mati.
jalan. di luar. menggelepar. sekarat. malam.
begitu. kelam. memanggil. manggil.
musik itu. suara itu. dari jauh.
begitu jauh. angin. sudah lama
mati. tapi badanku. menggigil. darah.
darah. menari. mabok. gondang.
tempat. yang begitu. jauh. tak sanggup.
tak terjangkau. sendiri.
di kamar. aku. sendiri. hanya. suara itu.
terus. menyeru. tak henti. tak henti.

PADA UPACARA MENJEMPUT DAUN BERINGIN

– buat Made Wianta

gunung keramat menghembus hujan
turun di ujung kakiku
ke manakah si mati yang dibakar tadi pergi?

gamelan lembut merangkul rambut langit
yang tergerai jatuh dekat kakiku
begitu jauh dariMu
wahai gadis kecil menari di buih putih masa lalu

“white wine lebih nikmat pake es”
kawanku memandang minta aku setuju

ikat kepala hitam aku pakai di kepala
untuk menghormatimu
o perempuan tua yang tak pernah aku kenal –
betapa sunyi kematian tanpa tangis tanpa keturunan

pada upacara kematian perempuan tua tak pernah kukenal
betapa indah terkenang senyumMu yang penuh kehidupan!

karena laut, sungai lupa jalan pulang

di kota kecil itu
gerimis turun
dan kita basah
oleh senyum dan tatapan tatapan curian
yang tiba tiba mekar jadi ciuman ciuman panjang …

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan batu batu hitam
daun daun gugur
danau kecil di lembah jauh
jadi sunyi
kehilangan suara jangkrik suara burung

gerimis yang turun
mengikuti terus
di jalan jalan gunung
pasar hiruk pikuk
bis antar kota
pertunjukan pertunjukan malam yang membosankan
sampai botol botol bir kosong
tempat lampu neon berdustaan dengan bau tembakau

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan di meja-warung basah oleh gerimis
sebuah sajak setengah jadi
mengabur di kertas tissue yang tipis

BOCAH PEMANCING IKAN

– untuk Vasko Popa

seorang bocah kecil memancing di danau
dan mendapatkan bulan
bulan itu lalu dipecahkannya dan keluarlah matahari
karena terlalu panas matahari itu meleleh di dalam solunya

si bocah kecewa dan menangis
menangisi matahari yang meleleh hingga tak ada hasil
untuk dibawa pulang
menangisi bulan yang sudah pecah berkeping keping
hingga tak lagi menyinari
jalan yang membawanya pulang
menangisi danau yang hanya punya satu bulan saja
dalam perutnya
menangisi dirinya yang bocah yang kecil yang hanya bisa
menangis di dalam
solunya di tengah tengah pekatnya lapar malam

SAUT KECIL BICARA DENGAN TUHAN

bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan

tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!

AKU INGIN

aku ingin mencintaiMu dengan membabi buta –
dengan sebotol racun yang diteguk romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiKu dengan membabi buta –
dengan sebilah belati yang ditikamkan juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

1999

DISEBABKAN OLEH RENDRA 3

rambut gugur
di baju di handuk dan di bantal di kasur
gugurlah semua ketombe dan kutu kepala bersamanya

kekasihku

rambutku gugur
di atas sprei di mana kau dulu tertidur
gugurlah segala mimpi yang pernah menyatukan kepala kita

baiklah kita ikhlaskan saja
tiada janji ‘kan jumpa di eropa atau indonesia
karena asmara bisa jadi asma kalau pindah pindah budaya

asmara cuma lahir di gelas bir atau whisky
(di mana segala berujung di kasur dan kamar mandi)
ia mengikuti warna rambut kita
dan kalau rambut sendiri telah gugur
gugur pula ia bersama sama

ada tertinggal serambut kenangan
tapi semata tiada lebih dari hangover minuman
atau semacam pencegah masturbasi

mungkin ada pula kesedihan
itu baginya semacam inspirasi bagi puisi
yang sebentar akan pula berontokan

kekasihku

gugur, ya, gugur
semua gugur
rambut, ketombe dan kutu kutu di kepala
yang kita perlu cuma shampoo lidah buaya!

SPRING SUDAH TIBA

spring sudah tiba dan jarum kompas
jadi liar dalam gelasnya
waktu perahu kertas yang kulayarkan
ke utara terbalik menabrak
pelangi tiga warna

wajahku mengeras di cermin kamar mandi
karena jejak kakimu
wahai camar berbulu putih
disembunyikan ombak laut dari
sepasang mataku yang letih

spring sudah tiba dan pohon pohon
di puncak bukit mengibas ngibaskan
debu salju dari alis mereka sementara
dua ekor anak domba
melompat terperanjat melihat
sekuntum mawar
mekar di sela sela pagar

perahu kertasku yang malang…
tapi lihatlah! tiga orang bidadari

turun

dari

pelangi

mereka angkat perahu kertasku
yang hampir tenggelam itu
dan salju yang mulai mencair
membawa mereka berlayar ke
pinggir
danau
yang
tenang

GRAFITI CEMBURU

-eine kleine nachtmusik

aku merindukanMu.

malam di kotaku sesak terhimpit
cahaya bulan tembaga.
layang layang yang dinaikkan
anak anak desa tadi siang
bagai kalong kalong kematian hitam
menganyam bayang bayang panjang
menjerat rumah rumah berlampu tak terang
dan derunya
sampai ke kamarku yang penuh bising nyamuk.
rambut kusutku lengket
di bantal basah keringat
menginginkan goresan ujung kukumu.
Aku ingin tenggelam dalam
ombak birahimu, badai rindumu.
para tetangga yang berjudi di kamar sebelah
tertawa pada kartu kartu berwajah sama
tangis anak istrinya –
apa yang sedang kau lakukan malam ini?
malam di kotaku sesak terhimpit
bau knalpot bau asap rokok
dan bulan tembaga yang pucat
berdarah matanya
tertusuk cakar layang layang
yang dibiarkan anak anak desa kelaparan di pekat malam.
betapa ingin kupanggil namaMu!
seperti bocah kecil terjaga
dari kejaran raksasa dalam tidurnya
tapi kamar yang gelap penuh sarang laba laba
telah lama kehilangan suara langkah kaki bunda.

aku merindukanMu
di tengah pengap puntung puntung rokok
dan hujan malam bulan Juni
yang menambah gelisah layang layang raksasa di atas rumah
merindukanMu lewat desah sungai alkohol bening
yang menghanyutkan batu batu hitam masalaluku
daun daun kering luka lukaku.

aku merindukanMu
di pasir putih puri kanak kanakku
patung patung pasir tak berbaju mimpi mimpiku
bagai kupu kupu kecil terbang dari sunyi kepompong mati
aku menari dalam hujan malam bulan Juni
di bawah panas cahaya bulan tembaga
mengikuti irama deru layang layang raksasa basah
yang tersesat dalam labirin rumah rumah tak terang lampunya
aku menari dan menari
tanpa suara
hilang dalam pusaran lubuk badai rindu
tak sanggup memanggil namaMu.

malam di kotaku terpanggang
hangus api cemburu.

denpasar, 9 juni 2001
12:00 pm/am

KATA DALAM TELINGA

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
cukup kuat
untuk melindungi
bawah perut yang lembut
terbuat dari renda renda dan daging otot
hairspray dan air ludah
20 kaki di atas kepala kita
jauh seperti sebuah perahu mengapung
seperti wayar wayar lembut lentur
montok seperti oyster
kalung bulu dan tulang di leher
berlayar antara bulan dan bintang bintang
di air halusinasi di atas bukit orang mati
seperti Pinocchio
main film biru di bawah meja kantor
demi eloquence
di dinding alfabet
bukan batu giok
dalam truk sampah
do you read me?

ada sebuah tangga menuju ke atap
sebuah rumah berjendela hitam
di mana kami mengubur laundry kotormu
biar kami bisa cerita hal hal yang baik saja tentang dirimu
bocah kemaren sore
yang berhenti percaya pada tuhan
yang berkata, “kalau tuhan itu pemabuk
aku tak perlu minum alkohol!”
ayolah

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
dengan botol botol susu beku dalam kotak surat
yang sedang diukiri tetanggaku dengan pahat
sambil berkata, “cuka dipakai di jaman Sebelum Masehi
sebagai spermicide-a pessary!”
“caranya, dicelupkan ke dalam,
mungkin menyengat sedikit!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
ya, musim dingin akan indah tahun ini
dengan televisi televisi bisu membaca
bibirnya sendiri dengan logat Inggris
menghembuskan kesunyian kesunyian panjang
untuk menghangatkan diri
e hoa ma! o sobat
belut perut perak adalah yang terbaik untuk dikeringkan!
jadi waktu pemain sax
membuka lagunya
seperti minum
kita tak punya pilihan lain
kita mesti mengikuti
boneka boneka Gringo
ke mana burung burung merpati membangun sarangnya
waktu arah angin berubah
dan mengikutimu masuk ke dalam kegelapan pikiran
candi penuh ular
candi dewi ular
dewi birahi orang orang pagan
candi 13 warna biru
biru airmata, biru rasa rindu
biru hijau cemburu
biru palung dalam, biru bumi
biru cinta, biru cermin kaca
biru nostalgia, biru bahaya
biru tipu, biru napsu
biru kehilangan, biru kematian

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana matahari jadi lebih berarti
di mana hantu seseorang yang dulu kau cintai
seseorang kepada siapa dulu kau selalu berkata “karenamu
aku selalu kesepian”
berbisik padamu dalam bahasa Morse
“pandanglah aku sekarang. aku kembali untuk menghantuimu!”
Valhalla nampak
begitu jauh
seperti bola bola golf
para businessman bangsa Jepang
yang sedang menghapal percakapan Inggris-Zen
“hi, I’m Richard Taylor
and so are you!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
seperti sebuah gantungan baju dari logam
tergantung tanpa baju
sexual pleasure
on empty roads
sebuah daun gugur
Jumat
adalah hari yang paling kejam dalam seminggu
berat
tailor-made
terbuat dari pecahan pecahan kaca halte bis kota
old talk
sebuah café
sebuah pekerjaan tetap

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana dua burung Enggang mengitari tiang totem tua
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
seperti sebuah Big Mac
oleh Picasso
datanglah kalian wahai para hantu
yang menjaga pikiran pikiran duniawi
hantu hantu sebuah tangga menuju ke atap
atap perak atap kaca atap burung burung
atap sayap sayap kupu kupu patah
hitam, putih, dan multiwarna
dan beruap seperti onggokan onggokan tahi lembu
di pagi kota Te Puke yang dingin
datanglah kalian wahai para hantu pemilik hak cipta
seni yang palsu, immoral, angkuh, dan penuh tipu
aku tak bertanggung jawab atas sajak ini!

CATATAN SUBVERSIF TAHUN 1998

— disebabkan oleh Wiji Thukul

kau adalah kemarau panjang

yang hanya membawa kematian

kepada daun, bunga, dan

ikan ikan di sungai

kampung tercinta

karena kau adalah kemarau

maka airmata marah kami akan

menggenangi bumi

jadi embun

naik ke langit jadi awan awan

dan dengarlah gemuruh suara kami

sebagai hujan turun

mengusirmu dari sini!

maret 1998

POTRET SANG ANAK MUDA SEBAGAI PENYAIR PROTES

kota kota menggersang. hari hari jahat. hantu

srigala betina bangkit dari sela reruntuhan

bangunan.

tak ada lagi damba

hanya

lumut dan bara api

menemani sepanjang hari.

aku disergap dentang kematian

dan aku terbakar hangus

dan aku lari tak tentu arah.

api semarak menghangus bajuku

sepasang tanganku

rambut kusutku. dan sambil berlari

aku menjerit memekik. tapi,

tak ada yang peduli.

aku memandang ke depan dengan kedua

mataku buta

aku mendengar sekitarku dengan kedua

kupingku tuli

dan ada suara suara sumbang

buta dan tuli

tak mampu lindungiku

dari suasana hidup yang memilu

mata dan telinga hati

membebani!

1987

SAJAK APARTHEID

botha adalah anak matahari

siang hari matahari kelihatan botha kelihatan

malam hari matahari tak ada botha tak ada

bukankah putih putih karena cahaya?

botha adalah anak matahari

matahari adalah induk botha

di mana ada semut di situ ada gula

di mana ada matahari di situ ada botha

di pantai botha telanjang bersama matahari

di pantai botha jogging bersama matahari

di pantai botha cocktail party bersama matahari

di pantai botha dansa bersama matahari

tapi matahari tak bisa lama lama bersama botha

matahari harus pergi matahari harus pergi

botha tak mau sendiri botha takut sendiri.

matahari takut malam matahari tak suka malam

botha takut malam botha tak suka malam

di pantai botha membuat api

api taku malam api tak suka malam

api harus pergi api harus pergi

botha takut malam botha tak suka malam

di pantai tak ada matahari tak ada api

di pantai botha sendiri botha takut sendiri

malam tak takut matahari tak suka matahari

malam tak takut api tak suka api

malam tak takut botha tak suka botha

di pantai botha telanjang sendiri sendiri sendiri

malam tak takut botha tak suka botha di pantai

telanjang sendiri sendiri sendiri

botha harus pergi!

Tiga Puisi Pringadi Abdi Surya

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan


Matikan Televisi

aku mencintaimu sehingga kumatikan televisi
bibirmu begitu merah
dan aku teringat api

di mataku, tubuhmu seperti sebatang pohon randu
yang paham arti meranggas
rambutmu yang hitam, bergelombang
aku terhanyut dan merasa berada dalam hutan Chopin
dengan bau tanah basah yang khas

mencintaimu adalah kerakusan, tidak mungkin
aku hanya menggenggam tanganmu atau
memeluk pinggangmu yang ramping
udara dingin di dalam ruangan pelan-pelan menghilang
perasaan terbakar ini, aku tidak tahu asmara atau api
lalu kau memintaku membuka tirai, juga jendela dan hidupku
bukan udara yang menyapa kita

aku mencintaimu, sehingga tak dapat kututup mata
meski kabut atau asap yang menyergap
membuatku tak mampu melihatmu sama sekali
bagaimana caramu bernapas, mengeluh, mengusap pipi
hanya bibirmu begitu merah, menyala
aku terbakar mulai dari ujung jari
hingga jantungku

Memeluk Seluruhmu

Aku ingin memeluk seluruhmu
dirimu yang lebih luas dari seluruh nama
kedua lenganku yang tak terbiasa
mengukur dunia—kelilingnya telah diaku
oleh columbus, menemukan dunia baru
tempat orang-orang lari atau mencari kesunyian

dunia baruku adalah kamu, tetapi seluruhmu
di luar nalarku

aku tak bisa berpikir jernih
sungai musi, sungai kapuas, sungai bengawan
diberi tawas setempayan masih
sekeruh ingatan

sampai aku merasa khianat
sampai aku mengusir sepenuh kalimat
yang diciptakan daun-daun merah kemarin
disematkan cicit-cicit burung sriti muda
yang terbang setinggi-tingginya

aku ingin memeluk seluruhmu
seperti lengan sayap burung itu
ketika hendak memeluk langit

Jatuh ke Senyummu

aku terjatuh ke dalam senyummu
dan aku terperangkap, terpenjara
sia-sia sudah kemerdekaan
bertambah lagi duka
setelah kemiskinan, intoleransi
kini aku papah padamu

isi kepalaku berubah, bukan lagi
kolam berair jernih
ikan-ikan tak berkumpul, pergi
menujumu

bagaimana caramu menjatuhkan aku
lebih cepat dari pukulan ali
ketika menjatuhkan foreman

senyummu adalah sebuah lubang
yang memaksaku jatuh
dan tak ingin aku bangkit kembali
biarlah kini duniaku di dalammu

Puisi-puisi Soe Hok Gie

MANDALAWANGI – PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

====================================================

“Di sana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…”

– Soe Hok Gie

SEBUAH TANYA

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

====================================================

PESAN

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

====================================================

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)