Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari Kita memasukkan diri ke dalam barisan seperti kawanan domba yang hendak disembelih. Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium sol sepatu para pembunuh. Mereka menculik anak Maryam padahal ia masih bayi. Mereka mencuri dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk, dan aprikot dan rimbun semak mint, dan lilin dari masjid-masjid. Mereka meletakkan di […]

Read More

Segera Terbit: Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih?

  Hujan di Luar Berderai-derai, Boleh Aku Mencintaimu?   kata-kataku tak pernah lebih panjang dari usia kupu-kupu sejak kuketahui ada yang meletakkan ribuan kepompong di sepasang paru-paruku   (2014)   Pada Maret 2015 ini, dijadwalkan sebuah buku kumpulan puisiku akan terbit. Judulnya cukup panjang,¬†Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih? Berawal dari pertemuan dengan Irwan […]

Read More

Tiga Puisi

Malam Menua, Rambut Beruban Bukan Salah Soal Ujian ia akan pergi ke tukang potong rambut untuk menyambut masa ujian disisakan setengah centi dari pikirannya agar ia bisa berpikir pendek   dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di lembar soal akan tidak ragu-ragu dia jawab, benar atau salah, itu urusan tuhan   (2015)   Kerapu Merah dengan […]

Read More

Aku Pikir Aku Akan Menulis Sajak Cinta Tetapi Aku Tidak Tahu Cinta Seperti Apa

“Cinta adalah…” Betapa sering sebuah kalimat dimulai dengan cara menyebut cinta. Setiap orang dari setiap desa akan mengajukan metafora yang berbeda. Negara dalam Bhinneka Tunggal Ika maksudnya, berbeda-beda cara dalam ungkapkan cinta. Itu juga yang menjadi alasan garuda menengok ke kanan seekor garuda betina tengah tampil cantik menawan. Setiap cinta butuh kecantikan. Seseorang rela mati […]

Read More

Aku Menyalakan Lilin Untukmu

aku merindukan mati lampu supaya kita dapat berpelukan di sekitar lilin yang baru dinyalakan bersama kita memainkan bayangbayang dan menyaksikan dinding bak layar bioskop dengan film baru tayang aku menciptakan seekor elang yang mengepakkan sayapnya pedih setelah menghabiskan sekepal daging sidharta cakarnya yang biasa gigih menjadi letih kau menyebut cakar itu hatiku lalu tanganmu menyalak, […]

Read More

Sesaat Sebelum Pesawatku Jatuh

aku ingin dibiarkan tenggelam dan menghilang dimakan ikan-ikan kelaparan atau membusuk tinggal tulang sebelumnya aku akan menikmati kisah pi dalam permainan gelombang laut yang lebih dahsyat dari gelombang maut dan menatap langit malam tahun baru tanpa nyala kembang api yang memencar ada rasi bintang yang malumalu mengintipku mereka menahan diri agar aku tak ingat jalan […]

Read More