Category Archives: Puisi

Puisi-puisi Toto Sudarto Bachtiar

Toto Sudarto Bachtiar
Toto Sudarto Bachtiar

Toto Sudarto Bachtiar dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956; memenangkan Hadiah Sastra BMKN 1957) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya antara lain: Pelacur (1954; Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958; Harold Lamb), Bunglon (1965; Anton Chekov, et.al.), Bayangan Memudar (1975; Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa), Pertempuran Penghabisan (1976; Ernest Hemingway), Sanyasi (1979; Rabindranath Tagore).  Sastrawan, lahir di Palimanan, Cirebon (Jawa Barat), 12 Oktober 1929. Memperoleh pendidikan HIS Banjar (Ciamis), Cultuurschool Tasikmalaya (1946), MULO Bandung (1950), Fakultas Hukum DI (1950-1952; tidak tamat). Pada waktu pecah perang kemerdekaan ia tergabung dalam Tentara Pelajar Korps Pengawal Divisi Siliwangi di Tasikmalaya; dan pada waktu terjadinya Clash ke-I ia bergabung dengan Polisi Tentara Detasemen 132 Batalyon 13 di Cirebon.

Continue reading Puisi-puisi Toto Sudarto Bachtiar

Puisi Pringadi Abdi di Pikiran Rakyat, 21 Oktober 2018

Jalanan Berlubang

Setiap malam ia berdoa
hujan turun tak lebih panjang
dari segala drama
Jalan-jalan telah berlubang
seperti dada seseorang
yang lama menunggu
kepastian sebuah hubungan
Air mata Tuhan turun bersimpati
dan kanak-kanakNya terlahir kembali

Sejatinya, ia tak begitu mencintai
masa kanak-kanak, ia juga
tak merasa begitu dicintai Tuhan.

Memahami Dirimu

aku terpaksa membantah, tak semua hal di dunia ini masuk akal
cinta dan kau telah membuatku menjadi orang buta
yang berjalan menggunakan tongkat demi temukan kebahagiaan

belum juga kupahami kenapa tuhan menciptakan kesedihan
kehidupan telah dipenuhi air mata
dan banyak yang terbiasa menambangnya setelah mengkristal
bak ladang garam yang luas membentang

aku menjadi tak acuh melihat orang meminta-minta
karena seperti negara, kadang kala meminta padahal tak butuh
cicilan utang masa lalu lebih besar dari utang baru
lalu di belakang berlagak besar dan kaya, berhasil dan kuasa

aku juga tak ada beda, begitu kerdil di hadapanmu
tak bisa kupahami dirimu dan kucari-cari alasan
agar semua orang setuju, kaulah yang rumit
pemasalahan demi permasalahan tak bisa diselesaikan

hati ini bagaikan pohon pisang yang ditanam di jalan berlubang
kau boleh saja menabrak dan menumbangkannya
atau mengerti, ada hal yang harus diperbaiki

Membaca Palembang dari Mata Kedai Kuala

Seringkali saya bilang, setiap mengampu kelas menulis puisi, jika ingin belajar menulis puisi secara serius, setidaknya bacalah baik-baik karya 3 penyair: Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Goenawan Muhammad.

Sederhananya, ketiga penyair tersebut memiliki gagasan yang begitu kuat. Amir Hamzah boleh dibilang sebagai penggagas puisi liris. Membaca Amir Hamzah bisa membuat kita peka bunyi, bunyi yang alami. Chairil Anwar membawa semangat modernisme di dalam puisi-puisinya. Ia menjadi aku yang mewakili individualisme zaman modern sambil melepaskan diri dari keagungan puisi yang tertanam di benak selama ini. Sedangkan Goenawan Muhammad, ia adalah gembongnya intertekstual. Maksudku, puisi-puisinya membawa kita bertualang dengan pemaknaan yang begitu kaya. Cara menulisnya begitu khas dengan pemenggalan-pemenggalan tertentu yang membuat efek bunyi lebih dapat kita rasakan. Barangkali sederhananya begitu.

Ketiganya menyiratkan satu hal: kematangan sang penyair. Matang karena puisi sudah dimasak dalam derajat tertentu, dengan resep tertentu, dan barang tentu pula, entah sudah berapa kali mereka melakukan percobaan, membuangnya, mengulanginya lagi, sampai menemukan satu cara mematangkan puisi yang aduhai.

Semangat seperti itulah yang bisa kurasakan pada diri Arco Transept saat membaca buku puisi terbarunya Didera Deru Kedai Kuala. Buku puisi ini merupakan buku puisi kedua, setelah Protokol Hujan.

Continue reading Membaca Palembang dari Mata Kedai Kuala

Puisi Pringadi Abdi di Solo Pos, 7 Oktober 2018

 

 

Pulang

 

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku adalah yahudi terkutuk
yang berjalan, tak sampai-sampai

hingga malam demi malam hanya untuk
sebuah gerhana penuh
berwarna merah darah

yang kemudian dikhianati mendung
hanya seekor burung muda tersesat
di langit, terbang, tak tahu pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku begitu muda, ingat pulang
tapi tak punya tempat.

Jatuh ke Senyummu

 

aku terjatuh ke dalam senyummu
dan aku terperangkap, terpenjara
sia-sia sudah kemerdekaan
bertambah lagi duka
setelah kemiskinan, intoleransi
kini aku papah padamu

isi kepalaku berubah, bukan lagi
kolam berair jernih
ikan-ikan tak berkumpul, pergi
menujumu

bagaimana caramu menjatuhkan aku
lebih cepat dari pukulan ali
ketika menjatuhkan foreman

senyummu adalah sebuah lubang
yang memaksaku jatuh
dan tak ingin aku bangkit kembali
biarlah kini duniaku di dalammu

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan

 

 

Memeluk Seluruhmu

Aku ingin memeluk seluruhmu
dirimu yang lebih luas dari seluruh nama
kedua lenganku yang tak terbiasa
mengukur dunia—kelilingnya telah diaku
oleh columbus, menemukan dunia baru
tempat orang-orang lari atau mencari kesunyian

dunia baruku adalah kamu, tetapi seluruhmu
di luar nalarku

aku tak bisa berpikir jernih
sungai musi, sungai kapuas, sungai bengawan
diberi tawas setempayan masih
sekeruh ingatan

sampai aku merasa khianat
sampai aku mengusir sepenuh kalimat
yang diciptakan daun-daun merah kemarin
disematkan cicit-cicit burung sriti muda
yang terbang setinggi-tingginya

aku ingin memeluk seluruhmu
seperti lengan sayap burung itu
ketika hendak memeluk langit

Puisi-Puisi Bill Knot, Terjemahan Pringadi Abdi

Puisi
Sebuah layang-layang
sebesar peta mengambang

di atas daratan yang dilukiskan

tetapi pada malam hari tidak ada yang melihat
bagaimana jalan itu berujung
sebagaimana seorang anak merasakan

tangannya tertarik ke atas
menghilang
dalam penghormatan

Pesan
akulah sang pembawa pesan
dikirimkan untuk menemukan
si jenius di dalam semua orang di sini
karena dialah penerima sejati
atas yang kubawa–
dialah yang membaca pertanda
yang tertulis dalam catatan ini
dialah si jenius di dalam semua orang
namun aku, satu-satunya yang mampu
bertahan untuk menyampaikannya kepadamu.

 

Death

Going to sleep, I cross my hands on my chest.
They will place my hands like this.
It will look as though I am flying into myself.
Kematian
Bersiap tidur, kusilangkan kedua tangan di dadaku
Mereka akan menempatkan kedua tanganku demikian.
Terlihat seolah-olah aku sedang terbang menuju diriku.
Bill Knot adalah penyair dari Amerika.

Puisi: Pelajaran Pertama Menendang Bola

ia pernah menendang bola

seolah-olah ia tendang dunia sejauh-jauhnya

semua pemain akan mengejar dan memperebutkannya

tapi terlanjur melambung terlalu tinggi

tanpa pamit pada gravitasi

 

bola itu mendarat di surga

setelah sukses melubangin ozon

tuhan yang lama sendiri dan tersiksa memungutnya

dan menyesal menciptakan kehidupan penuh oksimoron

 

bola itu, bola kecil itu, ia tunggu dan rindukan

sambil memandangi langit yang begitu bosan

menolak berbagai kepalan tangan

 

Tuhan yang baik, kapan bolaku kembali…

 

tapi tahun-tahun berllau, ia kian sendiri

teman-teman bermain bolanya telah pergi

dunia yang dikira ramah menculik mereka

menyekapnya, seperti tahanan dalam penjara

tak ada lagi yang berebut posisi striker

mencetak gol, lalu dielu-elukan bak pahlawan

dan saling mengolok bila ada yang lakukan blunder

lalu dicap sebagai pesakitan

 

bola itu, bola kecil itu, teronggok lesu

kenangan-kenangan masa kecil sudah tak berlaku

dikalahkan perangkap bernama waktu

 

Tuhan yang baik, kapan temanku kembali…