Category Archives: Puisi

Download Majalah Horison 1966-1990

Mau download Majalah Horison 1966-1990? Gampang banget. Tinggal klik di sini, arsip elektronik Majalah Horison tersebut dapat diunduh.

Majalah Horison adalah majalah khusus yang membahas tentang seni sastra di Indonesia. Majalah Horison pertama kali diterbitkan pada bulan Juli 1966 di Jakarta. Majalah yang didirikan oleh Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail dibuat untuk para pegiat sastra di seluruh Indonesia.

Pada ulang tahun ke-50 tanggal 26 Juli 2016, redaksi Horison memutuskan berhenti membuat Horison cetak.

Puisi | Antu Ruak Belekang

antu ruak belekang

I.

Segera, setelah menemukan api
ia membakar rasa khawatirnya
dan pulang ke rumah
Namun, ia hanya temukan darah
rambut, dan kuku
Antu Ruak Belekang telah memakan
saudaranya
Padahal, telah ia wartakan
bahwa diam itu emas, tak semua
pertanyaan harus diberikan jawaban
Dan ia sembunyikan kebenaran
di langit-langit
Seperti Tuhan menyembunyikan diri-Nya
di langit

II.

Namun, ia adalah keledai
yang tak belajar arti ketakutan
Ia kembali pergi
setelah Tuhan memberikan kehidupan kedua
Dan Antu Ruak Belekang
mampu mencium napasmu dan
mampu merasa kehilangan

Apalah arti pertempuran,
manusia dan setan
tanpa Tuhan

Selain lemah dan papah, tinggal kembali
bekas darah, rambut, dan kuku
Sebagai sesuatu yang abadi
menjadi pelajaran

(2019)

 

Puisi ini terinspirasi dari Cerita Rakyat Banyuasin yang berjudul Antu Ruak Belekang. Antu Ruak Belekang itu adalah hantu yang belakangnya hancur/bolong (Sundel Bolong) yang konon hobinya memakan manusia.

Rubrik Puisi | Puisi Wahyu Sekar Sari

Pagi Paling Serius

Pada suatu pagi yang direnggut hujan
Sebatang kayu basah menyala di perapian
Asap menggulung, telungkup, berpeluk
Di dinding kamar
Di atap dapur
Di loteng sunyimu

Pada suatu pagi yang berkilau sukma
Kubasuh sendu wajahmu melalui doa
Sabda-sabda mengangkasa
Membawa degub dikenang
Mengalir nyiur di kening




Tuju

Malam bergemuruh melahirkan remuk-remuk sakit
Menjangkau engkau yang tiada tuju merakit

 

Sepotong Malam

Menjelang adzan berkumandang di pesisir
Ombak yang berdesir bercengkerama
Menyeret pada ujung kail tua
Memunggungi punggungmu
Sementara sampai pasang surut pandangmu tiada pernah
Jatuh pada ujung pisau yang membelah sepotong malam

 

Memeluk Pelikmu

Pelukan-pelukan yang diproduksi besar-besaran
Tiada berbanding lurus dengan pelik-pelik hidupmu
Setiap subuh yang tenggelam
Setiap bebintang yang berselimut malam
Aku ingin menjadi satu-satunya
Peluk yang memeluk pelikmu

 

Cokelat Hangat

Dari balik bulu mata halus matamu
Sayup-sayup kulihat
Dua cangkir cokelat diseduh hangat
Pada dua tanganku
Yang kuberikan padamu



Biodata Penulis

Puisi Wahyu Sekar Sari

Wahyu Sekar Sari lahir di Kebumen pada 23 Agustus 1995. Selesai menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Indonesia pada tahun 2017 dan UIN Sunan Kalijaga jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial pada tahun 2018. Karya puisi, cerpen, dan artikel termuat di beberapa antologi bersama. Untuk berbagi warta, sila menghubungi wahyusekarsari23@gmail.com.


Buat kawan-kawan, yang ingin mengirim ke Rubrik Puisi Catatan Pringadi, silakan irimkan 3-5 puisimu ke sajakpringadi@gmail.com.

Namun, karena kenyataannya, jarang sekali puisi yang benar-benar membuatku tertarik, sehingga, periode dwimingguan pun nggak konsisten, Catatan Pringadi tetap menerima karya teman-teman semua dalam bentuk puisi, cerpen, maupun review buku. Hanya saja, saya belum bisa memberikan apresiasi berupa honor. Kecuali jika jumlah pengunjung tulisan lebih dari 500 dalam waktu 1 Minggu, saya akan berikan pulsa 25 ribu. Untuk yang rela, silakan kirim karyanya ke pringadisurya@sejiwa.sch.id

 

Puisi Pringadi Abdi di Majalah Bong-Ang

Puisi-puisi ini dimuat di Majalah Bong-Ang edisi Maret 2014

Majalah Bong-Ang

Aku Mencoba Menulis Puisi Ini di Twitter
Tetapi Tak Ada Hujan, Tak Ada Kau

di lini masa, tak ada hujan, tak ada kau
kata-kata turun dari langit seperti wahyu
tetapi siapa mendengar, siapa melihat

kita terbiasa tertawa untuk hal yang berbeda
tetapi selalu menangis untuk hal yang sama
berulang-ulang, berkali-kali, tapi tak bosan

setiap kesepian yang diwasiatkan para pencinta
yang kalah atau mati di dalam percintaan
kita simpan baik-baik seperti kapsul masa depan
tertanam di dalam tanah, di dekat sebuah pohon
yang telah dewasa sejak mula Adam
turun ke dunia dan perjalanan mencari kekasihnya

di lini masa orang berebut meminta disebut
tetapi tak ada nama tuhan, tak ada nama kau
aku seperti semut yang luput dari perhatian

ketika kupikir aku telah selesai menulis puisi,
ketika itu pula kusadari kau tak akan cukup
dalam lingkup 140 karakter yang ditakdirkan

(2013)

Intermezzo, I

ketika aku kembali, kata-kata telah punah
kita mulai lagi berisyarat dengan jari dan air mata
jika suatu hari, ada yang lebih baik dari bahasa bisu
bangunkanlah aku dari tidur panjang bernama hidup

(2013)

 

Fireflies

tribute to Owl City

mereka belum punah. satu juta kunang-kunang berumah
di dua pasang bola mata. kita

kadang-kadang mereka merindukan malam
bulan, dan cahaya temaram
bayangan yang kelelahan, ingin memeluk tiang lampu taman
sepanjang jalan, tiada siapa pun. daun-daun
memainkan musik dansa, aku menari
tetapi sendiri.

kamu tak ada. telapak kakimu tak ada di atas kakiku;

aku benci mengucapkan selamat tinggal

(2013)

Tak Ada yang Bertanya

tak ada yang bertanya kenapa ia menengadah
tiap kali pesawat tampak hendak mendarat;
kedua sayap itu tidak mengepak seperti
ketegaran daedalus, seorang ayah tak pernah tega
melihat anaknya meleleh
tapi tak ada yang bertanya kenapa ia sudi
menghidupkan lilin saat malam-malam sendiri

tak ada yang bertanya kenapa ia menulis puisi itu
yang tak nampak sepi-rindunya, kepada siapa: apa.

(2013)

Puisi Pringadi Abdi di Jurnal Amper

Kedua puisi di bawah ini termuat di Jurnal Amper Edisi 01, Mei, 2011

Jurnal Amper

Sonet Kenangan, 2

“Ada yang salah di jantungku.” Kau diam dan berpikir
mungkin aku sedang bercanda, dan bikin kau khawatir.
Tetapi, kita pergi merekam jantung, mengecek hormon,
dan betapa sengat membuat kita rindu pada segelas lemon.

Bus kuning ke arah Kertapati tak kunjung mau berhenti,
pukul satu nanti, kita akan menonton film Alice in Wonderland,
“Bagaimana kalau kita berjalan kaki?”
Aku mengangguk saja, sambil menghitung kerikil yang berceceran.

“Ada yang salah di kenangan.” Hari ini kau katakan itu, ketika
kata-kataku jadi kerikil di sepanjang jalan itu.
Aku terpaksa bertingkah keras kepala,
demi mengiyakan semua prasangkamu.

Ada yang salah di jantungku, memang. Tetapi tak pernah
ada yang salah di kenangan. Percayalah.

Meninggalkan Palembang

Yang berat adalah melepaskan udara–
terlanjur mengikat tubuh ringkihku. Kenangan-kenangan
memang bisa menyesaki dadaku. Duduk di sampingmu
malam itu, aku mencoba mencuri yang berkilauan
di bibirmu. Seperti berlian,
begitu berharga. Cinta ini sudahlah akan kulupakan.
Hangat tubuhmu, wangi rambutmu, dan ciuman-ciuman
yang menggenapi malam di antara kita seperti cuma
angin yang diam-diam sujud
di kedua kaki, lalu pergi mencari Tuannya yang lain.
Yang berat adalah kehilangan cinta–
bukan kehilanganmu, benda, tua, lalu mati suatu saat
nanti.

Puisi Pringadi Abdi di Majalah Horison

Lima puisi di bawah ini dimuat di Majalah Horison, pada bulan Maret 2011.

Majalah Horison Maret 2011

Ubin

Ia sebetulnya benci sapu ijuk tiap kali disuruh ibunya
membersihkan teras rumah yang berubin itu.
Bentuknya yang persegi membuat ia membayangkan
luasnya adalah kuadrat tiap sisi dan matematikanya yang
selalu dapat nilai lima.

Dua buah kursi dibiarkan menganggur di dekat pintu, ia
duduk sejenak dan menyaksikan ubin-ubin itu menggodanya.
Ia tertawa gembira, diangkatnya satu kaki, dan bermain
cak ingkling semaunya sendiri.

Di Ayunan

Bermain ayunan sendirian sore itu, seekor kucing melompat
manja ke pangkuannya. Ia ingat, dulu, seorang temannya pernah
meninggalkan tanda hati di ayunan ini. Cinta masa lalu tak lebih
dari cinta monyet.

Diraba dadanya, seperti ada sesuatu yang kosong.

Diraba yang kosong itu, sungai lahir dari matanya.

Menyeberang Jalan

Jalan di depan rumahnya sulit diseberangi. Ia harus menoleh
ke kanan dan ke kiri, sampai benar-benar yakin tak ada kendaraan
yang sedang ditunggangi malaikat maut. Ia takut, pesan ibu
di kantong bajunya tercecer di aspal yang berlubang itu. Karena itulah,
ia menyeberang pelan-pelan sambil memegangi dadanya yang
menyimpan kesepian.

Ia tak pernah percaya pada zebra cross.

Ia juga tak pernah percaya lampu merah.

Hujan dalam Sebuah Ingatan

Sepanjang Jalan Bungur, hujan mengantarkan jejak
kaki yang ia tinggalkan. Ada yang terselip di antara roda
kendaraan. Didedahkannya betis kaki, bulu-bulu halus
berlomba-lomba memanjat sampai pangkal paha.

Mungkin hujan adalah wanita.

Seketika ia berharap tak ada degam di dadanya.

Musim Penghujan

Musim hujan terpanjang waktu itu, kita berteduh di
beringin yang rimbun. Selalu ada yang memercik ke balik
kemejamu, titik-titik air yang lincah, berkelit dari dedaunan
yang rapat.

Aku tidak sudi, melihatmu berlari sambil menangkupkan
jaket di rambutmu yang pecah oleh sinar matahari. Jejak-jejak
sepatumu lengket di tanah yang becek. Lalu menjadi kolam-kolam
kecil yang merindukan ikan dan kehidupan.

Mungkinlah, seorang pengembara tidak pernah takut
musim penghujan.