Category Archives: Puisi

Puisi | Burung Kuwaw

Ia menghitung dari satu sampai enam puluh lima
tetapi ibunya tak kunjung pulang ke rumah
Ia memasang telinga sebaik-baiknya, agar langkah
dari kejauhan dapat ia kenali
sambil membayangkan sebatang tebu yang tinggi
dengan rasa manis yang bikin liur tuhan menetes

Namun, ia mulai menembang
Hari demi hari, batang demi batang tebu yang dibawa
Semua busuk dan tak memiliki aroma

Lalu mulailah satu per satu bulu bertumbuh
Diikuti sepasang sayap, ia mulai berubah menjadi
seekor burung, yang terbang dari ranting ke ranting

Ia menghitung lagi, dari satu sampai enam puluh lima
Begitu jumlah pohon yang sudah ia lalui
Sejak lari dari rumah
Tetapi kini tak lagi ada suara, selain kicau
yang kacau seperti hatinya, tatkala tak merasa
memiliki kasih sayang orang tua.


Puisi ini digubah dari Cerita Rakyat Banyuasin berjudul Burung Kuwaw. Puisi ini bagian dari usaha untuk memuisikan cerita-cerita rakyat Banyuasin. Beberapa puisi lain yang dapat dibaca misalnya Tanjung Agung, Lanang Penyungkan, dan Mengusir Setan.

Puisi-puisi An Naufil

Sebagai Sehelai Daun

Sebagai sehelai daun
hatiku terpaku cemburu
pada sepasang merpati
yang selalu memadu hati
hingga senja
menjemput mereka dengan sahaja

Sebagai sehelai daun
berusaha tegar
adalah perisai paling dasar
meski terik surya hina
tak jarang memanggang jiwa

Sebagai sehelai daun
tubuhku kemarau
dari segala pukau
tempat bertumpu beribu debu
masih adakah setetes embun bagiku
yang rela berkata
“aku menerimamu apa adanya”

Annuqayah, 2019

  Continue reading Puisi-puisi An Naufil

Puisi-puisi Baiq Wahyu Diniyati

Mengarak rindu yang tersapu angin

Aku masih perindu menunggu dengan kata pilu berbungkus bisu
Sama dengan kisah kisah mematikan yang kini berdebu
Foto-foto usang masih tergantung di dinding penuh kenangan
Menyisakan riak-riak pilu setiap kedipan masa lalu

Jauh sebelum aku mencuri paksa hatimu, Aku merangkai huruf kebahagian
Dalam buku yang bertahun mulai lusuh
Kita memulai bicara di beranda hati yang kau persilahkan
Namun tak lama, kita tak saling bicara kembali Continue reading Puisi-puisi Baiq Wahyu Diniyati

Tua

Dia sudah kirimkan utusan
Dari seorang
Menjadi sebuah pasukan
Lalu ketika becermin
Aku merasa di medan perang
Sebagai infantri
Di baris terdepan
Jenderal musuh memegang senjata
Seperti tombak, namun bermata
Bulan sabit
Aku ingin lari
Kembali ke masa kanak-kanak
Ketika berenang dan hampir terhanyut
Di aliran Sungai Musi
Ibuku berteriak dari seberang
Lalu Ayah menyelamatkanku
Namun kini kutahu, tak ada mereka berdua
Aku sendiri, dan aku tak bisa lari kemana-mana

(2019)

 

Shin Berhadapan dengan Jenderal Houken

Jenderal Houken mengaku
mewakili kemanusiaan
Meski berjuta kepala melayang
oleh ujung tombaknya

Shin-kita tumbuh dari tempat kumuh
Ia belajar memegang pedang
dari persahabatan
Setiap berada di peperangan
Ia mewakili orang-orang yang mati,
orang-orang yang menderita

Dengan tubuhnya yang kecil,
ia berhadapan dengan Jenderal Houken
Di atas kertas, bahkan dewa
Tak mampu menghadang alat-alat kekuasaan
Senjata terkuat bernama kebohongan

Tapi Shin-kita punya ketegaran
lebih dari gunung-gunung
Setiap satu serangan jatuh di dadanya
Terluka, berdarah
Itu tidak ada apa-apanya
dibandingkan pembantaian demi pembantaian
yang terjadi atas nama kemanusiaan

Jenderal Houken tak mengerti
Kenapa Shin yang kecil dan tampak ringkih
selalu bangun kembali
dan pelan-pelan berhasil berbalik
melukainya

(2019)

Rubrik Puisi | PUISI-PUISI DAFFA RANDAI

 

KEMBANG DADAR

di puncak kekalahan, bersama tujuh penggawa
kuturuni bidar menuju hulu dengan menjelma
tukang sayur yang berdagang di rusuk istana.

tanpa gaun dan perca keputrian, aku membaur
di tengah kerumun rakyat, menyelidik dari jauh
memantik siasat agar kau terjebak.

“pinang dan jajahilah tubuhku segera, paduka.”
biar lekas kuwartakan pesta kawin ke hilir
dan sanggup kupecah tubuh supaya adil.

2019 Continue reading Rubrik Puisi | PUISI-PUISI DAFFA RANDAI