Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Puisi | Membaca Koran

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Ketika kubaca koran pagi ini, kutemukan tubuhmu terpanggang

di sebuah halaman. Aku tak sanggup terlalu lama memandang

jasadmu yang hangus itu.

Aku hanya bisa menunggu pemadam datang,

memadamkan api yang masih menyala-nyala, dan menghindari orang-orang

yang setia menjadi penonton.

Aku bukanlah seorang penonton yang baik.

Aku tak bisa menangis, tertawa, atau juga bertepuk tangan.

Setelah api bersedia pergi, kau telah sulit dikenali.

Bahkan tanda pengenalmu, yang hanya berupa kertas dilaminating

juga ikut terbakar. Sidik jarimu–

upaya sia-sia untuk mengetahui identitas. Tinggal nanti,

pasti ada yang datang menangis, meraung-raung

menyebut cinta dan harapan yang pernah kau titipkan itu

tidak pernah lebih khianat dari negara yang mengkhianati bangsanya.

 

Ketika kubaca koran pagi ini, aku belum tahu di mana

nanti kau akan dimakamkan.

Barangkali orang-orang yang mengenalmu ingin Kalibata.

Tapi, bahkan tanah pemakaman di Jakarta sulit terbeli.

 

Puisi Pringadi Abdi Surya di Lombok Post, 30 Juli 2017

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Sajak Pi

 

aku ingin belajar mencintaimu, tetapi tidak di

kehidupan ini

karena Waktu datang begitu terlambat

untuk mengenali betapa Cinta adalah dirimu;

 

sebuah Trans-Jakarta lewat, aku berharap Kau

menempuh jalan yang sama denganku, hanya

Kau diam, aku diam, mencoba menatapmu lebih dalam

 

aku tidak mencoba ke mana-mana, tetapi Kau pun

tidak mencoba ke dadaku, “Cinta mungkinlah

sebuah lelucon,” begitu pikiranku berkata sementara

 

aku telah kehabisan kata-kata meski sekadar

mengatakan aku telah jatuh cinta kepadamu.

 

 

***

 

dua hal yang aku sadari semenjak saat itu:

 

Perasaan adalah gerimis terakhir yang turun

sore hari, dan orang-orang menggerutu, membicarakan

api tanpa tungku, bulan biru, dirimu.

 

dan aku pelan-pelan berharap, di kehidupan yang lain

bus yang sama akan lewat, dan aku sempat

menggenggam tanganmu–dengan sangat erat.

 

 

 

 

 

Hujan dalam Sebuah Ingatan, 11

 

Hujan begitu deras dan telah mencapai mata kaki.

Aku menantang diriMu yang luluh oleh kesepian. Sementara

orang-orang telah lebih dulu membenci keramaian.

 

Ia yang berdiri di halte, membawa masa lalu di ranselnya.

Aku tak pernah membawa apa pun, Kau lah yang berpura-pura

memberikan aku sebuah dada yang tidak mampu memiliki

apa-apa. Kecuali air mata yang mengalir tanpa alasan.

 

 

Hujan dalam Sebuah Ingatan, 8

 

Aku memanggilmu, Kawan, ketika pada akhirnya gerimis itu

patah, mayat-mayat bergelimpangan di badan

jalan dan seorang lelaki menari telanjang, memamerkan dadanya

yang berlubang. “Inilah peluru akibat diriku yang terlalu setia

padaMu.”

Dan dia terbaring, tetapi bukan tidur, Kawan;*

 

Aku menantikan seseorang berteriak, memaki, memukul-mukul

kepalanya sendiri, tetapi begitu lengang hari itu,

dan pintu-pintu tak ada yang mengenali, jendela bertirai

Mereka yang terkulai seperti sampah yang dilempar

dari kaca mobil, melaju dengan kecepatan sedang di jalan tol itu;

 

Aspal merah. Pasti gerimis yang berdarah.

 

*Toto Sudarto Bachtiar, Pahlawan Tak Dikenal

 

 

 

 

 

Bom, Tuan Malna

: ulil

 

Tuhan belum mau kamu mati hari ini

karena Tuan Malna tidak mencintai kebebasan;

 

Hari itu, Tuan Malna sedang belajar merakit bom, “Ini

bom untuk orang munafik.” Ia menyobek kalender

dan menggunting lanskap langit yang cengeng.

 

Orang-orang cengeng sesungguhnya akan berlindung

di ketiak kekuasaan. Orang-orang munafik sesungguhnya

akan menggunakan kebebasan sebagai alasan.

 

Jam berdentang dua kali dan pintu diketuk,

Tuan Malna masih duduk memikirkan cara yang tepat

untuk meledakkan kepala Ulil.

 

“Mana yang lebih Tuan benci: polisi atau politisi?”

Sang Tamu bertanya limbung, Tuan Malna juga bingung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mary Tinggal di Luar Rumah Saban Malam

: moon geun young

 

Sebuah rumah tanpa ibu membuat ia harus menghitung

sampai sepuluh. Ia terbiasa berpura-pura tidak punya air mata

dan memamerkan kelerengnya yang tinggal dua butir. Setiap

malam, ia menunggu ketukan pintu dan seorang pemusik

akan meniupkan seruling tanpa berbasa-basi.

Hidup seperti drama. Hidup seperti televisi 14 inchi. Hidup

tidak mungkin sebuah kenyataan. Ia meyakini itu dan terus

berpura-pura memiliki suami, memiliki cinta, dan mampu

membohongi siapa saja. Termasuk Tuhan yang bersembunyi

di dalam cermin.

:

Sebuah rumah tanpa ibu membuatnya memilih tinggal di

luar setiap malam dan menyembunyikan kunci rumahnya

di bawah pot bunga yang tak pernah lagi disirami.

 

 

5 Puisi Pringadi Abdi Diterjemahkan oleh John H. Mcglynn

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Sublime

 

You will return but not to my side, the poems

That you wrote in that one solitary letter

Have begun to blur, with some of the word vanishing

Like gas. Becoming the air that i breath

Even though life is never willing to be like champor

Even while i have to wait and wait for you

To open the door, to catch the scent of your perfume

 

Between us, i’m not actually certain

How much this embrace really means

 

The moment to take you away

Is the moment you take me to die

 

 

At The Station

 

anyone might think

we are sitting at this station

in wait of someone

we know not who

trust is like fire

we only know, he will come

faithful twilight is on fire

its flame dancing

like is an opera

we are pair of gulls

meeting in storm

remembering a love with an unchanging climate

when we were so very much accursed

we could only wait

for someone, or anyone

without the heart to bring bad news

about candles or lanterns

distinguished bya typhoon

anyone might think

we are sitting at this station

as people, waiting for someone

we know not who

we know not why

 

 

 

Sandy Serenade

1.

We will learn to cry, but nor in poetry.

2.

He was just an entertainer, who tought humanitarian displays would

Finally end. But not that night; the sky was still red. Sand was in the

Air, attacking eyes that still could see. Afterwards he couldn’t see

Anything, except the past from within his heart.

What he felt was not hopelessness. There was sure to be a tomorrow.

A day when he would dance again at the end of rifle muzzle, and feel

The coldness of bullets in his body. But that night it was not cold, as if

The birth fire found in every mand had made his body pur with so

Much sweat it formed a small river leading to nil.

May be there won’t be a war. May be there won’t be death. But people

Welcome war and death with laughter and guffaws. He could not bear

The tightness in his chest. Oh.

3.

Isn’t history written in blood?

But he had only learned to write with ink

And cry with tears.

 

 

I tried to write this poem on twitter but there is no rain

And there is no you

 

In the line of time, there is no rain, no you,

Words descend from the sky line divine inspiration

But who can hear, who can see

 

We are accustomed to laughing at different things

But always cry for the same

Again and again, over and over, untiring

 

Each loneliness bequeathed to lovers

Who are defeated or die in their love

We stor carefully like a time capsule

 

Buried in the deep earth, near a tree

That was full grown since the time Adam

Come down to earth in his journey to find his love

 

In the line of time, people compete to be mentioned

But there is no mention of god, nor for you

I am the ant that escapes attention

 

And whenever I thin I’ve finished writing a poem

It’s then i also realize there cannever be enough of you

In the scop of 140 characters

 

 

 

The Last Rain in Memory

 

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
for leaves have only just begun to grow
after the curse of a century of drought
for my failure as a man to turn stones
into gold

an elderly alchemist named khidir
who disappeared into eternity
left a message for me:

even one drop of the bitter rain that fell that evening
is capable of becoming a new world

no one knows, I’ve even concealed my shadow
in that old and windowless house
and that I’m looking now for other shadows
cast by a woman with reddened lips

upon seeing her, the rain will lessen
and everyone will begin to affirm the feeling of pain

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
and the leaves that are styudying to write down names
don’t come to know how your name is spelled

as death or as love

 

(2014)

 

Sejumlah Pertanyaan Tentang Cinta

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Puisi | Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta

apakah kamu masih mencintaiku, meski suatu hari
aku tak lagi menulis puisi untukmu
lirik-lirikku berubah menjadi, mengenai orang mati
yang tak bersalah, dan mungkin sedang ditunggu kekasihnya
memikirkan puasa besok akan bersahur dan berbuka dengan apa
tetapi lalu ia tak lagi ada di dunia, dan hanya
menghiasi setiap pemberitaan
yang tak pernah benar-benar memikirkan kemanusiaan?

aku menjadi lupa padamu, dan teringat banyak hal
yang lebih penting kutuliskan
daripada terus-terusan memuja segala hal yang ada padamu
toh, kecantikanmu akan tetap kecantikanmu
tak akan hilang atau berkurang meski kutuliskan atau tidak kutuliskan
sementara orang mati, meski tak akan hidup lagi
membuatku merasa suatu hari aku akan mati
dan saat itu, aku tak akan lagi bertemu denganmu
mati tua atau mati muda–yang tak pernah kita tahu
adalah kepastian

apakah kamu masih mencintaiku, meski suatu hari
ada perpisahan
yang tak mungkin kita hadapi dengan bahagia?

aku akan tetap cinta padamu, meski aku tak tahu
akan berubah menjadi macam apa nantinya
atau aku kehilangan kemanusiaanku sendiri

Puisi | Dua Orang Bersahabat

Published / by Pringadi As / Leave a Comment
dua orang palembang mengaku bersahabat
seorang tinggal di kenten laut, seorang lagi di meranjat
mereka mengaku tak perlu berada dekat
bila rindu, pohon tertinggi di kampung akan dipanjat
dan mereka akan berteriak kuat-kuat
bicara soal pindang yang sudah terhidang
dengan aroma yang bikin liur tuhan ikut menetes
di zaman itu memang belum ada telepon genggam
di zaman itu segalanya juga penuh budi dan dendam
dua orang palembang itu bersepakat
sejak masa lalu dan sampai masa depan, musi tetap cokelat
kadang-kadang mereka saling mengirim surat
segalanya mengambang di sana, juga mayat malaikat
siapa yang memanahnya, menyangkanya seekor burung jahat
dengan begitu kiamat akan datang, kiamat akan datang
bumi akan kembali, bumi akan kembali, ke zaman es!

Sebuah Dini Hari

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

telah kucoba bunuh sebuah dini hari

yang berusaha merangkulku

bertingkah bak seorang teman akrab

yang sudah lama tak bertemu

namun ia berhasil meloloskan diri

dan aku mengejarnya dengan kereta

yang gerbongnya penuh penumpang

 

manusia jenis apa saja yang sudah langka

kutemui dan sebisa mungkin tak kuucap salam

 

aku tak ingin berbagi udara apalagi

mengenal siapa pun yang merasa

dunia ini masih baik-baik saja

 

kereta berjalan, di suatu tempat ada hidup

yang terhenti

orang-orang mati menggigil

dikalahkan dini hari:

orang-orang yang tak memiliki rumah

dan tak berhasil mengemis pada tuhan

 

sepanjang apa perjalananku sebagai pemburu

aku baru menyadari aku telah musafir

yang luput dan tak kupahami

adalah engkau yang membuatku fakir

tinggal sepi yang milikku