Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Puisi | Aceh dalam Pandangan

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Bayangkan suatu pagi, langit dipenuhi ribuan jamur

Pesawat-pesawat melintas, dekat dengan darat

Televisi di ruangan jauh lebih gelisah dari hati

Yang baru saja dikhianati

 

Setetes darah tak akan menetes di bumi Aceh

Tapi sejak itu kami mulai terbiasa

Mendongeng tentang saudara kami yang hilang

Kenangan saat makan kambing

Pada sebuah sore yang kini binasa

Orang kampung yang tidak mengerti apa-apa

Selain tani, dan secangkir kopi bahagia

Didudukkan di depan anak-anaknya

 

Bayangkan suatu pagi, dirimu adalah salah satu

Dari anak-anak itu

Tidak ada film kartun lucu

Di depanmu, ayahmu dituduh pemberontak

Sebelum ia sempat menghabiskan

Secangkir kopi yang belum mendingin itu

 

Tak perlu mengerti apa-apa

Pikiran tak pernah begitu penting

Tak masalah memisahkan pikiran itu

Dari raganya.

 

Bayangkan suatu pagi, bukan kami

Yang melihat langit dipenuhi jamur.

Kau menyaksikannya sendiri

Saat hendak berjemur

 

Di ruang keluarga, televisi menyala

Pembaca berita berkata,

Apa yang lebih menyakitkan

Dari sebuah perpisahan?

Puisi-puisi T.E. Hulme, diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment
Autumn
A touch of cold in the Autumn night—
I walked abroad,
And saw the ruddy moon lean over a hedge
Like a red-faced farmer.
I did not stop to speak, but nodded,
And round about were the wistful stars
With white faces like town children.
Musim Gugur
Sebuah sentuhan yang dingin
pada sebuah malam di musim gugur—
aku melangkah ke luar negeri
dan kusaksikan bulan berdarah
meringkuk di atas pagar
Seperti muka petani yang kemerah-merahan.
Aku tak berhenti berbicara, tapi mengangguk,
dan mencari bintang-bintang yang tersedu
dengan wajah pucatnya
seperti halnya anak-anak kota.

ABOVE THE DOCK

Above the quiet dock in midnight,
Tangled in the tall mast’s corded height,
Hangs the moon. What seemed so far away
Is but a child’s balloon, forgotten after play.

 

Di atas Dermaga

di atas dermaga yang tenang, pada suatu tengah malam

meringkuk di ketinggian, pada tiang kapal yang rusak

sebuah bulan. terasa begitu jauh

tetapi itu adalah balon seorang anak yang dilupakan seusai bermain.

 

The Embankment

Once, in finesse of fiddles found I ecstasy,
In the flash of gold heels on the hard pavement.
Now see I
That warmth’s the very stuff of poesy.
Oh, God, make small
The old star-eaten blanket of the sky,
That I may fold it round me and in comfort lie.

 

Tanggul

Pada suatu hari, dalam sebuah permainan biola yang mempesona
kurasakan ekstasi
Dalam kilasan langkah sepatu berhak emas di trotoar yang keras itu.
Sekarang, lihatlah aku,
Kehangatan itu adalah materi paling subtil bagi puisi.
Oh, Tuhan, membuatku merasa kecil
bak bintang-bintang tua, yang tertelan selimut angkasa
Bahwa aku mungkin saja melipatnya
dan merasa nyaman berbaring di atasnya.

 

 

Puisi T.E. Hulme: Trenches: St. Eloi diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Di atas lereng gunung Eloi

Karung-karung pasir bertumpuk bak sebuah dinding besar.

Malam,

Di dalam kesunyian, pria-pria yang tak kenal lelah

Memadamkan unggun kecil, membuang sisa kaleng bir:

Ke sana ke mari, dari garis itu.

Para pria berjalan seolah-olah berada di Piccadilly1,

Menggambar takdir di dalam kegelapan,

Melalui kuda-kuda mati yang bergelimpangan

Di atas perut Belgia yang binasa

 

Orang Jerman punya roket. Orang Inggris tak punya roket.

Meriam bersembunyi, berbaring beberapa mil di belakang garis

Di hadapannya, kekacauan:

 

Pikiranku adalah sebuah koridor. Pikiran-pikiran tentangku juga koridor.

Tak ada saran apa pun. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan, kecuali maju!

 

1Piccadilly adalah nama jalan di pusat kota London.

 

Trenches: St. Eloi

Over the flat slopes of St Eloi
A wide wall of sand bags.
Night,
In the silence desultory men
Pottering over small fires, cleaning their mess- tins:
To and fro, from the lines,
Men walk as on Piccadilly,
Making paths in the dark,
Through scattered dead horses,
Over a dead Belgian’s belly.

The Germans have rockets. The English have no rockets.
Behind the line, cannon, hidden, lying back miles.
Beyond the line, chaos:

My mind is a corridor. The minds about me are corridors.
Nothing suggests itself. There is nothing to do but keep on.

Puisi Seorang Jenderal

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Puisi Seorang Jenderal

Seorang jenderal besar lupa

kata-kata lebih berbahaya

daripada lima ribu senjata

 

Kata-kata tak punya mata, mereka

bebas membunuh siapa saja

yang sengaja atau tidak sengaja membaca.

Membaca tak lagi jendela dunia

tetapi bisa pula pintu gerbang kematian.

Kata-kata tak punya telinga, tak peduli

pada suara lain di luar sana

yang gaduh dan lebih gaduh

dari demonstrasi kenaikan upah buruh.

 

Puisi| Kereta ke Rohingya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tuhan meninggalkanku

di Manggarai

 

Kereta-kereta penuh sesak

Setiap orang berebut naik

Tanpa membicarakan surga

Tanpa membicarakan-Mu

 

Samar-samar kudengar

Kita cukup menjadi manusia

Untuk peduli

 

Tapi dadaku mungkin lupa

Kemanusiaan seperti apa

Yang menggerakkan tubuh pekerja

 

Rasa takut terlambat

Kemacetan lalu lintas

Atau gangguan aliran listrik atas

Telah sungguh melebihi dosa

 

Kereta berangkat, menjauh

Semakin kecil, semakin

Kecil

 

Tuhan meninggalkanku

di Manggarai

Puisi | Membaca Koran

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Ketika kubaca koran pagi ini, kutemukan tubuhmu terpanggang

di sebuah halaman. Aku tak sanggup terlalu lama memandang

jasadmu yang hangus itu.

Aku hanya bisa menunggu pemadam datang,

memadamkan api yang masih menyala-nyala, dan menghindari orang-orang

yang setia menjadi penonton.

Aku bukanlah seorang penonton yang baik.

Aku tak bisa menangis, tertawa, atau juga bertepuk tangan.

Setelah api bersedia pergi, kau telah sulit dikenali.

Bahkan tanda pengenalmu, yang hanya berupa kertas dilaminating

juga ikut terbakar. Sidik jarimu–

upaya sia-sia untuk mengetahui identitas. Tinggal nanti,

pasti ada yang datang menangis, meraung-raung

menyebut cinta dan harapan yang pernah kau titipkan itu

tidak pernah lebih khianat dari negara yang mengkhianati bangsanya.

 

Ketika kubaca koran pagi ini, aku belum tahu di mana

nanti kau akan dimakamkan.

Barangkali orang-orang yang mengenalmu ingin Kalibata.

Tapi, bahkan tanah pemakaman di Jakarta sulit terbeli.