Category Archives: Puisi

Pertanyaan di Ruang Itu

Bisa saja aku mengenang Orde Baru, yang telah tumbang itu
saat semua rakyat dipaksa menutup mulut
dan pura-pura bahagia. Di ruang itu sebaliknya,
aku diminta membuka mulut selebar-lebarnya, dan
menjawab pertanyaan setelah divonis radang tenggorokan.

Sesungguhnya aku cukup tersentuh, pertanyaan demi pertanyaan
membuat kami seolah karib dan penuh perhatian:
Apa yang aku makan kemarin, apa aku cukup makan sayuran, apa
terlalu berlebih makan gorengan, apa aku keranjingan
minum minuman dingin

Kubayangkan seandainya Presiden yang bertanya demikian
tidak akan ada warga negara yang kelaparan
Semua orang terisi perutnya, dan bebas dari ancaman kekerdilan
Tidak akan ada yang kena diabetes pada usia muda
Sebab gula atau pemanis pada minuman kemasan
jauh lebih jahat dari teroris yang memberondongkan peluru
Beberapa nyawa mungkin tiada
Ketimbang penyakit gula yang membunuh manusia pelan-pelan

Ia memintaku jujur, lalu kukatakan
aku sudah cukup disiplin melakukan hidup sehat
kujaga pola makan, tidur dan bangun cepat
juga olahraga meski baru plank atau lari di tempat

Namun, ia menyebutku tukang bohong
Sebab radang tenggorokan pasti ada sebabnya
Aku disuruh mengaku pada hal-hal yang tak kulakukan

Lalu apa bedanya masa ini dengan Orde Baru
ketika kebenaran sedemikian baku dan dipaksakan
kalau dulu, segalanya dibungkam
kini, semua diminta berbicara dengan teks yang sudah disiapkan
Semua media besar mengamini
Sehingga tak ada ruang bagi perlawanan

 

 

Puisi | Pulang [Indonesian Poetic Translation of “Home Is Far Away”]

Puitisasi lagu Home is Far Away, Epik High feat Oh Hyuk

Tak ada taksi yang melintas.
Rasanya hujan akan segera turun.
Kubayangkan perjalanan pulang
yang masih begitu jauh.
Dan segala beban hari ini
yang kupanggul di atas pundakku yang renta
ingin rasanya sejenak kuletakkan.

Tak ada yang berubah sedikit pun
Aku masih sendirian.
Setiap kulihat ke depan, pemandangan
Gunung Everest adalah batas dari standar dunia
Dan tekanan hidup
yang membuatku tak pernah mampu beristirahat
meski telah kutenggak segala jenis pil tidur.

Lalu hujan turun, dan rumah, ah
Masih begitu jauh. Aku takut menjadi manusia biasa.

Masih tak ada taksi yang melintas.
Dan ketakutan demi ketakutan seperti cengkeraman tangan
di kakiku.

Aku ingin lari, tetapi tak lagi ada langkah, tak lagi ada hati.
Segala mimpi yang pernah ada, telah menjadi bagasi.

Aku ingin sekali meletakkan jeda di hidupku. Di antara
segala angka dan matematika kehidupan.
Tak sanggup lagi bertahan, dan memandangi telapak tangan
(tangan yang kosong, tak mampu menggenggam apa pun)
Siapa yang bisa bertahan dalam pelukanku? Apa yang mampu
kujaga dalam dekapanku?

Berat sudah rasanya kaki ini. Tetapi,
angin terus bertiup dan masih tak ada taksi
yang melintas. Dan hujan kini melanda dadaku.

Puitisasi Lirik “I’m OK” – iKon

Aku baik-baik saja, tak perlu
menghiburku.
Tak usah ada
rasa iba.
Aku baik-baik saja, tanpa perlu
kautemani.
Kekhawatiranmu akan sia-sia
Sudahlah, jangan pikirkan aku
Aku terbiasa begini, sendiri.

Aku tak mau mendengar kata-kata pengharapan.
Realitas yang begitu memuakkan
membuatku karib dengan insomnia. Sudah kucari
hal-hal yang mampu mengisi kekosongan,
namun berakhir pada minum yang memabukkan.
Situasi yang berbeda tak membuatku jadi berbeda
Menjauh dari diriku sendiri, kesendirian yang selalu ada
dari waktu ke waktu
Dan aku hanya mampu tersenyum setiap kali orang bertanya
tentang kabarku

Pertanyaan basa-basi itu, aku tahu
aku merasa buruk, dan tak berada
Ketika aku merasa sepi, barangkali saat itu
ada air mata yang merembes dan jatuh ke pipi
Saat kau melihatnya…
Tolong, berlalu saja, tak perlu peduli

Rasa sakit akibat perpisahan
Aku tak mau mendengar apapun bernama pengharapan
Luka yang tertinggal dada
Akan sembuh dalam satu-dua hari
Dan kuucap dalam-dalam,
diam adalah bahasa bahagia
air mata adalah tanda cinta

Aku tak akan mati hanya gara-gara
dia telah meninggalkan aku
Jadi, jangan lihat aku seolah-olah
kau melihat seseorang yang menjemput mautnya

Hanya perhatikanlah ketika angin berembus,
daun-daun gugur menari
Dan manakala ombak menyapa, lautan bergelora
Begitu juga dadaku yang terluka
ketika cinta berlalu begitu saja

 

 

Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Saya jadi ingin mendokumentasikan karya-karya lama yang sudah dimuat di blog. Dua Puisi dalam buku Amarah ini awalnya kuikutkan lomba di Lembaga Bhinneka. Sajak untuk Kenangan berhasil meraih juara pertama (kalau tidak salah), dan tak disangka, beberapa karya yang diikutsertakan dalam lomba tersebut dibukukan.

Buku Antologi Amarah

Continue reading Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Puisi Pringadi Abdi Surya: Dari Angin, Kita Pergi ke Surga

Ketiga puisi ini kukirimkan buat aplikasi Banjarbaru Rainy Day Festival 2018 yang disebut-sebut Binhad Nurrohmat penuh kekacauan. Namaku masuk dalam antologi puisi, namun aku tak tahu bagaimana wujud buku itu, dan puisi apa yang diterima. Tidak ada kabar lebih lanjut sama sekali. Ya, aku bagikan di sini saja. Semoga teman-teman menikmatinya.



ANGIN

setelah ini, tak akan ada lagi yang bersedia
membawa cahaya turun dari atas bukit

kaki angin baru saja dipatahkan
saat gagal menginjak pucuk-pucuk cemara

daun-daun yang kehilangan arti
jatuh begitu saja, menjadi batu atau besi
tak sanggup berdamai dengan gravitasi;

dalam suratmu yang terlambat sampai itu
aku memahami kerinduan melihat layang-layang
ingin merdeka dari ikatan benang
menunggu evolusi, dan langit jadi lautan
kau adalah ikan yang berenang di dalam kolam

aku tetap terasing dan selalu gagal berteriak
menanti siapa saja yang rela menjemputku
tanpa kendara, tanpa…

(2013)


SEBUAH PELURU PADA SABTU ITU

Ia sedang berpuasa dan tak pernah
memikirkan malam minggu akan berbuka di mana
Ketemu teman sekolah misalnya,
berkumpul, bergosip tentang laki-laki
yang dulu mengirimkan surat cinta
Lalu saat azan dikumandangkan, pesanan
menu berdatangan
Tapi, tak pernah ada yang tahu
Diam-diam hari itu ada yang memesankan peluru
untuknya
Tanpa nama, dengan paket super kilat
Catatan terselip kepada si pengantar
“Harus tepat dikirimkan ke dadanya”

Sebuah peluru itu, tak mungkin dari laki-laki
yang dulu mencintainya
Semua laki-laki yang ia kenal sudah pergi lebih dulu
Satu yang paling tampan
Melemparkan batu seolah-olah itu granat tangan
Tapi senapan selalu lebih mesra
dari penyair mana saja
Yang mencoba peduli dengan puisi-puisi
Tapi diam bila moncong senjata itu
mencoba berkenalan dengan jantungnya

Ia menyadari, ia tidak bisa menangis hari itu
karena akan tak adil
bila ia kemudian tak menangisi semua orang
yang bertahan demi iman dan tanah air

Dengan tegar, ia berujar
Dunia ini selalu bisa kita pandang baik dan buruk
kecuali Israel terkutuk

Ia sedang berpuasa dan tak pernah membayangkan
malam minggu seperti apa
yang kerap dirasakan anak-anak muda
Ia hanya merindukan ayahnya
Ia merindukan masa kecilnya
Saat ia memimpikan suatu hari
Dunia yang ia kenal ini
Bersepakat tanpa senjata
Lalu segala hal yang mungkin dan tidak mungkin
terjadi dalam hidupnya

Termasuk manakala seorang lelaki
menyalami ayahnya
Dan air mata yang selama ini ia tahan
menderas dengan pantas
Demi mengucap kalimat “Setelah selamanya…”

(2018)


Pergi ke Surga

Dia bilang ingin ke surga
Tapi malaikat bertanya, surga yang mana

Istri dan keempat anaknya ikut serta
dan tak tahu apa-apa
selain ayah adalah seorang kepala keluarga

Anak laki-laki tertuanya belum ikut ujian universitas
Sambil membayang-bayangkan masa depannya ditentukan selembar kertas
Adiknya, mungkin baru masuk masa pubertas
memikirkan gadis dengan kerudung emas
Curi-curi pandang sambil berharap cemas

Tapi malam itu, dia berkata
Besok kita pergi ke surga

Kedua anak laki-lakinya tidak bertanya, surga yang mana
Istrinya mencuri dengar, lalu pergi ke dapur
Ia buka lemari, dan menemukan beras penuh jamur
Kedua anak perempuannya sudah tertidur
Setelah bersabar menunggu janji dimasakkan semur
Besok, ia berencana memasak semua bahan
yang tersisa di rumah

Dengan perasaan bahagia, ia ingin ikut ke surga
Tapi tak tahu surga yang mana

Surga, Ayah, ceritakan tentang surga
Tapi sang ayah juga tidak tahu, surga yang mana
Surga, pokoknya surga!

Malaikat yang baik hatinya berkata

Surga adalah tempat orang-orang yang beriman
Khusuk dalam salat, menjauhkan diri dari hal yang sia-sia
Surga adalah tempat orang-orang yang bertaqwa
Yaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik
Surga adalah tempat orang-orang berpahala
Menahan diri dari segala hawa nafsunya

Surga bukan…
Surga bukan tempat pembunuh
Bukan tempat orang yang suka menggelar peperangan

Tapi dia berkata sudah dijanjikan surga
Meski tak pernah tahu surga yang mana


 

Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley

Berikut adalah kumpulan puisi dari saya (Pringadi Abdi) dengan Andi Arnida Massusungan. Kumpulan puisi ini terbit sekitar tahun 2013, secara indie. Dan rasanya cetakannya sudah habis. Rasanya tak ada salahnya, saya bagikan di sini.


Kumpulan Puisi Pringadi Abdi & Andi Arnida Massusungan


Jika bermanfaat, mohon di-share/dibagikan ke teman-temannya, melalui postingan ini. Dengan begitu, saya jadi tahu berapa banyak orang yang berkunjung dan mengunduh kumpulan puisi ini. Continue reading Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley