Category Archives: Puisi

Sebuah Review Atas Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang

Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang

Judul : Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang
Penulis: Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 104 halaman


Tadinya, aku ingin memaki buku ini. Ada kecurigaan luar biasa bahwa puisi-puisi di dalamnya adalah puisi-puisi yang buruk. Klaim Rintik Sedu pada saat peluncuran buku, dengan menyebut buku ini sebagai mahakarya adalah lelucon. Apalagi kemudian Sapardi hadir, ikut main Tiktok, dekat dengan saat peluncuran buku ini.

Sapardi Djoko Damono, tetua kita itu, takluk pada ideologi pasar….

Kira-kira itulah yang muncul di dalam kepalaku.

Namun, akan tak adil, jika kita menilai sesuatu, tanpa membacanya secara utuh. Aku tunggu kehadiran Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang di aplikasi Gramedia Digital di ponselku. Dan ia hadir pada saat kabar duka datang (bagi Sapardi), yakni ketika anak lelakinya meninggal dunia terlebih dahulu.


Apa perasaan seorang ayah melihat anaknya meninggalkan dunia ini terlebih dahulu?


Continue reading Sebuah Review Atas Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang

Penggunaan Preposisi Pada, Kepada, Ke, dan Di dalam Puisi

Penggunaan preposisi/kata depan seperti pada, kepada, ke, dan di di dalam kalimat seringkali keliru. Ketiga kata tersebut mempunyai arti yang berbeda.

Sebelumnya, seperti kata Ivan Lanin. untuk menentukan kata depan apa yang sesuai, ada dua hal yang perlu dilihat, yaitu (1) apa kata yang didahului dan (2) apa arti yang ditandai.

Dari matriks di atas, kita dapat melihat apabila kata yang didahului adalah tempat, preposisi/kata depan yang digunakan adalah di atau ke. Bedanya, di digunakan untuk menunjukkan posisi/keberadaan, sedangkan ke untuk menunjukkan tujuan/arah. Apabila kata yang didahului bukan tempat, preposisi yang digunakan adalah pada dan kepada. Lalu, lihat apa arti yang ditandai oleh kata depan tersebut. Untuk menandai posisi atau keberadaan, gunakan pada sedangkan untuk menandai tujuan atau arah, gunakan kepada.

Penggunaan Kata Depan pada Puisi

Penggunaan preposisi/kata depan tersebut sebenarnya sangat menarik apabila kita menggunakannya dalam ragam bahasa sastra, terutama puisi. Kita dapat menukar fungsi masing-masing kata tersebut untuk tujuan estetika dan filosofi.

Bagaimana maksudnya?

Misalnya saja, saya pernah bikin puisi. Judulnya Jatuh ke Senyummu. Kita bisa saja bilang, seharusnya secara bahasa Indonesia, lebih tepat Jatuh di Senyummu. Karena menunjukkan posisi/keberadaan.

Namun, Jatuh ke Senyummu menunjukkan tujuan/arah, yang berkaitan dengan erat bahwa jatuhnya sang aku memang disengaja menuju pada senyummu. Sang aku sedang dalam proses jatuh, tetapi belum sampai, dan ia punya kuasa untuk menentukan arah jatuh tersebut.

Contoh lain adalah ketika kita ingin :menghidupkan” tempat. Kita tidak akan menulis Di Jakarta. Kita boleh menulis Pada Jakarta untuk memberikan nyawa. Dengan begitu, Jakarta punya kehendaknya sendiri, bukan seperti tempat yang diam, objek pasif, yang tidak punya kekuasaan.

Yang juga sering dilakukan adalah memindahkan konsep waktu ke tempat. Yang benar, seharusnya seperti lagu Pada Hari Minggu. Namun, tak sedikit yang menuliskan Di Hari Minggu dengan tujuan bahwa hari Minggu menjadi suatu tempat (bukan cuma waktu).

Nah, selain itu, ada juga yang menarik dari pada dan kepada. Kata kepada seringkali dikatakan khusus digunakan untuk nomina insani (manusia). Seperti dalam kalimat, “Aku jatuh cinta kepadamu.” Namun, tidak jarang yang menulis “Aku jatuh cinta padamu”. Jika itu ditemukan di dalam puisi, justru biasanya ada tujuannya. Kata pada sengaja dipilih untuk menghilangkan sifat insani mu sebagai sebuah kritik bahwa cinta terkadang justru menjadikan pelakunya sebagai objek yang tidak setara dan tidak punya kehendak seperti manusia.

Kesengajaan untuk menukar fungsi dalam puisi adalah bagian dari Licentia Poetica atau kebebasan penyair dalam menciptakan estetika. Seru nggak?

Puisi-puisi Andika Dwi Setiawan

Andika Dwi Setiawan, pemuda kelahiran Trenggalek. Alumni SMKN 1 Pogalan, Trenggalek ini pernah aktif di organisasi Palang Merah Remaja Trenggalek dan saat ini sedang bergiat di Comunity Pena Terbang Indonesia.

Buat kamu yang punya puisi atau tulisan lain, silakan kirimkan tulisanmu ke Catatan Pringadi, ya!


Rintone Messenger

semalam rintone itu berbunyi kembali
pertanda pesan dari bidadari nan lama di nanti.
setiap sunyi mendatangi bangku peristirahatan,
bintang-bintang mendadak sirna dari pelupuk mata,
bulan pun juga. ah tak apa. karna layar handphone
berkedip dan berbunyi mengusir sunyi. kenangan
itu pun kembali aku bernostalgia di depan
layar handphone, senyumku pecah membaca
sajak-sajak rindu dari sang bidadari.
kalimat-kalimat pesannya menyusun kata-kata
puisi dalam lembar baruku.
aku, kamu semoga bersatu

Trenggalek, Februari 2020 Continue reading Puisi-puisi Andika Dwi Setiawan

Puisi-puisi A. Subairi Rn.

Ini adalah puisi-puisi A. Subairi Rn, Santri PP. Annuayah lubangsa dan siswa kelas akhir SMA 1 Annuayah, asal Matanair Rubaru Sumenep yang menyukai puisi sejak kenal dengan perempuan pengagum senja. Buku puisinya: Mengikat tali harapan (JSI: 2019).


Silakan kirimkan tulisanmu ke Catatan Pringadi, ya!


SEPERTI API

Seperti api
Yang membakar kayu hingga tak berwujud lagi
Engkau juga telah membakarku
Dengan kobaran rindu
Yang menyala, membara di hatiku.
Hingga aku menjadi abu
Menimbun waktu untuk bertemu .

Annuqayah, 2019 Continue reading Puisi-puisi A. Subairi Rn.

Puisi-puisi De Priscilla

Debora Priscilla, nama pena De Priscilla. Lahir di Jakarta, 25 Mei 1994 dan sekarang tinggal di Jakarta. Tahun 2012 ia menyelesaikan Sekolah Menengah Kejuruan Priwisata di SMIP Binadarma DKI Jakarta. Hobi membaca dan menulis puisi. Ia pernah bergabung dalam kelas puisi Asqa Imagenation School (AIS) dan saat ini bergabung dalam COMPETER (Comunitas Pena Terbang) Indonesia. Akun media sosial IG: deborapriscilla09.


Dongeng

Duduk di pangkuan
Mirabel, anak kesayangan
Bermanja dalam pelukan
Ibu tidak pernah merasa bosan

Sesekali diajaknya ia menari
Berdansa seperti Cinderella
Atau bermain panahan layaknya Merinda
Terus begitu, dari pagi hingga senja

Petang itu, Mirabel bertanya pada cermin di pangkuan ibu

“Cermin, cermin! katakan padaku siapa
wanita paling cantik di bumi ini ?” tuturnya

Sang ibu menjawab, “Tentu saja kau, Putriku”

“Bukankah putri salju ?”

“Putri salju telah kubunuh, agar abadi senyummu”

Jakarta, 2020 Continue reading Puisi-puisi De Priscilla

Puisi-puisi Daviatul Umam

Puisi-puisi Daviatul Umam. Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa sekaligus mantan ketua umum Sanggar Andalas. Buku puisi pertamanya, Kampung Kekasih (Halaman Indonesia, 2019). Sementara ini tinggal dan bekerja di Ciomas, Bogor.Puisi Daviatul Umam


Silakan bagi teman-teman yang ingin mengirimkan tulisannya ke Catatan Pringadi, saya tunggu!


Continue reading Puisi-puisi Daviatul Umam