Category Archives: Pikiran Pringadi

Simplifikasi Konflik dalam Penceritaan

 

Kenyataan boleh tak masuk akal. Namun, fiksi harus masuk akal.

Salah satu masalah dalam penulisan cerita adalah simplifikasi konflik. Hal ini menjadi fatal karena kekuatan konflik adalah poin paling penting dalam cerita. Kegagalan dalam pembangunan konflik maupun dalam penyelesaian konflik akan merusak semua bangunan penceritaan.

Kekuatan konflik akan tercipta jika ada hubungan sebab-akibat yang jelas dari setiap unsur cerita. Penggerak utamanya adalah karakter. Karakter ini yang akan membuat segalanya mungkin/tidak mungkin.

Prinsip dasarnya, karakter tidak boleh moderat. Karakter harus ekstrem negatif atau ekstrem negatif. Kalau dia kaya, ya harus kaya banget. Dengan cara ini, sang karakter jadi punya jangkauan yang sangat luas tentang kemampuannya bisa ngapain saja. Saya sering mengambil contoh tokoh/karakter di dalam drama-drama Korea. Seringkali sang tokoh adalah anak Chaebol atau konglomerat utama yang hartanya sulit dihitung. Sebaliknya, jika ia kesepian, bikin dia sangat kesepian. Hal ini ada pada tokoh-tokoh Murakami misalnya.

Namun, selama dia berbentuk realisme, sebuah fiksi harus masuk akal. Keekstriman itu tetap harus didukung oleh unsur lainnya seperti latar, baik itu latar tempat, waktu, maupun latar karakter itu sendiri.

Sebelum menulis cerita, hal pertama yang dilakukan seorang penulis, biasanya adalah deskripsi karakter. Si karakter ini bagaimana sih. Sebisa mungkin sangat detail sehingga dapat memandu penulis untuk membuat ceritanya menjadi logis.

Realisme yang baik menuntuk ironi. Peletakan ironi pada karakter bisa berupa limitasi akan kemampuan karakter. Atau bisa juga sifat-sifat yang bertentangan yang seharusnya tidak ada pada dirinya. Fiksi tidak mengenal adanya kesempurnaan. Sebab, manusia pun tidak mengenal adanya kesempurnaan. Fiksi menampilkan dengan baik sisi terang dan sisi gelap sang karakter.

Kita beri contoh karakter Lintang dalam Laskar Pelangi. Andrea Hirata dengan sadar menggunakan teori karakter ekstrem tadi. Ia hadirkan tokoh Lintang, sang jenius kebangetan. Tapi, bagaimana logikanya seorang anak kecil tahu tentang berbagai teori sedangkan pada masa itu tidak ada akses internet, tidak ada akses buku bacaan yang memadai di sana?

Logis dalam fiksi bukan berarti karena memang ada citraan seperti karakter di dunia nyata. Logis dalam fiksi ketika hubungan sebab-akibat dan keterkaitan dengan segala unsur fiksi itu ada.

Mari kita bahas pula karakter yang sering dibicarakan saat ini. Fahri. Apakah karakter Fahri logis?

Fahri dalam Ayat-ayat Cinta yang pertama saya pikir masih logis. Karakternya mengalami perkembangan dari awal cerita hingga ke akhir cerita. Hubungan sebab-akibat di dalam cerita masih bisa diterima. Dan kesempurnaan Fahri pun masih memiliki ironi, yakni ketika Fahri tampak menjadi manusia saat berhadapan dengan Maria.

Namun, Fahri di dalam Ayat-Ayat Cinta 2 bukanlah Fahri dalam Ayat-ayat Cinta 1. Ia berubah. Kita perlu menjelaskan berbagai sisi batin, hubungan sebab-akibat yang jelas sehingga seorang suami bisa tidak mengenali istrinya, lalu bagaimana karakteristik seorang ikhwan yang sangat taat, beristri, berpendidikan dihadapkan pada perempuan-perempuan. Masih banyak hubungan sebab-akibat lain yang perlu diluruskan.

Namun, yang paling fatal adalah mengenai kekayaan Fahri. Kita tidak bisa memberi premis bahwa Fahri saat ini adalah Fahri yang kaya dengan bisnis butik dan minimarket ditambah warisan mertuanya. Bagaimana caranya membangun bisnis di Skotlandia pada era e-commerce? Bagaimana harga-harga properti di sana? Bahkan anak seorang chaebol di dalam drama-drama Korea tidak pernah ditunjukkan dapat membeli properti dengan uang pribadinya! Hal-hal semacam inilah yang perlu dibangun dalam sebuah cerita.

Simplifikasi konflik lain terjadi para karakter yang diperankan Chelsea Islan. Perlu pendalaman karakter untuk dapat mengubah sikap sebuah karakter di dalam penceritaan. Tokoh A melakukan X, tokoh B melakukan Y, bagaimana hubungan A dan B sehingga ada kejadian Z… premis-premis ini harus kuat. Apalagi dalam cerita realisme… segala sesuatunya harus uhhhh. Bukan berarti dalam cerita surealisme tidak perlu hal-hal begini, ya.

Segala itu barulah yang berasal dari karakter. Konflik pun tidak sesederhana berasal dari karakter semata. Karena itulah, jangan pernah percaya dengan orang-orang yang berkata menulis itu mudah. Ah, menulis memang mudah sih… menulis yang bagus itu yang susah.

 

Boikot dan Sejarah Penderitaan

Saya ternganga melihat sebuah status di Facebook yang menyatir perihal ajakan boikot. Mungkin si penulis status tidak tahu bahwa jika ajakan boikot dilakukan secara serius dan berhasil, akan mengakibatkan dampak yang luar biasa. Meski kita terkepung dalam jeratan kapitalisme, bukan berarti kita tak bisa keluar darinya. Sulit, iya. Namun, usaha untuk melepaskan diri, sedikit demi sedikit, tetap bisa dilakukan asal konsisten.

Boikot sendiri punya sejarah panjang. Tidak banyak yang tahu asal kata boikot. Kata itu berasal dari sebuah nama, Charles Boycott Cunningham, yang merupakan purnawirawan kapten Angkatan Darat Inggris. Saat itu, Boycott bekerja pada Lord Erne, seorang tuan tanah di Irlandia.

Masyarakat Irlandia mengucilkan dia karena adanya kampanye hak-hak penyewa tanah. Saat itu, penyewa tanah sangat lemah dan diperlakukan tidak adil.

Kampanye melawan Boycott tersebut menjadi populer di  Inggris, setelah ia menulis surat kepada “The Times”. Ia mengadukan situasi yang dihadapainya di Irlandia.  Dari sudut pandang kerajaan Inggris pada waktu itu, hal yang dialami Boycott tersebut  adalah suatu pengorbanan seseorang yang setia terhadap kerajaan Inggris melawan semangat nasionalisme Irlandia.

Dalam era revolusi, boikot adalah sebuah taktik. Tan Malaka dalam pidatonya pernah menganjurkan pemboikotan terhadap kolonialisme. Taktik ini digunakan oleh kaum nasionalis. Selengkapnya Pidato Tan Malaka.

Boikot akan berhasil apabila:

1. Tujuannya jelas dan terukur;

2. Didukung oleh kekuatan yang nyata (bukan khayalan);

3. Dipersiapkan dengan baik;

4. Dilaksanakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi;

5. Dipimpin oleh seorang yang cakap dan disegani.

 

Ketika kita terkepung oleh kapitalis, prioritas perlu ditetapkan. Tidak mungkin kita memboikot semuanya. Kita perlu menetapkan prioritas dan kelogisan mana yang bisa diboikot terlebih dahulu.

Misalnya, air mineral. Saya selalu bilang, keberadaan air mineral di republik ini tidak logis. Air adalah barang publik. Itu yang harus dicatat. Menyerahkan pengelolaan air tanah ke industri yang sahamnya dimiliki dominan asing itu kekeliruan. Jangankan asing, oleh swasta lokal saja harus dipertanyakan. Air harus dikelola BUMN/BUMD. Boikot terhadap air mineral perlu dilakukan tetapi sebaiknya didukung oleh kekuatan pemerintah.

Aksi boikot seharusnya diarahkan untuk menumbuhkan kemandirian lokal, untuk membangkitkan kembali pasar-pasar lokal. Satir atas koperasi atau mini market alumni 212 sebenarnya berasal dari ketakutan pihak lawan. Sebenarnya, jika gerakan tersebut dipandu dengan baik, tentu akan menghasilkan hal yang baik pula.

Menghidupkan kembali kemandirian itu bisa ditiru dari cara para startup saat ini, terutama di bidang pertanian dan perkebunan. Mereka memotong banyak jalur perdagangan dengan langsung berhubungan dengan hulu/petani. Mereka memotong tengkulak dengan melakukan pendanaan, menghimpun langsung dari masyarakat dg pembagian keuntungan. Mereka langsung menyediakan kanal distribusi yang menghubungkan produsen langsung ke konsumen. Cara ini sebenarnya yang disebut sebagai angin untuk mengubah arah fiskal. Pro produksi.

Orang-orang yang meremehkan boikot mungkin tidak tahu, jika layar sudah terkembang, angin boikot akan menghasilkan efek yang baik. Muslim sendiri pun pernah merasakan dahsyarnya pemboikotan.

Suatu pertemuan digelar di kediaman Bani Kinânah, di lembah al-Mahshib. Hampir seluruh pembesar Quraisy hadir. Agenda pertemuan adalah rencana pemboikotan terhadap Nabi SAW dan para pengikutnya. Mereka sepakat untuk mengembargo umat Islam secara ekonomi dan sosial. Dalam urusan ekonomi, kaum Quraisy tidak akan berjual-beli dengan kaum Muslim. Secara sosial, Quraisy tidak akan menikahi Bani Hâsyim dan Bani al-Muthallib, tidak berkumpul dan tidak berbaur, serta tidak berbicara dengan kaum Muslim.
Pernyataan embargo itu mereka dokumentasikan di atas sebuah shahifah (lembaran) yang berisi perjanjian dan sumpah yang digantungkan di dinding Ka’bah. Berikut isinya: “Bahwa mereka selamanya tidak akan menerima perdamaian dari Bani Hâsyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka, kecuali bila mereka menyerahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh.”
Hasilnya, kondisi Muslim mengenaskan. Mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Mulut mereka berbusa dan anak-anak mereka merintih kelaparan. Sa’ad bin Abi Waqqâsh menuturkan penderitaan yang mereka alami. “Pada suatu malam, aku pergi kencing. Tiba-tiba aku mendengar suara gemercik air kencingku sepertinya banyak, sehingga aku gembira. Setelah selesai, aku baru sadar bahwa yang gemercik itu adalah suara kulit yang aku biarkan terpanggang di atas api supaya kering dan dapat aku makan. Ternyata kulit itu menjadi sangat kering, sehingga terpaksa aku memakannya dengan merendamnya dalam air terlebih dahulu.”
Jadi, apa yang kau caci dari boikot?

Indonesia Darurat Utang

Tulisan ini dipublikasikan di https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel-dan-opini/benarkah-indonesia-darurat-utang/ pada 30 November 2017 dan dimuat di dalam buku Perbendaharaan untuk Negeri.

Belakangan ramai di media massa mengenai Indonesia telah berada dalam keadaan darurat utang. Seorang tokoh bahkan mengatakan, saat ini, presiden sebagai kepala pemerintahan dapat di-impeach karena telah melanggar undang-undang, sebab defisit anggaran telah melebihi angka 3% terhadap APBN. Ramai-ramai pula masyarakat mengkritik pemerintah.

Pernyataan tersebut sesungguhnya keliru. Batas defisit anggaran yang disebutkan dalam UU Keuangan Negara ialah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), bukan terhadap APBN. Kriteria defisit anggaran 3% tersebut, bila ditilik lebih jauh, dilatarbelakangi oleh perjanjian Maastricht yang menjadi cikal-bakal Uni Eropa. Dalam perjanjian tersebut disebutkan beberapa hal yang menjadi kesepakatan, di antaranya defisit anggaran yang dianggap aman tidak melebihi 3% terhadap PDB, dan rasio utang yang dianggap aman tidak melebihi 60% terhadap PDB.

Indonesia menganut sistem anggaran defisit. Hal ini tidak terlepas dari tujuan negara yakni kesejahteraan rakyat. Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu syarat untuk tercapainya masyarakat yang sejahtera. Pembangunan ekonomi tidak hanya fokus pada perkembangan ekonomi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan, keamanan dan kualitas sumber daya yang dimiliki. Sumber daya dimaksud bukan hanya pengolahan sumber daya alam, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Terkait pertumbuhan ekonomi, diperlukan adanya kebijakan yang baik agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kebijakan pengelolaan anggaran melalui belaja dan penerimaan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut. Saat menyusun rencana anggaran, pemerintah mengidentifikasi terlebih dahulu sisi kebutuhan.

Pemerintah berusaha memenuhi kebutuhan tersebut (dengan skala prioritas) untuk menyejahterakan rakyatnya melalui pengelolaan sisi penerimaan dan belanja negara. Selisih antara belanja dan penerimaan negara dalam APBN ditutupi dengan pembiayaan dan utang merupakan salah satu upaya pembiayaan. Bagi negara yang sedang berkembang, utang merupakan salah satu sumber dana untuk membantu mempercepat proses pembangunan ekonomi negaranya. Ini terjadi karena belum cukupnya dana yang berasal dari penerimaan dalam negeri, sehingga sumber pembiayaan berupa utang, khususnya utang dari luar negeri, sangat diperlukan. Hal ini juga menjadi salah satu alternatif untuk mencukupi kekurangan kebutuhan anggaran pembangunan di Indonesia.

Lebih spesifik lagi, utang ada untuk investasi dalam peningkatan infrastruktur. Infrastruktur yang kurang baik menjadi salah satu faktor kegagalan pasar yang akan berimbas pada tak meningkatnya (atau justru berkurangnya) kapasitas produksi dan berujung pada pertumbuhan ekonomi yang rendah atau justru menurun. Kapasitas produksi yang tinggi juga dapat menciptakan lapangan kerja dan pendapatan pajak yang lebih baik. Itulah mengapa jika dapat tepat mencapai tujuannya, maka utang berkorelasi positif dengan target pajak dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah Indonesia secara serius telah menjaga angka defisit anggaran di bawah 3%. Angka defisit anggaran tertinggi terjadi pada tahun 2014 sebesar 2,8%, dan pada tahun ini, APBN-P 2017, mengasumsikan defisit anggaran sebesar 2,92%. Pelebaran defisit terjadi karena adanya perubahan komposisi dari sisi penerimaan dan belanja negara.

Dari sisi belanja negara, ada kenaikan subsidi energi dan belanja lain yang mendesak, salah satunya keputusan kalkulasi ulang untuk subsidi elpiji 3 kilogram, listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Keputusan dari Menteri BUMN dan ESDM menyatakan bahwa perbedaan antara jumlah subsidi yang terdapat pada APBN dengan biaya yang harus ditanggung oleh Pertamina akan dibayar oleh Pertamina dulu. Selanjutnya pada semester kedua, pemerintah akan memenuhi kewajiban pembayaran BBM yang selama ini belum terbayarkan. Namun demikian, pemerintah tetap berkomitmen melakukan penghematan belanja dan memberi outlook defisit sebesar 2,67%. Begitu juga bila dilihat dari sisi rasio utang terhadap PDB, pemerintah Indonesia telah berhasil menurunkan dan menjaga rasio utang di bawah 30% dalam 8 tahun terakhir.

Rasio utang Indonesia hingga Juni 2017 sebesar 27,9%. Dibandingkan dengan negara-negara yang tergabung dalam G-20, rasio ini termasuk rendah. Data dari DJPPR Kementerian Keuangan pada Februari 2017 menunjukkan rasio utang Indonesia ada di urutan ke-19. Hanya Rusia yang rasionya lebih rendah yakni 17%. Negara-negara seperti Jepang, Italia, dan Amerika Serikat memiliki rasio utang lebih dari 100%, bahkan Jepang memiliki rasio utang 250,4%.

Selama kurun 2007-2017, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif, terendah pada 2009 sebesar 4,6% akibat terimbas oleh krisis ekonomi di Amerika Serikat. Angka tersebut sesungguhnya bukan angka yang buruk, sebaliknya sangat baik. Berkati pondasi makro ekonomi yang lebih baik dibanding krisis ekonomi 1997, Indonesia berhasil meminimalisasi dampak krisis AS yang menyapu hampir seluruh negara di dunia.

Ketidakpastian global yang kini sedang terjadi menjadi salah satu faktor eksternal yang menekan perekonomian Indonesia. Dengan pondasi yang makin kuat, Indonesia justru berani merevisi asumsi pertumbuhan ekonomi dari 5,1% menjadi 5,2% di APBN-P 2017. Pertumbuhan ekonomi yang positif inilah yang akan menaikkan pendapatan pajak pemerintah yang digunakan untuk mendanai belanja negara.

Pada akhir 2014 lalu, pemerintahan Jokowi mulai mengurangi subsidi BBM. Terbukti, sejak Januari 2017, secara bertahap, subsidi listrik untuk pengguna 900 VA dicabut. Hal ini tak terlepas dari usaha pemerintah untuk memiliki ruang fiskal demi pemenuhan belanja infrastruktur. Rata-rata peningkatan alokasi belanja infrastruktur pemerintah 2015-2017 dibandingkan 2011-2014 sebesar 123,4%. Dalam periode tersebut, alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan yang termasuk mandatory spending juga mengalami peningkatan masing-masing sebesar 27,4% dan 104%. Refocusing ini juga mengisyaratkan belanja subsidi dianggap tidak tepat sasaran. Dengan mengurangi 66,2% alokasi dan mengalihkannya ke belanja lain, maka tujuan pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat menjadi lebih baik pencapaiannya—dengan eskalasi pembangunan infrastruktur dan perlindungan pemerintah terhadap masyarakat miskin di bidang pendidikan dan kesehatan.

Pembiayaan melalui utang harus dilakukan dengan hati-hati dengan manajemen yang efektif dan efisien. Hal ini juga telah dilakukan oleh pemerintah dengan melakukan pendalaman pasar utang dalam negeri dengan tujuan meminimalisasi risiko yang ada pada utang luar negeri, yakni risiko nilai kurs yang berubah-ubah. Penerbitan utang baru pun didasarkan pada biaya utang yang rendah diiringi dengan forecasting kebutuhan kas pemerintah.

Kebijakan fiskal di sisi peneriman, pengeluaran, dan pembiayaan dilakukan untuk menjaga kesinambungan fiskal. Saat ini, defisit anggaran terbukti dapat menumbuhkan pertumbuhan ekonomi, yang memungkinkan pendapatan pajak yang lebih tinggi. Mengelola APBN bukanlah hal yang mudah, dan bukan berarti pemerintah tak berkeinginan mengurangi utang dan defisit. Namun, hal tersebut jangan sampai menghambat tujuan bernegara: social welfare.

 

*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja

Kutipan Inspiratif Haruki Murakami

Coba kau pikirkan baik-baik. Kondisi semua orang sama saja. Sama seperti ketika kita naik pesawat rusak. Tentu saja di situ ada orang yang bernasib baik dan bernasib buruk. Ada yang tangguh, ada juga yang lemah; ada yang kaya, ada pula yang miskin. Hanya saja, tidak ada orang yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada orang lain. Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Betul kan? Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.

“Jika kamu dapat mencintai seseorang dengan sepenuh hati, bahkan untuk satu orang, itulah keselamatan dalam hidup. Meskipun kamu tidak dapat bersama dengannya,” – Haruki Murakami, 1Q84

“Saya dapat menahan segala beban asalkan ada maknanya,” – Haruki Murakami, 1Q84

“Inilah dunia, pada akhirnya, sebuah perjuangan tanpa akhir akan kenangan yang saling bertentangan,” – Haruki Murakami, 1Q84

Jika kau mengingatku, maka aku tak peduli jika semua orang melupakanku.

“Kamu dapat menyembunyikan kenangan, akan tetapi tidak akan bisa menghapus jejak langkah bagaimana kenangan itu dibuat,” – Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

“Seiring dengan berjalannya waktu kita menemukan siapa diri kita, akan tetapi semakin kita mengenalnya, semakin kita kehilangan diri sendiri,” – Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Hal terpenting yang kita pelajari di sekolah adalah fakta bahwa hal yang paling penting tidak bisa dipelajari di sekolah.

“Seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan memahami. Apa yang berlalu, berlalu; apa yang tidak, tidak terjadi. Waktu menyelesaikan semuanya. Dan apa yang waktu tidak dapat selesaikan, kamu harus atasi sendiri.” – Haruki Murakami, Dance Dance Dance

“Yang kita cari adalah bentuk kompensasi dari apa yang kita lakukan,”– Haruki Murakami, Dance Dance Dance

Kematian bukan lawan dari kehidupan, kematian itu bagian dari kehidupan.


“Kenangan akan menghangatkan dirimu dari dalam. Namun mereka juga membuatmu bersedih,” – Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Dengar- tak ada perang yang akan bisa mengakhiri semua perang,”– Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Keheningan, adalah sesuatu yang sebenarnya dapat kamu dengar,”– Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Setiap kita akan kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan kesempatan, kehilangan kemungkinan, perasaan yang tidak akan pernah kembali lagi. Itulah hidup.” – Haruki Murakami, Kafka on the Shore

Tulisan yang Baik Adalah….

Kak, seperti apakah tulisan yang baik/bagus itu? Sering saya mendapatkan pertanyaan seperti itu.

Saya selalu menjawab, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Tidak mudah memang memulai sebuah tulisan, tetapi lebih sulit lagi menyelesaikan tulisan tersebut. Maka, apapun hasilnya, kita patut mengapresiasi orang-orang yang berhasil menyelesaikan tulisannya. Lebih jauh lagi, kata selesai memiliki makna tulisan tersebut sudah sublim, sudah memuat struktur berpikir yang utuh, tidak setengah-setengah.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah, bagaimana caranya menyelesaikan sebuah tulisan?

Pertama, hindari televisi, ponsel, dan internet. Saya percaya, aktivitas menulis adalah aktivitas sunyi. Dalam kesunyian itulah kita berbicara kepada diri kita sendiri. Sebanyak apa kita berhasil mengangkut hal dari dalam, lalu membawanya keluar. Tak cukup sekadar membawa, kita harus mengubahnya sehingga dapat diterima publik. Ketika menulis, Stephen King bahkan mengunci dirinya di dalam kamar, dan menjauhkan semua akses dari dunia luar.

Televisi, ponsel, dan internet menggoda kita dengan banyaknya informasi yang tersedia. Namun, lautan informasi itu membuat kita tenggelam di dalamnya. Akibatnya, kita bisa kehilangan jati diri kita ketika menulis, kehilangan fokus, dan tergoda untuk menunda-nunda penulisan.

Bacalah buku-buku yang bermutuIni adalah tahap yang lebih awal sebelum memulai penulisan. Otak sama dengan pencernaan, butuh asupan. Buku-buku bermutu itu bisa menjadi asupan bagi otak. Percayalah, kita tidak akan bisa menulis kalau masukannya tak ada. Masukan itu kita olah menjadi keluaran yang bernilai tambah dalam bentuk tulisan. Bacaan dengan jumlah dan mutu yang cukup membuat kita memiliki energi untuk menyelesaikan tulisan. Kita tidak akan kehabisan bahan di tengah jalan.

Tulislah hal yang menarik buatmu. Hal yang menarik bisa jadi hal yang paling dekat dengan kita atau hal yang paling kita kuasai. Saya tidak bisa membayangkan jika seorang penulis tidak memiliki ketertarikan terhadap hal yang ia tulis. Karena itulah, menulis juga berarti membangun minat. Kalau kita tak menguasai suatu bahan, kita harus memiliki minat untuk mempelajari bahan tersebut. Setelah itu, baru tuliskan!

Terakhir, jangan pernah menunda-nunda sesuatu. Prokrastinator, orang yang suka menunda-nunda sesuatu adalah biang dari keburukan. Jangan pernah menggampangkan proses. Tak perlu ada toleransi-toleransi waktu. Eka Kurniawan, menurut pengakuan di blognya, selalu rutin menulis minimal 2 jam sehari. Begitu pun Faisal Oddang. Penulis-penulis seperti Fitzgerald, 8 jam dalam sehari. Kita perlu menetapkan waktu menulis rutin itu.

Dan tentu saja, untuk lebih mendisiplinkan diri, buat jadwal penyelesaian tulisan. Stephen King bilang, 3 bulan adalah waktu yang ideal untuk menyelesaikan draft sebuah novel. Ingat, jangan menulis sambil meriset. Riset dilakukan sebelum itu. Dan jangan lupa, menghadiahi dirimu sendiri ketika berhasil menyelesaikannya.

 

Catatan:

  1. Kadang-kadang ada tulisan kita yang tak selesai. Draft-draft yang memang buntu. Ingat, simpanlah tulisan-tulisan itu. Suatu saat kita akan akan membutuhkannya. 
  2. Buatlah setiap kalimat terdengar baik. Ada irama-irama tertentu di dalam tulisan. Dan kita memiliki irama tersendiri. Bila kita berhasil menemukan irama itu, kita akan menyukai waktu menulis itu… sehingga percaya atau tidak, tulisan kita akan lebih cepat selesai (karena kita menikmatinya).

  3. Perkaya kosa kata. Kadang, ada hal di kepala yang sudah ingin kita ungkapkan, tetapi kita kekurangan kata. Rasanya tak enak jika menggunakan kata itu lagi-itu lagi. Maka, penguasaan terhadap kosa kata menjadi penting pula kita miliki. Alternatifnya, siapkan kamus dan tesaurus di sampingmu!

LIMA HAL PENTING DALAM PENULISAN CERITA/FIKSI

 

Show, not tell. Sering kita mendengar ungkapan demikian. Cerita yang baik seharusnya show, bukan tell. Salah satu makna show ini adalah keberhasilan membangun setting/latar.

Latar menjadi hal pertama yang harus dibangun. Sebab sebuah cerita yang baik tak mungkin terjadi di mana saja, dan kapan saja. Cerita menjadi unik, berkesan, ketika ia terjadi pada ruang dan waktu tertentu. Hal inilah yang menuntun kita pada ungkapan selanjutnya, bahwa fiksi berbeda dengan kenyataan. Fiksi harus masuk akal, sementara kenyataan seringkali tak masuk akal.

Inilah yang dinamakan unsur plausibilitas. Kemungkinan terjadinya suatu adegan. Misal, saya membuat adegan makan bubur ayam sepulang dari kantor, malam hari, di Kepri. Adegan tersebut sulit terjadi karena makan bubur ayam malam-malam bukan budaya Kepri. Hal tersebut mungkin terjadi jika kota yang kita pilih adalah Jakarta atau Bandung yang banyak penjual bubur ayam hingga tengah malam.

Kita perlu melakukan riset yang cukup atas kondisi geografi, demografi, sejarah, kebudayaan, dan segala hal yang terkait. Kelemahan pada latar akan mementahkan cerita yang kita buat.

Hal penting berikutnya adalah karakter. Boleh jadi, karakter adalah hal paling penting yang membuat sebuah cerita menjadi menarik atau tidak. Ada ungkapan bahwa karakterlah yang menentukan plot, a character is a plot.

Para penulis harus bersungguh-sungguh membuat tokohnya hidup. Tokoh tersebut (homofictus) haruslah ekstrem positif atau ekstrem negatif. Kalau dia baik, ya buatlah dia sangat baik seperti tokoh Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Jika dia jahat, buatlah dia jahat seperti umm, siapa ya, Rita Repulsa kali ya.

Pada intinya ada beberapa rumusan mengenai cara membuat karakter. Pertama, hindari stereotip atau karakter yang mudah ditebak. Ia harus unik. Kedua, karakter tersebut memiliki kedalaman. Caranya, beri dia masa lalu, dan jangan lupa tambahkan masa depannya. Masa lalu akan membuat pembaca percaya kenapa si tokoh bisa menjadi seperti sekarang, dan masa depan akan menuntun si tokoh kepada tujuan dan konflik yang mungkin bisa tercipta. Ketiga, tambahkan preferensi si tokoh pada banyak hal, semisal ia lebih suka minum teh dari kopi, punya alergi terhadap asap rokok, beserta alasannya.

Pada umumnya, penokohan memiliki beberapa peran. Pertama, ada protagonis. Protagonis tidak melulu orang yang baik. Protagonis adalah tokoh utama yang memiliki tujuan. Bisa jadi dia jahat. Kedua, ada antagonis. Antagonis pun bukan berarti tokoh yang jahat. Antagonis adalah tokoh yang menghalangi protagonis mencapai tujuannya. Sidekick adalah orang terdekat dari tokoh utama. Biasanya dia gendut. Orang gendut wajib hadir dalam cerita. Hehe. Terakhir, ada mentor. Pola ini sering muncul pada komik Shonen. Naruto memiliki Jiraiya sebagai mentor. Wiro Sableng juga ding, punya Shinto Gendeng sebagai mentornya.

Hal penting ketiga adalah PLOT.  Plot berbeda dengan alur. Jika alur adalah jalannya roda, plot adalah hal yang membuat roda berputar. Plot juga berkaitan dengan konflik, tanggapan dan perubahan yang dialami karakter terhadap konflik, serta cara penyelesaian konflik. Plot yang baik dimulai dengan deskripsi karakter yang baik. Maka ada ungkapan, a plot is a character.

Keempat, yang paling sering dibahas, tapi tak kalah penting: TEMA. Apa sih yang hendak dibicarakan dalam cerita? Inilah yang membuat cerita menjadi penting atau tidak penting. Namun, menyasar pentingnya sebuah cerita, justru dapat merusak karakter. Kita harus berhati-hati agar tidak terjadi pendangkalan pada karakter kita agar cerita tidak menjadi tell.

Kelima, hal yang membuat setiap penulis menjadi otentik—gaya bercerita. Kita pelan-pelan harusnya bisa menemukan gaya menulis kita sendiri. Diksi kita sendiri. Usaha mengepigoni penulis lain sah-sah saja dilakukan di awal, asalkan usaha itu dilakukan untuk menemukan karakter kita sendiri.