Category Archives: Pikiran Pringadi

Belitung dan Tuan Laskar Pelangi

Setiap orang menyebut Belitung, pastilah yang terbersit pertama kali di pikirannya adalah Andrea Hirata atau Laskar Pelangi.

Tapi ini cerita yang berbeda. Awalnya, Zane mengetagku pada sebuah postingan seorang teman. Namanya Genta. Genta baru pulang liburan dari Belitung. Di foto tersebut, batu-batu besar terpampang indah dan unik. “Uda, kapan-kapan kita ke sini yuk…” kata Zane waktu itu.

Beberapa hari kemudian, kebetulan aku membuka twitter. Di sana seseorang yang kufollow meretweet sebuah informasi lomba. Hadiahnya ke Belitung. Dua buah tiket pesawat gratis pulang pergi dan hotel dua malam. Temanya persahabatan. Singkat cerita aku mengirimkan sebuah cerpen berjudul Katak Bunuh Diri dan berhasil memenangkan lomba tersebut.

Panitia pun menghubungi kami dan ditanya kapan mau berangkat. Beruntung aku sedang liburan UTS, tanggal 30 Mei-1 Juni pun kuputuskan sebagai tanggal liburan.

Bicara Belitung, aku sebenarnya punya kenangan tersendiri. Dulu, sebelum Bangka dan Belitung menjadi provinsi, mereka tergabung ke dalam Provinsi Sumatra Selatan. Aku sendiri berasal dari Kabupaten Banyuasin di provinsi yang sama. Dan dulu, Banyuasin masih tergabung ke dalam Kab. Musi Banyuasin. Jadi, sebenarnya ada ikatan kedaerahan di antara Belitung dan aku meski secara bahasa dan adat, bisa dikatakan tiap kabupaten di Sumatra Selatan itu memiliki perbedaan yang mencolok.

Ketika SD, aku pernah mewakili Kab. Musi Banyuasin dalam lomba Matematika tingkat provinsi. Wakil dari Belitung turut serta. Saat itu, Belitung punya profil sebagai daerah kaya. Maklum, ada pertambangan timah yang merebak di sana. Sebelum akhirnya harga timah jatuh dan tambang-tambang timah di Belitung bangkrut. Bekas-bekas tambang timah itu pun kukenali dari atas pesawat. Ada air yang menggenang di lubang-lubang di pulau Belitung.

11391360_963439503700593_4227767473131866877_n

 

Secara pekerjaan, aku pun sangat mungkin ditempatkan di Belitung. Mengingat ada pameo, selama ada KPPN di kotamu, selama itu pula kita mungkin bertemu. Ya, ada KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) di Belitung. Bisa jadi suatu saat nanti aku ditempatkan di sini. Hal yang pertama kutanyakan kepada sopir travel adalah, “Di mana KPPN-nya?”

Ternyata KPPN berada tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Kami menginap di Maxone Belstar Belitung selama dua malam. Awalnya terjadi masalah di sana. Namaku tak terdaftar, atau belum terbooking. Aku pun menunggu selama kurang lebih setengah jam untuk mendapat konfirmasi. Untungnya pihak hotel begitu ramah dan bekerja sama. Mereka menjelaskan terjadi kesalahpahaman antara pihak tiket.com dengan pihak hotel. Voucher menginapnya belum dibookingkan oleh pihak hotel dan sebenarnya voucher tidak berlaku untuk weekend. Tapi atas keramahan pihak hotel, kami tetap bisa menginap di satu-satunya kamar yang belum dipesan.

10409300_963494230361787_7400298514888992642_n

 

Dari hotel yang relatif baru berdiri itu, aku beranjak mencari sewaan motor. Aku tak kesulitan untuk mengelilingi kota Belitung yang memang hanya segitu-segitu saja. Aku pun memilih makan siang di warung-warung khas Belitung yang berada di sekitaran hotel. Meski menu yang kupesan biasa, seperti ayam dan kangkung, tapi bumbu yang digunakan lebih khas. Aku pun teringat pada rasa makanan di Sumbawa. Barangkali bumbu yang digunakan oleh masyarakat pinggir laut itu mirip-mirip, ya?

Tujuan pertama, karena masih lelah berangkat dini hari dari Bandung, aku pun ke Tanjung Pendam. Pantai ini hanya selemparan batu dari pusat kota Belitung. Katanya, matahari terbenam sempurna di pantai ini. Garis pantainya yang panjang dan adanya penjual makanan yang banyak menjadi daya tarik lainnya. Namun sayang, pantainya tidak begitu bersih. Bahkan ada bau yang menguar di pantainya. Akhirnya aku dan Zane hanya memesan kelapa muda dan duduk menanti senja. Matahari terbenam urung terlihat karena ada awan menggumpal besar menutupi matahari.

Pulang dari Tanjung Pendam, kami memutuskan makan mie atep yang terkenal itu. Semua teman, ketika aku bilang mau ke Belitung, merekomendasikan mie satu ini. Namun, sungguh, aku tak doyan. Zane yang doyan. Aku pun menemani Zane saja makan mie sambil makan kerupuk ikan tenggiri.

Malam itu kami tidur dengan nyenyak, menikmati fasilitas hotel yang ber-AC dan berkasur yang begitu nyaman.

~

Hari kedua, kami menyewa mobil.

Kami pun pergi ke pantai Tanjung Tinggi. Kurang lebih satu jam perjalanan ke sana. Tapi waktu terbayar tuntas dengan pemandangan yang disajikan. Di depan, ada penanda bahwa tempat ini adalah tempat pengambilan gambar Laskar Pelangi. Sayangnya, hal penting seperti ini malah rusak. Entah sengaja dirusakan. Kacanya ada yang pecah.

11351298_962827887095088_2967652674704126946_n

Aku segera menobatkan Tanjung Tinggi sebagai salah satu pantai terbaik yang pernah kukunjungi. Batu-batu besar yang konon sudah ada sejak zaman Jura begitu eksotis. Aku terpukau dan sempat beberapa menit tak bisa berkata-kata melihatnya. Pemandangan itu dipadukan dengan pasir yang putih dan garis pantai yang panjang, apalagi jarak antara pesisir ke tempat yang dalam begitu jauh, sehingga seperti ada kolam renang yang diciptakan oleh alam di pantai ini. Gelombangnya pelan dan ikan-ikan berwarna-warni tampak di pinggir pantai.

11377106_962828017095075_1219974743362268306_n 11137093_962827853761758_7036521187454854124_n 11350453_962827783761765_4652486444753242690_n

 

Selepas puas bermain di pantai, sampai gerimis turun, kami menyempatkan diri ke Tanjung Kelayang. Ada keinginan untuk menyeberang ke pulau-pulau seperti pulau Garuda ataupun pulang Lengkuas, namun karena si kecil, kami memutuskan untuk tak menyeberang. Kami pun kembali ke Tanjung Tinggi untuk makan sup ikan kuah kuning dan ikan baronang bakar. Harganya sih lumayan, meski tak semahal di Jimbaran. Tapi kami makan sampai puas di sana.

Bakda itu, aku mengantar Zane pulang ke hotel karena dia kelelahan. Aku melanjutkan perjalanan bersama sopir ke danau kaolin.

11295576_963277720383438_5034034442934518508_n 11391258_963277700383440_7709746558569040984_n

 

Ketika tiba di sini, ada sekelompok ibu-ibu yang sedang memandangi danau ini. Dan berdebat kenapa airnya begitu biru. Satu ibu yang ngotot dan tak mau kalah berkata ini tejadi hanya karena pantulan dari langit. Di situ aku tertawa.

Sebenarnya danau ini tak tepat disebut danau. Aku lebih suka menyebutnya kedukan. Di Banyuasin banyak. Bedanya, di banyuasin kedukannya tidak berwarna biru tapi cokelat dan hijau karena tanahnya cok
elat berlumpur. Di Belitung, kandungan kaolin yang membuat warna ini tercipta begitu kontras.

Aku lupa nama tujuanku setelah danau kaolin. Tujuan kami berada di dalam hutan. Namun kami kecele. Begitu mau masuk hutan, ada palang. Tidak boleh masuk karena jalan rusak.

11055309_962838570427353_8881430905986414251_n

Acara keesokan harinya, ya sesi mencari oleh-oleh. Zane mencari souvenir, mencari makanan khas Belitung. Sementara aku hanya tertarik pada benda ini. Mutiara. Mutiara alam Belitung ini khas. Maklum, di Sumbawa aku sempat jadi penjual mutiara dan mengoleksi beberapa yang memiliki keunikan.

Sebenarnya kurang rasanya liburan kali ini. Hanya saja karena nggak sendirian, jadi ruang untuk eksplorasi pun terbatas. Yang penting, barangkali adalah kebersamaannya. Sudah lama kami tak liburan bersama.

Terima kasih nulisbuku.com dan tiket.com!

Menilik Treasury dan Peran Treasury di Indonesia

 

Bagian treasury menempati peran sentral dalam tatakelola keuangan perusahaan. Treasury bertanggung jawab untuk menjaga likuiditas perusahaan, yaitu memastikan bahwa perusahaan memiliki cukup kas untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan, sewaktu-waktu.

Peran dari organisasi treasury secara dramatis berkembang sejak adanya krisis ekonomi. Lahirnya UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara juga menjadi sebuah pengakuan baru dari betapa pentingnya organisasi Perbendaharaan sebagai treasurer republik ini. Selaras dengan itu, treasury terus-menerus diminta memainkan peran strategis seperti juga halnya di sektor privat, yang peran dan fungsinya terus diperluas dan makin memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan.

Ditjen Perbendaharaan Negara pun mengamini kondisi itu dan mengambil dan mengadaptasi beberapa peran dan fungsi treasury di sektor privat. Namun juga masih ada peran dan fungsi lain yang belum diambil oleh sektor publik dengan beberapa pertimbangan. Dalam kondisi kekinian, sembari mengamin survei AFP Strategic Role of Treasury, Ditjen Perbendaharaan perlahan tapi pasti mulai mempelajari dan mencoba mengimplementasikan peran dan fungsi tersebut.

KPPN sebagai bagian dari fungsi perbendaharaan, paling tidak terkait dengan tiga fungsi, yaitu pelaksanaan anggaran, pengelolaan kas, serta akuntansi dan pelaporan. Dalam fungsi pelaksanaan anggaran, KPPN melakukan pencairan dana berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Saat ini dan ke depan fungsi ini dapat berkembang menjadi: standardisasi dan bimbingan teknis pembuatan komitmen dan pembayaran pada satuan kerja; monitoring dan evaluasi pelaksanaan anggaran; dan analisis belanja pemerintah.

Dalam fungsi akuntansi dan pelaporan, KPPN melakukan akuntansi atas transaksi APBN dan menyusun Laporan Keuangan Kuasa BUN, serta melakukan rekonsiliasi laporan keuangan dengan satker. Saat ini dan ke depan, fungsi ini dapat berkembang ke arah analisis penyempurnaan bagan akun standar (BAS), analisis penyempurnaan sistem akuntansi, peningkatan kualitas laporan keuangan pemerintah, dan perluasan analisis atas laporan keuangan di wilayahnya.

Operasionalisasi fungsi dalam uraian tugas tersebut, tentu masih bisa diperdebatkan. Namun yang perlu kita ingat, sebagaimana dikatakan oleh Hal G. Rainey (dalam Understanding and Managing Public Organizations, 1996), organisasi publik harus selalu siap untuk berubah karena tuntutan external political (problem depletion), eksternal economic/technical (environmental entropy),internal political (political vulnerability), dan internal economic/technical (organizational atropy). Untuk mempertahankan eksistensinya, maka organisasi publik harus semakin efektif, inovatif, berorientasi pada misi dan stakehoders, serta pemberdayaan sumber daya manusia.

 

Peran 1. Membuat Perencanaan Kas (Cash Forecasting)

Sempat terjadinya cashflow shortage menjelang akhir tahun 2014 lalu dikarenakan perencanaan kas yang tidak memadai. Perencanaan kas (cash forecasting) adalah awal dari semua peran lainnya yang dijalankan oleh bagian Treasury. Tidak seperti pegawai lain yang menangani kegiatan penerimaan dan pembayaran kas setiap hari, pegawai treasury yang bertugas untuk mengambil data yang telah dimasukan oleh pegawai bagian akuntansi ke dalam sistem untuk kemudian mengompilasikannya dan untuk menghasilkan perkiraan kas  jangka pendek dan jangka panjang. Perkiraan dan semua komponen yang terdapat pada peramalan kas diperlukan untuk:

  • Menentukan apakah perusahaan membutuhkan lebih banyak uang tunai. Jika itu terjadi, maka mereka bisa membuat rencana pendanaan (financing) baik melalui penggunaan hutang atau ekuitas.
  • Membuat rencana investasi, jika hasil ramalan surplus dimana ada kelebihan kas (excess) yang akan timbul.
  • Membuat rencana operasi yang dapat melindung nilai tukar mata uang perusahaan dengan mata uang asing.

Dalam sektor publik, Ditjen Perbendaharaan telah mencoba melakukan hal itu dan bahkan akurasi perencanaan kas satuan kerja ini menjadi indikator kinerja utama (IKU) Seksi Pencairan Dana Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

Dalam fungsi pengelolaan kas, KPPN melakukan pembebanan pencairan dana pada rekening kas negara dan penatausahaan penerimaan negara. Saat ini dan ke depan, fungsi ini dapat berkembang ke arah: cash disbursement monitoring (menyediakan informasi penarikan kas untuk pencairan dana satker, ketika pencairan dana satker harus dikaitkan dengan rencana penarikannya); bimbingan teknis rencana penarikan kas satker; monitoring dan analisis arus dana Kuasa BUN tingkat regional; serta analisis sistem penatausahaan penerimaan negara.

Pada kenyataannya, data perencanaan kas yang dikirimkan satker kebanyakan tidak akurat. Data yang kemudian dikirimkan ke Dit. PKN belum dapat diolah karena sifatnya masih dikategorikan sebagai data sampah. Hal ini dikarenakan karena kurangnya pemahaman satuan kerja pada pengelolaan keuangan. Dan ini juga tidak terlepas dari minimnya bimbingan teknis yang dilakukan oleh KPPN dan belum jelasnya posisi dan peran penyuluh perbendaharaan.

Pada dasarnya, pencairan dana mudah direncanakan jika pejabat pengelola keuangan di satuan kerja memang berkompetensi di bidangnya. Katakanlah begini, SPM Gaji sudah pasti batas waktunya, belanja-belanja rutin juga sudah pasti nominalnya dengan deviasi yang tidak terlalu besar. Yang tersisa adalah belanja modal. Belanja modal, kontrak ataupun pengadaan, bila mengikuti prosedur yang ada dalam Perpres 70, semua sebenarnya bisa diperkirakan. Pencairan per termin pun sudah dituangkan di dalam data kontrak. Tinggal kedisiplinan pejabat pembuat komitmen untuk membuatkan SPP-nya kelak.

Kemudian, perencanaan kas juga melibatkan cash in. Ceteris paribus, sifat belanja pemerintah berpengaruh pada konsumsi dan pendapatan nasional. Pendapatan nasional berpengaruh pada pajak. Seharusnya, terjadi sinergi antara perencanaan kas keluar dengan perencanaan kas masuk. Juga ada analisis dari pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari kas keluar yang teratur. Dengan begitu, ketersediaan dana di pemerintah dapat diperkirakan sebaik-baiknya.

 

Peran-2 Melakukan Tatakelola Modal Kerja (Working Capital Management)

Penggunaan utama dari kas perusahaan adalah untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Modal kerja merupakan komponen kunci dari peramalan kas. Tata kelola di wilayah ini antara lain melibatkan perubahan tingkat aktiva lancar dan kewajiban lancar sebagai respon atas capaian penjualan perusahaan. Lain daripada itu treasurer juga mesti mampu memberikan masukan bagi manajemen tentang dampak perubahan kebijakan yang diusulkan pada tingkat modal kerja. Oleh sebab itu, seorang treasurer harus mengetahuai bagaimana modal kerja digunakan, apa pengaruh dan kaitannya dengan elemen-elemen keuangan lainnya.

 

Peran-3 Melakukan Tatakelola Kas (Cash Management)

Modal kerja merupakan manajemen keuangan jangka pendek. Dengan menggabungkan informasi dalam perkiraan kas dan kegiatan modal kerja manajemen, treasurer harus mampu menjamin ketersediaan dana yang cukup bagi kebutuhan operasional perusahaan.

 

Peran-4. Tatakelola Investasi (Investment Management)

Ketika peramalan kas menunjukkan adanya kelebihan dana, maka staf treasury bertanggung jawab untuk menginvestasikannya dengan tepat dan benar. Tiga tujuan utama dari peran ini adalah:

(a) tingkat pengembalian investasi yang maksimal

(b) Kecocokan antara tanggal jatuh tempo investasi dengan proyeksi kebutuhan kas perusahaan, dan yang paling penting adalah

(c) tidak menginvetasikan dana pada risiko tinggi.

Dengan dibentuknya Treasury Dealing Room, Ditjen Perbendaharaan pun akan melakukan investasi jangka pendek atas idle cash. Yang jadi perdebatan adalah adanya dua dealing room pemerintah yang bermain di pasar modal bisa jadi menimbulkan masalah. Seharusnya pengelolaan kas dan utang disatukan atau berada pada satu payung sehingga tidak terjadi kebingungan di pasar modal. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah dengan terjunnya pemerintah ke sektor moneter, itu tidak mengurangi keberadaan pemerintah di sektor riil. Di sini nantinya TDR harus bertindak dengan bijak dan hati-hati atas pengelolaan kas yang ada.

 

Peran-5 Melakukan Tatakelola Risiko (Risk Management)

Para treasurer juga bertanggung jawab untuk menciptakan strategi manajemen risiko dan menerapkan taktik hedging untuk melindung perusahaan dari segalam macam risiko keuangan—terutama sekali dalam rangka mengatisipasi keadaan dimana: (a) suku-bunga pasar membumbung tinggi melebihi suku bunga obligasi perusahaan terhadap institusi lain; (b) posisi selisih kurs perusahaan juga bisa beresiko jika kurs tiba-tiba memburuk.

 

Peran-6 Menjaga Hubungan Baik Dengan Bank (Bank Relation)

Hubungan jangka panjang perusahaan dengan pihak bank bisa menjadi sangat bermanfaat pada saat suatu saat kelak perusahaa mengalami kesulitan keuangan. Untuk itu Treasurer hendaknya sering bertemu dengan perwakilan dari setiap bank yang digunakan oleh perusahaan untuk: membahas kondisi keuangan perusahaan, struktur biaya bank, setiap utang yang diberikan oleh bank kepada perusahaan (Jika ada), dan transaksi valuta asing, hedging, kawat transfer, cash pooling, dan lain sebagainya.

 

Peran-7 Penggalangan Dana (Fund Raising)

Mempertahankan hubungan baik dengan komunitas investasi untuk tujuan penggalangan dana sangatlah penting. Mulai dari para broker dan bankir investasi yang menjual utang perusahaan dan mengelola penawaran ekuitas, sampai dengan para investor, dana pensiun, dan sumber-sumber kas lainnya yang suatu saat tertentu mungkin dapat membeli utang atau ekuitas perusahaan.

Selain peran-peran utama di atas, pada dasarnya staf Treasury seharusnya juga memonitor kondisi pasar terus-menerus, karena hal itu diperlukaan pada saat tim manajemen perusahaan meminta informasi tentang suku bunga, kemampuan perusahaan untuk membayar utang baru, dan keberadaan utang pada saat tertentu. Jika perusahaan berencana untuk melakukan merger atau akuisisi, maka staf treasury harus mampu mengintegrasikan sistem treasury perusahaan yang akan diambil alih dengan perusahaan induk. Peran lainnnya termasuk menjaga dan mengelola berbagai asuransi atas nama perusahaan

 

Dalam menggapai peran dan fungsi tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi organisasi treasury di Indonesia.

 

dds

Gambar 1: Treasury Best Practices Environment

Sumber: Treasury Strategies

 

               

Seperti isu yang beredar saat ini, isu penajaman fungsi organisasi dengan bergabungnya kembali DJKN atau DJPP ke DJPB atau menjadikan MoF sebagai Ministry of Treasury dengan dibentuknya Badan Penerimaan Negara itu adalah bagian dari tuntutan zaman.

Selain itu, beberapa hal terkait dengan pemanfaatan teknologi yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Kebutuhan dana yang besar dan waktu yang lama untuk membuat sistem dan infrastruktur yang merata seluruh indonesia;

 

  1. Infrastuktur telekomunikasi yang tidak merata di Indonesia, terutama di daerah terpencil akan menghambat pelaksanaan program.
  2. Dalam organisasi akan terdapat pengurangan jumlah pegawai seiring dengan struktur organisasi akan menjadi lebih sederhana; serta
  3. Mempengaruhi budaya dan lingkungan pekerjaan.

Penataan organisasi sebagai konsekuensi penggunaan teknologi juga akan untuk mengubah pola operasi yang semula lebih menekankan ada aspek operasional menjadi lebih fokus pada aspek strategis. Hal ini selaras dengan fungsi Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagai treasury yang lebih banyak terkait dengan aspek manajemen strategis dan analitical dibandingkan operasional yaitu: perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perbendaharaan negara; penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria  di  bidang  perbendaharaan  negara;  pemberian  bimbingan  teknis  dan  evaluasi  di  bidang perbendaharaan  negara;  dan  pelaksanaan  administrasi  Direktorat Jenderal  Perbendaharaan.

 

 

 

Hari #4, Ayah Andrea Hirata

Barangkali aku tak salah jika berpikir karya puncak Andrea Hirata ada pada Edensor. Setelah itu, Andrea mengalami masalah yang cukup serius. Napas menulis Andrea menjadi sangat pendek. Itu juga berakibat pada kecenderungannya untuk bertindak hanya sebagai penutur.

Menulis adalah seni yang soliter. Seorang penulis bertindak sendirian. Ia sebagai komposer sekaligus pemain musiknya. Ia sebagai penata panggung dan performernya. Ia sebagai penulis cerita dan penutur ceritanya. Artinya ada hal penting lain selain bercerita, yang dibutuhkan di dalam cerita. Banyak yang menyebutnya sebagai sebuah “show”. Show di dalam fiksi berarti menciptakan adegan. Adegan adalah suatu aksi yang berhubungan dan berkelanjutan bersama-sama dengan deskripsi dan latar belakang cerita.

Menilik Ayah, pada 5 halaman pertama aku langsung jatuh tertidur panjang. Kira-kira dua jam. Lalu bangun, makan, dan melanjutkan pembacaan sampai halaman 300. Keesokan harinya aku kembali membaca sampai selesai. Dan Andrea Hirata tetaplah Andrea Hirata. Ia seorang penulis yang tetap harus dibaca dan dinantikan perkembangannya.

Aku menyebut Andrea Hirata sebagai penulis hiperbolis, ketimbang metaforis. Ia banyak menggunakan majas hiperbola sebagai bagian dari olok-oloknya pada kehidupan. Ia juga banyak menggunakan satir-satir yang menohok dan ekspresi lain mengenai keluguan, kebodohan yang menyimpan kearifan dari para tokohnya.

Dalam Ayah, salah satu hal yang disinggungnya adalah soal pendidikan dan pemberian nilai di sekolah. Tokoh ceritanya mendapat nilai 2, 3, 4, 5. Angka merah bertaburan di rapor mereka. Itu nyata. Dulu, sekolah-sekolah selalu jujur memberikan nilai rapor kepada muridnya. Aku pun pernah mendapatkan nilai 4 di rapor beberapa kali.

Kemudian terjadilah nilai ujian nasional untuk syarat kelulusan. Kata pemerintah waktu itu, sebuah bangsa yang berpendidikan tercermin dari nilai-nilai mata pelajarannya yang tinggi. Akibatnya, bukan pendidikan yang dibenahi, melainkan kunci-kunci jawaban bertebaran, dan bahkan dicurigai diotaki oleh sekolah itu sendiri.

Di sisi lain, aku baru baca tulisan Prof. Rhenald Kasali, di luar negeri, nilai-nilai itu mudah diberikan karena pendidikan di sana bersifar encouragement. Anaknya yang baru pindah ke luar negeri, disuruh bikin tulisan, diberi nilai A padahal bahasa Inggrisnya buruk. Sang guru mengatakan pemakluman dan sebuah nilai tidak diberikan saklek untuk menghambat kemajuan si anak. Sebuah nilai ada untuk menyemengati si anak untuk bisa.

Andrea menempatkan posisi guru dan murid yang serba lugu dan bodoh dalam sistem pendidikan itu dengan begitu cerdas. Cobalah tengok ketika sang guru bertanya, “100 itu berapa persen dari 400?” Teman Sabari diam tak berkutik. Sabari ingin memberi tahu jawabannya adalah 45%. Tapi keburu sang guru berkata yang benar itu 15%. Kesemua jawaban itu salah.

Pola-pola adegan seperti itu banyak dilakukan Andrea Hirata sebagai bentuk sindiriannya pada kenyataan.

Selain itu, tak ada yang baru kecuali dua hal mungkin. Andrea kini mengenal Gabriel Garcia Marquez setelah sebelumnya mengaku tak pernah membaca karya sastra selain dua buku saja. Dan coba-cobanya menggunakan teknik foreshadow pada tokoh Amiru yang tak lain tak bukan ialah Zorro.

Selebihnya, napas pendek Andrea Hirata yang disiasati dengan bab berfragmen belum dapat membuatku menyebut novel ini istimewa. Edensor masih jauh lebih baik. Aku bilang karakter-karakter yang dituturkan itu tak begitu hidup seperti halnya kenanganku pada Arai dan Lintang.

Pengulangan-pengulangan deskripsi seperti blue moment, batu besar dari zaman Jura juga menjadi titik lemah novel ini. Pun kehiperbolisannya yang terlalu hiperbola (apa pula itu).

Akhirnya, aku bertanya-tanya, apakah sebuah karya dengan nilai tradisionalitas/lokalitas selalu dinilai tinggi oleh para penggiat sastra? Apakah Andrea Hirata dan Benny Arnas itu bersaudara? Sebab sepanjang membaca novel ini, entah kenapa, aku jadi teringat pengarang dari Lubuk Linggau itu.

Hari #2, UFO

Surat Lia Eden ke Presiden tentang izin pendaratan UFO yang dikendalikan Malaikat Jibril itu mengingatkanku pada penampakan-penampakan UFO yang pernah kulihat.

UFO selalu diidentikkan dengan alien, dengan makhluk luar angkasa. Padahal UFO adalah unidentified flying object, benda terbang yang tak dapat diidentifikasi. Artinya, belum tentu dia alien. Bisa jadi dia pesawat canggih buatan manusia yang tidak diketahui, seperti halnya pesawat raksasa markasnya The Avenger itu toh.

Aku tidak akan membahas UFO itu apa, alien itu apa, hanya saja, ketika pertama aku melihat UFO itu, aku merasa aku adalah manusia spesial. Tidak semua orang pernah melihat UFO. Tidak semua orang diperlihatkan UFO.

Aku punya kebiasaan itu sejak kecil. Aku suka melihat langit. Seringkali aku berbaring di hijaunya rumput Jepang di halaman rumahku atau duduk di ayunan sambil menengadah ke langit. Aku akan melihat birunya langit dan awan-awan putih yang menggumpal di sana. Dari itu, aku akan membayangkan awan-awan itu membentuk sesuatu, kadangkala sesuatu yang kuinginkan ada, maka awan itu akan menjadi apa saja yang kuinginkan itu. Bila malam tiba pun, aku akan senang sekali melihat langit dan menyaksikan bintang jatuh. Saat itu, aku belum berpikir mengenai UFO karena aku belum tahu.

Kejadian pertama adalah ketika aku pulang dari Sastra Reboan. Di taksi kami berlima, aku duduk di samping sopir. Di perjalanan Norman dan teman-teman asik mengobrol, aku asuk melihat bulan di langit. Tak jauh dari bulan itu ada pancaran cahaya. Kukira dia bintang. Tapi kemudian cahayanya semakin besar, memejar, dan ia bergerak sebelum menghilang beberapa detik setelahnya. Aku berteriak. “Hei, kalian lihat itu?” tanyaku pada teman-teman. Mereka heran dengan yang kutanyakan. Sang sopir di sebelahku menjawab, “Saya lihat, Mas.”

Ya, itu UFO. Hal seperti itu beberapa kali kulihat kembali dalam waktu yang berbeda.

Beberapa waktu lalu juga aku membaca sebuah artikel mengenai fenomena hantu yang coba dijelaskan oleh peneliti. Beberapa orang yang skeptis diminta jadi volunteer di tempat-tempat yang dianggap menyeramkan. Awalnya mereka tidak merasakan apa-apa. Ketika para peneliti menambahkan suara berfrekuensi rendah, barulah mereka dapat melihat sesuatu. Dari situ disimpulkan bahwa, frekuensi suara yang rendah dapat mengakibatkan seseorang melihat sesuatu. Ada bagian-bagian otak yang bekerja di sana.

Aku jadi berpikir, segala yang kita lihat, segala yang kita indrai ini sebenarnya hanyalah kerja otak. Kalau otak kita rusak, kita tidak dapat merasakan panas itu panas. Aku bertanya-tenya apakah segala yang kita lihat itu sebenarnya ada. Kita melihat warna laut itu biru karena mata kita melihatnya biru, karena sensor, syaraf dan kerja otak yang melihatnya sebagai warna biru. Apakah laut benar-benar biru?

Dalam konteks yang lebih luas, apakah dunia ini benar-benar ada? Apakah kita ini benar-benar ada? Ataukah kita hanya satu bagian otak, satu kerja sistem, sebuah kesadaran dan realitas yang ada saat ini hanyalah buah kesadaran itu?

Aku tidak tahu, apakah UFO yang kemudian membuatku berpikir bukan tentang apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta ini, melainkan apakah kita benar-benar ada atau hanyalah sebuah proyeksi dari kesadaran yang dibuat oleh sesuatu?

Entahlah.

Hari #1: Peran

Seorang teman, penulis, menulis sebuah status di Facebooknya, “Adakah satu penulis saja yang kamu percaya sehingga apapun yang ia tulis kamu akan langsung membelinya?”

Jawabanku selalu tidak.

Alasannya sederhana. Seperti halnya iman yang naik turun, semangat yang naik turun, kualitas sebuah tulisan pun naik turun. Terlepas dari sudah beresnya urusan kebahasaa seorang penulis, keistimewaan sebuah gagasan yang ditemukan penulis selalu berbeda. Pringadi Abdi di Dongeng Afrizal tentu berbeda dengan Pringadi Abdi di Simbiosa Alina, apalagi di 4 Musim Cinta. Mereka bukan Pringadi Abdi yang sama. Termasuk Pringadi Abdi yang sedang menulis blog ini sekarang adalah sosok yang sama sekali berbeda. Perbedaan sepersekian detik saja sudah akan menghasilkan sosok yang baru. Sosok yang berbeda.

Tiba-tiba, tentang perbedaan itu, aku mengingat seorang teman. Dia bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Sementara aku bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Kantornya bernama KPP. Sementara kantorku bernama KPPN. Yang menarik darinya adalah dia selalu menganggapku benci dengan Ditjen Pajak. Dia merasa aku iri dengan penghasilan yang diterimanya. Tentu saja itu tidak benar.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu menganggap Perpajakan adalah keluarga dari Treasury. Treasury juga bahkan memiliki peranan penting dalam penerimaan negara. Salah satunya adalah memastikan tiap satu rupiah pun masuk ke rekening kas negara. Karena itulah Ditjen Perbendaharaan membuat MPN (Modul Penerimaan Negara) yang kini sudah MPN G2. Tentu temanku itu tak begitu paham tentang MPN G2.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu tentu mengharapkan target penerimaan pajak tercapai. Pringadi Abdi memikirkan negara dapat mampu memenuhi belanjanya. Itu jelas dan tidak terkompromikan.

Tapi Pringadi Abdi juga adalah rakyat. Rakyat membayar pajak. Bukan hanya dari pekerjaannya sebagai PNS, tapi Pringadi Abdi sebagai penulis juga. Sebagai rakyat dan penulis itu, Pringadi Abdi merasa Ditjen Pajak bekerja tak maksimal. Misalnya, belum ada sosialisasi mengenai pajak royalti ke para penulis, atau masih adanya praktik korupsi di instansi tersebut dan itu menimbulkan ketidakpercayaan atas performa Ditjen Pajak.

Ya, aku pikir hal-hal seperti itu wajar.

Soal peran ini juga, aku jadi teringat tentang rokok. Seperti yang kalian tahu, aku tak merokok dan tak suka berada di dekat perokok. Tapi aku harus berinteraksi dengan banyak perokok. Yang jelas, bila ada orang ke rumahku atau ke kosku, dengan tegas akan kukatakan tidak boleh merokok. Tapi kalau aku yang pergi ke rumahnya dan melarang dia merokok kan aku yang keterlaluan. Itu sudah resiko dan peran kita sebagai manusia yang menerima diperlukan. Begitu pun kalau ke kafe, nongkrong, duduk di tempat yang diperbolehkan merokok, ya aku nggak akan melarang dia merokok. Kita cukup sama-sama tahu, dia butuh merokok, dan aku tak suka rokok. Cukup kita atur tempat duduknya agar asap rokok tak mengarah ke aku.

4 Musim Cinta

 

 

Ketika Timor Timur di ambang disintegrasi, kerusahan pecah. Banyak kantor pemerintahan tutup. Semua pegawai negeri pusat pulang ke daerahnya masing-masing. Namun, satu kantor harus bertahan. Kantor itu dikenal dengan nama Kantor Kas Negara. Sampai seorang pegawainya yang memberanikan diri dan harus datang ke kantor dicegat oleh Fretilin, ditanyai, ditodong senjata, hendak kemana dan siapa. Ia menjawab ia pegawai Kantor Kas Negara. Seketika itu juga ia dilepaskan. Kantor Kas Negara adalah kantor terakhir yang bertahan dan menjadi identitas negara saat itu.

Begitu pun ketika terjadi tsunami di Aceh. Kantor yang pertama kali harus dipulihkan adalah KPPN Khusus Aceh. Kantor Kas Negara (sekarang bernama KPPN) adalah jantung sekaligus darahnya negara. Keberadaannya adalah keniscayaan. Ia hadir bukan karena ada potensi pendapatan yang besar di daerah itu, melainkan karena ia harus hadir untuk menghidupi perekonomian dengan salah satunya mencairkan dana APBN.

Sekelumit cerita itu menjadi pendahuluan atas betapa setiap kita adalah penting. Kenek yang menagih uang angkutan penting, sopir yang mengemudi angkutan juga penting, tak kalah pentingnya pihak yang membeli angkutan tersebut.

Empat orang pegawai Perbendaharaan yang memiliki pengalaman di Manado, Ruteng, Kendari dan Sumbawa pun ingin berkata, harapan sekecil apapun adalah penting. Bahkan para setan pun suka bersemayam dalam hal yang kecil dan detil. Jika dilupakan, hal kecil itu bisa merusak hidup.

Itulah yang kemudian mendasari sebuah novel ini. 4 Musim Cinta mengejewantahkan harapan dan keyakinan, serta realitas yang harus mereka hadapi. Mulai dari idealisme hingga hubungan persahabatan dan percintaan menjadi riskan dalam situasi-situasi yang rumit.

Di dalam novel ini pun sebenarnya, jika ditelaah lebih lanjut, banyak gugatan atas kebijakan pemerintah. Mulai dari penyerapan anggaran yang tidak proporsional, quality of spending, sampai ke pemberian tunjangan ke instansi perpajakan yang banyak dipertanyakan oleh bahkan sesama pegawai Kementerian Keuangan.

“Kita kurang alasan apa lagi? Pajak buat kebijakan. Sedangkan yang mengadministrasikan setiap rupiah pajak yang masuk ke kas negara, siapa? Kita. Yang membuat laporan penerimaan setiap harinya siapa? Kita. Yang dimintai laporan penerimaan pajak oleh Pak Menteri siapa? Kita. Pajak menyumbang sekian persen dari sisi pendapatan negara. Selebihnya kita.”

Mata Sera tampak berapi-api. Tidak ada senyum di wajahnya yang membuat ia terlihat ramah. Aku mengikik pelan mendengar betapa gigih Sera mengungkapkan pendapatnya. Dan ternyata Sera belum selesai dengan kalimatnya. “Yang mengurusi pencairan 1800 T APBN kita siapa? Kita. Yang buat LKPP siapa? Kita.”

Sera mengempaskan pensil yang sedari tadi ia mainkan di antara jemarinya, ke atas meja lalu ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya bersungut-sungut. Aku melirik Carlo yang masih bingung memilih dan memilah berkas yang akan diberikan padaku. Ia tampak tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi dengan ketiga orang itu.

Setelah memperlihatkan sikap bertahan seperti itu, kedua laki-laki yang ada di samping Sera tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama. Barangkali, baru kali ini mereka mengetahui kenyataan seperti ini. Agung, laki-laki kurus berkacamata itu, sempat melihat Sera dengan wajah yang terlihat berpikir. Bisa jadi ia sedang mencari-cari pembelaan atas pendapatnya yang bertentangan dengan kata-kata Sera. Sementara Somad, laki-laki bongsor berpotongan rambut ala tentara, duduk tegak menghadap ke depan. Ia melihatku lama.

“Apa mungkin kita hanya melihat dari luarnya saja. Maksudku, kita boleh saja merasa bahwa kita telah bekerja keras, tapi siapa yang tahu seberapa keras ‘saudara’ kita bekerja sehingga dihargai sedemikian tinggi?” Somad mengangkat bahu. Agung mengangguk setuju.

“Ya. Mereka memang bekerja keras. Keras sekali.” Sera menjawab sinis.

“Jangankan di tingkat kementerian. Bahkan antara kamu dan Agung, bisa jadi ada ketidakadilan jumlah penghasilan. Kalau saya tanya, siapa yang lebih berdedikasi terhadap instansi, apa kalian bisa jawab?”

Carlo nimbrung dalam percakapan mereka. Kali ini aku tersenyum terang-terangan. Kali ini Carlo menjawab dengan tepat. Setidaknya jawaban retoris macam itu diperlukan untuk meredakan gejolak pemberontakan yang bisa saja muncul di dada tiga orang itu.

“Kita ini pelayan masyarakat. Lebih tinggi lagi, kita ini bekerja untuk yang di atas. Nabung pahala istilahnya. Pada akhirnya, apa yang kita dapat pasti sesuai dengan apa yang kita berikan. Seberapa banyak yang kita berikan? Hati kita sendiri yang tahu jawabannya.”

Rasanya ingin tertawa mendengar lanjutan pernyataan Carlo. Apa dia lupa pada larangan cuti yang ditujukan kepadaku waktu itu. Lalu sekarang dia berbicara tentang pahala? Sangat bertentangan dengan sikapnya sehari-hari.

“Tapi, Pak…” Sera tampak tidak terima.

“Sssttt… Perdebatan macam ini tidak akan memberi dampak apa-apa. Semakin kalian menyesali kondisi tempat kalian berada, semakin kalian merasakan sakit hati. Benar, nggak, Gayatri?” Dari mejanya, Carlo melihatku tajam. Aku mengangguk wagu, tak tahu harus menjawab apa.

Sayang, karena pertimbangan editor, dialog tersebut di atas dihapus di dalam cerita ini. Katanya terlalu teknis.

Pada akhirnya, semoga saja jika ke toko buku, dan melihat bibir merah merekah di sampulnya, teman-teman segera mengambil dan membawanya ke kasir. Atau bisa pesan langsung dengan mengirimkan nama dan alamat ke 085239949448 atau via SMS/WA. Semoga.

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

Paperback, 332 pages

Published March 13th 2015 by Exchange

original title 4 Musim Cinta

ISBN13 9786027202429

edition language Indonesian

url http://kaurama.com/exchange/

harga Rp59.500,-

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan