Category Archives: Pikiran Pringadi

Mandiri Menuju Asian Games 2018

Barangkali tidak ada yang lebih spesial daripada Asian Games 2018 ini. Pasalnya, salah satu kota penyelenggaranya adalah Palembang, dan pembukaannya pun tanggal 18 Agustus, bertepatan dengan tanggal lahirku.

Pembangunan gencar dilaksanakan. Berbagai venue di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, semua bangunan venue sudah selesai. Hanya ada beberapa renovasi kecil yang masih dikerjakan di beberapa titik, seperti di venue menembak yang masih dalam penyelesaian akhir bagian luar sambil menunggu masuknya peralatan pertandingan yang saat ini sudah tersedia. Target Agustus semua pekerjaan berhenti (selesai akhir Juli).

Di sejumlah tempat pun terdapat beberapa pernak-pernik untuk menyemarakkan Asian Games 2018. Misal, di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II terdapat beberapa titik yang dijadikan tempat berfoto. Di antaranya ada patung-patung maskot Asian Games 2018.

Maskot Asian Games 2018 ada 3 yaitu Bhin Bhin, Atung dan Kaka. Karakter Bhin Bhin merepresentasikan strategi dan terinpirasi dari burung cendrawasih. Bhin bhin mengenakan rompi bermotif khas suku Asmat, merepresentasikan asal dari burung cendrawasih. Burung yang cantik ini memakan buah-buahan, biji-bijian, dan serangga kecil. Sayangnya, karena kerusakan habitat dan pemburuan liar, jumlah cendrawasih di alam bebas semakin menurun. Karakter Atung terinspirasi dari rusa Bawean yang hanya dapat ditemui di Pulau Bawean, Jawa Timur, dan merepresentasikan kecepatan. Rusa Bawean termasuk hewan herbivora, yaitu hewan pemakan tumbuh-tumbuhan, termasuk daun-daunan. Rusa Bawean memiliki nama latin Hyelaphus kuhlii. Atung mengenakan sebuah kain dengan motif tumpal khas Jakarta. Karakter Kaka merepresentasikan kekuatan dan terinspirasi dari badak bercula satu. Saat ini, badak bercula satu termasuk dalam hewan langka yang dilindungi dan hanya dapat ditemui di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Hewan yang memiliki nama latin Rhinoceros sondaicus ini mengenakan sebuah penutup dada bermotif bunga khas kota Palembang.

Dalam rangka memeriahkan Asian Games Tahun 2018 Jakarta Palembang, sejumlah daerah lain di luar kedua kota tersebut juga turut merayakannya.  Misalnya, unit Karang Taruna Permadi Padukuhan Keceme, Desa Caturharjo, Sleman akan mengadakan kegiatan Turnamen Bola Voli se-Kabupaten dan sekitarnya. Kegiatan ini sudah menjadi kalender unit Karang Taruna Permadi yang ada di Padukuhan Keceme, Caturharjo, Sleman dan saat ini merupakan turnamen yang ke – VII.

Bola Voli merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak diminati khususnya kawula muda sebelumnya. Pada masa ini perkembangan bola Voli cukup mengalami kemunduran sehingga dengan harapan dari turnamen ini kami dapat memajukan lagi cabang olahraga ini dan dengan tujuan menumbuhkan bibit-bibit unggul bola Voli. Berlandaskan semangat kebersamaan demi memasyarakatkan dan meningkatkan prestasi bagi para atlet dalam pembinaan di daerah oleh masing-masing pelatih dan Pembina yang terkait. Kegiatan ini diharapkan dapat mengubah warga jadi mandiri dalam pengelolaan bola voli yang berkelanjutan.

Asian Games XVII akan berlangsung dari tanggal 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Rakyat Indonesia, sebagai tuan rumah, tentunya turut andil dalam mendukung kesuksesan Asian Games di Indonesia. Pasti asik dan seru kalau mendukung timnas Indonesia langsung di arena pertandingan.

Bank Mandiri adalah salah satu perusahaan negara yang mendukung acara olahraga bertaraf internasional ini. Kalau kamu salah satu nasabah Bank Mandiri, kamu berkesempatan untuk mengikuti penawaran spesial dari Bank Mandiri.

Dengan menggunakan kartu debit atau kartu kredit Mandiri, nasabah Bank Mandiri bisa berkesempatan untuk mendapatkan diskon sampai dengan 50% untuk pembelian tiket Asian Games. Selain itu, ada program cicilan tiket Asian Games yang menarik.

Promo spesial ini mulai berlangsung pada tanggal 9 Juli 2018. Promo ini juga hanya berlaku untuk pembelian tiket di situs resmi penjualan tiket Asian Games 2018, yaitu di KiosTix. Tidak ada batasan transaksi per kartu, syarat dan ketentuan berlaku. Promo spesial dengan diskon 50% ini berlaku dengan menggunakan kartu debit dan kartu kredit Mandiri.  Tapi promo ini tidak berlaku untuk semua cabang olahraga dan kategori penonton. Ada kuota diskon yang diberikan pada setiap kategori yang masuk dalam promo. Jadi promo ini juga hanya berlaku selama tiket dan kuota diskon masih tersedia. Berikut adalah detailnya:

Tunggu apalagi. Jangan lewatkan kesempatan untuk menonton pertandingan Asian Games. Apalagi ke Palembang dengan segela kelezatan kulinernya. Apa kamu tidak ngiler nonton olahraga sambil makan pempek kapal selam?

Komunitas Sastra Kementerian Keuangan: Sastrawan Plat Merah?

Bila menyebut “Sastrawan Plat Merah”, timbul sebuah konotasi negatif. Alasannya, frasa ini pernah muncul sebagai polemik dalam temu sastrawan beberapa tahun lalu. Saat itu, sastrawan plat merah adalah delegasi dari kalangan birokrat yang memaksakan status sastrawan disematkan dalam dirinya. Mereka mendaftarkan nama mereka sebagai perwakilan sastrawan, sekalipun nyata-nyata dari kalangan birokrat.

Lebih jauh, tidak sembarang orang bisa disebut sastrawan. Sastrawan dalam arti sempit memang bisa disematkan kepada orang yang bersastra. Tetapi itu tidak cukup. Seorang sastrawan seharusnya memiliki dua elemen penting yakni keteguhannya dalam pencapaian estetika, dan keluasan cara pandang terhadap realitas. Dua elemen itu akan menghadirkan independensi seorang sastrawan yang berpihak pada kebenaran yang dia yakini.

“Sastrawan Plat Merah” bisa menimbulkan makna sastrawan yang berpihak pada Pemerintah. Padahal, fakta menunjukkan sastrawan seringkali berhadap-hadapan dengan Pemerintah karena sastrawan yang anti-kekuasaan kerap membela yang lemah atau mereka yang tersakiti akibat kekuasaan Pemerintah.

Dalam konteks Indonesia, ada banyak sastrawan yang pernah dipenjara karena dianggap melawan Pemerintah. Pada 1957, Mochtar Lubis, pengarang novel Jalan Tak Ada Ujung ini pernah menjadi tahanan rumah dan tahanan penjara selama sembilan tahun karena dianggap sebagai oposan Presiden Soekarno. Salah satu pendiri majalah sastra Horison ini dipenjara lantaran karya-karya jurnalistiknya. Pada tahun 1960-an, Pramoedya, pengarang Bumi Manusia ini ditahan oleh pemerintahan Soeharto lantaran pandangan Pro-Komunisnya. Buku-bukunya dilarang beredar dan dia juga dilarang menulis selama berada di ruang tahanan yang berada di Pulau Buru. Pada 1967, Sitor Situmorang mendekam di penjara karena menulis esai berjudul ‘Sastra Revolusioner’. Dia dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pemberontakan. Dia ditahan pemerintahan Orde Baru mulai dari tahun 1967-1974. Pada tahun 1977, W.S. Rendra, penyair yang lebih dikenal sebagai Si Burung Merak ini ditahan di rutan militer Jalan Guntur, Jakarta, akibat pembacaan salah satu puisinya di Taman Ismail Marzuki. Puisi yang Rendra deklamasikan itu ternyata membuat gerah pemerintahan Orde Baru. Pada tahun 1996, Wiji Thukul menjadi buronan pemerintah Orde Baru. Pada tahun itu dia pamit kepada istrinya untuk pergi bersembunyi, dan sampai sekarang dia tidak pernah kembali lagi. Dia menjadi buronan karena jenderal-jenderal di Jakarta menuding puisi-puisinya menghasut para aktivis untuk melawan pemerintah Orde Baru.

Relasi buruk sastrawan dan Pemerintah ini tidak hanya terjadi di Indonesia karena memang bawaan alami sifat kedua pihak ini yang kerap bertentangan.

Sastrawan Plat Merah: Sastrawan dalam Ketiak Pemerintah?

Konotasi lain dari “Sastrawan Plat Merah” muncul karena korelasi antara sastrawan dan Pemerintah yang membuat beberapa sastrawan terlibat dalam agenda-agenda kekuasaan. Dahulu, kerajaan selalu memiliki pujangga-pujangga yang bertugas memuja-muji raja, menulis Ode saat ada anggota kerajaan yang meninggal dunia, dan bahkan membacakan syair-syair perang untuk menaikkan semangat prajurit.

Fenomena menggunakan sastra dan sastrawan sebagai alat Pemerintah (alat ideologi Pemerintah) jamak terjadi di mana pun. Dalam zaman modern, beberapa dokumentasi rahasia yang terkuak membuktikan keterlibatan sastrawan dunia dalam agenda Pemerintah tertentu. Sebut saja pada masa Perang Dingin. CIA membujuk banyak sastrawan untuk melakukan propaganda anti-komunisme. Salah satunya George Orwell, dengan novel 1984, menulis tentang bahaya komunisme bila berkuasa. James Baldwin, Gabriel García Márquez, Richard Wright, dan Ernest Hemingway, pada masa-masa tertentu memiliki hubungan dengan jaringan intelijen Amerika Serikat. Di Indonesia, hal itu juga terjadi. Goenawan Muhammad dianggap sebagai salah satu sastrawan yang memiliki agenda “plat merah”. Upayanya membawa masuk Albert Camus adalah upaya mengubah arah sastra dari sifat-sifat revolusioner menjadi berkhusuk pada perenungan diri.

Sastrawan Plat Merah: Sebuah Keseimbangan

Lahirnya komunitas sastra di dalam tubuh Pemerintah tidaklah terkait dengan perang propaganda. Komunitas sastra seperti Komunitas Sastra di Kementerian Keuangan menawarkan sebuah keseimbangan. Pelakunya yang plat merah. Pelakunya yang merupakan bagian dari pemerintah. Bukan berarti para pelaku ini akan membabi-buta mendukung propaganda Pemerintah.

Keseimbangan yang paling bisa diterima adalah terkait keseimbangan pribadi para pelaku itu sendiri. Di tengah dunia keuangan yang begitu rigid, para pelaku bersastra. Ini kembali melegitimasi bahwa para pelaku sastra bisa datang dari mana saja. Pelaku sastra tidak harus orang yang lulus dari jurusan Sastra Indonesia, tetapi lintas profesi dan lintas keilmuan.

Ditilik lebih dalam, ini akan mengembalikan sastra ke Sastra (dengan S besar), bahwa sastra pada dasarnya adalah literasi atau pengetahuan itu sendiri. Cara seseorang memaknai pengetahuan akan membuatnya bersastra. Maka, Komunitas Sastra di Kementerian Keuangan seharusnya menawarkan sebuah hal bagi Sastra itu sendiri. Sebuah dunia pengetahuan yang jarang dikuasi banyak orang yakni dunia keuangan.

Penggiat sastra di Kemenkeu tidak boleh hanya mengintimi sastra sebagai keindahan, melainkan juga harus mengamini sastra sebagai kritik yang diungkapkan dengan cara yang berbeda. Pengetahuan dunia keuangan itu yang seharusnya menjadi bahan dasar lahirnya sintesis antara keindahan dan kritik tersebut. Karena apabila para pelaku hanya bergelut dengan estetika, berindah-indah, maka tak akan bedanya dengan masyarakat umum.

River Tubing di Goa Sari

Tubing di Goa Sari. Dokumentasi pribadi.

Bagaimana rasanya duduk pasrah di ban, lalu dihanyutkan di sungai berbatu dengan arus yang cukup kencang?

Kata kunci kepasrahan inilah yang membedakan river tubing dengan raftingataupun body rafting.Sudah tiga kali saya mencoba rafting. Ketangkasan dibutuhkan untuk mengikuti instruksi dari pemandu dalam menggerakkan dayung, maupun gerak tubuh saat menghadapi jeram. Begitu juga dengan body rafting, yang membutuhkan kehati-hatian dan kesigapan yang sangat agar tidak tertabrak bebatuan maupun mampu menangkap tali yang dilemparkan pemandu agar tidak terhanyut arus. Tubing berbeda. Saya harus pasrah dan percaya pada pemandu.

Dari dulu, saya ingin mencoba tubing.Goa Pindul yang terkenal itu sepertinya seru. Namun, melihat betapa padat pengunjung menyesaki pintu goa, antre sedemikian rupa, keinginan saya sirna.

Kesempatan datang ketika saya berkunjung ke Solo. Bermodal Om Google, saya mencari tempat wisata yang direkomendasikan. Salah satu tempat yang muncul adalah Goa Sari River Tubing.

Goa Sari River Tubing terletakdi lereng Gunung Lawu atau di Seguwo, Puntukrejo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Tepatnya di tengah-tengah rute dari terminal Karangpandan menuju Candi Cetho dan Candi Sukuh, searah dengan Air Terjun Jumog. Saya lihat Google Maps, jaraknya hanya 30-an kilometer. Tak ragu, segera saya menyewa motor dan berangkat ke sana.

Yang unik adalah di tempat ini memang betul ada Goa. Awalnya hanya goa kecil, lalu sang pemilknya Sunarto, seorang guru SD, melakukan penggalian, pembentukan relief-relief selama kurang lebih 3 tahun. September 2011 goa ini diresmikan. Tarif masuknya hanya Rp3.000,-. Saya sendiri kurang berminat untuk masuk ke goa tersebut—karena saya sendirian.

Saya langsung mencoba menu utama, yakni river tubing. Tarifnya Rp25.000,-. Namun, karena saya sendirian, tarifnya dilebihkan. Tak masalah karena saya begitu penasaran dengan sensasinya. Privat river tubing sejauh 2,5 km bersama seorang pemandu terasa murah. Ban besar pun disiapkan bersama perlengkapan dasar: pelampung, helm, dan sepatu anti selip.

Sungai yang airnya berasal dari air terjun Jumog ini cukup deras. Saya grogi dan semakin penasaran seperti apa rasanya menyusuri sungai dengan ban.

Setelah melangkah kaki di sela ban, duduk, mencari posisi wuenak, perjalanan pun dimulai. Air dan udaranya terasa sejuk. Degup jantung pun mulai terasa mengencang saat ban mulai menumbur bebatuan. Jeram-jeram kecil di sungai juga membuat perjalanan semakin seru.

Sayangnya, karena hujan semalam, mengakibatkan jalur yang dilalui sedikit terganggu. Beberapa kali perjalanan mesti terhenti karena si pemandu harus menyingkirkan kayu-kayu dan batu-batu yang menghalangi jalan.

Pasrah-pasrah ngeri. Dokumentasi pribadi.

Momen paling istimewa adalah ketika saya memasuki hutan bambu raksasa. Bambu-bambu yang melengkung menutupi sungai sangat indah. Saya menyesal tidak membawa kamera khusus untuk merekam perjalanan ini.

Sedang asik-asiknya menikmati suasana, aliran arus yang lumayan tenang, membuat saya lengah. Satu jeram di depan mata membuat saya tidak mawas diri. Saya terbalik. Sikut saya menumbur batu. Berdarah sedikit. Sakit. Tiga kali rafting, satu kali body rafting saya tak apa-apa. Tapi ini, saya terbalik. Benar kata pepatah, situasi yang aman seringkali membuat kita lengah.

Istirahat sebelum nyemplung. Dokumentasi pribadi.

Setelah sempat berhenti di bagian sungai yang agak dalam, bermain air, foto-foto sebentar, perjalanan berakhir tak lama kemudian. Sungguh, ini adalah pengalaman yang berharga.

Di ujung perjalanan, saya dijemput oleh mobil pick up. Saya naik di belakang, duduk menghadap jalan yang ditinggalkan. Suasana pedesaan yang alami adalah suasana yang sempurna bagi binatang pekerja Jakarta seperti saya.

Sesampainya di tempat memulai, saya memesan ayam grepe (baca: geprek, hehe). Menunya beragam sebenarnya. Tapi liur saya sudah menetes membayangkan ayam pedas yang enak itu. Dan benar, masakannya benar-benar enak.

Saya pikir dengan pembenahan dan promosi yang tepat, Goa Sari River Tubing ini bisa jadi tujuan wisata yang sangat menarik sekali. Arealnya luas, bisa jadi tempat out bound yang sempurna. Ada kolam renang, gazebo untuk duduk-duduk melihat pemandangan, dan fasilitas lain seperti bola air, tubingarena, trail adventure, egrang, permainan tali, flaying foxoffroad dengan mobil jeep, ATV.

Sejatinya, karena tidak akhir pekan, saya ingin melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Lalu, saya tetap ingin mengunjungi Goa Pindul. Pasti di sana sedang tidak seramai akhir pekan. Masih bisa dinikmati. Namun, rencana ke Jogja itu saya batalkan karena Jogja bukanlah tempat hanya untuk jalan sendiri. Jogja lebih seru jika jalan bersama keluarga.

Lain kali saya ingin pergi ke Jogja dengan mengajak anak dan istri. Di sana, ketimbang bermotor, lebih baik menyewa mobil. Rental mobil Jogja banyak dan relatif murah. Salah satunya adalah Omocars. Tarifnya mulai 250 ribuan. Kelebihan utamanya adalah sewa mobilnya benar-benar 24 jam/ bukan harian. Jadi kalau pinjam jam 8 pagi, bisa kembali besok jam 8 pagi juga. Nggak terburu waktu harus pukul 24.00.

Sudah lama saya tak liburan bareng keluarga. Terakhir liburan keluarga ke Belitong beberapa tahun lalu. Habis lebaran, jadwal ke Jogja sudah ada. Selain Goa Pindul, Air Terjun Sri Getuk wajib jadi incaran utama. Tak lupa keliling kota Jogja, mencicipi berbagai aneka kuliner yang ada. Ah, pasti seru sekali.

Jalan-jalan ke Museum Tsunami Aceh

Akhir 2017 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Aceh. Satu tempat yang tak ingin saya lewatkan adalah Museum Tsunami Aceh.

Tiga belas tahun berlalu sejak bencana mahadahsyat yang menewaskan banyak nyawa itu. Saya bersama seorang kawan yang mengalami bencana itu. Saat tsunami terjadi, ia berada di rumah yang letaknya cukup jauh dari bibir pantai. Untungnya, rumahnya 2 lantai. Ia menyaksikan air ibarat pasukan yang maju menerjang bersama entah berapa kubik barang-barang terbawa arus. Untung ia di dalam rumah sehingga ia tak harus merasakan terantuk barang-barang yang terbawa arus itu. Ia menggigil dan ketakutan melihat apa yang tengah terjadi kala itu.

Museum Tsunami Aceh ini yang kutahu adalah hasil rancangan Ridwan Kamil. Meski kini terkenal sebagai wali kota Bandung yang sudah menjadi calon Gubernur Jawa Barat, banyak yang tidak tahu kalau Museum Tsunami Aceh adalah karya beliau. Ridwan Kamil adalah arsitektur terkemuka di republik ini. Ia juga merupakan seorang dosen jurusan arsitektur di ITB. Ridwan Kamil berhasil memenangkan ‘Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh’ yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007.

Museum Tsunami Aceh mulai terbuka untuk umum pada 8 Mei 2009. Desainnya unik, dan memiliki dua makna. Bila dilihat, atap Museum Tsunami Aceh terlihat seperti gelombang laut yang merefleksikan gelombang tsunami. Namun, bila dilihat dari samping, museum ini tampak mirip dengan kapal penyelamat yang memiliki geladak yang luas sebagai ruang pelarian.

Begitu masuk, kita menemui lorong gelap seolah-olah memasuki lorong gelap gelombang tsunami dengan ketinggian 40 meter dengan efek air jatuh. Agak basah sedikit, tapi tidak apa-apa. Kecuali bagi yang takut gelap dan masih phobia dengan tsunami, tidak disarankan untuk masuk dari jalur ini. Setelah melewati tempat ini, puluhan standing screen menyajikan foto-foto pasca tsunami berupa kerusakan dan kehancuran serta kematian, yang penuh dengan gambar korban dan gambar pertolongan terhadap mereka

Setelah itui, kita akan memasuki “Ruang Penentuan Nasib” atau “Fighting Room”, sering disebut juga The Light of God. Ruangan ini berbentuk seperti cerobong semi-gelap dengan tulisan Allah pada bagian puncak. Hal ini merefleksikan perjuangan para korban tsunami. Nama-nama mereka yang menjadi korban terpatri di dinding cerobong sebagai korban. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa masih ada harapan, terus berjuang seraya mengharapkan belas kasih dari Yang Maha Menolong. Begitu mereka yakin akan adanya pertolongan Allah, maka mereka seakan seperti mendengar adanya panggilan ilahi dan terus berjuang hingga selamat keluar dari gelombang tersebut.Tempat ini juga ada yang menyebutnya sebagai “Sumur Doa”.

Keluar dari ruangan ini, kita akan bertemu dengan Jembatan Harapan (Hope Bridge). Di atas jembatan ini, kita akan melihat bendera 52 negara, yang telah mengulurkan bantuan untuk para korban. Melalui jembatan ini, seperti melewati air tsunami menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Setelah itu, kita akan melihat banyak foto dan artefak tsunami. Ada jam berdiri besar yang mati saat waktu menunjukkan pukul 8.17 menit atau foto jam Mesjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan mati juga pada saat tersebut. Artefak lainnya ialah miniatur-miniatur tentang tsunami. Misal, orang-orang yang sedang menangkap ikan di laut dan berlarian menyelamatkan diri saat gelombang melebihi tinggi pohon kelapa menerjang mereka. atau bangunan-bangunan rumah yang porak-poranda oleh gempa sebelum datang air bah menyapu bersih.

Naik ke lantai tiga, di sana terdapat bermacam-macam sarana pengetahuan gempa dan tsunami berbasis iptek. Dia ntaranya sejarah dan potensi tsunami di seluruh titik bumi, simulasi meletusnya gunung api di seluruh Indonesia, simulasi gempa yang bisa disetel seberapa skala richtel yang kita mau.

Di lantai bawah, seharusnya ada kolam yang berisi ikan. Namun, saat saya ke sana, kolam itu tak berisi air sama sekali.

Saya sempat duduk di jembatan harapan sambil memandangi kolam kosong itu. Saya membayangkan jika saya adalah korban tsunami. Pasti rasanya pedih sekali. Lebih pedih dari tidak punya sinyal internet. Bila tidak punya sinyal internet, kita bisa sewa modem gratis di Iziroam misalnya. Tapi dalam keadaan terseret arus, kepada siapa kita berharap? Hanya kepada Allah.

Salah satu bendera di atas jembatan adalah bendera Jepang. Entah kapan aku bisa pergi ke Jepang, negara yang ada dalam list salah satu negara yang harus kukunjungi. Di sana pasti sudah bisa Rental Wifi Jepang atau Rental modem Jepang atau Rental Modem Wifi Jepang. Tapi entah bagaimana orang-orang di negara yang sering tsunami itu bisa menghubungkan diri ke Tuhan?

 

(2018)

 

Lagoi, Sekilan dari Singapura

Hujan turun tipis, tetapi enggan berhenti. Pesona pantai Lagoi di pulau Bintan, Kepulauan Riau sedikit tak bisa dinikmati karena langit yang gelap dan hujan itu. Pasir yang menghamparkan diri di pesisir terus menggoda untuk diinjaki. Bukan takut hujan, keberadaan petirlah yang menakutkan. Sungguh tidak disarankan bermain dalam hujan dengan kilat menyambar-nyambar.

Saya mencoba buka hape untuk memotret pemandangan itu. Terlihat dua provider di hape saya tidak menampakkan sinyal yang menggembirakan. Sebuah pesan masih bisa masuk. Isinya adalah iklan dari provider untuk mengganti simcard saya dengan simcard Singapura!

Kedatangan saya ke Tanjung Pinang sebenarnya untuk mengajar di Kanwil Perbendaharaan Riau. Acara selesai Jumat. Salah satu kepala seksi di sana adalah teman saya. Saya pun memintanya mengantarkan saya jalan-jalan pada Sabtu.

Lagoi menjadi tujuan utama dan pertama. Lagoi begitu terkenal karena menjadi tujuan paling menarik bagi wisatawan mancanegara. Dari Tanjung Pinang, kami menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Untuk menuju ke sana, juga bisa lewat Batam. Caranya dengan menggunakan jasa penyeberangan dari pelabuhan Telaga Punggur. Dari pelabuhan ini, Anda dapat menggunakan perahu motor (speed boat) menuju Tanjung Uban. Sesampainya di Tanjung Uban, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taksi. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 25 menit dari Tanjung Uban. Kabar terakhir, sudah ada wacana pembangunan jembatan dari Batam ke Uban.

Kawasan Lagoi dikenal oleh banyak orang sebagai kawasan eksklusif dengan resor-resor mewah yang menawarkan pantai pribadi. Namun sekarang sudah ada kawasan publik di Lagoi Bay, terbuka untuk umum. Sayangnya kita tetap tidak bisa masuk ke dalam kawasan Lagoi jika bukan tamu resor.

Harga resor yang yang ada di Lagoi rata-rata di atas Rp1.500.000,- per malam. Mahal. Tapi sebanding sih dengan kenyamanan yang ditawarkan. Tapi ada yang lebih murah. Carilah penginapan dengan model apartemen seperti Bintan Lodge atau Bintan Service Apartment. Harganya 600-700 ribu per malam.

Di Lagoi, selain ada pantai pasir putih bersih dengan garis pantai yang panjang, juga ada kolam renang yang konon terbesar se-Asia Tenggara. Namanya Treasure Bay. Untuk masuk ke dalam kawasan Treasure Bay ini kita harus membayar tiket masuk seharga Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Dari nominal tersebut, 20%-nya digunakan sebagai tiket masuk dan 80% sisanya menjadi deposit yang bisa digunakan untuk mencoba beragam water activities yang ada di sana, atau untuk membeli makanan dan minuman. Deposit ini tidak bisa direfund.

Sayangnya, karena hujan dan waktu yang terbatas, saya tidak masuk ke Treasure Bay.

Sambil curi-curi dengan hujan, saya langsung melempar diri saya ke ombak. Ombak membelai saya dengan lembut. Pasir-pasirnya sangat halus. Nyaris tidak ada batu-batu di pantai, entah alami atau karena pantai ini begitu terurus. Bersih sekali. Ada mayat rumput laut terdampar di beberapa sisi.

Mas Arif mengajak seorang anaknya bermain pasir. Mereka mencoba membangun sesuatu. Aku mendadak teringat anakku. Andai saja, anakku bisa ikut turut serta ke sini, pasti dia akan senang sekali. Anakku yang pertama, Hanna, memang suka sekali pantai. Ia pernah tak mau pulang saat kuajak ke Senggigi.

Kulemparkan pandanganku juga ke laut lepas. Laut yang menyajikan perbatasan Indonesia dengan negara lain. Aku belum pernah jalan-jalan ke luar negeri.

Aku membayangkan kalau jalan-jalan seperti ini, tanpa keberadaan sinyal ponsel yang memadai, ada semacam tempat untuk sewa modem wifi. Dengan begitu, aku bisa menelepon anakku, video call, dan memperlihatkan kepadanya keindahan pantai Lagoi. Pun bila suatu hari aku ke luar negeri, ke tempat wisata tanpa sinyal, aku bisa rental wifi keluar negeri. Sewa modem keluar negeri seperti itu sudah menjadi kebutuhan utama para pejalan sepertiku. Entah kapan bisa keluar negeri.

 

 

Pemahaman Utuh Para Penyelenggara Pemerintahan

Konsumen menang lagi. Kasus mengenai mainan tidak ber-SNI yang dilarang masuk ke Indonesia oleh petugas Bea Cukai akhirnya menemukan titik terang. Perdebatan mengenai tidak jelasnya definisi importir akhirnya menemukan kesepakatan bahwa bila jumlah barang tidak melebihi 5 buah, maka si pembawa bukanlah importir dan tidak bisa ditolak.

Ini adalah kali kedua dalam waktu belakangan konsumen menang dalam hal barang dari luar negeri. Sebelumnya, Eka Kurniawan, penulis Indonesia paling menginternasional saat ini, menggugat kebijakan oknum bea cukai yang mengenakan tarif untuk bukti terbit bukunya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa di berbagai negara. Lucunya, harga untuk buku yang gratis itu (karena bukti terbit) dikenakan jauh lebih mahal dari harga jualnya.

Sengaja saya katakan menang dengan huruf miring, karena bila sang oknum petugas memahami peraturan secara menyeluruh, kasus-kasus itu tak akan terjadi. Permintaan sang petugas untuk melabeli mainan dengan sertifikat SNI dengan mudah bisa dibantah karena tidak ada SNI untuk perorangan. Adanya SNI untuk badan usaha.

Tegas, Tapi Tetap Terbuka

Saya pernah berada di garis depan pelayanan. Sebagai front officer Pencairan Dana APBN. Artinya, segala permintaan membayar kantor-kantor pemerintah, harus melalui persetujuan saya terlebih dahulu. Ngeri? Iya. Pegangannya adalah peraturan. Sebab, bila tidak sesuai peraturan, lalu terjadi kerugian negara, itulah yang dinamakan korupsi.

Sebuah peraturan tidak mungkin berdiri sendiri. Ia saling terkait dengan peraturan lain. Berhadapan dengan customer, kita harus sangat memahami peraturan itu. Tak jarang kita akan dihadapkan pada kondisi perdebatan mengenai peraturan. Tinggal cari mana yang lebih sahih.

Keterkaitan itu misalnya, ada pada cara mengisi NPWP di lembar SSP. Tidak ada aturan yang mendetail mengenai itu bila hanya merujuk ke peraturan pencairan dana. Jika rekanan berbentuk CV, bolehkah SSP ditulis menggunakan NPWP Pribadi?

Logika kita harus bermain. Apakah definisi CV? CV adalah persekutuan komanditer, Persekutuan berarti tidak 1 orang. Sehingga tidak logis apabila CV menggunakan NPWP Pribadi. Dia harus NPWP badan. Berbeda dengan UD (Usaha Dagang) yang bisa dimiliki perorangan. Maka, ia boleh pakai NPWP Orang Pribadi.

Ketegasan dan keterbukaan itu juga berarti membutuhkan dukungan dari komunitas. Maksudnya, jangan pernah ragu untuk berkonsultasi ke sesama rekan kerja. Jika perdebatan terjadi sengit, kita perlu mencari perspektif yang lebih mendalam terhadap suatu peraturan. Yak, ada akses ke pembuat peraturan. Ada HAI DJPb misalnya. Di sana kita bisa bertanya untuk lebih yakin.

Kasus Pajak Lain

Baru-baru ini, saya ditelepon keluarga di kampung. Keluarga adalah petani sawit dan karet. Banyak petani memebentuk kelompok tani. Kelompok tani itu bergabung dengan kelompok tani lain membentuk badan usaha berupa CV dengan manajemen tersendiri.

CV ini akan membeli hasil sawit dan karet (buah dan getah) dari kelompok taninya sendiri, juga dari kelompok tani lain dari daerah-daerah yang jauh. Setelah itu, CV akan menjualnya ke pabrik. Status CV di sini adalah pedagang perantara. Dalam SIUP diterakan perdagangan nasional.

Masalahnya, seorang AR (Account Representative) Pajak datang memberitahukan bahwa CV ini memiliki kewajiban pajak yang belum dibayar. Nilainya besar. Dasarnya adalah PMK 34 pasal 1 ayat 1.i. Intinya begini, si AR memiliki justifikasi bahwa CV harus memungut pajak dari barang yang dibelinya.

CV selama ini telah membayar pajak dari barang yang ia jual ke pabrik. Tentu selama ini, CV tidak pernah memperhitungkan pajak ke dalam pembeliannya. Marjin yang ditetapkan biasanya tidak lebih dari 10% belum memperhitungkan susut getah dan risiko lain. Kalau pajak 2,5% dibayarkan, tentu, untung CV ini tergerus semua. Parahnya lagi, aturan perpajakan sesuai dengan putusan MK ini berlaku surut 5 tahun. AR tesebut memaksa CV membayar kewajiban pajak tahun 2016 (beroperasi normal 2016).

Dari sini saja sebenarnya tecermin sebuah prinsip ketidakadilan bagi CV tersebut. Bayangkan jika keuntungannya dalam tahun berjalan habis buat bayar pajak.

Setelah dibaca lebih jauh, ternyata ketidakadilan itu tidak ada di peraturan. Ini hanyalah kesalahan persepsi oknum, apapun motifnya (kedangkalan berpikir, keinginan mengejar target, atau iseng doang). Pasal 1 ayat i dalam PMK tersebut menulis subjek pajaknya adalah industri atau eksportir. Sedangkan, jelas menurut SIUP, CV ini adalah perdagangan dalam negeri.

Sudah jelas bahwa CV ini adalah pedagang, bukan industri apalagi eksportir. Bila ingin berdebat lebih jauh, kita perlu definisikan apa itu industri atau eksportir. Industri adalah bidang yang menggunakan ketrampilan, dan ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-hasil bumi, dan distribusinya sebagai dasarnya. … Industri barang merupakan usaha mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Industri juga nisaberarti ada perubahan dari produk A menjadi produk B. Ada nilai tambah di sana. Misal, beli buah sawit, diolah menjadi minyak sawit. Ini industri. Sedangkan eksportir jelas, ada barang dikirim ke luar negeri. Dalam hal ini, pabrik yang menjadi tujuan CV untuk menjual barang memenuhi definisi tersebut. Makanya, si pabrik memungut pajak langsung dari CV. Sedangkan ini pedagang, bukan industri jadi maupun setengah jadi.

Saya kemudian bertanya ke teman saya sesama D4 yang pernah jadi AR dan sekarang di kantor pusat. Jawabannya sama dengan saya. Menurutnya, memang ada surat ke semua pedagang pengumpul (pedagang perantara) yang sifatnya imbauan untuk konfirmasi data. Mereka yang tidak termasuk industri atau eksportir dapat mengonfirmasikan hal itu dengan menunjukkan SIUP. Saya pun berbincang dengan seorang pengajar brevet, dan beliau berkata hal yang sama, CV tersebut bukan merupakan subjek pajak PMK 34 pasal 1 ayat 1.i.

Anehnya, si AR tetap keukeuh. Memaksa bayar. Saya katakan kepada saudara di kampung, segala pembicaraaan ke AR atau petugas pajak mulai hari ini harus direkam. Nama, foto, dll simpan juga. Biar kalau masih ngotot juga, tinggal kita viralkan!