Category Archives: Pikiran Pringadi

Hari #4, Ayah Andrea Hirata

Barangkali aku tak salah jika berpikir karya puncak Andrea Hirata ada pada Edensor. Setelah itu, Andrea mengalami masalah yang cukup serius. Napas menulis Andrea menjadi sangat pendek. Itu juga berakibat pada kecenderungannya untuk bertindak hanya sebagai penutur.

Menulis adalah seni yang soliter. Seorang penulis bertindak sendirian. Ia sebagai komposer sekaligus pemain musiknya. Ia sebagai penata panggung dan performernya. Ia sebagai penulis cerita dan penutur ceritanya. Artinya ada hal penting lain selain bercerita, yang dibutuhkan di dalam cerita. Banyak yang menyebutnya sebagai sebuah “show”. Show di dalam fiksi berarti menciptakan adegan. Adegan adalah suatu aksi yang berhubungan dan berkelanjutan bersama-sama dengan deskripsi dan latar belakang cerita.

Menilik Ayah, pada 5 halaman pertama aku langsung jatuh tertidur panjang. Kira-kira dua jam. Lalu bangun, makan, dan melanjutkan pembacaan sampai halaman 300. Keesokan harinya aku kembali membaca sampai selesai. Dan Andrea Hirata tetaplah Andrea Hirata. Ia seorang penulis yang tetap harus dibaca dan dinantikan perkembangannya.

Aku menyebut Andrea Hirata sebagai penulis hiperbolis, ketimbang metaforis. Ia banyak menggunakan majas hiperbola sebagai bagian dari olok-oloknya pada kehidupan. Ia juga banyak menggunakan satir-satir yang menohok dan ekspresi lain mengenai keluguan, kebodohan yang menyimpan kearifan dari para tokohnya.

Dalam Ayah, salah satu hal yang disinggungnya adalah soal pendidikan dan pemberian nilai di sekolah. Tokoh ceritanya mendapat nilai 2, 3, 4, 5. Angka merah bertaburan di rapor mereka. Itu nyata. Dulu, sekolah-sekolah selalu jujur memberikan nilai rapor kepada muridnya. Aku pun pernah mendapatkan nilai 4 di rapor beberapa kali.

Kemudian terjadilah nilai ujian nasional untuk syarat kelulusan. Kata pemerintah waktu itu, sebuah bangsa yang berpendidikan tercermin dari nilai-nilai mata pelajarannya yang tinggi. Akibatnya, bukan pendidikan yang dibenahi, melainkan kunci-kunci jawaban bertebaran, dan bahkan dicurigai diotaki oleh sekolah itu sendiri.

Di sisi lain, aku baru baca tulisan Prof. Rhenald Kasali, di luar negeri, nilai-nilai itu mudah diberikan karena pendidikan di sana bersifar encouragement. Anaknya yang baru pindah ke luar negeri, disuruh bikin tulisan, diberi nilai A padahal bahasa Inggrisnya buruk. Sang guru mengatakan pemakluman dan sebuah nilai tidak diberikan saklek untuk menghambat kemajuan si anak. Sebuah nilai ada untuk menyemengati si anak untuk bisa.

Andrea menempatkan posisi guru dan murid yang serba lugu dan bodoh dalam sistem pendidikan itu dengan begitu cerdas. Cobalah tengok ketika sang guru bertanya, “100 itu berapa persen dari 400?” Teman Sabari diam tak berkutik. Sabari ingin memberi tahu jawabannya adalah 45%. Tapi keburu sang guru berkata yang benar itu 15%. Kesemua jawaban itu salah.

Pola-pola adegan seperti itu banyak dilakukan Andrea Hirata sebagai bentuk sindiriannya pada kenyataan.

Selain itu, tak ada yang baru kecuali dua hal mungkin. Andrea kini mengenal Gabriel Garcia Marquez setelah sebelumnya mengaku tak pernah membaca karya sastra selain dua buku saja. Dan coba-cobanya menggunakan teknik foreshadow pada tokoh Amiru yang tak lain tak bukan ialah Zorro.

Selebihnya, napas pendek Andrea Hirata yang disiasati dengan bab berfragmen belum dapat membuatku menyebut novel ini istimewa. Edensor masih jauh lebih baik. Aku bilang karakter-karakter yang dituturkan itu tak begitu hidup seperti halnya kenanganku pada Arai dan Lintang.

Pengulangan-pengulangan deskripsi seperti blue moment, batu besar dari zaman Jura juga menjadi titik lemah novel ini. Pun kehiperbolisannya yang terlalu hiperbola (apa pula itu).

Akhirnya, aku bertanya-tanya, apakah sebuah karya dengan nilai tradisionalitas/lokalitas selalu dinilai tinggi oleh para penggiat sastra? Apakah Andrea Hirata dan Benny Arnas itu bersaudara? Sebab sepanjang membaca novel ini, entah kenapa, aku jadi teringat pengarang dari Lubuk Linggau itu.

Hari #2, UFO

Surat Lia Eden ke Presiden tentang izin pendaratan UFO yang dikendalikan Malaikat Jibril itu mengingatkanku pada penampakan-penampakan UFO yang pernah kulihat.

UFO selalu diidentikkan dengan alien, dengan makhluk luar angkasa. Padahal UFO adalah unidentified flying object, benda terbang yang tak dapat diidentifikasi. Artinya, belum tentu dia alien. Bisa jadi dia pesawat canggih buatan manusia yang tidak diketahui, seperti halnya pesawat raksasa markasnya The Avenger itu toh.

Aku tidak akan membahas UFO itu apa, alien itu apa, hanya saja, ketika pertama aku melihat UFO itu, aku merasa aku adalah manusia spesial. Tidak semua orang pernah melihat UFO. Tidak semua orang diperlihatkan UFO.

Aku punya kebiasaan itu sejak kecil. Aku suka melihat langit. Seringkali aku berbaring di hijaunya rumput Jepang di halaman rumahku atau duduk di ayunan sambil menengadah ke langit. Aku akan melihat birunya langit dan awan-awan putih yang menggumpal di sana. Dari itu, aku akan membayangkan awan-awan itu membentuk sesuatu, kadangkala sesuatu yang kuinginkan ada, maka awan itu akan menjadi apa saja yang kuinginkan itu. Bila malam tiba pun, aku akan senang sekali melihat langit dan menyaksikan bintang jatuh. Saat itu, aku belum berpikir mengenai UFO karena aku belum tahu.

Kejadian pertama adalah ketika aku pulang dari Sastra Reboan. Di taksi kami berlima, aku duduk di samping sopir. Di perjalanan Norman dan teman-teman asik mengobrol, aku asuk melihat bulan di langit. Tak jauh dari bulan itu ada pancaran cahaya. Kukira dia bintang. Tapi kemudian cahayanya semakin besar, memejar, dan ia bergerak sebelum menghilang beberapa detik setelahnya. Aku berteriak. “Hei, kalian lihat itu?” tanyaku pada teman-teman. Mereka heran dengan yang kutanyakan. Sang sopir di sebelahku menjawab, “Saya lihat, Mas.”

Ya, itu UFO. Hal seperti itu beberapa kali kulihat kembali dalam waktu yang berbeda.

Beberapa waktu lalu juga aku membaca sebuah artikel mengenai fenomena hantu yang coba dijelaskan oleh peneliti. Beberapa orang yang skeptis diminta jadi volunteer di tempat-tempat yang dianggap menyeramkan. Awalnya mereka tidak merasakan apa-apa. Ketika para peneliti menambahkan suara berfrekuensi rendah, barulah mereka dapat melihat sesuatu. Dari situ disimpulkan bahwa, frekuensi suara yang rendah dapat mengakibatkan seseorang melihat sesuatu. Ada bagian-bagian otak yang bekerja di sana.

Aku jadi berpikir, segala yang kita lihat, segala yang kita indrai ini sebenarnya hanyalah kerja otak. Kalau otak kita rusak, kita tidak dapat merasakan panas itu panas. Aku bertanya-tenya apakah segala yang kita lihat itu sebenarnya ada. Kita melihat warna laut itu biru karena mata kita melihatnya biru, karena sensor, syaraf dan kerja otak yang melihatnya sebagai warna biru. Apakah laut benar-benar biru?

Dalam konteks yang lebih luas, apakah dunia ini benar-benar ada? Apakah kita ini benar-benar ada? Ataukah kita hanya satu bagian otak, satu kerja sistem, sebuah kesadaran dan realitas yang ada saat ini hanyalah buah kesadaran itu?

Aku tidak tahu, apakah UFO yang kemudian membuatku berpikir bukan tentang apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta ini, melainkan apakah kita benar-benar ada atau hanyalah sebuah proyeksi dari kesadaran yang dibuat oleh sesuatu?

Entahlah.

Hari #1: Peran

Seorang teman, penulis, menulis sebuah status di Facebooknya, “Adakah satu penulis saja yang kamu percaya sehingga apapun yang ia tulis kamu akan langsung membelinya?”

Jawabanku selalu tidak.

Alasannya sederhana. Seperti halnya iman yang naik turun, semangat yang naik turun, kualitas sebuah tulisan pun naik turun. Terlepas dari sudah beresnya urusan kebahasaa seorang penulis, keistimewaan sebuah gagasan yang ditemukan penulis selalu berbeda. Pringadi Abdi di Dongeng Afrizal tentu berbeda dengan Pringadi Abdi di Simbiosa Alina, apalagi di 4 Musim Cinta. Mereka bukan Pringadi Abdi yang sama. Termasuk Pringadi Abdi yang sedang menulis blog ini sekarang adalah sosok yang sama sekali berbeda. Perbedaan sepersekian detik saja sudah akan menghasilkan sosok yang baru. Sosok yang berbeda.

Tiba-tiba, tentang perbedaan itu, aku mengingat seorang teman. Dia bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Sementara aku bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Kantornya bernama KPP. Sementara kantorku bernama KPPN. Yang menarik darinya adalah dia selalu menganggapku benci dengan Ditjen Pajak. Dia merasa aku iri dengan penghasilan yang diterimanya. Tentu saja itu tidak benar.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu menganggap Perpajakan adalah keluarga dari Treasury. Treasury juga bahkan memiliki peranan penting dalam penerimaan negara. Salah satunya adalah memastikan tiap satu rupiah pun masuk ke rekening kas negara. Karena itulah Ditjen Perbendaharaan membuat MPN (Modul Penerimaan Negara) yang kini sudah MPN G2. Tentu temanku itu tak begitu paham tentang MPN G2.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu tentu mengharapkan target penerimaan pajak tercapai. Pringadi Abdi memikirkan negara dapat mampu memenuhi belanjanya. Itu jelas dan tidak terkompromikan.

Tapi Pringadi Abdi juga adalah rakyat. Rakyat membayar pajak. Bukan hanya dari pekerjaannya sebagai PNS, tapi Pringadi Abdi sebagai penulis juga. Sebagai rakyat dan penulis itu, Pringadi Abdi merasa Ditjen Pajak bekerja tak maksimal. Misalnya, belum ada sosialisasi mengenai pajak royalti ke para penulis, atau masih adanya praktik korupsi di instansi tersebut dan itu menimbulkan ketidakpercayaan atas performa Ditjen Pajak.

Ya, aku pikir hal-hal seperti itu wajar.

Soal peran ini juga, aku jadi teringat tentang rokok. Seperti yang kalian tahu, aku tak merokok dan tak suka berada di dekat perokok. Tapi aku harus berinteraksi dengan banyak perokok. Yang jelas, bila ada orang ke rumahku atau ke kosku, dengan tegas akan kukatakan tidak boleh merokok. Tapi kalau aku yang pergi ke rumahnya dan melarang dia merokok kan aku yang keterlaluan. Itu sudah resiko dan peran kita sebagai manusia yang menerima diperlukan. Begitu pun kalau ke kafe, nongkrong, duduk di tempat yang diperbolehkan merokok, ya aku nggak akan melarang dia merokok. Kita cukup sama-sama tahu, dia butuh merokok, dan aku tak suka rokok. Cukup kita atur tempat duduknya agar asap rokok tak mengarah ke aku.

4 Musim Cinta

 

 

Ketika Timor Timur di ambang disintegrasi, kerusahan pecah. Banyak kantor pemerintahan tutup. Semua pegawai negeri pusat pulang ke daerahnya masing-masing. Namun, satu kantor harus bertahan. Kantor itu dikenal dengan nama Kantor Kas Negara. Sampai seorang pegawainya yang memberanikan diri dan harus datang ke kantor dicegat oleh Fretilin, ditanyai, ditodong senjata, hendak kemana dan siapa. Ia menjawab ia pegawai Kantor Kas Negara. Seketika itu juga ia dilepaskan. Kantor Kas Negara adalah kantor terakhir yang bertahan dan menjadi identitas negara saat itu.

Begitu pun ketika terjadi tsunami di Aceh. Kantor yang pertama kali harus dipulihkan adalah KPPN Khusus Aceh. Kantor Kas Negara (sekarang bernama KPPN) adalah jantung sekaligus darahnya negara. Keberadaannya adalah keniscayaan. Ia hadir bukan karena ada potensi pendapatan yang besar di daerah itu, melainkan karena ia harus hadir untuk menghidupi perekonomian dengan salah satunya mencairkan dana APBN.

Sekelumit cerita itu menjadi pendahuluan atas betapa setiap kita adalah penting. Kenek yang menagih uang angkutan penting, sopir yang mengemudi angkutan juga penting, tak kalah pentingnya pihak yang membeli angkutan tersebut.

Empat orang pegawai Perbendaharaan yang memiliki pengalaman di Manado, Ruteng, Kendari dan Sumbawa pun ingin berkata, harapan sekecil apapun adalah penting. Bahkan para setan pun suka bersemayam dalam hal yang kecil dan detil. Jika dilupakan, hal kecil itu bisa merusak hidup.

Itulah yang kemudian mendasari sebuah novel ini. 4 Musim Cinta mengejewantahkan harapan dan keyakinan, serta realitas yang harus mereka hadapi. Mulai dari idealisme hingga hubungan persahabatan dan percintaan menjadi riskan dalam situasi-situasi yang rumit.

Di dalam novel ini pun sebenarnya, jika ditelaah lebih lanjut, banyak gugatan atas kebijakan pemerintah. Mulai dari penyerapan anggaran yang tidak proporsional, quality of spending, sampai ke pemberian tunjangan ke instansi perpajakan yang banyak dipertanyakan oleh bahkan sesama pegawai Kementerian Keuangan.

“Kita kurang alasan apa lagi? Pajak buat kebijakan. Sedangkan yang mengadministrasikan setiap rupiah pajak yang masuk ke kas negara, siapa? Kita. Yang membuat laporan penerimaan setiap harinya siapa? Kita. Yang dimintai laporan penerimaan pajak oleh Pak Menteri siapa? Kita. Pajak menyumbang sekian persen dari sisi pendapatan negara. Selebihnya kita.”

Mata Sera tampak berapi-api. Tidak ada senyum di wajahnya yang membuat ia terlihat ramah. Aku mengikik pelan mendengar betapa gigih Sera mengungkapkan pendapatnya. Dan ternyata Sera belum selesai dengan kalimatnya. “Yang mengurusi pencairan 1800 T APBN kita siapa? Kita. Yang buat LKPP siapa? Kita.”

Sera mengempaskan pensil yang sedari tadi ia mainkan di antara jemarinya, ke atas meja lalu ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya bersungut-sungut. Aku melirik Carlo yang masih bingung memilih dan memilah berkas yang akan diberikan padaku. Ia tampak tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi dengan ketiga orang itu.

Setelah memperlihatkan sikap bertahan seperti itu, kedua laki-laki yang ada di samping Sera tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama. Barangkali, baru kali ini mereka mengetahui kenyataan seperti ini. Agung, laki-laki kurus berkacamata itu, sempat melihat Sera dengan wajah yang terlihat berpikir. Bisa jadi ia sedang mencari-cari pembelaan atas pendapatnya yang bertentangan dengan kata-kata Sera. Sementara Somad, laki-laki bongsor berpotongan rambut ala tentara, duduk tegak menghadap ke depan. Ia melihatku lama.

“Apa mungkin kita hanya melihat dari luarnya saja. Maksudku, kita boleh saja merasa bahwa kita telah bekerja keras, tapi siapa yang tahu seberapa keras ‘saudara’ kita bekerja sehingga dihargai sedemikian tinggi?” Somad mengangkat bahu. Agung mengangguk setuju.

“Ya. Mereka memang bekerja keras. Keras sekali.” Sera menjawab sinis.

“Jangankan di tingkat kementerian. Bahkan antara kamu dan Agung, bisa jadi ada ketidakadilan jumlah penghasilan. Kalau saya tanya, siapa yang lebih berdedikasi terhadap instansi, apa kalian bisa jawab?”

Carlo nimbrung dalam percakapan mereka. Kali ini aku tersenyum terang-terangan. Kali ini Carlo menjawab dengan tepat. Setidaknya jawaban retoris macam itu diperlukan untuk meredakan gejolak pemberontakan yang bisa saja muncul di dada tiga orang itu.

“Kita ini pelayan masyarakat. Lebih tinggi lagi, kita ini bekerja untuk yang di atas. Nabung pahala istilahnya. Pada akhirnya, apa yang kita dapat pasti sesuai dengan apa yang kita berikan. Seberapa banyak yang kita berikan? Hati kita sendiri yang tahu jawabannya.”

Rasanya ingin tertawa mendengar lanjutan pernyataan Carlo. Apa dia lupa pada larangan cuti yang ditujukan kepadaku waktu itu. Lalu sekarang dia berbicara tentang pahala? Sangat bertentangan dengan sikapnya sehari-hari.

“Tapi, Pak…” Sera tampak tidak terima.

“Sssttt… Perdebatan macam ini tidak akan memberi dampak apa-apa. Semakin kalian menyesali kondisi tempat kalian berada, semakin kalian merasakan sakit hati. Benar, nggak, Gayatri?” Dari mejanya, Carlo melihatku tajam. Aku mengangguk wagu, tak tahu harus menjawab apa.

Sayang, karena pertimbangan editor, dialog tersebut di atas dihapus di dalam cerita ini. Katanya terlalu teknis.

Pada akhirnya, semoga saja jika ke toko buku, dan melihat bibir merah merekah di sampulnya, teman-teman segera mengambil dan membawanya ke kasir. Atau bisa pesan langsung dengan mengirimkan nama dan alamat ke 085239949448 atau via SMS/WA. Semoga.

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

Paperback, 332 pages

Published March 13th 2015 by Exchange

original title 4 Musim Cinta

ISBN13 9786027202429

edition language Indonesian

url http://kaurama.com/exchange/

harga Rp59.500,-

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan

Insurgent dan Dunia Kecil Kita

 

 

Pemberontakan Tris berlanjut. Bakda penyerangan terhadap Abnegation, atas perintah dan rekayasa Jeanine, Tris dan Four harus terus melarikan diri, mencari faksi Dauntless yang lain, untuk melakukan pembalasan terhadap Jeanine.

Jeanine sendiri mencari kotak pesan sang pendiri, yang ditemukan di rumah keluarga Tris. Kotak pesan itu hanya bisa dibuka oleh seorang Divergent. Jeanine memulai pemburuan terhadap para Divergent. Ternyata, tidak setiap Divergent itu sama. Butuh seorang Divergent yang spesial yang dapat membuka kotak itu.

Seperti di film pertama, Divergent, dunia dibagi menjadi beberapa faksi: Dauntless, Erudite, Abnegation, Condor dan Amity. Mereka percaya faksi tersebut ada untuk menjaga kedamaian. Mereka juga percaya merekalah kaum manusia yang tersisa. Mereka berada dalam sebuah wilayah di dalam dinding. Dunia di luar dinding adalah dunia yang dipercayai penuh dengan ancaman bagi kemanusiaan.

Pola cerita seperti juga dapat ditemui di film The Maze Runner. Sekelompok pemuda terkurung di dalam suatu tempat. Pada waktu tertentu, pintu akan terbuka dan terhampar labirin mengelilingi tempat itu disertai monster. Bedanya, mereka percaya bahwa di balik labirin itu ada jalan keluar.

Jalan keluar itu menjadi solusi di Insurgent. Kotak pesan para pendiri yang ingin dibuka Jeanine tidak menyingkap fakta mengencai ancaman para Divergent, malah justru sebaliknya. Pendiri kota mengatakan bahwa keberadaan faksi adalah sebuah eksperimen untuk melahirkan Divergent, yang dapat melampaui semua faksi yang ada. Karakter Divergent dianggap dapat menyelematkan umat manusia, sebuah harapan baru bagi kemanusiaan. Divergent 100% itu ada para diri Tris.

Sementara di The Maze Runner, jalan keluar, menyingkap fakta lain. Dunia di luar labirin adalah dunia yang kacau. Mereka menjadi eksperimen di dalam tempat tersebut juga untuk mencari solusi kemanusiaan.

Di Insurgent, fakta yang sama juga disiratkan ketika di akhir cerita, Jeanine berkata, “Apa yang  kita ketahui tentang dunia di luar tembok sementara sudah 200 tahun berlalu sejak sistem ini didirikan?”

Di situ aku pun bertanya-tanya, tentang keberadaan manusia. Kita beribu tahun percaya, kita adalah manusia satu-satunya di alam semesta. Kita hidup di suatu tempat bernama bumi, dilingkupi atmosfer yang memisahkan kita dengan luar angkasa. Ada keinginan untuk menembus langit dan sampai kini, misi demi misi baru mengantarkan manusia bermimpi ke Mars. Sementara ada banyak galaksi lain di alam semesta.

Jangan-jangan kita ini seperti Divergent. Ditempatkan di suatu tempat, sengaja dibagi beberapa faksi, terisolasi dan dibuat percaya kitalah manusia satusatunya di alam semesta, tahutahu hanya sebagai sebuah eksperimen untuk kemudian melahirkan manusia yang mampu melampaui faksi yang dibikin di awal itu.

Menurut kamu?

Tuhan

Aku tidak tahu apakah cerita ini dapat menjawab keberadaan Tuhan atau tidak.

Pernah aku mencoba untuk ngeteng pulang dari Lombok ke Sumbawa. Biasanya, aku selalu naik travel. Hanya tinggal duduk manis di kursi, kemudian travel akan mengantarkan aku sampai tepat di depan gerbang kantor. Aku ingin merasakan pengalaman baru. Naik angkutan sendiri, naik kapal laut sendiri. Aku pikir itu lebih mengasikkan.

Dari Lombok Timur, sebelumnya aku sempat singgah di Pancor dulu, aku diantar oleh temanku sampai pelabuhan. Aku membayar kapal sesuai tarif dan tidak menunggu lama, ada kapal yang sudah hendak berangkat. Petugas pelabuhan mengantarkan aku sampai ke tepian dengan buru-buru karena jangkar sudah diangkat, kapal sudah mulai bergerak. Aku melompat dari tepian ke kapan yang baru berjarak kurang 1 meter dari tempat berlabuh. Tentu, melompat hanya beberapa puluh centimeter anak kecil pun bisa.

Aku pikir aku akan baik-baik saja. Aku mencari bis-bis yang menuju ke Sumbawa. Tapi semuanya penuh. Bis ke Bima pun penuh. Aku pun menyerah dan mencari mobil travel, penuh juga. Yang ada bis-bis ke Taliwang. Tentu ke Sumbawa Barat berbeda dengan ke Sumbawa Besar.

Aku mengarungi selat Alas itu selama dua jam tanpa kepastian. Sang sopir bis bilang, biasanya di pelabuhan Poto Tano akan ada bis. Sesampainya di Poto Tano, sudah tidak ada bis. Aku menunggu kapal-kapal berlabuh, menunggu mobil-mobil turun, tetapi tak ada angkutan ke Sumbawa Besar. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih. Penjaga warung bilangnya bis ke Sumbawa akan ada nanti malam sekitar jam 9. Itu satu-satunya.

Masih ada jarak sekitar 100 km dari Tano ke Sumbawa Besar. Dan aku benci malam.

Penjaga warung menyarankan aku ke Alas. Naik ojek. Katanya di sana ada bis sore. Aku pun segera naik ojek dari pelabuhan. Membayar 20.000 untuk belasan kilometer tidak rugi kupikir. Di jalan aku bergumam di dalam hati, “JIKA TUHAN ADA, BAGAIMANA PUN CARANYA, AKU AKAN SAMPAI KE SUMBAWA BESAR.”

Tuhan nyaris tidak ada ketika sesampainya di Alas, dikatakan bahwa bis terakhir sudah berangkat setengah jam yang lalu. Aku berusaha tidak panik dan tetap tenang. Tukang ojek yang mengantarku tidak memberi solusi apa-apa. Dia pamit dengan segera.

Dalam keadaan bingsal, bingung dan kesal, seseorang menyapaku. “Maaf Mas, mau ke Sumbawa?”

Aku masih dalam keadaan waspada dan berkata, “Iya…”

Dia kemudian bilang, “Ikut kami saja. Tapi sebentar, mobilnya sedang diperbaiki.” Dia menunjuk sebuah mobil angkutan tua berwarna kuning tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengenali itu sebagai angkutan dalam kota Sumbawa. Beberapa orang sedang berada di bawah mesin, mengutak-atik sesuatu.

“Ini tadi dapat carteran ke rumah sakit. Pulangnya kosong. Tapi ngadat. Kalau mau ikut, tunggu sebentar ya.”

Aku mengangguk mengiyakan. Lima belas menitan aku menunggu. Mobil itu akhirnya selesai dibenahi. Klaharnya pecah. Ya mobil itu masih semi rusak. Meski bisa berjalan, dengan bunyi klotak-klotak, ia hanya bisa berjalan pelan. Aku pun dengan sabar menikmati pemandangan malam tepi laut sepanjang jalan. Dan menatap bulan yang bersinar terang. Sekitar lima jam baru aku sampai di Sumbawa.

Hari itu aku meyakini, Tuhan benar-benar ada.