Category Archives: Pikiran Pringadi

Belajar dari Bakuman

Tiba-tiba aku teringat manakala aku mengkritik sebuah cerpen di Kompas beberapa waktu lalu. Cerpen itu sangat buruk. Bahkan dari segi kualitas bahasa, cerpen itu tak layak dibaca.

Pada itu, aku juga menyebut-nyebut One Piece sebagai karya monumental. Seorang pembela cerpen tersebut mengatakan betapa bodoh bila kita membandingkan karya sastra dengan komik. Aku tertawa geli mendengarnya, itu pasti karena dia belum pernah baca Bakuman!

Bakuman bercerita tentang dua orang remaja yang bercita-cita menjadi manga artists. Mereka adalah Takagi dan Mashiro. Takagi sendiri adalah siswa terpintar di sekolahnya. Ia juga meraih penghargaan di bidang literature tingkat perfektur dan digadang-gadang akan menjadi penulis besar. Meski tidak bisa menggambar, Takagi tak mengubah niatnya. Karena itulah ia mengajak Mashiro yang sering ia perhatikan tengah menggambar Azuki Miho secara diam-diam.

Mashiro adalah keponakan seorang mangaka bernama Kawaguchi Taro. Pamannya itu meninggal setelah bekerja keras agar karyanya dapat diserialisasi kembali. Mashiro mengira pamannya itu bunuh diri setelah lama karyanya tidak lagi diterbitkan. Karena itu Mashiro tidak mau lagi berniat menjadi manga artist.

Tetapi Takagi terus-menerus membujuknya. Ia tahu Mashiro menyukai Azuki Miho dan begitu pun sebaliknya. Ia pun mendapatkan informasi bahwa Miho bercita-cita ingin menjadi pengisi suara. Dengan info itu ia menyeret Mashiro ke depan rumah Azuki Miho dan mendeklarasikan mimpinya.

Terbakar cinta, Mashiro dengan spontan mengatakan ia juga akan menjadi manga artist dan suatu hari manga karyanya akan diadaptasi menjadi anime. Bila itu terjadi, ia minta Miho menjadi pengisi suaranya dan saat itu ia akan menikahinya.

Janji itu terpatri di dalam diri mereka. Ashirogi Motou. Azuki-Mashiro-Takagi pun menapakkan langkah secara serius mengejar mimpi mereka.

Hal yang menarik pertama adalah salah anggapan komik hanyalah gambar. Komik adalah seni, karya sastra, dan pengerjaannya dilakukan begitu serius dengan membuat name, story board, manuscript, dengan observasi yang begitu ketat. Segala aspek dipertimbangkan, diperhitungkan. Takagi dengan serius meriset banyak hal untuk cerita yang dia buat.

Hal yang menarik kedua adalah betapa untuk menuju cita-cita itu butuh kerja keras. Meskipun kamu memiliki bakat, jenius, jika kamu tak serius untuk meraihnya, kamu akan gagal.

Dan yang ketiga, percayalah pada cinta. Cinta akan selalu menemukan jalan bagi pelakunya. Mengerjakan segala sesuatu dengan cinta, karena cinta, dan untuk cinta adalah hal yang paling bahagia di dunia ini.

Belajar dari Big Hero 6

Ada pelajaran penting dari film Big Hero 6. Bukan karena aku menonton itu bersama Zane, satu kali pergi ke WC, dan berhasil tertawa terbahak-bahak karena humor di dalamnya. Tetapi ketika Tadashi berhasil menggoda Hiro Hamada untuk pergi kuliah bersamanya.

“Apa yang harus kulakukan agar bisa diterima di universitas kutu buku?” tanya Hiro Hamada.

Dengan tersenyum, Tadashi bilang Hiro hanya perlu menunjukkan karyanya di pameran robotik universitas tersebut.

Manusia dihargai dari karyanya. Aku melihat Indonesia belum menghargai karya-karya anak bangsanya. Pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada angka. Anak yang pintar yang ulangannya dapat 10, kelulusan dinilai dari ujian, kualifikasi lamaran kerja menyaratkan IPK, dan semacamnya. Alhasil, produk pendidikan itu adalah manusia dengan profil nilai, bukan profil karya.

Kabar baik baru-baru ini, setiap mahasiswa harus menulis jurnal ilmiah sebelum meraih gelar sarjananya. Hal seperti itu harusnya dimulai sejak dini. Setiap seleksi apapun, haruslah menyertakan assignment, tugas, yang merepresentasikan dirinya.

Mau masuk kuliah di jurusan Matematika, ada syarat bikin esai tentang Matematika di dalam hidup. Mau assessment eselon 3 di suatu instansi, juga harus menulis pandangannya tentang instansi dari sudut pandang eselon 3. Dengan cara itu, manusia-manusia Indonesia dituntut berpikir kritis, dan mempunyai cakrawala terhadap bidang yang akan digelutinya.

Nah, sudahkah kamu berkarya, menuliskan pandangan-pandanganmu sesuai bidangmu saat ini?

Fairy Tail dan Omong Kosong Power Up


Aku tidak tahu apakah ada orang lain di dunia yang juga membayangkan dirinya tiba-tiba dapat power up secara tiba-tiba. Aku sering membayangkan hal demikian. Tiba-tiba aku mendapatkan kekuatan mahadahsyat. Aku bisa terbang, aku bisa mengeluarkan bola energi dari tangan, aku bisa memegang pedang dan satu kali tebasan pedangku memiliki kekuatan penghancur seperti Roronoa Zoro. Aku pun berandai-andai menggunakan kekuatan itu untuk pergi ke Palestina dan sendiri aku menghadang pasukan Israel, menghadang tank-tank, menebas pesawat-pesawat tempur dengan begitu heroiknya.

Sampai juga perandaian itu terbawa-bawa ke dalam mimpi.

Semalam aku baru memimpikan hal itu. Aku punya kekuatan seperti Son Go Ku, tapi anehnya aku lupa cara mengeluarkan kamehameha. Padahal musuh di depan mata. Alhasil aku dihajar habis-habisan. Ketika sadar, aku terbangun dan jam menunjukkan pukul 06.30. Ada 2 panggilan tak terjawab dari Bapak. Aku sadar aku belum shalat Subuh.

Hidup tentu tidak seomong kosong komik-komik seperti Fairy Tail, yang tokoh-tokohnya bisa mendadak hebat, meningkatkan kekuatan untuk mengalahkan musuh bahkan dalam satu serangan mutlak.

Kebanyakan komik memang menyaratkan itu. Dihajar berkali-kali, sang tokoh baik tidak juga kalah, namun dalam satu pukulan balasan, musuh yang harusnya begitu kuat langsung KO seketika. Sebagai pembaca serius, aku tak menyukai hal seperti itu. Aku menyukai komik-komik yang sedikit realistis.

Sebab ada satu hal yang membedakan fiksi dari kenyataan, yakni fiksi harus masuk akal.

Karena itulah aku menyukai Hanamichi Sakuragi dalam komik Slam Dunk. Selain dia pernah dipecundangi Sendoh, kalah dari Kainan Daifozoku, Sakuragi kemudian membawa kemenangan tak terduga melawan juara bertahan Sannoh Kogyo dengan sebelumnya melakukan latihan yang amat keras. Bukan hanya itu, kemenangan itu diraih dengan pengorbanan. Sakuragi cedera parah. Sohoku habis-habisan dan tersingkir di pertandingan berikutnya.

Cerita seperti itu sangat manusiawi dan tidak mungkin kulupakan seumur hidupku.

Kata kuncinya adalah usaha dan kerja keras. Tidak mungkin dalam hidup ini kita meraih hal yang instan. Aku meyakini itu dan percaya, aku tak boleh takut gagal. Aku harus menghabiskan satu per satu stok gagal selagi muda biar nanti kutuai hasil keberhasilannya.

Kamu, apakah kamu takut gagal?

Sikap dan Perubahan Sikap

Aku menyadari betul bahwa sikap penting bagi seseorang. Sikap itulah yang akan menentukan identitas. Seperti homofictus, kemoderatan pada dasarnya tidak bisa ditoleransi. Kemoderatan bisa berarti abu-abu, ketidakteguhan dalam mengambil sikap. Homofictus yang moderat tidak akan menghasilkan konflik cerita yang kuat. Manusia yang moderat pada akhirnya akan menjadi politikus banci.

Manusia adalah makhluk politik. Setiap langkahnya bisa jadi merupakan langkah politik.

Terkait dengan berita hari ini, Presiden Jokowi baru saja menaikkan harga BBM, beberapa sikap pun lahir. Ada yang dengan tegas menolak, konsisten menolak kenaikan harga BBM, dan ada yang tegas menerima keputusan tersebut. Ada pula yang pernah menolak kenaikan BBM, sekarang justru menerima keputusan itu. Juga ada yang pernah menerima kenaikan BBM, sekarang malah menolaknya. Sikap dan perubahan sikap adalah sisi natural dalam diri manusia. Namun, perlu ditelaah lebih jauh mengenai motif dari perubahan terbesar itu.

Aku sendiri juga mengalami perubahan sikap atas isu besar itu.

Baru ketika kuliah di STAN, aku mulai peduli pada topik ini. Demo kenaikan harga BBM pada saat itu aku ledek karena kondisi minyak dunia yang sedang mengalami kenaikan, bulb effect minyak hitam, terang saja membebani APBN. Kenaikan harga adalah keniscayaan.

Tetapi sikapku justru berubah beberapa tahun kemudian karena pengetahuan baru. Aku menolak kenaikan harga BBM. Bahkan aku sempat bersitegang dengan kepala kantorku karena aku mengejek pemasangan spanduk KPPN mendukung kenaikan harga BBM sebagai upaya penjilatan dan pencitraan. Aku tak sudi KPPN dijadikan alat oleh pemerintah untuk hal-hal seperti itu. Apalagi dasarnya adalah surat edaran. Surat edaran tentu tidak punya kekuatan hukum. Surat edaran hanya berisi imbauan. Aku menampik itu.

Pada saat itu aku mulai mengikuti topik-topik mengenai migas lebih dalam. Ucapan-ucapan Kwik Kian Gie, Kurtubi di televisi menjadi bahan yang baik untuk dipelajari. Jangan sebut Ichsanuddin Noor. Bagiku dia omong kosong. Pengetahuannya buruk dan out of date.

Pertanyaannya saat itu adalah apa sebenarnya subsidi itu? Apa yang sebenarnya disubsidi itu?

Ya, pengelolaan migas tak pernah jujur, termasuk dalam penentuan harga. Produksi minyak dalam negeri sebesar A dengan harga produksi X kemudian harus melalui mekanisme trading di Petral untuk kemudian dibeli dengan harga Y oleh Pertamina. Pemerintah kemudian memberi subsidi atas Y menjadi harga Z. Bukan hanya itu saja masalahnya, bensin yang masuk ke Indonesia adalah ron 88, kualitas paling rendah yang tidak beredar di Eropa. Ron 88 ini dibeli dengan harga Y (harga untuk ron 93 yang kualitasnya baik). Terlihat sekali, ada permainan besar migas di republik ini.

Mekanisme trading ini ditengarai sebagai momoknya. Kita sebenarnya bisa membeli langsung minyak dengan harga X. Pertamina boleh menetapkan harga X lebih dari harga produksi murni (dengan memasukkan biaya pengembangan, dll). Atau pernah ketika Ahmadinejad datang ke Indonesia dan menawarkan minyak dengan harga lebih murah, tetapi tak ditanggapi. Dan itu sekarang diinisiasi oleh Jokowi dengan melakukan kerja sama dengan Angola. Peran Petral memang mau tidak mau harus dilenyapkan segera!

Masuk kembali ke dunia kuliah, aku melihat negara dari sisi manajemen keuangan publik. Keadaan di 2014 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi pertanyaannya bukan lagi kenapa kita harus menaikkan harga BBM, tetapi kenapa kita harus mencabut subsidi BBM?

Pada saat ini, negara tidak punya uang. Target penerimaan pajak jauh panggang dari api. Bahkan sempat tagihan ke negara tidak bisa dibayar pada beberapa minggu yang lalu, menunggu ketersediaan dana.

Dengan sisa waktu yang ada, dengan bakal melonjaknya transaksi di November dan Desember, APBN kita akan sangat terbebani bila belanja subsidi masih ada. Bahkan bila seluruh belanja subsidi BBM dicabut pun, kita tetap mesti berutang lagi (menambah utang dari sebelumnya 54 T) untuk mendanai belanja negara yang belum terealisasi itu. Karena sudah diprediksi, penerimaan negara tak akan sanggup mengkover itu.

Pemerintah harus membuat pilihan, bukan? Itulah arti kebijakan.

Namun, bila bicara 2015 dan tahun-tahun selanjutnya. Kenaikan harga BBM ini perlu dengan syarat kita akan mengubah arah fiskal kita. Aku akan bahas ini lain kali. Karena A. Prasetyantoko sudah membahasnya dengan sangat baik di koran beberapa hari lalu, aku butuh sudut pandang yang lebih segar.

Ya, apa pun itu, kepada kalian yang merasa mampu membeli mobil, mampu membeli motor untuk penggunaan pribadi, harap malulah dan segera beli Pertamax. Subsidi BBM tidak tepat sasaran selama ini gara-gara kita lho ya.

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

 12609_10200402722500650_954620407_n

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga, serta mengilhami harapan Anda, (Andrew Carnegie).

9. Kita hanya berfikir ketika kita terbentur pada suatu masalah. (John Dewey)

10.Kesalahan orang lain terletak pada mata kita, tetapi kesalahan kita sendiri terletak di punggung kita. (Ruchert)

11.Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya. (Aristoteles)

12.Semua yang riil bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil. (Hegel)

13.Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu. (Petrus Claver)

14.Lebih baik bertempur dan kalah daripada tidak pernah bertempur sama sekali. (Arthur Hugh Clough)

15.Hidup adalah lelucon yang baru saja dimulai. (W.S. Gilbert)

16.Orang yang bisa menggunakan dan menyimpan uang adalah orang yang paling bahagia, karena ia memiliki kedua kesenangan. (Samuel Johnson)

17.Kebijaksanaan tidak pernah berbohong. (Homer)

18.Tuhan sering mengunjungi kita, tetapi kebanyakan kita sedang tidak ada di rumah. (Joseph Roux)

19.Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu
dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya. (Kenneth A. Wells)

20.Seorang pria sudah setengah jatuh cinta kepada wanita yang mau mendengarkan omongannya dengan penuh perhatian. (Brenden Francis)

21.Kebahagian hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan rendah hati. (W.M. Thancheray)

22.3×25 Watt ≠ 75 Watt
Sebuah bola lampu berukuran 75 watt kelihatan bersinar lebih terang dibandingkan dengan tiga buah bola lampu 25 Watt yang dinyalakan bersamaan.

23.Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan. (Hitopadesa)

24.Bila orang mulai dengan kepastian, dia akan berakhir dengan keraguan. Jika orang mulai dengan keraguan, dia akan berakhir dengan kepastian. (Francis Bacon)

25.Cuma sedikit orang yang menginginkan kebebasan, kebanyakan hanya menginginkan seorang tuan yang adil. (Gaius Sallatus Crispus)

26.Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kita harus saling merasakan hal itu. (Ibu Teresa)

27.Pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri Anda. Melainkan apa yang Anda lakukan dengan kejadian yang Anda alami. (Aldous Huxley)

28.Dunia adalah komedi bagi mereka yan memikirkannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya. (Harace Walpole)

29.Saya percaya kata managing berarti memegang burung dara di kepalan tangan. Kalau terlalu kencang ia akan mati. Tapi bila terlalu kendur, bisa terlepas. (Tommy Lasorda)

30 Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan. (Erich Fromm)

31.Kemajuan merupakan kata yang merdu. Tetapi perubahanlah penggeraknya dan perubahan mempunyai banyak musuh. (Robert F. Kennedy)

32.Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori)

33.Tugas dan pendidikan ialah mengusahakan agar anak tidak mempunyai anggapan keliru bahwa kebaikan sama dengan bersikap loyo dan kejahatan sama dengan bersikap giat. (Maria Montessori)

34.Kemampuan menertibkan keinginan merupakan latar belakang dari watak. (John Locke 1632-1704)

35.Kebahagian dari setiap negara lebih bergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahannya. (Thomas Chandler Haliburton 1796-1865)

36.Menyikat lantai dan mencuci pispot sama mulianya seperti menjadi presiden. (Richard M. Nixon)

37.Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali. (Don Herold)

38.Diplomat ialah orang yang selalu ingat pada ulang tahun seorang wanita tetapi tidak pernah ingat berapa umur wanita itu. (Robert Frost)

39.Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang yang paling takut pada perubahan. (Mignon McLaughlin)

40.Kalau manusia berangsur menjadi tua, umumnya ia cendrung menetang perubahan, terutama perubahan ke arah perbaikan. (John Steinbeck)

41.Selama hidup saya yang sudah 87 tahun ini, saya telah menyaksikan serentetan revolusi teknologi. Tetapi tidak satu pun diantaranya yang tidak membutuhkan watak yang baik atau kemampuan untuk berfikir. (Bernard M. Baruch)

42.Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis. (Aristoteles)

43.Pendidikan mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menciptakannya. (Voltaire)

44.Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik. (Fonttenelle)

45.Setelah makan, pendidikan merupakan kebutuhan utama rakyat. (Danton)

46.Kerendahan hati disukai orang-orang terkenal. Namun orang yang bukan apa-apa sulit untuk rendah hati. (Paul Valěry)

47.Emansipasi merupakan seni untuk berdiri di atas kaki sendiri namun dipeluk tangan orang lain. (Alex Winter)

48.Sebelum menikah saya mempunyai enam teori tentang bagaimana mendidik anak. Kini saya mempunyai enam anak dan tidak mempunyai teori. (John Wilmot, Earl of Rochester 1647-1680)

49.Kebahagiaan itu seperti batu arang, ia diperoleh sebagai produk sampingan dalam proses pembuatan sesuatu. (Aldous Huxley)

50.Dari pesawat terbang yang saya cintai, saya melihat ilmu pengetahuan yang saya puja memusnahkan kebudayaan, padahal saya mengharapkan mereka dimanfaatkan untuk kebudayaan. (Charles A. Lindbergh, Jr.)

51.Harapan adalah tiang yang menyangga dunia. (Pliny the Elder)

52.Alat penghemat kerja yang paling populer sampai saat ini masih tetap suami yang berada. (Joey Adams)

53.Seorang arkeolog merupakan suami yang terbaik yang bisa diperoleh wanita; makin tua si istri, makin besar minat suami terhadapnya. (Agatha Cristie)

54.Saya lebih suka lamunan untuk masa akan datang daripada sejarah masa lalu. (Thomas Jefferson 1743-1826)

55.Jangan memberi nasehat kalau tidak diminta. (Erasmus)

56.Manusia mudah dibohongi oleh orang yang dicintainya. (Molire)

57.Sebelum menulis, belajarlah berpikir dulu. (Boileau)

58.Orang yang berjiwa cukupan, merasa bisa menulis dengan hebat. Orang yang berjiwa besar merasa bisa menulis cukupan. (La Bruyère)

59.Kemenangan yang paling indah adalah bisa menaklukkan hati sendiri. (La Fontaine)

60.Tidak ada yang selembut dan sekeras hati. (G.C. Lichtenberg)

61.Lebih baik mengerti sedikit daripada salah mengerti. (A. France)

62.Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut. (Ernest Hemingway)

63.Penulis buku jarang intelektual. Intelektual ialah mereka yan berbicara tentang buku yang ditulis orang lain. (Françoise Sagan)

64.Orang yang mencemarkan udara dengan pabriknya dan anak ghetto yang memecahkan kaca etalase toko menunjukkan hal yang sama. Mereka tidak peduli pada orang lain. (Dhaniel Patrick Moynihan)

65.Mereka yang bermimpi di siang hari akan lebih menyadari bahaya yang luput dari penglihatan mereka yang mimpi di malam hari. (Edgar Allen Poe)

66.”Mulai” adalah kata yang penuh kekuatan. Cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah, “mulai”.Tapi juga mengherankan, pekerjaan apa yang dapat kita selesaikan kalau kita hanya memulainya. (Clifford Warren)

67.Saya tak hanya menggunakan semua kecerdasan yang dimiliki otak melainkan juga yang dapat saya pinjam. (Woodrow Wilson)

68.Yang kalah adalah wujud hukuman atas kegagalan. Pemenang adalah penghargaan atas kesuksesannya. (Bob Gilbert)

69.Bila Anda mengatakan apa yang Anda pikirkan, jangan harap hanya mendengar apa yang Anda sukai. (Malcom S. Forbes)

70.Kesulitan itu ibarat seorang bayi. Hanya bisa berkembang dengan cara merawatnya. (Douglas Jerrold)

Catatan Hati: Fiksi

12609_10200402722500650_954620407_n

Segala hal yang tak dapat kulakukan di kenyataan, dapat kurengkuh di dalam fiksi, termasuk memilikimu.

Aku tidak tahu apakah fiksi adalah sebuah tempat pelarian terbaik bagi perasaan. Segala hal yang tidak dapat dikatakan, tidak patut dan pantas diucapkan, bisa dituangkan di dalam fiksi.

Kadang-kadang aku bingung sendiri, hidupku yang nyata itu adalah seseorang yang mengetik ini atau seseorang yang sedang kuketikkan. Aku pun jadi takut sendiri bila suatu saat tiba-tiba aku terjebak di dalam fiksiku, atau itu sudah pernah terjadi.

Ya, itu pernah terjadi, dan menjadi masalah besar. Ketika aku melampaui batas antara imajinasi dan kenyataan itu, penyesalanlah yang kudapatkan.

Maka sebaiknya aku tetap berada di balik pena, memandangi layar putih yang meminta ditulisi.
Maka sebaiknya aku tetap berhati-hati, bahkan pada fiksiku sendiri.

(Kamar Gelapa, 2014)