Category Archives: Pikiran Pringadi

Angin Segar Perkembangan Keuangan Syariah di Indonesia

Islamic Finance. Sumber: International Finance Magazine

Tidak banyak orang yang tahu, pusat keuangan syariah di Barat berada di London, Inggris. Pada tahun 2014 lalu, ada 20 bank di Inggris yang menawarkan produk keuangan syariah, sementara ada 49 produk sukuk atau obligasi syariah dengan total nilai $43 miliar. Pertumbuhan Islamic Finance begitu tinggi, mencapai 50% dibandingkan perbankan konvensional. Nilai globalnya pun mencapai $1,8 triliun.

Fakta di atas sebenarnya dengan tegas menampik isu bahwa keuangan syariah hanya diafiliasikan dengan muslim. Keuangan syariah atau Islamic Finance diminati oleh berbagai negara, tak memandang agama yang dipeluk oleh nasabah.

Populasi muslim di Indonesia berjumlah lebih dari 85 persen dari total penduduk Indonesia. Ini menjadi alasan utama, sebenarnya Indonesia adalah  pasar yang menjanjikan untuk keuangan syariah seperti Perbankan Syariah, Industri Keungan Non Bank (IKNB) Syariah, termasuk pasar modal syariah. Namun, sayangnya potensi yang begitu besar itu belum dapat dimanfaatkan dengan optimal.

Nilai Aset Keuangan Syariah di Berbagai Negara. Sumber: Islamic financial stability industry

Saat ini, Indonesia berada di posisi ke-9 sebagai negara dengan aset keuangan syariah terbesar. Masih jauh di bawah Malaysia di urutan pertama dengan total aset 415,4 miliar dolar. Hal ini sebenarnya cukup menggembirakan karena keuangan syariah di Indonesia baru berkembang dalam sekitar 25 tahun terakhir. 71,6% aset keuangan syariah pun dimiliki oleh industri perbankan syariah.

Konversi Bank Pembangunan Daerah Aceh (Bank Aceh) menjadi bank syariah pada 2016 lalu memiliki dampak strategis bagi industri perbankan syariah. Pangsa pasar (market share) perbankan syariah per April 2017 mencapai 5,32%. Aksi semacam ini bisa memicu dukungan regulator dan aksi serupa bank lain. Dalam proses, Bank Daerah NTB juga tengah melakukan konversi ke perbankan syariah.

Konversi Bank Aceh yang memiliki aset sekitar Rp20 triliun itu berbeda dari pembentukan bank syariah lainnya. Sebab, konversi punya dampak ganda. Di satu sisi, ada pengurangan aset perbankan konvensional sebesar Rp20 triliun. Di sisi lain, konversi juga menambah aset perbankan syariah sebesar Rp20 triliun. Konversi ke bank syariah berbeda dengan spin off unit usaha syariah yang tak mengurangi aset perbankan konvensional dan hanya menambah aset perbankan syariah.

Pertumbuhan aset dan market share.

Aset perbankan syariah terus mengalami pertumbuhan. Ini sudah menunjukkan bahwa perbankan syariah berada dalam tren positif, dan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan syariah terus mengalami peningkatan. Tidak perlu lagi takut menggunakan perbankan syariah dan merasa bank syariah yang tergolong baru ini lebih buruk dari konvensional. Selain sama-sama sudah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan, bank syariah justru memiliki nilai tambah ketimbang bank konvensional, yakni lebih tidak berisiko. Beberapa bank syariah menghindari beberapa sektor yang berisiko tinggi terkena pembiayaan bermasalah atau non performing finance(NPF) yakni pertambangan, real estate, perantara keuangan dan kelistrikan.

Secara prinsip, keuangan syariah menginginkan keseimbangan antara nilai riil dan moneter. Nilai yang ditawarkan atau diinvestasikan adalah nilai yang riil, dan keuntungan bukanlah berasal dari bunga, tetapi lewat bagi hasil yang adil. Prinsip kedua, peruntukan usahanya harus yang memiliki nilai manfaat bagi manusia, dan harus sesuai syariah—memisahkan hal-hal yang diharamkan. Jadi, dalam keuangan syariah, tidak diperbolehkan berinvestasi di usaha seperti prostitusi, minuman keras, atau pun yang masih berbau spekulasi/ perjudian.

Pertumbuhan aset bank syariah ini juga menjadi angin segar untuk menjawab beberapa isu strategis yang melanda keuangan syariah di Indonesia. Perbankan syariah dengan serius memperkuat permodalan dan skala usaha serta memperbaiki efisiensi, juga memperbaiki struktur dana untuk memperluas segmen pembiayaan. Hal ini dapat mengatasi anggapan masyarakat bahwa bank syariah lebih mahal dari bank konvensional.

Berdasarkan indikator pertumbuhan yang dirilis oleh State of the Global Islamic Economy Report 2016, Indonesia juga berada di posisi ke-9 dengan nilai 38. Malaysia lagi-lagi berada di posisi pertama dengan nilai 189. Peringkat indikator ini dihitung dengan mengacu pada 4 kriteria, yakni keuangan, pemerintahan, kesadaran masyarakat, dan sosial.

Ada hal yang menarik terkait sentimen konsumen terkait keuangan syariah menggunakan penelitian berbasis sosial media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah interaksi di sosial media terkait keuangan syariah dengan jumlah 157.100. Hasilnya, Indonesia berada di posisi kedua setelah Malaysia dengan jumlah interaksi 37.500. Hal ini menyiratkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki keingintahuan yang besar terhadap keuangan syariah.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) thn 2016 menunjukkan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah nasional masing-masing sebesar 8,11% dan 11,06%. Jika dilihat secara sektoral, tingkat literasi dan inklusi perbankan syariah mencapai 6,63% dan 9,61%. Artinya, sebenarnya masyarakat sudah mulai menggunakan produk perbankan dan keuangan syariah, namun belum banyak yang paham mengenai produk perbankan dan keuangan syariah itu sendiri.

Tingkat kesadaran dan pemahaman seseorang akan suatu konsep keuangan ini memainkan peran penting dalam membentuk kepercayaan serta perilaku konsumen yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam membeli suatu produk. Semakin tinggi tingkat literasinya, semakin tinggi pula kecenderungan untuk memilih institusi dan produk keuangan syariah dibanding konvensional. Rendahnya tingkat literasi ini dapat mencerminkan perbedaan interpretasi terkait syariah yang akan berdampak pada kurangnyaharmonisasi dan pada akhirnya mempengaruhi kepercayaan masyarakat terkait keuangan syariah.

OJK terus bersosialisasi meningkatkan tingkat literasi masyarakat. Dokumentasi pribadi.

Hal itu memang telah menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan yang berkomitmen penuh dalam pengembangan keuangan syariah di Indonesia. Kampanye Nasional Aku Cinta Keuangan Syariah pun digalakkan dengan salah satunya, adanya program literasi keuangan syariah bersama perbankan syariah, IKNB syariah, dan pasar modal syariah. Entitas-entitas keuangan syariah terkait pun telah melakukan berbagai terobosan strategis untuk mengatasi isu-isu yang membuat masyarakat enggan memakai produk keuangan syariah. Hingga pada akhirnya, masyarakat tahu dan memahami, bahwa keuangan syariah di Indonesia tidak berbeda dengan sistem konvensional yang lebih dulu berkembang. Keuangan syariah sama bagusnya, sama lengkapnya, dan sama modernnya, dengan nilai tambah syariah dan akhlak, sebagai bagian ketaatan seorang hamba Tuhan.

Heboh-heboh Kandungan Babi pada Mie Samyang Hingga Kenangan Kue Kering

Publik dibuat heboh oleh adanya temuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang adanya kandungan babi pada mie ramen asal Korea Selatan. Keempat produk yang mengandung babi itu adalah Samyang dengan nama produk U-Dong, Nongshim dengan nama produk Shin Ramyun Black, Samyang dengan nama produk Mie Instan Rasa Kimchi, dan Ottogi dengan nama produk Yeul Ramen.

Keempat produk ramen ini pun ditarik dari peredaran. Reaksi netizen pun beragam. Kecerdasan literasi ternyata mempengaruhi reaksi ini. “Buat apa pake sampe ditarik? Emang yang makan ramen itu cuma muslim? Kan bisa ditaruh di rak yang mengandung babi. Nggak usah sampe harus ditarik deh…” Banyak komentar yang seperti itu. Namun, komentar itu tidak literated. BPOM memiliki aturan, obat atau makanan yang mengandung babi harus mencantumkan keterangan tersebut di produknya. Jadi, ini bukan soal halal atau haram, tapi ketakacuhan karena tak mengindahkan aturan tersebut. Sementara, jika soal sertifikasi halal, itu adalah domainnya LPPOM Majelis Ulama Indonesia. 🙂

Reaksi keliru yang kedua adalah menganggap semua produk Samyang itu mengandung babi. Ini juga keliru. Di beberapa daerah, ada aksi-aksi yang tidak perlu seperti mensweeping semua produk Samyang. Padahal yang menjadi temuan BPOM cuma 2 Samyang, yakni U-Dong dan Rasa Kimchi.

Samyang yang paling laris di Indonesia adalah Samyang dengan rasa Hot Chicken Flavor Ramen. Mie yang terkenal dengan rasa pedasnya ini sudah mendapat sertifikasi halal dari Korean Muslim Federation. Meski memang, belum ada sertifikasi halal dari LPPOM MUI. Nah, daftar mie Samyang lain bisa lihat di sini (daftar harga mie samyang halal).

Saya sendiri sebenarnya suka banget makan mie. Namun, setiap menyebut mie, saya jadi teringat ibu saya. Dulu, Bapak kerap membeli sekotak mie instan. Sekotak mie berisi 40 itu adalah jatah untuk sebulan bagi saya yang lima bersaudara. Ibu selalu mewanti-wanti untuk tidak sering-sering makan mie. “Nanti ususmu keriting, Nak!”

Apalagi ketika puasa seperti ini. Kadang sudah kangen makan mie. Masak sendiri. Ketahuan lalu diomeli. Jadinya sampai sekarang, saya makan mie paling hanya 2 minggu sekali. 😀 Ada kebiasaan yang kulakukan pula pada saat lebaran. Aku akan memasak mie, karena bosan makan ketupat dan opor ayam terus-terusan.

Bicara soal kebiasaan, dulu menjelang lebaran, kami sekeluarga akan berkumpul. Selain bikin ketupat, kami akan sibuk bikin kue kering. Mulai dari kue berbentuk bunga mawar, nastar, cutik gigi, sampai kue satu. Bukan cuma keluarga kami, tetapi juga para tetangga. Sehingga tak jarang kami akan saling bersilaturrahim, saling pinjam cetakan dan loyang untuk memanggang kue-kue kering itu.

Sekarang, kebiasaan itu sudah berkurang, bahkan menghilang. Pasalnya, ada cara yang lebih praktis ketimbang membikin sendiri kue-kue kering itu. Yaitu membeli. Kalau di Palembang, bolu juga wajib ada seperti bolu 8 jam, maksubah, lapis legit. Kue-kue kering pun udah ditemukan di mana-mana. Pusatnya di Cinde. Tapi kalau tak mau repot terjebak kemacetan di kota yang akan begitu padat menjelang lebarang, kita cukup belanja online. Beli kue kering online pun bisa dilakukan. Bahkan belanja online seringkali lebih murah dan lebih efektif.

Satu-satunya yang masih dibikin sendiri saat ini adalah tekwan dan pempek. Sayang, tahun ini aku tak mudik ke Palembang. Ah.

 

 

Liburan ke Curug Bidadari di Sentul Paradise Park

curug bidadari

Bogor punya banyak curug/ air terjun. Salah satu yang paling mudah aksesnya adalah Curug Bidadari di kawasan Sentul Paradise Park. Tepatnya di desa Bojong Koneng. Dulu, namanya Curug Bojong Koneng, dan berganti nama menjadi Curug Bidadari bakda pengelolaannya dipegang oleh Sentul Paradise Park.

Apabila berangkat dari Jakarta, maka rute yang ditempuh adalah;

Tol Jagorawi => Tol Sentul Selatan=> Sentul Paradise Park => Air Terjun Bidadari

curug bidadari

Ketinggian air terjun ini sekitar 40 m. Dan selain air terjun dengan kolam alami, pengelola membuat kolam mandi yang airnya berasal dari air terjun ini. Selain itu, di kawasan ini juga disewakan beberapa permainan anak seperti Perahu tangan, Wave pool, Lazy pool, dan Flying Fox. Namun, pada saat saya bersama keluarga ke sana, mungkin karena sudah kesorean, wahana seperti flying fox itu tidak ada penjaganya.

Curug bidadari sentul paradise park

Kenapa disebut Curug Bidadari? Tepat di sekeliling air terjun ini ada bebatuan besar. Di antara bebatuan besar tersebut terdapat semacam celah atau ruang. Celah itu digunakan sebagai tempat persembunyian oleh Jaka Tarub. Jaka Tarub bersembunyi di celah tersebut untuk mengintip para bidadari yang sedang mandi yang datang dari kayangan . Makanya, ia kemudian disebut Curug Bidadari.

Namun, ada juga yang bilang, dulunya di sini sering terdengar suara segerombolan wanita yang sedang mandi, suara cekikikan seperti sedang bercengkerama. Setelah dilihat, tidak ada siapa-siapa.

Karena berada di kawasan hutan lindung, jadi bisa dipatikan air curug ini segar dan jernih sekali. Kesan alami masih menyelimuti kawasan di sekitar air terjun. Udara yang sejuk. Bukit-bukit yang hijau. Cocok sekali untuk menghilangkan kepenatan.

Sesuai namanya, Curug Bidadari, kalau kamu beruntung, kamu bisa bertemu dengan bidadari di curug ini. Nah, ini slaah satu bidadari itu!

Dangar Ode, Surga Kecil di Sumbawa

Hidung perahu dengan pelan membelah lautan. Angin laut yang khas menerpa tubuhku. Ini perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Ini juga perjalanan pertamaku menaiki perahu nelayan yang kecil.
Kucelupkan kaki dan kubiarkan kakiku beradu dengan air laut. Menyenangkan. Kurang lebih 40 menit perjalanan dari dermaga di Desa Prajak. Sebuah pulau kecil sudah berada di depanku. Perahu melambat untuk merapat ke pesisir. Di kejauhan, sosok Gunung Tambora menjulang angkuh.
Ada satu adegan yang berkesan dalam film Pirate of Carribean, yakni ketika Jack Sparrow ditinggalkan di sebuah pulau kecil dengan pasir putih. Berada di atas pasir yang putih, di tengah lautan dan di bawah langit yang birunya tak bisa dibedakan adalah salah satu impianku. Tak perlu jauh-jauh ke Kepulauan Karibia, atau Maldives yang terkenal, di Indonesia juga ternyata ada tempat seperti itu. Di Lombok ada Gili Kapal. Di Sumbawa juga ada Dangar Ode.
 
Dangar Ode adalah sebuah pulau kecil di kawasan utara Teluk Saleh. Teluk Saleh saat ini sudah dikenal sebagai akuarium dunia karena memiliki 59 jenis karang dan 405 jenis ikan karang. Bahkan di beberapa kawasan di Teluk Saleh terkenal banyak anak hiu dikarenakan melimpah ruahnya makanan bagi mereka. Di Dangar Ode sendiri, bila beruntung kita bisa menemui lumba-lumba.
Salah satu alternatif menuju Dangar Ode adalah melalui dermaga di Desa Prajak. Desa Prajak adalah salah satu desa nelayan di Sumbawa dan berjarak kurang lebih 20 km dari kota Kabupaten. Hujan semalam membuat medan yang kami lalui menjadi becek dan berlumpur. Butuh keterampilan dan ketabahan untuk melaluinya.
Kupikir, beginilah Indonesia, semakin ke Timur, infrastruktur semakin kurang memadai. Tak terbayangkan pula bagaimana perjuangan nelayan-nelayan mengantarkan ikan-ikannya ke pasar di Sumbawa dengan medan seperti ini. Tak tega rasanya bila nanti ke Seketeng, aku menawar ikan-ikan itu lagi.
Dangar merupakan nama sebuah pohon dalam bahasa Sumbawa yang banyak ditemukan di wilayah Sumbawa. Pohon ini menghasilkan getah seperti karet yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dahulu, Dangar Ode dan Dangar Besar banyak ditumbuhi dangar dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan membuka perkebunan dangar. Namun seiring berjalannya waktu pohon dangar sudah habis dan tidak terdapat lagi di pulau. Masyarakat juga sudah tidak lagi melakukan aktivitas perkebunan di pulau ini.
Perahu nelayan merapat, aku melompat ke bibir pantai. Sebuah pohon tumbuh sendirian di sisinya. Sebuah bangunan berdiri di tengah-tengah pulau. Seorang teman berkata, bangunan itu adalah sebuah mushalla. Tidak ada yang tahu siapa yang membangunnya. Cerita setempat juga menyebutkan, seberapa pasang pun lautan, air laut tidak pernah sampai merendam lantai mushalla tersebut. Sayangnya mushalla tersebut tampak tak terawat. Seharusnya pemerintah turun tangan untuk melakukan pemeliharaan. Selain menjadi tempat shalat, ia dapat juga menjadi tempat beristirahat dan berteduh ketika hujan turun lebat.
 
Pasir putih mengelilingi Dangar Ode. Dan yang menarik adalah permukaannya tidak curam tiba-tiba. Kita dapat menenggelamkan tubuh kita sedikit demi sedikit ke dalam lautan dengan dasar pasir yang masih terlihat karena begitu beningnya. Tampak juga banyak bintang laut di sana-sini. Jangan khawatir, tak ada bulu babi.
Hingga air laut mencapai bahu barulah dasar lautan terisi dengan rumput-rumput laut. Aku mencelupkan wajahku dan terlihat berbagai jenis ikan berwarna-warni. Aku berenang lebih ke tengah, dan karena aku tak begitu pandai berenang, aku memilih berada di dekat perahu supaya kalau kenapa-kenapa aku bisa mencari pegangan. Sesekali aku mencelupkan kepala untuk melihat pemandangan bawah air yang menakjubkan. Dan lebih banyak aku menikmati panorama yang disajikan alam. Beberapa teman menyelam lebih dalam dan aku merasa iri. Mereka bilang ada coral table, terumbu karang yang berbentuk seperti meja bundar. Juga menemukan ikan nemo di mana-mana.
 
 
Aku menyesal ketika kecil tidak belajar berenang hingga mahir. Yang bisa aku lakukan cuma mengambang beberapa saat. Huh.
Puas berenang, mengelilingi pulau, dan menyantap ikan bakar yang kami bakar sama-sama, kami diguyur hujan yang sangat deras. Setelah menunggu dan berharap hujan akan reda, berkenalan dan bercerita banyak, kami memutuskan nekat menyeberangi lautan. Syukurlah, meski hujan, lautan tetap tenang. Mendekati dermaga, barulah hujan reda dan langit yang mendung menyingkapkan dirinua. Cahaya keemasan menembus mereka dan seakan-akan kami terendam di dalamnya.
Sebuah puisi lahir saat itu:
kau bersikeras akan menelan semua hujan
yang tak bosan menceritakan hidupnya yang singkat
di atas laut, di bawah bayangbayang maut
kita akan selalu sama: melihat langit keemasan
setelah segalanya reda adalah doadoa kecemasan
sebelum perjalanan lain menuju pulang
Tantangan sesungguhnya adalah medan di daratan. Jalan yang baru diguyur hujan membuatnya seperti bubur lumpur. Jarak tempuh 20 km itu kami lalui lebih dari 3 jam setelah beberapa motor mengalami kerusakan, dan kami menunggu, saling membantu dan bahu-membahu agar semuanya sampai ke tujuan. Kebersamaan, meski baru sekali bertemu, membuat perjalanan ini pantas dikenang seumur hidup.
Semoga saja pemerintah daerah membenahi akses menuju pulau, karena Dangar Ode begitu layak menjadi salah satu destinasi utama Pesona Indonesia di Sumbawa. Keindahan bawah laut, dan panoramanya kelas satu, ditambah ketenangan yang semakin sulit didapatkan di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk.
PS:
Terima kasih kepada teman-teman Adventurous Sumbawa yang sudah memberiku kesempatan berkenalan dengan kalian. Foto-foto di atas juga dari Adventurous Sumbawa.

Cara Menghitung PPN dan Royalti Buku yang Benar

Seperti yang kita ketahui, sejak ada penegasan pengenaan pajak atas buku, berbagai masalah timbul di penerbit. Mulai dari kenaikan tarif sharing toko dan distributor, hingga ke penghitungan pajak itu sendiri. Penghasilan penerbit otomatis berkurang karena pembagian hasil penjualan yang semakin sedikit ke penerbit.

Sebagian penerbit rupanya masih keliru dalam memaknai pajak, dalam hal ini PPN.

Misalnya:

  • Harga buku di toko buku Rp88.000,- berapakah pajaknya?

Jawaban Penerbit:

  • Penerbit menghitung PPN 10% sebesar Rp8.800 dan royalti 10% x 88.000 sebesar Rp8.800,-

Perhitungan di atas SALAH.

Jawaban yang benar adalah:

  • PPN = 10/11 x Rp88.000,- = Rp8.000,-
  • Royalti = 10% x (Rp88.000-Rp8.000) = Rp8.000,-

Bisa diperhatikan, bukan? Ada perbedaan Rp1.600,- di sana. Jika penjualan terjual 1000 eksemplar saja, penerbit sudah kehilangan Rp1,6 juta. Lumayan.

Kenapa demikian? Sebenarnya harga yang tertera saat buku sudah berada di toko adalah harga dengan PPN. Sehingga, PPN itu harus dikeluarkan terlebih dahulu. Atau, penerbit terlebih dahulu sudah menetapkan harga. Ketika buku tersebut dijual, barulah dikenakan PPN. Karena sejatinya, PPN itu ditanggung oleh pembeli.

Tapi, dengan begitu sebenarnya kita sama saja memberatkan konsumen, karena harga buku menjadi lebih mahal 10%. Gimana nih, pemerintah?

STAN: Setelah Tamat Akad Nikah

Seorang teman, Bamby Cahyadi, pernah mencoba meramal pernikahanku. Ia mengeluarkan bandul dan memintaku bertanya pada bandul itu, di usia berapakah aku akan menikah. Lalu bandul itu bergerak tepat sebanyak 27 kali. Menurutnya, aku akan menikah saat berusia 27 tahun.

Saat itu, aku masih berusia 21 tahun. Kenyataannya, ramalan itu tidak terbukti. Aku pun teringat, ibuku yang ingin aku menikah di usia 27 tahun. Ia mewanti-wanti, itu adalah usia paling pas untuk pernikahan. Jangan buru-buru. Menabung dulu. Ketika aku mengutarakan niatku untuk menikah, butuh usaha keras untuk mendapatkan kerelaannya. Aku masih terlalu kanak-kanak katanya. Ya, aku menikah saat usiaku bahkan belum 23 tahun. Pasanganku 2 tahun lebih tua dariku.

Kini, usiaku 29 tahun dan aku masih sering mendapat pertanyaan, “Kenapa kamu menikah muda?”

Dengan bercanda kujawab Chairil Anwar dan Soe Hok Gie meninggal menjelang usia 27. Aku tidak mau meninggal sebelum aku menikah.

Ada banyak orang menganggap aku menikah muda. Aku tidak merasa demikian. KUH Perdata saja sudah jelas mengatakan batas usia dewasa adalah 21 tahun atau sudah kawin. Mengacu pada UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, batas usia pernikahan adalah 19 tahun bagi laki-laki. Jadi ditilik dari segi apapun, usiaku bukan usia muda lagi.

Yang terjadi adalah kebanyakan orang tua tidak rela anaknya menjadi dewasa. Mereka sengaja atau tidak sengaja membuat si anak masih berlindung di bawah ketiak orang tua dengan dalih kamu sekolah dulu sampai jenjang yang lebih tinggi. Aku pribadi malu ketika usia sudah berada di kepala dua, namun segala sesuatu masih dibayari orang tua.

Bisa jadi juga, kita salah mengambil perbandingan. Ketika menonton drama Korea, kita lihat tokohnya sudah mendekati usia kepala 3 namun bertingkah bak remaja. Usia 20 tahun di Korea masih dianggap sangat anak-anak. Masih kecil. Aku penasaran dan menemukan kenyataan bahwa usia harapan hidup di Korea lebih tinggi dari di Indonesia. Di Korea, usia harapan hidup adalah 81,37 tahun sementara di Indonesia hanya 70,61 tahun (2012). Selebritis Korea pun menikah kebanyakan setelah umur 35 tahun. Di samping faktor budaya pernikahan yang biayanya mahal di sana, aku pikir ini ada kaitannya juga dengan usia harapan hidup.

Menikah Untuk Apa?

Rata-rata anak STAN memang menikah muda. Setelah lulus, diangkat sebagai CPNS, biasanya tak lama setelah itu ada undangan. Banyakan alasannya klasik, takut sendirian menghadapi penempatan. Risiko menjadi lulusan STAN adalah harus siap ditempatkan di mana saja. Jadi, daripada berpacaran jarak jauh dengan risiko putus, diguna-guna di tempat baru, mending menikah saja. Ada teman galau kalau dapat tempat terpencil. Nggak kesepian lagi.

Kalau ditanya ke yang alim-alim, alasannya adalah membentuk sebuah keluarga. Melahirkan jundi-jundi Allah. Menikah itu ibadah.

Walau aku nggak alim, alasanku menikah adalah membentuk sebuah keluarga. Aku ingin punya anak tiga. Dan aku ingin bisa menghadiri pernikahan mereka, mendapatkan cucu dari mereka sebelum aku meninggal. Lalu kulakukan perhitungan sederhana. Usiaku 23 tahun. Anak pertamaku lahir pada saat aku berusia 24 atau 25 tahun. Maksimal 25 tahun kemudian dia menikah, aku masih berusia 50 tahun, belum pensiun. Jika per anak diambil selisih 4 tahun, anak ketigaku menikah pada saat aku berumur 58 tahun. Pas aku pensiun. Tanggunganku sebagai orang tua selesai. Selain itu aku punya waktu 12 tahun untuk mengkhususkan diri bermain dengan cucu-cucuku. Dari sudut pandang ekonomi, kita juga bisa segar dalam membiayai anak sekolah. Biar nanti uang pensiun cukup. Anak-anak sudah besar dan mampu bekerja sendiri.

Masalah-masalah dalam Pernikahan

Saya tak habis pikir banyak tulisan menjustifikasi pernikahan sebagai penghambat prestasi. “Kamu nggak usah menikah dulu, sekolah dulu saja. Berkreasi dulu saja.” Gitu katanya.

Fakta yang kualami, aku melanjutkan kuliah D4 STAN saat aku sudah punya anak. Istriku menyelesaikan pascasarjananya di Fisika ITB bebarengan denganku. Pendidikan tidak memandang usia. Kreasi juga tidak mengenal batasan. Kita kerap cuma mencari-cari alasan. Yang menghambat adalah mental kita sendiri, bukan hal lain.

“Nanti mau kasih makan apa? Apa cukup gajimu?” Justru menikah membuka pintu rejeki yang tak disangka-sangka. Karena toh pasti kita akan berpikir memutar otak untuk mencukupi kebutuhan kita. Pernikahan justru akan membuka jalan pikiran seseorang dan membuka matanya untuk melihat peluang.

Ketika ibuku tak setuju aku menikah muda, kubawakan sebuah situasi kepadanya. Ibuku sendiri menikah saat ia berusia belum 20 tahun. Ayahku 21 tahun ketika itu dan masih menjadi pegawai honorer di sebuah kantor. Mengandalkan honor tentu tak cukup. Ayahku berusaha dengan menyalurkan seluruh pengetahuannya. Ia membuat mata tidur (bibit karet sebelum dimasukkan ke polybag). Ia menjual bibit mata tidur itu bahkan hingga melewati kabupaten. Sampai akhirnya mereka punya anak 5 orang dan bisa menyekolahkan mereka sampai lulus kuliah. Ayahku pas pensiun setelah aku lulus kuliah.

Seseorang yang masih mengkhawatirkan rejeki bagiku sama saja ia meragukan dirinya sendiri dan Tuhan.

Kemudian, orang juga sering berkata, menikah muda banyak masalahnya, menikah muda meningkatkan angka perceraian, dll. Di sini aku berpikir, ketika seseorang melakukan penelitian, ia akan membatasi ruang lingkup, membatasi variabel. Perceraian dll tidak ada urusannya dengan usia pernikaha, tapi bagaimana mental seseorang, dan kembali lagi pada pertanyaan… kamu menikah untuk apa?