Category Archives: Pikiran Pringadi

Sejarah Hari Anak

Sejarah Hari AnakTanggal 23 Juli kemarin diperingati sebagai Hari Anak Nasional di Indonesia. Namun, tiap negara berbeda-beda soal kapan merayakan hari anak. Tiap negara punya sejarah hari anak tersendiri.

Sejarah Hari Anak di Indonesia dimulai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Soharto menilai anak-anak merupakan aset kemajuan bangsa sehingga perlu diberi hari peringatan.

Hari anak sebelumnya diperingati tanggal 6 Juni dengan nama Hari Kanak-kanak. 30 Mei 1967, menuliskan, Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) saat itu memutuskan Hari Kanak-kanak Indonesia dicabut dan diganti dengan Pekan Kanak-kanak Nasional Indonesia.

Hari Anak-anak Nasional sempat diperingati pada 17 Juni.  Namun, tanggal ini dipertanyakan Menteri P dan K saat itu, Daoed Joesoef, mengenai alasan penetapan tanggal itu. Ia mengusulkan untuk mengganti tanggal peringatan menjadi 3 Juli didasarkan pada berdirinya Taman Indria yang juga Hari Taman Siswa. Usul penggantian tanggal peringatan Hari Anak Nasional juga diajukan oleh DPP Gabungan organisasi Penyelenggaara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI). Kali ini dasarnya adalah nilai historis pada hari itu, 23 Juli, yakni lahirnya Undang-Undang Kesejahteraan RI No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

Perayaan HAN yang pertama ditandai dengan Konferensi Nasional Pembinaan dan Pengembangan Kesejahteraan Anak di Istana Negara, yang digelar berbarengan dengan Kongres ke-4 KNPI di Binagraha pada tahun 1985.

Tema Hari Anak Nasional berbeda setiap tahunnya. Tahun 2019, tema yang diangkat dari Hari Anak Nasional adalah ‘Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak’. Tema ini diambil dari tagline ‘Kita Anak Indonesia, Kita Gembira!’. Perayaan Hari Anak Nasional tahun ini diselenggarakan di lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan.

Sejarah Hari Anak Universal

Sejarah hari Anak Universal

Berbeda dengan Hari Anak Nasional, Hari Anak Universal diperingati setiap tanggal 20 November. Hari ini ditetapkan sejak tahun 1954 dan diresmikan oleh PBB. Tujuan dari diadakannya Hari Anak Universal adalah untuk mengingatkan masyarakat dunia agar mau meluangkan sedikit tenaga, waktu, dan pikiran demi kesejahteraan anak-anak di dunia.

Sejarah Hari Anak Sedunia tersebut dimulai tahun 1946, saat Majelis Umum PBB membentuk UNICEF (United Nations International Children’s Emergency Fund) yang bertugas menyediakan bantuan darurat berupa makanan dan perawatan kesehatan bagi anak-anak korban Perang Dunia II.



Munculnya Hari Anak Universal dilandasi atas pentingnya bagi anak-anak untuk memperoleh hak untuk hidup, hak untuk mengenyam pendidikan, hak untuk bermain, hak untuk mendapatkan pendidikan, dan hak untuk mendapatkan perlindungan.



Setelah penentuan Hari Anak Sedunia, aktivitas yang berfokus pada anak dilanjutkan dengan Deklarasi Hak Anak (Declaration of the Rights of the Child) pada tanggal 20 November 1959. Deklarasi tersebut menghasilkan 10 prinsip perlindungan anak:

  • Hak anak untuk bermain
  • Hak anak untuk mendapatkan pendidikan
  • Hak anak untuk mendapatkan perlindungan
  • Hak anak untuk mendapatkan nama (identitas)
  • Hak anak untuk mendapat status kebangsaan
  • Hak anak untuk mendapatkan makanan
  • Hak anak untuk mendapatkan akses kesehatan
  • Hak anak untuk mendapatkan rekreasi
  • Hak anak untuk mendapatkan kesamaan
  • Hak anak untuk berperan dalam pembangunan

Sejarah Hari Anak Internasional

Sejarah hari Anak internasional

Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni. Sejarah hari anak ini dimulai sejak 1929.

Awalnya, seorang pendeta dari Massachusetts, Amerika Serikat, mengadakan sebuah pelayanan khusus untuk anak-anak. Dia memilih waktunya pada minggu kedua di bulan Juni 1857.

Pendeta tersebut prihatin terhadap kondisi anak-anak di sekitarnya. Jadi, tujuan pelayanan khusus tersebut adalah untuk melindungi hak anak dan mengurangi tingginya angka pekerja di bawah umur (anak-anak).




Sejak itu setiap awal Juni selalu menjadi momen untuk lebih memberi perhatian khusus terhadap anak.  Pertama, menyediakan perbekalan anak untuk tubuh, baik secara material maupun spiritual. Kedua, anak yang lapar harus diberi makan, anak yang sakit mesti mendapat penanganan medis, anak yang memiliki keadaan kurang normal harus diberi pertolongan, anak yang bermasalah dengan hukum harus dibantu, dan anak yatim piatu harus memiliki tempat berteduh yang layak. Ketiga, anak harus mendapat perlakuan tepat di masa-masa tersulit. Keempat, anak harus diletakkan di posisi ia bisa berkembang dengan baik, tanpa adanya eksploitasi. Terakhir, anak harus terus diingatkan kalau keahlian mereka harus berguna bagi masyarakat.

Sejumlah Pertanyaan Tentang Cinta (Terbit 12 Agustus 2019)

Baru saja duduk di kantor, sebuah chat masuk melalui WA. Dari editorku. Dia mengabarkan bahwa buku terbaruku akan terbit 12 Agustus 2019. Bukan hanya itu, ia juga memberikan beberapa desain sampul buku. Mana yang kusuka, perbaikan seperti apa yang kuinginkan agar nanti SEJUMLAH PERTANYAAN TENTANG CINTA hadir sesuai yang kuharapkan.




Tanganku pun gatal dan langsung berusaha membuat semacam woro-woro mengenai buku ini meski kovernya belum final sih. Keinginan untuk menerbitkan minimal 1 buku per tahun bisa terpenuhi tahun ini. Lebih spesial lagi, penerbitnya Elex Media. Bukan kaleng-kaleng.

Sejumlah Pertanyaan Tentang Cinta

Buku Keberapa “Sejumlah Pertanyaan Tentang Cinta” ini?

Buku pertamaku adalah ALUSI, sebuah kumpulan puisi yang pendanaannya pribadi. Waktu itu ALUSI kucetak 1000 buku. Buku kedua adalah DONGENG AFRIZAL, sebuah kumpulan cerpen. Penerbitnya sebuah penerbit kecil. Hanya dicetak 1300 eksemplar. Namun, buku itu terdistribusi di toko buku Jabodetabek, Palembang, dan Medan. Buku ketiga, Sebuah Medley, kumpulan puisi. Penulisnya berdua, bersama Andi Arnida Massusungan. Beliau yang mendanai penerbitan buku ini. Dicetak 1000 juga kalau nggak salah.

Setelah itu, ada buku Simbiosa Alina. Penerbitnya Gramedia. Penulisnya juga dua orang, bersama Sungging Raga. Menyusul setelah itu novel 4 Musim Cinta, diterbitkan Exchange. Penulisnya berempat. Ada Mandewi, Abdul Gafur, dan Puguh. Ini pengalaman pertama saya menulis novel.

Kumpulan puisi berikutnya hadir pada tahun 2015. Irwan Bajang meminta naskah puisiku untuk diterbitkan dan akhirnya AKU CUKUP MENULIS PUISI, MASIHKAH KAU BERSEDIH lahir dari rahim IBC. Buku ini mendapat penghargaan Anugerah Pembaca Indonesia 2015 sebagai buku puisi terafavorit.

Setelah itu IBC juga meminta naskah kumpulan cerpenku hingga lahirlah HARI YANG SEMPURNA UNTUK TIDAK BERPIKIR pada tahun 2017. Di sana juga kemudian akhirnya aku berkenalan dengan SHIRA MEDIA yang menerbitkan novel PHI tahun lalu.

Di luar itu ada banyak antologi bersama, baik puisi maupun cerpen, yang memuat karyaku. Aku tak begitu mengingatnya. Tanpa menghitung berbagai antologi tersebut, berarti SEJUMLAH PERTANYAAN TENTANG CINTA adalah bukuku yang kesembilan.

Apa Ide Dasar “SEJUMLAH PERTANYAAN TENTANG CINTA”?

Suatu hari, saya pernah duduk bersama Fatih Kudus Jaelani di Selong, Lombok Timur. Kami mengobrolkan banyak hal mulai soal puisi dan kisah cintanya.




Setelah puas mengobral kata, malam itu terpikir sebuah kalimat. Cinta abadi karena perpisahan.

Ya, cinta abadi karena perpisahan. Kalimat itu bisa ditafsirkan menjadi banyak kondisi. Bisa jadi, karena berpisah dengan seseorang saat masih mencintai orang itu, cinta di hati kita jadi abadi. Tapi makna lainnya adalah, cinta bisa menjadi abadi justru karena suatu hari kita menyadari bahwa kita akan berpisah dengan orang yang kita cintai.

Karena itu lahirlah lirik, “Apakah kau masih mencintaiku jika suatu hari ada perpisahan yang tak mungkin kita hadapi dengan bahagia?”

Jadi, silakan dipesan ya buku saya, atau nanti dibeli di toko buku. Terima kasih.

Bincang Phi di BDS Fair: Kritik Terhadap Realitas

Kemarin, saya mendapatkan kesempatan membincangkan PHI, novel saya, di Business Development Service (BDS) Fair 2019 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Kesempatan yang berharga, soalnya di organisasi sendiri, saya belum pernah mendapatkan kesempatan serupa. Pernah sih, beberapa tahun lalu, 2016 kalau tak salah, dihubungi untuk mengisi acara di Perpustakaan. Namun, acara itu dibatalkan.

Setiap bicara soal PHI, saya bisa saja membicarakannya sebagai kisah cinta biasa, dari seorang pemuda yang tergila-gila pada seorang gadis. Dia ingin sekali bersama gadis itu. Namun, entah berapa kali dia mencoba, bahkan hingga memutar ulang waktu, yang ia dapati adalah kesedihan.

Waktu dan kesedihan adalah dua hal kental dari novel ini. Waktu dalam film “LUCY” dianggap “hanya” sebagai sebuah persepsi. Jika manusia tidak ada, jika makhluk hidup tidak ada, apakah waktu akan tetap ada?

Novel Phi

Waktu dalam PHI menjadi elemen kunci. Namun, masa lalu dan masa depan adalah pasti. Sebagaimana pun tokoh dalam PHI mencoba mengubah segala hal, ia tetap akan mendapat kenyataan yang serupa.

Kenyataan itulah yang berusaha saya metaforakan sebagai bagian dari rasio emas. PHI adalah rasio emas. Bahwa kesuksesan dan kegagalan dalam diri seseorang ada jatahnya, begitu juga kebahagiaan dan kesedihan.

Waktu pula yang dikacaukan dalam pikiran PHI (dan bagi pembacanya). Ya, dengan alur maju-mundur, bolak-balik, tanpa penanda, saya menginginkan pembaca konsentrasi penuh pada waktu-waktu yang kemudian menunjukkan perkembangan karakter.

Waktu itu juga yang menjadi kunci untuk melihat realitas. Manakah realitas yang benar-benar dijalani oleh Phi?

Sedemikian kabur, kecuali membaca hingga akhir dengan khusuk.

Teka-teki itulah yang coba saya hadirkan sebuah upaya kritik terhadap realitas.

Pernahkah kamu bertanya, seberapa yakin kamu bahwa kenanganmu adalah sesuatu yang benar-benar terjadi? Saya meyakini bahwa satu peristiwa yang sama, dialami oleh dua orang yang berbeda, bisa saja atau hampir pasti akan menghasilkan dua persepsi yang berbeda.

Dalam hal percintaan, sepasang kekasih yang berpisah, akan mempunyai dua versi penceritaan tentang kenapa mereka berpisah, siapa yang bersalah.

Tokoh PHI juga mengalami hal itu. Di dalam cerita kita akan dibuat bertanya-tanya mana yang sebenarnya dialami oleh PHI dan mana yang hanya persepsinya. Mana yang fakta, mana yang fiksi.

Seolah-olah hidup yang dialami PHI, hidup yang sedemikian tak masuk akal itu menjadi cerminan bahwa kenyataan yang hadir di sekitar kini sedemikian tak masuk akalnya. Anak menikah dengan ibunya. Kakak-beradik berhubungan intim. Bucin bunuh diri. Anak-anak SD mengalami depresi.

Lalu di mana kenyataan yang sebenarnya?

Apakah hidup yang kita jalani ini sebenarnya juga bukan kenyataan? Hanya “hidup” dari persepsi kita yang entah di mana.

Mengenal KBBI Cetak, KBBI Daring, dan KBBI Luring

KBBI cetak sudah memasuki edisi kelima. KBBI edisi kelima ini sudah diluncurkan sejak 28 Oktober 2016 lalu.

Sementara itu, KBBI bersifat dinamis karena bahasa selalu berkembang. Terdapat proyek pemutakhiran bahasa dengan melibatkan masyarakat umum yang boleh memberikan usulan. Salah satunya usulan kata baru untuk masuk ke dalam kamus.

Dua kali setahun, pemutakhiran bahasa dilakukan dalam bentuk kegiatan Lokakarya Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima. Namun, tak mungkin kan selama dua kali setahun itu, KBBI dicetak revisinya terus-menerus.

KBBI DARING

KBBI Daring

KBBI Daring (online) adalah laman resmi pencarian kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Laman ini dikembangkan dan dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk memberi akses informasi seluas-luasnya kepada masyarakat dan memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengembangan kosakata bahasa Indonesia.

Pemutakhiran KBBI dilakukan dua kali setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober. Pemutakhiran KBBI terakhir, dilakukan pada bulan April 2019. Kalau ingin berkontribusi mengajukan usulan-usulan bagi pengembangan kosa kata Bahasa Indonesia di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), silakan mendaftar secara daring melalui laman ini (https://kbbi.kemdikbud.go.id/Account/Register)

KBBI LURING

KBBI Luring

Selain KBBI Daring, dikenal juga KBBI Luring (offline). KBBI ini kita unduh lewat Appstore. Ia berupa aplikasi resmi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima (KBBI V).

Aplikasi ini adalah aplikasi luring resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk pencarian kata, frasa, dan ungkapan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima (KBBI V).

Perbedaan antara KBBI Daring dan KBBI Luring adalah dari segi pembaruannya. KBBI Luring sedikit lebih terlambat dari KBBI Daring. Jumlah perbedaan lemanya tak banyak, sekitar 1000 entri saja.

Sejarah Perkembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Tahu nggak Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kita sekarang sudah edisi keberapa? Jawabannya adalah edisi kelima. Yak, pada 28 Oktober 2016, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, KBBI edisi kelima resmi diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Pada edisi ini, KBBI memuat 127.036 lema yang versi cetaknya setebal 2.040 halaman. Jumlah ini hampir dua kali lipat versi sebelumnya, yakni 1.400-an halaman.

Penasaran nggak sih bagaimana sejarah perkembangan KBBI ini?

Pusat Bahasa dulunya merupakan lembaga bahasa di Universiteit van Indonesia. Namun sebelum itu, lembaga bahasa berdiri di Nusantara, sekumpulan daftar kata sudah lebih dulu ada. Karya leksikografi tertua dalam sejarah studi bahasa di Indonesia adalah daftar kata Tionghoa-Melayu pada awal abad ke-15 yang berisi 500 lema (kata). Ada juga daftar kata Italia-Melayu yang disusun oleh Pigafetta pada 1522. Kamus antarbahasa tertua dalam sejarah bahasa Melayu adalah Spraeck ende woord-boek, Inde Malaysche ende Madagaskarsche Talen met vele Arabische ende Turcsche Woorden karya Frederick de Houtman yang diterbitkan pada 1603. Continue reading Sejarah Perkembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Selingkung Bukan Selingkuh

Tidak sedikit orang salah paham, mengira selingkung adalah istilah lain untuk selingkuh dalam kebahasaan. Padahal makna kamusnya jauh berbeda. Ya, selingkung bukan selingkuh.

lingkung » se.ling.kung

  1. nsekeliling; sekitar:di ~ pekarangan itu ditanami pohon petai cina
  2. nterbatas pada satu lingkungan:gaya ~

bedakan dengan:

se.ling.kuh /sêlingkuh/

  1. asuka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong
  2. asuka menggelapkan uang; korup
  3. asuka menyeleweng


Makna Gaya Selingkung

Gaya selingkung adalah pedoman tata cara penulisan. Tiap penerbit memberlakukan gaya yang biasanya berlainan.

Dalam bahasa Inggris, selingkung disebut style guide. Salah satu pengertiannya adalah Journalism & Publishing, a set of relus concerning spelling, typography, stc, observed by editorial and printing staff in a particular publishing or printing company.

Banyak faktor yang menentukan gaya selingkung. Pada dasarnya ada tiga kelompok komponen yang menentukan gaya selingkung  yaitu perwajahan dan format, pola penulisan, serta kedalaman dan kerincian penyajian. Ukuran, warna, hiasan, isi, dan tata letak sampul setiap terbit merupakan kesan pertama yang diamati orang. Format dan tata letak halaman, tipe dan ukuran huruf, sistem penomoran, organisasi atau pengaturan isi naskah, jenis kertas, dan faktor penampilan fisik merupakan tolok ukur kecermatan para penyunting mempertahankan gaya selingkungnya. Kedalaman dan kerincian data serta informasi, gaya bahasa dan nuansa yang tersirat, urutan penyuguhan fakta dan argumentasi, serta intensitas pemikiran yang mendasari penulisan isi berkala, merupakan segi gaya selingkung yang menjamin jati diri dan mutu.

Gaya selingkung ini lazim kita lihat misalnya di dalam jurnal ilmiah. Setiap penerbit jurnal ilmiah punya gaya sendiri dalam menentukan jurnal. Daftar pustakanya pun punya style yang bisa berbeda-beda. Kita misalnya mengenal APA Style yang berbeda dengan tata cara menulis daftar pustaka sesuai pelajaran Bahasa Indonesia.

Gaya Selingkung dalam Diksi

Setiap penerbit atau media punya gaya selingkung yang berbeda-beda. Ada yang mematuhi EBIdan Kaidah Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar, ada juga yang tidak.

Contohnya pada kata “embus”. Kata “embus” adalah kata yang baku menurut KBBI. Tetapi banyak juga penerbit yang memilih menggunakan kata “hembus”. Begitu juga dengan kata “salat”. Masih banyak yang lebih nyaman menulis “shalat” atau “solat” ketimbang “salat”.

Gaya selingkung akan lebih kompleks bila menyangkut karya terjemahan. Selingkung bukan hanya menyangkut ejaan, namun diksi secara luas. Kadang-kadang penerbit lebih menyukai ‘para lelaki’ daripada ‘lelaki-lelaki’, misalnya. Bahkan, apabila ‘lelaki’ mengacu kepada kaum Adam keseluruhan [contohnya pada kalimat ‘Men are all the same’] penerbit acap kali mengartikan ‘Lelaki’ dan bukan ‘Kaum Lelaki’.

Gaya selingkung pada dasarnya menginginkan bahasa menjadi sesuatu yang ‘cair’, sehingga bahkan perubahan dan ketentuan dalam KBBI tidak senantiasa disetujui oleh semua pihak. Ada alasan yang kuat kenapa penerbit atau editor tidak mau memakai versi baku sebuah kata. Bukan seenaknya.


Tulisan diambil dari berbagai sumber.