Category Archives: Pikiran Pringadi

Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? Apakah Sama dengan Ade Ubaidil?

Tidak banyak penulis generasi milenial yang menulis realisme. Tidak tahu kenapa, barangkali karena ada keengganan, barangkali juga karena gaya hidup generasi milenial kebanyakan berjarak dengan realitas. Kami (karena saya juga termasuk generasi milenial) memandang dunia lebih sering dari layar televisi, dan kini layar ponsel, ketimbang benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan dirasakan oleh manusia di luar sana.

Realisme memilih gambaran sehari-hari ketimbang meromantisasi atau memodifikasi kenyataan itu. Suatu objek ditampilkan apa adanya tanpa ada tambahan atau interpretasi tertentu. Realisme menjadi sebuah cara untuk menunjukkan kebenaran tanpa perlu menutup-nutupi hal yang buruk.

Dalam karya sastra, penulis realis akan mampu menghidupkan para tokohnya apa adanya, seolah-olah tokoh itu dan manusia asli, tak ada bedanya.

Ade Ubaidil dalam Kumpulan Cerita Pendek “Apa yang kita bicarakan di usia 26?” sepertinya mengambil jalan realisme itu. Kegelisahan-kegelisahan yang menjadi premis dalam ke-14 ceritanya (minus preambul) adalah kenyataan yang mungkin dialami oleh seorang pria berusia 26 tahun dengan segala latar sosial-budaya yang dialami penulisnya. Meski kemudian, Ade mentransformasi kegelisahannya yang sifatnya personal menjadi gagasan yang lebih diterima secara universal.

Di satu sisi, jalan realisme Ade Ubaidil ini adalah kabar baik. Saya suka membaca ada penulis muda yang menempuh jalan ini di tengah maraknya penulis-penulis yang menulis dengan “gaya-baru”. Aku lebih suka menyebut “gaya-baru” ini sebagai efek dari hiperrealisme, ketika kenyataan dan bukan kenyataan sudah bercampur sehingga sulit dibedakan.

apa yang kita bicarakan di usia 26

Hanya saja, sebagai penulis realisme, ada detail-detail yang membuatku bertanya-tanya.

Ya, karena realisme menggambarkan subjek dan objek apa adanya, detail tentang itu sangat dibutuhkan.

Misalnya, dalam cerita “Peramal Telapak Tangan”, Ade menceritakan tentang seorang ayah yang punya pekerjaan sampingan sebagai peramal telapak tangan secara diam-diam. Ada beberapa hal yang menggangguku, seperti:

  • Ke Bioskop menonton film Drama Korea. Pertama, jika mereka pencinta Korea, tidak akan ada frasa “film Drama Korea”. Jika yang ditonton adalah film, hanya “film Korea” yang akan disebut. Sebab, drama Korea mengacu pada serial drama yang rata-rata 16 episode dan tidak ditayangkan di bioskop. Kedua, jarang sekali film Korea yang masuk ke bioskop Indonesia, kecuali memang konsumsi bagi pencinta film.
  • Garis tangan yang dibaca adalah garis tangan kanan. Memang ada banyak perbedaan pendapat tentang garis tangan mana yang harus dibaca, namun, bisa dibilang, jika hendak menggambarkan masa depan, garis tangan yang dibaca adalah garis tangan yang bukan dominan digunakan.

Dalam cerita “Budi Bertanya tentang Pancasila”, aku merasakan ada ketidaksesuaian usia tokoh dan dialog yang ia lakukan. Penjelasan yang ayahnya berikan masih terlalu berat untuk anak kelas 3 SD. Namun, dengan mudahnya sang anak berkata mengerti penjelasan ayahnya. Seperti ketika dia bilang, “Ayah, katanya keadilan sosial….” ketika memprotes Pak Kyai yang dapat jatah besek lebih banyak. Barangkali bisa diubah menjadi, “Ayah, bukannya adil itu sama ya? Kok Pak Kyai dapat dua…”

Contoh terakhir bisa dilihat dalam cerpennya yang berjudul, “Pesan Ayah”. Aku cukup kesulitan untuk menyusun setting waktu.

Jadi, ceritanya, ada ayah yang memberikan pesan kebaikan berupa anjuran sedekah kepada anaknya. Ayahnya itu seorang walikota, dua periode pula. Sebagai anak yang baik, ia mengikuti jejak ayahnya menjadi kepala daerah. Termasuk mengikuti jejaknya yang lain, ternyata sang ayah penerima suap.

Penanda waktu yang digunakan di dalam cerpen itu membuatku tidak paham, pada usia berapa sang tokoh menjadi kepala daerah menggantikan ayahnya?

Dua cerpen terakhir patut menuai pujian. Narayya dari Moor dan Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? yang menjadi judul buku ini sublim menurutku. Elemen di dalam Narayya dari Moor terasa sangat pas, termasuk juga cara mengakhiri ceritanya. Sedangkan cerpen yang menjadi judul buku ini asik karena di sini Ade Ubaidil terasa mengeluarkan kepribadiannya. Di cerpen-cerpennya yang lain ia kebanyakan berusaha menjadi pengamat, orang ketiga. Di cerpen inilah, buatku, Ade Ubaidil terasa melepaskan “beban”-nya dan menjadi aku-prosa dan bernarasi dengan lincah.

Aku pikir jika Ade Ubaidil bisa menajamkan dua hal itu (melepaskan beban saat menulis dan lebih memperhatikan detail), ia akan menjadi penulis yang patut selalu diapresiasi.

Tips Buat Kamu yang Ingin Menikah Muda(h)

Tak terasa sudah lebih dari 8 tahun aku menikah. 1 Juli 2011, akad nikah diselenggarakan. Tiga hari kemudian aku memboyong istriku ke tempat aku bertugas di Sumbawa Besar, NTB.

Banyak cerita yang mengiringi proses keputusan pernikahan. Di antaranya, seorang teman, Bamby Cahyadi, pernah mencoba meramal pernikahanku. Ia mengeluarkan bandul dan memintaku bertanya pada bandul itu, pada usia berapakah aku akan menikah. Lalu bandul itu bergerak tepat sebanyak 27 kali. Menurutnya, aku akan menikah saat berusia 27 tahun.

Saat itu, aku masih berusia 21 tahun. Kenyataannya, ramalan itu tidak terbukti. Aku pun teringat, ibuku yang ingin aku menikah di usia 27 tahun. Ia mewanti-wanti, itu adalah usia paling pas untuk pernikahan. Jangan buru-buru. Menabung dulu. Ketika aku mengutarakan niatku untuk menikah, butuh usaha keras untuk mendapatkan kerelaannya. Aku masih terlalu kanak-kanak katanya.

Pada akhirnya, aku menikah pada usia yang cukup muda, belum pas 23 tahun.  Sampai sekarang, begitu sering aku mendapat pertanyaan, “Kenapa kamu menikah muda?”

Dengan bercanda kujawab Chairil Anwar dan Soe Hok Gie meninggal menjelang usia 27. Aku tidak mau meninggal sebelum aku menikah.

Salah Persepsi Tentang Menikah Muda

Ada banyak orang menganggap aku menikah muda. Aku tidak merasa demikian. KUH Perdata saja sudah jelas mengatakan batas usia dewasa adalah 21 tahun atau sudah kawin. Mengacu pada UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, batas usia pernikahan adalah 19 tahun bagi laki-laki. Jadi ditilik dari segi apapun, usiaku bukan usia muda lagi.

Yang terjadi adalah kebanyakan orang tua tidak rela anaknya menjadi dewasa. Mereka sengaja atau tidak sengaja membuat si anak masih berlindung di bawah ketiak orang tua dengan dalih kamu sekolah dulu sampai jenjang yang lebih tinggi. Aku pribadi malu ketika usia sudah berada di kepala dua, namun segala sesuatu masih dibayari orang tua.

Bisa jadi juga, kita salah mengambil perbandingan. Ketika menonton drama Korea, kita lihat tokohnya sudah mendekati usia kepala 3 namun bertingkah bak remaja. Usia 20 tahun di Korea masih dianggap sangat anak-anak. Masih kecil. Aku penasaran dan menemukan kenyataan bahwa usia harapan hidup di Korea lebih tinggi dari di Indonesia. Di Korea, usia harapan hidup adalah 81,37 tahun sementara di Indonesia hanya 70,61 tahun (2012). Selebritis Korea pun menikah kebanyakan setelah umur 35 tahun. Di samping faktor budaya pernikahan yang biayanya mahal di sana, aku pikir ini ada kaitannya juga dengan usia harapan hidup.

Menikah Itu Mudah

Dari atas pesawat, sudah kusaksikan Kota Padang. Aku ingat betul perjalananku ke Padang. Dari Padang, aku harus meneruskan perjalanan ke Talang Babungo, kampung kecil di perbukitan yang tak jauh dari Danau Kembar. Perjalananku kali pertama yang justru untuk langsung melamar kekasihku.

Aku pergi sendirian, bertemu orang tuanya. Kekasihku di kamar bersama ibunya. Aku mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niatku. Tidak kusangka, niat baik untuk membangun mahligai rumah tangga itu dimudahkan. Ayahnya menerimaku.

Tadinya ada bermacam pikiran di kepalaku. Maklum, kami berasal dari dua latar belakang yang berbeda. Aku orang Palembang, namun berdarah Jawa. Sedangkan istriku orang Minang asli.

Aku pikir pernikahan dua budaya akan sangat rumit. Ternyata tidak. Pihak perempuan memberi banyak sekali keringanan. Banyak prosesi adat yang tidak wajib ditiadakan sehingga menyisakan prosesi yang penting-pentingnya saja.

Misalnya, aku diberi “suku” Chaniago. Kalau yang ribetnya, pemberian suku ini biasanya diiringi pemberian gelar dan harus potong sapi lho.

Sebelum akad pun cuma melakukan “Malam Balatak Tando”. Sebuah proses yang seru karena seolah beradu pantun khas Minang antara pihak keluarga laki-laki dan perempuan.

Proses resepsi pun sederhana. Diadakan di rumah mempelai perempuan tanpa ada kewajiban tertentu. Oh yang unik mungkin adalah proses setelah akad. Kami berjalan keliling kampung menggunakan pakaian adat. Yang kasihan ya istriku, karena suntiang (yang dipakai di kepala) itu berat banget lho.

Pertimbangan Utama Menikah Muda

Selain memang sudah berpacaran lebih dari 3 tahun, aku memikirkan kapabilitas untuk bisa menemani anak-anakku kelak. Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa kalau menikah di usia yang relatif muda, kita bisa lebih memiliki kemampuan untuk menopang kebutuhan sang anak.

Tips Menikah Muda(h)

Tips menikah muda

Pertama, kamu sudah punya pasangan yang saling mencintai. Kalian berdua sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai rumah tangga seperti apa yang hendak kalian bangun.

Kedua, jangan nekad. Sebagai lelaki, setidaknya kamu sudah punya penghasilan tetap. Dan kamu terbuka ke pasanganmu, berapa penghasilanmu, dan sudah sepakat bagaimana hidup bersama dengan itu.

Ketiga, belajar ilmu pernikahan, mulai dari mengelola rumah tangga hingga parenting.

Keempat, dekatlah dengan orang tua. Jangan jadikan pernikahan sebagai pelarian dari orang tua. Justru pernikahan harusnya mendekatkan kita.

Kelima, selenggarakan acara pernikahan semampunya. Nggak perlu maksa harus resepsi yang kayak gimana. Yang penting akad, sudah sah sebetulnya. Usahakan berikan mas kawin yang bernilai.

Bila Tak Punya Space yang Cukup Buat Resepsi di Rumah

Biasanya, persoalan pengen resepsi di gedung itu terjadi di kota besar. Bukan soal gaya, melainkan karena lahan yang sempit dan terbatas di rumah plus efek kemacetan komplek yang bisa timbul, membuat pasangan muda di kota besar lebih memilih menyelenggarakan resepsi di gedung.

Beberapa waktu yang lalu, Jakarta Event Enterprise (JEE) menyelenggarakan Bekasi Wedding Exhibition (BWE) di Grand Galaxy Convention Hall. Sebelumnya, BWE sendiri sudah menyelenggarakan  6 (enam) kali  event secara rutin dan merupakan wadah terbesar dan terbaik bagi lebih dari 60 vendor profesional se-Jabodetabek dalam memberikan penawaran terbaik sesuai kebutuhan calon pengantin, koleksi-koleksi terbaru, serta ide-ide pernikahan untuk membantu masyarakat Bekasi dan sekitarnya.

Buat yang belum tahu, gedung  pernikahan di Bekasi yang paling besar ya Grand Galaxy Convention Hall ini yang bisa menampung hingga 2500 orang. Buat kamu yang punya uang dan nggak mau ribet, cukup serahkan  ke Grand Galaxy Convention Hall karena memiliki paket all in one untuk para pengantin.

Tema 7th Bekasi Wedding Exhibition kali ini unik lho. “Industrial Wedding”. Apa itu?


Tema industrial banyak digunakan sebagai salah satu desain kafe ataupun restoran, namun konsep yang kental dengan dekorasi kayu yang terkesan ‘vintage’ juga hiasan bohlam yang digantung di langit-langit ruangan yang dikombinasi dengan unsur tembaga, akrilik, emas ataupun metal.


Instagramable banget ‘kan?

Kalau sudah tahu menikah itu ibadah, menikah itu juga mudah, tunggu apalagi, kenapa harus menunda-nunda pernikahanmu?

SanDisk Dual Drive Senjata Andalanku

“DSLR sudah habis. Sekarang, kamera tinggal mirrorless dan kamera ponsel. Sekarang, coba apa yang tidak bisa dilakukan kamera ponsel yang semakin lama semakin canggih. Bila pun ada pembedanya, paling hanya cara ponsel membaca objek berdasarkan gerak yang berbeda. Tapi di situlah juga letak keunikan kamera ponsel yang bisa kita eksplorasi,” ujar Arbain Rambey malam itu.

Kusimak baik-baik petuah dari fotografer jagoan Kompas itu. Pengalaman-pengalamannya yang luar biasa dahsyat membuatku percaya diri untuk lebih serius memfoto menggunakan ponsel. Selama ini, aku merasa kamera ponsel enak dipakai hanya karena kepraktisannya. Tapi ada banyak hikmah lain yang bisa kita dapat dengan kamera ponsel.

Jembatan Merah Menganti
Hasil foto menggunakan ponsel

Namun sayangnya, ponsel memiliki ruang memori yang terbatas.  Seperti saat aku ke Bali bersama Danone Blogger Academy minggu lalu, tiba-tiba ada peringatan memori ponselku sudah hampir penuh. Terpaksa aku membuka galeri, dan mencari file yang bisa dihapus terlebih dahulu. Padahal kan dibuang sayang.

Ribet ‘kan?

Pengalaman Menggunakan Memori Eksternal

Sebagai penulis dan traveler, selama ini, aku memakai mayoritas memori ponselku untuk foto dan dokumen. Dengan mobilitas yang tinggi, aku juga membutuhkan pemindahan data dari ponsel secara tepat agar selain data itu cepat bisa digunakan, ponselku juga kembali memiliki ruang penyimpanan.

Bicara kapasitas memori, aku jadi teringat flashdisk pertamaku. Warnanya hitam. Kapasitasnya hanya 32 Mb. Beberapa bulan setelahnya, aku memiliki MP3 Player yang juga bisa menjadi tempat penyimpan data. Warnanya merah. Kapasitasnya 256 Mb. Virus paling viral saat itu adalah Brontox.

Kenangan itu adalah bagian dari tahun-tahunku ketika berkuliah di ITB pada tahun 2005. Tak banyak yang bisa kuceritakan selain bahwa kuliahku tak selesai. Hanya sampai 2007. Aku pergi dari Bandung sebagai orang kalah. Naik bis Pahala Kencana, menyeberangi Selat Sunda. Di atas kapal, aku duduk di geladak sambil memandangi bulan yang sendiri sampai lampu-lampu di Bakauheni terlihat. Saat kembali ke bis, aku baru menyadari dompetku lenyap. Bukan soal uangnya yang hanya satu lembar lima puluh ribuan, melainkan kartu mahasiswaku sebagai salah satu sisa kenangan pernah jadi mahasiswa ITB itu yang kusayangkan. Aku pun menempuh sisa perjalanan kekalahan itu dengan selembar uang 10 ribu yang kusimpan hati-hati untuk naik ojek dari terminal ke rumah, dan terpaksa tak makan dan minum selama itu.

Deritaku bertambah. Tak lama setelah menjadi orang kalah, komputer yang menyimpan semua kenangan (materi kuliah, foto, dan data lain) dari semua perkuliahanku meledak. Karena sudah berangkat ke tempat kuliahku yang baru, aku menyesalkan keputusan kakakku yang membawanya ke tempat reparasi dan menerima saja perkataan bahwa semua hal di komputer itu tidak bisa diselamatkan. Kenanganku di komputer itu pun lenyap. Sedih rasanya tak punya lagi foto-foto selama di Bandung, terutama foto dengan teman-teman kuliah (selagi aku masih langsing).

Seandainya saat itu aku memiliki banyak media penyimpanan data yang lebih besar dan lebih aman….

Waktu berlalu sedemikian cepat. Kini, keadaan berubah. Tak pernah kubayangkan bahwa hari ini ada flashdisk dengan kapasitas bergiga-giga byte. Dulu, ukuran giga byte itu untuk harddisk eksternal. Sekarang, HD eksternal malah ber-terabyte. Ponsel yang kugunakan sekarang bahkan berkapasitas 64 GB. Namun, itu tidak cukup.

SANDISK YANG MEMBACA ZAMAN

Koleksi SanDisk di meja kantorku.
SanDISK APAC di meja kantorku. Dokumentasi pribadi.

Sandisk memiliki solusi untuk penyimpanan data tersebut. Sandisk melahirkan berbagai produk seperti microSD Card yang diintegrasikan ke slot di ponsel. Sedikit repot memang kalau kita hendak memindahkan data dari ponsel ke komputer misalnya, karena harus mengeluarkan microSD Card tersebut dari ponsel dan tidak semua laptop punya slotnya.

Untuk mengatasi itu, Sandisk juga mengeluarkan Micro USB Dual Drive yang didesain untuk pengguna android. Dengan mudah kita bisa memindahkan data di ponsel ke komputer tanpa harus memakai kabel data. Untuk pengguna iPhone juga ada yakni iXPand Flash Drive.

Untuk klasifikasi mobile flashdrive untuk pengguna Android  dibedakan menjadi 3, yaitu SanDisk Ultra Dual Drive USB Type C, Sandisk Ulta Dual USB Drive 3.0, dan Sandisk Ultra Dual Drive m3.0. Apa bedanya? Dari kapasitas, sama saja. Maksimal berkapasitas 256 GB. Paling rendah 16 GB. Tentu kapasitas ini juga harus  disesuaikan dengan kualitas ponsel. Kemampuan transfernya pun sama yakni hingga 150 MB/detik. Hanya konektor dan teknologi saja yang membedakannya.

Sumber: Materi Presentasi.

Untuk kualitas ponsel android menengah ke bawah, produk keren dari Sandisk APAC adalah Dual Drive DD1. Kapasitas tertingginya 128 GB. Produk ini didesain ringan dan ramping sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Untuk ponsel berkualitas tinggi, bisa menggunakan Dual Drive DD2/DD3.

Kemampuan memindahkan data dengan cepat yang dimiliki Sandisk ini sangat membantuku yang memiliki hobi traveling. Aku sendiri punya SANDISK ULTRA DUAL DRIVE M.30 yang berkapasitas 128 GB. SanDisk yang ini disebut juga USB OTG SanDisk memiliki konektor micro-USB di satu sisi, dan konektor USB 3.0 di sisi yang lain. Drive ini memungkinkan kita dengan mudah memindahkan konten lintas perangkat. Konektor USB 3.0 memiliki performa tinggi dan di sisi sebaliknya kompatibel dengan port USB 2.0.


OTG itu maksudnya On the Go. Jadi, fitur ini tuh punya banyak manfaat mulai dari melakukan pembacaan dan penulisan data seperti flashdisk, card-reader, isi MP3 Player/smartphone lain (merk tertentu dengan modus mass storage) serta pembacaan/pengenalan HID (Human Interface Devices) seperti mouse, keyboard, serta gamepad.


Aku sih yakin kamu juga pernah mengalami momen menyebalkan seperti manakala sedang asik-asiknya mengambil gambar, merekam video, lalu ada notifikasi kalau memorimu sudah penuh seperti yang kualami itu. Bisa juga kadang, kita punya teman yang punya ponsel dengan kamera yang lebih aduhai, yang jelas menghasilkan gambar yang lebih bagus, terus kita minta gambarnya, tapi dia bilang nanti… dan waktu berlalu, foto tidak dikirim-kirim juga. Atau dikirim melalui Whatsapp, dan gambarnya pecah?

Dengan Sandisk  Dual Drive yang kumiliki saat ini, 128 GB pula, hal tersebut bisa teratasi dengan lebih praktis dan cepat. Tinggal colok, lalu pindahkan. Asik, bukan? Nah, kamu sudah punya belum?

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba  Sandisk Blog Competition
#DibuangSayang #SanDiskAPAC #USBOTGSANDISK

Sebuah Catatan dari Bincang Dua Buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” dan “Kita Dua Kurva Saling Terbuka”

Minggu (8/9), akhirnya terselenggara bincang dua buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” karya Pringadi Abdi Surya  dan “Kita Dua Kurva Saling Terbuka” karya Nugroho Putu. Dimoderatori oleh Bamby Cahyadi, perbincangan berlangsung hangat. Dari diskusi yang hangat itulah, aku menulis sebuah catatan kecil dari beberapa hal baru yang kudapatkan di sana.

Acara ini sempat berubah-ubah karena awalnya tanggal 31 Agustus 2019, bincang dua buku ini direncanakan di Chicking, Plasa Kalibata. Kemudian karena aku tugas di Danone Blogger Academy, acara mundur menjadi tanggal 8 September sekaligus berubah tempat ke Chicking Depok, Theatre Food di Margonda.

Tentang Dua Kurva yang Saling Terbuka

Saat aku diminta memberi pendapat tentang buku “Kita Dua Kurva yang Saling Terbuka” aku mulanya membayangkan bentuk kurva yang dimaksud itu seperti apa.

Kurva dibentuk oleh  X dan Y, gabungan dari beberapa titik koordinat pada diagram kartesius. Frasa “yang saling terbuka” membuatku membayangkan dua kurva yang saling berbelakangan. Satu terbuka ke atas. Satu terbuka ke bawah.  Satu berada pada Y positif. Satu berada pada Y negatif. Dan dari bentuk tersebut, bisa kupahami makna pada satu koordinat, perjalanan sang kurva menemui titik terendahnya, di saat kurva satunya justru mengalami titik tertingginya. Ketika menjadi “kita”, ada proses saling melengkapi antara kurva A dan B, antara “kamu” dan “aku”.

Namun, konfirmasi dari Mas Putu sangat luar biasa. Latar belakang frasa itu muncul dari sebuah buku berjudul “Strategi Kebudayaan” karya Cornelis Anthonio Van Peursen.  Mas Putu kemudian menjelaskan isi buku tersebut, tentang tiga tahap kebudayaan yakni dari mitos, ontologis, dan fungsional.

Tahap mitos ialah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya. Di sini, manusia terkurung dalam lingkaran.

Tahap ontologis adalah sikap manusia yang tidak lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan secara bebas ingin meneliti segala hal ihwal, Manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dirasakan mengepung manusia. Namun, “lucunya” manusia dalam tahap ini membahas dunia seakan-akan tidak berada di dalam dunia.

Nah, Tahap fungsional ini menarik. Pada tahap ini manusia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Manusia dan dunia saling menunjukkan relasi, di mana manusia sebagai subyek (S) masih berhadapan dengan dunia (O), tetapi bukan lagi sebagai sesuatu yang bulat tertutup, melainkan subjek terbuka bagi objek dan sebaliknya.

Dua Kurva yang Saling Terbuka tersebut adalah tahaf fungsional dalam Strategi Kebudayaan tersebut. Keren ‘kan penjelasannya?

Bunyi sebagai Gerak

Kita Dua Kurva yang Saling Terbuka

Bukan Bamby Cahyadi namanya kalau tidak usil menggali pendapat. Lebih lanjut memandang puisi Nugroho Putu, aku berangkat dari kecurigaan pada latar belakang beliau. Begini, aku percaya, pengenalan awal seseorang pada sastra akan berpengaruh terhadap cara menulisnya.

Secara garis besar aku membedakannya menjadi tiga hal/kelompok. Kelompok pertama, menulis puisi dari kamar. Pendekatan yang dilakukan oleh penyair jenis pertama adalah lirisisme. Puisi mereka (termasuk saya) cenderung rapi. Manis. Ada emosi yang ditahan-tahan. Kelompok kedua, menulis puisi sebagai aktivis. Maka pendekatan penulisan yang biasanya terjadi adalah puisi yang meletup-letup, mengutamakan kalimat puitik yang menjadi sentra semacam jargon. Dan ketiga, menulis sebagai gerak. Biasanya, orang yang berteater akan mempunyai ciri khusus berupa bunyi sebagai gerak. Berbeda dengan penyair kamar yang fokus terhadap teks, penyair jenis ketiga fokus terhadap bunyi.

Bunyi sebagai gerak ini kadangkala melampaui makna leksikal, gramatikal, semantik, hingga sintaksis. Sehingga perlu memejamkan mata, mengucapkan puisi tersebut guna melahirkan efek bunyi tertentu yang bisa menghasilkan nuansa tertentu.


Kira-kira begitulah sedikit-banyak pendapatku. Saya menantikan Mas Nugroho Putu menuliskan hasil catatannya terhadap buku puisiku. Hehe.

Hari yang indah, habis makan di Chicking, makan pula ke Imperial Kitchen.

 

Mengenal Majas Sinekdoke Pars Pro Toto dan Totem Pro Parte

Majas sinekdoke pars pro toto dan totem pro parte, pernah mendengar kedua majas tersebut?  Aku yakin sekali hanya sebagian dari kita yang masih mengenal keduanya. Tentang kedua majas sinekdoke ini padahal pernah kita pelajari saat masih duduk di bangku SMP lho.

Sinekdoke adalah gaya bahasa yang menggunakan kata dengan maksud yang menunjukkan hal lain di luar kata yang diungkapkan. Sebagian orang mengatakan bahwa sinekdoke adalah majas perbandingan. Sebagian lagi bilang sinekdoke adalah majas pertautan. Sinekdoke ini terbagi menjadi 2 macam yaitu Pars Pro Toto dan Totem Pro Parte.

majas sinekdoke pars pro toto dan totem pro parte

Majas Sinekdoke Pars Pro Toto

Majas sinekdoke pars pro toto adalah majas yang menyatakan suatu objek yang utuh dengan suatu bagian dari objek itu.

Contoh majas pars pro toto yang paling umum adalah dalam kalimat, “Sejak kemarin aku tidak melihat batang hidung Zane.”

Frasa “batang hidung” merupakan majas pars pro toto. Batang hidung adalah sebuah bagian kecil dari Zane. Padahal frasa tersebut bermaksud untuk menyatakan Zane seutuhnya, tidak sebatas batang hidungnya saja.

Contoh lainnya ada frasa “seekor beruang”. Tentu bukan cuma ekornya beruang yang dimaksud, melainkan beruang seutuhnya.

Contoh majas sinekdoke pars pro toto juga dapat ditemukan dalam kalimat berikut ini:

  • Untuk dapat memasuki bioskop itu, per kepala diwajibkan membayar tiket seharga Rp10.000.
  • Warga Kendeng terpaksa angkat kaki dari tanah pemerintah yang sudah didiaminya selama puluhan tahun.
  • Kukirim sepucuk surat cinta ini untuk mengobati rasa rindu yang semakin menggebu.
  • Dari pintu ke pintu, aku mencoba menawarkan dagangan.
  • Gamelan yang dimainkan dalam acara itu berhasil memanjakan telinga pengunjung yang datang.

    Baca Juga: Diksi dalam Puisi


Majas Sinekdoke Totem Pro Parte

Majas sinekdoke totem pro parte adalah kebalikan dari majas sinekdoke pars pro toto.

Gaya bahasa totem pro parte adalah majas yang menyebutkan bagian besar dari sesuatu untuk mewakili sebagian atau menyatakan suatu bagian dari objek dengan objek lain yang lebih luas maknanya.

Contoh majas totem pro parte yang paling sering digunakan misalnya, “Indonesia baru saja kalah dari Malaysia dengan skor 2-3.”

Tentu saja maksud kalimat di atas adalah berhubungan dengan tim nasional sepakbola Indonesia yang kalah bertanding melawan tim nasional sepakbola Malaysia. Bukan menyatakan negara Indonesia secara keseluruhan melawan negara Malaysia.

Selain pada kalimat di atas, contoh majas sinekdoke totem pro parte juga bisa dilihat di dalam kalimat berikut:

  • Menjelang musim hujan, warga RT 01 sedang mengadakan kerja bakti membersihkan selokan.
  • SMA N 1 Sragi, Lampung Selatan berhasil menyabet juara 1 di semua lomba dalam acara peringatan 17 Agustus ini.
  • Penelitian-penelitian yang dilakukannya menjadi masukan bagi perkembangan teknologi Indonesia masa kini.
  • Liverpool mencetak gol kemenangannya pada menit ke 90.
  • Polri berhasil meringkus kawanan  begal yang sering beraksi di daerah Palembang.
  • DPR berusaha melemahkan KPK.

Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Makna leksikal dan makna gramatikal itu apa? Bedanya bagaimana?

Beberapa hari lalu ada yang bertanya seperti itu di salah satu WAG Menulis.  Dalam tulisan Diksi dalam Puisi, aku sempat mengutip bahwa sebelum menentukan pilihan kata, seorang pengarang harus memerhatikan masalah makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Dan  menurut (Chaer, 1994:60), terbagi atas beberapa kelompok yaitu, salah satunya yaitu Makna Leksikal dan Makna Gramatikal.

Makna Leksikal

Sederhananya, makna leksikal adalah makna kamus. Makna ini bersifat tetap. Tidak berubah.



Ribetnya begini:

Leksikal adalah makna yang bersifat leksikon, yang sesuai dengan referennya, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Makna leksikal merupakan gambaran nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata tersebut. Sebuah kata yang memiliki makna leksikal sudah jelas bahwa tanpa konteks pun memiliki referen atau makna langsung (Chaer, 2013: 59).

Tidak susah memahami makna leksikal ini. Contohnya kata “Mata”. Artinya ya, “indra untuk melihat”. Fix begitu.

Makna Gramatikal

Nah, kalau makna leksikal tadi tetap, tidak berubah, lain halnya dengan makna gramatikal. Makna gramatikal adalah makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks tata bahasa. Kata tersebut sudah mengalami proses gramatikalisasi, baik pengimbuhan, pengulangan, atau pun pemajemukan

Ribetnya begini:

Makna gramatikal ialah makna yang timbul akibat peristiwa tata bahasa, yaitu proses melekatnya bentuk kata (morfem) yang satu dengan bentuk yang lain. Bentuk (morfem) / ber / , / me-l / secara lepas atau berdiri sendiri belum memiliki makna. Morfem tersebut memiliki makna setelah bergabung dengan bentuk lain, peristiwa ini disebut proses morfologi.

Contohnya:
Bermata               : memiliki mata
Memata-matai : mengamati secara diam-diam
Continue reading Makna Leksikal dan Makna Gramatikal