Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Pikiran Pringadi

Kue Khas Sumbawa

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Kue Khas Sumbawa

Selama berada di Sumbawa, aku sempat mencicip beberapa jenis kue yang nikmat sekali. Uniknya, rata-rata tiap kue memiliki cerita tersendiri. Bukan hanya pengalaman rasa yang kudapat, melainkan juga pengalaman kearifan lokal budaya setempat yang tersemat pada kue-kue tersebut.

Janda Berenang

Janda Berenang terbuat dari Tepung Maizena dan Kacang Hijau dengan bahan pewarna tambahan warna pink (merah muda) dan dibungkus dengan daun pisang. Rasanya lembut dan nikmat.

Penamaan kue ini ada ceritanya. Pada zaman dahulu, ada seorang janda yang sedang membuat kue ini. Ketika membikin kue, si janda itu pergi (berenang berarti pergi) dari rumah dan tak kembali. Tapi, ada juga yang bilang kalau berenang itu artinya berhenti, Jadi kue ini berarti  dibuat sebelum si janda berhenti menjanda/ siap menikah lagi.

Batu Kumung

Batu Kumung biasa muncul ketika bulan Ramadhan. Kue ini berbahan dasar Telur ayam, Tepung beras, gelas Minyak goreng, Air, Gula pasir, dan Garam.

Cara membuatnya kocok telur hingga mengembang. Masukkan tepung dan garam, kemudian aduk hingga rata. Bentuk dengan sendo bundar + sebesar kelepon. Goreng dengan minyak yang panasnya sedang hingga berwarna kuning. Rebuslah gula dan air hingga kental sekali. Masukkan kue yang sudah digoreng ke dalam rebusan gula, biarkan sampai air gula meresap. Hidangkan dan kue siap dinikmati.

 

Bolu Ber’ai

Bolu ber’ai atau biasa disebut bolu yang memiliki kadar air. Kadar air tersebut bukanlah air putih, melainkan bolu yang direndam dengan mengunakan air gula. Hal itulah yang menjadikan tepung bolu bera’i Sumbawa berbeda dengan bolu pada umumnya.

Kue Mento

Kue mento adalah salah satu kue tradisional yang terbuat dari tepung terigu yang dibuat dadar dan diisi dengan daging cincang. Setelah dilipat seperti risoles kemudian disiram dengan santan kental dan dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Rasanya gurih i, cocoll untuk melengkap kue-kue manis yang lain.

Babinka

Kue Babinka adalah salah satu kue khas dari Sumbawa. Penganan ini dibuat dari tepung ketan dan ditambah bahan-bahan lainnya. Berikut cara membuatnya.

Bahan-bahan : 250 gram tepung ketan 250 ml santan dari 1/2 butir kelapa 100 gram kelapa muda, parut kasar 100 gram gula merah, disisir halus 25 gram gula pasir 2 sendok minyak goreng untuk mengoles loyang

Cara Membuat: 1. Semua bahan diaduk, uleni sampai lembut. 2. Siapkan loyang berukuran 20×20 cm, olesi dengan minyak goreng lalu alasi dengan kertas minyak. 3. Tuang adonan ke dalam loyang, panggang selama 30 menit. Dinginkan, potong-potong. Sajikan.

Manjareal

Jajanan asli Sumbawa ini berbahan dasar kacang tanah yang diberi bumbu, dan dibungkus dengan daun lontar. Aromanya harum dan unik. Enak banget dinikmati sambil minum teh atau kopi panas.

Saat dimakan, teksturnya terasa padat beremah, meleleh di mulut, seperti memakan gula donat. Rasanya manis dengan aroma kacang yang lamat-lamat. Sebabnya, kacang tanah yang sudah dibersihkan dari kulit arinya, direbus, lalu diblender hingga halus. Kemudian, kacang dimasak bersama gula hingga kalis, lalu diaduk rata dengan tepung beras atau tepung sagu. Adonan kemudian dicetak dan dijemur sampai kering.

Bika Jawa Pona 

Kue ini hampir sama dengan bika ambon, sama-sama berwarna kuning, namun warna ini diperoleh dari labu kuning halus juga merupakan salah satu bahan utamanya. Tekstur bantat namun citarasanya manis dan gurih.

 

Sebenarnya masih banyak kue khas Sumbawa yang lain yang belum pernah kucicipi. Semoga saja bisa main ke Sumbawa lagi deh buat mencicipi kue-kue khas sana. Lebih-lebih bulan Ramadhan. Sebab saat Ramadhan itulah segala jenis kue keluar. 😀

A Few Don’ts by an Imagiste, Ezra Pound

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Beberapa Hal yang Tak Boleh Dilakukan oleh Imajis

diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Sebuah imaji menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam waktu yang singkat. Kompleksitas ini menyangkut perasaan kebebasan yang hadir seketika, lepas dari batas ruang dan waktu, terasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam dada, yang umum kita alami ketika menyaksikan karya seni yang agung.

Bagi seorang imajis, lebih baik menyajikan satu imaji dalam seumur hidup ketimbang menciptakan beberapa karya lain.

Tulisan ini tentu bisa didebat. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh para pemula untuk menciptakan baris-baris puisi, terutama ketika hendak menjadi seorang imajis.

Mari kita mulai dengan tiga aturan yang dicatat Mr. Flint, jangan jadi dogma (jangan pernah mempertimbangkan segala sesuatu sebagai dogma), tetapi hasil dari perenungan panjang, atau mungkin perenungan orang lain yang layak dipertimbangkan. Jangan kasih perhatian kritik dari mereka yang nggak pernah menulis karya yang diakui. Pertimbangkan ketidaksesuaian di antara tulisan aktual dari penyair dan dramasis Yunani, dan teori para ahli bahasa Yunani-Roma (Graeco-Roman),  yang disusun untuk menjelasankan ukuran mereka.

Bahasa

Jangan gunakan kata-kata yang berlebihan, tak boleh ada kata sifat, yang intinya, jangan terlalu mengungkapkan sesuatu.

Jangan gunakan ekspresi seperti “dim lands of peace” atau ” tanah muram perdamaian“. Hal itu memperburuk imaji. Sama saja kita mencampurkan yang abstrak dengan yang konkrit. Hal seperti itu datang dari penulis yang tidak menyadari objek alami selalu menjadi simbol yang cukup kuat.

Dobrak ketakutanmu pada abstraksi. Jangan menuliskan baris-baris medioker yang sudah digolongkan ke dalam prosa yang baik. Jangan berpikir orang-orang cerdas tidak akan menyadari ketika kau mencoba menhindari semua kesulitan tak terperanai saat menuliskan seni ini dengan cara memenggal komposisi kalimat dalam prosamu menjadi baris-baris puisi.

Hal yang membuat para ekspertis lelah hari ini akan membuat masyarakat lelah juga di kemudian hari.

Jangan bayangkan kalau seni menulis puisi itu lebih mudah dari seni musik, atau mengira kamu bisa membuat para ahli kagum sebelum kamu mengerahkan kemampuanmu dalam seni penulisan setidaknya seperti kebanyakan guru les piano mengerahkan kemampuannya dalam seni musik.

Belajarlah dari banyak seniman sebanyak kamu bisa, tetapi milikilah sebuah respek baik itu untuk mengakui kehebatan mereka, atau untuk mencoba tak terpengaruh oleh mereka.

Jangan biarkan pengaruh itu malah membuatmu hanya “mencuri” frase-frase tertentu dari satu-dua puisi yang kamu kagumi. Kalau tak salah pernah ada wartawan Turki yang tertangkap mencuri frase-frase dari penyair. Lupa-lupa ingat sih.

Hindari penggunaan hiasan, meskipun hiasan itu bagus.

Ritme dan Rima

Berikan kesempatan kepadanya, irama terbaik yang bisa ia temukan, lebih baik lagi dalam bahasa asing sehingga makna kata-kata tidak akan terlalu mengalihkan perhatiannya terhadap irama, misal Saxon Charms, Hebridean Folk Songs, sajak-sajak Dante, lirik Shakespeare—jika ia mampu memisahkan irama dari semantiknya. Biarkan ia mencacah-cacah dingin lirik Goethe hingga ke komponen suara terkecilnya, panjang pendek suku katanya, tekanannya, bahkan susunan vokal dan konsonannya.

Sebenarnya tidak butuh juga kita mengatakan kalau puisi harus bergantung pada musikalitasnya, tetapi jika bisa dibunyikan, memiliki musikalitas itu, tentu hal itu akan membuat para ahli takjub.

Coba kita pahami dulu asonansi dan aliterasi, rima langsung atau tertunda, yang sederhana atau poliponik, layaknya seorang musisi yang berharap mengenali harmoni dan detail karyanya. Tak ada waktu yang percuma bila dikerahkan dalam wilayah itu, bahkan ketika para seniman jarang membutuhkan hal itu.

Jangan bayangkan suatu hal akan baik-baik saja dalam sebuah baris hanya karena hal itu buruk jika dimasukkan ke dalam prosa.

Jangan jadi tukang fatwa, itu tugasnya para penulis di bidang filsafat. Jangan menjadi deskriptif, ingatlah bahwa para pelukis dapat menggambarkan pemandangan lebih baik dari yang kamu bisa, dan bahwa dialah yang lebih tahu akan semua itu.

Ketika Shakespeare berkata “Dawn in russet mantle clad”/fajar bertudung mantel coklat, dia menyajikan sesuatu yang tak dapat disajikan pelukis. Di sanalah, di baris tersebut, dia tidak mendeksripsikan sesuatu dengan normal, dia menyajikan atau menghadirkan sesuatu yang tak normal tersebut.

Pertimbangkanlah cara yang dilakukan ilmuwan ketimbang cara agen marketing dari produk sabun baru.

Ilmuwan tidak mengharapkan untuk diakui sebagai ilmuwan hebat sempai dia menemukan sesuatu. Dia memulainya dengan mempelajari hal-hal yang sudah ditemukan. Lalu dia berangkat dari sana. Ia sama sekali tak menyimpan keinginan dikenali sebagai seorang ternama. Ia tidak berharap koleganya bertepuk tangan atas hasil kerjanya sebagai pemula. Sayangnya, para pemula dalam puisi tidak menempatkan diri dan karyanya pada lingkungan yang tepat dan terpercaya. Mereka memamerkan karya mereka di etalase. Tidakkah ini alasan masyarakat menilai puisi tak ada bedanya dengan yang lain?

Jangan memotong kerjamu menjadi iambik yang terpisah. Jangan jadikan tiap baris berhenti di akhir, dan memulai baris berikutnya dengan susah payah. Biarkan permulaan tiap baris berikutnya berpaut dengan irama di akhir baris sebelumnya, kecuali memang iramamu membutuhkan jeda yang panjang.

Pendek kata, bertindaklah sebagai musisi, musisi yang cerdas tentunya, ketika mengerjakan bagian-bagian dari karyamu yang berkait erat dengan musikalitas. Aturan-aturan mereka berlaku juga untukmu, meski kau tidak mesti terkurung di dalamnya.

Secara alami, struktur irama tidak meruntuhkan bangunan kata-katamu, suara murni dari kata-kata itu, atau, tentu saja, makna yang diusung kata-kata itu. Mustahil, pada dasarnya, bagimu untuk menciptakan struktur irama yang cukup kuat dan memesona bila kau hanya korban dari segala kekeliruan dalam meletakkan pemberhentian baris dan jeda.

Vide further Vildrac and Duhamel’s notes on rhyme in “Technique Poetique.”

Musisi dapat mengandalkan tinggi rendah nada dan volume suara. Penyair tidak bisa. Istilah harmoni berbeda dalam puisi; dalam musik, ia merujuk pada keterpaduan suara dalam nada-nada yang berbeda. Bagaimanapun juga, dalam sajak-sajak yang baik, terdapat semacam dengungan dari tiap kata yang tersisa di telinga seperti nada dasar. Rima mesti mempunyai elemen kejutan agar bisa dinikmati; tidak perlu yang beraneh-aneh atau berlebihan, tetapi cukup, selama tepat fungsinya.

Bisa dilihat lebih jauh dalam catatan Vildrac dan Duhamel tentang Rima, dalam Technique Poetique.

Rima itulah yang akan mengejutkan imajinasi di benak pembaca, dan akan menjadi khusus, tidak bisa dierjemahkan, karena hanya akan membuai telinga jika dibaca dalam bahasa aslinya. Coba deh pertimbangkan cara Dante, jika dibandingkan dengan retorikanya Milton. Juga banyak baca karya-karya Wordsworth sebagai perbandingan biar tidak terasa hambar.

Bila ingin menggali lebih dalam lagi, baca juga Sappho, Catullus, Villon, Heine ketika ia marah-marah, Gautier ketika ia tidak kaku; atau bila itu semua membuatmu kesulitan, membaca Chaucer yang ringan akan menyenangkan. Prosa yang baik tidak akan mencelakakanmu, dan tentu akan berguna bagimu bila kau melatih diri dengan menulisnya.

Menerjemahkan juga latihan yang baik, terlebih bila kau menemukan karyamu sendiri “compang-camping setiap kali kau mencoba menulisnya kembali. Makna puisi yang diterjemahkan mesti tetap, tidak bolehcompang-comping.”

Jika kau menulis dalam bentuk simetris, jangan hanya menuliskan apa yang hendak kau tulis lalu menyempurnakan bentuk dengan serampangan.

Jangan mengacaukan suatu persepsi dengan mencoba menuliskannya dengan cara lain. Hal tersebut biasanya hasil dari kemalasan untuk menemukan pilihan kata yang pas. Meski ada pengecualiannya.

Tiga larangan sederhana di awal sebenarnya akan langsung menyingkirkan sembilan dari sepuluh puisi buruk yang dianggap bagus selama ini; dan akan menghindarkanmu dari kejahatan dalam menulis puisi. “…mais d’abord il faut etre un poète—tetapi sebelumnya, mesti menjadi penyair,” sebagaimana yang dikatakan MM. Duhamel dan Vildrac dalam akhir buku kecilnya, Notes sur la Technique Poetique; meski besar kemungkinan di Amerika, seseorang akan menelannya mentah-mentah, kalau tidak, mana mungkin mereka hidup di negeri menyebalkan itu!

 

Teks asli:

https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/articles/58900/a-few-donts-by-an-imagiste

Kebijakan Tol yang Melanggar UU Mata Uang

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Kebijakan Tol yang Melanggar UU Mata Uang

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Mata sudah berjuang melawan kantuk. Setelah berulang kali gagal memesan taksi online karena alasan ada banyak razia (nanti akan ditulis dalam topik tersendiri), aku pun memutuskan naik taksi biasa menuju rumah.

Sengaja tak naik Damri ke Depok karena batre hape sudah sekarat. Dari Depok ke rumah, aku harus menempuh jarak 14 km lagi. Tidak bisa pesan taksi online. Tidak berani menunggu taksi biasa malam-malam di Margonda.

Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Sang sopir bertanya, “Apakah Bapak punya kartu tol?” Saya jawab tidak punya. Saya baru tahu kalau semua gerbang tol mengharuskan pemakaian uang elektronik yang sudah terintegrasi dengan sistem. E-tol, Mandiri, Brizi, semacam itu.

Batin saya terusik. Gelisah. Struktur berpikir saya yang terbiasa dengan metodologi ilmiah tergelitik. Pemaksaan penggunaan uang elektronik dengan menihilkan peran uang tunai adalah suatu bentuk pelanggaran kedaultan rakyat, pelanggaran terhadap undang-undang.

Nyatanya, UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang masih berlaku. Uang kertas tetaplah mata uang yang boleh dipakai di republik ini. E-toll dan kawan-kawan boleh dioperasikan, tetapi pihak tol harus tetap menyediakan gerbang tunai, menerima uang tunai.

Kemudian, jalan tol bukanlah barang privat.   Ia barang semi publik. Ada juga yang menyebutnya barang publik congestible yang berhubungan dengan sifat konsumsi barang publik yang nonrival jika penggunaannya wajar tetapi menjadi tidak lancar dalam penggunaan yang berlebihan. Artinya, punya swasta yang boleh arogan saja masih menerima uang tunai,  apalagi kalau barang semi publik yang sifat kerjasamanya PPP (Public Private Partnership).

Motif Uang Elektronik Sesungguhnya

Seorang teman pernah menulis tentang cashless society dengan contoh Swedia yang penggunaan uang tunainya hanya 2%. Argumennya bisa diterima. Ada banyak kemudahan dalam penggunaan uang elektronik sebenarnya.

Dalam konteks tol, benarkah penggunaan e-toll murni untuk mengurangi kemacetan? Saya pikir tidak.

Taksi yang saya tumpangi tiba-tiba melambat. Ada kemacetan menuju gerbang tol kedua. Jaraknya masih lebih dari 500 m di depan. Sudah operasikan e-toll saja. Tapi masih macet. Kenapa?

Menurut sopir, gerbang tol tersebut perlu dikaji keberadaannya. Pertama, jarak dari gerbang tol pertama terlalu dekat. Kedua, jarak dari pertemuan dengan dua jalur pun terlalu dekat. Seharusnya, tidak perlu ada gerbang tol itu.

Ilustrasi ini untuk menggambarkan bahwa ketidaktepatan dalam perencanaan tata jalan adalah salah satu penyebab kemacetan. Masih ingat dengan tragedi Brexit kan?

Yang kedua adalah mobil. Namanya macet ya karena terlalu banyak mobil. Maka, mobil yang harus dikurangi. Tapi siapa yang berani melawan arus geng otomotif di republik ini? Pertumbuhan mobil yang terlalu banyak, yang ngutang sebagian besarnya, malah diamini sebagai bentuk pertumbuhan ekonomi.

Satu-satunya motif yang masuk akal bagiku adalah profit. Gencarnya penggunaan uang elektronik ini dengan manajemen kas yang baik, akan mendatangkan profit. Treasury agent akan mudah memperkirakan idle cash harian untuk investasi jangka pendek.

Tak heran sekarang para pemain besar datang ke Indonesia untuk mengembangkan bisnis uang elektronik ini. Gojek bahkan menjadi terbesar keempat dan membuat seorang taipan menanamkan uangnya besar-besaran.

Ironi Uang Tunai, Ironi Inovasi

Keberadaan uang tunai pun adalah sebuah ironi. Uang tunai yang kita pegang sekarang sebenarnya punya sejarah panjang yang ironis. Tak ada lagi penjaminnya selain hanya kepercayaan terhadap pemerintah.

Waktu berlalu, teknologi berkembang. Kita punya kartu ATM, bisa ambil uang tunai di mana-mana, bisa jadi kartu debit untuk transaksi. Tapi lalu ada uang elektronik?

Apa coba kelebihan dari uang elektronik ini selain kita ga perlu jadi nasabah bank tersebut? Nggak ada. Yang dilakukan seharusnya adalah perluasan fungsi kartu debit, baik dari penggunaannya, kemudahannya, maupun keamanannya. Kartu ATM bisa dipakai buat e-toll dll dengan jaminan keamanan mumpuni. Dengan begitu, kita nggak perlu repot-repot punya banyak kartu.

Ironis kan? Setelah kalah gengsi dengan kartu kredit (kartu utang) yang banyak diberi fasilitas diskon dan kemudahan untuk memilikinya, kini kartu ATM juga kalah gengsi dengan kartu-kartu uang elektronik, yang kalau hilang…. gimana coba cara klaimnya, kalau nggak lebih ribet dari mau bikin SIM ke Polisi?

Wajah Muram Kepulauan Riau

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Bila bisa menangis, mungkin Kepulauan Riau tengah menangis saat ini. Pembangunan yang seyogyanya terus berlangsung malah menerima kabar duka. Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau menjadi yang terburuk di Sumatra dan nomor dua terburuk secara nasional. Nilai 1,52% tentu jauh di bawah 5,01% nilai nasional.

Apa artinya angka pertumbuhan ekonomi 1,52% (c-to-c) bagi masyarakat?

Secara sederhana, pertumbuhan ekonomi bisa dipandang sebagai kemampuan faktor-faktor produksi milik warga (domestik maupun asing) di wilayah tersebut untuk memproduksi barang dan jasa. Misalnya, Kepri lekat dengan budaya minum kopi. Kita bisa melihat situasi warung kopi di Kepri untuk meraba pertumbuhan ekonomi. Apakah jumlah warung kopi meningkat ataukah banyak warung kopi yang tutup? Apakah jumlah penjualan gelas kopinya meningkat ataukah justru menurun?

Kepulauan Riau terdiri tujuh Kota/Kabupaten. Ada Batam, Tanjung Pinang, Bintan, Anambas, Lingga, Natuna dan Karimun.

Tiap wilayah tentunya memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dari sektor yang memiliki kontribusi terhadap perekonomian. Batam adalah kota industri, sedangkan Anambas dan Natuna adalah wilayah migas. Tanjung Pinang dijadikan kota administratif, pusat pemerintahan, sedangkan Lingga bisa jadi kuat di sektor makanan pokok.

Kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kepri secara sektoral ada di sektor industri. Porsinya mencapai 36,62% terhadap PDRB Kepri. Sektor terbesar kedua adalah sektor konstruksi dengan porsi 17,70%. Sektor terbesar ketiga adalah sektor pertambangan dengan porsi 14,36%.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Kepri terjadi karena adanya penurunan pada sektor tersebut. Penurunan terjadi terutama pada sektor pertambangan dan sektor industri. Sektor pertambangan turun -4,32%, sedangkan sektor industri turun -0,44%.

Dari sisi pendekatan pengeluaran, tiga komponen terbesar pembentuk PDRB Kepri adalah Investasi (PMTB), Konsumsi RT, dan disusul oleh Net Ekspor yang masing-masing berporsi 42,47%, 40,01%, dan 14,78%. Porsi ini berbeda dengan porsi nasional yang didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan kebergantungan Kepri pada investasi sehingga kebijakan pemerintah diarahkan sebaiknya pro investasi.

Data-data di atas menunjukkan hal lain, yakni dominasi Batam pada pertumbuhan Kepulauan Riau. Kalau Batam lesu, Kepri akan ikut lesu. Implikasinya adalah pemerintah daerah harus menjaga agar Batam tidak lesu, atau melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Batam. Caranya bisa dengan menumbuhkan potensi perekonomian yang lain atau mendistribusikan sektor industri ke daerah lain dengan cara pembangunan infrastruktur yang terintegrasi.

Bicara investasi (PMTB) bukan berarti hanya kontribusi swasta di dalamnya, melainkan juga peran belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah. Tahun 2017, 54,91% alokasi infrastruktur berada di Batam. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah cenderung menjaga agar Batam tidak lesu ketimbang melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Batam.

Pemilihan infrastruktur yang tepat sebenarnya bisa menjadi solusi penggerak pertumbuhan ekonomi. Misalnya, pembangunan jembatan antara Batam ke pulau Bintan harus segera direalisasikan, dengan catatan memang ada kajian yang bisa dipertanggungjawabkan. Metode yang sering digunakan untuk menghitung manfaat dari pembangunan infrastruktur adalah capital budgeting dengan cost benefit analysis.

Yang bisa dilakukan Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagai representasi Kementerian Keuangan di daerah adalah mendorong satuan kerja untuk segera merealisasikan belanja modalnya, terutama jika ada infrastruktur strategis seperti jalan dan jembatan. Kelambatan dalam melakukan realisasi belanja modal ini tidak akan memberikan sumbangsih pada perekonomian tahun berjalan.

Masalah Batam juga perlu dicari solusinya. Jangan-jangan trigger-nya bukan dari sisi spending/ belanja. Isu-isu lain yang tengah semarak di Batam perlu ditanggapi serius. Misalnya, ada faktor lambatnya transformasi KEK Batam, kenaikan upah buruh di Batam, serta keterbatasan persediaan lahan industri di Batam.

Distribusi perekonomian juga akan berpengaruh pada distribusi penduduk. Orang tidak tumpah ruah di Batam. Pembangunan yang merata di berbagai Kabupaten/Kota akan menarik orang ke wilayah-wilayah tersebut. Kemudian, dengan sendirinya mereka akan membangun wilayah itu dengan konsumsi dan produksi yang mereka lakukan.

Ironisnya, hal itu belum terjadi saat ini. Bahkan, Tanjung Pinang sebagai ibukota provinsi malah terkategori ke dalam kuadran IV melalui analisis Tipologi Klassen, atau daerah tertinggal, bersama Kabupaten Bintan. Padahal, Tanjung Pinang adalah kota administratif, p usat pemerintahan, yang seharusnya penerima gaji melakukan belanja di Tanjung Pinang. Namun sepertinya itu tidak terjadi karena warga masih memilih berbelanja di Batam. Begitu pun Kabupaten Bintan dengan potensi pariwisatanya seperti Lagoi dan Trikora, bisa didorong untuk megembangkan pariwisatanya.

Jangan sampai hanya ada satu gula besar di suatu provinsi. Semut-semut berkerumun tanpa tahu ada gula lain yang tersebar dan masih tersembunyi di wilayah itu.

 

Menghadiahi Diri Sendiri

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Seberapa dekat kita dengan diri kita sendiri? Sejauh mana kita mengenal binatang macam apa kita? Pertanyaan itu sangat penting untuk menemukan konsep diri kita yang utuh.

Setiap ada yang berulang tahun, kita kerap memikirkan kado yang cocok untuk diberikan. Termasuk bila kita yang berulang tahun atau berprestasi, kita menanti-nanti pemberian hadiah dari orang lain yang dekat dengan kita. Saya sudah lama berhenti mengharapkan hal semacam itu—kecuali dari kekasih tercinta. Saya lebih sering menghadiahi diri sendiri jika ada hal spesial yang telah saya jalani.

Sebenarnya saya seseorang yang sensitif. Saya terbiasa membaca raut wajah orang ketika memandang saya. Saya memiliki persepsi yang mendalam terhadap cara orang lain memandang saya. Saya tahu jika ada orang yang menghargai saya. Saya tahu jika ada orang yang tidak suka saya. Bahkan, kata-kata yang ditujukan untuk bercanda, saya cerna baik-baik. Bercanda adalah hal paling serius yang dilakukan manusia.

Dalam dua minggu ini, saya mendapat tugas mengajar ilmiah populer. Minggu lalu saya pergi ke Kepulauan Riau. Minggu ini saya pergi ke Aceh. Ada beberapa rekan saya yang memandang saya dengan pandangan berbeda. Mereka pikir saya diistimewakan oleh atasan saya.

Yang terjadi sebenarnya, penugasan saya awalnya tidak ada hubungannya dengan atasan saya. Saya dihubungi oleh bagian pengembangan. Beliau bertanya apakah saya mau mengajar. Saya jawab saya bersedia selama diizinkan oleh atasan. Tentu, saya katakan seperti itu karena saya menghormati posisi saya di bagian saya berada.

Kebetulan, atasan saya itu juga sering menulis. Seorang doktor. Maka, ia diminta mengajar pula. Jadilah dua orang dari satu bagian yang mengajar. Bukan atasan saya yang mengajak saya. Malah atasan saya itu mengurangi jatah mengajar saya dari 6 kali menjadi 3 kali dan melimpahkannya ke orang lain, agar saya bisa mengerjakan tugas kantor.

Apakah saya marah dan kecewa jatah mengajar saya dikurangi? Tidak. Sama sekali tidak. Karena mengajar itu bukan hal yang mudah. Tanggung jawabnya pun berat.

Bayangkan saja, dari pukul delapan pagi sampai pukul lima sore, saya berdiri di depan kelas, membagi ilmu, dan berhati-hati agar penyampaian saya dapat diterima. Saya berkeliling ke tiap peserta mengecek tulisan mereka. Setiap malam, saya membaca tulisan mereka lagi, membaca KFR agar saya makin mengerti substansi objek/bahan tulisan. Apakah itu adalah tindakan senang-senang?

Selama hari mengajar saya akan menjaga kondisi tubuh saya. Saya tidak makan aneh-aneh. Saya juga tidak berjalan-jalan. Saya hanya ke kantor, balik ke hotel, dan pergi cari makan kalau malam. Sudah, begitu saja.

Orang kemudian hanya melihat sisi selanjutnya ketika saya memposting foto saya yang tengah bersenang-senang. Saya memang suka traveling dan saya lakukan itu pada hari Sabtu setelah semua proses mengajar selesai. Saya baru bisa berbahagia ketika tanggung jawab saya selesai.

Itulah cara saya memberi hadiah kepada diri saya sendiri. Dengan begitu, saya akan merasa segalanya menarik dan menyenangkan. Saya pun jadi mencintai hidup yang saya jalani.

 

 

Antara Dragon Ball, Han Kang, dan Noh Hee Kyung

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Antara Dragon Ball, Han Kang, dan Noh Hee Kyung

            Dragon Ball Super sudah melebihi episode 100. Kelanjutan cerita Akira Toriyama itu terpaut cukup jauh dari Dragon Ball Z, yakni sekitar 10 tahun. Tidak seperti Dragon Ball GT yang dianggap sebagai cerita fan fiction, Dragon Ball Super adalah versi kanon Dragon Ball. Artinya, ia harus betul-betul memperhatikan karakter hingga plot Dragon Ball sebelumnya.

Satu nilai tambah dari seri ini adalah karakter-karakter yang tenggelam akibat superiotas Son Goku dimunculkan dan didalami sehingga pemirsa dapat lebih memahami berbagai sudut pandang tiap karakternya. Son Goku memang tokoh utama, tapi bukan berarti potensi perkembangan karakter yang ada pada (misalnya) Son Go Han diabaikan.

Usaha untuk mengungkap berbagai sudut pandang dalam satu cerita itu juga dilakukan Han Kang dalam The Vegetarian. Han Kang adalah penulis prosa Korea kedua yang kubaca setelah Tablo. Personel Epik High yang juga lulusan sastra Stanford University itu pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen.

Mulanya aku berpikir The Vegetarian akan berisi tentang bagaimana kehidupan seorang vegan. Namun, yang kudapat adalah berbagai bentuk kemuraman—yang mau tak mau juga membuatku gelisah.

The The Vegetarian bercerita mengenai seorang perempuan bernama Yeong Hye yang mendadak berubah menjadi The The Vegetarian. Suaminya begitu kaget dengan perubahan tersebut. Yeong Hye berasal dari keluarga yang menyukai daging. Ia punya seorang kakak dan seorang adik. Mendengar Yeong Hye tidak mau makan daging lagi, dan melihat ia berubah menjadi begitu kurus, keluarganya sangat khawatir dan memaksa ia memakan daging. Sayangnya, usaha itu malah berakibat percobaan bunuh diri yang dilakukan Yeong Hye.

Jika pidana mengenal mens rea, cerita juga kudu memiliki motif. Kenapa Yeong Hye mendadak berubah menjadi vegan? Bagaimanakah masa lalu Yeong Hye? Bagaimanakah keadaan pernikahan mereka? Seperti apa keluarga Yeong Hye? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelindan ketika mulai membaca novel ini, dan Han Kang begitu terampil menuliskan jawabannya.

Jawaban itu bukanlah mengenai Young Hye semata, tapi juga melingkupi manusia, atau lebih jauh… kehidupan itu sendiri.

Saya pernah bertanya-tanya ketika masih remaja, kenapa kok sebelum menikah banyak orang berpacaran, dan ada yang hingga berkali-kali. Seorang teman menjawab hal itu untuk saling mengenal. Tidak mungkin kita beli kucing dalam karung, menikahi seseorang yang tidak kita kenali. Meski di sisi lain, banyak juga orang yang menikah tanpa menjalani proses pacaran itu dan memiliki risiko sama: bahagia atau tidak bahagia. Pernikahan kemudian dirayakan dengan begitu mewah seolah-olah itu adalah akhir yang paling bahagia dari sebuah hubungan. Dongeng-dongeng pun mengakhiri cerita dengan pernikahan-bahagia-selamanya.

Saya sudah menikah. Dan saya berpacaran lebih dari tiga tahun dengan istri saya. Tapi, setelah menikah, saya menyadari, saya sama sekali belum banyak mengenal dia. Dan meski, saya mengenal dia, manusia berubah. Dia juga akan berubah, dan setiap hari kita mengalami proses itu—proses untuk saling mengenali dan memahami perubahan masing-masing.

Bukan hanya itu, pernikahan juga kerap membuat kita menyadari, sesungguhnya kita belum banyak mengenali diri kita sendiri.

Cara memandang pernikahan itu pun berbeda-beda. Pada serial Dragon Ball, bangsa Saiya sebagai bangsa petarung menikahi wanita-wanita Bumi. Bangsa Saiya yang superior itu malah tak bersemena-semena terhadap istri mereka. Malah mereka sangat menghormati istri-istrinya.

The Vegetarian adalah antithesis penelitian Burges dan Locke. Menurut Burges dan Locke (196)), hubungan antar suami-istri berubah dari hubungan yang ada pada keluarga yang institusional ke hubungan yang ada pada keluarga yang companionship. Hubungan antar suami-istri pada keluarga yang institusional ditentukan oleh faktor-faktor seperti adat, pendapat umum dan hukum. Seiring perkembangan zaman, pengaruh faktor-faktor tersebut mulai berkurang. Hubungan antar suami-istri kini seharusnya lebih didasarkan atas pengertian dan kasih sayang timbal balik serta kesepakatan mereka berdua.

Pola yang adalah pola yang otoriter, sedangkan companionship adalah pola yang demokratis. hubungan yang otoriter menunjukkan pola hubungan yang kaku, seorang istri yang baik adalah istri yang melayani suami dan anak-anaknya. Sebaliknya, dalam pola yang demokratis hubungan suami-istri menjadi lebih lentur, istri yang baik adalah pribadi yang melihat dirinya sebagai pribadi yang berkembang terus.

Korea Selatan menganut sistem patrilineal. Dalam hal pernikahan, kebanyakan pola yang dianut adalah pola yang otoriter. Pola otoriter ini bisa bersifat hubungan owner property, bisa juga ke head complementer. Owner property menekankan peran istri sebagai milik suami seutuhnya yang diatur dan ditata oleh suaminya. Sementara pola head complementer tak berbeda jauh, istri adalah pelengkap sang suami. Bedanya adalah sifat otoriter sang suami berkurang karena istri diperbolehkan memilih dan menentukan pilihan dalam konteks rumah tangganya.

Kekuatan adat yang dimiliki Korea Selatan ini kemudian berhadapan dengan perkembangan yang dialami negara tersebut. Sejak Olimpiade Seoul 1988, Korea melesat menjadi salah satu negara maju di Asia bahkan pelan-pelan menggeser Jepang sebagai negara pengekspor teknologi.

Hal yang dilakukan oleh Korea Selatan untuk mencapai itu semua salah satunya dengan strategi kebudayaan. Kebanggaan pada identitas Korea itu ditanamkan dalam segala bidang sehingga segenap lapisan masyarakat mampu mengidentifikasi siapa dirinya, apa masa lalunya, dan bagaimana masa depan yang mereka inginkan.

Namun, pertumbuhan ekonomi dan liberalisme pasar juga membawa efek samping, yakni infiltrasi kebudayaan dan filsafat yang menyertainya. Mulai dari pandangan tentang modal hingga pandangan mengenai gender dalam berbagai relasinya, termasuk dalam pernikahan.

Perempuan-perempuan Korea memiliki dualisme. Mereka dituntut cantik (yang berarti terikat oleh pandangan misoginis). Di sisi lain,  wanita ini ingin tampil cantik karena dengan cara itulah kesempatan kerja ke perusahaan yang bagus meningkat. Keinginan wanita untuk mandiri ini terkait dengan feminisme. Dualisme itu tak hanya sampai di situ. Pada jenjang pernikahan, hal itu terjadi pula. Dalam dunia selebritis misalnya, artis wanita Korea yang sudah menikah banyak yang diminta berhenti berkarir oleh suaminya

Disadari atau tidak, dualism dalam peran itu akan menimbulkan rasa asing. Rasa asing itulah yang disajikan Han Kang pada karakter-karakter di dalam The The Vegetarian. Kritik terhadap pernikahan yang makin kini hanya semacam lembaga/ institusi suami dan istri, hubungan profesional semata dalam memerankan fungsi masing-masing. Hal ini saya duga tidak terlepas dari tren pernikahan di Korea Selatan, yang menjadikan kesuksesan sebagai tolak ukur, sehingga usia pernikahan makin lama makin tua ( >35 tahun).

Han Kang juga mengkritik bahwa pernikahan tak bisa mengekang hasrat seseorang. Hal ini terlihat dari bagaimana suami Yeong Hye kerap membayangkan hal erotis bersama kakaknya Yeong Hye, juga kakak ipar Yeong Hye menginginkan dirinya dengan dalih ekspresi seni. Dalam kenyataan, open marriage juga kian menjamur. Tak masalah kau mau bercinta dengan siapa, asalkan selalu kembali ke rumah dan bertanggung jawab terhadap keluargamu.

Pernikahan sebagai fenomena budaya (dan pergeserannya) ini diterjemahkan dengan begitu suram oleh Han Kang.

Tak seperti prosa Korea yang baru dua buah yang saya baca, film dan serial drama Korea sudah lama menjadi favorit saya. Baeksang Award beberapa hari lalu memunculkan kejutan hebat karena Goblin yang digadang-gadang akan menang mudah, kalah oleh serial drama yang ratingnya jauh lebih rendah: Dear My Friends. Drama ini ditulis oleh Noh Hee Kyung yang juga menulis drama It’s Okay It’s Love.

Noh Hee Kyung setia pada drama-drama realis. Ada satu kesamaan It’s Okay It’s Love dengan The The Vegetarian, yakni sakit mental yang diderita para tokohnya. Yeong Hye dan Jang Jae Yeol sama-sama menderita Skizofrenia. Baik Hee Kyung maupun Han Kang memaparkan masa lalu yang gelap yang dialami tokohnya: kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Ketidaksanggupan mental manusia menanggung rasa sakit itu melahirkan gangguan kejiwaaan. Penderita skizo akan mengalami episode demi episode halusinasi, dalam sebuah skenario yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Akhir dari skenario itu adalah keadaan yang membahayakan diri mereka. Perbedaannya, Hee Kyung memberikan penyelesaian konflik yang mudah dan bahagia (karena drama adalah kitsch, yang mempertimbangkan pasar), sementara Han Kang  membiarkan konflik itu melahirkan potensi konflik batin yang dialami oleh tokoh-tokoh di sekitar Yeong Hye (terutama kakaknya).  Han Kang seakan melegitimasi bahwa karya sastra adalah karya yang hidup dan bebas ingin hidup seperti apa di benak para pembacanya.

Dalam kegelisahan ini, saya kembali bertanya-tanya, kenapa setiap orang ingin bahagia? Apa sih sebenarnya kebahagiaan itu? Dan kenapa Tuhan menciptakan kebahagiaan?***