Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Pikiran Pringadi

Seberapa Pancasila Kami?

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Seberapa Pancasila Kami?

Jangan kau tanya lagi, seberapa Pancasila kami
Ketika kami menjadi yang terakhir bertahan
saat Timor Timur hendak melepaskan diri
Dan kami pula yang pertama memulai
Saat Aceh terkena bencana tsunami

Kami berdiri menjadi perwakilan negara
yang hadir untuk menyuntik tenaga pembangunan
Memulihkan bagian tubuh bangsa yang terluka

Persatuan Indonesia sudah mendarah di tubuh kami
Orang Aceh ditempatkan di Jakarta
Orang Batak ditempatkan di Biak
Orang Palembang terbuang di Sumbawa
Orang Jawa ada di mana-mana
Orang Sulawesi hingga Papua pun mengenal Sumatra
Kami selalu siap mengabdi di mana saja
Bahkan kadang harus rela meninggalkan keluarga
Akibat pilihan hidup yang sudah fitrah

Jarang yang tahu, seberapa cinta kami pada Indonesia
berinteraksi dengan segenap suku dan budaya yang beraneka
Berusaha selalu muwujudkan keadilan sosial
dalam penyaluran belanja pemerintah
Tak peduli di mana saja, kami akan memamerkan senyuman
seakan jawaban kenapa Tuhan ciptakan kebahagiaan
Pelayanan prima, kecepatan dan ketepatan
adalah janji bagi setiap insan Perbendaharaan

Jangan kau tanya lagi, seberapa Pancasila kami
meski kami bukanlah sayap-sayap Garuda
yang bisa membuatmu mengepak tinggi
Tapi kami adalah cakar sang burung negeri
Yang mencengkeram erat kesatuan bumi pertiwi

Puisi Insan Perbendaharaan di atas ditulis pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni lalu dilatarbelakangi oleh pertanyaan seberapa Pancasilakah saya.

Sebagai pegawai Kementerian Keuangan, sudah menjadi pilihan dan jalan hidup, penempatan bisa di mana saja di seluruh Indonesia. Penempatan pertama saya di Sumbawa, jauh dari kampung halaman saya di Palembang. Selama bertugas, saya pun beberapa kali mengunjungi kota-kota di Indonesia seperti Makassar, Bali, Lombok, Kupang, hingga ke Alor. Keberagaman dapat kita lihat dan pertanyaan-pertanyaan tentang pemerataan pembangunan kerap kita temukan ketika hidup di tengah atau timur Indonesia.

Pancasila, dalam sila kelima, menyebutkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila ini paling bermakna dalam bagi saya pribadi karena saya kerap melihat paradoks dalam potret pembangunan kita. Paling sederhana, pergilah ke Ciwalk. Dari Ciwalk kita bisa melihat pemukiman kumuh di sebelahnya. Itukah keadilan sosial?

Bahkan hal ini pernah dijadikan materi oleh komika asal Bandung, Kamaludin, yang mengatakan betapa sulitnya mencari air bersih di kawasan itu, sehingga ia kadang-kadang pergi ke mal… untuk mandi!

Persoalan air ini pun ditemukan di daerah semakin ke timur Indonesia. Air bersih adalah soal langka. Apalagi hal-hal lain. Jadi, patutkah kita mengaku Pancasilais ketika pemerataan pembangunan dan upaya mengatasi disparitas sosial belum terlaksana?

Baru-baru ini (1 Juni), pemerintah membentuk Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila, atau UKP-PIP. Di zaman Orde Baru, kita mengenal BP7. Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, yang hobinya bikin penataran-penataran.

Saya tidak begitu paham seperti apa beda dalam praktiknya. Acara Pancasila Sumber Inspirasi Maju oleh UKP PIP yang dilaksanakan di JHCC Jakarta pada Selasa tanggal 22 Agustus 2017. Karena itulah saya mencoba memahami UKP-PIP dengan mengikuti media sosial mereka di:

FB Page https://www.facebook.com/GenPancasila/

Twitter https://twitter.com/ukp_pancasila

Instagram https://www.instagram.com/ukp_pancasila

Saya membayangkan ke depannya UKP-PIP sekalian saja diiringi dengan wajib militer seperti di Korea Selatan. Mendidik setiap elemen bangsa untuk jadi Pancasilais di era digital tentu harus meniru resep rumah makan tradisional melalui metode kuno seperti wajib militer beneran. Toh, undang-undang memperbolehkannya. Setiap rakyat adalah tentara cadangan. Kalau isinya hanyalah pelajaran, sejujurnya, saya tidak begitu percaya pada sistem yang ada saat ini.

Menggali nilai-nilai Pancasila, Pancasila Sumber Inspirasi Maju, tentu harus juga dengan merumuskan kembali teks pelajaran di sekolah kita, terutama yang berkaitan dengan sejarah bangsa. Bangsa yang basar adalah bangsa yang paham identitas dirinya. Karena itu, dengan jujur, pemerintah harus menggunakan strategi kebudayaan untuk mencari dan membangun identitas bangsa. Biar nggak kebarat-baratan, kekorea-koreaan, juga kearab-araban. Indonesia itu apa sih? Semua rakyat harus bisa menjawabnya.

Kira-kira begitu.

Ai Lemak, Satu Titik Keindahan Bawah Laut Sumbawa

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Ai Lemak, Satu Titik Keindahan Bawah Laut Sumbawa

Semakin ke Timur, laut Indonesia semakin indah. Tak perlu terlalu jauh hingga ke Raja Ampat, Sumbawa memiliki banyak spot menarik yang memiliki keindahan bawah laut tak terperanai. Salah satunya Ai Lemak, di Tanjung Manangis.

FB_IMG_1502159257051

Untuk menuju spot ini, kita bisa melewati Labuan Sumbawa, menggunakan boat sekitar 20-30 menit. Bila hendak melalui darat, kita bisa lewat Brang Biji dengan jarak tempuh 30 menit. Jarak dari bibir pantai untuk melihat keindahan alami laut hanya sekitar 50-100 m dengan kedalaman 5-7 m.

FB_IMG_1502159253108

FB_IMG_1502159265115

Spot Ai Lemak memiliki karakteristik lokasi dangkalan dan wall. Jadi, lokasi ini cocok baik untk diving maupun hanya snorkeling. Jenis biota lautnya pun beraham. Penyu juga sering terlihat muncul di lokasi. Terumbunya ada soft coral dan hard coral. Visibility atau jarak pandangnya lebih dari 15 meter menunjukkan kondisi laut yang masih begitu alami, belum tercemar. Spot ini pun tidak terlalu berarus dan berombak, kecuali mulai Desember, Januari, dan Februari yang memang musim badai di utara Sumbawa. Bulan-bulan setelahnya sangat nyaman untuk melakukan eksplorasi.

Ai Lemak, Tanjung Menangis
Ai Lemak

Keindahan ini bukan tanpa ancaman. Eksploitasi laut secara berlebihan seperti pengeboman, penggunaan potassium hingga penangkapan dengan menggunakan trawl mengancak kerusakan Ai Lemak. Spot lain di Dangar Ode misalnya, sudah banyak yang rusak karena tindakan serupa.

Oleh karena itu, Adventurous Sumbawa (AS) sebagai Komunitas Pemerhati Pariwisata Sumbawa melalui divisi Konservasi Lingkungan berkomitmen bukan hanya menjaga terumbu karang di Ai Lemak dan di lokasi lain di Sumbawa. Tetapi juga mengambil langkah dengan menginisiasi program transplantasi terumbu karang, yang bukan hanya demi tujuan pariwisata, melainkan juga fokus pada pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati laut-laut Sumbawa. Terumbu karang yang terawat pun akan menjadi habitat yang baik buat ikan-ikan sehingga nantinya ikan-ikan tetap berkembang biak di perairan Sumbawa. Tetapi juga fokus pada pelestarian lingkungan.

Pemenang Lomba Menulis Surat Cinta

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Lomba Menulis Surat Cinta sudah ditutup sejak 14 Juli lalu, dan tak mudah menentukan pemenangnya. Sejumlah surat masuk (lebih dari 30 surat), kubaca, dan kuakui kejujuran hati para penulis surat cinta ini. Beberapa cerita saya yakin potensial untuk dijadikan cerpen atau novel.

Kenapa Surat? Apakah mudah menulis surat? Jawabannya, tidak mudah menulis surat, karena surat memiliki tujuan dan pada saat menulisnya, kita harus betul-betul memikirkan orang yang kita tuju. Bila kita terfokus pada diri sendiri, surat itu akan hambar. Surat yang egois.

Surat juga harus memiliki kedalaman. Dulu, orang sulit sekali berkomunikasi sebelum ada telepon. Orang-orang menulis surat dan tidak bisa setiap saat menulis surat. Maka sebuah surat ditulis dengan masak-masak biar perasaan sesungguhnya bisa terbaca.

Ketiga, bahasa surat adalah bahasa yang intim, tidak berindah-indah. Berindah-indah itu tidak indah.

Atas hal-hal tersebut di atas, saya terpaksa memilih satu, dan jatuh kepada Alice dengan judul Surat Ketiga. Surat bisa dibaca di sini http://menatapmu.tumblr.com/post/162819279600/surat-ketiga

Selamat, Alice! Dan terima kasih sekali lagi buat semua yang sudah berpartisipasi. Semoga tidak kapok. Nanti ada bagi-bagi buku berikutnya, ya?

 

Beropini Tanpa Menyimak?

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Bermain Opini Lewat OPINI

Sering saya katakan, dan tak bosan-bosan, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Idealnya, kita punya keempat kemampuan tersebut yang harus dikuasai secara berurutan, dimulai dari menyimak.

Masalah bangsa yang sedemikian banyak ini, kuyakini berawal dari permasalahan literasi. Permasalahan literasi ini bukan cuma soal minat baca yang rendah lho ya.

Sebelum Indonesia merdeka, membaca dan menulis adalah sesuatu yang eksklusif, yang tidak bisa semua orang lakukan (tidak mudah didapatkan juga). Hal ini terjadi karena strategi dari penjajah yang sengaja membuat masyarakat bodoh. Kebodohan membuat orang mudah dijajah. Maka, jangan sampai membuat rakyat jadi pintar.

Usaha untuk membuat rakyat bodoh itu juga masih terus berlangsung setelah kemerdekaan sebagai bagian dari strategi politik. Coba tengok di zaman Orde Baru, banyak buku dilarang beredar, banyak sastrawan juga diawasi. Rakyat dilarang memiliki kekayaan berpikir karena kekayaan berpikir subversif, berbahaya!

Namun, ada satu hal baik yang masih bertahan: menyimak. Rakyat Indonesia adalah penyimak yang baik. Ketika Soekarno berpidato, rakyat berbondong-bondong mendengarkannya. Ketika pemerintah Orde Baru berkata melalui Menteri Penerangannya, rakyat juga masih mau mendengarkan, meski mungkin alasannya adalah tekanan.

Ketika Orde Baru tumbang, reformasi, kanal yang tersumbat itu mengeluarkan segala macam hal yang tertahan selama ini. Orang jadi bebas melakukan apa saja, berbicara apa saja. Dan kemampuan berbahasa itu terbalik, ya berbicara menjadi dasar. Orang-orang berbicara tanpa banyak membaca. Orang-orang berbicara tanpa tahu pentingnya menulis dengan struktur berpikir yang tepat. Dan orang-orang, karena berebut ingin bicara… kehilangan kemauan untuk menyimak!

Kemampuan berbahasa sesungguhnya erat dengan struktur berpikir dan teori kepribadian. Terutama menyangkut ego. Orang yang mampu menyimak akan jauh lebih toleran terhadap perbedaan pemikiran. Dia tidak memaksakan kebenaran versinya sendiri, dia menghargai kebenaran versi orang lain. Berbeda boleh, goblok jangan.

Tentu, usaha untuk mengembalikan hal yang benar itu tidak mudah. Semua orang beropini dan mau di dengar. Tapi, sebagagai seseorang yang peduli, hal yang tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin.

Saat ini ada portal-portal untuk mengembalikan minat baca dan minat menulis seperti Kompasiana dan Opini. Banyak juga yang lain dengan masing-masing kelebihannya. Opini.id sedikit lebih menarik karena penyajian opini disajikan dalam bentuk listicle yang secara tampilan unggul bila dilihat lewat mobile. Generasi muda saat ini memang lebih senang membaca versi mobile ketimbang membaca versi panjang-panjang. Ini adalah sebuah pendekatan yang patut dipuji.

Saya tidak tahu seberapa panjang jalan untuk menaikkan kemampuan literasi bangsa kita. Tapi saya yakin, pelan-pelan hal itu bisa terwujud.

Kondisi Bila Indonesia Tidak Berutang

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Kondisi Bila Indonesia Tidak Berutang

Viral tentang Indonesia Darurat Utang ini sebenarnya harus dihadapi dengan terbuka. Tidak mudah memang memberikan pemahaman bagi masyarakat umum tentang utang dari sudut pandang manajemen keuangan publik. Tulisan ini adalah versi beta dari versi lengkap di kemudian hari, tentang bagaimana sih kondisi Indonesia jika tidak berutang? Bisa nggak sih Indonesia lepas dari utang?

Asumsi yang saya gunakan dalam simulasi ini adalah outlook realisasi APBN 2017, ceteris paribus, semua asumsi terpenuhi, meski pada kenyataannya dalam beberapa tahun terakhir penerimaan pajak selalu shortfall.

Outlook defisit anggaran kita adalah 2,67% terhadap PDB atau sekitar 362,9 T, meski dalam RAPBN-P asumsi defisit mencapat 2,92% atau sekitar 397,2 T dan realisasi pembiayaan > realisasi defisit, yang artinya, kita berutang lebih banyak dari defisit yang terjadi akibat adanya selisih antara penerimaan dan pendapatan per harinya.

Karena kita tidak berutang, kita buang angka 362,9 T tersebut. Tersisalah pendapatan negara dan penerimaan hibah sebesar total 1717,2 T.

Bisa apa kita dengan 1717,2 T?

Total belanja kita adalah 2111,4 Triliun dalam APBN-P 2017 dengan outlook 2077,0 setelah penghematan belanja. Rencana belanja infrastruktur (belanja modal fisik) adalah sekitar 378 T. Jika dikurangkan angka itu dari belanja, sisanya 1699 T.

Artinya, setelah melunasi semua belanja, dari belanja pegawai, belanja barang, bantuan sosial, dll… hanya tersisa uang 18,2 Triliun untuk ruang fiskal (dalam hal ini infrastruktur).

Jadi sebagai rakyat, kita tak boleh kelewatan banyak menuntut karena 18,2 T paling bisa untuk membuat 1 proyek infrastruktur yang besar, atau beberapa proyek skala menengah saja.

Siapkah kita hidup qonaah, bebas utang, bebas riba?

(Eh jangan lupa, dalam 1717,2 T itu, kita harus melunasi cicilan bunga utang 250 T per tahun. Terus yang dikorupsi berapa?)

 

Gaes, jadi pemerintah itu nggak mudah. Susah banget memilih kebijakan buat memuaskan semua rakyat.

 

 

Kereta Pagi

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tahukah kau apa yang lebih menyeramkan dari sekawanan pemabuk yang baru saja kehilangan kerabatnya yang terbunuh karena mempertahankan tanah tempat ia berpijak? Aku akan bilang, para binatang pekerja yang berumah di sekitar Bogor dan bekerja di Jakarta, yang antre menunggu kereta datang, lebih tak berprikemanusiaan dibandingkan mereka.

Setiap pagi pada hari kerja, aku harus menghadapi bahaya itu. Bahaya yang lebih mengancam bukanlah pada saat berebut naik kereta, namun pada saat berada di dalam kereta, ketika para binatang di stasiun berikutnya mendesak masuk ke dalam gerbong yang sudah penuh. Kadang kubayangkan akan ada bunyi kraak yang dramatis yang berasal dari patahnya tulang seseorang, meski paling sering hanya bunyi desahan orang-orang yang mengeluh menghadapi situasi sesulit itu.

Kereta berjalan, sebagian besar orang menunduk sambil melihat layar ponsel pintar yang membuat orang-orang semakin bodoh. Yang duduk, pura-pura tertidur, agar nanti jika ada orang tua, perempuan hamil, mereka tak jadi orang pertama yang diminta berdiri menyerahkan tempat duduknya. Tempat duduk itu sudah seperti kursi kekuasaan yang berat sekali untuk dilepaskan. Aku pikir orang-orang seperti itu pernah mencalonkan diri menjadi anggota dewan, namun tak kesampaian.

Aku adalah seekor binatang pekerja. Hidup seperti ini, aku tak tahu, apa yang sebenarnya kuharapkan? Tapi itulah bedanya binatang dengan manusia. Binatang tak punya akal budi. Aku tak ingin memikirkan semua itu karena hanya dengan demikianlah perutku terisi.