Category Archives: Info Lomba Menulis

Menilik Treasury dan Peran Treasury di Indonesia

 

Bagian treasury menempati peran sentral dalam tatakelola keuangan perusahaan. Treasury bertanggung jawab untuk menjaga likuiditas perusahaan, yaitu memastikan bahwa perusahaan memiliki cukup kas untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan, sewaktu-waktu.

Peran dari organisasi treasury secara dramatis berkembang sejak adanya krisis ekonomi. Lahirnya UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara juga menjadi sebuah pengakuan baru dari betapa pentingnya organisasi Perbendaharaan sebagai treasurer republik ini. Selaras dengan itu, treasury terus-menerus diminta memainkan peran strategis seperti juga halnya di sektor privat, yang peran dan fungsinya terus diperluas dan makin memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan.

Ditjen Perbendaharaan Negara pun mengamini kondisi itu dan mengambil dan mengadaptasi beberapa peran dan fungsi treasury di sektor privat. Namun juga masih ada peran dan fungsi lain yang belum diambil oleh sektor publik dengan beberapa pertimbangan. Dalam kondisi kekinian, sembari mengamin survei AFP Strategic Role of Treasury, Ditjen Perbendaharaan perlahan tapi pasti mulai mempelajari dan mencoba mengimplementasikan peran dan fungsi tersebut.

KPPN sebagai bagian dari fungsi perbendaharaan, paling tidak terkait dengan tiga fungsi, yaitu pelaksanaan anggaran, pengelolaan kas, serta akuntansi dan pelaporan. Dalam fungsi pelaksanaan anggaran, KPPN melakukan pencairan dana berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Saat ini dan ke depan fungsi ini dapat berkembang menjadi: standardisasi dan bimbingan teknis pembuatan komitmen dan pembayaran pada satuan kerja; monitoring dan evaluasi pelaksanaan anggaran; dan analisis belanja pemerintah.

Dalam fungsi akuntansi dan pelaporan, KPPN melakukan akuntansi atas transaksi APBN dan menyusun Laporan Keuangan Kuasa BUN, serta melakukan rekonsiliasi laporan keuangan dengan satker. Saat ini dan ke depan, fungsi ini dapat berkembang ke arah analisis penyempurnaan bagan akun standar (BAS), analisis penyempurnaan sistem akuntansi, peningkatan kualitas laporan keuangan pemerintah, dan perluasan analisis atas laporan keuangan di wilayahnya.

Operasionalisasi fungsi dalam uraian tugas tersebut, tentu masih bisa diperdebatkan. Namun yang perlu kita ingat, sebagaimana dikatakan oleh Hal G. Rainey (dalam Understanding and Managing Public Organizations, 1996), organisasi publik harus selalu siap untuk berubah karena tuntutan external political (problem depletion), eksternal economic/technical (environmental entropy),internal political (political vulnerability), dan internal economic/technical (organizational atropy). Untuk mempertahankan eksistensinya, maka organisasi publik harus semakin efektif, inovatif, berorientasi pada misi dan stakehoders, serta pemberdayaan sumber daya manusia.

 

Peran 1. Membuat Perencanaan Kas (Cash Forecasting)

Sempat terjadinya cashflow shortage menjelang akhir tahun 2014 lalu dikarenakan perencanaan kas yang tidak memadai. Perencanaan kas (cash forecasting) adalah awal dari semua peran lainnya yang dijalankan oleh bagian Treasury. Tidak seperti pegawai lain yang menangani kegiatan penerimaan dan pembayaran kas setiap hari, pegawai treasury yang bertugas untuk mengambil data yang telah dimasukan oleh pegawai bagian akuntansi ke dalam sistem untuk kemudian mengompilasikannya dan untuk menghasilkan perkiraan kas  jangka pendek dan jangka panjang. Perkiraan dan semua komponen yang terdapat pada peramalan kas diperlukan untuk:

  • Menentukan apakah perusahaan membutuhkan lebih banyak uang tunai. Jika itu terjadi, maka mereka bisa membuat rencana pendanaan (financing) baik melalui penggunaan hutang atau ekuitas.
  • Membuat rencana investasi, jika hasil ramalan surplus dimana ada kelebihan kas (excess) yang akan timbul.
  • Membuat rencana operasi yang dapat melindung nilai tukar mata uang perusahaan dengan mata uang asing.

Dalam sektor publik, Ditjen Perbendaharaan telah mencoba melakukan hal itu dan bahkan akurasi perencanaan kas satuan kerja ini menjadi indikator kinerja utama (IKU) Seksi Pencairan Dana Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

Dalam fungsi pengelolaan kas, KPPN melakukan pembebanan pencairan dana pada rekening kas negara dan penatausahaan penerimaan negara. Saat ini dan ke depan, fungsi ini dapat berkembang ke arah: cash disbursement monitoring (menyediakan informasi penarikan kas untuk pencairan dana satker, ketika pencairan dana satker harus dikaitkan dengan rencana penarikannya); bimbingan teknis rencana penarikan kas satker; monitoring dan analisis arus dana Kuasa BUN tingkat regional; serta analisis sistem penatausahaan penerimaan negara.

Pada kenyataannya, data perencanaan kas yang dikirimkan satker kebanyakan tidak akurat. Data yang kemudian dikirimkan ke Dit. PKN belum dapat diolah karena sifatnya masih dikategorikan sebagai data sampah. Hal ini dikarenakan karena kurangnya pemahaman satuan kerja pada pengelolaan keuangan. Dan ini juga tidak terlepas dari minimnya bimbingan teknis yang dilakukan oleh KPPN dan belum jelasnya posisi dan peran penyuluh perbendaharaan.

Pada dasarnya, pencairan dana mudah direncanakan jika pejabat pengelola keuangan di satuan kerja memang berkompetensi di bidangnya. Katakanlah begini, SPM Gaji sudah pasti batas waktunya, belanja-belanja rutin juga sudah pasti nominalnya dengan deviasi yang tidak terlalu besar. Yang tersisa adalah belanja modal. Belanja modal, kontrak ataupun pengadaan, bila mengikuti prosedur yang ada dalam Perpres 70, semua sebenarnya bisa diperkirakan. Pencairan per termin pun sudah dituangkan di dalam data kontrak. Tinggal kedisiplinan pejabat pembuat komitmen untuk membuatkan SPP-nya kelak.

Kemudian, perencanaan kas juga melibatkan cash in. Ceteris paribus, sifat belanja pemerintah berpengaruh pada konsumsi dan pendapatan nasional. Pendapatan nasional berpengaruh pada pajak. Seharusnya, terjadi sinergi antara perencanaan kas keluar dengan perencanaan kas masuk. Juga ada analisis dari pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari kas keluar yang teratur. Dengan begitu, ketersediaan dana di pemerintah dapat diperkirakan sebaik-baiknya.

 

Peran-2 Melakukan Tatakelola Modal Kerja (Working Capital Management)

Penggunaan utama dari kas perusahaan adalah untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Modal kerja merupakan komponen kunci dari peramalan kas. Tata kelola di wilayah ini antara lain melibatkan perubahan tingkat aktiva lancar dan kewajiban lancar sebagai respon atas capaian penjualan perusahaan. Lain daripada itu treasurer juga mesti mampu memberikan masukan bagi manajemen tentang dampak perubahan kebijakan yang diusulkan pada tingkat modal kerja. Oleh sebab itu, seorang treasurer harus mengetahuai bagaimana modal kerja digunakan, apa pengaruh dan kaitannya dengan elemen-elemen keuangan lainnya.

 

Peran-3 Melakukan Tatakelola Kas (Cash Management)

Modal kerja merupakan manajemen keuangan jangka pendek. Dengan menggabungkan informasi dalam perkiraan kas dan kegiatan modal kerja manajemen, treasurer harus mampu menjamin ketersediaan dana yang cukup bagi kebutuhan operasional perusahaan.

 

Peran-4. Tatakelola Investasi (Investment Management)

Ketika peramalan kas menunjukkan adanya kelebihan dana, maka staf treasury bertanggung jawab untuk menginvestasikannya dengan tepat dan benar. Tiga tujuan utama dari peran ini adalah:

(a) tingkat pengembalian investasi yang maksimal

(b) Kecocokan antara tanggal jatuh tempo investasi dengan proyeksi kebutuhan kas perusahaan, dan yang paling penting adalah

(c) tidak menginvetasikan dana pada risiko tinggi.

Dengan dibentuknya Treasury Dealing Room, Ditjen Perbendaharaan pun akan melakukan investasi jangka pendek atas idle cash. Yang jadi perdebatan adalah adanya dua dealing room pemerintah yang bermain di pasar modal bisa jadi menimbulkan masalah. Seharusnya pengelolaan kas dan utang disatukan atau berada pada satu payung sehingga tidak terjadi kebingungan di pasar modal. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah dengan terjunnya pemerintah ke sektor moneter, itu tidak mengurangi keberadaan pemerintah di sektor riil. Di sini nantinya TDR harus bertindak dengan bijak dan hati-hati atas pengelolaan kas yang ada.

 

Peran-5 Melakukan Tatakelola Risiko (Risk Management)

Para treasurer juga bertanggung jawab untuk menciptakan strategi manajemen risiko dan menerapkan taktik hedging untuk melindung perusahaan dari segalam macam risiko keuangan—terutama sekali dalam rangka mengatisipasi keadaan dimana: (a) suku-bunga pasar membumbung tinggi melebihi suku bunga obligasi perusahaan terhadap institusi lain; (b) posisi selisih kurs perusahaan juga bisa beresiko jika kurs tiba-tiba memburuk.

 

Peran-6 Menjaga Hubungan Baik Dengan Bank (Bank Relation)

Hubungan jangka panjang perusahaan dengan pihak bank bisa menjadi sangat bermanfaat pada saat suatu saat kelak perusahaa mengalami kesulitan keuangan. Untuk itu Treasurer hendaknya sering bertemu dengan perwakilan dari setiap bank yang digunakan oleh perusahaan untuk: membahas kondisi keuangan perusahaan, struktur biaya bank, setiap utang yang diberikan oleh bank kepada perusahaan (Jika ada), dan transaksi valuta asing, hedging, kawat transfer, cash pooling, dan lain sebagainya.

 

Peran-7 Penggalangan Dana (Fund Raising)

Mempertahankan hubungan baik dengan komunitas investasi untuk tujuan penggalangan dana sangatlah penting. Mulai dari para broker dan bankir investasi yang menjual utang perusahaan dan mengelola penawaran ekuitas, sampai dengan para investor, dana pensiun, dan sumber-sumber kas lainnya yang suatu saat tertentu mungkin dapat membeli utang atau ekuitas perusahaan.

Selain peran-peran utama di atas, pada dasarnya staf Treasury seharusnya juga memonitor kondisi pasar terus-menerus, karena hal itu diperlukaan pada saat tim manajemen perusahaan meminta informasi tentang suku bunga, kemampuan perusahaan untuk membayar utang baru, dan keberadaan utang pada saat tertentu. Jika perusahaan berencana untuk melakukan merger atau akuisisi, maka staf treasury harus mampu mengintegrasikan sistem treasury perusahaan yang akan diambil alih dengan perusahaan induk. Peran lainnnya termasuk menjaga dan mengelola berbagai asuransi atas nama perusahaan

 

Dalam menggapai peran dan fungsi tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi organisasi treasury di Indonesia.

 

dds

Gambar 1: Treasury Best Practices Environment

Sumber: Treasury Strategies

 

               

Seperti isu yang beredar saat ini, isu penajaman fungsi organisasi dengan bergabungnya kembali DJKN atau DJPP ke DJPB atau menjadikan MoF sebagai Ministry of Treasury dengan dibentuknya Badan Penerimaan Negara itu adalah bagian dari tuntutan zaman.

Selain itu, beberapa hal terkait dengan pemanfaatan teknologi yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Kebutuhan dana yang besar dan waktu yang lama untuk membuat sistem dan infrastruktur yang merata seluruh indonesia;

 

  1. Infrastuktur telekomunikasi yang tidak merata di Indonesia, terutama di daerah terpencil akan menghambat pelaksanaan program.
  2. Dalam organisasi akan terdapat pengurangan jumlah pegawai seiring dengan struktur organisasi akan menjadi lebih sederhana; serta
  3. Mempengaruhi budaya dan lingkungan pekerjaan.

Penataan organisasi sebagai konsekuensi penggunaan teknologi juga akan untuk mengubah pola operasi yang semula lebih menekankan ada aspek operasional menjadi lebih fokus pada aspek strategis. Hal ini selaras dengan fungsi Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagai treasury yang lebih banyak terkait dengan aspek manajemen strategis dan analitical dibandingkan operasional yaitu: perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perbendaharaan negara; penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria  di  bidang  perbendaharaan  negara;  pemberian  bimbingan  teknis  dan  evaluasi  di  bidang perbendaharaan  negara;  dan  pelaksanaan  administrasi  Direktorat Jenderal  Perbendaharaan.

 

 

 

Hari #5, Alasan Pendidikan

Tak sengaja membaca komentar seorang teman di sebuah status tentang keinginan kuliah di luar negeri. “Terus kalau sudah balik ke Indonesia mau ngapain?”

Aku tercenung membaca pertanyaan itu dan bertanyatanya apa yang sudah kulakukan dan apa yang akan kulakukan. Apakah selama ini yang kulakukan hanya untuk kepentinganku sendiri dan apa yang kurencanakan akan kulakukan tak bermanfaat juga bagi orang banyak?

Aku jujur mengakui, aku ingin kuliah ke luar negeri. Kalau tidak ke Jepang, ya Australia. Kalau tidak ke Australia, ya ke Eropa. Alasan pertamanya tentulah pengalaman. Aku ingin jalan-jalan, bertemu banyak orang, memiliki sudut pandang baru. Tapi itu semua untuk diriku. Aku belum berpikir sesuatu yang lebih besar. Aku belum berpikir pengamalan apa yang akan aku lakukan nantinya.

Ketika hendak mengikuti tes D4 STAN pun, baru di tes ketiga aku lulus. Di tes pertama dan kedua aku gagal meski aku punya keyakinan tak seharusnya aku gagal. Istriku berkata, mungkin ada yang salah dari niatku, mungkin Tuhan menyiapkan waktu yang terbaik untukku. Luruskanlah niat terlebih dahulu, katanya.

Aku jujur mengakui menganggap D4 sebagai sweet escape, pelarian manis dari rutinitas pekerjaan dan penempatan yang jauh dari keluarga. Dengan lulus D4, aku akan lebih dekat dengan istri dan anakku. Bintaro–Bandung ditempuh hanya dengan satu travel saja. Pun alasan lain, kenyataan bahwa setelah lulus D4 aku akan naik golongan menjadi III.a tanpa perlu ikut ujian penyesuaian,  dan kemungkinan penempatan yang lebih baik nantinya. Alasan lain, aku akan lebih dekat dengan teman-temanku di dunia kepenulisan yang banyak berada di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi ternyata, selama mengikuti perkuliahan aku malah mendapatkan sesuatu yang berharga. Adalah Ghul, seorang teman yang paling sering duduk sebangku denganku yang memberi pencerahan pertama.

Ghul menceritakan sebuah riwayat kepadaku. Ada seorang pekerja mendapat upah 5 dirham dari pekerjaannya. Ia merasa upah itu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Lalu datanglah ia ke seorang ulama untuk berkonsultasi. Ulama tersebut malah memberi saran untuk menghadap majikannya dan meminta upah 4 dirham saja. Sang lelaki pekerja pun datang dan meminta penurunan upah menjadi 4 dirham. Sebulan kemudian, sang pekerja datang lagi ke ulama dan mengadu, penghasilan 4 dirham itu tak cukup juga. Sang ulama malah memberi saran untuk meminta menurunkan upahnya menjadi 3 dirham saja. Karena percaya atas kebesaran sang ulama, sang lelaki pekerja pun menuruti saran ulama tersebut.

Sebulan berikutnya, sang lelaki pekerja datang lagi ke ulama tersebut dan terheran-heran, takjub ia bertanya, “Kenapa upah saya yang 3 dirham jadi cukup untuk menghidupi keluarga saya? Padahal kan 3 dirham jauh lebih kecil dari 5 dirham?”

Sang ulama tersenyum dan berkata, “Itulah yang pantas untuk pekerjaanmu lakukan sekarang.”

Artinya, berkah pekerjaan itu ada di 3 dirham. Sisanya bukan haknya. Implikasinya, saat itu Ghul mengajakku bertanya, kalau kita mengeluh terus mendapatkan penghasilan kurang, selama kita tugas belajar ini, apakah penghasilan yang kita dapatkan itu sudah pantas kalau cuma kos-kampus-kantin saja?

Ghul mengajakku sadar bahwa kita harus berusaha agar pantas dihargai 5 dirham, bekerja lebih baik lagi, memberi manfaat lebih banyak lagi, dan yang lebih penting kita menemukan peran 5 dirham yang tepat sesuai kapasitas yang kita miliki.

Di kesempatan lain, Direktur STAN, pada suatu kuliah berkata kita harus menemukan satu hal yang benar-benar kita sukai dan kita kuasai. Tidak mungkin semua mata kuliah dilahap sampai ngelotok kering. Pilih satu saja, maqam tempat kita menjadi ahli. Aku pikir ini ada hubungannya dengan peran itu tadi.

Di situlah aku kemudian tertarik pada satu bidang dan merasa aku D4 ini adalah untuk dipertemukan dengan bidang itu.

Pun nanti S2, aku akan berusaha untuk memang menjadikan diriku ahli di suatu bidang dan kemudian aku dapat mengaplikasikannya untuk kepentingan dan kebaikan orang banyak.

Semoga.

 

Hari #4, Ayah Andrea Hirata

Barangkali aku tak salah jika berpikir karya puncak Andrea Hirata ada pada Edensor. Setelah itu, Andrea mengalami masalah yang cukup serius. Napas menulis Andrea menjadi sangat pendek. Itu juga berakibat pada kecenderungannya untuk bertindak hanya sebagai penutur.

Menulis adalah seni yang soliter. Seorang penulis bertindak sendirian. Ia sebagai komposer sekaligus pemain musiknya. Ia sebagai penata panggung dan performernya. Ia sebagai penulis cerita dan penutur ceritanya. Artinya ada hal penting lain selain bercerita, yang dibutuhkan di dalam cerita. Banyak yang menyebutnya sebagai sebuah “show”. Show di dalam fiksi berarti menciptakan adegan. Adegan adalah suatu aksi yang berhubungan dan berkelanjutan bersama-sama dengan deskripsi dan latar belakang cerita.

Menilik Ayah, pada 5 halaman pertama aku langsung jatuh tertidur panjang. Kira-kira dua jam. Lalu bangun, makan, dan melanjutkan pembacaan sampai halaman 300. Keesokan harinya aku kembali membaca sampai selesai. Dan Andrea Hirata tetaplah Andrea Hirata. Ia seorang penulis yang tetap harus dibaca dan dinantikan perkembangannya.

Aku menyebut Andrea Hirata sebagai penulis hiperbolis, ketimbang metaforis. Ia banyak menggunakan majas hiperbola sebagai bagian dari olok-oloknya pada kehidupan. Ia juga banyak menggunakan satir-satir yang menohok dan ekspresi lain mengenai keluguan, kebodohan yang menyimpan kearifan dari para tokohnya.

Dalam Ayah, salah satu hal yang disinggungnya adalah soal pendidikan dan pemberian nilai di sekolah. Tokoh ceritanya mendapat nilai 2, 3, 4, 5. Angka merah bertaburan di rapor mereka. Itu nyata. Dulu, sekolah-sekolah selalu jujur memberikan nilai rapor kepada muridnya. Aku pun pernah mendapatkan nilai 4 di rapor beberapa kali.

Kemudian terjadilah nilai ujian nasional untuk syarat kelulusan. Kata pemerintah waktu itu, sebuah bangsa yang berpendidikan tercermin dari nilai-nilai mata pelajarannya yang tinggi. Akibatnya, bukan pendidikan yang dibenahi, melainkan kunci-kunci jawaban bertebaran, dan bahkan dicurigai diotaki oleh sekolah itu sendiri.

Di sisi lain, aku baru baca tulisan Prof. Rhenald Kasali, di luar negeri, nilai-nilai itu mudah diberikan karena pendidikan di sana bersifar encouragement. Anaknya yang baru pindah ke luar negeri, disuruh bikin tulisan, diberi nilai A padahal bahasa Inggrisnya buruk. Sang guru mengatakan pemakluman dan sebuah nilai tidak diberikan saklek untuk menghambat kemajuan si anak. Sebuah nilai ada untuk menyemengati si anak untuk bisa.

Andrea menempatkan posisi guru dan murid yang serba lugu dan bodoh dalam sistem pendidikan itu dengan begitu cerdas. Cobalah tengok ketika sang guru bertanya, “100 itu berapa persen dari 400?” Teman Sabari diam tak berkutik. Sabari ingin memberi tahu jawabannya adalah 45%. Tapi keburu sang guru berkata yang benar itu 15%. Kesemua jawaban itu salah.

Pola-pola adegan seperti itu banyak dilakukan Andrea Hirata sebagai bentuk sindiriannya pada kenyataan.

Selain itu, tak ada yang baru kecuali dua hal mungkin. Andrea kini mengenal Gabriel Garcia Marquez setelah sebelumnya mengaku tak pernah membaca karya sastra selain dua buku saja. Dan coba-cobanya menggunakan teknik foreshadow pada tokoh Amiru yang tak lain tak bukan ialah Zorro.

Selebihnya, napas pendek Andrea Hirata yang disiasati dengan bab berfragmen belum dapat membuatku menyebut novel ini istimewa. Edensor masih jauh lebih baik. Aku bilang karakter-karakter yang dituturkan itu tak begitu hidup seperti halnya kenanganku pada Arai dan Lintang.

Pengulangan-pengulangan deskripsi seperti blue moment, batu besar dari zaman Jura juga menjadi titik lemah novel ini. Pun kehiperbolisannya yang terlalu hiperbola (apa pula itu).

Akhirnya, aku bertanya-tanya, apakah sebuah karya dengan nilai tradisionalitas/lokalitas selalu dinilai tinggi oleh para penggiat sastra? Apakah Andrea Hirata dan Benny Arnas itu bersaudara? Sebab sepanjang membaca novel ini, entah kenapa, aku jadi teringat pengarang dari Lubuk Linggau itu.

Hari #2, UFO

Surat Lia Eden ke Presiden tentang izin pendaratan UFO yang dikendalikan Malaikat Jibril itu mengingatkanku pada penampakan-penampakan UFO yang pernah kulihat.

UFO selalu diidentikkan dengan alien, dengan makhluk luar angkasa. Padahal UFO adalah unidentified flying object, benda terbang yang tak dapat diidentifikasi. Artinya, belum tentu dia alien. Bisa jadi dia pesawat canggih buatan manusia yang tidak diketahui, seperti halnya pesawat raksasa markasnya The Avenger itu toh.

Aku tidak akan membahas UFO itu apa, alien itu apa, hanya saja, ketika pertama aku melihat UFO itu, aku merasa aku adalah manusia spesial. Tidak semua orang pernah melihat UFO. Tidak semua orang diperlihatkan UFO.

Aku punya kebiasaan itu sejak kecil. Aku suka melihat langit. Seringkali aku berbaring di hijaunya rumput Jepang di halaman rumahku atau duduk di ayunan sambil menengadah ke langit. Aku akan melihat birunya langit dan awan-awan putih yang menggumpal di sana. Dari itu, aku akan membayangkan awan-awan itu membentuk sesuatu, kadangkala sesuatu yang kuinginkan ada, maka awan itu akan menjadi apa saja yang kuinginkan itu. Bila malam tiba pun, aku akan senang sekali melihat langit dan menyaksikan bintang jatuh. Saat itu, aku belum berpikir mengenai UFO karena aku belum tahu.

Kejadian pertama adalah ketika aku pulang dari Sastra Reboan. Di taksi kami berlima, aku duduk di samping sopir. Di perjalanan Norman dan teman-teman asik mengobrol, aku asuk melihat bulan di langit. Tak jauh dari bulan itu ada pancaran cahaya. Kukira dia bintang. Tapi kemudian cahayanya semakin besar, memejar, dan ia bergerak sebelum menghilang beberapa detik setelahnya. Aku berteriak. “Hei, kalian lihat itu?” tanyaku pada teman-teman. Mereka heran dengan yang kutanyakan. Sang sopir di sebelahku menjawab, “Saya lihat, Mas.”

Ya, itu UFO. Hal seperti itu beberapa kali kulihat kembali dalam waktu yang berbeda.

Beberapa waktu lalu juga aku membaca sebuah artikel mengenai fenomena hantu yang coba dijelaskan oleh peneliti. Beberapa orang yang skeptis diminta jadi volunteer di tempat-tempat yang dianggap menyeramkan. Awalnya mereka tidak merasakan apa-apa. Ketika para peneliti menambahkan suara berfrekuensi rendah, barulah mereka dapat melihat sesuatu. Dari situ disimpulkan bahwa, frekuensi suara yang rendah dapat mengakibatkan seseorang melihat sesuatu. Ada bagian-bagian otak yang bekerja di sana.

Aku jadi berpikir, segala yang kita lihat, segala yang kita indrai ini sebenarnya hanyalah kerja otak. Kalau otak kita rusak, kita tidak dapat merasakan panas itu panas. Aku bertanya-tenya apakah segala yang kita lihat itu sebenarnya ada. Kita melihat warna laut itu biru karena mata kita melihatnya biru, karena sensor, syaraf dan kerja otak yang melihatnya sebagai warna biru. Apakah laut benar-benar biru?

Dalam konteks yang lebih luas, apakah dunia ini benar-benar ada? Apakah kita ini benar-benar ada? Ataukah kita hanya satu bagian otak, satu kerja sistem, sebuah kesadaran dan realitas yang ada saat ini hanyalah buah kesadaran itu?

Aku tidak tahu, apakah UFO yang kemudian membuatku berpikir bukan tentang apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta ini, melainkan apakah kita benar-benar ada atau hanyalah sebuah proyeksi dari kesadaran yang dibuat oleh sesuatu?

Entahlah.

Penerapan Action Control pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

Isu sumber daya manusia adalah salah satu faktor penting dalam pelaksanaan pengendalian demi mencapai tujuan sebuah entitas/organisasi. Hanya saja, seringkali terdapat perbedaan antara tujuan yang ingin diraih organisasi dengan tindakan yang dilakukan oleh para pegawai. Untuk mengatasi hal tersebut, sebuah organisasi memerlukan sistem pengendalian manajemen.

Setidaknya, ada tiga bentuk pengendalian manajemen yang dilakukan organisasi yakni result control, action control dan personal—cultural control. Ketiganya memiliki pendekatan yang berbeda dalam melakukan pengendalian terhadap para pegawai. Sebuah organisasi yang baik tahu dan dapat mengombinasikan ketiga pengendalian tersebut dalam penerapannya di dalam organisasi.

Begitu juga dalam organisasi pemerintahan, dalam hal ini kami mengambil objek Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, ketiga bentuk pengendalian tersebut juga diterapkan. Secara jelas, result control bicara mengenai target yang dapat dikuantitatifkan, misalnya target realisasi/penyerapan anggaran yang dilakukan satuan kerja atau target kepatuhan satuan kerja dalam mengirimkan perencanaan kasnya. Sementara personal—cultural control tercermin dalam nilai-nilai Kementerian Keuangan yang harus dijewantahkan oleh setiap pegawai negeri sipil. Begitu pun action control.

Dalam paper ini, secara spesifik, kami akan membahas mengenai action control di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

Kontrol tindakan (action control) adalah bentuk yang paling langsung dari pengendalian manajemen karena mereka melibatkan mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa karyawan bertindak sesuai dengan kepentingan terbaik organisasi dengan membuat tindakan mereka sendiri fokus kontrol. kontrol tindakan mengambil salah satu dari empat bentuk dasar: behavioral constraints, preaction review, action acountability, dan redundancy.

Behavior Constrains

Pembatasan perilaku adalah bentuk negatif dari kontrol tindakan. tindakan tersebut membuat tidak mungkin, atau setidaknya lebih sulit, bagi karyawan untuk melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Kendala dapat diterapkan secara fisik atau administratif. Sebagian besar perusahaan menggunakan berbagai bentuk kendala fisik, termasuk kunci di meja, password komputer, dan keterbatasan akses ke daerah-daerah di mana persediaan yang berharga dan informasi sensitif disimpan. Beberapa perangkat pembatasan perilaku secara teknis canggih dan seringnya mahal, seperti pembaca kartu identifikasi magnetik dan sidik jari atau pembaca pola bola mata. Dalam situasi di mana tingkat kontrol yang tinggi yang diinginkan, seperti di fasilitas dimana bahan radioaktif diproses, lembaga dinas rahasia di mana informasi rahasia yang dikumpulkan, atau kasino kamar hitung di mana kas ditangani, manfaat kontrol canggih seperti mungkin lebih besar daripada biaya mereka. Kendala administrasi juga dapat digunakan untuk menempatkan batasan pada kemampuan karyawan untuk melakukan semua atau sebagian dari tindakan tertentu. Salah satu bentuk umum dari kontrol administratif melibatkan pembatasan otoritas pengambilan keputusan.

Di KPPN, behavioral constraints diterapkan dalam sistem kehadiran pegawai yang telah menggunakan mesin handkey/sidik jari. Pengisian kehadiran pegawai dilakukan sebanyak dua kali sehari yaitu pada saat masuk kerja dan pulang kerja. Pada saat masuk kerja, para pegawai diwajibkan melakukan pemindaian sidik jari sebagai bukti kehadiran pada waktu yang ditentukan. Waktu kedatangan akan tertera dan menjadi dasar denda (berupa potongan tunjangan kinerja) bila ada keterlambatan. Sama halnya pada saat pulang kerja dengan pengecualian, pegawai yang lupa melakukan absensi saat pulang dapat menggantinya dengan surat keterangan lupa absen dari atasan yang bersangkutan (diatur dalam ketentuan khusus).

Selain itu, behavioral constraints diterapkan juga dalam aksesibilitas sistem manajemen informasi. Pegawai yang bertugas menjadi front officer akan mendapatkan level user yang sesuai dengan pekerjaannya. Di KPPN tipe A2 misalnya, hanya ada 8 user SPAN yang digunakan sesuai dengan levelnya.

Bentuk lain yang umum dari kontrol administratif umumnya disebut sebagai pemisahan tugas. Ini melibatkan membagi tugas yang diperlukan untuk pemenuhan tugas sensitif tertentu, sehingga membuatnya tidak mungkin, atau setidaknya sulit, untuk satu orang untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu saja. Pemisahan tugas datang dalam berbagai bentuk. Salah satu contoh umum melibatkan memastikan karyawan yang membuat entri pembayaran dalam buku besar piutang bukanlah karyawan yang menerima cek. Jika seorang karyawan mengalihkan cek perusahaan ke rekening pribadi hanya memiliki tugas entri untuk pembayaran; yaitu, membuka surat dan daftar, mendukung, dan sejumlah cek yang masuk, pelanggan akan akhirnya mengeluh dan mengklaim tentang tagihan untuk jumlah mereka sudah dibayar. Tapi orang dengan tugas penerima cek dan entri pembayaran bisa mengalihkan cek dan menutupi tindakan dengan membuat entri fiktif pengembalian barang atau, mungkin, penyesuaian harga. Pemisahan tugas digambarkan oleh auditor sebagai salah satu persyaratan dasar apa yang mereka sebut pengendalian internal yang baik.

Di KPPN, pemisahan tugas juga diterapkan baik dalam seksi yang berbeda maupun dalam seksi yang sama. Dalam seksi yang sama, misalnya di Seksi Pencairan Dana, pemisahan tugas dilakukan antara pegawai di front office dengan pegawai di middle office. Pegawai di front office melakukan penerimaan SPM dari satuan kerja, lalu middle officer bertugas memeriksa kembali SPM yang sudah diterima sebelum mencetaknya menjadi konsep SP2D. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam pekerjaan atau sebagai check and balance.

Preaction Reviews

Preaction Review melibatkan pengawasan dari rencana aksi karyawan yang sedang dikendalikan. Reviewer dapat menyetujui atau menolak tindakan yang diusulkan, meminta modifikasi, atau meminta rencana yang lebih seksama sebelum memberikan persetujuan akhir. Bentuk umum dari preaction review terjadi selama proses perencanaan dan penganggaran yang ditandai dengan berbagai tingkat review dari tindakan yang direncanakan dan anggaran di tingkat organisasi secara berurutan lebih tinggi.

Di KPPN, para pegawai diizinkan untuk mengusulkan inovasi kegiatan yang dapat meningkatkan pelayanan. Tiap seksi diminta untuk mengusulkan kegiatan yang ingin dilakukan. Para pegawai dapat mengajukan proposal kegiatan seperti sosialiasi dengan segala detilnya mulai dari tema, jumlah peserta, honor, sampai souvenir yang dapat diberikan ke satuan kerja. Hal ini membutuhkan anggaran tertentu dan kemudian proposal tersebut akan direview untuk disetujui atau ditolak.

Action Accountability

Akuntabilitas tindakan (action Accountability) melibatkan mempertahankan karyawan untuk bertanggung jawab atas tindakan yang mereka ambil. Pelaksanaan kontrol akuntabilitas tindakan mensyaratkan: (1) mendefinisikan apa tindakan yang dapat diterima atau tidak dapat diterima, (2) mengkomunikasikan definisi mereka kepada karyawan, (3) mengamati atau pelacakan apa yang terjadi, dan (4) memberikan penghargaan perbuatan baik atau menghukum tindakan yang menyimpang dari diterima.

Tindakan yang karyawan harus bertanggung jawab dapat dikomunikasikan baik secara administratif maupun secara sosial. Mode administrasi komunikasi termasuk penggunaan kerja aturan, kebijakan dan prosedur, ketentuan kontrak, dan kode etik perusahaan. Hal ini sering terjadi pada rantai waralaba makanan cepat saji, seperti McDonald, untuk merumuskan dan mengkomunikasikan secara tertulis, dan memperjelas dan memperkuat melalui pelatihan, bagaimana hampir segala sesuatu harus dilakukan, termasuk bagaimana menangani uang tunai, bagaimana untuk menyewa personil, di mana untuk membeli persediaan, dan apa suhu untuk menjaga minyak saat memasak kentang goreng. Demikian pula perawat menggunakan daftar periksa pra operasi untuk membantu memastikan bahwa mereka mempersiapkan pasien secara menyeluruh untuk operasi. Daftar pembanding ini mengingatkan mereka untuk memeriksa alergi pasien, riwayat obat yang digunakan dan waktu makan terakhir. Personil department store juga umumnya memiliki rangkaian prosedur dimana mereka diharapkan untuk mengikutinya. Pada pengecer besar, manajer toko ditegur jika karton barang dagangan yang kosong belum dirusak sebelum dikirim ke ruang sampah karena karyawan bisa menggunakan karton untuk mencuri barang dagangan.

Tindakan yang diinginkan tidak harus dikomunikasikan dalam bentuk tertulis, namun tindakan tersebut dapat dikomunikasikan secara tatap muka dalam pertemuan atau secara pribadi. Sebagai contoh, Andrew Grove, mantan Chief Executive Officer (CEO) Intel, mengakui bahwa untuk menjaga “jenderal dan pasukannya berbaris ke arah yang sama itu memerlukan membujuk yang konstan dan adanya perselisihan atas dan ke bawah pada peringkat.”

Kadang-kadang tindakan yang diinginkan belum dikomunikasikan secara eksplisit sama sekali. Dalam banyak audit operasional, audit pasca keputusan investasi modal, dan peer review auditor, pengacara, dokter, dan manajer, individu harus bertanggung jawab atas tindakan mereka yang melibatkan pertimbangan profesional. Keinginan tindakan profesional umumnya tidak dapat dengan jelas digambarkan dari penampakan luar Meskipun demikian, orang-orang ini harus bertanggung jawab atas tindakan mereka di bawah premis bahwa mereka harus bertindak secara profesional.
Meskipun kontrol akuntabilitas tindakan yang paling efektif jika tindakan yang diinginkan dikomunikasikan dengan baik, komunikasi tidak cukup dengan sendirinya untuk membuat kontrol ini efektif. individu yang terkena dampak harus memahami apa yang diperlukan dan merasa cukup yakin bahwa tindakan mereka akan diperhatikan dan dihargai atau dihukum dalam beberapa cara yang signifikan.

Tindakan dapat dilacak dalam beberapa cara. Tindakan karyawan dapat diamati secara langsung dan hampir terus menerus seperti yang dilakukan oleh supervisor langsung pada lini produksi. Mereka dapat dilacak secara berkala, seperti toko ritel lakukan ketika mereka menggunakan pembeli misterius untuk mengkritik layanan yang disediakan oleh administrasi toko. Tindakan tersebut juga dapat dilacak dengan memeriksa bukti tindakan yang dilakukan, seperti laporan kegiatan atau dokumentasi atas pengeluaran. Auditor, khususnya auditor internal, menghabiskan banyak waktu mereka memeriksa bukti-bukti tentang kepatuhan terhadap standar tindakan prapembagunan. Akuntabilitas tindakan biasanya dilaksanakan dengan kekuatan negatif. Artinya, tindakan didefinisikan lebih sering dikaitkan dengan hukuman daripada dengan imbalan. Baja Nucor menghubungkan beberapa elemen kontrak untuk tindakan sebagai bagian dari insentif perjanjian kompensasi tenaga kerja produksi ini. Siapapun terlambat untuk shift kehilangan bonus satu hari, dan siapa saja yang melewatkan shift kehilangan bonus untuk mingguan At Home Depot, manajer diminta untuk menggunakan sistem personil screening di rumah ketika merekrut karyawan baru. Namun baru-baru lima manajer gagal untuk menggunakan sistem, dan mereka dipecat.

Di KPPN, dalam kesehariannya, pegawai KPPN dilarang merokok di lingkungan kantor. Hal ini sesuai dengan Surat dari Menteri Keuangan mengenai larangan merokok di seluruh wilayah Kementerian Keuangan. Pegawai KPPN juga tidak boleh menerima telepon ataupun bermain internet saat sedang berhadapan langsung dengan satuan kerja. Hal ini sesuai dengan aturan mengenai Service Excellent di lingkungan KPPN, dimana hal tersebut dikhawatirkan akan mengganggu pelayanan kepada satuan kerja.

Dalam ranah yang lebih luas, action accountability dikembangkan menjadi ‘apa yang harus dikerjakan pegawai apabila mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Dalam melayani satuan kerja, petugas Front Office KPPN diharuskan untuk menerapkan service excellent. Dalam hal ini petugas Front Office KPPN harus memberikan senyum, salam, dan sapa kepada setiap satuan kerja yang dilayaninya. Selain itu, pegawai KPPN dilarang menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Salah satu bentuk pengendalian yang dilakukan oleh KPPN adalah dengan dipasangnya kamera CCTV pada titik-titik tertentu dalam lingkungan kantor. Hal ini dilakukan untuk melihat aktivitas pegawai, baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan aturan dan etos kerja. Kamera CCTV ini dapat berguna untuk memantau aktivitas pegawai di saat jam kerja, bagaimana pelayanan yang dilakukan oleh pegawai KPPN terhadap satuan kerja, dan melihat apakah telah terjadi kecurangan atau penyimpangan yang dilakukan pegawai, seperti menerima gratifikasi.

Redundansi

Redundansi, yang melibatkan menugaskan lebih banyak karyawan (atau mesin) untuk suatu tugas melebihi dari yang dibutuhkan, atau setidaknya memiliki karyawan cadangan (atau mesin) tersedia, juga dapat dianggap sebagai kontrol tindakan karena meningkatkan kemungkinan bahwa tugas akan diselesaikan secara memuaskan . Redundansi adalah umum di fasilitas komputer, fungsi keamanan, dan operasi penting lainnya. Namun, jarang digunakan di daerah lain karena mahal. Selanjutnya, menetapkan lebih dari satu karyawan untuk tugas yang sama biasanya menghasilkan konflik, frustrasi, dan/atau kebosanan.

Di KPPN, penumpukan pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi menjelang akhir tahun anggaran. SPM yang biasaya hanya 400 per hari meningkat menjadi 2000 per hari. Hal ini akan meningkatkan beban para pegawai Seksi Pencairan Dana. Karenanya, dilakukan penambahan pegawai yang bertugas di Seksi Pencairan Dana dari seksi-seksi lain. Petugas FO Pencairan Dana yang biasa berjumlah 2 orang di KPPN Tipe A2 ditambah menjadi 3-4 orang agar dapat melayani satuan kerja dengan baik dan tidak menimbulkan antrian yang lama.

Begitu juga dalam penggunaan printer di akhir tahun anggaran. Misalnya di KPPN Sumbawa Besar, dua pegawai FO Pencairan dana hanya menggunakan 1 printer di hari-hari normal. Menjelang akhir tahun anggaran, jumlah printer juga ditambahkan dari seksi yang idle sehingga meminimalisasi terjadinya jamming atau kemacetan pada saat hendak mencetak bukti penerimaan SPM.

ACTION CONTROL DAN CONTROL PROBLEM

Kontrol tindakan bekerja karena, seperti jenis lain dari kontrol, mereka mengatasi salah satu atau lebih dari tiga masalah kontrol dasar. Tabel ini menunjukkan jenis masalah ditangani oleh masing-masing kontrol tindakan. Pembatasan Perilaku (Behavior Constrains) terutama efektif dalam menghilangkan masalah motivasi. Karyawan yang mungkin tergoda untuk terlibat dalam perilaku yang tidak diinginkan dapat dicegah dari melakukannya. Preaction Review dapat mengatasi ketiga masalah kontrol. Karena mereka sering melibatkan komunikasi kepada karyawan tentang apa yang diinginkan, mereka dapat membantu meringankan kurangnya arah. Mereka juga dapat memberikan motivasi, sebagai ketentuan Preaction Review dari sebuah tindakan karyawan biasanya meminta kehati-hatian ekstra dalam penyusunan proposal pengeluaran, anggaran, atau rencana aksi. Preaction Review juga mengurangi dampak berpotensi mahal dari keterbatasan pribadi, karena Pengulas yang baik dapat menambah keahlian jika diperlukan. Review dapat mencegah kesalahan atau tindakan berbahaya lainnya terjadi.

Kontrol akuntabilitas tindakan (Action Accountability) juga dapat mengatasi semua masalah kontrol. Apa yang disampaikan dalam tindakan yang diinginkan dapat membantu memberikan arah dan mengurangi jenis keterbatasan pribadi karena keterampilan yang tidak memadai atau pengalaman. Dan imbalan atau hukuman membantu memberikan motivasi. Redundansi relatif terbatas dalam penerapannya. Hal ini terutama efektif dalam membantu untuk menyelesaikan tugas tertentu jika ada beberapa keraguan apakah karyawan ditugaskan untuk tugas ini baik termotivasi untuk melakukan tugas dengan memuaskan atau mampu melakukannya.

Pada praktiknya, di KPPN, action control tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah pengendalian. Pada behavioral contraints, pengisian daftar hadir pegawai dengan handkey tidak menghasilkan kedisiplinan yang memadai. Hal ini masih memunculkan masalah motivasi pegawai. Di KPPN tipe A2, ada sebagian pegawai yang melakukan absensi lebih dulu, kemudian pulang lagi dan kembali datang lewat dari jam masuk yang diberlakukan. Hal ini lolos dan tidak dapat dikendalikan dengan cara ini. Motivasi pegawai untuk melakukan absensi hanya untuk menghindari denda/potongan dan tidak membentuk pribadi yang disiplin dalam mencapai tujuan yang diinginkan organisasi.

Begitu pun dalam pembatasan kewenangan. Beberapa KPPN di daerah mengalami masalah kekurangan sumber daya manusia. Berdasarkan analisis beban kerja, misalnya di suatu KPPN membutuhkan pegawai 20, namun kenyataannya hanya ada 14 pegawai. Hal ini menyebabkan satu orang pegawai dapat bertugas di dua seksi yang berbeda atau ia berada dalam satu seksi, tapi merangkap dua peran di front dan middle office sekaligus. Level user juga bermasalah karena tak jarang semua pegawai di kantor tahu user name dan password yang digunakan oleh setiap komputer dan setiap pegawai.
Dalam preaction review, masalah muncul dengan kecenderungan mencantumkan rincian anggaran dengan batas atas dari setiap detil yang dibutuhkan sehingga yang terjadi adalah pemborosan anggaran dengan dalih penyerapan anggaran.
Dalam action accountability, masalah yang muncul adalah tidak semua pegawai pernah mendapat pelatihan service excellence, sehingga dalam praktiknya juga terjadi bias interpretasi atas pelayanan prima. Larangan merokok di lingkungan kantor juga kerap dilanggar dengan masih merokok di luar kantor yang masih kawasan kantor. Tidak ada sanksi yang tegas yang diterapkan pimpinan dalam hal ini.

Dalam teknologinya, keterbatasan terjadi pada CCTV yang dipasang. Keterbatasan itu ada pada memori yang digunakan sehingga penyimpanan atas kejadian-kejadian yang seharusnya menjadi arsip pun terbatas.
Dalam redundansi, masalah muncul dari kapasitas SDM. Tidak semua pegawai di KPPN memiliki kapasitas yang sama. Penambahan jumlah pegawai pada akhir tahun seringkali berasal dari Subbagian Umum yang tidak punya pengalaman dalam hal teknis pencairan dana. Sehingga yang kerap terjadi adalah bukannya membantu kelancaran pekerjaan, malah terjadi kesalahan dalam penerimaan SPM oleh pegawai tersebut.

Tujuh Buku yang Wajib Dibaca Pegawai Perbendaharaan

 

                Menjadi sederhana bukan berarti tidak menyisihkan waktu dan uang untuk membeli dan membaca buku. Hanya manusia bar-bar yang mengabaikan buku sebagaimana mal yang bar-bar kalau tidak punya toko buku dan koran yang bar-bar kalau tidak punya lembar sastra di dalamnya.

Apalagi yang penempatan di daerah-daerah, yang tidak tahu bagaimana cara membelanjakan uangnya selain untuk makan dan tiket pulang, mubazir sekali rasanya kalau uang cuma menumpuk di rekening dan menunggu berbunga setiap bulannya. Investasi pengetahuan tentu lebih baik dari pada investasi rumah. Tapi kalau ada yang mau kasih saya rumah, alhamdulillah.

Setidaknya ada 7 buku yang wajib dibaca pegawai Perbendaharaan untuk membunuh sepi, sambil melihat gunung, ombak di tepi pantai, atau merasakan angin semilir yang paham makna kesepian dari perantauan.

Trilogi 1Q84, Haruki Murakami

10357575

Tujuan beasiswa pegawai Kementerian Keuangan selain Australia adalah Jepang. Alasannya klise, dana untuk beasiswa-beasiswa itu berasal dari utang luar negeri, dengan kontribusi Australia dan Jepang. Nah, Haruki Murakami adalah salah satu penulis Jepang paling dahsyat yang pernah ada. Dengan membaca novel penulis Jepang, bisa jadi motivasi untuk berangkat ke Jepang itu semakin besar.

Di 1Q84, para pegawai Perbendaharaan bisa belajar dari Tengo yang jago matematika, berbadan atletis, tapi dianggap tak punya peran penting dalam kehidupan. Ayahnya hanyalah seorang penagih iuran saluran televisi. Dan selain mengajar les, kehidupannya hanya ada di dalam kamar.

Tengo dapat mengajarkan perasaan kesepian sesungguhnya, sambil mengenang cinta pertama yang entah di mana. Sehingga ketika ada yang merasa kesepian, ingatlah Tengo.

Itu sebelum Tengo bertemu Fuka-Eri. Fuka-eri menulis tentang kepompong dan orang kecil. Boleh jadi pegawai Perbendaharaan dianggap orang kecil, tapi boleh jadi juga sekarang ini Perbendaharaan masih seperti kepompong. Tapi, jangan jadi kupu-kupu. Karena kupu-kupu maksimal hanya hidup selama 40 hari.

Grotesque, Natsuo Kirino.

51xmyMydf3L._SY344_BO1,204,203,200_

Kalau 1 orang Jepang tak cukup untuk motivasi ke Jepang, tambahkan 1 orang Jepang lagi.

Natsuo Kirino mengajarkan bahwa nama itu tidak penting. Sampai akhir cerita, buku yang tebalnya cukup untuk menimpuk seseorang ini tidak menuliskan nama tokoh utamanya. Tokoh utamanya tidak cantik, tidak seksi, tidak menonjol di kelas, karirnya pun biasa-biasa saja. Ia hidup menjadi manusia pada umumnya, meski dikelilingi orang-orang yang istimewa, unik, sampai ambisus sekalipun.

Nah, barangkali ini bisa menghiburkan perasaan pegawai Perbendaharaan. Biar tidak dianggap, biar tidak dikenal oleh masyarakat luas, kita tetap bisa menjadi tokoh utama dalam cerita.

 

Lelaki Harimau, Eka Kurniawan.

wpid-img_20150228_051341

Sayangnya, jumlah lelaki harimaunya bukan tujuh. Kalau ada tujuh lelaki harimau, pasti sudah jadi judul sinetron.

Lelaki Harimau setidaknya berhasil menguliti sisi kebinatangan manusia yang sering bertindak tanpa berpikir, mengabaikan akal sehat pada segala bentuk persoalan.

Persoalannya dimulai dari seorang lelaki yang tak mau berkirim surat pada seorang perempuan. Mereka berdua orang tua Margio. Mereka berpisah karena sang lelaki hendak mamantaskan diri untuk menjadi pasangan sang wanita. Ketika berpisah, dan tak ada surat lagi, sang wanita dinikahi lelaki lain.

Margio mengajarkan kita betapa keutuhan keluarga itu penting. Peran seorang ayah dipadu peran seorang ibu dalam pertumbuhan dibutuhkan. Janganlah ada lagi pegawai-pegawai Perbendaharaan yang suaminya bekerja di mana, istrinya di mana, anaknya ikut kakeknya bila tidak mau sang anak berubah menjadi Lelaki Harimau.

 

4 Musim Cinta, Mandewi Puguh Gafur Pringadi

10984214_10152814673939794_8329987928236371049_n

Panjang sekali ya nama pengarangnya. Oh, tidak, novel itu ditulis oleh empat orang dan keempat-empatnya adalah pegawai Ditjen Perbendaharaan.

Sungguh terlalu sekali, jika keluarga sendiri yang menulis, tapi tidak dimiliki?

Novel ini berkisah mengenai lika-liku cinta dan kehidupan birokrat muda di Perbendaharaan. Keempat karakternya memiliki latar belakang daerah yang berbeda, penempatan yang berbeda, dan juga memiliki masalah-masalah yang berbeda. Subplot itu kemudian berada di bawah satu plot besar dalam pertanyaan apakah kita telah siap atas sebuah pilihan hidup yang telah kita ambil?

Pringadi meyakini tak ada yang salah dari perasaan. Tapi perasaan itu menjadi salah ketika ia sudah menikah, terlebih ia jatuh hati kepada Gayatri. Sementara Arga dan Gafur terlibat dalam cinta segitiga dengan seorang barista. Bagaimanakah kemudian mereka harus memilih, pada cinta atau persahabatan?

Sampai akhir, tak ada yang tahu siapa yang paling berbahagia di antara apa yang sudah terjadi, dan tak ada yang menemukan jawaban, kenapa Tuhan menciptakan kebahagiaan?

 

Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih, Pringadi Abdi Surya

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

Apalah arti hidup tanpa puisi, barangkali seperti makan garam tanpa sayur.

Ini adalah buku kumpulan puisi yang ditulis Pringadi selama di Sumbawa Besar. Terlebih ia menulisnya di komputer KPPN, selama ia menjadi FO Pencairan Dana.

Ketika kita masih dan terus bersedih, puisilah obatnya. Puisi diyakini Pringadi dapat membuat orang tersenyum, jatuh cinta, merindu, dan mengobati luka demi luka akibat kesepian. Tapi puisi juga bisa menghadirkan kesepian paling sepi juga.

Hebatnya, buku ini tidak dijual di toko buku. Buku ini indie. Hanya bisa dibeli di penulisnya dan di Indie Book Corner

 

 

 

Itulah 7 buku yang wajib dibaca pegawai Perbendaharan!