Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Info Lomba Menulis

Seratus Ribu Anak Panah Cao-Cao

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

“Kita ingin menyerang pasukan Cao, senjata apakah yang terbaik untuk digunakan bila kita ingin menyerang mereka dari sungai?”

“Busur dan anak panah adalah senjata yang terbaik,” jawab Zhuge Liang.

Zhou Yu berkata, “Benar, apa yang Tuan katakan sama dengan apa yang saya pikirkan. Sekarang pasukan kita kekurangan anak panah, sudilah kiranya Tuan bertanggung jawab untuk segera membuat seratus ribu anak panah.”

Zhuge Liang membalas, “Saya pasti akan memenuhi amanat Anda. Hanya saja saya tidak tahu kapan kiranya seratus ribu anak panah ini digunakan?”.

Zhou Yu bertanya, “Dapatkah Anda membuatnya dalam waktu sepuluh hari?”

Zhuge Liang menjawab, “Tentara Cao akan segera datang, bila pembuatannya baru selesai dalam sepuluh hari, kita pasti menghambat perkara besar.”

Zhou Yu pun kembali bertanya, “Kira-kira Tuan perlu berapa hari untuk dapat menyelesaikannya?”

“Hanya tiga hari,” balas Zhuge Liang.

 

Salah satu adegan paling menarik di dalam film Red Cliff 2 adalah janji Zhuge Liang kepada Zhao Yu untuk mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu tiga hari. Dalam keadaan kekurangan sumber daya untuk menghadapi satu juta pasukan Cao Cao yang sedang berada di sungai Yang Tse, Zhuge Liang melakukan strategi unik dan berani.

Malam itu kabut turun pekat. Zhuge Liang melayarkan kapal-kapal yang dipenuhi dengan jerami. Menyadari musuhnya mengalami kesulitan jarak pandang, Zhuge Liang memainkan lawan dengan menabuh genderang perang dan beberapa anak panah yang dilepaskan dengan sengaja agar lawan mengira mereka sedang diserang.

Merasa sombong dan di atas angin, lawan mereka menembakkan ribuan anak panah ke dalam kabut yang pekat. Zhuge Liang terus menabuh genderang dan lawan semakin geram sehingga ribuan anak panah lain melesat menghujani kapal-kapal jerami.

Anak panah yang dilepaskan lawan menancap di kapal-kapal jerami dan anak-anak panah itulah yang kemudian diserahkan Zhuge Liang kepada Zhao Yu untuk menyerang Cao-Cao.

Zhuge Liang atau juga disebut Naga Tidur merupakan penasehat perang terbaik di masa tiga kerajaan. Zhuge Liang terkenal dengan kemampuannya dalam membaca alam, pintar, dan sering kali menggunakan taktik perang yang didukung oleh alam sehingga dengan prajurit yang terbatas, ia menjadi lebih efektif dan efisien dalam berperang. Sehingga sosoknya menjadi sangat vital bagi negara Shu yang dipimpin oleh Liu Bei. Ia juga pencetus ide pendirian 3 kerajaan untuk menjaga kestabilan negara Han dari rezim Cao-Cao.

Kekuatan utama Zhuge Liang sebagai seorang pemimpin ada pada ciri model the way dan challenge the process.

Zhuge Liang pun paham begitu pentingnya strategi dan perencanaan. Strategi taktis yang diusulkannya mampu mengantarkan pada kemenangan perang. Dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan, salah satu pilar penting yang tidak boleh dilupakan adalah perencanaan.

Ia memiliki pembawaan yang tenang dan rendah hati. Tetapi ia memiliki cara yang tidak biasa. Caranya mendapatkan 100.000 anak panah Cao-Cao adalah contohnya. Belum lagi strateginya dalam bertaruh bahwa implikasi dari rangkaian strateginya akan menimbulkan ketidakpercayaan Cao-Cao pada dua laksamana yang paling paham medan. Di sinilah, titik balik kemenangan perang itu terjadi.

Zhuge Liang juga memahami betul filosofi seni. Ia menantang Zhao Yu bermain kecapi untuk mendapatkan kepercayaan Zhao Yu sekaligus saling menilai kapasitas masing-masing.

Zhou Yu adalah penasehat perang yang telah dipercaya 3 generasi klan Sun semenjak diperintah oleh Sun Jian hingga Sun Quan. Zhou Yu merupakan tipikal penasehat perang yang taktis dan sangat menguasai taktik perang di perairan. Zhou Yu juga merangkap sebagai komandan perang. Ia memiliki kemampuan dalam menggerakkan perasaan prajurit hingga menaikkan moral mereka. Tipe lainnya adalah observer. Ia akan menguji kemampuan bawahan dan teman yang menjadi sekutunya hingga ia yakin dan akan terus menjaga keyakinannya.

Sebagai contoh, adanya peristiwa pencurian kerbau penduduk oleh prajuritnya. Prajurit yang mencuri kerbau itu berada di batalionnya Gan Xian dengan ciri kaki yang terkena lumpur. Namun, Zhou Yu tidak langsung menghukum prajurit tersebut. Justru ia membela prajurit tersebut dengan menyuruh prajurit lain menginjak lumpur agar tanda tersamarkan. Gan Xian sebagai pemimpin batalion melihat hal tersebut akhirnya sadar dan meminta maaf langsung kepada petani yang dicuri sapinya hingga membuat para prajurit terharu karena kesalahan prajurit biasa ditanggung oleh jenderal mereka. Hal inilah yang membuat moral prajurit menjadi lebih percaya kepada pemimpin. Filosofi pemimpin ialah membela bawahan bukan langsung menyalahkan karena kesalahan bawahan bisa saja karena kesalahan pemimpin dalam mendidiknya.

Cao cao merupakan perdana menteri dan jenderal utama dari negara Han. Ia adalah pemimpin yang memiliki segalanya, kepintaran dan seni berperang, dukungan politik dan militer, hingga pengalaman perang yang sangat banyak dengan catatan rekor tidak pernah terkalahkan. Tetapi, ketamakan akan kekuasaan yang menjadikan ia jatuh menjadi pemimpin yang dibenci.

Seni berperangnya setingkat Zhou Yu dan Zhuge Liang akan tetapi terkadang ia ceroboh terutama pada godaan wanita yang merupakan sumber peperangan kali ini.

Sebelum berperang masing masing pihak saling menganalisis SWOT. Faktor geomorfologi pegunugan dan perairan dijadikan landasan analisis fisik dasar dan infrastruktur yang menunjang dalam perang seperti kapal perang di area yang dominan perairan.

Pihak aliansi Wu-Shu telah lebih dahulu berbasis di area tebing merah sebelah timur yang telah turun temurun dijadikan benteng alam akan tetapi Cao cao juga bisa membaca dengan menjadikan tebing merah di sebelah barat sebagai benteng alam juga. Sayangnya analisis Cao cao kurang komprehensif sehingga ia tidak mempertimbangkan faktor skenario terburuk dalam perang karena ia belum pernah terkalahkan sekalipun sehingga ia lupa bahwa tebing di sisi barat tidak memiliki area untuk melarikan diri ke arah barat.

Pada awalnya Cao Cao sangat diuntungkan dengan bergabungnya dua laksamana yang menyediakan, dan membangun angkatan laut. Akan tetapi karena perencanaan terstruktur, rapi dan sangat rahasia oleh Zhou Yu dan Zhuge Liang yang menyebabkan Cao Cao membunuh laksamananya sendiri—karena kurangnya kepercayaan Cao Cao yang juga telah membaca bahwa banyak panglima pendukungnya yang kurang loyal.

Faktor lain yaitu perencanaan Demografi atau Manpower. Cao Cao yang memiliki manpower/ prajurit yang banyak sebenarnya sangat beruntung dan menjadi nilai tambahnya. Ia menjaga moral prajuritnya dengan janji-janji berupa pembebasan pajak selama 3 tahun, penaikan pangkat, dan kemenangan. Ini adalah ciri kepemimpinan transaksional. Cao-Cao untungnya juga merupakan motivator yang baik sehingga moral prajuritnya tetap terjaga walaupun tidak diuntungkan secara geografis—prajurit Cao cao tidak terbiasa berperang di atas perairan—dan pada saat wabah menyerang.

Sedangkan pihak Wu dan Shu yang sangat dipercaya oleh prajuritnya memiliki kekurangan dari segi jumlah tetapi lebih merata di bidang kemampuan dalam perang di wilayah perairan di isi oleh pasukan dari Wu dan dalam perang di wilayah darat di isi oleh pasukan Shu.

Faktor iklim dan hidrologi sangat dibutuhkan terutama dalam bersiasat. Sebenarnya Cao Cao telah dapat membaca iklim saat itu sangat membantunya terutama dalam perang besar dengan menggunakan api akan tetapi ia masih kurang pengetahuan terhadap iklim dan hidrologi dibandingkan Zhuge Liang sehingga justru di saat yang tepat malah menjadi kekuatan pembantu pasukan aliansi.

Proses perencanaan berikutnya adalah urutan aplikasi atau kata mudahnya urutan taktik yang akan dijalankan.

Di pertempuran darat yang pertama pasukan aliansi memakai formasi perang kura kura darat dan di kubu Cao Cao mengirim pasukan frontline kavaliernya yang terkenal. Di pertempuran berikutnya Cao Cao mengirimkan penyakit ke kubu pasukan aliansi dengan sangat tidak manusiawi dan dibalas dengan tipu muslihat pengambilan panah oleh Zhuge Liang yang dibutuhkan di perang puncak sebagai alat pelontar api dan muslihat pembunuhan laksamana perang di kubu Cao Cao sebagai penurun moral pasukan Cao Cao.

Di pertempuran puncak yang menjadi kekalahan Cao, adalah keterlambatan dalam penyerangan. Pasukan Cao diserang terlebih dahulu dan berakibat pada turunnya mental pasukan Cao.

Dari film ini, kita dapat melihat betapa ketiga pemimpin ini memiliki kemampuan yang kuat sebagai pemimpin. Meski di film Red Cliff, Cao-Cao kalah, tetapi dalam sejarah kita tahu bahwa Cao-Cao akan kembali dan memenangkan pertempuran. Cao-Cao adalah sosok yang karismatik yang mampu menyatukan Cina daratan. Ia punya visi, yakni mengutuhkan Cina. Ia punya kemampuan memotivasi dan menggerakkan hati pasukannya yang sempat runtuh. Ia juga punya mental untuk menantang setiap proses yang ada.

Zhao Yu tak kalah visionernya. Ia juga mempunyai kemampuan untuk dekat ke bawahannya sehingga mendapatkan hati dan kepercayaan pasukannya.

Sementara Zhuge Liang adalah orang paling berbahaya dari sisi perencanaan dan strategi. Bahkan di akhir cerita, Zhao Yu menyadari bahwa suatu saat ia akan berhadapan dengan Zhuge Liang dan merasa takut padanya.***

 

 

Antara Kapitalisme dan Harga Buku yang Semakin Mahal

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

                Baru-baru ini, beberapa penerbit mengumumkan kenaikan harga buku-bukunya. Kenaikan itu berkisar antara 10-20%. Banyak konsumen/pembaca buku mengeluh karena harga buku makin tinggi dan tak terjangkau.

Di tengah kelesuan ekonomi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi, penjualan buku mengalami penurunan. Hingga kuarter ketiga tahun 2015, penjualan buku turun hingga 40%. Konsumen buku menjadi sangat selektif karena mereka juga harus mengencangkan ikat pinggang. Barangkali hal ini juga yang menyebabkan banyak penerbit mengobral buku-bukunya sepanjang tahun 2015. Bisa kita lihat di gerai-gerai Carrefour, Giant, Hypermart, dan toko-toko buku, buku-buku dijual mulai harga Rp10.000,-

Lesunya industri buku diperparah dengan penegakan aturan pengenaan PPN 10% untuk setiap buku nonpendidikan. Banyak penerbit kecil gulung tikar akibat penerapan PPN tersebut.

Penerbit-penerbit kecil tidak memiliki percetakan sendiri. Setiap kegiatan yang menghasilkan nilai tambah, dengan entitas berbeda, berarti memunculkan kewajiban pajak. Implikasinya, harga pokok produksi mereka juga naik 10% karena percetakan pun harus melaporkan pajaknya.

Kemudian, setelah buku selesai dicetak, buku didistribusikan ke toko buku. Ada dua pihak lain yang terlibat dalam rantai industri buku, yakni distributor dan toko buku. Pembagian pendapatan dalam rantai tersebut rata-rata adalah 17% distributor, 35% toko buku, 38% untuk penerbit dan 10% untuk penulis. Setelah itu masing-masing pihak juga dikenakan pajak penghasilan.

Pertanyaannya, bagaimana perhitungan dan pembebanan PPN kepada masing-masing pihak?

Ilustrasinya, harga buku dari penerbit Rp100.000,- maka harga jual di toko buku adalah Rp110.000,-

Proporsi pendapatan dari setelah PPN disisihkan terlebih dahulu seharusnya:

  • Penerbit 38% x 100.000 = 38.000
  • Royalti penulis 10% x 100.000 = 10.000
  • Distributor 17% x 100.000 = 17.000
  • Toko buku 35% x 100.000 = 35.000

Secara adil, pembagian pendapatannya harusnya seperti itu.

Namun, per September lalu, secara sepihak, pembagian pendapatannya menjadi 39% toko buku, 17% distributor, 10% penulis dan 34% penerbit. Terjadi pengurangan 4% milik penerbit yang dialokasikan ke toko. Saat saya tanya kenapa demikian, awalnya pihak penerbit mengatakan 4% itu untuk pemerintah. Saya tanya lagi atas dasar aturan apa 4% itu, apakah ia pajak? Kalau pajak, pajak pasal berapa dan ada di PMK(Peraturan Menteri Keuangan) no berapa? Mereka diam.

Jika penerbit hanya mendapatkan 34% dari harga setelah dipotong pajak, dengan harga pokok produksi 25%, maka penerbit hanya mendapat 9% atau Rp9.000,- per buku. Jika oplah minimal 3000 buku, maka modal yang dibutuhkan adalah 75 juta. Maka untuk mencapai BEP, penerbit harus dapat menjual minimal 2250 buku atau 75% dari oplah. Dengan kondisi sekarang, rata-rata buku per judul terjual 250 buku/bulan, berarti aliran kas untuk BEP adalah 9 bulan. Tak heran, jika banyak penerbit gulung tikar.

Dengan enteng kemudian, penerbit diberi solusi oleh mereka untuk menaikkan harga buku 20% agar mendapatkan pendapatan seperti semula. Namun kenaikan harga 20% akan memberatkan konsumen buku.

4% yang diminta pihak toko, usut diusut adalah “kompensasi” PPN yang dibebankan ke penerbit. Atau, pihak toko tidak mau dibebani dengan membayar PPN. Mereka menaikkan tarifnya akibat PPN. Sementara kalau harga dinaikkan, keuntungan yang didapatkan oleh toko akan semakin besar. Inilah benar-benar sifat kapitalis!

Solusinya?

Pertama, pengenaan PPN atas buku menjadi awal kekisruhan ini. Di tengah upaya menggalakkan dunia literasi, kita malah dihadapkan dengan kondisi harga buku yang semakin tinggi. Saya tidak paham kebijakan pemerintah jika memang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, harusnya memperhatikan industri buku dari hulu ke hilir. Untuk itu, PPN atas buku harus dihapuskan.

Kedua, pihak yang egois adalah pihak toko buku. Hal itu terjadi karena posisi tawar mereka yang kuat dengan memiliki banyak toko buku di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dapat melakukan pengelolaan pada gedung-gedung pemerintah, dewan kesenian daerah, perpustakaan daerah, untuk menjadi toko buku dengan pembagian pendapatan yang lebih rendah dari toko buku lain. Di satu sisi, hal ini dapat menjadi PNBP, di satu sisi ini akan membantu persebaran buku.

Pada akhirnya, pemerintah memang bertanggung jawab untuk meningkatkan minat baca rakyat Indonesia sehingga tidak melulu rakyat Indonesia mendapat peringkat rendah dalam kategori minat baca. Bukankah buku adalah jendela dunia?

Wallahualam.

 

Setiap Kita Sakit Jiwa

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tak biasanya aku hadir dalam sebuah workshop kepenulisan. Tapi Sabtu lalu, aku hadir di Comic Cafe, Tebet, untuk mengikuti acara ulang tahun Nulis Buku dengan pembicara Bernard Batubara.

Aku datang terlambat, melewatkan sesi pembukaan dan beberapa saat kemudian, Bernard maju untuk memulai sesinya. Tak ada yang baru dan menarik bagiku dari sesi itu selain pesan tentang hal paling sulit sebagai penulis adalah membuat seorang pembaca tetap membaca tulisan kita hingga habis. Sampai sesi tanya jawab, aku terisap oleh sebuah pertanyaan, yang kira-kira bunyinya, “Bagaimana pandangan Anda tentang alterego yang kerap dimiliki dan digunakan oleh penulis ketika menulis karyanya? Tidakkah itu berbahaya? Sebab dalam ilmu psikologi, alterego adalah salah satu pertanda dari skizophrenia.”

Jawaban Bernard tak kalah menarik. “Setiap manusia itu gila. Penulis gila lebih cepat.”

Aku nggak ngerti si penanya ini berasal dari universitas mana, semester berapa, sehingga aku berpikir dia sendiri tidak paham arah pertanyaannya kemana (dalam hubungan dengan penulis). Tetapi selintasan adegan itu membuatku teringat pada sebuah drama berjudul “It’s Okay That’s Love”.

Baiknya kalian tonton saja drama itu ya.

Baby 5

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Baby 5


 

Kalau kamu belum mati hari ini, jangan sombong. Apalagi sampai bilang kalau malaikat maut tak akan sanggup menyabut nyawa kamu. Kematian bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan sebab yang dahsyat maupun yang remeh. Misalnya, tiba-tiba kamu lupa cara bernapas.

Akhir-akhir ini saya merasa sering lupa dan khawatir hal itu akan terjadi. Melihat telapak tangan yang bergerak sendiri di luar kuasa saya, mungkin ini perasaan yang sama yang dirasakan Tuhan ketika melihat makhlukNya membangkang. Saya mengatakan ini bukan dengan maksud menyamakan diri dengan Tuhan apalagi berniat jadi Tuhan. Hanya saja, saya merasa selalu akan ada hal-hal yang terjadi tanpa kita sadari, tanpa bisa kita mencegahnya.

Hari ini, saya mendengar sebuah kabar bahagia. Seorang teman pulang ke Palembang dan mengajak bertemu seorang perempuan yang diinginkannya. Dia melamarnya dan mendapat tanggapan positif. Senang rasanya, sebab saya membantunya untuk menyusun daftar kalimat yang harus diucapkannya.

Kira-kira begini daftar yang saya susun:

  1. Bicarakanlah sesuatu mengenai keterlambatan pesawat. (Saya menebak dengan benar pesawatnya akan ditunda keberangkatannya karena asap masih menutupi wilayah Palembang. Pasti pesawat baru berani berangkat ketika matahari sudah lebih lelaki)
  2. Bicarakanlah sesuatu mengenai diri dan visi dirimu ke depan.
  3. Katakan tentang usia, lalu katakan perasaanmu dengan menatapnya tajam.
  4. Minta dia menjadi hidupmu.
  5. Terakhir, saya menitip pesan kepadanya, jatuh cintalah karena kesiapan, bukan karena kesepian.

Syukurlah jika itu berhasil. Meski di sisi lain, saya sedang merasa sedih. Begitulah hidup, seperti dua sisi mata uang. Di saat yang sama, ada seorang lelaki yang tidak bisa pulang dan percintaannya di ambang perpisahan. Perasaan kehilangan seringkali membuat seseorang lebih baik mati.

Saya membutuhkan vitamin sea untuk menyegarkan pikiran. Kemudian terjebak dalam foto-foto pantai yang pernah saya kunjungi. Entah kenapa, pikiran saya menuju ke Ernest Hemmingway. Mungkin karena judul buku Lelaki Tua dan Laut yang ditulisnya. Mungkin juga karena saya tahu beliau mati bunuh diri setelah pernah 5 kali lolos dari maut.

Ketika menjadi sopir ambulans pada Perang Dunia I, Hemingway tersambar pecahan peluru, dan 237 pecahan peluru bersarang di tubuhnya. Beliau juga pernah tertembak saat berhadapan dengan hiu. Yang paling epik menurut saya adalah ketika ia membawa granat, mengarungi perairan Gulf Stream dengan kapal kayu sepanjang 11, 5 m demi memburu kapal selam Jerman. Hal itu bukan yang terakhir. Setelah itu beliau dua kali selamat dalam kecelakaan pesawat.

Lima kali selamat dari kematian, dan mampu bertahan dari penderitaan-penderitaan mahadahsyat, apa yang membuat Ernest Hemingway bunuh diri?

Mata saya terpaku pada satu foto. Tanjung Tinggi. Pantai yang disebut di Laskar Pelangi itu memiliki pemandangan yang khas. Batu-batu yang konon sudah ada dari zaman Jura seperti diletakkan rapi oleh raksasa. Pasirnya putih. Seorang perempuan tersenyum pada wilayah POV 1:3 yang biasa disebut dalam teknik dasar fotografi. Dan pemandangan itu membuat saya ingin kembali ke sana.

Apakah Ernest Hemingway pernah melihat pemandangan semacam ini? Atau bahkan pantai-pantai lain yang lebih indah, dan semakin indah bila menuju timur Indonesia?

Kamu harus mencanangkan perihal wisata dalam hidupmu. Keliling Indonesia, keliling dunia… jangan hanya diam di dalam kamar. Mati di dalam kamar karena sakit jantung atau stroke, atau kaget karena digigit nyamuk, itu memalukan sekali. Mati ketika menjadi musafir lebih keren.

Ahasveros, seorang raja Persia, dalam kitab Ezra disebut rela meninggalkan tahtanya untuk mencari sesuatu. Ia tidak tahu apa yang dicarinya, bahkan sampai ia mati, membusuk, hancur tulang-tulangnya.

Setelah mati, apa yang terjadi? Saya tidak tahu.

Agama-agama menyebutkan adanya kehidupan setelah kematian. Aneh rasanya jika sudah payah-payah bunuh diri, tahunya hanya pindah ke kehidupan yang lain. Di sana, seorang pelaku bunuh diri pasti akan frustasi mencoba bunuh diri lagi. Disebutkan bahwa kehidupan lain itu abadi, artinya, pelaku bunuh diri dapat mencoba semua teknik bunuh diri, mengulanginya terus-menerus sampai para penontonnya bosan.

Pada titik ini, saya berpikir, buat apa hidup dalam keabadian? Dan dalam keadaan pasrah menerima penghakiman, bahagia atau menderita selamanya?

Jika masuk surga, saya akan menyusun agenda berikut:

  1. Bercinta dengan bidadari yang selalu kembali perawan, yang kulit-kulitnya putih cerah, memantulkan cahaya.
  2. Mencoba meminum sungai madu, mengingat madu-madu asli mahal harganya ketika di dunia. Ah, tapi sebelum meminumnya, saya akan mengetesnya terlebih dahulu. Apakah ia dapat dibakar? Apakah ia tidak membeku bila diletakkan di dalam kulkas? Apakah ia tidak akan dikerubungi semut? Barangkali saja, buat jaga-jaga, sungai madunya juga dicampur air.
  3. Bercinta lagi.
  4. Tidur, tapi, apa ada rasa kantuk nanti?
  5. Bercinta lagi, eh tunggu dulu, apa nanti nafsu juga masih ada?

Saya menggeleng-geleng, mengangguk-angguk dan seorang yang berprinsip empiris harus menguji jawaban secara langsung. Apakah Ernest Hemingway meyakini empirisme?

Orang-orang yang benci agama seringkali menjadikan empirisme sebagai tameng. Mereka berteriak, “Jika Tuhan ada, muncul sekarang juga!”

Lalu hujan turun, seharusnya mereka berpikir hujanlah Tuhan.

Sebaliknya, jika masuk neraka, ah saya tidak ingin masuk neraka. Ngeri. Saya membaca buku siksa api neraka ketika masih kecil. Ada yang ditusuk-tusuk dengan besi panas, disiram dengan lahar, dan yang paling ringan siksaannya, berjalan di terompah api. Pasti panas sekali.

Sementara orang-orang menghindari panas di bumi. Di kamar memasang AC. Tak ada AC, siang-siang enaknya masuk ke dalam lemari es.

Saya pernah berpikir untuk masuk ke lemari es dan mencoba membekukan hati saya. Tapi sudah saya setel nol derajat celcius, hati saya tak beku juga. Saya takjub menyadari titik beku hati lebih minus daripada titik beku air.

Saya kemudian berkonsultasi ke mahasiswa Fisika tentang hal tersebut. Mahasiswa itu bilang, tidak seharusnya titik beku hati lebih minus daripada titik beku air. Ia mencopot hati saya dan menjadikannya sebagai objek penelitian.

Ia meminta waktu selama satu minggu untuk mencari kebenaran dan entahlah, saya merasa senang berjalan-jalan tanpa hati.

Di jalan saya melihat seorang pengemis, dan saya tak tergoda memberi uang kepadanya. Kemudian saya menonton drama Korea dan baru kali itu saya tak menangis. Saya pukul semua orang yang saya temui dan tidak ada perasaan bersalah.

Dalam keadaan tanpa hati saya berpikir, kenapa manusia diciptakan ada yang kuat dan ada yang lemah? Hal itu terjadi bukanlah agar yang kuat melindungi yang lemah, melainkan agar yang kuat melindasi yang lemah.

Dalam keadaan tanpa hati, waktu terasa cepat berlalu. Mahasiswa Fisika meneleponku dan memintaku datang menemuinya.

Kami bertemu di kafe. Kafe itu memainkan lagu-lagu cinta seperti lagu yang dinyanyikan kembali oleh Ahmad Dhani. Judulnya Kawin Tiga. Dalam keadaan tanpa hati, lagu itu terasa romantis sekali.

Mahasiswa Fisika itu menyerahkan sebuah kresek. Di dalamnya ada hati saya.

“Saya sudah tahu jawabannya…” katanya.

Saya diam.

“Hati kamu penuh cinta. Aku tak yakin, bahkan bila hati kamu diletakkan di Everest, ia dapat membeku. Cinta di hati kamu selalu lebih api dari api.”

Saya berusaha mencerna kata-kata itu dan berpikir apakah Hemingway pernah mendapatkan kalimat seperti ini di dalam hidupnya? Apakah Hemingway juga pernah merasakan cinta?

“Orang-orang yang punya cinta tidak perlu mati….” lanjutnya sambil menunduk. Kemudian seorang pelayan mengantarkan menu, dan berdiri di samping meja dengan pose siap mencatat kata-kata kami.

Sayangnya, saat itu, saya kehabisan kata-kata.

 

(2015)

Sebuah Kubus dan Permainan Solitaire

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

AKU cukup sering membunuh waktu dengan bermain Solitaire, selain Sudoku dan Minesweeper. Bermain kartu, mengurutkannya satu demi satu membuatku merasa tidak kesepian. Duniaku saat itu sangat sempit. Di rumah, aku hanya berada di dalam kamar dan hanya keluar jika waktu makan tiba. Buku-bukuku bertumpuk-tumpuk dan kecepatan membacaku membuatku mampu melahap mereka semua.

Saat itu aku punya sebuah buku harian. Tetapi karena tulisan tanganku yang buruk, aku selalu merasa kesal sendiri setiap selesai menuliskan sesuatu. Tulisan itu sulit dibaca bahkan olehku yang menulisnya.

Waktu berlalu, teknologi informasi semakin maju. Aku memiliki akun sosial media dan blog. Dan aku sangat rajin menulis, tentang apa saja yang kupikirkan saat itu.

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj10952008_10152840538994794_1183052442_n

Kekinian, aku menjadi seorang penulis beneran. Beberapa judul bukuku sudah terbit dan aku kerap memenangkan kompetisi menulis. Dan ada juga yang menyaratkan tulisan-tulisan itu harus diposting di blog. Prestasi, hadiah yang kudapatkan hanya selalu kuanggap sebagai efek samping. Aku memiliki blog hanya karena aku ingin menulis. Aku menulis hanya karena aku ingin memiliki teman, atau setidaknya… orang-orang yang membacaku, mendengarkan aku, mengenal aku.

Aku keluar dari duniaku yang sempit dan mendapatkan kesempatan untuk berpetualang. Bayangkan, sampai tahun 2010, ketika aku belum berusia 22 tahun, aku tidak pernah traveling sendirian. Baru pada Juni 2010, aku ke Yogya sendiri, naik bus Sumber Alam yang tidak ber-AC, penuh dengan asap rokok dan alhamdulillah aku tidak mabuk. Pulangnya, aku naik kereta. Merasa tidak percaya diri naik kereta ekonomi, aku ke stasiun Tugu dan loket tiket suah tutup. Seorang kakek mendatangiku dan menawarkan kesempatan untuk bisa naik kereta. Ia seorang calo, aku paham. Tapi tawaran harga tiket tanpa tambahan menggiurkan juga untuk waktu yang mendesak. Aku pun naik kereta untuk pertama kalinya dan kakek itu mengantarkan aku ke gerbong. Dia berbincang dengan penjaga kereta dan aku naik kereta dengan nyaman sampai ke stasiun kota Jakarta.

Sesampainya di stasiun, aku tak menyangka, tiket diminta di pintu keluar. Sementara aku tak punya tiket. Aku digelandang ke sebuah ruangan dan di sana aku diinterogasi. KTP ku diminta, KTM ku diminta dan aku diancam penjara atau denda ratusan juta. Aku ketakutan. Ini kali pertama aku naik kereta antarprovinsi dan tampak menjadi sebuah tragedi.

Kemudian sang petugas berkata, “Saya kasihan sama kamu. Beri saya 200 ribu dan saya anggap lunas.”

Aku buka dompet dan hanya ada 50.000. Aku tunjukkan padanya isi dompetku dan dibalas dengan ancaman akan melaporkanku ke kampus juga. Dia melirik dan melihat ada ATM di sana. Ia menyuruhku pergi mengambil uang di ATM. Ponselku ditahannya pula.

Begitulah aku bebas setelah menyerahkan uang dan sangat dongkol. Dengan total uang yang sudah kukeluarkan, seharusnya aku bisa naik pesawat.

Setelah itu aku cukup kecanduan jalan-jalan. Aku ke Lembang, aku ke Bali, Lombok, Anyer, Sumbawa, Makassar, Alor, Belitung, Lampung…. dan sebagian besar mereka kudapatkan sebagai hadiah lomba-lomba yang salah satu syaratnya harus memiliki blog. Dengan blog, aku mencoba mencari kesempatan untuk keliling dunia. Mengunjungi satu per satu tempat yang membuktikan keluasan. Dan betapa kecilnya aku. Aku akan Go For It, pergi untuk mendapatkannya.

cropped-DSC_0598.jpg

12609_10200402722500650_954620407_n

11350453_962827783761765_4652486444753242690_n

Kusadari, blog menjadi mediaku berkembang. Aku menggunakan beberapa aplikasi untuk mengedit foto seperti Picsart, atau dalam keadaan luang aku mengetiknya dulu di Color Note, baru nanti kupindahkan ke blog.

Pribadiku juga berkembang. Kesempatan yang muncul berkembang, dan pertemanan pun ikut berkembang. Salah satunya aku jadi kenal Winda K alias Emak Gaoel meski mungkin mbak Winda nggak kenal aku, hiks.

Setiap menulis aku seperti berbincang dengan diriku sendiri dan itu membuatku makin memahami siapa aku. Dan ah, tidakkah seseorang baru dapat mengenal Tuhannya ketika ia telah mengenal dirinya?


Go For It Blog Competition
 

 

Lomba Menulis Gado-Gado Femina

Published / by Pringadi As / Leave a Comment
Lomba Menulis Gado-Gado Femina ini mengambil tema Simple Kindness. Kenapa dipilih tema tentang kebaikan? Sebab, kebahagiaan itu terletak pada kebaikan-kebaikan kecil yang terjadi di sekitar kita. Bisa dari kita, atau dari orang-orang terdekat. Hal-hal sederhana sekalipun, bisa membuat orang lain bahagia.

Lomba Menulis Gado-Gado Femina BTPN Sinaya 2015

Melalui lomba menulis Femina ini ayo bagikan pengalaman Anda yang lucu, tak terlupakan, dan berkesan yang berhubungan dengan kebaikan-kebaikan kecil, namun meninggalkan efek positif dalam diri kita dalam lomba atau kebaikan-kebaikan sederhana.

Femina akan memilih tiga finalis Gado-Gado terbaik dan akan diundang ke acara femina dan BTPN Sinaya di Sukabumi, berupa kunjungan ke pabrik tenun sutera milik pengusaha Wignyo Rahadi. Sebuah kesempatan berharga untuk para pencinta kain dan tenun nusantara. Tiga finalis akan diajak menulis tentang kunjungan mereka ke acara tersebut dan tulisannya berkesempatan dimuat di Majalah femina.
Hadiah Lomba Menulis Femina BTPS Sinaya

  • Pemenang I: Tabungan senilai Rp5.000.000
  • Pemenang II: Tabungan senilai Rp3.000.000
  • Pemenang III: Tabungan senilai Rp2.000.000
Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Gado-Gado Femina

  • Boleh fiksi atau kisah nyata, berupa sketsa kejadian sehari-hari & nama karakter boleh dibuat fiktif.
  • Tulisan mengandung unsur Human Interest.
  • Karya orisinal & blm pernah dipublikasikan di media lain (termasuk blog pribadi). 4. Tulisan maksimal 3 halaman folio, 2 spasi, 3735 karakter.
  • Daftar member di komunitas Writers’ Club femina, klik: http://www.femina.co.id/writers.club/submit
  • Upload tulisan Anda di kolom yang tersedia. Gunakan format .doc (BUKAN .docx)
  • Karya yang diupload juga dikirim ke e-mail sayembara@femina.co.id, subjek: Writing Competition BTPN – Femina. Lengkapi dgn data diri (nama lengkap, usia, profesi, alamat, telepon, foto ukuran 100kb).
  • Periode pengiriman karya 29 Sept-30 Okt 2015 pkl 24.00 WIB.
  • Karya yang dinilai layak tampil di kanal Writers Club femina, diberi komentar oleh editor femina untuk lalu dipilih sebagai finalis.
  • Tiga finalis terpilih akan dihubungi femina dan diumumkan di http://www.femina.co.id/writers.club/event pada November 2015.
lomba menulis terbaru

Silakan gado-gadonya dipesan, eh diikuti lomba menulis gado-gadonya. Selamat berlomba semoga menjadi juara lomba menulis terbaru ini. (Sumber: Femina)