Category Archives: Info Lomba Menulis

Lomba Menulis Kisah Ramadhan, DL 14 Juli 2016

lomba menulis ramadhan

Cara mengikuti lomba menulis terbaru 2016 ini cukup gampang Sob, kamu hanya perlu mengikuti tiga akun Twitter dengan id @pulkam @tiwttierID dan @linimasa. Ketentuan selengkapnya bisa dilihat di bawah ini:

1. Memiliki akun twitter, lalu follow akun @pulkam dan @linimasa
2. Karya yang diperlombakan tidak sebatas cerita pendek. Dapat juga menyampaikan puisi, narasi, maupun komik/cerita bergambar dengan tema utama: “Cinta di Bulan Ramadan”
3. Karya merupakan karya orisinal dan belum pernah dipublikasikan dalam blog, media online- maupun media massa.
4. Jumlah kata-kata yang diharapkan oleh Dewan Juri untuk cerpen dan narasi adalah 500-700 kata. Untuk Puisi sekitar 300 kata. Untuk komik tidak lebih dari 10 kolom.
5. Karya tulis cerpen, narasi maupun puisi disampaikan melalui email dalam bentuk lampiran / attachment MS word. Sedangkan komik dalam format .jpg, .gif, .png, .tiff atau .pdf
6. Karya disampaikan ke alamat email: kisahramadan2016@linimasa.com dan mention kami setelah mengirimkan karya dengan hestek #kisahpulkam
7. Setiap karya juga disertai informasi menyampaikan nama lengkap, usia, nama akun twitter serta CV singkat di dalam badan email.
8. Karya paling lambat diterima kami pada tanggal 14 Juli 2016 pukul 23.59 WIB
9. Setiap karya akan ditampilkan dalam halaman khusus linimasa.com
10. Penjurian dilakukan oleh seluruh penulis Linimasa: @agunsux, @carnauval @gandrasta @glennmars @simandoux, @dragonohalim dan @roysayur dan hasil penjurian ndak bisa diganggu gugat ya.
11. Hadiah berupa uang tunai dari @pulkam dan bingkisan cinderamata dari @TwitterID. Adapun pemenang akan disampaikan bersamaan dengan pengumuman lomba foto dan video @pulkam.

Kalau syaratnya sudah terpenuhi, silakan kirimkan karyamu ke kisahramadan2016@linimasa.com paling lambat 14 Juli 2016. Juri akan memilih 3 cerpen sebagai pemenang yang akan diumumkan tanggal 16 Juli 2016.

Hadiah Lomba Cerpen #KisahPulkam

Juara 1 Rp. 1 juta rupiah
Juara 2 Rp. 700 ribu rupiah
Juara 3 Rp. 300 ribu rupiah

E-Rekon dan Pejabat Pengelola Keuangan

Seperti yang kita tahu, setiap satuan kerja memiliki Pejabat Pengelola Keuangan. Pejabat Pengelola Keuangan terdiri dari Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) dan Bendahara.

Pada dasarnya, setelah disahkan, anggaran digunakan oleh Pengguna Anggaran, yakni Menteri/Pimpinan Lembaga. Kemudian, Pengguna Anggaran menguasakannya kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Biasanya, KPA ini dipegang oleh Kepala Kantor satuan kerja terkait. Namun, tidak melulu demikian karena Pejabat Pengelola Keuangan bukanlah jabatan struktural.

KPA memiliki sekian banyak kewenangan. Karena banyak, ia dibantu oleh PPK dan PPSPM. PPK berwenang dalam segala hal terkait penyediaan barang dan jasa satuan kerja hingga pembuatan SPP. PPSPM bertanggung jawab untuk memeriksa SPP yang dibuat PPK hingga kemudian menandatangani SPM sebelum diserahkan ke KPPN.

KPA bisa merangkap sebagai PPK atau juga merangkap sebagai PPSPM, salah satu, karena pada mulanya kewenangan itu adalah miliknya. Salah satu karena tetap harus ada fungsi check and balance. Sementara bendahara tidak bisa dirangkap. Karena pada dasarnya bendahara bertanggung jawab langsung kepada Bendahara Umum Negara, yakni Menteri Keuangan. Bendahara adalah jabatan fungsional. Karena itu ada wacana bahwa tenaga bendahara seharusnya bukan berasal dari kantor terkait melainkan disediakan oleh Menteri Keuangan.

Rekonsiliasi adalah bentuk pertanggungjawaban satuan kerja atas kerja keuangannya. Di dalam penyerahan Berita Acara Rekonsiliasi, juga disertakan Laporan Keuangan dan LPJ Bendahara.

Proses rekonsiliasi dilakukan menggunakan aplikasi berbasis web, E-rekonsiliasi. Ada 2 user yang digunakan yakni user operator dan user KPA. User KPA digunakan untuk mengotorisasi atau menandatangani BAR secara elektronik. Jadi, prinsipnya ketika otorisasi dilakukan, KPA lah yang melakukannya.

Kenapa harus KPA?
1. Kewenangan pelaporan dan pertanggungjawaban ada di KPA. PPK maupun PPSPM tidak memiliki kewenangan tersebut. Sehingga menurut saya, PPK dan PPSPM tidak berhak melakukan otorisasi ini.

2. KPA, bukan jabatan struktural. Tidak ada istilah plh atau plt KPA.

3. Terkait hal kedua, e-rekon sebenarnya memfasilitasi ketidakberadaan KPA saat dibutuhkan tanda tangan basah. E-rekon tidak membutuhkan tanda tangan basah. Jadi, identitas dalam user KPA adalah milik KPA sendiri. Ia tidak boleh diubah menjadi PPK atau PPSPM.

4. Ketika KPA mendelegasikan otorisasi pada praktiknya, secara prinsip, hal itu tetap tanggung jawab penuh KPA dan e-rekon tidak mengenal delegasi ini.

Kira-kira begitu.

Rukun Iman Penulis

oleh Khrisna Pabichara

09808-original
Sebagai teks, karya sastra hanyalah jejak. Bekas telapak kaki. Di dalamnya, pembaca harus menemukan manusianya.~ Jacques Derrida (1976: 167)[1]

Sesuai dengan judulnya, Rukun Iman Penulis, maka hal-hal pokok yang didedah dalam tulisan ringan ini semata-mata buat menggelitik kesadaran dan keyakinan yang, seyogianya, dimiliki oleh siapa saja yang berminat, berkhayal, atau berharap menjadi penulis. Bekal kesadaran dan keyakinan ini berangkat dari pengalaman pribadi dan sari dari bacaan-bacaan yang mengulas dan mengupas bagaimana seseorang bisa menjadi penulis, terutama prosa. Dengan demikian, tulisan ringan ini bukan sejenis kitab suci yang sakral dan tak boleh dikutak-katik, melainkan sejenis kendaraan umum yang cuma bisa mengantar ke terminal tertentu.

Di Indonesia, menjadi penulis belum diletakkan sebagai profesi yang sederajat dengan guru, dokter, karyawan, atau pekerjaan lain yang diakui sebagai penanda status kewarganegaraan. Penulis masih diduga sebagai “titisan dewa” yang menghasilkan karangan karena “desakan dari dalam” atau “panggilan nurani akibat masalah dan peristiwa di sekitar yang harus diurai-tuliskan”. Lantaran itu pula, tak banyak orang yang bernyali gede berani menceburkan diri ke dalam samudra kepenulisan secara menyeluruh. Rata-rata masih sebagai pekerjaan sambilan, profesi paruh waktu, atau sekadar pertaruhan gengsi. Padahal, pada beberapa negara di luar Indonesia, penulis benar-benar sebuah profesi. Pekerjaan yang menghasilkan, yang dihargai. Akibatnya, tak sedikit orang di Indonesia yang menduga bahwa bekal menjadi penulis itu hanya satu: bakat.

Alhasil, kita mengira kepenulisan memang sejalan dengan “kenabian”—yang pada tataran tertentu bekerja karena wangsit atau wahyu. Tentu sah saja anggapan yang demikian. Akan tetapi, bila terus demikian, kita takkan pernah memandang kepenulisan sebagai dunia keilmuan, sesuatu yang bisa dipelajari, dilatih, dan diasah, sama seperti keterampilan merakit roket, menyusun bata, atau menggocek bola. Benar, bakat dapat menentukan keberhasilan seseorang menjadi penulis. Hanya saja, menulis bukanlah melulu bakat. Seberapa murni kadar bakat menulis seseorang tidak akan berkilau selama ia tidak memiliki kegigihan dan kemauan kuat untuk terus mengasah kemampuan. Dengan pertimbangan bahwa menulis itu bisa dipelajari dan dapat pula dijadikan pekerjaan untuk menghidupi diri dan keluarga, perlulah diperbanyak kegiatan sejenis ini: bertemu dengan penulis dan mempelajari riwayat kepenulisan mereka.
Itu pula sebabnya tulisan ini dijuduli Rukun Iman Penulis—rukun yang harus diimani oleh siapa saja yang ingin menjadi penulis. Termasuk, boleh jadi terutama, penulis prosa.

Mengapa Harus Ada Rukun Iman Penulis?

Hasan Aspahani, dalam sebuah perbincangan santai di Batam, membutuhkan waktu lama hingga puisi-puisinya berhasil menembus rubrik sastra di koran-koran nasional. Tersebut pula kepedihan Rowling menembus penerbitan demi novel fantasi yang baru rampung ditulis olehnya. Tidak hanya satu penerbit yang menolak naskahnya, tetapi puluhan. Bahkan, tersiar kabar bahwa Joni Ariadinata sempat berniat melupakan dunia cerpen karena karangan-karangannya tak kunjung bertemu media sejodoh, sedang hidup terus berjalan. Belum lagi Muhidin M. Dahlan yang akhirnya mengubur hasrat menulis novel akibat Adam dan Hawa yang menuai banyak kecaman.

Ada banyak pengalaman yang bisa disuguhkan sebagai contoh dan tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Ada yang kemudian “bertemu jodoh” dan tetap bersetia dengan laku kepenulisan, Damhuri Muhammad misalnya. Ada pula yang hilang dan tak ditemukan lagi jejak karyanya. Baik yang bertahan maupun yang akhirnya “hilang” mengalamatkan bahwa dunia menulis itu bukan alam mulus. Akan banyak perintang sepanjang perjalanan: dari masyarakat, kerabat, dan diri penulis itu sendiri. Agar bisa bertahan menghalau perintang-perintang itu dibutuhkan “iman yang kuat”. Iman yang tidak gampang goyah, apalagi dirobohkan. Makin kuat iman itu mengakar di kedalaman jiwa, makin ulet seseorang menempuh jalan kepengarangannya.

Iman itu perlu, sangat perlu. Dalam keyakinan Walter Scott, “Bila seseorang ingin menaiki sebuah tangga, ia harus mulai dari anak tangga pertama.” Tidak seorang penulis pun yang sekonyong-konyong bisa menghasilkan karya bernas. Ibarat menapak tangga, mereka melampaui banyak proses—sebagian besar “berdarah-darah”. Dan, tangga pertama yang harus dilaluinya adalah “beriman”.

Inilah Rukun Iman Penulis Itu

Sepanjang manusia memerlukan keseimbangan antara pertumbuhan jiwa dan jasmani, juga kepuasan jasmani dan rohani, sepanjang itu pula manusia membutuhkan karya seni—termasuk di dalamnya karya sastra. Dengan demikian, kebutuhan manusia atas karya sastra akan selalu ada. Guna memenuhi kebutuhan itu, kehadiran pengarang amat penting dan akan selalu dirindukan oleh khalayak penikmat. Lantaran kebutuhan itu mengabadi, maka masing-masing penulis mesti menyadari bahwa mereka harus selalu bergerak, bergeliat. Mereka tidak boleh statis pada tempat yang sama. Kualitas karya harus ditingkatkan adalah sebuah keniscayaan.

Oleh karena itulah dibutuhkan “iman”.

Pertama, mental. Inilah iman pertama yang harus diyakini oleh para penulis. Tak peduli pemula atau pesohor. Kita bisa belajar pada John Ernst Steinbeck, novelis yang karya pertamanya, Cup of Gold,ditolak oleh tujuh penerbit.[2] Ia tidak patah arang. Ia terus menulis dan mencoba bertahan hidup sebagai sopir, tukang kayu, tukang batu, bahkan buruh pemetik buah. Nasibnya berubah tatkala buku ketiganya, Tortilla Flat (1935)—diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Djoko Lelono dengan judul Dataran Tortilla—diterbitkan dan “mengguncang” dunia. Namanya pun berkibar, nasib baik terus menemaninya. Pada 1962, Steinbeck menerima anugerah Nobel Sastra. Bekal iman yang kuat membuat Steinbeck mampu bertahan dan bisa melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Bukan sekadar kegigihan berkarya yang dibutuhkan oleh setiap pengarang, melainkan juga ketabahan tatkala diterpa “ujian” dan “pujian”. Ujian berupa kritik kadang memerahkan telinga, pujian berupa sanjungan sering melenakan hati. Bekal iman akan menguatkan penulis agar tetap tegar.

Kedua, teknik. Jangan salah, teknik menulis adalah keterampilan yang harus rajin diasah. Dalam istilah Damhuri Muhammad, harus diperlakukan seperti membikin layang-layang: ditaksir, diraut, ditimbang, dipermak, kemudian diterbangkan. Namun, sedapat-dapatnya, kita tidak tergesa-gesa memajang karya di blog atau mengirimkan ke media koran atau majalah sekadar untuk memuaskan hasrat keterbacaan. Di sinilah letak pentingnya penulis, terutama penulis prosa, mengedepankan teori. Mempelajari teori tak berarti harus patuh, taat, dan tunduk pada aturan yang ada, tetapi supaya tahu cara semestinya dalam menumpahkan imajinasi. Teori menulis, barangkali sejalan dengan teori membuat layang-layang ala Damhuri tadi, dibutuhkan agar kita tahu perbedaan antara tokoh dan penokohan, alur dan alir, plot dan jalin kisah. Teori juga kita butuhkan biar kita melek pada gaya bahasa. Setelah itu, mudahlah bagi setiap orang untuk “tahan banting” di kembara kepengarangan. Terkait teknik, butuh kesungguhan bagi penulis untuk terus belajar. Bisa dengan membaca karya-karya sastra yang “diakui oleh dunia”, bisa pula dengan menimba ilmu langsung kepada mereka yang sudah “benar-benar” pengarang. Dalam hal ini, “benar-benar” dimaknai sebagai “sungguh-sungguh”.

Ketiga, intelektual. Penulis prosa adalah pencipta. Mereka melahirkan cerita-cerita. Namanya saja “melahirkan”, berarti ada proses sebelum peristiwa kelahiran itu terjadi: pencarian ide, penggalian bahan, pematangan tulisan, pengendapan, dan lain-lain. Sebuah cerita pendek, misalnya, tidak mungkin mbrojol begitu saja. Semasa saya menulis Arajang,butuh riset berbulan-bulan di tengah para bissu—tokoh adat bertubuh lelaki berwatak perempuan di suku Bugis—dan penelitian mendalam di perpustakaan. Apalagi menulis Natisha, butuh belasan tahun. Kedalaman makna dalam cerita selalu berkait-paut dengan kapasitas intelektual yang dimiliki oleh pengarangnya. Ada cerita biasa dan kerap terjadi di sekitar kita, tetapi jadi begitu bernyawa karena tiba di tangan penulis yang tepat. Kuntowijoyo, misalnya. Bagi generasi yang mengalami represi Orde Baru tentu memahami betapa kuatnya tekanan penguasa. Akan tetapi, di tangan Kuntowijoyo lewat cerpen-cerpen dan novel-novelnya, menjadi berbeda. Lebih bernyawa. Dengan demikian, wajar bila kemudian penulis meyakini bahwa kecendekiaan dan kepengarangan adalah dua sisi uang logam yang tak terpisahkan.

Keempat, rakus baca. Ibarat kakak-adik, menulis dan membaca adalah saudara kembar. Bahkan, membaca lahir beberapa saat lebih dahulu tinimbang menulis. Jika ingin menyuguhkan karya sastra “yang menggigit”, penulis harus rajin melahap karya-karya sastra “yang menggigit”. Bila atlet menjadikan latihan sebagai makanan pokok dan vitamin sebagai asupan tambahan bagi kemajuan prestasinya, hal sama berlaku bagi penulis: menulis kita anggap sebagai latihan rutin untuk meningkatkan kemampuan, membaca adalah vitamin yang membuat “tubuh cerita” lebih kokoh. Dari aktivitas membaca itu akan tertemu rahasia menjalin alur cerita, mencipta tokoh, atau mengulik peristiwa. Kita bisa pula merekam banyak gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang lain, hingga pada muaranya kita akan bersua dengan gaya bahasa kita sendiri. Singkat kata, mustahil menghasilkan karya yang apik tanpa “iman rakus baca”.

Kelima, gaul. Sebagai manusia, penulis adalah makhluk sosial. Ganjil bila kita mengira bahwa pengarang adalah pertapa-pertapa yang hanya disibukkan oleh laku semedi dan kesendiriannya. Makin sering bersentuhan atau bersinggungan dengan orang lain alamat makin banyak gagasan yang kita tanam ke dalam benak. Banyak jalan, banyak gagasan. Guntur Alam, seorang cerpenis, malah kerap menemukan karakter tokoh lewat teman seperjalannya di kereta. Bamby Cahyadi, juga seorang cerpenis, kerap menemu plot dari peristiwa yang terjadi di restoran cepat saji tempatnya bekerja.

Keenam, tabah. Sejatinya, ini bagian dari rukun iman pertama, akan tetapi saya pandang perlu memisahkannya dan menempati ruang sendiri. Ketabahan adalah syarat mutlak bagi seorang penulis, terutama tatkala memasuki “masa subur”. Kadang kala ada tulisan kita yang ditolak oleh media massa atau penerbitan. Pada saat seperti itu, tak usah bermuram durja. Kirim lagi naskah itu ke tempat lain. Bisa jadi penolakan terjadi lantaran karangan itu tak cocok dengan misi media massa atau penerbitan yang menolak, namun pas dengan selera media massa atau penerbitan yang lain. Banyak yang pernah mengalami hal sedemikian. Guntur Alam, misalnya. Ada cerpennya yang ditolak oleh sebuah koran, kemudian ia kirim ke koran lain. Tiga pekan kemudian, cerpen yang pernah ditolak itu hadir ke tengah khalayak.

Pada Akhirnya… Perlu disadari, “beriman” saja belumlah cukup bagi seorang (calon) pengarang. Ada hal lain yang mesti dilakukan setelah kita beriman. Namanya, “beribadah”. Bersyukurlah kita karena tak perlu berpayah-payah mengguratkan ide di permukaan “batu tulis”, atau kerap dinamai sabak. Beruntunglah kita karena teknologi telah menghadirkan sabak dalam bentuk lain, yakni sabak elektronik (baca: gadget). Lebih beruntung lagi karena kita tidak harus berpayah-payah menulis di lembaran daun lontar. Sekarang kita punya kertas dan mesin cetak. Begitu ada ide, jalan ibadah sudah sedemikian mudah. Tinggal tanak, olah, dan racik segera.

Persoalan baru yang bakal muncul adalah seberapa tekun kita “beribadah”! [kp]

Catatan:
[1] Of Grammatology, Baltimore and London: The John Hopkins University Press.
[2] Beberapa karya Steinbeck telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain Dataran Tortilla yang diterjemahkan oleh Djoko Lelono, karya lainnya adalah Cannery Row (2001, oleh Eka Kurniawan), Tikus dan Manusia (1950, oleh Pramoedya Ananta Toer dari Of Mice and Man). Selengkapnya bisa dilihat dalam Ensiklopedi Sastra Dunia karya Anton Kurnia, diterbitkan oleh Indonesia Buku pada 2006, halaman 189.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/1bichara/rukun-iman-penulis_57723b5561afbdcc064809cb

Sayembara Novel DKJ Tahun 2016

sayembara-menulis-novel-dkj-2016-slider

Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Sayembara Novel DKJ 2016. Penyelenggaraan ini diharapkan dapat melahirkan penulis-penulis Indonesia dengan karya bermutu. Persyaratan sebagai berikut:
KETENTUAN UMUM

Mengisi formulir pada tautan daring http://bit.ly/formulirsayembaradkj2016 dan mengirimkan kembali kepada panitia penyelenggara.

Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
Tema bebas.
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).

KETENTUAN KHUSUS

Panjang karya 40.000—100.000 kata, halaman A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12.
Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan mengirimkan salinan tanda pengenal beserta naskah novel).
Tidak perlu membubuhkan nama penulis di dalam novel.
Empat salinan naskah dikirim ke:

Panitia Sayembara Novel DKJ 2016
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330

Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2016 (cap pos atau diantar langsung)

LAIN-LAIN

Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
Naskah pemenang yang diterbitkan menjadi buku harus mencantumkan logo DKJ.
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
Pajak ditanggung DKJ.
Sayembara ini tertutup bagi anggota DKJ Periode 2016—2018 dan keluarga inti Dewan Juri.
Maklumat ini bisa diakses di www.dkj.or.id.
Dewan Juri terdiri dari sastrawan dan akademisi sastra

HADIAH

Pemenang I Rp.20.000.000
Pemenang II Rp.15.000.000
Pemenang III Rp.10.000.000

JADWAL

Publikasi Maklumat: Juni 2016
Pengumpulan karya: Juni—September 2016
Penjurian: September—November 2016
Pengumuman pemenang: Desember 2016

Dinamisnya Bahasa dan Bunyi

Masih teringat jelas dalam benakku, sebuah adegan di dalam The 13th Warrior. Film yang dibintangi Antonio Banderas menceritakan seorang pemuda, utusan Arab, bernama Ahmed yang singgah di sebuah desa Viking. Bukan tentang adegan percintaannya ataupun bagaimana ia menjadi ksatria ketiga belas nanti, melainkan keheranan penduduk desa tersebut manakala tahu Ahmed bisa menulis.

“Apakah kamu bisa menggambar bahasa?” tanya teman Vikingnya. “Ya,” kata Ahmed. “Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,” sambil menuliskan dua kalimat syahadat di atas tanah bersalju.

Pada mulanya adalah bunyi. Itu kata Sapardi Djoko Damono. Bunyi menjadi bahasa. Bahasa kemudian diaksarakan. Metafora lahir kemudian karena bahasa cenderung tidak dapat mendekati realitas. Dalam konsep yang lebih luas lagi, bahasa itu sendiri adalah metafora karena ia berusaha merengkuh realitas. Keberadaan bahasa itu adalah sebagai pembanding dari realitas.

Tentang bunyi ada sendiri ilmunya. Fonologi. Kita juga mengenal kata fonem atau bunyi itu sendiri. Soal fonem/bunyi ini, saya mengingat guru Bahasa Indonesia saya saat kelas 3 SMA. Namanya Ibu Zazur Erwati. Ada satu hari berisi satu pelajaran yang tidak saya lupakan hingga hari ini. Sebelas tahun telah berlalu, dan ingatan itu masih kuat.

Tahukah kamu tentang peN-an? Dibaca penasalan?

Dalam teks-teks pelajaran bahasa Indonesia kekinian, hal ini tidak pernah dituliskan. Bahkan ketika mengajar privat untuk USM STAN (saat itu masih ada bagian soal Bahasa Indonesia), murid saya dari sekolah swasta terkenal di Jakarta mengaku tidak tahu. Dia mengambil buku catatannya yang tebal dan menunjukkan isi yang mirip dengan hal yang pernah diajarkan ke saya.

Penasalan berkaitan dengan morfologi kata. Penasalan adalah aturan mengenai pembentukan kata dari kata dasar bila bertemu dengan imbuhan. Namun, penasalan ini hanya berkaitan dengan awalan me-.

PeN + kata dasar + an = Orang yang melakukan + kata dasar

Saya masih hapal di dalam kepala pembagiannya:

PeN-an akan berubah menjadi Pem-an bila bertemu kata dasar berfonem awal b, p, f, v
PeN-an akan berubah menjadi Pen-an bila bertemu kata dasar berfonem awal c, d, j, t, sy, z
PeN-an akan berubah menjadi Peng-an bila bertemu kata dasar berfonem awalm k, g, h, kh, dan semua bunyi vokal (a, i, u, e, o)
PeN-an akan berubah menjadi Penge-an bila bertemu kata dasar yang hanya punya satu suku kata
PeN-an akan berubah menjadi Peny-an bila bertemu kata dasar berfonem awal s
PeN-an akan berubah menjadi Pe-an bila bertemu kata dasar berfonem awal l, m, n, ng, ny, r, w.

Hal yang menarik adalah guru saya itu mengajari saya fonem. Dasarnya adalah fonem, bukan huruf awal. Berbeda dengan teks kini, ketika membahas morofologi kata, tahunya mereka tentang metode KTSP. Bila bertemu kata dasar berhuruf awal k, t, s dan p, kata tersebut mengalami peluluhan. Lalu bagaimana dengan fonem sy, ny, ng, kh?

Apa kata dasar dari mengaji?

Kalau merujuk pada penasalan, bisa jadi aji, kaji atau ngaji. Tinggal kemudian kita mengecek kata dasar yang baku.

Kekeliruan kerap terjadi kemudian bila penasalan disandingkan dengan awalan pe- yang menyatakan arti profesi. Pada dasarnya, awalan pe- yang menyatakan profesi bila bertemu kata dasar, ia tidak mengalami perubahan

Contoh:

Petinju= Orang yang profesinya bertinju.

Peninju= Orang yang meninju.

Petembak= Atlet tembak.

Penembak= Orang yang menembak.

Namun, lagi-lagi bahasa punya pengecualian untuk awalan pe- yang menyatakan profesi.

Contoh:

Pembunuh. Bisa jadi berprofesi sebagai pembunuh. Bisa juga berarti orang yang membunuh.

Lalu bagaimana dengan penyair? Apakah penulisan penyair sudah benar?

Kata dasarnya adalah syair. Bila mengikuti penasalan, bentukan katanya adalah pensyair. Yang berarti orang yang menulis atau membaca syair. Tapi bila itu dikaitkan dengan profesi, aturan dasar membentuk kata itu menjadi pesyair. Tapi bahkan kata pesyair tak lazim didengar.

Sebelum teori, kita kudu memahami konstruksi teori. Konstruksi teori ada berdasakan pendekatan-pendekatan. Ada pendekatan semantik, sintaksis, pragmatis, pragmatis deskriptif, normatif, positif, dan lain-lain.

Nah, seperti diungkapkan di awal, bahasa itu metafora, dalam artian dia berusaha menangkap realitas. Maka, tak salah kalau dikatakan kalau bahasa itu dinamis karena bahasa mengikuti manusia. Manusia berubah dari zaman ke zaman. Pembakuan bahasa yang tak betul memilih pendekatan atau tak justru tak melakukan pendekatan terhadap manusianya akan kalah. Bahasa bisa jadi musnah karena manusia tidak mau memakai bahasa itu. Bahasa dianggap tidak mewakili mereka.

Dalam hal penyair merujuk ke arti profesi, saya meyakini kata yang benar adalah penyair. Pendekatan positif yang berlaku.

Inilah yang menyebabkan kita tak perlu heran bila ada perbedaan pendapat dari para pekerja bahasa. Kita juga mengenal adanya selingung. Gaya selingkung adalah pedoman tata cara penulisan. Setiap penerbit biasanya memiliki gaya selingkung yang berbeda-beda.

Kebakuan adalah orotitas yang dipegang oleh Pusat Bahasa. Tidak setuju dengan Pusat Bahasa boleh-boleh saja asal kita punya ilmu untuk mendasari ketidaksetujuan itu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah edisi keempat sekarang (atau mau edisi kelima?). Ejaan yang Disempurnakan (EyD) sudah menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Selalu ada yang berubah, selalu ada yang baru.

Satu contoh, sebagai penutup, tentang kegalauan Pusat Bahasa dalam menentukan kebakuan.

Mana yang baku, embus atau hembus?

KBBI yang sekarang menyatakan embus yang baku. KBBI yang dulu menyatakan hembus yang baku. Entah apa penjelasannya kok diubah demikian. Sampai hari ini saya masih suka pakai kata hembus. Mau tahu kenapa?

Simpel. Coba hembuskan napasmu. Terasa ada “h”nya nggak dalam hembusan napas? Nah, itulah fonem. Bunyi.

(2016)