Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Info Lomba Menulis

Motor Terbang

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Baiklah, sekarang aku mengerti bagaimana seharusnya cerita ini dimulai. Percaya atau tidak, itu terserahmu.

Kemarin, aku melihat dua benda melayang di langit Mantar. Ketika semua orang terpaku pada pemandangan puncak Rinjani yang diselimuti cahaya keemasan, aku menoleh ke arah sebaliknya. Di balik bukit, dua benda naik pelan-pelan. Aku pikir ada yang salah dengan mataku. Kupicingkan mata, dan lebih jelas dua benda itu seperti sepeda motor.

Secara literal, melayang berbeda dengan terbang. Aku pernah melakukan percobaan telur melayang di dalam gelas. Mula-mula tuang air hingga setengah penuh, lalu beri garam secukupnya, aduk hingga larut. Tuangkan lagi air hingga memenuhi gelas. Baru masukkan sebutir telur ke dalamnya. Telur akan melayang tepat di tengah gelas. Melayang adalah soal massa jenis. Air garam memiliki massa jenis yang berbeda dengan air biasa. Sementara terbang adalah soal aerodinamika.

Aku ingin teriak, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku menoleh ke arah yang lain, mencari teman-temanku, tetapi aku melihat pemandangan lain yang tak ingin kusaksikan. Nacinta tengah memeluk mesra Pangestu. Masing-masing satu tangan mereka memegang tongsis dan membiarkan latar belakang matahari terbenam mendoakan kisah cinta yang tengah mereka jalin.

Hatiku seperti ditusuk-tusuk cahaya senja membayangkan betapa sebenarnya aku mencintai pacar sahabatku sendiri. Dan rasa sakit itu menyingkirkan ribuan pertanyaan tentang dua benda yang kulihat itu.

“Jangan sampai ada barang yang ketinggalan!” seru Komandan Sajidin.

Aku mengemasi barang-barangku dengan payah. Entahlah, kenapa menyusun baju-baju kotor ke dalam tas selalu lebih sulit. Tas lebih menggelembung dan melihat keadaan itu aku semakin emosi dengan menjejalkan secara paksa segala yang belum kumasukkan.

Nacinta dengan cekatan membantu Pangestu membereskan barang-barangnya. Melihat hal itu, aku semakin cemburu.
Menuju Mantar, kami naik motor beramai-ramai dari Sumbawa Besar, menempuh jarak kurang lebih 120 km. Kemudian motor kami titipkan di rumah warga sebelum menyewa mobil yang secara khusus membawa penumpang naik ke Mantar dengan sudut elevasi jalan lebih dari 45 derajat. Ditambah lagi jalannya tidak mulus, berbatu-batu, dan tidak memiliki pelindung di bahu jalan. Sekali terpeleset, salah mengegas, kita bisa langsung terjun bebas ke jurang-jurang. Sekarang, pulang berarti perjalanan akan begitu menukik. Aku bayangkan kata menukik itu seperti burung elang yang sedang terbang tiba-tiba melihat seekor ayam, kemudian menyambarnya.

“Pernahkah burung-burung terbang bertabrakan?” Tercetus begitu saja pertanyaan itu kepada Randal Patisamba. Randal Patisamba menatapku heran.

“Pernahkah pesawat-pesawat terbang bertabrakan?” Aku ganti pertanyaanku.

“Belum. Belum kudengar tuh pesawat bertabrakan. Kecuali perang… atau pengemudinya mabuk mungkin?” jawab Randal sekenanya.

“Pengemudi? Pilot maksudmu?”
“Ya lah, pengemudi pesawat disebut pilot, pengemudi kapal laut disebut nakhoda, pengemudi kereta disebut masinis, pengemudi mobil disebut sopir. Sama-sama pengemudi.”
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa pesawat-pesawat tidak bertabrakan?”
“Kenapa ya?” Karena langit luas, pesawat sedikit… mungkin.”
“Bahkan dalam jalan yang sepi, mobil-motor bisa bertabrakan?”
“Nah itu, karena di langit tak ada jalan.”

Di langit tak ada jalan. Jalan-jalan raya di Indonesia kebanyakan tidak layak. Sepanjang Sumbawa Besar-Sumbawa Barat saja jalan-jalan rusak. Padahal setiap tahun ada perbaikan jalan, tetapi setiap tahun pula jalan itu rusak kembali. Aku pernah bertemu seorang kontraktor yang berdalih jalanan rusak karena penganggarannya tidak mencukupi. Jalan di Alas misalnya, sangat tidak stabil dan membutuhkan konstruksi jalan lebih dalam dan hal itu perlu biaya yang lebih. Namun, APBN terbatas dengan target sekian kilometer pengerjaan. Mau tidak mau, para kontraktor menyanggupi dengan pengerjaan yang minimalis.

Jalan-jalan yang rusak itu berbahaya. Jalan-jalan yang bergelombang, apalagi berlubang, tidak bersahabat dengan kecepatan kendaraan. Suatu sore, aku pernah bermotor di Lombok Timur dengan temanku. Hari hujan, kami jalan dengan kecepatan yang cukup hati-hati. Di tengah jalan, kami hampir saja mengalami kecelakaan. Motor yang kami kendarai mengenai lubang sehingga sempat oleng. Apalagi jalanan teramat licin. Untunglah, keseimbangan temanku itu cukup kokoh. Ketika motor hilang keseimbangan, ia tidak panik dan dapat mengendalikannya. Kubayangkan jika aku jatuh, kepalaku akan pecah karena aku tak memakai helm. Syukurlah hal itu tidak terjadi. Hanya ban motor depan yang pecah dan kami harus menuntun motor itu bergantian hinga sampai ke bengkel.

Sejak saat itu aku berjanji akan selalu memakai helm. Aku tak dapat membayangkan lubang-lubang di jalanan dapat dengan mudah mencabut nyawa seseorang.
Sementara lubang di dadaku tidak tahu kapan akan mencabut nyawaku.
“Apa yang kamu pikirkan, Phi?” tanya Randal Patisamba.
“Kau pernah kecelakaan?” tanyaku.
“Ya. Sampai patah rahang.”
“Apakah patah rahang lebih sakit dari patah hati?”
“Aku tidak pernah patah hati. Aku tak mau patah hati. Tapi aku lebih tak ingin patah rahang lagi.”

Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana rasanya patah rahang. Dia bercerita panjang lebar mengenai kondisinya saat sebelum operasi dan hal itu membuatku ngilu.

“Yang sulit bukanlah menahan sakit tak terperi dari rahangku… meski itu sangat sakit sekali… melainkan betapa lama aku harus menunggu kejelasan statusku. Bayangkan, pertama, pihak jaminan kesehatan harus mendapat cukup bukti kalau aku benar-benar kecelakaan. Setelah itu, aku harus menunggu dokter spesialis tulang satu-satunya datang untuk menilai kondisiku. Tiga hari aku hanya diberi obat penahan rasa sakit. Tiga hari aku diberi harapan akan segera operasi. Namun, ketika dokter datang, ia menyatakan tak sanggup mengoperasiku. Aku harus dirujuk ke Mataram. Dan aku harus menunggu jadwal ambulans yang bisa mengantarku ke Mataram. Di Mataram pun, rakyat miskin dengan jaminan kesehatan sepertiku harus dibuat menunggu jadwal operasi. Kamu tahu, Phi… perasaan menunggu dan diabaikan itu lebih menyakitkan dari sakit patah rahang ini!”

Aku mencium emosi dari kalimat Randal. Dan tak bisa kubayangkan deritanya.

Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah kapok naik motor. Trauma. Tetapi pekerjaannya sebagai asisten penyuluh pertanian membuatnya harus menjadi biker sejati. Tidak mungkin ke Tepal dengan mobil. Tidak mungkin ke Batu Rotok dengan mobil. Ke Mantar pun aku membonceng Randal. Randal bahkan tidak naik ke Mantar dengan mobil yang disiapkan. Ia mendaki terjal jalan dengan motor kesayangannya sendirian.

Pengalaman seseorang bermotor tidak menjamin keselamatannya di jalan. Ada tangan lain yang berperan. Tangan takdir.
Tangan takdir yang sama membuatku bertanya-tanya tentang cinta. Nacinta mengenalku lebih dulu, menangis di depanku lebih dulu, dan bercerita banyak di depanku lebih dulu, tetapi aku hanya dianggapnya sebagai kakak, tak lebih. Sementara seseorang yang baru datang, tak berinisiatif banyak, dapat langsung meyakinkan dirinya bahwa seseorang itulah yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kenapa jantung kita dapat berdetak lebih cepat pada beberapa situasi?

Teman-teman Adventurous Sumbawa mulai menaiki mobil berbak terbuka satu per satu. Tampak pemandangan Pangestu menarik tangan Nacinta. Dan itu lebih menyakitkan ketimbang kegagalan untuk menyaksikan pemandangan awan berarak di bawah kami. Ya, dini hari tadi, aku sudah bangun pukul 3 dan memberanikan diri di dalam kepungan dingin demi menanti sensasi berada di atas awan. Begitulah julukan Mantar, Negeri di Atas Awan. Tapi sekitar pukul 4, angin bertiup kencang dan mengusir awan-awan di bawah kami hingga menjauh. Alhasil, ruang di depan kami menjadi hampa dengan beberapa lampu menyala saja. Untungnya, matahari terbit dengan latar Tambora menghasilkan penghiburan yang cukup menyenangkan.

~

Kami bersepakat untuk rehat sejenak di Rhee nanti. Jagung-jagung Rhee yang berwarna putih dan berasa sangat manis menunggu untuk kami santap.

Tidak tahu siapa yang memulai, tiba-tiba saja kami sudah terlibat kebut-kebutan. Randal Patisamba dengan pengalamannya mulai memacu motor dan berhasil mendahului semua motor di depan kami. Aku sebenarnya takut dengan kendaraan yang melaju lebih dari 80 km/jam, tetapi entahlah, aku merasa aman bersama Randal.

Medan di Sumbawa Barat memang sangat indah dan menarik untuk kebut-kebutan. Kalau pemerintah Indonesia hendak mengadakan Moto GP, sirkuitnya akan sangat seru bila di sini. Kubayangkan Valentino Rossi akan menggeber motornya, dengan trek penuh tikungan, itu akan menjadi favorit Rossi. Di Bukit Cinta, pemandangan laut dan pulau-pulau kecil di sekitar Poto Tano menjadi lukisan sempurna yang dilukis Tuhan.

Satu motor kemudian menyalip kami. Aku mengenali mereka, Pangestu dan Nacinta.

Pasti di belakang sana, Komandan Sajidin tengah marah-marah melihat keadaan ini. Ia paling menekankan keselamatan. Di laut, di darat, ia selalu hati-hati, penuh perhitungan, karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin rombongan.

Tikungan-tikungan ini mengingatkanku pada Sitinjau Laut. Perjalanan dari Padang menuju Solok selalu harus melalui Sitinjau.

Aku menoleh ke kanan, menengadah, dan tergetar diriku melihat pemandangan yang kusaksikan. Dua benda melayang di langit. Kali ini mereka berada di atas awan.

“UFO!” sontak aku berteriak.

“Cupu!” Satu teriakan lain terdengar sekelebat. Satu motor lain mendahului kami dan mengejar Pangestu.

“UFO siapa yang cupu?” tanya Randal Patisamba yang tak paham situasi. Dia sangat fokus dengan jalanan yang curam dan menikung.

Tak mau mengganggu konsentrasinya, aku cari lagi dua objek melayang tadi. Awan-awan menggumpal di langit. Aku yakin tidak salah lihat dan terus mencari keberadaan mereka.

Memperhatikan lebih seksama, aku melihat keanehan-keanehan lain dari awan yang ada. Aku paham betul mengenai pareidolia, keadaan psikologis seseorang untuk melihat kemiripan sebuah objek berdasarkan preferensi yang dimilikinya. Tetapi ini sungguh aneh untuk disebut kebetulan ataupun pareidolia. Satu awan berbentuk seperti pedang. Satu awan seperti seseorang sedang tertawa. Awan yang lain menampilkan bentuk orang mengenakan jubah. Dan di antara awan-awan itu, dua objek melayang itu kembali terlihat.

“Randal, Randal! Kau lihat itu!?” Randal memperlambat lajunya dan menepi di bahu jalan. “Itu!” tunjukku ke arah langit.
Randal mendongak. “Apa? Awan?”
“Kau tak melihat hal yang aneh dari itu?”
Belum sempat Randal menjawab, terdengar bunyi rem berdecit disusul bunyi benturan keras di sekitar kami. Jalan di bawah-depan kami menampilkan pemandangan yang mengerikan. Dua motor di depan kami terguling. Pangestu membuka helmnya dan berjalan menuju sosok perempuan yang tergeletak tak berdaya. Tak jauh dari situ, sesuatu berwarna merah menggenang di sekitar tubuh seseorang. Aku tahu itu darah.

Di langit, pemandangan benda melayang sudah tak ada. Awan-awan pareidolia menjadi lebih mengerikan. Awan-awan berbentuk makhluk berjubah dan makhluk tertawa itu kini seperti langsung menatap padaku.

Saat kuceritakan hal ini kepadamu, mungkin kau akan menertawaiku, menganggapku gila, tetapi pertimbangkanlah satu hal ini, bahwa barangkali aku dapat melihat pertanda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini…. ya, alam akan memberi pertanda atasnya.

(2015)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Seratus Ribu Anak Panah Cao-Cao

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

“Kita ingin menyerang pasukan Cao, senjata apakah yang terbaik untuk digunakan bila kita ingin menyerang mereka dari sungai?”

“Busur dan anak panah adalah senjata yang terbaik,” jawab Zhuge Liang.

Zhou Yu berkata, “Benar, apa yang Tuan katakan sama dengan apa yang saya pikirkan. Sekarang pasukan kita kekurangan anak panah, sudilah kiranya Tuan bertanggung jawab untuk segera membuat seratus ribu anak panah.”

Zhuge Liang membalas, “Saya pasti akan memenuhi amanat Anda. Hanya saja saya tidak tahu kapan kiranya seratus ribu anak panah ini digunakan?”.

Zhou Yu bertanya, “Dapatkah Anda membuatnya dalam waktu sepuluh hari?”

Zhuge Liang menjawab, “Tentara Cao akan segera datang, bila pembuatannya baru selesai dalam sepuluh hari, kita pasti menghambat perkara besar.”

Zhou Yu pun kembali bertanya, “Kira-kira Tuan perlu berapa hari untuk dapat menyelesaikannya?”

“Hanya tiga hari,” balas Zhuge Liang.

 

Salah satu adegan paling menarik di dalam film Red Cliff 2 adalah janji Zhuge Liang kepada Zhao Yu untuk mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu tiga hari. Dalam keadaan kekurangan sumber daya untuk menghadapi satu juta pasukan Cao Cao yang sedang berada di sungai Yang Tse, Zhuge Liang melakukan strategi unik dan berani.

Malam itu kabut turun pekat. Zhuge Liang melayarkan kapal-kapal yang dipenuhi dengan jerami. Menyadari musuhnya mengalami kesulitan jarak pandang, Zhuge Liang memainkan lawan dengan menabuh genderang perang dan beberapa anak panah yang dilepaskan dengan sengaja agar lawan mengira mereka sedang diserang.

Merasa sombong dan di atas angin, lawan mereka menembakkan ribuan anak panah ke dalam kabut yang pekat. Zhuge Liang terus menabuh genderang dan lawan semakin geram sehingga ribuan anak panah lain melesat menghujani kapal-kapal jerami.

Anak panah yang dilepaskan lawan menancap di kapal-kapal jerami dan anak-anak panah itulah yang kemudian diserahkan Zhuge Liang kepada Zhao Yu untuk menyerang Cao-Cao.

Zhuge Liang atau juga disebut Naga Tidur merupakan penasehat perang terbaik di masa tiga kerajaan. Zhuge Liang terkenal dengan kemampuannya dalam membaca alam, pintar, dan sering kali menggunakan taktik perang yang didukung oleh alam sehingga dengan prajurit yang terbatas, ia menjadi lebih efektif dan efisien dalam berperang. Sehingga sosoknya menjadi sangat vital bagi negara Shu yang dipimpin oleh Liu Bei. Ia juga pencetus ide pendirian 3 kerajaan untuk menjaga kestabilan negara Han dari rezim Cao-Cao.

Kekuatan utama Zhuge Liang sebagai seorang pemimpin ada pada ciri model the way dan challenge the process.

Zhuge Liang pun paham begitu pentingnya strategi dan perencanaan. Strategi taktis yang diusulkannya mampu mengantarkan pada kemenangan perang. Dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan, salah satu pilar penting yang tidak boleh dilupakan adalah perencanaan.

Ia memiliki pembawaan yang tenang dan rendah hati. Tetapi ia memiliki cara yang tidak biasa. Caranya mendapatkan 100.000 anak panah Cao-Cao adalah contohnya. Belum lagi strateginya dalam bertaruh bahwa implikasi dari rangkaian strateginya akan menimbulkan ketidakpercayaan Cao-Cao pada dua laksamana yang paling paham medan. Di sinilah, titik balik kemenangan perang itu terjadi.

Zhuge Liang juga memahami betul filosofi seni. Ia menantang Zhao Yu bermain kecapi untuk mendapatkan kepercayaan Zhao Yu sekaligus saling menilai kapasitas masing-masing.

Zhou Yu adalah penasehat perang yang telah dipercaya 3 generasi klan Sun semenjak diperintah oleh Sun Jian hingga Sun Quan. Zhou Yu merupakan tipikal penasehat perang yang taktis dan sangat menguasai taktik perang di perairan. Zhou Yu juga merangkap sebagai komandan perang. Ia memiliki kemampuan dalam menggerakkan perasaan prajurit hingga menaikkan moral mereka. Tipe lainnya adalah observer. Ia akan menguji kemampuan bawahan dan teman yang menjadi sekutunya hingga ia yakin dan akan terus menjaga keyakinannya.

Sebagai contoh, adanya peristiwa pencurian kerbau penduduk oleh prajuritnya. Prajurit yang mencuri kerbau itu berada di batalionnya Gan Xian dengan ciri kaki yang terkena lumpur. Namun, Zhou Yu tidak langsung menghukum prajurit tersebut. Justru ia membela prajurit tersebut dengan menyuruh prajurit lain menginjak lumpur agar tanda tersamarkan. Gan Xian sebagai pemimpin batalion melihat hal tersebut akhirnya sadar dan meminta maaf langsung kepada petani yang dicuri sapinya hingga membuat para prajurit terharu karena kesalahan prajurit biasa ditanggung oleh jenderal mereka. Hal inilah yang membuat moral prajurit menjadi lebih percaya kepada pemimpin. Filosofi pemimpin ialah membela bawahan bukan langsung menyalahkan karena kesalahan bawahan bisa saja karena kesalahan pemimpin dalam mendidiknya.

Cao cao merupakan perdana menteri dan jenderal utama dari negara Han. Ia adalah pemimpin yang memiliki segalanya, kepintaran dan seni berperang, dukungan politik dan militer, hingga pengalaman perang yang sangat banyak dengan catatan rekor tidak pernah terkalahkan. Tetapi, ketamakan akan kekuasaan yang menjadikan ia jatuh menjadi pemimpin yang dibenci.

Seni berperangnya setingkat Zhou Yu dan Zhuge Liang akan tetapi terkadang ia ceroboh terutama pada godaan wanita yang merupakan sumber peperangan kali ini.

Sebelum berperang masing masing pihak saling menganalisis SWOT. Faktor geomorfologi pegunugan dan perairan dijadikan landasan analisis fisik dasar dan infrastruktur yang menunjang dalam perang seperti kapal perang di area yang dominan perairan.

Pihak aliansi Wu-Shu telah lebih dahulu berbasis di area tebing merah sebelah timur yang telah turun temurun dijadikan benteng alam akan tetapi Cao cao juga bisa membaca dengan menjadikan tebing merah di sebelah barat sebagai benteng alam juga. Sayangnya analisis Cao cao kurang komprehensif sehingga ia tidak mempertimbangkan faktor skenario terburuk dalam perang karena ia belum pernah terkalahkan sekalipun sehingga ia lupa bahwa tebing di sisi barat tidak memiliki area untuk melarikan diri ke arah barat.

Pada awalnya Cao Cao sangat diuntungkan dengan bergabungnya dua laksamana yang menyediakan, dan membangun angkatan laut. Akan tetapi karena perencanaan terstruktur, rapi dan sangat rahasia oleh Zhou Yu dan Zhuge Liang yang menyebabkan Cao Cao membunuh laksamananya sendiri—karena kurangnya kepercayaan Cao Cao yang juga telah membaca bahwa banyak panglima pendukungnya yang kurang loyal.

Faktor lain yaitu perencanaan Demografi atau Manpower. Cao Cao yang memiliki manpower/ prajurit yang banyak sebenarnya sangat beruntung dan menjadi nilai tambahnya. Ia menjaga moral prajuritnya dengan janji-janji berupa pembebasan pajak selama 3 tahun, penaikan pangkat, dan kemenangan. Ini adalah ciri kepemimpinan transaksional. Cao-Cao untungnya juga merupakan motivator yang baik sehingga moral prajuritnya tetap terjaga walaupun tidak diuntungkan secara geografis—prajurit Cao cao tidak terbiasa berperang di atas perairan—dan pada saat wabah menyerang.

Sedangkan pihak Wu dan Shu yang sangat dipercaya oleh prajuritnya memiliki kekurangan dari segi jumlah tetapi lebih merata di bidang kemampuan dalam perang di wilayah perairan di isi oleh pasukan dari Wu dan dalam perang di wilayah darat di isi oleh pasukan Shu.

Faktor iklim dan hidrologi sangat dibutuhkan terutama dalam bersiasat. Sebenarnya Cao Cao telah dapat membaca iklim saat itu sangat membantunya terutama dalam perang besar dengan menggunakan api akan tetapi ia masih kurang pengetahuan terhadap iklim dan hidrologi dibandingkan Zhuge Liang sehingga justru di saat yang tepat malah menjadi kekuatan pembantu pasukan aliansi.

Proses perencanaan berikutnya adalah urutan aplikasi atau kata mudahnya urutan taktik yang akan dijalankan.

Di pertempuran darat yang pertama pasukan aliansi memakai formasi perang kura kura darat dan di kubu Cao Cao mengirim pasukan frontline kavaliernya yang terkenal. Di pertempuran berikutnya Cao Cao mengirimkan penyakit ke kubu pasukan aliansi dengan sangat tidak manusiawi dan dibalas dengan tipu muslihat pengambilan panah oleh Zhuge Liang yang dibutuhkan di perang puncak sebagai alat pelontar api dan muslihat pembunuhan laksamana perang di kubu Cao Cao sebagai penurun moral pasukan Cao Cao.

Di pertempuran puncak yang menjadi kekalahan Cao, adalah keterlambatan dalam penyerangan. Pasukan Cao diserang terlebih dahulu dan berakibat pada turunnya mental pasukan Cao.

Dari film ini, kita dapat melihat betapa ketiga pemimpin ini memiliki kemampuan yang kuat sebagai pemimpin. Meski di film Red Cliff, Cao-Cao kalah, tetapi dalam sejarah kita tahu bahwa Cao-Cao akan kembali dan memenangkan pertempuran. Cao-Cao adalah sosok yang karismatik yang mampu menyatukan Cina daratan. Ia punya visi, yakni mengutuhkan Cina. Ia punya kemampuan memotivasi dan menggerakkan hati pasukannya yang sempat runtuh. Ia juga punya mental untuk menantang setiap proses yang ada.

Zhao Yu tak kalah visionernya. Ia juga mempunyai kemampuan untuk dekat ke bawahannya sehingga mendapatkan hati dan kepercayaan pasukannya.

Sementara Zhuge Liang adalah orang paling berbahaya dari sisi perencanaan dan strategi. Bahkan di akhir cerita, Zhao Yu menyadari bahwa suatu saat ia akan berhadapan dengan Zhuge Liang dan merasa takut padanya.***

 

 

Antara Kapitalisme dan Harga Buku yang Semakin Mahal

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

                Baru-baru ini, beberapa penerbit mengumumkan kenaikan harga buku-bukunya. Kenaikan itu berkisar antara 10-20%. Banyak konsumen/pembaca buku mengeluh karena harga buku makin tinggi dan tak terjangkau.

Di tengah kelesuan ekonomi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi, penjualan buku mengalami penurunan. Hingga kuarter ketiga tahun 2015, penjualan buku turun hingga 40%. Konsumen buku menjadi sangat selektif karena mereka juga harus mengencangkan ikat pinggang. Barangkali hal ini juga yang menyebabkan banyak penerbit mengobral buku-bukunya sepanjang tahun 2015. Bisa kita lihat di gerai-gerai Carrefour, Giant, Hypermart, dan toko-toko buku, buku-buku dijual mulai harga Rp10.000,-

Lesunya industri buku diperparah dengan penegakan aturan pengenaan PPN 10% untuk setiap buku nonpendidikan. Banyak penerbit kecil gulung tikar akibat penerapan PPN tersebut.

Penerbit-penerbit kecil tidak memiliki percetakan sendiri. Setiap kegiatan yang menghasilkan nilai tambah, dengan entitas berbeda, berarti memunculkan kewajiban pajak. Implikasinya, harga pokok produksi mereka juga naik 10% karena percetakan pun harus melaporkan pajaknya.

Kemudian, setelah buku selesai dicetak, buku didistribusikan ke toko buku. Ada dua pihak lain yang terlibat dalam rantai industri buku, yakni distributor dan toko buku. Pembagian pendapatan dalam rantai tersebut rata-rata adalah 17% distributor, 35% toko buku, 38% untuk penerbit dan 10% untuk penulis. Setelah itu masing-masing pihak juga dikenakan pajak penghasilan.

Pertanyaannya, bagaimana perhitungan dan pembebanan PPN kepada masing-masing pihak?

Ilustrasinya, harga buku dari penerbit Rp100.000,- maka harga jual di toko buku adalah Rp110.000,-

Proporsi pendapatan dari setelah PPN disisihkan terlebih dahulu seharusnya:

  • Penerbit 38% x 100.000 = 38.000
  • Royalti penulis 10% x 100.000 = 10.000
  • Distributor 17% x 100.000 = 17.000
  • Toko buku 35% x 100.000 = 35.000

Secara adil, pembagian pendapatannya harusnya seperti itu.

Namun, per September lalu, secara sepihak, pembagian pendapatannya menjadi 39% toko buku, 17% distributor, 10% penulis dan 34% penerbit. Terjadi pengurangan 4% milik penerbit yang dialokasikan ke toko. Saat saya tanya kenapa demikian, awalnya pihak penerbit mengatakan 4% itu untuk pemerintah. Saya tanya lagi atas dasar aturan apa 4% itu, apakah ia pajak? Kalau pajak, pajak pasal berapa dan ada di PMK(Peraturan Menteri Keuangan) no berapa? Mereka diam.

Jika penerbit hanya mendapatkan 34% dari harga setelah dipotong pajak, dengan harga pokok produksi 25%, maka penerbit hanya mendapat 9% atau Rp9.000,- per buku. Jika oplah minimal 3000 buku, maka modal yang dibutuhkan adalah 75 juta. Maka untuk mencapai BEP, penerbit harus dapat menjual minimal 2250 buku atau 75% dari oplah. Dengan kondisi sekarang, rata-rata buku per judul terjual 250 buku/bulan, berarti aliran kas untuk BEP adalah 9 bulan. Tak heran, jika banyak penerbit gulung tikar.

Dengan enteng kemudian, penerbit diberi solusi oleh mereka untuk menaikkan harga buku 20% agar mendapatkan pendapatan seperti semula. Namun kenaikan harga 20% akan memberatkan konsumen buku.

4% yang diminta pihak toko, usut diusut adalah “kompensasi” PPN yang dibebankan ke penerbit. Atau, pihak toko tidak mau dibebani dengan membayar PPN. Mereka menaikkan tarifnya akibat PPN. Sementara kalau harga dinaikkan, keuntungan yang didapatkan oleh toko akan semakin besar. Inilah benar-benar sifat kapitalis!

Solusinya?

Pertama, pengenaan PPN atas buku menjadi awal kekisruhan ini. Di tengah upaya menggalakkan dunia literasi, kita malah dihadapkan dengan kondisi harga buku yang semakin tinggi. Saya tidak paham kebijakan pemerintah jika memang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, harusnya memperhatikan industri buku dari hulu ke hilir. Untuk itu, PPN atas buku harus dihapuskan.

Kedua, pihak yang egois adalah pihak toko buku. Hal itu terjadi karena posisi tawar mereka yang kuat dengan memiliki banyak toko buku di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dapat melakukan pengelolaan pada gedung-gedung pemerintah, dewan kesenian daerah, perpustakaan daerah, untuk menjadi toko buku dengan pembagian pendapatan yang lebih rendah dari toko buku lain. Di satu sisi, hal ini dapat menjadi PNBP, di satu sisi ini akan membantu persebaran buku.

Pada akhirnya, pemerintah memang bertanggung jawab untuk meningkatkan minat baca rakyat Indonesia sehingga tidak melulu rakyat Indonesia mendapat peringkat rendah dalam kategori minat baca. Bukankah buku adalah jendela dunia?

Wallahualam.

 

Setiap Kita Sakit Jiwa

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tak biasanya aku hadir dalam sebuah workshop kepenulisan. Tapi Sabtu lalu, aku hadir di Comic Cafe, Tebet, untuk mengikuti acara ulang tahun Nulis Buku dengan pembicara Bernard Batubara.

Aku datang terlambat, melewatkan sesi pembukaan dan beberapa saat kemudian, Bernard maju untuk memulai sesinya. Tak ada yang baru dan menarik bagiku dari sesi itu selain pesan tentang hal paling sulit sebagai penulis adalah membuat seorang pembaca tetap membaca tulisan kita hingga habis. Sampai sesi tanya jawab, aku terisap oleh sebuah pertanyaan, yang kira-kira bunyinya, “Bagaimana pandangan Anda tentang alterego yang kerap dimiliki dan digunakan oleh penulis ketika menulis karyanya? Tidakkah itu berbahaya? Sebab dalam ilmu psikologi, alterego adalah salah satu pertanda dari skizophrenia.”

Jawaban Bernard tak kalah menarik. “Setiap manusia itu gila. Penulis gila lebih cepat.”

Aku nggak ngerti si penanya ini berasal dari universitas mana, semester berapa, sehingga aku berpikir dia sendiri tidak paham arah pertanyaannya kemana (dalam hubungan dengan penulis). Tetapi selintasan adegan itu membuatku teringat pada sebuah drama berjudul “It’s Okay That’s Love”.

Baiknya kalian tonton saja drama itu ya.

Baby 5

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Baby 5


 

Kalau kamu belum mati hari ini, jangan sombong. Apalagi sampai bilang kalau malaikat maut tak akan sanggup menyabut nyawa kamu. Kematian bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan sebab yang dahsyat maupun yang remeh. Misalnya, tiba-tiba kamu lupa cara bernapas.

Akhir-akhir ini saya merasa sering lupa dan khawatir hal itu akan terjadi. Melihat telapak tangan yang bergerak sendiri di luar kuasa saya, mungkin ini perasaan yang sama yang dirasakan Tuhan ketika melihat makhlukNya membangkang. Saya mengatakan ini bukan dengan maksud menyamakan diri dengan Tuhan apalagi berniat jadi Tuhan. Hanya saja, saya merasa selalu akan ada hal-hal yang terjadi tanpa kita sadari, tanpa bisa kita mencegahnya.

Hari ini, saya mendengar sebuah kabar bahagia. Seorang teman pulang ke Palembang dan mengajak bertemu seorang perempuan yang diinginkannya. Dia melamarnya dan mendapat tanggapan positif. Senang rasanya, sebab saya membantunya untuk menyusun daftar kalimat yang harus diucapkannya.

Kira-kira begini daftar yang saya susun:

  1. Bicarakanlah sesuatu mengenai keterlambatan pesawat. (Saya menebak dengan benar pesawatnya akan ditunda keberangkatannya karena asap masih menutupi wilayah Palembang. Pasti pesawat baru berani berangkat ketika matahari sudah lebih lelaki)
  2. Bicarakanlah sesuatu mengenai diri dan visi dirimu ke depan.
  3. Katakan tentang usia, lalu katakan perasaanmu dengan menatapnya tajam.
  4. Minta dia menjadi hidupmu.
  5. Terakhir, saya menitip pesan kepadanya, jatuh cintalah karena kesiapan, bukan karena kesepian.

Syukurlah jika itu berhasil. Meski di sisi lain, saya sedang merasa sedih. Begitulah hidup, seperti dua sisi mata uang. Di saat yang sama, ada seorang lelaki yang tidak bisa pulang dan percintaannya di ambang perpisahan. Perasaan kehilangan seringkali membuat seseorang lebih baik mati.

Saya membutuhkan vitamin sea untuk menyegarkan pikiran. Kemudian terjebak dalam foto-foto pantai yang pernah saya kunjungi. Entah kenapa, pikiran saya menuju ke Ernest Hemmingway. Mungkin karena judul buku Lelaki Tua dan Laut yang ditulisnya. Mungkin juga karena saya tahu beliau mati bunuh diri setelah pernah 5 kali lolos dari maut.

Ketika menjadi sopir ambulans pada Perang Dunia I, Hemingway tersambar pecahan peluru, dan 237 pecahan peluru bersarang di tubuhnya. Beliau juga pernah tertembak saat berhadapan dengan hiu. Yang paling epik menurut saya adalah ketika ia membawa granat, mengarungi perairan Gulf Stream dengan kapal kayu sepanjang 11, 5 m demi memburu kapal selam Jerman. Hal itu bukan yang terakhir. Setelah itu beliau dua kali selamat dalam kecelakaan pesawat.

Lima kali selamat dari kematian, dan mampu bertahan dari penderitaan-penderitaan mahadahsyat, apa yang membuat Ernest Hemingway bunuh diri?

Mata saya terpaku pada satu foto. Tanjung Tinggi. Pantai yang disebut di Laskar Pelangi itu memiliki pemandangan yang khas. Batu-batu yang konon sudah ada dari zaman Jura seperti diletakkan rapi oleh raksasa. Pasirnya putih. Seorang perempuan tersenyum pada wilayah POV 1:3 yang biasa disebut dalam teknik dasar fotografi. Dan pemandangan itu membuat saya ingin kembali ke sana.

Apakah Ernest Hemingway pernah melihat pemandangan semacam ini? Atau bahkan pantai-pantai lain yang lebih indah, dan semakin indah bila menuju timur Indonesia?

Kamu harus mencanangkan perihal wisata dalam hidupmu. Keliling Indonesia, keliling dunia… jangan hanya diam di dalam kamar. Mati di dalam kamar karena sakit jantung atau stroke, atau kaget karena digigit nyamuk, itu memalukan sekali. Mati ketika menjadi musafir lebih keren.

Ahasveros, seorang raja Persia, dalam kitab Ezra disebut rela meninggalkan tahtanya untuk mencari sesuatu. Ia tidak tahu apa yang dicarinya, bahkan sampai ia mati, membusuk, hancur tulang-tulangnya.

Setelah mati, apa yang terjadi? Saya tidak tahu.

Agama-agama menyebutkan adanya kehidupan setelah kematian. Aneh rasanya jika sudah payah-payah bunuh diri, tahunya hanya pindah ke kehidupan yang lain. Di sana, seorang pelaku bunuh diri pasti akan frustasi mencoba bunuh diri lagi. Disebutkan bahwa kehidupan lain itu abadi, artinya, pelaku bunuh diri dapat mencoba semua teknik bunuh diri, mengulanginya terus-menerus sampai para penontonnya bosan.

Pada titik ini, saya berpikir, buat apa hidup dalam keabadian? Dan dalam keadaan pasrah menerima penghakiman, bahagia atau menderita selamanya?

Jika masuk surga, saya akan menyusun agenda berikut:

  1. Bercinta dengan bidadari yang selalu kembali perawan, yang kulit-kulitnya putih cerah, memantulkan cahaya.
  2. Mencoba meminum sungai madu, mengingat madu-madu asli mahal harganya ketika di dunia. Ah, tapi sebelum meminumnya, saya akan mengetesnya terlebih dahulu. Apakah ia dapat dibakar? Apakah ia tidak membeku bila diletakkan di dalam kulkas? Apakah ia tidak akan dikerubungi semut? Barangkali saja, buat jaga-jaga, sungai madunya juga dicampur air.
  3. Bercinta lagi.
  4. Tidur, tapi, apa ada rasa kantuk nanti?
  5. Bercinta lagi, eh tunggu dulu, apa nanti nafsu juga masih ada?

Saya menggeleng-geleng, mengangguk-angguk dan seorang yang berprinsip empiris harus menguji jawaban secara langsung. Apakah Ernest Hemingway meyakini empirisme?

Orang-orang yang benci agama seringkali menjadikan empirisme sebagai tameng. Mereka berteriak, “Jika Tuhan ada, muncul sekarang juga!”

Lalu hujan turun, seharusnya mereka berpikir hujanlah Tuhan.

Sebaliknya, jika masuk neraka, ah saya tidak ingin masuk neraka. Ngeri. Saya membaca buku siksa api neraka ketika masih kecil. Ada yang ditusuk-tusuk dengan besi panas, disiram dengan lahar, dan yang paling ringan siksaannya, berjalan di terompah api. Pasti panas sekali.

Sementara orang-orang menghindari panas di bumi. Di kamar memasang AC. Tak ada AC, siang-siang enaknya masuk ke dalam lemari es.

Saya pernah berpikir untuk masuk ke lemari es dan mencoba membekukan hati saya. Tapi sudah saya setel nol derajat celcius, hati saya tak beku juga. Saya takjub menyadari titik beku hati lebih minus daripada titik beku air.

Saya kemudian berkonsultasi ke mahasiswa Fisika tentang hal tersebut. Mahasiswa itu bilang, tidak seharusnya titik beku hati lebih minus daripada titik beku air. Ia mencopot hati saya dan menjadikannya sebagai objek penelitian.

Ia meminta waktu selama satu minggu untuk mencari kebenaran dan entahlah, saya merasa senang berjalan-jalan tanpa hati.

Di jalan saya melihat seorang pengemis, dan saya tak tergoda memberi uang kepadanya. Kemudian saya menonton drama Korea dan baru kali itu saya tak menangis. Saya pukul semua orang yang saya temui dan tidak ada perasaan bersalah.

Dalam keadaan tanpa hati saya berpikir, kenapa manusia diciptakan ada yang kuat dan ada yang lemah? Hal itu terjadi bukanlah agar yang kuat melindungi yang lemah, melainkan agar yang kuat melindasi yang lemah.

Dalam keadaan tanpa hati, waktu terasa cepat berlalu. Mahasiswa Fisika meneleponku dan memintaku datang menemuinya.

Kami bertemu di kafe. Kafe itu memainkan lagu-lagu cinta seperti lagu yang dinyanyikan kembali oleh Ahmad Dhani. Judulnya Kawin Tiga. Dalam keadaan tanpa hati, lagu itu terasa romantis sekali.

Mahasiswa Fisika itu menyerahkan sebuah kresek. Di dalamnya ada hati saya.

“Saya sudah tahu jawabannya…” katanya.

Saya diam.

“Hati kamu penuh cinta. Aku tak yakin, bahkan bila hati kamu diletakkan di Everest, ia dapat membeku. Cinta di hati kamu selalu lebih api dari api.”

Saya berusaha mencerna kata-kata itu dan berpikir apakah Hemingway pernah mendapatkan kalimat seperti ini di dalam hidupnya? Apakah Hemingway juga pernah merasakan cinta?

“Orang-orang yang punya cinta tidak perlu mati….” lanjutnya sambil menunduk. Kemudian seorang pelayan mengantarkan menu, dan berdiri di samping meja dengan pose siap mencatat kata-kata kami.

Sayangnya, saat itu, saya kehabisan kata-kata.

 

(2015)

Sebuah Kubus dan Permainan Solitaire

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

AKU cukup sering membunuh waktu dengan bermain Solitaire, selain Sudoku dan Minesweeper. Bermain kartu, mengurutkannya satu demi satu membuatku merasa tidak kesepian. Duniaku saat itu sangat sempit. Di rumah, aku hanya berada di dalam kamar dan hanya keluar jika waktu makan tiba. Buku-bukuku bertumpuk-tumpuk dan kecepatan membacaku membuatku mampu melahap mereka semua.

Saat itu aku punya sebuah buku harian. Tetapi karena tulisan tanganku yang buruk, aku selalu merasa kesal sendiri setiap selesai menuliskan sesuatu. Tulisan itu sulit dibaca bahkan olehku yang menulisnya.

Waktu berlalu, teknologi informasi semakin maju. Aku memiliki akun sosial media dan blog. Dan aku sangat rajin menulis, tentang apa saja yang kupikirkan saat itu.

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj10952008_10152840538994794_1183052442_n

Kekinian, aku menjadi seorang penulis beneran. Beberapa judul bukuku sudah terbit dan aku kerap memenangkan kompetisi menulis. Dan ada juga yang menyaratkan tulisan-tulisan itu harus diposting di blog. Prestasi, hadiah yang kudapatkan hanya selalu kuanggap sebagai efek samping. Aku memiliki blog hanya karena aku ingin menulis. Aku menulis hanya karena aku ingin memiliki teman, atau setidaknya… orang-orang yang membacaku, mendengarkan aku, mengenal aku.

Aku keluar dari duniaku yang sempit dan mendapatkan kesempatan untuk berpetualang. Bayangkan, sampai tahun 2010, ketika aku belum berusia 22 tahun, aku tidak pernah traveling sendirian. Baru pada Juni 2010, aku ke Yogya sendiri, naik bus Sumber Alam yang tidak ber-AC, penuh dengan asap rokok dan alhamdulillah aku tidak mabuk. Pulangnya, aku naik kereta. Merasa tidak percaya diri naik kereta ekonomi, aku ke stasiun Tugu dan loket tiket suah tutup. Seorang kakek mendatangiku dan menawarkan kesempatan untuk bisa naik kereta. Ia seorang calo, aku paham. Tapi tawaran harga tiket tanpa tambahan menggiurkan juga untuk waktu yang mendesak. Aku pun naik kereta untuk pertama kalinya dan kakek itu mengantarkan aku ke gerbong. Dia berbincang dengan penjaga kereta dan aku naik kereta dengan nyaman sampai ke stasiun kota Jakarta.

Sesampainya di stasiun, aku tak menyangka, tiket diminta di pintu keluar. Sementara aku tak punya tiket. Aku digelandang ke sebuah ruangan dan di sana aku diinterogasi. KTP ku diminta, KTM ku diminta dan aku diancam penjara atau denda ratusan juta. Aku ketakutan. Ini kali pertama aku naik kereta antarprovinsi dan tampak menjadi sebuah tragedi.

Kemudian sang petugas berkata, “Saya kasihan sama kamu. Beri saya 200 ribu dan saya anggap lunas.”

Aku buka dompet dan hanya ada 50.000. Aku tunjukkan padanya isi dompetku dan dibalas dengan ancaman akan melaporkanku ke kampus juga. Dia melirik dan melihat ada ATM di sana. Ia menyuruhku pergi mengambil uang di ATM. Ponselku ditahannya pula.

Begitulah aku bebas setelah menyerahkan uang dan sangat dongkol. Dengan total uang yang sudah kukeluarkan, seharusnya aku bisa naik pesawat.

Setelah itu aku cukup kecanduan jalan-jalan. Aku ke Lembang, aku ke Bali, Lombok, Anyer, Sumbawa, Makassar, Alor, Belitung, Lampung…. dan sebagian besar mereka kudapatkan sebagai hadiah lomba-lomba yang salah satu syaratnya harus memiliki blog. Dengan blog, aku mencoba mencari kesempatan untuk keliling dunia. Mengunjungi satu per satu tempat yang membuktikan keluasan. Dan betapa kecilnya aku. Aku akan Go For It, pergi untuk mendapatkannya.

cropped-DSC_0598.jpg

12609_10200402722500650_954620407_n

11350453_962827783761765_4652486444753242690_n

Kusadari, blog menjadi mediaku berkembang. Aku menggunakan beberapa aplikasi untuk mengedit foto seperti Picsart, atau dalam keadaan luang aku mengetiknya dulu di Color Note, baru nanti kupindahkan ke blog.

Pribadiku juga berkembang. Kesempatan yang muncul berkembang, dan pertemanan pun ikut berkembang. Salah satunya aku jadi kenal Winda K alias Emak Gaoel meski mungkin mbak Winda nggak kenal aku, hiks.

Setiap menulis aku seperti berbincang dengan diriku sendiri dan itu membuatku makin memahami siapa aku. Dan ah, tidakkah seseorang baru dapat mengenal Tuhannya ketika ia telah mengenal dirinya?


Go For It Blog Competition