Category Archives: cerpen

Pesawat Kertas

Kau terbang. Aku terbang. Tetapi pesawatku pesawat kertas. Kata-kata yang luput diucapkan, tertulis berantakan.
Aku tahu setelah ini tak akan ada malam yang sama lagi. Sebelum aku mengunci pintu kamar, kau bertanya, “Apakah ada yang kita tinggalkan?”
Aku spontan menjawab, “Kenangan.”
Tapi bahkan kenangan pun ingin aku bawa, mengemasnya, sampai tak ada sedikit pun yang teringgal.
“Jadi aku harus menunggu di bandara? Sendirian?” tanyamu kemudian. Penerbanganmu yang pukul 16.25 memang di luar rencanaku. Seharusnya dua jam setelah penerbanganku. Namun ketika masih asik bermain dengan pasir pantai Kuta yang seperti merica, ponselku bergetar. Jadwal penerbanganku dimajukan menjadi pukul 12.15.
Aku berniat membantumu memegangi koper. Kau tampak kelelahan setelah sejak pagi-pagi sekali kita menjelajahi pantai-pantai di Lombok Selatan. Tapi, kau menampik niatku itu dengan mengatakan, “Nggak usah, Kak. Laki-laki tidak cocok membawa koper berwarna pink…”
Hal yang paling kubenci adalah penyesalan. Penyesalan untuk tidak mengatakan hal yang ingin kukatakan. Bahkan sampai kita berpisah, hanya ada dua jabatan tangan. Tak ada pelukan.
~

Aku takut ketinggian. Tinggimu 170 cm, menjulang seperti menara. Melihatmu sampai tuntas ke ujung kepala, aku harus mendongakkan mata beberapa derajat. Perbedaan ini, meski 5 cm, melukai harga diriku.
Tak sulit menemukanmu di antara hiruk-pikuk yang ada di bandara.
Aku lupa, di Bali, selain sedang ramai acara Miss World, juga ada APEC. Hal itu mengakibatkan sulitnya mendapatkan tiket penerbangan. Juga jadwal penerbangan yang berubah-ubah.
Aku tak tahu bagaimana nanti Dahlan Iskan menghadiri konvensi calon presiden Partai Demokrat sementara dia harus hadir pada forum ekonomi Asia Pasifik itu. Dia pasti akan datang terlambat ke kovensi.
“Susah ya ngobrol dengan orang yang terbiasa mengurusi negara?” tanyamu dengan penekanan setelah obrolan kita hanya seputar kejadian-kejadian politik dan ekonomi di negara ini.
Sepanjang perjalanan dari bandara, kita masih begitu canggung. Aku bicara ngalor-ngidul mengenai banyak kejadian ekonomi dan kau akhirnya menyela ketika aku menyebut nama mantan Dirut PLN itu.
Ini pertemuan pertama kita setelah sebelumnya kita hanya berinteraksi di media sosial. Keakraban kita memunculkan wacana untuk liburan bersama, yang baru sekarang dapat terwujud.
“Aku ingin minta maaf, biasanya tiket ke Denpasar, tidak pernah selangka ini. Aku juga minta maaf, semalam aku malah menyalahkanmu karena tidak membeli tiket jauh-jauh hari,” kataku penuh penyesalan.
Namun kau kembali sibuk sendiri. Bunyi notifikasi dari ponselmu itu terus menyibukkanmu. Pasti laki-laki. Perasaanku mengatakan demikian.
Sementara aku masih memandangimu. Aku terpana melihatmu. Rambutmu yang tak sampai sebahu, bibirmu yang mungil dan tipis, matamu yang bulat yang terlihat begitu simetris antara kanan dan kiri membuatku terkejut juga, kau secantik ini. Dan aku yakin, seorang pramugari sepertimu pasti memiliki banyak penggemar.
Kau melempar tubuhmu begitu sampai di hotel. Ini pertama kali aku satu kamar dengan pramugari. Aku mau tidak mau harus sembunyi-sembunyi menelan air liur tatkala mellihat kakimu yang jenjang hanya berbalut selembar hot pant.
“Nanti kita cari ayam taliwang ya? Sate rembiga juga!” katamu antusias.
“Rembiga?” Kata itu baru aku dengar.
“Iya, Kak… tiap transit di Bali aku sering beli sate rembiga. Ada yang bilang daging kuda, ada yang bilang daging sapi. Aku suka.”
“Aku tahunya sate belayak, ada di Senggigi.”
“Jadi nanti kita ke Senggigi?”
Aku menggeleng. Aku tak tahu banyak tentang Lombok. Perjalanan ke Lombok adalah hanya waktu senggang di sela posisiku sebagai pegawai negeri. Penempatanku di Sumbawa. Dan kadangkala aku memiliki waktu untuk transit di Lombok sebelum melanjutkan perjalanan ke Denpasar, Surabaya atau Jakarta.
Yang kutahu, Senggigi ada di Lombok Barat. Praya ada di Lombok Tengah. Sementara sekarang kita berada di Kuta, selatannya Lombok Tengah.
“Itu jauh, Nggi,” jawabanku membuat mukamu tampak kecewa. Sementara bunyi-bunyi dari ponselmu masih terus-terusan berdatangan. Aku pun kembali teralihkan.

~

Keesokan harinya kita segera ke Seger, pantai yang menurutku terindah di Lombok. Apalagi tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada kita berdua, menjadikan pantai ini seperti milik kita pribadi.
Dengan segera kau berlari-lari mendekati ombak seperti anak kecil. Pada dasarnya, kau memang masih anak kecil. Usiamu 21 tahun dan masih begitu labil.
Semalam kau bertanya, selain bisa membaca garis tangan, apa aku bisa menilai karakter seseorang. Penilaianku pada seseorang tentu sangat subjektif apalagi jika aku belum pernah bertemu dengannya. Kau pun menunjukkan foto seorang lelaki dari ponselmu. Gagah. “Dia anak Bea Cukai, baru lulus tahun lalu,” kau menerangkan.
“Berarti dia seangkatan dengan mantanmu itu?”
“Tidak, dia D1.”
“Jadi dia pacarmu sekarang?”
“Bukan.”
“Bukan atau belum?”
“Belum. Dia jauh. Di Pekanbaru.”
Takdir apa yang menyebabkan kau selalu memiliki hubungan dengan anak-anak STAN. Tidak tahu kenapa, ada sesak di dadaku. Melihatmu lagi, mendengarkan cerita-ceritamu lagi, berada sedekat ini denganmu, membuatku menyadari, aku masih begitu laki-laki. Pakaianmu yang minim, dengan belahan yang menampilkan nyaris secara sempurna buah dadamu, membuat segala sesuatu milikku berdesir tak karuan.
“Boleh aku pindah ke kasurmu, Nggi?” tanyaku konyol. Menyesal aku tak menerima tawaran single bed petugas hotel.
Kau pun menatapku. Malam itu, rasanya kau hanya 5 cm dari napasku. Namun, 5 cm ini lebih jauh dari 2 cm perbedaan tinggi badan kita.
Seger istimewa juga karena ceritanya. Siapa pun yang berada di Seger seharusnya tahu Putri Mandalika. Tidak jauh dari bibir pantai, sebuah batu karang seperti sebuah jantung.
“Kamu tahu legenda Nyale, Nggi?” aku bertanya sambil memegangi kamera. Memang perjanjian kita bertemu juga adalah untuk memotretmu. Cahaya pukul delapan pagi masih amat lembut.
Tentu saja kau menggeleng. “Nyale?”
“Kecantikan tidak menjamin kebahagiaan…” aku tidak lagi membidikmu. Kuarahkan pandangan pada debur ombak yang tertahan bebatuan. “Nyale itu sejenis cacing laut. Penangkapan nyale sudah menjadi tradisi di Seger ini. Bila saja kamu datang ke sini pada bulan Februari, atau pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak, pantai ini akan sangat ramai,” lanjutku.
“Lalu?”
“Kamu cantik. Seperti Putri Mandalika.”
“Jadi aku tidak akan bahagia?”
“Bukan. Kamu lihat batu besar itu?” Aku menunjuk ke tengah. “Putri Mandalika meloncat dari sana. Kecantikan putri yang tesohor itu jadi rebutan banyak pangeran. Tetapi sang putri tidak memilih siapa pun. Kadang-kadang kita memilih untuk tidak memilih ketimbang memilih salah satu namun malah menghasilkan dampak yang lebih buruk.”
“Aku masih belum paham, Kak. Hubungannya dengan Nyale apa?”
“Putri itu lalu berubah menjadi nyale. Ketika dia melompat, seketika ombak menelannya. Semua orang mencarinya, tapi tak ada yang menemukan tubuhnya. Yang bermunculan adalah nyale-nyale itu.”
Kau tampak tertegun, ikut memandangi batu itu. Tapi lalu maju, menenggelamkan kakimu sampai batas betis. Sempat aku berpikir, kau akan berjalan lurus menuju batu itu, tapi sebelumnya kau sudah bilang, tidak akan berbasah-basahan di sini. Pukul setengah 11 kita sudah harus check-out. Rutinitas mandi-dandan-catokanmu saja minimal menghabiskan waktu 1 jam. Tidak akan sempat.
Lalu kau mengubah arah. Sembilan puluh derajat. Kembali ke pasir. Sampah rumput laut bertumpuk di sepanjang pantai. Aku mengikutimu dari belakang. Aku harus puas dengan punggungmu, dan kusaksikan bayanganku yang pas menimpamu seakan-akan tengah memelukmu. Kau tentu tidak sadar, setiap langkahku kusesuaikan agar bayanganku itu selalu memelukmu.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Ke sana…” Kau menunjuk karang-karang. Tidak ada siapa pun. Hanya kita berdua. Keindahan ini milik kita berdua.
~

Penerbanganmu pukul 16.25. Penerbanganku pukul 12.15. Ada selisih 4 jam 10 menit.
Aku merasa bersalah akan meninggalkanmu. Tapi barangkali inilah waktunya kau akan melihat punggungku.
“Aku harus ngapain, Kak?” Ada nada takut dari pertanyaanmu. Meski ini bukan kunjungan pertamamu ke Lombok, tapi ini adalah perjalanan pribadi pertamamu selain saat kau bertugas.
Aku menatapmu lagi. Aku terlalu sering menatapmu. Entah apa kau sadar, mata ini bersepakat menyatukan pandangannya ke arahmu. Selalu ke arahmu.
Bayangan ketika kau melompat dari batu ke batu yang licin, kakimu yang panjang, matamu yang menyipit karena silau matahari, setiap ekspresi yang lebih sering kuabadikan dalam retina, melupakan tujuan semula, meski sudah lebih dari 200 foto hanya berisi dirimu.

Seolah-olah Tuhan memberiku izin kembali muda.

Tapi Tuhan meletakkan waktu yang tersisa di telapak tangan. Hitungan mundur menunjukkan betapa singkat kebersamaan ini akan tersudahi. Aku lebih banyak diam. Aku lebih banyak memandangmu. Tapi sial, bibirku terkunci rapat. Bibirmu juga tak juga berkata-kata dan asik dengan Z10 terbarumu. Terkutuklah benda itu, telepon seluler, yang memperburuk kondisi berprikehidupan manusia!
Kemudian kau terbang. Aku terbang. Begitu saja.
Tetapi pesawatku pesawat kertas, kata-kata yang tak sempat diucapkan, tertulis berantakan.
Baru kusadari pula, aku tak pernah benar-benar sanggup mengucap penuh namamu. A N G G I, yang juga nama cinta pertamaku. Ketika kuceritakan hal ini kepadamu, kau menjawab, “Ini sudah ketiga kalinya kakak cerita itu…”
Tiga tahun di SMP itu, tak sekalipun aku mengungkapkan cinta. Sepuluh tahun setelah itu, aku berkenalan denganmu, dengan tak sengaja. Dan aku melihat citraan yang sama dari dirinya di dirimu.
Bila benar cinta adalah kebetulan, ada bagian diriku yang jatuh cinta padamu. Entah ruang mana.
Kita berjabat tangan lagi. Tak ada pelukan. Tak ada pertanyaan sederhana semisal, “Apa kau bahagia bersama denganku satu hari ini?”
Bunyi pengumuman kedatangan. Bunyi pengumuman peringatan untuk masuk ruang tunggu. Bunyi ponselku yang bergetar kali ini. Sebuah pesan singkat masuk. Menanyakan kabar. Istriku.
Ya, aku telah menikah. Aku hampir lupa aku telah menikah.

(2013-2015)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Jalan2INDONESIA yang diselenggarakan Nulisbuku.com, Storial.co, dan Walk Indies.

APA YANG DIPIKIRKAN OLEH RYUNOSUKE AKUTAGAWA 5 DETIK SEBELUM BUNUH DIRI?

                Aku pikir alasan seseorang menemui ajalnya adalah karena ia sudah tidak berguna lagi di dunia. Ia sudah melakukan hal yang besar lalu tugasnya selesai atau sebaliknya, ia baru menyadari tidak ada apapun yang dapat ia lakukan.

Hidup seperti itu, tanpa tahu harus berbuat apa lebih menyakitkan ketimbang disakiti oleh orang lain. Toh dengan disakiti, mana tahu kita membuat orang yang menyakiti kita bahagia. Hidup selalu begitu ‘kan? Kebahagiaan seseorang seringkali berada di atas penderitaan orang lain.

 

Mainok

 

 

 

[Perihal Ia dan Kelaminnya]

Lalu apa hubungannya, antara lelaki yang memamerkan kelaminnya dengan Mainok?

Warga dusun Sukawaras yang berjarak delapan belas kilometer dari kota Palembang memang masih akrab dengan dunia penormaan. Bahwa kelamin harus ditutupi dari lutut sampai leher adalah wajib bagi perempuan dan laki-laki tetap masih tidak boleh bertelanjang dada apalagi memamerkan kelaminnya yang sebatang pendek lalu menegang dan bergoyang-goyang seperti mencari sasaran.

Jalan kakilah ke Pasar Senggol, di mana dunia penormaan sepertinya diabaikan oleh nama yang diabadikan di hari Selasa, di pasar yang becek, di jalan sempit yang dipaksakan dua arah memaksakan laki-laki dan perempuan harus berjalan saling senggol untuk bisa nyelempit sambil berhati-hati kalau-kalau ada copet yang siap memangsa dompet. Nah, kalau kau sudah sampai ujung pasar yang biasanya dipenuhi bekas sayur busuk dan sampah-sampah plastik, di sanalah ada lelaki tua yang begitu dekil dengan rambut seperti sapu ijuk telanjang bulat tengah memamerkan kelaminnya sambil tersenyum menantang. Lelaki tua yang teranomali akibat ketidakwarasannya itu sudah rela saja kalau kau mengambil gambarnya, merekam tiap tingkah lakunya bahkan ketika berak pun, ia tak akan masalah.

Akan tetapi, untuk perihal kelamin, jangan sekali-kali kau pamerkan kelaminmu di depannya, kalau kau tak mau ia marah. Ia begitu sensitif untuk urusan yang satu ini, sebab menurut ‘konon’, ia laki-laki yang dulu begitu bangga dengan kelaminnya sampai-sampai mengatakan tak ada perempuan yang tak puas apabila telah merasakan tidur barang satu malam saja dengan dirinya. Tentu, siapa yang percaya dengan orang gila macam dia? Begitu kemari, dia sudah merasa dirinya seorang sarjana pendidikan. Keesokan harinya dia mengaku dokter. Dan lusa dia sudah meninggalkan pakaian dan mengaku sebagai bintang film bokep internasional yang kelaminnya sudah disiarkan ke penjuru dunia!

 

[Perihal Ia dan Masa Lalunya]

Satu dari sedikit yang pernah mengenal Mainok kecil adalah Kak Harnok, pelatih kampung yang kepalanya plontos dan berumah di samping lapangan sepakbola pinggir jalan raya. Ia sudah puluhan tahun melatih dan sudah banyak prestasi yang diraih untuk timnya apabila itu seukuran kebupaten Banyuasin semata. Tetapi kalau sudah harus main ke luar kabupaten, AMS (Tim Anak Muda Sukawaras) itu tak ada bunyinya. Bukan karena kalahnya kualitas, tetapi tidak ada dana. Dana buat menyogok perangkat pertandingan alias wasit yang selalu memihak kepada tuan rumah. Belum lagi ancaman para supporter lawan yang mulai seperti kerasukan apabila AMS mampu memasukkan bola duluan. Pantaslah kalau kepala Kak Harnok ini plontos seperti bohlam. Pusing memikirkan persepakbolaan Indonesia.

“Dia itu pintar.” Kak Harnok memulai cerita. “Meski sekarang banyak yang tidak mengingat Mainok, aku ingat betul kalau dia pernah mengerjakan soal kelas enam SD waktu dia masih kelas tiga!” lanjut Kak Harnok sambil menerawang seperti mencoba mengumpulkan puing-puing ingatan.

“Jadi kapan ia mulai jadi gila seperti itu?” tanyaku penasaran.

“Dia dapat beasiswa ke Palembang. Aku dengar sampai SMA dia masih juara. Tapi setelah itu…” Kak Harnok diam, menghela nafasnya. Lalu dia berjalan mengitari dagangan mainan dan perlengkapan sepakbola yang sangat ramai dibeli ketika Sriwijaya FC juara liga Indonesia 2008 lalu.

“Setelah itu bagaimana, Kak?” tanyaku lagi dengan tak sabar.

“Perempuan…”

“Perempuan?”

“Perempuan memang racun!” Aku menangkap ekspresi kemarahan dari matanya. Ya, Kak Harnok pun ditinggal pergi oleh istrinya karena dianggap mandul, tak bisa memberikan keturunan. “Yang aku tahu para perempuan mengejarnya. Kau pasti tak percaya yang satu ini…, mereka menyekap Mainok lalu memerkosanya bergantian!” lanjut Kak Harnok dengan mata yang berkaca-kaca.

“Perempuan memerkosa laki-laki?” tanyaku heran.

“Ya, bagaimana mungkin ada perempuan yang bisa memerkosa laki-laki? Siapa yang percaya pada hal gila macam itu? Orang-orang di sini merasa waras dan balik menuduh Mainok yang telah melecehkan seorang anak gadis. Aku ingat, dia diusir dengan dilempari batu sampai berdarah-darah, dan kau tahu… sepuluh tahun kemudian dia kembali dengan keadaan gila seperti itu. Tapi aku tak menganggapnya gila. Aku pikir dia lebih jujur terhadap perasaannya sendiri ketimbang penduduk dusun ini yang bersembunyi di balik topeng kewarasan yang mereka bangga-banggakan itu!”

Aku rasa sudah cukup untuk meminta keterangan Kak Harnok yang kini tengah larut dalam emosinya. Kau mungkin saja telah menganggap bertambah satu lagi orang gila di dusun ini tersebab perempuan. Tapi aku tak menyangkal ucapannya barusan, kalaulah perempuan itu racun. Hanya saja para lelakilah terlanjur hobi meminum racun dalam hidupnya.

 

[Perihal Ia dan Pikiran]

Bicara tentang perasaan, tak pernah ada kepastian jawaban. Orang gila dibilang kehilangan pikiran itu sudah lumrah. Lalu bagaimana dengan perasaan?

“Nok, 234 dikali 57 berapa?”

Ternyata benar kalau Mainok suka diganggu oleh anak-anak sekolah yang sedikit berani meski terkadang Mainok mengejar mereka sambil memamerkan giginya yang kuning (dan tentu kelaminnya). Aku merekam pemandangan itu baik-baik. Dasar anak-anak sinting, mana mungkin menanyakan perkalian berhasil lima digit pada orang gila!

Mainok tampak mengangkat kedua tangannya, menggerakkan jari-jarinya. Tak sampai sepuluh detik ia berteriak, “13338!”

Anak-anak mengeluarkan kalkulator. Aku mengeceknya di handphoneku. Dan tepat sekali! Sepertinya aku harus meralat ucapanku tadi. Sepertinya Mainok tidak kehilangan pikirannya.  Sepertinya dia memang pintar seperti yang kak Harnok katakan. Sepertinya tiba-tiba dia melotok ke arahku yang tengah merekamnya. Sepertinya dia akan mengejarku!

 

[Perihal Aku dan Alasan]

Siapapun akan marah kalau dikatakan anak Mainok. Ucapan itu sama saja dengan kata kampang atau pilat yang bisa bikin orang-orang mengambil golok atau samurai dari rumah kemudian mengacungkannya ke mukamu.

Dan ucapan itu pula pernah diucapkan kepadaku, oleh ibuku sendiri.

Mainok, orang gila satu-satunya di dusun Sukawaras yang suka memamerkan kelaminnya itu mana mungkin ayahku. Ayahku tentulah Suhaemi, kepala dusun yang sudah susah payah menyekolahkan aku sampai ke luar kota. Kuliah. Tidak seperti Mainok yang cuma lulusan SMA. Jadi kalau kau sedang menebak aku anak kandung Mainok, kau sudah keliru, kecuali kalau cerita omong kosong Kak Harnok sialan itu benar adanya. Toh, dalam perkosaan yang bergilir, bayangkan saja bagaimana caranya bisa meninggalkan benih pasti?

Tetapi, apakah aku mengacungkan golok atau samurai ke ibuku?

Haha, aku tak mau jadi malin kundang baru. Apalagi berniat jadi batu, tentu itu tak masuk dalam cita-citaku. Untuk urusan cita-cita pun, aku merasa ditipu. Kata pepatah, boleh kita menggantungkan cita-cita setinggi langit, bebas ingin jadi apa. Tetapi, yang terjadi, orangtua selalu saja ikut campur dalam menentukan hidup anaknya.

Ah, begini saja, kita mulai semuanya dari pertanyaan awal cerita ini, lalu apa hubungannya antara lelaki yang memamerkan kelaminnya dengan Mainok?

Bagi kami, Mainok adalah suatu inspirasi. Dia tidak gila. Dia makhluk berseni tinggi. Seperti mutiara hitam di dalam lumpur. Seperti patung-patung malaikat di Vatikan yang kemudian ‘dihilangkan’ kemaluannya oleh orang-orang bodoh yang tak menganggap kelamin adalah bentuk keirian Tuhan kepada manusia!

Maka aku (kami) merekam Mainok itu sebagai suatu pendahuluan dari sebuah cita-cita yang dianggap gila oleh warga dusun Sukawaras ini, termasuk ibuku yang kemudian menuduhku anak Mainok tatkala aku mengungkapkan keinginanku untuk jadi gigolo.

 

(2010)

Bersahabat dengan Alien

 

“Bagaimana rasanya punya pacar alien?”

Pertanyaan itu disusul dengan sejumlah pertanyaan lain yang berdengung seperti lebah. Kilatan lampu dari kamera DSLR milik para pemburu berita menimpa wajah Teruna tanpa belas kasihan. Ia ingin menjawab seperti cara artis D yang baru saja terpilih menjadi anggota legislatif, tetapi apa gunanya sebuah konferensi pers bila ia tidak memberikan satu pun jawaban memuaskan.

Keadaan seperti ini bukanlah hal baru bagi Teruna. Hanya saja, biasanya Teruna berada di posisi penanya. Pekerjaannya sebagai wartawan sebuah majalah baru-baru ini juga membuatnya bertemu Kim Hyun Soo. Alih-alih bertanya yang serius, terpesona pada kulitnya yang secerah buah pir, Teruna malah bertanya, “Apakah kamu benar-benar seorang alien?”

Teruna tidak tertarik membicarakan penjiplakan drama itu. Wartawan lain meributkannya. Tidak mungkin Kim Hyun Soo dibandingkan dengan aktor M. Kejantanannya berbeda. Teruna hanya berharap, SBS akan menuntut televisi yang menyiarkan sinetron tersebut untuk tidak disiarkan lagi.

 

~

 

Begitu mendengar Teruna akan mengadakan konferensi pers, saya begitu gelisah. Saya ingin mengasingkan diri sejauh-jauhnya. Beruntung, pada saat yang sama, anak-anak Adventurous Sumbawa memberikan undangan perjalanan ke Moyo.

Saya sendiri kaget ketika suatu hari menyalakan tivi, melihat berita dan dikatakan bahwa seorang gadis berusia sekitar 27 tahun tertangkap kamera sedang digendong seorang lelaki lalu menghilang tiba-tiba. Beberapa detik kemudian, kamera CCTV yang lain menangkap sosok yang sama dengan jarak yang begitu jauh berbeda. Tidak usah banyak penyelidikan, saya langsung mengenali sosok perempuan itu adalah Teruna. Dan laki-laki yang mukanya bercahaya adalah Si Alien. Alien itu pernah jadi sahabat saya.

Hati saya berakhir saat itu juga. Tidak mungkin saya bersaing dengan seorang alien. Tidak ada yang spesial di diri saya. Sama tidak spesialnya dengan martabak di penjuru Indonesia meski menggunakan merk “martabak spesial” di promosinya.

“Apa kamu akan kuat berpacaran dengan alien seperti dia?” tanya saya.

“Cinta selalu memberi kita kekuatan.” Teruna  menjawab penuh keyakinan.

Itulah dialog terakhir kami. Saya tidak setuju. Cinta tidak selalu memberi kita kekuatan. Mencintai Teruna membuat saya semakin rapuh.

Pagi seharusnya indah ketika kamu tidak tahu diam-diam ada yang begitu merindukanmu. Tapi pagi ini rindu tampak seperti ketiadaan ombak di bibir pantai. Laut ketenangan. Sampah-sampah plastik mengambang. Saya lebih menyukai laut yang berombak, lebih normal. Segala hal yang tampak tenang lebih menakutkan. Dia bisa berubah jadi monster ganas. Misalnya beberapa saat sebelum tsunami, laut akan terseret jauh dari bibir pantai dan jauh lebih tenang dari biasanya.

Para petualang muda Sumbawa berkumpul di Pantai Baru, Desa Labuhan. Dua kapal sudah disiapkan. Teruna pasti sedang mempersiapkan apa-apa saja yang ia harus katakan. Saya tidak menyiapkan apa-apa kecuali baju ganti dan gitar.

Randal Patisamba langsung mengambil tempat di hidung perahu. Itu sebenarnya tempat favorit saya juga, tapi untunglah hari ini saya tak begitu berminat memegang pancing dan menyaksikan perahu membelah lautan. Saya ambil tempat di sisi kiri perahu. Di sebelah saya semuanya perempuan. Belum mulai berjalan, mereka sudah saling papo (foto). “Pringi, senyum dong!” Saya pun ikut terkena papo.

Apa perasaan Teruna di hadapan kamera. Dia pernah meminta saya untuk memfotonya. Dalam pose apa pun. Sebagai lelaki, mendengar itu, tidak mungkin pikiran tidak menjadi kotor. Dan belum ada penjual sapu otak di toko mana saja. Teruna pastilah tidak akan merasa nyaman saat ini. Apalagi si Alien itu sudah menghilang. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Padahal sudah saya pesankan untuk tidak meninggalkan Teruna apa pun yang akan terjadi.

Kapal nelayan yang kami naiki mulai berjalan. Saya mulai mengencangkan jaket, menebar pandangan, dan melihat salah satu perempuan yang duduk di sebelah kanan memikat. Kamu. Gigimu gingsul seperti Agnes Monica. Bedanya, bila Agnezmo terskandal nipple slip di video klip Coke Bottle, kamu tampak manis dengan kerudung. Saya tidak mempermasalahkan seorang perempuan setertutup apa dengan pakaiannya, asal ia cukup terbuka di pikirannya, ketimbang sebaliknya. Saya curi-curi pandang ke arahmu. Kamu sepertinya rela-rela saja pencuri datang menyambangimu.

Halo, kenalkan, saya pencuri.

Apa hati kamu masih ada di tempatnya?

Lalu kamu menatapku, tersenyum.

Saya hanya bisa mengenang senyummu selama dua jam perjalanan itu. Lebih lambat setengah jam dari waktu yang direncanakan sebab mesin kapal satunya satu tidak menyala sehingga lajunya tidak sekencang seharusnya. Penumpang lainnya banyak yang tertidur sambil menikmati matahari pagi yang hangat. Pulau Moyo sudah terlihat dari kejauhan. Saya tidak bisa tidur di atas laut. Kamu juga tidak tidur di atas laut. Tertunduk, termenung, apa kamu sedang memikirkan negara?

Saya beranikan diri untuk mengajak kamu mengobrol, “Hai…” Kaku sekali sapaan ini. “Sudah berapa kali ke Moyo?” tanya saya.

“Ini yang pertama, Mas…” jawab kamu. Suaramu manis. Ibumu pasti sering makan gula ketika mengandung kamu.

“Jadi, ini petualangan pertamamu?”

“Sebelumnya pernah ke Ai Loang…”

“Kamu tahu, paling dekat ke Moyo, lewat Ai Loang. Naik dari Sea Side.”

“Iya, tapi kan hampir satu jam perjalanan daratnya.”

“Memang, barangkali kamu takut terlalu lama di laut.”

“Nggak Mas, Sari suka laut.”

“Sari?”

“Iya. Mas siapa namanya?”

Nah, beginilah cara mengetahui nama tanpa bertanya nama. Setelah ini saya akan tahu akun facebookmu, nomor ponselmu, PIN BBM kamu, segalanya. Tuan Alien yang terhormat, yang dapat mendengar suara sedetil apa pun dari jarak ratusan kilometer, cobalah dengar suara hati saya ini. Kamu boleh merebut Teruna dari pandangan saya, tapi saya sekarang akan punya Sari. Saya akan move on dari Teruna.

 

~

 

Begitu Labu Aji terlihat, semua orang bersemangat. Sudah pukul sembilan, Teruna akan diwawancara pukul satu siang nanti. Kemarin Teruna berulang tahun, tapi sengaja saya tak memberi ucapan selamat. Toh, pasti ponselnya akan dinonaktifkan. Semua orang akan berburu kebenaran, bertanya tentang tuan alien itu. Malam tadi, Teruna pasti mengurung diri di kamar. Hotel bintang lima yang privasinya terjaga. Saya suka bingung juga dengan definisi privasi itu. Bila menjelang bulan puasa, hotel-hotel melati dan wisma digerebek oleh ormas-ormas, hotel bintang lima tidak pernah tersentuh. Padahal saya yakin, para pelacur kelas atas yang dipakai borjuis dan birokrat kelas atas pula banyak sedang bercinta di ruangan ber-AC dan berkasur empuk itu.

Komandan Sirajuddin memberi komando untuk berhati-hati menginjak dermaga. Randal Patisamba dengan sigap melompat tanpa rasa takut. Dasar laut terlihat. Pasir putih, penuh terumbu. Padahal hanya beberapa meter dari bibir pantai. Tapi spot snorkling paling menarik ada di Takat Segale yang terkenal dengan atolnya atau di Tanjung Pasir, sisi lain pulau Moyo dengan aneka jenis ikan dan terumbu. Saya takut snorkling. Saya takut pada keberadaan ular laut dan bulu babi. Saya takut pada arus bawah laut meski hanya di laut dengan kedalaman paling dalam 5 meter. Beberapa bulan lalu, lima turis Jepang berpredikat master dive saja hilang di Nusa Dua. Hebatnya semua bisa selamat dan terdampat di pulau-pulau kecil puluhan kilometer dari tempat mereka menyelam.

Seusai saya menapakkan kaki di dermaga, kamu selanjutnya. Dari gesturmu, kamu meminta pegangan. Saya berikan tangan kanan, kamu menggenggamnya. Jadi begini rasanya telapak tanganmu. Ada pikiran melintas, sebaiknya kamu terjatuh saja. Lalu saya akan menangkapmu, atau menghentikan waktu sejenak seperti yang biasa Tuan Alien lakukan. Tapi momen-momen seperti itu sangat picisan.

Kita beristirahat di rumah warga yang sudah dikosongkan. Meletakkan tas, menaruh barang-barang yang bisa ditinggalkan, buang air kecil dan menikmati terik matahari pinggir laut yang digandrungi bule-bule berpigmen buruk.

Satu tower terlihat menjulang dan sendiri. Saya sedikit penasaran di mana resor milik Amanwana. Tarifnya 1000 dolar. Lady Diana dan Doddi Al Fayed pernah menginap di sana. Sharapova juga. Untunglah Gayus Tambunan tidak. Ia sudah puas duduk di tribun Wimbledon sebelum tertangkap meski penjara adalah sebuah sandiwara lain. Tahanan yang punya uang bisa dapat kamar mewah dan keluar penjara diam-diam saat malam hari. Asal tidak ketahuan Denny Indrayana saja.

“Kamu tahu kenapa kenapa Tuhan menurunkan Adam ke bumi?” Tuan Alien itu bertanya suatu hari. “Kalau tidak begitu, tidak akan ada kisah cinta-mencintai…” Tuan Alien itu menjawab sendiri pertanyaannya.

Teruna pasti sedang patah hati akut. Tuan Alien begitu pandai merayu. Kata-katanya penuh filosofi. Tak ada perempuan yang tak luluh.

Saya tak ingin memikirkan Teruna lagi. Biarlah, ada kamu sekarang. Ini bukanlah sebuah pelarian. Ini harapan.

Lalu kita berjalan kurang lebih satu jam ke Mata Jitu. Air terjun yang selama ini hanya saya lihat di foto, yang cerita keindahannya begitu mendunia itu akan segera tampak di depan mata saya. Perjalanan mendaki. Saya sengaja samakan irama langkah kaki saya dengan langkah kaki kamu. Sampai-sampai jika ini sebuah lomba gerak jalan, kita akan menang dengan pasti.

“Kamu kuat mendaki?”

“Insyaa Allah, Mas…”

“Yakin?”

“Kalau pun tidak, kan ada Mas Pringi yang akan membopong Sari…”

Wah, alamat. Terik matahari yang masih gigih menembus celah dedaunan tidak begitu mendera kulitku. Memandangimu saja sudah sejuk rasanya. Seharian kemarin, padahal badan saya tak enak, tidur saya pun tak nyenyak. Memikirkan Teruna, memikirkan dia sedang menangis, dada saya sesak. Untunglah kemarau setahun, dihapus hujan sehari. Luka sepanjang umur pun bisa terobati dengan cinta pandangan pertama. Kamu.

Jantung yang berdetak lebih cepat, keringat yang menetes seperti berada di kran bocor, dan tenggorakan yang semakin haus adalah kelelahan. Kamu tidak sekali pun mengeluh. Malu dong kalau saya mengeluh dan meminta beristirahat. Untunglah, hampir sampai di batas stamina, suara air terjun itu terdengar. Selamat datang di Hutan Buru Pulau Moyo. Kita pun berfoto di sana. Saya sudah berhasrat ingin mencemplung ke air terjun itu sebelum Komandan Sirajuddin berkata untuk melanjutkan perjalanan ke Kolam I. Tidak jauh. Hanya 200 meter. Dua ratus meternya orang Sumbawa bisa lebih dari satu kilometer.

Dan Komandan Sirajuddin benar adanya, hanya sekitar 200 meter dan surga yang ditinggalkan Tuhan di dunia itu salah satunya ada di Pulau Moyo. Diberkahilah orang-orang yang mengungsi dari Sumbawa dan menemukan Pulau Moyo di zaman Soekarno demi menghindari pajak. Kolam berair hijau berkilauan seperti zamrud, beralaskan batu kapur terbentang luas. Teksturnya seperti terasering. Diornameni daun-daun menguning yang jatuh tertiup angin. Saya melihat senyummu merekah. Surga di depan mata, dan bidadari ada di samping saya. Meski katanya, terjemahan yang tepat untuk wanita surga bukanlah bidadari (angel), melainkan perawan (virgin).

Randal Patisamba memang orang yang paling berinisiatif. Dia membuka baju dan langsung melompat ke kolam itu. Saya tidak membuka baju, malu pada lipatan lemak di perut. Saya langsung menggamit tangan kamu. “Ayo!” Dan kita kembali menjadi anak kecil yang lugu dan tak malu-malu di hadapan air.

Buuur!

Tubuh kita adalah batu yang dilempar. Tubuh kita adalah kanak-kanak abadi yang tak akan takluk pada permainan zaman kini—mata yang selalu berada di depan layar, dan jempol yang tak habis berolahraga melebih waktu-waktu lari pagi. Surga seharusnya cukup seperti ini. Keindahan alam yang tidak ada duanya, dan seorang kekasih yang setia mencintai, tak menua dan abadi, meski saya sendiri tak yakin, jika emosi masih ada setelah kehidupan ini, apakah cara hidup yang selalu bahagia itu adalah kebahagiaan, atau memicu kebosanan? Kebahagiaan seperti ini ada karena upaya dan ketahanan dari perjalanan, karena tenaga dan air mata yang terkuras untuk menghadapi setiap tantangan.

“Pringi… Pringi…”

Ada suara laki-laki memanggil nama saya. Saya menoleh ke kamu yang berenang di samping saya. “Sari, kamu dengar suara itu?”

Kamu menggeleng.

“Pringi… Pringi… dia tak akan mendengar aku. Aku hanya berbicara padamu. Jadi, tanpa aku, apa kamu sudah cukup bersenang-senang?”

Ini suara yang begitu kukenali. Saya melihat ke atas pohon. Di setiap cabang. Di setiap dahan. Dan… dia, Tuan alien, ada di salah satu pohon yang tinggi, hanya memakai celana pendek, tubuhnya berkilau lebih baik dari wajahnya sebelum kembali berkata, “Apa kamu lupa aku menyukai tempat-tempat yang indah nan sepi untuk mengasingkan diri?”

 

~

“Bagaimana rasanya bersahabat dengan alien?”

Pertanyaan ini tidak menarik. Teruna mengirimkan pesan singkat yang saya baca malam sebelum kepulangan dari Moyo. Tower menjulang itu ternyata tower milik sebuah provider seluler. Ada sinyal yang cukup baik di Pulau Moyo, bahkan mendapat EDGE.

“Kamu bahkan lupa ulang tahunku, ya?”

“Kamu juga lupa katanya ingin membuatkan puisi terindah buatku di hari ulang tahunku?”

“Kamu juga lupa, kamu pernah bilang, sebagai apa pun kita, kamu akan tetap menemaniku bicara?”

Berturut-turut SMS masuk. Saya tak ada bisa menjawab satu pun pertanyaannya. Tuan Alien itu sekarang sedang naik perahu bersama saya. Identitasnya tentu tidak diketahui orang-orang. Dia mencuri pandang ke arah kamu, saya tahu itu. Kekhawatiranku kemudian terbukti ketika dia berbisik, “Perempuan yang bersamamu tadi itu cantik, Pringi… Dia mirip cinta pertamaku.”

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

 

 

 

Lomba Menulis Cerpen Rumah Kayu Group

Brosur lomba cerpen mei-juni

Rumahkayu Group mengadakan Lomba Cipta Cerpen Nasional Bertema Bebas, yuk ikuti! GRATIS!!

Penerimaan Naskah dimulai 19 Mei 2015

Deadline: 18 Juni 2015
Pengumuman Pemenang : 09 Juli 2015

Pengumuman Naskah Lolos Seleksi : 02 Juli 2015
Pengumuman Pemenang Lomba : 09 Juli 2015

Cerpen bisa lahir dari mana saja, terutama dari masalah hidup. Banyaknya problematika kehidupan menjadikan hidup itu lebih menarik dan melahirkan banyak ide dan inspirasi. Ini saatnya Anda meramu segala yang ada di sekitar Anda menjadi sebuah karya yang berharga dan bermakna, apakah perkara cinta, keluarga, sekolah, persahabatan, dan sebagainya, apapun itu bisa menjadi ladang subur tempat Anda menggarap ide-ide luar biasa.

Continue reading Lomba Menulis Cerpen Rumah Kayu Group

Katak Bunuh Diri

 

“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.

“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.

“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sejarah umat katak itu. Katak-katak dikorbankan, dibelah perutnya, dikeluarkan isinya demi alasan pengetahuan.

“Mungkin.” Jawaban Randal Patisamba menggantung. Mukanya seperti memikirkan sesuatu, seperti ada yang diketahuinya, tapi tak mau dikatakannya.

Aku tak habis pikir pada rombongan yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka sama sekali mengabaikan katak-katak ini. Pantai Leppu di Labangka Tiga menjadi tujuan kami. Bersama-sama kami berangkat dari Sumbawa pukul delapan pagi tadi dan di jalan, motor yang kunaiki bersama Randal mengalami pecah ban. Kami tertinggal di belakang. Untungnya Randal bilang dia tahu jalan.

Mulanya aku tak hendak ikut ke Leppu. Aku masih kecewa dengan Nacinta setelah dikatakannya aku terlalu tua untuk jatuh cinta. Daging kambing yang berusia lebih dari tiga bulan itu alot dan berkolesterol, tidak enak dimakan. Aku disamakannya dengan kambing.

Tapi memang perempuan tidak bisa ditebak, pagi-pagi bakda subuh dia mengirimkan pesan singkat, pesan mesra yang tidak bisa ditolak siapa pun, “Mas, ikut ya ke Leppu, Nacinta sedih kalau Mas nggak ada.”  Aku lebih memilih ikut Lucky Prize di Line itu dehketimbang harus menebak apa maunya perempuan.

Satu motor kosong yang tersisa milik Randal Patisamba. Dua orang dengan berat badan lebih dari 70 kilogram akan menaiki motormatic kecil yang seharusnya dinaiki perempuan dengan perut rata dan pinggul seperti angsa. Pecah ban sudah sunatullah. Tidak ada pembenaran untuk menggerutu.

Sebelum berbelok ke Labangka, sebelum Plampang, aku tidak tahu kenapa pandanganku tertuju pada satu titik. Sebuah bukit besar menarik perhatian. Awan-awan bergumul di atasnya. “Apa itu?” Reflek aku bertanya pada Randal. Mataku belum beralih ke mana pun.

“Jaran susang.”

“Jaran susang?”

“Itu tempat tertinggi nomor dua di Sumbawa.”

“Setelah Tambora?”

“Tambora tidak dihitung. Tambora di Dompu.”

“Lalu?”

“Puncak Ngengas.”

“Apalagi itu?”

“Sebaiknya jangan lama-lama kau pandangi dia… tak baik.”

“Kenapa?” Aku makin penasaran dengan jawaban Randal. Tapi sahabatku sejak aku di Sumbawa itu sama sekali tak memberiku jawaban. Motor melaju seadanya. Sesekali ia dapat menyalip mobil-mobil bermuatan besar yang menuju ke Bima. Mobil-mobil dengan kapasitas beban seperti inilah yang menyebabkan jalan dari Poto Tano ke Bima sering rusak setiap tahunnya. Dengan struktur tanah yang tak stabil, anggaran yang terbatas untuk membuat lapisan yang tebal, jalan-jalan di Alas, Utan setiap tahun diperbaiki, dan setiap tahun juga rusak kembali. Terlepas dari itu, barangkali jalan-jalan adalah proyek abadi Kementerian Pekerjaan Umum. Atas nama penyerapan anggaran, terkutuklah mereka yang memakan anggaran demi perutnya sendiri.

Aku memikirkan Jaran Susang kembali ketika Randal dengan tergesa berkata, “Kita harus cepat pergi dari sini, Pring.” Begitu aku sudah bersedia di boncengan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Mayat-mayat katak itu ditinggalkan begitu saja tanpa satu pun yang sempat kami kuburkan. Aku merasa berdosa melihat mayat-mayat itu terlantar dan membayangkan bila saja ada ratusan mayat manusia yang terlantar, tak dipedulikan, tak dicatat sejarah seperti itu. Serta merta aku bergidik sebelum kudengar Randal mengatakan sesuatu. Perkataan itu yang membuat bulu romaku tegak seperti kemaluan. “Aku yakin sekali katak-katak itu dibunuh, bukan bunuh diri. Pernah ada cerita di sekitar Labangka…”

Ya, pernah ada cerita di sekitar Labangka. Puluhan ribu hektar ladang jagung yang terbentang di Labangka adalah komoditas utama pertanian di wilayah Sumbawa. “Batang-batang jagung itu tertekuk, Pring… bukan satu, tapi ribuan batang jagung.” Randal diam sejenak sebelum melanjutkan, “Malam sebelum itu terjadi, ada badai hebat. Banyak yang mengira, batang jagung itu tertekuk karena badai, tapi badai tidak mungkin membuat tekukan yang begitu rapi, sama di semua batang. Itu perbuatan seseorang, atau sesuatu….”

“Sesuatu?”

“Tadi aku melarangmu melihat Jaran Susang bukan tanpa alasan. Penduduk setempat meyakini di sana adalah kerajaan ghaib di seluruh tanah Samawa ini, Pring. Kalau sore, perhatikanlah nanti setelah kita pulang, awan-awan yang bergumul itu akan tampak seperti air terjun, awan yang ditumpahkan begitu saja dari ketinggian. Dan kalau ke atas sana, kita lemparkan batu ke sisi satunya, batu itu tidak akan terlempar. Ah, maksudku, batu itu akan seperti terhadang sesuatu. Kau pasti pahamlah maksudku. Mistis, Pring.”

Aku menyimak setiap kata Randal. Jalan aspal telah berakhir. Jalan tanah berbatu menggantikannya. Di sisi kiri dan kanan, di sejauh mata memandang, ladang jagung terbentang. Bongkol-bongkol jagung yang lebih besar dari kemaluan lelaki ada di pinggir-pinggir jalan. Penduduk Labangka baru panen jagung. Jagung-jagung itu akan dikirim ke Mataram, ke Bali, ke Surabaya. Dan lagi-lagi lewat darat. Mau dikata apa, transportasi darat masih lebih murah.

Andai saja orang Sumbawa ini membangun industri hulu. Jagung-jagung itu tidak akan cuma jadi jagung-jagung. Sama halnya juga sapi. Sapi melimpah di Sumbawa. Tapi untuk membawa sapi-sapi itu keluar Sumbawa butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Coba kalau ada industri pengolahan daging sapi, yang dikirim bukan sapi saja, bukan daging potong saja, tapi bisa kornet juga, bisa abon juga.

“Dulu di Labangka pernah dicoba peternakan sapi, Pring…” Randal membuyarkan pikiranku. “Tapi gagal,” lanjutnya. “Sapi-sapi itu, ah, mengerikan…” tambah Randal.

“Mengerikan?”

“Mereka mati. Massal. Seperti katak-katak tadi.”

“Sapi-sapi itu terlindas kendaraan?”

“Tidak, kendaraan apa yang bisa melindas sapi?”

“Lalu?”

“Tapi perut mereka berlubang. Lubang yang sama persis setiap sapinya. Empat belas centi jari-jarinya. Semua isi perutnya kosong dan tidak ada jejak darah sedikit pun.”

“Astaga! Semua sapi mati begitu?”

“Tidak semua sapi, tapi banyak sapi. Para peternak ketakutan membayangkan seseorang atau sesuatu berkeliaran melakukan itu. Mereka berhenti beternak sapi di sini dan pindah ke Utan.”

“Di Utan aman?”

“Ya, kau lihat kan sapi-sapi berkeliaran di sepanjang jalan, bahkan pada malam hari, tidak ada yang mencuri. Soalnya Fahri Hamzah sudah tidak di Utan. Haha…”

“Kamu masih bisa bercanda dalam topik begini? Huh!”

Randal Patisamba tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya baru terhenti ketika kami temui tanjakan yang cukup terjal. “Maju, Pring, rapatkan tubuhmu. Lebih rapat lagi!” pinta Randal dengan serius. Begitu triknya naik motor berdua bila harus melewati tanjakan, rapatkan tubuhmu serapat-rapatnya dengan yang di depan. Bila jalan menurun, kebalikannya, taruh pantatmu di ujung motor agar laju motor tidak bertambah. Soalnya ini matic, tidak ada rem gigi yang biasa otomatis menahan kecepatan maksimal sesuai giginya.

Aku penasaran dengan sapi-sapi yang diceritakan Randal. Mutilasi seperti itu tidak masuk akal. Kenapa harus sapi, kenapa sekarang katak, kenapa bukan kambing. Ah, menyebut kambing, aku teringat kembali dengan Nacinta. Di Lapangan Pahlawan tadi, dia bersama Ega. Mereka tampak begitu mesra meski dia bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan Ega. Semua hal dimulai dari nol. Semua kepunyaan dimulai dari tidak punya apa-apa. Menyebutku terlalu tua padahal Ega berumur sama denganku adalah penghinaan ketika dia memilih untuk menebeng di belakang Ega. “Uban-ubanmu itu tidak bisa berbohong,” canda Nacinta malam itu. Tapi candaan itu melukai harga diriku, meski memang uban-uban itu seperti amoeba, yang membelah diri dengan cepat. Asal tahu saja, uban-uban itu adalah kaffarat dosa-dosa. Satu uban telah tertutup pula satu pintu dosa. Semakin banyak uban, aku semakin pendosa dan Tuhan semakin sayang kepadaku.

“Ada makhluk-makhluk misterius di Jaran Susang itu, Pring. Beberapa kesaksian menyebutkannya,” ujar Randal melanjutkan cerita. Di sisi kanan, laut lepas di selatan Sumbawa mulai terlihat. Ombaknya menunjukkan ciri khas ombak pantai selatan yang selalu bersemangat. Biru. Aku mengabaikan ucapan Randal itu sejenak dan membayangkan perahu-perahu barangkali pernah berlabuh di pantai dengan ombak seganas itu.

 

Aku masih berpikir bawah katak-katak itu bunuh diri. Hidup setelah reformasi sudah sedemikian kejam. Katak-katak itu pasti juga merasakan betapa peliknya kesenjangan perekonomian, harga-harga yang terus melambung tinggi melampaui angka inflasi di makroekonomi, atau kehidupan percintaan yang tak selalu mulus.

Aku bergidik membayangkan aku juga akan bunuh diri dengan cara yang sama seperti katak-katak itu. Dengan sengaja aku akan berdiri di tengah jalan, menanti mobil berkecepatan tinggi menabrakku, melindasku, dan aku mati. Ya, aku mati. Barangkali kematian lebih indah ketimbang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kita sudah mau sampai,” ujar Randal. Randal membelokkan motor ke kanan di sebuah pertigaan. Jalan kerikil yang baru basah karena hujan semalam digantikan  dengan pasir. Pasir itu membuat roda motor sulit beranjak, ketidaktepatan pengendaraan akan membuat roda semakin terperosok ke kedalaman pasir itu. “Turun, Pring, turun…” pinta Randal Patisamba. Dengan segera aku meloncat dari jok dan motor itu pun dapat bergerak lebih mudah.

Dua buah pohon menarik perhatianku. Banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Randal yang mengetahui ekspresiku segera berkata, “Itu pohon kupu-kupu, Pring. Kau mau jadi kupu-kupu?”

Tak kujawab pertanyaan itu dan tak kubahas lebih jauh maksudnya. Aku mengikuti langkah Randal di jalan setapak dan betapa, pemandangan yang kusaksikan selanjutnya adalah pantai terindah yang pernah kulihat selama hidupku. Hamparan pasir putih, ombak yang menari, dan batu karang mirip-mirip di Uluwatu menjadi lanskap sempurna yang diciptakan Tuhan. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Ia memamerkan senyum bintang lima yang membuat segala kecemasanku menguap dengan segera. Nacinta. Lebih melegakan karena tidak ada laki-laki di sekitarnya.

Nacinta adalah gadis tercantik di grup Adventurous Sumbawa, tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, atau lebih ke kakaknya. Kadang-kadang beginilah nasib hati bila sudah terjebak zona pertemanan. Friend zone. Tak seperti yang pernah diucapkan Shakhrukh Khan di Kuch-kuch Hota Hai, cinta adalah persahabatan.

Ketimbang pantai itu, langkah kakiku bergerak ke arah Nacinta terlebih dahulu. Dia dan beberapa teman perempuan yang lain sedang menyiapkan makan siang buat kami. Inilah menariknya Adventurous Sumbawa. Kami akan makan sama-sama di tempat tujuan sambil menikmati alam.

Beberapa bumbu sudah disiapkan, ikan-ikan yang sudah dibersihkan, kayu bakar yang sudah dikumpulkan, tetapi mataku tertuju pada sesuatu di dalam baskom kecil. Bentuknya lunak dengan sudah dipotong kecil-kecil. Aku penasaran dan bertanya kepada Nacinta, “Yang itu apa, Nacinta?”

“Oh ini, ini daging katak. Belum pernah coba? Enak lho,” jawab Nacinta santai sambil mencelupkan tangannya ke dalam baskom, menaburinya dengan garam, dan menguleninya dengan seksama.

Sesuatu bergerak mendesak dari dalam perutku.

Aku mendadak mual.