Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: cerpen

E-Book Kumpulan Cerpen Suara Merdeka 2015

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

e-book-kumcer-suara-merdeka-2015

Kumpulan cerpen Suara Merdeka punya ciri khas. Rata-rata cerita di Suara Merdeka surealis dan eksperimental. Bagi teman-teman yang ingin mengirimkan cerpen ke Suara Merdeka, kirimkan saja melalui email swarasastra@gmail.com. Honorarium yang diberikan sekitar Rp300.000,- per cerpen dipotong pajak. Sebelum mengirim cerpen, bisa mengunduh kumpulan cerpen berikut secara gratis. Jangan lupa dibagikan ya ke teman-temannya.

e-book-kumcer-suara-merdeka-2015

Tersesat di Kota Kucing, Haruki Murakami

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Di stasiun Koenji, aku menaiki salah satu kereta cepat jalur Chuo. Gerbong yang aku tempati kosong, dan aku satu-satunya penumpang di gerbong tersebut. Hari ini aku tidak memiliki rencana atau kegiatan apapun sehingga aku dapat pergi ke manapun dan melakukan apapun sesuka hatiku. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan karena sekarang adalah musim panas, udara di sekitarku terasa sangat menyengat.

Kereta melaju melewati Shinjuku, Yotsuya, Ochanomizu, dan akhirnya tiba di Stasiun Pusat Tokyo. Semua penumpang berhamburan keluar kereta, begitu juga aku. Dengan langkah santai aku menuju ke sebuah bangku yang berada di sudut taman stasiun. Aku duduk sambil menjulurkan kedua kakiku yang terasa sangat penat karena lelah seharian dalam perjalanan panjang dari sebuah tempat terpencil yang tenang bernama Shibuya menuju kota metropolitan Tokyo.

Aku merenung sejenak dan mulai berpikir ke mana selanjutnya akan pergi. “Aku dapat pergi kemana pun aku mau,” ucapku dalam hati. “Sepertinya hari ini cuaca sangat panas. Mungkin aku harus pergi ke pantai atau menemukan sebuah kafe kecil untuk makan siang.” Aku mendongakkan kepala dan memperhatikan peta jalur kereta yang terlihat sangat rumit.

Pada saat itu juga aku menyadari apa yang sedang aku lakukan.

Aku mencoba menggelengkan kepala beberapa kali, namun pikiran-pikiran itu tidak mau pergi dari dalam kepalaku. Mungkin secara tidak sadar aku telah memutuskan untuk melakukannya tepat pada saat aku menaiki kereta di Koenji tadi pagi. Aku mendesah perlahan, lalu bertanya kepada seorang petugas di stasiun agar dapat sampai ke Chikura. Petugas tersebut segera membolak-balikkan halaman buku jadwal kereta yang tebal. Dia menyarankan agar aku mengambil kereta ekspress ke Tateyama yang akan berangkat pada jam 11.30, kemudian transit ke kereta lokal. Dengan begitu aku akan tiba di Chikura sekitar jam dua lewat. Aku membeli tiket pulang-pergi Tokyo-Chikura. Kemudian aku pergi ke restoran di stasiun dan memesan menu makan siang yang sangat sederhana yaitu sepiring nasi kari dan salad.

Mengunjungi ayah adalah sebuah rencana yang tidak menyenangkan bagiku. Hubunganku dengan ayah tidaklah terlalu dekat, dan ayah juga jarang memperlihatkan rasa mencintai layaknya seorang ayah kepada putra semata wayangnya. Dia telah pensiun empat tahun yang lalu, namun saat ini ia masuk ke sanatorium di Chikura yang khusus merawat pasien penderita gangguan kognitif. Selama ini, aku hanya mengunjunginya tidak lebih dari dua kali dalam setahun. Kunjungan pertama adalah pada saat ayah baru masuk ke sana, ketika aku, sebagai satu-satunya anggota keluarga, harus berada di sana untuk mengurus prosedur administrasi. Kunjungan yang kedua juga karena menyangkut masalah administrasi. Hanya dua kali itu saja!

Sanatorium di mana ayah dirawat berdiri pada sebidang tanah yang berada di dekat pinggir pantai kota Chikura. Bagunannya merupakan kombinasi aneh dari bangunan tua elegan yang terbuat dari kayu, dan bangunan tiga tingkat yang terbuat dari beton. Namun udara di sana segar dan selain suara ombak yang menderu-deru, tempat itu selalu sunyi di sepanjang hari.

Barisan pohon pinus yang ditanam di pinggir taman menghalau angin yang menerjang bangunan. Fasilitas kesehatan di sana sangat baik. Dengan asuransi kesehatan, bonus pensiun, tabungan, dan uang pensiun, ayah mungkin dapat menghabiskan seluruh sisa hidupnya di sana dengan nyaman.

Meskipun ayah tidak akan meninggalkan harta warisan yang besar, namun bagiku yang terpenting adalah agar ayah mendapat perawatan yang terbaik. Aku tidak ingin mengambil sedikitpun hartanya, dan aku juga tidak ingin memberikan atau membagi apapun kepadanya. Kami adalah dua manusia yang berbeda, datang dan pergi ke tempat yang berbeda pula. Kami hanya kebetulan saja pernah tinggal bersama dalam satu atap selama beberapa tahun. Hanya itu saja! Sayang sekali kalau akhirnya harus begini, namun sama sekali tidak ada hal yang dapat aku lakukan untuk mengubah ini semua.

Aku membayar makanan kepada kasir dan memberi tips kepada pelayan lalu pergi ke platform untuk menunggu kereta ke Tateyama. Satu-satunya teman seperjalananku kali ini adalah sebuah keluarga bahagia yang akan berlibur selama beberapa hari di pantai.

Kebanyakan orang berpikir bahwa hari Minggu adalah hari untuk beristirahat. Namun selama masa kecilku, aku tidak pernah menganggap hari Minggu sebagai hari yang dapat dinikmati dengan sepuas hati. Bagiku, hari Minggu sama seperti bulan yang hanya menampakkan sisi gelapnya saja. Karena ketika hari Minggu tiba, badan ini mulai terasa lemas dan sakit, serta selera makanku kadang-kadang hilang. Aku bahkan berharap agar hari Minggu tidak akan pernah tiba, namun doaku ini tidak pernah terkabulkan.

Ketika aku masih kecil, ayah bekerja di NHK—sebuah jaringan televisi dan radio pemerintah di Jepang—sebagai penagih biaya langganan. Setiap hari Minggu dia akan mengajakku bersamanya untuk menemaninya menagih pembayaran dari pintu ke pintu. Kami telah berkeliling seperti ini sejak sebelum aku masuk TK dan masih berlanjut saat aku duduk di kelas lima SD. Aku tidak tahu apakah penagih bayaran di NHK memang bekerja setiap hari termasuk hari Minggu, namun seingatku, ayah selalu bekerja seperti itu. Ayah malah bekerja dengan lebih antusias daripada biasanya, karena pada hari Minggu dia dapat menemui orang-orang yang tidak dapat ditemuinya di hari – hari lain.

Ayahku mempunyai beberapa alasan kenapa dia mengajakku. Alasan pertama adalah karena dia tidak ingin meninggalkan aku yang masih kecil sendirian di rumah. Pada hari Sabtu dan hari – hari libur, aku dapat pergi ke sekolah atau ke penitipan anak, namun tempat – tempat ini tutup pada hari Minggu. Alasan yang lain, kata ayah, adalah karena menurutnya seorang ayah harus menunjukkan kepada anaknya pekerjaan macam apa yang dilakukannya. Seorang anak harus mengetahui pekerjaan apa yang menghidupinya selama ini, dan dia juga harus dapat menghargai pentingnya bekerja. Semasa kecilnya, ayah sudah bekerja di ladang milik kakek, bahkan di hari Minggu, begitu juga di hari – hari lain pada waktu libur, dia bahkan harus libur sekolah pada saat – saat yang sibuk seperti sedang musim panen. Kehidupan seperti itu merupakan sebuah anugerah baginya hingga dia tumbuh dewasa.

Alasan ketiga, dan juga yang terakhir, merupakan alasan yang sangat egois, sehingga alasan ini meninggalkan bekas luka yang dalam di hatiku. Sebenarnya ayah sadar bahwa keberadaan anak kecil dapat membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah. Bahkan orang yang telah memutuskan untuk tidak akan membayar akhirnya akan merogoh kantongnya jika ditatap oleh seorang anak kecil, oleh karena itulah ayah hanya berkeliling di rute yang sulit di hari minggu.

Aku telah merasa sejak awal bahwa inilah peran yang diinginkan ayah untukku, dan aku amat sangat membenci peran ini. Namun aku juga merasa bahwa aku harus melakukannya dengan secerdik mungkin untuk menyenangkan hatinya. Jika aku bisa membuatnya senang, maka dia akan memperlakukanku dengan baik. Mungkin saja bagi ayah, aku tidak lebih dari sekedar monyet yang terlatih.

Salah satu hal yang membuat hatiku lega adalah daerah di mana kami berkeliling jauh dari rumah. Kami tinggal di daerah pinggir kota Ichikawa, sementara kami selalu berkeliling di pusat kota. Paling tidak dengan cara begini aku tidak akan bertemu dengan orang-orang yang kukenal. Namun tak jarang ketika kami berkeliling di wilayah perbelanjaan, aku akan melihat seorang temanku di sana. Jika ini terjadi, aku selalu bersembunyi di balik punggung ayah agar tidak terlihat oleh temanku.

Pada hari Senin, teman – teman sekolahku akan berbincang dengan semangat tentang apa yang mereka lakukan di hari Minggu. Mereka pergi ke taman hiburan, kebun binatang, dan melihat pertandingan baseball. Di musim panas mereka berenang, dan di musim dingin mereka bermain ski. Tapi tidak ada yang dapat aku ceritakan. Pada hari Minggu, dari pagi sampai malam, aku dan ayah akan membunyikan bel ke rumah orang – orang asing, menundukkan kepala, lalu mengambil uang dari siapapun yang membukakan pintu. Jika ada yang tidak ingin membayar, ayah akan membujuk atau mengancamnya. Jika mereka mengeluarkan banyak alasan, ayah akan meninggikan suaranya. Terkadang dia akan mengucapkan sumpah serapah kepada mereka yang bandel!

Tentu saja pengalaman seperti ini bukanlah hal yang ingin aku ceritakan kepada teman – temanku. Aku merasa seperti orang asing di tengah – tengah masyarakat ekonomi menengah. Aku hidup dengan cara yang berbeda di dunia yang berbeda.

Untungnya nilai – nilai akademik dan olahragaku sangat tinggi. Sehingga, walaupun terlihat berbeda, aku tidak pernah merasa minder. Dalam banyak kesempatan, aku diperlakukan dengan hormat. Namun setiap kali teman – teman mengajakku pergi ke suatu tempat atau mengundangku ke rumah mereka di hari Minggu, aku akan menolak ajakan mereka dengan berbagai alasan. Ini membuat mereka berhenti mengajakku.

Terlahir sebagai putra tunggal di keluarga petani yang tinggal di wilayah Tohoku, ayah terkenal sangat keras, ia senang karena berhasil keluar dari rumahnya secepat mungkin untuk bergabung dengan kelompok perantau dan menempuh perjalanan sampai ke Manchuria pada tahun 1913. Mereka tidak percaya dengan omongan pemerintah yang mengatakan bahwa Manchuria adalah surga dengan tanah yang luas dan subur. Pada saat itu ayah sudah sadar bahwa ‘surga’ itu tidak ada. Keluarga ayah sangatlah miskin, dan tidak jarang dia merasa sangat kelaparan. Kemungkinan terbaik jika dia tetap tinggal di rumahnya adalah hidup menderita dan mati kelaparan. Di Manchuria, ayah dan perantau lainnya diberikan sedikit peralatan untuk bertani, dan mereka bersama – sama bercocok tanam di sana. Tanah di sana keras dan berbatu, dan pada waktu musim dingin semuanya membeku. Terkadang mereka menangkap dan memakan anjing liar. Meski begitu, dengan bantuan pemerintah selama beberapa tahun pertama, mereka berhasil bertahan hidup. Lambat laun kehidupan mereka mulai stabil. Namun semua berubah secara drastis ketika Uni Soviet menginvasi Manchuria dalam skala yang besar pada bulan Agustus 1945. Ayah telah menduga hal ini akan terjadi, karena sebelumnya seorang pejabat pemerintah yang telah menjadi temannya telah memberitahunya. Begitu dia mendengar berita bahwa Soviet telah menerobos perbatasan, dia segera menunggangi kudanya sampai ke stasiun kereta dan menaiki kereta terakhir ke Daien. Dia satu – satunya diantara teman – teman petaninya yang berhasil kembali ke Jepang sebelum akhir tahun.

Setelah perang berakhir, ayah merantau ke Tokyo dan mencoba bekerja sebagai tukang kayu dan penyelundup di pasar gelap. Namun penghasilannya amat sangat minim dan bahkan tidak cukup untuk makan sehari – hari. Saat itu dia sedang bekerja sebagai pengantar di toko minuman alkohol ketika dia bertemu dengan temannya yang dulu menjadi pejabat di Manchuria. Saat dia mengetahui bahwa ayah sulit menemukan pekerjaan dengan penghasilan yang pantas, dia menawarkan diri untuk merekomendasikan ayah pada temannya yang bekerja di bagian pelanggan NHK. Ayah dengan senang hati menyetujuinya. Dia hampir tidak mengetahui apa – apa tentang NHK, namun dia bersedia untuk mencoba apapun yang dapat menjanjikannya penghasilan tetap.

Ayah menjalankan pekerjaannya dengan sangat antusias. Kelebihannya yang paling menonjol adalah kekerasan hatinya di hadapan para saingannya. Bagi seseorang yang telah susah mencari makan semenjak kecil, menagih pembayaran di NHK bukanlah pekerjaan yang menyiksa. Ejekan dan cemooh dari orang lain tidak berarti apa – apa baginya. Terlebih lagi, dia merasa puas karena dapat menjadi bagian dari organisasi penting seperti NHK, walaupun hanya sebagai anggota di tingkat yang paling rendah. Ketekunannya dalam bekerja sangat luar biasa, sehingga setelah satu tahun bekerja sebagai penagih dengan bayaran per komisi, dia segera diangkat menjadi pegawai penuh. Ini merupakan sebuah pencapaian yang belum pernah dicapai oleh siapapun di NHK. Tidak lama setelah itu dia pindah ke apartemen milik perusahaan dan mengambil asuransi kesehatan dari perusahaan. Ini adalah runtutan keberuntungan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Ayah jarang mau menyanyikan lagu tidur untukku di masa kecil, dia juga malas membacakan buku untukku saat aku hendak tidur. Malahan, dia sering menceritakan tentang pengalaman hidupnya.

Dia handal dalam bercerita. Pengalaman masa kanak – kanak dan mudanya memang tidak sarat akan makna, namun rincian ceritanya terasa sangat nyata. Ada kisah lucu, mengharukan, namun tak jarang ia gemar menceritakan pengalaman hidupnya yang keras.

Kehidupan ayah sungguh penuh dengan warna. Namun ketika ceritanya sampai ke bagian dimana dia menjadi pegawai di NHK, tiba – tiba ceritanya kehilangan daya tarik. Dia bertemu seorang wanita cantik, menikahinya, lalu mempunyai anak, aku, Tengo Kawana. Beberapa bulan setelah melahirkanku, ibu jatuh sakit lalu meninggal dunia. Sejak saat itu ayah membesarkanku seorang diri sambil bekerja di NHK.

Ayah tidak pernah mau menceritakan tentang bagaimana dia bertemu dan menikahi ibu, wanita seperti apa dia, apa yang menyebabkan kematiannya, atau apakah dia menderita sebelum meninggal atau tidak? Jika aku mencoba menanyakannya, maka ayah akan menghindari pertanyaanku. Sering kali pertanyaan – pertanyaan ini membuat hatinya sangat kesal. Tidak ada satupun foto ibu yang disimpannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mempercayai cerita ayah. Dia menyembunyikan cerita bahwa ibu tidak meninggal beberapa bulan setelah aku lahir. Di dalam ingatanku saat masih berumur satu setengah tahun, ibu sedang berdiri di samping tempat tidurku, dan seorang pria yang aku tahu bukan ayah sedang memeluknya dengan penuh hasrat. Pelan – pelan ibu melepaskan blus dan ikatan roknya, lalu membiarkan lelaki yang bukan ayahku itu berbuat sesuka hatinya. Sementara itu aku sedang tidur di samping mereka, dengan napas yang tidak terlalu keras. Namun di saat yang sama, aku tidak tertidur, aku justru sedang memperhatikan ibu dan segala gerak – geriknya.

Itulah gambaran terakhir yang aku rekam. Adegan berdurasi sepuluh detik tersebut telah melekat dengan jelas di dalam kepala. Satu – satunya informasi konkrit yang aku miliki tentang ibuku. Aku dan ibu terhubung oleh ikatan tipis yang terlihat seperti tali pusar seorang bayi. Ayah tidak mengetahui bahwa adegan ini ada dalam ingatanku. Seperti seekor sapi di tengah padang rumput, aku melahap informasi ini bagai rumput yang selanjutnya aku makan mentah – mentah. Ayah dan anak, masing – masing terkurung di dalam kegelapan rahasia mereka sendiri yang gelap dan begitu dalam.

Saat beranjak dewasa, aku sering bertanya – tanya apakah pria yang bukan ayahku itu adalah ayah kandungku. Ini karena aku sama sekali tidak mirip dengan ayahku yang sekarang. Aku memiliki tubuh yang tinggi, kening yang lebar, hidung mancung, dan daun telinga yang bundar. Sedangkan ayah bertubuh pendek, gemuk, dan sama sekali tidak menarik. Dia mempunyai kening kecil, hidung pesek, dan daun telinga yang lancip seperti kuda. Aku selalu bisa terlihat santai dan baik hati, sedangkan ayah cepat cemas dan tidak suka menolong orang. Jika sedang membandingkan kami berdua, orang – orang selalu membicarakan tentang perbedaan di antara kami.

Namun tetap saja, bukan perbedaan dalam hal fisik yang membuat aku sulit untuk menerima ayah, tapi karena perbedaan psikologis. Ayah sama sekali tidak menunjukkan tanda – tanda kecerdasan intelektual. Memang benar, dia terlahir dan hidup dalam kemiskinan sehingga dia tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk hal ini, aku merasa sangat bersimpati terhadap keadaannya. Namun hasrat dasar untuk menimba ilmu — yang aku pikir merupakan sifat alamiah manusia — tidak terdapat di dalam dirinya. Dia memiliki pengetahuan praktikal yang membuatnya dapat bertahan hidup, namun aku tidak melihat adanya kemauan dalam diri ayah untuk memperdalam ilmu, dan melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.

Meskipun begitu, ayah tidak pernah terlihat menderita karena hidupnya yang sempit dan monoton. Aku tidak pernah melihatnya membaca buku. Dia tidak tertarik dengan musik atau film, dan dia tidak pernah pergi berlibur. Satu – satunya hal yang menarik baginya adalah rute berkelilingnya. Dia akan membuat map area yang akan dilaluinya, menandainya dengan pena warna, dan memeriksanya kapanpun dia ada kesempatan, layaknya seorang ahli biologi yang mempelajari kromosom.

Sebaliknya, aku selalu ingin tahu akan semua hal. Aku mempelajari dan memahami berbagai macam bidang studi dengan baik. Aku telah diakui sebagai murid jenius dalam bidang matematika semenjak usia dini, dan aku dapat menyelesaikan soal matematika untuk tingkat SMA saat aku duduk di kelas tiga SD.

Bagiku, matematika merupakan alat terbaik untuk melarikan diri dari dunia nyata. Dalam dunia matematika, aku dapat berjalan di sepanjang koridor kota, dan membuka pintu – pintu angka. Setiap kali aku menemui soal yang sulit, maka jejak buruk kenyataan dunia akan segera menghilang dari hadapanku. Selama aku bisa membuat diri ini sibuk menjelajahi dunia yang tak terbatas dan konsisten tersebut, aku akan merasa bebas.

Jika matematika merupakan bangunan khayalan yang menakjubkan, maka sastra merupakan hutan luas yang penuh sihir. Matematika menghampar naik ke atas surga, namun cerita sastra terhampar luas di depanku, akar – akarnya menembus jauh ke dalam perut bumi. Tidak ada map maupun pintu di sana. Semakin aku beranjak dewasa, hutan cerita mulai mencengkeram dan menarik hati ini lebih kuat daripada dunia matematika. Tetap saja, membaca novel hanyalah salah satu cara bagiku untuk melarikan diri, karena begitu aku menutup buku, aku segera kembali ke dunia nyata. Namun begitu, aku merasa bahwa kembali ke dunia nyata dari dunia novel tidak terlalu mengecewakan dibanding kembali dari dunia matematika. Kenapa bisa begitu? Setelah berpikir keras, aku mencapai sebuah kesimpulan.

Tidak peduli betapa jelasnya sebuah cerita, namun tidak pernah ada solusi yang jelas di sana, tidak seperti ketika aku menjelajahi dunia matematika. Peran sebuah cerita, dalam istilah yang paling luas, adalah untuk mengubah sebuah masalah ke dalam bentuk yang lain. Sebuah solusi bisa saja dapat ditarik dari naratifnya, tergantung dengan alamiah dan alur masalahnya. Aku selalu kembali ke dunia nyata dengan pemahaman tersebut. Rasanya seperti selembar kertas yang di atasnya tertulis mantra sihir yang tidak dapat dipecahkan. Mantra tersebut tidak mempunyai maksud secara langsung, namun masih mengandung makna terselubung.

Satu – satunya solusi yang mampu aku pecahkan berkat koleksi buku – buku bacaanku adalah; ayahku yang asli pasti berada di suatu tempat. Seperti seorang anak kecil malang di dalam novel Dickens, aku mungkin, entah karena situasi aneh macam apa, akhirnya dibesarkan oleh penipu yang mengaku sebagai ayah. Kemungkinan tersebut terasa seperti mimpi buruk namun juga harapan yang besar. Setelah membaca Oliver Twist, aku mulai membaca seluruh karya Dickens yang dapat aku temukan di perpustakaan. Ketika aku berjalan – jalan untuk mengarungi kisah – kisah dari Charles Dickens, aku mengubah khayalan kehidupanku dan semakin membenci diri sendiri. Khayalan ini tumbuh semakin panjang dan rumit. Khayalan yang tumbuh dengan satu bentuk, namun memiliki variasi yang tak terhingga. Di dalam semua khayalanku, aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya sekedar terjebak di dalam rumah ayah saja, dan suatu saat nanti kedua orang tuaku yang asli akan menemukan dan menyelamatkanku. Kemudian aku akan menikmati hari Minggu yang paling indah dan damai.

Ayah selalu bangga dengan nilai – nilai yang berhasil aku capai di sekolah, dan dia selalu menunjukkan nilai hasil ujianku ke para tetangga kami. Namun di saat yang sama, ayah juga menunjukkan tanda – tanda ketidaksenangan terhadap kecerdasan dan bakatku.

Kadang – kadang, ketika aku tengah sibuk belajar di kamar, ayah akan menggangguku, menyuruhku membersihkan rumah, dan mengomeli sikapku yang dianggap lancang terhadapnya. Isi omelan ayah selalu sama, ayah sedang sibuk bekerja keras, menempuh perjalanan yang jauh, dan menahan amarah ketika orang – orang menyumpahinya, sedangkan aku hanya hidup dengan bersantai – santai saja. “Ketika ayah seumuranmu, ayah sudah disuruh bekerja banting tulang. Kakek dan pamanmu selalu memukuli ayah jika ayah bersantai – santai. Mereka tidak pernah memberikan ayah makan yang cukup. Mereka memperlakukan ayah seperti binatang. Ayah tidak mau kau merasa spesial hanya karena nilai – nilaimu tinggi!”

Dia iri denganku, pikirku. Entah dia iri denganku atau dengan kehidupanku. Tapi, apakah seorang ayah memang akan iri dengan anaknya sendiri?

Bukannya aku mau menuduh ayah, tapi aku memang merasakan adanya rasa cemburu dalam perkataan maupun perbuatannya. Ayah tidak membenci kehadiranku, tapi dia lebih sering membenci sesuatu yang ada di dalam diriku, sesuatu yang tidak dapat dimaafkannya.

Ketika kereta yang aku tumpangi bergerak meninggalkan stasiun Tokyo, aku mengeluarkan buku yang aku bawa dari rumah. Buku tersebut merupakan sebuah antologi cerita pendek dengan tema perjalanan, dan di dalamnya terdapat cerita berjudul “Kota Kucing”, sebuah karya fantastis yang ditulis oleh penulis Jerman yang tidak begitu kukenal. Berdasarkan kata pengantar yang ada di halaman depan buku, cerita tersebut ditulis pada periode antara dua Perang Dunia.

Dalam kisah tersebut, seorang pemuda bepergian sendirian tanpa ada tujuan. Dia menumpangi kereta dan turun di pemberhentian manapun yang menarik perhatiannya.
Dia menyewa sebuah kamar, berkeliling menikmati pemandangan, dan tinggal selama yang dia inginkan. Ketika dia sudah merasa puas, dia kembali menaiki kereta lain. Dia sangat menikmati liburannya dengan cara seperti itu.

Suatu hari, dia melihat sebuah sungai yang indah dari jendela kereta. Bukit – bukit hijau berbaris di sepanjang alirannya, dan di kejauhan terlihat sebuah kota kecil yang indah dengan jembatan batu tua. Kereta berhenti di stasiun di kota tersebut, dan dia turun membawa tasnya. Tidak ada penumpang lain yang ikut turun, dan begitu dia turun, kereta segera berangkat kembali.

Tidak ada seorangpun yang bekerja di stasiun. Dia berpikir hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada banyak kegiatan di stasiun ini. Sang pemuda menyeberangi jembatan batu dan berjalan menuju kota. Semua toko tutup, dan alun – alun kota terlihat kotor dan telah lama terbengkalai. Hanya ada satu hotel di sana, dan tidak ada orang yang melayani di meja penerima tamu. Tempat itu tampak tidak berpenghuni. Mungkin semua orang sedang tidur siang di suatu tempat. Tapi sekarang baru jam setengah sebelas pagi, masih lama sebelum waktu tidur siang.

Mungkin sesuatu telah terjadi dan membuat semua orang meninggalkan kota ini. Walau bagaimanapun, kereta selanjutnya tidak akan tiba sampai besok pagi, sehingga dia tidak punya pilihan selain bermalam di sana. Dia berjalan berkeliling kota untuk menghabiskan waktu.

Sebenarnya, ini adalah kota kucing. Ketika matahari mulai terbenam, banyak kucing liar — dengan jenis dan warna yang berbeda — menyeberangi jembatan secara bergerombolan. Mereka memiliki ukuran yang lebih besar daripada kucing biasa, namun mereka tetaplah kucing liar. Sang pemuda terkejut melihat pemandangan ini. Dia segera berlari menuju menara lonceng yang terdapat di tengah kota, lalu naik sampai ke puncaknya untuk bersembunyi. Para kucing mulai berkeliaran di sekitar kota.

Ada yang membuka penutup toko, atau pergi ke kantor untuk memulai kerja. Tidak lama berselang, muncul segerombolan kucing lain dalam jumlah yang lebih banyak dan mereka mulai menyeberangi jembatan seperti yang dilakukan oleh kelompok sebelumnya. Mereka masuk ke toko – toko untuk berbelanja, pergi ke kantor pemerintahan untuk menyelesaikan urusan administrasi, makan di restauran hotel, atau meminum bir di kedai dan menyanyikan lagu – lagu kucing dengan semangat. Karena kucing dapat melihat dalam kegelapan, maka mereka hampir tidak membutuhkan lampu sama sekali. Namun khusus malam hari itu, rembulan bersinar terang dan cahayanya menerangi seluruh kota. Sang pemuda dapat melihat kegiatan di kota dengan jelas dari tempat persembunyiannya di menara lonceng. Ketika fajar menyingsing, para kucing menyelesaikan pekerjaan mereka, menutup kembali pintu toko, dan berjalan teratur menyeberangi jembatan.

Saat matahari telah terbit, tidak ada satupun kucing yang terlihat di sana, dan kota tersebut kembali sunyi. Sang pemuda turun dari menara lonceng, lalu tidur di salah satu kamar di hotel. Jika dia merasa lapar, dia memakan roti dan ikan yang tersisa di dapur hotel. Ketika malam mendekat, dia kembali bersembunyi di menara lonceng dan memperhatikan kegiatan para kucing sampai fajar.

Beberapa kali kereta berhenti di stasiun sebelum siang dan sore hari. Tidak ada penumpang yang turun maupun naik ke kereta. Namun tetap saja, kereta selalu berhenti tepat selama satu menit, kemudian kembali berangkat. Dia bisa saja naik ke salah satu kereta, dan meninggalkan kota kucing yang aneh ini. Tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Karena dia masih muda, rasa ingin tahunya sangat menggebu – gebu dan dia selalu siap melakukan petualangan apapun. Dia masih ingin melihat peristiwa aneh ini lebih lama. Dia ingin mengetahui sejak kapan dan bagaimana tempat ini berubah menjadi kota kucing.

Pada malam ketiga, sebuah keributan terjadi di alun – alun di bawah menara. “ Hey, apa kau mencium bau manusia? ” tanya seekor kucing.

“Ya, aku rasa memang ada bau aneh beberapa hari ini,” sahut kucing lain sambil mengendus dengan hidungnya. “Aku juga,” jawab yang lain. “Aneh. Padahal tidak ada manusia yang tinggal di sini,” tambah seekor kucing. “Tentu saja tidak. Tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk ke kota ini.” “Lalu kenapa ada bau manusia di sini?”

Para kucing mulai menyisir seluruh kota secara berkelompok. Mereka hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk memastikan bahwa menara lonceng merupakan sumber dari bau manusia. Sang pemuda mendengar langkah kaki kucing menaiki tangga. Mereka telah menemukanku! Pikirnya. Sepertinya baunya telah memicu amarah para kucing.

Manusia tidak diperbolehkan memasuki kota tersebut. Para kucing memiliki cakar dan taring yang besar dan tajam. Pemuda itu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika para kucing berhasil menangkapnya, tapi dia yakin bahwa mereka tidak akan membiarkannya meninggalkan kota dalam keadaan hidup.

Tiga ekor kucing memanjat sampai ke puncak menara dan mengendus udara. “ Aneh, ” ujar seekor kucing dengan kumis bergoyang – goyang, “ Aku mencium bau manusia, tapi tidak ada seorangpun di sini. ” “ Ya, ini aneh, ” sahut kucing lain. “ Tapi memang tidak ada seorangpun di sini. Ayo pergi dan cari di tempat lain. ”

Para kucing memiringkan kepala mereka, kebingungan, kemudian kembali turun ke bawah. Sang pemuda mendengar langkah kaki mereka perlahan menghilang di kegelapan malam. Dia menghembuskan nafas lega, tapi dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak dapat menemukannya. Tapi entah kenapa, mereka tidak dapat melihatnya. Walau bagaimanapun, dia memutuskan bahwa dia akan segera pergi ke stasiun begitu pagi menjelang dan naik kereta meninggalkan kota. Keberuntungannya tidak akan mungkin bertahan selamanya.

Namun esoknya, tidak ada kereta yang berhenti di stasiun. Semua kereta hanya melaju melewatinya tanpa menurunkan kecepatan.

Begitu juga dengan kereta sore. Dia dapat melihat seorang kondektur di gerbong kendali. Tapi kereta – kereta tersebut tidak menunjukkan tanda – tanda akan berhenti. Seolah tidak ada yang melihat seorang pemuda menunggu di stasiun — atau bahkan stasiun itu sendiri. Ketika kereta sore menghilang di ujung rel, tempat itu menjadi lebih sunyi daripada biasanya. Matahari mulai terbenam. Waktunya bagi para kucing memasuki kota. Sang pemuda sadar bahwa dia telah tersesat. Tempat tersebut merupakan dunia lain yang disiapkan secara khusus untuknya. Dan tidak akan ada lagi kereta yang berhenti di stasiun ini untuk membawanya kembali ke dunia asalnya.

Aku membaca kisah tersebut dua kali. Frasa ‘tempat di mana dia ditakdirkan untuk tersesat’ menarik perhatiannya. Dia menutup bukunya dan membiarkan matanya menerawangi pemandangan area industri yang terlihat dari jendela kereta. Tidak lama kemudian dia tertidur — bukan tidur panjang namun tidur yang sangat dalam. Dia terbangun bersimbah keringat. Kereta sedang berjalan melewati pesisir selatan semenanjung Boso.

Dulu, saat aku duduk di kelas lima, aku memutuskan untuk berhenti berkeliling dengan ayah di hari Minggu. Aku mengatakan pada ayah bahwa aku ingin menghabiskan waktu luang dengan belajar, membaca buku, dan bermain bersama anak – anak yang lain. Aku ingin hidup normal seperti orang lain.

Aku hanya mengatakan apa yang perlu aku katakan dengan ringkas dan mudah dimengerti.

Di luar dugaanku, ayah naik pitam. Dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh keluarga lain.

“ Kita punya cara hidup sendiri, nak. Dan jangan kau berani berkata padaku tentang ‘kehidupan normal’, Tuan Sok Tahu. Apa yang kau tahu tentang ‘kehidupan normal’?” Aku sama sekali tidak mencoba membantahnya. Aku hanya balik menatapnya dengan hening, sadar bahwa semua perkataanku tidak akan bisa dimengerti olehnya. Akhirnya, ayah mengatakan bahwa jika aku tetap tidak mau mematuhinya, maka dia akan berhenti memberiku makan. Dengan kata lain, aku harus angkat kaki dari rumah.

Aku mematuhi apa yang dikatakan ayah. Aku telah membulatkan tekad. Daripada takut, aku malah merasa lega, karena akhirnya aku diberikan izin untuk meninggalkan kurungan ini. Namun tidak mungkin seorang anak berusia sepuluh tahun dapat hidup sendiri. Ketika kelas telah berakhir, aku mengungkapkan semua kemalangan yang kualami kepada guruku.

Dia adalah seorang guru wanita berumur tiga puluhan dan hidup lajang. Dia juga guru yang baik hati dan berpikiran terbuka. Dia mendengarkan kisahku dengan penuh simpati. Malam harinya dia berkunjung ke rumah kami untuk berdiskusi dengan ayah.

Aku disuruh meninggalkan ruang tamu, sehingga aku tidak tahu apa yang mereka katakan, namun akhirnya ayah mengalah. Tidak peduli seberapa marahnya dia kepadaku, dia tetap tidak boleh membiarkan anak berumur sepuluh tahun berkeliaran di jalan sendirian. Kewajiban orang tua untuk menghidupi anaknya diatur oleh hukum.

Setelah ibu guru selesai berbicara dengan ayah, aku diizinkan untuk menghabiskan hari Minggu sesuka hati. Ini merupakan hak pertama yang pernah aku peroleh dari ayah. Kini aku telah selangkah lebih jauh menuju kebebasan dan kemerdekaan.

Di meja resepsionis sanatorium, aku memberikan nama dan nama ayah.

Perawat yang kebetulan sedang bekerja saat itu bertanya, “ Apa anda telah memberi tahu bahwa Anda akan berkunjung hari ini? ” suaranya terdengar serak. Perawat tersebut berperawakan kecil, dia mengenakan kacamata dengan bingkai besi, dan rambutnya yang pendek mulai tampak beruban.

“ Tidak, tiba – tiba saja aku ingin berkunjung pagi ini dan segera berangkat dengan kereta, ” jawabku apa adanya.

Sang perawat menatapku dengan ekspresi setengah jijik. Kemudian dia berkata,

“ Pengunjung seharusnya memberi tahu kami terlebih dahulu sebelum menjenguk pasien. Kami mempunyai jadwal sendiri, dan keinginan pasien juga harus dipertimbangkan. ”

“ Maaf, aku tidak tahu. ”

“ Kapan terakhir kali Anda berkunjung ? ”

“ Dua tahun lalu. ”

“ Dua tahun lalu, ” ulangnya sambil memeriksa daftar pengunjung dengan pena di tangannya. “Maksudnya Anda tidak pernah berkunjung sekalipun selama dua tahun ini? ”

“ Benar. ” jawabku.

“ Menurut catatan kami, Anda adalah satu – satunya kerabat Tuan Kawana. ”

“ Ya, benar. ”

Dia melihatku sepintas, tapi tidak mengatakan apa – apa. Dia tidak sedang menghakimiku, dia hanya mengkonfirmasi fakta. Lagipula, kasus seperti keluargaku ini bukanlah yang pertama kali.

“ Saat ini ayah Anda sedang mengikuti kelompok rehabilitasi, dan akan selesai dalam setengah jam. Kemudian barulah anda dapat menemuinya. ”

“ Bagaimana keadaannya? ”

“ Secara fisik, dia sehat. Namun kondisinya yang lain belum stabil, ” jawab sang perawat sambil mengetuk – ngetuk dahinya dengan jari telunjuk.

Aku mengucapkan terima kasih kemudian beranjak pergi dan menunggu di ruang santai yang berada di dekat pintu masuk sambil melanjutkan membaca buku. Angin semilir masuk melalui jendela, membawa terbang aroma laut dan pinus dari luar. Jangkrik musim panas bertengger di pepohonan, mengeluarkan suara sekencang – kencangnya. Musim panas kini sampai pada puncaknya, tapi para jangkrik seolah tahu bahwa musim panas tidak akan bertahan selamanya.

Setelah menunggu cukup lama, seorang perawat berkacamata datang memberitahu bahwa aku dapat menemui ayah sekarang. “ Akan saya tunjukkan kamar ayah Anda, ” ucapnya. Aku berdiri dari sofa, dan ketika aku melewati cermin besar yang digantung di dinding, aku baru sadar betapa semrawut pakaian yang aku kenakan, selembar kaos Tur Jeff Beck yang dibalut kemeja dengan kancing terbuka dan tidak sesuai, celana Chinos dengan noda saos pizza di dekat lutut, dan topi baseball — sungguh pakaian yang tidak mungkin dikenakan oleh putra berumur tiga puluh tahun yang mengunjungi ayahnya untuk pertama kalinya dalam dua tahun belakangan. Ditambah lagi aku tidak membawa apapun yang dapat dijadikan buah tangan untuk ayah. Pantas saja perawat tadi memandangku dengan jijik.

Ayahku berada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di kursi dekat jendela yang terbuka dengan tangan di lututnya. Di atas meja di dekatnya terdapat pot bunga yang diisi dengan bunga – bunga indah berwarna kuning. Lantainya dibuat khusus dengan bahan lunak untuk mencegah agar pasien tidak terluka jika terjatuh.

Pada awalnya aku tidak menyadari bahwa lelaki yang duduk di dekat jendela adalah ayah. Dia telah mengecil, atau lebih tepatnya ‘mengerut’. Rambutnya kini lebih pendek dan seputih halaman rumah yang ditutupi salju. Pipinya mencekung, dan mungkin karena itulah bola matanya terlihat lebih besar dibanding dahulu. Tiga garis kerutan terlihat jelas di keningnya. Alis matanya sangat panjang dan tebal, dan daun telinganya lebih lancip daripada sebelumnya sampai terlihat seperti sayap kelelawar. Dari kejauhan dia tidak terlihat seperti manusia, malah dia lebih terlihat seperti makhluk lain, tikus atau tupai — pokoknya makhluk yang terlihat licik. Walau bagaimanapun dia adalah ayahku, atau paling tidak dia adalah versi hancur dari ayahku. Seingatku, ayah selalu terlihat kuat, dan bekerja keras. Introspeksi dan imaginasi merupakan hal yang asing baginya, tapi dia mempunyai aturan moralnya sendiri dan tujuan hidup yang jelas. Lelaki yang kini ada di hadapanku tidak lebih dari sepotong cangkang kepiting yang sudah kosong.

“ Tuan Kawana! ” teriak sang perawat. “ Tuan Kawana! Lihat siapa yang datang! Dia putramu yang datang dari Tokyo! ”

Ayah berbalik memandangku. Matanya yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali membuat aku teringat dengan dua sarang burung kosong yang menggantung di cabang pohon.

“ Hallo, ” sahutku.

Ayah tidak menjawab. Dia malah melihat lurus kepadaku seolah dia sedang membaca majalah yang ditulis dalam bahasa asing.

“ Makan malam akan dihidangkan jam setengah tujuh,” kata sang perawat kepadaku. “ Silahkan mengobrol dengan pasien sampai jam segitu. ”

Aku sedikit ragu – ragu ketika perawat telah meninggalkan ruangan. Pelan – pelan aku memberanikan diri untuk mendekati ayah, aku duduk di kursi di depannya. Mata ayah mengikuti semua gerakanku.

“ Bagaimana keadaan ayah? ” tanyaku.

“ Saya baik-baik saja, ” jawabnya dengan nada resmi.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku memainkan kancing ketiga di kemejaku sambil mengalihkan perhatian pada pohon – pohon pinus di luar, lalu aku kembali memandangnya.

“ Kau datang dari Tokyo, ya? ” tanya ayah.

“ Ya, dari Tokyo. ”

“ Dengan kereta ekspress? ”

“ Ya, ” jawabku. “ Hanya sampai Tateyama. Setelah itu aku pindah ke kereta lokal sampai ke Chikura. ”

“ Kau datang untuk berenang di sini? ”

“ Aku Tengo, Tengo Kawana. Putramu! ”

Kerutan di wajah ayah mulai menebal. “ Banyak orang berbohong karena mereka tidak mau membayar biaya langganan di NHK. ”

“ Ayah! ” teriakku padanya. Sudah sangat lama aku tidak menyebut kata itu. “ Aku Tengo. Putramu. ”

“ Aku tidak punya anak, ” sahut ayah dengan gamblang.

“ Ayah tidak punya anak, ” ulangku.

Ayah hanya membalas dengan anggukan kepala kecil.

“ Jadi, siapa aku? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” jawab ayah dengan gelengan kepala.

Aku menghembuskan napas dalam – dalam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ayah juga tidak melanjutkan perkataannya. Kami duduk dengan diam, mencari – cari kata di dalam pikiran yang kusut. Hanya para jangkrik yang dapat bersuara dan bernyanyi dengan kencang.

Mungkin saja dia ingin mengatakan yang sebenarnya, pikirku. Ingatannya mungkin memang telah hancur, namun perkataannya mungkin saja benar.

“ Apa maksud ayah? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” ulangnya tanpa menunjukkan perasaan apapun. “ Kau tidak pernah menjadi siapapun, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. ”

Aku ingin segera bangkit dari kursi, pergi ke stasiun, dan segera kembali ke Tokyo sekarang juga. Tapi aku tidak dapat berdiri. Aku seperti pemuda yang berjalan seorang diri ke kota kucing. Penasaran dan ingin sebuah penjelasan. Tentu saja aku tahu ada bahaya di depanku. Tapi jika aku melepaskan kesempatan ini, maka aku tidak akan pernah tahu rahasia tentang diriku. Aku mulai menjalin kata – kata di kepala. Ini adalah pertanyaan yang dari dulu hendak aku tanyakan padanya, “ Maksud ayah, kau bukanlah ayahku? Dan tidak ada ikatan darah diantara kita, benar begitu? ”

“ Mencuri gelombang radio adalah sebuah kejahatan dan dapat dijerat dengan hukum,” jawab ayah dengan mata tertuju lurus pada mataku. “ Karena tidak ada bedanya dengan mencuri uang atau barang berharga lainnya. ”

“ Mungkin iya, ” aku memutuskan untuk mengikuti pembicaraannya.

“ Gelombang radio tidak jatuh dari langit dengan cuma – cuma seperti hujan atau salju, ” lanjutnya.

Aku menatap tangan ayah. Tangannya yang kecil dan sedikit gelap karena banyak bekerja di luar, berbaris dengan rapi di atas lututnya.

“ Ibu tidak meninggal karena sakit saat aku masih kecil, iya kan ? ” tanyaku dengan perlahan.

Ayah tidak menjawab. Ekspresi wajahnya juga tidak berubah, dan tangannya tidak bergerak sama sekali. Matanya masih berfokus padaku seolah sedang melihat sesuatu yang aneh.

“ Ibu meninggalkanku. Dia pergi dan meninggalkan kita berdua. Dia pergi bersama pria lain. Benar kan? ”

Ayah mengangguk. “ Mencuri gelombang radio adalah perbuatan yang tercela. Kau tidak boleh melakukan hal sesuka hatimu. ”

Dia memahami pertanyaanku dengan jelas. Hanya saja dia tidak mau menjawabnya secara langsung, pikirku.

“ Ayah, ” ujarku. “ Ayah mungkin bukanlah orang tua kandungku, tapi aku akan tetap memanggilmu ayah sementara ini karena aku tidak tahu lagi dengan apa aku harus memanggilmu selain dengan kata ayah. Jujur saja, aku tidak pernah menyukai ayah. Mungkin sepanjang hidupku aku telah membenci ayah. Ayah pasti telah mengetahui ini. Dan walaupun mungkin tidak ada ikatan darah di antara kita, aku tidak lagi punya alasan untuk membenci ayah. Mungkin aku tidak akan pernah menyukai ayah, tapi setidaknya aku ingin dapat lebih memahami ayah sekarang. Aku selalu ingin tahu kebenaran tentang siapa aku dan siapa orang tuaku yang sebenarnya. Hanya itu saja. Jika ayah ingin mengatakannya sekarang, aku akan berhenti membenci ayah. Malah, aku akan senang, karena aku tidak akan lagi mempunyai alasan untuk membenci ayah. ”

Dia masih menatapku dengan tatapan kosong, tapi entah bagaimana, aku merasa melihat ada cahaya kecil yang berkilau jauh di dalam matanya yang tampak seperti sarang burung kosong.

“ Aku memang bukan siapa – siapa, ” lanjutku. “ Ayah benar tentang itu. Aku bagaikan seseorang yang dibuang ke lautan pada malam hari, dan mengambang sendirian. Aku mencoba memanggil seseorang, namun tidak ada siapapun yang menyahut. Aku tidak punya hubungan dengan apapun. Satu – satunya orang yang dapat kuanggap sebagai keluarga, adalah ayah. Tapi ayah lebih memilih untuk menyembunyikan sebuah rahasia dariku. Sementara itu ingatan ayah semakin memburuk, dan sedikit demi sedikit ingatan tentang diriku juga ikut terhapus. Aku bukanlah siapa – siapa, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. Ayah juga benar tentang itu.”

“ Pengetahuan adalah harta yang paling berharga, ” jawab ayah dengan nada datar, namun suaranya terdengar lebih pelan daripada sebelumnya, seolah seseorang telah menurunkan volume suaranya. “ Pengetahuan adalah harta yang harus diraih sebanyak – banyaknya, dan digunakan dengan sangat hati – hati. Dan karena alasan itu pulalah NHK membutuhkan biaya langganan dari anda dan — “

Aku dengan cepat menginterupsinya. “ Orang seperti apa ibu? Kemana dia pergi? Apa yang terjadi dengannya? ”

Ayah segera bungkam, dan bibirnya tertutup rapat.

Aku lanjut bertanya dengan nada yang lebih halus, “ Ada sebuah ingatan yang selalu terlintas di benakku. Kurasa itu adalah ingatan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Saat itu aku masih berumur satu setengah tahun, dan ibu berdiri di sampingku. Dia dan seorang pemuda sedang berpelukan. Lelaki tersebut bukan ayah. Aku tidak tahu siapa dia, tapi jelas dia bukan ayah. ”

Ayah tetap bungkam, namun matanya jelas sedang melihat sesuatu — sesuatu yang tidak ada di ruangan ini.

“ Bisakah kau membacakan sesuatu untuk ayah?, ” tanyanya dengan nada resmi setelah diam agak lama. “ Mata ayah telah sangat memburuk sampai – sampai ayah tidak lagi dapat membaca. Ada buku di dalam rak di sana. Pilih yang mana saja. ”

Aku berdiri dan melihat – lihat buku yang ada di sana. Kebanyakan buku – buku di sana adalah novel, dan buku sejarah yang berlatar belakang zaman ketika masih ada para samurai. Aku tidak ingin membacakan buku dengan bahasa kuno kepada ayah saat ini.

“ Jika ayah mau, aku akan membacakan cerita tentang kota kucing, ” ujarku. “ Aku membawa bukunya. ”

“ Cerita tentang kota kucing, ” ulang ayah. “ Tolong bacakan itu untuk ayah, jika kau tidak keberatan. ”

Aku melihat jam tangan. “ Tidak sama sekali. Masih ada banyak waktu sebelum keretaku berangkat. Ini adalah kisah yang aneh. Aku tidak tahu apa ayah akan menyukainya atau tidak. ”

Aku mengeluarkan bukuku dan mulai membaca dengan pelan. Suaraku terdengar jelas. Aku memandang wajah ayah di sela-sela jeda membaca, namun wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Aku tidak tahu apakah dia menyukai cerita ini atau tidak.

“ Apakah ada TV di kota kucing ? ” tanya ayah ketika aku selesai membaca.

“ Cerita ini ditulis di Jerman sekitar tahun 1930-an. Mereka belum menciptakan TV saat itu. Tapi mereka punya radio. ”

“ Apakah para kucing yang membangun kota tersebut? Atau apakah manusia yang membangunnya sebelum para kucing datang dan tinggal di sana? ” tanya ayah, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.

“ Entahlah, ” jawabku. “ Tapi sepertinya dibangun oleh manusia. Mungkin entah karena apa manusia meninggalkan kota tersebut — mungkin mereka semua mati karena wabah atau sejenisnya — kemudian para kucing datang dan tinggal di sana. ”

Ayah mengangguk – anggukkan kepala. “ Ketika kehampaan tercipta, harus ada sesuatu yang mengisinya. Itulah yang dilakukan semua orang. ”

“ Benarkah? ”

“Ya. ”

“ Kalau begitu, kehampaan apa yang ayah isi? ”

Ayah terlihat kesal. Kemudian dia berkata dengan nada sarkasme, “Oh, kau tidak tahu?”

“ Aku tidak tahu, ” jawabku.

Ayah menghembuskan napas dengan keras. Satu alisnya sedikit terangkat. “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Aku menyipitkan mata, mencoba membaca ekspresi ayah. Ayah tidak pernah sama sekali berkata dengan nada dan bahasa seaneh ini. Dia selalu berbicara secara konkrit dan praktis.

“ Oh, aku mengerti. Ayah mengisi sebuah kehampaan, ” ujarku. “ Baiklah, kalau begitu, siapa yang akan mengisi kehampaan yang ayah tinggalkan? ”

“ Kau, ” kata ayah. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arahku. “ Bukankah itu sudah jelas? Aku telah mengisi kehampaan yang ditinggalkan seseorang, jadi kau akan mengisi kehampaan yang kubuat. ”

“ Seperti ketika para kucing mengisi kota setelah ditinggalkan manusia. ”

“ Benar, ” sahut ayah. Kemudian dia menatap jari telunjuknya sendiri yang menunjuk padaku dengan tatapan kosong seolah melihat benda misterius.

Aku menghela napas. “ Jadi, siapa ayahku yang sebenarnya? ”

“ Hanya ruang hampa. Ibumu menyatukan tubuhnya dengan sebuah kehampaan dan melahirkan dirimu. Dan aku mengisi kehampaan itu. ”

Setelah berkata sebanyak itu, ayah menutup mata dan mulutnya rapat-rapat.

“ Dan ayah membesarkanku setelah ibu pergi. Apa itu maksud ayah? ”

Setelah berdeham – deham yang tampak disengaja, ayah lanjut berkata, seolah mencoba menjelaskan sesuatu yang sederhana pada anak yang berpikir lambat, “ Karena itulah kukatakan tadi, jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan.”

Aku menaruh tangan di atas lutut dan menatap lurus wajahnya. Dia bukan cangkang yang kosong, pikirku. Dia manusia utuh dengan daging dan darah, dan jiwa yang keras. Dia terpaksa harus hidup dengan kehampaan yang perlahan membesar di dalam dirinya. Pada akhirnya nanti, kehampaan tersebut akan menghisap semua ingatan yang tersisa dalam dirinya. Hanya soal waktu saja sampai hal itu terjadi.

Aku berpamitan dengan ayah tepat sebelum jam enam sore. Sambil menunggu taxi, kami duduk berseberangan di dekat jendela tanpa berkata apa – apa. Masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun karena aku melihat bibir ayah telah tertutup rapat. Seperti yang telah dikatakannya, tadi, “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Ketika hampir tiba waktunya untuk berangkat, aku berkata, “ Banyak yang ayah katakan padaku hari ini. Semuanya dikatakan secara tidak langsung dan kadang sulit untuk dimengerti, tapi mungkin ayah mengatakan dengan sejujur – jujurnya. Terima kasih. ”

Ayah masih saja bungkam, matanya terpaku melihat pemandangan luas, seperti seorang prajurit yang sedang berjaga dan tidak ingin melewatkan sinyal api yang dikirimkan oleh suku liar di kejauhan. Aku mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat ayah, tapi di sana hanya ada deretan pohon pinus yang dibayangi oleh cahaya matahari yang mulai terbenam.

“ Maaf karena telah berkata seperti itu, tapi memang tidak ada yang dapat aku lakukan untuk ayah selain berharap proses penghampaan di dalam diri ayah tidak menyakitkan. Aku yakin ayah telah banyak menderita. Ayah juga pasti sangat mencintai ibu. Tapi dia sudah pergi, dan kepergiannya pasti menyakitkan bagi ayah —seperti hidup di kota kosong. Namun ayah tetap membesarkanku di kota kosong itu. ”

Sekumpulan burung gagak terbang melintasi cakrawala, dan menggaok – gaok di kejauhan. Aku pun berdiri, berjalan mendekati ayah, dan menaruh kedua tanganku di pundak ayah. “ Selamat tinggal, ayah. Nanti aku akan datang lagi. ”

Dengan tangan berada di gagang pintu, aku berbalik untuk terakhir kalinya dan terkejut mendapati ada air mata di kedua pipi ayah. Air matanya bersinar dengan warna keperakan. Air mata itu perlahan membasahi pipinya dan jatuh ke pangkuannya. Aku membuka pintu dan meninggalkan kamar ayah. Aku naik taksi menuju stasiun dan menumpangi kereta untuk kembali ke dunia asalku.

Sumber: http://cerpenterjemahan.wordpress.com