Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: cerpen

Cerpen: Oompa Loompa

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Dia bukan Charlie. Dia juga bukan Willy Wonka. Tetapi cita-citanya ingin mendirikan pabrik cokelat terbesar di dunia.

“Tapi, di Sumbawa, tanaman cokelat tidak akan tumbuh. Lebih baik kau beternak sapi di sini, Teruna…” Kata-kata orang yang skeptis atas keinginannya tidak diindahkan. Dia tahu betul, Sumbawa berbeda nasib dengan Lombok yang tanahnya dapat menumbuhkan apa pun. Tanah Sumbawa begitu gersang. Setiap kenalan barunya di media sosial bertanya, hasil bumi apa yang dimiliki Sumbawa, dia hanya bisa menjawab Sumbawa menghasilkan banyak tenaga kerja ke luar negeri. Ke Saudi, ke Qatar, ke Iran. Maka jangan heran, selain suku Bugis yang pernah melarikan diri dari Sulawesi ke tanah ini, orang-orang keturunan padang pasir juga banyak berkeliaran di Labuhan. Dari orang-orang itulah, Teruna sering mendapat cokelat. Cokelat Arab benar-benar berbeda dengan cokelat yang sering dibelinya di toko. Dia sangat menyukai cokelat Arab.

“Kalau kau begitu suka cokelat, kenapa tidak pergi ke sana sekalian?” rayu seorang calo TKI. Teruna tak suka Mustafa. Selain karena sudah beristri tiga, Mustafa terkenal suka merayu perempuan-perempuan muda untuk berangkat menjadi TKI dengan memberikan pinjaman berbunga tinggi. “Aku bisa membantumu pergi…” tawarnya lagi. Banyak yang tergoda untuk pergi. Tinggal di kampung sendiri seringkali seperti berada di neraka. Tidak mendapatkan pekerjaan. Nasib berakhir kawin muda, dengan status istri kesekian. Teruna tidak mau bernasib sama, Tetapi Teruna juga tidak mau pergi ke timur tengah, apalagi dengan meminjam uang Mustafa guna mengurus segala keperluan seperti paspor dan visa. Tidak tanggung-tanggung, lintah darat berjanggut itu kerap menaruh bunga hingga 100% per tahun. Orang-orang kampung yang tidak sekolah tidak jarang terenggut juga keluguannya oleh tawaran Mustafa itu.

“Kakak, tahu Oompa Loompa?” Teruna bertanya kepada Muji. Sudah seminggu ini Teruna berpraktik kerja lapangan di KPPN Sumbawa Besar. “Apa Oompa Loompa ada hubungannya dengan orang kerdil di Flores?” tanyanya lagi.

Tentu saja Muji tidak tahu. Ia masih sibuk mengurusi server yang sedang anjlok. Tidak ada SPM yang dapat diproses hari itu. Para petugas satuan kerja yang tumben datang sejak pukul delapan pagi terdengar menggerutu di ruang antrian.

“Coba kamu tanya Kak Diapinar? Biasanya dia tahu segalanya,” jawab Muji.

Teruna menghambur ke bagian umum. Diapinar sedang menyusun laporan bendahara. Melihat itu, dia jadi segan untuk bertanya. Di dalam situasi seperti ini, hanya orang-orang di front office yang menganggur. Teruna tahu sebagai anak PKL, dia tidak boleh masuk ke garis depan pencairan dana itu.

Sedang asik-asiknya menunduk, memperhatikan lorong dengan lebar hanya satu meter, tak cukup untuk dua orang berbadan sedikit gemuk bila saling berpapasan, satu sosok muncul dari pintu front office. Badannya gemuk. Rambutnya tampak baru dicukur. Ukuran 2cm. Matanya merah. Tapi laki-laki itu tersenyum dan menyapanya, “Kamu sedang memikirkan apa, Teruna?” Tak disangka dia tahu nama Teruna.

“Bapak tahu Oompa Loompa?” Teruna memanggilnya Bapak karena tampak uban sudah banyak di kepalanya.

“Jangan panggil aku Bapak. Aku tidak setua itu…”

“Maaf…”

“Pasti karena uban-ubanku kan?”

Teruna mengangguk. “Jadi, Kakak tahu Oompa Loompa?” Teruna bertanya yang sama.

“Kamu pasti semalam nonton di HBO kan? Willy Wonka mempekerjakan Oompa Loompa dengan pertukaran mereka dapat mengolah cokelat setiap saat. Itu menjijikkan.”

“Menjijikkan?”

“Kamu tahu, Oompa Loompa itu sebenarnya sebuah ungkapan. Ejekan atas kekerdilan cara berpikir kita.” Laki-laki muda beruban itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mengelus-elus janggutnya, memilin-milin kumisnya yang tak pernah lebih dari 1 cm—dan tentu selalu gagal. “Tidak, tidak, kamu masih terlalu kecil untuk tahu lebih banyak…” lanjutnya lagi.

Daebak. Pantas saja sering Teruna dengar, orang-orang di kantor kas negara (yang sekarang bernama KPPN) adalah tempatnya segala tahu.

“Teruna, baiknya kamu belajar saja, biar pintar… ya?”

“Satu pertanyaan lagi, boleh nggak?”

“Tanya aja, tapi jangan kebanyakan bertanya, nanti nggak jalan-jalan…”

“Kakak suka cokelat?”

Mendengar pertanyaan itu, laki-laki tersebut mengelus perutnya, menarik lipatan-lipatan lemak di bawah dagu dan di sekitar lehernya. “Kalau di es krim ada gelate, di cokelat juga pasti ada cokelat rendah lemak. Tapi apa ada orang menjual cokelat rendah lemak dengan harga seperti cokelat merk ayam jago?” Matanya memias sebelum ia menambahkan, “Kamu masih kecil, Teruna. Pasti tak punya kenangan pada si Ayam Jago?”

“Aku ini perempuan, Kakak. Aku tak pernah bermain ayam jago.” Teruna salah paham. Teruna tahu, waktu membuatnya seperti lelaki. Jalannya tidak gemulai seperti perempuan pada umumnya, bahkan cenderung mengangkang. Beberapa lelaki menganggap cara jalannya berarti klaim bahwa Teruna sudah tak perawan. “Pasti Mustafa sudah mencicipinya,” atau, “Dia pasti perempuan bispak di sekolahnya.” Komentar-komentar seperti itu sudah sering Teruna dapatkan.

“Jadi berita bahwa kamu suka cokelat itu omong kosong?” Kakak di depannya bertanya itu sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebatang cokelat. Ratu Silver.

Teruna menerimanya ragu. Baru kali ini ia bicara dengan lelaki-si petugas front office-tambun-beruban-bermata merah itu, ada kenyamanan di sana. Teruna tahu laki-laki itu baru ditinggal istrinya. Kebanyakan pegawai perbendaharaan menjadi jomblo lokal karena tidak dapat membawa istrinya sementara lelaki itu kebalikannya. Hidup sungguh aneh, pikir Teruna. Hari itu ia takut menjadi dewasa.

 

~

 

Orang-orang Sumbawa, dari Sumbawa Timur sampai Sumbawa Barat tak bosan-bosannya datang silih berganti dari pagi-pagi sekali di sebelah KPPN ini. Ialah kantor Imigrasi, tempat membuat paspor yang menjadi tujuan. Sebelum masuk kantor, Teruna kerap membantu Ama berjualan nasi bungkus dan air kelapa di seberang jalan. Ama menganggap Teruna sebagai anaknya. Meski beristri dua, Ama tak punya anak.

Kemarin Teruna mendengarkan pembicaraan Kak Muji dan lelaki itu yang baru ia tahu namanya—Onang Sadino. Ia mengamini soal kegagalan otonomi daerah bisa diparameteri dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai di daerahnya sendiri. Lebih lanjut, Onang Sadino itu mengkritik formasi PNS di Sumbawa Besar yang banyak diisi orang-orang Lombok. “Begini sih sama saja dengan Banyuasin terhadap Palembang. Orang-orang Lombok yang bekerja di Sumbawa menerima uang dari pemerintah daerah Sumbawa, menyimpannya, dan dibawa pulang setidaknya satu bulan sekali ke Lombok, itu sama saja menihilkan fungsi konsumsi. Pertumbuhan ekonomi macet!” Kalimat-kalimat itu diucapkan berapi-api. Teruna tidak tahu apa-apa tentang ekonomi, tapi dari bicaranya, Teruna tahu itu meyakinkan.

Pasalnya pula, Sumbawa lambat maju. Jauh dibandingkan dengan Lombok Timur. Masyarakat menyalahkan ketidakadilan pada distribusi anggaran dan kepedulian Gubernur terhadap wilayah-wilayah di Sumbawa. Makanya, baru-baru ini makin santer isu pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa pada tahun 2015. “Ah, itu pasti cuma akal-akalan Fahri Hamzah yang mau jadi gubernur PPS nantinya…” Onang Sadino berkata sinis. Tapi mungkin saja itu benar, Fahri Hamzah yang asal Alas itu rajin pulang dan mengoar-ngoarkan pembentukan PPS. Teruna tahu karena ia selalu ada setiap ada keramaian di Sumbawa untuk berjualan.

Kak Onang Sadino itu tampak di seberang jalan. Ia hendak menyeberang. Teruna tahu, kalau tidak membeli nasi kuning di kampung Arab, Kak Onang akan makan di tempat Ama. Ia akan memilih nasi bungkus berlambang T yang berisi telur lalu meminta segelas air kelapa, airnya saja. Teruna menatap lelaki itu, yang sedang menunduk memainkan tabletnya. Pasti sedang mengobrol dengan istrinya. Teruna berpikir, andai saja Kak Onang belum menikah, ia akan mau bersama lelaki itu, meski tambun-beruban-bermata merah sekalipun.

“Sampai kapan kamu magang?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Teruna. Kak Onang tahu-tahu sudah menatap Teruna tajam. “Kamu, apa cita-citamu? Tidak seperti mereka kan?” Pandangan kak Onang menuju orang-orang di kantor imigrasi.

“Tidak, Kak.  Teruna mau bikin pabrik cokelat,” jawab Teruna yakin.

“Mana ada cokelat di Sumbawa…” sahut Ama.

Mendengar itu Kak Onang mendekat ke Teruna, lalu memegang tangannya, “Teruna, bermimpilah. Jangan takut bermimpi. Swiss tidak punya cokelat, tapi bisa jadi tempat pabrik cokelat terbaik di dunia. Setidaknya di Sumbawa sudah banyak sapi. Susunya bisa diperah di sini.” Teruna tidak paham apa Kak Onang sedang menyemangati atau merayunya. “Omong-omong namamu lucu… Teruna, seperti teru-teru bozu.” Kali ini ucapan itu disertai dengan remasan yang lebih kencang di tangan kanannya.

Hari itu hujan tidak turun seperti hari-hari lainnya. Matahari di Sumbawa masih sembilan adanya. Dipandanginya kantor Imigrasi itu lagi. Kak Onang Sadino pasti tidak tahu kalau Teruna adalah anak semata wayang. Orang tuanya sudah bercerai. Ibunya menjadi TKI di Saudi dan tak pernah pulang. Ayahnya sudah menikah lagi dan pergi entah ke mana.

Sejenak, Teruna lupa pada segala masalah di hidupnya. Ia menerima kembali satu batang cokelat dari Onang Sadino. Lelaki itu masih menatapnya tanpa bahasa.

Teruna tahu, cokelat itu bukan cokelat Arab yang digemarinya.

Teruna juga tahu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di dadanya saat tangannya digenggam.

Namun, ketika memakan sepotong cokelat itu, yang paling Teruna tidak tahu adalah dosa termanis bisa saja baru dimulai di dalam hidupnya

Cerpen: Apollo

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Chimamanda Ngozi Adichie

Dua kali seminggu, layaknya seorang anak yang berbakti, aku pergi mengunjungi kedua orangtuaku di Enugu. Mereka tinggal di dalam rumah susun sempit yang disesakkan oleh perabotan dan cenderung bernuansa gelap di sore hari. Masa pensiun telah mengubah mereka, membuat mereka tampak kerdil. Usia mereka delapan-puluhan tahun, keduanya bertubuh kecil dengan warna kulit coklat tua seperti warna kayu mahogani, dan mereka juga cenderung berjalan sambil membungkuk. Seiring dengan berjalannya waktu, paras dan sosok mereka semakin mirip antara satu dengan yang lain, seolah tahun-tahun yang mereka lewati bersama telah menyatukan mereka secara jasmani. Mereka bahkan menguarkan bau badan yang sama — bau menthol yang asalnya dari tabung kecil obat gosok Vicks VapoRub, yang mereka gunakan secara bergantian, mengusapnya di bawah hidung dan sendi-sendi yang ngilu.

Ketika aku tiba, biasanya aku akan menemukan mereka sedang duduk-duduk di beranda sambil menatap ke arah jalan raya; atau mereka tengah duduk di sofa ruang tamu, menonton siaran Animal Planet. Di usia senja, kedua orangtuaku memiliki rasa keingintahuan yang baru dan sederhana. Mereka mengagumi kelicikan serigala, menertawai kecerdasan kera, dan saling bertanya: “Ifukwa, kau lihat itu barusan?”

Mereka juga memiliki kesabaran yang sama sekali baru — dan asing bagiku — terhadap cerita-cerita luar biasa. Suatu kali, ibuku pernah cerita soal tetangga di Abba, kota leluhur kami, yang jatuh sakit kemudian memuntahkan seekor belalang. Serangga itu masih hidup dan menggeliat, lapor ibuku, sebelum mengarahkan logika tersebut pada kesimpulan bahwa tetangga kami itu telah diracuni oleh saudaranya yang picik. “Seseorang mengirim SMS berisi foto belalang tersebut,” kata ayahku.

Mereka berdua selalu menopang cerita satu sama lain. Ketika ayahku cerita soal nasib pembantu rumah tangga Chief Okeke yang meninggal mendadak, ia tak lupa menambahkan teori yang beredar soal kemungkinan sang kepala suku sendiri yang telah membunuh remaja perempuan itu demi mengambil organ tubuhnya dan menggunakannya untuk kepentingan suatu ritual pendatang uang. Ibuku lantas menambahkan, “Kata orang jantungnya pun ikut diambil.”

Lima belas tahun lalu, kedua orangtuaku pasti mencemooh cerita-cerita macam ini. Ibuku, seorang profesor ilmu politik, pasti akan segera berceletuk, “Omong kosong” dengan nada tajam; sementara ayahku, seorang profesor bidang pendidikan, akan mendengus, karena baginya cerita-cerita macam ini tak pantas untuk dikomentari. Aku heran kemana perginya sifat mereka yang lama, dan kenapa sekarang mereka jadi warga Nigeria yang senang bercerita soal hal-hal aneh, seperti bagaimana wabah diabetes bisa disembuhkan dengan meminum air suci.

Namun, meski begitu, aku tetap menanggapi laporan-laporan itu. Di usia mereka sekarang, mereka seolah kembali jadi anak-anak lagi dengan kepolosan yang sama sekali baru. Pertumbuhan mereka pun tidak sepesat dulu, dan wajah mereka bersinar begitu melihatku. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang dulu terkesan menyudutkan — “Kapan kau akan memberikan kami cucu? Kapan kau akan menikah?” — tak lagi membuatku kesal.

Sekarang, setiap aku pergi meninggalkan mereka, di hari Minggu sore setelah kami menyantap makan siang besar dengan menu nasi dan sup, aku selalu bertanya-tanya apakah itu terakhir kali aku akan melihat mereka dalam keadaan hidup, dan apakah sebelum jadwal berkunjungku tiba aku akan menerima telepon yang menandakan suatu hal buruk telah terjadi terhadap salah satu dari mereka.

Pemikiran semacam itu membuatku sedih, kesedihan yang berakar pada nostalgia, dan kesedihan tersebut akan terus menggantung sampai aku tiba di Port Harcourt. Meski begitu, aku juga sadar bahwa apabila aku sudah berkeluarga dan sibuk mengeluh soal biaya sekolah yang melonjak seperti anak-anak teman-teman kedua orangtuaku, maka aku takkan punya waktu untuk mengunjungi mereka secara teratur. Aku takkan punya waktu untuk membalas budi.

Di bulan November, ketika aku sedang berkunjung, kedua orangtuaku bercerita soal meningkatnya insiden perampokan bersenjata di bagian timur Nigeria. Para perampok juga sekarang tengah bersiap melancarkan serangan mereka menjelang Natal. Ibuku bercerita tentang sekelompok orang di Onitsha yang memutuskan untuk bertindak sendiri dan menangkap para perampok, kemudian memukuli mereka dan merobek pakaian mereka. Selain itu, mereka mengalungi kulit ban mobil pada leher tiap pelaku perampokan seraya berteriak meminta sumbangan korek api dan bensin. Pada akhirnya, polisi turun tangan, melontarkan tembakan di udara guna membubarkan kerumunan penduduk, dan menahan para perampok. Ibuku terdiam sesaat, dan aku menunggu tambahan detail pada cerita yang melibatkan elemen-elemen supernatural. Bukan tidak mungkin bahwa setelah para perampok tiba di kantor polisi, mereka mendadak berubah wujud jadi burung bangkai dan terbang pergi.

“Kau tahu,” lanjut ibuku. “Salah satu perampok itu, bahkan dia justru pemimpinnya, adalah Raphael? Dia pernah kerja jadi kacung di rumah kita dulu. Bertahun-tahun lalu. Mungkin kau tak ingat.”

Aku menatap ibuku lama. “Raphael?”

Pikiranku begitu tenggelam dalam cerita-cerita orangtuaku hingga seolah diselimuti oleh kabut, dan sekarang aku harus bersusah-payah menanggapi datangnya ingatan yang tiba-tiba.

Ibuku berkata lagi, “Ibu rasa kau tak ingat. Banyak sekali kacung yang keluar-masuk di rumah ini. Kau masih sangat kecil waktu itu.”

Tapi aku ingat. Tentu saja aku ingat Raphael.

*

Tidak ada yang berubah ketika Raphael mulai tinggal di rumah kami, setidaknya di awal tak ada perubahan yang berarti. Dia tak jauh berbeda dengan kacung-kacung sebelumnya yang pernah dipekerjakan orangtuaku. Seorang remaja laki-laki yang berasal dari desa tak jauh dari tempat tinggal kami. Kacung yang dia gantikan, Hyginus, terpaksa dipecat karena telah menghina ibuku. Sebelum Hyginus ada John, yang aku ingat betul karena dia tidak dipecat; melainkan melarikan diri. John tak sengaja memecahkan piring ketika sedang mencucinya. Karena takut dimarahi ibuku, dia segera membereskan pakaiannya dan pergi begitu saja sebelum ibuku pulang kerja.

Semua kacung yang dipekerjakan orangtuaku selalu memperlakukanku dengan segan, seperti orang yang membenci ibuku. Mereka selalu bilang, ayo, santap makananmu — aku tidak mau dimarahi Nyonya nanti. Ibuku sering membentak mereka, entah karena mereka lamban, bodoh, atau sedikit tuli; bahkan saat ibuku membunyikan bel, dengan jempol tertumbuk pada tombol merah, dentang bel yang nyaring terdengar di seluruh pojok rumah tinggal kami, rasanya tak jauh beda dengan saat dia membentak si kacung. Betapa sulitnya sih untuk mengingat cara menggoreng telur, ayahku suka telur dadar biasa, ibuku senang telur dadar campur bawang merah; atau untuk menyusun boneka-boneka Rusia ke atas rak pajangan yang sama setelah selesai mengibas debu dari sana; atau untuk menyetrika seragam sekolahku dengan baik?

Aku adalah anak tunggal yang lahir saat usia orangtuaku sudah tidak muda lagi. “Waktu aku hamil, kupikir aku sedang melalui masa-masa menopause,” kata ibuku suatu hari. Usiaku baru delapan tahun saat itu, dan aku tak tahu apa arti kata menopause. Ibuku memiliki pribadi yang blak-blakan, sama seperti ayahku; dan mereka berdua seringkali mengesampingkan pendapat orang lain. Mereka bertemu di Universitas Ibadan, kemudian menikah meski tanpa restu orangtua — keluarga ayahku menganggap ibuku terlalu pintar, sementara keluarga ibuku menginginkan menantu yang lebih kaya materi. Kedua orangtuaku menghabiskan sebagian besar masa kebersamaan mereka dalam kompetisi yang menegangkan, sekaligus intim. Siapa yang lebih banyak menerbitkan disertasi, siapa yang lebih sering menang dalam permainan bulutangkis, siapa yang bisa memenangkan argumen.

Di malam hari, mereka tak jarang saling membacakan keras-keras sebuah artikel di surat kabar ataupun jurnal pendidikan kepada satu sama lain, seraya berdiri di ruang keluarga, walau sesekali sambil mondar-mandir, seolah bersiap menerkam sebuah ide yang melompat keluar dari bacaan tersebut. Mereka meneguk Mateus rosé — botol gelap dengan bentuk meliuk itu sepertinya tak pernah jauh-jauh dari mereka, berdiri di atas meja—dan meninggalkan gelas-gelas kosong dengan sisa bercak merah di bagian dalam. Waktu kecil, aku selalu khawatir tidak cukup sigap saat orangtuaku mengajakku bicara.

Aku juga khawatir karena aku tidak begitu suka buku. Kegiatan membaca tidak memiliki efek besar dalam hidupku, berbeda dengan hidup kedua orangtuaku — membaca bisa membuat mereka kesal atau menghipnotis mereka, hingga tidak memperhatikan ketika aku keluar-masuk rumah. Aku membaca buku hanya untuk memuaskan kemauan mereka saja, juga untuk menjawab segala macam pertanyaan yang sering dilempar ke arahku secara tiba-tiba di tengah jam makan — apa pendapatku tentang Pip? Apakah Ezeulu melakukan hal yang sepantasnya? Seringkali aku merasa seperti seorang penyusup di dalam rumahku sendiri.

Kamar tidurku dilengkapi dengan rak buku, yang menampung banyak sekali buku-buku yang tak lagi sanggup ditampung di koridor ataupun ruang baca keluarga. Buku-buku itu membuatku merasa seperti tamu di kamar tidurku sendiri, seolah aku tidak seharusnya berada di sana. Aku bisa merasakan kekecewaan orangtuaku dari cara mereka bertukar pandang saat aku membicarakan buku, dan aku tahu bahwa mereka tidak menganggap jawabanku salah, namun mereka juga tidak menganggap ada yang spesial tentang jawabanku. Semua terasa generik. Biasa saja. Aku juga tidak terlalu senang pergi ke klub sosial: buatku, bulutangkis itu membosankan, dan kok yang dioper ke sana-sini seperti benda yang belum selesai diproduksi, seolah siapapun yang menciptakan permainan itu mendadak berhenti di tengah jalan.

Satu hal yang sangat kucintai adalah kung fu. Aku sudah seringkali menonton film Enter the Dragon sampai-sampai aku hafal dialognya, dan aku selalu bermimpi suatu hari bisa terbangun dari tidur dan mendadak berubah wujud jadi Bruce Lee. Aku menendang dan memukul udara kosong, menghantam musuh-musuh tak kasat mata yang telah membunuh keluarga imajinerku. Aku akan menarik kasur tidurku ke atas lantai, berdiri di atas dua tumpuk buku tebal — biasanya versi hardcover novel berjudul Black Beauty dan The Water-Babies — lalu melompat ke atas kasur seraya berteriak: “Haaa!” persis seperti Bruce Lee.

Suatu hari, di tengah aksiku, aku mendongak dan menemukan Raphael tengah berdiri di ambang pintu, mengawasiku. Aku siap-siap ditegur. Dia sudah membereskan ranjang tidurku pagi itu, dan sekarang kamar tidurku terlihat seperti kapal pecah. Namun dia justru tersenyum, menyentuh dadanya dengan sebelah tangan, dan melarikan jarinya ke ujung lidah, seolah mencicipi darahnya sendiri. Adegan favoritku. Aku menatap Raphael dengan kegembiraan tak terkira. “Aku sering menonton film yang sama di rumah lain, tempatku dulu bekerja,” katanya. “Perhatikan ini.”

Raphael memutar tubuhnya sedikit, melompat, dan menendang, kakinya diangkat lurus dan tinggi di udara, tubuhnya meliuk dengan penuh keanggunan. Usiaku baru dua belas tahun saat itu dan, hingga momen tersebut, aku belum pernah menemukan diriku hadir dalam kepribadian orang lain.

*

Aku dan Raphael pun mulai sering berlatih di halaman belakang rumah, melompat dari tepi got yang dibangun agak tinggi sebelum mendarat di rumput. Dia memberi petunjuk agar aku menekan perut ke dalam, meluruskan kaki dan memosisikan jemariku dengan teliti. Ia mengajariku cara bernapas. Aksi-aksiku sebelumnya di kamar tidur terasa prematur. Sekarang, berlatih di halaman bersama Raphael, sambil membelah udara dengan kedua lengan, aku baru merasakan aksi-aksiku jadi nyata. Diiringi oleh rerumputan yang lembut di bawah kakiku, dan udara terbuka di atasku, ruang berlatihku jadi tak bertepi. Bebas untuk kutakluki. Ini benar-benar terjadi. Suatu hari aku akan bisa jadi juara sabuk hitam.

Di luar pintu dapur ada beranda terbuka yang lumayan tinggi, dan aku ingin melompat dari tepi tangga bertingkat enam sambil mencoba sebuah tendangan terbang. “Tidak,” kata Raphael. “Beranda itu terlalu tinggi.”

Di akhir pekan, bila kedua orangtuaku pergi ke klub sosial tanpaku, kami menonton film-film Bruce Lee, dan Raphael selalu berkata: “Lihat, lihat itu!” Lewat matanya, aku mendapat banyak hal baru dari tontonan yang sudah kuhafal luar kepala; beberapa jurus yang tadinya kupikir biasa saja serta-merta berubah sangat mencengangkan saat Raphael berkata, “Lihat itu!” Dia tahu apa-apa saja yang penting untuk diperhatikan; dan sangat bijaksana. Ia memutar ulang adegan di mana Bruce Lee menggunakan perangkat nunchaku, dan menatap layar televisi dengan mata nanar, seraya menarik napas pendek di setiap gerakan yang menunjukkan kehebatan senjata logam-dan-kayu itu.

“Seandainya aku punya nunchaku,” kataku.

“Sulit sekali menggunakan senjata itu,” kata Raphael dengan pasti. Dan aku nyaris menyesal telah menyatakan bahwa aku menginginkan senjata tersebut.

Tak lama setelah itu, sewaktu aku pulang sekolah, Raphael berkata, “Lihat.” Dari lemari dapur, ia mengeluarkan sebentuk nunchaku — dua batang kayu yang merupakan bagian dari gagang alat pel dan telah diampelas bersih, diikat dengan per logam di ujung atas. Dia pasti mengerjakannya setidaknya seminggu penuh, di waktu senggangnya seusai kerja. Ia menunjukkan cara-cara menggunakan perangkat itu. Gerakannya sedikit selebor, tidak seperti gerakan Bruce Lee. Kuambil nunchaku tersebut dan berusaha untuk mengayunkannya, namun justru ujung kayu itu menghantam dadaku. Raphael tertawa. “Kau pikir kau bisa langsung menguasainya?” katanya. “Kau harus berlatih lama sekali.”

Di sekolah, aku duduk di dalam kelas sambil memikirkan halusnya batang kayu nunchaku buatan Raphael di tanganku. Hidupku seolah baru dimulai saat aku pulang sekolah, dan bertemu Raphael. Orangtuaku bahkan tidak sadar akan persahabatan yang telah kujalin dengan kacung mereka. Mereka hanya tahu bahwa sekarang aku lebih sering bermain di luar rumah, dan tentunya Raphael selalu ada di luar — membabat rumput taman, mencuci perkakas rumah di dekat tangki air.

Suatu sore, Raphael baru saja selesai mencabuti bulu ayam dan segera menginterupsi aksi solo-ku di halaman belakang rumah. “Tarung!” katanya. Dimulailah sebuah duel, dia dengan tangan kosong, sementara tanganku sibuk mengayun senjata baruku. Dia mendorongku cukup keras. Salah satu batang nunchaku menghantam lengannya, dan Raphael tampak terkejut, lantas terpesona, seolah dia tidak mengantisipasi gerakan itu dariku. Aku mengayun lagi dan lagi. Ia pura-pura hendak meninjuku, lalu menunduk dan menendang. Waktu melayang begitu saja. Di akhir aksi itu, kami tertawa dan terengah-engah. Aku ingat, jelas sekali, bahkan sekarang, tahunan setelah kejadian itu, betapa sempit celana pendek yang ia kenakan, dan urat-urat panjang yang membekas di kedua kakinya, seperti tali kencang.

Setiap akhir pekan, aku menyantap makan siang bersama kedua orangtuaku. Aku selalu berusaha menghabiskan makan siangku secepat mungkin, ingin buru-buru pergi dari meja makan dan berharap orangtuaku takkan sibuk menanyaiku ini-itu. Suatu siang, Raphael menyajikan sepiring ubi rebus berwarna putih bundar di atas tumpukkan sayuran hijau, beserta potongan dadu pepaya dan nanas.

“Sayurnya terlalu keras,” kata ibuku. “Kau pikir kami ini kambing?” Ia melirik ke arah Raphael. “Kenapa matamu?”

Aku baru sadar bahwa pertanyaan itu bukan ocehan biasa dari mulut ibuku — “Hidungmu tertutup apa?” dia biasanya bertanya bila tak sengaja mencium bau tak sedap dari dapur yang tidak tercium Raphael. Pertanyaannya sekarang tertuju pada mata Raphael yang memerah. Merah yang menyala dan terlihat tidak sehat. Raphael menggumam bahwa seekor serangga telah menyengat kedua matanya.

“Kelihatannya seperti Apollo,” ujar ayahku.

Ibuku mendorong kursi duduknya ke belakang dan mengamati wajah Raphael. “Ah-ah! Ya, benar sekali. Pergi ke kamarmu dan jangan keluar.”

Raphael bergeming, seolah masih ingin membereskan piring-piring makan di atas meja.

“Pergi!” kata ayahku. “Sebelum kau menulari kami semua dengan penyakitmu itu.”

Raphael, kebingungan, mulai menjauh dari meja makan kami. Ibuku memanggilnya lagi. “Kau pernah terjangkit penyakit ini sebelumnya?”

“Tidak, Nyonya.”

“Kau terkena infeksi konjungtiva, selaput mata,” kata ibuku. Di tengah penuturannya dalam bahasa Igbo, kata ‘konjungtiva’ terdengar tajam dan berbahaya. “Kami akan membelikanmu obat. Gunakan tiga kali sehari dan jangan keluar dari kamarmu. Jangan masak apa-apa sampai penyakitmu sembuh.” Ibuku menoleh ke arahku, “Okenwa, jangan dekat-dekat dia. Apollo sangat menular.” Dari nada bicaranya, jelas sekali bahwa ibuku tidak pernah membayangkan bahwa aku bahkan punya alasan untuk berada di dekat Raphael.

Beberapa jam kemudian, kedua orangtuaku berkendara ke sebuah apotek terdekat dan kembali membawa sebotol obat tetes mata, yang kemudian diantar oleh ayahku ke kamar tidur Raphael di bagian belakang rumah. Gerak-gerik ayahku terlihat seperti prajurit yang enggan masuk ke medan merang.

Malam itu, aku pergi bersama orangtuaku ke Obollo Road untuk membeli akara untuk santapan makan malam; ketika kami kembali, rasanya aneh tidak dibukakan pintu oleh Raphael, dan tidak melihatnya menarik korden-korden ruang tamu hingga tertutup serta menyalakan lampu-lampu beranda. Di dalam dapur yang kini sunyi, rumah kami terlihat minim kehidupan.

Begitu orangtuaku sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, aku beranjak ke kamar tidur Raphael dan mengetuk pintunya. Pintu kamarnya terbuka sedikit. Raphael tengah berbaring di atas tempat tidur yang sempit dan diletakkan mendempet ke dinding, ia memutar tubuhnya ketika aku masuk ke dalam kamarnya, terkejut, lalu berusaha bangkit berdiri. Aku belum pernah mengunjungi kamar tidurnya. Bohlam lampu yang menggantung bebas di bawah langit-langit ruangan menebarkan cahaya temaram.

“Ada apa?” tanyanya.

“Tidak ada apa-apa. Aku cuma mau lihat keadaanmu.”

Raphael mengedikkan pundak dan kembali duduk di ranjangnya. “Aku tidak tahu bagaimana penyakit ini menulariku. Jangan dekat-dekat.”

Tapi justru itu yang kulakukan.

“Aku pernah terjangkit Apollo di kelas 3 SD,” kataku. “Tak lama juga kau pasti sembuh, jangan khawatir. Sudah menggunakan obat tetes malam ini?”

Dia mengedikkan pundak lagi dan tak berkata apa-apa. Di atas meja ada sebotol obat tetes mata yang belum dibuka.

“Kau belum menggunakannya sama sekali?” tanyaku.

“Belum.”

“Kenapa?”

Ia tak mau menatapku. “Aku tak bisa melakukannya sendiri.”

Raphael, remaja yang bisa mengosongkan isi perut seekor kalkun dan menggotong sekarung beras, tak sanggup meneteskan obat itu ke matanya sendiri. Di awal, aku tercengang, lalu terhibur, lalu tergerak. Aku menoleh ke seisi kamarnya dan tercenung melihat betapa kosong ruangan itu — hanya ada sebuah ranjang sempit yang merapat di dinding, sebuah meja berkaki kecil, dan sebentuk kotak logam abu-abu di pojok ruangan, yang kuasumsi berisi semua barang yang ia miliki.

“Aku akan meneteskannya untukmu,” kataku. Kuambil botol obat tetes mata di atas meja dan memutar tutupnya hingga terbuka.

“Jangan dekat-dekat,” ujarnya lagi.

Tapi aku sudah terlanjur berada di dekatnya. Aku menunduk di atas kepalanya. Ia mulai mengedipkan matanya cepat-cepat.

“Bernapas tenang, seperti di aksi kung fu,” kataku.

Kupegang wajahnya, dan perlahan-lahan menarik kelopak mata kirinya sebelum meneteskan cairan obat ke dalam matanya. Aku menarik kelopak mata kanannya dengan tenaga lebih, karena Raphael menutup matanya rapat-rapat.

“Ndo,” kataku. “Maaf.”

Raphael membuka kedua matanya dan menatapku, dan di wajahnya ada pancaran sinar yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak pernah jadi pujaan siapapun. Hal itu mengingatkanku akan kelas ilmiah, di mana kami mempraktikkan proses penanaman tumbuhan dan menyaksikan pucuk jagung tumbuh tinggi dan hijau menuju matahari. Raphael menyentuh lenganku. Aku berbalik hendak pergi.

“Aku akan datang lagi sebelum aku berangkat ke sekolah,” kataku.

Keesokan paginya, aku menyelinap masuk ke kamar Raphael, meneteskan obat mata yang sama, dan menyelinap keluar dan masuk ke dalam mobil ayahku untuk diantar ke sekolah.

Di hari ketiga, kamar tidur Raphael terasa begitu familiar bagiku, terbuka dan tidak sesak oleh pernak-pernik. Begitu aku meneteskan obat itu di matanya, aku mendapati hal-hal tentang remaja itu yang tak pernah kuperhatikan sebelumnya: kumis tipis yang gelap dan tumbuh di atas bibir atasnya, bercak kurap yang ada di antara rahang dan lehernya. Aku duduk di tepi ranjangnya dan kami berbincang sedikit soal Snake in the Monkey’s Shadow. Kami sudah seringkali membahas film itu, dan kami mengatakan hal-hal yang sama seperti yang telah kami ucapkan sebelumnya, namun di tengah kamar tidurnya yang sunyi, semua itu terasa berat layaknya sebuah rahasia. Suara kami sengaja direndahkan, nyaris berbisik. Tubuhnya menguarkan kehangatan yang juga hinggap di tubuhku.

Raphael bangkit di atas kedua kaki untuk mendemonstrasikan jurus ular, lalu setelah itu kami berdua tertawa dan remaja tersebut memegang tanganku. Kemudian ia melepas tanganku dan bergerak menjauh dariku.

“Apollo sudah hilang,” katanya.

Matanya bersih, tak lagi merah. Aku sempat berharap penyakitnya tidak akan sirna secepat itu.

*

Dalam mimpiku, aku tengah berlatih bersama Raphael dan Bruce Lee di sebuah lapangan terbuka. Ketika aku terbangun, mataku tak bisa dibuka. Dengan dua tangan aku menarik kelopak mataku agar terbuka. Mataku terasa panas dan gatal. Setiap kali aku mengedipkan mataku, mereka mengeluarkan cairan pucat dan kental yang menutupi bulu mataku. Rasanya seolah ada butir-butiran pasir panas di bawah kelopak mataku. Aku takut sesuatu di dalam tubuhku tengah mencair, meski tidak seharusnya begitu.

Ibuku berteriak memanggil Raphael, “Kenapa kau bawa penyakit ini ke rumahku? Kenapa?” Seolah terjangkit penyakit Apollo, dia telah merencanakan konspirasi untuk menularkannya padaku. Raphael tidak menjawab. Ia tak pernah menyahut saat sedang dimarahi. Ibuku berdiri di pucuk tangga, dan Raphael di kaki tangga.

“Bagaimana bisa dia menularimu penyakit ini dari kamar tidurnya?” tanya ayahku.

“Bukan Raphael,” kataku. “Sepertinya aku tertular teman sekolahku.”

“Siapa?” Aku harusnya tahu bahwa ibuku pasti menanyakan hal ini. Di saat itu, nama-nama teman sekelasku tak ada yang kuingat.

“Siapa?” desak ibuku.

“Chidi Obi,” tuturku akhirnya, nama yang tiba-tiba teringat. Bocah itu duduk di meja di depanku dan tubuhnya selalu menguarkan bau apek.

“Kepalamu pusing?” tanya ibuku.

“Ya.”

Ayahku membawakan obat Panadol untukku. Ibuku menelepon Dr. Igbokwe. Kedua orangtuaku bergerak cepat. Mereka berdiri di ambang pintu kamarku dan mengawasiku saat aku meneguk Milo seduhan ayahku dari dalam cangkir. Aku meneguknya secepat mungkin. Aku berharap mereka takkan menarik kursi ke dalam kamarku, seperti yang biasa mereka lakukan setiap kali aku jatuh sakit gara-gara wabah malaria, ketika aku terbangun dengan lidah terasa pahit dan menemukan salah satu dari kedua orangtuaku tengah menungguiku di tepi ranjang seraya membaca buku. Kalau sudah begitu aku akan berdoa agar aku lekas sehat, supaya bisa terbebas dari pengawasan mereka.

Dr. Igbokwe tiba dan menyinarkan lampu senter di mataku. Parfum yang ia kenakan sungguh mendesak hidungku, dan aku masih bisa menciumnya meski ia sudah tak lagi ada di dalam kamarku. Wanginya sarat akan alkohol dan menurutku justru membuat mabuk. Setelah dia pamit, kedua orangtuaku membangun altar pasien di samping ranjang tidurku — sebentuk meja yang dibungkus taplak, dan di atasnya diletakkan sebotol minuman energi Lucozade berwarna oranye, sebuah kaleng kecil berwarna biru dan berisi gula-gula, serta sekeranjang jeruk yang baru saja dikupas kulitnya. Mereka tidak menyeret bangku ke dalam kamar tidurku, tapi salah satu dari mereka cuti kerja selama seminggu sampai aku sembuh dari wabah Apollo. Ayah dan ibuku bergantian meneteskan obat ke dalam mataku. Ayahku sedikit lebih ceroboh dalam melakukannya dibandingkan ibuku, sehingga ia selalu meninggalkan cairan lengket mengalir di pipiku sehabis meneteskan obat itu. Mereka tidak sadar bahwa aku bisa meneteskan obat itu sendiri. Setiap kali mereka mengangkat botol obat tetes itu di atas kepalaku, aku teringat akan sinar yang terpancar dari mata Raphael di malam pertama saat aku meneteskan obat yang sama di matanya. Kebahagiaan itu menghantuiku.

Orangtuaku menutup semua tirai di jendela kamarku agar tidak banyak cahaya yang masuk. Aku lelah berbaring terus. Aku ingin bertemu Raphael, tapi ibuku sudah melarangnya masuk ke dalam kamarku, seolah kehadirannya bisa memperburuk kondisiku. Aku berharap Raphael sudi curi-curi momen untuk menjengukku. Kan dia bisa saja pura-pura mau mengganti seprai, atau membawakan ember ke dalam kamarku. Kenapa dia tidak datang? Dia bahkan tidak pernah minta maaf kepadaku. Aku berusaha untuk mendengar suaranya, tapi dapur rumah kami letaknya cukup jauh dari kamar tidurku, dan suaranya, saat dia berbicara dengan ibuku, sengaja dibuat sangat rendah.

Sekali, setelah aku pergi ke kamar mandi, aku berusaha untuk mengendap turun ke dapur, tapi ayahku sudah berdiri di kaki tangga.

“Kedu?” tanya ayahku. “Kau baik-baik saja?”

“Aku haus,” kataku.

“Biar Ayah yang bawa air ke atas. Kembali ke kamarmu dan berbaringlah.”

*

Akhirnya, kedua orangtuaku pergi berduaan saja. Aku sedang tidur dan terbangun mendapati rumah tinggalku terasa kosong. Aku buru-buru menuruni tangga dan beranjak ke dapur. Tempat itu juga kosong. Aku penasaran apakah Raphael ada di kamarnya; karena dia biasanya tidak diizinkan beristirahat di dalam kamar tidurnya di siang hari, tapi siapa tahu dia sudah ada di sana — sementara orangtuaku tak di rumah. Aku melangkah ke arah beranda terbuka. Aku mendegar suara Raphael sebelum aku melihatnya tengah berdiri di dekat tangki air, membenamkan kakinya ke dalam pasir, sambil berbincang dengan Josephine, pembantu Profesor Nwosu. Sesekali, Profesor Nwosu mengirimkan telur dari peternakan ayamnya, dan ia tak pernah mau dibayar oleh kedua orangtuaku. Apakah itu sebabnya Josephine ada di sini? Karena dia mengantar telur? Gadis itu bertubuh tinggi dan agak gemuk; saat ini dia terlihat seperti orang yang sudah pamit namun menolak pergi. Saat berhadapan dengannya, Raphael terlihat berbeda—punggungnya membungkuk, kakinya tak bisa diam. Dia terlihat malu-malu. Cara bicara Josephine terkesan manja, namun jual mahal; seolah dia bisa melihat apa-apa saja dalam diri Raphael yang baginya dapat dijadikan bahan hiburan. Pikiranku berkabut.

“Raphael!” teriakku.

Ia memutar tubuhnya. “Oh. Okenwa. Apa kau boleh turun ke dapur?”

Ia berbicara seolah aku masih balita, seolah aku tidak pernah duduk di kamar tidurnya yang remang-remang.

“Aku lapar! Mana makananku?” Itu adalah hal pertama yang tercetus dari mulutku, tapi bukannya terkesan angkuh, suaraku justru nyaring seperti perempuan.

Wajah Josephine merengut, seolah dia hendak tertawa terbahak-bahak. Raphael mengucapkan sesuatu yang tak kudengar, namun kesan yang kudapat tak ubahnya sebuah pengkhianatan. Orangtuaku baru saja tiba, mobil mereka merapat; tiba-tiba Josephine dan Raphael bergerak cepat. Josephine buru-buru keluar dari pekarangan rumahku, dan Raphael segera menghampiriku. Kaus yang ia kenakan terlihat bernoda di bagian depan, warna nodanya sedikit oranye, seperti minyak kelapa sawit dari sup. Bila orangtuaku belum kembali, dia pasti tak bergerak dari tangki air tersebut; kehadiranku bahkan tak digubrisnya.

“Apa yang mau kau santap?” tanyanya.

“Kau tidak menjengukku.”

“Kau tahu Nyonya tak mengizinkanku berada di dekatmu.”

Mengapa dia menjawabnya dengan begitu mudah? Aku juga mendapat peringatan yang sama saat dia sakit; tapi aku tetap menjenguknya dan merawatnya.

“Lagipula, kau yang menularkan Apollo padaku,” cetusku.

“Maaf.” Ucapannya terdengar berat dan tak serius.

Aku bisa mendegar suara ibuku. Aku kesal mereka sudah kembali begitu cepat. Waktuku dengan Raphael jadi terpotong singkat, dan aku merasakan ada keretakan besar dalam persahabatan kami.

“Kau mau menyantap pisang atau ubi?” tanya Raphael dengan nada datar, sama sekali tidak berusaha untuk menenangkanku. Mataku terasa panas lagi. Ia menaiki anak tangga. Aku bergerak menjauh darinya, terlalu cepat, ke tepi beranda, hingga sendal jepit yang kukenakan bergeser di bawah kakiku. Kehilangan keseimbangan, aku terjatuh. Aku mendarat dengan kedua tangan dan lutut menahan tubuhku. Berat tubuhku sendiri mengejutkanku, dan aku merasakan airmata itu turun deras di wajahku sebelum aku sempat menghentikannya. Malu, aku tak bergerak.

Orangtuaku segera menghampiriku.

“Okenwa!” teriak ayahku.

Aku tetap berbaring di lantai, sebentuk kerikil menusuk lututku. “Raphael mendorongku sampai jatuh.”

“Apa?” Kata orangtuaku di saat bersamaan, dalam bahasa Inggris. “Apa?”

Masih ada waktu sebenarnya. Sebelum ayahku memutar tubuhnya ke arah Raphael, dan sebelum ibuku mengangkat tangan seolah hendak menamparnya, dan sebelum ibuku akhirnya memerintahnya untuk segera membereskan barang-barangnya dan angkat kaki dari rumah kami — masih ada sedikit waktu. Aku masih bisa menjelaskan. Aku masih bisa mengisi kekosongan itu. Aku masih bisa meralat ucapanku dan mengatakan bahwa itu hanya kecelakaan. Aku masih bisa menarik kebohonganku dan membiarkan orangtuaku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. FL

2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Chimamanda Ngozi Adichie. Tidak untuk dijual, ditukar ataupun digandakan.


#CATATAN:

> Kisah ini berjudul Apollo karya CHIMAMANDA NGOZI ADICHIE dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2015 di The New Yorker.

>> CHIMAMANDA NGOZI ADICHIE adalah penulis asal Nigeria yang telah memenangkan sejumlah penghargaan. Di antara karya-karyanya: Half a Yellow Sun, Americanah dan The Thing Around Your Neck.

Empat Ratus Tahun Cerita Lelaki

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Setelah memahami, Jakarta diciptakan untuk orang-orang yang sudah bosan hidup, sambil mengagumi kendaraan yang lalu lalang, asap-asap yang keluar dari knalpot, dan langit yang tak pernah lebih biru dari lautan, ia akhirnya bertemu Teruna.

Gadis itu keluar dari taksi, memakai baju terusan rendah di bagian bawah berwarna merah marun, tersenyum, lalu bertanya, “Sudah menunggu lama?”

Bakda mendarat di Soetta tadi, ia diminta untuk menemui Teruna. “Naiklah Damri jurusan Lebak Bulus, lalu turunlah di Slipi Petamburan.” Teruna mengirimkan pesan singkat.

Yang Teruna tidak ketahui ialah, ia sudah hidup selama lebih dari 400 tahun dan menyepi di daerah-daerah berpenduduk sedikit, menyaksikan orang lahir dan mati, perang dan perdamaian, tetapi ia tidak pernah bosan menunggu untuk jatuh cinta, seperti yang diramalkan Onang Sadino, Pak Tua yang mengaku bisa membaca garis tangan dan membuka lapaknya di pasar Brang Biji beberapa tahun lalu, “Sebelum waktumu berakhir Nak, kau pasti akan jatuh cinta, dan laki-laki sejati hanya jatuh cinta satu kali seumur hidupnya.”
“Apa kamu lelah?” Teruna mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Aku hanya tidak terbiasa dengan keramaian.” Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas, mengeluarkan botol air minum yang isinya tinggal sedikit, meneguknya, lalu menatap Teruna, “Arsenal pernah punya kostum berwarna merah marun. Konon, itu warna kehidupan.”

Teruna memegang tangan lelaki itu dan berkata, “Aku merasa jauh lebih hidup saat kamu ada di sampingku sekarang ketimbang aku memakai pakaian ini.”
Baru semalam ia berangkat dari Sumbawa, menyisiri garis pantai sampai Poto Tano. Malam itu, ombak di selat Alas tidak begitu bersahabat. Barangkali ada seseorang yang telah meninggalkannya ketika bermain ayunan. Jadi diombang-ambingkannya kapal laut tua itu, sambil mengingat tragedi kapal tua Munawar yang tenggelam beberapa bulan sebelumnya. Ia bisa saja berteleportasi. Tapi jangkauan teleportasinya hanya sekitar 100km. Ia khawatir kemunculannya yang tiba-tiba, dan kadangkala tidak dapat ia kontrol, akan membuat kehebohan bila mana ada saksi mata yang menyaksikannya. Toh, ia sudah ingin hidup sebagai manusia biasa. Kemampuan khususnya ingin ia tenggelamkan.
Gadis itu, meski ia tak yakin apakah Teruna masih seorang gadis, bilang telah jatuh cinta kepadanya, tanpa pernah bertemu sebelumnya.

“Bisakah kita merindukan seseorang yang belum kita temui sebelumnya?” tanya lelaki itu.
Tapi sebelum kita berlanjut menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian ke peristiwa lain yang inshaallah masih saling berkaitan, sebagai selingan.
Arsenal baru kalah dari Bayern Munich malam itu. Ia seorang pencinta Arsenal. Kekalahan itu membuatnya galau. Hari itu ia pergi ke Tanjung Menangis. Di sana memang lokasi terbaik untuk memancing.
Saya kebetulan sedang berkemah di Ai Loang, dan bakda Subuh memutuskan untuk menaiki perahu, sendirian. Pagi-pagi begini ombak relatif tenang. Pulau Moyo yang tersohor terlihat dari kejauhan. Dibelai angin yang lembut, saya membayangkan kekasih. Perahu pelan-pelan menjauh dari daratan. Sebatang pohon yang tumbuh sendiri agak jauh dari bibir pantai tampak kesepian.
Ketika menoleh ke arah sebaliknya, di Tanjung Menangis itu, saya menyaksikan sosok itu, ia, sedang memancing. Meski cahaya masih sangat sedikit, dan matahari yang biasa akan terlihat terbit sangat sempurna masih mencoba membukakan mata, saya katakan dengan pasti, ikan-ikan tampak lompat-melompat di sekitar kailnya.
Pada hari itulah kami berkenalan, tapi ia tak mau menyebutkan nama.
Baru berjabat tangan, ia bertanya, “Hal apakah kiranya yang paling tidak kamu percayai di dunia ini, Kawan?”
“Tuhan. Dan pemandangan yang baru saja saya lihat. Bagaimana mungkin ikan-ikan itu seperti minta dipancing?”
“Banyak hal yang belum kita tahu, dan kita cenderung tidak mempercayai hal yang tidak kita ketahui.” Ia masih memegangi pancingnya, memandang lurus ke depan lalu kembali berkata, “Apa kamu akan percaya jika kukatakan aku telah hidup selama lebih dari 400 tahun di dunia ini?”
Saya terhenyak mendengar ucapannya. Ikan-ikan melompat lebih tinggi. Cahaya kuning pertama dari matahari terbit sampai di permukaan lautan. “Tidak mungkin, kecuali engkau Khidir.” Saya menyangsikan.
“Kau asli Tanah Samawa?” Ia menanyakan pertanyaan lain.
“Oh, bukan. Saya baru tiga tahun dimutasikan ke sini.”
“Apa kamu percaya yang namanya kesetiaan?” Pertanyaannya semakin mendalam
“Apa ini soal perempuan?” Saya balik bertanya.
Dia pun menarik pancingnya. Seekor baronang batu yang lebih besar dari telapak tangan tampak menggeliat di ujung kail. Ikan berwarna hitam itu akan terasa enak bila dibakar dengan cara yang tepat.
“Dulu, ada seorang gadis. Dia mengejarku sampai ke tanjung ini. Ah, tidak berhenti sampai di sini, ia terus mengejarku sampai ke sana,” ucapnya sambil menunjuk lautan. Matanya berkaca-kaca. Saya tahu dia sedang sedih menceritakan kisah yang tampak janggal itu. Tapi kalian harus tahu, segala hal yang tak masuk akal, di hadapan cinta, segala hal itu pula dapat diterima. “Aku tidak tahu kalau dia akan mati dengan cara seperti itu. Aku bahkan masih mengingat wajahnya yang sendu, yang meneriakkan namaku ketika perahuku mulai menjauh. Aku pikir, itulah kematian pertama yang aku saksikan di dunia ini, Kawan.”
“Nama? Engkau punya nama?”
“Aku tidak punya nama. Tapi dulu aku dipanggil Daeng Ujung Pandang.”
“Saya seperti pernah mendengar kisah ini.”
“Kalau kamu asli tanah Samawa, pasti kisah ini akrab di telingamu.”
Kalimat terakhirnya tenggelam begitu saja. Saya memang sering tidak mau tahu dengan cerita-cerita di Sumbawa. Sebab menjadi karib dengan tanah ini, akan membuatmu semakin betah berada di sini. Saya sendiri ingin cepat-cepat pindah.
Selain tidak tahu nama, saya juga tidak tahu tempat tinggal lelaki itu. Tapi setiap kali pergi memancing, di mana pun, di Mamak, di Batu Bulan, di Empang atau sampai di Teluk Santong sekalian, saya selalu bertemu dengannya. Sampai kami sedemikian akrab. Sampai saya mau tidak mau percaya dengan kisah-kisah yang diceritakannya.

~

Kembali ke Teruna, saya mengenalnya di media sosial. Ia seorang gadis yang tangguh. Saya pikir semua gadis yang hidup di Jakarta adalah gadis yang tangguh. Siapa yang bisa tahan bila setiap pagi tak melihat burung-burung bertengger di atas pagar, embun di atas daun, dan duka-luka yang tertumpuk seharian harus dicoreng-morengi asap kendaraan yang penuh timbal.
Ia tersentak ketika melihat profil Teruna di tablet saya. Gadis mungil berambut panjang itu begitu menarik perhatiannya. “Aku sudah hidup selama 400 tahun lebih, tapi baru kali ini aku menemukan wajah seseorang yang mirip dengan wajah sang putri.”
“Max Galuppo saja pernah menemukan lukisan dirinya, persis dirinya di Philadelpia Museum of Art tanpa mengakui ia tidak pernah dilukis oleh seorang pun. Menariknya, lukisan yang diberi judul Portrait of a Nobleman with Dueling Gauntlet itu dibuat pada tahun 1562 di Italia.”
“Jadi apa reinkarnasi itu ada?”
“Ada 7 not dasar. Dari ketujuh not dasar itu, jutaan lagu tercipta. Dari jutaan lagu itu, kalau ada yang mirip atau nyaris sama persis adalah hal yang mungkin. Baru-baru ini Katy Perry dibilang menjiplak Nike Ardilla. Saya pikir itu hanya kebetulan. Genetika juga seperti itu. Entah sudah berapa miliar manusia ada di muka bumi. Jadi bila ada kesamaan, pengulangan genetika, itu suatu kewajaran.”
“Aku belajar sesuatu darimu, Kawan. Ternyata kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, termasuk dari manusia seumur jagung.” Ia menjawab lalu tertawa terbahak-bahak.
Saya suka iri melihat perawakannya yang relatif sempurna. Kulitnya secarah buah pir. Giginya putih bersih. Rambutnya hitam dan tebal. Hidup lebih dari 400 tahun tak membuatnya menjadi tambun.
Saya tidak tahu apa rencananya terhadap Teruna ketika sekitar pukul delapan pagi WITA, ia mengirimi aku pesan singkat, “Kawan, aku baru mendarat di Soetta. Sebentar lagi aku akan bertemu Teruna.”

~

Lalu dimulailah cerita ini. Ia sedang berada di taksi bersama Teruna menuju kawasan Palmerah. Teruna mengajaknya singgah di kosnya. Saya tidak mau mengajak kalian membayangkan hal yang akan terjadi di antara laki-laki dan perempuan bila berada di ruang yang hanya ada tembok dan atap, berdua saja, lalu tirai ditutup sehingga sulit bagi satuan cahaya terkecil sekali pun untuk mengintip.
Ia tidak mengabari saya apa pun. Hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan memancing di Kencana. Bila beruntung akan ada anak-anak perempuan mandi di pantai. Menyegarkan bila Tuhan memberikan kesempatan untuk cuci mata barang sejenak di sana.
Saya tidak mengerti makna kesetiaan. Matahari yang terbit dari timur ke barat itu juga konon akan terbit dari barat ke timur. Bulan yang melayang di langit malam tidak utuh sepanjang hari. Selamanya—apa ada kata selamanya, dan seberapa jauh?
Baru menjelang malam hari, ia mengirim pesan, “Malam ini, Chelsea akan menjamu Arsenal. Aku akan berada di kereta, tolong kabari aku perkembangan skornya ya.”
Kami berdua sama-sama pencinta Arsenal dan saya tidak penasaran terhadap jawaban yang ia dapatkan dari pertemuannya dengan Teruna. Siapa yang tahu bila malam itu, Arsenal harus kalah enam gol tanpa balas dan kereta yang ia naiki berada di atas rel yang tak memiliki ujung?
Barangkali hanya kalian saja yang penasaran bagaimana sejatinya kisah ini harus diakhiri dan saya yang tak mengerti perasaan saya bahkan sejak cerita ini dimulai.

Lomba Menulis Cerita| Fiction Writing Competition Inspired by Classical Novel

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Indonesia Book Club (NulisBuku.com, ZettaMedia.id dan Storial.co) dan PT. Telkom Indonesia kembali bekerja sama mengadakan kegiatan literasi dalam misi membangun kembali minat baca dan membantu mencerdaskan masyarakat. Kali ini, kegiatan literasi yang kami lakukan berupa kompetisi menulis cerita fiksi yang terinspirasi dari novel klasik terbitan Balai Pustaka atau “Fiction Writing Competition Inspired by Classical Novel”, yang akan berlangsung selama bulan Agustus hingga Oktober 2016.

Ketentuan umum kompetisinya sangat mudah, yakni kamu harus membaca novel klasik terbitan Balai Pustaka terlebih dahulu. Novel klasik tersebut dapat kamu baca melalui Pustaka Digital atau PaDi.
PaDi adalah program implementasi dari pencanangan 1000 Digital Learning Corner yang direalisasikan dalam bentuk kumpulan Pustaka Digital (eBook) gratis yang terdapat pada perangkat (dekstop atau gadget) PaDi di lokasi Plasa Telkom, WiFi Corner Telkom, dan Grapari Telkomsel tertentu. Program PaDi hingga saat ini dapat diakses di Plasa Telkom tertentu (cek ketersediaan PaDi di kotamu di link berikut http://www.telkom.co.id/pustaka-digital.html) dan lokasi masih akan terus bertambah.

Untuk kompetisi ini, kami menyiapkan hadiah total uang tunai senilai Rp. 50.000.000,-* untuk 5 orang pemenang.

Juara #1: Rp15.000.000
Juara #2: Rp12.500.000
Juara #3: Rp10.000.000
Juara #4: Rp7.500.000
Juara #5: Rp5.000.000

*Pajak hadiah ditanggung pemenang!

Syarat dan ketentuan Fiction Writing Competition:
Akses PaDi di Plasa Telkom, WiFi Corner Telkom, dan Grapari Telkomsel tertentu.
Jika kesulitan mengakses PaDi, kamu bisa membacanya melalui www.qbaca.com atau melalui aplikasi QBaca di smartphonemu.
Pilih dan baca 1 buku (novel klasik terbitan Balai Pustaka).
Tulisan harus berupa cerita fiksi.
Tulisan tidak boleh mengandung SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).
Harus asli karya peserta dan ditulis oleh penulis tunggal (satu cerita hanya ditulis oleh satu penulis).
Tulisan yang disubmit belum pernah disubmit ke platform menulis lain, juga tidak sedang diikutkan dalam kompetisi mana pun. Dan selama kompetisi berlangsung, peserta dilarang mengunggah cerita tersebut ke platform menulis mana pun.
Setelah submit tulisan, peserta wajib tweet “Aku ikutan Fiction Writing Competition #PustakaDigital @TelkomIndonesia @StorialCo lho! Baca karyaku di www.storial.co/tags/padifiksi #PADIFiksi”

Periode kompetisi: 17 Agustus – 7 Okober 2016.
Tulisan ditunggu paling lambat tanggal 7 Oktober 2016, pukul 23.59.
Tulisan ini akan dibaca oleh para juri dan hasil keputusannya diumumkan pada tanggal 31 Oktober 2016.
Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
Ketentuan teknis submit tulisan di www.storial.co:

Peserta boleh mengikutsertakan lebih dari satu cerita asal dimuat dan diterbitkan dalam BUKU yang berbeda.
Tulisan harus ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan panjang tulisan 1.000 – 10.000 kata. Boleh dibuat dalam beberapa BAB, panjang tulisan dalam satu bab maksimal 2.000 kata.
Judul: Gunakan judul dalam bahasa Indonesia yang baik.
Kategori: Cerita Pendek.

Keterangan Buku:
1. Isi kolom Keterangan Buku dengan sinopsis, teks pernyataan dan biodata singkat penulis (panjang isi kolom Keterangan Buku maksimal 300 kata).
2. Awali sinopsis dengan teks pernyataan berikut “Karya ini terinspirasi dari [Judul Novel] karya [Penulis Novel] terbitan Balai Pustaka yang diikutsertakan dalam Fiction Writing Competition Inspired by Classical Novel yang diselenggarakan oleh Indonesia Book Club dan Telkom Indonesia. Dan saya menyatakan bahwa karya ini hanya diunggah di www.storial.co. ”
3. Sertakan biodata singkat penulis:
3a. Nama Lengkap
3b. Nama Pena (optional)
3c. Tempat & Tanggal Lahir
3d. Domisili (Mis: Jakarta/Surabaya/Bandung)
3e. Akun Twitter
Kata kunci: PADIFIKSI
Contoh Buku Padi Fiksi dapat kalian lihat di link berikut http://www.storial.co/book/contoh-buku-padi-fiksi
@
Jika ada pertanyaan mengenai Fiction Writing Competition silakan email ke indobookclub@gmail.com yah!
Subjek email: Fiction Writing Competition
Format email: Nama + No.HP + Pertanyaan
Selamat membaca dan berkarya

Kopi Columbus

Published / by Pringadi As / 5 Comments on Kopi Columbus

“Apa kau percaya kalau bumi itu bulat?”
“Kalau tidak bulat, tidak mungkin ‘kan Columbus dapat mengelilingi dunia?”
“Kau masih percaya Columbus?”
“Setidaknya aku lebih percaya dia daripada percaya kamu!”

Teruna menundukkan kepalanya setelah mengatakan kalimat itu. Ia memasukkan gula berbentuk kubus ke dalam kopinya. Ini sudah kubus gula yang kedua. Aku tak dapat membayangkan seperti apa manisnya kopi yang ada di hadapannya.

“Semua lelaki adalah pembohong,” ujar Teruna lagi.

Aku tak ingin mendengar kalimat itu. Teruna tak sadar, aku juga lelaki. Jika semua lelaki adalah pembohong, berarti aku juga pembohong.

Entah masalah apa yang mendera Teruna. Dia tiba-tiba mengajakku untuk minum kopi di Sabang. Aku sendiri cukup sering ke Sabang. Malam setelah bom meledak di Sarinah, aku juga ke Sabang untuk makan malam. Namun, baru kali ini aku ke Sabang untuk minum kopi. Aku sendiri tak begitu suka kopi.

Lain halnya dengan Teruna. Perempuan di depanku ini memang suka sekali kopi. Minggu lalu dia mendapatkan tugas meliput ke Sumbawa. Dia pergi ke desa terpencil di sana. Dan sempat-sempatnya dia meneleponku malam-malam hanya untuk bilang kopi di Tepal nikmat sekali.

Jangankan nikmatnya kopi, Tepal itu apa aku tak tahu.

Teruna pun bersemangat menceritakan keindahan Tepal, salah satu desa di puncak bukit di Sumbawa. Mulai udaranya yang dingin, keberuntungan melihat kuda liar dengan surai laiknya yang terlihat di iklan rokok di televisi, sampai malam-malam tanpa listrik. “Kopi tepal itu terkenal tahu di Nusa Tenggara. Orang-orang Mataram juga mengakui kalau kopi Tepal paling nikmat,” Teruna berapi-api menjelaskan melalui telepon. “Kamu tahu, K, ada 500 ha lebih lahan kopi di sini. Kopi hutan. Alami. Arabica dan Robusta tumbuh di sini. Dan kamu tahu apa yang lebih spesial lagi?”
Aku menggeleng mendengarkan kalimat demi kalimat Teruna.

“Di sini banyak luwak. Kamu harus mencoba kopi luwak!”
“Sudah ‘kan?”
“Apa? Kopi luwak sachetan?”

Teruna pandai meledekku. Dia tahu paling-paling aku minum kopi bungkusan. Mudah dan sederhana bikinnya. Dia sering menceramahi aku kalau kopi macam itu tidak ada cita rasanya. Perlakuan pada cara memetik daun kopi saja bisa memberi cita rasa yang berbeda. Begitu juga dengan pembuatan kopi. Salah urutan penuangan air panas saja rasa kopi bisa rusak.

“Ada perpaduan pahit, manis dan gurih yang terasa pas di lidah. Tingkat kepahitannya lebih terasa dan agak masam. Salah satu rahasianya adalah dengan menyangrai biji kopi kering di atas pasir panas. Biji kopi dimasak tidak bersinggungan langsung dengan wadah. Itulah tradisi yang hingga kini masih berlaku di Tepal. Selain itu masyarakat Tepal biasanya mencampurkan kopi dengan bonggol jagung atau beras sangrai. Tujuannya menambah rasa gurih maupun aroma pada kopi sekaligus mencegah penikmat kopi terkena penyakit maag. Gila kan?”

Belum sempat aku merespon, telepon itu mati mendadak. Aku hubungi dia lagi, suara operator mengatakan telepon yang kutuju tak bisa kuhubungi. Besoknya Teruna baru mengirim pesan, semalam listrik padam. Ketika listrik padam, sinyal pun otomatis ikut menghilang.

Sungguh, aku sama sekali tak mengerti segala hal yang dia bicarakan. Meskipun begitu, aku mendengarkannya. Menyimak antusiasme Teruna terasa menyenangkan. Barangkali itu yang menjadi salah satu alasan mengapa aku selalu betah menemani Teruna kapan dan kemana pun ia mengajakku bertemu.

Hari ini berbeda. Aku pikir sekembalinya dari Sumbawa, dia akan membagi banyak kisah lain. Tetapi, dia malah diam saja, menatap kopi yang dipesannya, memasukkan gula dan mengaduknya dengan pelan.

“Apa kau percaya kalau bumi itu bulat?” Aku mencoba mencairkan suasana dengan membawa topik yang kembali booming baru-baru ini. Munculnya Flat Earth Society bukan hal baru. Mereka meyakini bumi ini datar dengan kubah raksasa. Tidak ada hukum gravitasi. Yang ada bumi bergerak ke atas dengan kecepatan tertentu sehingga sebuah apel jatuh bukan karena
gravitasi, melainkan bumi yang menangkap apel tersebut.

Bumi datar dimulai dengan penafsiran buta pada kitab suci. Dan sekian puluh tahun, hal ini tidak menghebohkan. Namun, pendapat ini jadi heboh di media sosial. Memang benar, sekarang ada yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, yakni merebaknya kebodohan di media sosial.

“Tak biasanya kamu minum kopi pakai gula,” ujarku.
“Pahit, K.”
“Kopinya?”
Teruna menggeleng. “Aku. Hidupku, K.”
“Kenapa hidupmu? Ada masalah?”
“Kamu pasti tidak tahu kan kalau arabica dan robusta itu butuh penanganan yang berbeda? Kamu juga tidak akan mengerti kalau setiap perempuan juga butuh ditangani dengan cara yang berbeda-beda.”
“Bagaimana caraku bisa mengerti kalau tidak dijelaskan?”
“Robusta itu kalau masak akan berwarna merah dan tetap menempel ke batang. Aku tidak seperti itu.”
“Jadi?”
“Sementara Arabica mudah rontok, jatuh ke tanah. Kopi yang jatuh ke tanah akan akan punya bau yang tak sedap. Mutu kopinya turun.” Teruna hening sejenak. “Aku sedang jatuh cinta, K. Tapi aku tak tahu cinta yang seperti apa….”
Deg! Rasanya ada palu yang dihantamkan ke jantungku. Aku juga jatuh cinta kepadamu, Teruna. Sudah lama sekali.
“Kami bertemu di selat Alas. Wajahnya secerah buah pir.”
Lalu kutulikan telingaku pada segala hal mengenai pria yang ditemuinya itu.
“K… aku harus bagaimana?” tanya Teruna.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seorang Teruna menganggap jatuh cinta adalah hal yang buruk. Ketika kutanya kenapa suka kopi, sejak kapan, Teruna berkata ketika ia memutuskan untuk tak jatuh cinta lagi pada pria. Ia pernah bilang tak mau jatuh cinta lagi setelah ayahnya meninggalkan ibunya demi perempuan lain. Kopi membuatnya melupakan segala kepahitan hidup.

Kini, ia bilang telah jatuh cinta dan ia merasa seperti biji kopi yang jatuh ke tanah, kehilangan segala yang telah diyakininya selama ini. Di satu sisi, aku merasa baguslah kalau Teruna merasakan cinta kembali meski bukan padaku. Aku baginya mungkin hanya seperti lini masa di Twitter. Ia bebas menumpahkan segalanya.

“Dia seperti apa?” tanyaku.
“Seperti Columbus mungkin…”
“Haha… apa itu berarti dia mendapatkan ketenaran yang seharusnya bukan miliknya?”
“Maksudmu?”
“Apa kau masih percaya Columbuslah yang pertama kali mengelilingi dunia? Dia yang pertama sampai di Amerika?”
“Di buku begitu.”
“Cheng Ho ditengarai telah membuat peta dunia jauh sebelum Columbus berlayar.”
“Yah, sejarah kan memang memiliki berbagai versi, tergantung mana yang ingin kita percayai. Kamu tidak bisa mengatakan salah satu versi yang memang benar. Kamu hanya boleh mengatakan kamu percaya…kamu membenarkan salah satu versi itu.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Teruna. “Begitu juga yang kau alami, Teruna.”
“Aku tidak paham, K.”
“Apa yang kamu khawatirkan? Jatuh cinta yang kau rasakan, atau bagaimana dia…semua adalah ketidakpastian. Kamu hanya perlu meyakini satu hal… membenarkan yang kamu rasakan.”
“Masalahnya adalah—“
“Ssttt…” aku memotong ucapan Teruna. “Aku tidak suka kopi. Bagiku kopi pahit. Tapi bagimu berbeda bukan?”
“Dengarkan aku dulu, K!”
“Baiklah.”

Teruna menyeruput kopinya lagi. “Kamu tahu kenapa aku menambahkan banyak gula di gelas kopiku malam ini?”
Aku menggeleng. “Tadi… hidupmu pahit.”
“Alasan lainnya, aku ingin tahu apa rasanya kopi bila ditambahkan gula.”
“Buruk?”
Teruna meringis. “Buruk.”
“Aku juga pernah mencoba memindahkan jam tangan di tangan kananku ke tangan kiriku. Ganjil rasanya.”
“Tidak mudah ya, mencoba untuk melakukan sesuatu yang berbeda itu….”
“Lalu kamu tidak ingin mencoba menjalani cinta yang kini kau rasakan?”
“Aku ragu.”
“Ragu?”
“Karena itu aku mau bertemu kamu, K… yakinkan aku….”
“Sulit.”
“Sulit?”
“Katamu semua lelaki adalah pembohong. Setidaknya mulailah dengan mengganti kalimat itu.”
“Dengan?”
“Sebagian besar lelaki adalah pembohong.”
“Haha… kamu bisa saja.”
“Iyalah… jadi aku ini pembohong atau aku bukan laki-laki? Kok bisa-bisanya kamu minta aku yang meyakinkanmu…percaya sama pembohong?” ledekku kepadanya.

Teruna tertawa terbahak-bahak mendengar kalimatku. Dia minum kopinya. Kali ini sampai habis tak bersisa. “Kopi ini lucu. Persis kamu.”

Menyaksikan Teruna yang tertawa membuatku lega. Ia kembali menunjukkan dirinya yang biasanya. Sosok yang ceria dan bersemangat.

Namun, tiba-tiba tawa Teruna terhenti. Ia menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, menatap padaku dengan serius.
“Hei K, aku tahu kamu juga seorang pembohong yang ulung. Sejauh aku berkenalan dengan lelaki, kamu adalah lelaki yang paling pandai membohongi dirimu sendiri.”

Setelah mengatakan itu, Teruna mengalihkan pandangannya ke badan jalan. Kendaraan-kendaraan masih ramai berseliweran. Ia tak membiarkanku berkomentar pada kalimatnya barusan dan membiarkan diri tenggelam dalam lamunan panjang.
Sementara itu, di langit bulan bulat penuh mengambang. Dan kubayangkan jika memang benar bulan tidak sejauh itu, hanya sejenis bola lampu yang menggantung seperti yang diyakini flat earth society.

(2016)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Macondo, Melankolia

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Cerpen Pringadi Abdi Surya, Suara Merdeka 21 November 2010

“ALINA, tolong aku!”

“Kamu di mana sekarang?”

“Di kartu pos.”

“Kartu pos?”

“Iya, aku terkurung di dalam kartu pos.”

“Sontoloyo!”

Begitulah, Alina tidak percaya aku berada di dalam kartu pos. Seorang pria berkaca mata hitam dan bertopi khas koboi tiba-tiba menarik kerah bajuku sebelum memukul mataku—dengan tenaga yang cukup untuk meninggalkan lebam—lalu mendorongku masuk ke dalam kartu pos. Beruntung, setelah beberapa menit aku terpekur di dalam, memandangi lanskap kota tua yang sepertinya tak berpenghuni, kafe-kafe yang lengang, gerobak buah yang ditinggalkan, dan sobekan koran minggu yang terbang ditiup angin, aku sadar aku membawa handphone dan meski sisa pulsanya tidak cukup buat menelepon, masih ada sisa bonus SMS harian. Dan satu-satunya yang kupikirkan (dan berada dalam pikiranku) cuma Alina. Karena itulah aku mengirim pesan singkat kepadanya.

Beberapa saat yang lalu, aku berjanji untuk bertemu Alina di Kota X. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai kota X dari kota K. Aku sengaja berangkat lebih cepat karena hari ini aku tidak boleh terlambat. Tiga tahun sudah kami berpacaran dan memang hubungan kami cukup bermasalah dengan janji. Biasanya aku yang terlambat. Dan Alina akan menyambutku dengan muka yang cemberut dan kalimat-kalimat kemarahan yang biasanya bisa kuredakan dengan setangkai bunga, sebuah cincin, atau tingkah-tingkah lucu yang kulakukan dengan spontan seperti tiba-tiba naik ke meja lalu mengatakan cinta, atau maju ke area pemain band kafe dan mengambil gitar, menyanyikan lagu yang romantis untuk membuat hatinya luluh. Tetapi entahlah kali ini, sebuah mobil yang dikendarai ugal-ugalan di belakangku tiba-tiba menabrakku sampai mobilku terpental beberapa meter. Beruntung aku tidak apa-apa dan keluar dengan payah. Belum sempat aku meminta pertanggungjawaban, orang itu melakukan apa yang kujelaskan sebelumnya—mengurung aku di dalam kartu pos! Padahal hari ini aku mau melamar Alina dan waktu sudah mulai melewati pukul yang dijanjikan.

***

SELAMAT datang di Macondo [1], di kota yang tak pernah mengubah Anda menjadi tua, di kota yang segalanya tampak serba luar biasa, burung-burung tak pernah berhenti terbang, semua anak bermain layang-layang, dan tak pernah ada pintu gerbang—semua bebas datang atau pergi atau kembali!

Padahal pemandangan ini tampak seperti kota mati. Seperti habis terkena anima [2]—semua penduduknya diserap ke langit! Kota mati yang kutahu, selain Gunkanjima (sebenarnya bernama asli Hashima, tapi perawakannya yang seperti kapal perang itu membuatnya dinamakan demikian), memang rata-rata lahir dari pertambangan yang usai atau hubungan antarmanusianya yang masai. Mungkinlah, jika aku bertengkar dengan Alina (dalam sebuah pertengkaran akibat perselingkuhan—alasan satu ini memang tidak termaafkan), kekisruhannya akan menyaingi Tarakan yang seketika bisa membuat toko-toko tutup dan sekolah diliburkan.

Sobekan kertas koran yang tertiup angin itu mendadak berhenti tepat di depan kakiku. Aku menunduk dan dari posisi ruku’ kutengadahkan kepala mengikuti arah jalan. Pikiranku menebak-nebak ke mana jalan ini menuju. Berharap ada satu pintu jalan keluar yang akan mempertemukan kembali dengan Alina, ah, atau aku (kalau bisa) ingin menarik Alina ke dalam kota ini saja. Sepertinya akan jauh lebih romantis, berada di kota ini berdua dengan Alina, bahkan takkan malu-malu kuteriakkan cinta, memeluk dan menciuminya seolah-olah tidak akan pernah ada ciuman lagi setelahnya.

“Pikiran yang bodoh!”

Ya, memang pikiran yang bodoh.

“Kau tak akan bisa keluar dari sini.”

Seorang pria, dengan janggut keputihan dan kacamata baca yang tua sedang berjongkok di atas cerobong asap. Ia bercelana jins belel dan kaos putih kumal (yang kuduga bukan karena tak bisa mencuci, tapi memang airnya yang tak cukup bersih).

“Panggil aku Marquez.”

“Kau bisa membaca pikiranku?”

“Kau tidak sadar…kalau kau itu seperti sebuah halaman yang memberikan pembacaan utuh kepada pembaca.”

“Maksudmu?”

“Seratus tahun kesunyian…. Seratus tahun kesunyian adalah hukuman yang kau terima hari ini, dan nyaris empat ribu hari setelahnya.” Marquez tua menghela napas sebentar, “Dan tidak pernah ada malam.”

Bagaimana menghitung hari jika tak ada malam? Dan jika benar Macondo seperti yang tertera di papan jalan, kenapa Marquez tampak seperti lelaki tua yang payah?

“Aku tidak menua… Macondo tidak berbohong.”

Tapi aku tidak percaya.

***

TIGA tahun sudah kami berkenalan. Di sebuah resto sea food dengan harga terjangkau untuk anak muda, aku melihatnya duduk sendirian. Hari itu, ia mengenakan busana yang manis sekali. Kaos warna oranye yang agak ketat (dalam arti membikin bentuk tubuhnya terlihat cukup jelas) membuat kulit putihnya itu menjadi terlihat benar-benar putih. Rambutnya sebahu. Dan tangannya sedang asyik menekan keypad handphone. Elyasa, sahabatku, bilang kalau wanita sedang sendirian dan bermain handphone, itu artinya dia sedang menunggu seseorang dan jangan diganggu. Tapi, sebut namaku tiga kali (Sakum, Sakum, Sakum) dan segala urusan akan menjadi mudah!

“Sendirian?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Sakum.”

“Aku tidak bertanya.”

“Siapa yang kamu tunggu?”

“Seorang lelaki.”

Aku pikir dia bercanda dan kuberanikan menarik kursi untuk kududuki. Ya, cuma perlu sedikit keberanian untuk membuat cinta hadir dan dekat.

“Aku benar-benar sedang menunggu seorang lelaki.”

“Mungkin lelaki itu aku.”

Tiba-tiba Alina berdiri dan melenggang pergi.

Satu minggu kemudian, minggu yang tak pernah aku sangka-sangka dan sejak saat itulah aku yakin akan adanya jodoh, ikatan takdir, serendipity, atau apalah namanya, di antara kami. Dia sedang duduk di halte yang sama denganku, dan masih menggunakan kaos oranye—tentu dengan motif yang berbeda (sepertinya memang warna kesukaannya).

“Sedang menunggu lelaki?”

Dia menoleh.

“Kau menguntitku?”

Tidak.

“Tiga tujuh derajat celcius, dunia semakin panas ya, eh, aku belum tahu namamu.”

“Alina.”

“Dan menunggu lelaki?”

“Dia tidak pernah datang.”

Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi menurut Freud, dalam kondisi seperti ini tidak begitu baik untuk terus-menerus memberikan pertanyaan. Karena hal ini bisa dianggap sebagai desakan. Perempuan yang sedang sedih tidak suka merasa didesak. Perihal demikian malah membuat jarak.

“Dia mengirimiku kartu pos. Kami bertemu di dunia maya.”

Aduh, sebenarnya aku tak suka mendengar cerita klasik semacam ini. Seseorang berkenalan dengan seseorang yang lain di dunia maya, beberapa kali chatting, bertukar email, lalu jatuh cinta. Bah! Lelaki itu harus berani bertukar mata, dan sedikit kegilaan akan membuat kita dikenang. Minimal hadir dalam ingatan!

“Kau tahu namanya, alamatnya?”

Alina menggeleng. Dia menunjukkan kartu pos itu padaku. Tuan M. Kota M. Cinta adalah api yang terbakar tanpa sumbu. Hanya begitu isinya.

***

KALAU aku tidak terdampar di Macondo, entah sudah berapa lama aku di sini—jam tanganku tidak berfungsi, bersabar dan berharap ada burung-burung terbang yang dijanjikan, atau layang-layang putus, dan televisi menyala menyalakan channel-channel favoritku—yang tentu saja tidak didominasi sinetron, aku pasti sudah merasakan bibir Alina di bibirku (ya, jika beruntung bahkan kami bisa menghabiskan malam bersama di sebuah hotel bintang lima).

“Dasar laki-laki berpikiran kotor!”

Pada nyatanya, laki-laki yang mengaku bernama Marquez, yang sepertinya bisa membaca pikiran, dan tetap bersiul sendirian, duduk di kursi goyang dan membaca koran (entah sudah berapa kali dia membacanya), itulah satu-satunya mahkluk hidup yang bisa kulihat di sini. Lama-lama aku muak. Terlebih karena aku sama sekali tidak merasa lapar.

“Hei Sakum, kau tahu satu menit ada berapa detik?”

“Tentu, enam puluh. Anak kecil saja tahu.”

“Kalau satu tahun?”

“Ya, kalikan saja, 365 x 24 x 60 x 60!”

“Makanya kutanya kau…aku tak pandai berhitung.”

“31536000, jika bukan kabisat.”

“Sepertinya sudah waktunya.”

“Waktu?”

“Seratus tahun kesunyian, Sakum…seratus tahun kesunyian!”

Aku masih tidak mengerti.

“Kau mau menonton televisi bersamaku?”

Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Sebenarnya aku penasaran apakah televisi itu akan bisa memancarkan siaran sebab yang kutatap sampai sekarang hanyalah gambar semut hitam putih yang tidak pernah menampakkan sesuatu.

“Terima kasih, Kum….”

“Terima kasih?”

Bug! Marquez memukul tengkukku.

Aku pingsan.

Saat aku terbangun, Marquez sudah tak ada.

***

HANDPHONE-KU yang sepertinya belum kehabisan baterai tiba-tiba berbunyi. Beberapa pesan masuk dan mengabarkan telah ditambahkan pulsa lima puluh ribu. Satu pesan lain selain pesan-pesan dari provider itu bertuliskan “AKU BAIK KAN?”

Kubalas, “SIAPA?” Tapi tidak dibalas-balas juga. Kuhubungi, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Pikiranku kembali ke Alina.

“Sayang, syukurlah kau mengangkat teleponku.”

“Jadi, masih berada di dalam kartu pos?”

“Iya, entahlah, sudah berapa lama aku di dalam sini.”

“Kamu baru telat enam jam kok.”

Nadanya mengejek.

“Jadi di dalam kartu pos ada kios jual pulsa?”

“Lho, bukan kamu yang mengisikan aku pulsa?”

“Aku? Mimpi kamu….”

Seandainya memang benar ini mimpi.

“Kita putus saja ya.”

“Hah?”

“Iya, PUTUS!”

“Kita kan sudah tiga tahun pacaran, kamu tega?”

“OK, apa kamu ingat kapan kita kali pertama bertemu?”

“Ya, tiga tahun lalu.”

“Kamu ingat apa yang aku katakan di halte?”

“Namamu Alina….”

“Lalu?”

“Ah, sepertinya cuma itu….”

“Beberapa jam lalu ada yang meneleponku. Laki-laki tiga tahun lalu itu datang lagi, dia bilang ingin melamarku.”

“Laki-laki? Tiga tahun lalu?”

“Ya….”

“Kau menerimanya?”

“Tergantung bagaimana dia menyatakan cintanya nanti….”

“Kau sudah tahu namanya?”

“Ya, tadi dia bilang namanya Marquez.”

“Marquez?”

“Marquez dari Macondo….” (*)

(2010)

Catatan:

[1] Nama Kota yang digunakan Gabrial Garcia Marquez di novel Seratus Tahun Kesunyian

[2] Hiro Mashima, dalam Fairy Tale, energi dari kota di balik langit