Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: cerpen

Cerpen Haruki Murakami: Samsa Jatuh Cinta

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Cerpen Haruki Murakami: Samsa Jatuh Cinta

Oleh: Haruki Murakami, Penerjemah: Ted Gossen (Inggris), Arif Abdurahman (Indonesia)

Samsa In Love, Haruki Murakami

Dia terbangun, kemudian mendapati dirinya telah bermetamorfosis menjadi Gregor Samsa.

Masih terbaring telentang di kasur, dia melihat langit-langit. Butuh waktu bagi matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang begitu redup. Terlihat langit-langit yang biasa, hanya langit-langit pada umumnya. Dengan cat putih, atau mungkin krem pucat. Debu dan kotoran menahun telah membuat warnanya seperti tumpahan susu. Tak ada ornamen, tak ada karakteristik tertentu. Tak muncul argumen, maupun pesan yang bisa ditangkap. Ya, hanya seperti itu.

Terlihat hanya ada satu jendela tinggi di satu sisi kamar, di sebelah kiri, tapi gordennya telah dicopot dan diganti papan-papan tebal yang dipaku di bingkai untuk menutupi jendela tadi. Hanya menyisakan celah sekitar satu inci antara tiap papan yang dipasang melintang itu, memungkinkan sedikit sinar matahari pagi bisa merembes masuk, meninggalkan seberkas terang garis-garis tipis di lantai. Mengapa jendela ditutup rapat seperti itu? Apa bakal datang badai besar atau tornado sebentar lagi? Atau itu untuk menjaga agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk? Atau mencegah seseorang (dirinya, mungkin?) agar tidak kabur?

Masih berbaring, ia perlahan-lahan memutar kepalanya dan memeriksa seluruh ruangan. Dia tidak melihat furnitur apapun, selain kasur tempatnya berbaring. Tidak ada laci, tidak ada meja, tidak ada kursi. Tidak ada lukisan, jam, atau cermin di dinding. Tidak ada lampu atau cahaya. Dia juga tidak mendapati permadani atau karpet di lantai. Hanya kayu. Dinding ditutupi dengan wallpaper dari desain yang kompleks, begitu tua dan memudar, namun dengan cahaya yang minim tentu sulit untuk memastikan desain yang digunakan.

Ruangan itu mungkin pernah digunakan sebagai kamar tidur. Namun sekarang semua sisa kehidupan manusia nampaknya telah dibereskan. Satu-satunya hal yang tersisa adalah kasur di tengah. Itu pun hanya kasur, tanpa seprei, tidak ada selimut, tidak ada bantal. Hanya kasur kuno.

Samsa tidak tahu sedang berada dimana, atau apa yang harus dia lakukan. Yang dia tahu adalah bahwa ia sekarang seorang manusia yang bernama Gregor Samsa. Dan bagaimana dia tahu itu? Mungkin seseorang telah berbisik di telinganya sementara ia berbaring tidur? Tapi apa yang terjadi padanya sebelum menjadi Gregor Samsa? Apa yang telah terjadi?

Saat ia mulai mencari jawaban akan beragam pertanyaan itu, sesuatu seperti serombongan hitam nyamuk terbang berputar-putar di kepalanya. Gerombolan itu tumbuh makin tebal dan berjejalan karena pindah ke bagian otaknya yang lebih lembut, dengan terus berdengung. Samsa memutuskan untuk berhenti berpikir. Mencoba memikirkan apapun saat ini hanya jadi beban, membuatnya pusing saja.

Setidaknya ia harus belajar untuk menggerakkan tubuhnya. Dia tidak bisa hanya berbaring menatap langit-langit selamanya. Posturnya saat ini terlalu rentan. Ia tidak punya kesempatan untuk menghindar dari sebuah serangan – dari burung pemangsa misalnya. Sebagai langkah pertama, ia mencoba untuk menggerakan jari-jarinya. Ada sepuluh jari, yang menempel di kedua tangannya. Masing-masing dilengkapi dengan sejumlah sendi, yang membuat sinkronisasi gerakan sangat rumit. Parahnya, tubuhnya ini serasa mati rasa, seolah-olah ada rendaman cairan berat yang lengket, sehingga sulit untuk menyalurkan kekuatan bagi kaki dan tangannya.

Akhirnya, setelah berulang kali mencoba dan gagal, dengan menutup mata dan memfokuskan pikirannya ia berhasil juga mengendalikan jari-jarinya. Sedikit demi sedikit, ia belajar menggunakan jari-jari itu agar bekerja bersama-sama. Semakin lihai mengoperasikan jari-jarinya, mati rasa yang menyelimuti tubuhnya mulai mengendur. Seperti karang gelap dan menyeramkan yang terungkap karena mundurnya air pasang, sekarang datang rasa sakit yang luar biasa.

Butuh beberapa saat sampai Samsa menyadari bahwa rasa sakit itu adalah rasa lapar. Keinginan untuk mendapat makanan ini sesuatu yang baru baginya, atau setidaknya dia tidak ingat pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Rasanya seperti ia tidak mendapat makanan selama seminggu. Seolah-olah di tubuh bagian tengahnya sekarang kosong melompong. Tulangnya berderit; otot-ototnya mengepal; organnya mengejang.

Tidak dapat menahan rasa sakitnya lebih lama, Samsa menempatkan siku di kasur, kemudian secara perlahan mendorong tubuhnya. Ketika melakukan ini, tulang belakangnya menciptakan retakan yang lirih dan sedikit menyakitkan. Ya Tuhan, pikir Samsa, sudah berapa lama aku telah berbaring di sini? Tubuhnya protes setiap ia bergerak. Tapi dia terus berjuang, menyusun kekuatannya, sampai akhirnya, ia berhasil duduk.

Samsa menunduk cemas mendapati tubuhnya yang telanjang. Sungguh bentuk yang buruk! Bentuk yang sangat buruk. Tubuh ini tak memiliki alat pertahanan diri. Kulit putih mulus (ditutupi oleh rambut ala kadarnya) dengan pembuluh darah biru rapuh terlihat melalui itu; perut lunak yang tidak terlindungi; alat kelamin berbentuk aneh yang menggelikan; lengan dan kaki yang begitu kurus (hanya ada dua dari masing-masing!); leher yang gampang sekali patah; kepalanya besar dan cacat yang atasnya ditumbuhi jalinan rambut kaku; dua telinga terasa masuk akal, namun menonjol keluar seperti sepasang kerang. Apakah hal ini benar-benar dia? Mampukah tubuh tidak masuk akal seperti ini, yang begitu mudah dihancurkan (tidak ada cangkang untuk perlindungan, tidak ada senjata untuk menyerang) bisa bertahan hidup di dunia? Mengapa sih ia tidak berubah menjadi seekor ikan saja? Atau bunga matahari? Ikan atau bunga matahari nampaknya masuk akal. Lebih masuk akal, ketimbang tubuh manusia ini, Gregor Samsa.

Menguatkan diri, ia menurunkan kakinya di tepi tempat tidur sampai telapak kakinya menyentuh lantai. Dingin tak terduga dari kayu membuatnya terkesiap. Setelah beberapa kali percobaan, yang membuatnya terjatuh ke lantai, akhirnya ia mampu menyeimbangkan diri pada dua kakinya. Dia berdiri di sana, dengan memar dan rasa sakit, satu tangan menggenggam bingkai kasur sebagai pijakan. Kepalanya masih tak seimbang, berat dan sulit untuk menahan. Keringat mengalir dari ketiaknya, dan kemaluannya menyusut dari yang asalnya tegang. Dia harus mengambil beberapa napas dalam-dalam sebelum ototnya mulai rileks.

Setelah berhasil berdiri, ia harus belajar berjalan. Berjalan dengan dua kaki menjadi semacam siksaan, setiap gerakan menghasilkan rasa sakit. Dari sudut pandang manapun, dia berasumsi bahwa gerakan memajukan kaki kanan dan kaki kiri satu demi satu adalah proposisi aneh yang melanggar semua hukum alam, apalagi antara jarak matanya ke lantai membuatnya ngeri ketakutan. Dia juga harus belajar mengkoordinasikan pinggul dan lutut sendinya. Setiap kali ia mengambil langkah maju, lututnya bergetar, dan ia menopang dirinya ke dinding dengan kedua tangannya.

Ia tahu bahwa ia tidak bisa tetap berada di ruangan ini selamanya. Karena jika dia tidak menemukan makanan dengan cepat, perutnya yang lapar ini bakal memakan dagingnya sendiri, dan pasti ia akan mati.

***

Dia terhuyung ke arah pintu, mengais-ngais di dinding untuk sampai. Tampaknya ini menghabiskan berjam-jam lamanya, meskipun ia tidak memiliki cara untuk mengukur waktu, kecuali lewat rasa sakit yang terus bertambah. Gerakannya sangat aneh, dan selambat siput. Dia tidak bisa maju tanpa bersandar pada sesuatu untuk menopangnya.

Dia meraih gagang pintu dan menariknya. Namun pintu tidak terbuka. Dengan mendorong pun tak terjadi apa-apa. Berikutnya, ia terlebih dahulu memutar kenop ke kanan dan menarik pintu tersebut. Pintu terbuka setengah dengan menghasilkan bunyi berdecit. Dia melongokan kepalanya melalui celah terbuka tadi dan melihat keluar. Lorong itu kosong. Begitu sunyi setenang dasar lautan. Dia mengulurkan kaki kirinya melalui pintu, mengayunkan bagian atas tubuhnya keluar, dengan satu tangan berpegang di kusen pintu, dan kaki kanan mengikuti. Dia bergerak perlahan menyusuri koridor, tangan tetap berpegangan ke dinding.

Ada empat pintu di lorong itu, termasuk satu yang baru saja dilewati. Semua identik, dibuat dari kayu gelap yang sama. Apakah ada sesuatu, atau siapa, yang ada di dalamnya? Ia ingin membukanya dan mencari tahu. Mungkin dengan melakukannya, ia bakal mendapatkan pemahaman soal keadaan misterius yang menimpa dirinya ini. Setidaknya menemukan sebuah petunjuk. Namun demikian, ia melewati setiap pintu, sebisa mungkin tak membuat kebisingan sedikit pun. Kebutuhan untuk mengisi perut keroncongannya mengalahkan rasa ingin tahunya. Dia harus menemukan sesuatu untuk dimakan dulu.

Dan sekarang ia tahu cara untuk mendapatkannya.

Cukup ikuti bau, pikirnya, sambil mendengus. Tercium aroma masakan yang melayang di udara. Informasi yang ditangkap oleh indera penciuman di hidung itu lalu ditransmisikan ke otak, menghasilkan suatu refleks yang begitu hidup, keinginan yang begitu keras makin nyata, ia bisa merasakan ususnya perlahan-lahan memuntir, seolah-olah sedang disiksa oleh eksekutor berpengalaman. Air liur membanjiri mulutnya.

Untuk mencapai sumber aroma, rupanya ia harus turun melewati tangga curam, ada tujuh belas anak tangga. Ah berjalan di permukaan datar saja cukup menyulitkan – sungguh ini serasa mimpi buruk. Dia meraih pilar tangga dengan kedua tangan dan mulai turun. Pergelangan kakinya yang kurus serasa tak kuat menopang berat badannya, dan ia hampir saja terguling dari tangga.

Dan apa yang terlintas di pikiran Samsa saat ia berjalan menuruni tangga? Kembali ikan dan bunga matahari yang terbayang. Ah jika saja aku berubah menjadi ikan atau bunga matahari, pikirnya, aku bisa hidup dalam damai, tanpa perlu berjuang sekeras mungkin untuk menuruni tangga seperti ini.

Ketika Samsa berhasil melewati ketujuh belas anak tangga, ia menegakan dirinya kembali, menyiapkan kekuatan yang tersisa, dan tertatih-tatih menuju aroma menarik tadi. Dia melewati pintu masuk dengan langit-langitnya yang tinggi dan melangkah menuju ruang makan yang pintunya terbuka. Makanan tersaji di atas meja besar berbentuk oval. Ada lima kursi, namun tidak ada tanda-tanda orang. Gumpalan uap putih masih terlihat mengepul dari piring saji. Sebuah vas kaca dengan selusin bunga lili diletakan di tengah meja. Ada empat tempat yang ditata lengkap dengan serbet dan sendok garpu, namun belum tersentuh. Tampaknya ada orang yang telah duduk untuk makan sarapan beberapa menit sebelumnya, kemudian datang suatu kejadian sangat mendadak yang membuat mereka semua lari dari sini. Apa yang sudah terjadi? Kemana mereka pergi? Atau dibawa kemana mereka? Apakah mereka akan datang kembali untuk sarapan?

Tapi Samsa tidak punya waktu untuk menjawab beragam pertanyaan tersebut. Langsung menempati kursi terdekat, ia meraih makanan yang bisa dijangkaunya dengan tangan dan memasukkannya ke dalam mulut, tanpa memperdulikan bahwa di sana ada pisau, sendok, garpu, dan serbet yang tersedia. Dia merobek roti menjadi potongan-potongan dan memakannya tanpa tambahan selai atau mentega, menelan bulat-bulat sosis yang begitu besar, melahap telur rebus begitu cepat sampai ia lupa untuk mengupas kulitnya terlebih dahulu, meraup segenggam kentang tumbuk yang masih hangat, dan mengambil acar dengan jemarinya. Dia melahap semua bersamaan, dan meminum air untuk melegakan tenggorokannya. Soal rasa tak berpengaruh. Mau hambar atau lezat, pedas atau asam – itu semua sama baginya. Yang penting adalah mengisi perut kosongnya. Ia makan dengan konsentrasi penuh, seolah berpacu dengan waktu. Dia begitu terpaku untuk terus makan, saking asyiknya, saat ia menjilati jari-jarinya, ia malah menggigitnya, menganggapnya makanan juga. Sisa-sisa makanan muncrat ke sana-kemari, dan meski piring jatuh ke lantai kemudian pecah, ia tetap acuh.

***

Setelah Samsa kekenyangan dan kembali duduk untuk menghirup nafas, hampir tak ada makanan tersisa, dan meja makan kelihatan sangat berantakan. Itu tampak seolah-olah datang kawanan gagak yang suka bertengkar melalui jendela yang terbuka, melahap segalanya, dan terbang keluar lagi. Satu-satunya hal tak tersentuh adalah vas bunga lili; kalau saja masih belum kenyang, mungkin ia bakal melahap ini juga.

Dengan penuh kebingungan, dia duduk di kursinya untuk waktu yang lama. Tangan diletakan di atas meja, ia menatap bunga lili itu dengan menyipitkan matanya dan memandangnya lama, dengan napas lambat, sementara makanan tadi sedang diproses dalam sistem pencernaannya, dari kerongkongan menuju ke ususnya. Rasa kenyang terasa olehnya seperti air pasang yang naik. Dia mengambil panci logam dan menuangkan kopi ke dalam cangkir keramik putih. Aroma tajam mengingatkannya pada sesuatu. Tidak muncul secara langsung, namun berlangsung secara bertahap. Timbul perasaan aneh, seolah-olah sedang mengingat-ingat masa sekarang dari masa depan. Seolah waktu telah terbelah dua, sehingga antara memori dan pengalaman berputar dalam siklus tertutup, masing-masing saling mengikuti yang lainnya. Ia menuangkan krim dengan takaran sembarang ke kopinya, diaduk dengan jarinya, lalu meminumnya. Meskipun kopi telah dingin, masih terasa sedikit hangat. Dia meminumnya, namun terlebih dulu menyimpan cairan kopi itu di mulutnya, sebelum akhirnya mengalirkannya ke tenggorokannya. Ada semacam rasa tenang yang ia alami.

Tiba-tiba ia merasa dingin. Rasa laparnya tertutupi inderanya yang lain. Sekarang ia telah kenyang, dinginnya pagi yang menerpa kulitnya membuatnya gemetaran. Api telah padam. Tak satu pun pemanas yang diaktifkan. Yang pasti, dia tengah telanjang bulat.

Ia mengerti bahwa ia harus menemukan sesuatu untuk dipakai. Kalau seperti ini bakal kedinginan. Selain itu, akan menjadi masalah jika seseorang muncul. Mungkin ada yang mengetuk pintu. Atau mungkin orang-orang yang akan sarapan tadi akan kembali. Siapa yang tahu bagaimana mereka akan bereaksi jika mereka menemukan dia dalam keadaan telanjang begini?

Dia sangat mengerti semua ini. Dia tak menduga-duga, atau memikirkan ini secara serius; ia sangat tahu ini, sangat biasa dan hanya hal sederhana. Samsa masih tidak tahu dari mana pengetahuan tersebut berasal. Mungkin hal ini terkait dengan ingatannya yang mulai terungkap.

Rumah ini menghadap langsung ke jalan. Bukan jalan raya yang besar. Dan tak banyak pula orang yang lewat. Namun demikian, ia mencatat bahwa setiap orang yang melintas pasti berpakaian lengkap. Dengan pakaian beragam warna dan gaya. Pria dan wanita mengenakan pakaian yang berbeda. Kaki mereka ditutupi sepatu dari kulit. Beberapa memakai sepatu yang cerah sehabis dipoles. Dia bisa mendengar langkah sepatu mereka yang beradu dengan bebatuan jalan. Terlihat banyak pria dan wanita mengenakan topi. Mereka berjalan dengan dua kaki tanpa perlu memikirkan apapun dan menjaga alat kelamin mereka tertutup. Samsa membandingkan dirinya yang terpantul di cermin aula itu dengan orang-orang yang berjalan di luar. Pria yang dilihatnya di cermin itu kucel, hanya tampak sesosok makhluk lemah. Perutnya yang penuh dengan tumpahan saus, dan remah-remah roti menempel pada rambut kemaluannya yang seperti potongan-potongan kapas. Dia menyingkirkan beragam kotoran itu dengan tangannya.

Ya, dia kembali berpikir, aku harus mencari sesuatu untuk menutupi tubuhku.

Dia menengok ke jalanan sekali lagi, mencari kalau-kalau ada burung. Namun tak ada satu pun burung yang dapat ia lihat.

Lantai dasar rumah terdiri dari ruang tengah, ruang makan, dapur, dan ruang tamu. Sejauh pengamatannya, tidak satupun ruangan ini yang menyimpan pakaian. Dapat disimpulkan bahwa mengenakan dan melepas pakaian dilakukan di ruang lain. Mungkin ada kamarnya di lantai dua.

Samsa kembali ke tangga dan mulai menaiki. Dia terkejut menemukan betapa mudahnya menaiki tangga ketimbang turun tadi. Mencengkeram pegangan, ia mampu menaiki tujuh belas anak tangga jauh lebih cepat dan tanpa rasa sakit atau takut, berhenti beberapa kali (meski tidak lama) untuk mengatur napas.

Keberuntungan sedang berpihak padanya, karena semua pintu di lantai dua tidak terkunci. Yang perlu ia lakukan adalah memutar kenop dan mendorong, dan setiap pintu akan terbuka. Ada empat kamar, terlepas dari ruang dingin tempat tadi ia terbangun, semua kamar tertata lengkap dan nyaman. Masing-masing memiliki tempat tidur dengan kasur yang bersih, lemari, meja tulis, lampu yang ditempelkan ke langit-langit atau dinding, dan karpet dengan pola yang rumit. Buku tersusun rapi di rak, dan lukisan minyak pemandangan menghiasi dinding. Setiap kamar memiliki vas kaca yang penuh dengan bunga-bunga cerah. Tidak ada papan kasar dipaku di jendela. Setiap jendela dipasangi gorden, sehingga sinar matahari bisa masuk. Tempat tidur menunjukkan kalau seseorang pernah tidur di sini. Dia bisa melihat bekas tindihan kepala di bantal.

Dia memakaikan baju ganti itu untuk menutupi tubuh telanjangnya, dan setelah mencoba beberapa kali akhirnya ia berhasil mengikatkan tali pinggangnya. Dia menatap dirinya di cermin, sekarang ia sudah berpakaian, dengan baju ganti dan sepasang sandal. Ini pasti lebih baik ketimbang berjalan-jalan dengan hanya bugil. Memang tidak sehangat yang ia kira, tapi selama ia tetap berada dalam ruangan ini tentu tak bakalan terasa terlalu dingin. Yang pasti, ia tidak perlu khawatir bahwa kulitnya yang lembut ini bakal jadi incaran para burung pemangsa.

Saat bel pintu berdering, Samsa sedang tiduran di kamar yang paling besar (di kasur besar pula) dalam rumah itu. Sangat hangat berbaring di bawah selimut bulu, rasa nyamannya serasa sedang tidur dalam telur saja. Dia bangun dari mimpi. Dia tak bisa mengingat detailnya, yang pasti sesuatu yang menyenangkan. Bel yang bergema dalam rumah membangunkan dan membuatnya kembali merasakan hawa dingin.

Dia bangkit dari tempat tidur, mengencangkan tali pinggang baju gantinya, memakai sandal biru gelapnya, menyambar tongkat berjalannya, kemudian menyusuri pegangan, lalu menuruni tangga. Ini jadi tambah mudah ketimbang yang tadi dia lakukan. Tentu, resiko jatuh masih ada. Dia harus tetap berhati-hati. Fokus pada langkahnya, ia menuruni tangga satu per satu, sementara bel masih terus berdering. Siapa pun yang menekan bel itu pasti orang yang tidak sabaran dan keras kepala.

Dengan tongkat berjalan di tangan kiri, Samsa menuju pintu depan. Dia memutar kenop dan menarik, pintu pun terbuka.

Seorang gadis pendek berdiri di luar. Gadis yang sangat pendek. Yang jadi pertanyaan, bagaimana ia bisa mencapai bel. Dan ketika dia melihat lebih teliti, ia menyadari bahwa ini bukan masalah ukuran tubuhnya. Itu karena punggungnya, yang bungkuk ke depan. Ini yang membuatnya terlihat pendek, padahal sebenarnya dia memiliki dimensi tubuh yang normal. Gadis itu mengikat rambutnya dengan pita karet agar tak menutupi wajahnya. Rambutnya coklat kemerah-merahan dan sangat lebat. Dia mengenakan jaket wol, dengan rok longgar yang menutupi kakinya. Syal katun belang melilit lehernya. Dia tidak mengenakan penutup kepala apapun. Sepatunya bertali tinggi, dan dia tampaknya berusia dua puluhan awal. Masih ada sesuatu dari si gadis itu. Matanya besar, hidungnya kecil, dan bibirnya memutar sedikit ke satu sisi, seperti bulan kurus. Alis hitamnya membentuk dua garis lurus di dahinya, memberinya tampilan skeptis.

“Benarkah ini rumah Samsa?” tanya si gadis sambil mendongakkan kepalanya. Lalu ia memutar tubuhnya. Seperti liku bumi yang diterjang gempa hebat saja.

Samsa sedikit terkejut, namun mencoba menenangkan diri. “Ya,” jawabnya. Karena memang ia sendiri adalah Gregor Samsa, dan tentunya ini tempat tinggal Samsa. Bagaimanapun, tak ada salahnya menjawab seperti ini.

Namun wanita itu tampaknya menemukan jawabannya tadi kurang memuaskan. Sedikit kerutan terlihat di keningnya. Mungkin wanita itu menangkap kebingungan dari jawaban ragu-ragu tadi.

“Jadi benarkah ini rumah Samsa?” wanita itu bertanya dengan suara tajam. Layaknya penjaga yang memeriksa pengunjung liar yang kedapatan tak membawa karcis.

“Aku Gregor Samsa,” jawab Samsa, mencoba dengan nada tenang sebisanya. Dia sangat yakin dengan jawabannya kali ini.

“Aku harap anda benar,” timpal gadis itu, kemudian meraih tas kulit yang disimpan dekat kakinya. Tas hitam yang terlihat sangat berat. Tas yang telah usang. “Jadi mari kita mulai.”

Gadis itu melangkah memasuki rumah tanpa menunggu balasan. Samsa menutup pintu. Gadis itu berdiri, melihatnya dari atas ke bawah. Nampaknya baju ganti dan sandal yang dikenakan Samsa bikin gadis itu penasaran.

“Aku pikir aku telah membangunkanmu,” kata gadis itu, suaranya dingin.

“Memang benar,” jawab Samsa. Dia bisa menangkap ekspresi gadis itu, bahwa pakaiannya ini tidak sesuai untuk melakukan sebuah pertemuan. “Aku minta maaf soal yang kukenakan ini,” Samsa berdalih. “Alasannya sih…”

Gadis itu cuek saja. “Jadi, yang mana?” tanyanya dengan mengerutkan bibir.

“Jadi, yang mana?” Samsa mengulangi.

“Jadi, yang mana kunci yang bermasalah itu?” tanya gadis itu.

“Kunci?”

“Kunci yang rusak,” sebut gadis itu. “Anda sendiri yang menyuruh saya untuk datang dan memperbaikinya.”

“Ah,” ucap Samsa. “Kunci yang rusak.”

Samsa menggeledah pikirannya. Tidak lama setelah ia berhasil fokus pada satu hal, bagaimanapun, sepasukan nyamuk bergumul lagi dalam otaknya.

“Aku belum pernah mendapati masalah apa pun tentang kunci,” katanya. “Dugaanku mungkin itu adalah salah satu pintu di lantai dua.”

Wanita itu melotot padanya. “Dugaan anda?” tanyanya, mengintip wajah Samsa. Suaranya makin dingin. Dengan alis melengkung seperti orang yang tak percaya. “Salah satu pintu ya?” Ia melanjutkan bertanya.

Samsa bisa merasakan mukanya memerah. Ketidaktahuannya soal kunci yang rusak itu membuatnya merasa sangat malu. Dia berdeham mencoba bicara, namun tak satupun kata bisa keluar.

“Tuan Samsa, apakah orangtuamu ada di rumah? Saya rasa lebih baik saya bicara langsung dengan mereka.”

“Mereka telah pergi keluar, tampaknya ada suatu keperluan,” kata Samsa.

“Suatu keperluan?” tanya gadis itu, terkejut. “Di saat banyak kekacauan begini?”

“Aku tak tahu. Ketika aku bangun pagi ini, semua orang sudah tak ada,” jawab Samsa.

“Oh malangnya,” perempuan muda itu menimpali. Dia menghela napas panjang. “Kami telah memberitahukan bahwa bakal ada yang datang hari.”

“Maaf ya.”

Wanita itu berdiri di sana sejenak. Kemudian, perlahan-lahan, alis melengkungnya turun, dan dia memandang tongkat hitam di tangan kiri Samsa. “Apakah ada gangguan pada kaki anda, Gregor Samsa?”

“Ya, sedikit,” Samsa berbohong.

Sekali lagi, wanita itu tiba-tiba menggeliat. Samsa tidak tahu tindakan untuk apa itu atau apa tujuannya. Namun ia tertarik oleh gerakan kompleks barusan.

“Nah, apa yang harus kulakukan,” kata wanita itu dengan nada pasrah. “Mari kita lihat pintu di lantai dua itu. Aku datang jauh-jauh dari seberang jembatan dan melewati jalanan kota yang penuh konflik mengerikan untuk sampai ke sini. Hidup saya dipertaruhkan. Sehingga tidak masuk akal untuk mengatakan, ‘Oh, jadi tidak ada yang perlu kulakukan di sini? Baiklah aku akan kembali lagi nanti saja,’ kan? ”

Konflik mengerikan? Samsa tidak bisa memahami apa yang gadis itu bicarakan. Apa perubahan mengerikan itu terjadi? Tapi dia memutuskan untuk tidak menanyakan detailnya. Lebih baik menghindari pertanyaan itu agar ketidaktahuannya tidak ketahuan.

Kembali membungkuk, wanita muda itu mengambil tas hitam berat di tangan kanannya dan menaiki tangga dengan susah payah, seperti serangga merangkak. Samsa mengikuti di belakangnya, tangannya berpegangan di pilar tangga. Gaya berjalan gadis itu yang seperti merayap membangkitkan rasa simpatinya – ini mengingatkannya pada sesuatu.

Wanita itu berdiri di anak tangga teratas dan mengamati lorong. “Jadi,” katanya, “salah satu dari empat pintu ini mungkin ada yang kuncinya rusak, kan?”

Wajah Samsa memerah. “Ya,” katanya. “Ada di salah satu pintu. Mungkin ada di ujung lorong di sebelah kiri, mungkin, ” katanya, ragu-ragu. Itu adalah pintu ke kamar kosong tempat ia terbangun pagi tadi.

“Bisa saja,” kata wanita itu dengan suara tak bersemangat seperti api unggun yang mau padam. “Mungkin ya.” Dia berbalik untuk memeriksa wajah Samsa ini.

“Entah bagaimana,” ucap Samsa.

Gadis itu menghela napas lagi. “Gregor Samsa,” katanya datar. “Kamu orang yang asyik untuk diajak ngobrol. Kosakatamu sungguh kaya, dan bicaramu jelas, langsung ke titik persoalan.” Kemudian nadanya berubah. “Tapi bagaimanapun. Mari kita periksa pintu di sebelah kiri di ujung lorong yang pertama itu.”

Wanita itu melangkah menuju pintu. Dia memutar kenop bolak-balik dan mendorong, dan itu terbuka ke dalam. Keadaan kamar itu tak berubah: hanya kasur saja yang kurang bersih. Lantai kosong. Papan dipaku di jendela. Gadis itu tentu saja menyadari semua ini, tapi dia tidak menunjukkan keheranan apapun. Sikap yang menggambarkan kalau ada kamar lain yang sama bisa ditemukan di seluruh kota.

Gadis itu berjongkok, membuka tas hitam, mengeluarkan kain flanel putih, dan menggelarnya di lantai. Lalu ia mengambil sejumlah perkakas, kemudian menyusunnya dengan hati-hati di atas kain, seperti eksekutor yang mempertontonkan instrumen penyiksa menyeramkannya bagi para martirnya yang malang.

Memilih kawat dengan ketebalan sedang, gadis itu memasukkannya ke lubang kunci dan dengan tangan terlatihnya mengorek dari berbagai sudut. Matanya menyipit mencoba berkonsentrasi, telinganya dipasang agar bisa mendengar suara sekecil apapun. Selanjutnya, ia memilih kawat yang lebih tipis dan mengulangi proses tadi. Mukanya jadi suram, dan bibirnya mengecut, setajam pedang China. Dia mengambil senter besar dan dengan tampilan hitam di matanya, mulai memeriksa kunci dengan lebih teliti.

“Apakah kamu punya kunci untuk pintu ini?” Tanyanya kepada Samsa.

“Aku tak tahu sama sekali dimana kuncinya,” jawabnya jujur.

“Ah, Gregor Samsa, kamu bikin saya ingin mati saja,” ucap gadis itu.

Setelah itu, gadis itu mengabaikannya. Dia memilih obeng dari perkakas yang disusun di atas kain dan selanjutnya mencopot kunci dari pintu. Gerakannya lambat dan hati-hati. Dia berhenti berkali-kali saat melakukan proses pencopotan itu untuk memutar dan menggeliat seperti yang sebelum-sebelumnya.

Sementara Samsa berdiri di belakangnya, menyaksikan gerakan gadis itu yang unik, tubuh Samsa sendiri mulai merespon dengan cara yang aneh. Tubuhnya memanas, dan lubang hidungnya yang melebar. Mulutnya begitu kering sehingga menghasilkan suara tegukan keras setiap kali ia menelan ludah. Telinganya gatal. Dan organ seksualnya yang menggantung sedemikian rupa itu, mulai mengeras dan membesar. Muncul tonjolan yang terlihat di baju mandi gantinya. Dia memang sedang bediri di area gelap kamar, namun tetap saja itu kelihatan.

Setelah berhasil mencopot kunci, gadis muda itu menerawangnya di dekat jendela, melalu sinar matahari yang masuk lewat celah papan. Dia menusuk dengan kawat tipis dan menggoyangkannya dengan keras untuk mengetahui apa yang terdengar, wajahnya tambah murung dan bibirnya mengerucut. Akhirnya, dia mendesah lagi dan berbalik menghadap Samsa.

“Bagian dalamnya ditembak,” ucap gadis itu. “Ini memang rusak. Dan memang yang satu ini, seperti katamu.”

“Bagus berarti.” Samsa menimpali.

“Tidak, tentu saja tidak bagus,” kata gadis itu. “Aku tak bisa memperbaikinya di sini. Ini jenis kunci khusus. Aku harus membawa pulang dan memberikannya ke ayahku atau ke salah satu kakakku. Mereka pasti bisa memperbaikinya. Aku masih amatir-hanya bisa memperbaiki kunci yang biasa.”

“Aku mengerti,” ucap Samsa. Jadi gadis ini punya ayah dan beberapa saudara. Sebuah keluarga tukang kunci.

“Sebenarnya, salah satu kakakku lah yang akan datang hari ini, tapi karena ada kericuhan maka akulah yang disuruh. Kota ini penuh dengan pos-pos pemeriksaan.” Dia melihat kembali kunci di tangannya. “Tapi kenapa ya kunci ini bisa rusak seperti ini? Ini aneh. Seseorang pasti telah mencungkil bagian dalam dengan perkakas khusus. Tidak ada cara lain untuk menjelaskannya. ”

Lagi-lagi gadis itu menggeliat. Lengannya diputar seolah-olah dia sedang berenang dengan gaya punggung. Samsa tertarik dan terpukau dengan gerakan itu.

Samsa memberanikan diri. “Bolehkah aku bertanya?” tanyanya.

“Sebuah pertanyaan?” tanya gadis itu, membuat tatapan Samsa jadi ragu-ragu. “Aku tak bisa membayangkan apa, tapi silahkan tanya sesukamu.”

“Kenapa kamu sering menggeliat?”

Gadis itu menatap Samsa dengan bibirnya yang terbuka. “Menggeliat?” Dia berpikir sejenak. “Maksudmu seperti ini?” Gadis itu mendemonstrasikan gerakan menggeliat itu.

“Ya, seperti itu.”

“Bra yang kupakai tidak pas,” jelas gadis itu masam. “Hanya itu.”

“Bra?” tanya Samsa dengan suara kuyu. Kata itu tak bisa ia temukan di kenangan.

“Iya bra. Kamu pasti tahu kan?” tanya gadis itu. “Atau kamu menganggap aneh kalau wanita bungkuk pun memakai bra? Kamu pikir ini perbuatan hina?”

“Bungkuk?” Samsa keheranan. Sebuah kata yang tidak ia ketahui. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan. Namun, ia tahu bahwa ia harus mengatakan sesuatu.

“Bukan, maksudnya aku tak sampai berpikir seperti itu,” Samsa bergumam.

“Dengar. Kami yang bungkuk pun punya dua payudara juga, seperti wanita lain, dan kami tentunya memakai bra. Kami tak mungkin berjalan seperti sapi dengan payudaranya yang berayun-ayun.”

“Tentu saja tidak.” Samsa kehilangan kata.

“Tapi tidak ada bra yang didesain untuk kami-semuanya jadi longgar. Tubuh kami berbeda dengan wanita normal kan? Jadi kami harus menggeliat agar bra kembali pas. Orang bungkuk punya banyak masalah. Jadi karena inilah kamu selalu menatapiku dari belakang?”

“Tidak, bukan sepenuhnya begitu. Aku hanya penasaran kenapa kamu melakukan itu.”

Jadi, Samsa menyimpulkan, bahwa bra adalah perlengkapan yang dibuat untuk menahan payudara, dan bungkuk adalah orang dengan penampakan tubuh seperti gadis itu. Ada banyak yang ia harus pelajari di dunia ini.

“Benarkah kamu tidak sedang mempermainkanku?” tanya gadis itu.

“Aku tak sedang mempermainkanmu.”

Wanita itu memiringkan kepalanya dan menatap Samsa. Dia tahu bahwa Samsa berbicara jujur-tampaknya tidak ada kebencian dalam dirinya. Samsa hanya sedikit lemah di kepala, itu saja. Dia memang beberapa tahun lebih tua dari dia. Selain lambat, ia tampaknya punya keterlambatan mental. Tapi yang pasti, dia berasal dari keluarga baik-baik yang memiliki sopan santun sempurna. Dia tampak tampa, meskipun kurus kecil dan berwajah pucat.

Saat itulah gadis itu melihat tonjolan yang terlihat di bagian bawah baju mandi gantinya.

“Hey, apa-apaan itu?” Katanya dengan nada dingin. “Tonjolan apa itu?”

Samsa menengok ke bawah. Bagian tubuhnya itu benar-benar membesar. Dia bisa menduga dari nada suara sang gadis kalau kondisinya ini merupakan sesuatu yang tidak pantas.

“Aku mengerti,” gadis itu mencibir. “Kamu sepertinya sedang membayangkan dirimu bisa bercinta dengan orang bungkuk sepertiku, kan?”

“Bercinta?” Samsa bertanya-tanya. Satu lagi kata yang tidak ia mengerti.

“Kamu bisa membayangkan, bahwa orang bungkuk bisa dengan mudahnya kamu tarik paksa dari belakang tanpa masalah, kan?” Kata wanita itu. “Percayalah, ada banyak lelaki cabul sepertimu, yang berpikir kalau kami akan membiarkan apapun yang kamu lakukan karena menganggap kami bungkuk. Nah, pikirkan lagi, bocah. Kami tidak gampangan! ”

“Aku sangat bingung,” kata Samsa. “Jika aku telah membuatmu tidak senang, aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf. Mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud jahat. Aku sedang tidak enak badan, dan ada begitu banyak hal yang aku tak mengerti. ”

“Baiklah.” Gadis itu mendesah. “Kamu sedikit lambat kan? Tapi anumu itu bagus juga. Sungguh sial, aku pikir.”

“Maaf,” Samsa berkata lagi.

“Lupakan.” Gadis itu melunak. “Aku punya empat saudara sialan di rumah, dan karena aku adalah seorang gadis kecil mereka telah menunjukkan semuanya. Mereka memperlakukannya seperti lelucon saja. Semua dari mereka. Jadi aku tidak bercanda ketika saya menilai anumu tadi.”

Dia berjongkok untuk menempatkan kembali perkakasnya ke tas, membungkus kunci rusak di flanel dan dengan lembut merapikan semuanya.

“Aku bawa kuncinya ke rumah ya,” ucap gadis itu, sembari berdiri. “Beritahu orang tuamu. Kami akan memperbaikinya atau mungkin bakal menggantinya. Jika harus mengganti dengan yang baru, mungkin perlu beberapa lama, soalnya di luar sana sedang kacau. Jangan lupa untuk memberitahu mereka, oke? Apakah kamu mengikuti omonganku? Dapatkah kamu ingat? ”

“Aku akan beritahu mereka,” jawab Samsa.

Dia berjalan perlahan menuruni tangga, Samsa mengikuti di belakang. Mereka kelihatan sama-sama kesusahan: si gadis tampak seolah-olah dia sedang merangkak, sementara Samsa yang di belakangnya berjalan dengan cara yang sangat aneh. Namun langkah mereka identik. Samsa berusaha keras untuk meredakan anunya, tapi nampaknya sulit kembali ke keadaan semula. Menonton gerakan si gadis dari belakang saat menuruni tangga membuat hatinya semakin berdebar-debar. Hot darah, segar menjalari pembuluh darahnya. Anunya makin keras kepala.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, salah satu saudaraku seharusnya yang datang hari ini,” kata gadis itu ketika mereka mencapai pintu depan. “Tapi jalan-jalan dipenuhi oleh tentara dan tank. Orang-orang ditangkapi. Itu sebabnya anggota keluargaku yang lain tidak bisa keluar. Ketika ada yang ditangkap, kita tidak akan tahu kapan akan kembali. Itu sebabnya aku dikirim. Melintasi jalanan Praha, sendirian. ‘Tidak ada yang akan memperhatikan seorang gadis bungkuk,’ kata mereka.”

“Tank?” Samsa bergumam.

“Ya, ada banyak. Tank dengan meriam dan senapan mesin. Meriammu itu mengesankan,” kata gadis itu, menunjuk tonjolan di bawah baju mandi ganti, “tapi meriam yang di luar itu lebih besar dan lebih keras, dan lebih mematikan. Mari kita berdoa semoga semua orang dalam keluargamu bisa kembali pulang dengan selamat.”

Samsa memberanikan dirinya. “Bisakah kita bertemu lagi?” tanyanya.

Si gadis tadi menengokan kepalanya pada Samsa. “Kamu ingin bisa bertemu denganku lagi?”

“Ya, aku ingin bertemu denganmu sekali lagi.”

“Dengan anumu yang seperti itu?”

Samsa melihat ke bawah si tonjolan tadi. “Saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi itu tidak ada hubungannya dengan perasaan saya. Ini mungkin berkaitan dengan masalah hati.”

“Jangan bercanda,” ucap gadis itu, terkesan. “Sebuah masalah hati katamu. Itu sungguh cara yang menarik. Tak pernah mendengar ini sebelumnya. ”

“Kamu lihat, ini di luar kontrolku.”

“Dan ini tidak ada hubungannya dengan bercinta kan?”

“Bercinta tidak ada dalam pikiranku. Sungguh.”

“Jika kusimpulkan. Ketika anumu membesar dan mengeras seperti itu, bukan dari pikiranmu, tetapi itu gara-gara hati?”

Samsa mengangguk setuju.

“Demi Tuhan?” Kata wanita itu.

“Tuhan,” Samsa mengulang. Kata lain yang ia tidak bisa mengingat setelah mendengar sebelumnya. Dia terdiam.

Wanita itu menggelengkan kepalanya. Dia memutar dan menggeliat untuk menyesuaikan branya. “Lupakan. Tampaknya Tuhan sudah meninggalkan Praha sejak beberapa hari yang lalu. Mari kita lupakan tentang Dia.”

“Jadi bisakah aku bertemu denganmu lagi?” tanya Samsa.

Air muka gadis itu berubah – tatap matanya menerawang jauh. “Kamu benar-benar ingin melihatku lagi?”

Samsa mengangguk.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Kita bisa ngobrol bersama.”

“Tentang apa?” tanya si gadis.

“Tentang beragam hal.”

“Hanya ngobrol?”

“Ada banyak yang ingin aku tanyakan kepadamu,” ucap Samsa.

“Tentang apa?”

“Tentang dunia ini. Tentangmu. Tentangku. Aku rasa ada beragam hal yang bisa kita obrolkan. Tank, contohnya. Dan Tuhan. Dan bra. Dan kunci.”

Keduanya terdiam sejenak.

“Aku tidak tahu,” perempuan itu akhirnya berkata. Dia menggeleng pelan, tapi suaranya terasa dingin. “Kau dibesarkan dari keluarga baik-baik tidak sepertiku. Dan aku ragu orang tuamu bakal senang melihat anak kesayangannya berhubungan dengan orang bungkuk dari seberang kota. Bahkan jika anaknya lumpuh dan agak lambat. Selain itu, kota kita sedang ditempati banyak tank dan pasukan asing. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Samsa tidak tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia buta tentang segala hal: masa depan, tentu saja, begitupun apa yang terjadi sekarang juga masa lalu. Apa yang benar, dan apa yang salah? Belajar cara berpakaian saja menjadi teka-teki yang rumit.

“Bagaimanapun, aku akan datang kembali beberapa hari lagi,” kata sang gadis bungkuk. “Jika kami dapat memperbaikinya, aku akan membawa kunci, dan jika kami tidak bisa maka aku akan mengembalikannya juga kepadamu. Kamu akan dikenakan biaya untuk layanan panggilan, tentu saja. Jika kamu masih berada di sini, maka kita dapat melihat satu sama lain lagi. Apakah kita bisa punya banyak waktu bicara atau tidak, aku tidak tahu. Tapi kalau aku jadi kamu, aku akan mencoba menjaga agar tonjolan itu tak kelihatan. Di luar sana, kamu tidak mendapatkan pujian kalau mengekspos hal semacam itu. ”

Samsa mengangguk. Dia sama sekali tak mengerti, bagaimana cara menyembunyikan barang itu agar tak terlihat.

“Ini aneh, bukan?” Gadis itu berkata dengan suara termenung. “Banyak ledakan di sekitar kita, tapi masih ada orang yang peduli tentang kunci rusak, dan orang lain yang masih mau peduli memperbaikinya. . . . Tapi mungkin inilah cara yang seharusnya. Mungkin tetap bekerja pada hal-hal kecil dengan patuh dan jujur saat dunia sedang kacau membuat kita tetap waras.”

Gadis itu menatap wajah Samsa ini. “Aku tidak bermaksud mencampuri, tapi apa sebenarnya yang terjadi di kamar di lantai dua itu? Mengapa orang tuamu perlu sebuah kunci besar untuk sebuah kamar kosong yang cuma ada tempat tidur, dan mengapa hal seperti itu membuat mereka terganggu ketika kuncinya rusak? Dan kenapa mereka memaku papan di jendelanya? Apakah ada sesuatu yang dikurung di sana?”

Samsa menggeleng. Jika seseorang atau sesuatu itu telah dikurung di sana, itu pasti dia. Tapi mengapa itu menjadi penting? Ia tidak tahu.

“Saya kira tidak ada gunanya bertanya kepadamu,” kata gadis itu. “Yah, aku harus pergi. Mereka akan mengkhawatirkanku kalau aku terlambat. Berdoalah agar aku bisa aman melintasi kota. Semoga tentara akan mengabaikan gadis bungkuk yang miskin ini. Semoga tidak satupun dari mereka adalah orang cabul. Kita sedang dalam kekacauan.”

“Aku akan berdoa,” ucap Samsa. Tapi dia tidak tahu arti dari “cabul” itu. Dan juga “doa”.

Wanita itu mengambil tasnya hitam dan, masih membungkuk, berjalan menuju pintu.

“Bisakah aku bertemu denganmu lagi?” Samsa bertanya untuk terakhir kalinya.

“Jika kamu terus memikirkan seseorang, kamu pasti bisa bertemu dengan mereka lagi,” katanya di perpisahan. Kali ini ada kehangatan dalam suara gadis itu.

“Waspada terhadap burung,” Samsa memanggilnya. Gadis itu berbalik dan mengangguk. Lalu ia pergi ke jalan.

***

Samsa mengamati melalui celah tirai ketika gadis bungkuk itu melintasi bebatuan. Gadis itu berjalan dengan aneh namun dengan kecepatan yang mengejutkan. Samsa tertarik dengan setiap gerak-gerik si gadis yang menawan itu. Gadis itu mengingatkannya pada serangga air yang sedang bergerak cepat di atas air menuju tanah kering. Sejauh yang ia hu, cara berjalan gadis itu lebih masuk akal ketimbang berjalan dirinya yang bergoyang-goyang dengan dua kaki.

Gadis itu masih terlihat, namun Samsa merasakan kalau alat kelaminnya telah kembali menjadi lemah dan menyusut. Bahwa tonjolan keras tadi telah, lenyap. Sekarang bagian tubuhnya yang bergelantung di antara kakinya itu seperti buah yang tidak bersalah, damai dan tak berdaya. Bolanya beristirahat dengan nyaman di kantung mereka. Menyesuaikan kembali sabuk baju mandi gantinya, ia duduk di meja makan dan minum sisa kopi dinginnya.

Orang-orang yang tinggal di sini sudah pergi ke tempat lain. Dia tidak tahu siapa mereka, tapi ia membayangkan bahwa mereka adalah keluarganya. Sesuatu telah terjadi tiba-tiba, dan mereka telah meninggalkannya. Mungkin mereka tidak akan pernah kembali. Apa maksud dari “kekacauan dunia” tadi? Gregor Samsa tidak tahu. Pasukan asing, pos-pos pemeriksaan, tank-semuanya masih jadi misteri.

Satu-satunya hal yang ia tahu pasti adalah bahwa ia ingin melihat sekali lagi gadis bungkuk itu. Untuk duduk berhadapan dan berbicara tentang isi hatinya. Untuk mengungkap beragam teka-teki dunia dengannya. Samsa ingin menonton dari setiap sudut cara dia memutar dan menggeliat ketika ia sedang membenarkan posisi branya. Jika memungkinkan, dia ingin merabai seluruh tubuh gadis itu. Menyentuh kulit lembut dan merasakan kehangatan gadis itu dengan ujung jarinya. Berjalan berdampingan dengan dia naik dan turun tangga dunia.

Hanya berpikir tentang gadis itu membuatnya merasakan kehangatan dalam dirinya. Tidak muncul lagi keinginannya untuk jadi ikan atau bunga matahari-atau apapun. Ia senang menjadi seorang manusia. Memang, ada ketidaknyamanan kalau harus berjalan dengan dua kaki dan ketika memakai pakaian. Yang pasti, masih ada begitu banyak hal yang ia tidak tahu. Kalau saja ia menjadi ikan atau bunga matahari, dan bukan manusia, tentu dia tak akan mengalami emosi semacam ini. Dia punya perasaan.

Samsa duduk lama di sana dengan mata tertutup. Kemudian, mengambil sebuah keputusan, ia berdiri, meraih tongkat hitam, dan berjalan menuju tangga. Dia kembali ke lantai dua, untuk kemudian belajar cara yang tepat dalam hal berpakaian. Untuk saat ini, setidaknya, ini akan jadi misinya.

Dunia sedang menunggunya untuk belajar beragam hal.

Cerpen Haruki Murakami: Manusia Es

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Manusia Es, Terjemahan Ucu Agustin
AKU menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya.

“Lihat! Itu si Manusia Es,” bisik temanku.

Waktu itu, aku sungguh tak tahu makhluk apa itu Manusia Es. Temanku juga. “Dia pasti terbuat dari es. Itu sebabnya orang-orang menyebutnya Manusia Es.” Temanku mengatakan hal tersebut dalam nada serius seolah dia sedang membicarakan hantu atau seseorang dengan penyakit menular.

Manusia Es tinggi, tampak muda, tegap, sedikit bagian rambutnya tampak putih seperti segenggam salju yang tak meleleh. Tulang pipinya tajam meninggi seperti batu yang beku, dan jarinya embun beku putih yang seolah abadi. Namun begitu, Manusia Es terlihat seperti manusia normal. Dia tidak seperti lelaki yang bisa kau sebut tampan memang, tapi dia terlihat begitu menarik—tergantung dari bagaimana kau melihatnya. Dalam suatu kesempatan, sesuatu tentang dia menusukku sampai ke hati. Aku merasakan hal tersebut terutama saat memandang matanya. Tatapannya senyap dan transparan seperti serpih cahaya dalam untaian tetes salju di pagi musim dingin. Seperti kilatan kehidupan dalam tubuh makhluk buatan.

Aku berdiri beberapa saat memperhatikan si Manusia Es dalam jarak dekat. Dia tak menoleh. Dia hanya duduk diam, tak bergerak. Membaca bukunya seakan tiada seorang pun yang ada di sana selain dirinya….

Keesokan paginya, Manusia Es masih berada di tempat yang sama, membaca buku dengan cara yang persis sama. Ketika aku melangkah ke ruang makan untuk makan siang, dan ketika aku kembali dari bermain ski dengan teman-teman pada malam tersebut, dia masih ada di sana, mengarahkan tatapan yang sama pada halaman-halaman buku yang sama. Hal serupa terjadi sehari setelah itu. Bahkan ketika matahari tenggelam rendah, dan jam terlambat tumbuh, ia duduk di kursinya, setenang adegan musim dingin di luar jendela.

Pada sore di hari keempat, aku me-reka berbagai alasan supaya bisa tidak turut keluar menelusur lereng. Aku tinggal di hotel sendiri dan mondar-mandir di lobi yang sekosong kota hantu. Udara di lobi terasa hangat dan lembab, dan ruangan itu memiliki bau aneh yang sedih mematahkan hati—bau salju yang terlacak di dalam sol sepatu yang sekarang tengah mencair di depan perapian.

Aku menatap keluar jendela, berdesir saat melihat halaman-halaman surat kabar, dan sekonyong mendekat ke Manusia Es, mengumpulkan keberaniann untuk berbicara.

Aku cenderung pemalu dengan orang asing, kecuali memiliki alasan yang sangat bagus, aku biasanya tak mudah berbicara dengan orang yang tak kukenal. Tapi dengan Manusia Es aku merasa memiliki dorongan untuk berbincang, tak peduli tentang apa pun itu. Ini malam terakhirku di hotel tersebut, dan jika kubiarkan kesempatan ini pergi, aku takut aku takkan punya kesempatan lagi untuk bisa berbicara dengan dia: pria es, si Manusia Es itu….

“Nggak main ski?” tanyaku padanya, sesantai mungkin.

Dia memalingkan wajah perlahan seolah mendengar suara di kejauhan. Dia menatapku, lalu dengan tenang menggeleng. “Aku tidak bermain ski,” ucapnya. “Hanya ingin duduk di sini, membaca dan melihat salju.”

Kata-katanya membentuk awan putih di atas kepala, seperti balon-balon kata keterangan di komik strip. Aku benar-benar bisa melihat kata-kata itu mengambang di udara, sampai ia menggosok mereka pergi dengan jarinya yang beku. Aku tak tahu lagi apa yang harus dikatakan selanjutnya. Aku hanya tersipu dan berdiri di sana.

Manusia Es menatap mataku dan tampak sedikit tersenyum. “Mau duduk?” tanyanya. “Kau tertarik padaku, kan? Ingin tahu apa itu Manusia Es?” Ia tertawa. “Tenang, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Nggak akan pilek kok kalau cuma bicara denganku….”

Kami duduk berdampingan di sofa di sudut lobi dan menyaksikan butiran-butiran salju menari di luar jendela. Aku memesan cokelat panas dan meminumnya, sedang Manusia Es tidak memimun apa-apa. Rupanya dia tidak lebih jago dalam bercakap-cakap dari aku. Dan bukan hanya itu, kami juga tak memiliki kesamaan apa pun untuk dijadikan bahan obrolan. Awalnya, kami berbincang tentang cuaca. Lalu kami ngobrol tentang hotel.

“Anda di sini sendirian?” tanyaku pada si Manusia Es.

“Ya,” jawabnya.

Dia bertanya, apakah aku suka main ski? “Nggak terlalu,” kataku. “Aku hanya datang karena teman-temanku ngotot mengajakku. Sesungguhnya aku benar-benar jarang main ski….”

Ada banyak hal yang sebenarnya sangat ingin aku tahu dari Manusia Es. Benarkan tubuhnya sungguh-sungguh terbuat dari es? Apa yang dia makan? Di mana dia tinggal di musim panas? Apakah dia punya keluarga? Ya, hal-hal semacam itulah. Tetapi Manusia Es tidak bicara tentang dirinya, dan itu membuatku menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Sebaliknya, Manusia Es malah berbicara tentang aku. Rasanya sulit dipercaya, tetapi entah bagaimana ia tahu semuanya. Dia tahu anggota keluargaku, dia tahu umurku, tahu apa yang kusuka dan yang tidak, tahu keadaan kesehatanku, tahu sekolah yang kumasuki dan tahu juga teman-teman yang biasa kukunjungi. Dia bahkan tahu hal-hal yang telah terjadi begitu jauh di masa lalu yang aku sendiri telah lupa.

“Saya tak mengerti,” kataku, bingung. Aku merasa seakan-akan aku telanjang di depan orang asing. “Bagaimana kamu bisa tahu begitu banyak tentang saya? Bisa baca pikiran orang ya…?”

“Nggak, saya nggak bisa baca pikiran atau apa pun yang semacam itu. Cuma tahu saja,” ucap si Manusia Es. “Saya tahu begitu saja. Seakan-akan saya jauh melihat ke dalam es, dan, ketika saya melihat Anda seperti ini, hal-hal tentang Anda menjadi terlihat begitu jelas bagi saya.”

Lalu aku bertanya, “Bisakah kamu melihat masa depan?”

“Saya nggak bisa melihat masa depan,” kata Manusia Es perlahan. “Saya sama sekali nggak mampu mengambil keuntungan dari masa depan. Lebih tepatnya…, saya nggak punya konsep masa depan karena es tak memiliki masa depan. Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-olah masih hidup, meskipun itu masa lalu. Itulah esensi es,” terangnya.

“Itu bagus,” ucapku sambil tersenyum. “Benar-benar lega mendengarnya. Setelah ini… aku pun sungguh-sungguh tak ingin tahu bagaimana masa depanku.”

***

Kami bertemu lagi beberapa kali setelah aku kembali ke kota. Akhirnya, kami mulai berkencan. Kami tidak pergi ke bioskop, atau ke café. Kami bahkan tidak pergi ke restoran. Manusia Es jarang makan. Kita paling sering duduk-duduk di bangku taman dan berbincang tentang banyak hal selain tentang Manusia Es sendiri.

“Kenapa begitu?” Sekali aku pernah bertanya. “Mengapa kamu tidak mau bicara tentang dirimu? Aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Di manakah kamu dilahirkan? Seperti apa rupa orang tuamu? Bagaimana ceritanya hingga kamu menjadi Manusia Es?”

Manusia Es menatapku sekejap lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” katanya pelan dan jelas, mengembuskan embusan gelembung kata putih ke udara. “Aku tahu banyak tentang masa lalu hal-hal lain, tapi aku sendiri tidak punya masa lalu. Aku tidak tahu di mana aku lahir, atau seperti apa orang tuaku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku memiliki orang tua. Aku juga tidak tahu berapa umurku, dan bahkan aku tidak tahu apakah aku memiliki umur.” Manusia Es ternyata sesepi gunung es di malam muram….

***

Aku serius jatuh cinta pada Manusia Es. Manusia Es pun mencintaiku apa adanya—di masa kini, tanpa masa depan. Pada gilirannya aku pun mencintai Manusia Es apa adanya—di masa sekarang, tanpa masa lalu. Kami bahkan mulai berbicara tentang pernikahan.

Aku baru berusia dua puluh, dan Manusia Es adalah lelaki pertama yang benar-benar kucintai. Saat itu, aku tidak bisa membayangkan apa artinya mencintai seorang Manusia Es. Tapi bahkan jika aku jatuh cinta pada pria normal sekalipun, aku ragu akankah aku bisa memiliki ide yang jelas tentang cinta?

Ibu dan kakak perempuanku tentu saja menentang ide menikahi Manusia Es.

“Kamu terlalu muda untuk menikah,” kata mereka. “Selain itu, kamu juga tidak tahu apa-apa tentang latar belakangnya. Kamu bahkan tidak tahu di mana Manusia Es dilahirkan dan kapan ia lahir. Bagaimana mungkin kita bisa bilang ke saudara dan kerabat kita kalau kamu menikahi orang semacam itu? Lagi pula, yang kita bicarakan ini Manusia Es! Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ia mencair, hah? Kamu nggak paham kalau pernikahan itu memerlukan komitmen yang ‘riil’?!”

Biar bagaimanapun, kekhawatiran mereka tidak beralasan. Karena pada akhirnya, Manusia Es tidak pernah benar-benar terbuat dari es….

***

Dia tidak akan meleleh, tak peduli betapa hangat kondisi sekitar di mana ia berada. Dia disebut Manusia Es karena tubuhnya sedingin es, tapi apa yang membuatnya begitu, jelas bukan es. Itu bukan jenis dingin yang bisa menghapus panas orang lain. Jadi… kami menikah.

Tidak ada yang memberkati pernikahan itu. Tidak ada teman atau kerabat yang berbahagia untuk kami. Kami tidak mengadakan upacara, dan, ketika datang waktunya bagiku untuk memiliki nama keluarga yang terdaftar, Manusia Es tak memilikinya. Kami hanya memutuskan bahwa kami berdua menikah. Kami membeli kue kecil dan makan bersama, dan itulah pernikahan kami yang sederhana.

Kami menyewa subuah apartemen kecil, dan Manusia Es mencari nafkah dengan bekerja di sebuah fasilitas penyimpanan daging dingin. Dia bisa mengambil sejumlah rasa dingin dari sana, dan tak pernah merasa lelah tak peduli seberapa keras ia bekerja. Majikan suamiku sangat menyukainya, dan membayar gaji Manusia Es lebih tinggi dari karyawan lain.

Kami berdua hidup bahagia tanpa mengganggu atau diganggu siapa pun. Ketika kami bercinta dan Manusia Es menggumuliku, aku melihat dalam pikiranku, sepotong es yang kuyakin ada di suatu tempat di kesendirian yang tenang.

Kupikir Manusia Es mungkin tahu di mana es tersebut berada. Es yang dingin, beku, dan keras, sebegitu kerasnya hingga kupikir tidak ada yang bisa melebihi kekerasannya. Itulah lempengan es terbesar di dunia. Terletak di suatu tempat yang sangat jauh, dan rupanya manusia Es tengah membagikan kenangan tersebut padaku dan pada dunia.

Awalnya, aku kerap bingung bila Manusia Es mengajak bercinta. Tapi, setelah beberapa waktu, aku menjadi terbiasa. Aku bahkan mulai menyukai bercinta dengan Manusia Es.

Pada malam hari, diam-diam kami berbagi potongan es terbesar di dunia, di mana ratusan juta tahun masa lalu dunia, tersimpan di dalamnya.

***

Dalam kehidupan pernikahan kami, tidak ada masalah untuk “berbicara”. Kami saling mencintai begitu dalam, dan tak ada yang lebih penting dari itu.

Kami ingin punya anak, tapi itu tampaknya tak mungkin. Ini lebih karena, mungkin… gen manusia dan gen Manusia Es tidak bisa digabungkan dengan mudah. Dalam kasus semacam ini, karena kami tidak memiliki anak, aku memiliki lebih banyak waktu.

Aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah di pagi hari, dan kemudian tidak ada lagi yang bisa kukerjakan. Aku tidak punya teman untuk bicara atau pergi bersama, dan aku tak memiliki banyak hal yang bisa dilakukan dengan para tetangga. Ibu dan kakak perempuanku masih marah dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bertemu denganku lagi. Dan meskipun bulan-bulan berlalu, dan orang-orang di sekitar kami mulai berbicara dengan Manusia Es, jauh di dalam hati, mereka masih belum bisa menerima keberadaan Manusia Es atau aku—yang telah menikahinya. Kami berbeda dari mereka, dan tak ada jumlah waktu yang dapat menjembatani kesenjangan itu. Jadi, sementara suamiku Manusia Es bekerja, aku tinggal sendiri di rumah, membaca buku dan mendengarkan musik.

Biar bagaimanapun aku cnderung lebih suka tinggal di rumah dan aku tak keberatan sendirian. Hanya saja aku masih muda, dan melakukan hal yang sama hari demi hari akhirnya mulai terasa mengganggu. Bukan kebosanan yang menyakitkan, tapi pengulangan. Itu sebabnya suatu hari aku berkata pada suamiku, “Bagaimana kalau kita pergi berdua? Sebuah perjalanan. Untuk ganti suasana saja….”

“Sebuah perjalanan?” tukas Manusia Es. Dia menyipitkan mata dan menatapku. “Untuk apa kita melakukan perjalanan? Tidakkah kau bahagia di sini bersamaku?”

“Bukan itu,” kataku. “Tentu saja aku senang bersamamu, tapi aku bosan. Aku merasa ingin pergi ke suatu tempat yang jauh dan melihat hal-hal yang belum pernah kulihat. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menghirup udara baru. Kamu mengerti kan maksudku? Lagi pula… kita belum berbulan madu. Kita punya tabungan dan kamu punya hari libur yang harus kamu isi. Bukankah ini cuma masalah waktu saja? Kita akan pergi ke suatu tempat, dan segalanya akan mudah serta menyenangkan.”

Manusia Es menghela napas bekunya dalam-dalam. Napas beku yang mengkristal di udara diiringi sedikit suara gemerincing. Dia menyusurkan jejarinya yang panjang bersama-sama di lutut. “Baiklah, jika kamu benar-benar ingin melakukan perjalanan, aku tak keberatan. Aku akan turut pergi ke mana pun kamu pergi andai itu membuatmu bahagia. Tapi, kamu tahu ke mana kamu mau pergi?”

“Bagaimana kalau kita mengunjungi Kutub Selatan?” kataku. Kupilih Kutub Selatan karena aku yakin bahwa Manusia Es akan tertarik pergi ke suatu tempat yang dingin. Dan, jujur saja, aku memang selalu ingin melakukan perjalanan ke sana. Aku ingin mengenakan mantel bulu yang bertopi indah, aku ingin melihat aurora australis dan juga kawanan penguin yang sibuk bermain. Namun, saat kukatakan hal tersebut, suamiku menatapku lekat, tanpa berkedip, dan aku merasa seolah-olah sebongkoah es menusukku, menembus bagian belakang kepalaku.

Manusia Es diam sejenak, dan akhirnya berkata dengan suara yang seperti salju berdentingan, “Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Mari kita pergi ke Kutub Selatan…. Kau sungguh-sungguh yakin ini yang kau inginkan?”

Entah kenapa aku tak bisa segera menjawab. Suamiku, Manusia Es, menatapku begitu lama, sedang di dalam kepalaku, aku seperti mati rasa. Lalu aku mengangguk.

***

Seiring waktu berlalu, aku mulai menyesali gagasan pergi ke Kutub Selatan. Aku tak tahu persisnya kenapa, tapi begitu aku mengucapkan kata “Kutub Selatan”, sesuatu berubah dalam diri suamiku. Matanya menjadi lebih tajam, napas yang keluar jadi lebih putih, dan jejarinya terlihat semakin beku. Setelah itu dia tak berbicara padaku lagi dan ia juga berhenti makan sepenuhnya. Semua itu tentu saja membuatku merasa sangat tidak nyaman.

Lima hari sebelum waktu berangkat, kubangun keberanian dan kukatakan pada suamiku, “Mari kita lupakan Kutub Selatan. Ketika kupikir hal itu sekarang, aku sadar kalau saat ini akan menjadi sangat dingin di sana, dan itu tidak bagus untuk kesehatanku. Jadi aku mulai berpikir mungkin lebih baik kalau kita pergi ke suatu tempat yang lebih biasa. Bagaimana kalau Eropa? Mari kita liburan di Spanyol. Kita bisa minum anggur, makan paella, dan melihat adu banteng atau sesuatu yang….”

Tapi suamiku tak menaruh perhatian, ia menatap angkasa beberapa lama lalu berkata, “Tidak, aku tidak terlalu ingin pergi ke Spanyol. Spanyol terlalu panas bagiku dan kotanya terlalu berdebu. Makanannya terlalu pedas. Selain itu, kita sudah membeli tiket ke Kutub Selatan. Dan kita punya mantel bulu, dan sepatu boot berbulumu sudah berbaris. Tak mungkin kita membuangnya ke tempat sampah. Sekarang kita sudah sejauh ini, kita tidak bisa tidak pergi….”

Alasan sesungguhnya aku mengajukan ide Eropa adalah bahwa sebenarnya aku takut. Aku memiliki firasat bahwa jika kami pergi ke Kutub Selatan sesuatu akan terjadi, dan sesuatu itu tak akan mungkin bisa di-undo. Tidak bisa diulang-kembalikan lagi.

Belakangan aku mengalami mimpi buruk, dan itu terjadi berulang-ulang. Selalu mimpi yang sama. Aku keluar berjalan-jalan sendiri lalu terjatuh begitu saja ke jurang yang dalam. Jurang terbuka di dasar tanah. Tak seorang pun menemukanku. Aku membeku di bawah sana. Diam dalam es, menatap nyalang ke langit di atas permukaan. Aku sadar, tapi aku tidak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan jari pun aku tak mampu. Dari waktu ke waktu aku sadar aku telah menjadi masa lalu. Aku seolah ada dalam adegan yang bergerak mundur, menjauh dari mereka; orang-orang tersebut. Lalu sekonyong aku terbangun, dan saat terbangun, aku menemukan Manusia Es terbaring tidur di sampingku.

Suamiku, Manusia Es yang selalu tidur tanpa bernapas, Manusia Es yang seperti manusia mati….

***

Kini aku merindukan Manusia Es yang dulu pernah kutemui di ski resort. Di sini tak mungkin lagi keberadaannya menjadi perhatian siapa pun. Semua orang di Kutub Selatan menyukai Manusia Es, dan anehnya, orang-orang itu tak mengerti sepenggal pun kata yang kuucapkan. Sambil menguapkan napas putih mereka, mereka akan saling menceritakan lelucon dan berdebat serta menyanyikan lagu dalam bahasa mereka yang tak kumengerti, sementara aku duduk sendirian di kamar kami, memandang langit abu-abu yang sepertinya tak mungkin akan menjadi cerah dalam beberapa bulan mendatang. Pesawat terbang yang membawa kami ke sana sudah lama hilang, dan landasan pesawat kini tertutup lapisan es keras, sekeras hatiku.

“Musim dingin telah datang,” ujar suamiku. “Ini akan menjadi musim dingin yang sangat panjang. Takkan lagi ada pesawat atau kapal. Semuanya telah membeku. Kelihatannya kita harus tinggal di sini sampai musim semi berikutnya,” begitu ucapnya.

Sekitar tiga bulan setelah kami tiba di Kutub Selatan, aku baru sadar kalau aku hamil. Anak yang akan kulahirkan pastilah Manusia Es kecil, si junior—aku tahu itu! Rahimku sudah beku dan cairan ketubanku adalah lumpur es. Aku bisa merasakan dingin dalam diriku. Anakku akan menjadi seperti ayahnya, memiliki mata seperti tetesan air beku dan jejari yang juga kaku beku. Keluarga baru kami tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di luar Kutub Selatan.

O, aku baru tersadar. Masa lalu abadi, teramat berat dan melampaui semua pemahaman, mencengkeram begitu erat. Kita tak akan mampu mengguncangnya.

Sekarang… hampir tak ada hati tertinggal padaku. Kehangatanku telah pergi teramat jauh, dan terkadang aku bahkan lupa kalau kehangatan itu pernah ada. Di tempat ini, aku lebih kesepian dari siapa pun di dunia. Dan ketika aku menangis, suamiku sang Manusia Es akan mendekat dan mencium pipiku. Mengubah air mataku menjadi es. Dan dengan lembut dia akan mengambil air mata yang membeku di tangannya itu dan meletakkannya di ujung lidah, “Lihat betapa aku mencintaimu,” katanya.

Dia mengatakan hal yang sesungguhnya, tapi angin menyapunya ke ketiadaan, meniupkan kata-kata putihnya kembali dan kembali ke masa lalu…. (*)

(Hadiah ultah ke-25 untuk seseorang….)

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Richard L. Peterson. Lalu, diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Ucu Agustin.

Cerpen| Gadis Jepang

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Pernah aku berkhayal, suatu saat nanti aku akan ke Jepang dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri gadis-gadis muda berpakaian pelaut dengan rok yang jauh di atas lutut. Nyatanya, kali pertama aku melihat gadis Jepang justru ketika aku liburan ke Bali. Gadis-gadis itu sedang menikmati pantai yang sama denganku, memakai bikini berwarna cerah yang kepayahan menutupi payudara mereka yang menonjol, dan mendadak bayangan adegan demi adegan film dewasa Jepang yang selalu kutonton diam-diam berkelebat di kepalaku.

Aku menyadari hal di atas terjadi hampir sepuluh tahun silam, dan selama itu pula aku masih menyimpan harapanku dalam-dalam. Jepang masih menjadi tujuan yang terasa amat jauh bagiku. Aku bahkan belum pernah keluar negeri, meski aku memiliki paspor yang masa berlakunya tersisa 2 bulan lagi. Paspor yang menampakkan foto pipiku yang belum bertelur itu memiliki tatapan yang meledek karena aku malah berkawan dengan kolesterol dalam beberapa tahun terakhir.

Tentu dua paragraf di atas tak pernah kuungkapkan kepada Akina. Ia akan memanggilku cowok mesum kalau sampai tahu aku demikian. Meski sebenarnya aku tak berkeberatan disebut mesum, karena mesum itu bukan dosa. Mesum boleh-boleh saja, goblok yang jangan. Itu prinsipku.

“Aku sering membaca Murakami…” kumulai pembicaraan dalam bahasa Inggris yang pas-pasan.
“Murakami?”
“Haruki Murakami,” jelasku. “Kalau Ryu Murakami, aku baru baca 2 judul, Coin Locker Babies dan In The Miso Soup. Kamu baca juga?”
“Aku baca Haruki, Ryu belum pernah. Wow, aku tidak menyangka kamu membaca mereka berdua.”
“Aku juga banyak membaca yang lain, seperti Akutagawa, Natsuo Kirino, dan tentu saja komik-komik Jepang. Kamu suka baca komik nggak?”
“Tentu, tentu… kamu lagi baca apa?”
“Shingeki No Kyojin… aku suka sekali. Menonton para raksasa memangsa manusia, dan manusia berusaha bertahan hidup dan membasmi para raksasa itu membuatku berpikir ulang mengenai kemanusiaan. Aku juga baca One Punch Man, sebuah komik satir yang menyinggung tokoh-tokoh Shonen.”
“Aku sebagai Jepang jadi minder bicara dengan kamu. Sepertinya kamu tahu jauh lebih banyak tentang itu daripada aku….”
Tentu saja, Akina. Aku harus tampak mengagumkan dan berpengetahuan di hadapanmu. Dengan begitu, kamu baru akan memperhatikan aku, bukan?

Para pembaca sekalian pasti bertanya-tanya di mana dan bagaimana aku bertemu Akina, bagaimana perawakan Akina, atau ciri khas yang mungkin dia miliki. Dialog di atas terlalu tiba-tiba untuk pembukaan cerita sehingga menuduhku hanya seorang penulis amatir yang picisan yang setiap hari hanya bisa melamun.

Pelan-pelan dong! Lagian tidak ada salahnya juga melamun. Melamunnya seorang penulis berbeda dengan melamunnya orang biasa sama halnya tak dapat kalian samakan dengan melamunnya ilmuwan. Einstein juga hobinya melamun, dan dalam sebuah lamunannya, ia tak mempercayai adanya gravitasi. Fisika menyaratkan ada aksi, ada reaksi. Benda bergerak karena ada gaya dorong, bukan gaya tarik. Jika ada gaya tarik, maka harus ada exit door energi pada suatu tempat. Pada itu, Einstein berpendapat, gaya tarik itu tidak ada. Alam semesta (ruang dan waktu) ini melengkung sehingga planet-planet mengeliling matahari, sama sekali bukan karena gaya tarik matahari.

Akina juga mungkin sebenarnya tidak memiliki gaya tarik. Akulah yang terkena gaya dorong sesuatu bernama hasrat ketika kudengar suaranya yang nyaring, aku malah membayangkan bagaimana caranya dia mendesah. Matanya tentu sipit, giginya tak rata, pipinya juga bulat dan kalau ia merasa malu atau kepanasan, pipi itu akan bersemu merah. Keterbatasan bahasa membuat dia sering melongo bila ia menemukan kalimat yang tak ia mengerti dari anak-anak yang mengerumuninya. Akina tampak disukai anak-anak, dan tentu saja sebagian besar anak lelaki. Aku yakin anak-anak lelaki itu sudah nonton film dewasa Jepang.

Kami bertemu dalam sebuah program residensi penulis-penulis ASEAN. Jepang tentu saja bukan ASEAN. Jepang hanyalah negara yang pernah menjajah beberapa negara di kasawan Asia Tenggara dan mungkin karena merasa bersalah, mereka rajin berkomunikasi dengan mereka. Termasuk dalam acara ini, Jepang menjadi salah satu sponsor. Dan Akina, seorang editor dan penulis buku-buku literatur pelajaran Bahasa Inggris, mewakili mereka.

Sejujurnya, hampir sebagian hariku di rumah residensi kuhabiskan dengan memperhatikan Akina. Dalam sebuah sesi diskusi tentang keberagaman dan marjinalitas, aku bertanya pada Akina, “Kamu membaca IQ84? Aku penasaran dengan maksud orang kecil dan fenomena aliran kepercayaan yang dipeluk sebagian masyarakat Jepang, yang entah kenapa ditulis Murakami: mereka berprofesi sebagai petani? Selain mim dengan Orwell, 1984, yang kupikir sebuah propaganda anti komunisme, apakah kelas-kelas pekerja di Jepang juga telah menjadi sebuah struktur manusia?”

“Saya belum membaca novel itu sih, tapi bagaimana ya aku menjelaskannya…”

Akina mulai mengucapkan beberapa hal. Tentu saja aku tidak peduli pada apa yang dia katakan. Aku hanya ingin mendengar suaranya, memperhatikan setiap ekspresi yang keluar dari wajahnya. Aku suka dia bermimik muka serius menanggapi pertanyaanku itu.

“Kamu menulis apa?” Tanyanya pada suatu kesempatan.
“Menurutmu?”
“Novel? Cerita pendek?”
“Puisi,” jawabku singkat.
“Berarti kamu pria yang manis.”
“Apa di Jepang, setiap pria yang menulis puisi, kamu anggap manis?”
“Tidak mudah menulis puisi, bukan? Mereka biasanya pendiam.”
“Aku tak tahu banyak tentang puisi Jepang. Aku hanya tahu Basho…” kataku sambil mengingat haiku-haiku yang pernah ditulisnya. “Puisiku tak seperti puisi Basho….”
“Seperti apa?”
“Kamu ingin mendengarnya?”

Akina mengangguk. Tak ada puisiku dalam bahasa Inggris. Aku meminta waktu sebentar untuk menerjemahkan
puisiku.

Kau adalah rahasia yang tak pernah diucapkan musim semi
Setelah setiap helai daun yang pernah mukim di bumi gugur
Tak ada pengetahuan yang dapat kucerna, meski
Terkadang cinta datang sebelum pengetahuan

Kubacakan lirik itu dengan pelan dengan kepala tertunduk. Aku tak bisa membaca puisi seperti gaya ala deklamasi puisi, bersuara lantang atau berteriak penuh semangat. Aku membaca puisi seperti aku membaca segala hal.
Aku tak tahu bagaimana perasaan Akina setelah mendengarku.

“Sudah kuduga…” katanya.
“Apa?”
“Kamu romantis.”
“Lalu apa kamu suka pria romantis?”

Tiba-tiba saja kuucapkan pertanyaan itu. Pipi Akina yang putih tiba-tiba seperti terlalu banyak dipakaikan make up. Dia tidak menjawabku sama sekali. Dia malah mengipasi tubunya dengan kencang. Akina pernah bilang Jakarta begitu panas. Setiap hari yang sudah dia jalani seperti musim panas di Jepang.

Namun pikiranku malah melayang ke adegan-adegan berbikini. Musim panas adalah surga bagi pria Jepang, karena mereka akan berlibur ke pantai, dan di sanalah, para gadis akan memakai bikini…two pieces…yang dengan sempurna akan menampakkan perut langsing mereka.

Kutatap Akina, dan aku terpaksa meneguk ludah.

Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Hingga tujuh hari berlalu, tetapi tak pernah ada waktu untuk mengobrol berdua dengan Akina. Para gadis tidur di lantai atas. Kami tidak punya banyak waktu berinteraksi selain saat sarapan, atau sesi-sesi diskusi yang harus kami ikuti. Waktu kami hampir habis.

Akina turun dari tangga. Ia suka sekali memakai kaos putih dipadukan dengan celana pendek. Rambutnya basah. Tidak perlu kujelaskan kalau ia pasti habis mandi.

Aku menatapnya lebih lama dari biasanya. Aku tak tahu apa ia sadar aku menatapnya. Semua pria di ruangan langsung menggodanya. Terutama seorang pria dari Palembang, yang rajin sekali menggombalinya. Padahal dia sudah punya istri—ah, sungguh tak tahu malu. Pria dari Filipina bahkan terang-terangan menyebut nama-nama seperti Sora Aoi, Miyabi, dan Akina hanya tertawa mendengar mereka semua.

Aku menyukai tawa itu. Aku ingin memiliki tawa itu.

Yang tak kusangka kemudian adalah Akina malah berjalan mendekati aku.

“Hei, kamu!” sapanya. “Melamunkan apa?”
“Negara. Percaya?” jawabku sekenanya.
“Mana yang lebih rumit, negara atau perempuan?” tanyanya.
“Menurutmu, dirimu rumit?”

Akina hanya menaikkan bahunya. Lalu pandangan kami bertemu untuk pertama kali sebelum matanya melarikan diri beberapa detik kemudian.

“Akina…”
“Ya?”
“Jika tahu, besok adalah akhir dari dunia ini, dengan siapa kamu ingin menghabiskan hari ini?”
“Kamu sendiri? Mau dengan siapa?”
“Aku tak pernah menyukai perempuan…”

Dengan cepat Akina memotong kalimatku. “Jadi, kamu menyukai lelaki?”
“Sampai aku bertemu denganmu.”
Pipinya memerah lagi.
“Kamu manis sekali, ya…tapi…”
“Tapi?”
“Aku minta maaf, aku baru menanyakan ini sekarang.”
“Apa?”
“Namamu siapa? Aku lupa.” Akina menyengir.
“Ah… Aku Rio… Rio Johan,” jawabku sambil mengulurkan tangan.

Tapi, uluran tanganku itu hanya menemu udara kosong.

(2017)

Cerpen Haruki Murakami: Zombie

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Seorang lelaki dan seorang gadis berjalan menyusuri jalan di sebelah kuburan pada tengah malam. Malam yang berkabut. Mereka sebenarnya tidak mau berjalan di tempat seperti itu di tengah malam begini, tapi mereka terpaksa harus melewati jalan ini. Mereka berpegangan tangan satu sama lain dengan erat dan berjalan secepat yang mereka bisa.

“Rasanya seperti di video klipnya Michael Jackson saja,” kata gadis itu.

“Ya, lihat batu nisannya serasa bergerak,” kata si lelaki.

Saat itu, mereka mendengar sebuah erangan, giiiiii, terdengar seperti sesuatu yang berat bergerak di suatu tempat. Mereka berdua berhenti berjalan dan dengan spontan saling berpandangan satu sama lain.

Si lelaki tertawa. “Tenang saja. Tidak perlu takut. Hanya ranting pohon yang bergesekan satu sama lain. Karena angin atau sesuatu.”

Tapi tak ada angin bertiup. Gadis itu menelan ludah dan melihat sekeliling. Dia punya firasat buruk tentang ini, firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Ada zombie.

Tapi mereka tidak mendapati hal semacam itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa orang mati telah bangkit, sehingga mereka berdua mulai berjalan lagi. Gadis itu merasakan wajah sang lelaki itu berubah dengan anehnya jadi kaku.

“Mengapa kau berjalan seperti seorang pelacur?” Tanyanya tiba-tiba.

“Aku?” Tanya gadis itu, terkejut. “Apakah aku benar-benar berjalan seperti pelacur?”

“Itu menjijikan,” kata si lelaki itu.

“Benarkah?”

“Jalanmu mengangkang begitu.”

Gadis itu menggigit bibirnya. Dia memang berjalan sedikit mengangkang. Sebab bagian bawah sepatunya sedikit terkelupas, tapi itu bukanlah sesuatu yang buruk bagi siapa pun untuk langsung menyadarinya dan menggunjingkan soal itu padanya.

Tapi gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Dia mencintai lelaki itu, dan lelaki itu pun mencintainya. Mereka berencana menikah bulan depan, dan dia tidak ingin membuat pertengkaran konyol. Aku mungkin sedikit mengangkang, pikirnya. Lalu apa masalahnya dengan itu?

“Ini adalah pertama kalinya aku berpacaran dengan wanita yang berjalan mengangkang.”

“Benarkah?” Kata gadis itu dengan senyum kaku di wajahnya. Apakah si lelaki sedang mabuk? Tidak, si lelaki tidak minum malam ini, pikirnya.

“Dan ada tiga tahi lalat di telingamu,” kata si lelaki.

“Oh, benarkah?” Kata gadis itu. “Telinga yang mana?”

“Yang kanan. Tepat di dalam telinga kananmu, ada tiga tahi lalat. Itu benar-benar jelek.”

“Apakah kamu membenci tahi lalat?”

“Aku benci tahi lalat yang jelek. Oh planet manakah yang bakal menyukai sesuatu seperti itu?”

Gadis itu menggigit bibirnya.

“Dan kemudian soal bau badanmu,” lelaki itu melanjutkan. “Ini menggangguku. Jika saja aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya saat musim panas, mungkin kita tak akan berkencan.”

Gadis itu menghela napas dan menarik tangannya dari si lelaki itu.

“Hei, tunggu sebentar. Apakah kau harus mengatakan hal seperti itu kepadaku? Itu benar-benar menyebalkan. Apakah itu yang selama ini kau pikirkan?”

“Kerah bajumu kotor. Yang sekarang kau pakai malam ini. Mengapa kau begitu jorok? Tidak bisakah kau lakukan satu hal saja yang benar?”

Gadis itu terdiam. Dia begitu marah sehingga mulutnya tidak bisa bekerja.

“Kau tahu, aku punya satu ton hal yang ingin aku ungkapkan padamu. Kaki hinamu, baumu, kerah kotormu, tahi lalat di telingamu, dan ini masih pemanasan. Oh benar, kenapa kau memakai anting-anting yang terlihat begitu buruk? Kau terlihat seperti seorang pelacur. Tidak, bahkan pelacur pun lebih berkelas ketimbang kau. Kalau kau akan memakai sesuatu seperti itu, kenapa tidak kau tempatkan cincin di hidungmu saja? Itu kelihatan sempurna dengan tumpukan lemak di dagumu. Dan itu benar, tumpukan lemak di dagumu membuatku ingat – ibumu adalah babi. Dia benar-benar seekor babi yang menguik. Kau pun akan terlihat seperti itu setelah dua puluh tahun kemudian. Kau gembrot, sama seperti ibumu. Dasar babi! Kau bahkan benar-benar makan tai. Ayahmu sama menjijikan juga. Dia hampir tidak bisa menulis kanji, kau tahu itu? Dia baru-baru ini menulis surat kepada orang tuaku, benar, dan semua orang menertawakannya. Mereka mengatakan dia seorang buta huruf. Apakah bajingan itu sudah lulus dari sekolah dasar? Rumahmu menyebalkan. Terletak di pemukiman kumuh. Sesuatu yang menyenangkan jika seseorang menyiramnya dengan bensin lalu membakarnya. Pasti akan terdengar desisan lemak babi ketika terbakar, aku jamin.”

“Hei, kalau kau sangat membenciku, kenapa kau mau menikah denganku?”

Lelaki itu tidak memperhatikan dirinya. “Kau babi,” katanya. “Dan kemudian punyamu itu. Sangat menjijikan. Aku hanya bisa pasrah, itu seperti karet gelang murahan yang sudah terentang terlalu lama. Jika aku memiliki hal seperti itu, aku pasti akan mati. Jika aku seorang wanita, dan hal seperti itu ada padaku, aku akan mati karena malu. Tak peduli bagaimana aku harus mati. Aku hanya akan mati secepat yang aku bisa. Aku terlalu malu untuk hidup.”

Gadis itu berdiri di sana dalam keadaan linglung. “Bagaimana kau bisa ….”

Tiba-tiba, lelaki itu mencengkeram kepalanya sendiri. Wajahnya berkerut menyakitkan, dan dia jatuh ke tanah. Dia menggaruk pelipisnya dengan kukunya. “Ini menyakitkan!” Katanya. “Kepalaku serasa bakal pecah. Aku tidak tahan. Ini sungguh menyakitkan!”

“Apakah kau baik-baik saja?” Gadis itu bertanya.

“Aku sedang tidak dalam keadaan baik! Aku sudah tak tahan lagi! Kulitku terbakar menjadi potongan-potongan!”

Gadis itu menyentuh wajah si lelaki itu dengan tangannya. Memang demam, bahkan seolah-olah itu benar-benar terbakar. Gadis itu dengan lembut mencoba mengusapnya, tapi kulit si lelaki terlepas. Seperti dikupas, daging merah berlendir pun terlihat. Gadis itu tersentak dan melompat ke belakang.

Lelaki itu berdiri dan tertawa, merobek kulitnya dengan tangannya sendiri. Bola matanya jatuh keluar dari kepalanya dan terjuntai ke bawah. Hidungnya menyusut ke dalam menghasilkan hanya dua lubang hitam. Bibirnya menciut, dan giginya bergemelatukan, menyeringai pada si gadis.

“Alasan aku bertahan denganmu begitu lama adalah untuk makan daging babi berlemakmu. Kenapa lagi aku mau berkencan dengan seseorang sepertimu? Tapi kau terlalu bodoh untuk menyadarinya. Kau idiot ya? Kau idiot ya? Kau idiot ya? Heh heh heh heh heh heh heh …!”

Dan kemudian gumpalan daging itu mendekat mengejarnya. Si gadis mulai berlari, tapi dia tidak bisa melarikan diri dari gumpalan daging yang terhuyung-huyung di belakangnya. Di tepi kuburan, tangan berlendir itu berhasil mencengkeram kerah baju si gadis. Dia menjerit dan berteriak.

…..

Lelaki itu memeluk tubuh gadis itu.

Tenggorokannya kering. Lelaki itu menatapnya sambil nyengir.

“Ada masalah apa? Apakah kau mendapat mimpi buruk?”

Gadis itu duduk dan melihat sekelilingnya. Dia telah tidur dengan lelaki itu di tempat tidur di sebuah hotel dekat danau. Dia menggeleng.

“Apakah aku menjerit?”

“Beberapa kali,” kata si lelaki, tertawa. “Jeritanmu benar-benar keras. Aku yakin semua orang di hotel mendengarnya. Aku berharap tidak ada yang berpikir aku sedang mencoba membunuhmu.”

“Maafkan aku,” katanya.

“Tidak apa-apa, jangan khawatir tentang hal itu,” kata lelaki itu. “Kau bermimpi buruk?”

“Kau bahkan tidak bisa membayangkan betapa buruknya mimpi itu.”

“Apakah kau mau menceritakannya?”

“Aku tidak ingin berbicara tentang hal itu,” katanya.

“Akan lebih baik jika kau menceritakannya. Jika kau membicarakan masalahmu kepada seseorang, maka semua getaran buruk itu mungkin akan hanyut.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak ingin berbicara tentang hal itu sekarang. ”

Keduanya terdiam beberapa saat. Dia memeluk dada telanjang lelaki itu. Dia bisa mendengar katak bernyanyi di kejauhan. Detak jantung lelaki itu berdebam keras.

“Hei,” kata gadis itu, mengingat. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Apa?”

“Apakah ada tahi lalat di telingaku?”

“Tahi lalat?” Tanya lelaki itu. “Apakah yang kau maksud tiga tahi lalat jelek yang ada di telinga kananmu itu?”

Dia menutup matanya. Oh, ini belum berakhir rupanya …

xxx

 

Penulis: Murakami Haruki (村上 春樹)

Judul: ゾンビ (Zonbi)

Diambil dari: TV ピープル (Terebi piipuru, 1993) diterjemahkan Kathryn @ Japanesse Translation

Cerpen Haruki Murakami: Yesterday

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Cerpen Haruki Murakami: Yesterday

Sejauh yang kutahu, satu-satunya orang yang pernah menggunakan lirik Jepang untuk menyanyikan lagu Yesterday-nya The Beatles (dan mendendangkannya dalam dialek Kansai yang khas itu) adalah seorang pria bernama Kitaru. Ia gunakan lirik versi miliknya ini saat berkaraoke ria di kamar mandi.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Yang kuingat seperti inilah lagunya dimulai, tapi karena aku sudah tak mendengar lagi untuk waktu yang lama, jadi aku tidak begitu yakin. Dari awal sampai akhir, lirik Kitaru ini hampir tidak berarti, asal-asalan, omong kosong yang tak ada hubungannya dengan versi aslinya. Lagu sahdu dengan melodi melankolis yang begitu familiar itu dikawinkannya dengan dialek Kansai yang semilir -jauh dari nuansa sedih- membuat lagu itu menjadi sebuah kombinasi aneh, semacam dobrakan berani. Setidaknya, itulah yang terdengar olehku. Pada saat itu, aku hanya mendengarkan dan menggeleng. Aku tertawa dibuatnya, namun aku juga bisa menangkap semacam pesan tersembunyi di dalamnya.

Aku pertama kali bertemu Kitaru di sebuah kedai kopi dekat gerbang utama Universitas Waseda, tempat kami bekerja paruh waktu, aku bekerja di dapur sementara Kitaru menjadi pelayan. Kami berbicara banyak selama waktu senggang di toko itu. Kami berdua sama-sama berusia dua puluh tahun, dan ulang tahun kami hanya berjarak seminggu.

“Kitaru adalah nama yang tidak biasa,” kataku suatu hari.

“Ya, memang,” jawab Kitaru dengan aksen Kansai yang berat.

“Tim bisbol Lotte punya pitcher dengan nama yang sama.”

“Tak ada hubungan antara kami berdua. Memang nama kami tidak umum, jadi siapa tahu? Mungkin ada hubungannya juga sih.”

Aku adalah seorang mahasiswa Waseda, di fakultas sastra. Kitaru sendiri gagal ujian masuk dan sedang mengikuti kursus persiapan agar bisa tembus. Sebenarnya dia telah gagal ujian dua kali, tapi nampaknya dia tidak terlalu peduli. Dia kelihatan tidak serius belajar. Ketika punya banyak waktu, dia memang banyak membaca, tapi tidak ada yang terkait dengan ujian – biografi Jimi Hendrix, buku tentang shogi, “Where Did the Universe Come From?” dan sejenisnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa ia pulang-pergi ke tempat kursus dari rumah orangtuanya di Ota Ward, Tokyo.

“Ota Ward?” Aku bertanya heran. “Tapi kupikir kau dari Kansai.”

“Oh bukan. Aku lahir dan dibesarkan di distrik Denenchofu.”

Ini benar-benar membuatku bingung.

“Lalu kenapa kamu berbicara dengan dialek Kansai?” Tanyaku.

“Aku mendapatkannya. Hanya dengan mempelajarinya.”

“Mendapatkannya?”

“Ya, kamu bisa lihat hasil kerja kerasku ini kan? Kata kerja, kata benda, aksen-seluruhnya kupelajari. Sama lah seperti belajar bahasa Inggris atau Perancis. Bahkan aku pergi ke Kansai untuk latihan.”

Ternyata ada ya orang yang belajar dialek Kansai seperti halnya belajar bahasa asing? Ini hal baru bagiku. Ini membuatku menyadari betapa Tokyo ini luas, dan banyak hal yang aku belum tahu. Mengingatkanku pada novel “Sanshiro”, cerita tentang orang kampung yang pergi ke kota besar.

“Saat masih kecil, aku adalah penggemar berat Hanshin Tigers,” Kitaru menjelaskan. “Pergi ke setiap pertandingan mereka kalau bermain di Tokyo. Tetapi jika aku duduk di tempat duduk pendukung Hanshin dan berbicara dengan dialek Tokyo, tak seorang pun ingin menyapaku. Tidak bisa menjadi bagian dari masyarakat, kau tahu kan rasanya? Jadi kupikir, aku harus belajar dialek Kansai, dan aku bekerja keras seperti seperti anjing saja.”

“Jadi itu yang memotivasimu?” Aku hampir tak percaya.

“Benar. Tigers sangat berarti bagiku,” kata Kitaru. “Sekarang dialek Kansai yang aku pakai saat berbicara di sekolah, di rumah, bahkan ketika aku tidur pun. Dialekku ini hampir sempurna kan?”

“Tentu saja. Aku berpikir kamu dari Kansai,” pujiku.

“Jika aku serius belajar untuk ujian masuk seperti yang kulakukan saat mempelajari dialek Kansai, tentunya aku tidak akan menjadi pecundang yang dua kali gagal seperti sekarang.”

Dia menyadarinya juga. Bahkan pembawaan dirinya itu sudah seperti orang Kansai.

“Jadi kalau kamu dari mana?” Tanyanya.

“Kansai. Dekat Kobe,” kataku.

“Dekat Kobe? Sebelah mana?”

“Ashiya,” jawabku.

“Wow, bagus. Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal?”

Aku menjelaskan. Kalau orang bertanya tentang asalku dan aku mengatakan berasal dari Ashiya, maka mereka selalu beranggapan bahwa aku dari keluarga kaya. Padahal semua jenis keluarga pun ada di Ashiya. Keluargaku, salah satu yang tidak terlalu kaya. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan ibuku adalah pustakawan. Rumah kami kecil dan mobil kami Corolla berwarna krim. Jadi, ketika orang bertanya padaku di mana aku berasal, maka aku akan mengatakan asalku di “dekat Kobe”, sehingga mereka tidak berpraduga dulu tentangku.

“Hey, sepertinya kau dan aku senasib,” kata Kitaru. “Alamatku di Denenchofu-area kelas atas- namun rumahku berada di bagian kumuhnya. Rumahnya kumuh juga. Kamu harus datang kapan-kapan. Kamu akan terkejut, seperti, Apa? Ini di Denenchofu? Tidak mungkin! Tapi mengkhawatirkan sesuatu seperti itu tidak masuk akal, kan? Ini alamatnya. Tapi aku melakukan kebalikan-aku mengatakan langsung dengan bangga bahwa aku dari Den-en-cho-fu. Terus kenapa, ada masalah dengan ini, hah?”

Aku pun terkesan. Dan karena inilah awal pertemanan kami.

***

 

***

Sampai lulus SMA, aku berbicara dengan dialek Kansai. Tapi cuma butuh satu bulan di Tokyo bagiku untuk menjadi benar-benar fasih dalam standar Tokyo. Aku agak terkejut bahwa aku bisa beradaptasi begitu cepat. Mungkin aku memiliki kemampuan beradaptasi seperti bunglon. Atau mungkin aku memiliki keterampilan berbahasa yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Yang pasti, sekarang tidak ada yang percaya bahwa aku seorang yang berasal dari Kansai.

Alasan lain aku berhenti menggunakan dialek Kansai adalah bahwa aku ingin menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Saat aku pindah dari Kansai ke Tokyo untuk memulai kuliah, aku menghabiskan seluruh waktu di kereta cepat dengan meninjau delapan belas tahun usiaku dan menyadari bahwa hampir segala sesuatu yang telah terjadi padaku cukup memalukan. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku tidak ingin mengingat semua itu karena sangat menyedihkan. Semakin aku berpikir tentang hidupku sampai saat itu, semakin aku membenci diriku sendiri. Itu bukan berarti aku tidak memiliki beberapa kenangan yang baik. Ada sejumlah pengalaman bahagia. Tapi, jika mengakumulasikannya, kenangan yang memalukan dan menyakitkan jauh lebih banyak. Ketika aku berpikir tentang bagaimana aku telah mengisi hidupku, bagaimana aku harus menjalani kehidupan selanjutnya, ini semua begitu terlambat, sehingga yang kudapat hanya kesia-siaan. Seorang kelas menengah yang tak kreatif seperti sampah, dan aku ingin mengumpulkan semuanya kemudian menyimpannya dalam laci. Atau membakarnya dan memelototinya sampai menjadi asap (aku tidak tahu jenis asap apa yang akan tercipta). Pokoknya, aku ingin menyingkirkan semua itu dan memulai hidup baru di Tokyo sebagai orang baru. Dengan menanggalkan dialek Kansai, ini menjadi sebuah metode praktis (serta simbolik). Karena, menurut sebuah penelitian, bahasa yang kita pakai mencerminkan siapa kita. Setidaknya inilah ideku saat masih di usia delapan belas itu.

“Memalukan? Apanya yang memalukan?” Kitaru bertanya.

“Kamu pasti tahu.”

“Punya hubungan buruk dengan keluargamu?”

“Hubungan kami baik kok,” kataku. “Hanya saja itu memalukan. Hanya berada bersama mereka membuatku merasa malu.”

“Kau aneh, kau tahu itu kan?” Kata Kitaru. “Kenapa kau malu dengan keluargamu? Aku nyaman-nyaman saja dengan keluargaku.”

Aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya. Apa yang begitu buruk tentang memiliki Corolla berwarna krem? Aku tidak bisa mengatakan. Orang tuaku hanya tidak tertarik untuk menghabiskan uang demi penampilan, itu saja.

“Orang tuaku juga kesusahan karena aku tidak belajar sungguh-sungguh. Aku benci itu, tapi gimana ya? Itu urusan mereka. Jadi kau tetap harus melihat masa lalumu itu, kau tahu?”

“Oh kau sungguh orang yang santai, kan?” Kataku.

“Kau punya pacar?” Tanya Kitaru.

“Tidak untuk saat ini.”

“Tapi kamu punya sebelumnya kan?”

“Sampai beberapa waktu yang lalu.”

“Kalian putus?”

“Memang,” kataku.

“Kenapa kau putus?”

“Ceritanya panjang. Aku tidak ingin mengungkitnya.”

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?”

Aku menggeleng. “Tidak begitu jauh sih.”

“Jadi karena inilah kamu putus?”

Aku memikirkannya. “Ya karena ini juga.”

“Tapi kau sudah bercinta dengannya kan?”

“Hampir.”

“Tepatnya sampai sejauh mana?”

“Aku tidak ingin berbicara tentang hal itu,” kataku.

“Apakah itu sesuatu yang memalukan untuk kamu bicarakan?”

“Ya,” kataku.

“Oh, hidupmu sungguh rumit,” kata Kitaru.

***

Pertama kali aku mendengar Kitaru menyanyikan “Yesterday” dengan lirik gilanya itu ketika dia sedang di kamar mandi rumahnya di Denenchofu (berbeda dari uraiannya, sebenarnya bukan rumah kumuh di lingkungan kumuh tapi hanya sebuah rumah biasa di lingkungan biasa, sebuah rumah tua, tetapi lebih besar dari rumahku di Ashiya, rumah yang tidak terlalu mencolok, dan terdapat mobil Golf biru tua di jalan masuk, mobil model terbaru). Setiap kali Kitaru pulang, ia langsung menjatuhkan barang-barangnya kemudian memasuki kamar mandi. Dan, ketika sudah berada di bak mandi, ia bakal tinggal lama di dalamnya. Jadi aku sering membawa bangku bulat kecil ke ruang ganti yang berdekatan dan duduk di sana, berbicara kepadanya melalui pintu geser yang terbuka sekitar satu inci. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghindari ibunya yang selalu menceracau ke sana-kemari (kebanyakan keluhan tentang anak anehnya dan bagaimana ia perlu belajar lebih sungguh-sungguh).

“Lirikmu itu tidak masuk akal,” kataku. “Kedengarannya kamu sedang mengolok-olok lagu ‘Yesterday.’”

“Jangan sok pintar. Aku tidak mengolok-olok kok. Kalau pun iya, kamu harus ingat bahwa John sendiri juga suka terhadap omong kosong dan permainan kata. Benar kan?”

“Tapi Paul yang menulis ‘Yesterday’.”

“Kamu yakin?”

“Tentu saja,” aku menyatakan. “Paul yang menulis lagu dan merekamnya sendiri di studio dengan gitar. Sebuah string quartet ditambahkan kemudian, bahkan anggota The Beatles yang lain tidak terlibat sama sekali. Mereka pikir itu terlalu lemah untuk dijadikan lagu The Beatles.”

“Benarkah? Aku tidak tahu ada informasi rahasia seperti itu.”

“Ini bukan informasi rahasia. Ini cuma fakta yang sudah terkenal kok,” kataku.

“Ah siapa peduli? Itu hanya detail,” suara Kitaru terdengar sayup-sayup dari dalam. “Aku bernyanyi di kamar mandi rumahku sendiri. Bukan untuk rekaman atau apalah namanya. Aku tidak melanggar hak cipta, dan tak mengganggu siapapun. Jadi kamu tak punya hak untuk mengeluh.”

Dan dia sampai pada refrain, suaranya keras dan jelas. Dia bisa sampai nada tinggi dengan cukup baik. Aku bisa mendengar percikan air mandinya yang mengiringi nyanyiannya. Aku mungkin harus ikut bernyanyi bersamanya untuk sekedar membesarkan hatinya. Hanya duduk saja, berbicara melalui pintu kaca untuk menemaninya saat ia berendam dalam bak mandi selama satu jam sesungguhnya jauh dari menyenangkan.

“Kenapa sih kamu dapat berendam begitu lama di kamar mandi?” Aku bertanya. “Apakah tubuhmu itu tak jadi bengkak?”

“Ketika aku berendam di bak mandi untuk waktu yang lama, beragam inspirasi mendatangiku,” kata Kitaru.

“Seperti lirik ‘Yesterday’ itu?”

“Yah, itu salah satunya,” kata Kitaru.

“Daripada menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan ide-ide di kamar mandi, bukankah lebih baik kamu belajar untuk ujian masuk?” Aku bertanya.

“Astaga, kau kerasukan rupanya. Ibuku juga mengatakan hal yang sama loh. Bukankah kamu terlalu muda untuk mengatakan nasihat bijak seperti itu?”

“Tapi kau kursus persiapan selama dua tahun. Apakah kamu tidak bosan?”

“Tentu saja aku ingin berada di perguruan tinggi secepat aku bisa.”

“Lalu kenapa tidak belajar lebih keras?”

“Ya-,” katanya, memikirkan kalimatnya. “Jika aku bisa, pasti aku sudah melakukannya.”

“Kuliah itu memang menjemukan,” kataku. “Aku benar-benar kecewa sekali saat aku memasukinya. Tapi tidak masuk kuliah justru lebih menjemukan.”

“Setuju,” kata Kitaru. “Aku tidak punya pembelaan untuk itu.”

“Jadi kenapa kamu tidak belajar?”

“Kurang motivasi,” katanya.

“Motivasi?” Tanyaku. “Pacarmu itu apakah tak bisa kau jadikan sebagai motivasi?”

Ada seorang gadis yang Kitaru kenal sejak mereka masih di sekolah dasar. Bisa dibilang telah jadian sejak kecil. Mereka pernah di kelas yang sama di sekolah, tapi tidak sepertinya, dia langsung masuk ke Universitas Sophia setelah lulus SMA. Sekarang dia di jurusan sastra Perancis dan bergabung dengan klub tenis. Dia menunjukkan kepadaku foto pacarnya itu, dia sungguh menarik. Seorang yang cantik dan ekspresinya ceria. Tapi mereka berdua jarang bertemu satu sama lain belakangan ini. Mereka sudah membicarakan dan memutuskan bahwa lebih baik tidak pacaran sampai Kitaru bisa lulus ujian masuk, agar ia bisa fokus pada studinya. Kitaru sendiri yang menyarankan ini. “OK,” pacarnya berkata, “jika itu yang kau inginkan.” Mereka berbicara banyak di telepon namun bertemu paling seminggu sekali, dan pertemuan mereka itu lebih seperti wawancara ketimbang pacaran. Mereka memesan teh dan membicarakan apa-apa yang sedang mereka lakukan. Mereka berpegangan tangan dan berciuman singkat, tapi hanya sejauh itu.

Kitaru memang bisa dibilang tidak terlalu tampan, tapi dia cukup sedap dipandang. Dia kurus, dan gaya rambut serta pakaiannya sederhana namun bergaya. Karena dia tidak banyak bicara, kita akan berasumsi kalau dia anak kota yang sensitif. Hanya ada sedikit kekurangan yang terletak di wajahnya yang terlalu ramping dan lembut, yang memberi kesan bahwa ia pribadi yang lemah atau plin-plan. Dan saat ia membuka mulutnya-semua kelebihannya tadi seakan runtuh seperti istana pasir yang hancur diinjak-injak seekor anjing Labrador. Orang-orang dibuat kaget dengan dialek Kansai yang ia sampaikan, belum cukup sampai itu, karena suaranya pun cempreng. Ketidakcocokan dengan penampilan luarnya itu sungguh mengejutkan; bahkan bagiku saat pertama kali bertemu.

“Hei, Tanimura, apakah kamu kesepian tanpa pacar?” Kitaru bertanya padaku keesokan harinya.

“Aku tidak menyangkal hal itu,” kataku.

“Bagaimana kalau kamu kencan saja dengan pacarku?”

Aku tidak mengerti maksudnya. “Apa maksudmu – kencan dengannya?”

“Dia gadis yang hebat. Cantik, jujur, pintar, pokoknya idaman. Kamu kencan dengan dia dan kamu tidak akan menyesal. Aku jamin itu.”

“Aku mau saja,” kataku. “Tapi mengapa aku harus kencan dengan pacarmu? Ini tidak masuk akal.”

“Karena kau orang baik,” kata Kitaru. “Kalau tidak, aku tidak mungkin menyarankan ini. Erika dan aku telah menghabiskan hampir seluruh kehidupan kita bersama-sama. Kami telah jadi pasangan, dan semua orang di sekitar kami sudah pada tahu. Teman-teman kami, orang tua kami, guru kami. Kami selalu bersama-sama.”

Kitaru menggenggam tangannya untuk mengilustrasikan ucapannya tadi.

“Jika kami berdua sama-sama masuk perguruan tinggi, hubungan kami pasti hangat dan kabur, tapi aku gagal ujian masuk, dan di sini kami. Aku tidak yakin mengapa, tetapi segalanya kian memburuk. Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk ini. Ini semua salahku.”

Aku mendengarkannya dalam diam.

“Jadi aku seperti terbelah menjadi dua,” kata Kitaru. Dia menarik tangannya terpisah.

“Maksudmu?” Tanyaku.

Dia menatap telapak tangannya sejenak dan kemudian berbicara. “Yang aku maksud adalah ada satu bagian dari diriku yang khawatir, kau tahu? Maksudku, aku sedang menjalani kursus persiapan, belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi, sementara Erika sedang bermain bola di tempat kuliahnya. Bermain tenis, melakukan apa pun. Dia punya teman baru, mungkin juga berkencan dengan pria baru, aku tak tahu. Ketika aku berpikir tentang semua itu, aku merasa ditinggalkan. Seperti pikiranku ada di kabut. Kamu mengerti apa maksudku?”

“Aku mengerti,” kataku.

“Tapi ada bagian lain dariku yang – merasa lega mungkin? Karena jika hubungan kami hanya berjalan begini-begini saja, tanpa ada masalah atau apa pun, pasangan yang lancar mengarungi kehidupannya, ini seperti. . . kami lulus dari perguruan tinggi, menikah, kami jadi pasangan suami istri yang semua orang senang, kami memiliki dua anak, menempatkan mereka di sebuah sekolah dasar yang baik di Denenchofu, pergi ke tepi Sungai Tama di hari Minggu, Ob-la -di, Ob-la-da. . . Aku tidak mengatakan ini sesuatu yang buruk. Tapi aku hanya membayangkan, jika hidup semudah itu, senyaman itu. Mungkin lebih baik untuk berpisah untuk sementara waktu, kemudian menyadari bahwa kami berdua tak bisa hidup berpisah, sehingga kami balikan lagi.”

“Jadi kau mengatakan bahwa hidup yang lurus dan nyaman adalah sebuah masalah. Itu saja?”

“Ya, itu hanya soal.”

“Tapi kenapa aku harus kencan dengan pacarmu?” Aku bertanya.

“Aku pikir, jika dia harus pacaran dengan pria lain, lebih baik itu adalah kau. Karena aku mengenalmu. Dan kau kan bisa beri aku kabar dan sebagainya.”

Itu tetap tidak masuk akal bagiku, meski memang aku tertarik pada gagasan untuk bertemu Erika. Aku ingin mengetahui mengapa seorang gadis secantik dia ingin berpacaran dengan orang aneh seperti Kitaru. Aku memang pemalu kalau bertemu orang-orang baru, tapi aku adalah orang yang selalu penasaran.

“Seberapa jauh hubunganmu dengan dia?” Aku bertanya.

“Maksudmu bercinta?” Kata Kitaru.

“Ya. Apakah kau telah melakukannya?”

Kitaru menggeleng. “Aku tidak mampu, kau mengerti? Aku sudah mengenalnya sejak dia masih kecil, dan ini agak memalukan, kau mengerti, untuk memulainya, kemudian melepas bajunya, mencumbunya, meraba-rabanya, apa pun. Jika dengan gadis lain, aku pikir tidak akan ada masalah, tapi meletakkan tanganku di celana dalamnya, bahkan hanya berpikir tentang melakukan hal itu dengan dia, aku tak tahu, sepertinya sesuatu yang salah. Kamu mengerti kan?”

Aku masih tidak mengerti.

“Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik,” kata Kitaru. “Seperti, ketika kau masturbasi, Kau pasti membayangkan seorang sosok wanita yang asli ada kan, ya?”

“Aku kira,” kataku.

“Tapi aku tidak bisa membayangkan Erika. Sepertinya melakukan hal itu sesuatu yang salah, kau mengerti? Jadi ketika aku masturbasi pun yang aku pikirkan ya gadis lain. Seseorang yang sebenarnya tidak terlalu kusuka. Bagaimana menurutmu?”

Aku terus memikirkan itu tapi tidak bisa mencapai kesimpulan apapun. Kebiasaan masturbasi orang lain berada di luar pengetahuanku. Ada hal-hal tentang diriku sendiri yang aku tidak bisa membayangkannya.

“Pokoknya, mari kita bertemu bersama-sama sekali, kita bertiga,” kata Kitaru. “Kemudian kau dapat memikirkannya.”

***

Kami bertiga-aku, Kitaru, dan pacarnya, yang bernama lengkap Erika Kuritani itu-bertemu pada hari Minggu sore di kedai kopi dekat Stasiun Denenchofu. Dia setinggi Kitaru, kulitnya kecokelatan, dan mengenakan blus putih lengan pendek yang rapi disetrika dan rok mini biru tua. Seperti seorang model yang tanpa cacat, yang berasal dari sebuah perguruan tinggi wanita elit. Dia semenarik dalam foto, tapi apa yang benar-benar membuatku tertarik secara pribadi bukanlah dari tampilan luarnya, tapi lebih kepada vitalitas hidup yang memancar dari dalam dirinya. Dia kebalikan dari Kitaru, yang sangat berbanding terbalik.

“Aku sangat senang bahwa Aki-kun memiliki teman,” kata Erika kepadaku. Nama pertama Kitaru adalah Akiyoshi. Dan dia adalah satu-satunya orang yang memanggilnya Aki-kun.

“Jangan membesar-besarkan. Aku punya banyak teman kok,” kata Kitaru.

“Tidak, tidak,” kata Erika. “Orang sepertimu tidak mungkin punya banyak teman. Kamu lahir di Tokyo, namun kamu berbicara dengan dialek Kansai, dan setiap kali kamu membuka mulutmu itu salah satu hal yang mengganggu, kamu bicara tentang Hanshin Tigers atau pergerakan shogi. Tidak ada orang aneh sepertimu bisa berteman dengan orang normal.”

“Nah, jika kau berpikir begitu, maka orang ini juga cukup aneh.” Kitaru menunjukku. “Dia dari Ashiya tetapi bicara dengan dialek Tokyo.”

“Itu jauh lebih umum,” kata Erika. “Setidaknya lebih umum daripada sebaliknya.”

“Hey, ini sudah masuk diskriminasi budaya,” kata Kitaru. “Semua suku sama, kau tahu. Dialek Tokyo tidak lebih baik dari Kansai.”

“Mungkin mereka sama,” kata Erika, “tapi karena Restorasi Meiji cara orang berbicara di Tokyo telah menjadi standar untuk diucapkan di Jepang. Maksudku, apakah ada yang pernah menerjemahkan ‘Franny dan Zooey’ ke dialek Kansai?”

“Jika ada, maka aku akan membelinya, pasti,” kata Kitaru.

Aku mungkin akan membelinya juga, aku pikir, tapi tetap diam.

Dengan bijak, bukannya menyeret lebih dalam di obrolan seperti itu, Erika Kuritani mengubah topik pembicaraan.

“Ada seorang gadis di klub tenisku yang dari Ashiya juga,” katanya, beralih kepadaku. “Eiko Sakurai. Apakah kamu kenal dia?”

“Aku kenal,” kataku. Eiko Sakurai adalah gadis tinggi kurus, yang orang tuanya merupakan pemilik lapangan golf besar. Terjebak-up, berdada rata, dengan hidung tampak lucu dan tidak ada kepribadian yang sangat ajaib. Tenis adalah salah satu hal yang paling ia kuasai. Jika aku tidak pernah melihatnya lagi, itu akan terlalu cepat bagiku.

“Dia pria yang baik, dan dia tidak punya pacar sekarang,” kata Kitaru kepada Erika. “Penampilannya oke, dia baik, dan dia tahu segala macam hal. Dia rapi dan bersih, seperti yang kamu lihat, dan tidak memiliki penyakit yang mengerikan. Seorang pemuda yang menjanjikan, kalau boleh kusebut.”

“Baiklah,” kata Erika. “Ada beberapa anggota baru yang manis di klub kami, aku akan senang untuk memperkenalkannya.”

“Nah, bukan itu yang kumaksud,” kata Kitaru. “Bisakah kamu pacaran saja dengannya? Aku belum kuliah dan aku tidak bisa kencan denganmu. Jadi tanpaku, kau bisa kencan saja dengannya. Dan aku pun tidak perlu khawatir.”

“Apa maksudmu dengan kau tidak perlu khawatir?” Tanya Erika.

“Maksudku, aku kenal kalian berdua, dan aku akan merasa lebih baik jika kamu kencan dengan dia ketimbang dengan lelaki yang tidak kukenal.”

Erika menatap Kitaru seolah-olah dia tidak percaya yang dibicarakannya. Akhirnya, dia berkata. “Jadi kau mengatakan bahwa aku boleh pacaran dengan lelaki lain asalkan itu Tanimura-kun ini? Kamu serius menyarankan kami berpacaran, berkencan?”

“Hei, ini bukan ide yang buruk, kan? Atau apakah kamu sudah pacaran dengan pria lain?”

“Tidak, tidak ada orang lain,” kata Erika dengan suara tenang.

“Lalu kenapa tak pacaran saja dengannya? Ini bisa dibilang sebuah pertukaran budaya.”

“Pertukaran budaya,” ulang Erika. Dia menatapku.

Aku pikir apapun yang aku katakan tak akan membantu, jadi aku diam saja. Aku memegang sendok kopi di tanganku, mengamati desainnya, seperti seorang kurator museum yang sedang meneliti artefak dari makam Mesir.

“Pertukaran budaya? Apa artinya itu?” Tanyanya kepada Kitaru.

“Seperti, mencari sudut pandang baru tentunya bukan sesuatu yang buruk bagi kita. . . ”

“Itu maksudmu tentang pertukaran budaya?”

“Ya, yang kumaksud adalah. . . ”

“Baiklah,” kata Erika Kuritani tegas. Jika ada pensil di dekatku, aku mungkin akan mengambilnya dan membelahnya menjadi dua. “Jika kau pikir kita harus melakukannya, Aki-kun, maka baiklah. Mari kita melakukan pertukaran budaya.”

Dia meneguk teh, mengembalikan cangkir ke tatakannya lagi, menoleh padaku, dan tersenyum. “Karena Aki-kun sendiri yang bilang kita boleh melakukan ini, Tanimura-kun, mari kita pergi kencan. Kedengarannya menyenangkan. Kapan kamu punya waktu lenggang?”

Aku tidak bisa bicara. Tidak mampu menemukan kata yang tepat pada saat yang penting adalah salah satu dari banyak masalah yang kupunya.

Erika mengambil catatan dengan sampul merah dari tasnya, membukanya, dan memeriksa jadwalnya. “Bagaimana kalau Sabtu ini?” Tanyanya.

“Aku belum punya agenda,” kataku.

“Sabtu ini kalau begitu. Kemana kita akan pergi?”

“Dia suka film,” ucap Kitaru padanya. “Cita-citanya ingin menulis skenario suatu hari nanti.”

“Kalau begitu kita pergi nonton film. Apa film yang harus kita lihat? Aku akan membiarkanmu yang memutuskan, Tanimura-kun. Aku tidak suka film horor, jadi apapun selain itu, aku bakal setuju.”

“Dia benar-benar penakut,” kata Kitaru kepadaku. “Saat kami masih kecil dan pergi ke rumah hantu di Korakuen, dia memegang tanganku dan-”

“Setelah nonton mari kita makan bersama-sama,” kata Erika, memotong ucapannya. Dia kemudian menulis nomor teleponnya di selembar buku catatannya dan memberikannya padaku. “Jika kamu sudah memutuskan waktu dan tempatnya, bisakah kau meneleponku?”

Aku tidak memiliki telepon saat itu (ini sebelum ponsel banyak seperti sekarang), jadi aku memberinya nomor kedai kopi tempat Kitaru dan aku bekerja. Aku melirik jam tanganku.

“Aku minta maaf karena aku harus pergi,” kataku, mencoba beramah-tamah sebisaku. “Aku punya tugas yang harus dikumpulkan besok.”

“Apakah tidak bisa menunggu?” tanya Kitaru. “Kita baru saja sampai di sini. Mengapa kau tidak tinggal sehingga kita bisa bicara lagi? Ada toko mie yang enak di sana.”

Erika tidak menyatakan pendapat. Aku menaruh uang untuk kopi di atas meja dan berdiri. “Ini tugas penting,” jelasku, “jadi aku benar-benar tidak bisa menundanya.” Sebenarnya, tugasnya tidak terlalu penting.

“Aku akan meneleponmu besok atau lusa,” kataku pada Erika.

“Aku akan menunggunya,” katanya, senyum yang indah terlihat di bibirnya. Senyum itu bagiku tampak agak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Aku meninggalkan kedai kopi dan saat berjalan ke stasiun, aku bertanya-tanya apa sih yang kulakukan. Tenggelam dalam pikiran atas beragam hal yang terus berubah, seperti terlalu memikirkan yang terjadi barusan, adalah salah satu masalah yang selalu menyiksaku.

 

Sabtu itu, Erika dan aku bertemu di Shibuya dan nonton film Woody Allen yang berlatar di New York. Entah bagaimana aku punya perasaan kalau dia sangat menyukai film Woody Allen ini. Dan aku cukup yakin kalau Kitaru belum pernah mengajaknya nonton film seperti ini. Untungnya, ini adalah film yang bagus, dan kami berdua merasa senang ketika kami meninggalkan bioskop.

Kami jalan-jalan sebentar saat senja itu, sebelum akhirnya pergi ke restoran Italia kecil di Sakuragaoka untuk memesan pizza dan Chianti. Ini hanya restoran sederhana dengan harganya yang bersahabat. Pencahayaan yang redup, lilin di meja. (Sebagian besar restoran Italia pada waktu itu pasti terdapat lilin di atas meja dengan taplaknya yang kotak-kotak.) Kami mengobrol banyak hal, seperti halnya percakapan antara dua mahasiswa perguruan tinggi saat kencan pertama (dengan asumsi kalau ini benar-benar sebuah kencan). Membicarakan film yang kami lihat barusan, kehidupan perkuliahan kami, hobi kami. Kami menikmati obrolan tersebut lebih dari yang aku harapkan, dan dia bahkan tertawa keras beberapa kali. Aku tidak ingin terdengar seperti aku jago membual, tapi tampaknya aku memiliki suatu bakat untuk bisa membuat seorang perempuan tertawa.

“Aku mendengar dari Aki-kun kalau kau putus dengan pacar semasa SMA-mu belum lama ini ya?” Erika bertanya.

“Ya,” jawabku. “Kami sudah berpacaran selama hampir tiga tahun, tetapi tidak berhasil. Sayangnya.”

“Kata Aki-kun hal ini karena soal hubungan seks. Bahwa dia tidak… bagaimana aku harus mengatakannya ya? Memuaskanmu?”

“Itu cuma salah satu alasannya. Tapi tidak semua. Jika aku benar-benar mencintainya, aku pikir aku bisa bersabar. Jika aku yakin bahwa aku mencintainya, maksudku. Tapi aku tidak.”

Erika mengangguk.

“Bahkan jika kami terus melanjutkan hubungan tadi, semuanya akan berakhir sama,” kataku. “Aku pikir itu sudah semestinya begitu.”

“Apakah ini sulit bagimu?” Tanyanya.

“Sulit apanya?”

“Ketika harus sendirian lagi setelah lama berpacaran.”

“Kadang-kadang,” kataku jujur.

“Tapi mungkin dengan melalui keadaan sulit, mengalami kesepian diperlukan ketika kau masih muda? Bagian dari proses pendewasaan mungkin ya?”

“Kau pikir begitu?”

“Dengan adanya musim dingin yang keras membuat sebuah pohon tumbuh lebih kuat, cincin tahunan pohon di dalamnya dipaksa mengeras.”

Aku mencoba membayangkan cincin tahunan pohon dalam diriku. Tapi satu-satunya hal yang aku bisa bayangkan adalah sepotong kue Baumkuchen, jenis kue yang isinya seperti cincin tahunan pohon di dalamnya.

“Aku setuju bahwa manusia perlu menghadapi periode itu dalam hidupnya,” kataku. “Lebih baik lagi jika kita tahu kalau periode seperti ini bakal ada akhirnya.”

Dia tersenyum. “Jangan khawatir. Aku yakin kau akan bertemu penggantinya segera.”

“Aku harap begitu,” kataku.

Erika memikirkan sesuatu sementara aku menyantap pizza tadi.

“Tanimura-kun, aku ingin meminta saran darimu tentang sesuatu. Apakah boleh?”

“Tentu,” kataku. Ini adalah masalah lainku ketika berurusan dengan orang lain: orang yang baru saja aku temui ingin meminta saranku tentang sesuatu yang sangat penting. Dan aku cukup yakin bahwa apa yang akan Erika sampaikan padaku merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

“Aku bingung,” ia memulai.

Matanya melirik bolak-balik, seperti kucing yang mencari sesuatu.

“Aku yakin kau sudah tahu tentang ini, ya ini soal Aki-kun yang sudah dua tahun masih saja kursus persiapan untuk ujian masuk, ia tidak belajar serius. Dia juga sering bolos ikut ujian percobaan. Jadi aku yakin dia akan gagal lagi tahun depan. Jika ia memilih universitas yang lebih rendah, ia bisa saja mendapatkannya di suatu tempat, tapi dia memantapkan hatinya cuma ke Waseda. Dia tidak mendengarkanku, atau orang tuanya. Ini menjadi seperti obsesi baginya. . . . Tetapi jika ia sungguh-sungguh ingin masuk ke sana harusnya kan ia belajar keras agar ia bisa lulus ujian Waseda, namun dia tidak.”

“Mengapa dia tidak belajar sungguh-sungguh?”

“Dia benar-benar percaya bahwa dia akan lulus ujian masuk jika keberuntungan datang ke sisinya,” kata Erika. “Belajar adalah buang-buang waktu.” Dia menghela napas dan melanjutkan, “Di sekolah dasar dia selalu juara kelas. Tapi begitu dia masuk SMP nilai-nilainya mulai meluncur. Dia anak yang sedikit aneh-kepribadiannya tidak cocok untuk cara belajar yang normal. Dia lebih suka bolos kemudian melakukan hal-hal gila sendiri. Aku sebaliknya. Aku memang tidak terlalu pandai, tapi aku selalu bekerja keras dan selalu menuntaskan setiap pekerjaan.”

Aku tidak pernah belajar sungguh-sungguh namun bisa masuk ke perguruan tinggi pada percobaan pertama. Mungkin keberuntungan telah di sisiku.

“Aku sangat menyukai Aki-kun,” lanjutnya. “Dia punya banyak kelebihan. Tapi kadang-kadang sulit bagiku untuk memahami cara berpikirnya yang ekstrim. Misalnya tentang dialek Kansai itu. Mengapa seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Tokyo harus susah-susah belajar dialek Kansai kemudian menggunakannya sepanjang waktu? Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak habis pikir. Pada awalnya aku pikir itu cuma lelucon, tapi tidak. Dia benar-benar serius.”

“Aku pikir dia ingin memiliki suatu kepribadian yang berbeda, menjadi seseorang yang berbeda dari dirinya yang sekarang,” kataku.

“Itu sebabnya ia berbicara dengan dialek Kansai?”

“Aku setuju denganmu bahwa ini memang cara yang aneh.”

Erika mengambil sepotong pizza dan menggigit secuil seukuran perangko besar. Dia mengunyahnya sambil berpikir sebelum kemudian dia berbicara.

“Tanimura-kun, aku bertanya ini karena aku tidak memiliki orang lain untuk bertanya. Kamu tidak keberatan kan?”

“Tentu saja tidak,” kataku. Apa lagi yang bisa kukatakan?

“Secara umum,” katanya, “ketika seorang pria dan seorang wanita berpacaran untuk waktu yang lama dan telah mengenal satu sama lain dengan sangat baik, pria pasti punya ketertarikan fisik dengan gadis itu, kan?”

“Umumnya memang begitu, aku setuju.”

“Jika mereka berciuman, dia pasti ingin sesuatu yang lebih jauh kan?”

“Biasanya memang begitu.”

“Kamu merasa seperti itu juga kan?”

“Tentu saja,” kataku.

“Tapi Aki-kun tidak. Ketika kita berduaan, dia tidak ingin sesuatu yang lebih jauh.”

Butuh beberapa saat bagiku untuk memilih kata yang tepat. “Itu hal pribadi,” kataku akhirnya. “Orang-orang memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kitaru sangat menyukaimu-ini suatu anugerah-tapi hubungan kalian begitu dekat dan nyaman sehingga dia mungkin tidak berani untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya, berbeda dengan kebanyakan orang memang.”

“Kamu pikir begitu?”

Aku menggeleng. “Sejujurnya, aku tidak benar-benar memahaminya. Aku sendiri tidak pernah mengalaminya. Aku hanya mengatakan bahwa itu bisa menjadi salah satu kemungkinan.”

“Kadang-kadang rasanya seperti ia tidak memiliki hasrat seksual padaku.”

“Aku yakin dia punya. Tapi mungkin sesuatu yang memalukan baginya untuk mengakuinya.”

“Tapi kami sudah berusia dua puluh, sudah sama-sama dewasa. Cukup dewasa untuk tidak merasa malu.”

“Beberapa orang mungkin sedikit lebih cepat dewasa ketimbang yang lain,” kataku.

Erika memikirkan hal ini. Dia tampaknya tipe orang yang selalu menangani beragam hal di kepala.

“Aku pikir Kitaru sedang mencari sesuatu,” aku melanjutkan. “Dengan caranya sendiri, dengan kecepatannya sendiri. Hanya saja aku berpikir dia tidak memahami betul apa yang ingin dicapainya itu. Itu sebabnya dia tidak dapat membuat kemajuan apapun. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, tentunya tidak mudah untuk mencarinya.”

Erika mendongakan kepalanya dan menatapku tepat di mata. Nyala lilin tercermin dalam matanya yang gelap, kecil, setitik cahaya yang berkilau. Itu begitu indah membuatku susah untuk berpaling darinya.

“Tentu saja, kamu mengenalnya jauh lebih baik daripada aku,” aku menegaskan.

Dia mendesah lagi.

“Sebenarnya, aku sedang suka pria lain selain Aki-kun,” katanya. “Seorang pria di klub tenisku yang setahun di atasku.”

Sekarang giliranku yang terdiam.

“Aku benar-benar mencintai Aki-kun, dan aku tidak berpikir aku bisa merasakan hal yang sama kalau dengan orang lain. Setiap kali aku jauh darinya aku merasakan sakit yang mengerikan di dadaku, selalu di tempat yang sama. Ini benar. Ada tempat di hatiku yang dicadangkan hanya untuk dia. Tapi pada saat yang sama aku punya dorongan kuat dalam diriku untuk mencoba sesuatu yang lain, untuk merasakan berhubungan dengan semua jenis orang. Sebut saja rasa ingin tahu, rasa haus untuk tahu lebih banyak. Ini adalah emosi alami dan aku tidak bisa menekannya, tidak peduli sekeras apapun aku mencoba.”

Aku membayangkan tanaman yang tumbuh melampaui pot tempatnya ditanam.

“Ketika aku mengatakan aku bingung, inilah yang kumaksud,” kata Erika.

“Berarti kamu harus memberitahu Kitaru tentang perasaanmu ini,” kataku. “Jika kau menyembunyikannya dari dia kalau kau sedang suka dengan orang lain, kemudian ia mengetahui ini, itu justru akan menyakitinya. Kamu tentunya tidak menginginkan hal ini.”

“Tapi bisakah dia menerima itu? Fakta bahwa aku kencan dengan orang lain?”

“Aku pikir dia akan mengerti bagaimana perasaanmu,” kataku.

“Kau pikir begitu?”

“Ya,” kataku.

Aku pikir Kitaru akan mengerti kebingungan pacarnya ini, karena ia pun merasa hal yang sama. Dalam hal ini, mereka benar-benar berada di gelombang yang sama. Namun, aku tidak sepenuhnya yakin bahwa Kitaru dengan tenang akan menerima apa yang benar-benar Erika lakukan (atau pikirkan). Kitaru tidak tampak seperti seseorang yang kuat bagiku. Tetapi akan lebih sulit baginya jika Erika terus merahasiakan ini darinya atau mungkin berbohong kepadanya.

Erika menatap nyala lilin yang berkedip-kedip oleh hembusan AC. “Aku sering mendapat mimpi yang sama,” katanya. “Aki-kun dan aku berada di sebuah kapal. Sedang melakukan perjalanan panjang di sebuah kapal besar. Kita berduaan di sebuah kabin kecil, itu larut malam, dan melalui jendela kapal kita bisa melihat bulan purnama. Tapi bulan ini terbuat dari es murni yang transparan. Dan bagian bawahnya tenggelam di laut. ‘Itu terlihat seperti bulan,’ Aki-kun memberitahuku, ‘tapi itu benar-benar terbuat dari es dan tebalnya hanya sekitar delapan inci. Jadi ketika matahari terbit di pagi hari itu semua bakal mencair. Kau harus melihatnya baik-baik sekarang, saat kau masih memiliki kesempatan.’ Aku sering bermimpi begini beberapa kali. Ini adalah mimpi yang indah. Selalu bulan yang sama. Selalu tebalnya delapan inci. Aku bersandar pada Aki-kun, hanya kami berdua, gelombang laut memukul-mukul lembut di luar sana. Tapi setiap kali aku bangun aku merasa sedih.”

Erika Kuritani terdiam beberapa lama. Lalu ia berbicara lagi. “Aku pikir betapa indahnya jika Aki-kun dan aku bisa melanjutkan pelayaran itu selamanya. Setiap malam kami akan meringkuk berdekatan dan menatap keluar jendela kapal untuk melihat bulan yang terbuat dari es itu. Pagi datang dan bulan akan mencair, kemudian pada malam akan muncul kembali. Tapi mungkin itu tidak terjadi. Mungkin satu malam bulan tidak akan muncul. Ini membuatku takut untuk membayangkannya. Aku mendapat ketakutan ini seperti aku benar-benar bisa merasakan tubuhku menyusut.”

***

Ketika aku bertemu Kitaru di kedai kopi pada hari berikutnya, ia menanyakan soal kencan kemarin.

“Kau menciumnya?”

“Tidak mungkin lah,” kataku.

“Jangan khawatir-aku tidak akan marah jika kau melakukannya kok,” katanya.

“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Kalau memegang tangannya?”

“Tidak, aku tidak memegang tangannya.”

“Jadi, apa yang kau lakukan?”

“Kami pergi nonton film, jalan-jalan, makan malam bersama, dan ngobrol,” kataku.

“Hanya itu?”

“Biasanya kau tidak mencoba untuk bergerak terlalu cepat pada kencan pertama.”

“Benarkah?” Kata Kitaru. “Aku tidak pernah berkencan seperti kebanyakan orang, jadi aku tidak tahu.”

“Tapi aku menikmati saat-saat bersamanya. Jika saja dia pacarku, aku tidak akan pernah melepaskannya.”

Kitaru memikirkan ini. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi berpikir lebih baik tidak. “Jadi, apa yang kau makan?” Tanyanya akhirnya.

Aku mengatakan pizza dan Chianti.

“Pizza dan Chianti?” Dia terdengar terkejut. “Aku tidak pernah tahu kalau dia menyukai pizza. Kami hanya pernah makan di semacam toko mie dan warung murah. Wine? Aku bahkan tidak tahu kalau dia minum.”

Kitaru sendiri tidak pernah menyentuh minuman keras.

“Mungkin ada beberapa hal yang kau tidak tahu tentang dia,” kataku.

Aku menjawab semua pertanyaan mengenai kencan kemarin itu. Tentang film Woody Allen (karena desakannya, aku memberi ulasan seluruh cerita filmnya), makanan (berapa bayarnya, apakah kita bayar sendiri-sendiri atau tidak), apa yang dia kenakan (gaun katun putih, rambut disematkan), celana dalam apa yang dikenakannya (mana aku tahu soal ini?), apa yang kita bicarakan. Aku tidak mengatakan apapun kalau dia pacaran dengan pria lain. Aku juga tidak menyebutkan mimpinya tentang bulan yang terbuat dari es itu.

“Kalian sudah memutuskan kapan akan melakukan kencan kedua?”

“Tidak, kami tidak membicarakannya,” kataku.

“Kenapa tidak? Kau menyukainya, kan?”

“Dia hebat. Tapi kita tidak bisa terus seperti ini. Maksudku, dia pacarmu, kan? Kau mengatakan boleh-boleh saja menciumnya, tapi tidak mungkin aku bisa melakukan itu.”

Kitaru semakin termenung. “Kau tahu?” Katanya akhirnya. “Aku telah memeriksakan diri ke terapis sejak akhir SMP. Orang tua dan guruku, mereka semua mengatakan kalau harus memeriksakan diri. Karena aku melakukan hal-hal aneh di sekolah dari waktu ke waktu. Kau tahu-sesuatu yang tidak normal. Tapi terapis sesungguhnya tidak membantu, sejauh yang aku lihat. Kedengarannya memang baik secara teori, tapi terapis hanya memberikan omong kosong. Mereka melihatmu seakan-akan mereka tahu apa yang terjadi, kemudian membuatmu berbicara terus menerus dan mereka hanya mendengarkan. Hey, aku juga bisa melakukan itu.”

“Kau masih memeriksakan diri ke terapis?”

“Ya. Dua kali sebulan. Hanya buang-buang uang saja, jika kau bertanya padaku. Apakah Erika tidak memberitahumu tentang hal ini?”

Aku menggeleng.

“Terus terang, aku tidak tahu apa yang begitu aneh tentang cara berpikirku. Bagiku, sepertinya aku hanya melakukan hal-hal biasa dengan cara yang biasa. Tapi orang mengatakan kepadaku bahwa hampir semua yang kulakukan adalah aneh.”

“Nah, memang ada beberapa hal tentangmu yang tidak normal,” kataku.

“Seperti apa?”

“Seperti dialek Kansai-mu itu.”

“Kau mungkin benar,” Kitaru mengakui. “Itu sesuatu yang sedikit tidak biasa.”

“Orang normal tidak akan melakukan hal sejauh itu.”

“Ya, kau mungkin benar.”

“Tapi, sejauh yang aku tahu, bahkan jika apa yang kau lakukan adalah tidak normal, asalkan itu tidak mengganggu siapa pun tentunya tidak masalah.”

“Untuk kali ini belum.”

“Jadi apa yang salah dengan itu?” Kataku. Aku mungkin sedikit kesal (pada apa atau siapa aku tidak bisa mengatakan). Aku bisa merasakan nadaku mulai meninggi. “Jika kau tidak mengganggu siapa pun, jadi kenapa? Kau ingin berbicara dengan dialek Kansai, maka silahkan saja. Teruskan. Kau tidak ingin belajar untuk ujian masuk? Maka jangan belajar. Merasa tidak ingin menempelkan tanganmu di celana dalamnya Erika Kuritani? Siapa yang mengatakan kau harus? Ini hidupmu. Kamu bebas melakukan apa yang kau inginkan dan mengacuhkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Kitaru, dengan mulutnya yang sedikit terbuka, menatapku dengan tercengang. “Kau tahu Tanimura? Kau seorang pria yang baik. Meskipun kadang-kadang agak terlalu normal, kau tahu kan?”

“Apa yang akan kau katakan?” Kataku. “Kau tidak bisa mengubah kepribadianmu.”

“Tepat. Kau tidak dapat mengubah kepribadianmu. Ini memang yang ingin aku katakan.”

“Tapi Erika adalah gadis yang hebat,” kataku. “Dia benar-benar peduli tentangmu. Apa pun yang kau lakukan, jangan biarkan dia pergi. Kau tidak akan menemukan seorang gadis yang hebat sepertinya lagi.”

“Aku sudah tahu itu. Kau tidak perlu memberitahuku,” kata Kitaru. “Tapi hanya mengetahui tidak akan membantu.”

***

Sekitar dua minggu kemudian, Kitaru berhenti bekerja di kedai kopi. Aku katakan cuti, tapi dia tiba-tiba tak kelihatan lagi. Dia memutuskan hubungan, tidak menyebutkan apapun tentang mengambil cuti. Dan ini ketika musim tersibuk kami, sehingga pemilik cukup marah. Kitaru punya satu minggu gaji, tapi dia tidak datang untuk mengambilnya. Dia menghilang begitu saja. Aku harus mengatakan itu menyakitiku. Aku pikir kami adalah teman baik yang sulit untuk dipisahkan. Aku tidak punya teman lain di Tokyo.

Dua hari terakhir sebelum ia menghilang, Kitaru tak seperti biasanya jadi pendiam. Dia tidak banyak berkata ketika aku berbicara dengannya. Dan kemudian ia pergi dan menghilang. Aku bisa saja menelepon Erika Kuritani untuk memeriksa keberadaannya, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Aku pikir bahwa apa yang terjadi di antara mereka berdua adalah urusan mereka, dan bukan hal yang baik bagiku untuk terlibat lebih jauh. Entah bagaimana aku harus menerima dunia kecil yang kumiliki.

Setelah semua ini terjadi, untuk beberapa alasan aku terus berpikir tentang mantan pacarku. Mungkin aku merasakan sesuatu, ketika melihat Kitaru dan Erika bersama-sama. Aku menulis sebuah surat yang panjang untuk meminta maaf akan perbuatanku dahulu. Aku bisa saja jauh lebih ramah padanya. Tapi aku tidak pernah mendapat balasan surat darinya.

***

Aku bisa mengenali Erika Kuritani dengan cepat. Aku memang hanya bertemu dengannya dua kali, dan enam belas tahun telah berlalu sejak saat itu. Tapi tidak salah lagi kalau aku mengenalinya. Dia masih menawan, dengan ekspresi sama yang hidup dan bersemangat. Dia mengenakan gaun hitam berenda, dengan sepatu hak tinggi hitam dan dua untaian mutiara di leher rampingnya. Dia juga mengingatku segera. Kami sedang berada di sebuah pesta mencicipi anggur di sebuah hotel di Akasaka. Ini adalah pesta dengan dresscode hitam-hitam, dan aku mengenakan jas dan dasi hitam untuk acara ini. Dia adalah seorang perwakilan dari perusahaan periklanan yang mensponsori acara tersebut, dan jelas telah bekerja keras untuk menangani acara ini. Ini memakan waktu yang lama untuk masuk ke alasan bahwa aku ada di sana.

“Tanimura-kun, kenapa kamu tidak pernah berhubungan denganku setelah kencan malam itu?” Tanyanya. “Aku berharap kita bisa bicara lagi.”

“Kau terlalu cantik untukku,” kataku.

Dia tersenyum. “Ah terdengar indah, bahkan jika kamu hanya menyanjungku.”

Tapi apa yang kukatakan bukanlah kebohongan atau sanjungan. Dia memang terlalu cantik bagiku untuk membuatku tertarik padanya. Saat itu, dan bahkan sekarang.

“Aku menelepon kedai kopi tempatmu bekerja, tetapi mereka mengatakan kamu tidak bekerja di sana lagi,” katanya.

Setelah Kitaru keluar, pekerjaan menjadi sangat membosankan, dan aku pun berhenti dua minggu kemudian.

Erika dan aku mengingat-ingat secara singkat kehidupan kami selama enam belas tahun terakhir. Setelah kuliah, aku dipekerjakan oleh sebuah penerbit kecil, tapi berhenti setelah tiga tahun dan telah jadi penulis sejak saat itu. Aku menikah saat usia dua puluh tujuh tahun tapi belum dianugerahi anak. Erika sendiri masih lajang. “Mereka membuatku bekerja begitu keras,” dia bercanda, “sampai-sampai aku tidak memiliki waktu untuk menikah.” Dia adalah orang pertama yang memunculkan topik tentang Kitaru.

“Aki-kun bekerja sebagai koki sushi di Denver sekarang,” katanya.

“Denver?”

“Denver, Colorado. Setidaknya, menurut kartu pos yang ia kirimkan padaku beberapa bulan yang lalu.”

“Kenapa Denver?”

“Aku tidak tahu,” kata Erika. “Kartu pos sebelumnya dari Seattle. Dia seorang koki sushi di sana. Itu sekitar setahun yang lalu. Dia mengirimiku kartu pos seenaknya. Sebagian malah kartu konyol dengan isi yang hanya beberapa garis putus-putus. Kadang-kadang ia bahkan tidak menulis alamat asalnya.”

“Koki sushi,” pikirku. “Jadi dia tidak masuk perguruan tinggi ya?”

Dia menggeleng. “Pada akhir musim panas itu, aku pikir dia masuk, tapi tiba-tiba ia mengumumkan bahwa ia akan mengakhiri belajar untuk ujian masuk dan dia memilih sebuah sekolah memasak di Osaka. Mengatakan kalau dia benar-benar ingin belajar masakan Kansai dan pergi ke pertandingan di Stadion Koshien, stadionnya Hanshin Tigers. Tentu saja, aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kau bisa memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa meminta pendapatku dulu? Bagaimana denganku?’”

“Dan apa yang dia katakan itu?”

Dia tidak menanggapi. Dia hanya memegang bibirnya ketat, seolah-olah dia akan menitikkan air mata jika dia mencoba untuk berbicara. Aku segera mengganti topik.

“Ketika kita pergi ke restoran Italia di Shibuya, aku ingat kita memesan Chianti yang murah. Sekarang lihatlah kita, mencicipi anggur Napa premium. Sebuah takdir, yang aneh.”

“Aku ingat,” katanya, menarik diri bersama-sama. “Kita juga menonton film Woody Allen. Yang mana itu ya?”

Aku memberitahunya.

“Itu film yang hebat.”

Aku setuju. Itu memang salah satu karya terbesar dari Woody Allen.

“Apakah hubunganmu dengan pria di klub tenis yang kamu sukai itu berjalan baik?” Aku bertanya.

Dia menggeleng. “Tidak. Hubungan kami tidak berjalan baik seperti yang aku pikir. Kami berpacaran selama enam bulan dan kemudian putus.”

“Bolehkah aku mengajukan pertanyaan?” Kataku. “Ini sesuatu yang sangat pribadi.”

“Silahkan.”

“Aku tidak ingin kamu menjadi tersinggung.”

“Aku akan mencoba sebisaku agar tidak tersinggung.”

“Kau tidur dengan pria itu, kan?”

Erika menatapku dengan heran, pipinya memerah.

“Kenapa kau menanyakan ini sekarang?”

“Pertanyaan yang bagus,” kataku. “Ini ada dalam pikiranku untuk waktu yang lama. Tapi ini memang pertanyaan yang aneh. Maafkan aku.”

Erika menggelengkan kepalanya sedikit. “Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung. Aku hanya tidak mengharapkan menerima pertanyaan seperti itu. Itu semua masa lalu.”

Aku melihat ke sekeliling ruangan. Orang-orang dengan pakaian formal tercerai-berai. Gabus penutup dibuka satu demi satu dari tiap botol anggur mahal. Seorang pianis perempuan sedang memainkan “Like Someone in Love.”

“Jawabannya adalah ya,” kata Erika. “Aku tidur dengannya beberapa kali.”

“Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak,” kataku.

Dia memberikan sedikit senyum. “Betul. Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak.”

“Itulah cara kita mengembangkan cincin tahunan pohon kita.”

“Jika kau mengatakan begitu,” katanya.

“Dan aku menduga bahwa pertama kali kamu tidur dengannya itu setelah kencan kita di Shibuya kan?”

Dia membalik-balik halaman dalam buku rekor mentalnya. “Aku juga berpikir demikian. Sekitar seminggu setelah itu. Aku mengingat sepanjang waktu itu cukup baik. Ini adalah pertama kalinya bagiku.”

“Dan Kitaru cukup cepat mengerti,” kataku, menatap matanya.

Dia menunduk dan meraba mutiara di kalung satu-satu, seakan memastikan bahwa semua masih ada di tempatnya. Dia sedikit mendesah, mungkin mengingat-ingat sesuatu. “Ya, kau benar tentang itu. Aki-kun punya intuisi yang kuat.”

“Tapi selalu tidak berhasil dengan laki-laki lain.”

Dia mengangguk. “Sayangnya, aku tidak sepintar itu. Aku selalu mengambil jalan panjang. Aku selalu mengambil jalan yang berputar-putar.”

Itulah yang kita semua lakukan: tanpa henti mengambil jalan panjang. Aku ingin menceritakan ini, tapi diam. Melontarkan kata-kata mutiara seperti itu salah satu dari masalahku.

“Apakah Kitaru sudah menikah?”

“Sejauh yang kutahu, dia masih lajang,” kata Erika. “Setidaknya, dia belum mengatakan kepadaku bahwa dia menikah. Mungkin kami berdua adalah tipe orang yang tidak akan pernah melakukan pernikahan.”

“Atau mungkin kalian hanya sedang mengambil jalan panjang memutar untuk sampai ke sana.”

“Mungkin.”

“Apakah kamu masih bermimpi tentang bulan yang terbuat dari es itu?” Aku bertanya.

Kepalanya tersentak dan dia menatapku. Sangat tenang, perlahan, senyum tersebar di wajahnya. Senyum terbuka yang benar-benar alami.

“Kamu masih ingat mimpiku?” Tanyanya.

“Untuk beberapa alasan, aku mengingatnya.”

“Meskipun itu mimpi orang lain?”

“Mimpi adalah sesuatu yang bisa kau pinjam dan pinjamkan,” kataku.

“Itu ide yang bagus,” katanya.

Seseorang memanggil namanya dari belakangku. Sudah waktunya baginya untuk kembali bekerja.

“Aku tidak punya mimpi itu lagi,” katanya di perpisahan. “Tapi aku masih ingat setiap detailnya. Apa yang aku lihat, apa yang kurasakan. Aku tidak bisa melupakannya. Aku mungkin tidak akan pernah melupakannya.”

***

Ketika aku mengemudi dan lagu “Yesterday”-nya The Beatles diputar di radio, aku tidak bisa tidak mendengar kembali lirik gila Kitaru ketika bernyanyi di kamar mandi. Dan aku menyesal tidak menuliskannya saat itu. Liriknya begitu aneh namun aku mengingatnya untuk sementara, tapi secara bertahap ingatanku mulai memudar sampai akhirnya aku hampir lupa seluruhnya. Yang aku ingat sekarang hanya sebagian kecilnya, dan aku bahkan tidak yakin apakah ini benar-benar yang Kitaru nyanyikan. Dengan berjalannya waktu, memori, mau tidak mau, menyusun kembali ingatannya sendiri.

Ketika aku masih dua puluh atau lebih, aku mencoba beberapa kali untuk menulis buku harian, tapi aku tidak bisa melakukannya. Begitu banyak hal yang terjadi di sekitarku saat itu sehingga aku hampir tidak bisa bertahan dengan semua itu, apalagi untuk berdiri diam dan menuliskan semuanya dalam sebuah buku catatan. Dan sebagian besar hal-hal tadi tidak membuatku berpikir, Oh, aku harus menuliskan semua ini. Ini semualah yang hanya bisa kulakukan untuk tetap membuka mata di angin sakal yang kuat, menarik napas, dan terus melangkah maju.

Tapi anehnya, aku sangat ingat Kitaru dengan baik. Kami berteman selama beberapa bulan, namun setiap kali aku mendengar “Yesterday”, setiap adegan dan percakapan dengannya tersimpan dengan baik dalam pikiranku. Percakapan kami berdua saat ia berendam dalam bak mandi di rumahnya di Denenchofu. Pembicaraan tentang formasi menyerang Hanshin Tigers, hal-hal soal seks, betapa membosankannya belajar untuk ujian masuk, dan begitu kaya dan emosionalnya dialek Kansai. Dan aku mengingat betul kencan aneh dengan Erika Kuritani. Dan apa yang Erika ungkapkan-di bawah cahaya lilin di atas meja di restoran Italia itu. Rasanya seolah-olah hal itu terjadi baru kemarin saja. Musik memang memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali kenangan lama, kadang-kadang begitu seringnya menghadirkan luka.

Tapi ketika aku bercermin tentang diriku sendiri pada usia dua puluhan, apa yang paling aku ingat adalah kesendirian dan kesepian. Aku tidak punya pacar untuk menghangatkan tubuhku atau jiwaku, tidak ada teman yang bisa kuajak curhat. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan setiap hari, tidak punya visi untuk masa depan. Untuk sebagian besar, aku tetap tenggelam dalam diriku sendiri. Kadang-kadang aku dalam seminggu tidak berbicara dengan siapa pun. Kehidupan seperti ini terus kulakukan selama setahun. Tahun yang panjang, sangat panjang. Apakah periode ini adalah sebuah musim dingin yang menempa cincin tahunan pohon dalam diriku, aku tidak bisa mengatakan. Saat itu aku juga merasa seolah-olah setiap malam aku sedang memandang keluar jendela kapal, melihat bulan yang terbuat dari es. Yang transparan, delapan inci tebalnya, bulan yang membeku. Tapi aku melihat bulan itu sendirian saja, tidak dapat berbagi keindahan yang dingin itu dengan siapa pun.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Cerpen Haruki Murakami: Syahrazad

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Cerpen Haruki Murakami: Syahrazad

SETIAP kali mereka bersetubuh, dia mendongengi Habara kisah yang aneh dan mencekam sesudahnya. Seperti Ratu Syahrazad dalam “Seribu Satu Malam.” Meskipun, tentu saja, Habara tidak seperti sang raja, dia tidak berniat untuk memenggal kepala sang ratu keesokan harinya. (Yang pasti wanita itu tidak pernah tinggal dengan Habara sampai pagi.) Dia mendongengi Habara karena keinginan Syahrazad sendiri, sebab menurut dugaan Habara, wanita itu menikmati meringkuk di tempat tidur dan ngobrol dengan seorang pria saat mereka berada pada kelesuan, saat-saat intim setelah bercinta. Dan ada kemungkinan juga, karena dia ingin menghibur Habara, yang hanya bisa menghabiskan setiap harinya terkurung dalam ruangan.

Oleh karenanya, Habara menjuluki wanita itu Syahrazad. Dia tidak pernah memanggilnya langsung dengan nama itu, tapi hanya Habara pakai untuk menyebut wanita itu dalam buku harian kecilnya. “Syahrazad datang hari ini,” dia mencatatnya dengan bolpoin. Kemudian Habara akan merekam inti cerita hari itu dengan sederhana, dan dengan samar untuk membingungkan siapa saja yang mungkin bakal membaca buku hariannya.

Habara tidak tahu apakah ceritanya benar, rekaan, atau sebagian benar dan sebagian rekaan. Dia tidak punya cara untuk mengetahui. Realitas dan anggapan, observasi dan imajinasi murni tampak campur aduk bersama-sama dalam tiap narasinya. Oleh karena itu Habara menikmati kisah-kisahnya layaknya seorang bocah, tanpa harus terlalu mempertanyakan kebenarannya. Pada akhirnya tak ada beda, mau itu bohong atau benar-benar terjadi, atau tambal sulam yang rumit dari keduanya, terus kenapa?

Bagaimana pun, Syahrazad sudah memberi hadiah lewat ceritanya yang menyentuh hati. Tidak peduli apa jenis ceritanya, dia selalu membuatnya jadi istimewa. Suaranya, pengaturan temponya, alurnya, semua sempurna. Dia menarik perhatian pendengarnya, menggodanya, mendorongnya untuk merenungkan dan berspekulasi, dan kemudian, pada akhirnya, memberi pendengarnya tepat apa yang dia inginkan. Karena terpesona, Habara mampu melupakan realitas yang mengelilinginya, meski hanya untuk sesaat. Seperti papan tulis yang dilap dengan kain basah, ia terhapus dari kekhawatiran, dari beragam kenangan tak menyenangkan. Harus minta apa lagi? Pada titik dalam hidupnya ini, melupakan adalah sesuatu yang Habara inginkan lebih dari apa pun.

Syahrazad berusia tiga puluh lima, empat tahun lebih tua dari Habara, dan merupakan seorang ibu rumah tangga dengan dua anak di sekolah dasar (meskipun dia juga seorang perawat terdaftar dan sesekali dipanggil untuk suatu pekerjaan). Suaminya adalah tipikal seorang pekerja kantoran. Rumah mereka berjarak dua puluh menit berkendara dari rumah Habara. Semua informasi pribadi tadi (atau hampir semua) Syahrazad sendiri yang memberitahukannya. Habara tidak punya cara untuk memverifikasi semua itu, tapi juga ia tak punya alasan untuk meragukannya. Syahrazad tidak pernah mengungkapkan namanya. “Kau tak butuh-butuh amat buat mengetahuinya, kan?” tanya Syahrazad. Sebaliknya Syahrazad pun tak pernah memanggil Habara dengan namanya langsung, meskipun tentu saja dia sudah tahu. Syahrazad sangat merahasiakan namanya, seolah-olah itu sesuatu yang mendatangkan kesialan atau hal tak pantas kalau sampai nama aslinya bocor keluar melewati bibirnya.

Di permukaan, setidaknya, Syahrazad yang ini tak memiliki kesamaan dengan si ratu cantik dalam “Seribu Satu Malam.” Wanita ini dalam perjalanan menuju usia menengah dan sudah muncul timbunan lemak di rahang dan timbul garis keriput di sudut matanya. Gaya rambutnya, makeup-nya, dan gaya berpakaiannya memang tidak serampangan, namun tidak juga cukup bagus untuk menerima suatu pujian. Penampilannya memang cukup menarik, tapi wajahnya tidak terlalu cantik, sehingga kesan yang ditinggalkannya serasa kabur. Akibatnya, orang-orang yang berjalan di sampingnya, atau yang berbagi lift dengannya, mungkin cuma memperhatikan dirinya sekilas. Sepuluh tahun sebelumnya, ia mungkin seorang wanita muda yang ceria dan menarik, bahkan mungkin sebaliknya. Di beberapa titik, bagaimana pun, tirai telah jatuh di bagian hidupnya dan tampaknya tidak mungkin ditarik ulur kembali.

Syahrazad mengunjungi Habara dua kali seminggu. Harinya tidak tetap, tapi dia tidak pernah datang pada akhir pekan. Tidak diragukan lagi dia memakai hari itu untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia selalu menelepon satu jam sebelum tiba. Dia membeli bahan makanan di supermarket terdekat dan mengangkutnya dalam mobil sedannya, Mazda biru kecil. Model lama, ada penyok di bumper belakang dan roda-rodanya hitam dengan lumur yang melekat. Parkir di tempat yang disediakan depan rumah, Syahrazad akan membawa barang belanjaan tadi menuju pintu depan lalu membunyikan bel. Setelah memeriksa lubang intip, Habara akan membuka kunci, melepas kaitan rantai, dan menyilahkan dia masuk. Di dapur, wanita itu akan menyortir bahan makanan dan memasukannya ke dalam lemari es. Lalu dia membuat daftar bahan-bahan untuk dibeli pada kunjungan berikutnya. Dia melakukan tugas ini dengan terampil, dengan tanpa gerakan sia-sia, dan tanpa banyak cakap.

Setelah selesai, mereka berdua akan bergerak tanpa kata ke kamar tidur, seakan mereka tergerus oleh arus yang tak terlihat. Syahrazad dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri dan, masih membisu, bergabung dengan Habara di tempat tidur. Wanita itu nyaris tak berbicara saat mereka bercinta, melakukan setiap tindakan itu seolah-olah ia sedang menjalankan sebuah tugas. Saat sedang menstruasi, dia menggunakan tangannya untuk mencapai tujuan yang sama. Cara kerjanya yang cekatan dan agak lugas ini mengingatkan Habara bahwa wanita itu memang seorang perawat profesional berlisensi.

Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, Syahrazad yang berbicara sementara Habara hanya mendengarkan, menambahkan beberapa kata, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Ketika jam menunjukan empat tiga puluh, ia akan memutus kisahnya (untuk beberapa alasan, kisahnya selalu berakhir saat akan mencapai klimaks), melompat dari tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya, dan bersiap-siap untuk pergi. Dia harus pulang, katanya, untuk menyiapkan makan malam.

Habara akan mengantarnya sampai pintu, mengunci, dan mengamati melalui tirai sampai mobil biru kecil yang kumal itu melaju pergi. Pukul enam tepat, Habara akan membuat makan malam sederhana dan memakannya sendiri. Dia pernah bekerja sebagai juru masak, sehingga menyiapkan makan malam bukanlah kesulitan besar. Dia minum Perrier untuk makan malamnya (dia tidak pernah menyentuh alkohol) dan dilanjut dengan secangkir kopi, yang ia teguk sambil menonton DVD atau membaca. Dia menyukai buku lama, terutama yang harus ia baca beberapa kali untuk memahaminya. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan. Dia tidak punya seorang pun untuk diajak bicara. Tidak ada seorang pun untuk ditelepon. Tanpa adanya komputer, ia tidak punya cara untuk mengakses internet. Tidak berlanggan koran, dan ia tidak pernah menonton televisi. (Ada alasan yang baik untuk itu.) Tak ada penjelasan mengapa dia tidak boleh pergi ke luar. Kalau Syahrazad berhenti menengoknya karena ada suatu alasan misalnya, ia akan ditinggal sendirian.

Habara tidak terlalu khawatir tentang hal itu. Jika itu terjadi, ia berpikir, akan sulit, tapi pasti akan ada jalan lain. Aku tidak terdampar di pulau terpencil. Tidak, ia berpikir, akulah pulau terpencilnya. Dia selalu nyaman berada dalam kesendirian. Bagaimanapun, yang mengganggunya justru pikiran bahwa dia tidak bisa berbicara di tempat tidur dengan Syahrazad. Atau, lebih tepatnya, kehilangan lanjutan dari kisahnya.

*

AKU dulunya seekor belut lamprei dalam kehidupan sebelumnya,” kelakar Syahrazad sekali waktu, saat mereka tengah berbaring di tempat tidur bersama-sama. Sebuah celetukan yang begitu sederhana, seolah-olah dia memberitahukan bahwa letak Kutub Utara berada di sebelah utara. Habara tidak tahu seperti apa makhluk bernama lamprei itu, tidak punya gambaran sedikit pun. Jadi dia tidak bisa menanggapi.

“Apakah kau tahu bagaimana cara lamprei makan ikan?” Tanya wanita itu.

Habara tidak tahu. Bahkan, itu pertama kalinya ia mendengar bahwa lamprei makan ikan.

“Lamprei tidak memiliki rahang. Itulah yang membedakan mereka dari belut lain.”

“Hah? Belut punya rahang ya?”

“Apakah kau tidak pernah memerhatikan?” Katanya, terkejut.

“Aku sering makan belut, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melihat apakah mereka punya rahang.”

“Nah, kau harus mengeceknya sekali waktu. Datangi akuarium atau tempat seperti itu. Belut biasanya punya rahang dan gigi. Tapi lamprei hanya punya pengisap, yang mereka gunakan untuk melampirkan diri pada bebatuan di dasar sungai atau danau. Kemudian mereka hanya akan mengapung di sana, bergerak bolak-balik, seperti rumput liar.”

Habara membayangkan sekelompok lamprei bergoyang mengambang seperti rumput liar di dasar danau. Adegan tampak jauh bercerai dari kenyataan, meskipun kenyataannya, dia tahu, kadang-kadang bisa sangat nyata.

“Lamprey hidup seperti itu, bersembunyi di antara rumput liar. Berbaring menunggu. Kemudian, ketika ikan kecil melewat di atas kepalanya, mereka akan melesat ke atas dan menyedotnya dengan pengisap mereka. Di dalam pengisap mereka terdapat alat serupa lidah dengan gigi, yang memuntir perut ikan sampai terbuka lubang sehingga mereka bisa mulai makan daging ikan itu, sedikit demi sedikit.”

“Aku tidak mau jadi ikan itu,” kata Habara.

“Kalau menengok zaman Romawi kuno, belut lamprei dibiakan dalam kolam. Budak yang membangkang bakal dilempar ke sana dan belut lamprey akan memakan mereka hidup-hidup.”

Habara berpikir bahwa ia tidak akan menikmati menjadi budak Romawi.

“Pertama kali aku melihat seekor lamprei adalah saat di sekolah dasar, pada perjalanan kelas ke sebuah akuarium,” kata Syahrazad. “Saat aku membaca deskripsi tentang cara mereka hidup, aku tahu bahwa aku adalah salah satu dari mereka dalam kehidupan terdahulu. Maksudku, aku bisa benar-benar ingat—mengikat ke batu, bergoyang tak terlihat di antara rumput liar, mengawasi ikan yang berenang di atasku.”

“Apakah kau ingat saat memakan ikan-ikan itu?”

“Tidak, aku tak ingat kalau yang itu.”

“Itu melegakan,” kata Habara. “Tapi apakah hanya itu tadi yang kau ingat dari kehidupanmu saat jadi lamprei—bergoyang ke sana kemari di dasar sungai?”

“Kehidupan terdahulu tidak bisa diingat begitu saja,” katanya. “Jika kau beruntung, kau akan mendapatkan seberkas kilatan kenangan. Ini seperti mengintip sekilas melalui lubang kecil di dinding. Dapatkah kau ingat setiap kehidupan terdahulumu?”

“Tidak, tidak ingat,” kata Habara. Sejujurnya, dia tidak pernah mendapat dorongan untuk meninjau kembali kehidupan terdahulu. Dia hanya fokus pada kehidupan yang sekarang.

“Namun, rasanya cukup nyaman di dasar danau. Terbalik dengan mulutku menempel pada batu, mengamati ikan yang lewat di atas kepala. Aku juga mendapati gertakan kura-kura yang sangat besar sekali, ada juga makhluk hitam besar yang melesat cepat, seperti pesawat ruang angkasa jahat di film ‘Star Wars’. Dan burung putih besar dengan paruh panjang yang tajam; dilihat dari bawah, mereka tampak seperti awan putih yang mengambang di langit.”

“Dan kau bisa melihat semua hal-hal ini sekarang?”

“Sangat jelas,” kata Syahrazad. “Cahayanya, tarikan arusnya, semuanya. Kadang-kadang aku bahkan bisa kembali ke sana dalam pikiranku.”

“Kau bisa berpikir saat jadi lamprey?”

“Ya.”

“Apa yang lamprey pikirkan?”

“Lamprei berpikir sangat lamprei. Tentang topik lamprey dalam konteks yang sangat lamprey. Tidak ada kata-kata untuk menjelaskan pikiran-pikiran itu. Semua soal dunia air. Ini seperti ketika kita berada di dalam rahim. Kita berpikir berbagai hal di sana, tapi kita tidak bisa mengungkapkan pikiran-pikiran di sana dalam bahasa yang kita gunakan di sini. Benar, kan?”

“Tunggu sebentar! Kau ingat bagaimana rasanya saat berada di dalam rahim?”

“Tentu,” kata Syahrazad, mengangkat kepalanya untuk melihat dada Habara. “Kau tak bisa?”

Tidak, kata Habara. Dia tidak bisa.

“Kalau begitu aku akan memberitahumu kapan-kapan. Tentang kehidupan di dalam rahim.”

“Syahrazad, Lamprey, Kehidupan Terdahulu” adalah yang Habara catat dalam buku hariannya hari itu. Dia meragukan bahwa siapa pun yang membaca bisa menebak apa arti dari kata-kata itu.

*

HABARA bertemu Syahrazad untuk pertama kalinya empat bulan sebelumnya. Habara dipindahkan ke rumah ini, di kota provinsi sebelah utara Tokyo, dan Syahrazad ditugaskan sebagai “fasilitator” untuknya. Karena Habara tidak bisa pergi ke luar, tugas Syahrazad adalah untuk membeli makanan dan barang-barang lain yang dibutuhkan dan membawanya ke rumah. Dia juga menyediakan beragam buku dan majalah yang Habara inginkan untuk dibaca, dan juga CD yang ingin didengarkan. Selain itu, Syahrazad memilih bermacam-macam DVD—meskipun Habara sulit menerima film pilihannya.

Seminggu setelah Habara tiba, seolah-olah sudah terlihat jelas langkah berikutnya, Syahrazad mengantarnya ke tempat tidur. Ada kondom di meja samping tempat tidur ketika Habara tiba. Habara menduga bahwa seks adalah salah satu kegiatan yang ditugaskan kepadanya—atau mungkin “aktivitas penunjang” adalah istilah yang mereka gunakan. Apapun istilahnya, dan apa pun motivasinya, Habara tetap menjalani alur tadi dan menerima ajakannya tanpa ragu-ragu.

Seks mereka bukan semacam formalitas, tapi tidak bisa dikatakan juga bahwa mereka melakukannya sepenuh hati. Syahrazad tampak penuh waspada, tetap hati-hati agar jangan sampai mereka menjadi terlalu antusias—sama seperti instruktur mengemudi yang tidak ingin murid-muridnya terlalu antusias mengemudi saat pelatihan berlangsung. Bagaimana pun, cara bercinta mereka tidak bisa dibilang bergairah, tidak juga sepenuhnya praktis. Mungkin memang ini awalnya salah satu tugas Syahrazad (atau, setidaknya, sebagai sesuatu keharusan), tetapi pada titik tertentu ia tampak—dalam beberapa hal—telah menemukan semacam kesenangan di dalamnya. Habara bisa mengatakan ini dengan jelas lewat respon tubuh Syahrazad, suatu respon yang menyenangkan dirinya juga. Pada akhirnya, Habara bukan binatang liar dikurung dalam kandang tapi manusia yang dilengkapi dengan berbagai emosi, dan seks sebagai kebutuhan dasar tubuh haruslah terpenuhi. Belum jelas sejauh mana Syahrazad melihat hubungan seksual mereka sebagai salah satu tugasnya, dan berapa banyak pengaruh terhadap kehidupan pribadinya? Habara tidak tahu.

Ada beberapa hal lain juga. Habara sering mendapat kesulitan dalam membaca perasaan dan maksud Syahrazad. Sebagai contoh, Syahrazad sering mengenakan celana katun polos. Jenis celana yang Habara bayangkan sering dipakai oleh ibu rumah tangga di usia tiga puluhan—ini sepenuhnya dugaan, karena ia tidak memiliki pengalaman dengan ibu rumah tangga di usia itu. Dalam beberapa hari, Syahrazad muncul dengan celana sutra berenda warna-warni sebagai gantinya. Mengapa Syahrazad beralih antara dua celana itu Habara tidak mengerti.

Hal lain yang membuatnya bingung adalah fakta bahwa persetubuhan mereka dan kisah Syahrazad yang begitu memikat, sehingga sulit untuk mengatakan di mana satu berakhir dan yang lainnya mulai. Habara belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya: meskipun ia tidak mencintainya, dan seksnya begitu-begitu saja, ia terhubung erat padanya secara fisik. Itu semua agak membingungkan.

*

AKU di usia belasan ketika aku mulai membobol rumah kosong,” kata Syahrazad suatu hari saat mereka berbaring di tempat tidur.

Habara—seperti sering terjadi ketika Syahrazad bercerita—menemukan dirinya kehilangan kata-kata.

“Apakah kau pernah menyelinap masuk ke rumah seseorang?” Tanyanya.

“Aku pikir tidak pernah,” jawab Habara dengan suara kering.

“Lakukan sekali dan kau bakal kecanduan.”

“Tapi itu ilegal.”

“Coba saja. Memang berbahaya, tapi kau pasti bakal ketagihan.”

Habara menunggunya dengan tenang untuk melanjutkan.

“Hal yang paling keren tentang berada di rumah orang lain ketika tidak ada orang di sana,” Syahrazad berkata, “adalah bahwa betapa sepi tempat itu. Tak ada suara. Itu seperti tempat yang paling sepi di dunia. Itulah yang aku rasakan. Ketika aku duduk di lantai dan terus berdiam di sana, hidupku sebagai seekor lamprey datang kembali kepadaku. Aku pernah bilang bahwa aku adalah seekor lamprey di kehidupan terdahulu, kan?”

“Ya, kau pernah cerita.”

“Seperti itulah. Pengisapku terpaut pada sebuah batu di dasar air dan tubuhku mengambang bolak-balik di atas kepala, seperti rumput liar di sekitarku. Semuanya begitu tenang. Mungkin karena aku tidak punya telinga waktu itu. Pada hari-hari cerah, cahaya menghunjam jatuh dari permukaan seperti anak panah. Ikan dari beragam warna dan bentuk melayang di atas. Dan pikiranku kosong dari pelbagai pikiran. Selain pikiran lamprey, tentu saja. Memang berkabut tapi begitu murni. Itu adalah tempat yang indah.”

*

PERTAMA kali Syahrazad membobol masuk ke rumah seseorang, jelasnya, yaitu saat dia masih SMP dan naksir pada anak laki-laki di kelasnya. Meskipun anak laki-laki itu tidak bisa dikatakan tampan, dia tinggi dan rapi, seorang murid teladan yang bermain di tim sepak bola, dan Syahrazad sangat tertarik padanya. Tapi ia tampaknya menyukai gadis lain di kelasnya dan tidak memperhatikan Syahrazad. Bahkan, sangat mungkin si laki-laki tidak menyadari kalau Syahrazad itu ada. Meski begitu, Syahrazad tidak bisa menyingkirkan laki-laki itu keluar dari pikirannya. Hanya melihat laki-laki itu membuat napas Syahrazad megap-megap; kadang-kadang dia merasa seolah-olah dia akan muntah. Jika dia tidak melakukan sesuatu tentang hal itu, pikir Syahrazad, dia mungkin bakal gila. Tapi menyatakan cintanya bukan perkara mudah.

Suatu hari, Syahrazad bolos sekolah dan pergi ke rumah anak laki-laki itu. Hanya lima belas menit berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Dia telah meneliti situasi keluarga laki-laki itu terlebih dahulu. Ibunya mengajar bahasa Jepang di sebuah sekolah di kota sebelah. Ayahnya, yang pernah bekerja di sebuah perusahaan semen, telah tewas dalam kecelakaan mobil beberapa tahun sebelumnya. Adiknya adalah seorang siswa SMP. Ini berarti rumah pasti kosong pada siang hari.

Tidak mengherankan, pintu depan terkunci. Syahrazad memeriksa di bawah keset berharap menemukan kunci. Benar saja, kuncinya ada di sana. Masyarakat perumahan yang tenang di kota-kota provinsi seperti mereka memiliki sedikit tindak kejahatan, dan kunci cadangan sering ditinggalkan di bawah keset atau pot tanaman.

Untuk amannya, Syahrazad membunyikan bel, menunggu untuk memastikan bahwa tidak ada jawaban, mengawasi jalanan kalau-kalau dia sedang diamati, membuka pintu, kemudian masuk. Dia mengunci pintu kembali dari dalam. Melepas sepatu, dia memasukannya dalam kantong plastik dan menempatkannya dalam ransel di punggungnya. Kemudian dia berjingkat menaiki tangga ke lantai dua.

Kamar tidur anak laki-laki itu ada di sana, seperti yang Syahrazad bayangkan. Tempat tidurnya itu rapi. Di rak buku ada stereo kecil, dengan koleksi beberapa CD. Di dinding, ada kalender dengan foto tim sepak bola Barcelona dan, di samping itu, ada semacam banner tim, dan tidak ada yang lain. Tidak ada poster, tidak ada foto-foto. Hanya dinding berwarna krem. Sebuah tirai putih menggantung di atas jendela. Ruangan itu rapi, segala sesuatu berada di tempatnya. Tidak ada buku berserakan, tidak ada pakaian di lantai. Ruangan memang mencerminkan kepribadian penghuninya yang teliti. Atau cerminan dari sang ibu yang terus menjaga agar rumahnya tetap sempurna. Atau keduanya. Hal ini membuat Syahrazad gugup. Sedikit saja ceroboh, pasti akan ketahuan kalau kamar si laki-laki itu jadi berantakan. Namun, pada saat yang sama, dari kebersihan dan kesederhanaan ruang, dan betapa rapihnya, membuat Syahrazad merasa bahagia. Karena mengingatkan pada cerminan si laki-laki.

Syahrazad merebahkan dirinya ke kursi meja dan duduk di sana untuk sementara waktu. Ini adalah tempat lelaki itu belajar setiap malam, pikir Syahrazad, hatinya berdebar-debar. Satu demi satu, dia mengambil alat di meja, menggulungnya antara jari-jarinya, membaui mereka, dan mendekatkan ke bibirnya. Pensilnya, guntingnya, penggarisnya, stapler-nya – benda paling biasa menjadi entah bagaimana bercahaya karena milik lelaki itu.

Dia membuka laci mejanya dan dengan hati-hati memeriksa isinya. Laci teratas dibagi menjadi beberapa kompartemen, yang masing-masing berisi sekat kecil dengan beragam barang dan souvenir yang berserakan. Laci kedua sebagian besar diisi oleh buku-buku pelajaran untuk setiap kelas yang sedang ia ambil, sedangkan yang di bagian bawah (laci paling bawah) dipenuhi dengan tumpukan kertas lama, buku-buku pelajaran terdahulu, dan soal ujian. Hampir semuanya berhubungan dengan sekolah atau soal sepakbola. Syahrazad berharap bisa menemukan sesuatu yang pribadi—mungkin buku harian, atau surat-surat—tapi di meja tidak ditemukan apapun semacam itu. Bahkan tidak ada foto. Ini membuat Syahrazad merasa aneh. Apakah laki-laki itu tidak punya kehidupan selain sekolah dan sepak bola? Atau dia sangat hati-hati sehingga menyembunyikan segala sesuatu yang bersifat pribadi, agar tidak ada seorang pun yang tahu?

Namun, hanya duduk di meja dan mengedarkan matanya ke tulisan tangan laki-laki itu membuat Syahrazad terhanyut pada kata-katanya. Untuk menenangkan diri, ia bangkit dari kursi dan duduk di lantai. Dia menatap langit-langit. Kesunyian di sekelilingnya adalah mutlak. Dengan cara ini, ia kembali ke dunia lamprey.

*

JADI itu semua yang kau lakukan,” tanya Habara, “menyusup masuk kamarnya, memeriksa barang-barangnya, dan hanya duduk di lantai?”

“Tidak,” kata Syahrazad. “Ada lagi. Aku ingin sesuatu darinya untuk dibawa pulang. Sesuatu yang paling sering ia pakai setiap hari atau yang paling dekat dengan tubuhnya. Tapi itu harus barang yang tidak terlalu penting agar ia tak terlalu peduli kalau-kalau ia akan kehilangan barang itu. Jadi aku mencuri salah satu pensilnya.”

“Hanya sebatang pensil?”

“Iya. Satu yang telah ia pakai. Tapi mencuri belum cukup. Ini bukan hanya soal pencurian. Fakta bahwa aku telah melakukan itu akan hilang. Pada akhirnya, aku adalah Sang Pencuri Cinta.”

Sang Pencuri Cinta? Kedengaran seperti judul sebuah film bisu bagi Habara.

“Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan sesuatu di kamarnya, suatu tanda. Sebagai bukti bahwa aku sudah pernah ke sana. Sebuah deklarasi bahwa ini adalah pertukaran, bukan hanya sekadar pencurian. Tapi barang apa yang harus kutinggalkan? Tidak ada yang muncul di kepalaku. Aku mencari-cari dalam ransel dan sakuku, tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang pas. Aku menyesal karena tidak berpikir untuk membawa sesuatu yang cocok. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan pembalut di sana. Salah satu yang belum dipakai, tentu saja, dan masih dalam bungkus plastik. Menstruasiku semakin dekat, jadi aku membawa beberapa hanya untuk jaga-jaga. Aku menyembunyikannya di sudut paling belakang laci terbawah, tempat yang bakal sulit untuk ditemukan. Itu benar-benar mengubahku. Fakta bahwa pembalutku itu tersimpan di laci mejanya. Mungkin karena aku begitu dihidupkan bahwa masa menstruasiku bakal datang segera setelah itu.”

Sebuah pembalut ditukar dengan pensil, pikir Habara. Mungkin ini adalah yang harus Habara tulis dalam buku hariannya hari itu: “Pencuri Cinta, Pensil, Pembalut.” Dia sangat ingin melihat reaksi mereka saat membaca ini!

“Aku ada di dalam rumahnya hanya lima belas menit atau lebih. Aku tidak bisa tinggal lebih lama dari itu: ini adalah pengalaman pertamaku menyelinap ke sebuah rumah, dan aku takut kalau seseorang tiba-tiba muncul ketika aku masih berada di sana. Aku memeriksa jalan untuk memastikan, menyelinap keluar pintu, menguncinya, dan menyimpan kunci di bawah keset. Lalu aku pergi ke sekolah. Membawa pensil miliknya yang berharga itu.”

Syahrazad terdiam. Dari tampilannya, dia berusaha kembali ke waktu silam itu dan mereka ulang beragam hal yang terjadi berikutnya, satu per satu.

“Minggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidupku,” katanya setelah jeda panjang. “Aku menulis hal-hal acak di buku catatanku dengan pensil itu. Aku membauinya, menciumnya, mengusapkan ke pipiku, memutar-mutar di antara jari-jariku. Kadang-kadang aku bahkan menempatkannya dalam mulutku dan mengisapnya. Tentu saja, itu membuatku gelisah karena semakin aku sering memakainya untuk menulis, semakin pendek pensil itu jadinya, tapi aku tidak bisa menahan diri. Jika itu sudah terlalu pendek, aku pikir, aku bisa datang kembali dan mengambil yang lain. Ada sepaket besar pensil yang tidak digunakan dalam kotak pensil di atas mejanya itu. Ide yang membuatku gila—ini memberiku sensasi geli yang aneh. Tidak lagi jadi soal buatku bahwa di dunia nyata dia tidak pernah melihatku atau menunjukkan sikap bahwa ia menyadari keberadaanku. Karena aku diam-diam memiliki sesuatu darinya—bagian dari dirinya, seolah-olah begitu.”

SEPULUH hari kemudian, Syahrazad bolos sekolah lagi dan berkunjung untuk kedua kalinya ke rumah si lelaki. Saat itu pukul sebelas pagi. Seperti sebelumnya, dia memungut kunci dari bawah keset kemudian membuka pintu. Sekali lagi, kamar lelaki itu masih tampak sempurna. Pertama, Syahrazad memilih pensil yang sudah digunakan dan dengan hati-hati memindahkan ke dalam kotak pensilnya. Kemudian dengan hati-hati dia berbaring di tempat tidur si lelaki, melipat tangannya di dada, dan menatap langit-langit. Ini adalah kasur tempat si lelaki tidur setiap malamnya. Pikiran ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat, dan dia merasa sulit untuk bernapas normal. Paru-parunya tidak terisi oleh udara dan tenggorokannya kering seperti tulang, membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

Syahrazad turun dari tempat tidur, merapihkan selimut, dan duduk di lantai, seperti saat kunjungan pertamanya. Dia menatap kembali langit-langit. Aku belum siap untuk kasur si lelaki, Syahrazad membatin. Itu sesuatu yang masih sulit untuk dia tangani.

Kali ini, Syahrazad menghabiskan setengah jam di rumah si lelaki. Dia mengambil beragam buku catatan si lelaki dari laci dan melihat-lihatnya. Dia menemukan sebuah buku laporan membacanya. Itu tentang ulasan “Kokoro”, novel karya Soseki Natsume, tugas membaca saat musim panas. Tulisan tangan si lelaki begitu indah, sesuatu yang diharapkan dari seorang siswa teladan, tidak ada kesalahan atau kelalaian satu pun. Tugas itu diberi nilai Sempurna. Apa lagi yang bisa mereka beri? Setiap guru yang disuruh menilai tulisan tangan yang sempurna ini secara otomatis akan memberikan nilai Sempurna, bahkan tanpa perlu repot-repot membaca satu baris pun.

Syahrazad pindah mendekat ke laci, memeriksa isinya secara runtut. Pakaian dan kaus kaki. Kemeja dan celana. Seragam sepak bola. Semua terlipat rapi. Tidak ada yang bernoda atau kusut. Apa si lelaki itu yang melipat sendiri? Atau, kemungkinan besar, ibunya yang melakukan semuanya? Dia tiba-tiba merasa cemburu terhadap ibu si lelaki, yang bisa melakukan hal-hal untuk si lelaki setiap harinya.

Syahrazad membungkuk dan membaui pakaian dalam laci. Semua masih segar baru dicuci dan harum matahari. Dia mengambil sebuah kaus abu-abu polos, membukanya, dan menekannya ke wajahnya. Mungkinkah bau keringatnya masih tertinggal di bawah lengan? Tapi tidak tercium. Namun, dia menahannya untuk beberapa waktu, menghirup melalui hidungnya. Dia ingin membawa pulang kaus itu. Tapi ini terlalu berisiko. Pakaian-pakaiannya begitu cermat diatur dan dijaga. Lelaki itu (atau ibunya) mungkin tahu persis jumlah kaos di dalam laci. Jika salah satu hilang, pasti bakal ketahuan. Syahrazad hati-hati melipat kembali kaos tadi dan mengembalikan ke tempat semula. Sebagai gantinya, Syahrazad mengambil sebuah lencana kecil, berbentuk seperti bola sepak, yang ia temukan di salah satu laci meja. Tampaknya itu klub di kelasnya tahun kemarin. Syahrazad meragukan bahwa lelaki itu akan mengetahuinya. Setidaknya, perlu beberapa waktu sebelum si lelaki menyadari bahwa lencananya hilang. Saat masih di sana, Syahrazad memeriksa laci bawah meja untuk memastikan pembalut yang ia simpan. Ternyata masih ada.

Syahrazad membayangkan apa yang akan terjadi jika ibu si lelaki itu menemukan sebuah pembalut. Apa yang akan ibunya pikirkan? Apakah ibunya akan menuntut si lelaki untuk menjelaskan kenapa ada pembalut di mejanya? Atau ibunya akan merahasiakan penemuannya tersebut, hanya memikirkan berulang kecurigaan dalam pikirannya saja? Syahrazad tak tahu. Tapi dia memutuskan untuk tetap meninggalkan pembalut itu di sana. Pada akhirnya, itu jadi semacam bukti pertama bagi keberadaannya.

Untuk memperingati kunjungan kedua, Syahrazad meninggalkan tiga helai rambutnya. Malam sebelumnya, ia telah mencabutnya, membungkus dalam plastik, dan menyegel dalam amplop kecil. Sekarang dia mengambil amplop tadi dari ransel dan menyelipkannya ke salah satu buku catatan matematika tua di dalam laci. Tiga helai rambut yang lurus dan hitam, tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Tidak ada yang akan tahu milik siapa kecuali kalau dilakukan tes DNA, meski memang jelas rambut itu milik seorang gadis.

Dia keluar dari rumah si lelaki dan langsung pergi ke sekolah, tiba tepat waktu untuk kelas sore pertamanya. Sekali lagi, ia bisa berbahagia untuk sekitar sepuluh hari. Dia merasa bahwa si lelaki telah menjadi miliknya. Tapi, seperti yang Anda harapkan, rantai peristiwa tidak akan berakhir tanpa insiden. Karena, seperti yang Syahrazad ucapkan, menyelinap ke rumah orang lain adalah sesuatu yang sangat adiktif.

*

SAAT titik ini dalam cerita Syahrazad melirik jam di samping tempat tidur dan melihat bahwa sudah pukul 04:32. “Harus pergi sekarang,” katanya, seolah pada dirinya sendiri. Dia melompat dari tempat tidur dan mengenakan celana dalam putih polosnya, mengaitkan bra, mengenakan celana jeans-nya, dan menarik kaus Nike biru gelap melalui atas kepalanya.  Lalu ia membasuh tangannya di kamar mandi, menyibak rambutnya, dan melaju pergi dengan Mazda birunya.

Ditinggalkan sendirian tanpa perintah apa-apa untuk dilakukan, Habara berbaring di tempat tidur dan merenung tentang kisah yang baru saja Syahrazad ceritakan padanya, menikmatinya sedikit demi sedikit, seperti sapi mengunyah rumput. Kemana arah cerita itu? ia bertanya-tanya. Seperti semua cerita Syahrazad yang lain, Habara tak pernah tahu. Ia merasa sulit untuk membayangkan Syahrazad sebagai siswa SMA. Apakah dia ramping saat itu, bebas dari timbunan lemak seperti saat ini? Seragam sekolah, kaus kaki putih, rambutnya dikepang kah?

Habara belum lapar, sehingga ia menunda menyiapkan makan malam dan kembali ke buku yang telah ia baca, dan mendapati dirinya tidak bisa berkonsentrasi. Gambaran Syahrazad yang menyelinap ke kamar teman sekelasnya dan membenamkan wajahnya di kaus si lelaki terlalu segar dalam pikirannya. Dia tidak sabar untuk mendengar apa yang terjadi selanjutnya.

*

KUNJUNGAN berikutnya Syahrazad ke rumah Habara adalah tiga hari kemudian, setelah lewat akhir pekan. Seperti biasa, Syahrazad datang membawa wadah kertas besar berisi beragam barang-barang kebutuhan. Dia pergi melalui makanan di lemari es, menggantikan beragam keperluan yang telah lewat tanggal kedaluwarsa, meneliti makanan kaleng dan botol di lemari, memeriksa pasokan bumbu dan rempah-rempah untuk memastikan apa yang menipis, dan menulis sebuah daftar belanja. Dia menaruh beberapa botol Perrier di lemari es untuk bersantai. Akhirnya, dia tumpuk buku-buku baru dan DVD yang dibawanya di atas meja.

“Apakah ada yang lain yang kau butuhkan atau inginkan?”

“Aku pikir tak ada,” jawab Habara.

Kemudian, seperti biasa, mereka berdua pergi ke tempat tidur dan berhubungan seks. Setelah melakukan beberapa foreplay, Habara menyelipkan kondomnya, memasuki Syahrazad, dan, setelah berada di waktu yang tepat, ejakulasi. Setelah memastikan isi pada kondomnya, Syahrazad mulai melanjutkan kisahnya.

*

SEPERTI sebelumnya, dia merasa bahagia dan puas selama sepuluh hari setelah penyusupan keduanya. Dia menyelipkan lencana sepakbola dalam tempat pensil dan dari waktu ke waktu merabanya selama kelas berlangsung. Dia menggigiti pensil yang telah ia ambil dan menjilati ujungnya. Sepanjang waktu dia terus memikirkan kamar si lelaki. Dia membayangkan mejanya, kasur tempatnya tidur, lemari yang mengemas pakaiannya, celana boxer putih, dan pembalut juga tiga helai rambut Syahrazad yang tersembunyi di laci.

Dia telah kehilangan semua minat di sekolah. Di kelas, dia terus memain-mainkan lencana dan pensil atau jatuh terbuai dalam lamunan. Ketika dia pulang, dia tidak dalam kondisi pikiran untuk menuntaskan PR-nya. Nilai Syahrazad tidak pernah bermasalah sebelumnya. Dia memang bukan murid unggul, tapi dia adalah seorang gadis serius yang selalu mengerjakan tugasnya. Jadi ketika gurunya bertanya padanya di kelas dan dia tidak mampu memberikan jawaban yang tepat, alih-alih marah, guru tersebut malah kebingungan. Akhirnya, sang guru memanggilnya ke kantor saat istirahat makan siang. “Apa ada masalah?” Ia bertanya. “Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” Syahrazad hanya bisa bergumam sesuatu yang samar tentang tidak enak badan. Rahasianya terlalu berat dan gelap untuk diungkapkan kepada siapa pun—Syahrazad harus menanggungnya sendiri.

*

AKU terus membobol rumahnya,” ungkap Syahrazad. “Aku terpaksa. Seperti yang dapat kau bayangkan, itu sesuatu yang sangat berisiko. Bahkan aku sangat tahu itu. Cepat atau lambat, seseorang akan memergokiku di sana, dan polisi akan dilibatkan. Bayangan itu membuatku mati ketakutan. Tapi, setelah bola bergulir, tidak ada cara untuk bisa menghentikannya. Sepuluh hari setelah ‘kunjungan’ keduaku, aku pergi ke sana lagi. Aku tak punya pilihan. Aku merasa bahwa jika aku tidak melakukannya, hidupku akan berakhir. Melihat ke belakang, aku pikir aku benar-benar sedikit gila.”

“Apakah itu tidak menimbulkan masalah bagimu di sekolah, bolos dari kelas begitu sering?” Tanya Habara.

“Orang tuaku punya kesibukan sendiri, sehingga mereka terlalu sibuk untuk memberikan banyak perhatian kepadaku. Aku tidak pernah mendapat masalah sampai saat itu, tidak pernah sampai melibatkan mereka. Jadi mereka pikir tak terlalu ikut campur merupakan pendekatan terbaik. Catatan peringatan ke sekolah adalah hal sepele. Aku menjelaskan kepada guru wali kelasku bahwa aku punya masalah medis sehingga aku harus menghabiskan setengah hari di rumah sakit untuk beberapa waktu. Karena guru memeras otak mereka atas apa yang harus dilakukan untuk anak-anak lain yang bolos sekolah, mereka tidak terlalu mengkhawatirkanku untuk mengambil izin setengah hari.”

Syahrazad melirik sekilas jam di samping tempat tidur sebelum melanjutkan kembali.

“Aku mengambil kunci dari bawah keset dan masuk ke rumah itu untuk ketiga kalinya. Keadaan di sana sesunyi seperti sebelumnya—tidak, bahkan lebih sunyi untuk beberapa alasan. Mengejutkanku ketika kulkas tiba-tiba berbunyi—itu terdengar seperti binatang besar mendesah. Telepon berdering saat aku berada di sana. Dering itu sangat keras dan kasar yang membuatku berpikir jantungku akan berhenti. Aku ditutupi dengan keringat. Tidak ada yang mengangkat, tentu saja, dan baru berhenti setelah sekitar dering kesepuluh. Rumah itu terasa lebih sunyi setelahnya.”

*

SYAHRAZAD menghabiskan waktu yang lama berbaring di tempat tidurnya hari itu. Kali ini jantungnya tidak berdetak begitu liar, dan dia mampu bernapas normal. Dia bisa membayangkan anak itu sedang tidur dengan tenang di sampingnya, bahkan merasa seolah-olah Syahrazad sedang mengawasinya saat si lelaki tidur. Dia merasa bahwa, jika Syahrazad mengulurkan tangan, dia bisa menyentuh lengan berototnya. Si lelaki tidak ada di sampingnya, tentu. Syahrazad baru saja jatuh dalam kabut lamunan.

Syahrazad mendapat dorongan kuat untuk menciumnya. Bangkit dari tempat tidur, dia berjalan ke laci, membuka satu slot, dan memeriksa baju-baju di dalamnya. Baju-baju itu telah dicuci dan dilipat rapi. Semuanya masih segar, dan bebas dari bau, seperti sebelumnya.

Sebuah ide menimpanya. Dia berlari menuruni tangga ke lantai pertama. Di sana, di ruang di samping kamar mandi, ia menemukan keranjang binatu dan membuka tutupnya. Itu adalah campuran beragam pakaian kotor dari tiga anggota keluarga—ibu, anak perempuan, dan si lelaki. Cucian selama sehari, kalau diperhatikan. Syahrazad mengambil sepotong pakaian laki-laki. Satu kaos oblong putih. Dia membauinya. Aroma begitu jelas yang berasal dari si lelaki. Bau apek yang pernah Syahrazad cium sebelumnya, ketika berdekatan dengan teman-teman laki-laki sekelasnya. Bukan aroma harum, tentu saja. Tapi fakta bahwa bau ini adalah milik si lelaki membawa Syahrazad pada sukacita yang tak berkesudahan. Ketika ia meletakkan hidungnya di bagian ketiak kemudian menghirupnya, Syahrazad merasa seolah-olah dia berada dalam pelukannya, tangan si lelaki menggenggam erat Syahrazad.

Dengan kaos di tangan, Syahrazad menaiki tangga ke lantai dua dan berbaring di tempat tidur si lelaki lagi. Dia membenamkan wajahnya di baju si lelaki dan rakus membauinya. Sekarang dia bisa merasakan sensasi lesu di bagian bawah tubuhnya. Putingnya juga mengeras. Mungkinkah menstruasi? Tidak, itu terlalu dini. Apakah ini yang namanya hasrat seksual ini? Jika demikian, maka apa yang bisa dia lakukan tentang hal itu? Dia tak tahu. Satu hal yang pasti, tentu saja—ini tidak boleh terjadi dalam situasi seperti ini. Tidak di sini di kamarnya, di tempat tidur si lelaki.

Pada akhirnya, Syahrazad memutuskan untuk membawa pulang kaos itu. Ini berisiko, sudah pasti. Ibu si lelaki kemungkinan besar bakal tahu kalau sebuah baju telah hilang. Meski si ibu tidak menyadari bahwa kaos itu hilang karena dicuri, ia masih akan bertanya-tanya ke mana perginya kaos itu. Setiap wanita yang terus menjaga rumahnya sampai begitu tertata pastilah seorang yang gila akan kerapihan. Ketika sesuatu hilang, dia akan mencari di setiap jengkal rumah dari atas ke bawah, seperti anjing polisi, tak akan berhenti sampai ia berhasil menemukannya. Tidak diragukan lagi, ibu si lelaki akan mengungkap jejak Syahrazad di kamar anak kebanggaannya ini. Tapi, meski Syahrazad paham betul akan hal ini, dia tidak ingin berpisah dengan baju itu. Otaknya tak berdaya untuk membujuk hatinya.

Sebaliknya, Syahrazad malah mulai berpikir tentang barang apa yang harus ditinggalkan. Celana dalamnya tampak seperti pilihan terbaik. Itu memang sesuatu yang biasa, sederhana, relatif baru, dan segar pagi itu. Dia bisa menyembunyikannya di bagian paling belakang lemari. Adakah barang lain yang lebih tepat untuk ditinggalkan dalam pertukaran ini? Tapi, ketika dia menanggalkan celana dalamnya, selangkangannya basah. Aku kira ini berasal dari birahi tadi, pikirnya. Mustahil untuk meninggalkan sesuatu yang ternoda oleh nafsunya di kamar si lelaki. Syahrazad hanya akan merendahkan dirinya sendiri. Syahrazad memakainya kembali dan mulai berpikir tentang apa lagi yang harus ditinggalkan.

*

SYAHRAZAD menghentikan ceritanya. Untuk waktu yang lama, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia berbaring di sana bernapas tenang dengan mata tertutup. Di sampingnya, Habara mengikuti, menunggunya untuk melanjutkan.

Akhirnya, Syahrazad membuka matanya dan bicara. “Hei, Tuan Habara,” katanya. Ini adalah pertama kalinya Syahrazad menyapanya dengan nama langsung.

Habara menatapnya.

“Apakah kau pikir kita bisa melakukannya sekali lagi?”

“Saya pikir saya bisa,” katanya.

Jadi mereka bercinta lagi. Kali ini, bagaimanapun, sangat berbeda dari waktu sebelumnya. Keji, bergairah, dan lebih panjang. Klimaksnya begitu jelas. Serangkaian kejang hebat yang meninggalkan gemetar. Bahkan wajah Syahrazad ikut berubah. Bagi Habara, ini seperti menangkap sekilas Syahrazad di masa mudanya: wanita dalam pelukannya sekarang seorang gadis tujuh belas tahun bermasalah yang entah bagaimana terjebak dalam tubuh seorang ibu rumah tangga tiga puluh lima tahun. Habara bisa merasakan Syahrazad sedang di sana, matanya terpejam, tubuhnya bergetar, polos menghirup aroma dari kaos berkeringat si lelaki.

Kali ini, Syahrazad tidak menceritakan sebuah cerita sehabis berhubungan seks. Dia juga tidak memeriksa isi kondom Habara. Mereka hanya berbaring di sana diam-diam di samping satu sama lain. Mata Syahrazad terbuka lebar, dan ia menatap langit-langit. Seperti lamprey menatap permukaan air yang terang. Betapa indahnya itu, pikir Habara, jika ia juga bisa menghuni waktu atau ruang lain—meninggalkan tubuh ini, manusia bernama Nobutaka Habara ini dan menjadi seekor lamprey tanpa nama. Dia membayangkan dirinya dan Syahrazad berdampingan, pengisap mereka menempel ke batu, tubuh mereka melambai dalam arus, mengamati permukaan karena mereka menunggu ikan gendut yang berenang dengan pongah di atasnya.

“Jadi apa yang kau tinggalkan dalam pertukaran untuk baju itu?” Habara memecah keheningan.

Syahrazad tidak langsung menjawab.

“Tidak ada,” katanya akhirnya. “Tidak ada sesuatu yang aku bawa yang bisa menyamai baju dengan baunya itu. Jadi aku hanya mengambil dan langsung menyelinap keluar. Itu adalah ketika aku menjadi pencuri, sesederhana itu.”

*

DUA BELAS hari kemudian, Syahrazad kembali ke rumah si lelaki itu untuk keempat kalinya, ada kunci baru di pintu depan. Warna emas berkilauan terkena sinar matahari tengah hari, seolah-olah untuk memamerkan kebanggaan yang kokoh. Dan tidak ada kunci yang disembunyikan di bawah keset. Jelas, ibunya curiga akibat baju hilang itu. Dia pasti mencari dari atas ke bawah, tercium tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu yang aneh terjadi di rumahnya. Nalurinya memang tepat, reaksinya cepat.

Syahrazad, tentu saja, kecewa dengan perkembangan ini, tapi pada saat yang sama ia merasa lega. Seolah-olah seseorang telah melangkah dari belakangnya dan melepas beban berat dari bahunya. Ini berarti aku tidak bisa membobol rumahnya lagi, pikirnya. Tidak ada keraguan, jika saja kuncinya tetap sama, maka invasinya ini akan berlanjut terus menerus. Juga sudah dipastikan bahwa tindakannya akan meningkat lebih jauh di setiap kunjungan. Pada akhirnya, anggota keluarga akan muncul saat Syahrazad sedang berada di lantai dua. Tak akan ada jalan untuk melarikan diri. Tidak ada cara untuk membela dirinya yang bisa mengeluarkannya dari kesulitan. Ini adalah masa depan yang telah menunggunya, cepat atau lambat, dan hasilnya akan menghancurkannya. Sekarang Syahrazad telah berhasil mengelak. Mungkin dia harus berterima kasih pada ibu si lelaki—meski dia tidak pernah bertemu wanita itu—karena memiliki mata seperti elang.

Syahrazad menghirup aroma kaos si lelaki setiap malam sebelum dia pergi tidur. Dia tidur dengan kaos itu di sampingnya. Dia akan membungkusnya dengan kertas dan menyembunyikannya sebelum dia berangkat ke sekolah di pagi hari. Kemudian, setelah makan malam, dia akan menariknya keluar untuk membelai dan mengendusinya. Dia khawatir kalau-kalau bau itu akan memudar sejurus berlalunya hari, tapi itu tidak terjadi. Bau keringatnya telah meresapi kaus itu untuk selamanya.

Sekarang setelah aktivitas penyusupan yang telah berakhir, pikiran Syahrazad perlahan mulai kembali normal. Melamunnya di kelas berkurang, dan kata-kata gurunya mulai bisa terserap lagi. Namun, fokus utamanya tidak pada suara gurunya, tetapi pada perilaku teman sekelasnya itu. Dia terus mengawasi diam-diam dirinya, mencoba untuk mendeteksi perubahan, indikasi kalau-kalau si lelaki mungkin gugup akan sesuatu. Tapi si lelaki bertindak persis sama seperti biasa. Ia melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa spontan seperti biasa, dan menjawab segera ketika dipanggil. Dia berteriak keras-keras saat latihan sepak bola dan berkeringat seperti biasa. Syahrazad tidak mendapati sesuatu yang luar biasa—hanya pemuda biasa, dengan pembawaan yang lurus-lurus saja.

Namun, Syahrazad tahu ada satu bayangan yang mengikutinya. Atau sesuatu yang seperti itu. Tak ada yang tahu, kemungkinan. Hanya Syahrazad saja (dan, kalau dipikir-pikir, mungkin juga ibu si lelaki). Pada penyusupan ketiga, Syahrazad menemukan sejumlah majalah porno tersembunyi di relung terjauh dalam lemari. Majalah itu penuh dengan gambar wanita bugil, meragangkan kakinya dan memamerkan kelamin mereka dengan murah hatinya. Beberapa gambar menampilkan tindakan seks: pria memasukkan penis berbentuk pancing ke dalam tubuh wanita yang posisinya sangat tidak wajar. Syahrazad tidak pernah melihat foto seperti ini sebelumnya. Syahrazad duduk di meja dan membalik perlahan majalah itu, mempelajari setiap foto dengan minat yang tinggi. Syahrazad menduga bahwa si lelaki melakukan masturbasi saat melihat majalah-majalah itu. Tetapi gagasan itu tak Syahrazad anggap sebagai sesuatu yang menjijikkan. Syahrazad menerima masturbasi sebagai aktivitas normal. Semua sperma laki-laki harus pergi ke suatu tempat, seperti gadis-gadis harus mengalami menstruasi. Dengan kata lain, si lelaki sangat khas remaja. Bukan orang yang suci-suci amat. Dia menemukan bahwa pengetahuan ini merupakan sesuatu yang melegakan.

*

KETIKA pembobolanku berhenti, gairahku terhadapnya mulai reda. Bertahap memang, seperti surut pasang dari pantai panjang yang landai. Entah bagaimana, aku menemukan diriku membaui kausnya tak sesering sebelumnya dan menghabiskan lebih sedikit waktu membelai pensil dan lencananya. Demam itu sudah lewat. Apa yang aku telah tertular bukan sesuatu seperti sakit tapi hal itu sangat nyata. Selama itu berlangsung, aku tidak bisa berpikir jernih. Mungkin semua orang mengalami periode gila seperti itu pada satu waktu. Atau mungkin itu adalah sesuatu yang terjadi hanya untukku. Kalau kau bagaimana? Apakah kau pernah memiliki pengalaman seperti itu?”

Habara mencoba mengingat, tapi kosong belaka. “Tidak, tidak ada yang seekstrim dirimu, saya pikir,” katanya.

Syahrazad tampak agak kecewa dengan jawabannya.

“Pokoknya, aku lupa semua tentang dia setelah aku lulus. Begitu cepat dan mudah, itu aneh. Apa karena dirinya yang membuat usia tujuh belasku terasa begitu keras? Aku tak ingat. Hidup ini aneh, kan? Kau bisa benar-benar terpesona oleh sesuatu dalam satu menit, rela mengorbankan segalanya untuk membuatnya milikmu, tapi kemudian sedikit waktu berlalu, atau perspektifmu berubah sedikit saja, tiba-tiba kau terkejut betapa cahaya itu dengan cepatnya memudar. Apa yang aku cari? kau bertanya-tanya. Jadi itulah kisah saat masa ‘melanggar-dan-masuk’ ku.”

Dia membuatnya terdengar seperti Blue Period-nya Picasso, pikir Habara. Tapi ia mengerti apa yang Syahrazad coba untuk sampaikan.

Syahrazad melirik jam di samping tempat tidur. Itu hampir waktu baginya untuk pergi.

“Sejujurnya,” katanya akhirnya,”cerita tidak berakhir di sana. Beberapa tahun kemudian, ketika aku berada di tahun keduaku di sekolah keperawatan, goresan takdir aneh membawa kami bersama-sama lagi. Ibunya memainkan peran besar di dalamnya; pada kenyataannya, ada sesuatu yang menakutkan tentang seluruh hal ini—seperti salah satu cerita hantu lawas. Mungkin terdengar agak luar biasa. Apakah kau ingin mendengar tentang hal itu?”

“Aku ingin,” kata Habara.

“Mungkin lebih baik menunggu sampai kunjungan berikutnya,” kata Syahrazad. “Sudah larut. Aku harus pulang dan menyiapkan makan malam.”

Syahrazad bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaian—celana dalamnya, stoking, kamisol, dan, akhirnya, roknya dan blus. Habara biasa menyaksikan gerakannya ini dari tempat tidur. Ini membuatnya berpikir kalau saat perempuan mengenakan pakaian bisa lebih menarik ketimbang saat mereka menanggalkan pakaian.

“Ada buku yang kau inginkan untuk kubawa?” Tanya Syahrazad, dalam perjalanan keluar pintu.

“Tidak, tidak ada yang bisa saya pikirkan,” jawabnya. Apa yang benar-benar ia inginkan, Habara pikir, adalah agar Syahrazad bisa menceritakan seluruh kisahnya, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata. Hal itu mungkin bakal membahayakan peluang Habara sehingga tidak akan pernah mendengar kisahnya lagi.

*

HABARA pergi tidur lebih awal malam itu dan berpikir tentang Syahrazad. Mungkin dia tidak akan pernah melihat Syahrazad lagi. Ini membuatnya khawatir. Kemungkinan itu terlalu nyata. Tidak ada dari kontak personal—tidak ada sumpah, tidak ada hubungan implisit di antara mereka—yang mengikat. Ada kemungkinan hubungan mereka diciptakan oleh orang lain, dan mungkin akan berakhir karena kemauan orang itu juga. Dengan kata lain, mereka terikat hanya oleh benang sangat tipis. Itu mungkin—tidak, sudah pasti—bahwa benang itu pada akhirnya akan rusak dan semua kisah-kisah aneh dan asing yang Syahrazad ceritakan akan terputus untuknya. Satu-satunya pertanyaan adalah kapan itu akan terjadi.

Habara menutup matanya dan berhenti memikirkan Syahrazad. Sebaliknya, ia memikirkan lamprey. Belut lamprey tanpa rahang mengikatkan diri pada batu, bersembunyi di antara rerumputan dasar air, sedang bergoyang maju-mundur. Habara membayangkan bahwa dirinya adalah salah satu dari mereka, menunggu ikan muncul. Tapi tidak ada ikan lewat, tidak peduli berapa lama ia menunggu. Baik yang gemuk, bahkan yang kecil sekalipun, tidak ada ikan sama sekali. Akhirnya matahari terbenam, dan dunianya itu merengkuh dalam kegelapan.

Diterjemahkan dari “Scheherazade” yang dirilis di The New Yorker 13 Oktober 2014. Cerpen Haruki Murakami yang dialihbahasakan dari Jepang ke Inggris oleh Ted Goossen.