Category Archives: cerpen

Tuhan

Aku tidak tahu apakah cerita ini dapat menjawab keberadaan Tuhan atau tidak.

Pernah aku mencoba untuk ngeteng pulang dari Lombok ke Sumbawa. Biasanya, aku selalu naik travel. Hanya tinggal duduk manis di kursi, kemudian travel akan mengantarkan aku sampai tepat di depan gerbang kantor. Aku ingin merasakan pengalaman baru. Naik angkutan sendiri, naik kapal laut sendiri. Aku pikir itu lebih mengasikkan.

Dari Lombok Timur, sebelumnya aku sempat singgah di Pancor dulu, aku diantar oleh temanku sampai pelabuhan. Aku membayar kapal sesuai tarif dan tidak menunggu lama, ada kapal yang sudah hendak berangkat. Petugas pelabuhan mengantarkan aku sampai ke tepian dengan buru-buru karena jangkar sudah diangkat, kapal sudah mulai bergerak. Aku melompat dari tepian ke kapan yang baru berjarak kurang 1 meter dari tempat berlabuh. Tentu, melompat hanya beberapa puluh centimeter anak kecil pun bisa.

Aku pikir aku akan baik-baik saja. Aku mencari bis-bis yang menuju ke Sumbawa. Tapi semuanya penuh. Bis ke Bima pun penuh. Aku pun menyerah dan mencari mobil travel, penuh juga. Yang ada bis-bis ke Taliwang. Tentu ke Sumbawa Barat berbeda dengan ke Sumbawa Besar.

Aku mengarungi selat Alas itu selama dua jam tanpa kepastian. Sang sopir bis bilang, biasanya di pelabuhan Poto Tano akan ada bis. Sesampainya di Poto Tano, sudah tidak ada bis. Aku menunggu kapal-kapal berlabuh, menunggu mobil-mobil turun, tetapi tak ada angkutan ke Sumbawa Besar. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih. Penjaga warung bilangnya bis ke Sumbawa akan ada nanti malam sekitar jam 9. Itu satu-satunya.

Masih ada jarak sekitar 100 km dari Tano ke Sumbawa Besar. Dan aku benci malam.

Penjaga warung menyarankan aku ke Alas. Naik ojek. Katanya di sana ada bis sore. Aku pun segera naik ojek dari pelabuhan. Membayar 20.000 untuk belasan kilometer tidak rugi kupikir. Di jalan aku bergumam di dalam hati, “JIKA TUHAN ADA, BAGAIMANA PUN CARANYA, AKU AKAN SAMPAI KE SUMBAWA BESAR.”

Tuhan nyaris tidak ada ketika sesampainya di Alas, dikatakan bahwa bis terakhir sudah berangkat setengah jam yang lalu. Aku berusaha tidak panik dan tetap tenang. Tukang ojek yang mengantarku tidak memberi solusi apa-apa. Dia pamit dengan segera.

Dalam keadaan bingsal, bingung dan kesal, seseorang menyapaku. “Maaf Mas, mau ke Sumbawa?”

Aku masih dalam keadaan waspada dan berkata, “Iya…”

Dia kemudian bilang, “Ikut kami saja. Tapi sebentar, mobilnya sedang diperbaiki.” Dia menunjuk sebuah mobil angkutan tua berwarna kuning tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengenali itu sebagai angkutan dalam kota Sumbawa. Beberapa orang sedang berada di bawah mesin, mengutak-atik sesuatu.

“Ini tadi dapat carteran ke rumah sakit. Pulangnya kosong. Tapi ngadat. Kalau mau ikut, tunggu sebentar ya.”

Aku mengangguk mengiyakan. Lima belas menitan aku menunggu. Mobil itu akhirnya selesai dibenahi. Klaharnya pecah. Ya mobil itu masih semi rusak. Meski bisa berjalan, dengan bunyi klotak-klotak, ia hanya bisa berjalan pelan. Aku pun dengan sabar menikmati pemandangan malam tepi laut sepanjang jalan. Dan menatap bulan yang bersinar terang. Sekitar lima jam baru aku sampai di Sumbawa.

Hari itu aku meyakini, Tuhan benar-benar ada.

Jam Makan Siang

 

Cerita ini milik seorang teman dari temanku.

Ada seorang tokoh fiksi yang dekat dengan penulisnya bercerita bahwa ia ingin segala sesuatu sudah siap di meja makan pada jam makan siang. Bagaimanapun caranya, walau 1 jam lagi dunia kiamat, orang-orang ribut di luar mencari cara menyelematkan diri, atau satu per satu masyarakat melakukan bunuh diri ketimbang melihat ada sebuah meteor besar menyentuh permukaan bumi, menimbulkan ledakan berjuta kali lipat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dan yang selamat dari ledakan itu tinggal menunggu maut dan kepunahan seperti dinosaurus di masa lampau, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dan tidak boleh dilakukan oleh lelaki. Itulah alasan Tuhan mencabut satu tulang rusuk dari dada lelaki kemudian menciptakan perempuan.

Aku tidak pernah mendengar cerita seaneh itu sejak sebuah cerita lain mengatakan ada lelaki tua yang bisa bicara dengan kucing. Setiap kali lelaki itu membuka payung, hujan akan turun. Bukan hanya titik-titik air yang turun, kadang-kadang juga ikan sarden dan bahkan lintah.

Teman dari temanku itu—aku tidak tahu apakah dia seorang penulis, tapi keputusannya untuk menceritakan hal itu kepada temanku menunjukkan cerita ini adalah sesuatu yang penting. “Apa kau sependapat dengan temanku yang bilang kalau yah, para perempuan seharusnya pandai memasak?” tanya temanku itu sambil masih memegang ponselnya. Ia tidak menatapku sama sekali dalam pertanyaan itu. Aku merasa sedikit tersinggung dan tidak segera menjawab dan sengaja mengetukkan jari-jariku di meja kaca, mencoba menyusun nada yang asal-asalan agar ia mengerti ponsel sialan itu tidak bisa menggantikan pertemuan macam apapun.

“Apakah tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak?” Kali ini ia menegakkan kepalanya, lurus, menatap mataku dan aku merasa benar, dalam tatapan mata kita bisa melihat banyak hal. Terlepas ia menggunakan kontak lensa, yang berwarna cokelat, bulat, dan lama-lama terlihat mengerikan, aku banyak melihat keputusasaan dari dalam matanya itu.

Aku merasa teman dari temanku itu bukan sekadar teman biasa. Aku diam-diam memberanikan diri untuk bertanya hal lain, bukan menjawab pertanyaannya untuk menjawab rasa penasaranku. “Kau mencintai temanmu itu?”

Ada bunyi gemuruh di langit menembus dinding kaca tempat kami duduk sekarang ini. Aku mengalihkan pandangaku sebentar ke luar. Awan hitam bernaung di sana. Klakson-klakson menjerit hampir bersamaan ketika ada seorang lelaki yang menyeberang begitu saja, berlari, menutupi kepalanya dengan tasnya, tidak di tempat penyeberangan yang seharusnya.

Aku kembali menatap temanku itu lagi. Dia belum selesai menyiapkan jawabannya. Aku tidak tahu kenapa harus selama itu menyiapkan sebuah jawaban yang hanya terdiri dari satu kata. Aku agak  curiga, jangan-jangan temanku juga punya bakat menjadi seorang penulis. Penulis yang baik tentu penulis yang pandai bertele-tele.

“Apa kau tertarik dengan kehidupan pribadiku?” Tuh kan. Dia mengelak-tidak mengelak. Dia mengambil gelas kopinya yang masih mengepulkan asap panas. Asap itu punya aroma khusus yang membuatku mual. Meski berbeda sebab, mual tetaplah mual. Mual karena berada di bis tak ber-ac yang sumpek dijejali penumpang adalah mual yang sama dengan aroma asap kopi.

“Aku tidak tertarik dengan kehidupanmu. Tetapi bagaimana bila kubilang, aku tertarik dengan pribadimu?”

Aku pikir pertanyaanku dapat membuatnya sedikit terkejut atau gelagapan, salah tingkah. Tapi dengan tenang ia menjawab, “Aku sudah biasa menerima rayuan.”

Menatap gelas kopinya, aku teringat gelas air putihku yang hangat. Ia tidak memesan apapun untuk pertemuan makan siang pertama kami. Aku memesan kwetiau dan banana split dan mengingat-ingat bentuk sebuah pisang adakalanya mirip dengan sebuah senyuman. Monyet-monyet menyukai pisang karena mengira itu buah yang ramah. Tapi bukan berarti aku mengamini Charles Darwin atau bukan juga dengan membantah Darwin berarti aku setuju dengan Landmark. Aku hanya menyukai pisang, apalagi jika disertai dengan es krim.

“Tentang tokoh fiksi itu…” aku mengembalikan arah pembicaraan pada topik mula-mula. “Dia lelaki yang bagaimana?”

“Nah, itu, aku juga tidak tahu persisnya, menurutku dia seorang yang egois…”

“Egois?”

“Iya betul. Temanku bilang, kadang-kadang dia merasa tokoh fiksinya itu tidak mau diberi karakter yang sesuai dengan isi kepala temanku. Dia suka berontak. Termasuk dalam cerita ini. Bayangkan, dia ingin perempuan tunduk di bawah kaki para lelaki.”

“Jadi dia seorang maskulin sejati atau antifeminisme begitu?”

“Tidak tahu juga, ya… dia tidak melarang istrinya bekerja asalkan setiap jam makan, terutama makan siang, meja makan harus sudah tersiapkan segala sesuatunya. Semua makanan yang dia suka harus ada di sana. Itu menggelikan, bukan?”

“Memangnya apa makanan kesukaannya?”

“Apa ya? Umm… sebentar aku ingat-ingat dulu.”

Lalu temanku itu tampak berpikir serius. Dia mengernyitkan alisnya, menaikkan bola matanya satu bergantian. Aku pun membayangkan bola lampu di sisi atas kepalanya. Aku tidak peduli benar apakah bola lampu itu ditemukan Thomas Alfa Edison atau sebenarnya ia mencurinya dari Tesla. Hanya aku merasa penasaran siapa orang pertama yang memetaforakan ingatan, ide, solusi, dengan bola lampu. Di situ kadang aku merasa geli sendiri jika setiap bola lampu butuh listrik untuk menyala, dan setiap aliran listrik harus dibayar setiap bulannya, dan setiap tahun kenaikan tarif dasar listrik bisa terjadi, berapa banyak uang yang harus dibayar untuk memasang bola lampu imajiner itu di atas kepala manusia. Barangkali juga karena sadar hal itu, bola lampu itu tidak sering-sering menyala sebagai upaya penghematan. Namun sehemat-hematnya, setidak begitu seringnya bola lampu itu menyala, abodemennya juga tetap harus dibayar.

“Ah iya, sayur bayam. Dia suka sayur bayam!” teriak temanku kencang-kencang. Semua pelanggan kafe yang lain menoleh ke arah kami.

“Hush, jangan ndeso kamu. Pelan-pelan saja ngomongnya.”

“Ya tapi ini kan ekspresiku. Ini barangkali persis seperti ketika Newton kejatuhan apel dan menemukan hukum gravitasi. Senang. Ketemu. Kau sih tak pernah mengalami hal-hal semenarik menemukan ingatan.”

Aku tidak bermaksud mengganggu kesumringahan temanku itu tatkala kukatakan padanya bahwa Newton dan apel itu cuma mitos. Kenyataannya, butuh sekitar 20 tahun bagi Newton untuk merumuskan Hukum Gravitasi.

“Kamu pernah dengar teori 10.000 jam?” tanyaku untuk membuatnya tak bersungut-sungut lagi. “Begini, untuk mahir dalam sesuatu, seseorang harus berlatih minimal 10.000 jam dalam 10 tahun. Di bidang apa saja. Aku pikir jika seseorang sudah berlatih berpikir dalam 10.000 jam, selanjutnya orang itu tak akan kesulitan lagi untuk berpikir.”

“Kau menyinggungku?” tanyanya masih dengan nada yang marah.

“Tidak, bukan begitu. Walau ada iyanya juga sih. Kalau kita terbiasa mengingat sesuatu, sudah 10.000 jam mengingat-ingat sesuatu, selanjutnya, kita tak perlu mengingat-ingat untuk mengingat sesuatu itu. Kalau temanmu sudah menulis 10.000 jam, aku yakin juga, ia tidak perlu khawatir tokoh fiksinya berontak kepadanya. Dan kalau istri tokoh fiksi itu sudah berlatih 10.000 jam untuk bisa memasak, maka ia akan bisa memasak dan mampu menyiapkan meja makan dan seluruh isinya dengan cepat.” Aku cukup puas menciptakan kesimpulan ini.

“Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku. Kau ini bodoh, ya?”

Aku tidak percaya pada responnya. Padahal aku sudah berusaha terlihat pintar dengan mengatakan teori-teori itu.

“Pertanyaanku adalah, apakah setiap perempuan harus pandai memasak dan apakah setiap tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak? Aku sengaja membedakan keduanya, perempuan dan tokoh fiksi perempuan karena aku pikir ya, mungkin, keduanya punya realitas yang berbeda… meski aku tidak tahu juga apa fiksi pantas disebut realitas.”

“Itu hal yang menarik, aku juga bertanya-tanya, apakah tokoh fiksi mampu membedakan realitas dan bukan realitas?”

“Kau ini… tolong jawab saja pertanyaanku tadi. Sebentar lagi jam makan siang ini akan berakhir dan aku harus kembali ke kantorku.”

“Jika aku menjawab pertanyaanmu, apakah kita masih akan bertemu lagi? Aku tidak tahu kenapa, aku punya perasaan, jika aku menjawabnya, apapun jawabanku, kamu tidak akan mau menemui aku lagi.”

Pesananku itu, kwetiau dan banana split, juga belum datang. Ketika melihat daftar menu, pada saat kami baru bertemu, ia menertawakanku karena memesan masakan yang menurutnya masakan Cina di restoran Padang. Tapi itu bukan salahku karena bukan aku yang mencantumkan kwetiau sebagai salah satu menu.

Yang terpenting dari manusia adalah waktu, tapi sudah setengah jam lebih kuhamburkan waktu untuk pertanyaannya. Aku yakin pertanyaan dan jawaban itu tidak penting bagiku karena keduanya bisa dihilangkan dari seratus juta lebih daftar alasan kenapa aku harus bertemu dengannya.

“Sepertinya aku kenal dengan temanmu itu…” kataku lagi. “Dia pasti seseorang yang gendut dan kurang ajar. Dia selalu berpikir setiap cerita harus memiliki akhir yang bahagia, bagaimanapun peliknya alur yang dia ciptakan.”

Temanku itu tampak keheran-heranan mendengar kalimatku barusan. Dia yang baru saja menghabiskan isi gelas kopinya, merapikan jaket yang dikenakannya, dan memasang topi di kepalanya—topi bertuliskan Ketika Fiksi Tak Cukup Lagi—kembali menatapku lekat.

“Apa maksud kalimatmu itu?” Nadanya agak memaksa.

“Kamu tahu Popeye? Aku menontonnya waktu kecil. Jadi aku suka bayam. Itu kebenaran, tapi temanmu berbohong tentang satu hal atau justru dia tidak bisa membaca perasaan tokoh fiksinya sendiri. Semua yang disangkakannya itu keliru. Aku tidak pernah menuntut seperti itu.” Aku menghentikan kalimatku dan kuingat istriku di rumah yang sedang menangis karena aku. Sungguh sial, perutku yang kelaparan belum juga terisi siang ini. Aku tidak tahu apakah temanku itu mengerti yang kubicarakan atau tidak. Ketika dia masih tampak mencerna kalimat-kalimatku, aku berdiri, dan memegarkan payung yang kubawa dari rumah. “Seharusnya jika aku penulisnya, aku akan segera menurunkan hujan dengan sangat deras. Itu akan tampak menggetirkan. Setidaknya itu dapat menutupi betapa menggetirkannya seorang tokoh fiksi yang tidak mampu membedakan realitas dan bukan realitas….”

 

 

Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Syarat Umum:

  1. Peserta adalah WNI.
  2. Tema: “Kekayaan Bangsa Indonesia dalam Kehidupan Berbudaya.”
  3. Konten cerpen tidak boleh memicu SARA atau yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.
  4. Sesuai dengan tema, konten membicarakan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang mana kekayaan itu sangat memberi pengaruh terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan budaya suatu tempat atau lokal.
  5. Cerita pendek harus memiliki/mengandung Kisah.
  6. Naskah harus karya asli secara keseluruhan, dan bukan terjemahan atau saduran.
  7. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik ataupun online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  8. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaiknya.
  9. Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara, dengan hak cipta tetap pada penulis.
  10. Hak untuk mempublikasikan naskah peserta dan para pemenang menjadi sepenuhnya milik penyelenggara lomba, dan tidak diperkenankan mempublikasikannya di media lain, terkecuali bila penulis yang bersangkutan ingin membukukannya dalam antologi atau karya tunggalnya sendiri.
  11. Hak penerbitan dalam bentuk buku sepenuhnya ada di tangan penulis.
  12. Setiap naskah yang dikirim akan ditampilkan di marwanmansyur.org
  13. Naskah yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan ditampilkan di marwanmansyur.org dan tidak akan disertakan dalam proses penjurian .
  14. Penyelenggara lomba berhak mengganti judul dan menyunting, tanpa mengubah isi.
  15. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
  16. Dewan juri akan mempertanggungjawabkan secara tekstual atas alasan mengapa naskah menjadi pemenang. Dan akan dipublikasikan di bawah bersama naskah pemenang di media yang sama.
  17. Lomba dibuka tanggal 1 Maret 2015 dan akan ditutup pada tanggal 1 April
  18. Pengumuman pemenang berikut publikasinya dapat dilihat di marwanmansyur.org pada tanggal 30 April 2015.
  19. Pajak ditanggung Panitia.

Continue reading Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Kumpulan Cerpen Kompas 2014

e-book_kumpulan-cerpen-kompas-2014

Inilah cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas sepanjang 2014. Bagi yang ingin mengirimkan karyanya, Isilakan dikirimkan ke opini@kompas.co.id

Terima kasih kepada Ilham Q. Moedding yang telah tulus mendokumentasikan semua cerpen ini.

Kumpulan Cerpen Tempo 2014

Ebook_Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Kumpulan cerita pendek Koran Tempo 2014 dapat diunduh pada link di atas. Terima kasih kepada Ilham Q. Moeddin yang telah bersusah payah mendokumentasikan cerpen-cerpen tersebut. Bagi teman-teman yang ingin mencoba mengirim cerita ke Koran Tempo, dapat mengirimkan karyanya ke ktminggu@tempo.co.id

UFO di Kushiro, Haruki Murakami

LIMA hari berturut-turut perempuan itu menghabiskan waktunya di depan televisi, mengamati reruntuhan bank dan rumah sakit, toko-toko yang terbakar, rel kereta api dan jalan raya yang terhambat. Ia tak mengucapkan satu kata pun. Terbaring di bantal sofa, mulutnya terkatup rapat. Ia tak menjawab ketika Komura mengajaknya bicara. Ia tak menggelengkan kepala ataupun mengangguk. Komura bahkan tak yakin suaranya itu sampai di telinga perempuan itu.

Perempuan itu berasal dari utara jauh di Yamagata dan, sejauh yang Komura tahu, istrinya itu tak punya keluarga atau kerabat yang mungkin menjadi salah satu korban gempa bumi di Kobe. Meskipun begitu, perempuan itu terus berada di depan televisi dari pagi hingga malam. Dalam pengamatan Komura, perempuan itu tak meminum atau memakan apa pun selama itu, dan tak juga beranjak ke kamar mandi. Kecuali untuk mengambil remote dan memindahkan channel, ia nyaris tak bergerak sedikit pun. Komura sendiri mulai terbiasa menyiapkan kopi dan roti bakarnya sendiri sebelum berangkat ke kantor. Setibanya di rumah malam harinya, ia akan mengatasi rasa laparnya dengan camilan yang ia temukan di lemari es; memakannya sendiri. Istrinya itu masih saja mengamati berita-berita di televisi ketika Komura memasuki kamar dan memutuskan untuk tidur. Sebuah dinding sunyi yang tinggi seperti mengelilingi perempuan itu, dan Komura akhirnya menyerah untuk merobohkan dinding tersebut.

Ketika ia tiba di rumah sehabis kerja pada hari Minggu itu, hari ketujuh, istrinya menghilang.

KOMURA adalah seorang salesman di salah satu toko peralatan elektronik tertua di “Kota Elektronik” Akihabara, Tokyo. Ia menangani barang-barang paling mahal dan mendapatkan komisi yang sangat lumayan setiap kali ia berhasil menjual salah satunya. Kebanyakan kliennya adalah dokter, pebisnis kaya, dan pegawai pemerintahan. Ia telah melakukan hal ini selama delapan tahun dan memiliki pendapatan yang baik dari sejak ia memulainya. Perekonomian sendiri memang sedang bagus; harga-harga real-estate meningkat dan Jepang sedang kelebihan uang. Dompet orang-orang dipenuhi lembaran puluhan ribu Yen, dan mereka gemas sekali untuk segera membelanjakannya. Barang paling mahal jadi barang pertama yang habis terjual.

Komura orang yang tinggi-langsing dan ia seseorang yang peduli pada penampilannya. Interaksinya baik dengan orang-orang di sekitarnya. Di masa lajangnya ia bahkan berkencan dengan banyak perempuan. Namun sehabis menikah, pada usia dua puluh enam, ia menemukan bahwa hasratnya akan petualangan seksual seperti itu secara misterius lenyap. Begitu saja lenyap. Ia tak pernah tidur dengan perempuan mana pun selain istrinya selama lima tahun pernikahan mereka. Bukan berarti kesempatan itu tak pernah ada, namun memang yang dirasakan Komura adalah lenyapnya hasratnya itu. Ia tak lagi tertarik pada hubungan singkat dan seks-semalam. Ia lebih memilih untuk pulang cepat, makan dengan santai bersama istrinya, berbicara dengan perempuan itu beberapa lama ketika mereka berada di sofa, lalu masuk ke kamar dan bercinta. Semua itu telah memuaskannya.

Teman-teman Komura dibuat bingung oleh pernikahannya itu. Dibandingkan dengan sosoknya yang bersih dan menarik, istrinya justru biasa-biasa saja. Perempuan itu pendek dengan lengan agak besar, dan penampilannya tidak menggairahkan. Dan bukan hanya secara fisik: tak ada juga yang menarik dari kepribadiannya. Perempuan itu jarang bicara dan selalu menunjukkan raut muka masam.

Meskipun begitu, entah bagaimana menjelaskannya, Komura selalu merasa gairahnya meluap saat ia sedang menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah; itu adalah satu-satunya saat di mana ia bisa benar-benar merasa rileks. Tidurnya lelap ketika ia bersamanya, tak terusik oleh mimpi aneh yang pernah membuatnya kesulitan di masa silam. Ereksinya sendiri bagus; kehidupan seksnya hangat. Ia tak lagi mencemaskan kematian atau penyakit kelamin atau luasnya alam semesta.

Istrinya, di sisi lain, tidak menyukai keramaian Tokyo dan merindukan Yamagata. Ia merindukan orang tua dan dua kakak perempuannya, dan ia akan pergi mengunjungi mereka kapan pun ia merasa membutuhkannya. Orangtuanya sukses mengelola sebuah penginapan, di mana dengan itulah kondisi keuangan mereka nyaman-nyaman saja. Ayahnya sangat menyukai anak perempuan terkecilnya itu dan dengan senang hati membayarkannya uang perjalanan pulang-pergi. Beberapa kali, Komura tiba di rumah sehabis kerja dan menemukan istrinya itu tak ada dan sebuah memo diletakkan istrinya itu di meja dapur, memberitahunya bahwa istrinya itu sedang mengunjungi orangtuanya untuk beberapa lama. Ia tak pernah menentang apa yang dilakukan istrinya itu. Ia hanya menunggu perempuan itu kembali, dan selalu, setelah seminggu atau sepuluh hari, perempuan itu kembali, dengan suasana hati yang baik.

Tapi memo yang ditinggalkan istrinya ketika perempuan itu lenyap lima hari setelah gempa bumi itu berbeda: Aku tak akan kembali, tulisnya, lalu beralih ke penjelasan, sederhana tapi jelas, mengapa ia tak ingin lagi hidup bersamanya.

Continue reading UFO di Kushiro, Haruki Murakami