Category Archives: cerpen

Bersahabat dengan Alien

 

“Bagaimana rasanya punya pacar alien?”

Pertanyaan itu disusul dengan sejumlah pertanyaan lain yang berdengung seperti lebah. Kilatan lampu dari kamera DSLR milik para pemburu berita menimpa wajah Teruna tanpa belas kasihan. Ia ingin menjawab seperti cara artis D yang baru saja terpilih menjadi anggota legislatif, tetapi apa gunanya sebuah konferensi pers bila ia tidak memberikan satu pun jawaban memuaskan.

Keadaan seperti ini bukanlah hal baru bagi Teruna. Hanya saja, biasanya Teruna berada di posisi penanya. Pekerjaannya sebagai wartawan sebuah majalah baru-baru ini juga membuatnya bertemu Kim Hyun Soo. Alih-alih bertanya yang serius, terpesona pada kulitnya yang secerah buah pir, Teruna malah bertanya, “Apakah kamu benar-benar seorang alien?”

Teruna tidak tertarik membicarakan penjiplakan drama itu. Wartawan lain meributkannya. Tidak mungkin Kim Hyun Soo dibandingkan dengan aktor M. Kejantanannya berbeda. Teruna hanya berharap, SBS akan menuntut televisi yang menyiarkan sinetron tersebut untuk tidak disiarkan lagi.

 

~

 

Begitu mendengar Teruna akan mengadakan konferensi pers, saya begitu gelisah. Saya ingin mengasingkan diri sejauh-jauhnya. Beruntung, pada saat yang sama, anak-anak Adventurous Sumbawa memberikan undangan perjalanan ke Moyo.

Saya sendiri kaget ketika suatu hari menyalakan tivi, melihat berita dan dikatakan bahwa seorang gadis berusia sekitar 27 tahun tertangkap kamera sedang digendong seorang lelaki lalu menghilang tiba-tiba. Beberapa detik kemudian, kamera CCTV yang lain menangkap sosok yang sama dengan jarak yang begitu jauh berbeda. Tidak usah banyak penyelidikan, saya langsung mengenali sosok perempuan itu adalah Teruna. Dan laki-laki yang mukanya bercahaya adalah Si Alien. Alien itu pernah jadi sahabat saya.

Hati saya berakhir saat itu juga. Tidak mungkin saya bersaing dengan seorang alien. Tidak ada yang spesial di diri saya. Sama tidak spesialnya dengan martabak di penjuru Indonesia meski menggunakan merk “martabak spesial” di promosinya.

“Apa kamu akan kuat berpacaran dengan alien seperti dia?” tanya saya.

“Cinta selalu memberi kita kekuatan.” Teruna  menjawab penuh keyakinan.

Itulah dialog terakhir kami. Saya tidak setuju. Cinta tidak selalu memberi kita kekuatan. Mencintai Teruna membuat saya semakin rapuh.

Pagi seharusnya indah ketika kamu tidak tahu diam-diam ada yang begitu merindukanmu. Tapi pagi ini rindu tampak seperti ketiadaan ombak di bibir pantai. Laut ketenangan. Sampah-sampah plastik mengambang. Saya lebih menyukai laut yang berombak, lebih normal. Segala hal yang tampak tenang lebih menakutkan. Dia bisa berubah jadi monster ganas. Misalnya beberapa saat sebelum tsunami, laut akan terseret jauh dari bibir pantai dan jauh lebih tenang dari biasanya.

Para petualang muda Sumbawa berkumpul di Pantai Baru, Desa Labuhan. Dua kapal sudah disiapkan. Teruna pasti sedang mempersiapkan apa-apa saja yang ia harus katakan. Saya tidak menyiapkan apa-apa kecuali baju ganti dan gitar.

Randal Patisamba langsung mengambil tempat di hidung perahu. Itu sebenarnya tempat favorit saya juga, tapi untunglah hari ini saya tak begitu berminat memegang pancing dan menyaksikan perahu membelah lautan. Saya ambil tempat di sisi kiri perahu. Di sebelah saya semuanya perempuan. Belum mulai berjalan, mereka sudah saling papo (foto). “Pringi, senyum dong!” Saya pun ikut terkena papo.

Apa perasaan Teruna di hadapan kamera. Dia pernah meminta saya untuk memfotonya. Dalam pose apa pun. Sebagai lelaki, mendengar itu, tidak mungkin pikiran tidak menjadi kotor. Dan belum ada penjual sapu otak di toko mana saja. Teruna pastilah tidak akan merasa nyaman saat ini. Apalagi si Alien itu sudah menghilang. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Padahal sudah saya pesankan untuk tidak meninggalkan Teruna apa pun yang akan terjadi.

Kapal nelayan yang kami naiki mulai berjalan. Saya mulai mengencangkan jaket, menebar pandangan, dan melihat salah satu perempuan yang duduk di sebelah kanan memikat. Kamu. Gigimu gingsul seperti Agnes Monica. Bedanya, bila Agnezmo terskandal nipple slip di video klip Coke Bottle, kamu tampak manis dengan kerudung. Saya tidak mempermasalahkan seorang perempuan setertutup apa dengan pakaiannya, asal ia cukup terbuka di pikirannya, ketimbang sebaliknya. Saya curi-curi pandang ke arahmu. Kamu sepertinya rela-rela saja pencuri datang menyambangimu.

Halo, kenalkan, saya pencuri.

Apa hati kamu masih ada di tempatnya?

Lalu kamu menatapku, tersenyum.

Saya hanya bisa mengenang senyummu selama dua jam perjalanan itu. Lebih lambat setengah jam dari waktu yang direncanakan sebab mesin kapal satunya satu tidak menyala sehingga lajunya tidak sekencang seharusnya. Penumpang lainnya banyak yang tertidur sambil menikmati matahari pagi yang hangat. Pulau Moyo sudah terlihat dari kejauhan. Saya tidak bisa tidur di atas laut. Kamu juga tidak tidur di atas laut. Tertunduk, termenung, apa kamu sedang memikirkan negara?

Saya beranikan diri untuk mengajak kamu mengobrol, “Hai…” Kaku sekali sapaan ini. “Sudah berapa kali ke Moyo?” tanya saya.

“Ini yang pertama, Mas…” jawab kamu. Suaramu manis. Ibumu pasti sering makan gula ketika mengandung kamu.

“Jadi, ini petualangan pertamamu?”

“Sebelumnya pernah ke Ai Loang…”

“Kamu tahu, paling dekat ke Moyo, lewat Ai Loang. Naik dari Sea Side.”

“Iya, tapi kan hampir satu jam perjalanan daratnya.”

“Memang, barangkali kamu takut terlalu lama di laut.”

“Nggak Mas, Sari suka laut.”

“Sari?”

“Iya. Mas siapa namanya?”

Nah, beginilah cara mengetahui nama tanpa bertanya nama. Setelah ini saya akan tahu akun facebookmu, nomor ponselmu, PIN BBM kamu, segalanya. Tuan Alien yang terhormat, yang dapat mendengar suara sedetil apa pun dari jarak ratusan kilometer, cobalah dengar suara hati saya ini. Kamu boleh merebut Teruna dari pandangan saya, tapi saya sekarang akan punya Sari. Saya akan move on dari Teruna.

 

~

 

Begitu Labu Aji terlihat, semua orang bersemangat. Sudah pukul sembilan, Teruna akan diwawancara pukul satu siang nanti. Kemarin Teruna berulang tahun, tapi sengaja saya tak memberi ucapan selamat. Toh, pasti ponselnya akan dinonaktifkan. Semua orang akan berburu kebenaran, bertanya tentang tuan alien itu. Malam tadi, Teruna pasti mengurung diri di kamar. Hotel bintang lima yang privasinya terjaga. Saya suka bingung juga dengan definisi privasi itu. Bila menjelang bulan puasa, hotel-hotel melati dan wisma digerebek oleh ormas-ormas, hotel bintang lima tidak pernah tersentuh. Padahal saya yakin, para pelacur kelas atas yang dipakai borjuis dan birokrat kelas atas pula banyak sedang bercinta di ruangan ber-AC dan berkasur empuk itu.

Komandan Sirajuddin memberi komando untuk berhati-hati menginjak dermaga. Randal Patisamba dengan sigap melompat tanpa rasa takut. Dasar laut terlihat. Pasir putih, penuh terumbu. Padahal hanya beberapa meter dari bibir pantai. Tapi spot snorkling paling menarik ada di Takat Segale yang terkenal dengan atolnya atau di Tanjung Pasir, sisi lain pulau Moyo dengan aneka jenis ikan dan terumbu. Saya takut snorkling. Saya takut pada keberadaan ular laut dan bulu babi. Saya takut pada arus bawah laut meski hanya di laut dengan kedalaman paling dalam 5 meter. Beberapa bulan lalu, lima turis Jepang berpredikat master dive saja hilang di Nusa Dua. Hebatnya semua bisa selamat dan terdampat di pulau-pulau kecil puluhan kilometer dari tempat mereka menyelam.

Seusai saya menapakkan kaki di dermaga, kamu selanjutnya. Dari gesturmu, kamu meminta pegangan. Saya berikan tangan kanan, kamu menggenggamnya. Jadi begini rasanya telapak tanganmu. Ada pikiran melintas, sebaiknya kamu terjatuh saja. Lalu saya akan menangkapmu, atau menghentikan waktu sejenak seperti yang biasa Tuan Alien lakukan. Tapi momen-momen seperti itu sangat picisan.

Kita beristirahat di rumah warga yang sudah dikosongkan. Meletakkan tas, menaruh barang-barang yang bisa ditinggalkan, buang air kecil dan menikmati terik matahari pinggir laut yang digandrungi bule-bule berpigmen buruk.

Satu tower terlihat menjulang dan sendiri. Saya sedikit penasaran di mana resor milik Amanwana. Tarifnya 1000 dolar. Lady Diana dan Doddi Al Fayed pernah menginap di sana. Sharapova juga. Untunglah Gayus Tambunan tidak. Ia sudah puas duduk di tribun Wimbledon sebelum tertangkap meski penjara adalah sebuah sandiwara lain. Tahanan yang punya uang bisa dapat kamar mewah dan keluar penjara diam-diam saat malam hari. Asal tidak ketahuan Denny Indrayana saja.

“Kamu tahu kenapa kenapa Tuhan menurunkan Adam ke bumi?” Tuan Alien itu bertanya suatu hari. “Kalau tidak begitu, tidak akan ada kisah cinta-mencintai…” Tuan Alien itu menjawab sendiri pertanyaannya.

Teruna pasti sedang patah hati akut. Tuan Alien begitu pandai merayu. Kata-katanya penuh filosofi. Tak ada perempuan yang tak luluh.

Saya tak ingin memikirkan Teruna lagi. Biarlah, ada kamu sekarang. Ini bukanlah sebuah pelarian. Ini harapan.

Lalu kita berjalan kurang lebih satu jam ke Mata Jitu. Air terjun yang selama ini hanya saya lihat di foto, yang cerita keindahannya begitu mendunia itu akan segera tampak di depan mata saya. Perjalanan mendaki. Saya sengaja samakan irama langkah kaki saya dengan langkah kaki kamu. Sampai-sampai jika ini sebuah lomba gerak jalan, kita akan menang dengan pasti.

“Kamu kuat mendaki?”

“Insyaa Allah, Mas…”

“Yakin?”

“Kalau pun tidak, kan ada Mas Pringi yang akan membopong Sari…”

Wah, alamat. Terik matahari yang masih gigih menembus celah dedaunan tidak begitu mendera kulitku. Memandangimu saja sudah sejuk rasanya. Seharian kemarin, padahal badan saya tak enak, tidur saya pun tak nyenyak. Memikirkan Teruna, memikirkan dia sedang menangis, dada saya sesak. Untunglah kemarau setahun, dihapus hujan sehari. Luka sepanjang umur pun bisa terobati dengan cinta pandangan pertama. Kamu.

Jantung yang berdetak lebih cepat, keringat yang menetes seperti berada di kran bocor, dan tenggorakan yang semakin haus adalah kelelahan. Kamu tidak sekali pun mengeluh. Malu dong kalau saya mengeluh dan meminta beristirahat. Untunglah, hampir sampai di batas stamina, suara air terjun itu terdengar. Selamat datang di Hutan Buru Pulau Moyo. Kita pun berfoto di sana. Saya sudah berhasrat ingin mencemplung ke air terjun itu sebelum Komandan Sirajuddin berkata untuk melanjutkan perjalanan ke Kolam I. Tidak jauh. Hanya 200 meter. Dua ratus meternya orang Sumbawa bisa lebih dari satu kilometer.

Dan Komandan Sirajuddin benar adanya, hanya sekitar 200 meter dan surga yang ditinggalkan Tuhan di dunia itu salah satunya ada di Pulau Moyo. Diberkahilah orang-orang yang mengungsi dari Sumbawa dan menemukan Pulau Moyo di zaman Soekarno demi menghindari pajak. Kolam berair hijau berkilauan seperti zamrud, beralaskan batu kapur terbentang luas. Teksturnya seperti terasering. Diornameni daun-daun menguning yang jatuh tertiup angin. Saya melihat senyummu merekah. Surga di depan mata, dan bidadari ada di samping saya. Meski katanya, terjemahan yang tepat untuk wanita surga bukanlah bidadari (angel), melainkan perawan (virgin).

Randal Patisamba memang orang yang paling berinisiatif. Dia membuka baju dan langsung melompat ke kolam itu. Saya tidak membuka baju, malu pada lipatan lemak di perut. Saya langsung menggamit tangan kamu. “Ayo!” Dan kita kembali menjadi anak kecil yang lugu dan tak malu-malu di hadapan air.

Buuur!

Tubuh kita adalah batu yang dilempar. Tubuh kita adalah kanak-kanak abadi yang tak akan takluk pada permainan zaman kini—mata yang selalu berada di depan layar, dan jempol yang tak habis berolahraga melebih waktu-waktu lari pagi. Surga seharusnya cukup seperti ini. Keindahan alam yang tidak ada duanya, dan seorang kekasih yang setia mencintai, tak menua dan abadi, meski saya sendiri tak yakin, jika emosi masih ada setelah kehidupan ini, apakah cara hidup yang selalu bahagia itu adalah kebahagiaan, atau memicu kebosanan? Kebahagiaan seperti ini ada karena upaya dan ketahanan dari perjalanan, karena tenaga dan air mata yang terkuras untuk menghadapi setiap tantangan.

“Pringi… Pringi…”

Ada suara laki-laki memanggil nama saya. Saya menoleh ke kamu yang berenang di samping saya. “Sari, kamu dengar suara itu?”

Kamu menggeleng.

“Pringi… Pringi… dia tak akan mendengar aku. Aku hanya berbicara padamu. Jadi, tanpa aku, apa kamu sudah cukup bersenang-senang?”

Ini suara yang begitu kukenali. Saya melihat ke atas pohon. Di setiap cabang. Di setiap dahan. Dan… dia, Tuan alien, ada di salah satu pohon yang tinggi, hanya memakai celana pendek, tubuhnya berkilau lebih baik dari wajahnya sebelum kembali berkata, “Apa kamu lupa aku menyukai tempat-tempat yang indah nan sepi untuk mengasingkan diri?”

 

~

“Bagaimana rasanya bersahabat dengan alien?”

Pertanyaan ini tidak menarik. Teruna mengirimkan pesan singkat yang saya baca malam sebelum kepulangan dari Moyo. Tower menjulang itu ternyata tower milik sebuah provider seluler. Ada sinyal yang cukup baik di Pulau Moyo, bahkan mendapat EDGE.

“Kamu bahkan lupa ulang tahunku, ya?”

“Kamu juga lupa katanya ingin membuatkan puisi terindah buatku di hari ulang tahunku?”

“Kamu juga lupa, kamu pernah bilang, sebagai apa pun kita, kamu akan tetap menemaniku bicara?”

Berturut-turut SMS masuk. Saya tak ada bisa menjawab satu pun pertanyaannya. Tuan Alien itu sekarang sedang naik perahu bersama saya. Identitasnya tentu tidak diketahui orang-orang. Dia mencuri pandang ke arah kamu, saya tahu itu. Kekhawatiranku kemudian terbukti ketika dia berbisik, “Perempuan yang bersamamu tadi itu cantik, Pringi… Dia mirip cinta pertamaku.”

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

 

 

 

Katak Bunuh Diri

 

“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.

“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.

“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sejarah umat katak itu. Katak-katak dikorbankan, dibelah perutnya, dikeluarkan isinya demi alasan pengetahuan.

“Mungkin.” Jawaban Randal Patisamba menggantung. Mukanya seperti memikirkan sesuatu, seperti ada yang diketahuinya, tapi tak mau dikatakannya.

Aku tak habis pikir pada rombongan yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka sama sekali mengabaikan katak-katak ini. Pantai Leppu di Labangka Tiga menjadi tujuan kami. Bersama-sama kami berangkat dari Sumbawa pukul delapan pagi tadi dan di jalan, motor yang kunaiki bersama Randal mengalami pecah ban. Kami tertinggal di belakang. Untungnya Randal bilang dia tahu jalan.

Mulanya aku tak hendak ikut ke Leppu. Aku masih kecewa dengan Nacinta setelah dikatakannya aku terlalu tua untuk jatuh cinta. Daging kambing yang berusia lebih dari tiga bulan itu alot dan berkolesterol, tidak enak dimakan. Aku disamakannya dengan kambing.

Tapi memang perempuan tidak bisa ditebak, pagi-pagi bakda subuh dia mengirimkan pesan singkat, pesan mesra yang tidak bisa ditolak siapa pun, “Mas, ikut ya ke Leppu, Nacinta sedih kalau Mas nggak ada.”  Aku lebih memilih ikut Lucky Prize di Line itu dehketimbang harus menebak apa maunya perempuan.

Satu motor kosong yang tersisa milik Randal Patisamba. Dua orang dengan berat badan lebih dari 70 kilogram akan menaiki motormatic kecil yang seharusnya dinaiki perempuan dengan perut rata dan pinggul seperti angsa. Pecah ban sudah sunatullah. Tidak ada pembenaran untuk menggerutu.

Sebelum berbelok ke Labangka, sebelum Plampang, aku tidak tahu kenapa pandanganku tertuju pada satu titik. Sebuah bukit besar menarik perhatian. Awan-awan bergumul di atasnya. “Apa itu?” Reflek aku bertanya pada Randal. Mataku belum beralih ke mana pun.

“Jaran susang.”

“Jaran susang?”

“Itu tempat tertinggi nomor dua di Sumbawa.”

“Setelah Tambora?”

“Tambora tidak dihitung. Tambora di Dompu.”

“Lalu?”

“Puncak Ngengas.”

“Apalagi itu?”

“Sebaiknya jangan lama-lama kau pandangi dia… tak baik.”

“Kenapa?” Aku makin penasaran dengan jawaban Randal. Tapi sahabatku sejak aku di Sumbawa itu sama sekali tak memberiku jawaban. Motor melaju seadanya. Sesekali ia dapat menyalip mobil-mobil bermuatan besar yang menuju ke Bima. Mobil-mobil dengan kapasitas beban seperti inilah yang menyebabkan jalan dari Poto Tano ke Bima sering rusak setiap tahunnya. Dengan struktur tanah yang tak stabil, anggaran yang terbatas untuk membuat lapisan yang tebal, jalan-jalan di Alas, Utan setiap tahun diperbaiki, dan setiap tahun juga rusak kembali. Terlepas dari itu, barangkali jalan-jalan adalah proyek abadi Kementerian Pekerjaan Umum. Atas nama penyerapan anggaran, terkutuklah mereka yang memakan anggaran demi perutnya sendiri.

Aku memikirkan Jaran Susang kembali ketika Randal dengan tergesa berkata, “Kita harus cepat pergi dari sini, Pring.” Begitu aku sudah bersedia di boncengan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Mayat-mayat katak itu ditinggalkan begitu saja tanpa satu pun yang sempat kami kuburkan. Aku merasa berdosa melihat mayat-mayat itu terlantar dan membayangkan bila saja ada ratusan mayat manusia yang terlantar, tak dipedulikan, tak dicatat sejarah seperti itu. Serta merta aku bergidik sebelum kudengar Randal mengatakan sesuatu. Perkataan itu yang membuat bulu romaku tegak seperti kemaluan. “Aku yakin sekali katak-katak itu dibunuh, bukan bunuh diri. Pernah ada cerita di sekitar Labangka…”

Ya, pernah ada cerita di sekitar Labangka. Puluhan ribu hektar ladang jagung yang terbentang di Labangka adalah komoditas utama pertanian di wilayah Sumbawa. “Batang-batang jagung itu tertekuk, Pring… bukan satu, tapi ribuan batang jagung.” Randal diam sejenak sebelum melanjutkan, “Malam sebelum itu terjadi, ada badai hebat. Banyak yang mengira, batang jagung itu tertekuk karena badai, tapi badai tidak mungkin membuat tekukan yang begitu rapi, sama di semua batang. Itu perbuatan seseorang, atau sesuatu….”

“Sesuatu?”

“Tadi aku melarangmu melihat Jaran Susang bukan tanpa alasan. Penduduk setempat meyakini di sana adalah kerajaan ghaib di seluruh tanah Samawa ini, Pring. Kalau sore, perhatikanlah nanti setelah kita pulang, awan-awan yang bergumul itu akan tampak seperti air terjun, awan yang ditumpahkan begitu saja dari ketinggian. Dan kalau ke atas sana, kita lemparkan batu ke sisi satunya, batu itu tidak akan terlempar. Ah, maksudku, batu itu akan seperti terhadang sesuatu. Kau pasti pahamlah maksudku. Mistis, Pring.”

Aku menyimak setiap kata Randal. Jalan aspal telah berakhir. Jalan tanah berbatu menggantikannya. Di sisi kiri dan kanan, di sejauh mata memandang, ladang jagung terbentang. Bongkol-bongkol jagung yang lebih besar dari kemaluan lelaki ada di pinggir-pinggir jalan. Penduduk Labangka baru panen jagung. Jagung-jagung itu akan dikirim ke Mataram, ke Bali, ke Surabaya. Dan lagi-lagi lewat darat. Mau dikata apa, transportasi darat masih lebih murah.

Andai saja orang Sumbawa ini membangun industri hulu. Jagung-jagung itu tidak akan cuma jadi jagung-jagung. Sama halnya juga sapi. Sapi melimpah di Sumbawa. Tapi untuk membawa sapi-sapi itu keluar Sumbawa butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Coba kalau ada industri pengolahan daging sapi, yang dikirim bukan sapi saja, bukan daging potong saja, tapi bisa kornet juga, bisa abon juga.

“Dulu di Labangka pernah dicoba peternakan sapi, Pring…” Randal membuyarkan pikiranku. “Tapi gagal,” lanjutnya. “Sapi-sapi itu, ah, mengerikan…” tambah Randal.

“Mengerikan?”

“Mereka mati. Massal. Seperti katak-katak tadi.”

“Sapi-sapi itu terlindas kendaraan?”

“Tidak, kendaraan apa yang bisa melindas sapi?”

“Lalu?”

“Tapi perut mereka berlubang. Lubang yang sama persis setiap sapinya. Empat belas centi jari-jarinya. Semua isi perutnya kosong dan tidak ada jejak darah sedikit pun.”

“Astaga! Semua sapi mati begitu?”

“Tidak semua sapi, tapi banyak sapi. Para peternak ketakutan membayangkan seseorang atau sesuatu berkeliaran melakukan itu. Mereka berhenti beternak sapi di sini dan pindah ke Utan.”

“Di Utan aman?”

“Ya, kau lihat kan sapi-sapi berkeliaran di sepanjang jalan, bahkan pada malam hari, tidak ada yang mencuri. Soalnya Fahri Hamzah sudah tidak di Utan. Haha…”

“Kamu masih bisa bercanda dalam topik begini? Huh!”

Randal Patisamba tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya baru terhenti ketika kami temui tanjakan yang cukup terjal. “Maju, Pring, rapatkan tubuhmu. Lebih rapat lagi!” pinta Randal dengan serius. Begitu triknya naik motor berdua bila harus melewati tanjakan, rapatkan tubuhmu serapat-rapatnya dengan yang di depan. Bila jalan menurun, kebalikannya, taruh pantatmu di ujung motor agar laju motor tidak bertambah. Soalnya ini matic, tidak ada rem gigi yang biasa otomatis menahan kecepatan maksimal sesuai giginya.

Aku penasaran dengan sapi-sapi yang diceritakan Randal. Mutilasi seperti itu tidak masuk akal. Kenapa harus sapi, kenapa sekarang katak, kenapa bukan kambing. Ah, menyebut kambing, aku teringat kembali dengan Nacinta. Di Lapangan Pahlawan tadi, dia bersama Ega. Mereka tampak begitu mesra meski dia bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan Ega. Semua hal dimulai dari nol. Semua kepunyaan dimulai dari tidak punya apa-apa. Menyebutku terlalu tua padahal Ega berumur sama denganku adalah penghinaan ketika dia memilih untuk menebeng di belakang Ega. “Uban-ubanmu itu tidak bisa berbohong,” canda Nacinta malam itu. Tapi candaan itu melukai harga diriku, meski memang uban-uban itu seperti amoeba, yang membelah diri dengan cepat. Asal tahu saja, uban-uban itu adalah kaffarat dosa-dosa. Satu uban telah tertutup pula satu pintu dosa. Semakin banyak uban, aku semakin pendosa dan Tuhan semakin sayang kepadaku.

“Ada makhluk-makhluk misterius di Jaran Susang itu, Pring. Beberapa kesaksian menyebutkannya,” ujar Randal melanjutkan cerita. Di sisi kanan, laut lepas di selatan Sumbawa mulai terlihat. Ombaknya menunjukkan ciri khas ombak pantai selatan yang selalu bersemangat. Biru. Aku mengabaikan ucapan Randal itu sejenak dan membayangkan perahu-perahu barangkali pernah berlabuh di pantai dengan ombak seganas itu.

 

Aku masih berpikir bawah katak-katak itu bunuh diri. Hidup setelah reformasi sudah sedemikian kejam. Katak-katak itu pasti juga merasakan betapa peliknya kesenjangan perekonomian, harga-harga yang terus melambung tinggi melampaui angka inflasi di makroekonomi, atau kehidupan percintaan yang tak selalu mulus.

Aku bergidik membayangkan aku juga akan bunuh diri dengan cara yang sama seperti katak-katak itu. Dengan sengaja aku akan berdiri di tengah jalan, menanti mobil berkecepatan tinggi menabrakku, melindasku, dan aku mati. Ya, aku mati. Barangkali kematian lebih indah ketimbang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kita sudah mau sampai,” ujar Randal. Randal membelokkan motor ke kanan di sebuah pertigaan. Jalan kerikil yang baru basah karena hujan semalam digantikan  dengan pasir. Pasir itu membuat roda motor sulit beranjak, ketidaktepatan pengendaraan akan membuat roda semakin terperosok ke kedalaman pasir itu. “Turun, Pring, turun…” pinta Randal Patisamba. Dengan segera aku meloncat dari jok dan motor itu pun dapat bergerak lebih mudah.

Dua buah pohon menarik perhatianku. Banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Randal yang mengetahui ekspresiku segera berkata, “Itu pohon kupu-kupu, Pring. Kau mau jadi kupu-kupu?”

Tak kujawab pertanyaan itu dan tak kubahas lebih jauh maksudnya. Aku mengikuti langkah Randal di jalan setapak dan betapa, pemandangan yang kusaksikan selanjutnya adalah pantai terindah yang pernah kulihat selama hidupku. Hamparan pasir putih, ombak yang menari, dan batu karang mirip-mirip di Uluwatu menjadi lanskap sempurna yang diciptakan Tuhan. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Ia memamerkan senyum bintang lima yang membuat segala kecemasanku menguap dengan segera. Nacinta. Lebih melegakan karena tidak ada laki-laki di sekitarnya.

Nacinta adalah gadis tercantik di grup Adventurous Sumbawa, tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, atau lebih ke kakaknya. Kadang-kadang beginilah nasib hati bila sudah terjebak zona pertemanan. Friend zone. Tak seperti yang pernah diucapkan Shakhrukh Khan di Kuch-kuch Hota Hai, cinta adalah persahabatan.

Ketimbang pantai itu, langkah kakiku bergerak ke arah Nacinta terlebih dahulu. Dia dan beberapa teman perempuan yang lain sedang menyiapkan makan siang buat kami. Inilah menariknya Adventurous Sumbawa. Kami akan makan sama-sama di tempat tujuan sambil menikmati alam.

Beberapa bumbu sudah disiapkan, ikan-ikan yang sudah dibersihkan, kayu bakar yang sudah dikumpulkan, tetapi mataku tertuju pada sesuatu di dalam baskom kecil. Bentuknya lunak dengan sudah dipotong kecil-kecil. Aku penasaran dan bertanya kepada Nacinta, “Yang itu apa, Nacinta?”

“Oh ini, ini daging katak. Belum pernah coba? Enak lho,” jawab Nacinta santai sambil mencelupkan tangannya ke dalam baskom, menaburinya dengan garam, dan menguleninya dengan seksama.

Sesuatu bergerak mendesak dari dalam perutku.

Aku mendadak mual.

Tuhan

Aku tidak tahu apakah cerita ini dapat menjawab keberadaan Tuhan atau tidak.

Pernah aku mencoba untuk ngeteng pulang dari Lombok ke Sumbawa. Biasanya, aku selalu naik travel. Hanya tinggal duduk manis di kursi, kemudian travel akan mengantarkan aku sampai tepat di depan gerbang kantor. Aku ingin merasakan pengalaman baru. Naik angkutan sendiri, naik kapal laut sendiri. Aku pikir itu lebih mengasikkan.

Dari Lombok Timur, sebelumnya aku sempat singgah di Pancor dulu, aku diantar oleh temanku sampai pelabuhan. Aku membayar kapal sesuai tarif dan tidak menunggu lama, ada kapal yang sudah hendak berangkat. Petugas pelabuhan mengantarkan aku sampai ke tepian dengan buru-buru karena jangkar sudah diangkat, kapal sudah mulai bergerak. Aku melompat dari tepian ke kapan yang baru berjarak kurang 1 meter dari tempat berlabuh. Tentu, melompat hanya beberapa puluh centimeter anak kecil pun bisa.

Aku pikir aku akan baik-baik saja. Aku mencari bis-bis yang menuju ke Sumbawa. Tapi semuanya penuh. Bis ke Bima pun penuh. Aku pun menyerah dan mencari mobil travel, penuh juga. Yang ada bis-bis ke Taliwang. Tentu ke Sumbawa Barat berbeda dengan ke Sumbawa Besar.

Aku mengarungi selat Alas itu selama dua jam tanpa kepastian. Sang sopir bis bilang, biasanya di pelabuhan Poto Tano akan ada bis. Sesampainya di Poto Tano, sudah tidak ada bis. Aku menunggu kapal-kapal berlabuh, menunggu mobil-mobil turun, tetapi tak ada angkutan ke Sumbawa Besar. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih. Penjaga warung bilangnya bis ke Sumbawa akan ada nanti malam sekitar jam 9. Itu satu-satunya.

Masih ada jarak sekitar 100 km dari Tano ke Sumbawa Besar. Dan aku benci malam.

Penjaga warung menyarankan aku ke Alas. Naik ojek. Katanya di sana ada bis sore. Aku pun segera naik ojek dari pelabuhan. Membayar 20.000 untuk belasan kilometer tidak rugi kupikir. Di jalan aku bergumam di dalam hati, “JIKA TUHAN ADA, BAGAIMANA PUN CARANYA, AKU AKAN SAMPAI KE SUMBAWA BESAR.”

Tuhan nyaris tidak ada ketika sesampainya di Alas, dikatakan bahwa bis terakhir sudah berangkat setengah jam yang lalu. Aku berusaha tidak panik dan tetap tenang. Tukang ojek yang mengantarku tidak memberi solusi apa-apa. Dia pamit dengan segera.

Dalam keadaan bingsal, bingung dan kesal, seseorang menyapaku. “Maaf Mas, mau ke Sumbawa?”

Aku masih dalam keadaan waspada dan berkata, “Iya…”

Dia kemudian bilang, “Ikut kami saja. Tapi sebentar, mobilnya sedang diperbaiki.” Dia menunjuk sebuah mobil angkutan tua berwarna kuning tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengenali itu sebagai angkutan dalam kota Sumbawa. Beberapa orang sedang berada di bawah mesin, mengutak-atik sesuatu.

“Ini tadi dapat carteran ke rumah sakit. Pulangnya kosong. Tapi ngadat. Kalau mau ikut, tunggu sebentar ya.”

Aku mengangguk mengiyakan. Lima belas menitan aku menunggu. Mobil itu akhirnya selesai dibenahi. Klaharnya pecah. Ya mobil itu masih semi rusak. Meski bisa berjalan, dengan bunyi klotak-klotak, ia hanya bisa berjalan pelan. Aku pun dengan sabar menikmati pemandangan malam tepi laut sepanjang jalan. Dan menatap bulan yang bersinar terang. Sekitar lima jam baru aku sampai di Sumbawa.

Hari itu aku meyakini, Tuhan benar-benar ada.

Jam Makan Siang

 

Cerita ini milik seorang teman dari temanku.

Ada seorang tokoh fiksi yang dekat dengan penulisnya bercerita bahwa ia ingin segala sesuatu sudah siap di meja makan pada jam makan siang. Bagaimanapun caranya, walau 1 jam lagi dunia kiamat, orang-orang ribut di luar mencari cara menyelematkan diri, atau satu per satu masyarakat melakukan bunuh diri ketimbang melihat ada sebuah meteor besar menyentuh permukaan bumi, menimbulkan ledakan berjuta kali lipat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dan yang selamat dari ledakan itu tinggal menunggu maut dan kepunahan seperti dinosaurus di masa lampau, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dan tidak boleh dilakukan oleh lelaki. Itulah alasan Tuhan mencabut satu tulang rusuk dari dada lelaki kemudian menciptakan perempuan.

Aku tidak pernah mendengar cerita seaneh itu sejak sebuah cerita lain mengatakan ada lelaki tua yang bisa bicara dengan kucing. Setiap kali lelaki itu membuka payung, hujan akan turun. Bukan hanya titik-titik air yang turun, kadang-kadang juga ikan sarden dan bahkan lintah.

Teman dari temanku itu—aku tidak tahu apakah dia seorang penulis, tapi keputusannya untuk menceritakan hal itu kepada temanku menunjukkan cerita ini adalah sesuatu yang penting. “Apa kau sependapat dengan temanku yang bilang kalau yah, para perempuan seharusnya pandai memasak?” tanya temanku itu sambil masih memegang ponselnya. Ia tidak menatapku sama sekali dalam pertanyaan itu. Aku merasa sedikit tersinggung dan tidak segera menjawab dan sengaja mengetukkan jari-jariku di meja kaca, mencoba menyusun nada yang asal-asalan agar ia mengerti ponsel sialan itu tidak bisa menggantikan pertemuan macam apapun.

“Apakah tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak?” Kali ini ia menegakkan kepalanya, lurus, menatap mataku dan aku merasa benar, dalam tatapan mata kita bisa melihat banyak hal. Terlepas ia menggunakan kontak lensa, yang berwarna cokelat, bulat, dan lama-lama terlihat mengerikan, aku banyak melihat keputusasaan dari dalam matanya itu.

Aku merasa teman dari temanku itu bukan sekadar teman biasa. Aku diam-diam memberanikan diri untuk bertanya hal lain, bukan menjawab pertanyaannya untuk menjawab rasa penasaranku. “Kau mencintai temanmu itu?”

Ada bunyi gemuruh di langit menembus dinding kaca tempat kami duduk sekarang ini. Aku mengalihkan pandangaku sebentar ke luar. Awan hitam bernaung di sana. Klakson-klakson menjerit hampir bersamaan ketika ada seorang lelaki yang menyeberang begitu saja, berlari, menutupi kepalanya dengan tasnya, tidak di tempat penyeberangan yang seharusnya.

Aku kembali menatap temanku itu lagi. Dia belum selesai menyiapkan jawabannya. Aku tidak tahu kenapa harus selama itu menyiapkan sebuah jawaban yang hanya terdiri dari satu kata. Aku agak  curiga, jangan-jangan temanku juga punya bakat menjadi seorang penulis. Penulis yang baik tentu penulis yang pandai bertele-tele.

“Apa kau tertarik dengan kehidupan pribadiku?” Tuh kan. Dia mengelak-tidak mengelak. Dia mengambil gelas kopinya yang masih mengepulkan asap panas. Asap itu punya aroma khusus yang membuatku mual. Meski berbeda sebab, mual tetaplah mual. Mual karena berada di bis tak ber-ac yang sumpek dijejali penumpang adalah mual yang sama dengan aroma asap kopi.

“Aku tidak tertarik dengan kehidupanmu. Tetapi bagaimana bila kubilang, aku tertarik dengan pribadimu?”

Aku pikir pertanyaanku dapat membuatnya sedikit terkejut atau gelagapan, salah tingkah. Tapi dengan tenang ia menjawab, “Aku sudah biasa menerima rayuan.”

Menatap gelas kopinya, aku teringat gelas air putihku yang hangat. Ia tidak memesan apapun untuk pertemuan makan siang pertama kami. Aku memesan kwetiau dan banana split dan mengingat-ingat bentuk sebuah pisang adakalanya mirip dengan sebuah senyuman. Monyet-monyet menyukai pisang karena mengira itu buah yang ramah. Tapi bukan berarti aku mengamini Charles Darwin atau bukan juga dengan membantah Darwin berarti aku setuju dengan Landmark. Aku hanya menyukai pisang, apalagi jika disertai dengan es krim.

“Tentang tokoh fiksi itu…” aku mengembalikan arah pembicaraan pada topik mula-mula. “Dia lelaki yang bagaimana?”

“Nah, itu, aku juga tidak tahu persisnya, menurutku dia seorang yang egois…”

“Egois?”

“Iya betul. Temanku bilang, kadang-kadang dia merasa tokoh fiksinya itu tidak mau diberi karakter yang sesuai dengan isi kepala temanku. Dia suka berontak. Termasuk dalam cerita ini. Bayangkan, dia ingin perempuan tunduk di bawah kaki para lelaki.”

“Jadi dia seorang maskulin sejati atau antifeminisme begitu?”

“Tidak tahu juga, ya… dia tidak melarang istrinya bekerja asalkan setiap jam makan, terutama makan siang, meja makan harus sudah tersiapkan segala sesuatunya. Semua makanan yang dia suka harus ada di sana. Itu menggelikan, bukan?”

“Memangnya apa makanan kesukaannya?”

“Apa ya? Umm… sebentar aku ingat-ingat dulu.”

Lalu temanku itu tampak berpikir serius. Dia mengernyitkan alisnya, menaikkan bola matanya satu bergantian. Aku pun membayangkan bola lampu di sisi atas kepalanya. Aku tidak peduli benar apakah bola lampu itu ditemukan Thomas Alfa Edison atau sebenarnya ia mencurinya dari Tesla. Hanya aku merasa penasaran siapa orang pertama yang memetaforakan ingatan, ide, solusi, dengan bola lampu. Di situ kadang aku merasa geli sendiri jika setiap bola lampu butuh listrik untuk menyala, dan setiap aliran listrik harus dibayar setiap bulannya, dan setiap tahun kenaikan tarif dasar listrik bisa terjadi, berapa banyak uang yang harus dibayar untuk memasang bola lampu imajiner itu di atas kepala manusia. Barangkali juga karena sadar hal itu, bola lampu itu tidak sering-sering menyala sebagai upaya penghematan. Namun sehemat-hematnya, setidak begitu seringnya bola lampu itu menyala, abodemennya juga tetap harus dibayar.

“Ah iya, sayur bayam. Dia suka sayur bayam!” teriak temanku kencang-kencang. Semua pelanggan kafe yang lain menoleh ke arah kami.

“Hush, jangan ndeso kamu. Pelan-pelan saja ngomongnya.”

“Ya tapi ini kan ekspresiku. Ini barangkali persis seperti ketika Newton kejatuhan apel dan menemukan hukum gravitasi. Senang. Ketemu. Kau sih tak pernah mengalami hal-hal semenarik menemukan ingatan.”

Aku tidak bermaksud mengganggu kesumringahan temanku itu tatkala kukatakan padanya bahwa Newton dan apel itu cuma mitos. Kenyataannya, butuh sekitar 20 tahun bagi Newton untuk merumuskan Hukum Gravitasi.

“Kamu pernah dengar teori 10.000 jam?” tanyaku untuk membuatnya tak bersungut-sungut lagi. “Begini, untuk mahir dalam sesuatu, seseorang harus berlatih minimal 10.000 jam dalam 10 tahun. Di bidang apa saja. Aku pikir jika seseorang sudah berlatih berpikir dalam 10.000 jam, selanjutnya orang itu tak akan kesulitan lagi untuk berpikir.”

“Kau menyinggungku?” tanyanya masih dengan nada yang marah.

“Tidak, bukan begitu. Walau ada iyanya juga sih. Kalau kita terbiasa mengingat sesuatu, sudah 10.000 jam mengingat-ingat sesuatu, selanjutnya, kita tak perlu mengingat-ingat untuk mengingat sesuatu itu. Kalau temanmu sudah menulis 10.000 jam, aku yakin juga, ia tidak perlu khawatir tokoh fiksinya berontak kepadanya. Dan kalau istri tokoh fiksi itu sudah berlatih 10.000 jam untuk bisa memasak, maka ia akan bisa memasak dan mampu menyiapkan meja makan dan seluruh isinya dengan cepat.” Aku cukup puas menciptakan kesimpulan ini.

“Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku. Kau ini bodoh, ya?”

Aku tidak percaya pada responnya. Padahal aku sudah berusaha terlihat pintar dengan mengatakan teori-teori itu.

“Pertanyaanku adalah, apakah setiap perempuan harus pandai memasak dan apakah setiap tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak? Aku sengaja membedakan keduanya, perempuan dan tokoh fiksi perempuan karena aku pikir ya, mungkin, keduanya punya realitas yang berbeda… meski aku tidak tahu juga apa fiksi pantas disebut realitas.”

“Itu hal yang menarik, aku juga bertanya-tanya, apakah tokoh fiksi mampu membedakan realitas dan bukan realitas?”

“Kau ini… tolong jawab saja pertanyaanku tadi. Sebentar lagi jam makan siang ini akan berakhir dan aku harus kembali ke kantorku.”

“Jika aku menjawab pertanyaanmu, apakah kita masih akan bertemu lagi? Aku tidak tahu kenapa, aku punya perasaan, jika aku menjawabnya, apapun jawabanku, kamu tidak akan mau menemui aku lagi.”

Pesananku itu, kwetiau dan banana split, juga belum datang. Ketika melihat daftar menu, pada saat kami baru bertemu, ia menertawakanku karena memesan masakan yang menurutnya masakan Cina di restoran Padang. Tapi itu bukan salahku karena bukan aku yang mencantumkan kwetiau sebagai salah satu menu.

Yang terpenting dari manusia adalah waktu, tapi sudah setengah jam lebih kuhamburkan waktu untuk pertanyaannya. Aku yakin pertanyaan dan jawaban itu tidak penting bagiku karena keduanya bisa dihilangkan dari seratus juta lebih daftar alasan kenapa aku harus bertemu dengannya.

“Sepertinya aku kenal dengan temanmu itu…” kataku lagi. “Dia pasti seseorang yang gendut dan kurang ajar. Dia selalu berpikir setiap cerita harus memiliki akhir yang bahagia, bagaimanapun peliknya alur yang dia ciptakan.”

Temanku itu tampak keheran-heranan mendengar kalimatku barusan. Dia yang baru saja menghabiskan isi gelas kopinya, merapikan jaket yang dikenakannya, dan memasang topi di kepalanya—topi bertuliskan Ketika Fiksi Tak Cukup Lagi—kembali menatapku lekat.

“Apa maksud kalimatmu itu?” Nadanya agak memaksa.

“Kamu tahu Popeye? Aku menontonnya waktu kecil. Jadi aku suka bayam. Itu kebenaran, tapi temanmu berbohong tentang satu hal atau justru dia tidak bisa membaca perasaan tokoh fiksinya sendiri. Semua yang disangkakannya itu keliru. Aku tidak pernah menuntut seperti itu.” Aku menghentikan kalimatku dan kuingat istriku di rumah yang sedang menangis karena aku. Sungguh sial, perutku yang kelaparan belum juga terisi siang ini. Aku tidak tahu apakah temanku itu mengerti yang kubicarakan atau tidak. Ketika dia masih tampak mencerna kalimat-kalimatku, aku berdiri, dan memegarkan payung yang kubawa dari rumah. “Seharusnya jika aku penulisnya, aku akan segera menurunkan hujan dengan sangat deras. Itu akan tampak menggetirkan. Setidaknya itu dapat menutupi betapa menggetirkannya seorang tokoh fiksi yang tidak mampu membedakan realitas dan bukan realitas….”

 

 

Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Syarat Umum:

  1. Peserta adalah WNI.
  2. Tema: “Kekayaan Bangsa Indonesia dalam Kehidupan Berbudaya.”
  3. Konten cerpen tidak boleh memicu SARA atau yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.
  4. Sesuai dengan tema, konten membicarakan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang mana kekayaan itu sangat memberi pengaruh terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan budaya suatu tempat atau lokal.
  5. Cerita pendek harus memiliki/mengandung Kisah.
  6. Naskah harus karya asli secara keseluruhan, dan bukan terjemahan atau saduran.
  7. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik ataupun online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  8. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaiknya.
  9. Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara, dengan hak cipta tetap pada penulis.
  10. Hak untuk mempublikasikan naskah peserta dan para pemenang menjadi sepenuhnya milik penyelenggara lomba, dan tidak diperkenankan mempublikasikannya di media lain, terkecuali bila penulis yang bersangkutan ingin membukukannya dalam antologi atau karya tunggalnya sendiri.
  11. Hak penerbitan dalam bentuk buku sepenuhnya ada di tangan penulis.
  12. Setiap naskah yang dikirim akan ditampilkan di marwanmansyur.org
  13. Naskah yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan ditampilkan di marwanmansyur.org dan tidak akan disertakan dalam proses penjurian .
  14. Penyelenggara lomba berhak mengganti judul dan menyunting, tanpa mengubah isi.
  15. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
  16. Dewan juri akan mempertanggungjawabkan secara tekstual atas alasan mengapa naskah menjadi pemenang. Dan akan dipublikasikan di bawah bersama naskah pemenang di media yang sama.
  17. Lomba dibuka tanggal 1 Maret 2015 dan akan ditutup pada tanggal 1 April
  18. Pengumuman pemenang berikut publikasinya dapat dilihat di marwanmansyur.org pada tanggal 30 April 2015.
  19. Pajak ditanggung Panitia.

Continue reading Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Kumpulan Cerpen Kompas 2014

e-book_kumpulan-cerpen-kompas-2014

Inilah cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas sepanjang 2014. Bagi yang ingin mengirimkan karyanya, Isilakan dikirimkan ke opini@kompas.co.id

Terima kasih kepada Ilham Q. Moedding yang telah tulus mendokumentasikan semua cerpen ini.