Category Archives: cerpen

Download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II

Hei, berikut ini adalah Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II. Kamu bisa download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester I di sini.

Silakan download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II.  Passwordnya catatanpringadi.com. Biar kalian ingat sama blog ini.



Kumpulan Cerpen Kompas tahun ini melahirkan juara bersama yaitu Faisal Oddang dan Martin Aleida. Berikut adalah cerpen Martin Aleida tersebut.


Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 21 Oktober 2018)

Dia duduk mencangkung di pelataran kamp itu. Bersama puluhan tahanan lain. Menunggu pembebasan. Bersandal jepit. Angin dan terik matahari menyentakkan debu ke mukanya. Dia tak peduli. Di antara pahanya, terapit buntalan sarung pelekat yang luntur dibasuh waktu. Di dalamnya ada sehelai baju tetoron biru lengan pendek, kenang-kenangan dari kawan yang dibuang entah ke penjara mana, beberapa tahun lalu. Juga sepotong celana pendek hitam yang ditemukannya hanyut, dan dijangkaunya dari arus ketika kerja paksa di Sungai Silau.

Itulah harta yang dia punya setelah tiga belas tahun ditendang dari kurungan yang satu ke bui yang lain. Kalau tamsilnya lubang jarum, lubang yang dia lalui sepanjang hidupnya adalah lubang jarum berduri. Berapi.

Setelah disekap sehari-semalam, dia, dan beberapa orang, dijajarkan di tubir Sungai Ular, tiga belas tahun lalu. Kedua tangan mereka disilangkan di belakang, diikat pelepah pisang. Dibentak supaya menghadap ke sungai. Disusul dentuman mesiu yang menghambur, menerjang sampai jauh. Menerabas pohon-pohon karet yang jadi saksi, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Peluru mendesing panas di kupingnya. Jantungnya gemuruh, tetapi dia tak terluka.

Sekelebat sempat dia dengar degup dan desis peluru menghantam kepala kawan di sebelah. Dari sarang otak itu, darah memercik ke bahunya, dan tubuh itu tumbang menimpa bahunya. Dia biarkan tubuh itu menindih. Berdua mereka tercebur, dilarikan air yang memerah. Yang satu sempat menggelepar memusar air, saat ajal menjemput, kemudian dibalun arus entah ke mana. Sementara dia menenggelamkan diri, menyerah pada air hendak dibawa ke mana saja. Sesekali, dia mengapungkan hidung untuk menyambung nyawa. Dia digiring air, dan mendamparkannya di mulut muara.

Seminggu, dia hanya makan buah dan dedaunan. Menenggak air sungai. Suntuk akal dan pikirannya. Dia putuskan berjalan kaki menyusuri tepi sungai menuju kampung kelahirannya. Kedua orangtuanya, seluruh sanak-saudara, menyambutnya sebagai orang yang sudah mati, hidup kembali. Pada saat yang sama, dia juga dianggap sebagai hama yang harus segera dihalau karena hanya akan memancing bencana. Tak lama kemudian, keajaiban itu benar-benar berubah dan menjaiar jadi berita buruk. Sepasukan tentara dan tukang jagal mencium keberadaannya. Dia diburu. Dibekuk untuk kedua kalinya. Layaknya tikus yang tertangkap basah, dia dilemparkan ke sel di markas Angkatan Darat. Dioper ke penjara kabupaten, dan akhirnya disekap di kamp di Jalan Gandhi. Ya, Gandhi…. Bagaimana mungkin sebuah nama penyebar anti-kekerasan, di kota ini, telah berubah menjadi pusat pembungkaman kalau bukan pembinasaan manusia….

Selama belasan tahun, ratusan, kalau bukan ribuan manusia, disekap di situ. Sedikit yang bebas. Kebanyakan dipindahkan ke kamp-kamp yang lebih kecil atau penjara di kota lain. Ada pula yang dibuang ke Jawa, ke Nusakambangan, sebelum dicampakkan ke Pulau Bum. Banyak yang menemukan ajal karena kelaparan dan penyakit. Makanan begitu jauh. Cuma kematian yang begitu akrab di sini. Kematian yang disengaja oleh yang berkuasa ataupun tidak.



Komandan kamp membacakan nama-nama tahanan yang dibebaskan menjelang siang hari itu. “Ulong Bahari!” Nama lelaki ajaib itu setengali diteriakkan dari daftar dengan entakan. Yang punya nama bangkit. Melangkah tanpa melihat kiri kanan. “Seminggu sekali kau wajib lapor ke sini! Paham kau ..!?” tentara itu menghardik lagi.

Bahari mendekat pada yang punya suara, yang punya kuasa atas dirinya, menerima secarik kertas, dan memisahkan diri dari kawan-kawan pesakitan lain yang tetap duduk mencangkung di tanah yang berdebu. Dari tangan tentara itu, dia menerima surat pembebasan yang huruf-hurufnya bisa membuat kepala manusia normal jadi batu. Tak ditulis sejak kapan dia ditahan. Cuma disebutkan dia tidak terlibat G30S. Tiga belas tahun dikurung, baru hari ini dia dinyatakan tidak bersalah. Darahnya tersirap menatap kertas itu. Akan tetapi, dia pikir tiga belas tahun disekap sudah terlalu lama untuk mempermasalahkan ketidakadilan yang bodoh ini. Yang dihadapi adalah kecerobohan, kesewenang-wenangan, dengan ujung senjata sebagai pembenaran. Terlalu mahal sebuah kebebasan yang baru saja diberikan dengan bentakan untuk dipersoalkan.

Dia tinggalkan pekarangan kamp jahanam itu. Perasaannya campur aduk antara nikmat kebebasan dan kewajiban akan sumpah setia yang harus dituntaskan. Sejak masih meringkuk di dalam kamp, dia sudah bertekad: suatu ketika, setelah bebas, dengan jalan bagaimanapun, dia harus berangkat ke ujung Sumatera. Naik bus “Sibualbuali”, kalau angkutan orang Batak itu memang masih ada, menuju Padang Sidempuan. Berganti bus ke Bukittinggi. Tegak lurus ke selatan, menuju Lahat, Bandar Lampung, dan mendarat di Tanjung Karang. Di kota terakhir ini, dia harus menemui seorang sersan mayor. Dengan hati yang memendam cinta sekeras karang, dia akan meminta surat pernyataan dari tentara itu, yang menegaskan bahwa “yang bertanda tangan di bawah ini tidak keberatan” jika dia, Ulong Bahari, menikah dengan tahanan perempuan yang jadi istri gelapnya, dulu.

Sebagai tentara yang pekerjaannya hanyalah menista mereka yang lemah, maka dengan surat itu dapat ditafsirkan dia telah berpahala memberikan kebebasan kepada seorang perempuan untuk memilih jalan hidup. Begitulah jalan pikirannya sehingga dengan enteng dia menuliskan surat itu. Lagi pula, dengan begitu, dia akan terbebas dari kewajiban memberi nafkah. Keharusan yang tidak dia pedulikan lagi, yang mungkin juga sengaja dia lakukan, untuk menyiksa perempuan itu selama bertahun-tahun. Perempuan yang dia tendang setelah memuaskan birahi terkutuk pada tubuh yang dilumpuhkan. Namun, seperti kepercayaan orang baik-baik, Tuhan tak pernah terlena, kecuali mengulur waktu untuk memberikan kemenangan bagi korban. Seperti sekarang ini. Pada seorang perempuan beranak satu pula.

Perempuan itu jauh panggang dari api untuk sudi diperistri secara gelap-gelapan oleh sang sersan mayor yang menjadi komandan kamp Gandhi. Namun, apa mau dikata, dia harus berdamai dan menyerah pada keteguhan hatinya untuk menyelamatkan diri dan putrinya, yang berusia dua bulan, yang ikut dijebloskan ke dalam kamp. Dia dan anaknya ditempatkan di kamar yang dulunya adalah dapur. Berimpitan dengan tahanan perempuan lain.

Halawiyali namanya. Sibarani marganya. Menjelang akhir 1964, setelah menikah, suaminya memperoleh kesempatan belajar metalurgi di Moskwa. Menurut rencana, setelah menetap mantap di sana, dia akan balik menjemput istri yang ditinggal selagi hamil muda.

Malang tak pernah dicari. Akan tetapi, datang sesukanya. Bencana politik mengubah segala. Insinyur metalurgi itu tak bisa kembali ke Tanah Air. Sementara istri yang ditinggalkan menemukan nasib yang kesengsaraannya tak terjangkau imajinasi manusia biasa. Ayahnya ditangkap, rumahnya yang bertanda gambar palu-arit diserbu massa, dibakar, jadi abu, luluh dengan tanah. Halawiyah diarak, diteriaki sebagai perempuan jalang, punya anak gampang. Makian paling rendah untuk seorang perempuan baik-baik.

Dia dan anaknya yang masih merah melarikan diri ke kota kecil, sekitar seratus kilometer jauhnya. Pada hari-hari penuh kegelapan dan peradaban negeri ini berada pada titik nol, di mana nyawa dengan mudah melayang karena tuduhan komunis, keluarga yang ketempatan menolak untuk menampungnya lebih lama. Apa kata orang, jadi tuan rumah untuk perempuan jalang kodah, kata orang Melayu. Rumah keluarga itu juga sempat dilempari massa yang menelan hasutan bahwa komunis dan perempuan yang punya anak haram harus dibinasakan.

Halawiyah kembali lagi ke kota besar di mana dia lahir. Tanpa tujuan. Tak sesiapa pun yang ingin menerimanya. Suatu hari, dia diringkus di tepi jalan bersama sejumlah gelandangan. Ketika diperiksa, dia dikepung, diberondong berbagai pertanyaan, dan akhirnya nasibnya kandas di kamp Gandhi walaupun dia bukan apa-apa, apalagi bayi yang digendongnya.

Semasa masih belia, sedang ranum-ranumnya, kalau melintas, Halawiyah adalah bunga bakung yang putih cerlang-cemerlang. Di kalangan aktivis muda, kecantikannya jadi mimpi. Semua ingin mendekat, merebut hatinya. Mungkin ratusan angan-angan yang melayang-layang ingin menerbangkannya. Namun, hanya pemuda yang kemudian jadi insinyur metalurgi di Moskwa itu yang berhasil menawan hatinya.

Digiring, didesakkan berimpit-impitan ke dalam kamp konsentrasi Gandhi, sekilas dia melihat Ulong Bahari yang menempati salah satu sel khusus untuk lelaki. Ulong adalah seniman peniup bangsi yang kemahirannya melantunkan seruling menjadi cita-cita semua remaja walau gagal memukau hati Halawiyah.

Seisi kamp tahu belaka, pada hari-hari tertentu, perempuan kita ini dibawa dengan mengendarai Jeep oleh sersan mayor, komandan kamp itu. Halawiyah dengan sadar mengikutkan nafsu birahi tentara itu. Sebab, dia sadar kejahatan yang memanfaatkan ketakutan seseorang perempuan seperti dia merupakan bagian dari taktik militer untuk merendahkan derajat korban serendah-rendahnya. “Aku, anakku, harus hidup…!” teriaknya dalam hati.

Dalam keadaan bujangan dilemparkan ke dalam kamp itu, jantung Ulong tersirap kembali melihat perempuan yang dulu mekar di hatinya, tetapi gagal dipetiknya. Sel lelaki dengan sel khusus perempuan dipisahkan sebidang tanah yang dimanfaatkan sebagai lapangan bola, tempat para tahanan bisa menghibur diri dengan bola yang dibuat dari kain rombeng. Lapangan itu memisahkan. Cuma klinik yang terletak di bagian depan kamp yang mempertemukan. Tiap Kamis, tahanan diizinkan berobat ke situ. Kasih sayang. Atau sebutkanlah cinta akan menemukan tumpuannya sendiri. Dan penyakit, yang sungguhan, ataupun yang pura-pura, membuka jalan pertemuan di klinik itu.

Ulong Bahari masih sendiri. Sementara politik dan kekejian telah memisahkan Halawiyah dari suami yang jadi insinyur metalurgi di benua jauh. Yang sudah muskil untuk dinanti. Sang suami sudah tak melihat celah untuk pulang, dan memilih kewarganegaraan tempat dia belajar, dan menikah dengan perempuan Rusia.

Anak negeri boleh tak acuh. Akan tetapi, hati nurani dunia menjerit melihat ratusan ribu yang terbunuh, puluhan ribu dibuang belasan tahun, dan banyak yang kehilangan tanah air. Dunia internasional, juga dunia maya, menekan penguasa negeri yang bebal untuk menghormati seruan hati nurani manusia. Harapan akan kebebasan pun menjaiar seperti api ke mana-mana.

Pada hari Kamis, hari kunjungan ke klinik. Ulong Bahari duduk di bangku panjang menunggu panggilan. Dia hampiri Halawiyah, dan dia tawarkan sekepal ubi rebus yang dia bawa dari selnya. “Untuk anakmu,” katanya mengedipkan mata. Sebuah kode bahwa di dalam gumpalan ubi itu terselip segulung surat.

Kembali ke dalam selnya, menyendiri di pojok. Halawiyah seperti membuka kelopak mutiara, hati-hati mengeluarkan segulung kertas kecil dari gumpalan ubi rebus itu. Dia eja di dalam hati: “Begitu hari pembebasan datang, dengan jalan bagaimanapun, Abang akan berangkat ke Tanjung Karang. Si bedebah itu sudah hampir lima tahun dipindahkan ke sana. Dengan baik-baik, aku akan meminta dia menuliskan pernyataan bahwa kau sudah tak ada ikatan apa pun dengan dia. Doakan Abang.”





Martin Aleida, lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, akan merayakan hari lahir yang ke-75, Desember 2018. Lebih dari 50 tahun menghabiskan usianya sebagai mahasiswa, wartawan, dan penulis di Jakarta. Cerpennya, “Tanah Air”, dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2016. Ia juga pernah memperoleh penghargaan Kesetiaan Berkarya dari Harian Kompas.

Cerpen | Hitam Putih Merpati

Cerpen HITAM PUTIH MERPATI ini kutulis sudah lama sekali. Kalau tidak salah sekitar tahun 2008. Cerpen ini pernah dimuat di dua koran yang berbeda karena kesalahpahaman, di Sumut Pos dan Suara Pembaruan. Cerpen ini kemudian masuk dalam antologi Seribu Tahun Mencintaimu (Ecxchange, 2017).



Berikut adalah naskah awalnya (sebelum diedit): Continue reading Cerpen | Hitam Putih Merpati

Dunia Museum

Cerita ini dimuat dalam buku “Kisah yang Hilang” (Dongeng Museum Nusantara) yang digarap oleh Kelompok Pencinta Museum yang digawangi Dwi Klik Santosa.

Tak ada tengkorak dinosaurus, yang bila dibayangkan akan lebih besar dari pengangkut pasir dan bila malam tiba akan bergerak-gerak seperti adegan Night of The Museum. Setidaknya begitulah yang kurasakan tatkala tiba di Balaputera Dewa, naik angkutan pedesaan berwarna hijau yang disewa dari iuran kas mingguan—Rp500/minggu.

Angga turun lebih dulu, seperti biasa, dengan antusiasmenya yang berlebihan mengatakan akan berfoto di antara patung-patung. Nyimas beda lagi—aku kadang benci sama anak serius satu itu, apa dia tidak punya keinginan untuk bersenang-senang, bayangkan saja ada anak kecil, perempuan, berkaca mata, datang ke museum sudah bersiap memegang pena dan sebuah buku, sambil bercita-cita akan mencatat semua hal yang ada di dalamnya!

Aku tidak tertarik pada sejarah Sriwijaya yang entah di mana hilangnya, pada jenis-jenis batuan, sejarah-sejarah yang terpampang tak berbentuk, kalau Bu Irianti tidak mengatakan, “Anak-anak, bakda tur kita ke museum ini, hal-hal yang ada di sini akan banyak muncul di ulangan IPS kita.”

~

Aku mengingat kenangan masa kecil itu sambil tersenyum geli. Orang-orang malah melirikku, dengan tatapan yang sama menggelikannya karena mungkin mengira aku agak tak beres. Itulah kali pertama aku ke museum, dan bakda itu aku merasa tak tertalik untuk kembali ke sana. Banyak patung yang kepalanya sudah tak ada, bulus-bulus langka mati, dan WC-nya, duh, bau pesing!

“Pring, kita bertemunya di Museum Geologi saja, ya? Abang tak bisa ke Gedung Sate. Macet. Ada acara apa tuh di Gasibu?” Benny Arnas mengirim SMS, dan ketika kutelepon, tak diangkat-angkatnya juga.

Awas saja nanti kalau bertemu, aku tabok mukanya jadi ganteng.
Pasalnya, sudah nyaris satu jam aku menunggu, dikepung hujan dan dia tak beri aku kabar selama itu pula. Pasal kedua, aku tak pernah ke Museum Geologi. Hampir dua tahun aku hidup di Bandung saat masih berkuliah di sini, sebelum keluar dan hijrah ke Bintaro, aku tak sekali pun datang ke Museum yang paling terkenal itu. Tak ada hasrat. Tak ada minat. Sesekali aku lewat, dan rasanya museum satu itu tak begitu jauh dari Gedung Sate. Meski kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan, aku tak bertanya pada kerumunan orang-orang itu. Gengsi tahu!

Dengan bermodalkan insting, aku berjalan sambil menghindari genangan air, dan berkelit dari titik-titik hujan yang makin rapat—tak ada pohon-pohon lagi yang membuatku bernanung di bawahnya. Mengingat pepohonan yang tinggi menjulang, aku teringat pula pada kawanan burung koak di jalan Ganesha itu.

Banyak yang basah di tubuhku, kecuali kepala karena pesan ibu, bila hujan sederas apapun jangan biarkan kepala basah, karena akan mudah masuk angin. Tapi celanaku telah basah, sepatuku basah, airnya merembes ke dalam, menyentuh kaki, dan bila tak segera diganti aku akan masuk angin jugaBegitu aku sampai, aku ragu-ragu apakah masuk museum ini aku harus membayar seperti di Museum Fatahalillah, Jakarta. Ternyata gratis. Keren. Tapi aku jadi berpikir, biasanya yang gratis-gratis, isinya seadanya, perawatannya asal-asalan.

Membedah jenis museum berdasarkan koleksinya, museum dapat dibedakan menjadi dua, yakni museum umum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu.

Balaputera Dewa, menurutku, tergolong museum umum ini—tapi membatasi dirinya pada lingkungan Sumatera Selatan. Dan yang kedua, museum khusus, adalah museum yang mengumpulkan bukti material hanya dari satu cabang seni atau disiplin ilmu saja. Seperti museum geologi ini. Atau museum layang-layang dan museum perangko—aku sendiri belum pernah mengunjunginya.

Sebuah panggilan masuk, tapi bukan nomor Bang Benny. “Di mana kamu?” Suara lantang itu jelas Bang Benny. “Aku sudah di dalam museum, lagi foto-foto. Ai, hape aku tu la abes baterai, men diangkat tewas dio.” Bang Benny menambahkan dengan logat Sumselnya yang khas.
“Aku baru di bawah. Bingung. Galau,” jawabku.
“Galau kenapa? Belum pernah lihat museum? Dusun!”
“Memangnya di Linggau ada museum?”
“Tak.”
“Ai dusun!” aku tak mau kalah.
“Cepatlah naik ke lantai 2, cari abang yang paling ganteng ini.” Setelah dia bilang begitu, ponselnya langsung dimatikan.
Aku terawang lantai 1, sengaja tak langsung menemui Bang Benny di lantai 2. Ada tiga ruang utama, ruang orientasi yang berisi peta geografi Indonesia dalam bentu relief, layar lebar yang menayangkan kegiatan museum dan geologi dalam bentuk animasi, dan bilik informasi; ruang sayap barat lebih menarik lagi—mulai dari hipotesis terjadinya bumi dalam tata surya, tatanan tektonik regional geologi Indonesia, serta banyak terdapat fosil sejarah manusia.


Aku menatap lekat bagan evolusi manusia menurut Teori Darwin itu. Berpikir keras, apa mungkin nenek moyang manusia adalah kera? Sebelum kudapatkan jawabnya, seseorang menepukku dari belakang, “Hei kau, lama nian abang menunggu di atas. Untung badanmu besar begini, jadi mudah dibedakan.” Ternyata Bang Benny datang bersama kedua orang temannya. Keduanya pula tak kukenali.
“Kau mendukung teori Darwin, Pring?” tanyanya.
“Tidak. Tetapi juga tak bisa kutolak, karena evolusi sudah terbukti benar-benar terjadi. Aku hanya tidak percaya kalau manusia dari kera.”
“Adam dan Hawa.”
“Berdasarkan perhitungan dari kitab suci, mereka muncul puluhan ribu tahun lalu. Sementara manusia purba bahkan ratusan ribu tahun yang lalu sudah ada.”
“Aku tak mau membahas ini Pring, dari mana kita yakin bahwa informasi sains yang kita dapatkan adalah benar valid adanya, jika tidak bersifat empiris? Baiknya kau kenalan dulu sama dua orang sahabatku ini.”

Aku tidak begitu memperhatikan kedua orang itu. Kami lanjut berjalan-jalan ke sayap timur—ruangan yang menggambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Beberapa miliar tahun sesudahnya, berkembanglah beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, reptilia bertulang belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu), dan Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton.

Aku berdecak kagum. Seharusnya kuajak Angga dan Nyimas kemari, seharusnya museum Balaputera Dewa itu belajar dari Museum Geologi ini—dalam hal menyajikan benda-bendanya. Aku masih tak lupakan bau pesing yang menyeruak dari area kamar mandi, kolam-kolam yang kotor dan sampah yang dibuang sembarangan. Berbeda sekali dengan di sini, yang bila hiperbola, debu sejentik pun tak ada. Dengan keadaan yang begini, museum tak diasingkan. Museum akan menjadi objek geowisata yang menarik. Orang-orang bahkan bisa menjadikan museum sebagai tempat kajian awal dengan banyaknya kumpulan peraga yang tersedia.

Dongeng Museum Nusantara
“Kau tahu, Pring, dinosaurus ini akan bergerak kalau tengah malam!”
“Haha, kau kebanyakan nonton film, Bang.”
“Aku serius. Kalau tak percaya, malam ini menginaplah di museum ini,” kilahnya meyakinkan.
“Memangnya aku anak kemarin sore yang bisa ditipu-tipu?”
“Hahaha, suatu saat kita juga akan jadi fosil, Pring.”
“Yang akan dimuseumkan?”
“Kenanganlah yang akan dimuseumkan bagi yang menghargainya,” jawab bang Ben dengan bijak. Kali ini kalimatnya penuh permenungan.

~

Hujan melambat, berhenti. Aku tak sempat naik ke lantai 2 dan menghabiskan waktu yang sedikit untuk berfoto ria sebelum melanjutkan perjalanan ke Gedung Indonesia Merdeka. Saat kami sedang asik berfoto itu, sejenak aku rasakan rangka T-Rex itu bergerak, matanya yang kosong itu seperti menyala—menatapku, dan bulu kudukku mendadak bergidik dan berkata, “Ayo Bang, kita segera pergi dari sini,” ucapku menyembunyikan ketakutan memikirkan kemungkinan bahwa mereka akan benar-benar hidup malam nanti.***

(2012)

Tiga Catatan Terakhir, dimuat di Jurnal Bogor, 18 April 2010

Mereka Bilang Aku Kunang-Kunang

Seharusnya aku ikut mati bersamamu. Seharusnya aku tak lari meninggalkanmu. Seharusnya aku menggendongmu di pundakku ketika aku melihat kau yang tiba-tiba terbaring di tengah kerumunan orang-orang yang berlarian. Aku kerumunan itu. Aku orang-orang yang tak mampu menyembunyikan ketakutan. Aku orang-orang yang takut airmataku sendiri akan membunuh atau membuatku menggelepar-gelepar melebihi rasa lapar yang sudah aku koar-koarkan.

Di Jepang, musim Sakura belum lama berakhir. Dua minggu di awal April menandai musim semi dengan mekarnya kelopak bunga sakura. Mereka bilang itu adalah kelopak dari mata para dewa yang menitikkan kasihnya ke dunia. Kemudian kasih itu laun menjadi cinta di akhir tanggal, ketika kelopak-kelopak yang semula dominan putih berubah warna menjadi merah jambu. Aku ingat kau mengungkapkan itu sebelum kita berdiri di antara lautan orang-orang. Lalu kau mencium ujung-ujung tanganku. Aku tidak pernah tahu kalau itu akan menjadi ciuman terakhirmu untukku.

“Aku ingin sekali menemukan semanggi berkelopak empat, An…” kau berkata setalah ciuman itu. Aku diam mendekap pundakmu.

“Bukan Sakura?” aku bertanya.

“Ini dua hal berbeda, An. Kabarnya semanggi berkelopak empat mampu mengabulkan keinginan kita. Seperti bintang jatuh. Seperti doa-doa di kuil saat awal tahun baru. Seperti koin-koin yang dilempar di air mancur Roma…” kau bergelayut manja.

“Lalu apa keinginanmu?” aku menatap matanya.

Sesungguhnya aku tak pernah menemukan mata yang berbinar-binar seperti matanya. Mata yang jujur seutuhnya, tidak pernah berpura-pura. Mata yang membawa laut yang diam dan dalam, namun dapat menjadi ombak yang melumat.

“Aku ingin semua ini selesai, An. Secepatnya. Biar sejarah, suatu saat, akan mencatat tiga puluh tahun lebih ini adalah derita sebuah bangsa yang terkurung tirani. Biar segala yang sudah terpenjara itu bisa bebas menyuarakan suaranya. Biar aku dan kau bisa merajut senyum ketika melihat sebuah reformasi telah membebaskan negeri ini dari ketidakadilan, dari ketidakbebasan, An…” kau menjawab dan kulihat ada api yang menyala di matamu.

Akan tetapi, yang aku mengerti kemudian, api yang menyala di matamu malam itu telah berpindah ke mataku ketika aku saksikan kau terbaring tetapi bukan tidur. Tetapi bukan pula bersandiwara. Aku berteriak-teriak memanggil kau yang tergeletak begitu saja dan tak mampu menghindari ijakan orang-orang. Aku tidak pula pernah tahu, ketika semua ini selesai, tak pernah ada yang mengaku sebagai seseorang yang telah menyarangkan peluru di matamu. Mata yang begitu aku cintai itu.

Dari sekian banyak orang berpakaian hitam hari ini, harusnya akulah yang memakai pakaian paling hitam. Tetapi, aku tidak berpakaian hitam. Aku hanya memakai kacamata hitam sambil memejamkan mataku ketika aku tahu aku memang sudah tak dapat menyentuhmu lagi. Dan diam-diam aku takut, dari sepasang mataku yang memejam ini akan beterbangan jutaan kunang-kunang. Kunang-kunang kuning seperti daun lerai dari ranting.1

Mereka Bilang Aku Patah Arang

Tiba-tiba aku jatuh cinta melebihi seluruh jatuh cinta yang pernah menyakiti dadaku.2 Ranting-ranting patah. Jutaan kunang-kunang yang berhamburan dari balik mata tak lagi pernah kembali. Sebenarnya ingin sekali aku menyampaikan kata cinta ke telingamu, tetapi aku tak lagi memiliki suara. Malah suaramulah yang kembali terngiang-ngiang di telingaku.

“Negeri ini membutuhkan orang-orang yang berani bersuara, An…” kau berkata di malam yang sama sebelum kau terbaring.

“Pada kenyataannya, sudah banyak orang-orang berani yang hilang, mati, dan tinggal nama. Banyak pula tubuh-tubuh tak dikenal ditemukan di jalan-jalan sepi, di semak-semak, bahkan dikubur hidup-hidup.”

Aku laki-laki yang memiliki keraguan. Aku memang takut sekali jika namaku menghiasi kematian esok hari. Aku takut jika kemudian aku pulang dengan tubuh tinggal kulit dan tulang. Namun, sejak aku bertemu dengannya, wanita bermata laut, pelan-pelan aku diyakinkan akan kebenaran dan keberanian.

“Kamu salah, An,” jawabmu pelan dan tersenyum, “mereka tidak pernah mati. Mereka justru membangkitkan orang-orang mati. Seperti aku. Seperti kamu. Seperti puluhan ribu orang yang berkumpul malam ini dan jutaan orang lain di luar sana yang menyaksikan kita dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka juga pasti mengharapkan perubahan, An… Itulah yang harus kita perjuangkan!” lanjutmu seperti nyala lilin di dalam kegelapan hati. Membuatku merasa aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini karena telah ada seorang wanita berani melebihi masa lalu manapun.

Sekarang, di dalam sana, kau pasti sedang asik membayangkan dirimu telah menjadi salah satu yang menghidupkan kematian orang-orang. Kematian hati yang membuat negeri ini tak berkembang. Kematian informasi yang membuat rakyat mudah dibodoh-bodohi, ditakut-takuti, dan diatur seenak jidat dengan peraturan yang menjerat. Bukan melindungi. Bukan pula melayani.

Setelah semua itu berlalu, aku baru sadar, ternyata aku memang benar mencintaimu dan kehilanganmu adalah sakit hati yang paling pedih yang pernah kurasakan. Seharusnya, aku mencium bibirmu lama-lama malam itu. Seharusnya aku memelukmu erat malam itu. Seharusnya aku mengikatmu dalam tenda dan tak pernah membiarkanmu pergi keesokan hari. Tetapi, terlalu banyak kata seharusnya bagi lelaki patah arang seperti aku.

Dari Sekian Kematian

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. 3

Beberapa keluarga yang menangisi anak-anaknya hari itu, pasti tidak pernah tahu ada kau yang seharusnya tercantum menjadi nama ke-18. Pun ada nama-nama lain yang tak sempat tercatat oleh media-media yang masih main aman, takut jika terlalu banyak yang mereka catat, semakin banyak pula amarah rakyat. Sekian belas saja dirasa sudah cukup untuk mewakili duka yang dalam atas betapa lalimnya sistem yang berlaku.

Aku ingin sekali menunjukkan kepadamu, di rumahku kini ada sebuah kolam dengan ikan-ikan kecil yang berenang dengan tenang. Sebenarnya ingin sekali kuciptakan sungai seperti yang pernah kau impi-impikan. Sebuah sungai kecil dengan batu-batu koral yang mengalir jernih di tiap seluk ibukota. Tidak ada sampah. Tidak ada limbah. Tidak ada air kuning yang mendadak memanggil banjir ketika hujan tengah bertandang menyampaikan salam dari gundulnya bukit-bukit di sebelah timur. Tetapi aku pikir, sudah cukup ada sungai kecil lain yang mengalir dari pori-pori kulitku, dari kedua bola mataku yang pernah kau nyalakan apinya malam itu. Tetapi, harus kau maafkan aku kini, tak ada lagi nyala api itu.

Aku memandang kerdil kematian yang kau pertunjukkan hari itu. Kematian yang klasik namun kucintai seperti laki-laki mencintai laying-layangnya yang putus sambil memandang langit lapang yang selalu haus untuk dipandang. Seperti pula kelereng-kelereng bulat yang warna-warni, dipertaruhkan dalam sebuah permainan namun bukan kemenangan yang kuraih. Atau seperti setiap hitungan petak umpet dan aku mencari sampai sore hari, tak pernah menemukan sosok teman-teman yang sudah kembali ke rumah sementara aku harus menunggu di balik pohon, berhati-hati bila ada yang mengelabui penjagaanku.

Perubahan yang kau impikan dulu hanya terjadi sebatas kulit. Reformasi yang kau gaung-gaungkan dan kematian yang kau persembahkan tampaknya belum cukup untuk membuat mereka paham bahwa kebebasan bukan sebatas bebas menyuarakan pendapat namun pendapat itu menjadi pertimbangan yang agung laiknya suara Tuhan. Tetapi yang terjadi, suara-suara itu hanyalah sekadar mampir untuk lewat dari kuping kiri ke kuping kanan.

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. Dan di ruang ini, aku saksikan rekan-rekanku sedang tertidur sementara pimpinan sidang yang malang itu berbicara sampai berbusa-busa saja. Aku kembali mencoba memejamkan mata, berharap jutaan kunang-kunang yang dulu pernah berhamburan itu kembali ke mataku.

(2010)

1, 2 Kutipan dari puisi berjudul “Tiga Catatan Kecil” karya Aan Mansyur
3 Kutipan dari puisi berjudul “Dari Sekian Kematian” karya Pringadi Abdi

Kritik: Pringadi AS, Cinta, dan Sisi Gelap Manusia oleh Ardy Kresna Crenata

TULISAN ini saya tujukan sebagai sebuah kritik atas cerpen-cerpen Pringadi Abdi Surya yang terkumpul dalam Dongeng Afrizal. Layaknya sebuah kritik, maka selain kelebihan-kelebihan, saya pun akan mencoba menunjukkan kelemahan-kelemahan cerpen-cerpen tersebut. Tentunya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menawarkan informasi-informasi sehat yang barangkali bisa dijadikan bahan diskusi ke depannya. Hubungan saya sendiri dengan Pringadi saya anggap baik, meski kami belum pernah bertatap muka. Saya yakin, Pringadi adalah tipe orang yang terbuka terhadap kritik yang ‘masuk akal’. Saya yakin, Pringadi tidak akan keberatan saya menunjukkan kelemahan-kelemahan yang masih ada dalam cerpen-cerpennya tersebut. Sekali lagi, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memajukan dunia sastra Indonesia—dalam hal ini cerpen. Sebab saya meyakini, bahwa untuk memajukan dunia sastra Indonesia, yang diperlukan adalah kritik-kritik yang jujur, bukan sebatas pujian yang akhirnya jatuhnya seperti iklan: memunculkan kelebihan dan menyembunyikan kelemahan.

Di halaman awal buku tersebut, Khrisna Pabicara menyebutkan tiga hal yang membuat sebuah karya sastra dikategorikan bagus: kejutan-kejutan yang dihadirkan kepada pembaca, intensi yang kuat yang mampu membetot kesadaran pembaca untuk ikut merasakan nuansa kisahnya, eksplorasi gaya tutur yang memukau. Yang akan lebih saya soroti dalam tulisan ini barangkali hal kedua, yang kemudian saya terjemahkan sebagai ‘penyajian konflik’, yang di dalamnya begitu kuat pengaruh sebab-akibat, aksi-reaksi dari kejadian-kejadian yang dihadirkan penulis dalam cerpennya. Sebab menurut saya, tugas utama seorang cerpenis adalah menyajikan konflik. Konflik dengan sendirinya menjadi salah satu unsur penting yang membuat sebuah cerpen layak dikategorikan kuat atau lemah. Akan tetapi, ini tidak berlaku umum. Sebab dalam perkembangan dunia cerpen Indonesia saja, bermunculan apa yang disebut cerpen suasana, yaitu cerpen yang lebih menonjolkan suasana ketimbang cerita, misalnya cerpen-cerpen Mardi Luhung yang baru-baru ini saya temukan di Gramedia (Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku), beberapa cerpen Avianti Armand (Perempuan Pertama, Pagi di Taman, Ayah, Matahari), cerpen Gunawan Maryanto (Pergi ke Toko Wayang). Bagi sebuah cerpen suasana, suasana lah yang penting, yang seringkali ditunjang oleh gaya bercerita yang menghanyutkan, bahasa yang memukau. Sedangkan cerita, tidaklah begitu penting. Bahkan bisa jadi tidak penting sama sekali. Namun untuk kumpulan cerpen Dongeng Afrizal, saya akan fokus menyoroti penyajian konflik. Tentunya bukan tanpa alasan. Yang ditawarkan Pringadi AS dalam Dongeng Afrizal adalah cerpen-cerpen yang bercerita, sehingga sebab-akibat menjadi penting, aksi-reaksi dari kejadian-kejadian yang ada menjadi penting, konflik pun menjadi penting.

Cinta

SAYA mulai dengan cerpen-cerpen yang menjadikan cinta sebagai tema utamanya.

Surat Kedelapan adalah cerpen yang sederhana. Seorang lelaki menulis tujuh surat untuk seorang perempuan yang kelak menjadi istrinya, dan tidak pernah menunjukkan satu pun surat itu kepada perempuan itu. Namun ternyata, tanpa sepengetahuannya, perempuan itu membaca ketujuh surat itu, dan menuliskan sebuah surat sebagai balasan, yang kemudian menjadi surat kedelapan. Surat kedelapan ini baru ditemukan lelaki itu setelah istrinya meninggal.

Saya pribadi sesungguhnya kurang suka dengan cerpen ini. Selain cengeng, cerpen ini juga miskin konflik. Saya sebut cengeng sebab yang dikemukakan adalah rasa kehilangan yang membuat seseorang jadi ingin menangis setelah membacanya. Saya sebut miskin konflik sebab nyaris tak ada pertentangan yang dihadirkan secara kuat oleh si cerpenis, selain kegagapan menyampaikan isi hati yang pada akhirnya menciptakan rasa kehilangan di hati si tokoh utama. Namun bisa jadi itulah yang hendak ditawarkan si cerpenis. Kata ‘cengeng’ pun bisa jadi berlebihan. Sebab gaya bercerita, bahasa yang digunakan, yang katakanlah puitis di beberapa kalimat, menjadi senjata utama yang membuat cerpen ini menghanyutkan. Dengan bahasa yang berbeda, mungkin pembaca tidak akan terbawa hanyut. Si cerpenis pernah berkata kepada saya, lewat sms, bahwa Surat Kedelapan ditempatkan di awal sebab cerpen ini mudah dipahami dan mudah dinikmati. Barangkali semacam hidangan pembuka. Pringadi sepertinya tidak ingin membuat pembacanya mengerutkan kening ketika membuka pintu sebab khawatir si pembaca akan langsung menutup pintu itu lalu melenggang pergi. Tapi bisa jadi tidak seperti itu.

Macondo, Melankolia adalah sebuah cerpen yang kuat. Selain cerita yang unik-menarik, kejutan-kejutan yang hadir, gaya bercerita yang membuat seseorang menahan napas ketika membacanya, Pringadi dalam cerpen ini juga membahas atau memasukkan banyak hal—Seratus Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, Fairy Tail-nya Hiro Mashima, peristiwa di Tarakan, teori Sigmeund Freud—yang mau tak mau membuat pembaca harus mencari tahu seperti apa hal-hal yang dibahasnya itu. Seperti apa Macondo di Seratus Tahun Kesunyian, seperti apa Anima di Fairy Tail, seperti apa detail peristiwa di Tarakan, jika hal-hal ini diketahui, bisa memudahkan pembaca dalam memahami apa yang ingin disampaikan Pringadi dalam cerpen ini. Sayangnya, ketiga hal tersebut, saya tidak mengetahuinya, sehingga pembacaan saya terhadap cerpen ini sesungguhnya masih gelap.

Namun ada beberapa hal yang dikemukakan Pringadi dengan direct: cuma perlu sedikit keberanian untuk membuat cinta hadir dan dekat, lelaki itu harus berani bertukar tatap mata dan sedikit kegilaan akan membuat kita dikenang. Pringadi juga menyindir beberapa hal yang barangkali tak disukainya: kiriman pulsa tiba-tiba, channel-channel televisi yang dipenuhi sinetron, hubungan yang dimulai dengan perkenalan di dunia maya. Satu hal lagi yang menarik, di cerpen ini Pringadi menunjukkan identitasnya sebagai seorang penyair: cinta adalah api yang terbakar tanpa sumbu.

Dari segi cerita, bangunan antar-kejadian, hubungan sebab-akibat, saya rasa tak ada yang perlu dikoreksi. Atau barangkali, saya gagal menemukan kelemahan tersebut.

Suatu Cerita Tentang Cerita yang Tak Pernah Kuceritakan Sebelumnya lagi-lagi cerpen yang menarik, tentang seorang lelaki bernama Sakum yang mampu kembali ke masa lalu hanya dengan menatap sebuah foto. Cerpen ini mengingatkan saya pada Jumper, sebuah film yang mengisahkan seorang lelaki yang bisa berpindah ke sebuah tempat hanya dengan menatap sebuah foto. Jika lelaki dalam Jumper hanya bisa berpindah lokasi, lelaki dalam cerpen ini bisa juga berpindah waktu, yaitu ke masa lalu. (Apakah ia juga bisa berpindah ke masa depan? Entahlah.)

Alur yang loncat-loncat sesungguhnya menarik. Perlahan-lahan pembaca diajak untuk memahami seperti apa akar masalah antara Sakum, Alina, dan kemampuannya untuk kembali ke masa lalu. Namun saya sedikit bingung di adegan terakhir. Si aku di adegan itu seorang anak kecil, barangkali lelaki, yang oleh seorang lelaki berambut awut-awutan yang datang dari masa depan disebut anaknya Sukab. Lelaki itu datang untuk mengabarkan bahwa kemampuan kembali ke masa lalu bisa menimbulkan bencana. Lelaki itu siapa? Sakum? Jika memang lelaki itu Sakum, maka saya sedikit terganggu. Sebab, sejak awal Sakumlah yang bercerita, si aku adalah Sakum. Tapi, di adegan terakhir, si aku justru seorang anak kecil yang berbicara dengan Sakum. Apakah anak kecil itu juga Sakum? Tapi di adegan-adegan sebelumnya tidak diceritakan bahwa ketika Sakum kembali ke masa lalu, ia bertemu dengan dirinya yang lain di masa itu. Jadi, mana yang benar? Siapa lelaki itu? Kemudian saya juga bertanya-tanya apa tujuan Pringadi membedakan keyakinan si anak kecil dengan lelaki yang datang dari masa depan itu. Si anak kecil seorang Kristiani. Si lelaki yang datang dari masa depan seorang Muslim. Ini berarti kedua tokoh ini bukan orang yang sama(?)

Vaginalia adalah sebuah cerpen tentang nama. Sejauh apa nama merepresentasikan kepribadian seseorang. Seorang lelaki bernama Muhammad, yang adalah nama seorang nabi dan rasul terakhir dalam sejarah Islam, dalam cerpen ini ternyata seseorang yang busuk. Dia mendekati si tokoh utama, Vaginalia, memberinya perhatian, kasih sayang, lalu setelah puas dan bosan, meninggalkannya. Vaginalia pun akhirnya kecewa, marah, dendam. Di sebuah kota dia membunuhi siapa saja lelaki bernama Muhammad.

Ada dua hal yang menurut saya membuat cerpen ini jadi lemah. Pertama, apakah mungkin seorang perempuan mempercayai seorang lelaki hanya karena lelaki itu bernama Muhammad? Masih adakah seseorang yang begitu naif seperti itu? Saya masih bisa menerima jika perempuan itu terperangkap oleh si lelaki karena ketampanannya, perhatiannya, kepeduliannya. Tapi Pringadi seperti menekankan bahwa nama lelaki itulah yang membuat si perempuan percaya. Sebab nama kamu Muhammad. Kalimat ini diulang beberapa kali. Kedua, adegan terakhir—perempuan itu di sebuah kota membunuhi setiap lelaki bernama Muhammad—saya rasa terlalu berlebihan. Apakah kebencian, dendam karena dibuang, ditinggalkan begitu saja setelah kesuciannya ia serahkan kepada lelaki bernama Muhammad itu, membuat ia tergerak untuk benar-benar membunuhi setiap lelaki bernama Muhammad? Sekali lagi, si tokoh utama dalam cerpen ini terkesan begitu naif, begitu polos, dan tidak cerdas. Karena itulah saya mengatakan bahwa dua hal ini melemahkan. Padahal, seperti biasanya, gaya bercerita Pringadi sungguh kuat, memikat, di beberapa bagian bahkan menyihir. Namun jika yang ingin disampaikan Pringadi dalam cerpen ini adalah bahwa nama seseorang tidak serta merta merepresentasikan kepribadiannya, maka Pringadi sudah berhasil. Hanya itu dia, bangunan kejadian dan sebab-akibatnya kurang terjalin kuat.

Dongeng Afrizal sungguh cerpen yang menarik untuk dibahas. Suatu hari ketika saya tanyakan kepada Pringadi, mengapa judul cerpen ini dijadikan judul buku, dia mengemukakan tiga alasan. Salah satunya adalah bahwa cerpen ini dianggap cerpen yang lebih baik dari cerpen-cerpen lainnya, dengan kata lain: cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen tersebut. Yang dijadikan tolak ukur tentu saja kualitas. Pringadi kemudian menjelaskan bahwa sementara cerpen-cerpen lainnya masih bermain-main di ranah emosi dan impresi, Dongeng Afrizal sudah bermain-main di ranah represi, di mana tokoh, karakter, dan konflik ditekan ke dalam ruang, sehingga cerita terkesan datar namun sesungguhnya penuh konflik, sehingga si tokoh utama terkesan polos-cuek padahal di kepalanya berkecamuk banyak hal. Pringadi kemudian membandingkan cerpen ini dengan Pohon Kersen-nya Linda Christanty, juga cerpennya Avianti Armand—Sempurna(?) Tentang perbandingan ini, saya punya pendapat sendiri.

Tokoh utama dalam Dongeng Afrizal adalah seorang anak kecil, lelaki, di sebuah kampung, usia SD, agamanya Islam. Nani adalah murid pindahan, ayahnya tentara, pandai bernyanyi, agamanya Katolik. Deni adalah teman sekelas mereka, yang menyukai profesi tentara, sering pamer di depan Nani, agamanya Protestan. Deni menyukai Nani. Nani cuek terhadap Deni. Afrizal menyukai Nani. Nani memberi perhatian padanya. Kisah tiga anak SD ini sebenarnya biasa, dan nyaris tanpa klimaks. Yang membuatnya luar biasa adalah hal-hal yang secara represif dikemukakan. Ibu guru yang menanyakan sampai di mana pelajaran sebelumnya, sejarah yang banyak direkayasa, guru agama yang tidak menghargai perbedaan keyakinan, penilaian seseorang hanya dari wajahnya, risiko menjadi anak tentara, kecelakaan pesawat. Pringadi mengemukakan hal-hal tersebut dengan ringan, layaknya anak kecil yang masih belajar membedakan mana yang baik mana yang buruk. Dalam hal ini saya rasa Pringadi cukup berhasil.

Namun ada satu hal dari cerpen ini yang mengganggu saya, yaitu saat Pringadi menulis: “Deni itu Protestan,” kata Nani. O, pantas Nani benci Deni. Apa maksud dari dua kalimat itu? Apakah Pringadi ingin menunjukkan bahwa seorang Katolik (Nani) membenci seorang Protestan (Deni)? Dari mana si Afrizal mengambil kesimpulan seperti ini? Apakah ini pengaruh dari lingkungan? Tak jelas. Dua kalimat itu juga menurut saya berbahaya. Katolik dan Protestan memang berbeda, tapi apakah keduanya ‘bermusuhan’? Pringadi perlu menjelaskan maksud dari dua kalimatnya itu, agar tidak terjadi salah tafsir yang membahayakan.

Satu hal lagi yang mengganggu: pemilihan judul. Kata ‘dongeng’ saya rasa tidak tepat untuk merepresentasikan kisah keseluruhan. Dongeng selalu identik dengan sesuatu yang ajaib, tempat-tempat yang hanya ada dalam khayalan, peristiwa-peristiwa di luar akal sehat. Padahal, cerpen ini sepenuhnya mengisahkan hal-hal yang lumrah terjadi di dunia nyata. Tak ada yang aneh. Tak ada yang ajaib. Tak ada yang di luar akal sehat. Karena itulah penggunaan ‘dongeng’ jadi tidak tepat. Kata ‘hikayat’ mungkin lebih tepat, atau ‘kisah’. Sebagai rujukan sebuah cerpen yang benar-benar dongeng salah satunya adalah Qirzar, cerpennya Linda Christanty.

Senja Terakhir di Dunia adalah sebuah respon atas dua cerpen: Sepotong Senja Untuk Pacarku (Seno Gumira Ajidarma), Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Agus Noor). Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam cerpen ini pun adalah tokoh-tokoh yang pernah ada dalam dua cerpen tersebut: Sakum, Alina, Sukab, Maneka. Pringadi ternyata memilih menulis di kertas yang tak kosong. Ia memilih melanjutkan kisah yang sudah ada, mengembangkannya, mencoba menciptakan tandingannya, mencoba melampauinya. Pilihannya ini bisa menjadi boomerang seandainya ia tak bisa menciptakan kisah yang lebih baik, yang membuat ia akan berada di dalam bayang-bayang pendahulunya. Lain halnya jika ia mampu melampaui para pendahulunya. Apakah Pringadi sudah melampaui para pendahulunya? Bukan saya yang harus menjawabnya.

 

Banyak hal positif bisa diambil dari cerpen ini. Tentang mahalnya kejujuran dan lebih mahalnya lagi kebebasan, tentang kata-kata yang menjadi omong kosong belaka, tentang aparat hukum yang tak berdaya menghadapi orang-orang bermodal, tentang harga bahan bakar dan listrik yang terlampau tinggi. Bangunan kejadiannya sendiri sebenarnya sederhana. Nyaris tak ada konflik antara Sakum dan Alina. Suasana lah yang kuat terasa di cerpen ini. Cerpen ini barangkali lebih condong ke cerpen suasana ketimbang cerpen yang bercerita.

Sisi Gelap Manusia

CERPEN-CERPEN selanjutnya saya kelompokkan sebagai cerpen-cerpen yang mengemukakan sisi gelap manusia, satu hal yang sangat menarik perhatian saya.

Resital Kupu-kupu adalah sebuah cerpen yang absurd. Sulit melacak mana yang benar terjadi mana yang tidak. Di akhir cerita si tokoh utama mencuri dengar percakapan para perawat yang mengatakan bahwa sahabatnya—yang tewas tertabrak truk—itu tak pernah ada. Anggap saja ini benar. Maka ada beberapa pertanyaan: apakah piano itu juga tak pernah ada? apakah resital itu juga tak pernah ada? Sekali lagi, Resital Kupu-kupu adalah cerpen yang absurd. Anda barangkali harus menyelam hingga dalam, melakukan perjalanan hingga berulang-ulang, terbang hingga begitu tinggi, untuk bisa benar-benar mendapatkan pencerahan tentang mana yang benar terjadi mana yang tidak. Satu hal positif yang bisa diambil dari cerpen ini: kupu-kupu jangan dikurung, agar dia tak membalas dendam suatu hari. (Apakah ini juga absurd?)

Seseorang Dengan Agenda di Tubuhnya mengingatkan saya pada sebuah komik berjudul Rabbits, tentang seorang remaja perempuan yang membunuh teman-temannya satu per karena satu alasan: mereka pembohong. Definisi pembohong itu sendiri bervariasi. Kebohongan sekecil apapun menjadi pertimbangan remaja perempuan itu. Tidakkah cerita ini terkesan berlebihan? Bisa jadi iya. Namun perlu diketahui bahwa remaja perempuan itu sebenarnya dalam pengaruh hipnotis dari seorang anak perempuan psikopat, yang membunuh karena ingin. Jadi, dari komik tersebut, ada dua alasan seseorang membunuh. Pertama, orang yang dibunuhnya itu pembohong. Kedua, karena ingin. Menariknya, cerpen ini menggabungkan keduanya. Pembunuhan pertamanya—terhadap ibunya—ia lakukan karena ibunya itu berbohong. Pembunuhan-pembunuhan selanjutnya—dengan teknik hipnotis—dilakukan lebih karena ia ingin.

Di cerpen ini Pringadi benar-benar menjadi seorang psikopat. Bangunan antar-kejadiannya sendiri cukup apik. Aksi terakhirnya dalam cerpen ini bahkan dilatarbelakangi kejadian kuat di masa lampau saat ia kecil. Lelaki itu—si polisi—ternyata adalah anak yang sering mengejek dan menghina cita-citanya yang ingin jadi pesulap dan profesi ibunya yang adalah pelacur. Sampai di sini tak ada masalah. Hanya saja, di pembunuhan pertama—terhadap ibunya—saya merasa jalinan sebab-akibatnya kurang kuat. Ia membunuh ibunya karena ibunya itu membohonginya. (Ia sendiri berbohong kepada polisi yang datang ke TKP besok harinya!) Padahal, sebelum ia tahu ibunya membohonginya, ia begitu menyayangi ibunya itu—“Ibu adalah ratu saya.” Jadi anggaplah si tokoh utama dalam cerpen ini memang memiliki kelainan mental. Ia bisa membunuh seseorang begitu saja karena ingin atau karena orang itu membohonginya. Tapi mungkin akan terasa lebih kuat kalau diceritakan juga kejadian-kejadian yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki kelainan mental.

Dalam cerpen berjudul Sempurna, Avianti Armand dengan apik menghadirkan tokoh Lara yang di luar tampak sempurna, cantik, murah senyum, berprestasi, tapi di dalam dirinya bersarang sesuatu yang jahat. Avianti Armand mendeskripsikannya lewat kejadian-kejadian yang menarik: menyiksa boneka kesayangannya (mengguntingi jarinya, mencabuti rambutnya, menusukkan jarum ke matanya), melemparkan kotoran anjing ke jendela mantan pacarnya, mengunci di luar dalam keadaan telanjang seorang lelaki yang baru saja meminta putus darinya. Tiga hal ini menguatkan identitas Lara sebagai seseorang yang memiliki kelainan mental. Deskripsi berupa kejadian inilah barangkali yang terasa kurang dalam Seseorang Dengan Agenda di Tubuhnya.

Setan di Kepala Ibu adalah cerpen tentang kebencian seorang anak terhadap seseorang, yang diwujudkan dengan munculnya setan bertanduk-berekor di kepala orang yang dibencinya itu. Awalnya orang yang dibencinya itu adalah Ibu—seorang perempuan yang dekat dengan ayahnya. Di akhir cerita orang yang dibencinya itu adalah ayahnya.

Ide penampakan setan ini menarik. Ada satu kejadian yang menggelitik tapi unik: si anak mengacungkan jari tengah kepada setan di kepala Ibu, dan si Ibu mengira anak itu mengacungkan jari tengah padanya. Ini bisa saja dialami seorang anak yang sehari-harinya penuh tekanan. Kebetulan, diceritakan juga bahwa si anak memang mengalami tekanan dari ayahnya, tekanan secara mental.

Namun sebenarnya ada yang aneh. Perpindahan setan dari kepala Ibu ke kepala Ayah terasa janggal. Katakanlah asumsi saya benar, bahwa kemunculan setan adalah wujud dari kebencian si anak. Maka ketika setan tiba-tiba lenyap dari kepala Ibu, sesuai asumi saya tadi, si anak berarti tidak lagi membenci perempuan itu. Mengapa ini terjadi? Karena perempuan itu mulai bercerita panjang lebar padanya tentang ayahnya? Tapi bukankah si anak yang mulai bertanya? Kemunculan setan di kepala Ayah bagi saya juga terkesan terburu-buru.

Avianti Armand pernah menulis sebuah cerpen berjudul Perempuan Tua Dalam Kepala. Sosok perempuan tua itu, yang digambarkan seperti nenek sihir, tinggal di sebuah rumah dengan dinding penuh lumut, sibuk memasak ramuan, adalah wujud dari sisi gelap seorang anak yang mengalami penderitaan akibat anal seks yang dilakukan ayah tirinya. Perempuan tua itu sendiri muncul sesaat setelah ia mengalami anal seks itu. Selanjutnya setiap kali tokoh utama itu melakukan hal-hal yang baik, perempuan tua itu akan berteriak-teriak, mengganggunya, membuat pusing kepalanya. Sebaliknya, ketika ia berbuat sesuatu yang buruk, perempuan tua itu akan tampak gembira dan mendukungnya. Suatu hari ketika ayah tirinya itu melakukan lagi anal seks terhadapnya, perempuan tua di dalam kepalanya tiba-tiba berontak, melawan, dan akhirnya membunuh ayah tirinya. Di cerpen diceritakan seperti itu. Tapi sebagai pembaca kita tentu tahu, anak itulah yang membunuh ayah tirinya itu. Sebab perempuan tua di dalam kepalanya, sesungguhnya tak pernah ada.

Cerpen Setan di Kepala Ibu mirip dengan cerpen Perempuan Tua Dalam Kepala dalam pewujudan sesuatu sebagai sisi gelap manusia. Namun, jika keduanya mau dibandingkan, tampak sekali Setan di Kepala Ibu masih lemah. Deskripsi perempuan tua jauh lebih menarik ketimbang deskripsi setan. Sejarah kemunculan perempuan tua jelas. Sejarah kemunculan setan tidak. Pengaruh dan keikutsertaan perempuan tua lebih terasa ketimbang si setan. Tema yang digarap pun lebih baik cerpen kedua.

Saya jadi ingat. Di sebuah acara di Toko Buku Alternatif Jendela, pembahasan bukunya Asep Sambodja, seorang teman mengatakan kepada saya bahwa cerpen Setan di Kepala Ibu tidak memiliki nilai positif yang bisa diambil jika dibacakan kepada anak-anak. Saya langsung tersenyum. Di dalam hati saya tertawa. Itu tentu saja salah sasaran, salah alamat. Siapa juga yang mengatakan bahwa cerpen ini untuk anak-anak? Sasaran cerpen ini tentunya orang-orang dewasa atau yang sedang menuju kedewasaan. Membacakan cerpen ini kepada anak-anak adalah tindakan konyol. Sebab seperti halnya Saman dan Larung, yang sasarannya adalah orang-orang dari lingkungan tertentu, dan tentunya di atas tujuh belas tahun, cerpen ini pun punya sasaran tertentu, dan jelas bukan anak-anak. Lagipula nilai positif yang bisa diambil jelas ada: jangan memanfaatkan kemampuan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Ucapan seorang teman saat itu menunjukkan bahwa ia gagal menemukan nilai positif ini, lantas menyalahkan karya. Naif saya rasa.

Domba-domba Dalam Suratmu adalah salah satu cerpen favorit saya dalam kumcer ini. Selain bahasanya yang menyihir, konflik pun disajikan lewat bangunan kejadian yang kuat dan masuk akal. Dua perempuan menghuni satu kamar asrama. Yang satu jadi tokoh utama yang katakanlah protagonis. Yang kedua jadi tokoh antagonis. Pertentangan-pertentangan antara kedua tokoh ini adalah tentang perlu-tidaknya perempuan menjaga ‘harta’-nya dari lelaki. Si tokoh protagonis diceritakan mengenakan kerudung. Si tokoh antagonis tidak. Si tokoh protagonis barangkali seorang Muslim(ah)—karena berkerudung. Si tokoh antagonis barangkali seorang Kristiani—karena sering membaca Mazmur. Atau bisa jadi si tokoh antagonis seorang agnostik, sebab diceritakan di meja belajarnya terdapat kitab-kitab—jamak. (Tentang hal ini sebenarnya ingin saya tanyakan kepada si cerpenis: apa tujuan dibedakannya keyakinan kedua tokoh tersebut?) Cerita menjadi menarik ketika si tokoh antagonis menyebut kerudung yang digunakan teman sekamarnya itu adalah untuk menutupi aibnya sendiri. Tokoh protagonis ternyata sudah tak perawan. Dia pun dikatai munafik, dan dia mengakuinya(?)

Beberapa kalimat dan celetukan terasa sedap di cerpen ini, seperti bumbu dalam masakan dengan takaran yang pas. “Agamaku cinta. Ibadahku juga bercinta”, “Tidak semua hal di dunia ini aku pelajari dari kitab. Hidup bukan sebuah konsep di atas kertas”, adalah dua diantaranya. Tentang selimut hadiah ulang tahun yang digunakan si tokoh lelaki untuk menutupi tubuh telanjangnya juga menarik. Itu seperti sebuah sengatan dengan rasa sakit tak tertanggungkan. Di cerpen ini, si tokoh utama memang dideskripsikan sebagai seseorang yang sensitif.

Djibril dan Aku layak dinobatkan sebagai salah satu cerpen terbaik dalam kumcer ini. Ada beberapa alasan. Pertama, penyajian tokoh Djibril—salah satu malaikat yang tugasnya mengabarkan wahyu—sungguh unik, menarik, barangkali juga orisinil. Tokoh Djibril tersebut juga disajikan secara berbeda, dan memberikan informasi-informasi yang tidak atau jarang ditemukan dalam kitab-kitab suci. Djibril dalam cerpen ini gemar merokok. Rokok itu sendiri terbuat dari tembakau terbaik yang tumbuh di surga. Surga sendiri digambarkan bukan saja eksotis, tapi juga erotis. Sungai-sungai alkohol mengalir di sana. Para malaikat setiap harinya bercinta dengan bidadari yang selalu kembali perawan setelah prosesi itu. Penggambaran surga dan Djibril seperti ini menarik, dan inilah salah satunya yang membuat cerpen ini berbeda dan kuat.

Apa tujuan Pringadi menulis cerpen ini? Barangkali untuk mengingatkan bahwa malaikat selalu ada mengawasi kita, yang kadang bisa saja dalam wujud manusia. Dia juga mengkritik peristiwa yang sempat terjadi di negeri ini: orang-orang yang muncul mengaku nabi, mengaku menerima wahyu dari Djibril.

Dalam mitologi Islam, atau sebut saja sejarah Islam yang termaktub dalam kitab suci, malaikat selalu digambarkan sebagai makhluk yang patuh, nyaris tanpa cela, dan tak punya keinginan macam-macam. Namun dalam cerpen ini, Djibril, salah satu malaikat terpenting yang pernah diciptakan Tuhan, justru melepaskan diri dari semua itu. Ia mabuk(?) di sebuah diskotek, memberitakan temannya Ablasa yang diusir Tu(h)an dari surga, dan mengatakan bahwa Tu(h)an-nya itu sedikit merekayasa kabar yang sampai ke telinga manusia tentang surga, agar Ia tak kehilangan muka. Gila! Imajinasi Pringadi benar-benar liar! Dari mana ia bisa menyimpulkan hal-hal ini? Saya tidak tahu. Saya tertarik untuk mengetahui buku-buku apa saja yang menjadi referensinya ketika menulis cerpen ini.

Secara bangunan antar-kejadian, cerpen ini bisa dikatakan mulus. Tak ada loncatan-loncatan yang terasa mengganggu. Seseorang dari daerah mengadu nasib di pusat, karena tergiur oleh seorang temannya yang bisa dibilang ‘berhasil’. Namun ternyata, ia malah terjebak oleh sesuatu yang sebenarnya klasik: menjadi kurir narkoba.

Ending cerpen ini menarik. Satu malaikat lain dimunculkan dalam wujud seorang lelaki. Malaikat itu barangkali adalah Izrail, si pencabut nyawa. Dan racauan si tokoh aku di bagian paling akhir, juga memberikan dampak sendiri terhadap cerita ini.

Dalam cerpennya berjudul Perempuan Pertama, Avianti Armand menyajikan sesuatu yang serupa. Cerpen ini adalah eksplorasi dari kisah seorang perempuan yang diciptakan dari rusuk lelaki yang termaktub dalam kitab suci—Injil. Jika dalam Injil, fokus cerita adalah si lelaki, dalam cerpen ini fokus cerita adalah si perempuan. Diberitakan apa saja yang terjadi pada si perempuan selama si lelaki ditemani malaikat memberi nama-nama. Perempuan itu sendiri belum memiliki nama saat itu. Ia bahkan hanya diberitahu—oleh Ular—bahwa ia adalah bukan laki-laki. Ia belum mengenal kata ‘perempuan’. Ular terus membisiki perempuan itu. Perempuan itu akhirnya tergoda untuk memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Dan seperti yang dibisikkan Ular, setelah memakan buah itu, perempuan itu tidak mati. Namun, ia mulai mengenali keperempuanannya, dan akhirnya merasa malu sebab ia telanjang. Di dalam Injil perempuan ini kemudian disalahkan karena begitu saja tergoda oleh Ular. Tapi di mana si lelaki saat itu? Ia terlalu sibuk memberi nama-nama. Di akhir cerita, yang menyerupai pementasan di atas panggung itu, Tuhan dimunculkan. Ia duduk di sebuah kursi, menggenggam sebuah dadu di tangannya. Di keenam sisi dadu itu tertulis kata yang sama: dosa.

Menceritakan kembali kisah-kisah dari kitab suci dengan perspektif berbeda barangkali adalah salah satu tugas sastrawan—dalam hal ini cerpenis. Penceritaan ulang seperti ini selalu menarik.

Tuan, Nyonya, dan Cerita di Balik Kartu Pos adalah sebuah cerita tentang penantian. Cerita mengalir, dari awal hingga akhir. Konflik-konflik yang ditawarkan berkisar tentang seorang anak yang memiliki nasib serupa dengan ibunya (ibunya pembantu anaknya juga pembantu), seorang anak yang membenci ayahnya yang menyetubuhinya tapi di saat yang sama juga menginginkan hubungan badan itu, seorang perempuan yang merasa ‘bergairah’ terhadap seorang lelaki dari medan perang, seorang pembantu yang harus dikorbankan karena kenakalan tuannya. Semua itu disajikan dengan lembut dan nyaris tanpa tekanan, menjadi kelebihan sendiri cerpen ini.

Tapi adegan terakhir cerpen ini cukup menyentak. Sejak awal cerita si tokoh utama merindukan seseorang dari negeri seberang—setiap hari perempuan itu menunggu tukang pos lewat. Orang dari negeri seberang itu barangkali si tentara yang berjanji akan selalu bersamanya. Namun, si tentara tak kunjung tiba. Akhirnya, perempuan itu malah memiliki anak dari si tukang pos. Jadi, penantian si perempuan tak membuahkan hasil, dan kesetiaan dikorbankan? Saya tentu saja tak yakin si tukang pos dan seseorang di negeri seberang adalah sosok yang sama. Tapi bisa jadi pemahaman saya keliru.

Dongeng Ikaruz. Di cerpen ini Pringadi kembali menjadi seorang psikopat. Sakum, setelah membunuhi burung-burung hanya untuk bisa membuat sayap, mulai membunuhi manusia dengan imbalan uang. Motif lainnya: dendam dan kebencian. Si sopir taksi mati di tangannya karena sopir itu tidak sensitif atas meninggalnya Alina. Si kembaran Presiden mati karena ia dianggapnya penyebab utama kematian Alina. Di akhir cerita disajikan kegagalan Sakum atas misinya itu. Presiden ternyata masih hidup. Dia telah dijebak.

Apakah Pringadi begitu membenci presiden Indonesia saat ini—kata ‘Cikeas’ menjadi kunci untuk mengenali siapa presiden yang dimaksudnya? Kemacetan parah yang disebabkan rombongan presiden yang menuju istana membuat Alina tak sempat tiba di rumah sakit. Apakah Pringadi juga membenci pemerintah Indonesia, juga Amerika? Entahlah. Yang jelas cerpen ini menarik dan bisa dibilang fantastis. Kata ‘dongeng’ saya rasa tepat, sebab apa yang disajikan adalah sesuatu yang ajaib. Ide bercinta di luar angkasa—berciuman—menjadi nilai lebih lainnya. (Saya jadi ingat salah satu lagu Frau yang berjudul Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Apakah Pringadi mendapatkan inspirasi untuk menulis cerpen ini dari lagu tersebut?)

Pareidolia. Cerpen ini terkesan datar, tapi sesungguhnya mencekam. Tiga dari sepuluh kematian berawal dari dapur. Tentunya menyenangkan mati di dapur. Sebuah survey gila yang dibaca si perempuan entah di kolom mana, yang kemudian dituliskannya di halaman pertama diary­-nya. Si lelaki menemukan diary itu, membaca kalimat pertama, dan ia tersentak. Ia pun berpikir kalau istrinya itu sudah gila. Kematian mertuanya yang tersedak asin garam, hangus terpanggangnya kucing kesayangan istrinya di dapur, membuat liar spekulasinya. Ia barangkali juga berpikir istrinya itulah yang membakar kucing itu di sana. Namun si perempuan, istrinya itu, menyangkal bahwa ia yang membunuh ibunya. Baginya itu sebuah kecelakaan. Sedangkan tentang kucing yang hangus itu, ia justru kebingungan. Jadi, siapa sesungguhnya yang membunuh dan membakar kucing itu? Si lelaki atau si perempuan? Siapa dalam cerpen ini yang sesungguhnya ‘gila’? Si lelaki atau perempuan? Selain suasananya yang mencekam, tidak banyak yang menjejak dari cerpen ini. Konflik yang ditawarkan barangkali sesungguhnya adalah tentang pasangan suami-istri yang belum juga memiliki keturunan dan kehilangan gairah rumah tangga sebab si suami terlalu sibuk bekerja. Adakah konflik yang lain?

Fiksimaksi: Tuhan dan Racauan yang Tak Tuntas, meski absurd, justru adalah yang paling saya sukai dari kumcer ini. Pendek, ajaib, rumit, dan penuh sentilan-sentilan berbobot. Si Pringadi, tokoh utama dalam cerita ini, terobsesi dengan wujud Tuhan. Ia merasa melihat Tuhan beberapa kali di berbagai tempat. Bahkan saat membacakan puisi di depan banyak orang, ia mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang sudah datang ke acara itu. Pringadi ini barangkali seorang muslim, sebab diceritakan seorang kyai memberinya nasehat bahwa Tuhan tak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan. Seperti inilah pemahaman Islam tentang Tuhan. Tapi penampakan Tuhan dalam wujud manusia(?) mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Bruce Almighty, seorang lelaki yang diberi kekuasaan beberapa lama oleh Tuhan yang muncul menemuinya dalam wujud lelaki tua. Dalam pemahaman Kristen, Tuhan memang mungkin tampil dalam wujud manusia, seperti halnya Yesus dari Nazareth yang mereka yakini sebagai Tuhan Anak, Tuhan dalam wujud anak manusia. Oleh karenanya si Pringadi dalam cerita ini barangkali seseorang yang terjebak di antara dua keyakinan: Islam dan Kristen. Tapi saya rasa itu hal yang wajar dialami penulis, terutama jika ia mendalami keduanya. Kadang ketika menulis cerita, penulis mencoba menjadi orang lain yang berbeda sekali dengannya. Agama, keyakinan, ideologi, pada akhirnya saling melintas dan bisa jadi bertubrukan kalau si penulis tidak cukup piawai, tapi justru mencerahkan jika si penulis cukup piawai menyajikannya.

Sayang sekali cerita ini begitu pendek, begitu cepat diakhiri—karena itulah tidak tuntas. Seandainya dituntaskan, efek ajaibnya bisa lebih terasa. Kejadian-kejadian yang dialami si tokoh juga bisa dieksplorasi lebih jauh untuk memberikan dampak yang lebih memikat. Satu hal lagi yang disayangkan, adalah kehadiran Om Yo yang ternyata bisa juga melihat penampakan Tuhan. Apa tujuan dimunculkannya tokoh ini? Saya rasa, seandainya hanya si Pringadi yang (merasa) mampu melihat Tuhan, itu jauh lebih masuk akal dan bisa diterima. Dengan kata lain, ia memang terobsesi dengan wujud Tuhan. Tapi dengan membuat Om Yo juga bisa melihatnya, ini menjadi pertanyaan: apakah Om Yo juga terobsesi dengan wujud Tuhan? Ataukah justru dari tokoh itu Pringadi mengenal Tuhan dalam wujud yang bisa dilihat? Entahlah. Biarkan Pringadi AS yang menjawabnya. Kita tunggu saja.

Karya yang Bagus, Karya yang Besar

PADA akhirnya saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah teorema—atau barangkali masih lemma—tentang sebuah karya yang dikategorikan bagus, dan karya yang dikategorikan besar. Jika menggunakan tiga indikator yang disebutkan Khirsna Pabicara tentang cerpen yang bagus—yang saya cantumkan di bagian awal—maka cerpen-cerpen dalam Dongeng Afrizal tentu cerpen-cerpen yang bagus. Sebab, meski komposisinya tidak merata, di setiap cerpen selalu ada yang terpenuhi, baik sisi kejutannya, gaya ungkapnya, maupun intensinya. Dengan sedikit menambahkan penafsiran saya tentang pentingnya penyajian konflik, bangunan antar-kejadian, hubungan sebab-akibat, cerpen-cerpen tersebut masih terkategorikan bagus—beberapa malah kuat. Sebab konflik, dalam sebuah cerita, tentu tidak bisa begitu saja dihadirkan, melainkan harus dibangun oleh kejadian-kejadian yang runut dan tersambung satu sama lain. Konflik demi konflik ini nantinya akan memunculkan klimaks. Dalam hal ini, penting juga diperhatikan sejauh mana pengaruh kejadian-kejadian itu, juga konflik-konflik itu, dalam memunculkan klimaks. Sejauh mana mereka mampu saling membunuh untuk kemudian hadir sebagai sosok yang tunggal—klimaks—adalah hal yang tak semestinya dilewatkan seorang cerpenis. Lalu sosok seperti apa Pringadi AS? Sila Anda simpulkan sendiri. Tulisan saya ini hanya sebagai pengantar—meski (mungkin) telah mengantar terlalu jauh.

Sebuah karya yang bagus belum tentu juga sebuah karya yang besar. Teorema atau lemma yang saya maksudkan sebelumnya adalah tentang hal ini. Menurut saya, sebuah karya, dalam hal ini saya batasi jadi cerpen, dikategorikan besar jika ia mampu menghadirkan sesuatu yang membuat pembacanya berpikir keras merenungkannya. Bukan karena kerumitannya, melainkan pemikiran atau gagasan si cerpenis yang bisa jadi tidak biasa, kontradiktif, atau bahkan berseberangan dengan pemahaman umum. Gagasan, ide, pemikiran yang dikemukakan di dalam cerpen, pada akhirnya menjadi faktor penting yang membuat sebuah cerpen menjadi cerpen yang besar atau tidak.

Linda Christanty misalnya, di beberapa cerpennya, mengemukakan pertentangan-pertentangan dari pemikiran-pemikiran dan hukum (kitab suci) yang selama ini terpatri. Dalam Kuda Terbang Maria Pinto ia menulis: dunia ini memang kejam terhadap serdadu. Dikisahkan juga bagaimana si serdadu itu dibuat pusing oleh urusan cintanya, padahal perang masih belum usai. Dalam Seekor Anjing Mati di Bala Murghab ia membuka kemungkinan seorang prajurit yang baru saja menembak mati seekor anjing dan menendangnya dengan kejam, menjadi prajurit dan berada di daerah konflik itu karena tak ada pilihan lain. Ia bisa jadi perlu uang untuk orangtuanya di tempat yang jauh. Dua cerpen ini berupaya menunjukkan bahwa prajurit, atau serdadu, seperti apapun mereka di medan perang, sesungguhnya masih memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Mereka tetap manusia. Mereka punya sisi baik. Pemikiran Linda ini seperti bersikeras merobohkan anggapan sebagian orang bahwa tentara, serdadu, perofesi-profesi kemiliteran, adalah melulu tentang kekerasan, dan jauh dari kemanusiaan. Di cerpen berjudul Drama, Linda menghadirkan seorang tokoh bernama Suzanne yang membenci politik, sebagaimana ia membenci agama. Fakta bahwa orang-orang saling membunuh karena agama, menjadi alasan utamanya. Suzanne pun menolak mati demi para nabi yang tak dikenalnya secara dekat. Jika ia mati, ia lebih memilih mati demi dirinya sendiri. Dalam cerpen berjudul Menunggu Ibu, yang saya rasa adalah salah satu masterpiece Linda, pertentangan disajikan dengan apik, tentang ketentuan agama yang terasa janggal ketika diterapkan di kenyataan. Sebuah rumah akan dijual. Hasil penjualannya dibagi-bagi sesuai ketentuan agama. Si pemilik rumah, ibunya Pia yang sedikit gila, hanya mendapatkan setengahnya. Setengahnya lagi dibagi-bagikan kepada adik dan kakaknya. Padahal, adiknya masih bujang, kakaknya kaya raya, sementara ia sendiri tak bekerja dan punya dua anak. Di sinilah pembaca yang jeli menemukan pemikiran Linda, dan diajak untuk terus memikirkannya.

Pemikiran-pemikiran seperti itulah yang dibutuhkan suatu cerpen untuk bisa dikategorikan karya yang besar. Sebab selain mengajak pembaca berpikir, pemikiran-pemikiran itu juga bisa saja mengubah pola pikir pembaca. Jika sudah sampai ke tahap ini, maka tingkatannya sudah lebih tinggi lagi. Sebuah karya jika berhasil mengubah suatu peradaban, tentunya sebuah karya yang luar biasa.

Sejauh mana Pringadi AS mengemukakan pemikiran-pemikirannya dalam kumcer Dongeng Afrizal ini, mari kita coba telusuri. Tema-tema cerpen kebanyakan tentang cinta, hubungan yang rumit dan unik antara lelaki dan perempuan—yang didominasi oleh Sakum dan Alina. Sebab cerpen-cerpen itu tentang cinta, dan jarang mengambil suatu kejadian di dunia nyata sebagai latar belakang—seperti yang kerap dilakukan Linda Christanty dalam cerpen-cerpen realisnya—maka tak banyak pemikiran yang bisa dikutip kecuali tentang cinta, hubungan antara lelaki dan perempuan. Sedang bagi saya, terus terang, cinta dan hubungan lelaki-perempuan tidaklah lebih menarik ketimbang hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya, dengan alam, dengan Tuhan, atau bahkan dengan dirinya sendiri. Bisa kita simak ketika Pringadi mencoba menyajikan hal tersebut, misalnya dalam Dongeng Afrizal, terasa kuat dan dekat dengan kehidupan nyata. Kehidupan berpindah-pindah seorang anak tentara, sikap tidak mengenakkan seorang guru agama terhadap siswanya yang berbeda keyakinan dengannya, adalah sesuatu yang layak untuk dipikirkan. Dalam Seseorang Dengan Agenda di Tubuhnya, sebuah premis unik dikemukakan, bahwa seseorang menjadi polisi karena ia tak ingin ditangkap polisi. Sebuah sindiran tentu saja, dan ini sangat subjektif. Barangkali Pringadi berangkat dari pengalaman-pengalaman pribadinya yang kerap bersentuhan dengan aparat kepolisian, dan mengalami perlakuan atau pelayanan yang tidak membuatnya nyaman. Namun sayang, di tengah kepiawaian gaya ungkapnya, kecerdasannya menata kejadian dan menghadirkan kejutan, Pringadi belum melakukan apa yang saya sebut ‘mendobrak kemapanan’. Saya rasa itulah salah satu tugas penting seorang cerpenis: mendobrak kemapanan, mempertanyakan kekeliruan-kekeliruan yang terlanjur dianggap benar, lewat jalinan kejadian atau percakapan-percakapan atau gumaman si tokoh utama. Salah satu cerpenis yang sering melakukannya adalah Linda Christanty, dan itulah nilai tambah luar biasa bagi sebuah karya sastra—cerpen.

Percayalah, jika Anda menyempatkan diri melihat ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang, Anda akan menemukan begitu banyak hal yang semestinya dipertanyakan. Kata ‘tabu’ bukan lagi sebuah hambatan. Bahkan ayat-ayat dalam kitab suci pun terbuka untuk dipertanyakan, sejauh mana penafsiran yang ada, sesuai atau tidak penerapannya dalam kehidupan saat ini. Hal-hal ini bisa digali, dieksplorasi, lalu dikemas jadi sebuah cerpen yang mengagumkan. Tentunya, unsur-unsur lain seperti gaya ungkap (bahasa), penguasaan alur, penerapan logika, juga ikut menentukan apakah suatu cerpen layak dikategorikan karya yang besar atau tidak.(*)

Bogor. Juni.2011

Download Kumpulan Cerpen Pringadi Abdi Surya: Dongeng Afrizal

Dongeng Afrizal

Dongeng Afrizal adalah kumpulan cerpen Pringadi Abdi Surya yang pertama, terbit tahun 2011. Sebagian cerpen di dalamnya sudah pernah dimuat di koran. Dalam kumpulan cerpen ini pula, saya banyak bermain imajinasi dan pola-pola kejutan (plot-twisted) yang katanya sih, cukup sulit tertebak. Silakan diunduh ya.

Ada 15 cerita di dalamnya. Mulai dari Surat Kedelapan hingga Senja Terakhir di Dunia.

Oh, ya, pengaruh Seno Gumira Ajidarma masih sangat kental di dalam penceritaan. Secara, saya memang penggemar beliau,

Berikut tautannya Dongeng Afrizal

Jika berkenan, mohon dishare postingan ini ke medsos masing-masing ya. Terima kasih.