Category Archives: cerpen

Cerpen | Otak Ayam (Detik, 20 Oktober 2018)

 

Cerpen ini dimuat di Detik, 20 Oktober 2018.

Tiga kali tiga sama dengan enam, dan aku dibilang tak lebih berotak ayam.

Aku memang tak pandai berhitung. Matematikaku tak pernah lebih dari lima setiap ulangan di sekolah. Entah aku yang bodoh atau guru Matematika itu yang tak pandai mengajar. Tapi, masalah kesabaran aku pastilah jagonya. Berkali-kali aku dihukum, disuruh berdiri di depan kelas dengan menaikkan satu kaki dan menjewer telinga secara bersilangan, aku tetap santai-santai saja. Termasuk ketika Yu Win memarahi aku (lagi) karena sudah kali kedua aku salah menghitung jumlah telur di dalam kotak kayu itu.
Continue reading Cerpen | Otak Ayam (Detik, 20 Oktober 2018)

Cerpen Haruki Murakami: Kino

Penerjemah Ika Yuliana. Sumber: Ceruk Aksara

LAKI-LAKI itu selalu duduk di tempat yang sama, di bangku terjauh di ujung meja bar. Ketika tempat itu kosong, tentu saja, tapi bangku itu nyaris tidak pernah ditempati. Barnya jarang penuh sesak, dan tempat duduk itu adalah yang paling tersembunyi sekaligus paling tidak nyaman. Tangga di belakangnya membuat atapnya miring dan rendah, jadi sulit sekali berdiri di sana tanpa membuat kepalamu terbentur. Laki-laki itu tinggi, tapi karena suatu alasan, memilih tempat yang menyempil dan sempit itu.

Kino ingat kali pertama laki-laki itu datang ke barnya. Penampilannya langsung menarik perhatian Kino—kepala gundul kebiruan, tubuh yang kurus tapi berbahu lebar, kilatan mata tajam, tulang pipi menonjol, dan kening yang lebar. Laki-laki itu tampaknya berumur tiga puluhan, dan dia mengenakan jas hujan panjang berwarna abu-abu meskipun tidak sedang turun hujan. Awalnya, Kino menganggap laki-laki itu anggota yakuza yang sedang berjaga di daerahnya. Waktu itu pukul 7.30, pada suatu malam yang dingin di bulan April, dan barnya sedang tak berpengunjung. Laki-laki itu memilih duduk di ujung meja bar, menanggalkan jas hujannya, memesan bir dengan suara pelan, kemudian membaca buku tebal dengan tenang. Setengah jam kemudian, birnya sudah habis, dia mengangkat tangannya satu atau dua inci untuk memanggil Kino, kemudian memesan wiski. “Merek apa?” tanya Kino, tapi laki-laki itu bilang dia tidak punya merek favorit. Continue reading Cerpen Haruki Murakami: Kino

Cerpen: Venesia

Cerpen ini menempati urutan 4 dalam lomba menulis cerpen bertema Perayaan Masa Depan yang diselenggarakan oleh Shira Media.

Venesia

K mematikan televisi. Bosan sudah ia dengan kalimat-kalimat dari para narasumber yang membincangkan tema “Bagaimana Nasib Indonesia 20 Tahun Mendatang”.

Semuanya klise. Tidak ada yang baru. Dua puluh tahun lalu, ia menonton acara yang sama pada jam yang sama dengan tema yang sama dan isi perbincangannya pun kurang lebih sama. Nasib Indonesia 20 Tahun Mendatang ditentukan oleh kepemimpinan yang baik dan benar. Lalu setiap narasumber mengajukan calon pemimpin yang mereka idam-idamkan, partai pengusungnya, dan bagaimana nanti pada pemilu, jangan sampai tergiur politik uang. Alamakjang!

Besok K harus berangkat ke kantor. Kantornya di Jakarta Pusat, sedangkan K tinggal di Bogor. Dulu, K naik KRL sampai ke Juanda. Namun sekarang, KRL hanya berhenti sampai Manggarai. Setelah itu, K harus berganti moda transportasi air.

Ya, Jakarta tenggelam.

Mimpi jadi Venesia baru itu akhirnya terlaksana 10 tahun lalu. Reklamasi di utara Jakarta membawa bencana tak terduga. Dimulai dengan gempa bumi yang tiba-tiba menurunkan permukaan tanah (yang tentu penjelasan ilmiahnya tak akan dijelaskan di dalam cerita ini), air laut berduyun-duyun datang memenuhi kota. Untungnya, kecepatan arus air tidak sama dengan kecepatan tsunami di Aceh. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Semua warga berhasil menyelamatkan diri.

Hebatnya, ketika air sudah tenang (baca: menggenang), warga Jakarta kembali lagi ke rumah-rumahnya dan menolak pindah.

“Kami sudah terbiasa dengan banjir, bahkan sebelum kami dilahirkan,” ucap Narasumber A.

“Kami tidak mau ke pengungsian. Di sana, nanti kami cuma makan mi instan. Kata Mama, tidak baik terlalu sering makan mi instan. Bahaya. Usus saya bisa keriting. Bukan cuma itu, kebanyakan makan mi bikin titit saya kecil!” ucap Narasumber B.

Sebagai pemerintah yang baik, kantor pemerintah tetap bertahan di ibukota, mengikuti pilihan rakyatnya. Rencana pemindahan ibukota ke Palangkaraya dibatalkan. Setelah masa konsolidasi dan adaptasi dengan keadaan air yang tidak kunjung surut, gedung-gedung dimodifikasi dengan sedemikian rupa sehingga bisa digunakan. Air bisa dikurung dalam wilayah tertentu (sejarah dan teknis mengenai perombakan gedung dan tata kelola air bisa disimak di Majalah Jakarta Vol. 6 Nomor III Tahun 2028).

Keesokan harinya, kereta sudah menunggu K di Stasiun Bogor. Pemandangan yang sama setiap hari kerja harus K saksikan begitu K masuk gerbong. Kepadatan yang sama. Orang-orang duduk memakai masker dan berpura-pura tidur agar tidak dipaksa menyerahkan tempat duduknya. Orang-orang berdiri dan langsung bermesra-mesraan dengan ponselnya. K paham alasan banyak orang lebih dekat ke ponsel. Ponsel-ponsel itu tidak pernah menolak disentuh, sedangkan para kekasih banyak maunya.

Dunia dalam 20 tahun tidak begitu banyak berubah. Karakternya. Budayanya. Teknologinya. Semua itu dipicu oleh kekolotan kepemimpinan Donald Trump di Amerika.

 

~

 

Turun di Manggarai, K harus mengantre untuk menaiki kapal. Di depannya, seorang perempuan tampak kepayahan memegang gulungan karton dan papan tulis mini. Perempuan itu berbadan mungil, rambutnya dikuncir, mengenakan kemeja kotak-kotak. Tidak ada yang istimewa.

Jiwa maskulin yang dimiliki K menghasilkan rasa iba. Ingin rasanya K menolong membawakan papan tulis mini yang lebih lebar dari lebar tubuh perempuan itu. Namun, di stasiun, segala hal bisa menjadi lebih sensitif. Tawaran pertolongan bisa dianggap seksis. Dalam KUHP yang baru direvisi 19 tahun yang lalu, seksisme termasuk kejahatan. Pidana umum. Sama sifatnya dengan pasal penghinaan presiden dan kumpul sejenis. Bisa diproses tanpa perlu menunggu adanya pelaporan.

Namun, K percaya takdir. Papan tulis itu jatuh dari dekapan si perempuan, merebah ke dekat kaki K. K tak melewatkan kesempatan itu. Ia memungut papan tulis itu dan segera menyerahkannya.

Perempuan itu tersenyum. Namun, ia tak berkata apa-apa.

K masih percaya takdir. Takdir yang ia percayai itu menempatkan K dan si perempuan dalam satu kapal. Duduk bersebelahan pula. Lebar papan tulis yang lebih lebar dari tubuh si perempuan menyebabkan ada bagian papan tulis yang memakan tempat di depan K. Mau tak mau, si perempuan kembali tersenyum, dan kali ini mengucapkan dua patah kata, “Maaf ya….”

“Tidak masalah,” jawab K.

Kapal mulai melaju pelan. Rasa iba K kini bercampur dengan rasa ingin tahu.

Hati-hati, K memulai percakapan.

“Kamu mau ke mana dengan papan tulis itu?” ucap K.

Perempuan itu menoleh ke K, mengamati K lebih dalam sebelum memutuskan menjawab, “Istana.”

“Istana Negara?”

“Iya, selain Istana Negara, ada istana apalagi di Jakarta?”

“Tamu presiden dong?”

“Tidak. Saya hanya akan berada di depan Istana Negara saja. Tidak masuk.”

Hari itu Kamis. K mengingat sesuatu. Aksi Kamisan. Tiga puluh tiga tahun yang lalu, seorang aktivis kemanusiaan mati dibunuh di atas pesawat. Ia diracun. Kematiannya penuh misteri dan tak pernah terungkap siapa dalang sesungguhnya atas pembunuhan tersebut. Dua atau tiga tahun kemudian, sekelompok orang memulai aksinya memprotes pemerintah dengan aksi diam setiap Kamis sore. Aksi itu rutin dilakukan hingga sekarang. Karena kawasan istana juga terdampak genangan, mereka sengaja menyewa perahu dan memarkirkan perahunya di tempat khusus yang sudah disediakan untuk demonstrasi, lalu melakukan aksinya dengan berdiri di atas kapal. K berpikir si perempuan ini adalah salah satu peserta aksi tersebut.

“Aku tak menyangka perempuan semuda kamu setegar itu untuk berada di depan Istana Negara…” ujar K.

“Maaf, bukannya saya marah atau apa, maksud kalimat Anda itu apa dengan kata perempuan dan semuda. Apakah perempuan dan semuda adalah sebuah ukuran ketegaran?”

“Oh, bukan maksud saya…. Maaf, ya?”

Kemudian hening.

Kapal melaju melalui rute yang sama dengan rute KRL seharusnya. Dari Manggarai ke Cikini, dari Cikini ke Gondangdia, lalu melintas langsung di Gambir sebelum berhenti di Juanda. Dari Juanda, K akan melanjutkan perjalanan dengan perahu yang lebih kecil menuju Budi Utomo.

Perempuan itu juga turun di Juanda. K baru sadar, ia belum tahu nama perempuan itu.

K sadar, satu hal yang berubah pada zaman ini adalah nama tak begitu penting. Orang-orang tak butuh tahu atau saling mengenal satu sama lain. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Kesibukan itulah yang membuat orang-orang memanggil dirinya hanya dengan K. Karena kebiasaan pemanggilan nama itu, kini K sendiri pun lupa nama aslinya. Ia tidak bisa mengecek namanya di KTP. Tepatnya, ia tidak lagi punya KTP. Sejak ada perubahan KTP menjadi KTP elektronik dua puluh tahunan lalu, K tidak kunjung menerima kartu identitasnya itu. Dua puluh tahunan, K merasa gagal mengurus identitasnya sendiri.

Jam dinding di pemberhentian kapal itu masih menunjukkan pukul delapan pagi kurang sedikit. K baru menyadari perempuan tadi tak mungkin ke aksi kamisan.

Semacam kesadaran menyambangi K. Dua puluh tahun lebih sudah K berada di Jakarta. Selama itu pula, K terjebak dalam rezim anti pikiran. K masih ingat betul mula-mula dari rezim itu adalah kewajiban izin ke Kementerian Dalam Negeri bila hendak melakukan penelitian. Sejak saat itu, tidak ada lagi penelitian yang independen. Tidak ada lagi akademisi yang independen. Mister R, yang dijuluki Bapak Logika Indonesia, dipenjara seumur hidup. Tiga tahun lalu ia meninggal dunia, dan tidak ada yang melayatinya. Banyak orang sudah lupa.

Ya, orang-orang zaman ini adalah orang-orang yang pandai melupakan.

Akademisi yang tidak independen (begitulah keyakinan K) mula-mula mengatakan bahwa vetsin (baca: micin) tidak berbahaya. Vetsin tidak ada hubungannya dengan menurunnya tingkat kecerdasan. Karena itu, orang-orang yang mula-mula terhina disebut generasi vetsin menjadi bangga atas julukan tersebut.

Kini, iklan vetsin di mana-mana.

Klasifikasi generasi menjadi:

  1. Baby Boomers. Kelahiran 1960 ke bawah.
  2. Generasi X. Kelahiran 1961-1980.
  3. Generasi Y/Generasi Milenial. Kelahiran 1981-2000.
  4. Generasi Z. Kelahiran 2001-2010.
  5. Generasi Alpha. Kelahiran 2001-2020.
  6. Generasi Beta. Kelahiran 2021-sekarang.
  7. Generasi Vetsin—tidak terikat dengan tahun kelahiran. Setiap orang berhak menjadi Generasi Vetsin, dengan ciri utama tidak merasa makanan enak kalau tanpa dibubuhi vetsin.

Tokoh kita, K, termasuk generasi milineal. Generasi milineal seperti fosil dinosaurus pada zaman sekarang. Sebagai generasi milenial, K sangat membenci vetsin. Ia selalu teringat pesan ibunya, bahwa vetsin bikin bodoh. Vetsin juga bikin orang jadi banci.

K merasa pedih mengingat kejadian dua puluh tahun lalu. Tepat setelah kejadian tenggelamnya Jakarta, Pemerintah juga memasukkan pasal penghinaan terhadap vetsin dalam delik pidana umum dalam KUHP. Ibu tokoh kita yang tersayang termasuk yang diciduk gara-gara menuliskan ketidaksukaannya terhadap vetsin.

            (Sayangnya, dalam cerita ini kita tidak akan membahas lebih panjang tentang tokoh kita, K, karena hanya akan bikin pembaca bosan).

            Sesampainya di kantor, K segera menyalakan televisi. Barangkali ada bahasan yang lebih menarik dari Bagaimana Indonesia 20 Tahun Mendatang?

Mula-mula K menyimak rangkuman berita sepakbola. K sudah melakukan hal itu sepanjang hidupnya. Sepakbola tetap digemari mayoritas manusia. Tiba pada berita bola nasional, Persija kembali harus mengakui keunggulan lawannya, Sriwijaya FC. Meski bermain sebagai tuan rumah, Persija tidak benar-benar bermain sebagai tuan rumah. Tapi, K tidak heran. Persija sudah kehilangan markasnya, bahkan sebelum Jakarta tenggelam.

Keasikan K menyaksikan berita bola itu tiba-tiba harus terganggu. Breaking News (catatan: pada masa ini, breaking news berarti semua stasiun televisi menayangkan berita yang sama tanpa terkecuali). Seorang perempuan baru saja ditangkap aparat keamanan di depan istana negara. Ia dengan tegar mengangkat papan tulis yang lebih lebar dari tubuhnya. Karton-karton ia kambangkan di sekitar kapalnya. Tulisan itu sekilas tak bermasalah, “Selamatkan generasi kami dari vetsin!” (Ditulis dengan spidol warna merah).

Setelah terpampang wajahnya secara jelas, K baru menyadari perempuan itu perempuan yang ditemuinya tadi. K pun menyaksikan berita itu sampai habis dan hasilnya, ia hanya merasa kesal. Sampai akhir, tak sekali pun, pembawa berita menyebutkan nama perempuan itu.

Pasti karena perempuan itu punya nasib yang sama dengannya, kartu identitas barunya belum jadi-jadi juga!

 

(2018)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Raymond Carver: Apa yang Kita Bicarakan Ketika Kita Membicarakan Cinta

Diterjemahkan Arif Abdurahman

Temanku Mel McGinnis sedang bicara. Mel McGinnis adalah seorang kardiolog, dan seringnya itu yang membuat dia punya hak bicara.

Kami berempat sedang duduk melingkar di meja dapurnya minum gin. Sinar matahari menaungi dapur dari jendela lebar di belakang bak cuci. Di sana ada Mel dan aku dan istri keduanya, Teresa—Terri, kami memanggilnya—dan istriku, Laura. Kami tinggal di Albuquerque. Tapi kami semua berasal dari tempat berbeda.

Ada seember es di atas meja. Gin dan air tonik terus digilir, dan entah bagaimana kita sampai pada bahasan tentang cinta. Mel berpikir bahwa cinta sejati tak lain tak bukan adalah cinta spiritual. Dia bilang dia sudah menghabiskan lima tahun di sebuah seminari sebelum berhenti untuk pindah ke sekolah kedokteran. Dia bilang dia masih teringat pada tahun-tahun di seminari sebagai tahun terpenting dalam hidupnya.

Terri menceritakan kalau pria yang pernah tinggal bersama sebelum dia tinggal dengan Mel mencintainya sampai-sampai dia mencoba membunuh Terri. Lalu Terri berkata, “Dia memukulku suatu malam. Dia menyeretku ke ruang tengah di pergelangan kakiku. Dia terus bilang, ‘aku cinta kamu, aku cinta kamu, dasar jalang.’ Dia terus menyeretku mengelilingi ruang tengah. Kepalaku terus membentur barang-barang.” Terri melihat sekeliling meja. “Apa yang dapat kau lakukan dengan cinta semacam itu?”

Terri adalah seorang wanita tirus dengan wajah cantik, mata gelap, dan rambut coklat yang tergerai ke bawah punggungnya. Dia suka kalung terbuat dari pirus, dan anting-anting berliontin panjang.

“Oh Tuhan, jangan tolol. Itu bukan cinta, dan kau tahu itu,” ucap Mel. “Aku tak tahu kau sebut apa itu, tapi aku yakin kau tak bakal sebut itu cinta.”

“Katakan apa yang kau ingin, tapi aku tahu itu cinta,” kata Terri. “Itu terdengar gila bagimu, tapi itu sangat nyata. Tiap orang berbeda, Mel. Memang, kadang-kadang ia berlaku sinting. Oke. Tapi dia mencintaiku. Dengan caranya sendiri, tapi ia mencintaiku. Ada cinta di sana, Mel. Jangan bilang itu bukan cinta.”

Mel mengeluarkan napasnya. Dia memegang kacamatanya dan berpaling ke Laura dan diriku. “Pria itu mengancam akan membunuhku,” ucap Mel. Dia menyelesaikan minumannya dan meraih botol gin. “Terri seorang yang romantis. Terri adalah orang yang percaya tendanglah-aku-sehingga-aku-tahu-bahwa-kau-mencintaiku. Terri, sayang, jangan menatap seperti itu.” Mel menjangkau seberang meja dan menyentuh pipi Terri dengan jari-jarinya. Dia menyeringai padanya.

“Sekarang dia ingin mereka-reka,” ucap Terri.

“Mereka-reka apa?” tanya Mel. “Apa yang harus direka-reka? Aku tahu apa yang kutahu. Hanya itu.”

“Ngomong-ngomong, kenapa kita mulai membahas yang begini?” ucap Terri. Dia mengangkat gelasnya dan menyesapnya. “Mel selalu punya cinta di pikirannya,” ucapnya. “Benar kan, sayang?” Dia tersenyum, dan aku pikir itu untuk penghabisan.

“Aku hanya tak mau menyebut perilaku Ed itu cinta. Hanya itu yang kumaksud, sayang,” kata Mel. “Bagaimana menurut kalian?” Mel berkata pada Laura dan aku. “Apakah itu terdengar sebagai cinta bagi kalian?”

“Aku orang yang salah untuk ditanya,” kataku. “Aku bahkan tak tahu siapa pria itu. Aku hanya pernah mendengar namanya disebut suatu kali.. Aku tak kenal. Kau harus tahu dulu rinciannya. Tapi kupikir apa yang kau sebut adalah bahwa cinta itu sesuatu yang absolut.”

Mel berkata, “Itu jenis cinta yang kubicarakan. Jenis cinta yang kubicarakan adalah, bahwa kau tak mencoba untuk membunuh orang.”

Laura berkata, “Aku tak tahu apapun tentang Ed, atau apapun tentang situasinya. Tapi siapa yang bisa menghakimi situasi seseorang?”

Aku menyentuh punggung tangan Laura. Dia memberiku senyum cepat. Aku memegang tangan Laura. Begitu hangat, kuku jarinya dipelitur, benar-benar terawat. Aku mengedari pergelangannya dengan jari-jariku, dan aku merangkulnya.

*

“Ketika aku pergi, dia meminum racun tikus,” ucap Terri. Dia mendekap lengannya dengan tangannya. “Mereka membawanya ke sebuah rumah sakit di Santa Fe. Di sana tempat kami tinggal saat itu, sekitar sepuluh mil jauhnya. Mereka menyelamatkan nyawanya. Tapi gusinya jadi rusak karenanya. Maksudku mereka mencabut giginya. Setelahnya, giginya jadi seperti taring. Oh Tuhan,” kata Terri. Dia menunggu semenit, lalu melepaskan tangannya dan meraih gelasnya.

“Sampai segitunya!” ucap Laura.

“Dia lumpuh sekarang,” kata Mel. “Dia sudah mati.”

Mel menyodorkan piring berisi limun. Aku mengambil sepotong, meremasnya ke dalam minumanku, dan mengaduk es batu dengan jariku.

“Itu makin buruk,” ucap Terri. “Dia menembak dirinya sendiri tepat di mulut. Tapi dia melakukannya dengan serampangan juga. Ed yang malang,” katanya. Terri menggeleng kepalanya.

“Ed malang apanya,” kata Mel. “Dia seorang yang berbahaya.”

Mel berusia empat lima. Dia tinggi dan rambut lembut mengembang berkeriting. Wajah dan lengannya coklat karena main tennis. Ketika dia tak mabuk, gerak-geriknya, semua gerakannya, begitu saksama, sangat hati-hati.

“Dia mencintaiku, Mel. Hargai itu,” bela Terri. “Itulah yang kuminta. Dia memang tak mencintaiku seperti caramu mencintaiku. Aku tak bilang begitu. Tapi dia memang mencintaiku. Harga diriku, bisakah?”

“Apa yang kau maksud, bahwa dia bertindak serampangan?” kataku.

Laura mencondongkan diri bersama gelasnya. Dia meletakkan sikunya di atas meja dan memegang gelasnya dengan kedua tangan. Dia menatap dari Mel ke Terri dan menunggu dengan tatapan bingung di wajah polosnya, seperti terkejut bahwa hal itu terjadi pada orang yang dekat denganmu.

“Bagaimana dia bertindak ceroboh ketika dia bunuh diri?” tanyaku.

“Aku akan menceritakan pada kalian apa yang terjadi,” kata Mel. “Dia mengambil pistol dua puluh dua yang dia beli untuk mengancam Terri dan diriku. Oh, aku serius, pria itu selalu mengancam. Kalian harus melihat cara kami hidup saat masa-masa itu. Seperti buronan. Aku bahkan beli sebuah pistol untuk jaga-jaga. Bisakah kalian percaya? Seorang pria sepertiku? Tapi aku memang punya. Aku beli satu untuk jaga diri dan membawanya dalam sarung kompartemen. Kadang aku harus meninggalkan apartemen di tengah malam. Untuk pergi ke rumah sakit, kan? Terri dan aku belum menikah waktu itu, dan istri pertamaku punya rumah dan anak-anak, seekor anjing, segalanya, dan Terri dan aku tinggal di apartemen itu. Kadang, seperti yang kubilang, aku mendapat telepon saat malam dan harus pergi ke rumah sakit jam dua atau tiga saat dini hari. Sangat gelap di lapang parkir, dan aku selalu bersimbah keringat sebelum aku bisa sampai di mobilku. Aku tak pernah tahu kalau dia bakal muncul dari semak-semak atau dari belakang mobil dan mulai menembaki. Maksudku, pria itu sinting. Dia bisa merakit bom, segalanya. Dia pernah menelepon di sembarang jam dan bilang kalau dia butuh bicara dengan dokter, dan ketika aku telepon balik, dia bakal bilang, ‘Bajingan gila, hari-harimu akan habis.’ Hal kecil macam itu. Aku bilang pada kalian, begitu menakutkan.”

“Aku masih merasa bersalah padanya,” ucap Terri.

“Itu terdengar seperti sebuah mimpi buruk,” ucap Laura. “Tapi apa yang sebenarnya terjadi setelah dia menembak dirinya sendiri?”

Laura adalah seorang sekretaris hukum. Kami bertemu dalam urusan profesional. Sebelum kami saling mengenal, itu hanya sebatas urusan pernikahan. Dia berusia tiga puluh lima, tiga tahun lebih muda dariku. Tak ada alasan untuk tak jatuh cinta, kami berdua suka satu sama lain dan menikmati kebersamaan tadi. Dia mudah bergaul.

*

“Apa yang terjadi?” tanya Laura.

Mel berkata, “Dia menembak dirinya tepat di mulur di dalam kamarnya. Seseorang mendengar suara tembakan dan melapor ke induk semang. Mereka masuk dengan sebuah kunci duplikat, melihat apa yang terjadi, dan memanggil ambulans. Aku ada di situ saat mereka membawanya masuk, masih hidup tapi kritis. Pria itu hidup selama tiga hari. Kepalanya membengkak menjadi dua kali lebih besar dari ukuran normal. Aku tak pernah melihat yang seperti itu, dan aku harap tak pernah melihat lagi. Terri ingin masuk dan duduk dengannya saat mengetahui soal itu. Kami bertengkar karenanya. Aku pikir dia tidak perlu melihatnya dengan keadaan seperti itu. Aku pikir dia tidak perlu melihatnya, dan aku masih berpikir begitu.”

“Siapa yang menang?” tanya Laura.

“Aku ada di ruangannya ketika dia meninggal,” ucap Terri. “Dia tidak pernah siuman. Tapi aku duduk di sampingnya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Dia berbahaya,” kata Mel. “Jika kau berkata itu cinta, silahkan saja.”

“Itu memang cinta,” bela Terri. “Memang, itu tidak normal bagi kebanyakan orang. Tapi dia rela mati karenanya. Dia mati karena cinta.”

“Aku sangat yakin yang begitu tak dinamakan cinta,” ucap Mel. “Maksudku, tak ada satupun yang tahu alasan apa yang dia lakukan. Aku telah melihat banyak bunuh diri, dan aku tak pernah bisa tahu apa yang mereka pikirkan.”

Mel meletakkan kedua tangannya di belakang lehernya dan menggeser kursinya ke belakang. “Aku tak tertarik dengan cinta semacam itu,” ucapnya. “Jika itu cinta, silahkan saja.”

Terri berkata, “Kami ketakutan. Mel bahkan melayangkan gugatan dan menyurati kakaknya di California yang mantan Baret Hijau. Mel bilang padanya untuk mengawasi jika ada apa-apa terjadi padanya.”

Terri menyesap minuman dari gelasnya. Dia berkata, “Tapi Mel memang benar—kami tinggal seperti buronan. Kami ketakutan. Mel bahkan, tak apa kan, sayang? Aku bahkan menelepon polisi suatu kali, tapi mereka tak memberi bantuan. Mereka bilang mereka tak bisa apa-apa sampai Ed benar-benar melakukan sesuatu. Sungguh konyol kan?” ucap Terri.

Dia menuangkan tetes gin terakhir ke dalam gelasnya dan menggoyang botolnya. Mel berdiri dari kursinya dan pergi ke lemari. Dia mengambil botol lainnya.

*

“Baik, Nick dan aku tahu apa itu cinta,” ucap Laura. “Bagi kami, maksudku,” kata Laura. Dia mengantukkan  lututku dengan lututnya. “Kau harusnya bilang sesuatu sekarang,” kata Laura, dan melayangkan senyumnya padaku.

Sebagai sebuah jawaban, aku memegang tangan Laura dan mengangkatnya dekat ke bibirku. Aku mencium tangannya dengan begitu menggebu. Semuanya dibuat geli.

“Kami beruntung,” kataku.

“Kalian ini,” ucap Terri. “Hentikan itu sekarang. Kalian membuatku pusing saja. Kalian baru bulan madu, demi Tuhan. Kalian masih bau kencur, astaga. Tunggu sebentar lagi. Sudah berapa lama kalian bersama sampai sekarang? Sudah berapa lama? Setahun? Sudah lebih dari setahun?”

“Akan sampai setahun setengah,” ucap Laura, memerah dan tersenyum.

“Oh, sekarang,” kata Terri. “Tunggu sebentar lagi.”

Dia memegang minumannya dan menatap Laura.

“Aku hanya bercanda,” ucap Terri.

Mel membuka gin dan berjalan memutari meja dengan botolnya itu.

“Silahkan,” ucapnya. “Mari bersulang. Aku ingin bersulang. Bersulang untuk cinta. Untuk cinta sejati,” kata Mel.

Kami mendentingkan gelas.

“Untuk cinta,” kami berucap.

*

Dari luar di halaman belakang, seekor anjing mulai menggonggong. Daun-daun dari pohon aspen yang menempel di jendela mendetik kacanya. Matahari petang itu seperti sebuah ketampilan dalam ruangan ini, cahaya yang murah hati. Kami bisa berada di mana saja, dimanapun mempesona. Kami mengangkat gelas-gelas kami sekali lagi dan menyeringai satu sama lain seperti anak-anak yang bersepakat pada sesuatu yang terlarang.

“Aku akan ceritakan soal cinta sejati itu,” ucap Mel. “Maksudku, aku akan kasih satu contoh. Dan kalian bisa mengambil kesimpulan.” Dia menuangkan gin ke dalam gelasnya. Dia menambahkan sebuah es dan sepotong limun. Kami menunggu dan menyesap minuman kami. Laura dan aku menyentuhkan lutut lagi. Aku meletakkan tanganku di atas paha hangatnya dan tetap di situ.

“Sebenarnya apa yang kita tahu soal cinta?” tanya Mel. “Sepertinya bagiku kita-kita ini masih pemula soal cinta. Kita bilang kita cinta satu sama lain dan begitulah kita, aku tak meragukan itu. Aku mencintai Terri dan Terri pun mencintaiku, dan kalian cinta satu sama lain juga. Kau tahu jenis cinta yang kubicarakan sekarang. Cinta fisik, impuls yang mendorong dirimu pada seseorang yang spesial, sama seperti cinta orang tersebut, intisarinya, seolah-olah. Cinta badaniah dan, baik, sebut itu cinta sentimental, memikirkan dari hari ke hari pada seseorang. Tapi kadang aku punya kesulitan menjelaskan pada fakta bahwa aku harus mencintai istri pertamaku juga. Tapi aku memang cinta, aku tahu aku cinta. Jadi aku pikir aku suka Terri dalam hal tadi. Terri dan Ed.” Dia memikirkan soal itu dan memulai lagi. “Ada suatu waktu ketika aku pikir aku cinta istri pertamaku ketimbang cinta pada kehidupan. Tapi sekarang aku benci ketekunannya. Memang begitu. Bagaimana kau menjelaskannya? Apa yang terjadi pada cinta tadi? Apa yang terjadi pada cinta tadi, adalah apa yang ingin kutahu. Aku harap seseorang bisa memberitahuku. Lalu ada Ed. Oke, kita kembali pada Ed. Dia mencintai Terri sampai-sampai ia ingin membunuhnya dan dia beralih membunuh dirinya sendiri.” Mel berhenti bicara dan menelan habis minuman dalam gelasnya. “Kalian telah bersama selama delapan belas bulan dan kalian saling mencintai satu sama lain. Itu tampak dari diri kalian. Kalian bergelora karenanya. Tapi kalian cinta orang lain sebelum kalian bertemu. Kalian berdua telah menikah sebelumnya, sama seperti kita. Dan kalian tentu saja saling mencintai orang sebelumnya juga. Terri dan aku telah hidup bersama selama lima tahun, telah menikah untuk empat tahun. Dan hal-hal tak menyenangkan, hal-hal buruk, tapi ada juga hal-hal membahagiakan juga, sebuah anugerah, kau boleh bilang itu, adalah jika sesuatu terjadi pada salah satu dari kami—maaf jika aku berkata begini—tapi jika sesuatu terjadi pada salah satu dari kami esok, aku pikir seseorang yang lain, orang lain, bakal bersedih untuk sementara waktu, kau tahu, tapi pihak yang masih hidup akan pergi dan mencintai lagi, bakal punya seseorang yang lain segera. Semua ini, semua cinta yang kita bicarakan ini, hanya akan jadi kenangan. Mungkin bukan sebuah kenangan. Apakah aku salah? Apakah aku sesat? Karena aku ingin kalian meluruskanku jika kalian pikir aku salah. Aku ingin tahu. Maksudku, aku tak tahu apapun, dan aku orang pertama yang mengakuinya.”

“Mel, demi Tuhan,” ucap Terri. Dia mengulurkan tangan dan menggenggam pergelangan tangannya. “Apa kau sudah mabuk? Sayang? Apa kau mabuk?”

“Sayang, aku hanya bicara,” kata Mel. “Tak masalah, kan? Aku tak harus mabuk dulu untuk mengatakan apa yang kupikirkan. Maksudku, kita semua sedang ngobrol, kan?” tanya Mel. Dia mempertetapkan matanya pada Terri.

“Sayangku, aku tidak sedang mengkritik,” ucap Terri.

Dia mengangkat gelasnya.

“Aku sedang tidak ada panggilan hari ini,” kata Mel “Aku ingatkan kalian. Aku sedang tidak ada panggilan,” tegasnya.

“Mel, kami mencintaimu,” ucap Laura.

Mel menatap pada Laura. Dia menatapnya seperti jika dia tidak bisa melepasnya, seakan-akan Laura bukan wanita sebagaimana semestinya dia.

“Aku cinta kau juga, Laura,” ucap Mel. “Dan juga kau, Nick, aku cinta kau. Kau tahu sesuatu?” tanya Mel. “Kalian berdua adalah sahabat kami,” ucap Mel.

Dia mengambil gelasnya.

*

Mel berkata, “Aku ingin menceritakan sesuatu pada kalian. Maksudku, aku ingin membuktikan sebuah ihwal. Dengar, ini terjadi beberapa bulan ke belakang, tapi masih berlangsung hingga saat ini, dan ini kemungkinan besar bakal membuat kita merasa malu ketika kita berbicara seolah kita tahu apa yang kita bicarakan ketika kita membicarakan tentang cinta.”

“Ayolah,” ucap Terri. “Jangan ngomong seperti kau sedang mabuk kalau kau tak mabuk.”

“Tolong tutup mulut sekali saja dalam hidupmu,” Mel berkata sangat pelan. “Bisakah kau melakukannya untuk semenit saja? Jadi seperti yang kubilang, ada pasangan tua yang mengalami kecelakaan mobil di perbatasan negara bagian. Seorang bocah menabrak mereka dan mereka terburai bagai tai dan tak ada yang memberi mereka kesempatan untuk ditolong.”

Terri menatap kepada kami lalu kembali pada Mel. Dia terlihat khawatir, atau mungkin itu sebuah kata yang terlalu kuat.

Mel menyodorkan botol mengelilingi meja.

“Aku mendapat panggilan malam itu,” ucap Mel. “Saat itu Mei atau mungkin Juni. Terri dan aku baru duduk untuk makan malam ketika rumah sakit menelepon. Ada insiden ini di perbatasan negara bagian. Bocah mabuk, remaja, mengendari pickup ayahnya ke tempat kemping yang ada pasangan tua tadi. Mereka sudah masuk pertengahan tujuh puluhan, pasangan tadi. Si bocah—delapan belas, sembilan belasan—meninggal di tempat. Roda kemudinya menghantam sternumnya. Pasangan tua tadi, mereka selamat, kalian mengerti. Maksudku, nyaris saja. Tapi mereka kena beragam masalah. Beragam fraktur, luka dalam, pendarahan, memar, laserasi, dan mereka masing-masing mengalami gegar otak. Mereka sungguh sial, percaya padaku. Dan, tentu saja, usia mereka makin menyiksa mereka. Aku bilang yang wanita lebih buruk ketimbang yang lelaki. Limpa yang bocor dengan segala yang lain. Kedua tempurung lututnya pecah. Tapi mereka memakai sabuk pengaman dan, demi Tuhan, itulah yang menyelamatkan mereka waktu itu.”

“Warga sekalian, ini adalah iklan layanan masyarakat dari Dewan Keamanan Nasional,” Terri menimpali. “Yang berbicara adalah, Dr. Melvin R. McGinnis.” Terri tertawa. “Mel,” ucapnya, “kadang kau kelewatan. Tapi aku mencintaimu, sayang,” katanya.

“Sayang, aku mencintaimu,” ucap Mel.

Dia menyodorkan diri ke seberang meja. Terri segera meraihnya. Mereka berciuman.

“Terri benar,” ucap Mel saat ia kembali mempertetap dirinya. “Pakai sabuk pengaman. Tapi sungguh, mereka masih utuh, orangtua tadi. Saat aku sudah tiba di sana, si bocah mati, seperti yang kubilang. Dia mati lalu dikepinggirkan, diletakkan di brankar. Aku melihat pasangan tua tadi dan memerintahkan perawat ER untuk lapor ke neurologis dan ortopedik dan beberapa ahli bedah untuk menangani segera.”

Dia minum dari gelasnya. “Aku akan mencoba agar tak terlalu panjang,” ucapnya. “Jadi kami membawa keduanya ke OR dan bekerja gila-gilaan untuk mereka malam itu. Mereka punya gairah hidup luar biasa, keduanya. Kau mungkin bakal lihat sesekali. Jadi kami melakukan segala yang kami mampu, dan sampai pagi menjelang kami memberi mereka harapan hidup fifty-fifty, mungkin kurang dari segitu bagi yang wanita. Jadi di sanalah mereka, masih hidup sampai pagi berikutnya. Jadi, oke, kami memindahkan mereka ke UGD, dimana mereka berdua masih bertahan hidup selama dua minggu, makin membaik dalam segala hal. Jadi kami mentransfer mereka ke ruang masing-masing.”

Mel berhenti bicara. “Dari sini,” ucapnya, “mari minum dulu gin murahan ini sampai habis. Lalu kita lanjut makan malam, kan? Terri dan aku tahu satu tempat baru. Itu tempat yang akan kita datangi, ke tempat baru yang kami tahu itu. Tapi kita tak akan pergi sebelum menghabiskan gin murahan setengah harga ini.”

Terri berkata, “Kita bahkan belum benar-benar makan di sana. Tapi kelihatan lumayan. Terlihat begitu dari luar, kau tahu.”

“Aku suka masakan,” ucap Mel. “Jika aku bisa mengulang semuanya, aku bakal jadi koki, kau tahu? Benar kan, Terri?” kata Mel.

Mel tertawa. Dia meraba es pada gelasnya.

“Terri tahu,” ucapnya. “Terri bisa bilang pada kalian. Tapi biarkan aku mengatakan ini. Jika aku bisa kembali lagi ke kehidupan yang berbeda, sebuah masa yang berbeda, kau tahu kan? Aku ingin kembali menjadi seorang ksatria. Kau bakal aman memakai semua baju baja itu. Sangat aman menjadi seorang ksatria sampai ditemukannya bubuk mesiu dan senapan dan pistol.”

“Mel bakal menunggang seekor kuda dan mengangkat tombak,” ucap Terri.

“Membawa rok wanita denganmu kemana pun,” timpal Laura.

“Atau hanya seorang wanita,” ucap Terri.

“Tak tahu malu,” kata Laura.

Terri berkata, “Mestinya kau kembali sebagai seorang budak belian. Seorang budak tidak punya nasib baik pada masa itu,” ucap Terri.

“Seorang budak tak pernah punya nasib baik,” kata Mel. “Tapi aku kira bahkan seorang ksatria bakal jadi biduk kepada seseorang. Bukankah itu cara sesuatu bekerja? Tapi kemudian semuanya akan selalu jadi biduk pada yang lain. Benar begitu kan? Terri? Tapi apa yang kusuka dari ksatria, di samping perempuan-perempuannya, adalah bahwa mereka punya setelan baju zirah, kau tahu, dan mereka tak bakal gampang dilukai. Tak ada mobil waktu itu, kau tahu? Tak ada remaja mabuk yang bakal merobek pantatmu.”

*

“Budak,” ucap Terri.

“Apa?” tanya Mel.

“Budak,” ulang Terri. “Itu tadi disebut budak, bukan biduk.”

“Budak, biduk,” kata Mel, “apa bedanya coba? Kau tahu apa yang kumaksud. Bener kan,” Mel berkata. “Jadi aku tak berpendidikan. Aku mempelajari sesuatu. Aku seorang ahli bedah jantung, tapi aku hanya seorang mekanik. Aku masuk dan aku bekerja gila-gilaan dan aku memperbaiki sesuatu. Tai,” ucap Mel.

“Kau tak tahu sopan santun,” ucap Terri.

“Dia hanya seorang ahli bedah yang rendah hati,” kataku. “Tapi kadang mereka tersiksa dalam baju baja itu. Mereka bahkan kena serangan jantung jika terlalu panas dan mereka bahkan kelelahan dan kehausan. Aku pernah membaca kalau mereka jatuh dari kudanya dan tak bisa bangkit lagi karena mereka terlalu lelah untuk berdiri dengan segala baju zirah yang menempel. Mereka kadang terinjak-injak oleh kuda-kuda mereka sendiri.”

“Itu sungguh buruk,” ucap Mel. “Itu sesuatu yang sungguh buruk, Nicky. Aku kira mereka hanya leyeh-leyeh dan menunggu sampai ada seseorang yang datang dan membuatkan shish kebab untuk mereka.”

“Perbudakan lainnya,” kata Terri.

“Itu benar,” ucap Mel. “Beberapa budak akan datang dan menombak seorang bajingan atas nama cinta. Atau apapun itu mereka berperang pada waktu itu.”

“Sama seperti kita yang terus berperang hari ini,” kata Terri.

Laura berkata, “Tak ada yang berubah.”

Warnanya di pipi Laura masih awas. Matanya masih cerah. Dia mendekatkan gelasnya ke bibirnya.

Mel menuangkan minumannya. Dia meneliti label secara teliti seperti sedang mempelajari deretan angka-angka yang panjang. Lalu dia secara perlahan menyimpan botolnya di bawah meja dan secara lambat meraih air tonik.

*

“Apa yang terjadi dengan pasangan tua tadi?” tanya Laura. “Kau tak menyelesaikan cerita yang kau mulai.”

Laura kesulitan menyalakan rokoknya. Koreknya selalu mati.

Sinar matahari dalam ruangan berbeda sekarang, berubah, menjadi lebih thin. Tapi daun-daun di luar jendela masih berkelip-kelip, dan aku menatap pola yang tercipta pada kaca jendela dan di atas konter Formica. Itu bukan pola yang sama, tentu saja.

“Bagaimana pasangan tua tadi?” tanyaku.

“Menua tapi jadi lebih bijak,” timpal Terri.

Mel menatap padanya.

Terri berkata, “Lanjutkan ceritamu, sayang. Aku hanya bercanda. Lalu apa yang terjadi?”

“Terri, terkadang,” ucap Mel.

“Tolong, Mel,” kata Terri. “Jangan terlalu dibawa serius, sayang. Bisakah kau bercanda?”

“Apanya yang lucu?” tanya Mel.

Dia memegang gelasnya dan menatap istrinya terus-menerus.

“Apa yang terjadi?” tanya Laura.

Mel memasang matanya pada Laura. Dia berkata, “Laura, jika aku tidak punya Terri dan jika aku tidak mencintainya dengan sangat, dan jika Nick bukan sahabatku, aku akan jatuh cinta padamu. Aku bakal membawamu kabur, sayang,” ucapnya.

“Katakan ceritamu,” kata Terri. “Lalu kita akan pergi ke tempat baru itu, oke?”

“Baik,” ucap Mel. “Sampai mana tadi aku?” tanyanya. Dia menatap ke meja kemudian dia memulai lagi.

“Aku diharuskan mengawasi keduanya tiap hari, kadang dua kali sehari jika aku tidak ada panggilan lain. Pembalut gips dan perban, dari kepala sampai kaki, mereka berdua. Kau tahu, kalian pernah lihat yang seperti ini dalam film-film. Seperti itulah yang terlihat, seperti dalam film-film. Lubang mata dan lubang hidung kecil juga lubang mulut. Dan yang wanita kakinya digantung ke atas. Tentu, suaminya sangat tertekan berkepanjangan. Bahkan setelah dia tahu bahwa istinya selamat, dia masih sangat depresi. Bukan karena kecelakaannya. Maksudku, insiden tadi adalah satu hal, tapi itu bukan semuanya. Aku mendekati lubang mulutnya, kau tahu, dan dia bilang tidak, itu sesungguhnya bukan kecelakaan tapi itu karena ia tidak bisa melihat istrinya melalui lubang matanya. Dia bilang itu yang membuatnya merasa sangat bersalah. Bisakah kau bayangkan? Aku bilang pada kalian, hati seorang pria hancur karena ia tidak bisa menggerakan kepala celakanya dan melihat istri celakanya.”

Mel menatap ke arah meja dan menggelengkan kepalanya pada apa yang akan ia katakan.

“Maksudku, itu membunuh si tua bangka hanya karena ia tidak bisa melihat si wanita celaka.”

Kami semua menatap Mel.

“Kau mengerti apa yang aku katakan?” ucapnya.

*

Mungkin kita sedikit mabuk pada saat itu. Aku tahu sangat sulit untuk menjaga sesuatu dalam fokus. Cahaya mengalir keluar dari ruangan, kembali pada jendela dimana tadi berasal. Meski tak ada yang bergerak untuk bangkit dari meja dan menyalakan lampu gantung.

“Dengar,” kata Mel. “Mari selesaikan gin sialan ini. Ada cukup tersisa buat sekali tegukan lagi. Lalu mari kita makan. Mari pergi ke tempat baru itu.”

“Dia depresi,” ucap Terri. “Mel, kenapa kau tak minum obat?”

Mel menggeleng kepalanya. “Aku sudah minum semuanya.”

“Kita semua butuh sebutir obat sekarang,” kataku.

“Beberapa orang dilahirkan untuk membutuhkan itu,” ucap Terri.

Dia menggunakan jarinya untuk meraba-raba pada sesuatu di atas meja. Lalu dia menghentikan rabaannya.

“Aku pikir aku harus menelepon anak-anakku,” kata Mel. “Apakah tak masalah? Aku akan menelepon anak-anakku,” ucapnya.

Terri berkata, “Bagaimana jika Marjorie yang mengangkat telepon? Kalian berdua, kalian sudah dengar kami soal Marjorie? Sayang, kau tahu kau tak ingin bicara dengan Marjorie. Itu bakal bikin kau tambah senewen.”

“Aku tak ingin bicara dengan Marjorie,” ucap Mel. “Tapi aku ingin bicara dengan anak-anakku.”

“Tidak ada satu hari pun Mel tidak berkata kalau dia ingin agar Marjorie menikah lagi. Atau mati saja,” Terri berkata. “Untuk satu hal,” ucap Terri, “dia membuat bangkrut kami. Mel bilang kalau itu cuma membuat dongkol dirinya bahwa Marjorie tak akan menikah lagi. Dia punya seorang pacar yang tinggal dengannya dan anak-anak, jadi Mel ikut menunjang pacarnya itu.”

“Dia alergi sama lebah,” kata Mel. “Jika aku tidak berdoa dia agar menikah lagi, aku berdoa semoga dia disengat sampai mati oleh kawanan lebah-lebah sialan.”

“Tak tahu malu kau,” timpal Laura.

“Bzzzzzzz,” kata Mel, memutar-mutar jarinya seperti lebah dan mendengung di tenggorakan Terri. Lalu dia menurukan tangannya ke sebelah sisinya.

“Dia kejam,” ungkap Mel. “Kadang aku pikir aku akan menemuinya dengan berpakaian seperti pawang lebah. Kau tahu, topinya itu seperti sebuah helm dengan plat yang menutupi wajahmu, sarung tangan besar, dan mantel lapis? Aku akan mengetuk pintunya dan melepaskan sarang lebah ke dalam rumahnya. Tapi pertama aku akan meyakinkan dulu agar anak-anak sudah di luar, tentu saja.”

Mel menyilangkan satu kakinya di atas yang lain. Kelihatan dia melakukan itu dengan sangat sulit. Lalu ia menaruh kedua kakinya di lantai dan mencondongkan diri ke depan, siku di atas meja, dagunya ditangkupkan di tangannya.

“Mungkin aku tak akan menelepon anak-anak. Mungkin itu bukan sebuah ide yang baik. Mungkin kita langsung saja makan. Bagaimana?”

“Terdengar menyenangkan buatku,” kataku. “Makan atau tidak makan. Atau tetap minum-minum. Aku bisa saja langsung ke luar menuju matahari terbenam.”

“Apa artinya itu, sayang?” tanya Laura.

“Itu hanya maksud dari apa yang kukatakan,” ucapku. “Itu artinya aku bisa saja terus lanjut. Semua itu.”

“Aku bisa makan sesuatu sendiri,” kata Laura. “Aku tak berpikir aku selapar ini dalam hidupku. Apakah ada sesuatu untuk digigit?”

“Aku akan ambil keju dan kue kering,” ucap Terri.

Tapi Terri hanya duduk di sana. Dia tidak bangkit untuk mengambil sesuatu.

Mel memutar gelasnya. Dia menumpahkan ke atas meja.

“Gin habis,” kata Mel.

Terri bertanya, “Sekarang apa?”

Aku bisa mendengar jantungku berdetak. Aku bisa mendengar jantung semuanya. Aku bisa mendengar bising manusia saat kami duduk, tak ada satu pun dari kami yang bergerak, tidak bahkan meski ruangan itu sudah gelap.

***

Diterjemahkan dari What We Talk About When We Talk About LoveDalam Birdman (2014), film peraih 4 piala Oscar ini, beberapa cerpen Raymond Carver, salah satunya cerpen ini diangkat dalam adaptasi teater Broadway.

Dalam ‘Advice on the Art of Writing Short Stories’, pada poin terakhirnya, Roberto Bolano menasehati kita, bahwa jika ingin membuat cerpen yang hebat, akrabi Anton Chekov dan Raymond Carver. Dua cerpenis terhebat dari abad ke-20.

Sumber: https://yeaharip.com/2016/04/23/apa-yang-kita-bicarakan-ketika-kita-membicarakan-cinta/

Raymond Carver: Kenapa Kalian Tak Berdansa

Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen Raymond Carver yang berjudul What We Talk About When We Talk About Love.

Penerjemah Dea Anugrah

 

Di dapur, dia menuang minuman lagi dan memandangi isi kamar tidurnya di halaman depan. Kasur telanjang. Seprai bergaris-garis terlipat di samping dua bantal di atas lemari laci. Benda-benda lain tampak sebagaimana saat masih di kamar—meja kecil dan lampu baca di samping ranjang di sisinya, meja kecil dan lampu baca di sisi istrinya.

Sisinya, sisi istrinya.

Dia memikirkan itu sambil menyesap wiski.

Ada meja rias beberapa langkah dari ujung bawah ranjang. Dia memindahkan isinya ke sejumlah kardus pagi-pagi, dan kardus-kardus itu kini teronggok di ruang tamu. Pemanas ruangan mungil terpacak di samping meja rias. Kursi rotan dengan bantal hias bersandar di ujung bawah ranjang. Seperangkat alat dapur alumunium yang mengkilap berdesakan di jalur menuju garasi. Sehelai muslin kuning yang kelewat besar, hadiah dari seseorang, melapisi meja dan ujung-ujungnya terjulai. Di atasnya ada pot berisi tanaman fern, sekotak sendok-garpu, dan sebuah pemutar piringan hitam—juga pemberian orang.

Televisi model konsol berukuran besar bercokol di atas meja kopi, dan beberapa langkah dari situ ada sofa dan kursi dan lampu tegak. Dia mendesakkan meja kerja ke pintu garasi. Beberapa perkakas tergeletak di atasnya, juga sebuah jam dinding dan dua gambar berbingkai. Di jalur menuju garasi ada pula kardus-kardus berisi cangkir, gelas, dan piring, yang masing-masing terbungkus koran. Dia membongkar semua lemari pagi itu. Selain tiga kardus di ruang tamu, semua barang dikeluarkannya dari rumah. Rol kabel menghubungkan barang-barang elektronik dengan colokan listrik di dalam. Segalanya berfungsi, seperti saat masih di dalam.

Sesekali ada mobil melintas pelan dan orang-orang di dalamnya memandangi barang-barang itu, tetapi tak satu pun berhenti. Seandainya jadi mereka, pikirnya, dia pun takkan berhenti.

“Kayaknya ada bazar barang bekas,” kata seorang gadis kepada laki-laki muda yang bersamanya.

Mereka sedang menggenapi apartemen kecil yang mereka tinggali.

“Mari tanya berapa harga ranjang itu,” kata si cewek.

“Dan teve itu,” ujar si cowok.

Si cowok memarkir mobil di jalur menuju garasi, tepat di depan meja dapur.

Mereka turun dan mulai memeriksa barang-barang. Si cewek menyentuh kain muslin, si cowok mencolokkan kabel blender dan menjajal mode CINCANG. Si cewek meraih sebuah loyang, si cowok menyalakan televisi dan memutar-mutar kenopnya.

Si cowok duduk di sofa dan mulai menonton. Dia menyalakan rokok, memandang berkeliling, dan menjentikkan korek kayu bekas ke rumput.

Si cewek duduk di ranjang. Dia melepas sepatu dan berbaring, seakan-akan hendak memandangi bintang-bintang. “Sini, Jack!” katanya. “Cobalah kasur ini, bawa salah satu bantal itu.”

“Empuk?” kata si cowok.

“Coba sendiri.”

Si cowok memandang berkeliling. Rumah itu gelap.

“Aku sungkan,” kata si cowok. “Biar kupastikan apakah tuan rumah ada di dalam.”

Si cewek mengempas-empaskan badannya di kasur.

“Coba dululah,” katanya.

Si cowok berbaring dan mengganjal kepalanya dengan bantal.

“Bagaimana?” tanya si cewek.

“Terasa mantap,” katanya.

Si cewek memiringkan badan dan menempelkan tangannya di pipi si cowok.

“Cium aku,” katanya.

“Ayo bangun,” kata si cowok.

“Cium dulu.”

Si cewek memejamkan matanya dan memeluk si cowok.

Si cowok berkata, “Biar kuperiksa dulu apakah ada orang di rumah itu.”

Tetapi dia hanya duduk dan diam, pura-pura menonton televisi.

Lampu-lampu mulai menyala di rumah-rumah lain di sepanjang jalan itu.

“Sepertinya lucu juga kalau,” kata si cewek. Dia cengar-cengir dan tak menyelesaikan kalimatnya.

Si cowok tertawa, tetapi tak tahu mengapa. Dan tanpa tahu mengapa, dia menyalakan lampu baca di sisinya.

Si cewek mengibas-ngibas nyamuk, sementara si cowok berdiri dan merapikan kemejanya.

“Biar kuperiksa apa ada orang,” katanya. “Mungkin rumah itu kosong, tapi kalau penghuninya ada, aku mau menanyakan apa yang terjadi.”

“Berapa pun harga yang mereka sebutkan, tawar sepuluh dolar lebih rendah. Biasanya begitu,” kata si cewek. “Lagi pula mereka pasti sedang kepepet atau semacamnya.”

“Tevenya boleh juga,” kata si cowok.

“Tanya harganya.”

Pria itu turun dari trotoar, menjinjing kantong belanjaan. Dia membawa beberapa roti tangkup, bir, wiski. Dia melihat mobil pasangan itu di jalur menuju garasi dan si cewek di atas ranjang. Dia melihat televisi menyala dan si cowok di teras.

“Halo,” katanya kepada si cewek. “Kau menemukan ranjang. Bagus.”

“Hai,” kata si cewek sembari bangkit. “Aku cuma mencobanya.” Dia menepuk-nepuk kasur. “Boleh juga.”

“Memang ranjang bagus,” kata si pria. Ia meletakkan kantong belanjaannya dan mengambil bir dan wiski.

“Kami pikir tak ada orang,” kata si cowok. “Kami berminat pada ranjang dan, mungkin, teve. Mungkin meja kerja itu juga. Berapa yang kaumau untuk ranjang ini?”

“Kupikir lima puluh dolar pantas,” kata si pria.

“Bagaimana kalau empat puluh?” tanya si cewek.

“Boleh.”

Pria itu mengambil gelas dari kardus. Dia melepaskan koran yang membungkusnya, lalu membuka segel wiski.

“Teve berapa?” tanya si cowok.

“Dua puluh lima.”

“Bagaimana kalau lima belas saja?” tanya si cewek.

“Boleh. Kukira lima belas boleh,” jawab si pria.

Si cewek menatap si cowok.

“Kalian bakal kepengin minum, Dik,” ujar si pria. “Gelas-gelas kutaruh di kardus itu. Aku akan duduk. Aku akan duduk di sofa.”

Pria itu duduk di sofa, merebahkan punggungnya di sandaran, dan memandangi si cowok dan si cewek.

Si cowok mengambil dua gelas dan menuangkan wiski.

“Cukup,” kata si cewek. “Aku mau punyaku dicampur air.”

Dia mengambil kursi dan duduk di meja dapur.

“Ada air di keran sebelah sana,” ujar si pria. “Putar saja.”

Si cowok kembali dengan wiski campur air. Dia mendeham dan ikut duduk di meja dapur. Dia menyeringai. Tetapi dia tak meminum apa-apa dari gelasnya.

Pria itu menatap televisi. Dia menghabiskan minuman dan mengisi gelasnya lagi. Dia menjulurkan tangan buat menyalakan lampu tegak. Rokoknya terlepas dari jari dan jatuh di antara bantal-bantal.

Si cewek bangkit untuk membantunya mencari.

“Jadi, apa saja yang kaumau?” ujar si cowok kepada si cewek.

Cowok itu mengeluarkan buku cek dan menjepitnya dengan bibir seakan-akan dia sedang berpikir.

“Aku mau meja kerja,” kata si cewek. “Berapa harganya?”

Si pria mengibaskan tangan, menepis pertanyaan tak masuk akal itu.

“Sebut angka,” katanya.

Dia melihat mereka duduk di balik meja dapur. Wajah keduanya yang terkena cahaya lampu mengesankan sesuatu. Mungkin baik, mungkin buruk. Entahlah.

“Aku mau mematikan teve dan menyetel musik,” kata si pria. “Pemutar vinyl ini juga dijual. Murah. Tawar saja.”

Dia menuangkan wiski lagi dan membuka sekaleng bir.

“Semuanya dijual,” ujarnya.

Si cewek mengulurkan gelas dan pria itu menuangkan wiski.

“Terima kasih,” kata si cewek. “Kau baik sekali,” kata si cewek.

“Minuman ini naik ke kepalamu,” kata si cowok. “Aku merasakannya naik ke kepalaku.” Dia mengangkat dan mengguncang-guncang gelasnya.

Si pria menghabiskan minuman dan mengisi gelasnya lagi, lalu dia menghampiri kardus berisi piringan-piringan hitam.

“Pilih salah satu,” katanya kepada si cewek sembari menyodorkan beberapa.
Si cowok menulis cek.

“Ini,” kata si cewek, memilih satu, asal saja, sebab dia tak kenal nama-nama di label rekaman-rekaman itu. Dia bangkit dari kursinya dan duduk kembali. Dia tak mau duduk diam.

“Sisanya kubayar tunai,” kata si cowok.

“Oke,” kata pria itu.

Mereka minum. Mereka mendengarkan rekaman. Dan kemudian pria itu menggantinya dengan rekaman lain.

Dia memutuskan buat mengatakan: anak-anak muda, mengapa kalian tak berdansa saja? dan mengatakan, “Kenapa kalian tak berdansa?”

“Tidak, ah,” kata si cowok.

“Silakan saja,” kata pria itu. “Ini halamanku. Kalian boleh berdansa kalau mau.”

Lengan melingkari satu sama lain, tubuh saling menekan, cowok dan cewek itu bergerak maju-mundur di jalur menuju garasi. Mereka berdansa. Dan mereka berdansa lagi saat album itu selesai, dan ketika album kedua rampung, si cowok berkata, “Aku mabuk.”

Si cewek membalas, “Kau tidak mabuk.”

“Yah, aku mabuk,” kata si cowok.

Pria itu memutar ulang piringan hitam dan si cowok berkata, “Aku mabuk.”

“Ayo dansa denganku,” kata si cewek kepada si cowok, lalu kepada si pria, dan ketika si pria berdiri, dia menghampirinya dengan lengan terbuka.

“Orang-orang di sebelah sana memperhatikan,” katanya.

“Cuek saja,” kata si pria. “Ini rumahku,” katanya.

“Biar mereka memperhatikan,” kata si cewek.

“Ya,” kata pria itu. “Mereka pikir mereka sudah melihat semuanya di tempat ini. Tetapi mereka belum melihat ini, kan?” ujarnya.

Si pria merasakan napas si cewek di lehernya.

“Kuharap kau suka ranjangmu,” kata pria itu.

Si cewek memejam lalu membuka matanya. Dia membenamkan wajah di bahu pria itu. Dirapatkannya tubuh pria itu ke tubuhnya.

“Kau pasti putus asa atau semacamnya,” kata si cewek.

Beberapa pekan kemudian, cewek itu berkata: “Pria itu kira-kira paruh baya. Semua barangnya digelar di halaman. Serius. Kami teler dan berdansa. Di jalur ke garasi. Ya tuhan. Jangan ketawa. Dia menyetelkan album-album ini buat kami. Lihat pemutar piringan hitam ini. Dia memberikannya begitu saja. Dan semua album sampah ini. Coba lihat sampah ini.”

Ia terus bicara. Ia bicara ke semua orang. Ada sesuatu yang melampaui semua itu dan ia mencoba mengatakannya. Namun, tak lama kemudian, ia berhenti mencoba.

Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Hamsad Rangkuti

Seorang wanita muda dalam sikap mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang tali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada diantara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia sambil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak denganya, sehingga tegur sapa  diantara kami bisa terdengar:

“Tolong ceritakan sebab apa kau ingin bunuh diri ?” kataku memancing perhatiannya.

Dia tak beralih dari menatap ke jauhan laut. Di sana ada sebuah pulau. Mungkin impiannya yang telah retak menjadi pecah dan sudah tidak bisa lagi untuk direkat.

“Tolong ceritankan penyebab segalanya. Biar ada bahan untuk kutulis.”

Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermainkan ujung lengan bajunya. Dan tampak kalau dia  telah berketetapan hati untuk mengambil sebuah keputusan yang nekat. Tiba-tiba dia  melepas  sepatunya, menjulurkan ke laut.

“ini dari dia,” katanya, dan melepas cincin itu.

“Semua yang ada padaku, yang berasal darinya, akan kubuang kelaut. Sengaja hari ini kupakai semua yang pernah dia berikan kepadaku untuk kubuka dan kubuang satu persatu ke laut. Tak satu pun benda-benda itu kuizinkan melekat ditubuhku saat aku telah menjadi mayat di dasar laut. Biarkan aku tanpa bekas sedikitpun darinya. Inilah saat yang tepat membuang segalanya ke laut, dari atas kapal yang pernah membuat sejarah pertemuan kami.”

Wanita muda itu mulai melepas kancing-kancing bajunya, melepas pakaiannya, dan membuang satu persatu kelaut. Upacara pelepasan benda yang melekat ditubuhnya dia akhiri dengan melepas penutup bagian akhir tubuhnya. Membuangnya ke laut.

“Apapun yang berasal darinya, tidak boleh ada yang melekat pada jasadku, saat aku sudah menjadi mayat, didasar laut. Biarkan laut membungkus jasadku seperti kain pembungkus mayat. Biarkan asin airnya menggarami tubuhku tanpa sehelai benang penyekat.”

Wanita yang telanjang itu mengangkat sebelah kakinya melampaui terali, bersiap-siap membuang dirinya kelaut. Kamera ku bidikan kearahnya. Di dalam lensa terhampar pemandangan yang pantastis! Wanita muda, dalam ketelanjangannya, berdiri ditepi geladak dengan latar ombakdan burung camar. Sebuah pulau berbentuk bercak hitam dikejauhan samudera terlukis di sampingnya dalam bingkai lensa. Sebelum melompat dia menoleh ke arahku. Seperti ada yang terbesit dibenaknya yang hendak dia sampaikan kepadaku, sebelum dia melompat mengakhiri ombak.

“Ternyata tidak segampang itu membuang segalanya,” katanya. “ Ada sesuatu yang tak bisa dibuang begitu saja.” Dia diam sejenak, memandang bercak hitam di kejauhan samudera. Dipandangnya lekung langit agak lama, lalu bergumam: “Bekas bibirnya. Bekas bibirnya tak bisa kubuang begitu saja.” Dia berpaling kearahku. Tatapannya lembut menyejukan. Lama, dan agak lama mata itu memandang dalam tatapan yang mengambang.”Maukah kau menghapus bekas bibirnya dibibirku dengan bibirmu?” katanya dalam nada ragu.

Aku tersentak mendengar permintaan itu. Sangat mengejutkan, dan rasanya tak masuk akal diucapkan olehnya. Permintaan itu terasa datang dari orang yang sedang putus asa. Kucermati wajahnya dalam lensa kamera yang mendekat. Pemulas bibir berwarna merah tembaga dengan sentuhan berwarna emas, memoles bibirnya, menyiratkan gaya aksi untuk kecantikan seulas bibir.

“Tidak akan aku biarkan bekas itu terbawa ke dasar laut. Maukah kau menghapus bekas bibirnya dibibirku dengan bibirmu ? tolonglah. Tolonglah aku melenyapkan segalanya.”

Orang-orang yang terpaku dipintu lantai geladak berteriak kepadaku.

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Seorang muncul dipintu geladak membawa selimut terurai, siap menutup tubuh wanita yang telanjang itu.

“Tolonglah. Tolonglah aku menghapus segalanya. Jangan biarkan bekas itu tetap melekat dibibirku dalam kematian didasar laut. Tolonglah.”

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Teriak orang-orang yang menyaksikan dari pintu lantai geladak.

Aku hampiri wanita itu. Orang yang membawa selimut berlari kearah kami, menyelimuti kami dengan kain yang terurai itu. Didalam selimut kucari telinga wanita itu.

“Masih adakah bekas darinya di bagian lain tubuhmu yang harus kuhapus dengan bibirku?” bisikku.

SAYA Chenchen, Pak, “kata wanita itu memperkenalkan dirinya begitu aku selesai menyampaikan cerpen lisan itu dan berada kembali diantara penonton. “Saya menggemari cerpen-cerpen Bapak. Saya mahasiswi fakultas sastra semester tujuh. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, pengarang dari cerpen-cerpen yang telah banyak saya baca.”

“Terima kasih. Namamu Chenchen? Tidak nama seorang Minang.”

“Bagaimana kelanjutan cerpen lisan itu ?”

“Kau harus melanjutkannya. Kalian para pendengarnya.”

Sejak itu kami akrab. Aku seperti muda kembali. Berdua kemana-mana didalam kampus Kayutanam maupun ke danau Singkarak, Desa Belimbing, Batusangkar, Danau Maninjau, Ngalau Indah, Lubang jepang, Ngarai Sianok, Lembah Anai dan Istana Pagaruyung.

Besok adalah hari terakhir aku di Kayutanan. Aku harus kembali kekehidupan rutin di Jakarta. Perpisahan itu kami habiskan di kawasan wisata luar kota Padang panjang. Sebuah kawasan semacam taman, berisi rumah gadang dari berbagai daerah di Minangkabau. Kawasan itu bersebelah dengan lokasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Tempat itu sejuk diliputi kabut, terkenal sebagai kota hujan. Sebentar-sebentar kabut tebal melintas menutup kawasan itu. Kami mencari tempat kosong disalah satu bangunan berbentuk payung dengan meja bulat dan kursi sandar melingkar, yang disediakan untuk para pengunjung duduk-duduk memendang puncak gunung Merapi. Kemi berkeliling mencari tempat kosong, tetapi semua bangunan-bangunan kecil itu telah dihuni pasangan-pasangan remaja. Mereka duduk memandang lembah dan lereng gunung yang terus menerus diselimuti kabut yang datang seperti asap hutan terbakar.

Kami akhirnya duduk dihamparan rumput berbukit, diantara rumah gadang pajangan dalam ukuran yang sebenarnya.

“Selama lima hari, siang dan malam tak pernah berpisah. Malam kita duduk berdekatan diwarung-warung membiarkan kopi dingin sambil kita berpandangan. Aku mendengar proses kreatifmu sedang kau mendengarkan riwayat dan asal usul tempat-tempat yang akan kita kunjungi besok pagi. Kita tidak menghiraukan mata-mata yang memendang kita. Kita biarkan percakapan-percakapan tentang kita. Tanganku kau pegang dan aku merebahkan kepala ke bahumu dalam udara dingin Kayutanam. Semua itu akan menjadi kenangan. Besok kau akan pulang dan aku akan kembali ke kampus.

”Kita pergi ke Lubang Jepara. Masuk ke dalam kegelapan gua. Berdua kita di dalam kegelapan tanpa seorang pengunjung pun mengawasi kita. Aku berbisik, seolah kita masuk kedalam kamar pengantin dan kau meminta lampu dipadamkan. Kita duduk di puncak pendakian di Lembah Harau. Kita duduk berdua memandang kebawah mengikuti arah air terjun. Lembah kita lihat dari ketinggian dan tempat itu sangat sunyi. Kita biarkan kera-kera mendekat dan kita tidak meras terganggu. Kita biarkan pedagang kelapa muda itu meletakan sebutir kelapa dengan dua penyedot dilubang tempurungnya. Kita tidak hiraukan dia turun meninggalkan kita dan membiarkan kita berdua menikmati kelapa muda yang kau pesan.  Kita benar-benar berdua ditempat sunyi itu. Kita menyedot air kelapa muda itu dengan dua alat sedotan dari lubang tempurung yang sama. Aku satu dan kau satu. Terkadang kening kita bersentuhan pada saat menyedot air kelapa muda itu. Kita pun lupa, mana milikku dan mana milikmu pada saat kita mengulang  menyedot air kelapa muda itu. Kita sudah tidak menghiraukannya. Sesekali kedua penghisap air kelapa itu kita gunakan keduanya sekaligus, bergantian, sambil kau menatap tepat ke mataku dan aku menatap tepat ke matamu. Aku yakin, hal itu kita lakukan semacam isyarat yang tak berani kita ucapkan.

“Kelapa itu kita belah. Kau sebelah dan aku sebelah. Alangkah indahnya semua itu.”

“Kenangan itu akan kubawa pulang.”

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu ?” aku mendekat kepadanya. Kabut tebal datang kepada kami. Begitu tebal kabut itu, seolah kami terbungkus didalam selimut yang basah. Tak tampak sesuatupun dalam jarak dua meter. Kelambu kabut itu menutup kami dari pandangan dunia. Kami berguling-guling diatas rumput dalam kepompong kabut.

“Masih adakah bekas yang lain di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Dia menggeliat didalam kabut. Dicarinya telingaku.

“Tak ada bekas yang lain, yang perlu dihapus, sayang.” Bisikinya.

Serpihan kabut menyapu wajah kami bagaikan serbuk embun dipercikan.

“Apakah kita akan keluar dari kepompong kabut ini sebagai sepasang kupu-kupu?”

“Bekas ini akan kubawa pulang dan akan ada yang menghapusnya. Bagaimana denganmu?”

“Akan kutunggu bekas yang baru di bekas yang lama, darimu.”

“Apakah itu mungkin?”

“Mungkin”

“Aku lima empat dan kau dua dua. Itu tidak mungkin.”

“Mungkin.”

“Aku Datuk Maringgih dan kau Siti Nurbaya, dalam usia. Apa yang memaksamu?”

“Entahlah. Akupun tak tahu.”

Kami turun dari puncak bukit itu berpegangan tangan. Dia memegang erat jari-jariku. Dan aku memegang erat jari-jarinya. Seolah ada lem perekat di antara jari-jari kami.***