Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: cerpen

Bukan Mahasiswa Saya, Cerpen Budi Darma

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

SAYA yakin tidak pernah mempunyai mahasiswa bernama Abidin. Karena itu, setelah sekian kali Abidin menghubungi saya melalui HP, disusul SMS, dan akhirnya disusul WA, saya tetap yakin orang yang menamakan diri Abidin ini tidak pernah menjadi mahasiswa saya. Tapi, setelah dia nekat menelepon dengan video call, barulah saya ingat bahwa wajah ini pernah saya kenal entah kapan dan entah di mana.
Pada suatu hari Minggu, ketika saya biasanya bangun lebih siang daripada biasanya, orang yang menamakan diri Abidin ini menelepon saya dengan video call lagi.
’’Maaf, Pak, sekarang saya di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Sebentar lagi saya akan terbang ke Surabaya, khusus untuk menemui Bapak.’’ Suara Abidin ditimpali pengumuman penggawa bandara agar semua penumpang segera masuk ke pesawat.
Dalam keadaan masih mengantuk, saya segera mandi.
Satu setengah jam kemudian ada taksi datang, dan turunlah Abidin dari taksi. Dengan sikap sangat sopan dan hormat, dia memohon maaf karena telah berkalikali menghubungi saya dan mengaku-aku sebagai bekas mahasiswa saya.
Setelah berbasa-basi sebentar dia mengaku bahwa dia memang bukan mahasiswa saya. Dengan permohonan maaf dia menyatakan bahwa dahulu sebetulnya dia mahasiswa MIPA jurusan matematika. Dan, karena dia tertarik sastra, khususnya sastra dunia, dia sering menyelundup ke kelas saya. Setiap kali menyelundup dia memilih deretan tempat duduk di belakang, selalu menunduk, supaya bisa memberi kesan bahwa dia tidak ada.
Waktu itu saya mengajar di S-1, mahasiswanya banyak, dan ruangan kelasnya terbatas. Karena itu, dua kelas mahasiswa kadang-kadang harus dijejal dalam satu ruangan kelas besar. Kehadiran Abidin, dengan demikian, tidak saya ketahui.
Lalu, dengan agak mewek-mewek karena terharu, dia mengatakan bahwa dia sudah lulus S-2 matematika di Kanada, dan juga sudah lulus S-3 matematika di Jerman. Dengan gaya sangat tawaduk dia mengatakan, baik di S-2 maupun di S-3 dia lulus dengan predikat cum laude. Setelah lulus S-3 dia bekerja di Jerman, kemudian pindah ke Belanda, dan akhirnya memutuskan untuk bekerja di Jakarta.
Selama bekerja di Jakarta dia sering mendapat tugas untuk bepergian ke luar negeri, tapi dia tetap memakai SIM card Indonesia. Karena itulah, semua pesan kepada saya tidak tampak tanda-tanda dia sedang di Vietnam, India, Brussel, Amsterdam, Paris, dan entah mana lagi.
Hari itu juga, Minggu, dia khusus datang ke Surabaya untuk menemui saya, sebab malam nanti, hari Minggu itu juga, dia akan terbang ke Amerika.
Setelah mengucapkan permohonan maaf dan terima kasih berkali-kali sampai saya agak risi, dia bertanya, ’’Mohon maaf, Pak, apakah Bapak pernah mendengar nama Maryam Mirzakhani?”
’’Perempuan kelahiran Iran, hijrah ke Amerika, pemenang fields medal mathematics?”
’’Ya.’’
Fields medal mathematics setara dengan nobel prize untuk fisika, ilmu kedokteran, ekonomi, kimia, fisika, perdamaian, dan sastra. Nobel prize diberikan setiap tahun, sedangkan fields medal mathematics diberikan manakala ada pakar matematika yang benar-benar menonjol. Kalau perlu, selama beberapa tahun tidak ada satu orang pun yang dianggap layak menerima fields medal mathematics.
Pada waktu sekolah, Maryam dibenci guru-gurunya karena dia tampak bodoh, dungu, goblok, dan agak terbelakang. Setiap kali mengerjakan apa pun dia pasti terlambat. Berbeda dengan teman-temannya, dia suka menyendiri, melukis, membaca puisi, dan membaca novel.
’’Maaf, Pak, pada waktu saya menyelundup ke kuliah-kuliah Bapak, saya tidak mengenal nama Maryam, tapi kemudian saya sadar, seperti Maryam, saya suka menggambar, membaca puisi, dan membaca novel. Karena itulah saya sering menyelundup ke kelas Bapak. Sebetulnya saya ingin juga menyelundup ke kelas seni rupa, tapi saya selalu diusir. Maklumlah, mahasiswa seni rupa kan banyak praktik, kalau saya menyelundup, pasti ketahuan.’’
Lalu dia mengaku, andaikata dulu tidak menyelundup ke kelas saya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Ketika dia kuliah S-2 di Kanada, dia sering teringat kuliah-kuliah saya. Demikian juga ketika dia menyelesaikan S-3 di Jerman. Mengapa dia dapat dengan mudah memenangkan beasiswa S-2 dan S-3, tidak lain, kata dia, karena dia sering teringat kuliah-kuliah saya.
Bukan hanya itu. Kuliah-kuliah saya dulu, kata dia, juga memperlancar pekerjaannya, dan karena itulah dia sering mendapat promosi dan tempat-tempat yang bagus. Dia masih ingat, dalam kuliah, saya sering menekankan hubungan erat antara sastra, estetika, dan psikologi. Barang siapa banyak membaca karya-karya besar sastra, dengan sendirinya akan memiliki insting untuk mengetahui masalah kejiwaan lawan bicaranya. Meskipun saya mengajarkan sastra dunia dengan bahasa Inggris, kadang-kadang saya juga membicarakan beberapa nilai filsafat Indonesia, antara lain kemampuan meramal Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam tembang-tembangnya, dan pendirian Ki Ageng Suryomentaram mengenai seni kebahagiaan hidup.
Setelah mengobrol tentang pengalamannya menyelundup di kelas saya, dengan nada ragu-ragu dia bertanya, ’’Maaf, Bapak, bolehkah saya mengeluarkan pendapat saya? Tapi saya malu. Saya takut pendapat saya ngawur.’’ Dia menyatakan, sastra yang dianggap sebagai sastra dunia sekarang sangat mengecewakan. Sastra dunia, itulah salah satu mata kuliah saya dulu. Ada beberapa contoh, misalnya, kata dia, novel Orhan Pamuk, novel Najib Mahfudz, novel Adiga, novel Khaled Hosseini, dan yang terbaru novel Han Kang. Novel Orhan Pamuk, setidaknya yang pernah dia baca, terlalu berbelit-belit. Novel Najib Mahfudz yang pernah dia baca, yaitu Pencopet dan Para Begundal, mirip novel thriller. Daripada membaca Pencopet dan Para Begundal, kata dia, lebih baik membaca novel-novel Sidney Sheldon sekalian. Sidney Sheldon tahu bahwa dia tidak lain adalah pengarang thriller, karena itu Sidney Sheldon, kata Abidin pula, tidak perlu berpura-pura menulis novel sastra kelas atas. Dalam novel Adiga, kata Abidin, tokoh sentralnya sadar bahwa dia korban kemiskinan, dan karena itulah dia membenci kelas atas, apalagi yang sombong, sampai akhirnya dia membunuh juragannya. Itulah napas novel Adiga, White Tiger.
Andaikata tidak ada Taliban di Afghanistan, Hosseini tidak mungkin mampu menulis novel The Kite Runner. Situasi yang sangat buruk dan penderitaan tanpa tara di Afghanistan akibat ulah Taliban dimanfaatkan oleh Hosseini.
Perempuan dalam novel Han Kang The Vegetarian menjadi sinting, atau tambah sinting, karena ayahnya, veteran perang Vietnam, suka menyiksa, kasar, dan kata-katanya juga jorok dan menjijikkan. Andaikata ayahnya tidak begitu, mungkin tokoh utamanya hidup normal
’’Maaf, Bapak, saya bukan siapa-siapa. Dan saya hanya membaca satu novel karya mereka. Mungkin kebetulan yang saya baca bukan novel terbaik mereka. Tapi novel terburuk mereka yang punya nama besar itu.’’
’’Lalu, novel siapa yang baik?’’ tanya saya. ’
’Novel yang tidak menyalahkan siapa-siapa. Tokoh utama Dostoevsky dalam Notes from Underground sinting karena memang dia sinting. Dia tidak menuduh siapa pun sebagai kambing hitam kesintingannya. ’’Cerpen Edgar Allan Poe The Tell-Tale Heart bercerita tentang kekejian ’aku’ karena ’aku’ sendiri, tanpa kambing hitam kehidupan keluarganya, kemelaratannya, dan entah apa lagi. Dalam noveletnya Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue, tokoh bernama Dupin jatuh miskin juga karena dia jatuh miskin, tanpa menyalahkan siapa pun. Hidupnya biasa-biasa saja, pikirannya tetap cemerlang, tanpa kambing hitam kemiskinan.’’
Didahuluinya dengan ’’maaf, saya bukan siapa-siapa,’’ Abidin memberi banyak contoh lain. Dengan permintaan maaf, saya tidak bisa memberi pendapat mengenai pendapatnya. Perhatian saya lebih tertarik pada Abidin sebagai pakar matematika, bukan Abidin sebagai pembaca sastra kelas atas. Dan lebih dari itu, saya lebih tertarik pada Abidin sebagai manusia. Saya teringat zaman Pak Harto masih berkuasa. Selama menjadi presiden dalam jangka waktu tiga puluh dua tahun, adalah masuk akal apabila Pak Harto sering mengganti pejabat-pejabat tinggi negara. Salah satu jaksa agung dalam pemerintahan Pak Harto, saya ingat, bernama Sukarton, lengkapnya Sukarton Marmosujono SH. Ketika masih menjadi mahasiswa fakultas hukum Universitas Gadjah Mada, Sukarton sering kelayapan ke kampus lain, yaitu ke fakultas sastra dan kebudayaan. Mengapa? Karena dia jatuh cinta pada Lastri Fardani, mahasiswa sastra barat fakultas sastra dan kebudayaan. Akhirnya Sukarton berhasil menikah dengan Lastri Fardani, dan Lastri Fardani juga bisa menyalurkan kegemarannya menulis untuk majalah wanita. Tidak lama setelah lulus S-1 Sukarton menikah, sementara Abidin sampai sekarang masih jomblo. Dan seperti tokoh dalam novel-novel yang dia kagumi, dia jomblo tanpa menyalahkan siapa pun. Kalau jomblo dianggap sebagai kesalahan, maka kesalahan itu terletak pada dirinya sendiri. Tampak Abidin ingin mengemukakan sesuatu, tapi dapat menahan diri. Akhirnya dia saya ajak ke mall untuk makan, dan sesudah makan dia saya antar ke Bandara Juanda. Ketika semua penumpang diminta untuk masuk paling lama sepuluh menit lagi, Abidin tampak ingin menangis menahan perasaan haru.
’’Abidin, kamu memendam rahasia. Katakan apa yang kamu ingin katakan.’’
’’Bapak tahu di mana Maryam Mirzakhani bekerja?’’
’’Stanford University di California, Amerika.”
’’Saya mendapat pekerjaan di sana, Bapak.”
’’Selamat, Abidin. Tidak semua orang bisa menjadi dosen dan peneliti di Stanford.’’
Stanford adalah nama orang kaya, murah hati, dan gaya hidupnya sangat sederhana. Bersama istrinya, Stanford mendatangi sebuah universitas tua dan terkenal, yaitu Harvard University di New England, untuk memberi donasi dalam jumlah besar. Tapi karena penampilannya seperti orang melarat, dia dan istrinya diusir. Tidak ada satu orang pun yang percaya bahwa Stanford dan istrinya benar-benar kaya. Meskipun dihina, hati mereka tetap mulia. Mereka ingin melihat anak-anak muda mendapat pendidikan yang baik, dan karena itulah akhirnya mendirikan sebuah universitas, Stanford University di California, sebuah negara bagian yang jauh letaknya dari New England.
’’Apakah Bapak tahu keadaan Maryam Mirzakhani?’’
’’Sudah lama dia berjuang melawan kanker,’’ kata saya.
Waktu sudah habis, dan Abidin terpaksa meninggalkan saya. Setelah saya yakin pesawat Abidin sudah terbang, saya masuk ke kedai, memesan teh. Saya membuka HP, langsung menuju ke Fox News. Berita terbaru: Maryam Mirzakhani, empat puluh tahun, dalam keadaan kritis. Malam harinya saya membuka Fox News lagi, dan dari berita inilah saya tahu bahwa Maryam Mirzakhani, tokoh matematika yang sangat terkemuka, sudah meninggalkan dunia fana. ***
Budi Darma, sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya. Karyanya, antara lain, Olenka (novel) dan Orang-Orang Bloomington (kumpulan cerpen).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Darma
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu  20 Agustus 2017

Tarom, Cerpen Budi Darma

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

AGEN saya tahu, setiap kali saya pergi ke Frankfurt, Jerman, saya tidak mau transit di bandara mana pun, selain bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ada dua teman di bandara ini, yaitu Manfred pemilik restoran dan Gertrude, pramugari darat.
Pada waktu saya berkunjung ke restoran Manfred untuk pertama kali beberapa tahun lalu, dia mengajak saya bersalaman erat, lalu berbisik: ”Ibu kamu pasti orang Jerman. Ayah kamu pasti orang Asia Tenggara.”

Laki-laki anak ibu Jerman dan ayah Asia Tenggara pasti mirip ibunya, sedangkan anak perempuan pasti mirip ayahnya. Dan memang, kulit saya putih, mata saya biru, dan setiap kali saya ke Jerman, kebanyakan orang menganggap saya orang Jerman.

Karena saya tidak membantah, maka setiap kali saya singgah di restorannya, pasti dia memberi sauerkraut, salad khas Jerman, gratis. Setelah mengetahui nama saya Tarom Wibowo, wajahnya berbinar-binar, lalu mengajak saya masuk ke ruang kecil di bagian belakang restoran.

”Lihat, Tarom, saya punya buku kamu.”

Dia mengambil buku New Paradigm of Psycho-Hatred, buku saya mengenai lika-liku kejiwaan tokoh-tokoh besar, dengan data dari berbagai negara, termasuk Jerman.

”Buku hebat,” katanya. ”Maaf, saya belum pernah membaca novel kamu.”

Setelah mengobrol sebentar, dia berbisik: ”Di sini ada gadis Jerman, Gertrude namanya. Pramugari darat. Kalau mau dia bisa menjadi pramugari udara. Terbang ke mana-mana. Seperti saya, dia malu jadi orang Jerman.”

Dia berbisik lagi: ”Kamu pasti suka Gertrude. Cantik. Dan ingat, dia pengagum penulis hebat bernama Tarom Wibowo. Dia tahu kamu bukan psikolog. Tapi, insting psikologimu benar-benar hebat.”

Begitu dipertemukan dengan Gertrude, saya agak gemetar, agak bingung, karena itu memilih untuk diam, dan tampaknya perasaan Gertrude sama. Kami berjabat tangan sampai lama, telapak tangan dia dan telapak tangan saya sama-sama berkeringat dan sama-sama malas untuk saling melepaskan pegangan. Tapi, perasaan aneh merambat perlahan-lahan dari tangan dia, menyusupi tangan saya. Hawa panas bercampur hawa dingin. Dan begitu saya menatap wajahnya, saya agak merinding, lalu dia menunduk, tampak malu.

Perasaan saya tidak enak, dan saya putuskan untuk tidak bertemu dengan dia lagi. Ternyata, begitu saya masuk ke ruang tunggu penumpang, pesan dia melalui WA masuk. Begitu membuka telepon genggam setelah saya mendarat di Frankfurt, pesan dia masuk lagi, bukan hanya satu, tapi beberapa. Selama beberapa hari saya di Frankfurt untuk mengurus jual beli hak cipta sekian banyak pengarang dari berbagai negara, pesan Gertrude datang bagaikan banjir.

Dan ketika pesawat saya transit lagi di Abu Dhabi untuk kemudian disambung penerbangan ke Surabaya, Gertrude sudah menunggu, lalu mengajak saya ke ruang tunggu khusus.Perhatian dia lebih tertarik pada Berlin sebagaimana yang saya gambarkan dalam beberapa buku saya dibanding dengan cerita saya mengenai Frankfurt.

”Kalau kamu ke Berlin, ajaklah saya. Tunjukkanlah tempat-tempat yang kamu tulis dalam buku-buku kamu. Dan kalau kamu pulang, saya ikut ke Surabaya.”

Selanjutnya pesan demi pesan berdatangan terus, disertai kutipan lirik lagu ”Imagine” The Beatles, ”You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one.

***

SEPERTI biasa, ketika akan ke Frankfurt lagi, agen saya tidak pernah bertanya saya ingin naik pesawat maskapai apa asalkan singgah di Abu Dhabi.

Agen saya memilih Angel Air, sebuah maskapai penerbangan baru, berdiri sekitar tiga tahun lalu. Semua orang penting di Angel Air perempuan, sisanya, pekerjaan kasar, diserahkan kepada laki-laki. Mungkin Angel Air percaya, perempuan punya otak dan modal laki-laki hanyalah otot.

Nama pilot dan kopilot sudah beberapa kali saya simak melalui berbagai media. Saya belum pernah bertemu mereka, tapi andaikata bertemu, pasti saya mengenal mereka. Pilot bernama Awilia, ayahnya dokter umum dan ibunya dokter mata terkenal, kopilot bernama Azanil, ayahnya dokter umum dan ibunya dokter jantung terkenal. Sejak zaman mahasiswa, empat calon dokter ini sudah bersahabat, dan ketika sudah menjadi dokter mereka bekerja di rumah sakit yang sama.

Awilia lahir jam 10:15, Azanil lahir pada hari dan tanggal sama, jam 10:18, di rumah sakit yang sama pula. Umur mereka terpaut tiga menit, dan setelah besar Awilia memperlakukan Azanil sebagai sahabat muda, dan Azanil selalu ingin dijadikan nomor dua. Sejak TK sampai dengan SMA mereka selalu bersama-sama, dan setelah lulus SMA mereka sama-sama menentang keinginan orangtua mereka untuk menjadi dokter. Alasan mereka sama: pada zaman dahulu kala, terceritalah ada dua sahabat karib, yang laki-laki genius tapi homo bernama Leonardo da Vinci, dan yang perempuan luar biasa cantik, Monalisa namanya. Sambil melihat burung-burung beterbangan, berkatalah Leonardo: ”Monalisa, lihatlah burung-burung itu. Pada suatu saat, manusia pasti bisa terbang seperti burung.” Monalisa tidak percaya, tersenyum, tanpa berkata apa-apa.
Awilia dan Azanil sama-sama mengirim lamaran ke Akademi Penerbangan Airbus di Toulouse, Perancis, sama-sama diterima, dan lulus juga bersama-sama, masing-masing dengan nilai tinggi. Setiap terbang mereka tidak mau dipisah, dan meskipun Awilia ingin gantian menjadi kopilot, Azanil selalu menolak. ”Yang muda harus menghargai yang tua,” katanya bergurau.

Setelah pesawat mencapai 15.000 kaki, seorang pramugari memberi saya kertas kecil.

”Selamat terbang bersama kami pengarang Tarom Wibowo. Kita nanti bertemu di Abu Dhabi.”

Saya tidak tahan menahan kantuk. Ada banyak kontrak dan jual beli hak cipta dari sekian banyak pengarang dan penerbit yang harus saya urus di Frankfurt nanti, dan ada banyak pula buku yang harus saya baca, khususnya buku Rochus Misch, bekas pengawal pribadi Hitler, mengenai kematian Hitler. Saya tertidur.

Buah tidur adalah mimpi: ibu saya bercerita mengenai bangsa Jerman dan bangsa Jepang, dua bangsa besar dan sama-sama tololnya. Bangsa Jerman sangat setia kepada manusia bernama Hitler, dan bangsa Jepang sangat patuh pada keturunan Dewi Matahari, yaitu Kaisar Hirohito. Karena ketololannya, atas hasutan Hitler, bangsa Jerman dengan penuh semangat merusak dunia, demikian pula bangsa Jepang, bukan oleh hasutan manusia.

Ingat, kata ibu saya, dalam PD I Jerman dikalahkan oleh Jepang, dan semua tawanan perang Jerman diperlakukan dengan sangat baik oleh Jepang, bahkan lebih baik daripada serdadu Jepang sendiri.

Perang antara Jerman dan Jepang dalam PD I mirip dengan perang antara Indonesia dan Malaysia di perbatasan dua negara di Kalimantan setelah Bung Karno menyatakan perang melawan Malaysia dengan semboyan ”Ganyang Malaysia”. Serdadu Indonesia dan serdadu Malaysia pura-pura saling tembak, kemudian lari-lari menuju musuh, berangkulan erat, bertukar rokok, kemudian bergurau. Karena hanya pura-pura, perang ini dengan mudah diakhiri dengan perdamaian. Jepang dan Jerman pura-pura bertempur, tidak lain karena mereka bersiap-siap bersekutu untuk menghancurkan dunia dalam PD II.
Karena bangsa Jerman setia kepada manusia dan bangsa Jepang setia bukan kepada manusia, kesetiaan mereka berbeda. Dalam mimpi ini pula ibu saya membanggakan kesetiaannya kepada keluarganya, lalu meminta saya membaca majalah Femina tahun 1980-an, mengenai kesetiaan istri Jepang terhadap suami orang Indonesia. Istri Jepang sangat setia kepada suami, dan begitu anak dia sudah bisa dibawa lari, dia akan lari bersama anaknya, kembali ke Jepang, disembunyikan oleh keluarganya di Jepang. Ibu saya berbicara mengenai dua bangsa ini karena dia tahu saya pernah jatuh cinta kepada gadis Jepang dan sekarang mungkin kepada gadis Jerman.
Setelah terbangun, saya ingat cerita ibu saya mengenai pertemuan antara orangtua saya sebelum menikah. Hati ibu saya berkata, ayah saya mempunyai kemampuan terpendam, dan ternyata benar: begitu tahu ada pabrik akan bangkrut, ayah saya membelinya, memperbaikinya, kemudian menjualnya. Terakhir dia membeli pabrik smelting yang hampir bangkrut di Gresik, selama satu tahun memperbaikinya, kemudian menjualnya kepada orang India.
Sebelum menikah, ayah saya juga yakin, ibu saya mempunyai kekuatan terpendam: lidahnya tajam, begitu ada makanan masuk ke mulutnya, dia tahu rahasia pembuatannya. Buku masakan ibu saya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, dan dia sering diundang ke mana-mana, termasuk luar negeri, untuk berbicara mengenai masakan.
Ketika iseng mengambil majalah, saya terkejut: foto Gertrude terpampang di kulit sebuah majalah, dan di berbagai halaman di majalah-majalah lain. Dia dinobatkan sebagai pramugari darat terbaik di Negara-negara Teluk setelah juri dari berbagai negara menyimak bandara di Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, dan Qatar. Gertrude pemalu, pemilihan pramugari terbaik dan pemasangan fotonya pasti di luar kemauan dia.
Setelah menyimak fotonya, hati saya berkata, Gertrude pasti mempunyai rahasia terpendam, dan ada kesamaan antara Mandred dan Gertude. Menurut Gertude, Manfred keturunan serdadu Jerman yang suka menyiksa, merampok, dan memerkosa di negara-negara jajahan Hitler selama PD II. Dia malu menjadi orang Jerman, tapi kadang-kadang harus kembali ke Jerman karena ibunya di Jerman sering sakit.

Begitu turun dari pesawat, Amilia dan Azanil menemui saya, minta tanda tangan buku-buku saya, buku yang, kata mereka, menemani mereka dari bandara satu ke bandara lain. Dengan membaca novel-novel saya, terasa mereka bisa mengamat-amati lika-liku jiwa mereka sendiri.

Mereka mengajak saya ke ruang tunggu khusus, dan di sana Gertrude sudah menunggu. Dengan nada bercanda mereka mengatakan, sebagai pengarang hebat, pasti saya mampu mengangkat gejolak jiwa Gertrude dalam novel.

Setelah mereka pergi, dengan sangat hati-hati saya berkata kepada Gertrude mengenai kisah kematian Hitler. Setelah Hitler yakin kalah, dia dan banyak pengikut setianya bertekad bunuh diri bersama Hitler. Pada saat itulah, salah satu arsitek holocaust yang sangat keji dan seharusnya ikut bunuh diri bersama keluarganya melarikan diri.
Gertrude menunduk, lalu berkata: ”Saya tahu siapa dia. Martin Bormann namanya. Darah saya kotor. Saya keturunan Bormann.”

Pikiran saya melayang ke ibu saya. ***

Budi Darma, sehari-harinya bekerja sebagai Guru Besar Universitas Negeri Surabaya. Ia menerbitkan beberapa kumpulan esai, cerpen, novel, dan pernah mendapat penghargaan antara lain dari Balai Pustaka, Kompas, SEA-Write Award (Bangkok), Anugerah Seni Pemerintah RI, Satya Lencana dari Presiden Republik Indonesia. Karyanya yang masyhur dan banyak mendapat pujian adalah kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dan novel Olenka.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Darma
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 20 Agustus 2017

Cerpen Haruki Murakami: Lenyapnya Si Gajah

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Cerita yang ditulis Haruki Murakami berjudul “The Elephant Vanishes” ini dimuat di The New Yorker, 18 November 1991, sepanjang sembilan halaman.
Lenyapnya Si Gajah

Aku membaca perihal si gajah yang lenyap dari kandangnya di surat kabar. Jam weker membangunkan aku hari itu, seperti biasanya, pada pukul 6:13. Aku beranjak menuju dapur, menyiapkan kopi dan roti panggang, menyalakan radio, membuka lebar-lebar lembaran surat kabar di atas meja dapur. Lalu seraya mengunyah, aku teruskan membaca. Aku adalah salah satu dari orang-orang yang biasa membaca surat kabar dari depan ke belakang, secara berurutan. Karena itu, butuh waktu yang lama hingga akhirnya aku membaca berita tentang si gajah yang lenyap. Halaman utama surat kabar dipenuhi oleh berita tentang SDI dan sengketa dagang dengan Amerika. Setelahnya aku menyelisik berita nasional, politik internasional, ekonomi, surat pembaca, ulasan buku, iklan perumahan, laporan olahraga, dan akhirnya berita daerah.

 

Artikel mengenai si gajah adalah tajuk utama di bagian berita daerah. Judul yang ditulis besar-besar- tidak seperti biasanya- menarik perhatianku: GAJAH HILANG DI PINGGIRAN KOTA TOKYO, dan di bawahnya, diketik dalam huruf berukuran lebih kecil, Ketakutan Warga Meningkat, Sejumlah Pihak Melakukan Pencarian. Terdapat foto beberapa polisi tampak memeriksa kandang gajah yang kosong. Tanpa gajah, tempat itu terlihat ganjil. Terlihat lebih besar daripada yang seharusnya, hampa dan kosong seperti raksasa kerontang yang baru saja dicabut isi tubuhnya.

Sambil menyeka remah roti, aku terus mempelajari setiap baris dari artikel itu. Hilangnya si gajah pertama kali diketahui pada tanggal 18 Mei, pukul dua siang, -kemarin- ketika pekerja perusahaan katering sekolah mengantar truk berisi makanan seperti biasanya (si gajah seringnya menyantap sisa makan siang murid-murid sekolah dasar setempat). Di atas tanah, masih terkunci, belenggu baja yang digunakan untuk mengekang kaki belakang si gajah tergeletak, seolah si gajah meloloskan dirinya begitu saja. Si gajah bukanlah satu-satunya yang lenyap. Turut lenyap bersamanya, seorang pawang, lelaki yang selama ini bertanggung jawab atas si gajah.

Menurut artikel yang kubaca, terakhir kali si gajah dan pawangnya terlihat sekitar pukul lima pada hari sebelumnya (17 Mei) oleh beberapa murid sekolah dasar setempat yang tengah mengunjungi si gajah untuk menggambar sketsanya dengan krayon. Murid-murid ini adalah saksi terakhir yang melihat si gajah, menurut surat kabar, karena si pawang selalu menutup gerbang kandang gajah setiap sirene pukul enam berbunyi.

Baik si gajah maupun pawangnya tak menampakkan gelagat yang aneh, menurut kesaksian seorang murid yang tak disebutkan namanya. Si gajah tampak berdiri di tempat biasa, di tengah-tengah kandang, kadangkala menggoyangkan belalainya ke kiri dan ke kanan atau menyipitkan sepasang matanya yang keriput. Si gajah telah teramat tua sehingga setiap gerakan yang dilakukannya tampak memerlukan usaha yang luar biasa- terlalu tua dan rapuh sehingga orang-orang yang baru melihatnya untuk pertama kali bisa jadi merasa takut kalau-kalau si gajah akan tumbang dan mengembuskan napas terakhirnya.

Usia si gajah yang menyebabkan kota ini mengadopsinya setahun yang lalu. Ketika kesulitan keuangan memaksa kebun binatang swasta kecil di pinggir kota untuk menutup pintu usahanya, seorang agen satwa liar berkeliling ke penjuru negeri mencari tempat bagi hewan-hewan penghuni kebun binatang yang terancam tak berumah. Tetapi sepertinya semua kebun binatang telah memiliki banyak gajah, dan tak satupun bersedia menampung benda tua lemah yang kapan saja bisa mati akibat serangan jantung tiba-tiba itu. Dan lalu, setelah teman-temannya pergi, si gajah tetap tinggal sendirian di kebun binatang yang perlahan melapuk hingga kira-kira empat bulan lamanya tanpa ada hal berarti yang bisa dilakukannya- memang sih dari dulu juga si gajah tak melakukan apa-apa.

Kejadian ini menyebabkan banyak kesulitan, baik bagi pihak kebun binatang maupun pemerintah kota. Kebun binatang telah menjual tanahnya kepada pengembang yang memiliki rencana untuk membangun gedung kondominium yang menjulang, dan pemerintah kota telah mengeluarkan ijin. Semakin lama masalah si gajah ini dibiarkan tanpa penyelesaian, semakin besar jumlah pajak sia-sia yang harus dibayar oleh pihak pengembang. Meski begitu, membunuh si gajah sama sekali bukan pilihan. Mungkin saja, jika yang sedang dibicarakan ini adalah seekor monyet atau kelelawar, tetapi pembunuhan seekor gajah akan terlalu sulit untuk ditutup-tutupi, dan kalau sampai ketahuan, dampaknya akan sangat luar biasa. Setelah beragam pihak bertemu untuk membicarakan masalah ini, mereka merumuskan sebuah kesepakatan disposisi bagi si gajah tua:

  1. Pihak kota akan mengambil alih hak kepemilikan si gajah tanpa ongkos apapun.
  2. Pihak pengembang akan, tanpa kompensasi, menyediakan lahan bagi kandang si gajah.
  3. Bekas pemilik kebun binatang akan bertanggung jawab atas gaji pawang gajah.

Dari awal, aku telah menaruh perhatian pada masalah si gajah ini, dan aku menyimpan sebuah buku berisi kliping setiap pemberitaan yang bisa kutemukan. Bahkan, aku mengikuti debat dewan kota atas masalah ini. Maka dari itu, aku dapat memberikan informasi penuh dan akurat mengenai kejadian ini. Dan meskipun catatanku ini sepertinya cukup panjang, aku memilih untuk menuliskannya di sini, mungkin saja penanganan masalah si gajah sebelumnya ternyata berkaitan langsung dengan peristiwa lenyapnya si gajah.

Ketika negosiasi yang dilakukan oleh walikota telah mencapai kesepakatan- dengan keputusan bahwa pihak kota akan bertanggung jawab atas si gajah- gerakan perlawanan bergejolak dari dalam jajaran partai oposisi (yang keberadaannya tak pernah aku ketahui hingga saat itu). “Mengapa pihak kota harus mengambil alih hak kepemilikan gajah itu?” tanya mereka pada walikota, dan mereka mengajukan beberapa pokok tuntutan (aku mohon maaf atas daftar ini, tetapi aku membuatnya agar lebih mudah dimengerti):

  1. Masalah mengenai gajah adalah urusan pihak pengusaha swasta- kebun binatang dan pengembang; tidak ada alasan bagi pihak kota untuk ikut campur.
  2. Biaya perawatan dan makan akan sangat tinggi.
  3. Apa yang akan walikota lakukan terkait dengan masalah keamanan?
  4. Apa keuntungan yang akan didapatkan jika kota ini memiliki gajah sendiri?

“Kota ini telah memiliki banyak sekali tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum menambahinya dengan memelihara seekor gajah- perbaikan selokan, pembelian mobil pemadam kebakaran yang baru, dan lain-lain,” ujar kelompok oposisi, dan meskipun tidak secara terang-terangan menyatakannya, mereka memberi isyarat bahwa kemungkinan telah terjadi semacam kesepakatan rahasia antara walikota dan pihak pengembang.

Sebagai balasannya, walikota menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jika pihak kota mengijinkan pembangunan kondominium mewah, pendapatan kota dari pajak akan meningkat secara dramatis sehingga biaya pemeliharaan seekor gajah tidak perlu dirisaukan; maka dari itu sangatlah masuk akal bahwa pihak kota memutuskan untuk memelihara sang gajah.
  2. Sang gajah sudah sangat tua sehingga kemungkinan besar ia tidak akan makan banyak dan tidak akan membahayakan orang.
  3. Jika sang gajah mati, pihak kota memiliki hak penuh atas kepemilikan tanah yang telah disumbangkan oleh pihak pengembang.
  4. Sang gajah bisa menjadi simbol kota.

Debat panjang itu akhirnya mencapai kesimpulan bahwa pihak kota akan bertanggung jawab atas si gajah. Sebagai sebuah wilayah pemukiman yang telah mapan, kota ini dapat dengan mudah membangga-banggakan taraf hidup masyarakatnya yang relatif makmur, dan juga pijakan ekonomi yang aman. Mengadopsi seekor gajah tunawisma adalah sebuah langkah yang dapat diterima oleh masyarakat dengan senang hati. Orang-orang lebih menyukai seekor gajah tua ketimbang selokan dan mobil pemadam kebakaran.

Aku sendiri mendukung keputusan kota untuk merawat si gajah. Memang benar, aku mulai muak dengan kondominium yang menjulang tinggi, tetapi aku menyukai ide sebuah kota yang memiliki seekor gajah.

Sebuah wilayah yang ditumbuhi pohon-pohon serupa hutan kecil dibersihkan, dan bangunan pusat kebugaran sekolah dasar yang mulai usang dipindahkan ke sana lalu berubah fungsi menjadi kandang si gajah. Lelaki yang telah bertugas merawat si gajah selama bertahun-tahun ikut tinggal di sana. Sisa makan siang murid-murid sekolah menjadi makanan si gajah. Akhirnya, si gajah itu sendiri dipindahkan menggunakan mobil karavan ke rumah barunya, di sana ia akan melanjutkan hidupnya.

Aku berada di sana, di tengah kerumunan orang-orang, pada saat upacara peresmian kandang si gajah. Berdiri di hadapan si gajah, walikota memberikan pidatonya (mengenai pembangunan kota dan peningkatan fasilitas budayanya); seorang anak, sebagai wakil dari murid-murid sekolah dasar, berdiri membacakan sebuah puisi (“Semoga panjang umur dan sehat selalu, Tuan Gajah”); sebuah kontes menggambar diadakan (menggambar sketsa si gajah kemudian menjadi bagian dari kurikulum pendidikan seni sekolah dasar); dan dua perempuan dalam balutan gaun yang melambai (kedua-keduanya tidak ada yang cantik) memberi makan si gajah dengan setumpuk buah pisang. Si gajah melewati semua formalitas tak berarti itu (untuk si gajah memang semua ini tak ada artinya sama sekali) tanpa berkedip sekalipun, ia mengunyah buah pisang dengan tatapan kosong. Ketika ia selesai melahap buah pisang, semua orang bertepuk tangan.

Pada kaki belakang sebelah kanan, si gajah memakai belenggu baja yang terlihat kokoh dan berat. Dari belenggu itu, rantai tebal dengan panjang kira-kira tiga puluh kaki terentang, terikat kencang pada sebuah lempengan beton. Siapapun bisa melihat jangkar kokoh semacam apa yang menahan raksasa itu: Meski si gajah berjuang mati-matian selama seratus tahun untuk melepaskan diri, ia tak akan pernah bisa merusak benda yang berada di kakinya itu.

Aku tidak bisa memastikan apakah si gajah terganggu oleh belenggu itu. Setidaknya dari apa yang bisa kulihat, tampaknya ia tak menyadari ada sebuah potongan besar logam melilit kakinya. Si gajah terus menatap kosong ke titik yang entah ada di mana, sesekali telinganya melambai lembut, dan beberapa helai rambut putih di tubuhnya bergerak tertiup angin sepoi-sepoi.

Pawang si gajah adalah seorang lelaki tua yang kecil dan kurus. Sulit menebak usianya; mungkin saja ia baru memasuki usia enam puluh atau di ambang akhir tujuh puluh. Penampilannya tak lagi dipengaruhi oleh usia. Warna kulitnya gelap kemerahan seperti terbakar oleh matahari, tak peduli musim panas atau musim dingin, rambut pendeknya kaku, matanya kecil. Wajahnya tidak memiliki karakter khusus, tetapi ia memiliki sepasang telinga yang hampir-hampir bulat sempurna mencuat di kedua sisi wajahnya, terlihat sungguh mengganggu.

Bisa dibilang, ia cukup ramah. Jika seseorang berbicara padanya, ia akan menjawab dengan jelas. Kalau saja ia mau, ia bisa saja mempesona- walaupun semua orang tahu ia agak canggung. Secara umum, ia pendiam, seorang lelaki yang tampak kesepian. Agaknya, ia menyukai anak-anak yang mengunjungi kandang si gajah, dan ia berusaha untuk bersikap baik kepada mereka, tetapi anak-anak itu tak pernah benar-benar balas menyukainya.

Satu-satunya yang tulus menyukainya adalah si gajah. Si pawang menempati sebuah kamar kecil yang menempel pada kandang gajah, dan sepanjang hari ia tinggal dengan si gajah, mencukupi kebutuhan si gajah. Mereka telah hidup bersama selama lebih dari sepuluh tahun, dan semua orang bisa merasakan kedekatan mereka berdua dari setiap gerakan dan cara mereka saling memandang. Setiap kali si gajah berdiri di tengah-tengah kandangnya dengan tatapan kosong dan si pawang menginginkannya untuk bergerak, yang harus ia lakukan hanyalah berdiri di samping si gajah, menepuk kaki depannya, dan membisikkan sesuatu di telinganya. Lalu, bergeraklah si gajah sesuai kehendak si pawang, mengambil posisi baru, dan meneruskan tatapan kosongnya yang tertunda.

Pada akhir pekan, biasanya aku berkunjung ke kandang si gajah dan mempelajari kebiasaan mereka berdua tetapi aku tidak pernah bisa mengetahui prinsip dasar komunikasi antara si pawang dan si gajah. Mungkin si gajah mengerti beberapa kata sederhana (dipikir-pikir, ia memang sudah hidup dalam waktu yang amat lama untuk mengerti sedikit bahasa manusia), atau mungkin si gajah menerima informasi dari variasi tepukan di kakinya. Atau bisa jadi si gajah memiliki kemampuan khusus semacam telepati mental dan bisa membaca pikiran si pawang. Sekali waktu aku pernah bertanya pada si pawang mengenai bagaimana cara ia memberi perintah pada si gajah, tetapi lelaki tua itu hanya tersenyum dan berkata, “Kami sudah hidup bersama-sama sejak lama”

Dan lalu setahun telah berlalu. Kemudian, tanpa peringatan apa-apa, si gajah lenyap. Hari ini ia ada di sana, keesokannya ia lenyap tak berbekas.

Aku menuang kopi cangkir kedua dan membaca ulang berita itu dari awal hingga akhir. Sebenarnya, artikel itu cukup aneh- cukup aneh hingga bisa membangkitkan semangat Sherlock Holmes. “Lihat ini, Watson,” sang detektif berkata seraya menepuk pipa cerutunya. “Artikel yang sangat menarik. Sangat amat menarik.”

Hal yang menambah keganjilan dari artikel tersebut adalah kebingungan wartawan yang jelas-jelas terbaca dari tulisannya. Dan kebingungan ini nampaknya berasal dari absurditas situasi itu sendiri. Kau bisa melihat bagaimana si wartawan berjuang untuk menemukan cara yang cerdas dalam menuliskan situasi ganjil ini agar menjadi sebuah artikel yang “normal”. Tetapi perjuangannya sia-sia, ia bahkan mengubah keadaan dari sekedar kebingungan menjadi keputusasaan yang luar biasa. Sebagai contoh, artikel tersebut menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “gajah melarikan diri,” tetapi jika kau telah membaca keseluruhan tulisan jelas sekali bahwa tidak mungkin si gajah bisa “melarikan diri.” Si gajah telah lenyap, hilang tertelan udara. Si wartawan menunjukkan konflik yang berkecamuk dalam pikirannya sendiri dengan mengatakan bahwa beberapa “detail tidak jelas,” tetapi aku rasa fenomena semacam ini tidak bisa dikecilkan maknanya dengan menggunakan terminologi awam seperti “detail tidak jelas.”

Pertama, masalah terletak pada belenggu baja yang terikat kencang pada kaki si gajah. Benda ini ditemukan masih terkunci. Penjelasan yang paling masuk akal adalah si pawang telah membuka kunci belenggu, melepaskannya dari kaki si gajah, mengunci kembali belenggu tersebut, dan kabur bersama si gajah- hipotesis yang dengan gigih dipertahankan oleh surat kabar tetapi pada kenyataannya si pawang tidak memiliki kunci! Hanya ada dua kunci, dan keduanya, atas nama keamanan, disimpan di lemari besi, satu berada di kantor polisi dan satu lagi berada di kantor pemadam kebakaran, dua-duanya berada di luar jangkauan si pawang- atau orang lain jika ada yang berniat mencurinya. Dan meskipun seseorang telah berhasil mencuri kunci-kunci tersebut, tentu ia tak perlu repot-repot mengembalikan setelah menggunakannya. Namun esok harinya, kedua kunci tersebut ditemukan tergeletak dengan aman di lemari besi masing-masing- di kantor polisi dan kantor pemadam kebakaran. Kesimpulan yang bisa diambil adalah si gajah menarik keluar kakinya dari belenggu baja yang kokoh itu tanpa bantuan kunci- sebuah kemustahilan kecuali seseorang telah menggergaji kaki gajah tersebut hingga putus.

Masalah kedua adalah rute pelarian. Kandang si gajah dikelilingi oleh pagar besar setinggi hampir sepuluh kaki. Persoalan keamanan telah diperdebatkan dengan sangat sengit di dewan kota, dan pihak kota telah menetapkan sebuah sistem  keamanan yang bisa dibilang cukup berlebihan untuk menjaga seekor gajah tua. Jeruji besi yang berat ditancapkan pada pondasi beton yang tebal (biaya produksi pagar ditanggung oleh pihak pengembang), dan hanya ada satu pintu masuk, yang pada saat peristiwa lenyapnya si gajah terjadi ditemukan dalam keadaan terkunci dari dalam. Tidak mungkin si gajah bisa melarikan diri dari kandang serupa benteng ini.

Masalah ketiga adalah jejak. Tepat di belakang kandang si gajah ada sebuah bukit curam, tidak mungkin binatang itu mampu menaikinya, anggap  saja si gajah berhasil menarik keluar kakinya dari belenggu baja dan melompati pagar setinggi sepuluh kaki, ia tetap harus melewati jalan yang berada di depan kandang, dan tidak ditemukan satupun jejak kaki gajah pada tanah basah di jalan tersebut.

Dengan semua pernyataan tak masuk akal dan kebingungan yang jelas-jelas ditunjukkan, hanya ada satu kesimpulan dari artikel di surat kabar tersebut: Si gajah tidak melarikan diri. Si gajah lenyap.

Akan tetapi, baik surat kabar maupun kepolisian tidak bersedia mengakui- paling tidak, secara terbuka- bahwa si gajah telah lenyap. Polisi meneruskan penyelidikan, juru bicara mereka menyatakan bahwa hanya ada dua kemungkinan, si gajah “diambil atau dibiarkan melarikan diri dengan langkah-langkah yang telah diperhitungkan secara seksama. Akan tetapi karena menyembunyikan seekor gajah adalah pekerjaan yang sulit, tunggu saja, kami akan segera menyelesaikan kasus ini.” Pernyataan penuh optimisme ini ditambah dengan rencana pencarian di area hutan dengan bantuan klub pemburu lokal dan penembak jitu dari Tentara Pertahanan Nasional.

Walikota telah mengadakan konferensi pers, ia meminta maaf atas kurangnya sumber daya manusia di pihak kepolisian. Pada saat yang sama, ia menyatakan, “Sistem keamanan gajah kota ini tidak kalah dengan fasilitas serupa di setiap kebun binatang di negara ini. Tidak diragukan lagi, sistem ini jauh lebih kuat dan aman daripada kandang umumnya.” Ia juga menambahkan, “Tindakan berbahaya dan tidak masuk di akal ini tidak boleh kita biarkan begitu saja tanpa mendapatkan hukuman yang setimpal.”

Seperti yang terjadi setahun lalu, anggota partai oposisi kembali menyatakan tuduhan, “Kami ingin melihat tanggung jawab politik dari walikota; ia telah melakukan kolusi dengan perusahaan swasta dengan cara menjual warga kota sebagai solusi dari masalah gajah ini.”

Seorang ibu yang “tampak khawatir”, tiga puluh tujuh tahun, diwawancarai oleh surat kabar. “Sekarang saya takut untuk membiarkan anak-anak saya bermain di luar,” katanya.

Pemberitaan di surat kabar mencakup ringkasan rinci mengenai langkah-langkah yang mengarah pada keputusan kota untuk mengadopsi si gajah, sketsa kandang gajah, dan sejarah singkat si gajah dan si pawang yang ikut lenyap bersamanya. Lelaki itu, Noboru Watanabe, enam puluh tiga tahun, berasal dari Tateyama, di Prefektur Chiba. Ia telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai pawang di bagian hewan mamalia di kebun binatang, dan “telah dipercaya secara penuh oleh pihak kebun binatang, baik karena pengetahuannya yang mendalam tentang hewan maupun karena kepribadiannya yang tulus dan hangat.” Si gajah dikirim dari Afrika Timur dua puluh dua tahun yang lalu, tetapi tidak ada yang bisa memastikan usia si gajah yang sebenarnya juga bagaimana kepribadiannya. Laporan itu diakhiri dengan permintaan dari pihak kepolisian kepada warga kota untuk terus memberikan informasi yang mereka ketahui berkenaan dengan si gajah.

Aku memikirkan permintaan dari pihak kepolisian seraya meneguk kopi dari cangkir kedua, tetapi aku memutuskan untuk tidak menelepon polisi- baik karena aku tidak ingin berhubungan langsung dengan pihak kepolisian juga karena aku merasa polisi tidak akan mempercayai perkataanku. Apa gunanya berbicara dengan orang-orang seperti itu, yang bahkan tidak mempertimbangkan adanya kemungkinan bahwa si gajah telah lenyap begitu saja.

Aku mengambil buku catatanku dari atas rak, menggunting artikel si gajah, dan menempelkannya di sana. Lalu aku mencuci piring dan berangkat ke kantor.

Aku menonton berita pukul tujuh malam mengenai pencarian si gajah di televisi. Ada pemburu membawa senapan besar yang diisi penuh panah bius, Tentara Pertahanan Nasional, polisi, dan pemadam kebakaran menyisiri tiap inci hutan dan bukit di area sekitar sementara helikopter berputar-putar di atas mereka. Tentu saja, kita sedang membicarakan jenis “hutan” dan “bukit” yang bisa ditemukan di daerah pinggiran kota Tokyo, sehingga area yang harus ditelusuri tidaklah terlalu luas. Dengan banyaknya orang yang terlibat, seharusnya satu hari lebih dari cukup untuk melakukan pekerjaan itu. Dan lagi, mereka bukannya mencari seorang pembunuh maniak berukuran kecil: Mereka mencari seekor gajah Afrika raksasa. Si gajah hanya dapat bersembunyi di beberapa tempat tertentu. Tetapi tetap saja mereka gagal menemukannya. Kepala polisi muncul di layar televisi dan berkata, “Kami bermaksud untuk meneruskan pencarian.” Dan penyiar berita menyimpulkan laporan, “Siapa yang telah membebaskan gajah tersebut dan bagaimanakah caranya? Di mana mereka menyembunyikannya? Apakah motivasi mereka? Semuanya masih terselubung dalam misteri.”

Pencarian berlangsung selama beberapa hari, tetapi pihak yang berwenang tidak menemukan satupun petunjuk mengenai keberadaan si gajah. Aku mempelajari laporan-laporan di surat kabar, memotong semuanya, dan menempel klipingnya di buku catatanku- termasuk kartun editorial mengenai masalah ini. Buku catatanku segera habis, dan aku harus membeli buku yang baru. Meskipun sudah banyak kliping yang kukumpulkan, tidak ada satupun memuat fakta yang aku cari. Laporan-laporan itu sia-sia saja: GAJAH MASIH HILANG, MENDUNG MENEBAL DI PUSAT PENCARIAN, MAFIA DI BALIK HILANGNYA GAJAH? Setelah seminggu berlalu, artikel-artikel semacam ini semakin jarang dimuat hingga akhirnya tak ada sama sekali. Beberapa majalah mingguan memuat cerita sensasional- bahkan ada satu majalah yang menyewa cenayang- tetapi tidak satu artikel pun yang benar-benar berisi kecuali judul-judul luar biasa yang menarik perhatian saja. Tampaknya orang-orang mulai menggolongkan kasus si gajah sebagai “misteri tak terpecahkan.” Lenyapnya seekor gajah tua dan seorang pawang tua tidak akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Bumi akan terus berputar secara monoton pada rotasinya, politisi akan terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, orang-orang akan terus mengantuk dalam perjalanan mereka menuju ke kantor, anak-anak akan terus belajar untuk ujian masuk kuliah.

Di tengah gelombang pasang surut kehidupan sehari-hari yang tak ada habisnya, perhatian terhadap hilangnya gajah tak akan bertahan selamanya. Dan lalu, bulan demi bulan yang biasa-biasa saja berlalu, seperti pasukan tentara yang letih berbaris melewati jendela.

Tiap kali aku memiliki waktu luang, aku akan mengunjungi kandang gajah yang kosong. Sebuah rantai tebal mengikat jeruji besi pagar untuk mencegah orang-orang yang datang memasuki kandang. Mengintip ke dalam, aku bisa melihat pintu kandang gajah juga telah dikunci dengan rantai, seolah-olah pihak kepolisian tengah menebus kesalahan mereka dengan cara meningkatkan keamanan hingga berlapis-lapis atas kandang gajah yang sekarang kosong.

Area itu sekarang dilupakan, kerumunan orang sekarang berganti dengan kawanan merpati yang beristirahat di atas atap. Tidak ada yang merawat tanah di sekitar kandang, dan rumput musim panas yang berwarna hijau tumbuh dengan lebat di sana seakan-akan mereka telah menunggu kesempatan ini sejak lama. Rantai yang melingkar di pintu kandang gajah mengingatkan aku pada seekor ular raksasa yang menjaga puing-puing istana di sebuah hutan rimba. Beberapa bulan tanpa kehadiran si gajah, tempat itu seakan digelayuti mendung kesedihan yang tebal.

Aku bertemu dengannya di akhir bulan September. Saat itu, hujan turun seharian, dari pagi hingga malam- hujan berkabut yang kerap turun di waktu-waktu yang sama setiap tahunnya, sedikit demi sedikit membasuh kenangan musim panas yang membakar bumi. Mengalir turun sepanjang selokan, semua kenangan mengalir ke parit dan sungai, terbawa ke laut yang dalam dan gelap.

Kami berkenalan di sebuah pesta peluncuran kampanye iklan paling mutakhir yang diselenggarakan oleh perusahaanku. Aku bekerja di bagian PR sebuah produsen utama peralatan elektronik, dan pada saat itu aku bertanggungjawab atas publisitas lini peralatan dapur, yang dijadwalkan akan diluncurkan ke pasar pada musim semi (masa-masa saat banyak pernikahan dilaksanakan) dan musim dingin (masa-masa saat banyak kado dibeli dan bonus diberikan). Tugasku untuk bernegosiasi dengan beberapa majalah wanita agar memuat artikel mengenai produk perusahaan kami- memang bukan pekerjaan yang memerlukan tingkat intelektual yang tinggi, tetapi aku harus memastikan artikel yang mereka tulis tidak berseberangan dengan iklan kami. Tiap publisitas yang diberikan oleh majalah akan kami hargai dengan menempatkan iklan di halaman mereka. Mereka menggaruk punggung kami, kami menggaruk punggung mereka.

Sebagai seorang editor majalah yang menyasar ibu-ibu muda, ia datang ke pesta seraya membawa materi untuk salah satu “artikel.” Kebetulan, aku yang bertanggungjawab mengajaknya berkeliling, menunjukkan kelebihan dari kulkas berwarna-warni dan mesin pembuat kopi dan oven yang dikerjakan khusus oleh perancang terkenal dari Italia.

“Yang terpenting adalah kesatuan,” jelasku. “Bahkan peralatan dengan desain paling cantik akan mati jika tidak seimbang dengan lingkungannya. Kesatuan desain, kesatuan warna, kesatuan fungsi: Semua ini sangat diperlukan oleh peralatan kit-chin. Riset menyatakan bahwa ibu rumah tangga menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka di kitchin. Kit-chin adalah ruang kerja, ruang belajar, ruang keluarga mereka. Maka dari itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan lingkungan kit-chin yang nyaman. Seberapa luas kitchin tidaklah menjadi persoalan penting. Apakah kit-chin itu besar atau kecil, prinsip dasar sebuah kit-chin yang sempurna adalah kesatuan. Inilah konsep yang menggarisbawahi desain dari seri terbaru kami. Lihatlah kompor ini, contohnya…”

Ia mengangguk dan menulis beberapa hal di buku catatan kecil, tetapi jelas sekali ia tak terlalu tertarik dengan materi artikel, aku pun tak punya kepentingan pribadi atas kompor seri terbaru itu. Baik aku maupun dirinya hanyalah menjalankan pekerjaan kami.

“Kau tahu banyak tentang dapur,” katanya ketika aku selesai berbicara. Ia menggunakan kata ‘dapur’ dalam bahasa Jepang, tanpa menyinggung pilihan kataku ‘kit-chin.

“Itulah mata pencaharianku,” aku menjawab seraya menyungging senyum profesional.

“Selain itu, aku memang suka memasak. Bukan masakan yang mewah, hanya saja aku memasak untuk diriku sendiri setiap hari.”

“Namun, aku ragu kesatuan adalah hal yang paling penting untuk sebuah dapur.”

“Kami menyebutnya ‘kit-chin,’” saranku. “Bukan masalah besar, tetapi perusahaan menginginkan kami untuk menggunakan bahasa Inggris.”

“Oh. Maaf. Namun, aku masih ragu. Apakah kesatuan sangatlah penting bagi sebuah kit-chin? Bagaimana menurutmu?”

“Pendapat pribadiku? Tidak akan ada pendapat pribadi sampai aku melepas dasi,” ucapku seraya menyeringai. “Tetapi hari ini aku akan membuat pengecualian. Sebuah dapur mungkin saja membutuhkan hal-hal lainnya lebih dari sekadar kesatuan. Tetapi elemen-elemen lainnya itu tidak bisa dijual. Di dunia pragmatis yang kita huni ini, hal-hal yang tidak bisa dijual menjadi tidak penting.”

“Apakah dunia ini adalah tempat yang pragmatis?”

Aku mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.

“Aku tidak tahu- kata-kata itu muncul begitu saja,” ujarku. “Tetapi itu menjelaskan banyak hal. Membuat pekerjaan menjadi lebih mudah juga. Kau dapat bermain-main dengan hal itu, menciptakan pernyataan semacam: ‘pada dasarnya pragmatis,’ atau ‘pragmatis dalam esensinya.’ Jika kau melihat dari sudut pandang itu, kau bisa menghindari masalah-masalah rumit.”

“Pandangan yang sungguh menarik!”

“Tidak juga. Semua orang berpikir serupa. Oh, ngomong-ngomong, kami punya sampanye yang cukup enak. Mau mencobanya?”

“Terima kasih. Aku mau mencobanya.”

Sembari meneguk sampanye, kami berbincang-bincang. Ternyata kami memiliki beberapa kenalan yang sama. Jika diandaikan sebagai sebuah kolam, dunia bisnis yang kami geluti bukanlah sebuah kolam yang besar, sehingga jika beberapa kelereng dilemparkan ke dalamnya, mungkin saja satu atau dua saling mengenai satu sama lain. Selain itu, ia dan anak kakak perempuanku kebetulan lulus dari universitas yang sama. Akibat kebetulan-kebetulan itu, obrolan kami berjalan dengan mulus.

Dia tidak menikah, aku juga. Dia berusia dua puluh enam, aku berusia tiga puluh satu. Dia menggunakan lensa kontak, aku memakai kacamata. Dia memuji dasiku, dan aku memuji jaketnya. Kami saling membandingkan rumah kontrakan dan saling mengeluh mengenai pekerjaan dan gaji. Dengan kata lain, kami mulai menyukai satu sama lain. Dia adalah wanita yang menarik, dan tidak suka memaksa. Aku berdiri di hadapannya seraya menghabiskan waktu selama dua puluh menit untuk mengobrol, gagal menemukan satupun alasan untuk tidak menyukainya. Setelah pesta selesai, aku mengundang dia untuk menemaniku minum di lounge hotel, kami meneruskan perbincangan di sana. Hujan yang senyap turun di luar jendela, lampu-lampu kota mengirimkan pesan yang mengabur lewat kabut. Keheningan yang basah tercipta di lounge yang hampir kosong. Dia memesan frozen daiquiri dan aku memesan scotch on the rocks.

Sambil menyesap minuman, kami terbawa percakapan layaknya sepasang lelaki dan perempuan yang baru saja bertemu di sebuah bar dan mulai menyukai satu sama lain. Kami membicarakan masa-masa kuliah, selera musik, olahraga, dan kegiatan sehari-hari.

Lalu aku menyinggung perihal si gajah. Bagaimana mulanya, aku tak ingat. Mungkin kami tengah berbicara mengenai sesuatu yang ada hubungannya dengan hewan, mungkin itulah awal mulanya. Atau mungkin, tanpa aku sadari, aku telah lama berharap ada seseorang- seorang pendengar yang baik- yang dapat kuberitahu tentang pendapatku sendiri mengenai masalah lenyapnya si gajah. Atau, mungkin saja, pengaruh minuman keraslah yang membuatku berbicara.

Apapun itu, begitu kata-kata meluncur dari bibirku, aku menyadari bahwa aku telah menyinggung topik yang tidak cocok. Tidak, seharusnya aku tidak menyebut perihal si gajah. Topik ini- apa, ya?- terlalu kompleks, terlalu rahasia.

Aku mencoba mengubah arah pembicaraan, tetapi nasib berkata lain, dia lebih tertarik pada kasus lenyapnya si gajah, dan setelah aku mengakui bahwa aku sering melihat si gajah, dia menghujaniku dengan berbagai pertanyaan- apa jenis gajah itu, menurutku bagaimana gajah itu bisa meloloskan diri, apa yang dimakan gajah itu, apakah lenyapnya gajah itu dapat membahayakan masyarakat, dan seterusnya.

Apa yang kukatakan padanya tak lebih dari apa yang telah diberitakan sebelumnya, tetapi tampaknya dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari nada suaraku. Memang, aku bukan pembohong yang baik.

Seolah-olah tak menyadari perilaku anehku, ia menyesap gelas daiquiri kedua dan bertanya, “Tidakkah kau terkejut ketika gajah itu lenyap? Siapa yang menduga hal semacam ini bisa terjadi.”

“Tidak, mungkin tidak ada yang bisa menduganya,” ucapku. Aku mengambil pretzel dari dalam piring kaca di atas meja kami, mematahkannya menjadi dua, dan memakan setengahnya. Pelayan mengganti asbak kami dengan asbak kosong.

Dia menatapku penuh harap. Aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Aku berhenti merokok tiga tahun yang lalu, tetapi mulai merokok lagi semenjak si gajah lenyap.

“Mengapa ‘mungkin tidak ada yang bisa menduganya’? Mengapa ‘mungkin’? Apakah maksudmu kau bisa saja telah menduganya?”

“Tidak, tentu aku tidak bisa menduganya,” ucapku seraya tersenyum. “Seekor gajah tiba-tiba lenyap pada suatu hari- tentu tidak bisa diduga akan terjadi. Sungguh tidak masuk di akal.”

“Tetapi jawabanmu terdengar sungguh aneh. Ketika aku berkata, ‘Siapa yang menduga hal semacam ini bisa terjadi,’ kau menjawab, ‘Tidak, mungkin tidak ada yang bisa menduganya.’ Kebanyakan orang akan menjawab ‘Kau benar,’ atau ‘Yah, ini aneh sekali,’ atau jawaban lain semacam itu. Kau mengerti maksudku?”

Aku mengangguk sekilas dan mengangkat tanganku untuk memanggil pelayan. Keheningan yang tak pasti terjadi sementara aku menunggu pelayan membawakan scotch untukku.

“Aku sulit memahami semua ini,” ujarnya lembut. “Obrolan kita berdua benar-benar normal hingga beberapa menit yang lalu- setidaknya hingga topik pembicaraan mengenai gajah itu muncul. Lalu sesuatu yang lucu terjadi. Aku tidak mengerti dirimu lagi. Ada sesuatu yang salah. Apakah gajah itu? Atau telingaku sedang melakukan tipu daya padaku?”

“Tidak ada yang salah dengan telingamu,” ucapku.

“Jadi masalahnya ada di dirimu.”

Aku mengaduk es di dalam gelas minuman dengan ujung jariku. Aku suka suara es di dalam gelas.

“Aku tidak akan menyebutnya ‘masalah’. Bukan hal yang besar. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Hanya saja, aku tak yakin bisa membicarakannya secara jelas, jadi aku berusaha tidak mengatakan apapun. Tetapi kau benar- hal ini memanglah aneh.”

“Apa maksudmu?”

Tidak ada gunanya: aku harus menceritakannya. Satu tegukan wiski dan aku memulainya.

“Begini, mungkin saja akulah orang terakhir yang melihat si gajah sebelum ia lenyap. Aku melihatnya setelah pukul tujuh malam pada tanggal tujuh belas Mei, dan mereka menyadari hilangnya si gajah pada sore hari tanggal delapan belas. Karena mereka mengunci kandang gajah pada pukul enam, tidak ada yang melihat si gajah semenjak itu.”

“Aku tak mengerti. Jika mereka mengunci kandang pada pukul enam, bagaimana bisa kau melihatnya pada pukul tujuh?”

“Ada semacam tebing di belakang kandang gajah. Sebuah bukit curam di area properti pribadi seseorang, tanpa akses jalan. Ada satu titik, di belakang bukit, kau bisa melihat ke arah kandang gajah dari sana. Mungkin, aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui tempat itu.”

Aku menemukan tempat itu secara tidak sengaja. Suatu hari, Minggu sore tepatnya, ketika tengah berjalan-jalan di sekitar situ, tiba-tiba saja aku tersesat dan sampai di puncak tebing. Ada sepetak tanah datar di sana, cukup besar untuk satu orang, dan saat aku melihat ke arah bawah melewati semak-semak, tampaklah atap kandang gajah.

Di bawah tepi atap terdapat sebuah ventilasi yang cukup besar, dan melalui itu aku bisa melihat dengan jelas bagian dalam kandang gajah.

Setelahnya aku menjadi terbiasa, sesekali berkunjung ke tempat itu untuk melihat apakah si gajah ada di kandangnya atau tidak. Jika ada orang yang bertanya mengapa aku rela bersusah payah melakukan hal semacam itu, sesungguhnya aku tidak memiliki jawaban yang bagus. Hanya saja, aku menikmatinya, memerhatikan si gajah selama ia sendirian saja. Tidak lebih dari itu.

Aku tidak bisa melihat si gajah ketika hari telah gelap, tentu saja, tetapi saat malam masih muda, si pawang biasanya menyalakan lampu sembari ia menunaikan kewajibannya untuk merawat si gajah.Oleh karena itu, aku bisa mempelajari situasi secara rinci.

Apa yang menarik perhatianku adalah kasih sayang yang sungguh nyata ditunjukkan oleh si gajah dan si pawang ketika mereka hanya tinggal berdua, mereka benar-benar menyukai satu sama lain- hal ini tak pernah mereka tunjukkan di hadapan publik. Rasa kasih dan sayang mereka jelas tergambar dari tiap gerakan. Seolah-olah, di siang hari mereka menyimpan seluruh emosi yang ada untuk dikeluarkan di malam harinya.

Sebenarnya mereka tidak melakukan hal-hal yang berbeda ketika mereka hanya berdua saja di dalam kandang. Si gajah hanya berdiri di tempatnya, menatap kosong seperti biasa, dan si pawang akan mengerjakan tugas-tugas yang umumnya dikerjakan oleh seorang pawang: menggosok bagian bawah si gajah dengan sapu, memungut kotoran si gajah yang ukurannya sungguh besar, membersihkan bekas makan si gajah. Tetapi tidak salah lagi, terlihat ada semacam kehangatan yang istimewa, rasa saling memercayai, di antara mereka berdua.

Sementara si pawang menyapu lantai, si gajah akan melambaikan belalainya dan menepuk-nepuk pelan punggung si pawang. Aku suka melihat si gajah melakukan hal itu.

“Apakah kau selalu menyukai gajah?” dia bertanya. “Maksudku gajah pada umumnya?”

“Hmm… kalau dipikir-pikir, aku memang suka gajah,” jawabku. “Ada sesuatu pada gajah yang membuatku bergairah. Kurasa, aku selalu menyukai mereka. Tidak tahu kenapa.”

“Dan hari itu, hari lenyapnya gajah itu, setelah matahari terbenam, kau ada di atas bukit sendirian, untuk melihat si gajah. Mei- tanggal berapa, ya?”

“Tujuh belas. Tujuh belas Mei, pukul tujuh malam. Hari telah gelap saat itu, langit berwarna kemerahan, tetapi lampu di kandang gajah masih menyala.”

“Apakah ada sesuatu yang aneh dengan gajah itu atau pawangnya?”

“Ya, ada dan tidak ada. Aku tak bisa mengatakannya secara pasti. Mereka kan tidak benar-benar berdiri di hadapanku. Aku mungkin bukanlah saksi yang bisa diandalkan.”

“Apa yang terjadi, tepatnya?”

Aku meneguk scotch, es di dalamnya sudah mencair. Di luar jendela, hujan masih turun, tidak menderas dan tidak pula mereda, bagaikan elemen statis dari sebuah lanskap yang tidak akan pernah berubah.

“Sebenarnya tidak ada yang terjadi. Si gajah dan si pawang menyelesaikan rutinitas yang selalu mereka lakukan: bersih-bersih, makan, bermain-main berdua. Semuanya sama saja. Tetapi mereka memang terlihat berbeda. Ada sesuatu mengenai keseimbangan di antara mereka.”

“Keseimbangan?”

“Pada ukuran. Tubuh mereka berdua. Tubuh si gajah dan si pawang. Keseimbangan antara mereka berdua berubah. Aku merasa, hingga batas tertentu, perbedaan di antara mereka berdua telah menyusut.”

Sesaat, dia menatap lekat-lekat gelas berisi daiquiri di tangannya. Aku bisa melihat es di dalam gelas itu telah mencair dan air seolah berjuang keras melewati minuman di dalamnya seperti arus laut kecil.

“Artinya gajah itu mengecil?”

“Atau si pawang yang membesar. Atau kedua-duanya berubah ukuran secara bersamaan.”

“Dan kau tidak mengatakan hal ini kepada pihak kepolisian?”

“Tidak, tentu saja tidak,” ucapku. “Aku yakin mereka tidak akan percaya padaku. Dan jika kukatakan pada mereka bahwa aku diam-diam menyaksikan si gajah dari atas bukit di malam hari, mungkin saja aku akan menjadi tersangka nomor satu.”

“Namun, apakah kamu benar-benar yakin bahwa keseimbangan ukuran tubuh mereka berubah?”

“Mungkin. Aku hanya bisa berkata ‘mungkin.’ Aku tidak punya bukti, dan seperti yang telah aku katakan, aku menyaksikan mereka lewat lubang ventilasi udara. Tetapi aku telah melihat mereka berdua berkali-kali, sehingga rasanya tidak mungkin aku membuat kesalahan mengenai sesuatu yang amat mendasar seperti ukuran tubuh mereka.”

Kenyataannya, pada saat itu aku bertanya-tanya, apakah mataku telah menipuku. Aku berusaha menutup dan membuka mataku dan menggeleng-gelengkan kepalaku, tetapi ukuran si gajah tetap sama. Jelas, tampak seolah-olah ia telah menyusut- sangat menyusut hingga pada awalnya kukira pihak kota telah memiliki seekor gajah baru yang berukuran lebih kecil.

Tetapi aku tidak mendengar apa-apa tentang hal tersebut, dan aku tidak pernah melewatkan pemberitaan mengenai si gajah. Jika ini bukan gajah yang baru, satu-satunya kesimpulan yang mungkin diambil adalah bahwa si gajah tua telah, oleh karena sesuatu hal dan lainnya, menyusut. Semakin lama aku melihat kejadian tersebut, semakin jelas bahwa gajah yang lebih kecil ini memiliki gerakan-gerakan serupa gajah yang lama.

Saat dimandikan, gajah ini akan menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah dengan senangnya, dan dengan belalainya yang tampak mengecil ia menepuk-nepuk punggung si pawang.

Sungguh pemandangan yang misterius. Melalui lubang ventilasi udara, aku merasa, waktu yang berbeda telah mengalir melewati kandang gajah- hanya di kandang si gajah dan tidak di tempat lainnya. Dan bagiku, tampaknya si gajah dan si pawang dengan senang hati menyerahkan diri kepada tatanan baru yang mencoba menyelimuti mereka- atau yang sebagian telah berhasil menyelimuti mereka. Secara keseluruhan, aku mungkin menyaksikan adegan di kandang si gajah itu selama kurang dari setengah jam. Lampu dipadamkan pada pukul tujuh lewat tiga puluh menit- lebih awal dari biasanya- dan semenjak itu segalanya terbungkus kegelapan.

Itulah kali terakhir aku melihat si gajah.

“Jadi, kalau begitu, kau percaya bahwa si gajah terus menerus mengecil hingga ukuran tubunya cukup untuk meloloskan diri melewati jeruji besi kandang, ataukah ia akhirnya larut ke dalam kehampaan. Begitukah?”

“Aku tidak tahu,” ujarku. “Yang aku coba lakukan hanyalah mengingat-ingat apa yang telah aku saksikan dengan kedua mataku sendiri, seakurat mungkin. Aku tidak berpikir mengenai apa yang terjadi setelahnya. Citra visual dalam ingatanku begitu kuat, sehingga jujur saja, aku tidak bisa membayangkan hal-hal lain di luar itu.”

Hanya itu yang bisa kukatakan mengenai lenyapnya si gajah. Dan seperti yang kutakutkan sebelumnya, cerita mengenai si gajah ini terlalu istimewa, terlalu kompleks, untuk ukuran topik pembicaraan antara seorang lelaki dan seorang perempuan yang baru saja bertemu.

Keheningan turun di atas kami berdua setelah aku menyelesaikan kisahku.

Obrolan apa yang mungkin kami angkat setelah cerita tentang seekor gajah yang lenyap- sebuah cerita yang tak menawarkan apapun sebagai bahan diskusi lebih lanjut?

Dia menelusuri bibir gelas dengan ujung jarinya, dan aku duduk di sana membaca dan membaca ulang tulisan yang dicetak pada tatakan gelasku. Seharusnya, aku tak perlu menceritakan perihal si gajah padanya. Memang bukan jenis cerita yang bisa diceritakan secara sembarangan pada semua orang.

“Ketika aku masih kecil, kucingku lenyap,” ujarnya memecah keheningan yang panjang. “Tetapi, tetap saja, mudah sekali bagi seekor kucing untuk lenyap, sementara bagi seekor gajah untuk lenyap- keduanya adalah cerita yang berbeda.”

“Ya, benar. Tidak bisa dibandingkan. Mengingat perbedaan tubuh mereka.”

Tiga puluh menit kemudian, kami saling berpamitan di luar hotel. Tiba-tiba dia teringat bahwa payung yang dibawanya tertinggal di lounge, maka aku kembali naik ke atas menggunakan elevator dan membawakan payung itu untuknya. Sebuah payung berwarna merah bata dengan pegangan yang tebal.

“Terima kasih,” katanya.

“Selamat malam,” ucapku.

Itulah kali terakhir aku bertemu dengannya. Kami mengobrol melalui telepon setelahnya, berkaitan dengan artikel pesanan perusahaanku yang tengah dia tulis. Ketika kami berbicara, aku benar-benar berpikir untuk mengundangnya makan malam, tetapi akhirnya tidak kulakukan. Segalanya tampak tak penting.

Aku seringkali merasakan hal semacam ini sejak pengalamanku menyaksikan lenyapnya si gajah. Aku mulai berpikir, mungkin saja aku ingin melakukan sesuatu, tetapi kemudian aku tak dapat menemukan perbedaan yang berarti jika aku melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Seringkali, aku merasa bahwa benda-benda di sekelilingku telah kehilangan keseimbangan, meskipun mungkin saja persepsiku telah memperdayaku. Keseimbangan di dalam diriku telah hancur semenjak urusan gajah itu terjadi, dan mungkin menyebabkan cara pandangku berubah, aku memandang fenomena di luar keberadaanku secara aneh. Mungkin saja ada sesuatu di dalam diriku.

Aku terus menjual kulkas dan oven dan mesin pembuat kopi di dunia yang pragmatis, berdasakan sensasi atas citra visual yang tertinggal dalam kenangan yang aku pertahankan dari dunia itu. Semakin aku mencoba menjadi lebih pragmatis, semakin sukses penjualanku- kampanye iklan kami telah berhasil melampaui prediksi paling optimis yang kami perkirakan sebelumnya- dan semakin berhasil aku menjual diriku sendiri kepada lebih banyak orang. Hal ini mungkin terjadi karena orang mencari semacam kesatuan pada dunia yang serupa kit-chin ini. Kesatuan desain. Kesatuan warna. Kesatuan fungsi.

Surat kabar hampir tak pernah lagi memberitakan apapun berkenaan dengan si gajah. Tampaknya, orang-orang telah melupakan bahwa pernah ada suatu masa ketika kota yang mereka huni memiliki seekor gajah. Rumput yang tumbuh mengambil alih kandang si gajah telah layu sekarang, dan nuansa musim dingin telah mendatangi tempat itu.

Si gajah dan si pawang telah lenyap sama sekali. Mereka tak akan pernah kembali.

—diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jay Rubin. Bahasa Indonesia oleh Amalia Achmad.

Cerpen Haruki Murakami: Kucing Pemakan Manusia

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Oleh Haruki Murakami

Cerpen Haruki Murakami

Aku membeli koran di pelabuhan dan menemukan sebuah artikel tentang seorang wanita tua yang dimakan kucing. Ia berusia tujuh puluh tahun dan tinggal sendirian di kota kecil pinggiran Athena—semacam kehidupan yang tenang, hanya ia dan tiga ekor kucing dalam sebuah apartemen kecil. Suatu hari, ia tiba-tiba jatuh pingsan dengan posisi tertelungkup di sofa—serangan jantung, kemungkinan besar. Tak ada yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga ia meninggal dunia setelah pingsan. Wanita tua itu tidak memiliki kerabat atau teman yang mengunjunginya secara teratur, dan diperlukan satu minggu sebelum tubuhnya ditemukan. Jendela dan pintu ditutup, dan kucing terjebak. Tak ada makanan di dalam apartemen itu. Memang, mungkin ada sesuatu di lemari es, namun kucing tidak berevolusi sampai titik di mana mereka bisa membuka lemari es sendiri. Di ambang kelaparan, mereka akhirnya melahap daging tuan mereka.

Aku membaca artikel ini untuk Izumi, yang duduk di depanku. Pada hari-hari cerah, kami biasanya berjalan ke pelabuhan, membeli salinan koran Athena yang berbahasa Inggris, memesan kopi di kafe sebelah kantor pajak, dan setelah itu aku akan meringkas dalam bahasa Jepang sesuatu yang menarik yang mungkin kutemukan. Sejauh ini, itulah jadwal rutin kami sehari-hari di pulau. Jika ada sesuatu di artikel khusus yang menarik minat kami, kami akan berdiskusi santai sejenak tentang artikel itu. Bahasa Inggris Izumi cukup bagus, dan sesungguhnya ia bisa dengan mudah membaca artikel sendiri. Tapi aku tidak pernah sekalipun melihat ia membeli koran.

“Aku ingin memiliki seseorang yang membacakannya untukku,” jelasnya. “Itu mimpiku sejak masih kecil—duduk di tempat yang cerah, memandangi langit atau laut, dan memiliki seseorang yang membaca keras-keras untukku. Aku enggak peduli apa yang mereka baca—koran, buku pelajaran, novel. Bukan masalah.  Tapi belum pernah ada seorang pun yang membaca untukku. Jadi, kukira, itu artinya kamu diciptakan untuk semua kesempatan yang hilang itu. Dan selain itu, aku suka suaramu.”

Yah, ada langit dan laut di hadapan kami. Dan aku senang membaca keras-keras. Saat tinggal di Jepang, aku biasa membacakan buku-buku bergambar dengan lantang untuk anak lelakiku. Membaca dengan suara lantang berbeda dengan hanya mengikuti kalimat dengan sepasang matamu. Sesuatu yang sungguh tak terduga mengalir di dalam pikiranmu, semacam resonansi tak terlukiskan yang tidak mungkin dilawan.

Sambil sesekali menyesap kopi, aku membaca artikel dengan perlahan-lahan. Aku lebih dulu membaca beberapa baris untuk diriku sendiri, merenungkan bagaimana memasukkannya ke dalam bahasa Jepang, kemudian menerjemahkannya dengan suara keras. Beberapa lebah muncul dari suatu tempat untuk menjilat selai sisa pelanggan sebelumnya yang tumpah di atas meja. Sesaat lebah-lebah itu menjilatinya, lalu, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, terbang ke udara dengan dengung yang seperti upacara, mengitari meja beberapa kali, dan kemudian—lagi-lagi seolah sesuatu membangkitkan ingatan mereka—menetap sekali lagi di atas meja. Setelah aku selesai membaca seluruh artikel, Izumi duduk di sana, tak bergerak, dengan siku bertumpu di atas meja. Ia mempertemukan ujung jemari kanan dengan ujung jemari kirinya. Aku meletakkan koran di atas pangkuan dan menatap jemari rampingnya. Ia menatapku melalui ruang antara jemarinya.

“Lalu, apa yang terjadi?” tanyanya.

“Cuma begitu saja,” jawabku, dan melipat koran. Aku mengambil sapu tangan dari dalam saku dan menyeka bintik-bintik ampas kopi dari bibirku. “Setidaknya, hanya itulah yang diwartakan.”

“Tapi apa yang terjadi dengan kucing-kucingnya?”

Aku memasukkan saputangan kembali ke dalam saku. “Entahlah. Enggak dibahas lebih lanjut.”

Izumi mengerutkan bibirnya ke satu sisi, kebiasaan kecilnya. Setiap kali ia hendak melontarkan pendapat—yang kerap berbentuk seperti deklarasi kecil— ia mengerutkan bibir seperti itu, seolah tengah menyentak sprei untuk merapikan kerutan-kerutan liar. Ketika pertama kali bertemu dengannya, kebiasaan itu cukup memikatku.

“Koran itu semua sama saja, ke mana pun kamu pergi,” ia akhirnya melanjutkan. “Koran-koran itu enggak pernah memberitahu apa yang benar-benar ingin kautahu.”

Izumi mengeluarkan sebatang rokok Salem dari kotaknya, meletakkannya di mulut, dan menggesek korek api. Setiap hari, ia menghabiskan sebungkus rokok Salem—tidak kurang, tidak lebih. Ia membuka bungkus baru di pagi hari dan menghabiskan rokok itu hingga hari berakhir. Aku tidak merokok. Istriku membuatku berhenti, lima tahun yang lalu, saat ia hamil.

“Apa yang aku benar-benar ingin tahu,” Izumi memulai, asap dari rokoknya bergelung tanpa suara di udara, “Adalah apa yang terjadi dengan para kucing setelahnya. Apakah pihak berwajib membunuh mereka karena mereka makan daging manusia? Ataukah mereka bilang, ‘kalian sudah melawati masa-masa sulit,’ lantas memberi mereka tepukan di kepala, dan membiarkan mereka pergi? Menurutmu bagaimana?”

Aku memandangi lebah yang melayang di atas meja dan berpikir tentang pertanyaan itu. Lebah-lebah kecil yang gelisah menjilati selai dan tiga kucing yang melahap daging wanita tua itu menjadi satu dalam benakku. Jeritan burung-burung camar di kejauhan berkelindan dengan dengung lebah, dan sepersekian detik kesadaranku tersesat di ambang batas kenyataan dan ilusi. Di manakah aku? Apa yang sedang kulakukan di sini? Aku kehilangan tumpuan dalam situasi seperti ini. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap ke langit, dan berpaling ke Izumi.

“Aku enggak tahu.”

“Coba pikirkan ini. Jika kamu adalah seorang walikota atau kepala polisi, apa yang akan kamu lakukan dengan kucing-kucing itu?”

“Bagaimana kalau menempatkan mereka dalam sebuah institusi untuk mereformasi mereka?” kataku. “Ubah mereka jadi vegetarian.”

Izumi tidak tertawa. Ia menghisap rokok dan mengeluarkan asapnya dengan sangat perlahan. “Cerita itu mengingatkanku pada sebuah ceramah yang kudengar saat baru masuk di SMP Katolik. Eh, apa aku sudah bilang aku pernah bersekolah di sekolah Katolik yang sangat ketat? Sesaat setelah upacara masuk, salah satu suster kepala menyuruh kami semua berkumpul di auditorium, dan kemudian dia naik ke podium dan memberikan ceramah tentang ajaran Katolik. Ia berbicara banyak hal, tapi yang paling kuingat—sebenarnya, satu-satunya hal yang kuingat—adalah cerita yang ia tuturkan kepada kami tentang terdampar di sebuah pulau terpencil bersama seekor kucing.”

“Kedengarannya menarik,” ujarku.

“’Kalian berada dalam kecelakaan kapal,’ katanya kepada kami. ‘Satu-satunya yang ada di sekoci hanya kalian dan kucing. Kalian terdampar di salah satu pulau terpencil tak bernama, dan di sana tidak ada satu pun untuk dimakan. Yang kalian miliki hanya air secukupnya dan biskuit kering untuk menopang hidup satu orang selama sekitar sepuluh hari.’ Ujarnya, ‘Baiklah, semuanya, saya ingin kalian membayangkan diri dalam situasi ini. Tutup mata kalian dan cobalah membayangkannya. Kalian sendirian di pulau terpencil, hanya kalian dan seekor kucing. Kalian hampir tidak memiliki makanan sama sekali. Kalian paham? Kalian lapar, haus, dan akhirnya kalian akan mati. Apa yang harus kalian lakukan? Haruskah kalian berbagi simpanan makanan dengan kucing? Tidak, kalian tidak harus melakukannya. Itu merupakan suatu kesalahan. Kalian semua adalah makhluk mulia, makhluk pilihan  Tuhan, dan kucing bukan. Itulah mengapa kalian harus makan semua makanan itu sendiri.’ suster itu memandangi kami dengan tatapan yang amat serius. Aku sedikit terkejut. Apa gerangan tujuannya bercerita seperti itu kepada anak-anak yang baru saja masuk sekolah? Aku berpikir, wah, tempat macam apa yang aku masuki ini?”

Cerpen Haruki Murakami

Izumi dan aku tinggal di sebuah apartemen sederhana di salah satu pulau kecil Yunani. Saat ini bukanlah musim liburan, dan pulau ini tidak memiliki terlalu banyak tempat wisata, jadi harga sewanya murah. Sebelumnya, tak satu pun dari kami pernah mendengar tentang pulau ini. Terletak dekat perbatasan Turki, dan pada hari-hari yang cerah kau bisa melihat pegunungan Turki yang kehijauan. Ada guyonan setempat yang mengatakan bahwa di hari-hari berangin, kau bisa menghirup aroma shish kebab. Lelucon lainnya, pulau itu bahkan lebih dekat ke pantai Turki daripada pulau Yunani terdekat. Dan di sana—nampak samar tepat di hadapan kami—adalah Asia Kecil.

Di alun-alun kota terdapat patung pahlawan kemerdekaan Yunani. Ia memimpin insureksi di daratan Yunani dan merencanakan pemberontakan melawan Turki, yang kala itu menguasai pulau itu. Tapi Turki menangkap dan membunuhnya. Mereka mendirikan tiang pancang berujung runcing di alun-alun dekat pelabuhan, melucuti sang pahlawan malang hingga telanjang, dan menusukkannya ke tiang pancang itu. Berat tubuhnya mendorong ujung runcing pancang melewati anusnya dan lalu seluruh tubuhnya—dengan amat-sangat perlahan—hingga akhirnya keluar dari mulut, cara mati yang mengerikan. Patung itu didirikan di titik yang diperkirakan adalah tempat peristiwa itu berlangsung. Saat kali pertama dibangun, pasti sangat mengesankan, namun kini, akibat ulah angin laut, debu, dan kotoran burung camar, kau bahkan nyaris tidak bisa melihat wajah pria itu. Penduduk lokal hanya melihat patung lusuh itu sekilas lalu, dan kini pahlawan itu tampak seolah-olah tengah memunggungi orang-orang, pulau itu, memunggungi dunia.

Saat Izumi dan aku duduk di bagian luar kafe, minum kopi atau bir, menatap tanpa tujuan ke kapal yang bersandar di pelabuhan, burung-burung camar, dan bukit-bukit Turki yang jauh, kami sesungguhnya tengah duduk di tepian Eropa. Angin yang berhembus adalah angin di tepian dunia. Tak terhindarkan lagi, aura retro memenuhi tempat itu. Keadaan itu membuatku merasa seakan sedang diam-diam ditelan oleh kenyataan ganjil, sesuatu yang asing dan tak terjamah, samar-samar namun lembut menyapaku dengan cara yang tak lazim. Dan bayangan dari substansi itu mewarnai roman muka, mata, dan kulit orang-orang yang berkumpul di pelabuhan.

Kadang kala aku tidak bisa memahami fakta bahwa aku adalah bagian dari pemandangan ini. Berapa kali pun aku memandangi panorama di sekitarku, sebanyak apa pun udara yang kuhirup, tetap saja tak kutemukan hubungan yang padu antara aku dan semua ini.

Dua bulan yang lalu, aku tinggal bersama istri dan anak lelaki kami yang berusia empat tahun di sebuah apartemen tiga kamar di Unoki, di Tokyo. Bukan tempat yang luas, akan tetapi cukup menopang hidupmu, sebuah apartemen yang fungsional. Aku dan istriku menempati kamar tidur kami sendiri, begitu pula anak kami, dan ruang yang tersisa menjadi ruang belajarku. Apartemen itu tenang, dengan pemandangan yang bagus. Pada akhir pekan, kami bertiga akan berjalan-jalan di sepanjang tepi Sungai Tama. Pada musim semi, pohon-pohon ceri di sepanjang tepi sungai bermekaran, aku biasanya naik sepeda memboncengi anakku dan kami pergi menonton pelatihan musim semi tim Giants’ Triple A.

Aku bekerja di sebuah perusahaan desain skala menengah yang khusus menangani buku dan layout majalah. Menyebutku seorang ‘desainer’ akan membuat pekerjaanku terdengar lebih menarik dari kenyataannya, karena pekerjaan itu sendiri nyaris ‘tak bisa diapa-apakan lagi’. Tak ada kemewahan, dan tak bisa dibayangkan lebih. Seringnya, jadwal kami agak terlalu sibuk, dan beberapa kali dalam sebulan aku harus lembur di kantor. Beberapa pekerjaannya amat-sangat membosankan sampai-sampai membuatku ingin menangis. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya, dan perusahaannya sendiri tempat yang santai. Dengan senioritasku, aku bisa memilih sendiri pekerjaanku, dan cukup bebas berkata apa pun yang aku mau. Atasanku baik, dan aku bisa membaur dengan rekan kerja yang lain. Dan gajiku tidak terlalu buruk. Jadi jika tidak ada halangan, aku mungkin akan menetap di perusahaan itu hingga masa mendatang. Dan hidupku, seperti Sungai Moldau—lebih tepatnya sekumpulan air tanpa nama yang membentuk Sungai Moldau—akan terus mengalir, dengan cepat, menuju laut.

Tapi di tengah perjalanan aku bertemu Izumi.

*

Izumi sepuluh tahun lebih muda dariku. Kami bertemu di sebuah pertemuan bisnis. Sesuatu yang ‘klik’ terjadi antara kami saat pertama kali mata kami beradu-pandang. Bukanlah hal yang sering terjadi. Setelah itu, kami bertemu beberapa kali untuk membahas rincian proyek kerja sama itu. Aku pergi ke kantornya, atau dia mampir ke kantorku. Pertemuan kami selalu singkat, melibatkan orang lain, dan hanya membahas soal bisnis. Ketika proyek kami selesai, entah bagaimana, kesepian yang dahsyat menerpaku, seolah-olah sesuatu yang sangat penting telah direnggut paksa dari genggamanku. Bertahun-tahun aku tak pernah merasa seperti itu. Dan, kupikir, ia merasakan hal yang sama.

Seminggu kemudian ia menelepon kantorku membicarakan tentang beberapa hal kecil dan kami mengobrol sebentar. Aku sedikit berkelakar, dan ia tertawa. “Mau pergi minum?” Tanyaku. Kami pergi ke sebuah bar kecil dan memesan beberapa minuman. Aku tak ingat persis apa yang kami bicarakan, tapi kami menemukan jutaan topik dan bisa berbicara selamanya. Dengan kejelasan serupa sinar laser, aku bisa memahami segala sesuatu yang ia katakan. Dan ia bisa mengerti hal-hal yang tak bisa kujelaskan dengan baik kepada orang lain, dengan ketepatan yang membuatku sendiri terkejut. Kami berdua sudah menikah, dan tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Kami mencintai pasangan kami, dan menghormati mereka. Bagaimana pun, ini termasuk dalam urutan keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup—secara kebetulan bertemu orang lain yang bisa sepenuhnya mengekspresikan perasaanmu dengan begitu jelas. Kebanyakan orang melalui seluruh hidup mereka tanpa pernah bertemu dengan orang seperti itu. Salah besar jika melabeli ini ‘cinta’, hubungan seperti ini lebih seperti memberikan empati secara total.

Kami mulai berkencan secara teratur. Pekerjaan suaminya membuatnya pulang terlambat, jadi Izumi bebas untuk pulang dan pergi sesuka hatinya. Ketika kami bersama, waktu rasanya cepat berlalu. Kami melihat jam tangan dan ternyata kami nyaris saja ketinggalan kereta terakhir. Sangat berat mengucapkan salam perpisahan. Masih terlalu banyak yang ingin kami bicarakan.

Tak satu pun dari kami merayu untuk tidur bersama, tapi kami mulai melakukannya. Kami berdua masih setia kepada pasangan masing-masing sampai saat itu, tapi entah bagaimana kami tidak merasa bersalah karena telah tidur bersama, alasannya sederhana; kami memang harus melakukannya. Menelanjanginya, menyentuh lembut kulitnya, memeluknya erat, meluncur ke dalam tubuhnya, ejakulasi—semua itu hanya kelanjutan alamiah dari percakapan kami. Jadi wajar kalau percintaan kami bukanlah sumber kesenangan fisik yang mampu membuat terluka; hanya semacam ketenangan batin, tindakan yang menyenangkan, melucuti segala kepura-puraan. Yang terbaik dari semua itu adalah percakapan sunyi kami setelah berhubungan seks. Aku memeluk erat tubuh telanjangnya, dan ia meringkuk dalam pelukanku dan kami akan saling membisikkan rahasia dalam bahasa khusus yang kami buat sendiri.

Kami bertemu hanya jika situasinya memungkinkan. Anehnya, atau mungkin tak begitu aneh, kami benar-benar yakin bahwa hubungan kami bisa berlangsung selamanya, kehidupan pernikahan kami di satu sisi, dan hubungan kami sendiri di sisi lain, dengan tanpa masalah yang muncul. Kami yakin hubungan kami tidak akan pernah terungkap. Benar kami melakukan hubungan seks, tapi bagaimana bisa hal itu menyakiti orang lain? Di malam saat aku tidur dengan Izumi, aku pulang terlambat dan harus membuat beberapa kebohongan kepada istriku, dan aku merasa sedih, tapi hal itu tidak nampak seperti pengkhianatan yang sebenarnya. Hubunganku dan Izumi belum bisa dikategorikan sebagai hubungan yang intim.

Dan, jika tak ada halangan, mungkin kami akan melanjutkan hidup seperti itu selamanya, menyesap vodka dan tonik, menyelinap di antara selimut jika memang perlu. Atau mungkin kami kelak akan bosan berbohong kepada pasangan kami dan memutuskan untuk membiarkan perselingkuhan ini mati secara alami sehingga kami bisa kembali ke gaya hidup kecil yang nyaman. Dengan kata lain, aku tidak pernah berpikir segalanya akan menjadi buruk. Aku memang tidak bisa membuktikannya; aku hanya mampu merasakannya saja. Tapi tangan-tangan takdir—tak dapat dipungkiri—ikut campur, dan suami Izumi mengendus perselingkuhan kami. Setelah memaksa Izumi bicara, ia menerobos masuk ke rumahku, benar-benar di luar kendali. Seolah sudah digariskan, istriku sedang sendiri di rumah pada waktu itu, dan segalanya menjadi buruk. Ketika aku sampai rumah, ia menuntut agar aku menjelaskan apa yang sedang terjadi. Izumi sudah mengakui semuanya, jadi aku tak bisa mengarang cerita. Aku mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi. “Ini bukan jatuh cinta,” jelasku. “Ini hubungan spesial, tapi benar-benar berbeda dengan apa yang kurasakan kepadamu, seperti siang dan malam. Kamu bahkan enggak bisa mendeteksi hubungan kami, kan? Itu bukti kalau ini bukan jenis perselingkuhan seperti yang kamu bayangkan. ”

Tapi istriku tak mau mendengar. Ia terguncang, membisu, dan benar-benar tidak mengatakan apa pun. Keesokan harinya, ia membereskan semua barang-barangnya ke dalam mobil dan pergi ke tempat orangtuanya, di Chigasaki, membawa serta anak lelaki kami. Aku menelepon beberapa kali, namun ia tak mau menjawab teleponku dan sebagai gantinya, ayahnya yang menjawab. “Saya enggak mau dengar alasanmu yang menyedihkan,” ia memperingatkan,“Dan saya enggak akan membiarkan anak saya kembali ke bajingan sepertimu.” Ia memang sudah sangat menentang pernikahan kami dari awal, dan dari nada bicaranya ia seolah mengatakan bahwa akhirnya ia terbukti benar.

Di masa-masa sedih itu, aku mengambil cuti beberapa hari dan hanya berbaring nelangsa di atas ranjang. Izumi meneleponku. Ia juga kesepian. Suaminya juga meninggalkannya, setelah menamparnya. Suaminya mengguntingi setiap pakaian milik Izumi. Dari mantel hingga celana dalamnya, semua compang-camping. Ia tidak tahu suaminya pergi ke mana. “Aku lelah,” ujarnya. “Aku enggak tahu apa yang harus kulakukan. Semuanya hancur, dan enggak akan pernah sama lagi. Dia enggak akan kembali.” Ia terisak selama di telepon. Bagaimana pun, ia dan suaminya berpacaran sejak SMA. Aku ingin sekali menenangkannya, tapi apa yang harus kukatakan?

“Pergi minum, yuk?” ia akhirnya memberi usul. Kami pergi ke Shibuya dan minum hingga fajar di bar yang buka semalaman. Aku minum vodka gimlet, ia daiquiris. Aku lupa berapa banyak minum yang kami habiskan. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kami tidak banyak bicara. Menjelang fajar kami meredakan pengaruh minuman dengan berjalan menuju Harajuku, kemudian singgah di Denny’s untuk minum kopi dan sarapan. Saat itulah ia melontarkan gagasan pergi ke Yunani.

“Yunani?” tanyaku.

“Kita sudah enggak bisa tinggal dengan nyaman di Jepang,” katanya, sambil menatap mataku dalam-dalam.

Aku memunculkan gagasan ke dalam benakku. Yunani? Otakku yang terendam alkohol tidak bisa berpikir logis.

“Aku selalu kepingin pergi ke Yunani,” ujarnya. “Itu impianku. Waktu itu aku ingin kami berbulan madu ke Yunani, tapi kami enggak punya cukup uang. Jadi, ayo pergi—kita berdua. Tinggal di sana, kamu tahu, tanpa mencemaskan apa pun. Menetap di Jepang hanya akan membuat kita murung saja, dan enggak akan ada hal-hal baik yang muncul.”

Aku tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap Yunani, tetapi aku harus setuju dengannya. Kami menghitung berapa banyak uang yang kami miliki. Tabungannya dua setengah juta yen, sementara aku hanya satu setengah juta. Jika disatukan sekitar empat juta yen—sekitar empat puluh ribu dolar.

“Empat puluh ribu dolar seharusnya cukup untuk bertahan beberapa tahun di pedesaan Yunani,” kata Izumi. Harga tiket pesawat diskon sekitar empat ribu. Sisanya tiga puluh enam ribu. Rencanakan seribu dolar per bulan, uang segitu cukup untuk tiga tahun. Dua setengah tahun, untuk amannya. Menurutmu bagaimana? Ayo kita pergi. Hal-hal lain kita bisa pikirkan nanti.”

Aku memandang sekitar. Restoran Denny’s pagi hari penuh dengan pasangan muda. Kami adalah satu-satunya pasangan yang berusia di atas tiga puluh tahun. Dan tentu hanya satu-satunya pasangan yang tengah mendiskusikan untuk mengumpulkan semua uang yang dimiliki dan terbang ke Yunani setelah bencana perselingkuhan. Kacau sekali, pikirku. Aku menatap telapak tangan untuk waktu yang lama. Seperti inikah hidupku seharusnya?

“Baiklah,” akhirnya aku berkata. “Ayo kita lakukan.

 

Di tempat kerja keesokan harinya aku menyerahkan surat pengunduran diri. Atasanku sudah mendengar rumor dan menegaskan lebih baik mengambil cuti saja sementara waktu. Rekan-rekan kerjaku terkejut mendengar bahwa aku ingin berhenti, namun tak satu pun berusaha keras membujukku untuk tidak melakukannya. Berhenti bekerja ternyata tak terlalu sulit. Setelah kau memutuskan untuk membebaskan dirimu dari sesuatu, hanya sedikit yang tidak bisa kau singkirkan. Bukan—bukan sedikit. Setelah kau memutuskan sesuatu, tidak ada yang tidak bisa kau singkirkan. Dan setelah kau mulai menyingkirkan sesuatu, kau akan memiliki kenginginan untuk menyingkirkan segala hal. Seolah-olah kau akan mempertaruhkan hampir semua uangmu dan mengambil keputusan. Persetan, aku akan pertaruhkan semuanya. Tak perlu disisakan, aku sudah pusing.

Aku mengemas semua yang kupikir akan kubutuhkan menjadi satu dalam koper Samsonite biru ukuran medium. Izumi melakukan hal yang sama.

Ketika kami terbang melintasi Mesir, tiba-tiba saja aku dicekam ketakutan yang teramat jika seseorang secara tak sengaja mengambil koperku. Di dunia ini, pastilah ada puluhan ribu koper Samsonite biru yang sama dengan milikku. Mungkin saat aku tiba di Yunani, membuka koper, dan menemukan koper itu berisi benda-benda milik orang lain. Serangan kecemasan yang parah menerpaku. Jika koperku hilang, maka tak akan ada satu pun yang tersisa bagiku untuk menyambung hidupku—hanya Izumi. Tiba-tiba aku merasa seakan aku telah lenyap. Sensasi yang sangat aneh. Aku merasa orang yang tengah duduk di dalam pesawat itu bukanlah aku. Otakku keliru mengikatkan dirinya pada ‘kemasan’ yang terlihat sepertiku. Kekacauan total melanda pikiranku. Aku harus kembali ke Jepang untuk kembali ke dalam tubuhku. Namun saat ini aku berada di dalam pesawat, terbang melintasi Mesir, dan tak ada jalan untuk kembali. Di saat seperti ini, dagingku rasanya seolah terbuat dari plester. Jika aku menggaruknya, ia akan terkelupas. Tubuhku gemetar tak terkendali. Aku tahu jika guncangan ini berlangsung lebih lama lagi tubuhku akan pecah dan menjadi debu. Meski pesawat terbang difasilitasi pendingin ruangan, tubuhku dibanjiri keringat. Bajuku menempel di kulit. Bau yang mengerikan menyeruak dari tubuhku. Sementara itu, Izumi menggenggam tanganku erat-erat dan memelukku sesekali. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi ia tahu apa yang sedang kurasakan. Guncangan ini berlangsung selama setengah jam. Aku ingin mati—menempelkan moncong revolver di telingaku dan menarik pelatuknya, sehingga baik pikiran maupun tubuhku akan meledak menjadi debu.

Setelah guncangan mereda, aku tiba-tiba merasa lebih ringan. Kukendurkan bahu yang tegang dan menyerahkan diri ke aliran waktu. Aku jatuh ter tidur, dan, ketika mataku terbuka, di bawahku terhampar perairan nilakandi Aegean.

*

Masalah terbesar yang kami hadapi di pulau itu adalah nyaris tidak adanya hal yang harus dilakukan. Kami tidak bekerja, dan tidak memiliki teman. Pulau ini tidak memiliki bioskop atau lapangan tenis atau buku untuk dibaca. Kami telah meninggalkan Jepang dengan sangat mendadak hingga aku benar-benar lupa untuk membawa buku. Aku membaca dua novel yang kubeli di bandara, dan salinan tragedi Aeschylus yang dibawa Izumi. Aku membaca semuanya dua kali. Untuk melayani wisatawan, kios di pelabuhan menyediakan beberapa paperback berbahasa Inggris, tapi tidak ada satu pun yang menarik mataku. Membaca adalah kegemaranku, dan aku selalu memimpikan jika aku memiliki banyak waktu luang aku akan berenang dalam tumpukan buku, namun ironisnya, di sinilah aku—dengan sangat banyak waktu luang dan tak ada yang bisa dibaca.

Izumi mulai belajar bahasa Yunani. Ia selalu membawa buku pelajaran ahasa Yunani, dan membuat catatan berisi daftar konjugasi kata kerja yang selalu ia bawa ke mana-mana, melafalkan kata kerja keras-keras seperti mantra. Ia sudah sampai ke titik di mana ia mampu berbicara dengan pemilik toko meski masih kacau, dan kepada pelayan saat kami singgah di kafe, sehingga kami berhasil memiliki beberapa kenalan. Tak mau kalah, aku pun memperbaiki bahasa Perancisku. Kupikir suatu hari akan berguna, tetapi di pulau kecil yang kumuh ini aku tak pernah bertemu seseorang yang berbicara bahasa Perancis. Di kota, kami mampu bertahan dengan bahasa Inggris. Beberapa orang tua mengerti bahasa Jerman atau Italia. Bahasa Perancis, nyatanya, sungguh tidak berguna.

Karena tak ada banyak hal yang bisa dilakukan, kami berjalan-jalan ke mana pun. Kami mencoba memancing di pelabuhan tapi tidak mendapatkan apa-apa. Bukan karena ikannya sedikit; tapi karena airnya terlalu jernih. Ikan-ikan bisa melihat dengan jelas dari mulai kail hingga wajah orang yang mencoba menangkap mereka. Hanya ikan yang benar-benar bodoh saja yang bisa tersangkut mata kail. Aku membeli buku sketsa dan cat air di toko lokal dan berjalan kaki mengelilingi pulau untuk melukis pemandangan dan orang-orang. Izumi duduk di sisiku, melihat lukisanku sambil menghafal konjugasi Yunani-nya. Orang-orang setempat sering datang dan melihatku melukis. Untuk membunuh waktu, aku melukis wajah mereka, yang tampaknya cukup memuaskan. Jika aku memberikan lukisan itu kepada mereka, seringnya mereka mentraktir kami bir. Sekali waktu, seorang nelayan memberi kami seluruh gurita tangkapannya.

“Kamu bisa hidup dengan melukis,” kata Izumi. “Kamu berbakat, dan bisa membuat usaha kecil dengan itu. Bilang saja kamu adalah seniman dari Jepang, di sini pasti sangat jarang.”

Aku tertawa, tapi Izumi memasang wajah serius. Kubayangkan diriku mengelilingi kepulauan Yunani, meluangkan waktu senggangku dengan menggambar wajah orang, menikmati bir gratis sesekali.

Bukan ide yang buruk, simpulku.

“Dan aku akan menjadi koordinator tur untuk turis Jepang,” Izumi melanjutkan. “Seiring berjalannya waktu mereka pasti akan berdatangan ke sini, dan tentu pekerjaan itu akan sangat dibutuhkan. Tentu saja itu artinya aku harus mulai serius belajar bahasa Yunani.”

“Apakah kamu sungguh-sungguh berpikir kita bisa menghabiskan dua setengah tahun tanpa melakukan apa pun?” tanyaku.

“Yah, selama kita enggak kerampokan atau sakit atau sesuatu seperti itu. Kalau enggak ada hal-hal yang enggak terduga, kita seharusnya bisa bertahan. Namun, tak ada salahnya mempersiapkan untuk hal-hal yang tak terduga.”

Hingga saat itu aku nyaris belum pernah ke dokter, ujarku padanya.

Izumi menatap lurus ke arahku, mengerutkan bibirnya, dan menariknya ke satu sisi.

“Katakanlah aku hamil,” mulainya. “Apa yang akan kamu lakukan? Ya, kamu memang menjaga dirimu dengan baik, tapi manusia selalu berbuat salah. Dan jika itu terjadi, uang kita akan terkuras dengan cepat.”

“Jika hal itu terjadi, kita mungkin harus kembali ke jepang,” kataku.

“Kamu enggak ngerti, ya?” katanya pelan. “Kita enggak akan pernah bisa kembali ke Jepang.”

*

Izumi melanjutkan studi bahasa Yunani-nya, dan aku lanjut menggambar. Ini adalah waktu terdamai sepanjang hidupku. Kami makan seadanya dan menyesap anggur termurah. Setiap hari, kami mendaki bukit terdekat. Ada desa kecil di puncaknya, dan dari sana kami bisa melihat pulau lain nun jauh di sana. Berkat udara segar yang melimpah dan olah raga ringan menaiki bukit, bentuk tubuhku jadi bagus. Setelah matahari terbenam di pulau itu, tak ada satu pun suara yang bisa kau dengar. Dan dalam keheningan itu Izumi dan aku bercinta dengan tenang dan berbicara tentang apa saja. Tak perlu lagi mengkhawatirkan kereta terakhir, atau pulang dengan membawa kebohongan untuk pasangan kami. Ini hal luar biasa yang bahkan melampaui anggapan kami. Musim gugur menua sedikit demi sedikit, dan awal musim dingin pun datang. Angin bertiup, dan ombak berbuih di lautan.

Di saat seperti itulah kami membaca cerita di koran tentang kucing pemakan manusia. Di koran yang sama, terdapat berita mengenai kondisi kaisar Jepang yang memburuk, tapi kami membeli koran itu hanya untuk memeriksa nilai tukar mata uang. Nilai Yen terus menguat terhadap Drachma. Ini sangat penting bagi kami; semakin kuat nilai yen, semakin banyak uang yang kami punya.

“Omong-omong soal kucing,” beberapa hari setelah kami membaca artikel. “Waktu masih kecil aku punya kucing yang menghilang dengan cara yang sangat aneh.”

Izumi terlihat ingin tahu lebih banyak. Ia mengangkat wajahnya dari daftar konjugasi dan melihat ke arahku. “Kok bisa begitu?”

“Aku masih kelas dua, atau mungkin kelas tiga. Kami tinggal di rumah dinas dengan taman yang luas. Ada sebuah pohon pinus tua di sana, yang saking tingginya kamu hampir tidak bisa melihat puncaknya. Suatu hari, aku duduk di teras belakang membaca buku sedangkan kucing kampung bercorak kuning hitam peliharaan kami sedang bermain di taman. Kucing itu melompat-lompat sendirian, yah, hal yang lazimnya dilakukan seekor kucing. Semakin lama ia kelihatan semakin bersemangat melompat-lompat seperti itu, ia benar-benar enggak sadar kalau aku sebenarnya sedang memperhatikan. Semakin lama aku memperhatikannya, aku jadi semakin takut. Kucing itu macam kesurupan saja, melompat-lompat tak terkendali sampai bulu-bulunya bergidik. Seakan-akan ia melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat. Akhirnya, ia berlari mengitari pohon pinus seperti macan dalam cerita Little Black Sambo. Kemudian ia mencengkram tanah untuk berhenti mendadak dan memanjat pohon hingga ke cabang tertinggi. Aku hanya mampu melihat wajah kecilnya di atas cabang itu. Kucing itu masih terlihat semangat dan gelisah. Ia bersembunyi di balik cabang pohon, memandangi sesuatu. Aku berteriak memanggil namanya, tapi ia bertingkah seolah ia tidak mendengarku.”

“Siapa nama kucing itu?” Izumi bertanya.

“Aku lupa,” jawabku. “Malam berangsur datang, wajahnya terlihat semakin gelap. Aku khawatir dan menunggu kucing itu turun. Akhirnya ia benar-benar ditelan kegelapan. Dan kami enggak pernah melihat kucing itu lagi.”

“Enggak terlalu luar biasa, sih,” ujar Izumi. “Kucing-kucing memang sering lenyap kayak gitu. Apalagi kalau mereka sedang bersemangat. Mereka terlalu girang sampai-sampai tidak ingat jalan pulang. Kucingmu pasti turun dari pohon pinus dan pergi ke suatu tempat ketika kamu sudah tidak melihatnya.”

“Kukira juga begitu,” kataku. “Tapi saat itu aku masih kecil, aku berpikiran positif saja bahwa kucing itu telah memutuskan untuk tinggal di atas pohon. Pasti ada beberapa alasan mengapa ia enggak mau turun. Setiap hari, aku duduk di teras dan melihat ke arah pohon pinus, berharap melihat kucing itu sedang mengintip melalui celah-celah cabang.”

Izumi tampaknya telah kehilangan minat. Ia menyalakan Salem kedua, kemudian mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Apakah kamu terkadang memikirkan anakmu?” tanyanya.

Aku tidak tahu bagaimana menanggapinya. “Yah, kadang-kadang.” Aku menjawab jujur. “Tapi enggak terlalu sering. Adakalanya sesuatu mengingatkanku.”

“Apa enggak kepingin melihat dia?”

“Sesekali, ya,” ujarku. Tapi itu bohong. Aku hanya berpikir itulah yang seharusnya kurasakan. Sewaktu masih tinggal dengan anakku, aku pikir dia adalah makhluk paling menggemaskan yang pernah kulihat. Setiap kali aku pulang terlambat, aku selalu lebih dulu masuk ke kamar anakku untuk melihat wajahnya saat tertidur. Saking gemasnya, terkadang muncul hasrat untuk memeluknya kuat-kuat hingga ia hancur. Saat ini semua tentangnya—wajahnya, suaranya, tingkah lakunya—berada di negeri yang jauh. Yang bisa kuingat dengan jelas hanyalah wangi sabunnya. Aku suka mandi bersama dan menggosoki tubuhnya. Kulitnya sangat sensitif, karena itu istriku selalu membeli sabun khusus untuknya. Yang paling kuingat dengan jelas dari anakku hanyalah wangi sabunnya.

“Kalau kamu ingin kembali ke Jepang, pulanglah,” ujar Izumi. “Jangan mengkhawatirkan aku, aku bisa mengatasi semuanya.”

Aku mengangguk. Tapi aku tahu itu tidak mungkin terjadi.

“Aku membayangkan anakmu kelak berpikir kamu juga seperti itu,” kata Izumi. “Seperti kucing yang lenyap di atas pohon.”

Aku tertawa. “Bisa jadi,” kataku.

Izumi mematikan rokoknya di asbak dan mendesah pelan. “Ayo kita pulang dan bercinta.”

“Ini kan masih pagi,” ujarku.

“Lantas kenapa?”

“Ya, enggak apa-apa, sih.”

*

Kemudian, ketika aku terbangun di tengah malam, Izumi tidak ada di sisiku. Kulihat jam tangan yang kuletakkan di dekat ranjang. Dua belas tiga puluh. Aku meraba-raba mencari lampu, menyalakannya, dan menyapu pandangan ke seluruh kamar. Segalanya nampak tenang seolah-olah seseorang menyelinap selagi aku tertidur dan menebarkan debu-debu kesunyian di dalam kamar. Dua putung Salem meringkuk di dalam asbak, kotak rokok kosong yang diremas berada di sisinya. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang tamu. Izumi tak ada di sana. Ia tidak ada di dapur maupun di kamar mandi. Kubuka pintu dan memandangi pekarangan. Hanya ada sepasang kursi vinyl, berkilauan dimandikan cahaya bulan. “Izumi,” panggilku dengan suara pelan. Tak ada jawaban. Aku memanggilnya lagi, kali ini dengan suara lebih keras. Jantungku berdegup kencang. Benarkah ini suaraku? Terdengar kelewat keras, tidak alamiah. Tetap tak ada jawaban. Angin lemah dari laut mendesau ujung-ujung rumput pampas. Aku menutup pintu, kembali ke dapur, dan menuang setengah gelas anggur untuk menenangkan diri.

Pancaran sinar bulan masuk melalui jendela dapur, membuat bayangan aneh di dinding dan lantai. Segala hal nampak seperti kumpulan simbol dalam permainan avant-garde. Seketika aku ingat: keadaan malam saat kucing itu lenyap di atas pohon pinus sama dengan malam ini, malam purnama tanpa satu pun gumpalan awan di langit. Setelah makan malam, aku pergi ke teras lagi untuk melihat kucing itu. Malam telah larut, bulan sudah bercahaya. Untuk beberapa alasan yang tak bisa dijelaskan, aku tak bisa memalingkan mataku dari pohon pinus. Waktu berlalu, aku yakin aku melihat sepasang mata kucing, berkilau di antara cabang-cabang pohon. Tapi itu hanya ilusi.

Aku mengambil sweater tebal dan celana jeans, menyambar koin di atas meja , mengantunginya, dan pergi ke luar. Izumi pasti sulit tidur lantas memutuskan untuk berjalan-jalan. Pastilah seperti itu.
Angin telah benar-benar mereda. Yang bisa kudengar hanya suara sepatu tenisku berderak sepanjang jalan berbatu, seperti lagu latar sebuah film yang berlebihan. Izumi pastilah pergi ke pelabuhan, pikirku. Ia tak memiliki tempat lain yang dituju. Hanya ada satu jalan menuju pelabuhan, jadi tidak mungkin aku tidak berpapasan dengannya. Lampu-lampu rumah sepanjang jalan padam, sinar bulan keperakkan mewarnai tanah sehingga membuatnya nampak seperti dasar laut.

Ditengah jalan menuju pelabuhan, aku mendengar suara musik samar dan tersendat-sendat. Awalnya kupikir itu halusinasi—seperti perubahan tekanan udara yang membuat telingamu berdenging. Tapi, jika didengarkan dengan seksama, aku bisa mendengar sebuah melodi. Aku menahan napas dan berusaha mendengarkan sebisaku. Seperti menenggelamkan diri dalam kegelapan di dalam tubuhku sendiri. Tak pelak lagi, itu adalah musik. Seseorang sedang bermain alat musik. Secara langsung, tanpa bantuan pengeras suara. Tapi alat musik macam apa itu? Alat musik mirip mandolin yang Anthony Quinn mainkan di Zorba the Greek? Bouzouki? Namun siapa gerangan yang memainkan bouzouki di tengah malam? Dan di mana?

*

Musik itu tampaknya berasal dari desa di puncak bukit yang kami naiki setiap hari untuk melemaskan badan. Aku berdiri di persimpangan jalan, bertanya-tanya apa yang harus dilakukan, dan arah mana yang harus diambil. Izumi seharusnya mendengar musik yang sama di titik ini. Dan aku merasa yakin ia akan menuju tempat itu.

Aku mengambil risiko dan berbelok ke kanan di persimpangan, jalan menuju lereng ini yang aku tahu dengan baik. Tak ada pohon di sisi jalan, hanya semak berduri setinggi lutut yang tersembunyi dalam bayang-bayang tebing. Semakin jauh aku berjalan, semakin keras dan jelaslah musik itu terdengar. Aku juga bisa menangkap melodinya lebih jernih lagi. Ada semacam kegembiraan yang amat mencolok dalam melodinya. Kubayangkan desa di puncak bukit itu tengah mengadakan semacam kenduri. Lalu aku teringat di hari sebelumnya, di pelabuhan, kami melihat prosesi pernikahan secara langsung. Tentu musik ini berasal dari kenduri pernikahan yang diselenggarakan malam hari.

Saat itu—tanpa peringatan terlebih dahulu—aku lenyap.

Mungkin karena cahaya bulan, atau karena musik itu. Setiap kali aku melangkahkan kaki, aku merasa diriku tenggelam lebih dalam ke dalam pasir hisap yang melenyapkan identitasku; perasaan yang sama seperti saat aku berada dalam pesawat melintasi mesir. Bukan aku yang berjalan di bawah sinar bulan. Ini bukan aku, tapi pemeran pengganti, yang terbuat dari plester. Aku mengusap wajahku dengan telapak tangan. Tapi ini bukan wajahku. Dan ini bukan telapak tanganku. Jantungku berdegup keras, mengirimkan darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan yang sinting. Tubuh ini adalah orang-orangan dari plester, boneka voodoo yang ditiupkan nyawa oleh seorang penyihir. Cahaya dari kehidupan nyata telah hilang. Pemeran penggantiku, kumpulan otot palsu yang bergerak tanpa kukehendaki. Aku hanya boneka yang digunakan untuk ritual pengorbanan.

Jadi, di manakah ‘aku’ yang sebenarnya? Aku bertanya-tanya.

Tiba-tiba suara Izumi muncul entah dari mana. Dirimu yang sebenarnya sudah dimakan para kucing. Sementara kamu berdiri di sini, kucing-kucing lapar itu sudah melahapmu—memakan seluruh tubuhmu. Dan yang tersisa hanyalah belulang.

Kupandangi sekitar. Itu hanya ilusi, tentu saja. Yang bisa kulihat hanyalah tanah yang dipenuhi bebatuan, semak-semak rendah, dan bayangan kecil mereka. Suara itu ada dalam kepalaku.

Berhentilah memikirkan kegelapan seperti itu, aku menasihati diri sendiri. Seolah berusaha menghindari ombak yang amat besar, aku berpegang erat pada batu besar di gigir pantai dan menghela nafas. Ombak itu pasti akan berlalu. Kau hanya kelelahan, ujarku pada diri sendiri, dan terlalu tegang. Berpeganganlah pada sesuatu yang nyata. Tak jadi soal apa pun itu—yang penting nyata. Aku merogoh saku untuk menggenggam koin. Koin-koin itu berkeringat di telapak tanganku.

Aku berusaha keras memikirkan hal lain. Apartemenku yang hangat di Unoki. Koleksi rekaman yang kutinggalkan di sana. Koleksi jazz-ku yang meski sedikit tapi menyenangkan. Secara khusus, aku menyukai pianis jazz berkulit putih era lima puluh dan enam puluhan. Lennie Tristano, Al Haig, Claude Williamson, Lou Levy, Russ Freeman. Kebanyakan sudah tidak diproduksi lagi, dan aku menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mengoleksi mereka. Aku rajin berkeliling toko-toko musik, tukar-menukar barang dengan kolektor lain, dan perlahan memperkaya kintakaku sendiri. Sebagian besar kualitas pertunjukkan koleksiku bukanlah sesuatu yang sering kausebut ‘kelas satu’. Tapi aku menyukai keunikannya, suasana intim yang disampaikan oleh rekaman tua dan apak itu. Dunia akan menjadi tempat yang sangat membosankan jika hanya diisi oleh produk kelas satu, bukan? Saat ini, aku merasakan kembali setiap detail dari sampul rekaman lawas itu—berat dan bobot dari album itu ada di tanganku.

Namun kini, kenyataannya, semua itu sudah lenyap untuk selamanya. Dan aku sendirilah yang melenyapkan mereka. Tak akan pernah lagi aku mendengar rekaman-rekaman itu di sisa hidupku.

Aku mengingat aroma tembakau saat aku mencium Izumi. Rasa bibir dan lidahnya. Kututup mataku. Aku ingin ia ada di sisiku. Aku ingin ia menggenggam tanganku, seperti yang ia lakukan saat kami terbang melintasi mesir, dan takkan lepas.

Ombak itu akhirnya menghantamku dan pergi begitu saja, dan pula musik itu.

Apakah mereka berhenti bermain? Mungkin saja begitu. Lagipula, ini sudah hampir pukul satu. Atau mungkin sebenarnya musik itu tidak pernah dimainkan. Itu pun sangat mungkin. Aku sudah tak memercayai pendengaranku. Aku memejamkan mata lagi dan tenggelam ke dalam kesadaranku—menurunkan suara, membiarkan segalanya tenggelam ke dalam kegelapan itu. Tapi aku tidak mendengar suara apa pun. Tak ada gema.

Aku melihat jam tangan. Dan baru menyadari aku bahkan tak mengenakannya. Sambil mendesah, aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Aku tidak terlalu peduli soal waktu. Kupandangi langit. Bulan mengambang seperti karang yang dingin, kulitnya habis digerogoti waktu yang tak kenal kasihan. Bayang-bayang di permukaannya seperti kanker yang tengah memperluas wilayahnya. Cahaya bulan memperdaya pikiran manusia. Melenyapkan kucing. Dan ia juga melenyapkan Izumi. Mungkin kejadian malam ini sudah disusun dengan hati-hati, dimulai dari malam saat kucing itu menghilang.

Aku menggeliat, melemaskan lenganku, jemariku. Haruskah kulanjutkan, atau kembali dengan cara yang sama seperti aku datang? Kemanakah Izumi pergi? Tanpanya, bagaimana aku bisa terus bertahan hidup, sendirian di pulau terpencil ini? Ia satu-satunya hal yang menyatukan kerapuhan, kelabilanku.

Aku terus menanjak ke atas bukit. Aku sudah datang sejauh ini dan lebih baik sampai ke puncak. Benarkah ada musik di sana? Aku harus memastikannya sendiri, bahkan meski hanya tersisa sedikit bukti. Dalam lima menit, aku telah mencapai puncak. Di sebelah selatan, bukit melandai ke laut, pelabuhan, dan kota yang terlelap. Lampu-lampu jalan menghiasi jalan raya sepanjang pantai. Sisi lain bukit terbungkus kegelapan. Tak ada indikasi apa pun yang menunjukan bahwa pesta pernikahan baru saja di gelar di sana beberapa saat lalu.

Aku kembali ke apartemen dan menenggak segelas brandy. Berusaha tidur, namun tak bisa. Hingga cahaya muncul di ufuk timur, aku masih berada dalam cengkraman rembulan. Lalu tiba-tiba saja, aku membayangkan tiga kucing itu, nyaris mati kelaparan di dalam apartemen yang terkunci. Aku—yang benar-benar aku—sudah mati, dan kucing-kucing itu hidup, menyantap dagingku, menggigit jantungku, menghisap darahku, melahap penisku. Samar-samar, aku dengar suara mereka menjilat menjilati otakku. Seperti penyihir dalam Macbeth, tiga kucing lincah mengelilingi kepalaku yang hancur, menyeruput sup kental di dalamnya. Ujung lidah mereka yang kasar menjilat lipatan-lipatan pikiranku yang lunak. Dan tiap jilatan mereka membuat kesadaranku berkedip-kedip seperti lidah api dan memudar.

Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen ketiga Haruki MurakamiBlind Willow, Sleeping Women; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh admin Agraria dari terjemahan bahasa Inggris oleh Philip Gabriel.

Penerjemah Sabda Armandio https://agrariafolks.wordpress.com

 

Haruki Murakami: Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

cerpen haruki murakami

Aku sedang di dapur memasak spaghetti saat wanita itu menelepon. Beberapa saat sebelum spaghetti matang; di sanalah aku, menyiulkan awalan dari La Gazza Ladra-nya Rossini yang sedang diputar radio FM. Sungguh sempurna memasak spaghetti diiringi musik yang pas.

Aku mendengar dering telepon tapi membatin, Acuhkan saja. Biarkan spaghetti matang dulu. Hampir beres, dan di samping itu, Claudio Abbado bersama London Symphony Orchestra akan memasuki crescendo. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk mengecilkan api dan pergi menuju ruang tengah, dengan sumpit yang dipakai menggoreng masih di tangan, mengangkat gagang telepon. Mungkin telepon dari teman, terpikir olehku, mengabarkan kalau ada tawaran kerja.

“Aku minta sepuluh menit,” ujug-ujug terdengar suara seorang wanita.

“Maaf?” aku berseru balik tanpa berpikir, “Dengan siapa ya?”

“Sepuluh menit saja, hanya ini yang kuminta,” ulang si wanita.

Aku benar-benar tak punya ingatan pernah mendengar suara wanita ini sebelumnya. Dan aku sangat yakin dengan kemampuan pendengaranku, jadi tak akan salah. Ini suara wanita yang tidak kukenal. Suara lembut, rendah, yang tak mencolok.

“Maaf, bisa tahu dengan siapa ini?” Aku mematut-matut sesopan mungkin.

“Tak penting. Yang kumau cuma sepuluh menit saja. Sepuluh menit agar kita saling memahami satu sama lain.” Dia menyampaikan dengan cepat namun teratur.

“Saling memahami satu sama lain?”

“Tentang perasaan kita,” ringkasnya.

Aku menengok ke belakang melhat pintu terbuka menuju dapur. Kepulan asap putih keluar dari panci spaghetti, dan Abbado masih menggiringkan Gazza-nya.

“Jika kau tak keberatan, aku sedang masak spaghetti saat ini. Sudah hampir matang, dan bakal kacau kalau aku bicara untuk sepuluh menit. Jadi gimana kalau telepon lagi nanti?”

“Spaghetti?” dia menggerutu tak percaya. “Ini masih setengah sepuluh pagi. Apa yang kau lakukan dengan masak spaghetti pukul setengah sepuluh pagi? Aneh, kan?”

“Aneh atau tidak, bukan urusanmu kan?” tegasku. “Aku belum sarapan, jadi aku lapar saat ini. Dan selama aku yang memasaknya, kapan dan apa yang aku makan itu urusanku, iya kan?”

“Baik, terserah kau. Sudahi dulu berarti,” ucap wanita itu dengan suara culas. Suara yang garib. Sedikit saja tercipta pergeseran emosi dan nada suaranya berubah. “Aku akan telepon lagi nanti.”

“Tunggu sebentar,” aku tergagap-gagap. “Jika kau hendak jualan, lupakan saja soal menelepon kembali. Aku pengangguran sekarang dan nggak mampu beli apapun.”

“Aku sudah tahu itu, jangan dipikirkan.” ucap wanita itu.

“Kamu sudah tahu? Tahu apaan?”

“Kalau kau pengangguran, tentu. Aku sudah tahu. Jadi teruskan masak spaghetti-mu dan jangan pikirkan itu, oke?”

“Hey, siapa-” aku meluncurkan pertanyaan, namun sambungan putus tiba-tiba. Memotong sambunganku. Untuk bisa memutus secepat itu; dia pasti langsung menekan tombol dengan jarinya.

Aku ditinggal menggantung. Dalam diam aku menatap gagang telepon yang masih dalam genggaman tanganku dan sejurus kemudian teringat akan spaghetti. Aku meletakan gagang telepon dan balik ke dapur. Mematikan kompor, meniriskan spaghetti ke saringan, melumerinya dengan saus tomat. Aku memanaskannya dalam panci, kemudian memakannya. Ini terlalu matang, semua berkat panggilan telepon tak berarti tadi. Bagaimanapun susahnya, atau karena aku sedang tidak dalam suasana hati untuk meributkan perkara memasak spaghetti – aku terlalu lapar. Aku hanya mendengar radio yang sedang mengudara memainkan musik untuk dua ratus gram spaghetti yang aku kunyah dengan lahap tiap helainya menuju ke dalam perut.

Aku mencuci piring dan penggorengan sementara memanaskan secerek air, lalu menuangkannya untuk secangkir kantong teh. Saat menyesap tehku, aku memikirkan panggilan telepon tadi.

Agar kita bisa saling memahami satu sama lain?

Apa yang dimaksud wanita itu, dengan meneleponku seperti itu? Dan siapa pula dia?

Semuanya masih misteri. Aku tak bisa mengingat wanita manapun yang pernah meneleponku tanpa memberi nama terlebih dahulu, atau aku tak punya petunjuk soal apa yang ingin dia bicarakan.

Bodo amat, aku membatin, kenapa aku harus peduli soal saling memahami perasaaan dengan seorang wanita aneh? Hal baik apa yang bakal terjadi? Yang paling penting sekarang adalah aku bisa dapat pekerjaan. Kemudian aku bisa membentuk siklus hidup yang baru.

Meski aku telah kembali ke sofa untuk melanjutkan membaca novel Len Deighton yang aku pinjam dari perpustakaan, pandangan sekilas dari sudut mataku ke telepon membuat kembali memikirkannya. Apa sih perasaan yang perlu dipahami dalam sepuluh menit itu? Maksudku, sungguh, sepuluh menit untuk saling memahami perasaan satu sama lain?

Pikirkan, wanita itu dengan spesifik meminta waktu sepuluh menit sedari awal. Terlihat kalau dia sangat yakin dengan waktu yang dibutuhkan. Seakan-akan sembilan menit itu terlalu singkat, sedangkan sebelas menit terlalu lama. Seperti ketika membuat spaghetti yang matang dengan pas harus dilakukan dalam waktu tertentu secara tepat.

Pikiran ini berkecamuk di kepalaku, aku kehilangan fokus pada alur novel yang kubaca. Jadi aku memutuskan untuk melakukan beberapa aktivitas ringan, mungkin menyetrika satu atau dua baju. Ketika sedang kisruh, aku selalu menyetrika baju. Kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Aku membagi proses menyetrika baju menjadi dua belas langkah: dari (1) kerah <bagian luar>, sampai (12) pergelangan tangan <sebelah kiri>. Urutannya tak pernah berubah. Satu demi satu, aku menghitung tiap langkah. Penyetrikaan tak akan benar kalau aku tak melakukan ini.

Jadi di sinilah aku, menyetrika baju ketiga, menikmati desisan uap setrika dan harum khas kain yang panas, memeriksa apakah ada kerutan sebelum menggantung tiap baju di lemari. Aku mematikan setrika dan menyimpannya di kabinet beserta papan setrikanya.

Aku merasa haus dan bergerak menuju dapur untuk mengambil air yang bersamaan dengan ini telepon berdering. Dia lagi, pikirku. Dan untuk beberapa saat aku berpikir apakah aku harus mengacuhkannya dan tetap menuju dapur. Tapi aku tak pernah tahu, aku berbalik ke ruang tengah dan mengangkat telepon. Jika ini si wanita itu lagi, aku akan berkata kalau aku sedang menyetrika dan segera kututup telepon ini.

Yang menelepon, bagaimanapun, adalah istriku. Melihat jam di atas TV, sudah pukul setengah duabelas.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Baik,” jawabku, merasa lega.

“Apa yang sedang kau kerjakan?”

“Menyetrika.”

“Ada masalah?” tanya istriku. Ada nada tegang dalam suaranya. Dia tahu kalau aku menyetrika pasti ada sesuatu yang tak beres.

“Enggak ada. Aku hanya pengen nyetrika saja. Nggak ada alasan apapun,” jawabku, memindahkan gagang telepon dari tangan kanan ke tangan kiri dan duduk di kursi. “Jadi, ada yang ingin kau sampaikan untukku?”

“Ya, ini soal pekerjaan. Ada kesempatan kerja nih.”

“Ya, ya.” timpalku.

“Kau bisa nulis puisi?”

“Puisi?” aku membalas dengan terkejut. Ada apa dengan puisi?

“Redaksi majalah tempat kenalanku bekerja membuat rubrik fiksi populer bulanan untuk cewek-cewek remaja dan mereka sedang mencari seseorang untuk dipilih membikin puisi. Mereka ingin ada puisi untuk tiap bulannya sebagai permulaan. Kerjaannya gampang dan gaji nggak terlalu buruk lah. Tentu ini hanya kerja sambilan, tapi ada kemungkinan mereka akan mengikatmu untuk urusan redaksional dan-”

“Gampang?” tukasku. “Tunggu sebentar. Aku mencari posisi di bidang hukum. Apa yang membuatmu membawa-bawa puisi segala?”

“Oke, bukankah kau bilang kau sering menulis saat masih SMA?”

“Untuk koran memang. Koran sekolah. Tim ini memenangkan pertandingan sepakbola; guru olahraga jatuh dari tangga dan harus dibawa ke rumah sakit. Hanya artikel bodoh seperti itu yang kutulis. Bukan puisi. Aku nggak bisa bikin puisi.”

“Bukan puisi betulan, semacam puisi buat cewek-cewek SMA baca. Nggak perlu bagus-bagus amat. Mereka nggak terlalu peduli apakah kau bisa menulis kayak Allen Ginsberg. Tulis saja yang kau bisa.”

“Aku juga nggak bisa bikin puisi macam begitu.” gertakku.

“Hmm,” cibir istriku. “Ini pekerjaan halal, bagaimanapun. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?”

“Beberapa kesempatan kerja sedang menantiku. Keputusan akhirnya akan muncul beberapa minggu lagi. Jika itu gagal, maka aku akan memikirkan soal ini.”

“Oh? Terserah kau berarti. Coba katakan, hari apa sekarang?”

“Selasa,” aku berpikir sepersekian detik.

“Oke, jadi, bisakah kau pergi ke bank untuk membayar tagihan gas dan telepon?”

“Tentu. Aku kebetulan mau pergi belanja untuk makan malam nanti. Akan aku urus.”

“Dan apa makan malam kita?”

“Hmm, kupikir dulu,” ucapku. “Belum kepikiran. Aku rasa aku akan putuskan saat belanja nanti.”

“Kau tahu,” istriku berkata dengan nada suara baru. “Aku telah memikirkan ini. Mungkin kau nggak perlu buru-buru mencari kerja lagi.”

“Kenapa emangnya?” keluhku. Kejutan lain? Apakah tiap wanita di dunia ini mencoba membuatku senewen lewat telepon? “Kenapa aku nggak boleh mencari pekerjaan? Tiga bulan lagi kompensasi pemberhentian pekerjaanku akan ludes. Nggak ada waktu buat malas-malasan.”

“Gajiku naik, dan kerja sambilanku berjalan baik, tanpa menyebut kalau kita punya tabungan berlebih. Jadi jika kita nggak terlalu menginginkan barang mewah, kita bisa tetap makan.”

“Dan aku yang mengerjakan pekerjaan rumah?”

“Ada yang salah?”

“Aku nggak tahu,” ucapku jujur. Aku benar-benar tak tahu. “Aku harus memikirkan soal ini.”

“Coba pikir ulang saja,” yakin istriku. “Oh, ngomong-ngomong, apakah si kucing sudah balik?”

“Kucing?” Aku tertangkap basah, lalu aku sadar aku lupa sepenuhnya soal kucing sejak pagi tadi. “Nggak, belum kelihatan.”

“Bisakah kau mencari lebih jauh di sekitar perumahan? Dia sudah hilang empat hari loh.”

Aku membalas, mengalihkan gagang telepon kembali ke tangan kananku.

“Dugaanku kucing itu ada di halaman rumah kosong di ujung gang. Halaman yang ada patung kecil burung dari batu. Aku sering melihatnya di sana. Kau tahu yang kumaksud?”

“Nggak, aku enggak pernah lihat,” ucapku. “Dan sejak kapan kau keluyuran di sekitar gang itu? Belum pernah kau bilang-”

“Maaf nih, mesti udahan. Harus kerja lagi. Jangan lupa soal kucingnya, ya.”

Dan sambungan telepon terputus.

Aku masih duduk sambil menatap gagang telepon layaknya orang dungu sebelum menaruh kembali di tempatnya.

Kenapa istriku bisa tahu banyak soal gang itu? Aku tak habis pikir. Dia harus memanjat tembok batako tinggi untuk bisa sampai ke sana dari halaman kami, dan apa alasan masuk akal yang membuat dia susah-susah menuju ke sana?

Aku pergi ke dapur untuk segelar air, menyalakan radio FM, lalu memotong kukuku. Mereka sedang memainkan album baru Robert Plan. Aku mendengarkan dua lagu yang membuat kupingku panas dan segera mematikannya. Aku menuju beranda untuk mengecek wadah makan kucing; ikan kering yang kusimpan malam sebelumnya masih tak tersentuh. Menandakan kalau kucing belum kembali.

Tetap berdiri di beranda, aku menatap matahari musim semi yang terang menyoroti halaman mungil kami. Sangat susah membayangkan halaman yang tak menarik ini. Matahari menyinari halaman ini hanya beberapa saat, jadi tanahnya selalu gelap dan lembab. Tak banyak tanaman: hanya beberapa bunga biasa-biasa saja. Dan aku tak terlalu memikirkan bunga-bunga ini.

Dari cabang pohon terdekat terdengar bunyi kreaak-kreaak burung secara berkala, tajam seperti mengeratkan musim semi. “Burung Nejimaki”, kami menyebutnya. Istriku yang menamainya. Aku tak tahu disebut apa burung itu. Atau bagaimana bentuknya. Meski begitu, burung nejimaki ini selalu hinggap tiap pagi di atas pohon sekitar perumahan untuk menyambut. Untuk kami, dunia kecil kami yang sunyi, semuanya.

Saat mendengarkan bunyi burung nejimaki itu, aku berpikir. Kenapa harus susah-susah mencari kucing itu? Dan intinya, jika aku menemukannya, apa yang selanjutnya harus kulakukan? Menyeretnya pulang lalu menceramahinya? Mohon dengan sangat – Dengar, kau sudah membuat khawatir semua orang, jadi kenapa kau tak kembali pulang?

Hebat, pikirku. Sungguh hebat. Apa yang salah dengan membiarkan kucing pergi ke tempat yang ia inginkan dan melakukan apa yang ia suka? Inilah aku, umur tiga puluh, dan apa yang kukerjakan? Mencuci baju, menyiapkan makan malam, mencari kucing.

Belum begitu lama, kupikir, aku masih seorang lelaki pada umumnya. Selalu bersemangat penuh ambisi. Saat SMA, aku membaca autobiografi Clarence Darrow dan memutuskan untuk menjadi pengacara. Nilai-nilaiku juga tak terlalu buruk. Dan di tahun-tahun terakhir aku dipilih teman-teman sekelasku sebagai nominasi kedua “Calon Orang Sukses.” Aku bahkan diterima di fakultas hukum universitas ternama. Jadi kenapa aku jadi kacau begini?

Aku menempatkan sikuku di meja dapur, menopang daguku, dan berpikir: Sejak kapan jarum kompas jadi rusak dan arah hidupku kesasar begini? Tak ada yang bisa kugambarkan dengan jelas. Tak ada hambatan dengan kebijakan kampus, tak ada kekecewaan pada universitas, tak pernah sekalipun terlibat masalah dengan perempuan. Sejauh yang kuingat, aku punya kehidupan yang sangat normal. Sampai satu hari, ketika mendekati waktu kelulusan, aku tiba-tiba berpikir aku bukan lagi seorang yang sama.

Kemungkinan besar, benih-benih keretakan sudah ada sejak itu, meski masih sangat kecil. Tapi seiring waktu makin membesar saja, alhasil membawaku makin jauh pada diriku yang sebenarnya. Kalau diibaratkan dengan sistem tata surya, ini pun kalau bisa, aku sekarang berada di antah berantah antara Saturnus dan Uranus. Sedikit lebih jauh dan aku bisa dengan jelas melihat Pluto. Dan lebih jauh dari itu – lihat – apa ada ya setelah itu?

Di awal Februari, aku keluar dari pekerjaanku di firma hukum. Dan tanpa alasan jelas. Bukan karena aku jemu dengan pekerjaannya. Kuakui, pekerjaannya memang tak bisa dibilang sesuatu yang menyenangkan, tapi gajinya tak terlalu buruk dan atmosfer kantor cukup bersahabat.

Tugasku di kantor adalah orang kantoran penuh waktu.

Meski memang aku percaya aku telah mendapat pekerjaan yang baik, menurut standarku. Sangat aneh karena ini datang dari mulutku sendiri, aku menemukan aku sangat cekatan ketika menerima tugas segera di kantor itu. Aku mengerti dengan cepat, bekerja secara metodis, berpikir praktis, tak mengeluh apapun. Inilah mengapa, ketika aku memberitahu rekan seniorku bahwa aku ingin keluar, pria tua itu – pemimpin dari “- dan Anak, Pengacara Hukum” – sampai menawarkan kenaikan gaji jika aku terus bertahan bekerja.

Tapi aku sudah tak tahan. Aku tak tahu pasti mengapa aku keluar. Tak ada tujuan jelas atau apakah ada kesempatan kerja lainnya jika sudah keluar. Bayangan masa depan buruk dan pikiran untuk mencoba kembali saat berada di palang pemeriksaan sangat menakutkan. Dan di samping itu, aku sudah tidak terlalu ingin jadi seorang pengacara saat itu.

Ketika aku pulang dan memberitahu istriku saat makan malam bahwa aku berpikir untuk berhenti bekerja, yang dia katakan cuma “Tak apa.” Apa maksud dari “Tak apa” itu, aku tak tahu. Tapi hanya sampai sejauh itu saja; dia tidak menambahkan kata-kata lain lagi.

Saat aku terdiam, dia bicara. “Jika kau ingin berhenti, kenapa kau tak berhenti saja? Itu hidupmu, kau jalani seperti yang kau mau.” Ucapnya lalu menulangi ikan di piringnya dengan sumpitnya.

Istriku bekerja kantoran di sekolah desain dan itu gajinya lumayan. Beberapa kali ia mendapat tugas ilustrasi dari teman redakturnya, dan bayarannya cukup masuk akal, bagaimanapun. Aku, di bagianku, punya uang kompensasi pemberhentian yang akan cukup untuk keperluan enam bulan ke depan. Jadi jika aku tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan rumah setiap harinya, kami tetap bisa makan dan mencuci sendiri, dan siklus hidup kami tak akan terlalu berubah dibanding ketika aku masih bekerja dan punya penghasilan.

Jadi begitulah aku memutuskan berhenti bekerja.

*

Setengah satu siang aku pergi belanja seperti biasa, tas kanvas besar tersampir di pundakku. Pertama aku menuju bak untuk membayar tagihan gas dan telepon, lalu aku belanja untuk kebutuhan makan malam di supermarket, kemudian aku memesan cheeseburger dan kopi di McDonald’s.

Aku pulang dan menyimpan bahan makanan ke dalam kulkas saat kemudian telepon berdering. Terdengar sesuatu yang akan menyakiti, lewat dering yang seperti itu. Aku meninggalkan kemasan plastik tahu yang terbuka setengah di meja, menuju ruang tengah, dan mengangkat telepon.

“Selesai dengan spaghetti-nya?” Si wanita itu lagi.

“Yah, sudah beres,” ucapku. “Tapi sekarang aku harus mencari kucing.”

“Tak bisakah menunggu sepuluh menit? Cuma mencari kucing!”

“Baik, sepuluh menit, ya.”

Apa yang kulakukan? pikirku. Kenapa aku mau saja memberikan sepuluh menit waktuku untuk seorang wanita aneh?

“Sekarang, tentu saja, kita bisa saling memahami satu sama lain,” sebut wanita itu, halus dan tenang. Dari suaranya, wanita ini – siapapun dia – pasti sedang selonjoran di kursi, dengan kaki bersilang.

“Hmm, aku enggak tahu sih,” ucapku. “Beberapa orang, yang sudah sepuluh tahun bersama dan mereka masih belum bisa saling memahami satu sama lain.”

“Berani mencoba?” goda wanita itu.

Aku melepas jam tangan dan menyalakan mode stopwatch, lalu memijit tombol start.

“Kenapa harus aku?” tanyaku. “Kenapa tak menelepon orang lain saja?”

“Aku punya alasannya,” wanita itu melafalkan perlahan, seakan-akan sedang mengunyah remah-remah makanan secara terukur. “Aku tahu segalanya tentangmu.”

“Dimana? Kapan?”

“Suatu saat, di suatu tempat,” ucap wanita itu. “Tapi kenapa itu begitu penting? Yang penting itu saat ini. Benar kan? Perlu apalagi, membicarakan soal itu hanya menyia-nyiakan waktu kita. Aku tak punya banyak waktu, kau tahu.

“Beri aku bukti. Bukti kalau kau kenal aku.”

“Misalnya.”

“Berapa umurku?”

“Tiga puluh,” wanita itu menjawab dengan tepat. “Tiga puluh lebih dua bulan. Sudah puas?”

Itu membuatku tak bisa berkata-kata. Wanita itu benar-benar mengenalku. Masih memeras otakku, aku tak bisa mengenali suaranya. Aku sungguh tak bisa melupakan atau mengelirukan suara seseorang. Wajah, nama – mungkin lupa – tapi suara, tak pernah.

“Baik, sekarang, giliranmu untuk menebak yang bisa kau tahu,” usulnya. “Apa yang bisa kau bayangkan dari suaraku? Wanita seperti apa aku ini? Bisakah kau membayangkan aku? Bukankah ini keahlian khususmu?”

“Oke, kau benar,” sergahku.

“Ayo, coba dong,” desak wanita itu.

Aku menatap jam tanganku. Belum sampai semenit setengah. Aku menghela napas. Kelihatannya aku sudah memanas-manasinya, dan saat tantangan sudah diterima, tak ada jalan balik. Aku memang jago dalam permainan tebak-tebakan.

“Akhir duapuluhan, lulusan universitas, asli Tokyo, dari keluarga kelas menengah ke atas,” berondongku.

“Bukan main,” puji wanita itu, terdengar jentikan korek rokok dari telepon. Korek Cartier, terdengar dari suaranya. “Teruskan.”

“Cukup cantik. Setidaknya, menurutmu begitu. Tapi ada sesuatu yang kompleks. Kau terlalu pendek atau dadamu terlalu kecil atau semacam itu.”

“Hampir mendekati,” wanita itu cekikikan.

“Kau sudah menikah. Tapi itu tak selancar yang kau bayangkan. Ada masalah. Nggak ada wanita tanpa masalah yang bakal menelepon seorang pria dan tanpa mengenalkan nama terlebih dulu. Meski aku tak kenal kau. Setidaknya aku belum pernah ngobrol denganmu sebelumnya. Ini hanya bayang-bayangku, aku masih tak tahu siapa kau.”

“Oh, benarkah?” Ucap wanita itu dalam diam yang terukur seakan-akan hendak melancarkan ganjalan pada tengkorakku. “Kenapa kau bisa begitu yakin tentang dirimu? Mungkin ada titik buta yang fatal di suatu tempat? Jika tidak, apakah kau tak berpikir kalau kau sedang memaksa dirimu melangkah lebih jauh dari seharusnya? Seseorang dengan otak dan keahlian sepertimu.”

“Kau terlalu berharap lebih,” ucapku. “Aku enggak tahu siapa kamu, tapi aku harus katakan bahwa aku bukan manusia sempurna yang seperti kau bayangkan. Aku tak mampu menyelesaikan apapun. Yang kulakukan hanya terus memintasi jalan memutar satu dan yang lainnya.”

“Tetap saja, aku punya sesuatu untukmu. Beberapa waktu kebelakang.”

“Beberapa waktu kebelakang, katamu,” aku mendesak.

Dua menit lima puluh detik.

“Belum begitu lama. Kita tak sedang membicarakan sejarah.”

“Ya, kita sedang membicarakan sejarah,” tegasku.

Titik buta, eh? Baik, wanita itu memang benar. Di suatu tempat, di kepalaku, dalam tubuhku, dalam eksistensiku saat ini, ada semacam elemen bawah tanah yang panjang dan terlupakan yang membuatku hidupku sedikit demi sedikit keluar batas.

Bukan, tak seperti itu. Bukan lagi sedikit – tapi jauh melewati batas. Sudah tak dapat ditembus.

“Aku sedang di atas kasur sekarang,” wanita itu berkata. “Aku baru beres mandi dan tak mengenakan apapun saat ini.”

Jadi seperti itu, pikirku. Tak mengenakan apapun? Mulai terasa seperti adegan video porno saja.

“Atau kau ingin aku memakai celana dalam? Bagaimana kalau kaos kaki? Apa yang kau mau?”

“Apapun boleh. Lakukan yang kau suka,” ucapku. “Tapi jika kau tak keberatan, aku bukan jenis pria macam gitu, nggak suka hal-hal beginian lewat telepon.”

“Hanya sepuluh menit. Tak lebih dari sepuluh menit. Bukan suatu kehilangan yang harus disesalkan, kan? Aku tak butuh yang lain kok. Ini hanya itikad baik biasa. Apapun itu, jawab pertanyaan tadi. Kau ingin aku bugil saja? Atau haruskah aku mengenakan sesuatu? Aku punya segala jenis barang. Suspender dan…”

Suspender? Aku gila. Apa yang dipikirkan wanita untuk memiliki semacam suspender begitu di masa sekarang? Model untuk rumah bordil, mungkin.

“Bugil enggak apa. Dan kau nggak usah bergerak,” ucapku.

Empat menit telah berlalu.

“Bulu pubisku masih basah,” ucap wanita itu. “Aku tak mengeringkannya dengan benar. Jadi masih basah. Hangat dan oh sangat basah.”

“Dengar, jika kau tak keberatan-”

“Dan di bawah sana, sangat hangat. Seperti lelehan mentega panas. Oh sangat panas. Tak bohong. Coba tebak sedang dalam posisi apa aku sekarang? Aku mengangkat lututku dan kaki kiriku mengangkang. Membentuk pukul 10:05 jika diibaratkan aku sebuah jam.”

Aku bisa bilang dari caranya bicara bahwa dia tidak sedang mengada-ada. Dia benar-benar mengangkangkan kakinya membentuk pukul 10:05, bahwa vaginanya hangat dan basah.

“Cumbu dengan bibir. Secara lembut, dan perlahan. Lalu buka. Perlahan, ya seperti itu. Sekarang cumbu dengan lembut oleh jarimu. Oh, ya, perlahan… perlahan. Sekarang biarkan satu tanganmu meremas dada sebelah kiriku, dari bawah, angkat dengan lembut, cubit saja putingnya. Lagi dan lagi. Sampai aku bisa-”

Aku menutup telepon tanpa basa-basi. Kemudian aku merebahkan diri di atas sofa, menyalakan rokok, dan menatap langit-langit, stopwatch menunjukan lima menit dua puluh tiga detik.

Aku menutup mataku dan kegelapan pun singgah, kegelapan yang buta namun berwarna.

Apa barusan? Kenapa orang-orang tak bisa meninggalkanku sendirian dalam ketenangan?

Belum sampai sepuluh menit, telepon berdering lagi, tapi kali ini aku tak mengangkatnya. Lima belas kali berdering dan kemudian berhenti. Aku membiarkannya mati, dan gravitasi serasa runtuh berganti keheningan mendalam. Keheningan yang begitu dingin itu membatu dalam bekuan gletser lima puluh ribu tahun yang lampau. Lima belas dering telepon itu telah mengubah kualitas udara di sekitarku.

ada bola yang super keras, bagaimana menurut Anda?”

Gadis itu batuk-batuk pendek.

“Belakangan ini, aku sering memikirkan ini. Mungkin karena aku punya banyak waktu luang setiap hari. Tapi memang, aku memikirkan ini. Jika aku tak melakukan apa-apa, pikiranku selalu mengawang-awang jauh. Aku jatuh dalam pikiranku, sulit untuk mencari jalan kembali.”

Sekarang, gadis itu melepaskan jarinya dari pergelangan tanganku untuk meminum sisa minuman sodanya. Aku bisa tahu dari bunyi es dalam gelas kosong itu.

“Tenang saja. Aku terus mengawasi kucing itu. Jangan khawatir. Segera saat aku melihat Noboru Watanabe, aku akan memberitahumu. Jadi kau bisa menutup matamu. Noboru Watanabe pasti lewat sini beberapa menit lagi. Maksudku, semua kucing punya jalur yang sama, jadi dia bakal muncul. Mari membayangkan saat kita menunggunya. Seperti, Noboru Watanabe mendekat, makin dekat. Dia muncul dari balik semak-semak, menyelinap di bawah tembok, berhenti lalu membaui bunga-bunga, makin dekat setiap menitnya. Coba dan bayangkan dia.”

Aku mengikutinya dan mencoba melihat kucing itu dalam mata batinku, tapi semua yang bisa kucapai hanya gambaran kucing yang sangat kabur. Benderang matahari membakar melalui pelupuk mataku, memencarkan area gelap pada citraanku; di samping itu, bagaimana pun aku mencoba aku tak bisa mengingat wajah mungil berbulu itu seakurat mungkin. Noboru Watanabe yang kubayangkan adalah citraan yang gagal, bisa dibilang menyimpang dan tak wajar. Hanya suaranya saja; yang lain-lain tak ada. Aku bahkan tak ingat bagaimana cara dia berjalan.

Gadis itu meletakan kembali jarinya di pergelangan tanganku sekali lagi dan kali ini menggambar suatu pola. Diagram aneh tentang bentuk tak tentu. Saat dia menggambari bagan di pergelangan tanganku, bersamaan dengan itu aku merasakan sepenuhnya beragam kegelapan menyusup ke kesadaranku. Aku pasti jatuh tertidur, pikirku. Bukan karena aku mengantuk, tapi sesuatu memberitahuku bahwa aku tak bisa mengelak dari sesuatu ini. Tubuhku terasa berat di atas lengkungan kanvas kursi.

Di tengah-tengah naungan kegelapan ini, sebuah gambaran jelas dari keempat kaki Noboru Watanabe muncul di kepalaku. Empat cakar coklat mungil dengan bantalan empuk pada telapaknya. Tanpa bersuara, dia berjalan dengan lesu di sebuah tanah lapang.

Tanah lapang apa? Dimana?

Aku tak bisa membayangkannya.

Kemungkinan besar kau punya sebuah titik buta di suatu tempat? ucap wanita itu lembut.

*

Aku terbangun dan mendapati diriku sendirian. Yang pergi adalah gadis itu yang berbaring di kursi di sampingku. Handuk dan rokok juga majalah-majalah masih ada di tempat, tapi minuman soda dan radio pemutar kaset sudah tak ada.

Matahari sudah condong di barat dan diriku sampai pergelangan kakiku berada dalam bayang-bayang pohon pinus. Tulisan di jam tanganku menunjukan pukul 3:40. Aku menggeleng kepalaku beberapa kali seakan menggoyang-goyang kaleng kosong, bangkit dari kursi, dan melihat ke sekeliling. Semuanya masih sama seperti saat aku pertama melihatnya. Halaman rumput yang lebar, kolam yang mengering, pagar, patung burung, bunga-bunga kecil, antena TV, tak ada kucing. Tak ada si gadis.

Aku mengempaskan diriku ke atas rumput yang terbayangi dan melarikan tanganku ke rumput hijau, sebelah mata melihat jalur kucing, sementara aku menunggu gadis itu untuk kembali. Sepuluh menit kemudian, masih tak ada tanda baik dari kucing atau gadis itu. Bahkan tak ada sesuatu yang beranjak. Aku dibuat bingung untuk melakukan apa selanjutnya. Aku merasa aku sudah melakukan sesuatu yang buruk saat tidur tadi.

Aku berdiri lagi dan menatap rumah itu. Tapi masih tak ada tanda siapa pun di sana. Hanya sinar matahari dari barat yang menyinari jendela. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menerobos lagi ke gang dan mengikuti jalan pulang. Jadi aku tidak menemukan kucingnya. Baiklah, setidaknya aku sudah mencoba.

*

Kembali di rumah. Aku membawa masuk cucian kering dan melempar semuanya lalu membuat makanan sederhana. Kemudian aku merebahkan diriku di atas lantai ruang tengah, punggungku bersandar di tembok, untuk membaca koran siang. Pukul 5:30, telepon berdering dua belas kali, tapi aku tidak mengangkatnya. Setelah dering berhenti, kekosongan berkepanjangan melayang-layang dalam ruang gelap debu yang mengambang. Jam dinding di atas TV mencoreng panel tak terlihat dalam ruang dengan cakar rapuhnya. Dunia ini hanyalah mainan yang diputar, pikirku. Sekali tiap hari burung nejimaki akan muncul dan memutar pegas dunia ini. Sendiri dalam rumah menyenangkan ini, tempat aku menua ini, sebuah bola pucat kematian mengembang di dalam diriku. Meski aku tidur di antah berantah antara Saturnus dan Uranus sekali pun, burung nejimaki di mana pun terus sibuk memenuhi tugasnya.

Aku mempertimbangkan untuk menulis puisi tentang burung nejimaki ini. Tapi tidak ada baris pertama yang terpikirkan. Di samping itu, aku ragu kalau anak-anak perempuan SMA akan tertarik untuk membaca puisi tentang burung nejimaki. Mereka bahkan tak tahu kalau burung nejimaki itu sungguh ada.

*

Sudah pukul tujuh tiga puluh ketika istriku pulang.

“Maaf, aku pulang telat,” dia meminta maaf. “Aku harus mati-matian mengurus catatan kuliah seorang murid. Perempuan yang kerja sampingan itu sungguh lelet, sehingga aku yang kena getahnya.”

“Jangan dipikirkan,” kataku. Lalu aku melangkah menuju dapur, memasak sepotong ikan dengan mentega, dan menyiapkan salad dan sup miso. Sementara itu, istriku membaca koran sore di meja dapur.

“Kau tidak di rumah jam setengah enam ya?” tanyanya. “Aku mencoba menghubungimu untuk bilang kalau aku bakal telat.”

“Aku kehabisan mentega jadi aku keluar untuk membeli,” aku berbohong.

“Kau ingat untuk pergi ke bank?”

“Tentu lah,” jawabku.

“Kalau soal kucing?”

“Belum ketemu.”

“Oh,” timpal istriku.

*

Aku menyembul keluar sehabis mandi setelah makan malam dan mendapati istriku duduk sendirian di ruang tengah yang gelap. Aku memakai kaos abu-abu dan meraba-raba dalam gelap agar bisa sampai di tempat istriku teronggok seperti barang-barang. Dia terlihat seperti seorang yang sangat kehilangan. Jika saja mereka menempatkannya di tempat lain, mungkin saja dia bisa terlihat sedikit bahagia.

Mengeringkan rambutku dengan handuk, aku duduk di sofa di seberangnya.

“Ada masalah apa?” tanyaku.

“Kucing itu sudah mati, aku tahu,” ucap istriku.

“Ayolah,” protesku. “Kucing itu cuma mau jalan-jalan. Sebentar lagi juga dia bakal lapar dan kembali pulang. Hal ini pernah terjadi sebelumnya, kau ingat kan? Saat kita masih tinggal di Koenji-”

“Kali ini berbeda. Aku bisa merasakannya. Kucing itu mati dan membusuk di rerumputan. Kau mencarinya di halaman rumah kosong itu kan?”

“Hey, hentikan. Itu memang rumah kosong, tapi itu tetap rumah orang. Aku enggak mau masuk tanpa izin.”

“Kau membunuhnya!” tuduh istriku.

Aku menghela nafas dan menyeka kepalaku dengan handuk.

“Kau membunuhnya dengan tatapanmu itu!” dia mengulang dalam kegelapan.

“Bagaimana bisa?” belaku. “Kucing itu menghilang karena keinginannya. Bukan salahku. Kau harus tahu itu.”

“Kau! Kau gak pernah suka kucing itu!”

“Oke, memang iya,” aku mengaku. “Setidaknya aku enggak segila kau terhadap kucing. Tetap, aku ga bakal menyiksanya. Aku kasih makan tiap hari. Meski aku gak terpikat dengan si mungil celaka itu, bukan berarti aku akan membunuhnya. Berkata seperti ini dan aku jadi ingin membunuh setengah umat manusia di bumi ini.”

“Baik, memang kau,” istriku memberi vonis. “Memang kamu. Selalu, selalu seperti ini. Kau membunuh semuanya tanpa perlu mengayunkan tanganmu.”

Aku akan balas menghardik tapi dia mulai menangis. Aku menghentikan ucapanku dan melempar handuk ke keranjang kamar mandi, pergi ke dapur, mengambil bir dari kulkas, dan menyesapnya. Hari yang begitu tak masuk akal! Satu hari yang tak masuk akal, dari bulan yang tak masuk akal, dalam tahun yang tak masuk akal.

Noboru Watanabe, pergi kemana kau?, pikirku. Apakah burung nejimaki memutar pegasmu?

Ini hanya sebuah puisi biasa:

 Noboru Watanabe

Kemana kau pergi?

Apakah burung nejimaki

Memutar pegasmu?

Aku belum menghabiskan setengah birku saat telepon mulai berdering.

“Bisakah kau mengangkatnya?” aku berteriak ke kegelapan ruang tengah.

“Tak mau! Angkat saja sendiri,” balas istriku.

“Aku enggak mau mengangkatnya,” kataku.

Tak ada yang membalasnya, dan telepon terus berdering. Dering itu menggegerkan debu yang menempel sehingga bertebaran di dalam gelap. Baik aku atau istriku tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku meminum birku, istriku terus tersedu-sedu. Sudah dua puluh kali berdering sampai aku berhenti menghitung dan membiarkan telepon tetap berdering. Kau tak bisa terus menghitung selamanya.

***

NB: Penerjemah (Arif Abdurrahman) menggunakan istilah “Burung Nejimaki” untuk “Wind-Up Bird”, yang berarti burung mainan yang ada motor pegas pemutar di bagian belakangnya.

Diterjemahkan dari “Wind-Up Bird and Tuesday’s Women” yang ada dalam kumcer The Elephant Vanished. Cerpen Haruki Murakami yang kemudian menjadi bab pertama dari novel The Wind-Up Bird Chronicle.

Sumber: https://yeaharip.com

Cerpen Haruki Murakami yang lain bisa dibaca di sini.

Cerpen Haruki Murakami: Kodok Super Melindungi Tokyo

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Cerpen Haruki Murakami

Katagiri mendapati seekor katak raksasa menunggu dia di apartemennya. Katak yang kekar, berdiri setinggi lebih dari enam kaki dengan tumpuan kaki belakangnya. Hanya seorang laki-laki kecil kurus tidak lebih dari satu setengah meter, Katagiri tentu kalah telak oleh tubuh raksasa sang katak.

“Panggil saya ‘Bangkong,’” kata katak dengan suara berat yang jelas.

Katagiri berdiri terpaku di ambang pintu, tidak mampu berbicara.

“Jangan takut, saya di sini tidak untuk menyakiti Anda. Mari masuk dan tutup pintunya. Silahkan.”

Tas koper di tangan kanannya, tas belanja dengan sayuran segar dan salmon kalengan tergantung di lengan kirinya, Katagiri tidak berani bergerak.

“Silahkan, Tuan Katagiri, cepat dan tutup pintu, dan lepas sepatu Anda.”

Mendengar namanya disebut membuat Katagiri mengubah sikap. Dia menutup pintu seperti yang diperintahkan, mengatur tas belanja di undakan lantai kayu, menyematkan tas koper di bawah satu lengan, dan melepas sepatunya. Bangkong mengisyaratkannya untuk duduk di meja dapur, yang selanjutnya ia lakukan.

“Saya harus minta maaf, Tuan Katagiri, karena telah menerobos masuk saat Anda berada di luar,” kata Bangkong. “Saya tahu ini akan mengejutkan Anda saat mendapati saya di sini. Tapi saya tidak punya pilihan. Bagaimana kalau bikin secangkir teh dulu? Saya pikir Anda akan pulang segera, jadi saya sudah rebus air.”

Katagiri masih menggencet tasnya di lengannya. Seseorang sedang menjahiliku, pikirnya. Seseorang memakai kostum katak besar ini hanya untuk membuat lelucon denganku. Tapi ia tahu, saat ia melihat Bangkong menuangkan air mendidih ke dalam teko, sambil bersenandung, bahwa ini betul-betul anggota badan dan gerakan seekor katak yang nyata. Bangkong menaruh secangkir teh hijau di depan Katagiri, dan menuangkan satu lagi untuk dirinya sendiri.

Menyesap tehnya, Bangkong bertanya, “Sudah mendingan?”

Tapi tetap Katagiri tidak bisa berbicara.

“Saya tahu saya harus membuat janji untuk mengunjungi Anda, Tuan Katagiri. Saya sepenuhnya menyadari norma. Siapa pun akan terkejut menemukan katak besar menunggu di rumahnya. Tapi hal yang mendesak membawa saya ke sini. Mohon maafkan saya.”

“Hal mendesak?” akhirnya Katagiri berhasil mengungkapkan kata-kata.

“Ya, tentu saja,” kata Bangkong. “Kenapa lagi saya akan berani menerobos masuk ke rumah seseorang? Kekasaran seperti ini bukan gaya adat saya.”

“Apakah ‘hal’ ini ada hubungannya dengan saya?”

“Ya dan tidak,” kata Bangkong dengan memiringkan kepala. “Tidak dan ya.”

Aku harus menenangkan diriku sendiri, pikir Katagiri. “Apakah Anda keberatan jika saya merokok?”

“Silahkan, silahkan,” kata Bangkong sambil tersenyum. “Ini rumah Anda. Anda tidak perlu meminta izin pada saya. Merokok dan minum sebanyak yang Anda suka. Saya sendiri bukan seorang perokok, tapi saya hampir tidak bisa memaksakan ketidaksukaan saya pada orang lain yang merokok di rumah mereka sendiri.”

Katagiri menarik sebungkus rokok dari saku jasnya dan menyalakan korek. Dia melihat gemetar tangannya saat dia menyalakannya. Duduk di seberangnya, Bangkong tampak sedang mengamati setiap gerakannya.

“Anda bukan bagian dari semacam geng, kan?” Katagiri mendapat keberanian untuk bertanya.

“Ha ha ha ha ha ha! Anda punya rasa humor yang bagus, Tuan Katagiri!” Katanya, menamparkan tangan berselaput ke pahanya. “Mungkin ada kekurangan tenaga kerja terampil, tapi kenapa juga geng akan menyewa katak untuk melakukan pekerjaan kotor mereka? Mereka hanya akan menjadi bahan tertawaan.”

“Nah, jika Anda di sini untuk melobi pembayaran, Anda membuang-buang waktu Anda. Saya tidak memiliki otoritas untuk membuat keputusan seperti itu. Hanya atasan saya yang bisa melakukan itu. Saya hanya mengikuti perintah. Saya tidak bisa melakukan sesuatu untuk Anda.”

“Tenang, Tuan Katagiri,” kata Bangkong, mengangkat satu jari berselaputnya. “Saya tidak datang ke sini untuk urusan remeh tersebut. Saya menyadari bahwa Anda adalah asisten kepala Bagian Peminjaman di Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku. Tapi kunjungan saya tidak ada hubungannya dengan pembayaran pinjaman. Saya datang ke sini untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran.”

Katagiri memindai ruangan untuk mencari semacam kamera TV tersembunyi dalam kasus dia sedang direkam untuk dagelan yang mengerikan. Tapi tidak ada kamera. Ini hanya sebuah apartemen kecil. Tidak ada tempat bagi siapa pun untuk bersembunyi.

“Tak ada,” kata Bangkong, “kita adalah satu-satunya di sini. Saya tahu Anda berpikir bahwa saya gila, atau bahwa Anda sedang bermimpi, tapi saya tidak gila dan Anda tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar sangat penting.”

“Terus terang saja, Tuan Bangkong—”

“Tolong,” kata Frog, mengangkat satu jari lagi. “Panggil saja ‘Bangkong.’”

“Terus terang saja, Bangkong,” ucap Katagiri, “Saya tidak bisa mengerti apa yang terjadi di sini. Ini bukan berarti bahwa saya tidak percaya, tapi saya sepertinya tidak dapat memahami situasi persisnya. Apakah Anda keberatan jika saya mengajukan beberapa pertanyaan?”

“Silahkan, silahkan,” kata Bangkong. “Saling pengertian itu sangat penting. Ada orang yang mengatakan bahwa ‘pemahaman’ hanyalah sekumpulan dari kesalahpahaman kita, dan memang saya menemukan pandangan ini menarik dengan caranya sendiri, saya khawatir bahwa kita tidak punya waktu luang untuk ngalor-ngidul. Hal terbaik bagi kita untuk mencapai saling pengertian melalui rute yang sesingkat mungkin. Oleh karena itu, dengan segala cara, silahkan ajukan banyak pertanyaan yang Anda ingin sampaikan.”

“Sekarang, Anda ini memang katak betulan, saya benar, kan?”

“Ya, tentu saja, seperti yang Anda lihat. Saya seekor katak betulah. Bukan metafora atau kiasan atau dekonstruksi atau pengambilan sampel maupun proses kompleks lainnya, saya katak asli. Haruskah saya berkuak-kuak untuk Anda?”

Katak menyondongkan ke belakang kepalanya dan menekuk otot-otot tenggorokan yang besar. Ribit! Ri-i-i-bit! Ribit-ribit-ribit! Ribit! Ribit! Ri-i-i-bit! Bunyi kuaknya yang nyaring itu mengguncang gambar yang tergantung di dinding.

“Baik, saya percaya, saya percaya!” tegas Katagiri, khawatir akan dinding tipis rumah apartemen sederhana tempatnya tinggal. “Itu hebat. Anda, tanpa harus bertanya lagi, betul-betul katak asli.”

“Ada yang mengatakan bahwa saya gabungan keseluruhan dari semua katak. Meskipun demikian, ini tidak berdampak apa-apa untuk mengubah fakta bahwa saya memang katak. Siapapun yang menyebut kalau saya bukan katak pasti seorang pembohong kotor. Saya akan meremukkan orang tersebut jadi serpihan!”

Katagiri mengangguk. Berharap untuk menenangkan diri, ia mengangkat cangkirnya dan menelan seteguk teh. “Sebelumnya Anda berkata kalau Anda datang ke sini untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran?”

“Itulah yang saya katakan.”

“Kerusakan macam apa?”

“Gempa,” kata Bangkong dengan sangat berat.

Dengan mulut menganga, Katagiri menatap Bangkong. Dan Bangkong, tak mengatakan apa-apa, menatap Katagiri. Mereka melanjutkan menatap satu sama lain seperti ini untuk beberapa waktu. Berikutnya giliran Bangkong untuk membuka mulutnya.

“Gempa yang sangat, sangat besar. Sudah diatur untuk menghantam Tokyo pukul delapan tiga puluh pagi pada 18 Februari. Tiga hari dari sekarang. Gempa yang jauh lebih hebat ketimbang yang melanda Kobe bulan lalu. Jumlah korban tewas dari gempa tersebut mungkin akan melebihi seratus lima puluh ribu—sebagian besar dari kecelakaan yang melibatkan sistem komuter: kereta anjlok, tertimpa, tabrakan, runtuhnya jalur kereta cepat dan rel, robohnya kereta bawah tanah, ledakan tanker bahan bakar. Bangunan akan berubah menjadi tumpukan puing-puing, penghuninya mati tertimpa reruntuhan. Kebakaran di mana-mana, sistem jalan macet, ambulans dan truk pemadam kebakaran tidak berguna, orang hanya bisa berbaring, sekarat. Seratus lima puluh ribu! Seperti neraka. Orang-orang akan sadar akan kondisi rapuh dalam kolektivitas intensif yang dikenal sebagai ‘kota’.” sebut Bangkong dengan lembut menggoyangkan kepala. “Pusat gempa akan dekat dengan kantor distrik Shinjuku.”

“Dekat kantor distrik Shinjuku?”

“Tepatnya, itu akan menghantam langsung di bawah Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku.”

Keheningan berat diikuti.

“Dan Anda,” kata Katagiri, “berencana untuk menghentikan gempa ini?”

“Tepat,” kata Bangkong, mengangguk. “Ini adalah apa yang ingin saya usulkan untuk dilakukan. Anda dan saya akan pergi ke lorong bawah tanah di bawah Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku untuk melakukan pertempuran mematikan melawan Cacing.”

*

Sebagai anggota dari Divisi Kredit Trust Bank, Katagiri telah melalui banyak pertempuran. Dia telah enam belas tahun terbiasa bergelut setiap hari sejak saat dia lulus dari universitas dan bergabung menjadi staf bank. Dia, bisa dibilang, petugas pengumpul—bagian kerja yang kurang populer. Semua orang di divisinya lebih suka untuk mengajukan pinjaman, terutama pada saat gelembung ekonomi. Mereka punya begitu banyak uang pada hari-hari yang hampir setiap bagian mungkin pinjamkan—baik itu tanah atau saham—sudah cukup untuk meyakinkan petugas pinjaman untuk memberikan apa pun yang mereka pinta, semakin besar pinjaman yang diberikan semakin baik reputasi mereka di perusahaan. Beberapa pinjaman, meskipun, tidak pernah berhasil kembali ke bank: mereka harus “terjebak di bagian bawah panci.” Tinggal pekerjaan Katagiri untuk mengurus mereka. Dan ketika gelembung ekonomi berhenti, pekerjaan pun menumpuk. Pertama harga saham jatuh, dan kemudian nilai tanah, dan jaminan tak berarti lagi. “Keluar sana,” bosnya memerintahkan dia, “dan peras apapun yang bisa kau dapat dari mereka.”

Lingkungan Kabukicho di Shinjuku adalah sebuah labirin kekerasan: gangster turun-temurun, komplotan Korea, mafia Cina, senjata dan obat-obatan, uang mengalir di bawah permukaan dari satu liang ke yang liang lainnya, orang hilang sepanjang waktu seperti kepulan asap. Terjun ke Kabukicho untuk mengumpulkan debit buruk, Katagiri telah dikepung lebih dari sekali oleh mafia yang mengancam untuk membunuhnya, tetapi ia tidak pernah takut. Apa gunanya mereka membunuh satu orang pegawai bank? Mereka bisa saja menikamnya jika mereka ingin. Mereka bisa memukulinya. Dia sempurna untuk pekerjaan itu: tidak ada istri, tidak punya anak, kedua orang tua sudah meninggal, adik-adik yang telah dibiayai sampai menikah. Jadi bagaimana jika mereka membunuhnya? Itu tidak akan mengubah apa-apa bagi siapa pun-apalagi untuk Katagiri sendiri.

Bukan Katagiri tapi preman di sekitarnya yang justru gugup ketika mereka melihat dia begitu tenang dan dingin. Dia segera mendapatkan jenis reputasi di dunia mereka sebagai seorang pria tangguh. Sekarang, bagaimanapun, Katagiri yang tangguh dihadapkan pada kebingungan yang pelik. Apa yang katak ini bicarakan? Cacing?

“Siapa itu Cacing?” Tanyanya dengan beberapa ragu-ragu.

“Cacing hidup di bawah tanah. Dia adalah cacing raksasa. Ketika dia marah, dia menyebabkan gempa bumi,” kata Bangkong. “Dan sekarang dia sangat, sangat marah.”

“Apa yang membuat dia marah?” Tanya Katagiri.

“Saya tidak tahu,” kata Bangkong. “Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan si Cacing dalam kepala keruhnya. Beberapa pernah melihatnya. Dia biasanya tidur. Itulah yang benar-benar dia sukai: butuh waktu lama, tidur siang yang panjang. Dia melanjutkan tidur selama bertahun-tahun—berdekade-dekade—dalam kehangatan dan kegelapan bawah tanah. Matanya, seperti yang Anda bayangkan, telah berhenti berkembang, otaknya telah berubah lemas saat ia tidur. Jika Anda bertanya kepada saya, saya akan menebak dia mungkin tidak berpikir apa-apa, hanya terbaring di sana dan merasa setiap ada gemuruh kecil dan dengung yang mendekatinya, menyerap ke dalam tubuhnya, dan menyimpannya. Kemudian, melalui beberapa jenis proses kimia, ia menempatkan kembali sebagian besarnya dengan rasa marah. Mengapa hal ini terjadi saya tidak tahu. Saya tidak pernah bisa menjelaskannya.”

Bangkong terdiam, menonton Katagiri dan menunggu sampai kata-katanya telah tenggelam. Kemudian ia melanjutkan.:

“Tolong jangan salah paham. Saya merasa tidak ada permusuhan pribadi terhadap Cacing. Saya tidak melihat dia sebagai perwujudan kejahatan. Bukan berarti juga saya ingin menjadi temannya: Saya hanya berpikir bahwa, sejauh dunia yang bersangkutan, itu tak jadi masalah bagi seekor makhluk seperti dia ada. Dunia ini seperti mantel sangat besar, dan membutuhkan kantong dari berbagai bentuk dan ukuran. Tapi tepat saat ini Cacing telah mencapai titik di mana ia terlalu berbahaya untuk diabaikan. Dengan semua jenis kebencian yang ia telah serap dan simpan di dalam dirinya selama bertahun-tahun, jantung dan tubuhnya telah membengkak menjadi raksasa—lebih besar dari sebelumnya. Dan yang lebih parah lagi, gempa Kobe yang terjadi bulan lalu mengguncang dirinya dari tidur nyenyak yang dia nikmati. Dia mengalami semacam dorongan oleh kemarahan yang mendalam: sudah waktunya sekarang untuk dia juga, menyebabkan gempa besar, dan ia akan melakukannya di sini, di Tokyo. Saya tahu apa yang saya bicarakan, Tuan Katagiri: Saya telah menerima informasi yang dapat dipercaya tentang waktu dan skala gempa dari beberapa binatang-binatang kecil teman baik saya.”

Bangkong mengatupkan mulutnya dan memejamkan mata bundarnya dengan kelelahan yang jelas terlihat.

“Jadi apa yang Anda katakan adalah,” kata Katagiri, “bahwa Anda dan saya harus pergi ke bawah tanah bersama-sama dan mengalahkan Cacing untuk menghentikan gempa.”

“Seperti itu.”

Katagiri meraih cangkir teh, mengangkatnya, dan meletakkannya kembali. “Saya masih tidak mengerti,” katanya. “Mengapa Anda memilih saya untuk pergi dengan Anda?”

Bangkong menatap langsung ke mata Katagiri dan berkata, “Saya selalu memiliki rasa hormat mendalam pada Anda, Tuan Katagiri. Selama enam belas tahun yang panjang, Anda telah diam-diam menerima tugas paling berbahaya yang tidak punya daya tarik—pekerjaan yang orang lain hindari—dan Anda telah mengerjakannya dengan aduhai. Saya tahu benar betapa sulitnya ini bagi Anda, dan saya percaya bahwa baik atasan Anda atau rekan Anda belum benar-benar menghargai pencapaian Anda. Mereka buta, semuanya. Tapi Anda, yang tidak dihargai dan tidak mendapat dukungan, tidak pernah sekalipun mengeluh.

“Bukan hanya soal pekerjaan Anda. Setelah orang tua Anda meninggal, Anda yang mengurus adik-adik Anda yang masih remaja, membiayai mereka sampai kuliah, dan bahkan yang mengusahakan mereka untuk menikah, semuanya itu butuh pengorbanan besar waktu dan pendapatan Anda, dan dengan mengorbankan prospek pernikahan Anda sendiri. Terlepas dari ini, adik-adik Anda tidak pernah sekalipun menyatakan terima kasih atas upaya Anda terhadap mereka. Lebih dari itu: mereka telah menunjukkan sikap tidak menghormati dan berlaga acuh terhadap cinta kasih Anda. Menurut pendapat saya, perilaku mereka tak dapat diterima. Saya sangat berharap saya bisa memukuli mereka sampai remuk atas nama Anda. Tapi Anda, sementara itu, tidak menampakan rasa dongkol.

“Sejujurnya, Tuan Katagiri, tidak ada yang menarik untuk dilihat dari Anda, dan Anda tak pandai bicara, sehingga Anda cenderung dipandang rendah oleh orang-orang di sekitar Anda. Saya, bagaimanapun, dapat melihat apa yang seorang pria yang masuk akal dan berani Anda. Di Tokyo ini, yang disesaki jutaan orang, tidak ada satu pun yang saya bisa percaya seperti Anda untuk berjuang di sisi saya.”

“Beritahu saya, Tuan Bangkong—” kata Katagiri.

“Tolong,” kata Bangkong, mengangkat satu jari lagi. “Panggil saya ‘Bangkong.’”

“Beritahu saya, Bangkong,” Katagiri berkata, “bagaimana Anda tahu begitu banyak tentang saya?”

“Nah, Tuan Katagiri, buat apa saya jadi kodok selama bertahun-tahun. Saya terus menjaga mata saya pada hal-hal penting dalam hidup ini.”

“Tapi tetap, Bangkong,” kata Katagiri, “Saya tidak terlalu kuat, dan saya tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi di bawah tanah. Saya tidak memiliki jenis otot yang diperlukan untuk melawan Cacing dalam kegelapan. Saya yakin Anda dapat menemukan seseorang yang lebih kuat dari saya—seorang pria yang bisa karate, contohnya, atau pasukan Angkatan Bela Diri.”

Bangkong memutar matanya yang besar. “Sejujurnya, Tuan Katagiri,” katanya, “Saya orang yang akan melakukan semua pertempuran. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri. Ini poin pentingnya: Saya membutuhkan keberanian dan gairah Anda tentang keadilan. Saya ingin Anda berdiri di belakang saya dan berkata, ‘Terus maju, Bangkong! Kau hebat! Aku tahu kau bisa menang! Kau berjuang untuk sesuatu yang baik!’”

Bangkong membuka tangannya lebar, kemudian menamparkan tangan berselaputnya ke lutut sekali lagi.

“Sejujurnya, Tuan Katagiri, pikiran pertempuran dengan Cacing dalam gelap menakutkan saya juga. Selama bertahun-tahun saya hidup sebagai seorang pasifis, pecinta seni, hidup berdampingan dengan alam. Pertempuran bukanlah sesuatu yang saya ingin lakukan. Saya melakukannya karena saya harus. Yang pasti, pertarungan khusus ini akan menjadi sesuatu yang sengit. Saya mungkin tidak kembali hidup-hidup. Saya mungkin kehilangan dua anggota badan atau lebih. Tapi saya tidak bisa—saya tidak akan—lari. Seperti Nietzsche katakan, kebijaksanaan tertinggi adalah untuk tidak merasa takut. Apa yang saya inginkan dari Anda, Tuan Katagiri, adalah agar Anda bisa berbagi keberanian sederhana Anda dengan saya, untuk mendukung saya dengan sepenuh hati Anda sebagai teman sejati. Apakah Anda mengerti apa yang saya coba sampaikan?”

Tak satu pun dari ini masuk akal untuk Katagiri, tapi ia masih merasa bahwa—betapa pun terdengar anehnya—ia bisa percaya pada apa yang Bangkong katakan kepadanya. Sesuatu tentang Bangkong—raut wajahnya, cara dia berbicara—memiliki kejujuran sederhana yang menarik langsung ke hati. Setelah bertahun-tahun bekerja di divisi terberat di Security Trust Bank, Katagiri memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal seperti itu. Itu semua tapi bakat alami kedua baginya.

“Saya tahu ini pasti sulit bagi Anda, Tuan Katagiri. Seekor katak besar datang menerobos masuk ke rumah Anda dan meminta Anda untuk percaya semua hal-hal aneh. Reaksi Anda sangat wajar. Jadi saya berniat untuk memberikan bukti bahwa saya benar-benar ada. Katakan pada saya, Tuan Katagiri, Anda telah banyak mengalami kesulitan memulihkan pinjaman bank yang dibuat untuk Komplotan Big Bear, bukankah begitu?”

“Memang benar,” kata Katagiri.

“Yah, mereka memiliki banyak pemeras yang bekerja di belakang layar, dan orang-orangnya bekerja sama dengan mafia. Mereka berbuat licik untuk membuat perusahaan bangkrut dan mengajukan pinjaman. Petugas pinjaman bank Anda menyodorkan tumpukan uang untuk mereka tanpa pemeriksaan latar belakang yang layak, dan, seperti biasa, orang yang tersisa untuk membersihkan setelahnya adalah Anda, Tuan Katagiri. Tapi Anda kesulitan untuk menjangkau orang-orang ini: mereka bukan lawan enteng. Dan mungkin ada politisi kuat yang mendompleng mereka. Mereka punya hutang kepada Anda sebanyak tujuh ratus juta yen. Itu adalah situasi yang Anda hadapi, saya benar, kan?”

“Seperti itu.”

Bangkong mengulurkan tangannya lebar-lebar, membuka selaput besarnya yang berwarna hijau seperti sayap pucat. “Jangan khawatir, Tuan Katagiri. Serahkan segalanya pada saya. Besok pagi, Bangkong tua ini akan memecahkan masalah Anda. Santai saja dan nikmati tidur malam ini.”

Dengan senyum lebar di wajahnya, Bangkong berdiri. Kemudian, meratakan dirinya seperti cumi-cumi kering, ia menyelinap keluar melalui celah di sisi pintu yang tertutup, meninggalkan Katagiri sendirian. Dua cangkir teh di meja dapur adalah satu-satunya indikasi bahwa Bangkong memang mengunjungi apartemen Katagiri ini.

*

Saat Katagiri tiba di tempat kerja keesokan harinya pukul sembilan, telepon di mejanya berdering.

“Tuan Katagiri,” kata suara seorang pria. Dingin dan lugas. “Nama saya Shiraoka. Saya seorang pengacara dalam kasus Big Bear. Saya menerima telepon dari klien saya pagi ini berkaitan dengan masalah pinjaman tunda. Dia ingin Anda tahu bahwa dia akan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengembalikan seluruh jumlah yang diminta pada tanggal jatuh tempo. Dia juga akan memberikan nota yang harus Anda tandatangani. Ada satu permintaannya bahwa Anda jangan mengirim Bangkong ke rumahnya lagi. Saya ulangi: dia ingin Anda untuk meminta Bangkong tidak lagi mengunjungi rumahnya. Saya sendiri tidak sepenuhnya mengerti maksudnya, tapi saya percaya ini jelas bagi Anda, Tuan Katagiri. Saya benar, kan?”

“Memang benar,” jawab Katagiri.

“Anda akan berbaik hati untuk menyampaikan pesan saya pada Bangkong, saya percaya.”

“Saya akan menyampaikannya. Klien Anda tidak akan pernah melihat Bangkong lagi.”

“Terima kasih banyak. Saya akan mempersiapkan nota untuk Anda besok.”

“Saya menghargai itu,” kata Katagiri.

Sambungan terputus.

Bangkong mengunjungi Katagiri di kantornya Trust Bank saat makan siang. “Untuk kasus Big Bear kelihatan berjalan lancar, saya kira?”

Katagiri melirik sekitar dengan gelisah.

“Jangan khawatir,” kata Bangkong. “Anda adalah satu-satunya orang yang bisa melihat saya. Tapi sekarang saya yakin Anda menyadari kalau saya benar-benar ada. Saya bukan produk dari imajinasi Anda. Saya dapat melakukan aksi dan memberi hasil. Saya makhluk hidup nyata.”

“Beritahu saya, Tuan Bangkong.”

“Saya mohon,” kata Bangkong, mengangkat satu jari. “Panggil saya ‘Bangkong’.”

“Beritahu saya, Bangkong,” kata Katagiri, “apa yang Anda lakukan pada mereka?”

“Oh, tidak banyak,” kata Bangkong. “Tidak ada yang jauh lebih rumit daripada merebus kubis Brussel. Saya hanya sedikit menakut-nakuti mereka. Sentuhan terror psikologis. Seperti Joseph Conrad pernah tulis, terror sesungguhnya adalah sesuatu yang manusia rasakan lewat imajinasi mereka. Tapi jangan dipikirkan, Tuan Katagiri. Ceritakan tentang kasus Big Bear. Beres, kan?”

Katagiri mengangguk dan menyalakan rokok. “Kelihatannya.”

“Jadi, apakah saya berhasil mendapat kepercayaan Anda berkaitan dengan masalah yang saya singgung dengan Anda semalam? Anda akan bergabung dengan saya untuk melawan Cacing?”

Mendesah, Katagiri melepas kacamatanya dan mengusap matanya. “Sejujurnya, saya tidak terlalu gila tentang ide tersebut, tapi saya kira saya tidak cukup pantas.”

“Tidak,” kata Bangkong. “Ini soal tanggung jawab dan kehormatan. Anda mungkin tidak terlalu ‘gila’ tentang ide tersebut, tapi kita tidak punya pilihan: Anda dan saya harus pergi ke bawah tanah dan menghadapi Cacing. Jika kita harus kehilangan nyawa karenanya, kita tidak akan memperoleh simpati dari siapa pun. Dan bahkan jika kita berhasil mengalahkan Cacing, tidak ada yang akan memuji kita. Tidak seorang pun akan tahu bahwa pertempuran hebat sedang terjadi jauh di bawah kaki mereka. Hanya Anda dan saya yang akan tahu, Tuan Katagiri. Pada akhirnya, ini akan menjadi pertempuran yang sunyi.”

Katagiri menatap tangannya sendiri untuk sementara waktu, kemudian memperhatikan asap mengepul dari rokoknya. Akhirnya, ia berbicara. “Anda tahu, Tuan Bangkong, saya hanya orang biasa.”

“Panggil ‘Bangkong,’ saya mohon,” kata Bangkong, tapi Katagiri mengacuhkannya.

“Saya benar-benar seorang pria biasa. Lebih rendah dari biasa-biasa. Saya akan botak, saya punya perut buncit, saya menginjak usia empat puluh bulan lalu. Kaki saya lemah. Dokter mengatakan kepada saya bahwa saya memiliki kecenderungan diabetes. Sudah tiga bulan atau lebih sejak saya terakhir tidur dengan wanita—dan saya harus membayarnya. Saya menerima beberapa pengakuan dalam divisi atas kemampuan saya menagih pinjaman, tetapi tidak ada rasa hormat yang nyata. Saya tidak memiliki satu orang yang menyukai saya, baik di tempat kerja atau dalam kehidupan pribadi saya. Saya tidak tahu bagaimana berbicara dengan orang lain, dan saya tak pandai berperilaku dengan orang yang belum dikenal, jadi saya tidak pernah memiliki teman. Saya tidak punya kemampuan atletik, saya tuli nada, pendek, phimotic, rabun jauh—dan astigmatic. Saya punya kehidupan yang mengerikan. Semua yang saya lakukan hanya makan, tidur, dan berak. Saya bahkan tidak tahu mengapa saya hidup. Mengapa orang seperti saya harus menjadi orang yang menyelamatkan Tokyo?”

“Karena, Tuan Katagiri, Tokyo hanya bisa diselamatkan oleh orang seperti Anda. Dan untuk orang-orang seperti Anda alasan saya mencoba untuk menyelamatkan Tokyo.”

Katagiri mendesah lagi, lebih dalam saat ini. “Baiklah, apa yang Anda ingin saya lakukan?”

*

Bangkong menjelaskan Katagiri rencananya. Mereka akan pergi ke bawah tanah pada malam 17 Februari (satu hari sebelum gempa yang diprediksi terjadi). Jalan masuk mereka akan melalui basement ruang boiler Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku. Mereka akan bertemu di sana larut malam (Katagiri akan tinggal di gedung dengan dalih bekerja lembur). Di belakang gedung ada terowongan vertikal, dan mereka akan menemukan Cacing di bagian bawah dengan turun lewat tangga tali setinggi 150 kaki.

“Apakah Anda memiliki rencana pertempuran?” Tanya Katagiri.

“Tentu saja saya pikirkan. Kita tidak punya harapan untuk mengalahkan musuh seperti Cacing jika tanpa rencana pertempuran. Ia adalah makhluk berlendir: Anda tidak bisa membedakan mana mulutnya mana anusnya. Dan dia sebesar kereta komuter.”

“Apa rencana pertempuran Anda?”

Setelah jeda untuk berpikir, Bangkong menjawab, “Hmm, seperti yang sering disebutkan—’Diam adalah emas’?”

“Maksudnya saya tidak boleh menanyakannya?”

“Semacam itu.”

“Bagaimana jika saya takut kemudian kabur? Apa yang akan Anda lakukan, Tuang Bangkong?”

“‘Bangkong.’”

“Bangkong. Apa yang akan Anda lakukan?”

Katak berpikir sejenak lalu menjawab, “Saya akan bertempur sendirian. Kemungkinan saya mengalahkan dia sendirian mungkin sedikit lebih baik ketimbang peluang Anna Karenina dalam menghadang lokomotif kencang itu. Apakah Anda sudah membaca Anna Karenina, Tuan Katagiri?”

Ketika ia mendengar bahwa Katagiri tidak membaca novel, Bangkong menatapnya seolah-olah mengatakan, Sungguh memalukan. Rupanya Bangkong sangat menyukai Anna Karenina.

“Bagaimanapun, Tuan Katagiri, saya tidak percaya bahwa Anda akan meninggalkan saya untuk bertempur seorang diri. Saya yakin. Ini pertanyaan soal kejantanan—yang, sayangnya, saya tidak punya. Ha ha ha ha!” Bangkong tertawa dengan mulut terbuka lebar. Bukan hanya kejantanan yang tidak dimiliki Bangkong. Dia pun tidak punya gigi.

*

Bagaimanapun, hal tak terduga selalu terjadi.

Katagiri ditembak pada malam 17 Februari setelah ia selesai berkeliling sepanjang hari dan berjalan menyusuri jalan di Shinjuku dalam perjalanan kembali ke Trust Bank ketika seorang pria muda dengan jaket kulit melompat di depannya. Wajah pria itu kosong, dan dia mencengkeram pistol hitam kecil di satu tangannya. Pistolnya yang begitu kecil dan begitu hitam itu hampir tidak tampak nyata. Katagiri menatap objek di tangan pria itu, tidak menyangka bahwa pistol itu terarah pada dirinya dan bahwa orang itu menarik pelatuk. Itu semua terjadi terlalu cepat: itu tidak masuk akal baginya. Tapi pistol sudah meletus.

Katagiri melihat laras bedil menyentak di udara dan, pada saat yang sama, merasakan dampak seolah-olah seseorang memukul bahu kanannya dengan palu godam. Dia tidak merasakan sakit, tapi gebrakan itu membuatnya terkapar di trotoar. Tas kulit di tangan kanannya terlempar ke arah lain. Pria itu mengarahkan pistol ke arahnya sekali lagi. Tembakan kedua terdengar. Sebuah papan nama restoran kecil di trotoar meledak di depan matanya. Dia mendengar orang-orang berteriak. Kacamatanya terlepas, dan segala sesuatu menjadi kabur. Dia samar-samar menyadari bahwa orang itu mendekati dengan pistol mengarah padanya. Aku akan mati, pikirnya. Bangkong telah mengatakan bahwa teror sebenarnya adalah apa yang manusia rasakan lewat imajinasi mereka. Katagiri terputus dari imajinasinya dan tenggelam ke dalam keheningan tanpa beban.

*

Ketika ia terbangun, ia berada di atas tempat tidur. Ia membuka satu mata, mengambil waktu sejenak untuk mengamati sekitarnya, dan kemudian membuka mata satunya. Hal pertama yang memasuki bidang pandangnya adalah sangkutan logam di kepala tempat tidur dan tabung infus yang membentang dari sangkutan tadi ke tempat ia berbaring. Berikutnya ia melihat seorang perawat berpakaian putih. Dia menyadari bahwa dia berbaring telentang di ranjang keras dan memakai pakaian dengan potongan aneh, yang mana ia tampaknya telanjang.

Oh ya, pikirnya, aku sedang berjalan di sepanjang trotoar ketika seorang pria menembakku. Mungkin di bahu. Sebelah kanan. Dia menghidupkan kembali adegan dalam pikirannya. Ketika ia mengingat pistol hitam kecil di tangan pemuda itu, jantungnya berdebar hebat. Pria celaka itu mencoba membunuhku! pikirnya. Tapi tampaknya aku masih baik-baik saja. Ingatanku juga tak bermasalah. Aku tidak merasa sakit. Dan bukan hanya rasa sakit: Aku tidak punya perasaan apapun sama sekali. Aku tidak bisa mengangkat lenganku. . .
Kamar rumah sakit tidak memiliki jendela. Dia tidak tahu apakah itu siang atau malam. Dia ditembak sebelum pukul lima di malam hari. Berapa banyak waktu telah berlalu sejak saat itu? Apakah jam pertemuan malam hari dengan Bangkong telah berlalu? Katagiri mencari-cari jam di kamar itu, tapi tanpa kacamatanya ia tidak bisa melihat apa-apa di kejauhan.

“Permisi,” dia memanggil perawat.

“Oh, bagus, Anda akhirnya siuman,” kata perawat.

“Jam berapa sekarang?”

Dia melihat jam tangannya.

“Sembilan lebih lima belas.”

“SORE?”

“Jangan konyol, ini sudah pagi!”

“Sembilan-lima belas pagi?” Katagiri mengerang, susah payah berusaha untuk mengangkat kepalanya dari bantal. Bunyi kasar yang muncul dari tenggorokannya terdengar seperti suara orang lain. “Sembilan-lima belas pagi pada 18 Februari?”

“Ya,” kata perawat, mengangkat lengannya sekali lagi untuk memeriksa tanggal pada jam tangan digital nya.

“Hari ini tanggal 18 Februari 1995.”

“Apakah ada gempa besar di Tokyo pagi ini?”

“Di Tokyo?”

“Di Tokyo.”

Perawat menggeleng. “Tidak sejauh yang saya tahu.”

Dia menarik napas lega. Apapun yang terjadi, gempa setidaknya telah dihindari.

“Bagaimana dengan luka saya?”

“Luka Anda?” Tanyanya. “Apanya yang luka?”

“Saya ditembak.”

“Ditembak?”

“Ya, di dekat pintu masuk ke Trust Bank. Seorang pria menembak saya. Di bahu kanan, saya pikir.”

Perawat melontarkan senyum gugup ke arahnya. “Maaf, Pak Katagiri, tetapi Anda tidak ditembak.”

“Saya tidak ditembak? Apakah Anda yakin?”

“Seyakin bahwa tidak ada gempa pagi ini.”

Katagiri tertegun. “Lalu kenapa saya bisa ada di rumah sakit?”

“Seseorang menemukan Anda tergeletak di jalan, tak sadarkan diri. Di daerah Kabukicho Shinjuku. Anda tidak memiliki luka eksternal. Anda hanya kedinginan. Dan kami masih belum menemukan mengapa. Dokter akan segera datang. Anda sebaiknya berbicara dengannya.”

Tergeletak di jalan tak sadarkan diri? Katagiri sangat yakin ia melihat pistol terarah padanya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk meluruskan pikirannya. Dia akan mulai dengan menyusun semua fakta dalam urutan.

“Maksud Anda, saya sudah berbaring di kasur rumah sakit ini, tidak sadarkan diri, sejak sore kemarin, benar?”

“Benar,” kata perawat. “Dan tidur Anda benar-benar tak tenang, Tuan Katagiri. Anda nampaknya mendapat mimpi buruk yang mengerikan. Saya mendengar Anda berteriak, ‘Bangkong! Hei, Bangkong!” Anda melakukannya berkali-kali. Anda punya teman dengan panggilan ‘Bangkong’?”

Katagiri menutup matanya dan mendengarkan irama jantungnya yang lambat layaknya menandai menit hidupnya. Berapa banyak dari apa yang dia ingat benar-benar terjadi, dan berapa banyak yang halusinasi? Apakah Bangkong benar-benar ada, dan Bangkong bertempur melawan Cacing untuk menghentikan gempa? Atau semua itu bagian dari mimpi yang panjang? Katagiri tidak tahu mana yang benar lagi.

*

Cerpen Haruki Murakami

Bangkong datang ke kamar rumah sakit malam itu. Katagiri terbangun untuk menemukan dirinya dalam cahaya redup, duduk di kursi lipat besi, punggungnya bersandar ke dinding. Kelopak mata hijau besar Bangkong yang menonjol tertutup dalam suatu garis lurus.

“Bangkong!” Katagiri memanggilnya.
Bangkong perlahan membuka matanya. Perut putih besar menggembung dan menyusut dengan napasnya.

“Saya bermaksud untuk bertemu dengan Anda di ruang boiler di malam hari seperti yang saya janjikan,” kata Katagiri, “tapi saya mengalami kecelakaan malam kemarin— sesuatu yang sama sekali tak terduga — dan mereka membawa saya ke sini.”

Bangkong menggoyangkan kepalanya sedikit. “Saya tahu. Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Anda sangat membantu saya dalam pertempuran saya, Tuan Katagiri.”

“Benarkah?”

“Ya benar. Anda melakukan pekerjaan besar dalam mimpi Anda. Itulah yang membuatnya mungkin bagi saya untuk melawan Cacing untuk menyelesaikan. Saya harus berterima kasih atas kemenangan saya ini.”

“Saya tidak mengerti,” kata Katagiri. “Saya tidak sadarkan diri sepanjang waktu. Mereka menginfus saya. Saya tidak ingat melakukan sesuatu dalam mimpi saya.”

“Itu bagus, Tuan Katagiri. Lebih baik Anda tidak ingat. Seluruh pertempuran mengerikan terjadi di dalam imajinasi. Itu adalah lokasi yang tepat dari medan perang kita. Di sanalah tempat kita mengalami kemenangan dan kekalahan kita. Masing-masing dan setiap orang dari kita adalah makhluk dari durasi terbatas: kita semua akhirnya kalah. Tapi seperti Ernest Hemingway melihat begitu jelas, nilai akhir dari hidup kita ditentukan bukan oleh bagaimana kita menang, tapi dengan bagaimana kita kalah. Anda dan saya bersama-sama, Tuan Katagiri, mampu mencegah pemusnahan Tokyo. Kita menyelamatkan seratus lima puluh ribu orang dari jurang kematian. Tidak ada yang menyadari hal itu, tapi itu adalah apa yang kita capai.”

“Bagaimana Anda bisa mengalahkan Cacing? Dan apa yang saya lakukan?”

“Kita mengeluarkan semua yang kita miliki dalam pertarungan sampai akhir yang pahit. Kita—” Bangkong mengatupkan mulutnya dan mengambil satu napas besar,”—kita menggunakan setiap senjata yang bisa tangan kita raih, Tuan Katagiri. Kita mengerahkan semua keberanian yang kita miliki. Kegelapan adalah sekutu musuh kita. Anda membawa generator bertenaga kaki dan menggunakan tenaga Anda untuk mengisi tempat dengan cahaya. Cacing mencoba untuk menakut-nakuti Anda dengan hantu-hantu dari kegelapan, tapi Anda tetap bertahan. Kegelapan bersaing dengan cahaya dalam pertempuran mengerikan, dan dalam terang saya bergulat dengan Cacing menjijikan itu. Dia bergelung di sekitar saya, dan melumuri saya dengan lendir mengerikannya. Aku mencabik-cabiknya, tapi ia masih menolak untuk mati. Semua yang dia lakukan adalah membagi menjadi potongan kecil. Lalu — ”

Bangkong terdiam, tapi segera, seakan penghabisan kekuatan terakhirnya, ia mulai berbicara lagi. “Fyodor Dostoyevsky, dengan kelembutan yang tak tertandingi, menggambarkan orang-orang yang telah ditinggalkan oleh Tuhan. Ia menemukan kualitas yang berharga dari eksistensi manusia dalam paradoks mengerikan dimana orang-orang yang telah menemukan Tuhan adalah yang ditinggalkan Tuhan. Berkelahi dengan Cacing dalam kegelapan, saya menemukan diri saya memikirkan ‘White Nights’-nya Dostoevsky. Aku. . . ” Kata-kata Bangkong seperti tenggelam. “Tuan Katagiri, apakah Anda keberatan jika saya tidur sejenak dulu? Saya benar-benar kelelahan.”

“Silakan,” kata Katagiri. “Tidur yang nyenyak.”

“Saya akhirnya tak mampu mengalahkan Cacing,” kata Bangkong, menutup matanya. “Saya berhasil untuk menghentikan gempa, tapi saya hanya mampu membuat pertempuran jadi imbang. Saya memberi cedera pada dirinya, dan dia pada saya. Tetapi untuk mengatakan yang sebenarnya, Tuan Katagiri. . . ”

“Apa, Bangkong?”

“Saya memang seekor Bangkong murni, tapi pada saat yang sama saya punya dunia bukan Bangkong.”

“Hmm, saya tidak mengerti.”

“Begitu juga saya,” kata Bangkong, matanya masih tertutup. “Ini hanya perasaan yang saya miliki. Apa yang Anda lihat dengan mata Anda belum tentu nyata. Musuh saya adalah, antara lain, yang ada dalam diri saya. Dalam diri saya ada bukan-saya. Otak saya mulai dipenuhi lumpur. Lokomotif mendekat. Tapi saya benar-benar ingin Anda untuk memahami apa yang saya katakan, Tuan Katagiri.”

“Anda lelah, Bangkong. Tidurlah. Anda akan baikan.”

“Saya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit kembali ke lumpur, Tuan Katagiri. Dan lagi . . . Saya. . . ”
Bangkong kehilangan genggamannya pada kata-kata dan masuk dalam keadaan koma. Lengannya menjuntai hampir ke lantai, dan mulut lebar yang besar terkulai terbuka. Berusaha untuk memfokuskan matanya, Katagiri mampu melihat luka robek di sepanjang tubuh Bangkong. Goresan tak berwarna berlari melalui kulitnya, dan ada bagian di kepalanya mana daging telah terlepas.
Katagiri menatap lama dan keras pada Bangkong, yang duduk di sana sekarang dibungkus dalam jubah tidur tebal. Begitu aku keluar dari rumah sakit ini, pikirnya, aku akan membeli Anna Karenina dan White Nights dan membaca keduanya. Lalu aku akan berdiskusi panjang soal sastra bersama Bangkong.

Tak berselang lama, Bangkong mulai bergerak-gerak. Katagiri pada awalnya mengira bahwa ini hanyalah gerakan normal tak sadar saat tidur, tapi ia segera menyadari kesalahannya. Ada sesuatu yang tidak wajar tentang cara tubuh katak yang terus menyentak, seperti boneka besar yang terguncang oleh seseorang dari belakang. Katagiri menahan napas dan mengamati. Dia ingin berlari mendekati Bangkong, tapi tubuhnya sendiri tetap lumpuh.

Setelah beberapa saat, benjolan besar terbentuk di mata kanan Bangkong. Benjolan yang sama besar, mendidih jelek pecah di bahu dan pinggang Bangkong, kemudian seluruh tubuhnya. Katagiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Bangkong. Dia hanya bisa menjadikannya tontonan, hampir tidak bernapas.

Kemudian, tiba-tiba, salah satu benjolan pecah dengan letupan keras. Kulitnya beterbangan, dan cairan lengket mengalir keluar, mengirimkan bau yang mengerikan di seberang ruangan. Sisa dari benjolan mulai bermunculan, satu demi satu, dua puluh atau tiga puluh, melemparkan kulit dan cairan ke dinding. Bau memuakkan tak tertahankan memenuhi ruangan rumah sakit. Lubang hitam besar yang tersisa di tubuh Bangkong di mana benjolan pecah, dan menggeliat, cacing serupa belatung dari segala bentuk dan ukuran merangkak keluar. Belatung putih gembung. Setelahnya muncul semacam makhluk seperti lipan kecil, dengan ratusan kaki yang membuat suara gemerisik menyeramkan. Seolah tak ada habisnya datang merangkak keluar dari lubang. Tubuh bangkong — atau yang sebelumnya tubuh Bangkong — benar-benar tertutup dengan makhluk-makhluk malam ini. Dua bola mata besar jatuh dari rongganya ke lantai, di mana mereka dimakan oleh serangga hitam dengan rahang yang kuat. Kerumunan cacing berlendir berlomba merayapi tembok menuju langit-langit, di mana mereka menutupi lampu neon dan membenamkan ke alarm asap.

Lantai, juga, ditutupi dengan cacing dan serangga. Mereka memanjat lampu dan memblokir cahaya dan, tentu saja, mereka merayap ke tempat tidur Katagiri. Ratusan dari mereka masuk ke bawah selimut. Mereka merayap naik ke kakinya, di bawah pakaiannya, antara pahanya. Cacing terkecil dan belatung merayap di dalam anus dan telinga dan hidungnya. Lipan memaksa mulutnya terbuka dan merangkak masuk ke dalam satu demi satu. Dalam keputusasaan, Katagiri menjerit.

Seseorang menyalakan lampu dan cahaya memenuhi ruangan.

“Tuan Katagiri!” panggil perawat. Katagiri membuka matanya dengan cahaya. Tubuhnya bermandikan keringat. Serangga-serangga tadi lenyap. Yang tertinggal adalah sensasi berlendir mengerikan.

“Mimpi buruk lagi, ya? Sungguh malang.” Dengan gerakan cepat yang efisien perawat menyiapkan suntikan dan menusukkan jarum ke lengannya.
Katagiri mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Jantungnya mengembang dan berdetak keras.

“Apa yang Anda mimpikan?”

Katagiri mengalami kesulitan membedakan mimpi dari kenyataan. “Apa yang Anda lihat dengan mata Anda tidak selalu nyata,” katanya kepada dirinya sendiri dengan suara keras.

“Itu memang benar,” kata perawat dengan senyum. “Terutama dalam mimpi.”

“Bangkong,” gumamnya.

“Apakah sesuatu terjadi dengan Bangkong?” Tanyanya.

“Dia menyelamatkan Tokyo dari kehancuran karena gempa bumi. Semua oleh dirinya sendiri.”

“Itu bagus,” kata perawat, menggantikan botol infus kosong dekatnya dengan yang baru. “Kita tidak perlu hal-hal mengerikan terjadi di Tokyo. Kita sudah sering melewatinya.”

“Tapi nyawanya. Dia pergi. Saya pikir ia kembali ke dalam lumpur. Dia tidak akan pernah datang ke sini lagi.”

Tersenyum, perawat mengeringkan keringat dengan handuk pada dahi Katagiri. “Anda sangat menyukai Bangkong, kan, Tuan Katagiri?”

“Lokomotif,” Katagiri bergumam. “Lebih dari siapa pun.” Kemudian dia menutup matanya dan tenggelam ke dalam tidur tenang tanpa mimpi.

***

Diterjemahkan dari cerpen Super Frog Save Tokyo dalam buku After the Quake. Kumcer yang dibuat Haruki Murakami dalam rangka belasungkawa atas tragedi gempa bumi Kobe pada 1995. Sumber: www.yeaharip.com