Raymond Carver: Kenapa Kalian Tak Berdansa

Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen Raymond Carver yang berjudul What We Talk About When We Talk About Love. Penerjemah Dea Anugrah   Di dapur, dia menuang minuman lagi dan memandangi isi kamar tidurnya di halaman depan. Kasur telanjang. Seprai bergaris-garis terlipat di samping dua bantal di atas lemari laci. Benda-benda lain tampak sebagaimana saat […]

Read More

Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang tali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada diantara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak […]

Read More

Cerpen Kurt Vonnegut: Harrison Bergeron

Penerjemah: Pringadi Abdi Tahun 2081, dan semua orang akhirnya setara. Mereka tidak hanya setara di hadapan Tuhan dan hukum. Mereka setara dalam segala hal. Tak ada seseorang yang lebih pintar dibandingkan yang lain. Tidak pula ada seseorang yang lebih tampan atau cantik. Segala kesetaraan ini mengacu pada amandemen Undang-Undang Dasar ke-211, 212, dan 213, dan […]

Read More

Cerpen Haruki Murakami: Monyet Shinagawa

Penerjemah: Tamtomo Priyo AdiĀ  Wanita itu kesulitan mengingat namanya sendiri. Biasanya masalah ini terjadi saat ada orang yang tiba-tiba menanyakan namanya. Di butik, misalnya. Saat hendak mengukur jahitan untuk gaunnya, pramuniagawati akan bertanya, “Nama Anda, Bu?” lalu sekejap pikirannya buyar. Ia mengakalinya dengan mengeluarkan surat izin mengemudi, lalu perlahan membaca tulisan yang tertera pada kolom […]

Read More

Cerpen Haruki Murakami: Jendela

J E N D E L A Haruki Murakami SALAM, Musim dingin berlalu setiap harinya, dan kini matahari bersinar dengan isyarat kedatangan musim semi. Saya percaya Anda baik-baik saja. Surat Anda yang terakhir, saya baca dengan penuh gembira. Terutama bagian tentang hubungan antara hamburger dan bubuk pala, saya rasa, ditulis dengan sangat baik: begitu kaya […]

Read More

Cerpen | Malabar

Cerpen ini dibukukan dalam rampai karya Temu Sastrawan Indonesia IV di Tarnate. Saat itu, saya termasuk 10 sastrawan muda yang mendapat undangan dengan akomodasi ditanggung. Sayangnya, saya tidak mendapatkan izin dari kantor. Cerpen ini juga masuk dalam kumpulan cerpen, Simbiosa Alina (Gramedia, 2013). Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan […]

Read More