Category Archives: cerpen

Cerpen Pringadi Abdi | Menjadi Sebuah Pepaya

 

“Kenapa kamu ingin menjadi pepaya?”

“Karena Pak Habibie sudah tak ada….”

Aku termenung mendengar jawaban anak muridku. Baru saja kutanyai cita-cita mereka satu per satu. Ada yang menjawab ingin jadi dokter, jadi pilot, jadi tentara. Tiba giliran Misman. Dia bilang ingin jadi pepaya. Continue reading Cerpen Pringadi Abdi | Menjadi Sebuah Pepaya

Download Cerpen Kompas Semester I Tahun 2019

Siapa yang suka baca cerpen Kompas? Ini aku kumpulkan cerpen-cerpen Kompas yang sudah diunggah ulang di Lakon Hidup dalam bentuk pdf. Silakan unduh atau download cerpen Kompas Semester I Tahun 2019 ini ya.

Buat perhatian, file dipassword catatanpringadi.com. Buat siapa pun yang mendownloadnya, jangan bagikan filenya, tapi bagikan linknya ya. Terima kasih.



Cerpen Kompas Semester I Tahun 2019 ini terdiri dari

  1. Tali Darah Ibu. Cerpen Farizal Sikumbang (Kompas, 06 Januari 2019)
  2. Sekuntum Bunga Marigold dari Chiang Mai. Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 13 Januari 2019)
  3. Budak Cinta. Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 20 Januari 2019)
  4. Nanaimo, yang Jauh di Sana. Cerpen Sori Siregar (Kompas, 27 Januari 2019)
  5. Minuman buat Para Penyair. Cerpen Gunawan Maryanto (Kompas, 03 Februari 2019)
  6. Mek Mencoba Menolak Memijit. Cerpen Rizqi Turama (Kompas, 10 Februari 2019)
  7. Hujan yang Hangat. Cerpen Tedy Heriyadi (Kompas, 17 Februari 2019)
  8. Cengkung. Cerpen Adam Yudhistira (Kompas, 24 Februari 2019)
  9. Hyang Ibu. Cerpen Made Adnyana Ole (Kompas, 03 Maret 2019)
  10. Pembunuh Terbaik. Cerpen Ahda Imran (Kompas, 10 Maret 2019)
  11. Semangkuk Perpisahan di Meja Makan. Cerpen Miranda Seftiana (Kompas, 17 Maret 2019)
  12. Kematian Seorang Penerjemah. Cerpen Wawan Kurniawan (Kompas, 24 Maret 2019)
  13. Anak Mercusuar. Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 31 Maret 2019)
  14. Dolag Melukis Tuhan. Cerpen Supartika (Kompas, 07 April 2019)
  15. Kari Mak Qori. Cerpen Ayi Jufridar (Kompas, 14 April 2019)
  16. Malam Laksmita. Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 21 April 2019)
  17. Wakyat. Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 28 April 2019)
  18. Ulat Terakhir di Kamar Nenek. Cerpen A Warits Rovi (Kompas, 05 Mei 2019)
  19. Malam di Luar Hujan. Cerpen Sungging Raga (Kompas, 12 Mei 2019)
  20. Musim Politik. Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 26 Mei 2019)
  21. Mbak Mar. Cerpen Putu Oka Sukanta (Kompas, 02 Juni 2019)
  22. Bambu-Bambu Menghilir. Cerpen Raudal Tanjung Banua (Kompas, 09 Juni 2019)
  23. Tak Ada Makanan untuk Hiu-hiu di Laut. Cerpen Linda Christanty (Kompas, 16 Juni 2019)
  24. Di Atas Tanah Retak. Cerpen Indra Tranggono (Kompas, 23 Juni 2019)
  25. Rumah Ibu. Cerpen Harris Effendi Thahar (Kompas, 30 Juni 2019)

Dari ke-25 cerpen tersebut, menurutku yang paling menarik adalah Tak Ada Makanan untuk Hiu-hiu di laut karya Linda Christanty. Continue reading Download Cerpen Kompas Semester I Tahun 2019

Cerpen Pringadi Abdi | Paradoks Gagak

Cerita ini sayangnya gagal memenangkan Kompetisi Menulis Cerpen Indonesiana. Ia hanya masuk 22 naskah terpilih di luar naskah yang menjadi juara.

“Kalau kau percaya reinkarnasi, di kehidupan selanjutnya, kau ingin jadi apa?”

Kalimat itulah yang terakhir kuingat. Tanpa tahu, siapa yang mengucapkannya.

Saat membuka mata, kulihat patung-patung dengan banyak wajah di hadapanku. Aku mengenal patung-patung itu. Kurang lebih 500 patung Lohan di Vihara Ksitigarba Bodhisattva. Para Arahat itu, masih kuingat betul—kemarin, aku baru saja berfoto ria di sela padatnya acara festival sastra yang kuikuti.

Namun, tak kuketahui kenapa aku bisa berada di sini lagi. Dan betapa kagetnya aku, ketika mencoba menggerakkan tangan untuk mengusap wajah, yang kulihat bukanlah tangan. Tanganku dengan kulit sawo matang itu telah berubah menjadi hitam legam, tanpa jari, tanpa struktur tulang yang sama. Kulihat betul, kedua tanganku telah berubah menjadi sepasang sayap. Ya, sayap!

Ketika mencoba berteriak, suaraku juga ikut berubah. Suara yang aku kenal.

Seperti gagak. Ya, gagak. Continue reading Cerpen Pringadi Abdi | Paradoks Gagak

Cerpen Rifat Khan | Empat Kisah Tentang Kematian Penulis

SATU

Eliana bilang, “Alan Hamsah adalah seorang penulis gagal, paling tidak bagi istrinya. Sejak duduk di bangku sekolah menengah Ia menyukai pekerjaan mengutak-atik keyboard itu. Setiap dapat ide, Ia mengurung diri di kamar. Hanya keluar sesekali jika ingin buang air atau makan. Ibadah saja Ia lupa. Beberapa tulisannya akhirnya mangkal di media. Ia senang dan sering melompat-lompat di atas ranjangnya, jika dapat balasan dari redaktur yang akan memuat tulisannya. Ia tak pernah kekurangan rokok, sering mangkal di cafe-cafe lumayan mewah. Namun sejak menikah, Ia seperti kurang bahagia” Eliana terdiam. Teh di meja Ia seruput.

“Lanjutkan ceritamu.. ” Aku berucap. Sebab aku hendak mencari ide juga untuk bahan tulisanku. Aku memesan satu gelas kopi arabic lagi. Si pelayan berambut kriting itu ngangguk-ngangguk mendengar pesananku. Sesaat Ia pamit untuk menyiapkannya.

“Uang hasil tulisan hanya cukup untuk makan. Istrinya kadang pengen ke mall, kadang pengen ke pantai. Tak ada uang lebih, kata Alan Hamsah. Istrinya cemberut. Sering banting piring, sering tak melayani kebutuhannya kala malam. Alan Hamsah semakin banyak diam. Tulisannya tak lagi terlihat di media mana pun” Ada nada berat dari suara Eliana. Ia menatapku. Pelayan tadi datang membawa pesanan. Ia tersenyum. Continue reading Cerpen Rifat Khan | Empat Kisah Tentang Kematian Penulis

Cerpen Eyok El-Abrorii | Beberapa Tokoh yang Membuat Songgah Menderita

Hidup barangkali harus jadi seperti ini. Seperti kehidupan yang ditemukan Songgah dalam cerita ini, bahwa sebenarnya dia tidak berubah, hanya saja tiba-tiba segala hal yang berkaitan dengannya seperti tidak berpihak terhadapnya sama sekali. Misalnya ketika suatu waktu dia menangis sejadinya di perempatan jalan dan orang-orang hanya heran tanpa ada yang bertanya kenapa.

Songgah adalah tokoh yang dipaksa menderita dalam cerita ini. Dari kecil, songgah sudah menderita. Di kampung, bapaknya salah satu yang dipandang melarat oleh masyarakat dan pencerita sendiri. Dan sayang sekali, ibunya harus dibuat meninggal saja ketika dia berusia enam tahun, agar lebih lengkap penderitaannya.



Songgah kecil harus selalu dibawa ngojek oleh bapak setiap hari, sebab tidak ada tetangga yang mau direpotkan untuk menjaganya. Bapak mangkal di pasar. Dan setiap ada penumpang, -jika tidak memungkinkan untuk ikut mengantar karena belanjaan penumpang lumayan banyak- Songgah akan dititipkan di lapak alat-alat dapur milik Ci Mei. Ci Mei sendiri rela menerima Songgah untuk dititipkan bukan tanpa alasan. Sementara bapak kembali dari mengantar penumpang, Songgah akan diperintah untuk merapikan dagangan yang berantakan bekas orang-orang mampir melihat-lihat barang. Selain itu, Ci Mei juga akan meminta upah kepada bapak karena telah mau direpotkan.

Tapi dari kesibukan itu, dia menemukan satu momen yang nantinya akan membuatnya sangat merindukan masa kecil ini. Momen itu adalah ketika bapak memboncengnya. Mengingat, dia sangat gampang menemukan kebahagiaan melalui hal-hal sepele karena kurangnya waktu bermain dengan bocah seumuran. Semisal, jika dia menemukan dunia menjadi lebih biru setelah memejamkan mata sepanjang perjalanan sambil memeluk bapak erat-erat dari belakang. Dunia biru, punggung bapak yang hangat, udara segar, juga barangkali bayangan jilatan lolipop yang dilihatnya di iklan-iklan pinggir jalan merupakan beberapa hal yang berhasil menjadikan Songgah tetap ceria dan bersemangat untuk terus ikut bekerja dengan bapak.

*** Continue reading Cerpen Eyok El-Abrorii | Beberapa Tokoh yang Membuat Songgah Menderita

Cerpen | Uang dari Tuhan

Cerpen “Uang dari Tuhan” ini menjadikan saya sebagai pemenang III lomba menulis cerita pendek Se-Sumatra Selatan tahun 2012 yang diselenggarakan oleh Sumatra Ekspress. Cerpen ini juga saya masukkan sebagai gimik dalam novel PHI. 😀

Uang dari Tuhan

I.

Sudah dua kali hari ini, ada orang datang ke kantor kas negara sambil berurai air mata dan terbata-bata berkata, “Bapak, di mana saya bisa meminta uang dari Tuhan?”

II.

Sebenarnya saya terhitung baru bertugas sebagai front office pencairan dana, kurang lebih 9 bulan. Ibarat janin, saya baru bersiap diri untuk dilahirkan, merancang tangis pertama agar udara berkenan hadir di paru-paru. Dunia masih hitam putih,  Benar dan salah. Memeriksa SPM dengan uji substantif dan formal. Jangan macam-macam, satu huruf saja salah, akan saya kembalikan. Ada kalanya ibu-ibu petugas satker menangis, memohon supaya SPM itu diloloskan. Tapi apa daya, peraturan berkata tidak. Air mata gombal tidak cukup untuk jadi alasan kebenaran. Macam-macam saja tingkah pola petugas satker. Tapi kali ini tetap yang paling aneh, meminta uang dari Tuhan?

“Bapak dari satker mana ya?” Seseorang berpakaian bebas, memakai kaos dan celana tiga perempat, bersandal jepit dan belum mematikan rokoknya tiba-tiba menyelonong masuk, bertanya, tanpa nomor antrian.

“Satker itu apa?” dia balik bertanya.

“Satuan kerja, Pak.  Stakeholder kita dari satuan kerja yang menerima DIPA APBN. Kalau Bapak mau mengajukan SPM ke loket 1, dalam hal ini saya. Kalau mau rekonsiliasi, ke loket 2 di sebelah kiri, Pak.”

“Stikholder itu makanan jenis apa? Daging sapi atau kerbau?”

“Bapak jangan main-main dengan saya!” Saya menggebrak meja, marah. Akhir-akhir ini saya cukup sensitif. Apalagi saya baru saja ditinggal kekasih. Karena tak kuat pacaran jarak jauh, dia bilang tidak cinta lagi. “Maaf kalau saya tidak sopan dengan Bapak, tapi tolong dong, kalau ke kantor itu harus berpakaian minimal celana panjang dan bersepatu!” Nada saya kali ini lebih keras.

Dia tidak menjawab. Tiba-tiba membalikkan badan, dan langsung keluar ruangan. Saya ditinggalkan dengan penuh tanda tanya. Tuhan tampaknya senang sekali memberi tanda tanya, selain tanda seru. Pacar saya itu, sudah sembilan tahun kami pacaran, sudah semua saya berikan, bahkan kejantanan pun sudah rela saya pasrahkan. Beginilah perempuan sekarang—banyak merayu, banyak menipu. Kedok lugu dan imej sebagai korban selalu digembar-gemborkan. Padahal, seringkali perempuanlah yang merusak lelaki, memperkosa kecintabutaan kami pada keindahan perempuan.

Minggu terakhir bulan. Sepi. Saya memandang keluar, tampak pohon perdu menggugurkan daunnya. Jalan muram, tapi tetap harus hati-hati. Tentang sapi dan kerbau, bila orang Mataram berkendaraan diibaratkan sapi, di Sumbawa Besar mereka seperti kerbau. Normalnya, kita bisa memperkirakan laju kendaraan untuk jarak tertentu. Di sini tidak. Bila dari jauhan ada yang bermotor, berjalan lambat, kita tetap harus waspada, karena bisa saja tiba-tiba ia mengebut, menarik putaran gasnya hingga maksimal, menderu-deru, seolah memamerkan diri sebagai orang pertama yang punya motor di muka bumi ini.

Saya jadi merindukan Palembang. Meski tanpa suara ombak, tanpa bunyi printer dot matrix—pencetak SP2D yang dalam satu tahun mencapai dua puluh lima ribu lembar. Pagu 900an milyar. Tapi belanja modalnya seperti daging koyor-koyor, gelondongan, menumpuk di akhir tahun anggaran, mepet-mepet dengan batas akhir pengajuan SPM. Padahal Presiden sudah marah-marah. Penyerapan anggaran dengan tren demikian tentu tidak akan berefek pada masyarakat. Alhamdulillah, kadang-kadang Presiden kita itu ada benarnya.

 

III.

Saya agak sensi sama sekretaris kantor ini. Kemarin saya pergoki dia bikin teh pakai air kamar mandi. Serta merta saya disemprot dan diancam akan dikempesi badan saya yang gemuk ini bila berani-beraninya membocorkan hal itu. Saya ini pintar menyimpan rahasia, jadi saya cukup mengatakannya kepada Pak Slamet sambil berbisik, “Ini rahasia ya, jangan bilang ke siapa-siapa!” Sore harinya saya kena semprot lagi, karena teh di dalam ceret itu  sedikit pun tak berkurang. Dia bilang pasti saya telah memprovokasi orang-orang.

Pagi-pagi tidak ada satker. Pukul 11 ke atas mereka baru akan datang sekalian pulang. Pegawai Pemda memang parah-parah. Karena absen tidak handkey, mereka bisa bebas datang jam berapa pun dan pulang bila anak-anak mereka kelar bersekolah. “Sekalian menjemput,” kilahnya.

Asumsi saya pun terbukti. Pukul 12 kurang, nyaris istirahat, seorang petugas satker datang dengan setumpuk SPM dibungkus map di tangannya. Dari seragamnya saya tahu dia dari Badan Pusat Statistik. Saya agak heran sama satker satu ini karena SPM yang setumpuk itu hanya berisi belanja 52 yang berupa honor. Semua kegiatan survey dari a-z diberi honor. Saya pun berseloroh, “Mbak mbak… kalau semua hal dihonorin, jadi tupoksi mbak di kantor apa?”

Yang menjawab malah bukan dia. Pak Slamet menyeringai sinis di samping saya dan berkata, “Tupoksinya ya absen, Pring. Mereka digaji cuma buat absen….”

Di dalam hati saya mengaminkan tetapi tidak ikut menyeringai karena khawatir si mbak makin tersinggung nantinya.

Saya bertanya begitu bukan karena saya marah pernah tidak lulus ujian masuk STIS dan malah diterima di STAN. Tetapi, saya benar-benar peduli pada nasib anggaran belanja negara dan daerah yang sudah mayoritas dihabiskan di belanja pegawai (51) malah ditambah seenaknya di 52 untuk keperluan pegawai. Harusnya, jenis belanja itu digemukkan di 53 alias belanja modal guna pembangunan infrastruktur. Penyerapan anggaran yang ideal tentu harus berporsi demikian agar terasa manfaatnya pada masyarakat sekitar.

Saya periksa SPM pertama, sudah ada yang salah. Klasifikasi anggaran pada SPTB tidak ditulis dengan benar. Pasti hasil copy-paste dari lembar SPTB yang lain. Heran saya melihat bendahara-bendahara kadang belum paham dengan penulisan klasifikasi anggaran atau bahkan ada yang mengatakan bahwa ganti uang persediaan hanya dapat diajukan satu bulan sekali secara rutin. Padahal ganti uang persediaan itu bisa dimintakan berkali-kali dalam satu bulan selama pertanggungjawabannya mencapai 75% nilai uang persediaan.

Sedang asik-asiknya saya memeriksa SPM, suara sekretaris yang cempreng itu terdengar lantang mengusir seorang peminta sumbangan. Si Joeng, bahasa Sumbawanya cerewet, menghalang-halangi lelaki tua itu yang hendak memaksa masuk ke ruang kepala kantor. Merasa tidak berhasil, ia balik berlari ke arah saya. Beruntung ia tidak nekat melompati meja loket penerimaan SPM. “Bapak, katakan, harus ke mana lagi saya meminta uang dari Tuhan?”

Dahi saya bekernyit. “Siapa yang bilang kas negara itu tempat meminta uang dari Tuhan?” Nada saya agak tinggi.

“Orang.”

“Orang yang mana?”

“Orang ya orang.”

Hampir habis kesabaran saya, Si Joeng datang dan langsung memegang lengan peminta sumbangan. Dengan paksa, ia menyeretnya keluar. Sementara itu, satpam-satpam yang harusnya berjaga dan yang duduk di dekat pintu masuk, bertugas membukakan pintu bagi setiap tamu yang datang entah sudah menghilang ke mana. Kepala Kantor serba salah dalam hal ini. Pernah saya tanyakan kenapa kita tidak menggunakan tenaga penyedia jasa satpam dan cleaning service seperti halnya kantor pajak. Beliau menjawab tidak mudah untuk “memecat” dan mengganti mereka sebab sudah lama mereka bekerja di sini. “Mengganti mereka bisa saja sama dengan membunuh hidup mereka, Pring….” Saya diam kalau alasannya sudah perasaan.

Perasaan. Ah, perasaan. Saya kembali mengingat Aina. Apa Aina punya perasaan? Kalau tidak, harusnya Aina saja yang jadi kepala kantor. Biar kinerjanya bagus, pegawai tentu harus diperintah seperti robot. Kalau sudah usang, dipensiunkan. Kalau tidak bisa diinstalasi program terbaru, disingkirkan di gudang sampai menunggu penghapusan barang dari KPKNL. Duh.

Saya kemudian menghadap kepala seksi. Bapak satu ini dekat dengan Tuhan. Shalatnya selalu pas setelah adzan. Dia yang pernah bilang, Tuhan selalu mendatangi kita tapi kita tak sedang di rumah. Ah, saya selalu merasa di rumah. Hanya kadang-kadang saya sedang tidur dan tak mendengar ketukan pintu. Selain konsultasi masalah pencairan dana dan peraturan-peraturan terkait, beliau selalu mau mendengarkan keluhan-keluhan saya tentang Tuhan. Tuhan yang satu itu sering bikin saya galau.

“Permisi Pak…”

“Ya, duduk. Ada apa, Mas?”

“Begini, Pak… tadi ada orang datang ke sini…”

“Satker? Pihak ketiga? Kalau pihak ketiga, usir aja… jangan sungkan-sungkan.”

“Bukan. Bukan keduanya. Ini orang, tiba-tiba datang terus bertanya, di mana bisa meminta uang dari Tuhan.” Pak Kepala Seksi malah melongo. “Saya pikir di kantor ini bapak yang paling kenal Tuhan, barangkali bapak tahu di mana tempatnya,” lanjut saya.

Bapak itu tampak berpikir keras. Tetapi tidak ada adegan bola lampu menyala di samping kepalanya. Ia mengetuk-ngetukkan pensil di atas meja lalu berkata, “Ini berat, Mas. Saya tidak tahu caranya meminta uang dari Tuhan, kalau memanjatkan doa saya tahu…”

“Jadi bagaimana harusnya kita memberi jawaban, Pak? Saya tak tega melihat orang-orang itu datang dan penampakannya sangat lusuh sekali. Mungkin mereka benar-benar butuh uang. Sementara negara bukanlah Tuhan yang dapat memberikan uang kepada pihak yang benar-benar membutuhkan.” Saya pun menjadi iba dan prihatin seperti kebiasaan presiden.

“Iya sih… kamu benar. Nanti saya pikirkan sebuah cara,” tukasnya.

KPPN selama ini memang jadi tempat yang dituntut serba tahu. Jadi, kalau tak dapat menjawab saat ditanya, itu adalah aib. Beberapa hari yang lalu ada yang protes karena terdapat selisih antara saldo di aplikasi SAKPA dengan aplikasi BMN. Saya jawab, KPPN tidak mengurusi masalah BMN, itu wewenangnya KPKNL. “Lho kalian kan sama-sama Kementerian Keuangan, kok tidak tahu menahu sih?!” Dia agak marah. Saya jawab, “Apa Ibu tahu-menahu soal Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama, kan sama-sama 025?” Dia pun diam. Tapi itu belum seberapa, ada seorang lagi yang datang saat hujan, membawa mobil, parkir tepat di depan pintu masuk, lalu membawa beberapa perangkat komputer sambil berkata, “Tolong cek komputer saya, apanya yang rusak?” Duh.

 

IV.

Tepat sebelum istirahat, orang yang kali pertama datang menanyakan uang dari Tuhan itu datang lagi. Pertanyaannya agak berbeda, “Tolong jangan berbohong, saya tahu di sinilah tempat meminta uang dari Tuhan!”

Kami sudah mengantisipasi ini. Pak Kepala Seksi berinisiatif meminta sumbangan sukarela kepada para pegawai dengan dalih untuk membantu fakir miskin. Fakir miskin dan anak terlantar seharusnya dipelihara negara dan kami, para pegawai pemerintah juga harus ikut bertanggung jawab pada mereka. “Ini Pak, semalam Tuhan mengirimkannya diam-diam. Ini untuk semua orang yang meminta uang dari Tuhan.”

“Tuh kan, kalian ini jangan coba-coba menyimpan uang yang bukan hak kalian!” Dia membuka amplop. Saya yang geram. Seenaknya saja menuduh demikian. Biar pun dikata nanti saya masuk neraka, penyebabnya tak akan karena korupsi. “Hah, kok jumlahnya Cuma sembilan ratus lima puluh ribu? Saya mintanya kan satu juta!” tambahnya tak puas.

Karena bingung menjawab apa, saya katakan, “Pajak penghasilan 5%. Dipotong itu.”

“Ooo, memang dasar ya tukang pajak itu, Tuhan saja masih dipotong.” Dia mengangguk-angguk sebelum pergi dan saya harap tak akan pernah kembali.

 

V.

Saya datang ke KUA. Penjaga di loket pelayanan yang seadanya menyambut saya dengan muka kecut. “Maaf Bapak, ada keperluan apa?” tanyanya.

“Tolong katakan sejujurnya, di mana saya bisa minta istri dari Tuhan?!”

 

(2012)