Category Archives: Catatan Perjalanan

Perjalanan Mencari Pincuran Puti di Kayu Jangguik, Talang Babungo

Nagari Talang Babungo menyimpan banyak potensi keindahan alam. Terletak kurang-lebih 12 km dari Alahan Panjang, Talang Babungo punya bentangan alam yang dikelilingi perbukitan. Nuansa alam yang hijau, sungai yang mengalir deras, dan persawahan yang kerap memberikan gradasi warna yang berbeda, antara hijau hingga kekuningan menjelang panen, memanjakan lensa mata dan kamera. Talang Babungo juga memiliki pesona air terjun yang belum dieksplorasi. Termasuk Pincuran Puti, yang sebenarnya belum bisa diklasifikasikan sebagai air terjun, tetapi pancuran air. Perjalanan kami di Kayu Jangguik (nama dusun di Talang Babungo) pada liburan lalu berusaha mencari keindahan yang tersembunyi itu.

Pincuran Puti

Nama “Pincuran Puti” sendiri banyak ditemukan di berbagai wilayah di Sumatra Barat. Pincuran Puti berarti Pancuran Putri/Bidadari. Diyakini, di pancuran inilah para bidadari mandi. Sebagian orang meyakini, di setiap Pincuran Puti sejatinya terdapat tujuh pancuran untuk mandi tujuh bidadari. Sebagian masyarakat juga percaya kalau mandi di Pincuran Puti memiliki khasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Continue reading Perjalanan Mencari Pincuran Puti di Kayu Jangguik, Talang Babungo

Pesona dan Misteri Danau Kembar di Alahan Panjang

Kalau berkunjung ke Sumatera Barat, pastilah wisata danau akan menjadi salah satu destinasi wajib. Ada beberapa danau terkenal di sana seperti Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Danau lain yang tak kalah indah ialah Danau Kembar di Alahan Panjang. Danau Kembar ini memiliki pesona dan cerita misteri tersendiri yang begitu menarik untuk diulik.

Letak Danau Kembar ada di Lembah Gumanti, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Nah, disebut Danau Kembar karena ada dua danau yang hampir sama ukurannya, yakni Danau di Atas dan Danau di Bawah. Uniknya, penamaan ini justru berketerbalikan dengan kenyataan. Posisi Danau di Atas justru lebih rendah dari Danau di Bawah lho. Semacam ilusi optik saja yang menyebabkan posisi Danau di Atas seolah-olah lebih tinggi dari Danau di Bawah.

Danau Kembar Continue reading Pesona dan Misteri Danau Kembar di Alahan Panjang

Air Terjun di Sepanjang Jalan Lubuk Sulasih ke Alahan Panjang

Tahukah kamu, bahwa di sepanjang jalan dari Lubuk Sulasih ke Alahan Panjang terdapat beberapa air terjun?

Ya, Alahan Panjang tidak hanya terkenal karena keberadaan kebun teh dan Danau Kembar (Danau di Atas dan Danau di Bawah). Terdapat banyak pesona alam di sana. Di antaranya ada air terjun. Di antara air terjun itu, sebenarnya ada 3 air terjun yang cukup besar dan menarik di sepanjang jalan menuju Alahan Panjang, tepat di pinggir jalan pula.

Bagi yang berangkat dari Kota Padang, Simpang Lubuk Sulasih terletak sekitar 37 km dari Kota Padang melewati Sitinjau Laut ke arah Solok. Melewati jalan yang berkelak-kelok, dari Simpang Lubuk Sulasih ke Pasar Alahan Panjang, kita akan menemukan air terjun itu, juga pemandangan alami kebun teh dan Danau Diateh (Danau Kembar).

Sayangnya, aku hanya berkesempatan memotret dua air terjun. Air terjun pertama terlihat sangat tinggi dari pinggir jalan. Ingin berhenti, namun agak sulit parkirnya dan lingkungan di sekelilingnya sudah dipenuhi semak belukar.

Air Terjun Kayu Jao II

Nah, air terjun kedua punya posisi yang menarik. Tepat di tikungan tajam, setelah jembatan, ada beberapa rumah dan pencucian mobil. Air terjunnya persis di belakangnya. Bila tidak hujan, air terjun ini tetap memiliki debit air yang lumayan. Namun, bila musim hujan, bentuk air terjunnya akan lebih menarik karena seperti punya dua cabang. Air terjun ini kami namai Air Terjun Kayu Jao II karena wilayahnya di Kayu Jao.

Air Terjun Kapur Barus


Baca juga: Liburan di Kampung Halaman Istri, Talang Babungo


Air Terjun Kapur Barus

Air terjun ketiga memiliki kontur/bentangan yang sangat indah. Sayang, air terjun ini tidak ada air ketika tidak hujan. Beruntung kemarin, aku ke sana setelah semalaman hujan deras. Air terjun ini kami sebut Air Terjun Kapur Barus, karena selain mengacu ke nama kampungnya, aliran airnya tampak putih seperti kapur barus. Ada juga yang menamainya Air Terjun Kayu Jao III karena posisinya ketiga di sepanjang jalan tersebut.

Air Terjun Kapur Barus

Air terjun Kapur Barus ini memiliki 4 tingkatan. Seandainya aku punya drone, tentu akan lebih bagus lagi tangkapan gambar yang dihasilkan karena bisa secara jelas menampilkan curahan air beserta kolamnya.

Air terjun Kapur Barus ini sebenarnya sedikit spooky. Kalau bermain ke sini, bersihkan hatimu, dan jangan pecicilan. Selain karena begitu kuat aura mistisnya, bebatuan di sini sangatlah licin.

Bagaimana, apakah sekarang kamu tertarik berkunjung ke Alahan Panjang di Sumatra Barat?

Menikmati Perjalanan yang Mencekam ke Pulau Satonda

Masih jelas dalam benakku, 27 Agustus 2014 yang lalu, kami berangkat bakda Magrib dari Sumbawa menuju Satonda.

Di perjalanan, kami mengalami tragedi beberapa kali pecah ban, saling tunggu saling bantu di kegelapan malam di Jalan Lintas ke Bima. Juga harus kehabisan bensin karena akibat isu kenaikan BBM, tak ada bensin tersisa di pom sepanjang jalan, semua habis (mungkin ditimbun). Hingga baru pada pagi hari kami sampai ke tempat penyeberangan menuju Satonda disambut dengan ombak yang sanggup membuat kami berpikir tentang kematian.

What is an adventure? Adventure is adventurous.

Satonda

Trip ke Satonda dan Istana Karang dimulai Jumat, pukul 17.30 setempat. Dan kembali Senin 00.15 dini hari. Ini adalah sebuah perjalanan yang komplit suka dukanya. Belum masuk Dompu, salah satu kendaraan mengalami pecah ban dan kendalanya, tidak ada kunci yang sesuai untuk membuka ban. Jadi, kami menunggu kendaraan lain lewat dan mencari jenis kunci yang sesuai. Sebelum masuk Kendidi, satu kendaraan pecah ban juga. Saya masih bisa tidur lelap itu.

Setelah sarapan di Kendidi, membeli bahan makanan di pasar untuk dimasak di pulau nanti, pantai dan sebuah kapal terlihat. Agak aneh, pagi hari ombak lumayan keras di sisi. Angin kencang. Jadilah aku pakai pelampung di kapal. Niatnya duduk di hidung kapal, tapi nggak jadi. Goyang mamennnn….. alhamdulillah setengah jam tak sampai sudah tiba di tujuan. Ternyata ombaknya keras di pinggir saja, di tengah nyaman.

Satonda, pulau yang katanya sudah dibeli, atau dikontrak 30 tahun oleh swasta itu memang unik. Digoda treking bakda menurunkan barang, aku pun mengiyakan karena katanya cuma 20 menit. Ternyata 20 menitnya itu mendaki curam. Tapi itu terbayar dengan pemandangan puncak bukitnya. Sebuah danau tampak seperti kawah. Lanskap pulau sumbawa, laut, pulau Moyo, dan juga gunung tambora terlihat begitu indah.

satonda

Alamat tak bawa sleeping bag, niat tidur di terpal, hujan rintikrintik. Pindah ke baruga, ternyata angin seperti kesetanan. Badai. Untung penjaga pulaunya baik. Kita dipersilakan pindah ke pondok kosong. Sebenarnya aku sudah tertidur itu, dengan modal jaket dan sarung saja, celana baju berlapis-lapis, tapi angin masih tembus. Di dalam tidurku aku bermimpi tidur di sebuah hotel tinggi bertingkat. Lalu tibatiba terdengar gemuruh dan kulihat di luar angin topan, beberapa buah angin topan mengamuk. Hotel yang kutinggali terkena dan patah. Kamarku jadi patahan sendiri dan dibawa angin terbang jauh. Ternyata itu saat angin gila datang di pulau, aku terbangun pukul 1 malam.

Pengalaman pertama snorkeling, baru pasang alatnya sudah huek huek. Tapi sungguh, indah sekali pemandangan bawah laut satonda. Ikan kecil berwarna biru, terumbu, tapi karena newbie, tak lamalama snorkeling itu. Di calabai pun tak ikut terjun. Temanteman menanam terumbu di sana.

Pemandangan pulang di sore hari sangat eksotis sekali. Puncak tambora terlihat, matahari berwarna kuning keemasan. Padang terbentang dengan pohon jarangjarang. Puluhan bahkan ratusan ekor sapi mencari rerumputan. Di sisi sebelahnya, laut begitu biru dan beberapa titi ada batubatu besar, gunung-gunung gersang. Ini seperti afrika di indonesia.


Bermimpilah Mendaki Tambora

sekalipun kau sampai nanti
di padang puncak satonda
ingatlah, perjalanan ke sumatera
masih begitu jauh
dompu sejengkal ingatan

gadis cantik yang masih bisa dilihat mata ghaib
mengambang di laut sekitar calabai

rambutnya yang hitam memanjang
dimainkan gelombang

begitu pun kata-kata yang disangkutkan
di pohon harapan

kau akan dengan jelas mengingat itu
butir-butir keringat yang mengelereng

saat harus berdamai dengan langkah kaki
taklah sanggup membawamu bermimpi

suatu hari kau akan mendaki tambora

yang meledak karena cinta ibu dan anak

sekalipun kau pergi nanti
dari padang puncak satonda
ingatlah, sebuah danau lebih asin dari lautan
atau air mata mana pun

tatkala cinta yang menggelegak
tak sampai hati untuk ditenggak

(2014)


Menanam Terumbu di Calabai

Adventurous Sumbawa tak sekadar jalan-jalan, horehore, tapi jugs ikut melestarikan alam dengan tidak buang sampah sembarangan, dan ikut menanam terumbu karang. Ini adalah metode yang dilakukan di Calabai, relatif lebih murah dengan cara yang disosialisasikan pemerintah. Hanya butuh semen dan paralon, serta keikhlasan hati untuk terjun ke lautan.


Dunia itu indah ketika aku menyadari, di manapun kita berada, kita tidak akan kesepian selama kita menemukan teman dan keluarga baru. Di mana pun…

Datanglah, setidaknya sekali dalam hidupmu, ke Sumbawa yang indah ini ya.

Mengenang Keseruan Perjalanan ke Aceh

Dua tahun lalu, untuk kali pertama, aku menginjakkan kaki ke Tanah Rencong. Malam ini, karena membuka Explorer, tanpa sengaja aku menemukan foto-foto perjalanan ke Aceh dan mau tak mau aku mengenang keseruan perjalanan tersebut.

Sebagian catatan perjalanan sudah kutuliskan. Di antaranya adalah perjalanan ke Air Terjun Suhoom Lhoong di Aceh Besar.


Baca: Indahnya Air Terjun Suhoom Lhoong


Selain itu, Museum Tsunami Aceh juga menjadi catatan spesial karena membuatku bergidik membayangkan fenomena alam sedemikian dahsyat pernah merenggut nyawa banyak orang.

Baca: Jalan-jalan ke Museum Tsunami Aceh


Nah, beberapa catatan penting dalam perjalanan itu belum sempat kutuliskan.

Kedatanganku ke Aceh sebenarnya untuk menjadi narasumber pelatihan menulis ilmiah populer. Hari pertama ke Aceh, rekanku mengajak mencari kopi dan mi aceh. Pertama, aku tak begitu suka kopi. Soal mi aceh, hmm, doyan sih, tapi tidak terlalu menggilai.

Hari pertama, sore hari, kami menyempatkan makan mi aceh. Minum yang kupesan, es timun.

Mi Aceh

Hari kedua (Selasa) sampai Jumat, aku mengajar. Tidak banyak aktivitas yang kulakukan di luar selain tidur di hotel. Hotel yang kutempati bukan hotel modern, melainkan hotel mekah, yang dimiliki oleh orang lokal. Memang beda sih selera generasi milenial dengan selera orang tua. Tapi ya disyukuri sudah dipesankan hotel.

Kejadian yang cukup membuatku merasa bersalah adalah manakala Pak Kepala Kanwil dan rombongan mengajak makan malam. Pada dasarnya, aku tak bisa berlama-lama berada di ruangan terbuka pada malam hari. Namun, budaya di Aceh, ngopi dan ngobrol itu ya lumayan lama. Sayangnya, aku tak tidak suka ngopi, dan aku alergi rokok. Jadi, tindakanku agak kurang enak dilihat pada malam itu.

Aku lupa pada hari apa, ada jam mengajar yang selesai pada pukul tiga. Waktu yang tersisa kumanfaatkan dengan pergi ke pantai. Namanya Pantai Lampuuk.

Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk terletak di Lhok Nga, Aceh Besar. Pantai ini menjadi saksi utama dahsyatnya gelombang tsunami pada 2004 silam. Ombak besar itu menerjang pantai dan menghancurkan penduduk sekitar. Rumah-rumah hacur diempas gelombang. Lebih dari separuh penduduk Lhok Nga meninggal dunia karenanya.

Pantai dengan hamparan pasir putih yang indah ini butuh waktu untuk pulih seperti semula. Dulu, di sini banyak orang berselancar. Pas saya ke sana, tidak ada yang berselancar. Hanya ada beberapa orang yang berani bermain ombak. Saya tidak. Mendengar cerita tentang gelombang datang dari sini, saya hanya bermain air di pinggir-pinggir saja.

Sebenarnya, di dekat sini ada konservasi penyu juga lho. Garis pantainya yang panjang, sayangnya membuat saya yang kurang punya waktu tidak bisa menjelajahinya dari ujung ke ujung. Barangkali suatu hari nanti.


Setelah jadwal mengajar selesai, saya sengaja tidak langsung pulang. Saya beli tiket penerbangan sesudah Maghrib biar bisa jalan-jalan. Teman saya Chichi dan Farid yang menjadi pemandungnya. Karena itulah saya sempat ke Museum Tsunami Aceh dan Air Terjun Suhoom Lhoong. Selain kedua tempat itu, saya diajak menyaksikan saksi bisu fenomena alam di Aceh yakni PLTD Apung dan Masjid Baiturrahman Aceh.

PLTD Apung

PLTD APUNG PLTD Apung 1 tepatnya, ialah kapal generator listrik milik PLN di laut Banda Aceh. Pada saat tsunami terjadi, kapal dengan luas 1900 km persegi dan panjang mencapai 63 meter ini terbawa gelombang hingga ke daratan.

Kapal Apung ini beratnya kurang lebh 2600 ton. Sebelumnya ia berada di area penyebrangan Ulee Lheuh sebelum terseret sejauh 2,4 kilometer ke Punge Blang Cut, Jaya Baru.

Tak sedikit korban yang meninggal akibat tertindih oleh kapal ini. Makanya, kalau kalian ke sini, pasti bulu kuduk kalian akan bergidik karena korban yang tertimpa kapal itu tentu tak bisa dievakuasi.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Salah satu video yang masyarakat Indonesia ingat adalah ketika tsunami terjadi, sejumlah orang menyelamatkan diri ke Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Dari posisi yang cukup tinggi video itu direkam, memperlihatkan air menghanyutkan apa saja yang di depannya, dari reruntuhan bangunan, kendaraan, maupun manusia.

Masjid ini adalah landmark Banda Aceh yang menjadi simbol agama, budaya, semangat, kekuatan dan perjuangan, serta nasionalisme rakyat Aceh.

Diarsiteki oleh Gerrit Bruins dengan gaya Mughal masjid ini memiiki 7 kubah dan 8 menara. Masjid ini penuh nilai sejarah lho.

Kalau kamu ke Aceh, sempatkanlah ke masjid raya ini. M asjidnya indah sekali. Tapi jangan cuma foto-foto. Salat juga dong.


Itulah catatan perjalananku selama di Aceh. Barangkali lain waktu bisa kembali mengunjungi Serambi Mekah dan mampu mengeksplorasi lebih banyak lagi, dan mencapai Sabang,  Amin.

Perjalanan Seru ke Solo dan Tawangmangu

Seru. Itulah yang kurasakan saat melakukan perjalanan ke Solo dan Tawangmangu, Karanganyar. Di Solo aku tidak banyak melakukan aktivitas sih, karena dipenuhi jadwal rapat koordinasi kantor. Namun, sebelum dan sesudahnya, aku mengunjungi berbagai tempat. Mulai dari air terjun Jumog, air terjun Grojogan Sewu, air terjun Parang Ijo, Candi Sukuh, hingga river tubing di Goasari.

Air Terjun Jumog

Air Terjun Jumog
Air Terjun Jumog

Air terjun Jumog (Njumog) tepatnya berada di lereng Gunung Lawu, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Ada dua pintu masuk ke Jumog. Pertama, lewat atas. Dari pintu atas, kita akan menuruni 116 anak tangga. Bagi yang suka treking, pintu ini sangat kusarankan. Kami tentu lewat pintu ini, meski alasannya karena belum tahu ada pintu bawah yang lebih landai. Harga tiket masuknya hanya 5000 per orang untuk wisatawan lokal dan 15000 untuk wisatawan asing.

Pemandangan di  Air Terjun Jumog sangat indah. Aliran air terjun terbelah menjadi dua bagian menimbulkan kesan adanya dua air terjun. Suasananya sejuk, asri, dan terawat. Airnya dingin sekali.

River Tubing di Goa Sari

 

Goa Sari River Tubing terletak di lereng Gunung Lawu atau di Seguwo, Puntukrejo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Tepatnya di tengah-tengah rute dari terminal Karangpandan menuju Candi Cetho dan Candi Sukuh, searah dengan Air Terjun Jumog. Saya lihat Google Maps, jaraknya hanya 30-an kilometer. Tak ragu, segera saya menyewa motor dan berangkat ke sana.

Yang unik adalah di tempat ini memang betul ada Goa. Awalnya hanya goa kecil, lalu sang pemilknya Sunarto, seorang guru SD, melakukan penggalian, pembentukan relief-relief selama kurang lebih 3 tahun. September 2011 goa ini diresmikan. Tarif masuknya hanya Rp3.000,-. Saya sendiri kurang berminat untuk masuk ke goa tersebut—karena saya sendirian.

Saya langsung mencoba menu utama, yakni river tubing. Tarifnya Rp25.000,-. Namun, karena saya sendirian, tarifnya dilebihkan. Tak masalah karena saya begitu penasaran dengan sensasinya. Privat river tubing sejauh 2,5 km bersama seorang pemandu terasa murah. Ban besar pun disiapkan bersama perlengkapan dasar: pelampung, helm, dan sepatu anti selip.

Sungai yang airnya berasal dari air terjun Jumog ini cukup deras. Saya grogi dan semakin penasaran seperti apa rasanya menyusuri sungai dengan ban.

Candi Sukuh

Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi Hindu Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak jauh dari Jumog atau pun Goa Sari.

Yang unik, untuk masuk ke candi ini kita diwajibkan memakai tetuko. Kain bermotifkan papan catur hitam dan putih.

Air Terjun Parang Ijo

Air Terjun Parang Ijo
Air Terjun Parang Ijo

Tidak jauh dari Candi Sukuh, kita juga bisa menemui air terjun Parang Ijo.

Air terjun Parang Ijo tepatnya di di Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar.

Air Terjun Parang Ijo berada di lereng Gunung Lawu. Tingginya sekitar 50 meter. Parang Ijo memiliki arti Parang adalah tebing dan ijo adalah  hijau warna lumut di sekitar air terjun.

Konon, di sini dulu ada pohon tua keramat yang tidak boleh ditebang. Tepatnya, pada tahun 1942, ada pohon tuayang berukuran sangat besar serta warna daunnya hijau. Pohon tersebut dikeramatkan oleh warga sekitar karena tidak bisa ditebang.

Namun, datanglah banjir bandang, atau sering disebut Baru Klinting oleh warga). Banjir itu yang menumbangkan pohon tersebut, lalu membawanya bersama derasnya arus. Namun, pohon itu justru tetap berdiri tegak dan memperoleh tempat yang baru yaitu diantara tebing atau parang. Sehingga, memudahkan air yang mengalir dari atas tebing ke lembah melewati batangnya.

Grojogan Sewu

Untuk mencapai air terjun ini, siapkan staminamu dengan baik. Kurang lebih ada 1250 anak tangga yang harus ditempuh untuk sampai ke air terjun yang megah ini.

Grojogan dalam bahasa Jawa berarti air terjun dan sèwu berarti seribu. Sehingga Grojogan Sèwuberarti air terjun seribu. Meski air terjun di sini tidak berjumlah seribu, tetapi ada beberapa titik air terjun yang dapat dinikmati di sini. Kata sewu atau seribu disini berasal dari seribu pecak, atau satuan jarak yang digunakan saat itu yang merupakan tinggi air terjun. Satu pecak sama dengan satu telapak kaki orang dewasa. Air terjun tertinggi yang ada tingginya sekitar 81 meter. Ada pula air terjun yang tidak terlalu tinggi tetapi pancurannya meluas dan membentuk cabang-cabang. Bila sedang musim hujan, sekeliling tebing akan dihujani air terjun, tetapi saat musim panas, banyak air terjun yang kering.


Selesai puas mengunjungi tempat wisata itu, aku pulang ke Jakarta dengan gembira. Untuk melengkapi perjalanan, aku naik kereta api. Tiket kereta api kupesan jauh-jauh hari.

Beli tiket kereta api enaknya ya online lewat aplikasi Pegi-pegi. Jadwal kereta api bisa dilihat dengan mudah di aplikasi tersebut.

Sekarang udah bukan zamannya beli tiket kereta api pada hari H di stasiun. Tiket kereta api online sudah jadi pilihan. Di Pegipegi, harga jujur dan dan bebas biaya transaksi. Proses pembelian oun cepat dan mudah. Buat kamu yang mau beli tiket kereta api lebaran 2019 juga bisa pesan sekarang juga lho.

Jangan lupa kalau liburan pesan tiket kereta api dan jadikan Solo sebagai tujuan. Selain alam tadi, wisata kuliner Solo juga menarik sebenarnya. Kapan-kapan segera akan kucoba lagi ah ke Solo.