Category Archives: Catatan Perjalanan

5 Alasan Kenapa Harus Liburan Akhir Pekan ke Bandung

Penat dengan kepadatan Kota Jakarta? Setelah 5 hari kerja bergelut dengan pekerjaan di kantor dan kemacetan ibukota ditambah tekanan atasan? Mudah kita bilang, week end ke Bogor atau ke Bandung saja dong. Namun, apakah perjalanan ke keduanya menjamin bisa bebas penat juga?



Sudah dalam beberapa tahun terakhir, mau ke Bandung itu rasanya malas banget. Padahal aku punya rumah di Cigadung (dekat Dago Atas). Dulu, sempat tinggal di sana mulai 2013 sampai pertengahan 2016 sebelum pindah kerja ke Jakarta. Sekarang, adikku yang menempati. Continue reading 5 Alasan Kenapa Harus Liburan Akhir Pekan ke Bandung

Belajar Toleransi pada Masa Lalu

Tulisan ini kali pertama tayang di Seluang
https://seluang.id/2019/08/08/belajar-toleransi-pada-masa-lalu/




Festival Sastra Gunung Bintan pada November 2018 lalu meninggalkan pengalaman menarik. Dalam satu kesempatan, aku memutuskan tidak ikut makan malam bersama rombongan.

Kulangkahkan kaki ke warung-warung yang ada di dekat hotel. Satu warung menarik minatku karena menyediakan menu kuetiau. Di warung itu juga, ramai sekali orang-orang berbahasa asing.

Di Bintan, memang banyak sekali turis asing. Rata-rata dari Singapura dan sebagian besar beretnis Tionghoa. Kepulauan Riau menjadi destinasi menarik bagi mereka, karena selain alamnya yang indah, perjalanan ke Kepri bisa ditempuh tanpa naik pesawat, yakni dengan kapal laut.

Orang-orang Singapura itu sedang memesan makanan ke penjual Melayu yang memakai jilbab sangat lebar. Lucunya, yang satu tak cakap berbahasa Melayu, sehingga menggunakan Bahasa Cina. Sedangkan orang Melayu juga tak cakap berbahasa Cina. Keduanya pun berbahasa isyarat. Entah karena sebab apa, saat asik berbahasa isyarat itu, mereka mendadak tertawa bersama.

Sang turis pun mengeluarkan ponselnya. Ia mengajak orang Melayu berfoto berdua. Belum puas foto berdua, ia mengajak orang Melayu tersebut berfoto lagi bersama para turis asing lain yang sepertinya adalah keluarganya.

Malam itu, dari meja sebuah warung kecil di Bintan, kusaksikan pertunjukan kemanusiaan. Tak mengenal batas negara, agama, etnis, maupun bahasa. Toleransi itu ada dan nyata. Continue reading Belajar Toleransi pada Masa Lalu

Mencicipi Ayam Arab ala Chicking Indonesia

Kamu belum pernah ‘kan makan di Chicking? Bamby Cahyadi, sahabat penulis yang juga manajer yang malang melintang di berbagai resto itu tiba-tiba bertanya kepadaku. Dia pun mengajakku mencicipi AYAM ARAB ala Chicking Indonesia siang kemarin.


Lahap makan di Chicking
Bukan Nex Carlos

Sebenarnya, dia sudah mengajakku seminggu sebelumnya. Katanya, lagi ada Nex Carlos. Siapa sih yang nggak kenal Nex Carlos, Youtuber Makanan yang terkenal di Indonesia itu? Namun, karena sedang ada rapat koordinasi (disajikan makan siang di kantor), aku jadi nggak bisa makan siang di Chicking. Continue reading Mencicipi Ayam Arab ala Chicking Indonesia

Dari Maluk, Lawar, Hingga Sekongkang: Pantai Terindah di Sumbawa Barat

Sebutkan pantai terindah di Sumbawa Barat? Rasa-rasanya agak sulit untuk menentukan mana yang lebih indah di antara Pantai Maluk, Pantai Lawar, atau Tropical Beach di Sekongkang. Nama-nama itu belum ditambah dengan Pantai Pasir Putih di Poto Tano dan pantai-pantai lain yang masih perawan di sepanjang Sumbawa Barat.

Setelah melewati dua gerbang sebelum masuk ke Poto Tano, yaitu Pulau Paserang dan Pulau Kenawa, orang biasanya bertanya, ke mana saya harus melanjutkan perjalanan? Bagaimana trip Sumbawa ini harus dimulai dan bagaimana harus diakhiri?




Salah satu alternatif biasanya turis akan menjelajahi Sumbawa Barat terlebih dahulu. Di sana ada Desa Mantar yang terkenal sebagai Desa di Atas Awan. Bukan hanya itu, pantai-pantainya yang indah juga sangat terkenal bagi para peselancar. Continue reading Dari Maluk, Lawar, Hingga Sekongkang: Pantai Terindah di Sumbawa Barat

Merenung di Curug Bidadari Ciasihan, Kab. Bogor

Berjalanlah terus dari Curug Kiara, kamu akan menemukan Curug Bidadari. Karena saking banyaknya nama curug yang menggunakan nama Bidadari, maka curug ini kita sebut saja Curug Bidadari Ciasihan, Kab. Bogor.



Dinamakan demikian, karena curug ini menjadi pangkal dari lengkungan pelangi. Konon, masyarakat desa penasaran ada di mana ujung dan pangkal pelangi yang hadir di Ciasihan. Mereka mengikuti bias titik air oleh cahaya tersebut dan menemukan sebuah curug. Karena dipercaya, pelangi adalah jembatan bidadari turun dari kayangan, dinamakanlah curug tersebut sebagai Curug Bidadari. Barangkali ada bidadari yang mandi di sana.

Letaknya tidak jauh dari Curug Kiara. Setelah menyeberangi jembatan di atas Curug Kiara, kita tinggal menaiki sebuah bukit lagi. Sampai ketemu pertigaan, kita belok ke kiri. Bila lurus kita akan bertemu Curug Batu Ampar. Nah, Curug Bidadari berada di paling ujung setelah Curug Susun.Curug Bidadari Ciasihan

Di sana, aku duduk di sebatang kayu yang patah, memandangi air jatuh dan merenung. Sejak kasus plagiarisme Afi Nihaya Faradisa, aku baru mengenal takut. Tidak menyangka tulisanku yang membongkar skandal itu menjadi seviral itu dan mendapat serangan sedemikian rupa yang bisa jadi berefek ke keluarga. Sejak itu pula, aku tidak seberani sebelumnya. Menjadi lebih moderat dalam menyuarakan pendapat. Berhati-hati sekali dan tidak ingin menjadi perhatian orang lain.
Curug Bidadari Ciasihan
Lama baru kusadari, selain menulis, seorang penulis seharusnya tidak mengenal rasa takut saat menyuarakan ketertindasan. Seorang penulis adalah David, meski harus melawan Goliath. Dengan begitu, jalan pena akan terus ada.

Bukan aku berpikir, lantas aku menulis. Tapi aku berani, maka aku menulis.

Jika Aku Bisa Jalan-jalan Ke Malaysia

Sekian tahun sudah berlalu, tapi ajakan Wan Nor Azriq, sastrawan asal Malaysia yang kutemui di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014 belum juga jadi kenyataan. Keinginan jalan-jalan ke Malaysia itu kembali datang saat ASEAN Literary Festival 2016 dari sastrawan muda lain, Ridhwan Saidi dari Malaysia, yang akrab di rumah residensi. Apalagi sekarang, mudah jalan-jalan di sana karena kita bisa book tiket KLIA EKSPRES online.

Ya, sampai kini aku belum pernah ke luar negeri. Tapi nggak ada salahnya kan membayangkan rencana kalau bisa jalan-jalan ke mana saja, ke mana saja aku akan bersauh?

Air Terjun Telaga Tujuh

Air Terjun Telaga Tujuh

Air terjun telaga tujuh ini berada di kawasan Langkawi, Malaysia. Kita dapat menggunakan kendaraan umum berupa Kereta yang mengarah ke Mat Cincang Mountain.

Sebagai pencinta air terjun, rasanya air terjun ini adalah air terjun terkomplit di Malaysia. Kita bisa melihat panorama dari ketinggian. Kita juga bisa berendam guna merasakan kesejukan air terjun.

Langkawi Cable Car

Langkawi Cable Car

Karena sudah di Langkawi, ya sekalian mencoba Langkawi Cable Car. Jalan-jalan ke Malaysia belumlah lengkap kalau kita belum mencoba naik kereta gantung ke puncak gunung tertinggi kedua di Langkawi. Dengan ketinggian 709 meter di atas laut, kita akan melintasi hutan tropis dan air terjun yang indah. Saat cuaca cerah, wisatawan bahkan bisa melihat Indonesia di arah barat daya dan Thailand di arah utara. Perjalanan sepanjang 2,2 km akan ditempuh selama 20 menit.

Batu Caves

Batu Caves

Meski cukup jauh dari Kuala Lumpur, Batu Caves masih mudah dijangkau. Letaknya di selangot. Batu Caves merupakan ikon wisata kota Selangor sekaligus tempat suci bagi umat Hindu.

Batu Caves adalah gua batu kapur. Di dalamnya ada 3 gua utama dan beberapa gua kecil. Yang bikin lebih berkesan adalah keberadan patung Dewa Murugan setinggi 42,7 meter yang dilapisi emas di depan gua tersebut.

Pantai Sasaran

Pantai Sasaran

Pantai sasaran ada di Selangor. Pantai ini memiliki keistimewaan bila air laut surut. Ia akan menyajikan pemandangan mirip dengan Salar de Uyini, sebuah danau air asin di Bolivia,  yang mencerminkan pemandangan langit.

Menara Kembar Petronas

Menara Kembar Petronas

Kalau di Kuala Lumpur, kayaknya wajib banget deh berfoto di depan Menara Kembar Petronas. Berada di jantung kota, menara ini pernah tercatat menjadi menara tertinggi di dunia di kurun waktu 1998 hingga 2004. Di atas, ada jembatan udara yang terletak di lantai 41 dan 42 dengan ketinggian 170 meter.

Kota Pecinan di Petaling

Kota Pecinan

Membayangkan sudah berada di KL, maka saya akan lanjut ke Jalan Petaling. Di sana ada Kota Pecinan.

Kota Pecinan ini menjadi favorit para pemburu barang murah sejati, sehingga ia juga dikenal sebagai ‘Bargain Hunter’s Paradise’. Kayaknya yang begini belum ada di Indonesia.





Sekiranya itulah tempat-tempat yang sangat ingin aku kunjungi jika kesampaian niat jalan-jalan ke Malaysia. Nah, sebagai pencinta curug alias air terjun, sebenarnya aku ingin juga menambahkan air terjun lain dalam daftar.

Ya, cita-citaku memang ingin mengunjungi dan mendokumentasikan sebanyak mungkin air terjun di seluruh dunia. Di Malaysia sendiri, ada beberapa air terjun lain yang terkenal. Meski aku sendiri meragukan, apakah air terjun di sana bakal seindah air terjun di Bogor seperti Leuwi Hejo yang memiliki kejernihan luar biasa dan Curug Kiara yang mistis dan menawan.

Ada Air Terjun Rainbow, Air Terjun Durian Perangin, Air Terjun Temurun, Air Terjun Chawang, Lata Iskandar, Air Terjun Hutan Hujan Kanching, Air Terjun Sungai Pandan, Air Terjun Mahua, Air Terjun Chiling, Air Terjun Sekayu, Air Terjun Pulai, dan Air Terjun Jeriau, serta masih banyak air terjun lain.

Tentunya untuk mengunjungi semuanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Kunjungan pertama, tentu dari bandara saya akan naik KLIA Ekspres dan mengunjungi tempat-tempat yang sudah dilayani oleh sistem transportasi terpadu terlebih dahulu. Kecuali bilamana dua kawan saya tadi mau berlelah menyediakan kendaraan pribadi untuk menjelajahi Malaysia.

Namun, sebelum itu semua terjadi, ada satu hal yang harus saya lakukan. Yak, bikin paspor!