Category Archives: Catatan Perjalanan

Pantai Leppu di Labangka, Pantai Terindah di Sumbawa

 

Leppu di Labangka III. Seperti Tanah Lot, Bukan?

Tak bisa kulupakan perjalanan tiga tahun silam. Atas petunjuk Bung Koesnady Deo, teman-teman Adventurous Sumbawa melakukan perjalanan ke daerah Labangka. Tepatnya Labangka III. Di sana ada pantai tersembunyi yang indah sekali dengan garis pantai yang begitu panjang. Namanya pantai Leppu.

Dinamakan Leppu sesuai dengan nama aliran air/ kokar/ avour/ sungai yang bermuara di pantai itu sendiri. Aliran ini merupakan bagian dari jejeran blok selanaru yang berasal dari kata sela yang berarti celah/ lembah (bahasa Sumbawa) dan naru yang berarti panjang (bahasa Bima).

Perjalanan tim Adventurous Sumbawa ke Leppu.

Pantai Leppu sebenarnya tidak begitu jauh dari Sumbawa. Bila dilihat di Google Maps, jaraknya sekitar 74 km. Lalu berbelok ke kanan menuju Labangka III kira-kira 5 km melewati perkebunan rakyat yang didominasi dengan tanaman jagung. Tim Adventurous Sumbawa saat merambah kawasan ini pun menempuh perjalanan dengan konvoi motor. Bila bukan dengan kendaraan pribadi, mungkin masih agak sulit.

Pantai Leppu terbilang punya panorama yang unik. Ada bebatuan karang besar di pantai tersebut yang mengingatkan kita pada Tanah Lot di Bali. Butiran pasirnya pun sehalus merica seperti pantai Kuta di Lombok. Tapi bukan hanya itu, bentangan pantainya begitu panjang sehingga kita bisa melihat tidak hanya satu jenis pasir di pantai Leppu. Selain pasir merica, di pantai ini juga bisa temukan pasir besi (pasir hitam) dan pasir pantai pada umumnya yang biasa.

Ketua Adventurous Sumbawa. Foto taken by Taufik Rahman
Ketua Adventurous Sumbawa. Foto taken by Taufik Rahman

Pasir putih yang halus sebenarnya mengindikasikan keberadaan terumbu karang di laut di sekitarnya. Lautan masih asri, belum tercemar. Namun, sangat berbahaya jika kita nekad hendak melakukan wisata bawah air di sekitaran Labangka. Ombaknya begitu ganas, dan memiliki pola yang sulit ditebak. Di dekat karang besar pun, ombak cenderung memusar, sehingga diharapkan para pengunjung harus berhati-hati jika hendak bermain air di sekitaran pantai. Di titik itu, pernah ada yang meninggal karena terjebak ombak lho.

Farhan Syadli

Perjalanan ke Leppu berkesan bukan hanya karena pemandangannya, tetapi juga kebersamaan dengan teman-teman Adventurous Sumbaw. Kami urunan 15.000 buat beli ikan, nasi, dan bumbu. Yang perempuan memasak begitu sampai di tempat. Lalu kami makan bersama dengan lahap.

Suasana guyub Tim Adventurous Sumbawa saat menunggu nasi dan ikan
Tim Adventurous Sumbawa di Leppu

Selain itu, perjalanan ke Leppu ini menginspirasiku membuat sebuah cerpen berjudul Katak Bunuh Diri. Cerpen itu terinspirasi karena melihat katak-katak menyeberang jalan di Labangka. Cerpen itu memenangkan sebuah lomba menulis tingkat nasional dan aku mendapatkan hadiah perjalanan ke Belitung karenanya. Sungguh, nikmat Tuhan mana yang mau kudustakan?

Tiga Curug di Bogor: Curug Nangka, Curug Daun, dan Curug Kawung

Curug Kawung
Curug Kawung

Perjalanan sejauh 31 km kurang-lebih dari Kampung Baru Citayem itu terbayar dengan keindahan tak terperi. Panorama pegunungan yang serba hijau terbentang di sepanjang jalan. Udara dingin pun seperti seorang kekasih yang lama tak bertemu, yang langsung memberi pelukan terbaiknya ketika motor yang kukendarai mulai mendaki menuju Curug Nangka.

Kakak keempat sedang berkunjung dari Palembang. Aku pun mengajaknya jalan-jalan. Pilihan jatuh ke Curug Nangka karena jarak tempuhnya masih dapat diterima dari rumah dengan motor. Dan merujuk ke Google Maps, rutenya tidak terlalu sulit. Selain itu, di area tersebut, tidak hanya ada satu curug, melainkan ada tiga curug. Curug Nangka, Curug Daun, dan Curug Kawung. Satu kali mengegas, tiga curug terkunjungi.

Lokasinya berada di Desa Warung Loa, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, di lereng kaki Gunung Salak. Lokasi ini berada di ketinggian sekitar 750 m di atas permukaan laut.

Begitu sampai di lokasi, kami dihampiri penjaga. Tiket masuk resmi per orang Rp7.500,- (ada karcisnya). Lalu, parkir motor kami diminta Rp5.000,- (juga diberi karcisnya). Namun, ada biaya lain yang diminta sejumlah Rp30.000,- oleh petugas berpakaian hijau-hijau. Saya sama sekali tak tahu peruntukannya. Saya jadi teringat dosen seminar keuangan publik. Ia adalah tipe orang yang tidak mau membayar parkir jika tak ada karcisnya. Karena menurutnya, parkir termasuk retribusi ke daerah. Tanpa karcis, uang itu tidak akan masuk ke kas daerah (ditilep oleh peminta uang parkir). Hal seperti ini tak boleh dibudayakan. Sayangnya, saya tak mau mendebat petugas yang tak memberikan karcis itu. Malas.

Nuansa sejuk menyelimuti kawasan ini. Pohon pinus tumbuh begitu tinggi. Terlihat beberapa ekor monyet liar di sekitar. Namun, kawasan ini terlalu ramai bagi saya. Begitu banyak penjaja makanan. Sedikit kecewa ketika melihat di beberapa titik ada sampah yang dibuang sembarangan.

Untuk mencapai curug, kita harus melakukan treking dari parkiran. Jalannya sedikit mendaki. Urutannya dari yang terdekat adalah Curug Nangka, Curug Daun, barulah Curug Kawung. Curug Nangka berada di dalam lembah. Saya memutuskan untuk ke Curug Daun terlebih dahulu, lalu melanjutkan ke Curug Kawung, baru turun lagi ke Curug Nangka sekalian pulang.

Curug Daun

Bersama kakak di Curug Daun

Curug Daun tidak terlalu tinggi. Bisa dibilang keunikan curug ini adalah formasi bebatuannya. Saya tidak tahu apakah dibuat atau tidak, namun bebatuannya membentuk beberapa kolam kecil yang bertingkat-tingkat sehingga sangat asik diberendami. Dinamakan Curug Daun karena bentuk pancurannya melengkung seperti daun. Tingginya pun hanya sekitar 6 meter. Namun, alam tetap jangan diremehkan. Batu-batunya licin. Jadi, kita tetap harus berhati-hati.

Curug Kawung
Selfie di Curug Kawung

Curug Kawung berada di hulu, sekitar 100-200 m dari Curug Daun. Karena lebih tinggi keberadaanya, curug ini lebih sepi. Pengunjung yang berkeluarga biasanya hanya sampai di Curug Daun. Diberi nama Kawung karena bila musim hujan tiba, saat debit air tinggi, sentuhan air dan bebatuan itu akan mengeluarkan suara wung wung. Jadi Kawung. Tinggi curug ini sekitar 25 m. Airnya pun lebih cenderung mengalir di bebatuan. Saat menikmatinya, ada mitos yang menyarankan kita mencuci muka dan meminum airnya. Orang yang mandi atau berendam di sini pun akan memiliki kekuatan seperti harimau. Kharismatik, disegani, juga disayang.

Curug Nangka

Terakhir, Curug Nangka. Dinamakan demikian karena dulunya ada pohon nangka sebesar gulungan kasur berada di dekatnya. Untuk mencapai curug ini ada 2 jalan. Bisa melewati jalan di sisi sungai. Namun, jalan turunnya yang langsung ke dekat curug sangat terjal. Saya pilih jalan yang menelusuri sungai dalam celah yang cukup sempit biar kerasa aura petualangannya. Namun, jalan ini menyimpan bahaya yang lebih besar. Jika ada air bah datang, maka hanya kepada Tuhanlah kamu bisa berharap.

Jalan di Lembah ke Curug Nangka
Jalan di Lembah ke Curug Nangka

Curug Nangka memiliki banyak cerita. Warga setempat percaya di curug ini ada ruangan misterius. Ada suatu lubang, yang dapat menembus sampai ke daerah Cipatuhunan, Kute Maneh, Sukabumi. Ruangan tersebut juga biasa dijadikan tempat bersemedi oleh para pemuka agama. Jalan turun terjal menuju curug tadi pun menyimpan cerita. Konon, barangsiapa yang bisa turun dengan selamat, tanpa jatuh akibat terpeleset itu tandanya dia adalah seorang yang sangat mencintai dan menghargai lingkungan. Dan dilarang pula melamun atau pikiran kosong karena tak jarang ada pengunjung yang kesurupan di curug ini.

Sungguh, dengan lokasinya yang relatif mudah dijangkau, kesegaran alamnya, dan pemandangan tiga curug yang memukau ini, saya merekomendasikan kamu datang atau berkemah kemari. Dan kalau bisa jangan akhir pekan atau hari libur agar dapat kamu saksikan secara purna keindahan dan merasakan kekhusukan bercengkerama dengan alam.

9 Tempat Wisata Keren yang Pernah Kukunjungi

9 Foto Wisata Keren

Kesembilan foto di atas adalah foto yang paling banyak di-like di instagram-ku tahun lalu. Kebetulan atau tidak, kesemuanya adalah foto perjalananku. Bisakah kamu menebak di mana saja foto itu diambil? (Mulai dari kiri atas ke kanan bawah ya.)

  1. Teluk Saleh dalam perjalanan ke Dangar Ode. Itu adalah perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Mei 2013 lalu. Foto diambil oleh Taufik Rahman, rekan sekantorku. Ia juga yang mendesain kaos Adventurous Sumbawa yang tengah kukenakan. Kalau perut, sungguh, itu tidak didesain. Perjalanan hari itu sangat menyenangkan. Lautnya tenang. Menaiki perahu nelayan, kami menempuh waktu kurang lebih 45 menit dari pelabuhan di Desa Prajak hingga sampai ke Dangar Ode.
  2. Gunung Bromo. Foto diambil sesaat setelah aku berhasil mendaki anak tangga menuju kawah Bromo. Dalam keadaan yang kurang sehat, dan habis kedinginan setelah menunggu matahari terbit, aku mendaki 250 anak tangga itu. Hanya untuk melihat kawah. Ya, kawah menganga dengan diameter +/- 800 m dan +/-600m. Lonjong. Berbau belerang pula. Namun, pemandangan yang terhampar sungguh menakjubkan. Oh, iya, saya ingat diprotes seorang teman ketika mengatakan Bromo ada di Malang. Lebih tepat, Bromo ada di Probolinggo.
  3. Coban Pelangi. Coban atau air terjun ini kukunjungi dalam rangkaian perjalanan Paket Bromo. Begitu dijemput di stasiun, kami menuju ke penginapan (home stay) dan tak jauh dari situ ada  air terjun ini. Sayangnya, air terjun ini tak punya kolam untuk diberenangi. Terlampau berbahaya.
  4. Pulang dari Pulau Moyo. Foto diambil oleh Taufik Rahman lagi. Ini adalah foto saat perjalanan pulang dari Moyo ke Labuhan Sumbawa. Di sisi kiri sudah tampak Tanjung Menangis. Pagi hari itu laut begitu tenang dan dari kejauhan bisa kusaksikan lumba-lumba menemani perjalanan kami. Meski menggunakan filter CPL, aslinya memang biru banget. Untuk pertama kalinya aku berhasil foto di ujung perahu. Yes!
  5. Sungai di Karekeh. Kami berenang di sungai ini setelah pulang dari menengok air terjun Ai Nyembir di Dusun Selang, Sumbawa. Belum puas berenang di Air Nyembir, kami menemukan sisi sungai yang terhalangi bebatuan sehingga menciptakan kolam alami dengan nyaris tanpa arus. Teman saya, Farhan, menantang saya untuk melakukan lompatan dari atas batu. Kedalaman sungai di sisi ini sekitar 2m. Dan saya pun memberanikan diri melompat. Begitulah hasilnya.
  6. Pantai Mali di Alor. Karena saya memenangkan lomba menulis di Ditjen Perbendaharaan, saya mendapatkan hadiah dinas ke Alor untuk menengok ke KPPN Filial Alor. Salah satu tempat yang memorable banget ya di Pantai Mali. Ia berada di sebelah bandara Mali. Untuk menuju spot ini, mobil masuk ke bandara, melalui landasan pesawat. Diizinkan karena pesawat hanya ada pagi hari. Kalau surut, maka pasir ini akan menghubungkan Alor dengan pulau lain. Namun, saat itu air sudah sebatas dengkul. Kalau memaksakan menyeberang, khawatir tidak bisa pulang.
  7. Hutan Kuang Amo. Foto ini diambil saat perjalanan pulang dari air terjun Ai Putih. Dua jam perjalanan harus ditempuh dari air terjun ini hingga sampai ke pusat desa Kuang Amo. Melewati pinggir sungai, hutan belantara, dan hutan bambu. Sungguh sebuah petualangan yang seru!
  8. Pantai Tanjung Tinggi, Belitong. Ceritanya saya dapat hadiah ke Belitong karena memenangkan lomba cerpen. Saya pun mengunjungi pantai ini. Pantai yang indah sekali. Airnya jernih. Ombaknya tenang. Dan pemandangan batu-batu dari zaman Jura pun memanjakan mata.
  9. Rafting di Bali. Saya lupa di mana raftingnya. Saat itu saya mendapat tugas diklat pengadaan barang dan jasa selama dua minggu. Sesama peserta sepakat, pada saat hari libur diklat, kami berjalan-jalan. Rafting pilihan utamanya. Karena kami semua laki-laki, jadi berani dong. Ini adalah rafting ketigaku. Super! Tapi, turun dan naik dari dan ke sungainya jauh lebih melelahkan dari raftingnya. Hehe.

Nah, dari kesembilan tempat itu, mana yang kamu suka? Mana yang sudah pernah kamu kunjungi? Jika belum, yuk ke sana!

Liburan ke Curug Bidadari di Sentul Paradise Park

curug bidadari

Bogor punya banyak curug/ air terjun. Salah satu yang paling mudah aksesnya adalah Curug Bidadari di kawasan Sentul Paradise Park. Tepatnya di desa Bojong Koneng. Dulu, namanya Curug Bojong Koneng, dan berganti nama menjadi Curug Bidadari bakda pengelolaannya dipegang oleh Sentul Paradise Park.

Apabila berangkat dari Jakarta, maka rute yang ditempuh adalah;

Tol Jagorawi => Tol Sentul Selatan=> Sentul Paradise Park => Air Terjun Bidadari

curug bidadari

Ketinggian air terjun ini sekitar 40 m. Dan selain air terjun dengan kolam alami, pengelola membuat kolam mandi yang airnya berasal dari air terjun ini. Selain itu, di kawasan ini juga disewakan beberapa permainan anak seperti Perahu tangan, Wave pool, Lazy pool, dan Flying Fox. Namun, pada saat saya bersama keluarga ke sana, mungkin karena sudah kesorean, wahana seperti flying fox itu tidak ada penjaganya.

Curug bidadari sentul paradise park

Kenapa disebut Curug Bidadari? Tepat di sekeliling air terjun ini ada bebatuan besar. Di antara bebatuan besar tersebut terdapat semacam celah atau ruang. Celah itu digunakan sebagai tempat persembunyian oleh Jaka Tarub. Jaka Tarub bersembunyi di celah tersebut untuk mengintip para bidadari yang sedang mandi yang datang dari kayangan . Makanya, ia kemudian disebut Curug Bidadari.

Namun, ada juga yang bilang, dulunya di sini sering terdengar suara segerombolan wanita yang sedang mandi, suara cekikikan seperti sedang bercengkerama. Setelah dilihat, tidak ada siapa-siapa.

Karena berada di kawasan hutan lindung, jadi bisa dipatikan air curug ini segar dan jernih sekali. Kesan alami masih menyelimuti kawasan di sekitar air terjun. Udara yang sejuk. Bukit-bukit yang hijau. Cocok sekali untuk menghilangkan kepenatan.

Sesuai namanya, Curug Bidadari, kalau kamu beruntung, kamu bisa bertemu dengan bidadari di curug ini. Nah, ini slaah satu bidadari itu!

Dangar Ode, Surga Kecil di Sumbawa

Hidung perahu dengan pelan membelah lautan. Angin laut yang khas menerpa tubuhku. Ini perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Ini juga perjalanan pertamaku menaiki perahu nelayan yang kecil.
Kucelupkan kaki dan kubiarkan kakiku beradu dengan air laut. Menyenangkan. Kurang lebih 40 menit perjalanan dari dermaga di Desa Prajak. Sebuah pulau kecil sudah berada di depanku. Perahu melambat untuk merapat ke pesisir. Di kejauhan, sosok Gunung Tambora menjulang angkuh.
Ada satu adegan yang berkesan dalam film Pirate of Carribean, yakni ketika Jack Sparrow ditinggalkan di sebuah pulau kecil dengan pasir putih. Berada di atas pasir yang putih, di tengah lautan dan di bawah langit yang birunya tak bisa dibedakan adalah salah satu impianku. Tak perlu jauh-jauh ke Kepulauan Karibia, atau Maldives yang terkenal, di Indonesia juga ternyata ada tempat seperti itu. Di Lombok ada Gili Kapal. Di Sumbawa juga ada Dangar Ode.
 
Dangar Ode adalah sebuah pulau kecil di kawasan utara Teluk Saleh. Teluk Saleh saat ini sudah dikenal sebagai akuarium dunia karena memiliki 59 jenis karang dan 405 jenis ikan karang. Bahkan di beberapa kawasan di Teluk Saleh terkenal banyak anak hiu dikarenakan melimpah ruahnya makanan bagi mereka. Di Dangar Ode sendiri, bila beruntung kita bisa menemui lumba-lumba.
Salah satu alternatif menuju Dangar Ode adalah melalui dermaga di Desa Prajak. Desa Prajak adalah salah satu desa nelayan di Sumbawa dan berjarak kurang lebih 20 km dari kota Kabupaten. Hujan semalam membuat medan yang kami lalui menjadi becek dan berlumpur. Butuh keterampilan dan ketabahan untuk melaluinya.
Kupikir, beginilah Indonesia, semakin ke Timur, infrastruktur semakin kurang memadai. Tak terbayangkan pula bagaimana perjuangan nelayan-nelayan mengantarkan ikan-ikannya ke pasar di Sumbawa dengan medan seperti ini. Tak tega rasanya bila nanti ke Seketeng, aku menawar ikan-ikan itu lagi.
Dangar merupakan nama sebuah pohon dalam bahasa Sumbawa yang banyak ditemukan di wilayah Sumbawa. Pohon ini menghasilkan getah seperti karet yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dahulu, Dangar Ode dan Dangar Besar banyak ditumbuhi dangar dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan membuka perkebunan dangar. Namun seiring berjalannya waktu pohon dangar sudah habis dan tidak terdapat lagi di pulau. Masyarakat juga sudah tidak lagi melakukan aktivitas perkebunan di pulau ini.
Perahu nelayan merapat, aku melompat ke bibir pantai. Sebuah pohon tumbuh sendirian di sisinya. Sebuah bangunan berdiri di tengah-tengah pulau. Seorang teman berkata, bangunan itu adalah sebuah mushalla. Tidak ada yang tahu siapa yang membangunnya. Cerita setempat juga menyebutkan, seberapa pasang pun lautan, air laut tidak pernah sampai merendam lantai mushalla tersebut. Sayangnya mushalla tersebut tampak tak terawat. Seharusnya pemerintah turun tangan untuk melakukan pemeliharaan. Selain menjadi tempat shalat, ia dapat juga menjadi tempat beristirahat dan berteduh ketika hujan turun lebat.
 
Pasir putih mengelilingi Dangar Ode. Dan yang menarik adalah permukaannya tidak curam tiba-tiba. Kita dapat menenggelamkan tubuh kita sedikit demi sedikit ke dalam lautan dengan dasar pasir yang masih terlihat karena begitu beningnya. Tampak juga banyak bintang laut di sana-sini. Jangan khawatir, tak ada bulu babi.
Hingga air laut mencapai bahu barulah dasar lautan terisi dengan rumput-rumput laut. Aku mencelupkan wajahku dan terlihat berbagai jenis ikan berwarna-warni. Aku berenang lebih ke tengah, dan karena aku tak begitu pandai berenang, aku memilih berada di dekat perahu supaya kalau kenapa-kenapa aku bisa mencari pegangan. Sesekali aku mencelupkan kepala untuk melihat pemandangan bawah air yang menakjubkan. Dan lebih banyak aku menikmati panorama yang disajikan alam. Beberapa teman menyelam lebih dalam dan aku merasa iri. Mereka bilang ada coral table, terumbu karang yang berbentuk seperti meja bundar. Juga menemukan ikan nemo di mana-mana.
 
 
Aku menyesal ketika kecil tidak belajar berenang hingga mahir. Yang bisa aku lakukan cuma mengambang beberapa saat. Huh.
Puas berenang, mengelilingi pulau, dan menyantap ikan bakar yang kami bakar sama-sama, kami diguyur hujan yang sangat deras. Setelah menunggu dan berharap hujan akan reda, berkenalan dan bercerita banyak, kami memutuskan nekat menyeberangi lautan. Syukurlah, meski hujan, lautan tetap tenang. Mendekati dermaga, barulah hujan reda dan langit yang mendung menyingkapkan dirinua. Cahaya keemasan menembus mereka dan seakan-akan kami terendam di dalamnya.
Sebuah puisi lahir saat itu:
kau bersikeras akan menelan semua hujan
yang tak bosan menceritakan hidupnya yang singkat
di atas laut, di bawah bayangbayang maut
kita akan selalu sama: melihat langit keemasan
setelah segalanya reda adalah doadoa kecemasan
sebelum perjalanan lain menuju pulang
Tantangan sesungguhnya adalah medan di daratan. Jalan yang baru diguyur hujan membuatnya seperti bubur lumpur. Jarak tempuh 20 km itu kami lalui lebih dari 3 jam setelah beberapa motor mengalami kerusakan, dan kami menunggu, saling membantu dan bahu-membahu agar semuanya sampai ke tujuan. Kebersamaan, meski baru sekali bertemu, membuat perjalanan ini pantas dikenang seumur hidup.
Semoga saja pemerintah daerah membenahi akses menuju pulau, karena Dangar Ode begitu layak menjadi salah satu destinasi utama Pesona Indonesia di Sumbawa. Keindahan bawah laut, dan panoramanya kelas satu, ditambah ketenangan yang semakin sulit didapatkan di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk.
PS:
Terima kasih kepada teman-teman Adventurous Sumbawa yang sudah memberiku kesempatan berkenalan dengan kalian. Foto-foto di atas juga dari Adventurous Sumbawa.

Menikmati Keindahan Curug di Maribaya Resort

Bagi yang senang liburan ke Bandung, nama Maribaya pasti sudah tidak asing lagi. Apalagi, setelah ada Maribaya Lodge, yang foto-fotonya happening banget di Instagram. Bukan cuma Maribaya Lodge, di Maribaya ada berbagai pilihan tempat wisata seperti Taman Hutan Raya dan Maribaya Resort.

Satu hal yang perlu dicatat, kalau mau ke Maribaya jangan lewat Dago. Kalau hari libur, macet sekali. Saya sendiri karena berumah di Cigadung, dan memakai motor, jadi dari Cigadung, ya tinggal ke atas lewat Dago Atas. Nah, sebelum saya pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke Maribaya Resort. Dua kali pula.

Maribaya memiliki air terjun/ curug yang sebenarnya terdiri dari 3 rangkaian. Dua di antaranya yakni Curug Cikawari dan Curug Cigulung ada di Maribaya Resort. Satu lagi bernama Curug Cikoleang. Ada yang bilang 4 dengan memasukkan Curug Omas sebagai Curug Maribaya, padahal bukan.

Curug Cikawari
Curug Cigulung

Maribaya berasal dari kata “Mari” yang berarti sehat dan “Baya” yang berarti bahagia. Maribaya juga memiliki legenda.

Dahulu kala, ada seorang petani miskin yang bernama Eyang Raksa Dinata yang mempunyai seorang anak gadis yang cantik jelita bernama Maribaya. Karena sangat cantik, bapaknya khawatir kalau anaknya jadi rebutan bagi para pemuda di daerahnya. Beliau pun mendapatkan ilham dan pamit pergi ke Tangkuban Perahu. Ia bertapa di sana dan dalam tapanya, ia didatangi oleh seorang kakek yang memberikannya dua bokor (pinggan besar bertepi lebar) berisi air. Salah satu bokor tersebut harus dibawa ke arah barat dan satu lagi di bawa ke arah timur.

Air yang ditumpahkan oleh bapaknya itu sekarang dikenal sebagai Situ Lembang. Bapaknya juga meminta kepada Maribaya untuk menumpahkan air dalam bokor tidak jauh dari rumahnya.

Beberapa hari kemudian, keajaiban terjadi. Di tempat Maribaya menumpahkan air, muncul mata air panas yang mengandung belerang. Air panas tersebut berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Lalu tempat itu menjadi ramai dikunjungi penduduk sekitar yang mau berendam di kolam air panas itu. Dan mereka melemparkan uang logam ke dalam kolam sebagai imbalan.

Kolam air panas ini diwariskan kepada Maribaya sehingga daerah itu terkenal dan dinamakan Maribaya.

Tiket masuk Maribaya Resort pun terjangkau. Hanya Rp35.000,- dengan bonus air mineral. Tempat parkirnya luas. Sayangnya, untuk menikmati fasilitas lain seperti pemandian air panas, permainan anak, kita harus membayar lagi. Tapi tetap, harga Rp35.000,- itu pantas untuk pengelolaan dan kenyamanan yang kita dapatkan selama berkunjung ke sini.