Category Archives: Catatan Perjalanan

Menikmati Keindahan Curug di Maribaya Resort

Bagi yang senang liburan ke Bandung, nama Maribaya pasti sudah tidak asing lagi. Apalagi, setelah ada Maribaya Lodge, yang foto-fotonya happening banget di Instagram. Bukan cuma Maribaya Lodge, di Maribaya ada berbagai pilihan tempat wisata seperti Taman Hutan Raya dan Maribaya Resort.

Satu hal yang perlu dicatat, kalau mau ke Maribaya jangan lewat Dago. Kalau hari libur, macet sekali. Saya sendiri karena berumah di Cigadung, dan memakai motor, jadi dari Cigadung, ya tinggal ke atas lewat Dago Atas. Nah, sebelum saya pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke Maribaya Resort. Dua kali pula.

Maribaya memiliki air terjun/ curug yang sebenarnya terdiri dari 3 rangkaian. Dua di antaranya yakni Curug Cikawari dan Curug Cigulung ada di Maribaya Resort. Satu lagi bernama Curug Cikoleang. Ada yang bilang 4 dengan memasukkan Curug Omas sebagai Curug Maribaya, padahal bukan.

Curug Cikawari
Curug Cigulung

Maribaya berasal dari kata “Mari” yang berarti sehat dan “Baya” yang berarti bahagia. Maribaya juga memiliki legenda.

Dahulu kala, ada seorang petani miskin yang bernama Eyang Raksa Dinata yang mempunyai seorang anak gadis yang cantik jelita bernama Maribaya. Karena sangat cantik, bapaknya khawatir kalau anaknya jadi rebutan bagi para pemuda di daerahnya. Beliau pun mendapatkan ilham dan pamit pergi ke Tangkuban Perahu. Ia bertapa di sana dan dalam tapanya, ia didatangi oleh seorang kakek yang memberikannya dua bokor (pinggan besar bertepi lebar) berisi air. Salah satu bokor tersebut harus dibawa ke arah barat dan satu lagi di bawa ke arah timur.

Air yang ditumpahkan oleh bapaknya itu sekarang dikenal sebagai Situ Lembang. Bapaknya juga meminta kepada Maribaya untuk menumpahkan air dalam bokor tidak jauh dari rumahnya.

Beberapa hari kemudian, keajaiban terjadi. Di tempat Maribaya menumpahkan air, muncul mata air panas yang mengandung belerang. Air panas tersebut berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Lalu tempat itu menjadi ramai dikunjungi penduduk sekitar yang mau berendam di kolam air panas itu. Dan mereka melemparkan uang logam ke dalam kolam sebagai imbalan.

Kolam air panas ini diwariskan kepada Maribaya sehingga daerah itu terkenal dan dinamakan Maribaya.

Tiket masuk Maribaya Resort pun terjangkau. Hanya Rp35.000,- dengan bonus air mineral. Tempat parkirnya luas. Sayangnya, untuk menikmati fasilitas lain seperti pemandian air panas, permainan anak, kita harus membayar lagi. Tapi tetap, harga Rp35.000,- itu pantas untuk pengelolaan dan kenyamanan yang kita dapatkan selama berkunjung ke sini.

Kenangan Ramadhan di Sumbawa

“Jika lebah menghilang dari muka bumi, manusia hanya punya waktu empat tahun untuk hidup.”

Einstein memang pernah salah tentang satu hal ketika mengatakan black hole itu tidak ada, tetapi pendapatnya tentang lebah ini harus aku setujui.

Tak ada yang menyangka, pada penempatan intansi, lulusan dari Akuntansi Pemerintahan cukup banyak ditempatkan di Ditjen Perbendaharaan. Dan setelah menjalani kurang lebih 6 bulan masa magang,  10 Juni 2011 silam, kami dikumpulkan dalam suatu ruangan lalu diberikan pengarahan, “Kalian tahu, seekor lebah hanya akan mengisap sari bunga dan menghasilkan madu. Kalian sudah memperoleh yang baik itu dan akan memberikan yang baik pula bagi bangsa ini. Ingat, lebah tidak pernah merusak bunga yang ia hinggapi.” Aku tak paham maksud kata-kata itu sampai kemudian dua surat keputusan diserahkan.Yang pertama membuat kami sumringah karena berisi surat pengangkatan kami sebagai calon pegawai negeri sipil sementara yang kedua membuat beberapa di antara kami menangis tersedu-sedu melihat nama daerah tempat kami akan menuju. Kebijakan DJPBN menempatkan kami pada KPPN tipe A2 di luar pulau Jawa. Itu artinya, nama-nama seperti Saumlaki, Tahuna, Tobelo, sampai kota-kota bersuku kata ulang seperti Fak-fak dan Bau-bau yang bahkan tak pernah kami dengar di pelajaran Geografi harus menjadi karib mulai saat ini. Aku membuka surat milikku dan nama Sumbawa Besar tertera di dalamnya. Ada dua hal yang terkenal dari kota ini: susu kuda liar dan madu.

NTB terkenal dengan suasananya yang Islami. Bila Lombok dikenal Pesona Seribu Masjid, Sumbawa sendiri dikenal dengan prinsip adatnya yang bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah, sama dengan prinsip di Sumatra Barat. Maka tak heran apabila setiap ada hari atau pun bulan besar keagamaan, masyarakat akan menyambutnya dengan gegap gempita.

Momen awal ini begitu berkesan, karena tak lama setelah penempatan, aku menikah. Tepatnya 1 Juli 2011. Dan tak lama setelah itu, bulan Ramadhan datang. Artinya, itu menjadi Ramadhan pertamaku di Sumbawa, dan Ramadhan pertamaku bersama istri tercinta pula. Lebih spesialnya lagi, pada bulan Ramadhan itulah, istriku tak lagi datang bulan.

Di kantor, saya kerap bertemu dengan petugas satker. Salah satu yang paling rame berasal dari Kecamatan Empang. Dia kerap menawarkan kerupuk dan ikan-ikan segar kepada pegawai. Tentu, kami tak pernah meminta dan kerap menolaknya karena khawatir itu semacam gratifikasi. Tapi, kami tak pernah melarangnya bercerita.

Dia bercerita tentang tradisi Mangan Roa di Empang. Mangan Roa berarti makan sepuas-puasnya yang dilakukan pada Jumat terakhir sebelum Ramadhan. Dan yang boleh makan hanyalah para lelaki dan anak-anak kecil. Sementara itu, pihak perempuan berkewajiban menyiapkan hidangannya.

Ilustrasi Mangan Roa. Hidangan ditaruh di Dulang (nampan)

Mangan Roa ini sebenarnya dilakukan tiga kali setahun. Selain setelah shalat Jumat pada Jumat terakhir sebelum Ramadhan, Mangan Roa juga dilaksanakan pada hari kedua bulan Syawal dan pada saat Idul Adha.

Lain halnya dengan teman di Sumbawa Barat. Ia bercerita mengenai tradisi Dila Leman. Pada malam ganjil di 10 malam terakhir bulan Ramadhan, masyarakat akan menyalakan pelita atau lampu tradisional di depan rumahnya. Listrik dimatikan. Dan diharapkan masyarakat akan khusuk beribadah pada malam-malam tersebut demi meraih Lailatul Qadar.

Junjung Sasaji

Sebenarnya banyak tradisi Sumbawa lain dalam menyambut bulan Ramadhan. Misalnya, Junjung Pasaji dan Mangan Barema. Tradisi ini masih dilakukan di Desa Tatede di Kecamatan Lopok. Para perempuan mengenakan pakaian adat beriringan sambil menjunjung makanan menuju kantor desa ntuk menjamu tamu kehormatan pada acara Mangan Barema (makan bersama) menyambut datangnya Ramadhan.

Sebagai pengantin baru, kami sangat menikmati hari-hari di Sumbawa selayaknya bulan madu. Kami tak khawatir bila tak masak, karena selama Ramadhan, penjual lauk-pauk berlimpah di sepanjang jalan di Labuhan dan Lempeh. Dan banyak makanan khas NTB yang cocok di lidah kami. Salah satunya Ayam Taliwang. Saat menulis ini pun, membayangkan rasa ayam taliwang dicampur sambal dan plecing kangkungnya itu membuat liurku ingin menetes.

Ayam Taliwang

Namun, makanan paling khas di Sumbawa bukanlah Ayam Taliwang. Teman-teman pegawai lokal di kantor paling suka dengan Sepat, Singang, dan Sirasang. Sepat bisa dibilang ikan dimasak kuah. Kuahnya diberi belimbing wuluh dan mangga muda biar terasa segar. Singang mirip dengan Sepat, namun lebih asam. Warnanya kuning dari kunyit. Sementara Sirasang tidak berkuah. Sirasang adalah ikan bakar bumbu kuning khas Sumbawa. Saya paling suka Sirasang.

Dua elemen tersebut, tradisi dan makanan, tentu akan lebih lengkap jika ditambahkan elemen terakhir. Yak, alam Sumbawa itu sendiri. Bulan puasa biasanya diwarnai dengan kebiasaan jalan pagi selepas Subuh atau ngabuburit saat menunggu berbuka puasa. Jujur, kita bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam sempurna di Sumbawa. Tak perlu jauh-jauh… cukup pergi ke Jembatan Polak di Labuhan untuk melihat matahari terbenam.

Matahari Terbenam

Maka, mengutip sebuah ayat suci, Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Engkau Dustakan?

Curug Cimahi a.k.a Curug Pelangi

Saya pikir sudah cukup, berhadapan dengan 250 anak tangga saat ke Bromo beberapa bulan silam membuat saya tak ingin lagi melihat anak tangga. Namun, tak disangka, tatkala diajak seorang teman ke Curug Cimahi beberapa waktu lalu, saya harus menjajal 587 anak tangga lain.

Curug Cimahi kini lebih dikenal dengan nama Curug Pelangi, dikarenakan telah terpasang lampu di air terjun. Pada malam hari, lampu-lampu itu akan bersinar berwarna-warni dan menampilkan pesona tersendiri. Sayangnya, saya tak ke sana pada malam hari sehingga tak berkesempatan menyaksikan pemandangan unik yang tersohor itu.

Curug Cimahi bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam dari kota Bandung dengan menggunakan motor. Dari Bandung, kita bisa lewat jalan menuju Lembang, lalu di perempatan sebelum tahu susu Lembang, belok ke kiri melewati Imah Seniman, Villa Istana Bunga, Gereja Advant hingga kemudian melewati jalan berkelak-kelok dengan pemandangan yang begitu elok. Satu jam perjalanan akan tidak terasa.

Air Terjun Cimahi ini, memiliki ketinggian sekitar 87 m, merupakan salah satu curug yang tertinggi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Nama Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya yaitu Sungai Cimahi yang berhulu di Situ (danau) Lembang dan mengalir ke Kota Cimahi. Curug ini berada di ketinggian 1050 m dpl dengan suhu di kawasan ini berkisar 18-22 derajat Celsius.

Saat ini, kita cukup membayar Rp15.000,- per orang untuk tiket masuk. Cukup murah. Namun harga yang mahal adalah perjuangannya untuk menuruni anak tangga. Ditambah ketika pulang, pendakian tak akan mudah.

Ada beberapa tempat pemberhentian untuk beristirahat. Seperti sebuah beranda dengan kursi dan meja untuk menikmati panorama yang ada.

Di sekitarnya juga kadang muncul monyet-monyet. Dilarang keras memberi makanan kepada mereka karena bisa saja mereka akan malah mengganggu kita.

Karena aksesnya yang begitu mudah, murah pula, ada baiknya kamu tak melewatkan kesempatan untuk datang ke Curug Cimahi bila liburan ke Bandung. Sensasi deru air yang jatuh seperti cinta yang jatuh. Ah. Tapi ingat, siapkan fisikmu jika tak mau tepat di tengah jalan!

Mengenal Air Terjun Oehala di Soe

Air terjun Oehala
Berenang di Oehala

Perjalanan dinas ke Kupang beberapa bulan silam meninggalkan kenangan yang berarti. Bakda perjalanan dinas ke Kanwil Perbendaharaan Provinsi NTT, aku melanjutkan perjalanan pribadi seorang diri menuju Mollo, Timor Tengah Selatan. Di sana ada seorang teman, cerpenis bernama Dicky Senda, yang pertama kutemui di residensi penulis Asean Literary Festival.

Sebenarnya ingin sekali aku mengikuti trip singkat yang ia adakan dalam tajuk desa wisata yang tengah ia galang. Ia bercerita mengenai kebudayaan orang Mollo, hutan penyihir, tomat mungil asli Mollo, jagung bose, dan puncak Fatumnasi yang tertinggi di NTT. Namun, karena alasan keterbatasan waktu (dan fisik), aku tak mampu mengikuti perjalanan itu.

Selepas dari hotel, aku tadinya ingin pergi ke terminal. Namun, malasnya menaiki bis adalah ngetem, sehingga aku memilih naik travel saja. Meski sama saja, aku harus menunggu juga. Tapi, setidaknya naik travel Avanza ini lebih nyaman.

“Nanti kalau sudah sampai Soe, bilang ya?” ujar Senda lewat pesan singkat.

Soe berjarak 110-an kilometer dari Kupang. Ibukota dari Timor Tengah Selatan ini dijuluki sebagai kota beku, karena suhu udaranya yang lebih dingin dari wilayah lain. Perjalanan ke sana begitu eksotis dengan pohon flamboyan yang baru berbunga, berganti pemandangan laut dari atas bukit, lalu ladang-ladang yang membentang dengan hewan ternak yang dilepas begitu saja, penjual jagung rebus manis yang murah meriah (10.000 dapat 6), lalu jalan berkelak-kelok menaiki bukit kembali, hutan rimba, dan jalan yang dipenuhi kupu-kupu. Semua itu dapat kita nikmati sampai kita rasakan suhu udara lebih dingin, itu tandanya kita sudah mendekati Soe.

Tak Ada Sinyal

Sesampainya di Soe, ternyata sinyal cukup susah. Setelah kepayahan menghubungi Senda, akhirnya tersambung juga dan kami bisa bertemu di depan sebuah penginapan. Seorang temannya sedang di hotel itu, baru saja mendaki dan bermalam di Fatumnasi.

Setelah menghabiskan sepiring makanan Padang (terpujilah warung Padang yang ada di mana-mana), Senda mengajakku mengunjungi air terjun Oehala. Tak jauh, katanya. Tak sampai setengah jam dari Soe.

Air terjun Oehala

Akses air terjun ini terbilang cukup mudah. Dari parkiran kendaraan, kita hanya harus turun melalui medan yang sudah disiapkan (disemen) sehingga terasa lebih mudah. Dan sungguh, pemandangan yang kusaksikan membuatku sumringah. Air terjun ini bertingkat-tingkat, dengan air yang menggoda minta diberenangi.

Indahnya Air Terjun Oehala

Berada di kaki gunug mutis, air terjun ini disebut juga air terjun tujuh tingkat karena undakannya yang ada tujuh. Oehala berasal dari bahasa Timor atau bahasa Dawan yang berarti air tempat persembahan, atau bisa juga air kedamaian.Sesuai namanya, air terjun yang berada di tengah hutan rimba ini betul-betul menawarkan kesejukan dan kedamaian. Tak ragu, aku langsung melepas baju dan berenang di air terjun ini. Sungguh segar sekali.

Air terjun Oehala
Beruntungnya lagi, pada saat ke sana, Oehala sedang sepi-sepinya. Bisa dilihat ‘kan, aku bisa berfoto sendirian dengan latar air terjun ini? Indah, bukan? Di bawahnya sebenarnya masih ada tingkat selanjutnya, namun aku sudah kadung tergoda untuk berenang, berenang dan berenang.

Aku bertanya-tanya bagaimana asal-usul Oehala, namun Senda bilang dia tidak tahu. Oehala memang terkenal dari dulu sebagai tempat beristirahat orang Soe dan sekitarnya. Aku pikir Oehala bisa menjadi magnet yang luar biasa bagi wisatawan. Sayangnya untuk fasilitas yang ada kurang memadai. Tidak ada toilet yang layak. Tempat beristirahat berupa lopo (saung khas NTT) kurang terawat. Penjual makanan dan ala-ala khas NTT pun bisa dibilang tak ada. Tapi, mungkin saja, itulah yang tetap menjaga kealamian Oehala.

Kamu tertarik buat ke sini juga? Yuk!

Kebo Nange Hingga Ma Inang Kabau

“Kenapa ikan nggak bisa ngomong, Ayah?” tanya anakku yang saat itu masih berusia 3,5 tahun.

Mendadak aku teringat sebuah film Korea. Dengan pertanyaan yang sama, Cha Tae Hyun menjawab, “Coba kau masuk ke dalam air, bisa ngomong nggak?”

Tentu aku tidak menjawab demikian. Aku diam, berpikir. Anakku menyusulkan sebuah pertanyaan lain, “Kenapa ikan bisa berenang, Ayah?”

Pernah aku berpikir, hanya ikan yang bisa berenang. Tapi momen di Taman Safari, aku melihat monyet bisa berenang. Di televisi juga kulihat harimau bisa berenang. Bahkan, ketika penempatan kerja di Sumbawa, aku baru tahu bahwa kerbau juga bisa berenang. Aku bertanya-tanya, apakah kemampuan renang hewan-hewan lain didapat seperti manusia belajar berenang, atau ujug-ujug mereka memang sudah bisa dan bernaluri renang sejak dilahirkan?

Ratusan kerbau menyeberang ke Gili Rakit. Sebelumnya mereka digiring dulu ke Pantai Panjang. Barulah dari pantai mereka menyeberangi lautan, melawan arus, kurang lebih sepanjang 3 kilometer untuk dapat mencapai Gili (Pulau) Rakit.

Budaya peternakan Kerbau di Sumbawa masih mengembalakan ladang penggembalaan. Masyarakat setempat menyebutnya lar. Gili Rakit adalah salah satu lar terbesar yang ada di Sumbawa. Gili Rakit adalah salah satu pulau di perairan Teluk Saleh. Secara administratif, ia masuk di dalam Desa Labuhan Jambu, Kec. Terano.

Tradisi ini sudah berjalan lebih dari 65 tahun. Dan setiap tahunnya kita dapat menyaksikan prosesi kerbau berenang ini dalam sebuah festival yang dinamakan Kebo Nange.

Keunikan kerbau dalam tradisi masyarakat di Pulau Sumbawa tidak cuma Kebo Nange semata. Di Sumbawa Barat, ada yang tak kalah menarik. Bila di Madura ada Karapan Sapi, di Sumbawa Barat ada Karapan Kerbau.

Saat tiba musim tanam di Sumbawa, barapan kebo diadakan sebagai bagian dari wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan. Arenanya di lumpur persawahan. Sebelum balapan dimulai, kerbau dikumpulkan 3-4 hari sebelum lomba untuk diukur tinggi dan usianya. Seperti para petinju, kerbau-kerbau pun dibagi ke dalam kelas-kelas.

Tidak hanya balapan, barapan kebo juga menjadi ajang adu sandro. Sandro adalah dukun, orang sakti yang jadi jaminan kesaktian perlombaan. Pasangan kerbau yang berhasil meraih juara adalah pasangan kerbau tercepat mencapai tujuan sekalian dapat menyentuh atau menjatuhkan kayu pancang tanda finish yang disebut dengan Sakak. Nah, pada Sakak juga ada Sandro penghalangnya. Kesaktian sandro yang mem-backup joki kerbau juga ikut berpengaruh untuk melewati penghalangnya.

Kerbau-kerbau di Sumbawa ini mengingatkanku pada istriku. Sebab istriku orang Minang. Aku pernah bertanya padanya apa arti Minangkabau. Pada saat kuliah Budaya Nusantara, sang dosen bercerita tentang sejarahnya. Minangkabau berarti menang kerbau. Dahulu, tentara dari Jawa mendarat di pesisir Sumatra dan hendak memulai menaklukkan. Tapi sang pemimpin adat memberi usul agar perang diganti menjadi adu kerbau saja. Pihak penyerang menerima dan menyiapkan kerbau yang besar dan kuat. Melihat hal itu sang datuk memberi usul yang unik. Ia meminta untuk menyiapkan anak kerbau saja, tetapi anak kerbau itu harus dipisahkan dari induknya selama 2 hari. Pada telinga anak kerbau, diselipkan pisau kecil saja. Pada hari pengaduan, sang anak kerbau, melihat kerbau besar langsung mengira itu induknya dan menyeruduk ke arahnya. Pisah yang diselipkan di sela telinga anak kerbau menusuk perut kerbau besar. Anak kerbau pun menang. Jadilah minangkabau.

Istriku geli mendengar ceritaku dan bilang bukan begitu maksudnya. Baginya, minangkabau itu ma inang kabau. Ma inang berarti memelihara. Kabau/kerbau adalah hewan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Ma inang kabau berarti memelihara kehidupan.

Aku nggak tahu apa dia mencoba berfisolofi atau memang begitulah artinya.

Sebuah hal selalu memiliki pemaknaannya masing-masing. Pasti masih banyak yang lain juga tentang makna kerbau di dalam budaya nusantara yang lain. Misalnya pernah juga kudengar dari temanku yang penempatan di Aceh tentang kenduri laut Pada saat kenduri laut, kerbau hitam dilarungkan ke dalam lautan. Atau di masyarakat Batak dan Toraja. Kepala kerbau ada di rumah-rumah adat mereka. Masing-masing punya makna. Masing-masing punya pesona. Pesona budaya dan Pesona Indonesia.

 

 

 

Curug Cibareubey dan Sebuah Metafora@

 


-Seorang penyair dari Jawa Barat mengirimiku pesan minggu lalu. “Pring, jalan yuk!” katanya sambil mengunggah foto sebuah air terjun di instagram.

Dia tahu aku punya hobi jalan-jalan dan kami sudah lama berwacana mau menjelajah tempat wisata di sekitar Bandung sejak ia tahu aku telah pindah ke Bandung. Baru Kamis lalu wacana itu terealisasi. Gokilnya, kami sama-sama tidak tahu dan belum pernah ke tempat yang ingin kami tuju.

“Pokoknya mah di Subang banyak air terjun. Kita ke sana saja,” ujarnya.

Melewati Lembang, sambil googling kami kemudian memutuskan akan ke Curug Cibareubeuy. Dari jalan utama, kami berbelok ke Jalan Sari Ater. Tidak tergoda untuk mandi air panas di Sari Ater, kami meneruskan perjalanan hingga Desa Cibeusi. Motor diparkirkan di tempat penitipan. Kemudian kami berjalan kaki. Jaraknya sekitar 4 kilometer.

Aku sebenarnya agak bergidik mendengar angka 4 kilometer itu. Maklum, aku baru saja sembuh dari asma pagi itu. Malamnya saja suara tikus masih menghinggapi dadaku. Tapi, sembari meyakinkan diriku, aku pasti bisa menempuh perjalanan ini.

Ada dua jalur jalan untuk menuju Curug Cibareubeuy. Jalur pertama langsung naik ke bukit, melewati hutan. Dan jalur kedua, melewati persawahan dengan jalan meniti di pematang, meloncat dari batu ke batu. Kami memilih jalur kedua dengan alasan medan dan situasi. Musim penghujan akan membuat tanah lebih becek dan licin. Jalur yang lebih banyak mendaki akan lebih sulit dilalui. Kemudian situasi lebih aman di persawahan karena banyak petani. Kalau ada apa-apa bisa langsung bertanya ke petani ataupun meminta bantuan mereka.

Belum separuh perjalanan, napasku sudah ngos-ngosan. Beberapa kali kami beristirahat, duduk d atas batu dan bertanya, “Masih jauh nggak sih?” Sampai kemudian sebuah pemandangan membuat semangat. Air terjun itu terlihat dari kejauhan. Di sini, saya meresapi satu hal. Apabila kita menetapkan sebuah tujuan ataupun sebuah visi, tujuan/visi tersebut selain terukur juga harus dapat terlihat. Jika setiap kita mampu melihatnya, dengan rela dan semangat kita akan menujunya.

Setelah melalui areal persawahan, kami mulai memasuki hutan. Sebelumnya kami sempat bertanya ke petani, masih berapa jauh. Petani itu menjawab dekat, tinggal satu tanjakan lagi. Dan tanjakan yang dimaksud sungguh terlalu. Hampir saja aku berangkat nekat memakai sandal jepit tapi urung. Jika aku pakai sandal jepit, tentu aku tak akan mampu mengatasi tanjakan seperti ini. Terjal dan licin sekali.

Sesampainya di ujung tanjakan, kami menemukan sebuah saung. Seorang lelaki tua menyapa kami. Kami ditawari air nira hangat dan tentu tawaran itu kami terima. Segelas kami membayar 5000 saja dan merasakan kealamian tiada dara, pengembali tenaga yang telah terkuras sepanjang perjalanan. Sambil menyeruput wedang, Si Bapak bercerita ternyata hidup terpisah dari keluarganya. Di sini ia punya 6 batang aren. Dari tiap aren itu dalam satu hari menghasilkan sekitar sepuluh gelas. Sehari-hari, ia membuat gula aren dari nira yang dipanennya.

Setelah wedang tandas, kami melanjutkan perjalanan. Hanya sekitar 10-15 menit kemudian, kami sampai ke tujuan. Suara gemuruh air terjun mulai terdengar dan senyum merekah di bibirku. Tiket masuknya Rp10.000,- saja. Dan itu harga yang sangat murah dibandingkan pemandangan yang disajikan.

Curug Cibareubey tingginya sekitar 70 meter. Dan yang kuingat dari setiap air terjun yang kutemui adalah pelajaran ketika SD. Setiap bicara energi potensial, maka buku pelajaran selalu menyebut air terjun. Ketinggian air terjun memberikan energi potensial pada air. Sekian persen dari energi air tersebut bisa diubah menjadi energi listrik.

Aku duduk di atas batu di dekat air terjun dan merenung. Sementara temanku sudah asik nyemplung di bawah air terjun. Di organisasi tempatku bekerja, Kementerian Keuangan, tengah terjadi Transformasi Kelembagaan. Dari sisi struktur organisasi, akan ada banyak perubahan. Misalnya, Pajak dan Bea Cukai tak lagi berada di Kemenkeu dan menjadi Badan terpisah yang berada di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian, penggabungan beberapa unit eselon I untuk menajamkan fungsinya. Dan banyak pegawai yang belum siap berubah. Aku pikir, hal itu disebabkan karena mereka belum mampu melihat tujuan, tidak memahami jalan ke tujuan, atau jangan-jangan belum memahami posisi saat ini.

Sementara bagi rakyat, mungkin tak mau tahu menahu soal perubahan yang akan terjadi. Tapi rakyat yang kian kini kian kepo harusnya dapat diperlihatkan produk-produk, output-output dari kegiatan yang sudah dilakukan dan sedang akan dilakukan oleh organisasi. Ada banyak hal indah seperti air terjun Cibareubeuy dalam sebuah perubahan itu. Misalnya saja, sawah-sawah yang kulewati tadi. Mereka adalah sawah-sawah para kelompok tani. Para kelompok tani kerapkali menjadi tujuan dari belanja bantuan sosial atau belanja barang yang diserahkan ke masyarakat, seperti skripsi yang kini tengah kukerjakan, yang objeknya adalah anggara irigasi tersier di Jawa Barat. Karena perubahanlah, sekarang, penyaluran belanja itu langsung ke rekening penerima (kelompok tani), tidak perlu melalui bendahara dinas terkait. ketat dan diawasi pula sehingga secara mekanisme seharusnya uang itu diterima utuh oleh petani, tanpa ada yang memotong.

Perubahan yang dilakukan saat ini tentu saja adalah untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam rangka pelayanan publik. Dengan begitu, kupikir, aku akan dapat membantah Mochtar Lubis suatu saat nanti. Kukatakan bahwa ada lho orang-orang yang menjadi PNS dengan niatan pengabdian. Orang-orang inilah yang ketika meninggikan kualitas dirinya, meninggikan tingkat kinerjana akan menjadi energi potensial bak air terjun itu.

Selepas termangu di atas batu dan takut kesambet, aku pun akhirnya turut membuka maju dan nyemplung ke bawah air terjun demi merasakan air-air yang jatuh itu memijat tubuhku. Sebelum akhirnya hujan datang dan dengan cekatan kami ngacir dari curug dan menyantap semangkuk mie yang dijual oleh Abah Ocid, pemilik Kampung Senyum yang menyediakan tempat untuk para musafir di sekitar curug.

(2016)