Category Archives: Catatan Perjalanan

Air Terjun Suhoom Lhoong, Aceh Besar

Perjalananku ke aceh berlanjut ke air terjun Suhoom Lhoong. Ada yang mengejanya hanya Suhom, menyebutnya hanya Lhoong, atau nama lain seperti Krueng Kala,  Kami (bersama temanku Cici dan kekasihnya) berangkat ke sana setelah puas merenung di Museum Tsunami Aceh.


BACA PULA : JALAN-JALAN KE MUSEUM TSUNAMI ACEH


Air terjun Suhoom Lhoong terletak di Desa Kreung Kala, Kec. Lhoong, Kab. Aceh Besar, Provinsi Aceh. Jarak dari kota Banda Aceh sekitar 75 kilometer. Penamaan air terjun ini terlihat berdasarkan lokasi, selain kata “Suhoom” yang berarti gemuruh. Memang gemuruh air terjun ini dahsyat sekali. Continue reading Air Terjun Suhoom Lhoong, Aceh Besar

Curug Aseupan di Bandung Barat

Curug Aseupan, curug ini belakangan menjadi salah satu primadona di Bandung Barat, Jawa Barat. Curug Aseupan terletak di kawasan Curug Tilu Leuwi Opat.

Cara menuju ke sana sangat mudah. Dari Kota Bandung, kita berkendara menuju arah Lembang, bisa lewat Setiabudi atau bisa lewat Dago Atas. Sebelum Tahu Susu Lembang, belok kiri menuju Parongpong. Disarankan bermotor untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Apalagi kalau hari libur.

Ada dua rute dari di Parongpong. Pertama, masuk melalui villa Istana Bunga, jalan terus ke belakang, nanti di sebelah kiri ada jalan kecil yang melewati ladang pertanian dan langsung sampai di pintu masuk Curug Tilu Leuwi Opat. Jalan lain adalah terus jalan, tidak usah berbelok di villa Istana Bunga, melewati gereja Advent hingga pintu masuk Curug Cimahi atau Curug Pelangi. Di dekatnya, di seberang, ada Ciwangun Indah Camp. Masuk dari gerbang itu kira-kira 200 m.

Curug Aseupan Bandung

Harga tiket masuknya cuma Rp10.000,- saja. Sebenarnya, di kawasan ini ada beberapa curug lain yaitu Curug Tilu, Curug Cilaki, Curug Citulang (yang akan dibahas pada kesempatan lain). Namun, saat itu karena waktu dan suasana, tidak sempat menjelajahi semuanya. Di sini juga banyak arena outbound. Khusus untuk Aseupan, untuk naik ke curug, ada biaya tambahan Rp10.000,- lagi.

Sebenarnya saya penasaran kenapa dinamai Aseupan. Dalam bahasa Sunda, Aseupan artinya: kerucut, kukus, kukusan. Bingung apa hubungannya.

Curug Aseupan Kalau Musim Hujan
Curug ini sendiri baru dibuka belum sampai 2 tahun terakhir. Jadi memang baru. Disarankan ke sini pas musim hujan. Saya sedikit sial, karena datang saat musim kemarau. Airnya sedikit sekali.
Jadi, kamu yang pemburu curug, mainlah ke sini. Ajak keluargamu. Tunggu apalagi.

Foto-foto saya saat kedua kali ke Curug Aseupan

Curug AseupanCurug Aseupan

 

Perjalanan ke Mantar, Sumbawa Barat

Perjalanan ke Mantar, Sumbawa barat bersama teman-teman Adventurous Sumbawa begitu berkesan. Kami naik motor beramai-ramai dari Sumbawa Besar, menempuh jarak kurang lebih 120 km. Kemudian motor kami titipkan di rumah warga sebelum menyewa mobil yang secara khusus membawa penumpang naik ke Mantar dengan sudut elevasi jalan lebih dari 45 derajat. Ditambah lagi jalannya tidak mulus, berbatu-batu, dan tidak memiliki pelindung di bahu jalan. Sekali terpeleset, salah mengegas, kita bisa langsung terjun bebas ke jurang-jurang.

Ada beberapa hal terkait Mantar yang harus kamu ketahui. Berikut beberapa di antaranya: Continue reading Perjalanan ke Mantar, Sumbawa Barat

River Tubing di Goa Sari

Tubing di Goa Sari. Dokumentasi pribadi.

Bagaimana rasanya duduk pasrah di ban, lalu dihanyutkan di sungai berbatu dengan arus yang cukup kencang?

Kata kunci kepasrahan inilah yang membedakan river tubing dengan raftingataupun body rafting.Sudah tiga kali saya mencoba rafting. Ketangkasan dibutuhkan untuk mengikuti instruksi dari pemandu dalam menggerakkan dayung, maupun gerak tubuh saat menghadapi jeram. Begitu juga dengan body rafting, yang membutuhkan kehati-hatian dan kesigapan yang sangat agar tidak tertabrak bebatuan maupun mampu menangkap tali yang dilemparkan pemandu agar tidak terhanyut arus. Tubing berbeda. Saya harus pasrah dan percaya pada pemandu.

Dari dulu, saya ingin mencoba tubing.Goa Pindul yang terkenal itu sepertinya seru. Namun, melihat betapa padat pengunjung menyesaki pintu goa, antre sedemikian rupa, keinginan saya sirna.

Kesempatan datang ketika saya berkunjung ke Solo. Bermodal Om Google, saya mencari tempat wisata yang direkomendasikan. Salah satu tempat yang muncul adalah Goa Sari River Tubing.

Goa Sari River Tubing terletakdi lereng Gunung Lawu atau di Seguwo, Puntukrejo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Tepatnya di tengah-tengah rute dari terminal Karangpandan menuju Candi Cetho dan Candi Sukuh, searah dengan Air Terjun Jumog. Saya lihat Google Maps, jaraknya hanya 30-an kilometer. Tak ragu, segera saya menyewa motor dan berangkat ke sana.

Yang unik adalah di tempat ini memang betul ada Goa. Awalnya hanya goa kecil, lalu sang pemilknya Sunarto, seorang guru SD, melakukan penggalian, pembentukan relief-relief selama kurang lebih 3 tahun. September 2011 goa ini diresmikan. Tarif masuknya hanya Rp3.000,-. Saya sendiri kurang berminat untuk masuk ke goa tersebut—karena saya sendirian.

Saya langsung mencoba menu utama, yakni river tubing. Tarifnya Rp25.000,-. Namun, karena saya sendirian, tarifnya dilebihkan. Tak masalah karena saya begitu penasaran dengan sensasinya. Privat river tubing sejauh 2,5 km bersama seorang pemandu terasa murah. Ban besar pun disiapkan bersama perlengkapan dasar: pelampung, helm, dan sepatu anti selip.

Sungai yang airnya berasal dari air terjun Jumog ini cukup deras. Saya grogi dan semakin penasaran seperti apa rasanya menyusuri sungai dengan ban.

Setelah melangkah kaki di sela ban, duduk, mencari posisi wuenak, perjalanan pun dimulai. Air dan udaranya terasa sejuk. Degup jantung pun mulai terasa mengencang saat ban mulai menumbur bebatuan. Jeram-jeram kecil di sungai juga membuat perjalanan semakin seru.

Sayangnya, karena hujan semalam, mengakibatkan jalur yang dilalui sedikit terganggu. Beberapa kali perjalanan mesti terhenti karena si pemandu harus menyingkirkan kayu-kayu dan batu-batu yang menghalangi jalan.

Pasrah-pasrah ngeri. Dokumentasi pribadi.

Momen paling istimewa adalah ketika saya memasuki hutan bambu raksasa. Bambu-bambu yang melengkung menutupi sungai sangat indah. Saya menyesal tidak membawa kamera khusus untuk merekam perjalanan ini.

Sedang asik-asiknya menikmati suasana, aliran arus yang lumayan tenang, membuat saya lengah. Satu jeram di depan mata membuat saya tidak mawas diri. Saya terbalik. Sikut saya menumbur batu. Berdarah sedikit. Sakit. Tiga kali rafting, satu kali body rafting saya tak apa-apa. Tapi ini, saya terbalik. Benar kata pepatah, situasi yang aman seringkali membuat kita lengah.

Istirahat sebelum nyemplung. Dokumentasi pribadi.

Setelah sempat berhenti di bagian sungai yang agak dalam, bermain air, foto-foto sebentar, perjalanan berakhir tak lama kemudian. Sungguh, ini adalah pengalaman yang berharga.

Di ujung perjalanan, saya dijemput oleh mobil pick up. Saya naik di belakang, duduk menghadap jalan yang ditinggalkan. Suasana pedesaan yang alami adalah suasana yang sempurna bagi binatang pekerja Jakarta seperti saya.

Sesampainya di tempat memulai, saya memesan ayam grepe (baca: geprek, hehe). Menunya beragam sebenarnya. Tapi liur saya sudah menetes membayangkan ayam pedas yang enak itu. Dan benar, masakannya benar-benar enak.

Saya pikir dengan pembenahan dan promosi yang tepat, Goa Sari River Tubing ini bisa jadi tujuan wisata yang sangat menarik sekali. Arealnya luas, bisa jadi tempat out bound yang sempurna. Ada kolam renang, gazebo untuk duduk-duduk melihat pemandangan, dan fasilitas lain seperti bola air, tubingarena, trail adventure, egrang, permainan tali, flaying foxoffroad dengan mobil jeep, ATV.

Sejatinya, karena tidak akhir pekan, saya ingin melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Lalu, saya tetap ingin mengunjungi Goa Pindul. Pasti di sana sedang tidak seramai akhir pekan. Masih bisa dinikmati. Namun, rencana ke Jogja itu saya batalkan karena Jogja bukanlah tempat hanya untuk jalan sendiri. Jogja lebih seru jika jalan bersama keluarga.

Lain kali saya ingin pergi ke Jogja dengan mengajak anak dan istri. Di sana, ketimbang bermotor, lebih baik menyewa mobil. Rental mobil Jogja banyak dan relatif murah. Salah satunya adalah Omocars. Tarifnya mulai 250 ribuan. Kelebihan utamanya adalah sewa mobilnya benar-benar 24 jam/ bukan harian. Jadi kalau pinjam jam 8 pagi, bisa kembali besok jam 8 pagi juga. Nggak terburu waktu harus pukul 24.00.

Sudah lama saya tak liburan bareng keluarga. Terakhir liburan keluarga ke Belitong beberapa tahun lalu. Habis lebaran, jadwal ke Jogja sudah ada. Selain Goa Pindul, Air Terjun Sri Getuk wajib jadi incaran utama. Tak lupa keliling kota Jogja, mencicipi berbagai aneka kuliner yang ada. Ah, pasti seru sekali.

Jalan-jalan ke Museum Tsunami Aceh

Akhir 2017 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Aceh. Satu tempat yang tak ingin saya lewatkan adalah Museum Tsunami Aceh.

Tiga belas tahun berlalu sejak bencana mahadahsyat yang menewaskan banyak nyawa itu. Saya bersama seorang kawan yang mengalami bencana itu. Saat tsunami terjadi, ia berada di rumah yang letaknya cukup jauh dari bibir pantai. Untungnya, rumahnya 2 lantai. Ia menyaksikan air ibarat pasukan yang maju menerjang bersama entah berapa kubik barang-barang terbawa arus. Untung ia di dalam rumah sehingga ia tak harus merasakan terantuk barang-barang yang terbawa arus itu. Ia menggigil dan ketakutan melihat apa yang tengah terjadi kala itu.

Museum Tsunami Aceh ini yang kutahu adalah hasil rancangan Ridwan Kamil. Meski kini terkenal sebagai wali kota Bandung yang sudah menjadi calon Gubernur Jawa Barat, banyak yang tidak tahu kalau Museum Tsunami Aceh adalah karya beliau. Ridwan Kamil adalah arsitektur terkemuka di republik ini. Ia juga merupakan seorang dosen jurusan arsitektur di ITB. Ridwan Kamil berhasil memenangkan ‘Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh’ yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007.

Museum Tsunami Aceh mulai terbuka untuk umum pada 8 Mei 2009. Desainnya unik, dan memiliki dua makna. Bila dilihat, atap Museum Tsunami Aceh terlihat seperti gelombang laut yang merefleksikan gelombang tsunami. Namun, bila dilihat dari samping, museum ini tampak mirip dengan kapal penyelamat yang memiliki geladak yang luas sebagai ruang pelarian.

Begitu masuk, kita menemui lorong gelap seolah-olah memasuki lorong gelap gelombang tsunami dengan ketinggian 40 meter dengan efek air jatuh. Agak basah sedikit, tapi tidak apa-apa. Kecuali bagi yang takut gelap dan masih phobia dengan tsunami, tidak disarankan untuk masuk dari jalur ini. Setelah melewati tempat ini, puluhan standing screen menyajikan foto-foto pasca tsunami berupa kerusakan dan kehancuran serta kematian, yang penuh dengan gambar korban dan gambar pertolongan terhadap mereka.

Sumur Doa di Museum Tsunami Aceh

Setelah itui, kita akan memasuki “Ruang Penentuan Nasib” atau “Fighting Room”, sering disebut juga The Light of God. Ruangan ini berbentuk seperti cerobong semi-gelap dengan tulisan Allah pada bagian puncak. Hal ini merefleksikan perjuangan para korban tsunami. Nama-nama mereka yang menjadi korban terpatri di dinding cerobong sebagai korban. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa masih ada harapan, terus berjuang seraya mengharapkan belas kasih dari Yang Maha Menolong. Begitu mereka yakin akan adanya pertolongan Allah, maka mereka seakan seperti mendengar adanya panggilan ilahi dan terus berjuang hingga selamat keluar dari gelombang tersebut.Tempat ini juga ada yang menyebutnya sebagai “Sumur Doa”.

Jembatan Harapan

Keluar dari ruangan ini, kita akan bertemu dengan Jembatan Harapan (Hope Bridge). Di atas jembatan ini, kita akan melihat bendera 52 negara, yang telah mengulurkan bantuan untuk para korban. Melalui jembatan ini, seperti melewati air tsunami menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Setelah itu, kita akan melihat banyak foto dan artefak tsunami. Ada jam berdiri besar yang mati saat waktu menunjukkan pukul 8.17 menit atau foto jam Mesjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan mati juga pada saat tersebut. Artefak lainnya ialah miniatur-miniatur tentang tsunami. Misal, orang-orang yang sedang menangkap ikan di laut dan berlarian menyelamatkan diri saat gelombang melebihi tinggi pohon kelapa menerjang mereka. atau bangunan-bangunan rumah yang porak-poranda oleh gempa sebelum datang air bah menyapu bersih.

Naik ke lantai tiga, di sana terdapat bermacam-macam sarana pengetahuan gempa dan tsunami berbasis iptek. Dia ntaranya sejarah dan potensi tsunami di seluruh titik bumi, simulasi meletusnya gunung api di seluruh Indonesia, simulasi gempa yang bisa disetel seberapa skala richtel yang kita mau.

Di lantai bawah, seharusnya ada kolam yang berisi ikan. Namun, saat saya ke sana, kolam itu tak berisi air sama sekali.

Saya sempat duduk di jembatan harapan sambil memandangi kolam kosong itu. Saya membayangkan jika saya adalah korban tsunami. Pasti rasanya pedih sekali. Lebih pedih dari tidak punya sinyal internet. Bila tidak punya sinyal internet, kita bisa sewa modem gratis di Iziroam misalnya. Tapi dalam keadaan terseret arus, kepada siapa kita berharap? Hanya kepada Allah.

Salah satu bendera di atas jembatan adalah bendera Jepang. Entah kapan aku bisa pergi ke Jepang, negara yang ada dalam list salah satu negara yang harus kukunjungi. Di sana pasti sudah bisa Rental Wifi Jepang atau Rental modem Jepang atau Rental Modem Wifi Jepang. Tapi entah bagaimana orang-orang di negara yang sering tsunami itu bisa menghubungkan diri ke Tuhan?

 

(2018)

 

Lagoi, Sekilan dari Singapura

Hujan turun tipis, tetapi enggan berhenti. Pesona pantai Lagoi di pulau Bintan, Kepulauan Riau sedikit tak bisa dinikmati karena langit yang gelap dan hujan itu. Pasir yang menghamparkan diri di pesisir terus menggoda untuk diinjaki. Bukan takut hujan, keberadaan petirlah yang menakutkan. Sungguh tidak disarankan bermain dalam hujan dengan kilat menyambar-nyambar.

Saya mencoba buka hape untuk memotret pemandangan itu. Terlihat dua provider di hape saya tidak menampakkan sinyal yang menggembirakan. Sebuah pesan masih bisa masuk. Isinya adalah iklan dari provider untuk mengganti simcard saya dengan simcard Singapura!

Kedatangan saya ke Tanjung Pinang sebenarnya untuk mengajar di Kanwil Perbendaharaan Riau. Acara selesai Jumat. Salah satu kepala seksi di sana adalah teman saya. Saya pun memintanya mengantarkan saya jalan-jalan pada Sabtu.

Lagoi menjadi tujuan utama dan pertama. Lagoi begitu terkenal karena menjadi tujuan paling menarik bagi wisatawan mancanegara. Dari Tanjung Pinang, kami menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Untuk menuju ke sana, juga bisa lewat Batam. Caranya dengan menggunakan jasa penyeberangan dari pelabuhan Telaga Punggur. Dari pelabuhan ini, Anda dapat menggunakan perahu motor (speed boat) menuju Tanjung Uban. Sesampainya di Tanjung Uban, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taksi. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 25 menit dari Tanjung Uban. Kabar terakhir, sudah ada wacana pembangunan jembatan dari Batam ke Uban.

Kawasan Lagoi dikenal oleh banyak orang sebagai kawasan eksklusif dengan resor-resor mewah yang menawarkan pantai pribadi. Namun sekarang sudah ada kawasan publik di Lagoi Bay, terbuka untuk umum. Sayangnya kita tetap tidak bisa masuk ke dalam kawasan Lagoi jika bukan tamu resor.

Harga resor yang yang ada di Lagoi rata-rata di atas Rp1.500.000,- per malam. Mahal. Tapi sebanding sih dengan kenyamanan yang ditawarkan. Tapi ada yang lebih murah. Carilah penginapan dengan model apartemen seperti Bintan Lodge atau Bintan Service Apartment. Harganya 600-700 ribu per malam.

Di Lagoi, selain ada pantai pasir putih bersih dengan garis pantai yang panjang, juga ada kolam renang yang konon terbesar se-Asia Tenggara. Namanya Treasure Bay. Untuk masuk ke dalam kawasan Treasure Bay ini kita harus membayar tiket masuk seharga Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Dari nominal tersebut, 20%-nya digunakan sebagai tiket masuk dan 80% sisanya menjadi deposit yang bisa digunakan untuk mencoba beragam water activities yang ada di sana, atau untuk membeli makanan dan minuman. Deposit ini tidak bisa direfund.

Sayangnya, karena hujan dan waktu yang terbatas, saya tidak masuk ke Treasure Bay.

Sambil curi-curi dengan hujan, saya langsung melempar diri saya ke ombak. Ombak membelai saya dengan lembut. Pasir-pasirnya sangat halus. Nyaris tidak ada batu-batu di pantai, entah alami atau karena pantai ini begitu terurus. Bersih sekali. Ada mayat rumput laut terdampar di beberapa sisi.

Mas Arif mengajak seorang anaknya bermain pasir. Mereka mencoba membangun sesuatu. Aku mendadak teringat anakku. Andai saja, anakku bisa ikut turut serta ke sini, pasti dia akan senang sekali. Anakku yang pertama, Hanna, memang suka sekali pantai. Ia pernah tak mau pulang saat kuajak ke Senggigi.

Kulemparkan pandanganku juga ke laut lepas. Laut yang menyajikan perbatasan Indonesia dengan negara lain. Aku belum pernah jalan-jalan ke luar negeri.

Aku membayangkan kalau jalan-jalan seperti ini, tanpa keberadaan sinyal ponsel yang memadai, ada semacam tempat untuk sewa modem wifi. Dengan begitu, aku bisa menelepon anakku, video call, dan memperlihatkan kepadanya keindahan pantai Lagoi. Pun bila suatu hari aku ke luar negeri, ke tempat wisata tanpa sinyal, aku bisa rental wifi keluar negeri. Sewa modem keluar negeri seperti itu sudah menjadi kebutuhan utama para pejalan sepertiku. Entah kapan bisa keluar negeri.