Category Archives: Catatan Perjalanan

Dangar Ode, Surga Kecil di Sumbawa

Hidung perahu dengan pelan membelah lautan. Angin laut yang khas menerpa tubuhku. Ini perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Ini juga perjalanan pertamaku menaiki perahu nelayan yang kecil.
Kucelupkan kaki dan kubiarkan kakiku beradu dengan air laut. Menyenangkan. Kurang lebih 40 menit perjalanan dari dermaga di Desa Prajak. Sebuah pulau kecil sudah berada di depanku. Perahu melambat untuk merapat ke pesisir. Di kejauhan, sosok Gunung Tambora menjulang angkuh.
Ada satu adegan yang berkesan dalam film Pirate of Carribean, yakni ketika Jack Sparrow ditinggalkan di sebuah pulau kecil dengan pasir putih. Berada di atas pasir yang putih, di tengah lautan dan di bawah langit yang birunya tak bisa dibedakan adalah salah satu impianku. Tak perlu jauh-jauh ke Kepulauan Karibia, atau Maldives yang terkenal, di Indonesia juga ternyata ada tempat seperti itu. Di Lombok ada Gili Kapal. Di Sumbawa juga ada Dangar Ode.
 
Dangar Ode adalah sebuah pulau kecil di kawasan utara Teluk Saleh. Teluk Saleh saat ini sudah dikenal sebagai akuarium dunia karena memiliki 59 jenis karang dan 405 jenis ikan karang. Bahkan di beberapa kawasan di Teluk Saleh terkenal banyak anak hiu dikarenakan melimpah ruahnya makanan bagi mereka. Di Dangar Ode sendiri, bila beruntung kita bisa menemui lumba-lumba.
Salah satu alternatif menuju Dangar Ode adalah melalui dermaga di Desa Prajak. Desa Prajak adalah salah satu desa nelayan di Sumbawa dan berjarak kurang lebih 20 km dari kota Kabupaten. Hujan semalam membuat medan yang kami lalui menjadi becek dan berlumpur. Butuh keterampilan dan ketabahan untuk melaluinya.
Kupikir, beginilah Indonesia, semakin ke Timur, infrastruktur semakin kurang memadai. Tak terbayangkan pula bagaimana perjuangan nelayan-nelayan mengantarkan ikan-ikannya ke pasar di Sumbawa dengan medan seperti ini. Tak tega rasanya bila nanti ke Seketeng, aku menawar ikan-ikan itu lagi.
Dangar merupakan nama sebuah pohon dalam bahasa Sumbawa yang banyak ditemukan di wilayah Sumbawa. Pohon ini menghasilkan getah seperti karet yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dahulu, Dangar Ode dan Dangar Besar banyak ditumbuhi dangar dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan membuka perkebunan dangar. Namun seiring berjalannya waktu pohon dangar sudah habis dan tidak terdapat lagi di pulau. Masyarakat juga sudah tidak lagi melakukan aktivitas perkebunan di pulau ini.
Perahu nelayan merapat, aku melompat ke bibir pantai. Sebuah pohon tumbuh sendirian di sisinya. Sebuah bangunan berdiri di tengah-tengah pulau. Seorang teman berkata, bangunan itu adalah sebuah mushalla. Tidak ada yang tahu siapa yang membangunnya. Cerita setempat juga menyebutkan, seberapa pasang pun lautan, air laut tidak pernah sampai merendam lantai mushalla tersebut. Sayangnya mushalla tersebut tampak tak terawat. Seharusnya pemerintah turun tangan untuk melakukan pemeliharaan. Selain menjadi tempat shalat, ia dapat juga menjadi tempat beristirahat dan berteduh ketika hujan turun lebat.
 
Pasir putih mengelilingi Dangar Ode. Dan yang menarik adalah permukaannya tidak curam tiba-tiba. Kita dapat menenggelamkan tubuh kita sedikit demi sedikit ke dalam lautan dengan dasar pasir yang masih terlihat karena begitu beningnya. Tampak juga banyak bintang laut di sana-sini. Jangan khawatir, tak ada bulu babi.
Hingga air laut mencapai bahu barulah dasar lautan terisi dengan rumput-rumput laut. Aku mencelupkan wajahku dan terlihat berbagai jenis ikan berwarna-warni. Aku berenang lebih ke tengah, dan karena aku tak begitu pandai berenang, aku memilih berada di dekat perahu supaya kalau kenapa-kenapa aku bisa mencari pegangan. Sesekali aku mencelupkan kepala untuk melihat pemandangan bawah air yang menakjubkan. Dan lebih banyak aku menikmati panorama yang disajikan alam. Beberapa teman menyelam lebih dalam dan aku merasa iri. Mereka bilang ada coral table, terumbu karang yang berbentuk seperti meja bundar. Juga menemukan ikan nemo di mana-mana.
 
 
Aku menyesal ketika kecil tidak belajar berenang hingga mahir. Yang bisa aku lakukan cuma mengambang beberapa saat. Huh.
Puas berenang, mengelilingi pulau, dan menyantap ikan bakar yang kami bakar sama-sama, kami diguyur hujan yang sangat deras. Setelah menunggu dan berharap hujan akan reda, berkenalan dan bercerita banyak, kami memutuskan nekat menyeberangi lautan. Syukurlah, meski hujan, lautan tetap tenang. Mendekati dermaga, barulah hujan reda dan langit yang mendung menyingkapkan dirinua. Cahaya keemasan menembus mereka dan seakan-akan kami terendam di dalamnya.
Sebuah puisi lahir saat itu:
kau bersikeras akan menelan semua hujan
yang tak bosan menceritakan hidupnya yang singkat
di atas laut, di bawah bayangbayang maut
kita akan selalu sama: melihat langit keemasan
setelah segalanya reda adalah doadoa kecemasan
sebelum perjalanan lain menuju pulang
Tantangan sesungguhnya adalah medan di daratan. Jalan yang baru diguyur hujan membuatnya seperti bubur lumpur. Jarak tempuh 20 km itu kami lalui lebih dari 3 jam setelah beberapa motor mengalami kerusakan, dan kami menunggu, saling membantu dan bahu-membahu agar semuanya sampai ke tujuan. Kebersamaan, meski baru sekali bertemu, membuat perjalanan ini pantas dikenang seumur hidup.
Semoga saja pemerintah daerah membenahi akses menuju pulau, karena Dangar Ode begitu layak menjadi salah satu destinasi utama Pesona Indonesia di Sumbawa. Keindahan bawah laut, dan panoramanya kelas satu, ditambah ketenangan yang semakin sulit didapatkan di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk.
PS:
Terima kasih kepada teman-teman Adventurous Sumbawa yang sudah memberiku kesempatan berkenalan dengan kalian. Foto-foto di atas juga dari Adventurous Sumbawa.

Menikmati Keindahan Curug di Maribaya Resort

Bagi yang senang liburan ke Bandung, nama Maribaya pasti sudah tidak asing lagi. Apalagi, setelah ada Maribaya Lodge, yang foto-fotonya happening banget di Instagram. Bukan cuma Maribaya Lodge, di Maribaya ada berbagai pilihan tempat wisata seperti Taman Hutan Raya dan Maribaya Resort.

Satu hal yang perlu dicatat, kalau mau ke Maribaya jangan lewat Dago. Kalau hari libur, macet sekali. Saya sendiri karena berumah di Cigadung, dan memakai motor, jadi dari Cigadung, ya tinggal ke atas lewat Dago Atas. Nah, sebelum saya pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke Maribaya Resort. Dua kali pula.

Maribaya memiliki air terjun/ curug yang sebenarnya terdiri dari 3 rangkaian. Dua di antaranya yakni Curug Cikawari dan Curug Cigulung ada di Maribaya Resort. Satu lagi bernama Curug Cikoleang. Ada yang bilang 4 dengan memasukkan Curug Omas sebagai Curug Maribaya, padahal bukan.

Curug Cikawari
Curug Cigulung

Maribaya berasal dari kata “Mari” yang berarti sehat dan “Baya” yang berarti bahagia. Maribaya juga memiliki legenda.

Dahulu kala, ada seorang petani miskin yang bernama Eyang Raksa Dinata yang mempunyai seorang anak gadis yang cantik jelita bernama Maribaya. Karena sangat cantik, bapaknya khawatir kalau anaknya jadi rebutan bagi para pemuda di daerahnya. Beliau pun mendapatkan ilham dan pamit pergi ke Tangkuban Perahu. Ia bertapa di sana dan dalam tapanya, ia didatangi oleh seorang kakek yang memberikannya dua bokor (pinggan besar bertepi lebar) berisi air. Salah satu bokor tersebut harus dibawa ke arah barat dan satu lagi di bawa ke arah timur.

Air yang ditumpahkan oleh bapaknya itu sekarang dikenal sebagai Situ Lembang. Bapaknya juga meminta kepada Maribaya untuk menumpahkan air dalam bokor tidak jauh dari rumahnya.

Beberapa hari kemudian, keajaiban terjadi. Di tempat Maribaya menumpahkan air, muncul mata air panas yang mengandung belerang. Air panas tersebut berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Lalu tempat itu menjadi ramai dikunjungi penduduk sekitar yang mau berendam di kolam air panas itu. Dan mereka melemparkan uang logam ke dalam kolam sebagai imbalan.

Kolam air panas ini diwariskan kepada Maribaya sehingga daerah itu terkenal dan dinamakan Maribaya.

Tiket masuk Maribaya Resort pun terjangkau. Hanya Rp35.000,- dengan bonus air mineral. Tempat parkirnya luas. Sayangnya, untuk menikmati fasilitas lain seperti pemandian air panas, permainan anak, kita harus membayar lagi. Tapi tetap, harga Rp35.000,- itu pantas untuk pengelolaan dan kenyamanan yang kita dapatkan selama berkunjung ke sini.

Kenangan Ramadhan di Sumbawa

“Jika lebah menghilang dari muka bumi, manusia hanya punya waktu empat tahun untuk hidup.”

Einstein memang pernah salah tentang satu hal ketika mengatakan black hole itu tidak ada, tetapi pendapatnya tentang lebah ini harus aku setujui.

Tak ada yang menyangka, pada penempatan intansi, lulusan dari Akuntansi Pemerintahan cukup banyak ditempatkan di Ditjen Perbendaharaan. Dan setelah menjalani kurang lebih 6 bulan masa magang,  10 Juni 2011 silam, kami dikumpulkan dalam suatu ruangan lalu diberikan pengarahan, “Kalian tahu, seekor lebah hanya akan mengisap sari bunga dan menghasilkan madu. Kalian sudah memperoleh yang baik itu dan akan memberikan yang baik pula bagi bangsa ini. Ingat, lebah tidak pernah merusak bunga yang ia hinggapi.” Aku tak paham maksud kata-kata itu sampai kemudian dua surat keputusan diserahkan.Yang pertama membuat kami sumringah karena berisi surat pengangkatan kami sebagai calon pegawai negeri sipil sementara yang kedua membuat beberapa di antara kami menangis tersedu-sedu melihat nama daerah tempat kami akan menuju. Kebijakan DJPBN menempatkan kami pada KPPN tipe A2 di luar pulau Jawa. Itu artinya, nama-nama seperti Saumlaki, Tahuna, Tobelo, sampai kota-kota bersuku kata ulang seperti Fak-fak dan Bau-bau yang bahkan tak pernah kami dengar di pelajaran Geografi harus menjadi karib mulai saat ini. Aku membuka surat milikku dan nama Sumbawa Besar tertera di dalamnya. Ada dua hal yang terkenal dari kota ini: susu kuda liar dan madu.

NTB terkenal dengan suasananya yang Islami. Bila Lombok dikenal Pesona Seribu Masjid, Sumbawa sendiri dikenal dengan prinsip adatnya yang bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah, sama dengan prinsip di Sumatra Barat. Maka tak heran apabila setiap ada hari atau pun bulan besar keagamaan, masyarakat akan menyambutnya dengan gegap gempita.

Momen awal ini begitu berkesan, karena tak lama setelah penempatan, aku menikah. Tepatnya 1 Juli 2011. Dan tak lama setelah itu, bulan Ramadhan datang. Artinya, itu menjadi Ramadhan pertamaku di Sumbawa, dan Ramadhan pertamaku bersama istri tercinta pula. Lebih spesialnya lagi, pada bulan Ramadhan itulah, istriku tak lagi datang bulan.

Di kantor, saya kerap bertemu dengan petugas satker. Salah satu yang paling rame berasal dari Kecamatan Empang. Dia kerap menawarkan kerupuk dan ikan-ikan segar kepada pegawai. Tentu, kami tak pernah meminta dan kerap menolaknya karena khawatir itu semacam gratifikasi. Tapi, kami tak pernah melarangnya bercerita.

Dia bercerita tentang tradisi Mangan Roa di Empang. Mangan Roa berarti makan sepuas-puasnya yang dilakukan pada Jumat terakhir sebelum Ramadhan. Dan yang boleh makan hanyalah para lelaki dan anak-anak kecil. Sementara itu, pihak perempuan berkewajiban menyiapkan hidangannya.

Ilustrasi Mangan Roa. Hidangan ditaruh di Dulang (nampan)

Mangan Roa ini sebenarnya dilakukan tiga kali setahun. Selain setelah shalat Jumat pada Jumat terakhir sebelum Ramadhan, Mangan Roa juga dilaksanakan pada hari kedua bulan Syawal dan pada saat Idul Adha.

Lain halnya dengan teman di Sumbawa Barat. Ia bercerita mengenai tradisi Dila Leman. Pada malam ganjil di 10 malam terakhir bulan Ramadhan, masyarakat akan menyalakan pelita atau lampu tradisional di depan rumahnya. Listrik dimatikan. Dan diharapkan masyarakat akan khusuk beribadah pada malam-malam tersebut demi meraih Lailatul Qadar.

Junjung Sasaji

Sebenarnya banyak tradisi Sumbawa lain dalam menyambut bulan Ramadhan. Misalnya, Junjung Pasaji dan Mangan Barema. Tradisi ini masih dilakukan di Desa Tatede di Kecamatan Lopok. Para perempuan mengenakan pakaian adat beriringan sambil menjunjung makanan menuju kantor desa ntuk menjamu tamu kehormatan pada acara Mangan Barema (makan bersama) menyambut datangnya Ramadhan.

Sebagai pengantin baru, kami sangat menikmati hari-hari di Sumbawa selayaknya bulan madu. Kami tak khawatir bila tak masak, karena selama Ramadhan, penjual lauk-pauk berlimpah di sepanjang jalan di Labuhan dan Lempeh. Dan banyak makanan khas NTB yang cocok di lidah kami. Salah satunya Ayam Taliwang. Saat menulis ini pun, membayangkan rasa ayam taliwang dicampur sambal dan plecing kangkungnya itu membuat liurku ingin menetes.

Ayam Taliwang

Namun, makanan paling khas di Sumbawa bukanlah Ayam Taliwang. Teman-teman pegawai lokal di kantor paling suka dengan Sepat, Singang, dan Sirasang. Sepat bisa dibilang ikan dimasak kuah. Kuahnya diberi belimbing wuluh dan mangga muda biar terasa segar. Singang mirip dengan Sepat, namun lebih asam. Warnanya kuning dari kunyit. Sementara Sirasang tidak berkuah. Sirasang adalah ikan bakar bumbu kuning khas Sumbawa. Saya paling suka Sirasang.

Dua elemen tersebut, tradisi dan makanan, tentu akan lebih lengkap jika ditambahkan elemen terakhir. Yak, alam Sumbawa itu sendiri. Bulan puasa biasanya diwarnai dengan kebiasaan jalan pagi selepas Subuh atau ngabuburit saat menunggu berbuka puasa. Jujur, kita bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam sempurna di Sumbawa. Tak perlu jauh-jauh… cukup pergi ke Jembatan Polak di Labuhan untuk melihat matahari terbenam.

Matahari Terbenam

Maka, mengutip sebuah ayat suci, Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Engkau Dustakan?

Curug Cimahi a.k.a Curug Pelangi

Saya pikir sudah cukup, berhadapan dengan 250 anak tangga saat ke Bromo beberapa bulan silam membuat saya tak ingin lagi melihat anak tangga. Namun, tak disangka, tatkala diajak seorang teman ke Curug Cimahi beberapa waktu lalu, saya harus menjajal 587 anak tangga lain.

Curug Cimahi kini lebih dikenal dengan nama Curug Pelangi, dikarenakan telah terpasang lampu di air terjun. Pada malam hari, lampu-lampu itu akan bersinar berwarna-warni dan menampilkan pesona tersendiri. Sayangnya, saya tak ke sana pada malam hari sehingga tak berkesempatan menyaksikan pemandangan unik yang tersohor itu.

Curug Cimahi bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam dari kota Bandung dengan menggunakan motor. Dari Bandung, kita bisa lewat jalan menuju Lembang, lalu di perempatan sebelum tahu susu Lembang, belok ke kiri melewati Imah Seniman, Villa Istana Bunga, Gereja Advant hingga kemudian melewati jalan berkelak-kelok dengan pemandangan yang begitu elok. Satu jam perjalanan akan tidak terasa.

Air Terjun Cimahi ini, memiliki ketinggian sekitar 87 m, merupakan salah satu curug yang tertinggi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Nama Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya yaitu Sungai Cimahi yang berhulu di Situ (danau) Lembang dan mengalir ke Kota Cimahi. Curug ini berada di ketinggian 1050 m dpl dengan suhu di kawasan ini berkisar 18-22 derajat Celsius.

Saat ini, kita cukup membayar Rp15.000,- per orang untuk tiket masuk. Cukup murah. Namun harga yang mahal adalah perjuangannya untuk menuruni anak tangga. Ditambah ketika pulang, pendakian tak akan mudah.

Ada beberapa tempat pemberhentian untuk beristirahat. Seperti sebuah beranda dengan kursi dan meja untuk menikmati panorama yang ada.

Di sekitarnya juga kadang muncul monyet-monyet. Dilarang keras memberi makanan kepada mereka karena bisa saja mereka akan malah mengganggu kita.

Karena aksesnya yang begitu mudah, murah pula, ada baiknya kamu tak melewatkan kesempatan untuk datang ke Curug Cimahi bila liburan ke Bandung. Sensasi deru air yang jatuh seperti cinta yang jatuh. Ah. Tapi ingat, siapkan fisikmu jika tak mau tepat di tengah jalan!

Mengenal Air Terjun Oehala di Soe

Air terjun Oehala
Berenang di Oehala

Perjalanan dinas ke Kupang beberapa bulan silam meninggalkan kenangan yang berarti. Bakda perjalanan dinas ke Kanwil Perbendaharaan Provinsi NTT, aku melanjutkan perjalanan pribadi seorang diri menuju Mollo, Timor Tengah Selatan. Di sana ada seorang teman, cerpenis bernama Dicky Senda, yang pertama kutemui di residensi penulis Asean Literary Festival.

Sebenarnya ingin sekali aku mengikuti trip singkat yang ia adakan dalam tajuk desa wisata yang tengah ia galang. Ia bercerita mengenai kebudayaan orang Mollo, hutan penyihir, tomat mungil asli Mollo, jagung bose, dan puncak Fatumnasi yang tertinggi di NTT. Namun, karena alasan keterbatasan waktu (dan fisik), aku tak mampu mengikuti perjalanan itu.

Selepas dari hotel, aku tadinya ingin pergi ke terminal. Namun, malasnya menaiki bis adalah ngetem, sehingga aku memilih naik travel saja. Meski sama saja, aku harus menunggu juga. Tapi, setidaknya naik travel Avanza ini lebih nyaman.

“Nanti kalau sudah sampai Soe, bilang ya?” ujar Senda lewat pesan singkat.

Soe berjarak 110-an kilometer dari Kupang. Ibukota dari Timor Tengah Selatan ini dijuluki sebagai kota beku, karena suhu udaranya yang lebih dingin dari wilayah lain. Perjalanan ke sana begitu eksotis dengan pohon flamboyan yang baru berbunga, berganti pemandangan laut dari atas bukit, lalu ladang-ladang yang membentang dengan hewan ternak yang dilepas begitu saja, penjual jagung rebus manis yang murah meriah (10.000 dapat 6), lalu jalan berkelak-kelok menaiki bukit kembali, hutan rimba, dan jalan yang dipenuhi kupu-kupu. Semua itu dapat kita nikmati sampai kita rasakan suhu udara lebih dingin, itu tandanya kita sudah mendekati Soe.

Tak Ada Sinyal

Sesampainya di Soe, ternyata sinyal cukup susah. Setelah kepayahan menghubungi Senda, akhirnya tersambung juga dan kami bisa bertemu di depan sebuah penginapan. Seorang temannya sedang di hotel itu, baru saja mendaki dan bermalam di Fatumnasi.

Setelah menghabiskan sepiring makanan Padang (terpujilah warung Padang yang ada di mana-mana), Senda mengajakku mengunjungi air terjun Oehala. Tak jauh, katanya. Tak sampai setengah jam dari Soe.

Air terjun Oehala

Akses air terjun ini terbilang cukup mudah. Dari parkiran kendaraan, kita hanya harus turun melalui medan yang sudah disiapkan (disemen) sehingga terasa lebih mudah. Dan sungguh, pemandangan yang kusaksikan membuatku sumringah. Air terjun ini bertingkat-tingkat, dengan air yang menggoda minta diberenangi.

Indahnya Air Terjun Oehala

Berada di kaki gunug mutis, air terjun ini disebut juga air terjun tujuh tingkat karena undakannya yang ada tujuh. Oehala berasal dari bahasa Timor atau bahasa Dawan yang berarti air tempat persembahan, atau bisa juga air kedamaian.Sesuai namanya, air terjun yang berada di tengah hutan rimba ini betul-betul menawarkan kesejukan dan kedamaian. Tak ragu, aku langsung melepas baju dan berenang di air terjun ini. Sungguh segar sekali.

Air terjun Oehala
Beruntungnya lagi, pada saat ke sana, Oehala sedang sepi-sepinya. Bisa dilihat ‘kan, aku bisa berfoto sendirian dengan latar air terjun ini? Indah, bukan? Di bawahnya sebenarnya masih ada tingkat selanjutnya, namun aku sudah kadung tergoda untuk berenang, berenang dan berenang.

Aku bertanya-tanya bagaimana asal-usul Oehala, namun Senda bilang dia tidak tahu. Oehala memang terkenal dari dulu sebagai tempat beristirahat orang Soe dan sekitarnya. Aku pikir Oehala bisa menjadi magnet yang luar biasa bagi wisatawan. Sayangnya untuk fasilitas yang ada kurang memadai. Tidak ada toilet yang layak. Tempat beristirahat berupa lopo (saung khas NTT) kurang terawat. Penjual makanan dan ala-ala khas NTT pun bisa dibilang tak ada. Tapi, mungkin saja, itulah yang tetap menjaga kealamian Oehala.

Kamu tertarik buat ke sini juga? Yuk!

Kebo Nange Hingga Ma Inang Kabau

“Kenapa ikan nggak bisa ngomong, Ayah?” tanya anakku yang saat itu masih berusia 3,5 tahun.

Mendadak aku teringat sebuah film Korea. Dengan pertanyaan yang sama, Cha Tae Hyun menjawab, “Coba kau masuk ke dalam air, bisa ngomong nggak?”

Tentu aku tidak menjawab demikian. Aku diam, berpikir. Anakku menyusulkan sebuah pertanyaan lain, “Kenapa ikan bisa berenang, Ayah?”

Pernah aku berpikir, hanya ikan yang bisa berenang. Tapi momen di Taman Safari, aku melihat monyet bisa berenang. Di televisi juga kulihat harimau bisa berenang. Bahkan, ketika penempatan kerja di Sumbawa, aku baru tahu bahwa kerbau juga bisa berenang. Aku bertanya-tanya, apakah kemampuan renang hewan-hewan lain didapat seperti manusia belajar berenang, atau ujug-ujug mereka memang sudah bisa dan bernaluri renang sejak dilahirkan?

Ratusan kerbau menyeberang ke Gili Rakit. Sebelumnya mereka digiring dulu ke Pantai Panjang. Barulah dari pantai mereka menyeberangi lautan, melawan arus, kurang lebih sepanjang 3 kilometer untuk dapat mencapai Gili (Pulau) Rakit.

Budaya peternakan Kerbau di Sumbawa masih mengembalakan ladang penggembalaan. Masyarakat setempat menyebutnya lar. Gili Rakit adalah salah satu lar terbesar yang ada di Sumbawa. Gili Rakit adalah salah satu pulau di perairan Teluk Saleh. Secara administratif, ia masuk di dalam Desa Labuhan Jambu, Kec. Terano.

Tradisi ini sudah berjalan lebih dari 65 tahun. Dan setiap tahunnya kita dapat menyaksikan prosesi kerbau berenang ini dalam sebuah festival yang dinamakan Kebo Nange.

Keunikan kerbau dalam tradisi masyarakat di Pulau Sumbawa tidak cuma Kebo Nange semata. Di Sumbawa Barat, ada yang tak kalah menarik. Bila di Madura ada Karapan Sapi, di Sumbawa Barat ada Karapan Kerbau.

Saat tiba musim tanam di Sumbawa, barapan kebo diadakan sebagai bagian dari wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan. Arenanya di lumpur persawahan. Sebelum balapan dimulai, kerbau dikumpulkan 3-4 hari sebelum lomba untuk diukur tinggi dan usianya. Seperti para petinju, kerbau-kerbau pun dibagi ke dalam kelas-kelas.

Tidak hanya balapan, barapan kebo juga menjadi ajang adu sandro. Sandro adalah dukun, orang sakti yang jadi jaminan kesaktian perlombaan. Pasangan kerbau yang berhasil meraih juara adalah pasangan kerbau tercepat mencapai tujuan sekalian dapat menyentuh atau menjatuhkan kayu pancang tanda finish yang disebut dengan Sakak. Nah, pada Sakak juga ada Sandro penghalangnya. Kesaktian sandro yang mem-backup joki kerbau juga ikut berpengaruh untuk melewati penghalangnya.

Kerbau-kerbau di Sumbawa ini mengingatkanku pada istriku. Sebab istriku orang Minang. Aku pernah bertanya padanya apa arti Minangkabau. Pada saat kuliah Budaya Nusantara, sang dosen bercerita tentang sejarahnya. Minangkabau berarti menang kerbau. Dahulu, tentara dari Jawa mendarat di pesisir Sumatra dan hendak memulai menaklukkan. Tapi sang pemimpin adat memberi usul agar perang diganti menjadi adu kerbau saja. Pihak penyerang menerima dan menyiapkan kerbau yang besar dan kuat. Melihat hal itu sang datuk memberi usul yang unik. Ia meminta untuk menyiapkan anak kerbau saja, tetapi anak kerbau itu harus dipisahkan dari induknya selama 2 hari. Pada telinga anak kerbau, diselipkan pisau kecil saja. Pada hari pengaduan, sang anak kerbau, melihat kerbau besar langsung mengira itu induknya dan menyeruduk ke arahnya. Pisah yang diselipkan di sela telinga anak kerbau menusuk perut kerbau besar. Anak kerbau pun menang. Jadilah minangkabau.

Istriku geli mendengar ceritaku dan bilang bukan begitu maksudnya. Baginya, minangkabau itu ma inang kabau. Ma inang berarti memelihara. Kabau/kerbau adalah hewan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Ma inang kabau berarti memelihara kehidupan.

Aku nggak tahu apa dia mencoba berfisolofi atau memang begitulah artinya.

Sebuah hal selalu memiliki pemaknaannya masing-masing. Pasti masih banyak yang lain juga tentang makna kerbau di dalam budaya nusantara yang lain. Misalnya pernah juga kudengar dari temanku yang penempatan di Aceh tentang kenduri laut Pada saat kenduri laut, kerbau hitam dilarungkan ke dalam lautan. Atau di masyarakat Batak dan Toraja. Kepala kerbau ada di rumah-rumah adat mereka. Masing-masing punya makna. Masing-masing punya pesona. Pesona budaya dan Pesona Indonesia.