Catatan Pinggir Wanna Be?

Aku gelisah, maka aku menulis. Itulah yang melatarbelakangi kelahiran web ini.

Semalam aku mengumumkan keberadaan web ini kepada sejumlah teman di kontak WhatsAppku. Salah seorang teman berkomentar, “Kok gaya-gayanya mirip Catatan Pinggir Goenawan Muhammad ya?”

Soal Catatan Pinggir itu, aku baru mendapatkan empat serinya di International Book Fair lalu. Satu stand milik Tempo menjualnya dengan harga cukup miring. Empat buku tersebut kudapatkan dengan harga Rp185.000,- saja, sementara di stand buku langka, satu serinya saja dijual Rp100.000,-

Ada satu kutipan Dante yang menarik di Catatan Pinggir 1. Katanya, “Mungkin yang kita sebut modern hanyalah apa yang tak berharga untuk tertinggal di hari tua.”

Penyair asal Italia itu memang menarik. Sejak kali pertama aku membaca Dante Club karya Matthew Pearl, pesona Dante begitu magis. Aku mencari Divine Comedy dan tak menyangka juga banyak film dan buku yang terinspirasi dari Dante. Salah satu yang fenemonal adalah karya Dan Brown, Inferno—yang diambil dari salah satu seri Divine Comedy itu (Purgatario, Paradiso, Inferno). Aku bahkan terbayang-bayang mengenai overpopulasi, apalagi sempat kubaca dalam teori konspirasi, bahwa salah satu agenda new world order adalah melenyapkan manusia hingga sepertiganya saja. Bagaimana caranya? Virus. Perkembangan virus flu burung, ebola begitu mengkhawatirkanku. Perjalanan ke neraka Dante sendiri disebut-sebut terinspirasi oleh kirah mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Soal modern itu, aku memang lebih menyukai hal-hal yang kuno. Aku meyakini bahwa di dalam yang kuno itu terkandung kebijaksanaan. Sementara modernitas tak memiliki itu dan hanya mengedepankan efisiensi dan efektivitas.

Salah satu yang aku benci adalah melihat dua orang duduk di restoran, berhadap-hadapan, tetapi tidak saling bercakap-cakap. Orang-orang di stasiun menunggu kereta sambil menunduk. Mereka melihat layar handphone. Inilah bentuk modernitas—mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat.

Aku juga sering merasakan, kemodernan membuat waktu terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku lulus SMA, tapi tak terasa sudah sembilan tahun berlalu. Masa lalu itu terasa begitu dekat, dan sama halnya dengan kematian. Kematian ada di ambang mata. Menyadari itu, aku merasa begitu terkutuk dan menyesal telah banyak menyia-nyiakan waktu.

Tentang kematian itu, aku baru menonton 1778 Stories Me and My Wife. Film ini menceritakan kehidupan sederhana dan kuno seorang penulis sci-fi yang bersiteguh pada idealisme kepenulisannya. Ia tidak tergoda untuk menulis novel popular seperti sahabatnya yang sudah terkenal. Singkat cerita, istrinya divonis kanker usus besar dan didakwa tidak bisa hidup lebih dari satu tahun. Namun sang penulis ini yakin, tertawa dapat menambah imunitas sang istri. Ia pun berjanji akan menulis cerita yang dapat membuat istrinya tertawa. Satu cerpen setiap harinya. Rutinitas itu dilakukannya dengan segala masalah seperti writer blocks. Tetapi keteguhan dan ketulusan cintanya membuat ia mampu terus menulis, dan dakwaan dokter itu terbukti salah. Sang istri bahkan dapat hidup selama 1778 hari sehingga ia telah menulis sebanyak 1778 cerita.

Ketimbang meniru Goenawan Muhammad, semangat catatanpringadi.com ini lebih mendekati 1778 Stories Me and My Wife. Kalaupun, suatu hari majalah Kementerian Keuangan atau Ditjen Perbendaharaan memintaku menulis catatan seperti ini di kolom khusus, aku tetap menjadikan cinta sebagai alasan terkuat menulisku.

Nah, tak terasa kan, aku sudah menulis hampir 500 kata. Mengingat-ingat masa lalu lagi, betapa saat itu waktu terasa begitu lambat. Bahkan ketika puasa, sehabis shalat subuh di masjid, lalu jalan pagi asmara subuh bersama teman-teman, main dingdong sepuas-puasnya sampai Bapak datang menjemput dan menjewer telingaku, jam paling-paling masih menunjukkan pukul 11 siang. Masih ada tujuh jam lagi sebelum buka puasa.

Juga Indomie kari ayam yang dibeli Bapak. Satu kotak satu bulan untuk kami bertujuh sekeluarga. Aku kerap memasaknya dengan dibelah dua terlebih dahulu. Itu pun terasa banyak. Sekarang, dua bungkus pun terasa sedikit. Ah, aku tak tahu itu pengaruh waktu atau pengaruh perut.

Comments

comments