Catatan Pria Kontrakan

FB_IMG_1486270869994

Saya rasa setiap orang harus pernah mengalami perasaan terusir setidaknya satu kali di dalam hidupnya. Dengan begitu, kita akan memahami bagaimana rasanya orang-orang yang tergusur, kehilangan tempat tinggal, yang masih haknya. Misalnya, kasus penggusuran warga di Bukit Duri yang secara putusan hukum belum final (bahkan menang sementara) tapi sudah digusur.

Saya baru saja mengalami perasaan seperti itu. Tidak digusur, tapi merasa terusir dari rumah kontrakan.

September 2016 lalu, saya mendapat SK Mutasi. Ke Jakarta Pusat. Tinggal di Jakarta adalah pilihan yang tidak bijaksana, karena biaya hidup yang mahal, ditambah lingkungan yang tidak kondusif untuk perkembangan anak. Jadinya, saya pun memutuskan untuk mencari tempat tingggal, menjauh dari Jakarta, ke arah Citayam–yang meski macet, tapi punya harga lebih rendah dibanding kawasan Depok lainnya atau Cibinong.

Saya memutuskan untuk membeli sebuah rumah, namun harus menunggu selesai jadi. Estimasinya 3 bulan. Menunggu jadi, saya memutuskan mengontrak di Permata Depok Citayam. Tak sampai 2 km dari stasiun. Alamatnya di Sektor Mirah 2, Blok L21/22. Saya melihat iklan rumahnya dari OLX, dan mencari rumah yang sudah berisi perabotan. Rumah 1,5 lantai itu dikontrakkan dengan harga 15 juta/tahun. Saya mengontrak setengah tahun, karena tak mungkin juga buru-buru pindah mengangkat semua barang, mengingat kondisi istri sedang akan hamil besar nanti.

Pak Tikno namanya. Kami bertemu pada minggu ketiga September. Orangnya kalem, pendiam. Ketika saya menjenguk rumahnya, rumah itu dalam keadaan berantakan. Dia bilang keluarganya baru pindah ke apartemen di bilangan Margonda. Beberapa barang katanya sengaja ditinggal. Nanti, semua barang yang ditinggalkan akan ditaruh di koridor lantai atas, di pojokan, tidak akan banyak mengganggu.

Saya bilang, saya ingin pindah pada minggu terakhir bulan September. Saya minta siapkan rumahnya lebih bersih dan memperbaiki yang bocor. Dia minta uang down payment, 2 juta, katanya untuk memperbaiki atap yang bocor. Saya setuju.

Kami datang pada hari Minggu terakhir bulan September. Pindahan dari Bandung. Kekagetan pertama saya adalah rumah bisa dikatakan belum siap. Pak Tikno baru selesai mengepel lantai, dan baru memulai membereskan lantai atas. Sampai hampir jam 9 malam, kondisi begitu awkward karena Pak Tikno masih memberesi rumah. Kami sangat lelah, butuh istirahat karena baru dari Bandung dan macet pula. Setelah selesai, untung ada hiburannya, salah satu motornya, yang mati pajak dan tampak tak pernah diurus ditinggal di rumah. Katanya, silakan dipakai saja.

Istri saya yang perfeksionis cemberut malam itu, dan sampai seminggu setelahnya pun. Kondisi rumah sebenarnya sangat sangat butuh dibersihkan ulang. Kelihatan rumah ini sudah lama ditinggal, karena debunya sangat tebal. Bekas-bekas bumbu masak pemilik sebelumnya masih banyak, bekas sabun, sikat gigi dan peralatan mandi juga demikian. Dan ya, bocornya belum diperbaiki. Hujan turun, dan tetesan air terdengar. Kamar atas, naudzubillah, tidak layak ditempati. Saya pikir kemasnya akan rapi, tapi ternyata plastik-plastik hitam bertumpuk begitu saja. Kamar mandi atas kotor banget. Kamar pun, selain bocor, juga berdebu. Bapak saya yang turut datang mencoba tidur di atas, tapi langsung turun karena tidak tahan debu dan gatalnya. Beliau tidur di sofa bawah malam itu.

IMG_20170205_090700

Selama beberapa hari saya diomeli kenapa memilih rumah ini. Saya bilang karena buru-buru dan butuh, toh, sudah ada kasurnya dan ada ac di kamar. Syukuri saja. Tapi, saya yang cuek ini tetap saja diomeli hingga lahirlah pertengkaran-pertengkaran kecil di masa-masa awal kami mengontrak.

Waktu berlalu, rumah pun jadi. Kami sudah menyusun rencana pindah sejak minggu ketiga Desember. Tapi, kami adalah tipe yang ketika sok merencanakan, malah sulit terealisasi. Kami pun mendadak buru-buru pindah pada minggu terakhir Januari, mengangkat yang penting-penting dan yang ternotice butuh dipindahkan segara.

Hal ini terjadi karena dua minggu sebelumnya, ada orang datang ke rumah dan bertanya rumah ini mau dikontrakkan. Saya kaget, karena de jure, saya habis masa kontrak tanggal 25 Maret. Kalau dihitung dari kontak pertama, 23 Maret. Yang bertanya juga heran, karena rumah ini sudah diiklankan oleh yang punya.

Kenapa ini bisa terjadi? Saya menduga karena beberapa hari sebelumnya Ibu Nova, yang punya kontrakan datang ke rumah. Dia beberapa kali datang (dan mau datang) ke rumah. Pertama, mau cari rapor anaknya (bayangkan kamu ngontrak di rumah yang isi lemarinya masih barang dia semua). Kedua, bilang mau ambil motor yang dipinjamkan, tapi saya tunggu sampai malam tak datang juga (dia nggak tahu apa waktu liburku berharga). Ketiga, bilang mau ambil jemuran (bahkan jemuran yang tadinya fasilitas rumah, mau diambil, tapi tidak jadi diambil, cuma dimasukkan ke dalam sebuah wadah dan diletakkan di teras–katanya susah membawanya ke apartemen). Nah, pada inilah istri saya bercerita kalau rumah sudah jadi dan akan mulai pindah akhir Januari atau awal Februari… pindah santai.

Frase “mulai pindah” dan “pindah santai” inilah yang mungkin diartikan sebagai “serah terima kunci”. Ibu Nova mulai sering mengirim WA ke istri saya. Sampai pernah bilang kalau harus segera pindah karena pertengahan Februari habis masa kontraknya. Dia bilang September dihitung satu bulanlah. Setelah ditegaskan kontrak habis minggu ketiga Maret, baru dia bilang lupa, benar kalau Maret habis kontrak. Lagi-lagi secara de jure, masih hak kami untuk pindah pelan-pelan, menyisakan barang, mengangtanya sedikit demi sedikit, plus Firstmedia saya dilanggan masih sampai akhir Februari. Jadi meski sudah tidur di rumah sendiri, saya kerap datang ke kontrakan untuk download drama Korea.

Ketika istri curhat, ia merasa tertekan dengan WA Bu Nova, saya masih mengabaikan dia, dan menganggap itu cuma perasaannya saja. Perempuan memang terkadang lebih sensitif, bukan? Apalagi dia sedang hamil 6 bulan. Saya pikir terlalu awal untuk berpendapat seperti itu. Tapi, ketika dia menunjukkan WA terakhir… yang isinya blablabla mengenai bagaimana jam waker anaknya, alarmnya, kursi pinknya yang berbentuk jari, sofanya, dindingnya, semua barangnya yang ditinggalkan di rumah itu yang sebagian besar bahkan tak pernah kami sentuh, saya jadi paham, istri saya benar. Bu Nova ini cemekekan dan getabasah. Setelah membalas pesan itu, yang isinya mohon jangan menekan saya lagi, saya pinta istri saya untuk memblokir dia.

Kami pun pergi ke ITC Margonda pada Sabtu siang untuk menemani Hanna main di playground. Siang itu, saat lagi makan, giliran WA saya yang dikirimi pesan oleh Bu Nova. Dia bertanya saya di mana. Saya seorang penulis. Saya paham tentang cara kerja manusia yang manipulatif. Dia mengirim WA kepada saya karena merasa tidak puas bercocot ria ke istri saya. Apalagi diblokir. Pasti dia dongkol. Saya tahu dia cuma basa-basi saja. Jadi WA setelah itu tidak saya gubris. Toh, saya orang yang pemalas dalam hal meladeni orang lain.

Saya pulang dan tidur cepat. Pukul dua dini hari saya terbangun dan ada notifikasi WA. Ibu Nova kembali mengirimi saya pesan. Dia bertanya ke mana motornya, kenapa dipakai. Artinya Sabtu itu dia datang ke kontrakan dan melihat motor nggak ada. Saya yang sudah cuek, dan berusaha bersikap tenang pun mengirim pesan ke Bapak Tikno. Dengan bahasa yang amat formal.

Inti pesan saya adalah, perjanjian kontrak terjadi antara saya dengan Bapak Tikno, tidak melibatkan para istri. Termasuk saya jelaskan soal motor yang secara lisan diucapkan Pak Tikno. Dan saya bilang, salah satu kesalahan saya adalah tidak membuat perjanjian ini hitam di atas putih. Karena itu, saya bilang besok malam (Minggu malam) saya akan kembalikan semuanya, termasuk serah terima kunci.

Pagi sekitar jam 7 pesan itu dibalasnya, katanya tinggalkan saja kuncinya di dalam rumah, beserta beberapa hinaan.

Saya tidak tidur lagi sejam jam 2 itu dan memburu istri saya untuk segera bersiap-siap, saya mau beresin rumah kontrakan, mengemas segala yang bisa dikemas. Dia bilang jadwal yoganya jam sembilan, sekalian saja. Akhirnya sekitar jam sembilan saya datang ke kontrakan. Istri saya bilang, kejahatan nggak boleh dibalas dengan kejahatan. Saya harus tetap menelepon dan bicara dengan Pak Tikno, menyerahkan kunci rumah secara langsung ke beliau, karena seperti itulah seharusnya laki-laki. Masalah tidak boleh dihindari, tapi harus diselesaikan.

IMG_20170205_091223

Ketika saya membuka pagar, saya amat terkejut. Di teras rumah ada tumpukan sampah. Di dalamnya ada dasi saya, ikat pinggang, dan bahkan celana dalam saya. Dokumen-dokumen saya pun berserakan. Satu hal, plakat wisuda saya pun ada di sana. Saya begitu emosi. Saya ambil pigura foto dan hampir saya banting, namun nggak jadi. Saya cuma menaruhnya di tumpukan sampah itu.

Saya masuk rumah dan lebih terkejut karena rumah sudah bersih. Ketika saya datang, bahkan rumah tidak sebersih ini. Tidak tersisa apapun. Atau saya tak berminat mencari apa-apa lagi di dalam rumah, cuma kamera xiaoyi saya yang saya ambil. Lalu saya mencari di antara tumpukan sampah, hal-hal yang masih pantas diselamatkan. Beberapa buku memang ditumpuk begitu saja di luar. Namun, ada buku Briliant Yotenaga dengan tanda tangannya, berada dalam tumpukan sampah itu. Dalam keadaan seperti itu, saya beri tahu istri dan bilang, saya tidak akan melakukan nasihatnya. Saya lebih baik tidak berurusan dengan orang-orang ini lagi, daripada saya emosi.

Saya pun meninggalkan kunci seperti yang Bu Nova sarankan.

Saya pikir masalah selesai di situ. Minggu siang, saya menerima pesan kembali. Saya dilecehkan sedemikian rupa. Dia bilang rumahnya saya jadikan tempat sampah lah, saya nggak ada etika lah. Pesan itu kemudian saya balas panjang lebar. Evil saya keluar sedikit. Dengan bercampur bahasa Palembang, saya balas… Ayuk ini didiamke malah melunjak, getabasah kau, Yuk! Terakhir saya doakan dia diberi kelapangan rezeki dan kebahagiaan supaya tidak mendzalimi orang lain lagi. Saya paham orang-orang seperti itu ada karena mereka nggak bahagia dengan hidupnya.

Setelah muncul centang dua biru, saya blokir juga dia dan Pak Tikno.

Saya menulis ini supaya teman-teman lebih berhati-hati. Ada baiknya bila ingin mengontrak, ada perjanjian hitam di atas putihnya. Dan jangan membocorkan informasi pribadi yang bisa jadi dalih dia menyerang kondisi kita.

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0