Buku Puisi

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih

56 puisi, 108 halaman

Harga Rp40.000,-

http://bukuindie.com/buku/puisi-sastra/aku-cukup-menulis-puisi-masih-kau-bersedih/

atau SMS/WA 085239949448

Ini bukanlah buku puisi pertamaku. 

Dulu, ketika aku masih kelewat percaya diri, aku mencetak sebuah buku puisi. Judulnya Alusi. Aku cetak sebanyak 1000 eksemplar dengan penerbitnya Pustakapujangga. Itu uang sendiri. Aku masih ingat, biaya cetaknya 5 juta rupiah. Selesai cetak, Mas Nurel mengantarkan buku itu ke Bandung. Kebetulan Aan Mansyur datang ke Bandung kala itu. Ia mengadakan bedah buku puisinya di Ultimus. Aku datang sekalian untuk berpacaran dengan Zane.

Buku puisi itu laku lebih kurang 300 eksemplar yang kujual sendiri. Di toko, ia laku sekitar 100 eksemplar saja. Sisanya aku berikan ke Mayoko Aiko, untuk dibagi-bagikan setiap kali ia mengadakan kuis atau door prize. Rugi? Tidak. Aku jual buku itu seharga Rp25.000,-. Aku masih mendapatkan uang lebih, aku pun mendapat banyak pengalaman dalam berhubungan dengan banyak orang. Aku juga belajar bahwa puisi-puisiku amatlah buruk.

Setelah itu, aku tak menerbitkan buku puisi atas namaku sendiri. Hanya ada beberapa antologi, hasil proses kurasi berbagai event yang memuat namaku. Belasan atau mungkin dua puluhan. Aku tidak terlalu memikirkan mereka sampai-sampai arsip buku-buku itu aku tak punya. Ada satu buku yang memuat cukup banyak puisiku, sekitar 40 puisi bahkan. Judulnya Sebuah Medley. Itu buku puisi atas nama dua orang, aku dan Andi Arnida Massusungan. Beliaulah yang mendanai buku tersebut dan mengajakku untuk mengikutsertakan puisiku di dalamnya.

Dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun itu, setelah Alusi pada tahun 2009, aku lebih dikenal sebagai prosais.

Aku rajin mengirimkan cerpen ke koran. Kumpulan cerpen pertamaku terbit di 2011, Dongeng Afrizal. Beberapa antologi cerita pendekku pun, termasuk dalam Temu Sastrawan Indonesia, cerpenku lah yang terpilih. Pada tahun 2014, Gramedia Pustaka Utama yang banyak didambakan penulis juga menerbitkan kumpulan cerpenku dan Sungging Raga dalam Simbiosa Alina. Ternyata keren diterbitkan GPU itu cuma mitos.

Belum cukup itu, aku pun belajar menulis novel dan kebetulan pada Lomba Novel DKJ 2014 lalu, aku masuk 11 besar. Pun ada novel yang ditulis berempat, berjudul 4 Musim Cinta, sudah digadang-gadang akan terbit 2015.

Orang-orang lupa aku menulis puisi.

Adalah Irwan Bajang yang mengemukakan ide itu pada akhir September 2014. Kami bertemu di perayaan buku puisi Khrisna Pabichara. Ia bertanya padaku, “Pring, mana puisimu, sini kuterbitkan?”

Irwan Bajang adalah pemilik Indie Book Corner. Biasanya kau tahu, untuk terbit, itu artinya kamu harus bayar biaya cetak. Tapi ini tidak. Dia meminta naskahku.

“Mulai tahun 2015 ini, aku mau menerbitkan buku-buku sastra. Dea, Kekal, Kau….” lanjutnya.

Aku sumringah dalam hati. Di balik itu aku berpikir apakah naskahku layak diterbitkan. Belakangan, aku didera penyakit tidak percaya diri pada karya-karyaku. Aku juga lebih suka menulis puisi di facebook, di blog, dan tak ada dari mereka yang dimuat di koran-koran.

“Kenapa?” tanyaku. “Aku juga punya naskah cerita, dengan konsep seperti Surga Sungsang, cerita pendek yang berkesinambungan, seperti sebuah novel, tapi belum selesai, kau mau lihat?” Aku melanjutkan pertanyaan karena aku tak siap mendengar jawaban yang pertama.

Dia mengangguk dan membaca naskahku itu. Dia memuji caraku membuka cerita. “Seperti biasanya, pembukaanmu istimewa…” katanya. “Tentang puisi itu…” lanjutnya.

“Kau serius?” sergahku dengan pertanyaan. “Bila ya, segera kukumpulkan puisiku, dan aku harap kau memilih dan memilahnya. Aku ingin sebuah konsep.”

Itulah sekelumit pembicaraan kami saat itu. Dan baru pada Maret 2015, buku itu terbit, berbarengan dengan buku puisinya Dea Anugerah.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *