Beropini Tanpa Menyimak?

Bermain Opini Lewat OPINI

Sering saya katakan, dan tak bosan-bosan, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Idealnya, kita punya keempat kemampuan tersebut yang harus dikuasai secara berurutan, dimulai dari menyimak.

Masalah bangsa yang sedemikian banyak ini, kuyakini berawal dari permasalahan literasi. Permasalahan literasi ini bukan cuma soal minat baca yang rendah lho ya.

Sebelum Indonesia merdeka, membaca dan menulis adalah sesuatu yang eksklusif, yang tidak bisa semua orang lakukan (tidak mudah didapatkan juga). Hal ini terjadi karena strategi dari penjajah yang sengaja membuat masyarakat bodoh. Kebodohan membuat orang mudah dijajah. Maka, jangan sampai membuat rakyat jadi pintar.

Usaha untuk membuat rakyat bodoh itu juga masih terus berlangsung setelah kemerdekaan sebagai bagian dari strategi politik. Coba tengok di zaman Orde Baru, banyak buku dilarang beredar, banyak sastrawan juga diawasi. Rakyat dilarang memiliki kekayaan berpikir karena kekayaan berpikir subversif, berbahaya!

Namun, ada satu hal baik yang masih bertahan: menyimak. Rakyat Indonesia adalah penyimak yang baik. Ketika Soekarno berpidato, rakyat berbondong-bondong mendengarkannya. Ketika pemerintah Orde Baru berkata melalui Menteri Penerangannya, rakyat juga masih mau mendengarkan, meski mungkin alasannya adalah tekanan.

Ketika Orde Baru tumbang, reformasi, kanal yang tersumbat itu mengeluarkan segala macam hal yang tertahan selama ini. Orang jadi bebas melakukan apa saja, berbicara apa saja. Dan kemampuan berbahasa itu terbalik, ya berbicara menjadi dasar. Orang-orang berbicara tanpa banyak membaca. Orang-orang berbicara tanpa tahu pentingnya menulis dengan struktur berpikir yang tepat. Dan orang-orang, karena berebut ingin bicara… kehilangan kemauan untuk menyimak!

Kemampuan berbahasa sesungguhnya erat dengan struktur berpikir dan teori kepribadian. Terutama menyangkut ego. Orang yang mampu menyimak akan jauh lebih toleran terhadap perbedaan pemikiran. Dia tidak memaksakan kebenaran versinya sendiri, dia menghargai kebenaran versi orang lain. Berbeda boleh, goblok jangan.

Tentu, usaha untuk mengembalikan hal yang benar itu tidak mudah. Semua orang beropini dan mau di dengar. Tapi, sebagagai seseorang yang peduli, hal yang tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin.

Saat ini ada portal-portal untuk mengembalikan minat baca dan minat menulis seperti Kompasiana dan Opini. Banyak juga yang lain dengan masing-masing kelebihannya. Opini.id sedikit lebih menarik karena penyajian opini disajikan dalam bentuk listicle yang secara tampilan unggul bila dilihat lewat mobile. Generasi muda saat ini memang lebih senang membaca versi mobile ketimbang membaca versi panjang-panjang. Ini adalah sebuah pendekatan yang patut dipuji.

Saya tidak tahu seberapa panjang jalan untuk menaikkan kemampuan literasi bangsa kita. Tapi saya yakin, pelan-pelan hal itu bisa terwujud.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0