Belajar dari Rumah, Bekerja dari Rumah

Bagaimana caramu mengerti banyak hal mengenai kepenulisan sementara latar belakangmu tak memiliki semua hal itu?

Pertanyaan di atas cukup sering menghampiriku. Maklum, di bangku sekolahan, aku lebih dikenal dekat dengan Matematika. Apalagi setelah aku mengenyam bangku pendidikan di Matematika ITB. Keluar dari sana, aku pun berganti haluan ke Akuntansi Pemerintahan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan menulis.

Bila teman-teman sebayaku menghabiskan waktu dengan bermain, berpacaran, aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di kamar untuk membaca. Bisa membaca buku lewat fisik buku, atau bacaan lain di internet. Selalu kucari tempat kos yang sinyal internetnya bagus, bila perlu yang sudah berlangganan internet. Aktivitasku mayoritas kuhabiskan di depan laptop, berselancar, membaca sambil menulis.

Sastra memiliki tiga dimensi, yakni sejarah sastra, teori sastra, dan kritik sastra. Dua hal pertama relatif lebih mudah dicari sumbernya. Belajar kritik sastra lebih sulit karena harus banyak melakukan diskusi demi dialektika. Karya-karya sastra kanon pun bertebaran di internet. Bisa diunduh. Bisa dipelajari. Aku kerap melakukan hal itu ketimbang keriting pikiran bila harus berangkat dari definisi. Aku baca karya-karya penulis yang mendapatkan penghargaan internasional, yang biasanya kebanyakan dalam bahasa Inggris, aku coba terjemahkan sendiri dengan bantuan kamus online, lalu aku pelajari. Belajar bagi seorang pemula sepertiku bisa jadi mengepigon, atau meniru bentuk dari karya-karya tersebut. Hal ini tentulah berbeda dengan tindakan plagiarisme.

Sekali waktu, karena penempatan kerjaku yang jauh di Sumbawa, keinginanku untuk kuliah lagi terbentur. Tidak ada universitas yang menjanjikan di sana kala itu. Pilihan yang kuambil adalah kuliah online di Universitas Terbuka. Tidak ada perkuliahan langsung di UT. Semua dilakukan secara online. Belajar mandiri, mengerjakan tugas-tugas sendiri, dan terserah mau hadir atau tidak. Pertemuan terjadi hanya pada saat ujian.

Pada titik itu, aku menyadari satu hal yang kemudian kuteruskan ke adik dan keponakanku. Jika berkuliah nanti, janganlah ambil jurusan yang bisa dipelajari secara otodidak/ sendiri di rumah. Rugi. Ambil saja kuliah-kuliah yang sifatnya teknis, dan butuh praktik. Sementara itu, hal lain yang kita minati bisa kita pelajari sendiri.

Cyberhome impianku, juga Cyberoffice harapanku. Sering aku membayangkan bisa bekerja di rumah saja. Sering pula aku bercanda ke kekasihku biar dia yang kerja di kantor, aku berbisnis di rumah. Pernah aku berjualan mutiara secara online. Dan dua bulan pertama, omzetku di atas Rp40 juta. Menakjubkan, bukan? Penghasilan kantor bersih saat itu hanya Rp5 juta sebulan. Bayangkan bedanya? Namun, karena kesibukan pekerjaan, jualan online itu pun terbengkalai. Aku juga sempat berjualan ponsel dan buku. Banyak hal kucoba.

Sekarang aku di Jakarta. Karena keadaan kantong, tak mungkin punya rumah di Jakarta. Aku tergeser jauh ke Tajurhalang, Kabupaten Bogor. Dalam sehari kuhabiskan waktu hampir 4 jam di jalan. Hanya di jalan.

Salah satu mimpi para pegawai seperti aku adalah adanya cyberoffice. Kita bekerja sudah berdasarkan target kinerja. Pekerjaan yang sifatnya mobilisasi pun jarang dilakukan. Maka kubayangkan absen masuk kantor itu dilakukan secara online. Begitu masuk, daftar pekerjaan yang harus dikerjakan hari itu bermunculan di layar. Lalu kita mengerjakannya satu per satu. Setiap pekerjaan yang sudah dikerjakan kita laporkan dan satu per satu list daftar pekerjaan pun berubah status jadi sudah diselesaikan. Bila harus ada rapat, maka bisa dilakukan conference lewat video. Teknologi memungkinkan hal itu.

Satu sisi positif teknologi adalah dapat memudahkan manusia untuk melakukan hal seperti itu. Manusia jadi lebih dimanusiakan. Segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh mesin, dimesinkan. Akibat positif yang dapat timbul adalah 4 jam waktu di jalan tadi bisa menjadi waktu yang berkualitas bagi keluarga.

Namun, tetap aja ancaman negatifnya. Sering ada anggapan bahwa teknologi ternyata mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat. Ironi ini menjadi penyakit umat manusia. Dan tetap, meski ada cyberhome, cyberoffice, manusia harus berinteraksi langsung dengan sesamanya. Bertemu, berjabat tangan, melemparkan senyuman. Jangan hanya berkenalan di laman maya tanpa pernah saling menatap mata.

 

Comments

comments

2 thoughts on “Belajar dari Rumah, Bekerja dari Rumah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *