Belajar dari Big Hero 6

Ada pelajaran penting dari film Big Hero 6. Bukan karena aku menonton itu bersama Zane, satu kali pergi ke WC, dan berhasil tertawa terbahak-bahak karena humor di dalamnya. Tetapi ketika Tadashi berhasil menggoda Hiro Hamada untuk pergi kuliah bersamanya.

“Apa yang harus kulakukan agar bisa diterima di universitas kutu buku?” tanya Hiro Hamada.

Dengan tersenyum, Tadashi bilang Hiro hanya perlu menunjukkan karyanya di pameran robotik universitas tersebut.

Manusia dihargai dari karyanya. Aku melihat Indonesia belum menghargai karya-karya anak bangsanya. Pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada angka. Anak yang pintar yang ulangannya dapat 10, kelulusan dinilai dari ujian, kualifikasi lamaran kerja menyaratkan IPK, dan semacamnya. Alhasil, produk pendidikan itu adalah manusia dengan profil nilai, bukan profil karya.

Kabar baik baru-baru ini, setiap mahasiswa harus menulis jurnal ilmiah sebelum meraih gelar sarjananya. Hal seperti itu harusnya dimulai sejak dini. Setiap seleksi apapun, haruslah menyertakan assignment, tugas, yang merepresentasikan dirinya.

Mau masuk kuliah di jurusan Matematika, ada syarat bikin esai tentang Matematika di dalam hidup. Mau assessment eselon 3 di suatu instansi, juga harus menulis pandangannya tentang instansi dari sudut pandang eselon 3. Dengan cara itu, manusia-manusia Indonesia dituntut berpikir kritis, dan mempunyai cakrawala terhadap bidang yang akan digelutinya.

Nah, sudahkah kamu berkarya, menuliskan pandangan-pandanganmu sesuai bidangmu saat ini?

Comments

comments