Bapakku yang NU Banget

Apa yang akan ditanyakan orang tuamu pertama kali ketika meneleponmu?

Bapakku tidak bertanya kabar. Ia akan bertanya aku sudah shalat atau belum. Aku ngaji atau nggak. Dan kalau aku sudah shalat, beliau akan menegaskan shalat yang baik adalah shalat berjamaah di masjid. Soal kabar, itu nomor dua.

Di usianya yang menginjak 62 tahun, ia kerap mengunjungiku karena aku anak satu-satunya yang merantau. Anak bungsu pula. Dia tahu begitu bandel dan soliter. Tidak bosan-bosannya dia mengingatkanku untuk datang ke masjid, karena di masjidlah tempat kita bisa bersosialisasi dan bersaudara sesama muslim. Di mana pun—ketika aku di Sumbawa Besar, di Bandung, di Depok, maupun di Bogor, beliau akan datang dan mencari masjid. Tempat yang pertama kali ia cari adalah masjid. “Di mana masjid yang bagus?” Masjid yang bagus menurutnya bukanlah masjid yang jamaahnya setelah shalat langsung bubar. Ia menyukai masjid yang banyak zikirnya, yang ada interaksi antar jamaahnya.

Sampai kini, aku masih sering abai pada ucapannya.

Aku pernah mendengar seorang teman berkata, kalau hidup kita sekarang baik-baik saja, padahal kita sebegitu brengseknya, jangan pernah bangga apalagi membanggakan diri. Barangkali kesuksesan kita, baik-baik sajanya kita, adalah berkat doa kedua orang tua kita.

Aku merasa temanku itu benar. Kedua orang tuaku orang yang baik sekali. Sejak kecil, aku yakin sekali, doa mereka tak putus kepada anaknya.

Aku tak pernah berusaha terlalu keras dalam kehidupan pendidikanku. Belajar saja ala kadarnya. Namun,
prestasi demi prestasi kuraih. Aku punya kecepatan menghitung yang sempurna, dan daya hapal yang luar biasa saat kecil. Setelah mengenal dosa bernama perempuan, kemampuanku memang jauh berkurang. Aku tak lagi secemerlang dulu. Namun, aku masihlah penyimpan kenangan yang sangat baik.

Sebagai seorang pengingat yang baik, tentu aku tak pandai melupakan sesuatu.

Kehidupanku sebagai seorang penulis memunculkan sisi diriku yang lain: si pemberontak. Si pemberontak ini selalu mempertanyakan banyak hal, dan memiliki dunianya sendiri yang kadang-kadang ingin menjadi identitas utama diriku. Namun, siapa aku—ada jawaban, aku anak bapakku. Aku dibesarkan dalam keluarga yang baik, dengan tradisi pengetahuan yang baik. Jika tak ada doa bapak, aku mungkin secara total akan menjadi manusia brengsek.

Kembali ke judul, seberapa NU beliau—saat ini beliau menjadi wakil ketua Rois Syuriah NU Kabupaten, juga menjadi wakil ketua Forum Kerukunan Umat Beragama. Beliau mendirikan Pesantren, dan juga mendirikan sekolah. Berkali-kali masuk bursa calon bupati atau wakil bupati, namun ia selalu bertanya kepada anaknya. Boleh atau tidak. Kami, anaknya, kompak mengatakan tidak.

Bayangkan, dari SMP, sejak aku bersekolah di Palembang, aku selalu berdiskusi dengannya di jalan saat ia mengantarkan aku. Topik apa saja. Paling sering politik dan isu nasional. Aku selalu membaca banyak, waktu itu, salah satunya bertujuan untuk mengalahkan bapakku berdebat.

Sampai sekarang, ketika bertemu, kami mengobrol tema politik dan isu nasional sampai malam. Bahkan ketika di telepon pun, kami mengobrolkan hal itu. Sering kami berbeda pendapat. Misalnya, tentang wahabi dan komunisme. Aku katakan padanya komunisme dan wahabi itu tidak ada lagi, tidak bisa dinisbatkan lagi ke suatu kelompok tertentu. Bicara panjang lebar, dan kemudian kembali pada ucapannya, “Dik, pengetahuanmu ini banyak, tapi kenapa tak ada yang kau aplikasikan?”

Dari belakang, istriku menyahut, “Iya, tuh Eyang… Uda memang kebanyakan teori!”

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *