Bagi Rapor dan Tragedi Cuti Setengah Hari

Mungkin banyak yang belum tahu, ada mekanisme cuti setengah hari di kantor kami. Bagi yang punya keperluan mendesak, tapi tidak menghabiskan waktu sehari penuh, dapat menggunakan fasilitas ini. Kemarin, aku pun mengajukan cuti tersebut untuk bisa menghadiri pembagian rapor Hanna pagi itu (Jumat, 21/6).

Seyogyanya pengajuan cuti bisa dilakukan langsung begitu saja tanpa bicara dengan atas langsung (kepala seksi). Meski sudah memakai aplikasi, aku berusaha tetap memegang budaya permisi. Soalnya pernah juga aku sakit, tapi lupa memberi kabar, besoknya surat sakitku tak dianggap. Jadi, tetap kena potong 5%. Selain permisi, karena kepala seksi sudah tua, mungkin dia tidak setiap saat melihat aplikasi cuti. Bisa jadi dia tidak memproses cuti.

Kepada atasan langsung kukemukakan hal itu dan ia bilang pada prinsipnya menyetujui. Namun, Subditku punya Kasubdit yang aneh. Dia ada ahlinya melempar bola panas ke orang lain, tidak mau ambil risiko. Dia mendikte para kepala seksi, bila ada yang hendak mengajukan cuti, sebelum kepala seksi menyetujui di aplikasi, harus lapor dia dulu. Apa pasalnya? Sebab kalau kepala seksi sudah menyetujui, persetujuan berikutnya adalah di kasubdit. Dia tidak berani untuk “tidak menyetujui” cuti pegawai. Jadi, dia melempar bola panas itu ke kepala seksi. Biar nanti, kalau ada pegawai banding cutinya ditolak, yang kena ya kepala seksinya.

Aku pun segera menginputnya di aplikasi cuti.

Semua sisa pekerjaanku mereview tulisan-tulisan di Forum  kuselesaikan sebelum aku menghadap itu. Ya, tanggal 19 Juni, semua review sudah kuselesaikan dan kukirimkan ke email kepala seksi.

Hanna Bagi Rapor

Hanna dan ibunya masih di kampung halaman. Habis libur lebaran, tiket masih mahal. Tidak ada kelas lagi pula. Jadi, nanggung kalau cuma datang buat ambil rapor. Biarlah aku saja yang mengambilnya.

Aku datang pukul setengah 8 pagi sambil bertanya-tanya, apakah Hanna akan mendapat ranking pertama lagi? Ya, di semester I, Hanna ranking pertama.

Hanna ingin sekali dapat piala. Sayangnya di tengah tahun, tak ada piala. Adanya saat kenaikan kelas. Jadi, dia berharap bisa ranking pertama lagi meski aku pribadi tak menuntutnya untuk dapat ranking. Yang penting mah baik-baik saja di sekolah. Tapi aku sudah berjanji juga, akan memberinya hadiah bila itu terjadi.

Di ruangan kelas, aku ganteng sendirian. Yang lain ibu-ibu semua. Di papan tulis sudah tertera daftar peringkat 10 besar. Aku mengelus dada. Hanna tidak lagi ranking pertama. Dia berada di ranking keempat.

Kukabarkan itu ke istri. Ketika disampaikan, Hanna menangis. Sedih katanya nggak dapat piala. “Tapi abi masih beliin hadiah, kan?” rayunya.

Aku pun berniat mengajaknya berenang begitu ia sampai di Citayam nanti,

Kasubditku yang Istimewa

Kasubditku memang “istimewa”. Ph.D. Mungkin karena kebanyakan sekolah, jadi se-“istimewa” itu.

Setiap pegawai tidak masuk harus disertai foto. Tidak percaya pada surat dokter. Bahkan antrean dokter/rumah sakit harus difoto atau bahkan ditunjukkan padanya.

Ada banyak kisah keistimewaannya. Sampai-sampai satu pegawai desersi. Berhenti dari PNS karena lelah bersama dia. Satu pegawai lagi, dibebani tanggung jawab sedemikian besar, penyelesaian IKU dan tugas pribadi Kasubdit (ketika dia cuti), mengajukan cuti di luar tanggungan negara, ketika dimarah-marahi bakda kasubdit selesai cuti.

Luar biasanya, si Kasubdit ini delusional. Dia berkoar-koar ke orang lain yang ia rasa tidak tahu kisah sebenarnya, bahwa pegawai yang desersi itu disebabkan sakit hati dengan teman pegawainya yang lain. Di sisi lain, dia kirim surat ke direktur bahwa pegawai ini indisipliner dan harus dijatuhi hukuman sebelum mencemarkan nama baik dia.

Kepada pegawai baru dia kisahkan, pegawai yang minta cuti di luar tanggungan negara tadi dia pindahkan karena dia selamatkan dari gangguan pegawai lain. Padahal dia pindahkan pegawai itu karena dia takut risiko, akan ada kasus kepegawaian lagi setelah ini.

Kami yang tidak seberani itu melakukan perlawanan akhirnya dimejahitamkan. Di-blacklist dari pekerjaan yang berhubungan langsung dengannya. Tapi tidak dipindahkan seolah sedang dipenjara oleh tirani.

Ketika Cuti Setengah Hari Tidak Disetujui

Pada hari Jumat (21/6) saat menunggu giliran bagi rapor, seperti biasa aku foto suasana kelas dan kukirimkan ke kepala seksiku. Sebagai bukti aku benar-benar menghadiri bagi rapor.

Jam sembilan lebih dia baru membalas, “Cutinya sudah saya sampaikan. Namun…”

Hanya sebatas itu, tapi aku sudah mengerti maksudnya. Cuti setengah hariku tidak disetujui. Gilak, aku mau cuti ngomong baik-baik. Cuti ditolak, kasih tahunya sudah jam 9 lewat.

Ya sudahlah, pikirku.

Setelah sampai di kantor, baru dia bilang, ibu kasubdit tidak menyetujui. Alasannya, kan baru cuti. Iya, cuti lebaran. Rasanya pengen bilang jancuk, tapi nggak enak juga.

Masalah Cuti Belum Selesai

4 Agustus nanti kakakku akan menikah. Ya, aku melangkahi dia. Aku menikah lebih dulu. Karena urusan itu, aku ingin mengajukan cuti.

Saat membuka aplikasi cuti (Jumat, 28/6), ada notifikasi. Ternyata isinya tentang penundaan cuti saat bagi rapor itu. Kaget. Karena ketika kubaca alasannya, dibilang bahwa ada review yang harus saya selesaikan. Padahal semua review sudah saya kerjakan tanggal 19 Juni.

Balasan review itu sendiri baru ia lakukan tanggal 27 Juni. Jadi, ada 8 hari emailku dia tidak sadari, dia tidak baca, atau dia tidak peduli.

Emosiku memuncak. Rasanya ingin memukul sesuatu. Sempat nyaris menggebrak meja, kutahan sedikit tenaga, jadi pukulan kecil saja.

Kutahan-tahan emosi, membaca artikel sana-sini. Sengaja tak langsung pulang jam 5. Eh ndilalah, nyaris setengah enam, kepala seksi ini menyapaku. “Pring, tolong ambilkan kertas…”

Lah, aku sudah mau pulang, sudah mematikan komputer, dan nggak jelas juga kenapa minta ambilkan kertas sama aku. Kujawab, “Saya sudah mau pulang ini, Pak.”

Nadanya meninggi, “Jangan gitulah, saya cuma minta tolong ambilkan kertas!”

Aku menahan diri, “Kertas apa? Di mana?”

Dia menjawab, “Di meja Mas Heru.”

Ok. Aku ambilkan kertas. Kutaruh di mejanya. Namun saat menaruh kertas itu, badanku udah bergetar, nggak bisa nahan diri.

“Bapak yang jangan gitu. Nulis alasan penolakan cuti kok asal. Kapan saya tidak menyelesaikan review! Sudah saya selesaikan tanggal 19. Nulis kok asal.” Sambil ngeloyor pergi, kukatakan hal itu.

Takut. Takut meledak. Soalnya aku kasar kalau sudah meledak. Pengen nangis karena takut sama diriku yang kasar itu.

(2019)

PS:

Selanjutnya pengen nulis dari sisi filosofi cuti. Kita diberikan cuti 12 hari kerja dalam satu tahun, tapi kenapa mau ambil cuti saja sulit bukit main?

Comments

comments

9 thoughts on “Bagi Rapor dan Tragedi Cuti Setengah Hari”

      1. GA USAH TANYA SAYA SIAPA.
        SAYA YAKIN BAHWA SI PENULIS PASTI MENULIS POSTINGAN INI DENGAN SADAR, DAN SEKEDAR MENGINGATKAN SAJA BAHWA SEGALA AKIBAT YANG AKAN TERJADI HARUS DISADARI. ITU POIN SAYA.

        SEKALI DITENDANG, BOLA TIDAK AKAN BERHENTI BERGULIR… KECUALI DIHENTIKAN DENGAN SENGAJA, ATAU ADA GAYA LAIN YANG MENYEBABKAN BOLA ITU BERHENTI SEPERTI GAYA GESEK! KENAPA SAYA HARUS MENJELASKAN FISIKA KEPADA ANDA!

        SAYA TIDAK MENGANCAM! SEKALI LAGI, SAYA TIDAK MENGANCAM!

        SEJENIS, IYA SEJENIS. SAYA JUGA MANUSIA!

        KAPITAL SEMUA SOALNYA KEPENCET! KALAU SEKARANG KAPITAL LAGI BIAR SENADA SAMA POSTINGAN AWAL!

        BAHKAN SAYA KELEWAT NULIS NAMA LENGKAP SAYA! CUMA KETULIA HURUF AWALNYA SAJA!

        1. Kalo gentle tunjukin identitas asli.
          Seperti mas Pringadi ini, jelas identitasnya.

          Jangan berlindung di balik nama orang BC.
          Pengecut!!!

          1. LAH ANDA SENDIRI??? SOK-SOKAN PRO KEBENARAN

            IMAM SUPRIADI BUKAN ORANG BC TAPI BPK!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *