All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Emas, Tanah, dan Harga Diri

Aku pernah membuat sebuah puisi, yang menyatakan bahwa pasar bebas mengolok-olok asumsi makro ekonomi. Martabak mini yang lima tahun lalu berharga Rp1.000,- kini sudah menjadi Rp3.000,-. Padahal inflasi “hanya” 6% setahun. Jika di atas kertas, dihitung dari tingkat inflasi, harga martabak mini kini seharusnya tidak lebih dari Rp1.500,-.

Nilai sebuah mata uang pada faktanya semakin tidak berarti di hadapan nilai barang.

Setiap kali memandangi nominal angka di rekeningku, aku pun kian gelisah. Aku khawatir menabung uang artinya sama saja dengan menunggu uang-uang itu semakin turun nilainya. Tabungan 50 juta hari ini, sepuluh tahun lagi sudah tak memiliki kekuatan yang sama.

Seorang rekan menyarankan untuk membeli emas sebagai investasi. Aku pikir, emas bukanlah investasi. Emas adalah hedging atau lindung nilai. Dikatakan lindung nilai karena emas memiliki nilai yang tetap. Sementara definisi investasi di benakku adalah seperti kita menanam sebuah pohon, pohon itu tumbuh besar, lalu daunnya rindang, dan berbuah lebat. Ada nilai yang bertambah di sana.

Ketika kubincangkan hal ini dengan istriku, dia mengangguk setuju.

Continue reading Emas, Tanah, dan Harga Diri

Hantu-Hantu Alexia

 

Aku masih SD ketika Ghost disiarkan di televisi. Sam Wheat yang mati ditikam seorang preman ketika sedang berjalan-jalan bersama Molly jadi arwah penasaran dan selalu ingin menolong kekasihnya itu. Cintanya yang kuat membuat ia enggan meninggalkan dunia. Luntang-lantung dalam usahanya melindungi Molly, Sam bertemu dengan Oda Mae Brown, seorang cenayang.

Cerita hantu yang juga berkesan juga ada di film The Sixth Sense. Satu-satunya film yang sukses dari M. Night Shyamalan itu mengisahkan hubungan unik antara Dr. Malcolm Crowe dengan Cole Sear. Cole Sear adalah seorang anak dengan kemampuan cenayang. Ia bisa melihat hantu. Hantu-hantu tertarik mendatanginya karena auranya yang berbeda. Hantu-hantu tahu ia dapat melihat mereka dan mencoba meminta bantuan Cole untuk menyelesaikan urusan-urusan yang belum selesai.

Terbentuk pikiran, bahwa dalam sebuah cerita hantu, hantu-hantu tidak akan menarik jika tak diadoni dengan “urusan yang belum selesai” dan keunikan “cenayang”. Semakin menarik kedua hal tersebut, semakin baik pula cerita yang terjalin.

Itu juga yang dilakukan Alexia Chen di dalam bukunya “A Girl Who Loves A Ghost.”

A Gir Who Loves A Ghost bercerita tentang seorang perempuan blasteran Amerika-Indonesia bernama Aleeta Jones. Ia tinggal di Jakarta dengan adiknya, Chle. Suatu hari ia tak sengaja membaca sebuah berita di koran. Ada kabar kematian seorang pemuda keturunan Jepang keluarga Nakano akibat pembunuhan. Dengan tulus ia berdoa untuk pemuda itu.

Di hari yang sama, satu sosok lelaki muncul menarik perhatiannya. Lelaki itu putih, tinggi dan tampan. Dia Jepang. Namanya Yuto. Hingga Al kemudian menyadari, hanya dialah yang dapat melihat sosok itu. Al berpikir lelaki itu hanya khayalannya. Tetapi bukan, ia bukanlah imajinasinya semata. Ia hantu. Namanya Yuto. Ia lelaki yang terbunuh di koran itu.

Singkat cerita, Yuto meminta bantuan kepada Aleeta Jones untuk menemukan pembunuhnya, juga menemukan adik kembarnya Hiro. Dalam perjalanannya, lika-liku konfliknya, Aleeta dan Yuto saling menyukai. Ternyata tema cinta tidak cuma abadi di dalam sajak, tema cinta juga wajib ada di dalam cerita hantu.

Continue reading Hantu-Hantu Alexia

Republik Ubi

Ketika kecil, aku sering bermain dengan teman-teman di ladang kosong yang terletak tak beberapa jauh dari rumah. Di ladang itu, sebenarnya ada empat buah pohon rambutan. Satu pohon yang terbesar buahnya kecut. Dua pohon lain masih belum banyak buahnya. Dan satu pohon lagi, yang berbuah lebat, manis, ngelotok kering, dipenuhi semut hitam besar-besar yang bila menggigit bisa menimbulkan demam. Aku tidak percaya kalau semut itu jenis marabunta. Aku sering menyebutnya semut unta. Di luar keempat pohon rambutan, ladang itu memiliki semak belukar dan ada ukuran kosong yang cukup untuk kami bermain bola meski permukaannya memiliki kemiringan sekitar 10 derajat.

Di dekat ladang milik keluargaku itu, tidak ada rumah penduduk. Yang terdekat nyaris 200 m jaraknya. Dari selayang pandang, nampak pohon-pohon karet tinggi menjulang. Aku belum berani masuk ke kebun itu meski Misman bilang di sana banyak para peci. Para peci adalah buah karet yang kecil-kecil dan potensial untuk diisi semen putih, cara curang paling baik untuk bermain gedekan. Alasannya sederhana, isunya, di hutan karet itu pernah nampak harimau. Memang di sekitar kebun karet yang tak terurus itu ada sumber mata air. Bila kemarau tiba, jangan heran bila ada bangau-bangau melintas menuju sumber air itu, rusa-rusa turun, dan juga harimau. Tetapi bukan itu yang akan aku ceritakan di sini.

Ya, di dekat sumber air itu pula terbentang ladang singkong. Aku menyebutnya ubi kayu. Ubi yang manis namanya ubi rambat. Ubi yang konon beracun namanya ubi karet. Nah, ladang ubi kayu itu luas sekali. Pohonnya segar, tampak sudah siap panen.

Hari itu kami main terlalu puas dan lupa makan siang. Hari Sabtu sekolah selalu pulang lebih cepat. Tiba-tiba seorang teman mencetuskan sebuah ide, “Laper nih, gimana kalau kita bakar ubi?”

Aku mengherankan ide itu karena tak ada dari kami yang membawa bekal. Dengan mata yang menyala, dia melanjutkan perkataannya, “Kita ambil saja dari sana,” sambil menunjuk ladang ubu, “nggak usah banyak-banyak, dua-tiga batang cukup. Kita pilih yang paling subur.”

Aku sontak menentang, “Hah? Itu kan maling namanya. Itu kebun punya orang, bukan punya kita.”

Tak kehabisan akal, ia menjawabku dengan godaan mahadahsyat, “Maling itu kalau kita ketahuan, baru diteriakin maling. Kalau tidak ketahuan kan tidak apa-apa.”

Ia begitu pandai membujuk kami. Atau sebenarnya kamilah yang lemah imannya. Rencana itu berjalan sukses. Ia sendiri yang mengeksekusi rencana itu, mulai dari memilih batang ubi (meski meminta bantuan kami untuk mencabutnya, dan hasilnya sungguh mengagumkan), sampai menyalakan api dari batu seolah-olah ini bukan pengalaman pertamanya mengambil dan membakar ubi.

Kami kumpulkan daun-daun, ranting-ranting dan api menyala di antaranya. Ubi-ubi itu kami masukkan ke dalam api hingga matang.

Aku tidak tahu apakah sepotong ubi haram itu yang kemudian membuatku jengkel ketika membaca imbauan pemerintah untuk memakan ubi di kantor. Aku tidak tahu apakah sepotong ubi haram itu yang menanamkan dendam kesumat ini. Aku tidak tahu.

(Edisi serius tentang ubi dan neraca perdagangan akan ditampilkan dalam waktu dekat)

Cash Flow Shortage dan Drama Harga BBM

 

 

            Pada tahun 1972, terbitlah Limits to Growth. Risalah ini disusun oleh Club of Rome, yang tesis dasarnya mengingatkan, bila borosnya pola konsumsi dunia dan cepatnya pertambahan penduduk sama seperti semula, dalam waktu seabad bumi tak akan sanggup lagi memenuhi kebutuhan manusia.

Dalam konteks bahan bakar minyak, sejak tahun 1993, produksi minyak bumi Indonesia merosot. Di sisi lain, pertumbuhan kendaraan terus meningkat.  Ada sekitar 1500 motor dan 300 mobil baru yang hadir di jalan setiap harinya. Dari jumlah kendaraan yang ada di jalan raya, perbandingan antara kendaraan angkutan penumpang dengan angkutan barang berkisar 70 : 30. Clean Air Asia juga memperkirakan pada tahun 2015, akan ada 540 kendaraan per 1000 penduduk, atau tiap 2 orang penduduk memiliki 1 kendaraan.

Hal di atas tidak bisa ditampik mengingat pertumbuhan ekonomi yang terus positif, kurangnya layanan angkutan umum dan harga BBM yang disubsidi. Ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan rasio pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia terus meningkat.

Maka, tidak salah pula bila dikatakan bahwa pemberian subsidi bahan bakar tidak tepat sasaran. Penggunaan BBM bersubsidi nyata-nyata lebih banyak dibakar di jalan raya. Laporan CAA menyebutkan rasio pemakaian BBM di jalan raya adalah lebih dari 60%. Ini juga sejalan dengan kajian Kementerian ESDM. Bahkan World Energy Outlook memperkirakan bahwa laju konsumsi BBM di sektor transportasi negara kita naik dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2,1% per tahun.

Dengan sejumlah fakta itu, sebenarnya sudah cukup alasan bagi negara untuk mencabut atau mengurangi subsidi bahan bakar minyak.

Namun, yang menjadi motif kenaikan BBM di pemerintahan yang baru berjalan ini bukanlah fakta itu saja, melainkan Cash Flow Shortage.

Sebagaimana kita tahu, kas adalah raja dalam proses bisnis. Negara kita yang menerapkan defisit anggaran menetapkan belanja lebih dulu sebelum menyusun rencana pendapatan. Dalam sepuluh tahun terakhir, belanja meningkat dari sekitar 412 T menjadi 1876 T. Artinya sumber-sumber pendapatan juga dapat harus mengimbangi belanja negara. Selisih/defisit di antara keduanya ditutup dengan pembiayaan.

Tren target penerimaan negara yang tidak tercapai dalam beberapa tahun terakhir kembali terulang di tahun 2014. Di saat yang sama, meningkatnya mandatory spending begitu berpengaruh pada ruang fiskal kita.

Ketidakefektifan dalam pembuatan perencanaan kas, baik di sisi pengeluaran maupun penerimaan, menjadi masalah besar. Di dalam I account APBN bulan September lalu tercatat realisasi pendapatan mencapai 66,1% dengan pendapatan pajak 64,8% sementara belanja negara baru terealisasi 65,8% dengan kontribusi belanja pegawai 71,3% dan belanja modal hanya 37,2%. Artinya juga, masih ada 642,2 T belanja pemerintah, di antaranya 101 T belanja modal yang belum terealisasi untuk sisa tahun anggaran 2014.

Kontribusi pendapatan pajak tidak bisa dilepaskan dari kontribusi pengeluaran negara. Idiom keluar dari saku kanan, masuk ke saku kiri itu memiliki nilai signifikan dalam realisasi pendapatan. Riil kas atau uang segarnya tidak ada di kas negara. Potongan gaji, pajak-pajak pekerjaan pemerintah semua langsung dipotong melalui potongan SPM.

Artinya, ada keadaan ketika kita butuh dana segar untuk mebayar transaksi belanja pemerintah, uang itu tidak ada di kas negara. Hal ini yang sempat terjadi pada beberapa waktu lalu ketiga SP2D terbit di hari Jumat pagi, tetapi uang baru dapat dibayarkan pada hari Senin karena ketiadaan kas (ceteris paribus).

Dalam kondisi yang demikian, dengan perkiraan yang mendekati pasti mengenai target penerimaan negara yang tak akan tercapai di tahun 2014, sempat muncul kekhawatiran transaksi-transaksi yang akan terjadi di bulan Desember terancam tak bisa dibayar dengan keadaan kas saat ini. Karena itu, pemerintah perlu melakukan langkah yang cepat dan tepat untuk menanggulangi hal tersebut.

Ketika cash fall shortage terjadi, usaha pertama yang perlu dilakukan tentu mendapatkan dana segar secepatnya. Tetapi dalam konteks judul ini, pemerintah perlu melihat sisi belanja itu.

Ada dua isu utama dalam APBN, yakni belanja pegawai dan belanja subsidi. Keduanya dianggap membebani APBN. Dalam waktu cepat, tidak mungkin persoalan belanja pegawai dapat diatasi. Maka pilihan kebijakan pemerintah adalah mengurangi belanja subsidi BBM.

Keliru juga bila dikatakan pengurangan subsidi BBM dilakukan untuk dialihkan ke belanja infratruktur. Dalam konteks quality of spending, pemerintah lebih tepat disebut mengedepankan pembayaran belanja modal yang sudah akan terjadi (dianggarkan), bukan menggantinya dengan belanja modal baru. Karena masalah kita adalah cash flow shortage, bukan alokasi belanja.

Yang perlu diperhatikan lebih lanjut, pengurangan subsidi BBM ini haruslah kita lihat dalam konteks kebijakan yang lebih jauh. Kita harus meletakkannya pada perubahan arah fiskal.

Sudah lama arah fiskal kita berjalan di satu sisi saja—sisi konsumsi. Data-data yang dipaparkan di awal tadi mengindikasikan betapa pertumbuhan ekonomi kita bergerak di sisi konsumsi. Hal ini juga tercermin dari neraca pembayaran kita yang sering defisit dalam beberapa tahun terakhir.

Pertambahan belanja modal dalam 10 tahun terakhir hanya bertambah 5 kali lipat disbanding belanja subsidi yang mengalami kenaikan 12 x lipat. Kenaikan harga BBM saat ini hanyalah merupakan penegah resiko pada transaksi berjalan. Namun sebenarnya, inilah saatnya mendobrak subsidi yang pro-konsumsi dan mengalihkannya ke belanja modal, atau ke subsidi-subsidi pertanian dan kegiatan produktif lainnya, bukan malah program-program seperti BLT.

Solusi dengan membagikan uang tunai kepada rakyat bukanlah satu cara yang tepat untuk mengatasi multiplier effect yang ditimbulkan dari kenaikan BBM. Ucapan Andrinof Chaniago lalu misalnya. Katanya, pertambahan pengeluaran yang dilakukan masyarakat setelah kenaikan BBM akan sebesar Rp150.000,- per bulan, karena itu pemerintah akan mengompensasinya sebesar Rp200.000,-. Ini tentu sangat salah karena akan turut membenarkan ungkapan tidak apa-apa harga naik, asal daya beli masyarakat juga naik. Hal seperti ini tentu berbahaya bagi nilai rupiah dan negara berkembang dengan koefisien genie yang besar seperti Indonesia.

Mengedepankan alokasi belanja modal, flat policy bagi belanja barang, mendesain kembali kebijakan subsidi, menghindari meningkatnya mandatory spending, dan reformasi birokrasi yang sungguh-sungguh dari sisi kinerja menjadi alat-alat penting untuk mengubah arah fiskal kita ke sisi penawaran/supply.

 

(Bintaro, 2014)

Rumah

aku ingin membuatkanmu rumah dengan arsitektur sederhana
batu batanya dibuat dari lumpur, atapnya daun rumbia

setiap hujan turun, kita akan mendengarkan suara yang berisik
dan saling memeluk ketakutan milik kita
rasa khawatir menjadi sedemikian menarik
karena kita akan mengenang itu sejauh selamanya

siapa saja boleh bertamu, pintu terbuka setiap saat
kau akan menyajikan secangkir teh
itu baik buat kesehatan orang-orang yang tersesat

bila tiba saatnya, kita akan melempar malam ke luar jendela
dan dari tempat tidur tikar rotan, akan kita kenang tuhan
seperti banyak sejarah lain yang memenuhi isi dada

aku mencintai kesederhanaan ini seperti tukang batu dari nubia
aku tentu tak akan iri pada gedung-gedung tinggi
bangunan yang seperti hunian orang-orang zek
yang terpenjara di dalam hatinya sendiri

(2014)

 

Home

I am willing to build a home for ya, with simple arrchitecture

the bricks come from the mud, the roops come from the sago palm leaves

 

when day raining heavily, we will hear the voices, the noise

and I hug your fear, tight to the end

I never know that these worries are so interesting

it has to be because we will recall them as far as forever

 

anyone could visit us, the door will open any time

then you will serve a cup of tea

it’lll be a good for healthy of misguided people

 

when the time comes, we will throw out a night from our window

and from bed-rattan-mats, we will remember the trua nature God

just like other histories we have in our chest

 

I love this simplicity just like nubia’s mason told me

I, of course, won’t be jealous with those artificial storey building

they are just like a home-living for Zek

and be prisoned in the their dark-empty heart

 

(2014)

SKP, From Public Goods Until Tax Regime Uncertainity

Public Goods

Barang publik adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut dan Barang publik merupakan barang-barang yang tidak dapat dibatasi siapa penggunanya dan sebisa mungkin bahkan seseorang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Contoh: udara, cahaya matahari, papan marka jalan, lampu lalu lintas, pertahanan nasional, pemerintahan.

Secara umum, suatu barang publik mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain, atau suatu barang dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Sifat barang publik seperti ini disebut non rival consumption.

2. Walaupun penyedia barang menginginkan, setiap anggota masyarakat tidak dapat dibatasi/dilarang untuk mengkonsumsi barang publik atau kegiatan pembatasan tersebut sangat sulit untuk dilakukan. Sifat barang publik seperti ini disebut non exclusion.

3. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik, tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang.

Continue reading SKP, From Public Goods Until Tax Regime Uncertainity