All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Antara Kapitalisme dan Harga Buku yang Semakin Mahal

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

                Baru-baru ini, beberapa penerbit mengumumkan kenaikan harga buku-bukunya. Kenaikan itu berkisar antara 10-20%. Banyak konsumen/pembaca buku mengeluh karena harga buku makin tinggi dan tak terjangkau.

Di tengah kelesuan ekonomi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi, penjualan buku mengalami penurunan. Hingga kuarter ketiga tahun 2015, penjualan buku turun hingga 40%. Konsumen buku menjadi sangat selektif karena mereka juga harus mengencangkan ikat pinggang. Barangkali hal ini juga yang menyebabkan banyak penerbit mengobral buku-bukunya sepanjang tahun 2015. Bisa kita lihat di gerai-gerai Carrefour, Giant, Hypermart, dan toko-toko buku, buku-buku dijual mulai harga Rp10.000,-

Lesunya industri buku diperparah dengan penegakan aturan pengenaan PPN 10% untuk setiap buku nonpendidikan. Banyak penerbit kecil gulung tikar akibat penerapan PPN tersebut.

Penerbit-penerbit kecil tidak memiliki percetakan sendiri. Setiap kegiatan yang menghasilkan nilai tambah, dengan entitas berbeda, berarti memunculkan kewajiban pajak. Implikasinya, harga pokok produksi mereka juga naik 10% karena percetakan pun harus melaporkan pajaknya.

Kemudian, setelah buku selesai dicetak, buku didistribusikan ke toko buku. Ada dua pihak lain yang terlibat dalam rantai industri buku, yakni distributor dan toko buku. Pembagian pendapatan dalam rantai tersebut rata-rata adalah 17% distributor, 35% toko buku, 38% untuk penerbit dan 10% untuk penulis. Setelah itu masing-masing pihak juga dikenakan pajak penghasilan.

Pertanyaannya, bagaimana perhitungan dan pembebanan PPN kepada masing-masing pihak?

Ilustrasinya, harga buku dari penerbit Rp100.000,- maka harga jual di toko buku adalah Rp110.000,-

Proporsi pendapatan dari setelah PPN disisihkan terlebih dahulu seharusnya:

  • Penerbit 38% x 100.000 = 38.000
  • Royalti penulis 10% x 100.000 = 10.000
  • Distributor 17% x 100.000 = 17.000
  • Toko buku 35% x 100.000 = 35.000

Secara adil, pembagian pendapatannya harusnya seperti itu.

Namun, per September lalu, secara sepihak, pembagian pendapatannya menjadi 39% toko buku, 17% distributor, 10% penulis dan 34% penerbit. Terjadi pengurangan 4% milik penerbit yang dialokasikan ke toko. Saat saya tanya kenapa demikian, awalnya pihak penerbit mengatakan 4% itu untuk pemerintah. Saya tanya lagi atas dasar aturan apa 4% itu, apakah ia pajak? Kalau pajak, pajak pasal berapa dan ada di PMK(Peraturan Menteri Keuangan) no berapa? Mereka diam.

Jika penerbit hanya mendapatkan 34% dari harga setelah dipotong pajak, dengan harga pokok produksi 25%, maka penerbit hanya mendapat 9% atau Rp9.000,- per buku. Jika oplah minimal 3000 buku, maka modal yang dibutuhkan adalah 75 juta. Maka untuk mencapai BEP, penerbit harus dapat menjual minimal 2250 buku atau 75% dari oplah. Dengan kondisi sekarang, rata-rata buku per judul terjual 250 buku/bulan, berarti aliran kas untuk BEP adalah 9 bulan. Tak heran, jika banyak penerbit gulung tikar.

Dengan enteng kemudian, penerbit diberi solusi oleh mereka untuk menaikkan harga buku 20% agar mendapatkan pendapatan seperti semula. Namun kenaikan harga 20% akan memberatkan konsumen buku.

4% yang diminta pihak toko, usut diusut adalah “kompensasi” PPN yang dibebankan ke penerbit. Atau, pihak toko tidak mau dibebani dengan membayar PPN. Mereka menaikkan tarifnya akibat PPN. Sementara kalau harga dinaikkan, keuntungan yang didapatkan oleh toko akan semakin besar. Inilah benar-benar sifat kapitalis!

Solusinya?

Pertama, pengenaan PPN atas buku menjadi awal kekisruhan ini. Di tengah upaya menggalakkan dunia literasi, kita malah dihadapkan dengan kondisi harga buku yang semakin tinggi. Saya tidak paham kebijakan pemerintah jika memang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, harusnya memperhatikan industri buku dari hulu ke hilir. Untuk itu, PPN atas buku harus dihapuskan.

Kedua, pihak yang egois adalah pihak toko buku. Hal itu terjadi karena posisi tawar mereka yang kuat dengan memiliki banyak toko buku di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dapat melakukan pengelolaan pada gedung-gedung pemerintah, dewan kesenian daerah, perpustakaan daerah, untuk menjadi toko buku dengan pembagian pendapatan yang lebih rendah dari toko buku lain. Di satu sisi, hal ini dapat menjadi PNBP, di satu sisi ini akan membantu persebaran buku.

Pada akhirnya, pemerintah memang bertanggung jawab untuk meningkatkan minat baca rakyat Indonesia sehingga tidak melulu rakyat Indonesia mendapat peringkat rendah dalam kategori minat baca. Bukankah buku adalah jendela dunia?

Wallahualam.

 

Setiap Kita Sakit Jiwa

Tak biasanya aku hadir dalam sebuah workshop kepenulisan. Tapi Sabtu lalu, aku hadir di Comic Cafe, Tebet, untuk mengikuti acara ulang tahun Nulis Buku dengan pembicara Bernard Batubara.

Aku datang terlambat, melewatkan sesi pembukaan dan beberapa saat kemudian, Bernard maju untuk memulai sesinya. Tak ada yang baru dan menarik bagiku dari sesi itu selain pesan tentang hal paling sulit sebagai penulis adalah membuat seorang pembaca tetap membaca tulisan kita hingga habis. Sampai sesi tanya jawab, aku terisap oleh sebuah pertanyaan, yang kira-kira bunyinya, “Bagaimana pandangan Anda tentang alterego yang kerap dimiliki dan digunakan oleh penulis ketika menulis karyanya? Tidakkah itu berbahaya? Sebab dalam ilmu psikologi, alterego adalah salah satu pertanda dari skizophrenia.”

Jawaban Bernard tak kalah menarik. “Setiap manusia itu gila. Penulis gila lebih cepat.”

Aku nggak ngerti si penanya ini berasal dari universitas mana, semester berapa, sehingga aku berpikir dia sendiri tidak paham arah pertanyaannya kemana (dalam hubungan dengan penulis). Tetapi selintasan adegan itu membuatku teringat pada sebuah drama berjudul “It’s Okay That’s Love”.

Baiknya kalian tonton saja drama itu ya.

Baby 5


 

Kalau kamu belum mati hari ini, jangan sombong. Apalagi sampai bilang kalau malaikat maut tak akan sanggup menyabut nyawa kamu. Kematian bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan sebab yang dahsyat maupun yang remeh. Misalnya, tiba-tiba kamu lupa cara bernapas.

Akhir-akhir ini saya merasa sering lupa dan khawatir hal itu akan terjadi. Melihat telapak tangan yang bergerak sendiri di luar kuasa saya, mungkin ini perasaan yang sama yang dirasakan Tuhan ketika melihat makhlukNya membangkang. Saya mengatakan ini bukan dengan maksud menyamakan diri dengan Tuhan apalagi berniat jadi Tuhan. Hanya saja, saya merasa selalu akan ada hal-hal yang terjadi tanpa kita sadari, tanpa bisa kita mencegahnya.

Hari ini, saya mendengar sebuah kabar bahagia. Seorang teman pulang ke Palembang dan mengajak bertemu seorang perempuan yang diinginkannya. Dia melamarnya dan mendapat tanggapan positif. Senang rasanya, sebab saya membantunya untuk menyusun daftar kalimat yang harus diucapkannya.

Kira-kira begini daftar yang saya susun:

  1. Bicarakanlah sesuatu mengenai keterlambatan pesawat. (Saya menebak dengan benar pesawatnya akan ditunda keberangkatannya karena asap masih menutupi wilayah Palembang. Pasti pesawat baru berani berangkat ketika matahari sudah lebih lelaki)
  2. Bicarakanlah sesuatu mengenai diri dan visi dirimu ke depan.
  3. Katakan tentang usia, lalu katakan perasaanmu dengan menatapnya tajam.
  4. Minta dia menjadi hidupmu.
  5. Terakhir, saya menitip pesan kepadanya, jatuh cintalah karena kesiapan, bukan karena kesepian.

Syukurlah jika itu berhasil. Meski di sisi lain, saya sedang merasa sedih. Begitulah hidup, seperti dua sisi mata uang. Di saat yang sama, ada seorang lelaki yang tidak bisa pulang dan percintaannya di ambang perpisahan. Perasaan kehilangan seringkali membuat seseorang lebih baik mati.

Saya membutuhkan vitamin sea untuk menyegarkan pikiran. Kemudian terjebak dalam foto-foto pantai yang pernah saya kunjungi. Entah kenapa, pikiran saya menuju ke Ernest Hemmingway. Mungkin karena judul buku Lelaki Tua dan Laut yang ditulisnya. Mungkin juga karena saya tahu beliau mati bunuh diri setelah pernah 5 kali lolos dari maut.

Ketika menjadi sopir ambulans pada Perang Dunia I, Hemingway tersambar pecahan peluru, dan 237 pecahan peluru bersarang di tubuhnya. Beliau juga pernah tertembak saat berhadapan dengan hiu. Yang paling epik menurut saya adalah ketika ia membawa granat, mengarungi perairan Gulf Stream dengan kapal kayu sepanjang 11, 5 m demi memburu kapal selam Jerman. Hal itu bukan yang terakhir. Setelah itu beliau dua kali selamat dalam kecelakaan pesawat.

Lima kali selamat dari kematian, dan mampu bertahan dari penderitaan-penderitaan mahadahsyat, apa yang membuat Ernest Hemingway bunuh diri?

Mata saya terpaku pada satu foto. Tanjung Tinggi. Pantai yang disebut di Laskar Pelangi itu memiliki pemandangan yang khas. Batu-batu yang konon sudah ada dari zaman Jura seperti diletakkan rapi oleh raksasa. Pasirnya putih. Seorang perempuan tersenyum pada wilayah POV 1:3 yang biasa disebut dalam teknik dasar fotografi. Dan pemandangan itu membuat saya ingin kembali ke sana.

Apakah Ernest Hemingway pernah melihat pemandangan semacam ini? Atau bahkan pantai-pantai lain yang lebih indah, dan semakin indah bila menuju timur Indonesia?

Kamu harus mencanangkan perihal wisata dalam hidupmu. Keliling Indonesia, keliling dunia… jangan hanya diam di dalam kamar. Mati di dalam kamar karena sakit jantung atau stroke, atau kaget karena digigit nyamuk, itu memalukan sekali. Mati ketika menjadi musafir lebih keren.

Ahasveros, seorang raja Persia, dalam kitab Ezra disebut rela meninggalkan tahtanya untuk mencari sesuatu. Ia tidak tahu apa yang dicarinya, bahkan sampai ia mati, membusuk, hancur tulang-tulangnya.

Setelah mati, apa yang terjadi? Saya tidak tahu.

Agama-agama menyebutkan adanya kehidupan setelah kematian. Aneh rasanya jika sudah payah-payah bunuh diri, tahunya hanya pindah ke kehidupan yang lain. Di sana, seorang pelaku bunuh diri pasti akan frustasi mencoba bunuh diri lagi. Disebutkan bahwa kehidupan lain itu abadi, artinya, pelaku bunuh diri dapat mencoba semua teknik bunuh diri, mengulanginya terus-menerus sampai para penontonnya bosan.

Pada titik ini, saya berpikir, buat apa hidup dalam keabadian? Dan dalam keadaan pasrah menerima penghakiman, bahagia atau menderita selamanya?

Jika masuk surga, saya akan menyusun agenda berikut:

  1. Bercinta dengan bidadari yang selalu kembali perawan, yang kulit-kulitnya putih cerah, memantulkan cahaya.
  2. Mencoba meminum sungai madu, mengingat madu-madu asli mahal harganya ketika di dunia. Ah, tapi sebelum meminumnya, saya akan mengetesnya terlebih dahulu. Apakah ia dapat dibakar? Apakah ia tidak membeku bila diletakkan di dalam kulkas? Apakah ia tidak akan dikerubungi semut? Barangkali saja, buat jaga-jaga, sungai madunya juga dicampur air.
  3. Bercinta lagi.
  4. Tidur, tapi, apa ada rasa kantuk nanti?
  5. Bercinta lagi, eh tunggu dulu, apa nanti nafsu juga masih ada?

Saya menggeleng-geleng, mengangguk-angguk dan seorang yang berprinsip empiris harus menguji jawaban secara langsung. Apakah Ernest Hemingway meyakini empirisme?

Orang-orang yang benci agama seringkali menjadikan empirisme sebagai tameng. Mereka berteriak, “Jika Tuhan ada, muncul sekarang juga!”

Lalu hujan turun, seharusnya mereka berpikir hujanlah Tuhan.

Sebaliknya, jika masuk neraka, ah saya tidak ingin masuk neraka. Ngeri. Saya membaca buku siksa api neraka ketika masih kecil. Ada yang ditusuk-tusuk dengan besi panas, disiram dengan lahar, dan yang paling ringan siksaannya, berjalan di terompah api. Pasti panas sekali.

Sementara orang-orang menghindari panas di bumi. Di kamar memasang AC. Tak ada AC, siang-siang enaknya masuk ke dalam lemari es.

Saya pernah berpikir untuk masuk ke lemari es dan mencoba membekukan hati saya. Tapi sudah saya setel nol derajat celcius, hati saya tak beku juga. Saya takjub menyadari titik beku hati lebih minus daripada titik beku air.

Saya kemudian berkonsultasi ke mahasiswa Fisika tentang hal tersebut. Mahasiswa itu bilang, tidak seharusnya titik beku hati lebih minus daripada titik beku air. Ia mencopot hati saya dan menjadikannya sebagai objek penelitian.

Ia meminta waktu selama satu minggu untuk mencari kebenaran dan entahlah, saya merasa senang berjalan-jalan tanpa hati.

Di jalan saya melihat seorang pengemis, dan saya tak tergoda memberi uang kepadanya. Kemudian saya menonton drama Korea dan baru kali itu saya tak menangis. Saya pukul semua orang yang saya temui dan tidak ada perasaan bersalah.

Dalam keadaan tanpa hati saya berpikir, kenapa manusia diciptakan ada yang kuat dan ada yang lemah? Hal itu terjadi bukanlah agar yang kuat melindungi yang lemah, melainkan agar yang kuat melindasi yang lemah.

Dalam keadaan tanpa hati, waktu terasa cepat berlalu. Mahasiswa Fisika meneleponku dan memintaku datang menemuinya.

Kami bertemu di kafe. Kafe itu memainkan lagu-lagu cinta seperti lagu yang dinyanyikan kembali oleh Ahmad Dhani. Judulnya Kawin Tiga. Dalam keadaan tanpa hati, lagu itu terasa romantis sekali.

Mahasiswa Fisika itu menyerahkan sebuah kresek. Di dalamnya ada hati saya.

“Saya sudah tahu jawabannya…” katanya.

Saya diam.

“Hati kamu penuh cinta. Aku tak yakin, bahkan bila hati kamu diletakkan di Everest, ia dapat membeku. Cinta di hati kamu selalu lebih api dari api.”

Saya berusaha mencerna kata-kata itu dan berpikir apakah Hemingway pernah mendapatkan kalimat seperti ini di dalam hidupnya? Apakah Hemingway juga pernah merasakan cinta?

“Orang-orang yang punya cinta tidak perlu mati….” lanjutnya sambil menunduk. Kemudian seorang pelayan mengantarkan menu, dan berdiri di samping meja dengan pose siap mencatat kata-kata kami.

Sayangnya, saat itu, saya kehabisan kata-kata.

 

(2015)

Sebuah Kubus dan Permainan Solitaire

AKU cukup sering membunuh waktu dengan bermain Solitaire, selain Sudoku dan Minesweeper. Bermain kartu, mengurutkannya satu demi satu membuatku merasa tidak kesepian. Duniaku saat itu sangat sempit. Di rumah, aku hanya berada di dalam kamar dan hanya keluar jika waktu makan tiba. Buku-bukuku bertumpuk-tumpuk dan kecepatan membacaku membuatku mampu melahap mereka semua.

Saat itu aku punya sebuah buku harian. Tetapi karena tulisan tanganku yang buruk, aku selalu merasa kesal sendiri setiap selesai menuliskan sesuatu. Tulisan itu sulit dibaca bahkan olehku yang menulisnya.

Waktu berlalu, teknologi informasi semakin maju. Aku memiliki akun sosial media dan blog. Dan aku sangat rajin menulis, tentang apa saja yang kupikirkan saat itu.

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj10952008_10152840538994794_1183052442_n

Kekinian, aku menjadi seorang penulis beneran. Beberapa judul bukuku sudah terbit dan aku kerap memenangkan kompetisi menulis. Dan ada juga yang menyaratkan tulisan-tulisan itu harus diposting di blog. Prestasi, hadiah yang kudapatkan hanya selalu kuanggap sebagai efek samping. Aku memiliki blog hanya karena aku ingin menulis. Aku menulis hanya karena aku ingin memiliki teman, atau setidaknya… orang-orang yang membacaku, mendengarkan aku, mengenal aku.

Aku keluar dari duniaku yang sempit dan mendapatkan kesempatan untuk berpetualang. Bayangkan, sampai tahun 2010, ketika aku belum berusia 22 tahun, aku tidak pernah traveling sendirian. Baru pada Juni 2010, aku ke Yogya sendiri, naik bus Sumber Alam yang tidak ber-AC, penuh dengan asap rokok dan alhamdulillah aku tidak mabuk. Pulangnya, aku naik kereta. Merasa tidak percaya diri naik kereta ekonomi, aku ke stasiun Tugu dan loket tiket suah tutup. Seorang kakek mendatangiku dan menawarkan kesempatan untuk bisa naik kereta. Ia seorang calo, aku paham. Tapi tawaran harga tiket tanpa tambahan menggiurkan juga untuk waktu yang mendesak. Aku pun naik kereta untuk pertama kalinya dan kakek itu mengantarkan aku ke gerbong. Dia berbincang dengan penjaga kereta dan aku naik kereta dengan nyaman sampai ke stasiun kota Jakarta.

Sesampainya di stasiun, aku tak menyangka, tiket diminta di pintu keluar. Sementara aku tak punya tiket. Aku digelandang ke sebuah ruangan dan di sana aku diinterogasi. KTP ku diminta, KTM ku diminta dan aku diancam penjara atau denda ratusan juta. Aku ketakutan. Ini kali pertama aku naik kereta antarprovinsi dan tampak menjadi sebuah tragedi.

Kemudian sang petugas berkata, “Saya kasihan sama kamu. Beri saya 200 ribu dan saya anggap lunas.”

Aku buka dompet dan hanya ada 50.000. Aku tunjukkan padanya isi dompetku dan dibalas dengan ancaman akan melaporkanku ke kampus juga. Dia melirik dan melihat ada ATM di sana. Ia menyuruhku pergi mengambil uang di ATM. Ponselku ditahannya pula.

Begitulah aku bebas setelah menyerahkan uang dan sangat dongkol. Dengan total uang yang sudah kukeluarkan, seharusnya aku bisa naik pesawat.

Setelah itu aku cukup kecanduan jalan-jalan. Aku ke Lembang, aku ke Bali, Lombok, Anyer, Sumbawa, Makassar, Alor, Belitung, Lampung…. dan sebagian besar mereka kudapatkan sebagai hadiah lomba-lomba yang salah satu syaratnya harus memiliki blog. Dengan blog, aku mencoba mencari kesempatan untuk keliling dunia. Mengunjungi satu per satu tempat yang membuktikan keluasan. Dan betapa kecilnya aku. Aku akan Go For It, pergi untuk mendapatkannya.

cropped-DSC_0598.jpg

12609_10200402722500650_954620407_n

11350453_962827783761765_4652486444753242690_n

Kusadari, blog menjadi mediaku berkembang. Aku menggunakan beberapa aplikasi untuk mengedit foto seperti Picsart, atau dalam keadaan luang aku mengetiknya dulu di Color Note, baru nanti kupindahkan ke blog.

Pribadiku juga berkembang. Kesempatan yang muncul berkembang, dan pertemanan pun ikut berkembang. Salah satunya aku jadi kenal Winda K alias Emak Gaoel meski mungkin mbak Winda nggak kenal aku, hiks.

Setiap menulis aku seperti berbincang dengan diriku sendiri dan itu membuatku makin memahami siapa aku. Dan ah, tidakkah seseorang baru dapat mengenal Tuhannya ketika ia telah mengenal dirinya?


Go For It Blog Competition
 

 

Lomba Menulis Gado-Gado Femina

Lomba Menulis Gado-Gado Femina ini mengambil tema Simple Kindness. Kenapa dipilih tema tentang kebaikan? Sebab, kebahagiaan itu terletak pada kebaikan-kebaikan kecil yang terjadi di sekitar kita. Bisa dari kita, atau dari orang-orang terdekat. Hal-hal sederhana sekalipun, bisa membuat orang lain bahagia.

Lomba Menulis Gado-Gado Femina BTPN Sinaya 2015

Melalui lomba menulis Femina ini ayo bagikan pengalaman Anda yang lucu, tak terlupakan, dan berkesan yang berhubungan dengan kebaikan-kebaikan kecil, namun meninggalkan efek positif dalam diri kita dalam lomba atau kebaikan-kebaikan sederhana.

Femina akan memilih tiga finalis Gado-Gado terbaik dan akan diundang ke acara femina dan BTPN Sinaya di Sukabumi, berupa kunjungan ke pabrik tenun sutera milik pengusaha Wignyo Rahadi. Sebuah kesempatan berharga untuk para pencinta kain dan tenun nusantara. Tiga finalis akan diajak menulis tentang kunjungan mereka ke acara tersebut dan tulisannya berkesempatan dimuat di Majalah femina.
Hadiah Lomba Menulis Femina BTPS Sinaya

  • Pemenang I: Tabungan senilai Rp5.000.000
  • Pemenang II: Tabungan senilai Rp3.000.000
  • Pemenang III: Tabungan senilai Rp2.000.000
Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Gado-Gado Femina

  • Boleh fiksi atau kisah nyata, berupa sketsa kejadian sehari-hari & nama karakter boleh dibuat fiktif.
  • Tulisan mengandung unsur Human Interest.
  • Karya orisinal & blm pernah dipublikasikan di media lain (termasuk blog pribadi). 4. Tulisan maksimal 3 halaman folio, 2 spasi, 3735 karakter.
  • Daftar member di komunitas Writers’ Club femina, klik: http://www.femina.co.id/writers.club/submit
  • Upload tulisan Anda di kolom yang tersedia. Gunakan format .doc (BUKAN .docx)
  • Karya yang diupload juga dikirim ke e-mail sayembara@femina.co.id, subjek: Writing Competition BTPN – Femina. Lengkapi dgn data diri (nama lengkap, usia, profesi, alamat, telepon, foto ukuran 100kb).
  • Periode pengiriman karya 29 Sept-30 Okt 2015 pkl 24.00 WIB.
  • Karya yang dinilai layak tampil di kanal Writers Club femina, diberi komentar oleh editor femina untuk lalu dipilih sebagai finalis.
  • Tiga finalis terpilih akan dihubungi femina dan diumumkan di http://www.femina.co.id/writers.club/event pada November 2015.
lomba menulis terbaru

Silakan gado-gadonya dipesan, eh diikuti lomba menulis gado-gadonya. Selamat berlomba semoga menjadi juara lomba menulis terbaru ini. (Sumber: Femina)

Kompetisi Menulis Fiksi: Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan #SafetyFirst

Banner-SafetyFirst-02-e1444432211983Begitu sering -nyaris setiap hari – kita mendengar kabar kecelakaan lalu lintas, yang tak jarang pula mesti merenggut nyawa. Mungkin bahkan kamu pun pernah kehilangan orang tersayang karena kecelakaan lalu lintas. DI Indonesia, jumlah korban tewas karena kecelakaan lalu lintas mencapai 120 orang setiap harinya (data 2014). Dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi ini, 70 persen dialami oleh para pemotor.

Kecelakaan kerap terjadi karena kesadaran pemotor dan pengguna jalan lainnya yang masih rendah. Pemandangan seperti ini mungkin lazim kamu lihat setiap hari : pemotor dan penumpangnya yang tidak menggunakan helm, anak-anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor, laju kendaraan bermotor yang terlampau ngebut, dan sebagainya. Perilaku sembrono seperti inilah yang memicu jumlah kecelakaan dan korban jiwa yang tinggi. Bila terjadi kecelakaan masih ada kecenderungan untuk menganggapnya sebagai takdir atau kehendak Tuhan, padahal kecelakaan bisa dihindari dengan sikap waspada dan ekstra hati-hati dalam berkendara.

Nah, Yayasan Astra-Honda Motor bekerjasama dengan Nulisbuku.com ingin mengajak kamu untuk berperan aktif dalam kampanye “Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan” melalui kompetisi menulis Cerita Pendek (Fiksi) yang dapat menginspirasi dan meningkatkan kesadaran bagi pemotor dan pengguna jalan. Cerpen yang kamu buat, harus mampu menggugah kepedulian sebanyak mungkin orang untuk ikut berperan aktif dalam kampanye ini. Kreatiflah, dan sebisa mungkin tak perlu menonjolkan tragedi dan kesedihan dalam ceritamu.

Satu nyawa, tak ternilai harganya. Sungguh, kamu tak pernah tahu, mungkin cerpen karyamu bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

A. Syarat Peserta

Hanya ada 1 kategori, yaitu kategori Perorangan

Dapat diikuti oleh seluruh Warga Negara Indonesia, tanpa batasan usia, tanpa batasan jenis kelamin, tanpa batasan agama, dan tanpa batasan lokasi tempat tinggal. Setiap peserta dapat mengirimkan 1 (satu) karya tulisan terbaiknya.

 

B. Syarat Cerpen

Karya esai ditulis dalam bahasa Indonesia minimal 4 halaman, atau maksimal 8 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word saja, tidak perlu diubah.

Karya juga harus diposting di blog pribadimu DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

Karya esai tersebut belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun (jika pernah diposting di blog atau FB notes masih boleh), dan merupakan karya asli penulis.  Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

Judul tulisan bebas, dengan tetap sesuai dengan tema: ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan’ #SafetyFirst

 

C. Cara Berpartisipasi

  • Menulis cerita pendek fiksi sesuai tema ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan’ #SafetyFirst yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
  • Kirimkan cerpen tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email:send@nulisbuku.com (berupa file lampiran- attach files, bukan di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut:[SAFETY FIRST] – [Judul tulisan]– [Nama Penulis]. Contoh: SAFETY FIRST – Motorku Sayang, Kekasihku – Palentino Rossieq
  • Setiap penulis dimohon juga membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri, untuk profil penulis di dalam buku Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst”. Kami sarankan penulis mencantumkan akun Twitter-nya masing-masing karena bisa jadi saran contact pembaca atau penerbit yang tertarik atas karyamu. Profil singkat ini boleh ditulis di badan email.
  • SERTA masukkan/posting tulisan (cerpen) ke dalam blog pribadi-mu dengan mencantumkan teks berikut ini: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
  • Wajib menyertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.
  • Wajib Follow & mention akun Twitter dan Facebook @nulisbuku, kemudian silakan twit sinopsis tentang karya cerpenmu minimal sebanyak 3 (tiga) kali twit; jika 1 twit itu maksimal 140 karakter, maka 3 kali twit, maksimal adalah 140 x 3= 420 karakter. Selain itu, post dan mention Nulisbuku di Facebook. Twit dan post ini berguna untuk mempromosikan karyamu yang telah dikirim tersebut. Jangan lupa tambahkan hashtag #SafetyFirst pada setiap twit dan post Facebook-mu!

Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!

Pengumuman para finalis dan pemenang & penyerahan hadiah akan dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 21 November 2015 di acara launching buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst

 

D. Periode #SafetyFirst

Dimulai hari Sabtu, 10 Oktober 2015 dan ditutup pada Minggu, 1 November 2015 pukul 23.59 WIB. Karya diposting di blog DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

 

E. Pemilihan Pemenang

Pemenang terdiri dari 3 pemenang utama dan 20 finalis.  Seluruh tulisan yang masuk akan dinilai berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
  • Originalitas.
  • Teknik penulisan yang menarik dibaca.
  • Sesuai dengan syarat lomba.

Pemenang akan dipilih oleh juri yaitu tim Nulisbuku.com dan Yayasan Astra-Hoda Motor. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

 

F. Pengumuman Pemenang

3 orang pemenang utama dan 20 finalis terpilih akan diumumkan pada hari Sabtu tanggal 21 November 2015 di acara launching buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst

 

G. Hadiah Pemenang

Pemenang pertama akan mendapatkan uang tunai 3 juta Rupiah, kedua: 2,5 juta Rupiah; ketiga 2 juta Rupiah

Tiga pemenang utama, serta 20 finalis lainnya akan mendapatkan 1 eksemplar buku tersebut secara gratis dari nulisbuku.com.

Atas penerbitan buku ini, para pemenang dan finalis tidak menerima kompensasi berupa royalti karena hasil penjualan buku akan dikelola oleh pihak Yayasan Astra-Honda untuk kegiatan sosial yang terpilih.

 

H. Lain-Lain

Hak cipta karya yang masuk dalam buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst ini berada di pihak Yayasan Astra-Hoda Motor. Seluruh karya akan melalui proses editing dan setting oleh Nulisbuku sebelum buku diterbitkan.