Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Author: Pringadi As

Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari Kita memasukkan diri ke dalam barisan seperti kawanan domba yang hendak disembelih. Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium sol sepatu para pembunuh. Mereka menculik anak Maryam padahal ia masih bayi. Mereka mencuri dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk, dan aprikot dan […]

Jam Makan Siang

Jam Makan Siang

  Cerita ini milik seorang teman dari temanku. Ada seorang tokoh fiksi yang dekat dengan penulisnya bercerita bahwa ia ingin segala sesuatu sudah siap di meja makan pada jam makan siang. Bagaimanapun caranya, walau 1 jam lagi dunia kiamat, orang-orang ribut di luar mencari cara […]

Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Syarat Umum:

  1. Peserta adalah WNI.
  2. Tema: “Kekayaan Bangsa Indonesia dalam Kehidupan Berbudaya.”
  3. Konten cerpen tidak boleh memicu SARA atau yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.
  4. Sesuai dengan tema, konten membicarakan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang mana kekayaan itu sangat memberi pengaruh terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan budaya suatu tempat atau lokal.
  5. Cerita pendek harus memiliki/mengandung Kisah.
  6. Naskah harus karya asli secara keseluruhan, dan bukan terjemahan atau saduran.
  7. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik ataupun online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  8. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaiknya.
  9. Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara, dengan hak cipta tetap pada penulis.
  10. Hak untuk mempublikasikan naskah peserta dan para pemenang menjadi sepenuhnya milik penyelenggara lomba, dan tidak diperkenankan mempublikasikannya di media lain, terkecuali bila penulis yang bersangkutan ingin membukukannya dalam antologi atau karya tunggalnya sendiri.
  11. Hak penerbitan dalam bentuk buku sepenuhnya ada di tangan penulis.
  12. Setiap naskah yang dikirim akan ditampilkan di marwanmansyur.org
  13. Naskah yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan ditampilkan di marwanmansyur.org dan tidak akan disertakan dalam proses penjurian .
  14. Penyelenggara lomba berhak mengganti judul dan menyunting, tanpa mengubah isi.
  15. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
  16. Dewan juri akan mempertanggungjawabkan secara tekstual atas alasan mengapa naskah menjadi pemenang. Dan akan dipublikasikan di bawah bersama naskah pemenang di media yang sama.
  17. Lomba dibuka tanggal 1 Maret 2015 dan akan ditutup pada tanggal 1 April
  18. Pengumuman pemenang berikut publikasinya dapat dilihat di marwanmansyur.org pada tanggal 30 April 2015.
  19. Pajak ditanggung Panitia.

(more…)

Novel 4 Musim Cinta

Novel 4 Musim Cinta

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya. Kau pernah membayangkan ada sebuah novel […]

Bercermin pada Natsuo Kirino

Bercermin pada Natsuo Kirino

  Aku harus berterima kasih kepada Ardy Kresna Crenata karena suatu hari dia menyebut Natsuo Kirino di statusnya. Tidak lama setelah itu, aku pulang ke Palembang, dan melihat satu buku masih terbungkus plastik tergeletak di atas meja. Buku itu kakakku yang beli. Judulnya Grotesque. Pengarangnya […]

Knocking The Door

Knocking The Door

 

Setiap kita harus belajar mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan dengan orang lain.

~ Ajaran Sesat No. 47

 

Aku pernah sangat kesal pada seseorang. Dia teman satu kosku. Pasalnya, dia hobi sekali membuka pintu kamarku tanpa permisi. Tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dan ia melongokkan kepalanya atau sudah nyelonong masuk ke dalam kamar. Tentu saja aku merasa terganggu.

Bagiku, kamar adalah ruang milikku yang paling pribadi. Ia seperti hati. Tidak sembarang orang boleh masuk, apalagi masuk tanpa permisi.

Sejak kecil aku memang dikenal sebagai bocah kamar. Aku rela menghabiskan sebagian besar waktu hidupku di dalam kamar. Tak ada yang tahu apa yang kulakukan di dalam kamar. Orang tuaku mengira aku belajar. Sampai sekarang, aku sendiri tidak tahu arti dari belajar. Jika membaca buku adalah belajar, artinya aku memang belajar. Aku memang menghabiskan banyak waktuku dengan membaca buku di dalam kamarku itu.

Barangkali kau menganggapnya sepele atau memang dalam hidupmu kau tidak mengenal privasi atau diajari bagaimana caranya memulai sebuah interaksi dengan orang lain. Aku sangat sensitif dengan hal itu. Untuk mengirim SMS saja, jika aku belum atau baru mengenalnya atau aku tidak kenal secara akrab, aku akan dengan sangat serius memikirkan kata pertama yang harus kuketikkan.

Ini bukan cara berbasa-basi. Ini adalah manner. Semacam mengucapkan “Hai…” atau “Hallo…” sebelum memulai percakapan adalah bagian dari manner tersebut.

Pun dalam interaksi di media sosial. Aku mengibaratkan status, catatan, dan wall sebagai ruang tamu dan ruang-ruang lain. Sementara inbox adalah kamar. Itu kamarku. Tentu saja, ada hal yang harus diperhatikan sebelum memulai pembicaraan kalau kita tidak berteman atau berteman dekat.

Bisa saja kan orang yang kamu sapa itu sedang tidak mood, sedang tidak dalam keadaan ingin berbicara, sedang PMS, lalu kamu yang tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamar sambil mengajukan permasalahan?

Ah, barangkali memang usia tidak menjamin kedewasaan seseorang.