Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Author: Pringadi As

Pemenang Lomba Menulis Surat Cinta

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Lomba Menulis Surat Cinta sudah ditutup sejak 14 Juli lalu, dan tak mudah menentukan pemenangnya. Sejumlah surat masuk (lebih dari 30 surat), kubaca, dan kuakui kejujuran hati para penulis surat cinta ini. Beberapa cerita saya yakin potensial untuk dijadikan cerpen atau novel.

Kenapa Surat? Apakah mudah menulis surat? Jawabannya, tidak mudah menulis surat, karena surat memiliki tujuan dan pada saat menulisnya, kita harus betul-betul memikirkan orang yang kita tuju. Bila kita terfokus pada diri sendiri, surat itu akan hambar. Surat yang egois.

Surat juga harus memiliki kedalaman. Dulu, orang sulit sekali berkomunikasi sebelum ada telepon. Orang-orang menulis surat dan tidak bisa setiap saat menulis surat. Maka sebuah surat ditulis dengan masak-masak biar perasaan sesungguhnya bisa terbaca.

Ketiga, bahasa surat adalah bahasa yang intim, tidak berindah-indah. Berindah-indah itu tidak indah.

Atas hal-hal tersebut di atas, saya terpaksa memilih satu, dan jatuh kepada Alice dengan judul Surat Ketiga. Surat bisa dibaca di sini http://menatapmu.tumblr.com/post/162819279600/surat-ketiga

Selamat, Alice! Dan terima kasih sekali lagi buat semua yang sudah berpartisipasi. Semoga tidak kapok. Nanti ada bagi-bagi buku berikutnya, ya?

 

Beropini Tanpa Menyimak?

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Bermain Opini Lewat OPINI

Sering saya katakan, dan tak bosan-bosan, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Idealnya, kita punya keempat kemampuan tersebut yang harus dikuasai secara berurutan, dimulai dari menyimak.

Masalah bangsa yang sedemikian banyak ini, kuyakini berawal dari permasalahan literasi. Permasalahan literasi ini bukan cuma soal minat baca yang rendah lho ya.

Sebelum Indonesia merdeka, membaca dan menulis adalah sesuatu yang eksklusif, yang tidak bisa semua orang lakukan (tidak mudah didapatkan juga). Hal ini terjadi karena strategi dari penjajah yang sengaja membuat masyarakat bodoh. Kebodohan membuat orang mudah dijajah. Maka, jangan sampai membuat rakyat jadi pintar.

Usaha untuk membuat rakyat bodoh itu juga masih terus berlangsung setelah kemerdekaan sebagai bagian dari strategi politik. Coba tengok di zaman Orde Baru, banyak buku dilarang beredar, banyak sastrawan juga diawasi. Rakyat dilarang memiliki kekayaan berpikir karena kekayaan berpikir subversif, berbahaya!

Namun, ada satu hal baik yang masih bertahan: menyimak. Rakyat Indonesia adalah penyimak yang baik. Ketika Soekarno berpidato, rakyat berbondong-bondong mendengarkannya. Ketika pemerintah Orde Baru berkata melalui Menteri Penerangannya, rakyat juga masih mau mendengarkan, meski mungkin alasannya adalah tekanan.

Ketika Orde Baru tumbang, reformasi, kanal yang tersumbat itu mengeluarkan segala macam hal yang tertahan selama ini. Orang jadi bebas melakukan apa saja, berbicara apa saja. Dan kemampuan berbahasa itu terbalik, ya berbicara menjadi dasar. Orang-orang berbicara tanpa banyak membaca. Orang-orang berbicara tanpa tahu pentingnya menulis dengan struktur berpikir yang tepat. Dan orang-orang, karena berebut ingin bicara… kehilangan kemauan untuk menyimak!

Kemampuan berbahasa sesungguhnya erat dengan struktur berpikir dan teori kepribadian. Terutama menyangkut ego. Orang yang mampu menyimak akan jauh lebih toleran terhadap perbedaan pemikiran. Dia tidak memaksakan kebenaran versinya sendiri, dia menghargai kebenaran versi orang lain. Berbeda boleh, goblok jangan.

Tentu, usaha untuk mengembalikan hal yang benar itu tidak mudah. Semua orang beropini dan mau di dengar. Tapi, sebagagai seseorang yang peduli, hal yang tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin.

Saat ini ada portal-portal untuk mengembalikan minat baca dan minat menulis seperti Kompasiana dan Opini. Banyak juga yang lain dengan masing-masing kelebihannya. Opini.id sedikit lebih menarik karena penyajian opini disajikan dalam bentuk listicle yang secara tampilan unggul bila dilihat lewat mobile. Generasi muda saat ini memang lebih senang membaca versi mobile ketimbang membaca versi panjang-panjang. Ini adalah sebuah pendekatan yang patut dipuji.

Saya tidak tahu seberapa panjang jalan untuk menaikkan kemampuan literasi bangsa kita. Tapi saya yakin, pelan-pelan hal itu bisa terwujud.

Tips Memilih Jurusan Kuliah

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Hal tersulit sesudah lulus SMA adalah memilih jurusan kuliah. Ada banyak kepentingan yang membuat sulit dalam pengambilan keputusan.

Saat itu, 2005, saya ikut bimbingan belajar Nurul Fikri. Saya katakan, Nurul Fikri adalah bimbingan belajar terbaik yang pernah saya ikuti. Siswanya tidak diajak berpikir pragmatis, tapi memahami suatu filosofi ilmu. Terbukti, murid-murid Nurul Fikri di masa saya menguasi 10 besar try out-try out publik di Kota Palembang saat itu.

Saya tidak termasuk ke sepuluh besar. Tapi, dalam beberapa kali kesempatan, nilai saya tak memalukan dan diprediksi mampu menembus Kedokteran UNSRI dan ITB kecuali Informatika dan Elektro. Ibu saya sih yang kepengen ada anaknya yang jadi dokter. Makanya, sekali kesempatan, saya mengisi Fakultas Kedokteran, lulus, dan hasil itu dikirimkan ke rumah. Ibu jadi menggebu-gebu meminta saya memilih kedokteran. Tapi saya justru mengisi Matematika ITB di SPMB.

Apa sih yang jadi pertimbangan?

  1. Pilihlah Bidang yang Kamu Sukai. Mau tidak mau, paling utama adalah dengarkan kata hatimu. Bidang apa yang kamu sukai. Bidang apa yang kamu kuasai. Kuliah di bidang itu, akan membuatnya seperti hiburan.
  2. Perhatikan Biaya Semesteran di Universitas Tersebut. Nah ini penting. Kuliah itu nggak murah. Kamu juga harus memperhatikan biayanya, konsultasikan ke keluargamu. Jangan sampai kamu terlalu membebani keluargamu.
  3. Cari info lapangan kerja yang berasal dari jurusan itu. Kita juga harus realistis. Kita harus memproyeksikan 4 tahun ke depan apakah lulusan jurusan A masih dibutuhkan di lapangan kerja.
  4. Lihat prediksi skor nasional/passing grade bila kamu ikut seleksi nasional, dan sesuaikan dengan kapasitasmu. Jangan gegabah memilih jurusan dengan nilai tertinggi padahal nilaimu setengahnya. Itu bunuh diri. Pilihan pertama, bolehlah memilih jurusan yang nilainya kirakira- 25% lebih tinggi dari ukuranmu. Pilihan kedua, zona aman. Keberuntungan nggak pernah begitu drastis pengaruhnya.
  5. Konsultasikan ke orang tuamu. Toh, doa orang tua itu penting. Jangan lupa untuk bicara ke mereka meski pendapat mereka ga sesuai kata hatimu. Minimal iya-iyain saja.

Kira-kira itu saja lima pertimbangan yang bisa membuat kita mantap memilih jurusan kuliah. Semoga berhasil.

Puisi Pringadi Abdi Surya di Lombok Post, 30 Juli 2017

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Sajak Pi

 

aku ingin belajar mencintaimu, tetapi tidak di

kehidupan ini

karena Waktu datang begitu terlambat

untuk mengenali betapa Cinta adalah dirimu;

 

sebuah Trans-Jakarta lewat, aku berharap Kau

menempuh jalan yang sama denganku, hanya

Kau diam, aku diam, mencoba menatapmu lebih dalam

 

aku tidak mencoba ke mana-mana, tetapi Kau pun

tidak mencoba ke dadaku, “Cinta mungkinlah

sebuah lelucon,” begitu pikiranku berkata sementara

 

aku telah kehabisan kata-kata meski sekadar

mengatakan aku telah jatuh cinta kepadamu.

 

 

***

 

dua hal yang aku sadari semenjak saat itu:

 

Perasaan adalah gerimis terakhir yang turun

sore hari, dan orang-orang menggerutu, membicarakan

api tanpa tungku, bulan biru, dirimu.

 

dan aku pelan-pelan berharap, di kehidupan yang lain

bus yang sama akan lewat, dan aku sempat

menggenggam tanganmu–dengan sangat erat.

 

 

 

 

 

Hujan dalam Sebuah Ingatan, 11

 

Hujan begitu deras dan telah mencapai mata kaki.

Aku menantang diriMu yang luluh oleh kesepian. Sementara

orang-orang telah lebih dulu membenci keramaian.

 

Ia yang berdiri di halte, membawa masa lalu di ranselnya.

Aku tak pernah membawa apa pun, Kau lah yang berpura-pura

memberikan aku sebuah dada yang tidak mampu memiliki

apa-apa. Kecuali air mata yang mengalir tanpa alasan.

 

 

Hujan dalam Sebuah Ingatan, 8

 

Aku memanggilmu, Kawan, ketika pada akhirnya gerimis itu

patah, mayat-mayat bergelimpangan di badan

jalan dan seorang lelaki menari telanjang, memamerkan dadanya

yang berlubang. “Inilah peluru akibat diriku yang terlalu setia

padaMu.”

Dan dia terbaring, tetapi bukan tidur, Kawan;*

 

Aku menantikan seseorang berteriak, memaki, memukul-mukul

kepalanya sendiri, tetapi begitu lengang hari itu,

dan pintu-pintu tak ada yang mengenali, jendela bertirai

Mereka yang terkulai seperti sampah yang dilempar

dari kaca mobil, melaju dengan kecepatan sedang di jalan tol itu;

 

Aspal merah. Pasti gerimis yang berdarah.

 

*Toto Sudarto Bachtiar, Pahlawan Tak Dikenal

 

 

 

 

 

Bom, Tuan Malna

: ulil

 

Tuhan belum mau kamu mati hari ini

karena Tuan Malna tidak mencintai kebebasan;

 

Hari itu, Tuan Malna sedang belajar merakit bom, “Ini

bom untuk orang munafik.” Ia menyobek kalender

dan menggunting lanskap langit yang cengeng.

 

Orang-orang cengeng sesungguhnya akan berlindung

di ketiak kekuasaan. Orang-orang munafik sesungguhnya

akan menggunakan kebebasan sebagai alasan.

 

Jam berdentang dua kali dan pintu diketuk,

Tuan Malna masih duduk memikirkan cara yang tepat

untuk meledakkan kepala Ulil.

 

“Mana yang lebih Tuan benci: polisi atau politisi?”

Sang Tamu bertanya limbung, Tuan Malna juga bingung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mary Tinggal di Luar Rumah Saban Malam

: moon geun young

 

Sebuah rumah tanpa ibu membuat ia harus menghitung

sampai sepuluh. Ia terbiasa berpura-pura tidak punya air mata

dan memamerkan kelerengnya yang tinggal dua butir. Setiap

malam, ia menunggu ketukan pintu dan seorang pemusik

akan meniupkan seruling tanpa berbasa-basi.

Hidup seperti drama. Hidup seperti televisi 14 inchi. Hidup

tidak mungkin sebuah kenyataan. Ia meyakini itu dan terus

berpura-pura memiliki suami, memiliki cinta, dan mampu

membohongi siapa saja. Termasuk Tuhan yang bersembunyi

di dalam cermin.

:

Sebuah rumah tanpa ibu membuatnya memilih tinggal di

luar setiap malam dan menyembunyikan kunci rumahnya

di bawah pot bunga yang tak pernah lagi disirami.

 

 

Kondisi Bila Indonesia Tidak Berutang

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Kondisi Bila Indonesia Tidak Berutang

Viral tentang Indonesia Darurat Utang ini sebenarnya harus dihadapi dengan terbuka. Tidak mudah memang memberikan pemahaman bagi masyarakat umum tentang utang dari sudut pandang manajemen keuangan publik. Tulisan ini adalah versi beta dari versi lengkap di kemudian hari, tentang bagaimana sih kondisi Indonesia jika tidak berutang? Bisa nggak sih Indonesia lepas dari utang?

Asumsi yang saya gunakan dalam simulasi ini adalah outlook realisasi APBN 2017, ceteris paribus, semua asumsi terpenuhi, meski pada kenyataannya dalam beberapa tahun terakhir penerimaan pajak selalu shortfall.

Outlook defisit anggaran kita adalah 2,67% terhadap PDB atau sekitar 362,9 T, meski dalam RAPBN-P asumsi defisit mencapat 2,92% atau sekitar 397,2 T dan realisasi pembiayaan > realisasi defisit, yang artinya, kita berutang lebih banyak dari defisit yang terjadi akibat adanya selisih antara penerimaan dan pendapatan per harinya.

Karena kita tidak berutang, kita buang angka 362,9 T tersebut. Tersisalah pendapatan negara dan penerimaan hibah sebesar total 1717,2 T.

Bisa apa kita dengan 1717,2 T?

Total belanja kita adalah 2111,4 Triliun dalam APBN-P 2017 dengan outlook 2077,0 setelah penghematan belanja. Rencana belanja infrastruktur (belanja modal fisik) adalah sekitar 378 T. Jika dikurangkan angka itu dari belanja, sisanya 1699 T.

Artinya, setelah melunasi semua belanja, dari belanja pegawai, belanja barang, bantuan sosial, dll… hanya tersisa uang 18,2 Triliun untuk ruang fiskal (dalam hal ini infrastruktur).

Jadi sebagai rakyat, kita tak boleh kelewatan banyak menuntut karena 18,2 T paling bisa untuk membuat 1 proyek infrastruktur yang besar, atau beberapa proyek skala menengah saja.

Siapkah kita hidup qonaah, bebas utang, bebas riba?

(Eh jangan lupa, dalam 1717,2 T itu, kita harus melunasi cicilan bunga utang 250 T per tahun. Terus yang dikorupsi berapa?)

 

Gaes, jadi pemerintah itu nggak mudah. Susah banget memilih kebijakan buat memuaskan semua rakyat.

 

 

Kereta Pagi

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tahukah kau apa yang lebih menyeramkan dari sekawanan pemabuk yang baru saja kehilangan kerabatnya yang terbunuh karena mempertahankan tanah tempat ia berpijak? Aku akan bilang, para binatang pekerja yang berumah di sekitar Bogor dan bekerja di Jakarta, yang antre menunggu kereta datang, lebih tak berprikemanusiaan dibandingkan mereka.

Setiap pagi pada hari kerja, aku harus menghadapi bahaya itu. Bahaya yang lebih mengancam bukanlah pada saat berebut naik kereta, namun pada saat berada di dalam kereta, ketika para binatang di stasiun berikutnya mendesak masuk ke dalam gerbong yang sudah penuh. Kadang kubayangkan akan ada bunyi kraak yang dramatis yang berasal dari patahnya tulang seseorang, meski paling sering hanya bunyi desahan orang-orang yang mengeluh menghadapi situasi sesulit itu.

Kereta berjalan, sebagian besar orang menunduk sambil melihat layar ponsel pintar yang membuat orang-orang semakin bodoh. Yang duduk, pura-pura tertidur, agar nanti jika ada orang tua, perempuan hamil, mereka tak jadi orang pertama yang diminta berdiri menyerahkan tempat duduknya. Tempat duduk itu sudah seperti kursi kekuasaan yang berat sekali untuk dilepaskan. Aku pikir orang-orang seperti itu pernah mencalonkan diri menjadi anggota dewan, namun tak kesampaian.

Aku adalah seekor binatang pekerja. Hidup seperti ini, aku tak tahu, apa yang sebenarnya kuharapkan? Tapi itulah bedanya binatang dengan manusia. Binatang tak punya akal budi. Aku tak ingin memikirkan semua itu karena hanya dengan demikianlah perutku terisi.