Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Author: Pringadi As

Kebijakan Tol yang Melanggar UU Mata Uang

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Kebijakan Tol yang Melanggar UU Mata Uang

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Mata sudah berjuang melawan kantuk. Setelah berulang kali gagal memesan taksi online karena alasan ada banyak razia (nanti akan ditulis dalam topik tersendiri), aku pun memutuskan naik taksi biasa menuju rumah.

Sengaja tak naik Damri ke Depok karena batre hape sudah sekarat. Dari Depok ke rumah, aku harus menempuh jarak 14 km lagi. Tidak bisa pesan taksi online. Tidak berani menunggu taksi biasa malam-malam di Margonda.

Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Sang sopir bertanya, “Apakah Bapak punya kartu tol?” Saya jawab tidak punya. Saya baru tahu kalau semua gerbang tol mengharuskan pemakaian uang elektronik yang sudah terintegrasi dengan sistem. E-tol, Mandiri, Brizi, semacam itu.

Batin saya terusik. Gelisah. Struktur berpikir saya yang terbiasa dengan metodologi ilmiah tergelitik. Pemaksaan penggunaan uang elektronik dengan menihilkan peran uang tunai adalah suatu bentuk pelanggaran kedaultan rakyat, pelanggaran terhadap undang-undang.

Nyatanya, UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang masih berlaku. Uang kertas tetaplah mata uang yang boleh dipakai di republik ini. E-toll dan kawan-kawan boleh dioperasikan, tetapi pihak tol harus tetap menyediakan gerbang tunai, menerima uang tunai.

Kemudian, jalan tol bukanlah barang privat.   Ia barang semi publik. Ada juga yang menyebutnya barang publik congestible yang berhubungan dengan sifat konsumsi barang publik yang nonrival jika penggunaannya wajar tetapi menjadi tidak lancar dalam penggunaan yang berlebihan. Artinya, punya swasta yang boleh arogan saja masih menerima uang tunai,  apalagi kalau barang semi publik yang sifat kerjasamanya PPP (Public Private Partnership).

Motif Uang Elektronik Sesungguhnya

Seorang teman pernah menulis tentang cashless society dengan contoh Swedia yang penggunaan uang tunainya hanya 2%. Argumennya bisa diterima. Ada banyak kemudahan dalam penggunaan uang elektronik sebenarnya.

Dalam konteks tol, benarkah penggunaan e-toll murni untuk mengurangi kemacetan? Saya pikir tidak.

Taksi yang saya tumpangi tiba-tiba melambat. Ada kemacetan menuju gerbang tol kedua. Jaraknya masih lebih dari 500 m di depan. Sudah operasikan e-toll saja. Tapi masih macet. Kenapa?

Menurut sopir, gerbang tol tersebut perlu dikaji keberadaannya. Pertama, jarak dari gerbang tol pertama terlalu dekat. Kedua, jarak dari pertemuan dengan dua jalur pun terlalu dekat. Seharusnya, tidak perlu ada gerbang tol itu.

Ilustrasi ini untuk menggambarkan bahwa ketidaktepatan dalam perencanaan tata jalan adalah salah satu penyebab kemacetan. Masih ingat dengan tragedi Brexit kan?

Yang kedua adalah mobil. Namanya macet ya karena terlalu banyak mobil. Maka, mobil yang harus dikurangi. Tapi siapa yang berani melawan arus geng otomotif di republik ini? Pertumbuhan mobil yang terlalu banyak, yang ngutang sebagian besarnya, malah diamini sebagai bentuk pertumbuhan ekonomi.

Satu-satunya motif yang masuk akal bagiku adalah profit. Gencarnya penggunaan uang elektronik ini dengan manajemen kas yang baik, akan mendatangkan profit. Treasury agent akan mudah memperkirakan idle cash harian untuk investasi jangka pendek.

Tak heran sekarang para pemain besar datang ke Indonesia untuk mengembangkan bisnis uang elektronik ini. Gojek bahkan menjadi terbesar keempat dan membuat seorang taipan menanamkan uangnya besar-besaran.

Ironi Uang Tunai, Ironi Inovasi

Keberadaan uang tunai pun adalah sebuah ironi. Uang tunai yang kita pegang sekarang sebenarnya punya sejarah panjang yang ironis. Tak ada lagi penjaminnya selain hanya kepercayaan terhadap pemerintah.

Waktu berlalu, teknologi berkembang. Kita punya kartu ATM, bisa ambil uang tunai di mana-mana, bisa jadi kartu debit untuk transaksi. Tapi lalu ada uang elektronik?

Apa coba kelebihan dari uang elektronik ini selain kita ga perlu jadi nasabah bank tersebut? Nggak ada. Yang dilakukan seharusnya adalah perluasan fungsi kartu debit, baik dari penggunaannya, kemudahannya, maupun keamanannya. Kartu ATM bisa dipakai buat e-toll dll dengan jaminan keamanan mumpuni. Dengan begitu, kita nggak perlu repot-repot punya banyak kartu.

Ironis kan? Setelah kalah gengsi dengan kartu kredit (kartu utang) yang banyak diberi fasilitas diskon dan kemudahan untuk memilikinya, kini kartu ATM juga kalah gengsi dengan kartu-kartu uang elektronik, yang kalau hilang…. gimana coba cara klaimnya, kalau nggak lebih ribet dari mau bikin SIM ke Polisi?

Puisi Seorang Jenderal

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Puisi Seorang Jenderal

Seorang jenderal besar lupa

kata-kata lebih berbahaya

daripada lima ribu senjata

 

Kata-kata tak punya mata, mereka

bebas membunuh siapa saja

yang sengaja atau tidak sengaja membaca.

Membaca tak lagi jendela dunia

tetapi bisa pula pintu gerbang kematian.

Kata-kata tak punya telinga, tak peduli

pada suara lain di luar sana

yang gaduh dan lebih gaduh

dari demonstrasi kenaikan upah buruh.

 

Wajah Muram Kepulauan Riau

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Bila bisa menangis, mungkin Kepulauan Riau tengah menangis saat ini. Pembangunan yang seyogyanya terus berlangsung malah menerima kabar duka. Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau menjadi yang terburuk di Sumatra dan nomor dua terburuk secara nasional. Nilai 1,52% tentu jauh di bawah 5,01% nilai nasional.

Apa artinya angka pertumbuhan ekonomi 1,52% (c-to-c) bagi masyarakat?

Secara sederhana, pertumbuhan ekonomi bisa dipandang sebagai kemampuan faktor-faktor produksi milik warga (domestik maupun asing) di wilayah tersebut untuk memproduksi barang dan jasa. Misalnya, Kepri lekat dengan budaya minum kopi. Kita bisa melihat situasi warung kopi di Kepri untuk meraba pertumbuhan ekonomi. Apakah jumlah warung kopi meningkat ataukah banyak warung kopi yang tutup? Apakah jumlah penjualan gelas kopinya meningkat ataukah justru menurun?

Kepulauan Riau terdiri tujuh Kota/Kabupaten. Ada Batam, Tanjung Pinang, Bintan, Anambas, Lingga, Natuna dan Karimun.

Tiap wilayah tentunya memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dari sektor yang memiliki kontribusi terhadap perekonomian. Batam adalah kota industri, sedangkan Anambas dan Natuna adalah wilayah migas. Tanjung Pinang dijadikan kota administratif, pusat pemerintahan, sedangkan Lingga bisa jadi kuat di sektor makanan pokok.

Kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kepri secara sektoral ada di sektor industri. Porsinya mencapai 36,62% terhadap PDRB Kepri. Sektor terbesar kedua adalah sektor konstruksi dengan porsi 17,70%. Sektor terbesar ketiga adalah sektor pertambangan dengan porsi 14,36%.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Kepri terjadi karena adanya penurunan pada sektor tersebut. Penurunan terjadi terutama pada sektor pertambangan dan sektor industri. Sektor pertambangan turun -4,32%, sedangkan sektor industri turun -0,44%.

Dari sisi pendekatan pengeluaran, tiga komponen terbesar pembentuk PDRB Kepri adalah Investasi (PMTB), Konsumsi RT, dan disusul oleh Net Ekspor yang masing-masing berporsi 42,47%, 40,01%, dan 14,78%. Porsi ini berbeda dengan porsi nasional yang didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan kebergantungan Kepri pada investasi sehingga kebijakan pemerintah diarahkan sebaiknya pro investasi.

Data-data di atas menunjukkan hal lain, yakni dominasi Batam pada pertumbuhan Kepulauan Riau. Kalau Batam lesu, Kepri akan ikut lesu. Implikasinya adalah pemerintah daerah harus menjaga agar Batam tidak lesu, atau melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Batam. Caranya bisa dengan menumbuhkan potensi perekonomian yang lain atau mendistribusikan sektor industri ke daerah lain dengan cara pembangunan infrastruktur yang terintegrasi.

Bicara investasi (PMTB) bukan berarti hanya kontribusi swasta di dalamnya, melainkan juga peran belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah. Tahun 2017, 54,91% alokasi infrastruktur berada di Batam. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah cenderung menjaga agar Batam tidak lesu ketimbang melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Batam.

Pemilihan infrastruktur yang tepat sebenarnya bisa menjadi solusi penggerak pertumbuhan ekonomi. Misalnya, pembangunan jembatan antara Batam ke pulau Bintan harus segera direalisasikan, dengan catatan memang ada kajian yang bisa dipertanggungjawabkan. Metode yang sering digunakan untuk menghitung manfaat dari pembangunan infrastruktur adalah capital budgeting dengan cost benefit analysis.

Yang bisa dilakukan Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagai representasi Kementerian Keuangan di daerah adalah mendorong satuan kerja untuk segera merealisasikan belanja modalnya, terutama jika ada infrastruktur strategis seperti jalan dan jembatan. Kelambatan dalam melakukan realisasi belanja modal ini tidak akan memberikan sumbangsih pada perekonomian tahun berjalan.

Masalah Batam juga perlu dicari solusinya. Jangan-jangan trigger-nya bukan dari sisi spending/ belanja. Isu-isu lain yang tengah semarak di Batam perlu ditanggapi serius. Misalnya, ada faktor lambatnya transformasi KEK Batam, kenaikan upah buruh di Batam, serta keterbatasan persediaan lahan industri di Batam.

Distribusi perekonomian juga akan berpengaruh pada distribusi penduduk. Orang tidak tumpah ruah di Batam. Pembangunan yang merata di berbagai Kabupaten/Kota akan menarik orang ke wilayah-wilayah tersebut. Kemudian, dengan sendirinya mereka akan membangun wilayah itu dengan konsumsi dan produksi yang mereka lakukan.

Ironisnya, hal itu belum terjadi saat ini. Bahkan, Tanjung Pinang sebagai ibukota provinsi malah terkategori ke dalam kuadran IV melalui analisis Tipologi Klassen, atau daerah tertinggal, bersama Kabupaten Bintan. Padahal, Tanjung Pinang adalah kota administratif, p usat pemerintahan, yang seharusnya penerima gaji melakukan belanja di Tanjung Pinang. Namun sepertinya itu tidak terjadi karena warga masih memilih berbelanja di Batam. Begitu pun Kabupaten Bintan dengan potensi pariwisatanya seperti Lagoi dan Trikora, bisa didorong untuk megembangkan pariwisatanya.

Jangan sampai hanya ada satu gula besar di suatu provinsi. Semut-semut berkerumun tanpa tahu ada gula lain yang tersebar dan masih tersembunyi di wilayah itu.

 

Menghadiahi Diri Sendiri

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Seberapa dekat kita dengan diri kita sendiri? Sejauh mana kita mengenal binatang macam apa kita? Pertanyaan itu sangat penting untuk menemukan konsep diri kita yang utuh.

Setiap ada yang berulang tahun, kita kerap memikirkan kado yang cocok untuk diberikan. Termasuk bila kita yang berulang tahun atau berprestasi, kita menanti-nanti pemberian hadiah dari orang lain yang dekat dengan kita. Saya sudah lama berhenti mengharapkan hal semacam itu—kecuali dari kekasih tercinta. Saya lebih sering menghadiahi diri sendiri jika ada hal spesial yang telah saya jalani.

Sebenarnya saya seseorang yang sensitif. Saya terbiasa membaca raut wajah orang ketika memandang saya. Saya memiliki persepsi yang mendalam terhadap cara orang lain memandang saya. Saya tahu jika ada orang yang menghargai saya. Saya tahu jika ada orang yang tidak suka saya. Bahkan, kata-kata yang ditujukan untuk bercanda, saya cerna baik-baik. Bercanda adalah hal paling serius yang dilakukan manusia.

Dalam dua minggu ini, saya mendapat tugas mengajar ilmiah populer. Minggu lalu saya pergi ke Kepulauan Riau. Minggu ini saya pergi ke Aceh. Ada beberapa rekan saya yang memandang saya dengan pandangan berbeda. Mereka pikir saya diistimewakan oleh atasan saya.

Yang terjadi sebenarnya, penugasan saya awalnya tidak ada hubungannya dengan atasan saya. Saya dihubungi oleh bagian pengembangan. Beliau bertanya apakah saya mau mengajar. Saya jawab saya bersedia selama diizinkan oleh atasan. Tentu, saya katakan seperti itu karena saya menghormati posisi saya di bagian saya berada.

Kebetulan, atasan saya itu juga sering menulis. Seorang doktor. Maka, ia diminta mengajar pula. Jadilah dua orang dari satu bagian yang mengajar. Bukan atasan saya yang mengajak saya. Malah atasan saya itu mengurangi jatah mengajar saya dari 6 kali menjadi 3 kali dan melimpahkannya ke orang lain, agar saya bisa mengerjakan tugas kantor.

Apakah saya marah dan kecewa jatah mengajar saya dikurangi? Tidak. Sama sekali tidak. Karena mengajar itu bukan hal yang mudah. Tanggung jawabnya pun berat.

Bayangkan saja, dari pukul delapan pagi sampai pukul lima sore, saya berdiri di depan kelas, membagi ilmu, dan berhati-hati agar penyampaian saya dapat diterima. Saya berkeliling ke tiap peserta mengecek tulisan mereka. Setiap malam, saya membaca tulisan mereka lagi, membaca KFR agar saya makin mengerti substansi objek/bahan tulisan. Apakah itu adalah tindakan senang-senang?

Selama hari mengajar saya akan menjaga kondisi tubuh saya. Saya tidak makan aneh-aneh. Saya juga tidak berjalan-jalan. Saya hanya ke kantor, balik ke hotel, dan pergi cari makan kalau malam. Sudah, begitu saja.

Orang kemudian hanya melihat sisi selanjutnya ketika saya memposting foto saya yang tengah bersenang-senang. Saya memang suka traveling dan saya lakukan itu pada hari Sabtu setelah semua proses mengajar selesai. Saya baru bisa berbahagia ketika tanggung jawab saya selesai.

Itulah cara saya memberi hadiah kepada diri saya sendiri. Dengan begitu, saya akan merasa segalanya menarik dan menyenangkan. Saya pun jadi mencintai hidup yang saya jalani.

 

 

Antara Dragon Ball, Han Kang, dan Noh Hee Kyung

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Antara Dragon Ball, Han Kang, dan Noh Hee Kyung

            Dragon Ball Super sudah melebihi episode 100. Kelanjutan cerita Akira Toriyama itu terpaut cukup jauh dari Dragon Ball Z, yakni sekitar 10 tahun. Tidak seperti Dragon Ball GT yang dianggap sebagai cerita fan fiction, Dragon Ball Super adalah versi kanon Dragon Ball. Artinya, ia harus betul-betul memperhatikan karakter hingga plot Dragon Ball sebelumnya.

Satu nilai tambah dari seri ini adalah karakter-karakter yang tenggelam akibat superiotas Son Goku dimunculkan dan didalami sehingga pemirsa dapat lebih memahami berbagai sudut pandang tiap karakternya. Son Goku memang tokoh utama, tapi bukan berarti potensi perkembangan karakter yang ada pada (misalnya) Son Go Han diabaikan.

Usaha untuk mengungkap berbagai sudut pandang dalam satu cerita itu juga dilakukan Han Kang dalam The Vegetarian. Han Kang adalah penulis prosa Korea kedua yang kubaca setelah Tablo. Personel Epik High yang juga lulusan sastra Stanford University itu pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen.

Mulanya aku berpikir The Vegetarian akan berisi tentang bagaimana kehidupan seorang vegan. Namun, yang kudapat adalah berbagai bentuk kemuraman—yang mau tak mau juga membuatku gelisah.

The The Vegetarian bercerita mengenai seorang perempuan bernama Yeong Hye yang mendadak berubah menjadi The The Vegetarian. Suaminya begitu kaget dengan perubahan tersebut. Yeong Hye berasal dari keluarga yang menyukai daging. Ia punya seorang kakak dan seorang adik. Mendengar Yeong Hye tidak mau makan daging lagi, dan melihat ia berubah menjadi begitu kurus, keluarganya sangat khawatir dan memaksa ia memakan daging. Sayangnya, usaha itu malah berakibat percobaan bunuh diri yang dilakukan Yeong Hye.

Jika pidana mengenal mens rea, cerita juga kudu memiliki motif. Kenapa Yeong Hye mendadak berubah menjadi vegan? Bagaimanakah masa lalu Yeong Hye? Bagaimanakah keadaan pernikahan mereka? Seperti apa keluarga Yeong Hye? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelindan ketika mulai membaca novel ini, dan Han Kang begitu terampil menuliskan jawabannya.

Jawaban itu bukanlah mengenai Young Hye semata, tapi juga melingkupi manusia, atau lebih jauh… kehidupan itu sendiri.

Saya pernah bertanya-tanya ketika masih remaja, kenapa kok sebelum menikah banyak orang berpacaran, dan ada yang hingga berkali-kali. Seorang teman menjawab hal itu untuk saling mengenal. Tidak mungkin kita beli kucing dalam karung, menikahi seseorang yang tidak kita kenali. Meski di sisi lain, banyak juga orang yang menikah tanpa menjalani proses pacaran itu dan memiliki risiko sama: bahagia atau tidak bahagia. Pernikahan kemudian dirayakan dengan begitu mewah seolah-olah itu adalah akhir yang paling bahagia dari sebuah hubungan. Dongeng-dongeng pun mengakhiri cerita dengan pernikahan-bahagia-selamanya.

Saya sudah menikah. Dan saya berpacaran lebih dari tiga tahun dengan istri saya. Tapi, setelah menikah, saya menyadari, saya sama sekali belum banyak mengenal dia. Dan meski, saya mengenal dia, manusia berubah. Dia juga akan berubah, dan setiap hari kita mengalami proses itu—proses untuk saling mengenali dan memahami perubahan masing-masing.

Bukan hanya itu, pernikahan juga kerap membuat kita menyadari, sesungguhnya kita belum banyak mengenali diri kita sendiri.

Cara memandang pernikahan itu pun berbeda-beda. Pada serial Dragon Ball, bangsa Saiya sebagai bangsa petarung menikahi wanita-wanita Bumi. Bangsa Saiya yang superior itu malah tak bersemena-semena terhadap istri mereka. Malah mereka sangat menghormati istri-istrinya.

The Vegetarian adalah antithesis penelitian Burges dan Locke. Menurut Burges dan Locke (196)), hubungan antar suami-istri berubah dari hubungan yang ada pada keluarga yang institusional ke hubungan yang ada pada keluarga yang companionship. Hubungan antar suami-istri pada keluarga yang institusional ditentukan oleh faktor-faktor seperti adat, pendapat umum dan hukum. Seiring perkembangan zaman, pengaruh faktor-faktor tersebut mulai berkurang. Hubungan antar suami-istri kini seharusnya lebih didasarkan atas pengertian dan kasih sayang timbal balik serta kesepakatan mereka berdua.

Pola yang adalah pola yang otoriter, sedangkan companionship adalah pola yang demokratis. hubungan yang otoriter menunjukkan pola hubungan yang kaku, seorang istri yang baik adalah istri yang melayani suami dan anak-anaknya. Sebaliknya, dalam pola yang demokratis hubungan suami-istri menjadi lebih lentur, istri yang baik adalah pribadi yang melihat dirinya sebagai pribadi yang berkembang terus.

Korea Selatan menganut sistem patrilineal. Dalam hal pernikahan, kebanyakan pola yang dianut adalah pola yang otoriter. Pola otoriter ini bisa bersifat hubungan owner property, bisa juga ke head complementer. Owner property menekankan peran istri sebagai milik suami seutuhnya yang diatur dan ditata oleh suaminya. Sementara pola head complementer tak berbeda jauh, istri adalah pelengkap sang suami. Bedanya adalah sifat otoriter sang suami berkurang karena istri diperbolehkan memilih dan menentukan pilihan dalam konteks rumah tangganya.

Kekuatan adat yang dimiliki Korea Selatan ini kemudian berhadapan dengan perkembangan yang dialami negara tersebut. Sejak Olimpiade Seoul 1988, Korea melesat menjadi salah satu negara maju di Asia bahkan pelan-pelan menggeser Jepang sebagai negara pengekspor teknologi.

Hal yang dilakukan oleh Korea Selatan untuk mencapai itu semua salah satunya dengan strategi kebudayaan. Kebanggaan pada identitas Korea itu ditanamkan dalam segala bidang sehingga segenap lapisan masyarakat mampu mengidentifikasi siapa dirinya, apa masa lalunya, dan bagaimana masa depan yang mereka inginkan.

Namun, pertumbuhan ekonomi dan liberalisme pasar juga membawa efek samping, yakni infiltrasi kebudayaan dan filsafat yang menyertainya. Mulai dari pandangan tentang modal hingga pandangan mengenai gender dalam berbagai relasinya, termasuk dalam pernikahan.

Perempuan-perempuan Korea memiliki dualisme. Mereka dituntut cantik (yang berarti terikat oleh pandangan misoginis). Di sisi lain,  wanita ini ingin tampil cantik karena dengan cara itulah kesempatan kerja ke perusahaan yang bagus meningkat. Keinginan wanita untuk mandiri ini terkait dengan feminisme. Dualisme itu tak hanya sampai di situ. Pada jenjang pernikahan, hal itu terjadi pula. Dalam dunia selebritis misalnya, artis wanita Korea yang sudah menikah banyak yang diminta berhenti berkarir oleh suaminya

Disadari atau tidak, dualism dalam peran itu akan menimbulkan rasa asing. Rasa asing itulah yang disajikan Han Kang pada karakter-karakter di dalam The The Vegetarian. Kritik terhadap pernikahan yang makin kini hanya semacam lembaga/ institusi suami dan istri, hubungan profesional semata dalam memerankan fungsi masing-masing. Hal ini saya duga tidak terlepas dari tren pernikahan di Korea Selatan, yang menjadikan kesuksesan sebagai tolak ukur, sehingga usia pernikahan makin lama makin tua ( >35 tahun).

Han Kang juga mengkritik bahwa pernikahan tak bisa mengekang hasrat seseorang. Hal ini terlihat dari bagaimana suami Yeong Hye kerap membayangkan hal erotis bersama kakaknya Yeong Hye, juga kakak ipar Yeong Hye menginginkan dirinya dengan dalih ekspresi seni. Dalam kenyataan, open marriage juga kian menjamur. Tak masalah kau mau bercinta dengan siapa, asalkan selalu kembali ke rumah dan bertanggung jawab terhadap keluargamu.

Pernikahan sebagai fenomena budaya (dan pergeserannya) ini diterjemahkan dengan begitu suram oleh Han Kang.

Tak seperti prosa Korea yang baru dua buah yang saya baca, film dan serial drama Korea sudah lama menjadi favorit saya. Baeksang Award beberapa hari lalu memunculkan kejutan hebat karena Goblin yang digadang-gadang akan menang mudah, kalah oleh serial drama yang ratingnya jauh lebih rendah: Dear My Friends. Drama ini ditulis oleh Noh Hee Kyung yang juga menulis drama It’s Okay It’s Love.

Noh Hee Kyung setia pada drama-drama realis. Ada satu kesamaan It’s Okay It’s Love dengan The The Vegetarian, yakni sakit mental yang diderita para tokohnya. Yeong Hye dan Jang Jae Yeol sama-sama menderita Skizofrenia. Baik Hee Kyung maupun Han Kang memaparkan masa lalu yang gelap yang dialami tokohnya: kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Ketidaksanggupan mental manusia menanggung rasa sakit itu melahirkan gangguan kejiwaaan. Penderita skizo akan mengalami episode demi episode halusinasi, dalam sebuah skenario yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Akhir dari skenario itu adalah keadaan yang membahayakan diri mereka. Perbedaannya, Hee Kyung memberikan penyelesaian konflik yang mudah dan bahagia (karena drama adalah kitsch, yang mempertimbangkan pasar), sementara Han Kang  membiarkan konflik itu melahirkan potensi konflik batin yang dialami oleh tokoh-tokoh di sekitar Yeong Hye (terutama kakaknya).  Han Kang seakan melegitimasi bahwa karya sastra adalah karya yang hidup dan bebas ingin hidup seperti apa di benak para pembacanya.

Dalam kegelisahan ini, saya kembali bertanya-tanya, kenapa setiap orang ingin bahagia? Apa sih sebenarnya kebahagiaan itu? Dan kenapa Tuhan menciptakan kebahagiaan?***

 

I’m A Treasurer: Catatan Hati Treasury Agent yang Masih Sering Dikira Anak Pajak

Published / by Pringadi As / 2 Comments on I’m A Treasurer: Catatan Hati Treasury Agent yang Masih Sering Dikira Anak Pajak

Saya agen Treasury Republik Indonesia.

Saya membayangkan suatu saat saya bisa mengatakan itu dengan bangga, bukan untuk menjawab ketika banyak orang mengira saya pegawai Pajak.

Derita menjadi anak STAN, atau menjadi pegawai Kementerian Keuangan, adalah sering dikira semuanya anak Pajak. Padahal di STAN ada banyak jurusan. Di antaranya ada Akuntansi Pemerintahan, Bea Cukai, Kebendaharaan. Dan di Kementerian Keuangan ada banyak instansi selain DJP (Pajak), di antaranya ada DJBC (Bea Cukai), DJA (Anggaran), dan DJPb (Perbendaharaan).

Saya anak Akuntansi Pemerintahan dan bekerja di DJPb, Treasury Republik Indonesia.

Lalu apa bedanya? Apa kerjanya?

Negara ini punya APBN. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Penyusunan anggaran dimulai dari satuan terkecil Kementerian/Lembaga yang pembahasan dan pengesahannya melibatkan DJA (Anggaran).

Anggaran kita terdiri dari Pendapatan, Belanja, Pembiayaan. Pendapatan negara itu terdiri penerimaan pajak yang menjadi domain DJP (Pajak), bea dan cukai yang menjadi domain DJBC (Bea Cukai), dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang penerimaannya tersebar di K/L, BLU, yang monitoringnya berada di bawah Direktorat PNBP di DJA.

Di sisi belanja negara ada belanja transfer yang menjadi domain DJPK (Perimbangan Keuangan), dan belanja pemerintah pusat yang menjadi domain DJPb (Perbendaharaan). Pembiayaan (utang) diurus oleh DJPPR (Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko).

Nah, DJPb, tak terbatas pada domain itu saja, karena keberadaaanya yang ada di banyak tempat di nusantara ini menjadi tempat pencairan APBN. Tapi, itu adalah salah satu tugas kecil dari treasury tradisional yang mengurusi pencairan APBN hingga pertanggungjawabannya (Laporan Keuangan).

DJPB modern berperan dalam manajemen kas. Artinya, ia melihat APBN secara keseluruhan. Maka, DJBp membuat MPN G-2 untuk memastikan setiap penerimaan negara masuk ke kas negara. Terlibat di dalam DAK Fisik dan Dana Desa. Dan lebih jauh bagaimana merencanakan kas, agar ketersediaan kas selalu terjaga dengan efektif dan efisien.

Pertumbuhan ekonomi dan efisiensi pemerintah dilihat secara holistik oleh DJPb.