All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Jam Makan Siang

 

Cerita ini milik seorang teman dari temanku.

Ada seorang tokoh fiksi yang dekat dengan penulisnya bercerita bahwa ia ingin segala sesuatu sudah siap di meja makan pada jam makan siang. Bagaimanapun caranya, walau 1 jam lagi dunia kiamat, orang-orang ribut di luar mencari cara menyelematkan diri, atau satu per satu masyarakat melakukan bunuh diri ketimbang melihat ada sebuah meteor besar menyentuh permukaan bumi, menimbulkan ledakan berjuta kali lipat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dan yang selamat dari ledakan itu tinggal menunggu maut dan kepunahan seperti dinosaurus di masa lampau, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dan tidak boleh dilakukan oleh lelaki. Itulah alasan Tuhan mencabut satu tulang rusuk dari dada lelaki kemudian menciptakan perempuan.

Aku tidak pernah mendengar cerita seaneh itu sejak sebuah cerita lain mengatakan ada lelaki tua yang bisa bicara dengan kucing. Setiap kali lelaki itu membuka payung, hujan akan turun. Bukan hanya titik-titik air yang turun, kadang-kadang juga ikan sarden dan bahkan lintah.

Teman dari temanku itu—aku tidak tahu apakah dia seorang penulis, tapi keputusannya untuk menceritakan hal itu kepada temanku menunjukkan cerita ini adalah sesuatu yang penting. “Apa kau sependapat dengan temanku yang bilang kalau yah, para perempuan seharusnya pandai memasak?” tanya temanku itu sambil masih memegang ponselnya. Ia tidak menatapku sama sekali dalam pertanyaan itu. Aku merasa sedikit tersinggung dan tidak segera menjawab dan sengaja mengetukkan jari-jariku di meja kaca, mencoba menyusun nada yang asal-asalan agar ia mengerti ponsel sialan itu tidak bisa menggantikan pertemuan macam apapun.

“Apakah tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak?” Kali ini ia menegakkan kepalanya, lurus, menatap mataku dan aku merasa benar, dalam tatapan mata kita bisa melihat banyak hal. Terlepas ia menggunakan kontak lensa, yang berwarna cokelat, bulat, dan lama-lama terlihat mengerikan, aku banyak melihat keputusasaan dari dalam matanya itu.

Aku merasa teman dari temanku itu bukan sekadar teman biasa. Aku diam-diam memberanikan diri untuk bertanya hal lain, bukan menjawab pertanyaannya untuk menjawab rasa penasaranku. “Kau mencintai temanmu itu?”

Ada bunyi gemuruh di langit menembus dinding kaca tempat kami duduk sekarang ini. Aku mengalihkan pandangaku sebentar ke luar. Awan hitam bernaung di sana. Klakson-klakson menjerit hampir bersamaan ketika ada seorang lelaki yang menyeberang begitu saja, berlari, menutupi kepalanya dengan tasnya, tidak di tempat penyeberangan yang seharusnya.

Aku kembali menatap temanku itu lagi. Dia belum selesai menyiapkan jawabannya. Aku tidak tahu kenapa harus selama itu menyiapkan sebuah jawaban yang hanya terdiri dari satu kata. Aku agak  curiga, jangan-jangan temanku juga punya bakat menjadi seorang penulis. Penulis yang baik tentu penulis yang pandai bertele-tele.

“Apa kau tertarik dengan kehidupan pribadiku?” Tuh kan. Dia mengelak-tidak mengelak. Dia mengambil gelas kopinya yang masih mengepulkan asap panas. Asap itu punya aroma khusus yang membuatku mual. Meski berbeda sebab, mual tetaplah mual. Mual karena berada di bis tak ber-ac yang sumpek dijejali penumpang adalah mual yang sama dengan aroma asap kopi.

“Aku tidak tertarik dengan kehidupanmu. Tetapi bagaimana bila kubilang, aku tertarik dengan pribadimu?”

Aku pikir pertanyaanku dapat membuatnya sedikit terkejut atau gelagapan, salah tingkah. Tapi dengan tenang ia menjawab, “Aku sudah biasa menerima rayuan.”

Menatap gelas kopinya, aku teringat gelas air putihku yang hangat. Ia tidak memesan apapun untuk pertemuan makan siang pertama kami. Aku memesan kwetiau dan banana split dan mengingat-ingat bentuk sebuah pisang adakalanya mirip dengan sebuah senyuman. Monyet-monyet menyukai pisang karena mengira itu buah yang ramah. Tapi bukan berarti aku mengamini Charles Darwin atau bukan juga dengan membantah Darwin berarti aku setuju dengan Landmark. Aku hanya menyukai pisang, apalagi jika disertai dengan es krim.

“Tentang tokoh fiksi itu…” aku mengembalikan arah pembicaraan pada topik mula-mula. “Dia lelaki yang bagaimana?”

“Nah, itu, aku juga tidak tahu persisnya, menurutku dia seorang yang egois…”

“Egois?”

“Iya betul. Temanku bilang, kadang-kadang dia merasa tokoh fiksinya itu tidak mau diberi karakter yang sesuai dengan isi kepala temanku. Dia suka berontak. Termasuk dalam cerita ini. Bayangkan, dia ingin perempuan tunduk di bawah kaki para lelaki.”

“Jadi dia seorang maskulin sejati atau antifeminisme begitu?”

“Tidak tahu juga, ya… dia tidak melarang istrinya bekerja asalkan setiap jam makan, terutama makan siang, meja makan harus sudah tersiapkan segala sesuatunya. Semua makanan yang dia suka harus ada di sana. Itu menggelikan, bukan?”

“Memangnya apa makanan kesukaannya?”

“Apa ya? Umm… sebentar aku ingat-ingat dulu.”

Lalu temanku itu tampak berpikir serius. Dia mengernyitkan alisnya, menaikkan bola matanya satu bergantian. Aku pun membayangkan bola lampu di sisi atas kepalanya. Aku tidak peduli benar apakah bola lampu itu ditemukan Thomas Alfa Edison atau sebenarnya ia mencurinya dari Tesla. Hanya aku merasa penasaran siapa orang pertama yang memetaforakan ingatan, ide, solusi, dengan bola lampu. Di situ kadang aku merasa geli sendiri jika setiap bola lampu butuh listrik untuk menyala, dan setiap aliran listrik harus dibayar setiap bulannya, dan setiap tahun kenaikan tarif dasar listrik bisa terjadi, berapa banyak uang yang harus dibayar untuk memasang bola lampu imajiner itu di atas kepala manusia. Barangkali juga karena sadar hal itu, bola lampu itu tidak sering-sering menyala sebagai upaya penghematan. Namun sehemat-hematnya, setidak begitu seringnya bola lampu itu menyala, abodemennya juga tetap harus dibayar.

“Ah iya, sayur bayam. Dia suka sayur bayam!” teriak temanku kencang-kencang. Semua pelanggan kafe yang lain menoleh ke arah kami.

“Hush, jangan ndeso kamu. Pelan-pelan saja ngomongnya.”

“Ya tapi ini kan ekspresiku. Ini barangkali persis seperti ketika Newton kejatuhan apel dan menemukan hukum gravitasi. Senang. Ketemu. Kau sih tak pernah mengalami hal-hal semenarik menemukan ingatan.”

Aku tidak bermaksud mengganggu kesumringahan temanku itu tatkala kukatakan padanya bahwa Newton dan apel itu cuma mitos. Kenyataannya, butuh sekitar 20 tahun bagi Newton untuk merumuskan Hukum Gravitasi.

“Kamu pernah dengar teori 10.000 jam?” tanyaku untuk membuatnya tak bersungut-sungut lagi. “Begini, untuk mahir dalam sesuatu, seseorang harus berlatih minimal 10.000 jam dalam 10 tahun. Di bidang apa saja. Aku pikir jika seseorang sudah berlatih berpikir dalam 10.000 jam, selanjutnya orang itu tak akan kesulitan lagi untuk berpikir.”

“Kau menyinggungku?” tanyanya masih dengan nada yang marah.

“Tidak, bukan begitu. Walau ada iyanya juga sih. Kalau kita terbiasa mengingat sesuatu, sudah 10.000 jam mengingat-ingat sesuatu, selanjutnya, kita tak perlu mengingat-ingat untuk mengingat sesuatu itu. Kalau temanmu sudah menulis 10.000 jam, aku yakin juga, ia tidak perlu khawatir tokoh fiksinya berontak kepadanya. Dan kalau istri tokoh fiksi itu sudah berlatih 10.000 jam untuk bisa memasak, maka ia akan bisa memasak dan mampu menyiapkan meja makan dan seluruh isinya dengan cepat.” Aku cukup puas menciptakan kesimpulan ini.

“Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku. Kau ini bodoh, ya?”

Aku tidak percaya pada responnya. Padahal aku sudah berusaha terlihat pintar dengan mengatakan teori-teori itu.

“Pertanyaanku adalah, apakah setiap perempuan harus pandai memasak dan apakah setiap tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak? Aku sengaja membedakan keduanya, perempuan dan tokoh fiksi perempuan karena aku pikir ya, mungkin, keduanya punya realitas yang berbeda… meski aku tidak tahu juga apa fiksi pantas disebut realitas.”

“Itu hal yang menarik, aku juga bertanya-tanya, apakah tokoh fiksi mampu membedakan realitas dan bukan realitas?”

“Kau ini… tolong jawab saja pertanyaanku tadi. Sebentar lagi jam makan siang ini akan berakhir dan aku harus kembali ke kantorku.”

“Jika aku menjawab pertanyaanmu, apakah kita masih akan bertemu lagi? Aku tidak tahu kenapa, aku punya perasaan, jika aku menjawabnya, apapun jawabanku, kamu tidak akan mau menemui aku lagi.”

Pesananku itu, kwetiau dan banana split, juga belum datang. Ketika melihat daftar menu, pada saat kami baru bertemu, ia menertawakanku karena memesan masakan yang menurutnya masakan Cina di restoran Padang. Tapi itu bukan salahku karena bukan aku yang mencantumkan kwetiau sebagai salah satu menu.

Yang terpenting dari manusia adalah waktu, tapi sudah setengah jam lebih kuhamburkan waktu untuk pertanyaannya. Aku yakin pertanyaan dan jawaban itu tidak penting bagiku karena keduanya bisa dihilangkan dari seratus juta lebih daftar alasan kenapa aku harus bertemu dengannya.

“Sepertinya aku kenal dengan temanmu itu…” kataku lagi. “Dia pasti seseorang yang gendut dan kurang ajar. Dia selalu berpikir setiap cerita harus memiliki akhir yang bahagia, bagaimanapun peliknya alur yang dia ciptakan.”

Temanku itu tampak keheran-heranan mendengar kalimatku barusan. Dia yang baru saja menghabiskan isi gelas kopinya, merapikan jaket yang dikenakannya, dan memasang topi di kepalanya—topi bertuliskan Ketika Fiksi Tak Cukup Lagi—kembali menatapku lekat.

“Apa maksud kalimatmu itu?” Nadanya agak memaksa.

“Kamu tahu Popeye? Aku menontonnya waktu kecil. Jadi aku suka bayam. Itu kebenaran, tapi temanmu berbohong tentang satu hal atau justru dia tidak bisa membaca perasaan tokoh fiksinya sendiri. Semua yang disangkakannya itu keliru. Aku tidak pernah menuntut seperti itu.” Aku menghentikan kalimatku dan kuingat istriku di rumah yang sedang menangis karena aku. Sungguh sial, perutku yang kelaparan belum juga terisi siang ini. Aku tidak tahu apakah temanku itu mengerti yang kubicarakan atau tidak. Ketika dia masih tampak mencerna kalimat-kalimatku, aku berdiri, dan memegarkan payung yang kubawa dari rumah. “Seharusnya jika aku penulisnya, aku akan segera menurunkan hujan dengan sangat deras. Itu akan tampak menggetirkan. Setidaknya itu dapat menutupi betapa menggetirkannya seorang tokoh fiksi yang tidak mampu membedakan realitas dan bukan realitas….”

 

 

Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Syarat Umum:

  1. Peserta adalah WNI.
  2. Tema: “Kekayaan Bangsa Indonesia dalam Kehidupan Berbudaya.”
  3. Konten cerpen tidak boleh memicu SARA atau yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.
  4. Sesuai dengan tema, konten membicarakan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang mana kekayaan itu sangat memberi pengaruh terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan budaya suatu tempat atau lokal.
  5. Cerita pendek harus memiliki/mengandung Kisah.
  6. Naskah harus karya asli secara keseluruhan, dan bukan terjemahan atau saduran.
  7. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik ataupun online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  8. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaiknya.
  9. Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara, dengan hak cipta tetap pada penulis.
  10. Hak untuk mempublikasikan naskah peserta dan para pemenang menjadi sepenuhnya milik penyelenggara lomba, dan tidak diperkenankan mempublikasikannya di media lain, terkecuali bila penulis yang bersangkutan ingin membukukannya dalam antologi atau karya tunggalnya sendiri.
  11. Hak penerbitan dalam bentuk buku sepenuhnya ada di tangan penulis.
  12. Setiap naskah yang dikirim akan ditampilkan di marwanmansyur.org
  13. Naskah yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan ditampilkan di marwanmansyur.org dan tidak akan disertakan dalam proses penjurian .
  14. Penyelenggara lomba berhak mengganti judul dan menyunting, tanpa mengubah isi.
  15. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
  16. Dewan juri akan mempertanggungjawabkan secara tekstual atas alasan mengapa naskah menjadi pemenang. Dan akan dipublikasikan di bawah bersama naskah pemenang di media yang sama.
  17. Lomba dibuka tanggal 1 Maret 2015 dan akan ditutup pada tanggal 1 April
  18. Pengumuman pemenang berikut publikasinya dapat dilihat di marwanmansyur.org pada tanggal 30 April 2015.
  19. Pajak ditanggung Panitia.

Continue reading Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Novel 4 Musim Cinta

10952008_10152840538994794_1183052442_n

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

Kau pernah membayangkan ada sebuah novel yang ditulis oleh 4 orang dengan karakter yang berbeda-beda?

Barangkali, novel 4 Musim Cinta dapat memberikanmu jawaban atas itu.

Empat orang PNS dari Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan yang menulis novel ini. Mereka adalah Mandewi, Puguh Hermawan, Abdul Gafur dan Pringadi Abdi Surya. Nama terakhir tak asing karena ialah pemilik blog ini.

Kisah ini bermula dari persahabatan keempatnya. Mereka bertemu di sebuah diklat. Di sanalah, musim semi dimulai bagi Pring (si penulis memang suka menggunakan namanya sendiri sebagai nama tokoh). Pring merasa ada yang berbeda dari Gayatri. Ia berbincang dengan gadis Bali itu dan merasa jantungnya seperti dikapak oleh kakek penebang pohon. Jatuh cinta itu indah, tetapi tidak bagi yang sudah menikah.

Sementara Gayatri harus melupakan masa lalunya, Adam, yang berpisah darinya karena perbedaan-perbedaan yang ada. Ia juga didera kebencian atas pekerjaannya yang membuatnya tak dapat menghindari ngaben Aji/ayahnya. Hatinya membeku. Tapi, puisi-puisi dari Pring mulai melelehkannya.

Teman sekamar Pring ketika diklat, Gafur, punya gairah hidup yang membara. Percintaannya dengan seorang barista selalu membicarakan–mempertanyakan dunia. Ia tidak tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Arga, juga menyukai gadis itu.

Di sini, di antara persahabatan, segalanya dimulai dan mungkin juga harus diakhiri.

Apa kau penasaran bagaimana nasib keempat orang ini?

NANTIKAN 4 MUSIM CINTA, TERBIT 13 MARET 2015.

Dapat dipesan langsung ke 085239949448 ya kalau mau yang bertanda tangan, atau nantikan di toko buku terdekat kamu.

 

Bercermin pada Natsuo Kirino

 

Aku harus berterima kasih kepada Ardy Kresna Crenata karena suatu hari dia menyebut Natsuo Kirino di statusnya. Tidak lama setelah itu, aku pulang ke Palembang, dan melihat satu buku masih terbungkus plastik tergeletak di atas meja. Buku itu kakakku yang beli. Judulnya Grotesque. Pengarangnya Natsuo Kirino.

Grotesque bicara lebih dari perempuan. Grotesque juga bicara lebih dari hierarki sosial. Grotesque menunjukkan kepadaku bahwa kebahagiaan memiliki makna yang unik. Ketika selesai membaca novel ini, salah satu pertanyaan yang muncul di benakku adalah siapakah di antara tokoh-tokohnya yang merasa paling bahagia?

Aku jadi ingat masa laluku. Ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kenaikan kelas 4 SD, hidupku berubah. Kala itu ada tes satu kecamatan untuk menentukan siapa saja yang masuk ke kelas unggulan. Tesnya tertulis. Sebelumnya di kelas 3, aku selalu menduduki peringkat III selama 3 caturwulan berturut-turut. Di atasku ada Mega, anak tentara pindahan dari Jakarta yang sepertinya sudah mengenyam pendidikan lebih baik. Juga Mursal, yang selalu menduduki peringkat II. Tapi tak disangka, pada tes itu, nilaiku terbaik se-Kecamatan.

Aku bukanlah murid yang menonjol di kelas. Aku menyadari aku cukup cerdas, tetapi aku tidak pernah aktif di kelas. Aku tidak pernah maju atau pun menunjukkan tangan ketika guru bertanya. Aku diam saja di bangkuku, dan mencoret-coreti buku tulisku itu.

Aku dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Di sana sudah ada pejabat dari Dinas Pendidikan. Kepala Sekolahku bertanya, “Kamu anaknya siapa?” Aku menjawab nama Bapakku. Dan ia manggut-manggut dan berkata, “Pantas saja. Bibitnya sudah unggul.”

Hari itu, di awal kelas 4 SD, aku memahami makna kalimat tersebut dan menanggungnya di pundakku seakan-akan aku hidup di bawah nama orang tuaku. Di sisi lain, saat itu aku sudah berpikir, suatu hari aku harus keluar dari bayang-bayang orang tuaku.

Grotesque juga bicara itu. Pendidikan dan orang tua. Keluarga-keluarga kaya memasukkan anak-anaknya di sekolah berkualitas sejak sekolah dasar untuk menempuh hidup yang lebih baik. Di luar itu, keluarga lain begitu bangga ketika pada masa sekolah menengah, sekolah lanjutan, ada anaknya yang berhasil masuk ke dalam sistem tersebut. Satu strata terbentuk dari jenjang pendidikan. Mereka yang berpendidikan di sekolah yang bagus akan lebih mungkin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dan nilai manusia ditentukan dari situ.

Itulah yang ada di benak Kazue Sato. Ia berusaha mati-matian untuk masuk ke dalam sistem. Ketika sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan papan atas G, ia justru bekerja sampingan sebagai pelacur demi targetnya mendapatkan tabungan 10 juta yen sebelum umur 40 tahun. Dengan demikian, ia bisa menghabiskan sisa hidupnya dalam kenyamanan dan melepaskan diri dari bayang-bayang keluarganya. Ya, sejak kematian ayahnya, lulusan universitas Tokoyo, yang menerapkan strata pendidikan secara ketat, ia menjadi tulang punggung keluarga dan menganggap keluarganya sebagai beban penghidupan.

Jalan hidup Kazue juga tak terlepas dari peran Yuriko. Ketika Kazue melihatnya di masa sekolah, kecantikannya yang luar biasa (sampai-sampai disebut Monster) membuat Kazue terpana. Bahkan nama jalanannya adalah Yuri. Diambil dari Yuriko. Betapa terkejutnya ketika suatu malam ia melihat Yuriko yang bak siang dan malam dengannya itu juga menjadi pelacur jalanan dengan lapisan lemak yang menumpuk. Kecantikannya memudar dimakan usia.

Lalu, apakah Yuriko tidak bahagia dengan jalan hidupnya? Dalam bersitan pemikiran sang tokoh utama, Yuriko memanglah perempuan yang tak bisa tanpa air. Sejak keperawanannya hilang oleh pamannya sendiri, ia begitu menyukai seks. Dengan seks, ia bisa berada di atas laki-laki. Itu yang ada di benak Kazue juga. Dengan seks pula, Yuriko bebas dari segala hierarki sosial yang ada. Ia bisa bercinta dengan ia siapa saja. Ia juga bisa bercinta demi tiga juta yen atau pun tiga ribu yen.

Beda lagi dengan Mitsuru yang menjadi murid terpintar di sekolah. Ia harus menyewa tempat tinggal di tempat yang lebih mewah, membayar mahal untuk itu, padahal ibunya adalah pemilik bar. Meski dari sisi akademis ia mendapatkan semua yang diinginkan, ia kemudian terjebak dalam aliran keagamaan tertentu demi hierarki yang lebih tinggi. Andai, ia tetap berpuas diri pada apa yang telah diraihnya, mungkin ia akan jadi dokter selamanya. Tapi, apakah Mitsuru tidak bahagia setelah dua tahun dipenjara dan menyaksikan suaminya dihukum seumur hidup?

Keengganan Mitsuru yang lahir dan punya ibu di distrik P, sebuah tempat non-elite, juga menjadi pertanyaan bagi Zhang, pembunuh Yuriko. Zhang yang lahir sebagai anak dusun selalu bertanya, apakah hidup kita ditentukan dari tempat lahir kita?

Kini, giliran aku yang berpikir tentang sebuah dalil yang mengatakan semua bayi itu suci dan tidak berdosa. Orang tualah yang menentukan mereka Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi. Apakah itu juga berarti orang tuanya juga yang menentukan strata hidup anaknya? Seorang anak yang dilahirkan di keluarga kaya akan menikmati kemewahan dan status sosial yang diberikan ayahnya. Tetapi anak yang dilahirkan di keluarga miskin, akan hidup di atas kemiskinan itu. Tentu sangat sedikit orang tidak berada yang bisa menaikkan status hidupnya. Begitu pun sangat sedikit orang yang sudah kaya dan terhormat mendadak bisa turun menjadi melarat.

Hidup seperti ini menggangguku. Sepanjang membaca Grotesque, aku begitu gelisah dan tak dapat tak berpikir, bagaimana hidup seperti ini ada?

PS:
Sampai terakhir, aku tak tahu nama tokoh utamanya. Siapa nama kakak Yuriko?
Apakah dengan demikian, Natsuo Kirino hendak berkata diri kita yang bercerita tidak pernah penting dari apa-apa yang ada di dalam cerita?

 

Knocking The Door

 

Setiap kita harus belajar mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan dengan orang lain.

~ Ajaran Sesat No. 47

 

Aku pernah sangat kesal pada seseorang. Dia teman satu kosku. Pasalnya, dia hobi sekali membuka pintu kamarku tanpa permisi. Tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dan ia melongokkan kepalanya atau sudah nyelonong masuk ke dalam kamar. Tentu saja aku merasa terganggu.

Bagiku, kamar adalah ruang milikku yang paling pribadi. Ia seperti hati. Tidak sembarang orang boleh masuk, apalagi masuk tanpa permisi.

Sejak kecil aku memang dikenal sebagai bocah kamar. Aku rela menghabiskan sebagian besar waktu hidupku di dalam kamar. Tak ada yang tahu apa yang kulakukan di dalam kamar. Orang tuaku mengira aku belajar. Sampai sekarang, aku sendiri tidak tahu arti dari belajar. Jika membaca buku adalah belajar, artinya aku memang belajar. Aku memang menghabiskan banyak waktuku dengan membaca buku di dalam kamarku itu.

Barangkali kau menganggapnya sepele atau memang dalam hidupmu kau tidak mengenal privasi atau diajari bagaimana caranya memulai sebuah interaksi dengan orang lain. Aku sangat sensitif dengan hal itu. Untuk mengirim SMS saja, jika aku belum atau baru mengenalnya atau aku tidak kenal secara akrab, aku akan dengan sangat serius memikirkan kata pertama yang harus kuketikkan.

Ini bukan cara berbasa-basi. Ini adalah manner. Semacam mengucapkan “Hai…” atau “Hallo…” sebelum memulai percakapan adalah bagian dari manner tersebut.

Pun dalam interaksi di media sosial. Aku mengibaratkan status, catatan, dan wall sebagai ruang tamu dan ruang-ruang lain. Sementara inbox adalah kamar. Itu kamarku. Tentu saja, ada hal yang harus diperhatikan sebelum memulai pembicaraan kalau kita tidak berteman atau berteman dekat.

Bisa saja kan orang yang kamu sapa itu sedang tidak mood, sedang tidak dalam keadaan ingin berbicara, sedang PMS, lalu kamu yang tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamar sambil mengajukan permasalahan?

Ah, barangkali memang usia tidak menjamin kedewasaan seseorang.

TERBITKAN FIKSIMU SEKARANG JUGA!  

11009778_10152830849909794_2116600355_o

Kamu suka menulis fiksi? Punya naskah yang sudah tersimpan begitu lama? Buruan kirimkan naskahmu ke Penerbit Exchange. Tapi sebelum mengirimkannya, kamu harus tahu dulu syarat-syaratnya:

 

  1. Naskah berupa novel, bukan kumpulan cerpen atau kumpulan puisi.
  2. Naskah minimal 50 halaman A4 spasi satu, font Times New Roman 12, margin default.
  3. Kirimkan naskahmu beserta sinopsis dan data pribadimu (nama asli sesuai KTP, nomor telepon/ponsel yang bisa dihubungi, alamat lengkap) dalam file yang terpisah ke email: fiksiexchange@gmail.com.
  4. Semua naskah yang masuk akan langsung direviu oleh Dewan Redaksi Exchange dan akan mendapat balasan penerimaan/penolakan paling lambat 4 bulan sejak naskah dikirim.
  5. Secara spesifik, genre yang kami cari adalah fiksi romance muda-dewasa.
  6. Kami hanya menerima naskah dalam bentuk soft copy.

 

Nah, jika kamu mau naskahmu diterbitkan ribuan eksemplar, royalti masuk ke rekening secara reguler, segera kirimkan naskah kamu ke Penerbit Exchange. Tidak dipungut biaya sepeser pun!