All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

LOMBA CIPTA PUISI QURANI

 

Memperingati Milad PARMUSI Ke-17, Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) mengundang umat Islam se-Indonesia untuk menulis puisi bernafaskan kitab suci al-Quran. Puisi dimaksud adalah puisi yang ditulis berdasarkan kajian al-Quran, baik dari aspek kajian nilai, norma, sejarah, harapan, janji dan peringatan, maupun kisah-kisah kemanusiaan, kenabian, serta ketuhanan. Puisi qurani adalah puisi yang bersumber dari kitab suci al-Quran.

• Puisi harap dikirim ke email: puisiparmusi@gmail.com
• Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia.
• Masing-masing peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 buah puisinya dengan lampiran biodata singkat, nomor handphone/nomor kontak yang bisa dihubungi, dan alamat rumah/domisili.
• Puisi ditulis dengan font Times New Roman, ukuran 12, spasi 1,5.
• Naskah paling lambat diterima pada tanggal 16 September 2016.
• Dewan Kurator Gelar Cipta Puisi Qurani akan menyeleksi dan memilih 100 puisi terbaik untuk dibukukan.
• 100 peserta terpilih akan diumumkan di www.parmusinews.com, setelah keputusan Dewan Kurator Gelar Cipta Puisi Qurani.
• Kepada masing-masing peserta yang puisinya dinyatakan terpilih akan diberikan satu eksemplar buku antologi puisi berjudul 100 PUISI QURANI, piagam penghargaan dari PARMUSI, dan honorarium sebesar Rp.250.000.

Untuk keterangan lebih lanjut bisa berkomunikasi dengan Ketua Departemen Seni dan Budaya PARMUSI, Chavchay Syaifullah (087774441928).

Public Interest (Kepentingan Publik)

 

Public berasal dari bahasa latin publicus artinya:

  1. yang berkaitan dengan urusan atau urusan resmi dari semua orang, dibandingkan dengan hanya kelompok tertentu.
  2. Orang-orang pada umumnya, terlepas dari keanggotaan kelompok tertentu.

Interest (merupakan peenyesuaian dari kata interesse, dari Anglo-French, dari Medieval Latin, dan dari bahasa Latin) artinya berarti hak, gelar, klaim atau bagian dari harta.

Public Interest artinya:

  1. Kesejahteraan masyarakat umum, kesejahteraan bersama.
  2. Perhatian masyarakat terhadap kegiatan.

Kesejahteraan umum dan hak-hak masyarakat yang harus diakui, dilindungi dan maju

Public Interest adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan gerakan politik dan organisasi yang merupakan kepentingan umum – mendukung masyarakat umum dan untuk kepentingan masyarakat, berlawanan dengan kepentingan pribadi dan perusahaan (tujuan partikularistik). Kepentingan publik juga bisa berarti lebih umum apa yang dianggap bermanfaat bagi masyarakat.

Kesulitan yang terjadi adalah:

  • Untuk menentukan apa yang dimaksud dengan “public interest”, terutama karena “special interest” sendiri sering berbicara dalam mendukung tujuan meraka menggunakan bahasa public interest
  • Untuk meramalkan apakah pergerakan atau kegiatan yang dilakukan oleh suatu organisasi tertentu akan bermanfaat bagi masyarakat atau sebaliknya akan membawa pengaruh buruk.

Ada pandangan yang berbeda tentang berapa banyak anggota masyarakat yang harus mendapatkan keuntungan dari suatu tindakan sebelum dapat dinyatakan dalam kepentingan umum: di satu sisi, tindakan harus menguntungkan setiap anggota masyarakat agar benar-benar dapat disebut sebagai public interest; di sisi lain, tindakan dapat disebut sebagai public interest asalkan menguntungkan beberapa penduduk dan tidak ada yang dirugikan.

Public interest merupakan suatu konsep dalam banyak filosofi politik.

Perlu dicatat bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam beberapa kasus memajukan kepentingan umum akan merugikan kepentingan pribadi tertentu. Ini risiko “tirani mayoritas” dalam demokrasi apapun, karena kepentingan minoritas mungkin dihilangkan. Di sisi lain, kita semua bisa menjadi  minoritas dalam beberapa kapasitas – dengan demikian, perlindungan hak-hak minoritas bisa dibilang menjadi bagian dari kepentingan publik.

Dalam hukum, public interest adalah pertahanan terhadap tuntutan hukum tertentu (misalnya beberapa tuntutan fitnah di Inggris) dan pembebasan dari hukum atau peraturan tertentu (misalnya UU kebebasan informasi di Inggris).

Stroud’s Judicial Dictionary, Vo.4(4th edition) mendefinisikan public interest sebagai:

Masalah kepentingan publik atau umum ‘tidak berarti bahwa ada ketertarikan atau rasa ingin tahu atau cinta terhadap informasi atau hiburan; tapi dimana suatu masyarakat memiliki kepentingan finansial, atau beberapa kepentingan dimana hak atau kewajiban hukum meraka terpengaruh.’

Black’s Law Dictionary (6th Edition) mendefinisikan public interest sebagai:

“Sesuatu di mana masyarakat, masyarakat pada umumnya, memiliki beberapa kepentingan finansial, atau beberapa kepentingan dimana hak atau kewajiban hukum mereka terpengaruh. Ini tidak berarti segala sesuatu begitu sempit hanya sebagai rasa ingin tahu, atau karena kepentingan daerah tertentu, yang dapat dipengaruhi oleh hal-hal yang bersangkutan. Kepentingan bersama oleh warga umumnya urusan lokal, negara bagian atau pemerintah nasional”

Seorang jurnalis Amerika, Walter Lippman menulis “Public interest umumnya diartikan sebagai sebuah kebaikan yang diterima secara umum. Public interest dapat diasumsikan sebagai apa yang akan orang pilih jika mereka dapat melihat dengan jelas, berpikir secara rasional, bertindak secara tanpa pamrih dan dengan senang hati”

Sarjana hukum ternama, S.P. Sathe – dalam aktivis yudisial di India membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi: “Faktanya bahkan keputusan pribadi melayani kepentingan publik karena dalam kepentingan umum orang harus menghormati kontrak, harus bertanggung jawab atas kesalahan bersama, dan harus menghormati hak dalam kekayaan atau status. Namun, sementara kepentingan umum dilayani secara tidak langsung dalam perkara pribadi, fokus utama adalah pada kepentingan pribadi atas berperkara, hal ini dilayani secara lebih langsung oleh pengadilan hukum publik karena fokusnya adalah pada inkonstitusionalitas yang timbul baik dari kurangnya kekuatan atau inkonsistensi dengan hak yang dijamin secara konstitusional.”

Indian View

Mahkamah Agung India

Mahkamah Agung India mengeluarkan banyak pedoman (1998) menjelaskan public interest, yang harus diikuti untuk memfasilitasi surat atau petisi yang diterima di pengadilan sebagai gugatan atas kepentingan publik dan menyarankan bahwa isu-isu berikut dianggap menjadi kepentingan umum:

  1. Masalah ketenagakerjaan yang terikat
  2. Anak terlantar
  3. Upah minimum pekerja yang tidak terbayar dan eksploitasi dan keluhan pelanggaran hukum pekerja (kecuali dalam kasus-kasus individu)
  4. Petisi dari penjara yang mengeluh tentang pelecehan untuk pembebasan dini dan ingin bebas setelah menyelesaikan 14 tahun penjara, kematian di penjara, transfer, pembebasan karena ikatan pribadi, persidangan yang cepat sebagai hak dasar.
  5. Petisi terhadap polisi karena menolak untuk mendaftarkan kasus, pelecehan oleh polisi dan kematian dalam tahanan polisi.
  6. Petisi menentang kekejaman terhadap perempuan, pelecahan tertentu kepada pengantin perempuan, pembakaran pengantin perempuan, penculikan dl.
  7. Petisi keluhan atas pelecehan atau penyiksaan terhadap warga oleh perangkat desa atau oleh polisi kepada orang yang tergolong dalam Kasta atau Suku tertentu dan kelas yang terbelakang secara ekonomi.
  8. Petisi yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan, gangguan keseimbangan ekologi, obat-obatan, makanan, pemalsuan, pemeliharaan warisan dan budaya, barang antik, hutan dan satwa liar dan hal-hal lain yang merupakan kepentingan publik.
  9. Petisi dari korban kerusuhan
  10. Pensiun keluarga.

Dan isu-isu berikut ini tidak dianggap dalam kepentingan publik:

  1. Masalah sewa menyewa
  2. Hal layanan dan yang berkaitan dengan pensiun dan gratifikasi
  3. Keluhan menentang Departemen Pemerintah Pusat dan badan-badan lokal kecuali yang berkaitan dengan hal-hal nomor 1 sampai 10 di atas.
  4. Penerimaan di lembaga pendidikan medis dan lainnya.

Mahkamah Agung India dalam Janata Dal v .V.H.S. Chowdhary mengamati bahwa tujuan public interest adalah untuk menghapus air mata yang miskin dan membutuhkan, menderita pelenggaran hak-hak dasar mereka, tetapi tidak untuk keuntungan pribadi atau keuntungan pribadi yang bermotif politik atau pertimbangan yang salah.

Dalam S.P.Gupta v Presiden India, Justice Bhagawati mengatakan: “Memulihkan luka publik, menegakkan tugas publik, melindungi sosial, kolektif, “menyebar” hak dan kepentingan adalah membenarkan kepentingan umum, penegakan public interest  atau kepentingan umum di mana masyarakat atau kelas masyarakat memiliki kepentingan finansial atau beberapa kepentingan yang berpengaruh terhadap hak dan kewajiban hukum.

Kebo Nange Hingga Ma Inang Kabau

“Kenapa ikan nggak bisa ngomong, Ayah?” tanya anakku yang saat itu masih berusia 3,5 tahun.

Mendadak aku teringat sebuah film Korea. Dengan pertanyaan yang sama, Cha Tae Hyun menjawab, “Coba kau masuk ke dalam air, bisa ngomong nggak?”

Tentu aku tidak menjawab demikian. Aku diam, berpikir. Anakku menyusulkan sebuah pertanyaan lain, “Kenapa ikan bisa berenang, Ayah?”

Pernah aku berpikir, hanya ikan yang bisa berenang. Tapi momen di Taman Safari, aku melihat monyet bisa berenang. Di televisi juga kulihat harimau bisa berenang. Bahkan, ketika penempatan kerja di Sumbawa, aku baru tahu bahwa kerbau juga bisa berenang. Aku bertanya-tanya, apakah kemampuan renang hewan-hewan lain didapat seperti manusia belajar berenang, atau ujug-ujug mereka memang sudah bisa dan bernaluri renang sejak dilahirkan?

Ratusan kerbau menyeberang ke Gili Rakit. Sebelumnya mereka digiring dulu ke Pantai Panjang. Barulah dari pantai mereka menyeberangi lautan, melawan arus, kurang lebih sepanjang 3 kilometer untuk dapat mencapai Gili (Pulau) Rakit.

Budaya peternakan Kerbau di Sumbawa masih mengembalakan ladang penggembalaan. Masyarakat setempat menyebutnya lar. Gili Rakit adalah salah satu lar terbesar yang ada di Sumbawa. Gili Rakit adalah salah satu pulau di perairan Teluk Saleh. Secara administratif, ia masuk di dalam Desa Labuhan Jambu, Kec. Terano.

Tradisi ini sudah berjalan lebih dari 65 tahun. Dan setiap tahunnya kita dapat menyaksikan prosesi kerbau berenang ini dalam sebuah festival yang dinamakan Kebo Nange.

Keunikan kerbau dalam tradisi masyarakat di Pulau Sumbawa tidak cuma Kebo Nange semata. Di Sumbawa Barat, ada yang tak kalah menarik. Bila di Madura ada Karapan Sapi, di Sumbawa Barat ada Karapan Kerbau.

Saat tiba musim tanam di Sumbawa, barapan kebo diadakan sebagai bagian dari wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan. Arenanya di lumpur persawahan. Sebelum balapan dimulai, kerbau dikumpulkan 3-4 hari sebelum lomba untuk diukur tinggi dan usianya. Seperti para petinju, kerbau-kerbau pun dibagi ke dalam kelas-kelas.

Tidak hanya balapan, barapan kebo juga menjadi ajang adu sandro. Sandro adalah dukun, orang sakti yang jadi jaminan kesaktian perlombaan. Pasangan kerbau yang berhasil meraih juara adalah pasangan kerbau tercepat mencapai tujuan sekalian dapat menyentuh atau menjatuhkan kayu pancang tanda finish yang disebut dengan Sakak. Nah, pada Sakak juga ada Sandro penghalangnya. Kesaktian sandro yang mem-backup joki kerbau juga ikut berpengaruh untuk melewati penghalangnya.

Kerbau-kerbau di Sumbawa ini mengingatkanku pada istriku. Sebab istriku orang Minang. Aku pernah bertanya padanya apa arti Minangkabau. Pada saat kuliah Budaya Nusantara, sang dosen bercerita tentang sejarahnya. Minangkabau berarti menang kerbau. Dahulu, tentara dari Jawa mendarat di pesisir Sumatra dan hendak memulai menaklukkan. Tapi sang pemimpin adat memberi usul agar perang diganti menjadi adu kerbau saja. Pihak penyerang menerima dan menyiapkan kerbau yang besar dan kuat. Melihat hal itu sang datuk memberi usul yang unik. Ia meminta untuk menyiapkan anak kerbau saja, tetapi anak kerbau itu harus dipisahkan dari induknya selama 2 hari. Pada telinga anak kerbau, diselipkan pisau kecil saja. Pada hari pengaduan, sang anak kerbau, melihat kerbau besar langsung mengira itu induknya dan menyeruduk ke arahnya. Pisah yang diselipkan di sela telinga anak kerbau menusuk perut kerbau besar. Anak kerbau pun menang. Jadilah minangkabau.

Istriku geli mendengar ceritaku dan bilang bukan begitu maksudnya. Baginya, minangkabau itu ma inang kabau. Ma inang berarti memelihara. Kabau/kerbau adalah hewan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Ma inang kabau berarti memelihara kehidupan.

Aku nggak tahu apa dia mencoba berfisolofi atau memang begitulah artinya.

Sebuah hal selalu memiliki pemaknaannya masing-masing. Pasti masih banyak yang lain juga tentang makna kerbau di dalam budaya nusantara yang lain. Misalnya pernah juga kudengar dari temanku yang penempatan di Aceh tentang kenduri laut Pada saat kenduri laut, kerbau hitam dilarungkan ke dalam lautan. Atau di masyarakat Batak dan Toraja. Kepala kerbau ada di rumah-rumah adat mereka. Masing-masing punya makna. Masing-masing punya pesona. Pesona budaya dan Pesona Indonesia.

 

 

 

Sajak Pembuka

sebuah tafsir bebas atas Surat Al Fatihah

 

aku sebatang ilalang patah, merunduk bukan karena angin

kau yang menundukkan aku dan kucium bau tanah basah

kulewati malam yang hening hanya ditemani dingin

di saat itulah kurasakan kekosongan dan kurindukan rumah

 

sesaat setelah kubuka pintu, kulihat sebuah jembatan

kau berada di seberang, tersenyum penuh kegetiran

aku harus meniti pada jalan yang lebih tipis dari ingatan

di bawahku jurang, batu-batu tajam memanggil kematian

 

sebutkan padaku makna dari ketakutan

tak bahagia di dunia ini atau tak bahagia nanti di pelukanmu

atau karena kita terus berpisah, tak kunjung bertemu

 

sekian lama aku tersesat, dan kini merasa sampai padamu

peluhku menetes pasrah, bercampur dengan darah

apakah kau akan menerimaku atau justru menolakku?

 

(2016)

Metafora Padma dan Sejarah Sastra Kita

 

Saya termenung mendengar pernyataan Saut Situmorang setelah keluarnya putusan pengadilan atas kasus yang menimpanya. “Kalau dunia hukum merasa berhak menilai dunia sastra, kenapa dunia sastra tak berhak menilai dunia hukum?”

Tentu implikasi pernyataan ini bukan hanya mengenai keabsurdan kasus yang menimpa beliau—ketika berusaha membela sejarah sastra, menghadapi Fatin Hammama dan Denny Ja. Implikasinya juga menuju persoalan sastra itu sendiri.

Di saat yang sama saya baru berhasil menyelesaikan Metafora Padma, kumpulan cerpen karya Bernard Batubara. Hal yang menarik dari buku ini adalah, seperti paragraf pertama pada cerita pertamanya, adalah persoalan identitas.

“Siapa kamu?” Saya selalu mengingat ucapan Zen RS ini. Sepertinya itu mudah dijawab. Namun, jika kamu tengah berada di tengah supporter AC Milan saat Derby Milan dan kamu seorang internisti, kamu tak akan bisa menjawab “Saya internisti”. Ketika kamu berada di tengah konflik agama, kamu tak bisa mudah mengatakan “Saya Islam” di tengah amukan massa agama lain.

Implikasi kasus Saut, dan kenapa kita harus membela saut juga soal identitas sastra. Siapa saja boleh dan berhak menjadi sastrawan, tetapi tentu status itu tidak bisa didapatkan dengan uang seperti yang dilakukan DJA. Terlebih produk buku Tokoh Sastra Berpengaruh itu dibagikan ke sekolah-sekolah. Sampai hari ini saya bahkan beberapa kali mengobrol dengan siswa-siswa sekolah yang tersesat dengan mengatakan Denny JA adalah sastrawan, puisi-esai adalah sebuah genre baru puisi dan guru-guru di sekolah menyuruh mereka mengerjakan PR membuat puisi-esai! Naudzubillah.

Implikasi kedua, pesan yang ingin disampaikan Saut adalah seberapa berjaraknya pelaku sastra, karya sastra dengan dunia riil saat ini. Kenapa dunia sastra tak berhak menilai dunia hukum. Sejak Kritikus Adinan yang ditulis oleh Budi Darma, saya belum menemukan karya sastra lain yang mampu mendekati dunia hukum dengan baik dan terang.

Fiksi-fiksi yang ada sekarang terasa sumir. Hal ini terjadi karena pertama, pengenalan masalah yang kurang purna. Penulis kebanyakan hanya menangkap gejala yang ada di masyarakat, tetapi tak mampu menjangkau persoalan. Sedikit lebih baik, karya sastra kita mampu memotret lingkungan. Namun yang luput adalah akar persoalan itu.

Metafora Padma punya kabar baik. Dari seluruh karya Bernard Batubara yang ada, di buku inilah Bernard mencoba mencari akar persoalan. Beberapa cerita Bernard masih terasa di permukaan. Ia mengangkat konflik perbedaaan suku, perbedaan agama—perbedaan identitas, namun ia hanya memotret persepsi. Ada korban hilang kepala. Ada konflik massa. Ada—

Namun, ada pernyataan Bernard yang menarik di salah satu cerpennya. Ia (atau tokohnya) berkata agama bukanlah alasan manusia saling bunuh. Manusia akan selalu punya alasan untuk saling bunuh meski tidak ada agama ataupun agama mereka sama. Ini pernyataan eksistensialisme yang paling keren yang ada di buku ini.

Bernard juga menyinggung konflik SARA kadang dimulai dari persoalan individu yang diabaikan pemerintah. Hal ini benar adanya. Di Sumbawa, yang saya alami, konflik SARA diawali oleh sebuah kisah cinta antara dua insan yang berbeda agama. Lalu suatu waktu, pulang berkencan mereka kecelakaan motor, si perempuan tewas, si lelaki masih hidup. Digosoklah isu yang behubungan dengan SARA sehingga muncul konflik massa yang tak terelakkan. Pengabaian oleh kepolisian (pemerintah) di awal untuk menyelesaikan kasus kecelakaan motor ini.

Kegagalan pemerintah (government failure) ini sebenarnya jauh lebih dalam, yakni kegagalan pemerintah dalam distribusi keadilan. Distribusi keadilan itu terjadi di berbagai bidang. Pembangunan yang tidak merata. Pendidikan yang ala kadarnya. Persoalan ekonomi yang membuat jurang antara si miskin dan kaya. Semua terjadi begitu saja dan melahirkan eksternalitas negative ke masyarakat.

Saya menyebutnya motif. Penulis kerap memilih motif yang biasa-biasa saja di dalam ceritanya. Cinta. Klise. Namun, di sini Bernard sudah berusaha masuk lebih jauh dari cinta. Ia jadikan cinta sebagai bungkus cerita. Ia mencoba masuk lebih dalam, sesekali menggunakan lensa tele, mengatur bukaan lensanya, dan klik, ia memotret permasalahan. Tentu, di buku berikutnya saya mengharapkan Bernard mengubah lensanya, fix atau wide, memotret dalam jarak dekat dan menghasilkan gambar yang lebih tajam dan lebar.

Judul buku ini, entah kebetulan atau tidak, juga menarik. Padma. Entah Bernard mengacukan kata ini ke lotus atau teratai. Baik lotus atau teratai punya makna yang menarik. Jika Padma/lotus sering dikaitkan dengan singgasana, motif politik, kesucian, sedangkan teratai muncul dalam kisah Narcissos.

Mendengar pidato Saut Situmorang dan menyelesaikan buku ini di hari yang sama tampaknya memang sengaja dihadirkan Tuhan buatku agar tulisan ini terwujud.

 

Puisi-puisi Saut Situmorang

huSaut Situmorang lahir 29 Juni 1966 di kota kecil Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Tapi ia besar di Medan. Pada 1989-2000, ia menetap di Selandia Baru. Di sana, ia belajar Sastra Inggris (BA) dan Sastra Indonesia (MA) di Victoria University of Wellington dan University of Auckland. Ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karya-karyanya diterbitkan di Indonesia, Selandia Baru dan Australia. Buku kumpulan puisinya adalah “Saut Kecil Bicara Pada Tuhan (2003)” dan “Catatan subversif (2004)”. Berikut ini adalah sejumlah puisinya yang termaktup dalam buku puisi Saut Kecil Bicara Pada Tuhan.

INSOMNIA

hampir. tengah malam. jalan.
jalan. kota sudah sepi. mobil
kadang lewat. mengiris. dingin. malam.
di kamar. sendiri. aku mendengar.
musik. dari tempat. yang jauh.
tentang tempat. yang jauh.
malam. hampir. begitu. sepi.
tak. ada. jangkrik. tak. ada. burung. malam.
darahku. menari. mengikuti. suara. gondang.
tempat. yang jauh. memanggil. manggil.
masa lalu. malam. kota. sepi.
di kamarku. sendiri. angin. sudah lama mati.
jalan. di luar. menggelepar. sekarat. malam.
begitu. kelam. memanggil. manggil.
musik itu. suara itu. dari jauh.
begitu jauh. angin. sudah lama
mati. tapi badanku. menggigil. darah.
darah. menari. mabok. gondang.
tempat. yang begitu. jauh. tak sanggup.
tak terjangkau. sendiri.
di kamar. aku. sendiri. hanya. suara itu.
terus. menyeru. tak henti. tak henti.

PADA UPACARA MENJEMPUT DAUN BERINGIN

– buat Made Wianta

gunung keramat menghembus hujan
turun di ujung kakiku
ke manakah si mati yang dibakar tadi pergi?

gamelan lembut merangkul rambut langit
yang tergerai jatuh dekat kakiku
begitu jauh dariMu
wahai gadis kecil menari di buih putih masa lalu

“white wine lebih nikmat pake es”
kawanku memandang minta aku setuju

ikat kepala hitam aku pakai di kepala
untuk menghormatimu
o perempuan tua yang tak pernah aku kenal –
betapa sunyi kematian tanpa tangis tanpa keturunan

pada upacara kematian perempuan tua tak pernah kukenal
betapa indah terkenang senyumMu yang penuh kehidupan!

karena laut, sungai lupa jalan pulang

di kota kecil itu
gerimis turun
dan kita basah
oleh senyum dan tatapan tatapan curian
yang tiba tiba mekar jadi ciuman ciuman panjang …

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan batu batu hitam
daun daun gugur
danau kecil di lembah jauh
jadi sunyi
kehilangan suara jangkrik suara burung

gerimis yang turun
mengikuti terus
di jalan jalan gunung
pasar hiruk pikuk
bis antar kota
pertunjukan pertunjukan malam yang membosankan
sampai botol botol bir kosong
tempat lampu neon berdustaan dengan bau tembakau

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan di meja-warung basah oleh gerimis
sebuah sajak setengah jadi
mengabur di kertas tissue yang tipis

BOCAH PEMANCING IKAN

– untuk Vasko Popa

seorang bocah kecil memancing di danau
dan mendapatkan bulan
bulan itu lalu dipecahkannya dan keluarlah matahari
karena terlalu panas matahari itu meleleh di dalam solunya

si bocah kecewa dan menangis
menangisi matahari yang meleleh hingga tak ada hasil
untuk dibawa pulang
menangisi bulan yang sudah pecah berkeping keping
hingga tak lagi menyinari
jalan yang membawanya pulang
menangisi danau yang hanya punya satu bulan saja
dalam perutnya
menangisi dirinya yang bocah yang kecil yang hanya bisa
menangis di dalam
solunya di tengah tengah pekatnya lapar malam

SAUT KECIL BICARA DENGAN TUHAN

bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan

tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!

AKU INGIN

aku ingin mencintaiMu dengan membabi buta –
dengan sebotol racun yang diteguk romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiKu dengan membabi buta –
dengan sebilah belati yang ditikamkan juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

1999

DISEBABKAN OLEH RENDRA 3

rambut gugur
di baju di handuk dan di bantal di kasur
gugurlah semua ketombe dan kutu kepala bersamanya

kekasihku

rambutku gugur
di atas sprei di mana kau dulu tertidur
gugurlah segala mimpi yang pernah menyatukan kepala kita

baiklah kita ikhlaskan saja
tiada janji ‘kan jumpa di eropa atau indonesia
karena asmara bisa jadi asma kalau pindah pindah budaya

asmara cuma lahir di gelas bir atau whisky
(di mana segala berujung di kasur dan kamar mandi)
ia mengikuti warna rambut kita
dan kalau rambut sendiri telah gugur
gugur pula ia bersama sama

ada tertinggal serambut kenangan
tapi semata tiada lebih dari hangover minuman
atau semacam pencegah masturbasi

mungkin ada pula kesedihan
itu baginya semacam inspirasi bagi puisi
yang sebentar akan pula berontokan

kekasihku

gugur, ya, gugur
semua gugur
rambut, ketombe dan kutu kutu di kepala
yang kita perlu cuma shampoo lidah buaya!

SPRING SUDAH TIBA

spring sudah tiba dan jarum kompas
jadi liar dalam gelasnya
waktu perahu kertas yang kulayarkan
ke utara terbalik menabrak
pelangi tiga warna

wajahku mengeras di cermin kamar mandi
karena jejak kakimu
wahai camar berbulu putih
disembunyikan ombak laut dari
sepasang mataku yang letih

spring sudah tiba dan pohon pohon
di puncak bukit mengibas ngibaskan
debu salju dari alis mereka sementara
dua ekor anak domba
melompat terperanjat melihat
sekuntum mawar
mekar di sela sela pagar

perahu kertasku yang malang…
tapi lihatlah! tiga orang bidadari

turun

dari

pelangi

mereka angkat perahu kertasku
yang hampir tenggelam itu
dan salju yang mulai mencair
membawa mereka berlayar ke
pinggir
danau
yang
tenang

GRAFITI CEMBURU

-eine kleine nachtmusik

aku merindukanMu.

malam di kotaku sesak terhimpit
cahaya bulan tembaga.
layang layang yang dinaikkan
anak anak desa tadi siang
bagai kalong kalong kematian hitam
menganyam bayang bayang panjang
menjerat rumah rumah berlampu tak terang
dan derunya
sampai ke kamarku yang penuh bising nyamuk.
rambut kusutku lengket
di bantal basah keringat
menginginkan goresan ujung kukumu.
Aku ingin tenggelam dalam
ombak birahimu, badai rindumu.
para tetangga yang berjudi di kamar sebelah
tertawa pada kartu kartu berwajah sama
tangis anak istrinya –
apa yang sedang kau lakukan malam ini?
malam di kotaku sesak terhimpit
bau knalpot bau asap rokok
dan bulan tembaga yang pucat
berdarah matanya
tertusuk cakar layang layang
yang dibiarkan anak anak desa kelaparan di pekat malam.
betapa ingin kupanggil namaMu!
seperti bocah kecil terjaga
dari kejaran raksasa dalam tidurnya
tapi kamar yang gelap penuh sarang laba laba
telah lama kehilangan suara langkah kaki bunda.

aku merindukanMu
di tengah pengap puntung puntung rokok
dan hujan malam bulan Juni
yang menambah gelisah layang layang raksasa di atas rumah
merindukanMu lewat desah sungai alkohol bening
yang menghanyutkan batu batu hitam masalaluku
daun daun kering luka lukaku.

aku merindukanMu
di pasir putih puri kanak kanakku
patung patung pasir tak berbaju mimpi mimpiku
bagai kupu kupu kecil terbang dari sunyi kepompong mati
aku menari dalam hujan malam bulan Juni
di bawah panas cahaya bulan tembaga
mengikuti irama deru layang layang raksasa basah
yang tersesat dalam labirin rumah rumah tak terang lampunya
aku menari dan menari
tanpa suara
hilang dalam pusaran lubuk badai rindu
tak sanggup memanggil namaMu.

malam di kotaku terpanggang
hangus api cemburu.

denpasar, 9 juni 2001
12:00 pm/am

KATA DALAM TELINGA

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
cukup kuat
untuk melindungi
bawah perut yang lembut
terbuat dari renda renda dan daging otot
hairspray dan air ludah
20 kaki di atas kepala kita
jauh seperti sebuah perahu mengapung
seperti wayar wayar lembut lentur
montok seperti oyster
kalung bulu dan tulang di leher
berlayar antara bulan dan bintang bintang
di air halusinasi di atas bukit orang mati
seperti Pinocchio
main film biru di bawah meja kantor
demi eloquence
di dinding alfabet
bukan batu giok
dalam truk sampah
do you read me?

ada sebuah tangga menuju ke atap
sebuah rumah berjendela hitam
di mana kami mengubur laundry kotormu
biar kami bisa cerita hal hal yang baik saja tentang dirimu
bocah kemaren sore
yang berhenti percaya pada tuhan
yang berkata, “kalau tuhan itu pemabuk
aku tak perlu minum alkohol!”
ayolah

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
dengan botol botol susu beku dalam kotak surat
yang sedang diukiri tetanggaku dengan pahat
sambil berkata, “cuka dipakai di jaman Sebelum Masehi
sebagai spermicide-a pessary!”
“caranya, dicelupkan ke dalam,
mungkin menyengat sedikit!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
ya, musim dingin akan indah tahun ini
dengan televisi televisi bisu membaca
bibirnya sendiri dengan logat Inggris
menghembuskan kesunyian kesunyian panjang
untuk menghangatkan diri
e hoa ma! o sobat
belut perut perak adalah yang terbaik untuk dikeringkan!
jadi waktu pemain sax
membuka lagunya
seperti minum
kita tak punya pilihan lain
kita mesti mengikuti
boneka boneka Gringo
ke mana burung burung merpati membangun sarangnya
waktu arah angin berubah
dan mengikutimu masuk ke dalam kegelapan pikiran
candi penuh ular
candi dewi ular
dewi birahi orang orang pagan
candi 13 warna biru
biru airmata, biru rasa rindu
biru hijau cemburu
biru palung dalam, biru bumi
biru cinta, biru cermin kaca
biru nostalgia, biru bahaya
biru tipu, biru napsu
biru kehilangan, biru kematian

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana matahari jadi lebih berarti
di mana hantu seseorang yang dulu kau cintai
seseorang kepada siapa dulu kau selalu berkata “karenamu
aku selalu kesepian”
berbisik padamu dalam bahasa Morse
“pandanglah aku sekarang. aku kembali untuk menghantuimu!”
Valhalla nampak
begitu jauh
seperti bola bola golf
para businessman bangsa Jepang
yang sedang menghapal percakapan Inggris-Zen
“hi, I’m Richard Taylor
and so are you!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
seperti sebuah gantungan baju dari logam
tergantung tanpa baju
sexual pleasure
on empty roads
sebuah daun gugur
Jumat
adalah hari yang paling kejam dalam seminggu
berat
tailor-made
terbuat dari pecahan pecahan kaca halte bis kota
old talk
sebuah café
sebuah pekerjaan tetap

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana dua burung Enggang mengitari tiang totem tua
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
seperti sebuah Big Mac
oleh Picasso
datanglah kalian wahai para hantu
yang menjaga pikiran pikiran duniawi
hantu hantu sebuah tangga menuju ke atap
atap perak atap kaca atap burung burung
atap sayap sayap kupu kupu patah
hitam, putih, dan multiwarna
dan beruap seperti onggokan onggokan tahi lembu
di pagi kota Te Puke yang dingin
datanglah kalian wahai para hantu pemilik hak cipta
seni yang palsu, immoral, angkuh, dan penuh tipu
aku tak bertanggung jawab atas sajak ini!

CATATAN SUBVERSIF TAHUN 1998

— disebabkan oleh Wiji Thukul

kau adalah kemarau panjang

yang hanya membawa kematian

kepada daun, bunga, dan

ikan ikan di sungai

kampung tercinta

karena kau adalah kemarau

maka airmata marah kami akan

menggenangi bumi

jadi embun

naik ke langit jadi awan awan

dan dengarlah gemuruh suara kami

sebagai hujan turun

mengusirmu dari sini!

maret 1998

POTRET SANG ANAK MUDA SEBAGAI PENYAIR PROTES

kota kota menggersang. hari hari jahat. hantu

srigala betina bangkit dari sela reruntuhan

bangunan.

tak ada lagi damba

hanya

lumut dan bara api

menemani sepanjang hari.

aku disergap dentang kematian

dan aku terbakar hangus

dan aku lari tak tentu arah.

api semarak menghangus bajuku

sepasang tanganku

rambut kusutku. dan sambil berlari

aku menjerit memekik. tapi,

tak ada yang peduli.

aku memandang ke depan dengan kedua

mataku buta

aku mendengar sekitarku dengan kedua

kupingku tuli

dan ada suara suara sumbang

buta dan tuli

tak mampu lindungiku

dari suasana hidup yang memilu

mata dan telinga hati

membebani!

1987

SAJAK APARTHEID

botha adalah anak matahari

siang hari matahari kelihatan botha kelihatan

malam hari matahari tak ada botha tak ada

bukankah putih putih karena cahaya?

botha adalah anak matahari

matahari adalah induk botha

di mana ada semut di situ ada gula

di mana ada matahari di situ ada botha

di pantai botha telanjang bersama matahari

di pantai botha jogging bersama matahari

di pantai botha cocktail party bersama matahari

di pantai botha dansa bersama matahari

tapi matahari tak bisa lama lama bersama botha

matahari harus pergi matahari harus pergi

botha tak mau sendiri botha takut sendiri.

matahari takut malam matahari tak suka malam

botha takut malam botha tak suka malam

di pantai botha membuat api

api taku malam api tak suka malam

api harus pergi api harus pergi

botha takut malam botha tak suka malam

di pantai tak ada matahari tak ada api

di pantai botha sendiri botha takut sendiri

malam tak takut matahari tak suka matahari

malam tak takut api tak suka api

malam tak takut botha tak suka botha

di pantai botha telanjang sendiri sendiri sendiri

malam tak takut botha tak suka botha di pantai

telanjang sendiri sendiri sendiri

botha harus pergi!