All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Sambernyawa, Raja Ketiga Pulau Jawa

Masih segar dalam benak kita, polemik tentang cetakan uang baru. Salah satu ocehan yang menjadi masalah datang dari kader salah satu partai dakwah yang mengatakan Pahlawan Nasional yang dipilih menjadi gambar mata uang itu kafir. Pemilihan pahlawannya tak jelas, kok pahlawannya tak terkenal. Padahal Franz Kaisiepo adalah seorang pahlawan yang bahkan namanya sudah diabadikan namanya di Biak sana. Dan saya pun jadi bertanya-tanya, selain Franz Kaisiepo, pasti ada banyak pahlawan nasional lain yang tidak dikenal oleh masyarakat. Misalnya saja ada Tan Malaka, yang lebih dikenal sebagai bagian dari komunisme (bahkan dicap pemberontak oleh sebagian orang), padahal dia sudah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Soekarno. Lalu ada juga Sambernyawa. Nah, siapa Sambernyawa?

Julukan Sambernyawa diberikan oleh Nicolas Hartingh, perwakilan dari VOC, kepada Pangeran Mangkunegara I, karena Sambernyawa selalu memberikan kematian kepada musuh-musuhnya. Pangeran Mangkunegara I bernama lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I dengan nama lahir Raden Mas Said. Beliau lahir di Kartasura, 7 April 1725, meninggal di Surakarta, 23 Desember 1795. Beliau mendirikan Praja Mangkunegaran, di Jawa bagian tengah selatan.

Ddari kecil ia hidup terlunta-lunta karena Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura, ayahnya, dibuang Belanda ke Sri Lanka karena beliau melawan VOC, dan adanya intrik dengan Pakubuwana II.Kisah hidup Sambernyawa ini dinovelkan oleh Sri Hadjojo yang masih keturunan beliau.

Berlatar peristiwa pemberontakan orang-orang Jawa dan Tionghoa pimpinan Sunan Kuning, yang berakibat pada jebolnya Keraton Kartasura, novel ini merekam sejarah kehidupan raja Jawa yang paling gigih melawan Kompeni Belanda dan kesewenang-wenangan penguasa Mataram.

Pada 30 Juni 1742, Sambernyawa masih berusia 19 tahun, dan ikut bergabung dengan Sunan Kuning melawan VOC dan Pakubuwana II. Martabat orang-orang Tionghoa dan rakyat Mataram saat itu tertindas dan mereka kemudian menggempur Kartasura yang dianggap sebagai kerajaan boneka VOC. Peristiwa ini dikenal sebagai Geger Pacinan.

Nama Mangkunegara diambil dari nama ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura. Ketika RM Said masih berusia dua tahun, Arya Mangkunegara ditangkap karena melawan kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwono I) yang dilindungi VOC dan akibat fitnah keji dari Patih Danureja. Karena itulah, Said berjuang mati-matian melawan Belanda.

Keterkenalan Sambernyawa terletak pada tiga peperangan yang melibatkannya. Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Sambernyawa.

Yang pertama, pasukan Sambernyawa berperang melawan pasukan Mangkubumi, alias Sutan Hamengkubuwono I yang juga paman dan mertuanya di Kasatriyan pada tahun 1752. Yang kedua, Sambernyawa melawan dua detasemen VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan Rembang, di hutan Sitakepyak. Dalam peperangan itu, lebih dari 600 prajurit VOC tewas sementara pasukan Sambernyawa yang lebih kecil hanya menderita 3 tewas dan 29 terluka. Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah pada tahun 1756 dan Sambernyawa  berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya dan diserahkan kepada istrinya sebagai hadiah.

Yang ketiga, penyerbuan benteng Vredeburg dan keraton Yogya-Mataram pada tahun 1757. Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara VOC yang mengejar Sambernyawa sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa. Beliau murka dan balik menyerang pasukan VOC dan Mataram. Setelah memenggal kepala Patih Mataram, Joyosudirgo, Sambernyawa diam-diam membawa pasukan mendekat ke Keraton Yogyakarta. Benteng VOC, yang letaknya cuma beberapa puluh meter dari Keraton Yogyakarta, diserang. Lima tentara VOC tewas, ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta. Selanjutnya Sambernyawa menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran ini berlangsung sehari penuh.

Sambernyawa tak pernah kalah. Pertanyaannya, kalau Sambernyawa tak pernah kalah, kenapa ia tak mengusir Belanda? Saya menanyakan hal itu kepada seseorang yang masih keturunan Sambernyawa.

Setelah pertempuran tersebut, Nikolas Hartingh mengusulkan perundingan kepada Pakubuwana III ketimbang terus berperang dengan Sambernyawa. Perundingan itu diterima oleh Sambernyawa dengan syarat tak melibatkan VOC. Sambernyawa pun bertemu dengan Sultan Pakubuwana III dan terjadi perjanjian Salatiga pada 1757. Sambernyawa diberi wilayah yang dikenal sebagai Mangkunegaraan. Meski tingkatnya sama dengan kadipaten, Sambernyawa diperlakukan khusus layaknya raja kecil sehingga ia juga mendapat julukan raja ketiga pulau Jawa.

novel sambernyawa
Sambernyawa 2

Penerimaan ini, menurut seseorang tadi, dikarenakan sebetulnya Sambernyawa merasa lelah belasan tahun berperang melawan saudara-saudaranya sendiri. Ia ingin mengusir VOC dari tanah Jawa, namun intrik politik berkata lain, VOC merangkul saudara-saudaranya sendiri.

Pada tahun 1983, Sambernyawa diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Yang unik dari pasukan Sambernyawa adalah adanya pasukan perempuan dalam pasukan Sambernyawa, yang memegang senapan juga pasukan berkuda. Sambernyawa dianggap sakti mandraguna dan memiliki ajian Sasrabirawa. Kemenangan perangnya adalah berkat strategi jitunya dalam bergerilya dan berpasukan. Konon, nama Cakrabirawa dalam pasukan pengamanan Presiden adalah terinspirasi dari beliau, mengingat salah satu ibu negara kita, Ibu Tien Soeharto, adalah seorang Mangkunegaraan.

Goblin dan Siwa: Mengenali Ketuhanan

 

Siwa
Novel Siwa

Aku akan kembali sebagai hujan. Aku akan menemuimu lagi sebagai salju pertama. Aku akan berdoa kepada Yang Kuasa agar aku bisa melakukan semua hal itu.

~ Kim Shin

Kalimat itulah yang dikatakan Kim Shin (diperankan Gong Yoo) dalam drama Goblin, A Lonely God kepada Ji Eun Tak manakala ia akan lenyap setelah 900 tahun hidup di dunia.

Sebelum menjadi Goblin, Kim Shin adalah seorang jenderal yang disegani. Ia selalu memenangkan perang. Kedigdayaannya ternyata menjadi pedang bermata dua karena Sang Raja malah menjadi takut kalah pamor. Kim Shin yang sangat setia pada rajanya itu malah harus dihukum, dan menyaksikan seluruh keluarganya dibantai oleh penguasa. Ia ditikam pedang pemberian rajanya sendiri. Ketika ia sekarat ia berdialog sungguh dengan Yang Kuasa. Kim Shin yang seharusnya mati malah tidak mati, tidak dapat mati. Ia menjadi abadi, dengan pedang tertancap di jantungnya. Ia baru akan mati ketika ada yang dapat melihat dan mencabut pedang itu. Keabadian bagi Kim Shin bukan berarti kebahagiaan, melainkan kutukan, karena selama 900 tahun ia mengingat semua kenangan pedih yang ia rasakan, melihat orang datang dan pergi dalam hidupnya menemui maut.

Goblin
Kim Shin

Senada dengan itu, pada cerita yang berbeda, hiduplah seorang Siwa. Ia manusia biasa, pemimpin dari sebuah suku di pedalaman Tibet. Hidup membawanya ke Meluha, sebuah negeri berwangsa Surya yang penduduknya memiliki umur yang panjang, dengan tatanan hidup yang rapi dan tertata. Umur panjang mereka dikarenakan mereka meminum Somras, minuman ajaib, yang juga disuguhkan kepada Siwa dan teman-temannya. Yang terjadi adalah, leher Siwa menjadi berwarna nila. Karena itu ia dipanggil Sang Nilakantha, Sang Penyelamat yang akan memimpin kebaikan melawan kejahatan.

Baik Kim Shin maupun Siwa bermula dari manusia biasa.

Sebagai Goblin, Kim Shin memiliki keistimewaan. Kadang-kadang ia dapat mengabulkan permintaan. Bukan sembarang permintaan, melainkan permintaan yang sungguh-sungguh. Ia akan mendengar semua itu dan memenuhinya. Kebijaksanaan Goblin ini membuatnya juga disebut sebagai dewa. Tapi bukan ia satu-satunya dewa di drama itu. Tokoh lain ada yang disebut dengan deity dan almightyDeity merujuk ke Dewata. Almighty merujuk kepada Yang Kuasa.

Sementara itu, begitu sampai di Meluha, Siwa mulai mempertanyakan banyak hal tentang dunia ini. Kebaikan dan kejahatan. Kebenaran dan kesalahan. Ia berjumpa dengan beberapa brahmana, dan berdialog dengan mereka. Awalnya, banyak hal tak masuk akal baginya. Ia diajarkan tentang keseimbangan alam, bahwa kebaikan dan kejahatan memang diciptakan berpasangan secara seimbang. Tatanan yang ada di Meluha pun ia gugat. Ia memenuhi takdirnya untuk melengkapi kebijakan Sri Rama, menjadi seorang dewa… bahkan Mahadewa.

Dialog dengan basudewa pun sangat menarik. Dialog tersebut terjadi di alam mimpi. Siwa ditanya, apakah warna daun? Siwa yang sangat logis menjawab daun itu berwarna hijau. Namun, sang basudewa mengatakan tentang cahaya. Cahaya berwarna putih karena beberapa spektrum yang menyatu. Ketika terkena titik-titik air… spektrum yang menyatu itu kembali terlihat. Itulah pelangi. Ketika cahaya jatuh pada sebuah benda, maka sebenarnya batu itu menyerap cahaya. Ketidakmampuan benda dalam menyerap spektrum cahaya akan menampilkan warna spektrum tersebut. Jadi, apakah daun berwarna hijau atau karena ia tak dapat memiliki hijau di dirinya?

Siwa pun menerima takdir itu. Ia akan menjadi Mahadewa, menyeimbangkan dunia ini.

Lalu apa hubungannya Goblin dan Siwa dalam perspektif ketuhanan? Pada titik ini, saya menyadari, pada dasarnya Tuhan itu satu di semua ajaran. Tidak ada agama atau ajaran yang menyembah banyak Tuhan. Allah, Sang Hyang Tunggal, Almighty, Yahweh, Alah… apapun sebutannya, Sang Maha Kuasa itu ada di atas segalanya. Bahkan Einstein mengatakan, ada sesuatu yang menciptakan segala ini, meski dia tak tahu apa.

Hara hara Mahadewa. Setiap orang adalah Mahadewa, kata Siwa. Manunggaling kawulo nan Gusti, kata Siti Jenar. Aku Tuhan, kata Yesus ketika penyaliban. Jika Tuhan meliputi seluruh alam semesta, bagian dari alam semesta itu adalah diriNya juga… dan ada kalanya, suatu kesadaran tentang itu datang baik dari sisi subjek maupun objeknya. Makanya, bahkan ketika seorang pencinta sedang khusuk dalam cintanya, ia akan melihat wujud Tuhan pada orang yang dicintainya.

Rumitkah?

 

 

Lomba Puisi “Pesan Damai Untuk Seluruh Manusia”

Dalam rangka menyambut HARLAH NU Ke-91 31 Januari 2017, Pengurus PCINU Maroko mengadakan Sayembara Puisi dengan tema “Pesan Damai Untuk Seluruh Manusia”

KETENTUAN UMUM:
➡ Lomba terbuka untuk umum.
➡ Lomba bersifat gratis.
➡ Pengumpulan naskah puisi paling lambat tanggal 20 Januari 2017.

KETENTUAN NASKAH
➡ Tema: Pesan Damai Untuk Seluruh Manusia.
➡ Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya terbaiknya.
➡Karya pribadi. Bukan saduran atau mengambil ide orang lain.
➡ Karya belum pernah dipublikasikan di media apapun.
➡ Karya belum pernah dan tidak sedang diikutkan lomba atau sayembara puisi lainnya.
➡ Diketik rapi di Microsoft Word, dengan kertas A4, font Times New Roman 12 spasi 1,5.
➡ Panjang naskah maksimal dua halaman.

DEWAN JURI:
➡ Candra Malik: Sastrawan, Tokoh Sufi dan Wakil Ketua PP. Lesbumi PBNU.
➡ Hamdy Salad: Sastrawan, Penulis buku, novel, puisi dan naskah drama.

HADIAH:
➡ Juara 1: Rp. 1.000.000.00
➡ Juara 2: Rp. 750.000.00
➡ Juara 3: Rp. 500.000.00
➡ Seratus Karya terbaik akan dibukukan.

FORMAT PENGIRIMAN:
Naskah puisi dikirimkan melalui e-mail spnpcinumaroko@gmail.com dengan format: Peserta Sayembara Puisi Harlah NU_Judul puisi_Nama_Asal. (contoh: Peserta Sayembara Puisi Harlah NU_Mulut Tanpa Kata_Wardatun Hamra_Jakarta.)
Peserta harap mencantumkan nomor telpon yang bisa dihubungi.

✔ Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

✔ Kontak Person:
Agus Ghulam: +212 680136608
Siroj Achmad: +212 619911061

✔ Like dan ikuti Facebook Fanspage “PCINU Maroko” Karena semua informasi seputar lomba akan dipublikasikan di Fanspage.

Instagram: @pcinumaroko
Twitter: @numaghrib

Lomba Cipta Puisi Se-ASEAN

DEMA FTIK IAIN Purwokerto
Proudly present

LOMBA CIPTA PUISI SE-ASEAN
Dengan tema “Wajah Budaya Pendidikan Indonesia”
– Deadline 23 Januari 2017
– Satu penyair satu puisi

CARA MENDAFTAR
– Kirimkan karya beserta biodata (minimal berisi alamat email dan no HP.) via email ke antologi.iainpurwokerto@gmail.com , dengan subjek : WPI_(nama peserta)(judul puisi)(negara)

  • Like fan page Dema Ftik Iain Purwokerto dan Follow akun Instagram @demaftikiainpwt
  • Share info ini ke 20 teman FB dan Tag fb: Dema Ftik
  • Puisi karya sendiri, bukan jiplakan, terjemahan dan saduran serta belum pernah diikutkan dalam lomba atau dipublikasikan
  • Peserta adalah warga ASEAN dibuktikan dengan scan kartu identitas negara masing-masing dan tidak dibatasi usia
  • Panjang puisi maksimal 3 halaman dan ditulis menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris
  • Puisi ditulis di Ms. Word kertas A4, Times New Roman 12 pt, spasi 1
  • Puisi tidak menyinggung unsur sara, pornografi, maupun hal-hal yang dapat memicu konflik
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
  • Dipilih 100 Kontributor yang akan dibukukan serta diundang pada acara Lounching buku Lomba Cipta Puisi ini dan Diskusi Sastra sekaligus pengumuman pemenang pada tanggal 28 Februari di IAIN Purwokerto

Dewan juri utama:
Abdul Wahid B. S.(Dosen, Penulis, dan Penyair)
Arif Hidayat (Dosen, Penulis, dan Penyair)
Dimas Indianto S, (Dosen, Penulis, dan Penyair)
Yanwi Mudrikah (Dosen, Penulis, dan Penyair)
Wahyu Budiantoro (Dosen, Penulis, dan Penyair)

Hadiah :
1. Juara 1 Rp. 1.000.000,00 + tropy + sertifikat
2. Juara 2 Rp. 750.000,00 + tropy + sertifikat
3. Juara 3 Rp. 500.000,00 + tropy + sertifikat

CP: 085868975950 (GANI)
085747895095/WA (ANA)
FB: Dema Ftik
IG: demaftikiainpwt

Undangan Menulis Puisi Bangkalan

Festival Puisi Bangkalan 2 akan kembali digelar pada April 2017 mendatang. Acara bertajuk “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata” yang memiliki arti “lebih baik mati daripada menanggung malu” tak lain merupakan salah satu peribahasa yang juga menjadi dasar prinsip orang-orang Madura dalam menjunjung tinggi harga diri, khususnya kota Bangkalan, terkait dengan peristiwa bersejarah kematian Kè’ Lèsap dan asal-usul lahirnya kota Bangkalan. Dari beberapa sumber data, salah satu versi asal-usul kota Bangkalan bermula dari matinya Kè’ Lèsap, Bhângkah la’an yang berarti Sudah Mati. Kematian Kè’ Lèsap memiliki kontroversi bagi berbagai kalangan. Bagi sebagian kalangan Kè’ Lèsap dianggap sebagai pemberontak karena ia berusaha menguasai Madura, namun bagi kalangan yang lain Kè’ Lèsap dianggap sebagai pahlawan karena perjuangannya melawan penjajahan kolonial Belanda yang pada saat itu juga memegang otoritas kebijakan pemerintahan. Sebelum kematiannya Kè’ Lèsap pernah berkata bahwa “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata” (lebih baik mati daripada menanggung malu).

Festival Puisi Bangkalan 2 merupakan agenda Komunitas Masyarakat Lumpur berupa berbagai macam pameran dan pertunjukan puisi seperti: dramatisasi puisi, musikalisasi puisi, pantomime puisi, instalasi puisi, diskusi puisi, orasi puisi, pigura puisi, kaos puisi, banner puisi, pameran buku puisi, bedah buku puisi, dsb. Adapun UNDANGAN KARYA PENYAIR DALAM NEGERI/ LUAR NEGERI untuk bergabung dalam antologi puisi bersama “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata”. Berikut persyaratan pengiriman puisi:

P E R S Y A R A T A N   U M U M:

  1. Terbuka untuk umum, segala usia, WNI/WNA, berdomisili di mana saja.
  2. Para penyair dipersilakan mengirim sebanyak 3 puisi, beserta foto dan biodata terbaru, alamat, e-mail, dan nomor telepon untuk memudahkan komunikasi.
  3. Tema Bebas
  4. Foto, biodata, alamat lengkap, no telepon/ HP, email, ditulis dalam lembar terpisah.
  5. Puisi harus karya terbaru tahun 2016 – 2017 dan belum pernah dimuat dalam media sosial/ massa mana pun.
  6. Puisi diketik rapi di Ms. word 2003-2007, ukuran A4, spasi 1.5, font Times New Roman size 12 pt.
  7. Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: festivalpuisibangkalan@gmail.com, mulai Desember 2016 dan paling lambat sudah harus diterima pada 20 Februari 2017.

K E T E N T U A N   L A I N – L A I N:

  1. Puisi-puisi yang masuk akan diseleksi oleh tim kurator/ editor yang ditunjuk.
  2. Mengingat penerbitan buku ini tidak untuk keperluan komersial, para penyair yang karyanya dimuat, tidak memperoleh honorarium/ royalti.
  3. Setiap penyair yang karyanya terpilih dan dimuat akan mendapat 1 (satu) eksemplar.

CONTACT PERSON

087705726702 (Muzammil Frasdia)

087850923328 (Agus A Kusuma)

Iman, Ilmu, dan Kesalahpahaman

Al-Mujaadilah ayat 11 :

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

 

Bisakah seseorang beriman tanpa berilmu pengetahuan? Sering saya menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri. Mungkin sekitar umur 16 tahun saya pertama kali menanyakan hal itu. Dan sekitar 12 tahun berlalu, saya masih melakukan pencarian tentang Tuhan.

Alibi yang sering saya gunakan adalah Ibrahim. Ibrahim juga mencari Tuhan. Apakah ajaran Tauhid belum ada saat Ibrahim mencari? Ada. Tapi, Ibrahim tetap mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Saya pun mengajukan banyak pertanyaan, agar saya dapat meyakini sesuatu.

Hari ini saya tak sengaja berdebat dengan teman satu seksi. Dia tersinggung. Salah paham. Mulanya kami sedang membicarakan tentang anak dengan Kepala Seksi. Lalu Si Bapak berkata mengenai sebuah teori untuk menentukan kelamin jabang bayi. Beliau mengemukakan teori asam-basa.

Saya mengamini teori itu karena teori asam-basa adalah salah satu teori yang cukup mapan. Kondisi pH akan menentukan jenis kelamin. Tapi, bukan faktor satu-satunya. Karena teori ini pada dasarnya mengemukakan probabilitas.

Si Teman ini menyanggah si Bapak, “Teori itu nggak benar. Yang valid adalah…”

“Oh, yang siapa yang duluan itu…”

Aku pun langsung menyanggah, “Itu teori abal-abal, ah….”

Sontak si Teman ini langsung tersinggung, meninggikan suaranya, “Itu hadits nabi… kamu jangan sembarangan bilang itu abal-abal”

Nah, kami bekerja di Subdit Litbang. Penelitian dan Pengembangan. Berkutat dengan teori, metodologi, dll. Saya heran sekali, kok teori yang mapan, berani dia tak acuhkan, dan bilang nggak benar. Dan saya sama sekali tak diberikan kesempatan menjelaskan secara baik. Ketika saya mengalihkan kalimat kepada si Bapak sebagai upaya menjelaskan. Dia malah mencerocos tak ada hentinya. Soal cerocosannya belakangan ya saya tulis.

Sebenarnya bagaimana sih teori yang saya bilang abal-abal itu?

Jadi, ada teori-teorian di kalangan bapak-bapak. Kalau suami orgasme duluan, maka anaknya akan perempuan karena dianggap perempuannya yang mengendalikan. Sebaliknya jika istri berhasil orgasme (bareng atau duluan), maka kemungkinan anaknya cowok karena suami berhasil mengambil kontrol persetubuhan.

Saya katakan ini sebagai teori abal-abal, karena tidak ada penelitian dengan variabel demikian. Ini jadi bukan “teori”.

Secara ilmiahnya dijelaskan, bukan soal kontrol, melainkan sifat dari sperma. Sperma jantan cenderung cepat dan gesit. Sperma betina lambat. Ketika orgasme, maka sperma jantan akan meluncur lebih dulu diikuti sperma betina. Ketika perempuan belum orgasme, maka mekanisme pertahanan menuju ovumnya lebih kokoh. Sperma jantan yang duluan ini akan lebih dulu menghadapi mekanisme pertahanan sehingga kemungkinan besar mereka mati duluan. Mekanisme pertahanan ini akan melemah kemudian setelah serangan sperma jantan. Sperma betina yang belakangan pun akan relatif lebih mudah menuju ovum. Jadilah sperma tersebut membuahi ovum. Lahirlah bayi perempuan.

“Oh itu, ada di hadits? Segala sesuatu yang ada itu harus berasal dari iman. Kamu tidak boleh meragukan hadits, bla bla….”

Saya tidak meragukan hadits. Kadang susah ya ngomong sama orang yang sebegitu cepatnya mengambil asumsi atas yang kita ucapkan.

Saya bilang, “Pada dasarnya, segala yang ada itu bisa dijelaskan. Yang belum bisa, pada saatnya nanti akan dijelaskan…”

Lalu dia mencerocos. Awalnya mengenai daging babi haram. Lalu mengutip tentang lalat, salah satu sayapnya beracun, sayap lainnya penawarnya, kalau dicelup ke air jadi tidak beracun. Tanpa ilmu pengetahuan pun kita harus berangkat dari iman. Karena teori-teorian akan selalu ada sanggahannya.

Sebenarnya saya pengen sekali menjelaskan kalimat saya itu. Terkenang ucapan dosen agama tentang logika. Menurut penjelasannya waktu itu, logika terbagi ke dalam 4 struktur:

  1. Empiris, artinya segala sesuatu dapat dibuktikan dengan nyata, Bisa diindrai.
  2. Rasional, arti sederhananya masuk akal.
  3. Metarasional, kita tidak lagi memandang sesuatu dengan indra, tapi dengan batin.
  4. Suprarasional, di atas rasio… belum bisa dijelaskan, kadang sebagai aksioma.

Dia kemudian menyebut Isra Miraj yang baginya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Sementara bagiku, Isra Miraj bukan tidak bisa dijelaskan, melainkan belum bisa dijelaskan. Tidak dan belum memiliki arti yang berbeda. Aku meyakini setiap hal dalam agama sesungguhnya punya hikmah dan penjelasan tersendiri. Dia mengungkit temannya yang mencoba menjelaskan peristiwa tersebut. Di sini saya ngguyu untuk pertama kali. Temannya jurusan arsitektur, dan kemudian ingin mencoba menjelaskannya dengan teori Einstein, dll… ini yang mau mendengarkan yang bodoh atau yang mau menjelaskan yang bodoh?

Dia kemudian bilang Kun Fayakun. Jadi, jadilah. Di sini saya lagi-lagi punya perbedaaan. Kun Fayakun. Jadi, maka jadilah. Menurut Pak Dosen di ITB dulu, kata “maka” atau “ya” menyatakan sebuah proses. Tidak ada satu pun yang terjadi secara begitu saja. Proses itu ada. Proses itu mungkin masih ghaib bagi kita.

Saya pikir kita cukup tahu, bahwa kompetensi dalam bidang tertentu sebaiknya bicara pada bidang tertentu itu saja. Sama halnya dengan soal teori asam-basa, saya akan diam dan mendengarkan jika dia memang punya kompetensi di bidang tersebut sehingga langsung bisa menyalahkan teori tersebut.

Isra Mi’raj adalah hal suprarasional itu. Dalam struktur logika, kita membutuhkan aksioma. Angka 0 adalah contoh aksioma. 1 lebih kecil dari 2 adalah aksioma. Tuhan adalah aksioma. Dengan aksioma, Tuhan ada, Tuhan Mahakuasa, maka kita bisa mengatakan Isra Mi’raj bisa terjadi karena keMahakuasaan Tuhan.

Usaha untuk menjelaskan Isra’ Miraj itu akan selalu ada. Saya ingat betul, saya mendapatkan pertanyaan dari teman sebangku saya, Randi, ketika kelas 2 SMA. Menurutmu Pring, bagaimana Isra’ Miraj, bukankah menurut teori Einstein, sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya maka benda tersebut akan hancur?

Sampai saat ini, Fisika terus menerus meneliti hal apakah kita bisa menempuh atau melebih kecepatan cahaya. Kebetulan ketika menulis novel Phi, saya banyak membaca hal-hal Fisika dan Fisika sekarang sudah melangkah jauh. Terungkap, sebuah benda bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya. Sudah ada materi yang ditemukan demikian. Tapi apakah manusia bisa? Ada banyak syarat, mulai dari dawai sejajar, sampai mencari jawaban tentang Gravitasi. Maka, ada istilah anti-gravitasi. Sejauh ini, itu masih hipotesis. Makanya, di film Interstellar, endingnya adalah ditemukan persamaan gravitasi itu. Selain itu, ada juga soal dimensi, hipotesis tentang dimensi, salah satunya, dunia ini memiliki 9 dimensi. Kita di langit pertama, memiliki 3 dimensi, X, Y, dan Z. t (waktu) tidak dimasukkan karena dalam hipotesis lain, t adalah persepsi. Jika persepsi tak ada, apakah waktu masih ada? Nah, langit ketujuh… jika dicocoklogikan dengan hipotesis ini akan pas. Langit ketujuhlah yang memiliki 9 dimensi tersebut. Seperti apa? Tidak tahu.

Apakah Fisika kekinian yang seperti di atas mencoba menjelaskan isra Miraj? Tidak. Boro-boro. Wong penelitinya saja bukan muslim. Tapi, kenapa ada judul ini… salah satunya adalah banyak non-muslim, tidak satu-dua, yang mendapat hidayah setelah menemukan sebuah penjelasan ilmiah yang baru diketahui padahal di Quran, hal itu sudah disebutkan.

Orang beriman dan berilmu pengetahuan, ya, kata yang Quran pakai adalah “dan”. Dalam struktur logika, “dan” menyatakan kesatuan, tidak boleh salah satunya saja. S B jadi S. B S jadi S juga. B B baru jadi B.

Sebelum penutup, beberapa waktu sebelumnya saya memiliki pikiran, betapa kagumnya saya dengan orang-orang Salafy. Mereka rata-rata punya pengetahuan literatur yang luar biasa. Sayangnya, mereka sama sekali anti dan nggak mau membaca literatur lain. Saya menyangsikan jika mereka mau mencari literatur pembanding atas literatur yang mereka baca. Hal itu masuk dalam pikiran saya ketika bertukar pikiran dengan seorang teman, yang sejak setahun terakhir tampaknya baru ikut ngaji Salaf, tentang Wali Songo. Karena kebetulan penerbitku banyak menerbitkan buku-buku sejarah nusantara, jadinya punya sedikit pengetahuan tentang itu.

Dalam kasus ini, teman sekantorku juga Salafy. Ketika dia mencerocos itu, ada satu momen yang bikin aku ingin tergelak. Ketika dia bilang, “Apa kita harus percaya sama orang yang bilang Tuhan tidak bermain dadu, Einstein komunis itu?”

Nah, di sinilah gagal paham itu terjadi. Yang pertama, jelas bahwa Einstein bukan komunis. Dan kedua, mari kita simak betul-betul kapan pernyataan “Tuhan tidak bermain dadu” itu keluar?

Tuhan tidak bermain dadu diucapkan Einstein ketika sedang berdiskusi dengan Niels Bohr tentang proton dan elektron. Bohr bilang, elektron dan segala sesuatu di dunia ini acak dan tidak dapat dipastikan. Einstein menyanggah hal itu. Tuhan tidak bermain dadu menyiratkan bahwa segala hal di alam semesta ini ada aturannya, presisi.

Bukan malah disangkutpautkan dengan komunis, pernyataan Einstein tersebut justru mengundang kegaduhan dan menjadi pertanyaan, “Apakah Einstein percaya Tuhan?”

Untuk menutup tulisan ini, saya akan menyertakan jawaban Einstein atas pertanyaan itu.

Saya bukanlah orang ateis. Tapi saya juga tidak bisa menyebut diri orang percaya. Yang ingin saya katakan adalah: Kita semua adalah seperti seorang anak kecil yang memasuki sebuah perpustakaan besar dan megah, penuh dengan buku-buku dari bermacam-macam bahasa. Anak itu tahu seseorang pasti telah menulis buku-buku ini. Tapi ia tidak tahu bagaimana. Ia juga tidak memahami bahasa buku itu. Sama seperti yang saya alami. Kita melihat angkasa yang luas megah. Angkasa yang teratur dan tunduk pada hukum-hukum alam. Saya hanya bisa terdiam mencoba memahami seluruh hukum itu. Pikiran saya yang terbatas tidak bisa mengungkap gaya misterius yang ada di angkasa luar.