Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Author: Pringadi As

Kue Khas Sumbawa

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Kue Khas Sumbawa

Selama berada di Sumbawa, aku sempat mencicip beberapa jenis kue yang nikmat sekali. Uniknya, rata-rata tiap kue memiliki cerita tersendiri. Bukan hanya pengalaman rasa yang kudapat, melainkan juga pengalaman kearifan lokal budaya setempat yang tersemat pada kue-kue tersebut.

Janda Berenang

Janda Berenang terbuat dari Tepung Maizena dan Kacang Hijau dengan bahan pewarna tambahan warna pink (merah muda) dan dibungkus dengan daun pisang. Rasanya lembut dan nikmat.

Penamaan kue ini ada ceritanya. Pada zaman dahulu, ada seorang janda yang sedang membuat kue ini. Ketika membikin kue, si janda itu pergi (berenang berarti pergi) dari rumah dan tak kembali. Tapi, ada juga yang bilang kalau berenang itu artinya berhenti, Jadi kue ini berarti  dibuat sebelum si janda berhenti menjanda/ siap menikah lagi.

Batu Kumung

Batu Kumung biasa muncul ketika bulan Ramadhan. Kue ini berbahan dasar Telur ayam, Tepung beras, gelas Minyak goreng, Air, Gula pasir, dan Garam.

Cara membuatnya kocok telur hingga mengembang. Masukkan tepung dan garam, kemudian aduk hingga rata. Bentuk dengan sendo bundar + sebesar kelepon. Goreng dengan minyak yang panasnya sedang hingga berwarna kuning. Rebuslah gula dan air hingga kental sekali. Masukkan kue yang sudah digoreng ke dalam rebusan gula, biarkan sampai air gula meresap. Hidangkan dan kue siap dinikmati.

 

Bolu Ber’ai

Bolu ber’ai atau biasa disebut bolu yang memiliki kadar air. Kadar air tersebut bukanlah air putih, melainkan bolu yang direndam dengan mengunakan air gula. Hal itulah yang menjadikan tepung bolu bera’i Sumbawa berbeda dengan bolu pada umumnya.

Kue Mento

Kue mento adalah salah satu kue tradisional yang terbuat dari tepung terigu yang dibuat dadar dan diisi dengan daging cincang. Setelah dilipat seperti risoles kemudian disiram dengan santan kental dan dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Rasanya gurih i, cocoll untuk melengkap kue-kue manis yang lain.

Babinka

Kue Babinka adalah salah satu kue khas dari Sumbawa. Penganan ini dibuat dari tepung ketan dan ditambah bahan-bahan lainnya. Berikut cara membuatnya.

Bahan-bahan : 250 gram tepung ketan 250 ml santan dari 1/2 butir kelapa 100 gram kelapa muda, parut kasar 100 gram gula merah, disisir halus 25 gram gula pasir 2 sendok minyak goreng untuk mengoles loyang

Cara Membuat: 1. Semua bahan diaduk, uleni sampai lembut. 2. Siapkan loyang berukuran 20×20 cm, olesi dengan minyak goreng lalu alasi dengan kertas minyak. 3. Tuang adonan ke dalam loyang, panggang selama 30 menit. Dinginkan, potong-potong. Sajikan.

Manjareal

Jajanan asli Sumbawa ini berbahan dasar kacang tanah yang diberi bumbu, dan dibungkus dengan daun lontar. Aromanya harum dan unik. Enak banget dinikmati sambil minum teh atau kopi panas.

Saat dimakan, teksturnya terasa padat beremah, meleleh di mulut, seperti memakan gula donat. Rasanya manis dengan aroma kacang yang lamat-lamat. Sebabnya, kacang tanah yang sudah dibersihkan dari kulit arinya, direbus, lalu diblender hingga halus. Kemudian, kacang dimasak bersama gula hingga kalis, lalu diaduk rata dengan tepung beras atau tepung sagu. Adonan kemudian dicetak dan dijemur sampai kering.

Bika Jawa Pona 

Kue ini hampir sama dengan bika ambon, sama-sama berwarna kuning, namun warna ini diperoleh dari labu kuning halus juga merupakan salah satu bahan utamanya. Tekstur bantat namun citarasanya manis dan gurih.

 

Sebenarnya masih banyak kue khas Sumbawa yang lain yang belum pernah kucicipi. Semoga saja bisa main ke Sumbawa lagi deh buat mencicipi kue-kue khas sana. Lebih-lebih bulan Ramadhan. Sebab saat Ramadhan itulah segala jenis kue keluar. 😀

Puisi | Aceh dalam Pandangan

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Bayangkan suatu pagi, langit dipenuhi ribuan jamur

Pesawat-pesawat melintas, dekat dengan darat

Televisi di ruangan jauh lebih gelisah dari hati

Yang baru saja dikhianati

 

Setetes darah tak akan menetes di bumi Aceh

Tapi sejak itu kami mulai terbiasa

Mendongeng tentang saudara kami yang hilang

Kenangan saat makan kambing

Pada sebuah sore yang kini binasa

Orang kampung yang tidak mengerti apa-apa

Selain tani, dan secangkir kopi bahagia

Didudukkan di depan anak-anaknya

 

Bayangkan suatu pagi, dirimu adalah salah satu

Dari anak-anak itu

Tidak ada film kartun lucu

Di depanmu, ayahmu dituduh pemberontak

Sebelum ia sempat menghabiskan

Secangkir kopi yang belum mendingin itu

 

Tak perlu mengerti apa-apa

Pikiran tak pernah begitu penting

Tak masalah memisahkan pikiran itu

Dari raganya.

 

Bayangkan suatu pagi, bukan kami

Yang melihat langit dipenuhi jamur.

Kau menyaksikannya sendiri

Saat hendak berjemur

 

Di ruang keluarga, televisi menyala

Pembaca berita berkata,

Apa yang lebih menyakitkan

Dari sebuah perpisahan?

Kalimat-Kalimat Inspirasi dari Einstein

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

kutipan einstein

  • Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami; bukan karena orang-orangnya yang jahat, tetapi karena orang-orangnya yang tak peduli.
  • Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak.
  • Ketidakwarasan adalah melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.
  • Masalah-masalah penting yang kita hadapi tidak bisa dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama dengan ketika kita menciptakannya.

kutipan Einstein

  • Untuk mengenal sebuah Negara, anda harus mempunyai kontak langsung dengan tanahnya. Sia-sia memandang dunia hanya dari balik kaca mobil.
  • Kita harus melakukan yang terbaik yang kita bias. Itulah tanggung jawab suci kita sebagai manusia.
  • Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan.
  • Seorang manusia harus mencari sesuatu sebagaimana adanya, bukan yang bagaimana seharusnya menurut pikirannya.

kutipan einstein

  • Di hadapan Tuhan kita semua sama-sama bijak dan sama-sama tolol.
  • Bukan dengan duduk-duduk di kejauhan dan memanggil umat manusia sebagaimana larva yang dapat menolong mereka. Taksir agung individu adalah melayani, bukan mengausai.
  • Semua kita yang peduli akan kedamaian dan supremasi nalar maupun keadilan haruslah benar-benar sadar betapa kecil pengaruh nalar dan niatan baik yang jujur terhadap berbagai peristiwa politik.
  • Segala macam tindakan akan berakhir jika kekuatan-kekuatan dasar yang dahsyat tidak lagi mendorong kita.
  • Amarah hanya ada dihati orang-orang dungu.
  • Tidak banyak orang melihat dengan kedua mata mereka danmerasa dengan hati mereka.
  • Aku yakin bahwa sikap bersahaja dan menarik diri dari kehidupan merupakan hal terbaik bagi semua orang, bagi tubuh maupun pikiran.
  • Lebih mudah mengubah plutonium dari paad mengubah sikap manusia.
  • Jika orang jadi baik hanya karena takut akan hukuman dan berharap akan ganjaran, maka kita sungguh menyesalkannya.
  • Terus semaikan benih anda, karena anda tidak tahu mana yang akan tumbuh – mungkin semuanya.

kutipan einstein

  • Cinta adalah guru yang lebih baik dibanding dengan kewajiban.
  • Kalau kita menerima batasan-batasan kita, maka kita akan melampauinya.
  • Rasa ingin tahu punya alasan sendiri untuk ada.
  • Siapapun yang mengabaikan kebenaran untuk masalah-masalah sederhana tidak bisa dipercayai untuk masalah-masalah penting.
  • Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk hari ini, berharaplah untuk masa depan. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya

 

A Few Don’ts by an Imagiste, Ezra Pound

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Beberapa Hal yang Tak Boleh Dilakukan oleh Imajis

diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Sebuah imaji menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam waktu yang singkat. Kompleksitas ini menyangkut perasaan kebebasan yang hadir seketika, lepas dari batas ruang dan waktu, terasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam dada, yang umum kita alami ketika menyaksikan karya seni yang agung.

Bagi seorang imajis, lebih baik menyajikan satu imaji dalam seumur hidup ketimbang menciptakan beberapa karya lain.

Tulisan ini tentu bisa didebat. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh para pemula untuk menciptakan baris-baris puisi, terutama ketika hendak menjadi seorang imajis.

Mari kita mulai dengan tiga aturan yang dicatat Mr. Flint, jangan jadi dogma (jangan pernah mempertimbangkan segala sesuatu sebagai dogma), tetapi hasil dari perenungan panjang, atau mungkin perenungan orang lain yang layak dipertimbangkan. Jangan kasih perhatian kritik dari mereka yang nggak pernah menulis karya yang diakui. Pertimbangkan ketidaksesuaian di antara tulisan aktual dari penyair dan dramasis Yunani, dan teori para ahli bahasa Yunani-Roma (Graeco-Roman),  yang disusun untuk menjelasankan ukuran mereka.

Bahasa

Jangan gunakan kata-kata yang berlebihan, tak boleh ada kata sifat, yang intinya, jangan terlalu mengungkapkan sesuatu.

Jangan gunakan ekspresi seperti “dim lands of peace” atau ” tanah muram perdamaian“. Hal itu memperburuk imaji. Sama saja kita mencampurkan yang abstrak dengan yang konkrit. Hal seperti itu datang dari penulis yang tidak menyadari objek alami selalu menjadi simbol yang cukup kuat.

Dobrak ketakutanmu pada abstraksi. Jangan menuliskan baris-baris medioker yang sudah digolongkan ke dalam prosa yang baik. Jangan berpikir orang-orang cerdas tidak akan menyadari ketika kau mencoba menhindari semua kesulitan tak terperanai saat menuliskan seni ini dengan cara memenggal komposisi kalimat dalam prosamu menjadi baris-baris puisi.

Hal yang membuat para ekspertis lelah hari ini akan membuat masyarakat lelah juga di kemudian hari.

Jangan bayangkan kalau seni menulis puisi itu lebih mudah dari seni musik, atau mengira kamu bisa membuat para ahli kagum sebelum kamu mengerahkan kemampuanmu dalam seni penulisan setidaknya seperti kebanyakan guru les piano mengerahkan kemampuannya dalam seni musik.

Belajarlah dari banyak seniman sebanyak kamu bisa, tetapi milikilah sebuah respek baik itu untuk mengakui kehebatan mereka, atau untuk mencoba tak terpengaruh oleh mereka.

Jangan biarkan pengaruh itu malah membuatmu hanya “mencuri” frase-frase tertentu dari satu-dua puisi yang kamu kagumi. Kalau tak salah pernah ada wartawan Turki yang tertangkap mencuri frase-frase dari penyair. Lupa-lupa ingat sih.

Hindari penggunaan hiasan, meskipun hiasan itu bagus.

Ritme dan Rima

Berikan kesempatan kepadanya, irama terbaik yang bisa ia temukan, lebih baik lagi dalam bahasa asing sehingga makna kata-kata tidak akan terlalu mengalihkan perhatiannya terhadap irama, misal Saxon Charms, Hebridean Folk Songs, sajak-sajak Dante, lirik Shakespeare—jika ia mampu memisahkan irama dari semantiknya. Biarkan ia mencacah-cacah dingin lirik Goethe hingga ke komponen suara terkecilnya, panjang pendek suku katanya, tekanannya, bahkan susunan vokal dan konsonannya.

Sebenarnya tidak butuh juga kita mengatakan kalau puisi harus bergantung pada musikalitasnya, tetapi jika bisa dibunyikan, memiliki musikalitas itu, tentu hal itu akan membuat para ahli takjub.

Coba kita pahami dulu asonansi dan aliterasi, rima langsung atau tertunda, yang sederhana atau poliponik, layaknya seorang musisi yang berharap mengenali harmoni dan detail karyanya. Tak ada waktu yang percuma bila dikerahkan dalam wilayah itu, bahkan ketika para seniman jarang membutuhkan hal itu.

Jangan bayangkan suatu hal akan baik-baik saja dalam sebuah baris hanya karena hal itu buruk jika dimasukkan ke dalam prosa.

Jangan jadi tukang fatwa, itu tugasnya para penulis di bidang filsafat. Jangan menjadi deskriptif, ingatlah bahwa para pelukis dapat menggambarkan pemandangan lebih baik dari yang kamu bisa, dan bahwa dialah yang lebih tahu akan semua itu.

Ketika Shakespeare berkata “Dawn in russet mantle clad”/fajar bertudung mantel coklat, dia menyajikan sesuatu yang tak dapat disajikan pelukis. Di sanalah, di baris tersebut, dia tidak mendeksripsikan sesuatu dengan normal, dia menyajikan atau menghadirkan sesuatu yang tak normal tersebut.

Pertimbangkanlah cara yang dilakukan ilmuwan ketimbang cara agen marketing dari produk sabun baru.

Ilmuwan tidak mengharapkan untuk diakui sebagai ilmuwan hebat sempai dia menemukan sesuatu. Dia memulainya dengan mempelajari hal-hal yang sudah ditemukan. Lalu dia berangkat dari sana. Ia sama sekali tak menyimpan keinginan dikenali sebagai seorang ternama. Ia tidak berharap koleganya bertepuk tangan atas hasil kerjanya sebagai pemula. Sayangnya, para pemula dalam puisi tidak menempatkan diri dan karyanya pada lingkungan yang tepat dan terpercaya. Mereka memamerkan karya mereka di etalase. Tidakkah ini alasan masyarakat menilai puisi tak ada bedanya dengan yang lain?

Jangan memotong kerjamu menjadi iambik yang terpisah. Jangan jadikan tiap baris berhenti di akhir, dan memulai baris berikutnya dengan susah payah. Biarkan permulaan tiap baris berikutnya berpaut dengan irama di akhir baris sebelumnya, kecuali memang iramamu membutuhkan jeda yang panjang.

Pendek kata, bertindaklah sebagai musisi, musisi yang cerdas tentunya, ketika mengerjakan bagian-bagian dari karyamu yang berkait erat dengan musikalitas. Aturan-aturan mereka berlaku juga untukmu, meski kau tidak mesti terkurung di dalamnya.

Secara alami, struktur irama tidak meruntuhkan bangunan kata-katamu, suara murni dari kata-kata itu, atau, tentu saja, makna yang diusung kata-kata itu. Mustahil, pada dasarnya, bagimu untuk menciptakan struktur irama yang cukup kuat dan memesona bila kau hanya korban dari segala kekeliruan dalam meletakkan pemberhentian baris dan jeda.

Vide further Vildrac and Duhamel’s notes on rhyme in “Technique Poetique.”

Musisi dapat mengandalkan tinggi rendah nada dan volume suara. Penyair tidak bisa. Istilah harmoni berbeda dalam puisi; dalam musik, ia merujuk pada keterpaduan suara dalam nada-nada yang berbeda. Bagaimanapun juga, dalam sajak-sajak yang baik, terdapat semacam dengungan dari tiap kata yang tersisa di telinga seperti nada dasar. Rima mesti mempunyai elemen kejutan agar bisa dinikmati; tidak perlu yang beraneh-aneh atau berlebihan, tetapi cukup, selama tepat fungsinya.

Bisa dilihat lebih jauh dalam catatan Vildrac dan Duhamel tentang Rima, dalam Technique Poetique.

Rima itulah yang akan mengejutkan imajinasi di benak pembaca, dan akan menjadi khusus, tidak bisa dierjemahkan, karena hanya akan membuai telinga jika dibaca dalam bahasa aslinya. Coba deh pertimbangkan cara Dante, jika dibandingkan dengan retorikanya Milton. Juga banyak baca karya-karya Wordsworth sebagai perbandingan biar tidak terasa hambar.

Bila ingin menggali lebih dalam lagi, baca juga Sappho, Catullus, Villon, Heine ketika ia marah-marah, Gautier ketika ia tidak kaku; atau bila itu semua membuatmu kesulitan, membaca Chaucer yang ringan akan menyenangkan. Prosa yang baik tidak akan mencelakakanmu, dan tentu akan berguna bagimu bila kau melatih diri dengan menulisnya.

Menerjemahkan juga latihan yang baik, terlebih bila kau menemukan karyamu sendiri “compang-camping setiap kali kau mencoba menulisnya kembali. Makna puisi yang diterjemahkan mesti tetap, tidak bolehcompang-comping.”

Jika kau menulis dalam bentuk simetris, jangan hanya menuliskan apa yang hendak kau tulis lalu menyempurnakan bentuk dengan serampangan.

Jangan mengacaukan suatu persepsi dengan mencoba menuliskannya dengan cara lain. Hal tersebut biasanya hasil dari kemalasan untuk menemukan pilihan kata yang pas. Meski ada pengecualiannya.

Tiga larangan sederhana di awal sebenarnya akan langsung menyingkirkan sembilan dari sepuluh puisi buruk yang dianggap bagus selama ini; dan akan menghindarkanmu dari kejahatan dalam menulis puisi. “…mais d’abord il faut etre un poète—tetapi sebelumnya, mesti menjadi penyair,” sebagaimana yang dikatakan MM. Duhamel dan Vildrac dalam akhir buku kecilnya, Notes sur la Technique Poetique; meski besar kemungkinan di Amerika, seseorang akan menelannya mentah-mentah, kalau tidak, mana mungkin mereka hidup di negeri menyebalkan itu!

 

Teks asli:

https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/articles/58900/a-few-donts-by-an-imagiste

Puisi-puisi T.E. Hulme, diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment
Autumn
A touch of cold in the Autumn night—
I walked abroad,
And saw the ruddy moon lean over a hedge
Like a red-faced farmer.
I did not stop to speak, but nodded,
And round about were the wistful stars
With white faces like town children.
Musim Gugur
Sebuah sentuhan yang dingin
pada sebuah malam di musim gugur—
aku melangkah ke luar negeri
dan kusaksikan bulan berdarah
meringkuk di atas pagar
Seperti muka petani yang kemerah-merahan.
Aku tak berhenti berbicara, tapi mengangguk,
dan mencari bintang-bintang yang tersedu
dengan wajah pucatnya
seperti halnya anak-anak kota.

ABOVE THE DOCK

Above the quiet dock in midnight,
Tangled in the tall mast’s corded height,
Hangs the moon. What seemed so far away
Is but a child’s balloon, forgotten after play.

 

Di atas Dermaga

di atas dermaga yang tenang, pada suatu tengah malam

meringkuk di ketinggian, pada tiang kapal yang rusak

sebuah bulan. terasa begitu jauh

tetapi itu adalah balon seorang anak yang dilupakan seusai bermain.

 

The Embankment

Once, in finesse of fiddles found I ecstasy,
In the flash of gold heels on the hard pavement.
Now see I
That warmth’s the very stuff of poesy.
Oh, God, make small
The old star-eaten blanket of the sky,
That I may fold it round me and in comfort lie.

 

Tanggul

Pada suatu hari, dalam sebuah permainan biola yang mempesona
kurasakan ekstasi
Dalam kilasan langkah sepatu berhak emas di trotoar yang keras itu.
Sekarang, lihatlah aku,
Kehangatan itu adalah materi paling subtil bagi puisi.
Oh, Tuhan, membuatku merasa kecil
bak bintang-bintang tua, yang tertelan selimut angkasa
Bahwa aku mungkin saja melipatnya
dan merasa nyaman berbaring di atasnya.

 

 

Puisi T.E. Hulme: Trenches: St. Eloi diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Di atas lereng gunung Eloi

Karung-karung pasir bertumpuk bak sebuah dinding besar.

Malam,

Di dalam kesunyian, pria-pria yang tak kenal lelah

Memadamkan unggun kecil, membuang sisa kaleng bir:

Ke sana ke mari, dari garis itu.

Para pria berjalan seolah-olah berada di Piccadilly1,

Menggambar takdir di dalam kegelapan,

Melalui kuda-kuda mati yang bergelimpangan

Di atas perut Belgia yang binasa

 

Orang Jerman punya roket. Orang Inggris tak punya roket.

Meriam bersembunyi, berbaring beberapa mil di belakang garis

Di hadapannya, kekacauan:

 

Pikiranku adalah sebuah koridor. Pikiran-pikiran tentangku juga koridor.

Tak ada saran apa pun. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan, kecuali maju!

 

1Piccadilly adalah nama jalan di pusat kota London.

 

Trenches: St. Eloi

Over the flat slopes of St Eloi
A wide wall of sand bags.
Night,
In the silence desultory men
Pottering over small fires, cleaning their mess- tins:
To and fro, from the lines,
Men walk as on Piccadilly,
Making paths in the dark,
Through scattered dead horses,
Over a dead Belgian’s belly.

The Germans have rockets. The English have no rockets.
Behind the line, cannon, hidden, lying back miles.
Beyond the line, chaos:

My mind is a corridor. The minds about me are corridors.
Nothing suggests itself. There is nothing to do but keep on.