Apa dan Siapa Penyair Indonesia

Apa dan Siapa Penyair Indonesia

Apa dan Siapa Penyair Indonesia. Pasti banyak yang mengajukan pertanyaan serupa. Sebuah buku kemudian lahir untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Buku yang dirilis (edisi revisi) oleh Yayasan Hari Puisi pada Rabu (24/07) ini berusaha mencatat nama-nama penyair di penjuru Indonesia, beserta biodatanya. Keinginan yang mulia, karena kita tahu betapa sulitnya melakukan itu semua.

Tentu, yang harus dijawab pertama kali adalah apa ukuran seseorang pantas disebut penyair, dan kenapa ia harus tercatat sebagai penyair Indonesia? Apakah mereka yang pernah menulis puisi sudah langsung disebut penyair? Apakah mereka yang pernah menulis puisi di media massa saja? Ataukah yang sudah menerbitkan buku puisi? Atau hanya penyair yang kiprahnya sudah diakui di belantara kepenyairan Indonesia?

Maman S. Mahayana dalam diskusi peluncuran buku ini menjawab, ukuran yang dipakai adalah penyair yang sudah menerbitkan buku puisi. Tidak masalah dia maestro atau pendatang baru, semuanya diperlakukan sama, dan dimasukkan ke dalam entri buku.

Namun, dengan ukuran itu saja, ada banyak nama yang sebenarnya populer terlewat, tak dimasukkan di dalam entri. Nama penyair muda naik daun seperti Dea Anugerah terlewat dari daftar. Begitu juga, salah satu penyair tercantik di Indonesia, yang buku puisinya sudah terbit di Gramedia, Frischa Aswarini. Bahkan penyair flamboyan dari Jawa Barat, Faisal Syahreza, Luthfi Mardiansyah, dan Rendy Jean Satria lolos dari daftar.

Kritik-kritik lain pun bermunculan. Misalnya, dari Malkan Junaidi. Malkan mengatakan, “Jika memiliki buku antologi tunggal menjadi syarat, maka editor atau kurator wajib memiliki salinannya dan wajib pula membaca dan menilainya (yakni adakah antologi tersebut sudah layak menjadi bukti kepenyairan seseorang—mengingat siapa pun sekarang bisa menerbitkan buku dengan biaya sendiri).”

Kritik Malkan ini relevan mengingat sekarang muncul generasi Instapoet. Tak sedikit generasi Instapoet ini menerbitkan buku, yang sebenarnya berisi kutipan kalimat yang dianggap puitis, dan malabelinya sebagai puisi. Apakah kecenderungan puisi Instapoet kemudian dapat diakui sebagai bagian dari kepuisian kita? Jika ya, nama mereka tentu harus dimasukkan ke dalam entri buku ini. Kita tak boleh menolak Fiersa Basari, dkk yang penjualan buku puisinya laris manis di pasaran. Namun, di buku ini nama mereka tak muncul.

Saya pribadi menilai, kita tetap harus mengapresiasi kehadiran buku ini karena mulia sekali keinginan mencatat nama-nama penyair, terutama setelah era 2000, yang bisa begitu mudah dilupakan (karena saking banyaknya). Dengan adanya buku ini, mereka yang telah menulis buku puisi pun tercatat, setidaknya bisa dibaca lewat buku ini.

Ke depan, memang perlu, lebih spesifik lagi, mendefinisikan puisi dan penyair itu. APA DAN SIAPA PENYAIR INDONESIA, yang puisinya dianggap memiliki pengaruh dalam dunia puisi kita. Tentu juga harus dijelaskan, apa sih pengaruhnya.

Kira-kira begitu. Terima kasih kepada kurator yang telah memasukkan nama saya di halaman 449.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *