Anjing Menggonggong, Penulis Bercerita

Apa sih tujuan seorang penulis menulis cerita? Kalau aku jawabannya sederhana, bercerita. Tidak ada tujuan lain seperti mencerdaskan kehidupan bangsa, memberi pesan-pesan yang baik, protes kepada pemerintah, atau berceramah.

Dengan jawaban sederhana itu, bukan berarti bercerita adalah hal yang sederhana pula. Setidaknya, ada 3 hal utama dalam bercerita: pencerita, cerita, dan orang yang mendengarkan/membaca cerita. Ketika bercerita kepada seorang teman misalnya, tidak selalu teman kita itu mau mendengarkan. Bisa jadi karena cerita kita yang basi, membosankan, atau tidak menarik. Bisa jadi juga karena kita tidak pandai bercerita. Atau malah, bisa karena cerita itu tidak tepat bagi yang mendengarkan.

Membaca “Bakat Menggonggong” karya Dea Anugrah, mendadak aku mengingat hal-hal di atas. Kumpulan cerpen ini adalah antitesis dari panduan cara menulis cerita pada umumnya. Dea begitu paham, ia adalah seorang pencerita. Hanya pencerita.

Salah satu “aturan” menulis yang ia langgar adalah bahwasanya seorang penulis harus mengambil jarak dengan karakternya. Dea tidak melakukan hal itu. Ia menyatu dengan karakternya. Ia adalah karakter itu sendiri. Ia tidak butuh, dan tidak merasa perlu bercerita ke semua orang (inilah hal yang sering ingin dilakukan banyak penulis, sehingga tanpa mereka sadari, mereka menempatkan diri lebih tinggi dari pembaca). Ia memosisikan diri sebagai pencerita yang bercerita kepada orang-orang yang berada di dekatnya.

Misalnya, dalam cerita Afonso.(Bisa dibaca di sini)

Meski aku cukup kesulitan membaca dua paragraf awal cerpen ini, aku merasa cerita inilah favoritku.

 

 

Comments

comments