ANALISIS KRITIK SASTRA OBJEKTIF PADA NOVEL PHI KARYA PRINGADI ABDI SURYA

oleh Sindy Fibriyani
disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Kritik Sastra
Dosen Pengampu Imam Muhtarom, SS., M Hum.

PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2019

PENYANGKALAN SUREALISME DALAM NOVEL

Perihal karya sastra, khususnya novel, pada masa akhir abad ke-20 bukan saja menyangkut masalah yang semakin kompleks, tetapi konsep selalu menjadi hal yang terpenting dari membaca atau menulis teks. Dalam pemikiran yang jelas dan mengarah pada radikal penulisan sastra, sering kali ketiadaan konsep mempengaruhi kegagalan konstruksi teks tersebut. Kegagalan tersebut menjadi bertolak belakang pada tradisi sastra lama.

Pada tradisi sastra lama terdapat batas-batas dalam realistis pada umumnya, berbeda pada saat mulai munculnya suatu gagasan yang mengemukakan bahwa bahasa bukan hanya sekedar alat komunikasi, tetapi juga merunut batas-batas subjek-objek menjadi tidak jelas. Dalam ketidak jelasan ini, karya sastra dipercaya bahasa dapat membentuk dunia dalam hal di luar bahasa yang tidak di percayai.

Perubahan yang terjadi di dasari karena tidak relevannya waktu sebagai suatu penanda di dunia, yang sering dianggap ilusi atau khayalan dari keinginan terbesar manusia tersebut. Dalam waktu pun manusia sudah mempunyai batas dengan apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, kemudian yang akan terjadi. Waktu bukan seperti yang dapat di atur oleh tangan manusia sedemikian rupa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Dalam novel “Phi” (2018) karya Pringadi Abdi Surya, pengarang ini pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Cerita ini berfokus pada tokoh bernama “Phi”, yang artinya rasio emas. Phi adalah seorang anak yang dibuang oleh orang tua biologisnya, kemudian sepasang suami istri yang baru saja kehilangan anak kandung menemukan bayi Phi dan mengangkatnya menjadi anak. Lalu semakin lama, ia semakin menyadari bahwa kasih sayang orang tua angkatnya hanyalah kasih sayang substitusi. Maka pada saat kelas 5 SD ia bermimpi bertemu seorang perempuan yang kemudian ia temukan di dunia nyata, bernama Zane. Dengan rasa kesepian yang ia alami saat masih kecil, Phi menjadi sangat kuat dalam ikatan alam bawah sadarnya sehingga itu yang membuat ia sangat mencintai Zane.

“Dialah gadis itu. Dialah gadis yang muncul dalam mimpiku. Tujuh tahun telah berlalu, kupikir aku tak lagi bisa mengingatnya. Tapi saat aku melihat matanya, aku teringat dirinya. Potongan-potongan adegan yang terputus, kalimat-kalimat yang tak sempurna, ucapan-ucapan yang di bisukan waktu, semua tiba-tiba menjadi jelas. Aku ingat nama yang ada di dada kirinya. Sabriani Zasneda. Aku juga ingat nama yang ia perkenalkan. Zane.”

(Hal- 81)

Phi seorang mahasiswa yang dulunya berkuliah di ITB, sebelum ia memutuskan pindah di STAN. Kemudian bertemu dengan seorang bernama Sakum, berasal dari Macondo yang ternyata dapat muncul di mana saja yang dia inginkan.

“Kami memang sudah lama mengenal. Laki-laki yang menatapku di Gasibu itu bernama Sakum. Saat kutanya asalanya, dia bilang dari Macondo. Dan saat kutanya di mana Macondo, dia jawab, ada salam dari Kolonel Aureliano. Gila. Aku pikir dia orang gila yang hobi mengikutiku. Sampai ia mulai sering menemuiku, menunjukkan kegaibannya yang tidak masuk akal.”

(Hal- 203)

“Sumbawa menjadi pendamparanku yang lain. Jauh dari siapa pun, aku pikir dapat juga menyingkir dari Sakum. Tapi ternyata dia dapat muncul di mana saja yang dia inginkan”

(Hal- 203)

Dalam kisah cintanya Phi dengan Zane, tidak selamanya berjalan dengan mulus. Phi yang selalu di temani Sakum terus menerus meminta berjelajah waktu dan pergi ke satu tempat ke tempat lain yang ia mau hanya untuk dapat bertemu dan menjalin kasih dengan Zane, perempuan yang sangat dicintainya tanpa peduli telah melampaui batas ruang dan waktu. Namun selalu saja takdir seakan tidak berpihak pada Phi.

“Terimalah, Zane bukan jodohmu.” (Hal- 352)

“Tapi kau yang membujukku berulang-ulang untuk kembali ke masa lalu, dan kau yang menuntunku menempuh jalan itu” (Hal- 352).

Dalam novel karya Pringadi Abdi Surya ini muncul sejenis keadaan yang sangat kabur dengan konsep cerita tersebut karena terlepas pada batasan karya sastra itu sendiri. Seorang Phi yang hanya manusia biasa dapat menjelajah waktu dari masa kini ke masa lalu dan tanpa sebab ia dapat melampaui ruang dan waktu hanya karena tokoh Sakum. Namun alasan terbesar ia melakukan hal tersebut, tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengubah kehidupan asmaranya lebih baik lagi bersama Zane. Tentunya, tokoh Phi ingin membuktikan dan memperjuangkan rasa kebebasan untuk mencintai dan salah satu yang di kehendakinya dengan hal tersebut.

Dalam hal ini, jika pembaca meninjau lebih jauh novel “Phi”, dapat di ketahui bahwa sebenarnya tokoh Phi adalah seorang pengidap skizofrenia atau bipolar yang membuat batasan-batasan tersebut terlampaui. Dan di balik rahasia itu, tokoh Zane pun tidak pernah ada. Phi hanya berhalusinasi tentang dirinya dan kehidupannya sendiri sebagaimana ia tidak dapat mengetahui hal yang dapat dibenarkan atau tidak. Sehingga menempatkan novel tersebut menyesuaikan dan dapat memenuhi tokoh Phi .

DAFTAR PUSTAKA
Muhtarom, Imam. 2019. Kulminasi Teks, Konteks, dan Kota. Yogyakarta: Sulur Pustaka.

Abdi, Pringadi. 2018. PHI. Yogyakarta: Shira Media.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *