Alasan Menulis

“Jika seorang penulis menulis hanya untuk menghabiskan waktunya, Anda harus mengistirahatkan pena dan membuangnya” – Victor Hugo

Saya begitu terkesan dengan pertarungan antara Luffy Topi Jerami dengan Donquixote Doflamingo. Dua-duanya memiliki HAKI raja, dan punya kekuatan yang hebat.

Doflamingo adalah anak seorang bangsawan. Namun, ayahnya memilih membuang status kebangsawanannya dan menjadi manusia biasa. Hanya saja, masyarakat tidak bisa menerima mereka, mengingat kebiasaan bangsawan yang tiran. Sementara, kaum bangsawan sudah mengucilkan mereka. Doflamingo yang sudah terbiasa hidup mewah dan diagungkan pun marah kepada ayahnya. Ia membunuh keluarganya, dan menjadi salah satu bajak laut paling disegani karena perannya dalam dunia bawah tanah. Ia memanipulasi sebuah bangsa, dan menjadi raja di sana, sambil menikmati statusnya sebagai sichibukai (bajak laut yang berafiliasi dengan angkatan laut).

True evil Doflamingo itu kemudian ditantang Luffy, Bajak Laut Topi Jerami yang bercita-cita ingin menjadi raja bajak laut. Berbeda dengan Doflamingo, bajak laut baginya bukan sebuah kejahatan, melainkan kebebasan. Kebebasan untuk berpetualang dan mencari makna kehidupan di lautan yang begitu luas dan masih menyimpan banyak misteri.

Dalam pertarungan mereka, Doflamingo sebenarnya unggul satu konsep. Yakni, awakening. Pengguna buah setan punya satu konsep awakening, yang dapat mengubah benda di sekelilingnya menjadi bagian dari kekuatannya.

Penulis juga memiliki konsep itu. Saya percaya, hal pertama yang harus dialami oleh seorang penulis bukanlah pengasahan teknik menulis, melainkan kebangkitan di dalam dirinya, yang bisa dimotori oleh motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Awakening ini bisa juga disebut bangkitnya kesadaran puitik kita. Tanda-tanda bila kau memiliki itu ialah sensitivitasmu akan bertambah. Kau bisa melihat hal-hal yang tidak bisa awam lihat. Kau memiliki berbagai sudut pandang baru terhadap sesuatu. Dan pada saat itu, meminjam bahasa akuntansi, kau akan menjadi makhluk substance over form.

Saya pribadi punya beberapa tahap dan perubahan sudut pandang, mengapa saya menulis?

Tapi, pada mulanya saya jatuh cinta, dan saya patah hati. Saya pikir kesadaran puitik adalah keseimbangan jatuh cinta dan patah hati sekaligus, bersama-sama, pada banyak hal di dunia ini.

Saya jatuh cinta pada seorang gadis. Saya menulis surat cinta untuknya. Tapi surat itu ia izinkan untuk dibaca oleh orang lain. Ia tidak menjawab suratku. Lalu aku patah hati. Saya jatuh cinta pada Tuhan, dan merasakan kenyamanan tiada tara saat berkhalwat padanya, tapi pada saat yang sama ia menguji kecintaanku kepadaNya, dan aku kalah, dan aku bertanya-tanya, kenapa ketulusan harus diuji? Saya jatuh cinta pada negara, namun penguasa tak bosan mengecewakan rakyatnya.

Saya mengalami proses itu terus-menerus pada kasus yang berbeda-beda. Jatuh cinta, lalu patah hati, jatuh cinta lagi, lalu patah hati lagi.

Menulis bagi saya sama saja dengan bernapas. Ada sesuatu yang saya hirup, ada sesuatu yang saya embus. Hanya akan berhenti kalau saya mati.

Sesuatu yang saya hirup itu adalah pengetahuan. Sastra berarti literatur, bukan? Dan penulis adalah seorang intelektual. Seorang penulis kudu mengonsumsi sesuatu, dan alangkah baiknya bila sesuatu itu bergizi. Penulis yang baik bukanlah penulis yang cuma mampu membaca buku, melainkan penulis yang mampu membaca masalah. Masalah, dalam metode penelitian, berbeda dengan gejala. Bukan cuma fenomena, tapi sebab dari fenomena.

Penulis yang baik kudu punya paru-paru yang baik agar yang ia hirup dapat dimasak terlebih dahulu sebelum diembuskan.

“Penulis bukanlah pembuat manisan, dealer kosmetik, atau penghibur. Dia adalah orang yang telah sadar dan bertanggungjawab menandatangani kontrak dengan-Nya” – Anton Chekhov

Namun, yang lebih penting, cinta dan kebencian yang dimiliki penulis tidak boleh berlebihan. Cinta dan benci yang berlebihan akan mematikan nurani penulis. Lahirlah penulis-penulis yang tendensius, yang idealismenya kebablasan. Hal-hal seperti ini kemudian akan menyesatkan penulis. Dan melupakan diri mereka sendiri.

Bagi saya, pertanyaan terbesar tentang jatuh cinta dan patah hati adalah seberapa cinta saya pada diri sendiri, dan seberapa patah hati saya karenanya?

“Lebih baik menulis untuk diri Anda sendiri dan tidak umum, daripada menulis untuk publik dan tidak memiliki diri” – Cyril Connolly

Comments

comments

2 thoughts on “Alasan Menulis”

  1. Lagi² terima kasih karena telah menulis tulisan yang menurutku sangat menginspirasi ini. Saya pun awalnya bingung mencari alasan mengapa saya mulai menulis. Ini tulisan sebagai ekspresi senang atas terbitnya tulisan saya pertama kalinya “Menembus Koran Pertama Kalinya“.
    Jika alasannya soal uang tentu seharusnya saya menyerah karena honor pertama yang saya terima hanya Rp. 100ribu itupun baru sekali terjadi. Hal itu pun juga saya tulikan disini “Honor Pertama dari Menulis“.
    Pendapatan dari iklan pun tidak kunjung datang. Saya juga belum pernah memenangkan sesuatu lewat tulisan. Kemudian saya sadar. Apakah saya menikmati aktivitas menulis? Ternyata menulis sangat menyenangkan, saya sagar menikmatinya. Kadang saya tertawa sendiri saat membaca tulisan-tulisan lama yang pernah saya posting di web. Menyenangkan. Saya mungkin tidak akan pernah mengingat detail kejadian yang pernah saya tulis jika daya tidak pernah menuliskannya. Saya menikmati aktivitas menulis. Itu lebih penting dari uang yang di dapat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *