Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

9 Hal yang Patut Kita Lakukan Setelah Ramadhan Usai

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada di dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh

dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.

(Al-‘Ashr 1-3)

Memaknai salah satu surat dalam Alquran itu, kita diingatkan tentang waktu. Waktu dengan mudahnya berlalu. Dengan cepat, ia bisa melumat siapa pun yang terlena. Waktu seperti arus. Hanya ikan mati yang terbawa arus.

Tak terasa, tahun akan berganti kembali. Kemarin, rasanya kita masih seorang anak yang mengejar layangan sepulang sekolah, bermain gundu di tanah lapang, atau meloncat dari ketinggian ke dam-dam kecil di belakang rumah. Namun, barangkali kini kita telah dewasa, berkumis, berjanggut, beranak pinak, tanpa menyadari ada banyak hal yang terlewatkan, disesali, karena tak pernah melakukan perencanaan hidup yang matang. Let’s gone be by gone dan What will come just come menjadi dalih pembenaran atas hidup yang terjalani selama ini.

Lain halnya dengan Jamil Azzaini, yang membuat proposal hidup. Ada beberapa langkah dalam membuat proposal hidup kita sendiri. Pertama, rinci semua kekuatan dan kelemahan kita. Apa pun. Lalu garis bawahi kekuatan dan kelemahan yang kita miliki namun jarang dimiliki orang lain. Renungkan. Tuliskan. Kedua, temukan dan tuliskan prestasi terbaik kita yang akan dicapai dalam hidup. Misalnya, kita akan memiliki kekayaan yang sanggup membiayai satu juta orang tidak mampu. Jangan sekalipun ragu untuk menuliskannya. Setelah itu buat rincian prestasi yang akan kita capai. Kategorikan jenis prestasi itu sesuai bidangnya. Misal pada tahun 2017 ini, kita akan mengkhatamkan alquran 2x, puasa Senin-Kamis, mengembangkan bisnis, menulis tiga buah novel. Kategorinya bisa menjadi spiritual, bisnis, karir, atau keluarga. Setelah kategori-kategori ini terkumpul, tentukan skala prioritas untuk menjadi ahli di biadang yang kita utamakan. Lalu jalani semuanya dengan integritas.

Senada dengan hal itu, saya memiliki langkah-langkah khusus untuk membuat resolusi proaktif setelah Ramadhan selesai nanti

1. Introspeksi

Bagi sebagian besar orang, malam lebaran dirayakan dengan terompet, dengan letusan kembang api yang mekar di langit malam. Menunggu hingga selesai takbiran hanya untuk menikmati momen Idul Fitri. Tapi ada baiknya, kita juga menyunyikan diri, guna bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kita lakukan selama Ramadhan? Apakah kita bisa menikmati ibadah? Apakah dalam tahun ke depan kita tetap akan menjadi manusia yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi palu yang menghantam relung dada kita.

2. Berpikir Proaktif

Bahkan cinta tidak bisa menunggu. Begitu kata Cristian Sugiono di film Jomblo. Hidup pun demikian. Kesempatan harus dijemput. Peluang harus ditemukan. Tindakan proaktif berbeda dengan tindakan reaktif yang hanya bisa mengumbar keluhan akan keadaannya.

3. Personal Branding

Harry Surjadi pernah berkata, sebuah entitas yang berhasil adalah manakala ia berhasil membranding dirinya. Dengan spesifikasi yang sama, ponsel iphone memiliki harga jual yang lebih tinggi dari pesaingnya tanpa menurunkan pangsa pasar. Seorang Harry Surjadi yang membranding dirinya sebagai wartawan lingkungan hidup pun menjadi dikenal karena ia membuat dirinya ahli di bidang itu.

Kita pun demikian. Menemukan keunikan dan hasrat kita di suatu bidang adalah hal yang wajib dilakukan sebelum kita menjadi ahli di bidang tersebut.

4. Memotivasi Diri

Ada saatnya kita akan merasa tertekan, merasa ingin menyerah, kalah. Ketika semua masalah di depan seperti tak sanggup lagi dihadapi atau ketika beban di pundak terasa begitu berat, di saat itulah kita perlu memotivasi diri untuk dapat bertahan.

Memotivasi diri pun tak melulu berdiam di kamar, berkata pada diri sendiri. Kita juga bisa pergi ke pantai, ke gunung, ke air terjun, untuk menikmati alam. Atau datang ke seminar-seminar motivasi, untuk mendapatkan bahan motivasi dari pakarnya sekalian.

5. Membangun Jaringan

Berkenalan dengan seseorang yang baru, itu sama saja membuka pintu rejeki yang baru. Maka, bila kita memutus pintu silaturrahim dengan seseorang, itu juga sama kita menutup pintu rejeki kita.

Namun yang perlu diingat, jaringan hanyalah alat pendukung, bukan alat utama dalam mencapai rejeki itu.

6. Belajar Tiada Henti

Manusia bisa dikatakan mati manakala ia kehilangan hasrat hidupnya atau bila ia merasa dirinya sudah cukup pintar, tidak mau belajar. One Day One Information harus kita galakkan sebagai budaya hidup untuk terus memperbaharui pengetahuan yang ada di dirinya. Tapi jangan sampai terjebak pada hoax ya. Kita harus kuatkan ketahanan literasi kita.

7. Singkirkan Asumsi

Kita sering bertanya, kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana. Seakan-akan setiap langkah yang akan kita ambil selalu memiliki dampak negatif. Seperti pepatah, malu bertanya sesat di jalan, banya bertanya nggak jalan-jalan, kita tidak perlu memusingkan asumsi terburuk yang mungkin terjadi karena kadangkala kita bisa dewasa dalam perjalanan. Kita bisa ahli sambil menjalani.

8. Grand Mapping

Setelah ketujuh hal itu, rumuskan peta hidup kita. Perencanaan besar yang terstruktur, jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

9. Teman yang Baik bagi Diri Sendiri

Kita seringkali mengandalkan orang lain untuk mendapatkan nasehat. Tapi sebenarnya, nasehat terbaik justru datang dari sudut kecil bernama nurani. Jangan mudah menyalahkan diri, dan maafkanlah kesalahan-kesalahan di masa lalu. Tak ada yang salah berdamai dengan diri kita dan menjabat erat sisi lain kita.

Setelah semua hal itu dilakukan, niscaya, hidup kita akan menjadi lebih tertata. Dan lebih baik tentunya.

Comments

comments



3 thoughts on “9 Hal yang Patut Kita Lakukan Setelah Ramadhan Usai”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *