Diksi dalam Puisi

Diksi adalah pilihan kata. Definisi sederhana ini begitu kuingat karena saat aku duduk di kelas 2 SMP, wali kelas sekaligus guru Bahasa Indonesia, Bu Djaziah Tjahtja (memang ditulis dengan ejaan demikian–baca: Jasiah Yahya) bertanya arti dari diksi.

Makna diksi sebenarnya jauh lebih luas dari itu. Diksi dapat didefinisikan sebagai gaya berbicara atau menulis, ditentukan oleh pilihan kata oleh pembicara atau penulis.

Diksi, atau pilihan kata, adalah hal yang membedakan tulisan yang baik dari tulisan yang buruk. Ada sejumlah faktor yang berpengaruh. Pertama, kata itu harus benar dan akurat. Kedua, kata-kata harus sesuai dengan konteks penggunaan kata. Terakhir, pilihan kata harus memperhatikan audiens  sehingga pendengar atau pembaca mengerti dengan mudah.

Diksi yang tepat penting untuk menyampaikan pesan. Di sisi lain, pilihan kata yang salah dapat dengan mudah mengalihkan pendengar atau pembaca, yang menghasilkan salah tafsir terhadap pesan yang ingin disampaikan.

Ada beberapa jenis diksi, yaitu:

1. Diksi formal – kata-kata formal digunakan dalam situasi formal, seperti konferensi pers dan presentasi.

2. Diksi informal – menggunakan kata-kata dan percakapan informal, seperti menulis atau berbicara dengan teman-teman.

3. Bahasa sehari-hari – menggunakan kata-kata umum dalam percakapan sehari-hari, yang mungkin berbeda di berbagai daerah atau komunitas.

4. Diksi bahasa gaul/slang – adalah penggunaan kata-kata yang baru saja diciptakan, atau bahkan tidak sopan.

Selain keempat jenis tersebut, kita juga mengenal bahasa arkaik/bahasa kuno yang sudah jarang atau tak lazim digunakan.

Dalam literatur, penulis memilih kata-kata untuk menciptakan dan menyampaikan suasana hati, nada, dan suasana khas kepada pembacanya. Pilihan kata-kata penulis tidak hanya memengaruhi sikap pembaca, tetapi juga menyampaikan perasaan penulis terhadap karya sastra. Selain itu, puisi dikenal karena diksi yang unik, yang memisahkannya dari prosa. Biasanya, diksi puitis ditandai dengan penggunaan kiasan, kata-kata rima, dan perangkat lainnya.

Diksi dalam Puisi

Mengapa Chairil Anwar dianggap sangat penting dalam perpuisian Indonesia? Simak Sajak Chairil berikut ini:

Derai-derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Jawabannya adalah diksi. Chairil Anwar berhasil menunjukkan kematangan bahasa Indonesia. Ia melepaskan diri dari tradisi perpuisian Indonesia sebelumnya yang terkesan “kaku dan formal” menjadi begitu cair. Ia membawa struktur dan imajinasi dari bahasa sehari-hari. Puisinya yang paling terkenal: Aku menjadi semacam dasar pemikiran sajak-sajaknya yang berangkat dari individualisme. Ekspresi individualisme itu diungkapkan lewat bahasa Indonesia untuk menyampaikan kehidupan dan kebatinan manusia modern.

Dalam puisi, diksi menjadi sangat penting, bahkan sakral. Sebab, hal yang membedakan puisi dengan prosa, salah satunya adalah kepadatan. Dalam artian, setiap kata dalam puisi memiliki posisi penting dan tidak boleh ada yang sia-sia. Tidak boleh ada yang salah/tidak tepat. Makanya, dalam urusan menulis puisi, seorang penyair bisa berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menyempurnakan sebuah puisi.

Sangat keliru sebenarnya, jika ada yang beranggapan menulis puisi itu gampang. Menulis puisi itu sulit jika ingin mencapai estetika yang diinginkan.

Diksi digunakan untuk membangkitkan imajinasi pembacanya, memperjelas makna sambil tetap membuat sajak itu menarik dari segi bunyi, menyentuh perasaan pembaca dan sekaligus memunculkan gagasan-gagasan yang tepat pada pembaca seperti yang dipikirkan dan dirasakan oleh penulis.
Ketepatan pilihan kata tak terlepas dari pengetahuan penulis tentang makna dan kosakata yang ia miliki. Penulis dituntut memiliki kesadaran untuk mengetahui hubungan antara kata dengan segala sesuatu di balik kata tersebut.

 

Kata yang dipilih harus melalui pertimbangan maknanya, komposisinya dalam kalimat dan wacana, kedudukan kata tersebut di tengah kata lain, dan kedudukan kata dalam keseluruhan karya sastra. Kata yang dikombinasikan dengan kata-kata lain dalam berbagai variasi mampu menggambarkan bermacam-macam ide, angan, dan perasaan. Dalam karya sastra, terdapat banyak diksi antara lain kata konotatif, konkret, kata sapaan khas dan nama diri, kata serapan, kata asing, kata vulgar, kata dengan objek realitas alam, dan kosa kata dari bahasa daerah Jawa, Sunda, Batak, dan sebagainya.

Itulah sebabnya, sebelum menentukan pilihan kata, seorang pengarang harus memerhatikan masalah makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna, menurut (Chaer, 1994:60), terbagi atas beberapa kelompok yaitu:

a. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Sedangkan makna gramatikal adalah makna yang digunakan untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal [sesuai dengan tata bahasa].

b. Makna Referensial dan Nonreferensial

Perbedaan di antara keduanya adalah berdasarkan pada ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Sebuah kata memiliki makna referensial jika mempunyai referen. Kata nonreferensial adalah kata yang tidak memiliki referen.

c. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki. Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif, yang berhubungan dengan nilai rasa orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.

d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah lema [kata atau frasa masukan dalam kamus di luar definisi atau penjelasan lain yang diberikan dalam entri, Red] terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Contohnya, kata “kuda”. Makna konseptualnya adalah sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata yang berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada di luar bahasa. Contohnya, kata “melati” berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian. Kata “merah” berasosiasi “berani” atau paham komunis.

e. Makna Kata dan Makna Istilah

Makna kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: kata “tahanan”, bermakna orang yang ditahan, tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. Kata “air”, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi, atau air hujan. Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contohnya, kata “tahanan” di atas masih bersifat umum, tetapi di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.

f. Makna Idiomatikal dan Peribahasa

Idiom adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frasa, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contohnya, kata “ketakutan”, “kesedihan”, “keberanian”, dan “kebimbangan” memiliki makna hal yang disebut makna dasar. Kata “rumah kayu” bermakna, rumah yang terbuat dari kayu. Makna peribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: bagai, bak, laksana, dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa.

g. Makna Kias dan Lugas

Makna kias adalah kata, frasa dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya. Contohnya, “Putri malam” bermakna bulan dan “Raja siang” bermakna matahari. Makna lugas adalah kebalikan dari makna kias. Makna lugas adalah makna dari sebuah frasa dan kalimat yang tidak menimbulkan tafsir ganda. Contohnya adalah kata “makan” dalam kalimat “Adik sedang makan roti,” dan frasa “tangan kanan” dalam kalimat “Tangan kanannya patah dalam kecelakaan kemarin.”

 

 

 

Memahami Realitas Fiksi dalam Seira dan Tongkat Lumimuut

Saya bersyukur membaca karya Mamih aka Anastasye Natanel. Bersyukur karena saya mendapatkan sudut pandang baru dan penguatan pendekatan terhadap fiksi yang menjadi pemahaman baru bagi saya pribadi.

Pertama kali bertemu Mamih sebenarnya ketika acara Nulisbuku. Saat itu ada lomba menulis cerita dengan tema lingkungan. Kami sama-sama finalis, meski saya yang menang. Uhukuhuk… Sejak itu, saya belum membaca karya Mamih lagi. Baru novel inilah yang saya baca.

Fiksi bagi saya selalu berkaitan dengan world building. Jika ia realisme, dunia yang dibangun adalah dunia yang sesuai dengan kenyataan. Latar, karakter harus menyesuaikan dengan zaman. Jika outlier, ia bisa dijelaskan sebab akibatnya. Jila bukan realisme, fiksi membutuhkan aksioma. Sesuatu yang dijadikan sebab awal dari segala sesuatu yang disepakati kebenarannya.

Dalam kasus kedua, kreativitas penulis sangat menentukan kualitas dunia yang dibangun. Mamih adalah salah satu penulis yang menempuh jalan kedua. Pendekatan yang ia lakukan adalah pendekatan posmo, ketika segala sesuatu di alam semesta bercampur aduk. Kebenaran realitas dan kebenaran fiksi pun bercampur aduk. Kebenaran fiksi dalam kasus kedua yang sifatnya berupa kebenaran aksen menjadi bahan baku yang ngeblended di tangan Mamih.

Dalam Seira dan Tongkat Lumimuut, Mamih membawa bahan baku cerita setempat, realisme magis di wilayah kelahirannya. Mitologi Opo Sembilan Lumut, Lokon yang dipenggal, dan lain sebagainya tidak hanya menjadi eksotisme di dalam cerita, tetapi  menyatu dengan penokohan. Pengaruh modernisme juga kental dalam penceritaan. Mamih membawa gestur-gestur dan gimmick Goblin dan drama-drama Korea lain meski dalam beberapa adegan Mamih terlalu berlebihan. Salah satu yang mengganggu saya adalah kecerewetan 40 Opo di dalam Seira. Mamih belum memberikan aksioma yang cukup untuk menjawab kefasihan para Opo dengan modernisme sehingga ada frasa ataupun kata tertentu sebagai simbol modernisme yang mereka ucapkan seperti yorobun.

Dari segi alur, novel ini cukup rapat. Ia menggoda untuk diselesaikan dalam sekali duduk, meski saya sempat tertunda-tunda menghabiskannya (3 hari) karena kesibukan. Saya pikir Mamih memiliki pengaruh dari drama Signal. Cerita tidak perlu bertele-tele, langsung ke konflik, dan setiap karakter di dalam novel adalah bagian dari konflik. Meski sebenarnya, saya pribadi mengharapkan adanya eksplorasi karakter yang lebih baik pada beberapa karakter… seperti Si Kembar dan Giddy. Endingnya saya pikir, Mamih hendak menyisihkan ruang kosong kepada pembaca untuk berharap akan ada cerita selanjutnya tentang Giddy, karakter yang paling menarik di novel ini.

Dari segi plot, keterburu-buruan Mamih dalam satu sisi baik. Namun, di sisi lain, penyelesaian konfliknya menjadi terlalu sepele. Saya mengerti karena label novel ini adalah Young Adult sehingga ya memang harus seperti itu. Dari awal, kita sudah bisa menebak bahwa Troy akan dijadikan puntirannya.

Oleh karena itulah, saya berharap akan sayang sekali jika Mamih tidak memanfaatkan kemampuan menulisnya untuk menulis sesuatu yang lebih serius dan dewasa, lebih wah dan menggetarkan. Saya pikir Mamih mumpuni untuk melakukannya.

Puisi: Keheningan Kota

aku mencintai segala keheningan: tak ada
klakson kendaraan, tak ada suara
mesin menjerit-jerit mencari tuan, tak ada
manusia bertanya-tanya tentang tuhan

jalanan lengang, aku bisa berbaring di aspal
dan mencoba mengingat nama-nama yang kuhapal
segala kejadian dan waktu yang paradoksal
orang-orang mati dan hilang akal
disaat yang sama, kita bicara kebangkitan nasional

aku tak ingin bangkit, kucoba berlama-lama
memandang langit tinggi
mungkin saja ia terbuat dari metal
segala doa dan mantra yang dirapal
kemudian akan terpental
dan kembali ke dalam tangan yang kini terkepal

di kota ini, beginilah di kota ini biasanya
orang-orang akan berbagi udara dan amarah
orang-orang akan berebut untuk bersuara
nyawa atau juga kemanusiaan hanyalah angka
yang muncul di surat kabar pagi hari
ada 10 orang mati, 1 wanita diperkosa 14 pria
13 siswa raib, jutaan korban pada tragedi 65

aku menghendaki segala keheningan
cukup kau di sisiku
hanya kau di hidupku

Pembelajaran Infrastruktur dari Korea Selatan

 

Knowledge Sharing Program (KSP) adalah program kerja sama di bidang pengembangan kebijakan yang dilakukan Korea Selatan dengan membagi pengalaman dan pengetahuan untuk mendukung institusi dan pembangunan kapasitas negara partner melalui riset kolaboratif, konsultasi kebijakan, dan pendampingan teknis pada isu-isu tertentu. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Korea Selatan lewat program KSP sejak tahun 2011. Ada banyak tema penelitian yang telah dilakukan seperti produktivitas Usaha Kecil Menengah (UKM), pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) dan talent management dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM).

Topik dalam KSP 2017/2018 yaitu meningkatkan efisiensi dan efektivitas belanja infrastruktur dengan meningkatkan manajemen investasi publik dan meningkatkan kinerja pelaksanaan anggaran untuk mencapai kredibilitas anggaran, kualitas yang baik, efektif dan efisien dari belanja publik melalui peningkatan strategi monitoring dan evaluasi.

Infrastruktur merupakan salah satu prasyarat utama tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa infrastruktur adalah lokomotif penggerak perekonomian. Infrastuktur juga mempercepat pemerataan pembangunan melalui pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dan antar wilayah  sehingga mendorong investasi dan lapangan kerja baru, serta meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Asian Development Bank (ADB) (2014), ketersediaan infrastruktur dasar di banyak negara Asia Pasifik berada di bawah batas minimal. Studi yang dilakukan ADB mengestimasikan bahwa investasi sebanyak USD8 triliun dibutuhkan untuk membangun infrastruktur di Asia Pasifik di berbagai bidang.

Infrastruktur di Korea Selatan dan Indonesia

Pemerintah Korea Selatan telah menyadari pentingnya pembangunan infrastruktur dan mengembangkan sebuah pembangunan yang merata dan seimbang (balanced growth model). Korea Selatan menempati peringkat ke-26 Global Competitiveness Index 2017-2018 dari 137 negara dengan pengaruh pembangunan infrastruktur yang begitu besar.

Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-36, tetapi dengan masalah ketidakcukupan infrastruktur. Dalam hal infrastruktur tersebut, Korea Selatan menempati peringkat ke-8, sedangkan Indonesia menempati peringkat ke-52.

Peringkat Global Competitiveness Index Indonesia mengalami perbaikan 5 peringkat dibandingkan tahun lalu. Indonesia mengalami perbaikan kinerja di semua aspek competitiveness index tersebut, bahkan menjadi yang terdepan di antara emerging countries.

Kenaikan peringkat tersebut tidak terlepas dari komitmen Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur dengan meningkatkan anggaran infrastruktur secara signifikan. Pertumbuhan anggaran infrastruktur meningkat drastis, sekitar 60%, dari Rp256,1 triliun (USD19,1 miliar) pada 2015 menjadi Rp410,7 triliun (USD30,6 miliar) pada 2018 (Kemenkeu, 2018).

Pembangunan infrastruktur tersebut tentunya harus diiringi dengan efisiensi dan efektivitas. Pemerintah mesti secara jeli memperhitungkan bahwa segala biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan infrastruktur akan menghasilkan bukan hanya outcome bagi masyarakat, melainkan juga dampak bagi masyarakat. Upaya mencapai efisiensi dan efektivitas belanja itu dimulai pada tahap perencanaan dan pelaksanaan anggaran.

Selain itu, Pemerintah Indonesia tidak hanya meningkatkan belanja infrastruktur, tetapi juga berkomitmen pada peningkatan kualitas belanja anggaran yang ditunjukkan oleh hasil. Anggaran negara diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi inklusif, merangsang penciptaan lapangan kerja, dan meningkatkan keadilan sosial. Ekspektasi dapat dicapai melalui strategi pemantauan dan evaluasi pelaksanaan anggaran yang tepat. Maksud dari pemantauan dan evaluasi pelaksanaan anggaran adalah untuk mencapai kredibilitas anggaran dan untuk menjaga kualitas belanja publik yang baik.

Indonesia perlu belajar dari Korea Selatan yang memiliki pengalaman dalam mengelola pembelanjaan investasi publik dan mengalokasikan anggaran yang efektif dan efisien. Salah satu proyek terbesar Korea Selatan adalah pembangunan Jembatan Incheon. Jembatan sepanjang 18,38 km itu dibangun dengan biaya tak kurang dari 2,38 triliun Won.

Sebelum dibangun, Pemerintah Korea melakukan analisis biaya-manfaat untuk menghitung kelayakan investasi tersebut. Sebagai alternatif dari Jembatan Youngjong, pembangunan Jembatan Incheon akan memangkas waktu tempuh dari Seoul ke wilayah Selatan selama 40 menit. Terjadi pula penguraian kemacetan yang biasa terjadi di wilayah Youngjong Moui. Selain itu, akan terjadi pengurangan emisi karbondioksida sebanyak 25.000 ton atau ekivalen dengan keberadaan 8,33 juta pohon pinus. Diekspektasikan pula adanya peningkatan jumlah turis menjadi lebih dari 2,75 juta per tahun.

Dampak dari pembangunan Jembatan Incheon bila dikuantifikasi akan menghasilkan total produk sebanyak 6,15 triliun Won (~Rp79,21 triliun) dengan nilai tambah tak kurang dari 2,45 triliun Won (~Rp31,55 triliun) dalam jangka pendek. Penyerapan tenaga kerja pun akan mencapai 76.155 orang. Dalam jangka panjang, total nilai produk yang dihasilkan akan mencapai 20,52 triliun Won (~Rp262,48 triliun) dengan nilai tambah sekitar 7,34 triliun Won (~Rp94,53 triliun). Penyerapan tenaga kerjanya mencapai 253.850 orang.

Tidak hanya Jembatan Incheon, pengalaman investasi infrastruktur Korea sangat mengesankan baik dari segi kuantitatif dan kualitatif selama enam dekade terakhir. Setelah akhir perang saudara Korea pada tahun 1953, panjang jalan Korea adalah 26.128 km. Padahal proporsi jalan yang diaspal hanya 2,3% (601km), dan tidak ada jalan tol masuk Korea sebelum 1968. Namun pada 2011, panjang jalan adalah 105.930 km, di antaranya 85.120 km yang diaspal. Korea juga membuka Bandara Internasional Incheon, diberi peringkat bandara terbaik di seluruh dunia oleh Airport Council International selama tujuh tahun berturut-turut (2005-2012). Busan Port juga menempati peringkat kelima pelabuhan kontainer di dunia pada 2012 dan telah menjadi salah satu port hub di Asia. Negara-negara berkembang dapat belajar dari ekspansi yang luar biasa ini dalam infrastruktur di Korea.

Investasi infrastuktur di Korea paling banyak dibiayai oleh pemerintah baik secara langsung ataupun melalui BUMN. Sumber dana yang digunakan tidak hanya berasal dari APBN, tetapi juga dari dana yang didapatkan BUMN, dan pinjaman dari donor atau pasar modal yang  jumlahnya substansial disediakan oleh sektor privat. Hingga tahun 1997, APBN adalah sumber pendanaan tunggal untuk investasi infrastruktur pemerintah. Baru mulai tahun 1998, sebagai bagian dari proses korporatisasi BUMN dan mendorong partisipasi swasta melalui Public Private Partnership (PPP), pendanaan mengalir dari kedua sumber tersebut.

Begitu BUMN mulai membiayai investasi infrastruktur, terjadi peningkatan pembangunan secara substansial. Hampir semua investasi dalam bidang energi telah dibuat oleh BUMN. Dana untuk investasi tersebut berasal dari pendapatan penjualan, kreditur, dan obligasi-obligasi di pasar keuangan domestik dan asing.

Sumbangan dari sektor privat dalam pembiayaan infrastruktur pun meningkat. Pelan-pelan peran swasta yang semakin signifikan ini pun mengurangi beban pemerintah dalam penyediaan infrastuktur secara proporsional.

Rekomendasi

Investasi infrastruktur adalah pilihan yang tepat untuk pembangunan yang harus diikuti dengan rencana yang saling terintegrasi pada level nasional. Kualitas dari perencanaan itu tergantung pada perhitungan yang baik akan manfaat yang dihasilkan sambil tetap mempertimbangkan efisiensi, produktivitas dan tujuan sosial dan lingkungan, dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Untuk mendapatkan investasi yang efektif dan melindungi masyarakat dari pengenaan biaya tinggi terhadap infrastruktur, dibutuhkan analisis biaya-manfaat sosial.

Sulit menilai jumlah yang tepat seberapa besar belanja infrastruktur dapat dikatakan optimal, baik secara agregat maupun porsi antara pemerintah dan investasi BUMN. Satu rekomendasi dari ADB yaitu belanja infrastuktur idealnya sebanyak 5-6% dari GDP, meski ADB pun menyadari angka ini terlampau berat jika harus dipraktikkan karena ada banyak variabel fiskal yang harus dipertimbangkan.

Partisipasi sektor privat sangat dibutuhkan. Dengan keterlibatan sektor privat, akan ada kompetisi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi. Lebih jauh, bila didukung  oleh kebijakan dan regulasi dengan basis yang dapat diandalkan untuk partisipasi swasta, negara akan mendapatkan lebih banyak investasi infrastruktur.

Daftar Pustaka

ADB. (2014). A Comparative Infrastructure Development Assessment of the Republic Korea and The Kingdom of Thailand.

Incheon Bridge Co., Ltd. Bridging the World: Incheon Bridge.

Kementerian Keuangan. Materi Executive Gathering diakses di https://www.kemenkeu.go.id/media/6926/menkeu-paparan-executive-gathering.pdf tanggal 26 Juli 2018.

Ko, Kilkon. (2014). The Evolution of Infrastructure Investment of Korea. The Korean Journal of Policy Studies, Vol. 29, No. 1 (2014), pp. 123-145. GSPA, Seoul National University.

Ro, Jaebong. (2002). Infrastructure Development in Korea.

Schwab, Klaus (ed). (2018). The Global Competitiveness Report 2017-2018. Geneva: World Economic Forum.

Tulisan ini tadinya hendak dimuat dalam sebuah terbitan. Namun, pada hari ketika aku tak masuk kantor, ada beberapa hal yang diubah, dan namaku sebagai penulis dihapus. Jadi, ya kalau pada terbitan itu ada bagian dari tulisan ini yang diambil, artinya mereka melakukan plagiarisme terhadap tulisan saya.