Cerpen Haruki Murakami: Jendela

J E N D E L A
Haruki Murakami

SALAM,

Musim dingin berlalu setiap harinya, dan kini matahari bersinar dengan isyarat kedatangan musim semi. Saya percaya Anda baik-baik saja.

Surat Anda yang terakhir, saya baca dengan penuh gembira. Terutama bagian tentang hubungan antara hamburger dan bubuk pala, saya rasa, ditulis dengan sangat baik: begitu kaya dengan perasaan alamiah dari kehidupan sehari-hari. Betapa jelas Anda menggambarkan aroma hangat dari dapur, bunyi ketukan lincah pisau pada papan talenan ketika mengiris bawang!

Ketika saya melanjutkan membaca, surat Anda memenuhi diri saya dengan perasaan semacam keinginan tak tertahankan untuk pergi ke restoran terdekat dan membeli sebuah hamburger steak malam itu juga. Kenyataannya, terutama sekali di dekat lingkungan tempat tinggal saya, sebuah restoran menawarkan delapan varietas berbeda dari hamburger steak ketika saya memesan makanan itu: Texas-style, Hawaiian-style, Japanese-style, dan sejenisnya. Texas-style memiliki ukuran besar. Bulat. Tak diragukan lagi hamburger itu akan mengejutkan setiap orang Texas yang mungkin menemukan restoran ini ketika mereka berada di Tokyo. Hawaiian-style dihiasi dengan irisan nanas. California-style… saya lupa lagi. Japanese-style dilapisi dengan parutan lobak. Restoran itu ditata cukup rapi. Pelayannya cantik-cantik, memakai rok yang sangat pendek.

Bukan berarti saya pergi ke tempat itu untuk mengagumi dekorasi interior restoran atau kaki jenjang para pelayan. Saya ada di sana hanya untuk satu alasan, dan itu adalah makan hamburger steak—bukan Texas-style atau California-style atau jenis yang lainnya, tetapi yang biasa-biasa saja, sebuah hamburger steak yang sederhana.

Yang seperti itulah yang saya pesan kepada pelayan. “Maaf,” pelayan itu menjawab, “tapi hamburger steak jenis seperti ini dan jenis seperti itu yang kami punya di sini. Tidak ada hamburger steak, seperti yang Anda katakan, yang biasa-biasa saja.”

Saya tidak bisa menyalahkan si pelayan, tentu saja. Dia tidak mengatur menu. Dia tidak memilih untuk mengenakan seragam yang mempertontonkan sebagian besar pahanya setiap kali ia membersihkan piring dari atas meja. Saya tersenyum kepadanya dan memesan hamburger steak Hawaiian-style. Sebagaimana saran si pelayan, saya hanya harus menyisihkan irisan nanas ketika memakannya.

Dunia aneh macam apa ini! Saya hanya ingin sebuah hamburger steak yang benar-benar biasa, dan satu-satunya cara yang bisa saya lakukan ketika menginginkan hal itu pada saat ini adalah makan Hawaiian-style tanpa nanas.

Hamburger steak Anda, saya kira, adalah jenis yang biasa-biasa saja. Berkat surat Anda, apa yang paling saya inginkan di atas segalanya adalah sebuah hamburger steak yang biasa-biasa saja buatan Anda sendiri.

Sebaliknya, bagian awal surat Anda tentang mesin penjual tiket otomatis dari Perkeretaapian Nasional menurut saya agak dangkal. Sudut pandang Anda atas masalah itu bagus, sungguh, tetapi pembaca tidak bisa membayangkan penggambaran itu dengan jelas. Tak perlu bersusah-payah menjadi pengamat yang mendalam. Menulis, setelah segala hal, adalah suatu tindakan alternatif.

Jumlah keseluruhan nilai dari surat terbaru yang Anda kirimkan ini adalah 70. Gaya menulis Anda bertambah baik secara perlahan tetapi pasti. Jangan terburu-buru. Tetap pertahankan kerja keras Anda sepanjang Anda melakukan segala sesuatunya. Saya mengharapkan surat Anda yang berikutnya. Bukankah menyenangkan, menerima surat Anda ketika musim semi benar-benar telah tiba?

P.S. Terima kasih atas sekotak kue yang Anda kirimkan. Kue-kue itu sungguh enak. Aturan Perkumpulan, bagaimanapun, sangat ketat melarang kontak pribadi di luar pertukaran surat. Saya harus meminta kepada Anda untuk menahan kebaikan Anda di masa mendatang. Namun demikian, sekali lagi terima kasih.

*

AKU telah melakukan pekerjaan paruh-waktu ini hampir selama satu tahun. Usiaku dua puluh dua pada saat itu.

Aku menerima tiga puluh atau lebih surat seperti ini setiap bulan, dengan bayaran dua ribu yen, aku bekerja untuk sebuah perusahaan kecil aneh di distrik Iidabashi yang menamakan diri “Perkumpulan Pena.”

“Anda juga bisa menulis dengan menawan,” begitulah iklan perusahaan itu membual. “Anggota” baru membayar biaya pendaftaran dan iuran bulanan, dengan imbalan mereka bisa menulis surat empat kali dalam sebulan kepada Perkumpulan Pena. “Master Pena” kami akan menjawab surat mereka dengan surat yang kami tulis sendiri, seperti yang dikutip di atas, berisi koreksi, komentar, dan bimbingan untuk perbaikan di masa mendatang. Aku datang untuk wawancara kerja setelah melihat iklan yang dipasang di ruang bagian kemahasiswaan jurusan Sastra. Pada saat itu, beberapa kegiatan membuatku harus menunda kelulusanku selama satu tahun, dan orangtuaku mengatakan bahwa mereka akan mengurangi uang bulananku karenanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku dihadapkan pada situasi di mana aku harus mencari nafkah sendiri. Selain wawancara, aku diminta untuk menulis suatu karangan, dan seminggu kemudian aku dipekerjakan. Selama seminggu kemudian aku mengikuti pelatihan bagaimana melakukan koreksi, menawarkan bimbingan, dan beberapa keterampilan, tak ada yang benar-benar menyulitkan.

Semua anggota Perkumpulan dibimbing oleh para Master Pena dari lawan jenisnya. Aku memiliki total dua puluh empat anggota, berusia antara empat belas hingga lima puluh tiga tahun, mayoritas berusia dua puluh lima hingga tiga puluh lima tahun. Bisa dibilang, sebagian besar mereka lebih tua dariku. Bulan pertama, aku begitu panik: Para wanita itu ternyata menulis jauh lebih baik dariku, dan mereka memiliki lebih banyak pengalaman sebagai koresponden. Terlebih, aku hampir tidak pernah menulis surat yang serius selama hidupku. Aku tidak yakin akan berhasil melewati semua itu pada bulan pertama. Aku berkeringat dingin terus-menerus, yakin bahwa sebagian besar anggota yang menjadi tanggung jawabku akan menuntut si Master Pena awam ini—hak istimewa untuk hal ini sangat ditekankan di dalam aturan Perkumpulan.

Satu bulan pun berlalu, dan tak satu pun anggota melayangkan keluhan tentang tulisanku. Sebaliknya, jauh dari hal itu. Pemilik perusahaan mengatakan bahwa aku begitu populer. Dua bulan lagi berlalu, dan bahkan kelihatannya penghasilanku mulai membaik berkat “bimbingan” yang kulakukan. Ini agak aneh. Wanita-wanita itu memandangku sebagai guru mereka dengan kepercayaan penuh. Ketika menyadari keadaan ini, hal itu memungkinkanku untuk menulis kritik kepada mereka dengan usaha yang jauh lebih sedikit serta tidak terlalu merasa cemas karenanya.

Aku tidak menyadarinya saat itu, bahwa wanita-wanita itu kesepian (sebagaimana juga anggota laki-laki di Perkumpulan). Mereka ingin menulis surat tetapi tak ada seorang pun yang dapat mereka kirimi surat. Mereka bukan tipe yang mengirim surat penggemar kepada seorang penyiar. Mereka ingin sesuatu yang lebih pribadi—bahkan jika hal itu harus datang dalam bentuk koreksi dan kritikan.

Dan begitulah hal itu terjadi, aku menghabiskan sebagian usia awal dua puluhanku seperti ikan duyung cacat dalam sebuah harem yang panas dipenuhi surat-surat.

Yang luar biasa adalah surat-surat mereka yang bervariasi! Surat yang membosankan, surat yang menyenangkan, surat yang menyedihkan. Sayangnya, aku tidak boleh menyimpan salah satu dari surat-surat itu (peraturan mengharuskan kami mengembalikan semua surat kepada perusahaan), dan semua itu telah cukup lama terjadi hingga aku tidak ingat lagi secara rinci, tetapi aku mengingat mereka sebagai sesuatu yang memenuhi kehidupanku dengan segala macam aspeknya, mulai dari pertanyaan-pertanyaan besar hingga hal-hal kecil yang remeh-temeh. Dan pesan yang mereka kirimkan kepadaku kelihatannya sama—bagiku, seorang mahasiswa perguruan tinggi berusia dua puluh dua tahun—yang secara aneh terpisah dari kenyataan, tampak pada saat yang bersamaan sebagai sesuatu yang benar-benar tak berarti. Hal ini juga bukan semata-mata karena kurangnya pengalaman hidupku sendiri. Sekarang aku menyadari bahwa kenyataan dari hal-ihwal itu sendiri bukanlah sesuatu yang kau sampaikan kepada orang-orang, melainkan sesuatu yang kau perbuat bagi mereka. Inilah yang pada gilirannya menjadi bermakna. Aku tidak tahu hal itu akan berkembang menjadi apa selanjutnya, tentu saja, begitu pula dengan wanita-wanita itu. Pasti hal inilah salah satu alasan mengapa segala sesuatu di dalam surat mereka secara dua-dimensi terasa aneh bagiku.

Ketika tiba saatnya bagiku untuk meninggalkan pekerjaan itu, semua anggota yang kubimbing menyatakan penyesalan mereka. Meski begitu, terus terang, ketika aku mulai merasa bahwa sudah cukup bagiku melakukan pekerjaan tak berujung menulis surat-surat seperti itu, aku merasa menyesal juga, dengan caraku sendiri. Aku tahu aku tidak akan pernah lagi memiliki begitu banyak orang yang membuka diri mereka kepadaku dengan kejujuran yang sederhana seperti itu.

*

HAMBURGER steak itu. Aku benar-benar memiliki kesempatan untuk mencicipi hamburger steak buatan wanita yang kepadanyalah surat yang kukutip sebelumnya ditujukan.

Wanita itu berusia tiga puluh dua tahun, tidak memiliki anak, suaminya bekerja di sebuah perusahaan yang umumnya dianggap sebagai lima-perusahaan-terbesar di negeri ini. Ketika kukatakan kepadanya di dalam surat terakhirku bahwa aku akan meninggalkan pekerjaanku pada akhir bulan, ia mengundangku makan siang. “Saya akan menyediakan hamburger steak yang benar-benar biasa saja untuk Anda,” tulisnya. Meskipun terikat aturan Perkumpulan yang menjengkelkan, aku memutuskan untuk menerima undangannya itu. Rasa penasaran seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun tak bisa dikesampingkan begitu saja.

Apartemen wanita itu menghadap ke arah jalur rel kereta api Odakyu Line. Ruangannya memiliki keteraturan yang sangat sesuai untuk pasangan suami-istri tanpa anak. Baik furnitur maupun perlengkapan pencahayaan ruangan, juga sweater yang dikenakan wanita itu, adalah jenis khusus yang harganya pasti mahal, tetapi semuanya cukup menarik. Kami memulainya dengan saling bertukar rasa terkejut—di matanya penampilanku tampak jauh lebih muda, di mataku ia tampak sebagaimana usianya yang sebenarnya. Ia membayangkan bahwa aku lebih tua dari dirinya. Perkumpulan tidak pernah memberitahukan usia para Master Pena kepada para anggota.

Setelah mengejutkan satu sama lain, rasa canggung yang biasanya terjadi pada pertemuan pertama telah hilang. Kami makan hamburger steak dan minum kopi, merasa seperti sepasang penumpang yang ketinggalan kereta dengan tujuan yang sama. Dan, berbicara tentang kereta api, dari jendela apartemen lantai tiga itu siapa pun bisa melihat jalur kereta listrik di bawahnya. Cuaca sangat indah hari itu, dan pada pagar balkon gedung itu menggantung bermacam-macam karpet dan kasur yang tengah dijemur di bawah sinar matahari. Sesekali terdengar suara alat pemukul bambu menepuk-nepuk kasur. Aku dapat mendengar kembali suara-suara itu bahkan pada saat ini. Sungguh suatu perasaan berjarak yang terasa aneh.

Hamburger steaknya sangat sempurna—rasanya sungguh lezat, bagian luarnya dipanggang hingga berwarna coklat gelap dan renyah, bagian dalamnya begitu lembut, sausnya sangat pas. Meski sejujurnya tidak bisa dikatakan bahwa aku belum pernah makan sesuatu yang lezat seperti hamburger itu selama hidupku, sudah pasti hamburger steak buatannya adalah yang terbaik yang pernah kucicipi setelah sekian lama. Kukatakan itu kepadanya, dan ia senang mendengarnya.

Setelah minum kopi, kami saling menceritakan kisah hidup kami sementara kaset Burt Bacharach diputar. Karena aku belum benar-benar memiliki sesuatu yang bisa dibilang sebagai kisah hidupku, wanita itulah yang lebih banyak bercerita. Waktu kuliah ia ingin menjadi seorang penulis, katanya. Ia bicara soal Françoise Sagan, salah satu penulis favoritnya. Terutama sekali ia sangat menyukai “Aimez-vous Brahms?” Aku sendiri tidak menyukai Sagan. Setidaknya, aku tidak menemukan sesuatu yang layak di dalam tulisannya seperti yang dikatakan kebanyakan orang. Tak ada hukum yang mengharuskan semua orang untuk menulis novel seperti Henry Miller atau Jean Genet.

“Saya tidak bisa menulis, biar bagaimanapun,” katanya.

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai hal itu,” kataku.

“Tidak, saya tahu saya tidak bisa menulis. Andalah orang yang memberi tahu saya tentang itu.” Wanita itu tersenyum. “Menulis surat kepada Anda, akhirnya saya menyadari hal itu. Saya benar-benar tidak punya bakat.”

Wajahku bersemu merah. Itu nyaris tak pernah terjadi kepadaku hingga saat ini, tetapi ketika usiaku masih dua puluh dua tahun aku tersipu sepanjang waktu. “Meski begitu, tulisan Anda memiliki sesuatu yang menggambarkan bakat itu secara jujur, sungguh.”

Alih-alih menjawab, wanita itu hanya tersenyum—sebuah senyum simpul.

“Setidaknya satu surat Anda membuat saya memutuskan pergi keluar untuk membeli hamburger steak.”

“Anda pastinya sedang sangat lapar saat itu.”

Dan memang, aku sedang sangat lapar saat itu.

Kereta lewat di bawah jendela dengan bunyi bising yang kering.

*

KETIKA jam menunjukkan hampir pukul lima sore, kukatakan bahwa aku harus pergi. “Anda tentu harus segera menyiapkan makan malam untuk suami Anda.”

“Dia selalu pulang larut,” katanya, pipinya ditopangkan pada tangannya. “Tidak akan pulang sebelum tengah malam.”

“Suami Anda pasti orang yang sangat sibuk.”

“Saya kira memang begitu,” katanya, diam sejenak. “Saya pikir pernah suatu kali saya menulis kepada Anda tentang masalah saya. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa saya bicarakan dengannya. Perasaan saya mengatakan bahwa ia takkan mengerti. Sering kali, saya merasa bahwa kami sedang berbicara dengan dua bahasa yang berbeda.”

Aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya. Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa terus hidup dengan seseorang yang lain yang kepadanya ia tidak mungkin bisa menumpahkan perasaannya.

“Tapi tidak apa-apa,” katanya lembut, dan ia mengatakannya hingga hal itu terdengar seolah benar-benar tidak apa-apa. “Terima kasih sudah menulis surat kepada saya selama berbulan-bulan. Saya sangat menikmati hal itu. Sungguh. Jika bisa kembali menulis surat kepada Anda tentu itu akan menjadi anugerah bagi saya.”

“Saya juga menikmati surat-surat Anda,” kataku, meski sebenarnya aku hampir tidak bisa mengingat apa pun yang pernah ia tulis.

Untuk beberapa saat, tanpa berbicara, ia melirik jam di dinding. Kelihatannya wanita itu seperti sedang menguji aliran waktu.

“Apa yang akan Anda lakukan setelah lulus kuliah?” tanyanya.

Aku belum memikirkannya, kataku kepadanya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ketika aku mengatakan hal ini, ia kembali tersenyum. “Mungkin seharusnya Anda melakukan suatu jenis pekerjaan yang berkaitan dengan menulis,” katanya. “Kritik yang Anda tulis betul-betul indah. Saya menjadikannya sebagai pegangan untuk memperbaiki tulisan saya di masa mendatang. Saya benar-benar melakukannya. Saya tidak bermaksud memuji. Sejauh yang saya tahu, Anda menulis surat itu hanya untuk memenuhi tugas Anda, tetapi surat itu bagi saya memiliki suatu perasaan yang amat nyata. Saya sudah melaksanakan semua yang Anda sarankan. Saya mengeluarkan surat-surat Anda setiap kali dan membaca ulang semuanya.”

“Terima kasih,” ujarku. “Dan terima kasih untuk hamburgernya.”

*

SEPULUH tahun telah berlalu, tetapi setiap kali aku melewati lingkungan tempat tinggal wanita itu di sekitar Odakyu, aku memikirkannya dan hamburger steak panggangnya yang renyah itu. Aku menatap bangunan-bangunan yang berjajar sepanjang jalur rel kereta dan bertanya kepada diri sendiri yang manakah jendela tempat tinggalnya. Aku berpikir tentang pemandangan dari jendela itu dan mencoba untuk mencari tahu di mana letaknya. Tetapi aku tidak pernah bisa mengingatnya.

Barangkali wanita itu tidak tinggal di sana lagi. Tetapi, kalau pun hal itu benar terjadi, mungkin ia masih mendengarkan kaset Burt Bacharach yang sama di tepi jendela rumahnya yang lain.

Apakah seharusnya aku tidur dengannya saat itu?

Itulah pertanyaan inti pada bagian ini.

Jawabannya berada di luar diriku. Bahkan sekarang pun, aku tidak tahu. Ada banyak hal yang tidak kita mengerti, tak peduli berapa pun usia kita, tak peduli berapa banyak pengalaman hidup yang telah kita tumpuk. Yang bisa kulakukan hanya menatap dari dalam kereta jendela-jendela pada bangunan-bangunan yang barangkali satu di antaranya adalah jendela miliknya. Satu dari setiap jendela itu bisa saja adalah jendelanya, kadang seperti itu kelihatannya bagiku, dan di lain waktu aku berpikir bahwa tidak satu pun dari jendela-jendela itu adalah jendelanya. Ada begitu banyak jendela.

(Penerjemah Luthfi Mardiansyah)

Pemahaman Utuh Para Penyelenggara Pemerintahan

Konsumen menang lagi. Kasus mengenai mainan tidak ber-SNI yang dilarang masuk ke Indonesia oleh petugas Bea Cukai akhirnya menemukan titik terang. Perdebatan mengenai tidak jelasnya definisi importir akhirnya menemukan kesepakatan bahwa bila jumlah barang tidak melebihi 5 buah, maka si pembawa bukanlah importir dan tidak bisa ditolak.

Ini adalah kali kedua dalam waktu belakangan konsumen menang dalam hal barang dari luar negeri. Sebelumnya, Eka Kurniawan, penulis Indonesia paling menginternasional saat ini, menggugat kebijakan oknum bea cukai yang mengenakan tarif untuk bukti terbit bukunya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa di berbagai negara. Lucunya, harga untuk buku yang gratis itu (karena bukti terbit) dikenakan jauh lebih mahal dari harga jualnya.

Sengaja saya katakan menang dengan huruf miring, karena bila sang oknum petugas memahami peraturan secara menyeluruh, kasus-kasus itu tak akan terjadi. Permintaan sang petugas untuk melabeli mainan dengan sertifikat SNI dengan mudah bisa dibantah karena tidak ada SNI untuk perorangan. Adanya SNI untuk badan usaha.

Tegas, Tapi Tetap Terbuka

Saya pernah berada di garis depan pelayanan. Sebagai front officer Pencairan Dana APBN. Artinya, segala permintaan membayar kantor-kantor pemerintah, harus melalui persetujuan saya terlebih dahulu. Ngeri? Iya. Pegangannya adalah peraturan. Sebab, bila tidak sesuai peraturan, lalu terjadi kerugian negara, itulah yang dinamakan korupsi.

Sebuah peraturan tidak mungkin berdiri sendiri. Ia saling terkait dengan peraturan lain. Berhadapan dengan customer, kita harus sangat memahami peraturan itu. Tak jarang kita akan dihadapkan pada kondisi perdebatan mengenai peraturan. Tinggal cari mana yang lebih sahih.

Keterkaitan itu misalnya, ada pada cara mengisi NPWP di lembar SSP. Tidak ada aturan yang mendetail mengenai itu bila hanya merujuk ke peraturan pencairan dana. Jika rekanan berbentuk CV, bolehkah SSP ditulis menggunakan NPWP Pribadi?

Logika kita harus bermain. Apakah definisi CV? CV adalah persekutuan komanditer, Persekutuan berarti tidak 1 orang. Sehingga tidak logis apabila CV menggunakan NPWP Pribadi. Dia harus NPWP badan. Berbeda dengan UD (Usaha Dagang) yang bisa dimiliki perorangan. Maka, ia boleh pakai NPWP Orang Pribadi.

Ketegasan dan keterbukaan itu juga berarti membutuhkan dukungan dari komunitas. Maksudnya, jangan pernah ragu untuk berkonsultasi ke sesama rekan kerja. Jika perdebatan terjadi sengit, kita perlu mencari perspektif yang lebih mendalam terhadap suatu peraturan. Yak, ada akses ke pembuat peraturan. Ada HAI DJPb misalnya. Di sana kita bisa bertanya untuk lebih yakin.

Kasus Pajak Lain

Baru-baru ini, saya ditelepon keluarga di kampung. Keluarga adalah petani sawit dan karet. Banyak petani memebentuk kelompok tani. Kelompok tani itu bergabung dengan kelompok tani lain membentuk badan usaha berupa CV dengan manajemen tersendiri.

CV ini akan membeli hasil sawit dan karet (buah dan getah) dari kelompok taninya sendiri, juga dari kelompok tani lain dari daerah-daerah yang jauh. Setelah itu, CV akan menjualnya ke pabrik. Status CV di sini adalah pedagang perantara. Dalam SIUP diterakan perdagangan nasional.

Masalahnya, seorang AR (Account Representative) Pajak datang memberitahukan bahwa CV ini memiliki kewajiban pajak yang belum dibayar. Nilainya besar. Dasarnya adalah PMK 34 pasal 1 ayat 1.i. Intinya begini, si AR memiliki justifikasi bahwa CV harus memungut pajak dari barang yang dibelinya.

CV selama ini telah membayar pajak dari barang yang ia jual ke pabrik. Tentu selama ini, CV tidak pernah memperhitungkan pajak ke dalam pembeliannya. Marjin yang ditetapkan biasanya tidak lebih dari 10% belum memperhitungkan susut getah dan risiko lain. Kalau pajak 2,5% dibayarkan, tentu, untung CV ini tergerus semua. Parahnya lagi, aturan perpajakan sesuai dengan putusan MK ini berlaku surut 5 tahun. AR tesebut memaksa CV membayar kewajiban pajak tahun 2016 (beroperasi normal 2016).

Dari sini saja sebenarnya tecermin sebuah prinsip ketidakadilan bagi CV tersebut. Bayangkan jika keuntungannya dalam tahun berjalan habis buat bayar pajak.

Setelah dibaca lebih jauh, ternyata ketidakadilan itu tidak ada di peraturan. Ini hanyalah kesalahan persepsi oknum, apapun motifnya (kedangkalan berpikir, keinginan mengejar target, atau iseng doang). Pasal 1 ayat i dalam PMK tersebut menulis subjek pajaknya adalah industri atau eksportir. Sedangkan, jelas menurut SIUP, CV ini adalah perdagangan dalam negeri.

Sudah jelas bahwa CV ini adalah pedagang, bukan industri apalagi eksportir. Bila ingin berdebat lebih jauh, kita perlu definisikan apa itu industri atau eksportir. Industri adalah bidang yang menggunakan ketrampilan, dan ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-hasil bumi, dan distribusinya sebagai dasarnya. … Industri barang merupakan usaha mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Industri juga nisaberarti ada perubahan dari produk A menjadi produk B. Ada nilai tambah di sana. Misal, beli buah sawit, diolah menjadi minyak sawit. Ini industri. Sedangkan eksportir jelas, ada barang dikirim ke luar negeri. Dalam hal ini, pabrik yang menjadi tujuan CV untuk menjual barang memenuhi definisi tersebut. Makanya, si pabrik memungut pajak langsung dari CV. Sedangkan ini pedagang, bukan industri jadi maupun setengah jadi.

Saya kemudian bertanya ke teman saya sesama D4 yang pernah jadi AR dan sekarang di kantor pusat. Jawabannya sama dengan saya. Menurutnya, memang ada surat ke semua pedagang pengumpul (pedagang perantara) yang sifatnya imbauan untuk konfirmasi data. Mereka yang tidak termasuk industri atau eksportir dapat mengonfirmasikan hal itu dengan menunjukkan SIUP. Saya pun berbincang dengan seorang pengajar brevet, dan beliau berkata hal yang sama, CV tersebut bukan merupakan subjek pajak PMK 34 pasal 1 ayat 1.i.

Anehnya, si AR tetap keukeuh. Memaksa bayar. Saya katakan kepada saudara di kampung, segala pembicaraaan ke AR atau petugas pajak mulai hari ini harus direkam. Nama, foto, dll simpan juga. Biar kalau masih ngotot juga, tinggal kita viralkan!

 

Lomba Menulis Cerpen Shira Media: Perayaan Masa Depan

TEMA : PERAYAAN MASA DEPAN

Syarat dan Ketentuan

1. Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu cerpen.
2. Merupakan hasil tulisan atau karya sendiri, bukan plagiat, atau saduran.
3. Belum pernah dipublikasikan atau sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
4. Sesuai dengan tema yang ditentukan.
5. Teknik atau gaya penulisan bebas.
5. Panjang naskah cerpen antara 4-7 halaman.
6. Margin normal, font TNR 12 pts dengan spasi 1,5.
7. Biodata ditulis pada halaman terpisah berbentuk narasi (termasuk alamat
dan nomor telepon yang bisa dihubungi).
8. Pengiriman naskah dimulai dari tanggal 13 Januari hingga paling lambat tanggal
13 Februari 2018, pukul 23.59 WIB.
9. Dikirim dalam bentuk attachment 1 file ke: shiramedia1decade@gmail.com
dengan subjek “lomba cerpen satu dekade shira media”
*Naskah menjadi hak milik Shira Media
*Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat

Timeline

  • Pengiriman naskah dimulai dari tanggal 13 Januari hingga paling lambat tanggal 13 Februari 2018, pukul 23.59 WIB.

Hadiah

Hadiah Lomba:
Juara 1:
5 Juta + Piagam dan Buku Antologi
Cerpen Satu Dekade Shira Media
Juara 2:
3 Juta + Piagam dan Buku Antologi
Cerpen Satu Dekade Shira Media
Juara 3:
2 Juta + Piagam dan Buku Antologi
Cerpen Satu Dekade Shira Media
12 Nominator:
Piagam dan Buku Antologi
Cerpen Satu Dekade Shira Media

Info Lebih Lanjut dan Kontak penyelenggara di :

0878-4333-3019
0856-4373-1177

email: shiramedia1decade@gmail.com
IG:@shiramedia

Sayembara Nasional Cerita Mitologi

Mitologi Indonesia adalah istilah untuk menyebutkan mitologi di Indonesia. Mitologi Indonesia biasanya dipenuhi oleh nilai-nilai dan petuah kehidupan. Sebagai mitologi, sangatlah umum kalau diceritakan dari mulut ke mulut. Mengenai proses penyampaiannya, sudah pasti akan ada beberapa versi dari satu mitologi.  Umumnya mitologi Indonesia memuat kisah keadaan awal dunia, kisah dewa-dewi dan makhluk supranatural, dan kisah asal mula sesuatu.

Indonesia sebagai pusat perdangangan pada masa lalu. Pedagang Buddha dan Hindu ikut menyebarkan agamanya. Pada perdagangan dan

penyebaran agama inilah, Indonesia mengadaptasi budaya luar. Bukti pengaruh tersebut dapat disimak hingga masa kini, baik dari istilah maupun cerita. Beberapa istilah di Indonesia, seperti “batara”, “dewa”, “bidadari”, dan “raksasa”, merupakan kata-kata dari bahasa Sanskerta yang dipengaruhi oleh mitologi Hindu dan Buddha. Pengaruh mitologi Hindu dan Buddha dapat diamati dari kesamaan beberapa mitos lokal di Indonesia. Beberapa suku di Indonesia memiliki kisah tentang tokoh mitologis dengan nama yang sama, namun dengan versi yang berbeda. Misalnya Batara Guru dalam mitologi Batak, Bali, dan Jawa; Dewi Sri dalam mitologi Sunda dan Bali.

Mitos yang berasal dari luar negeri pada umumnya telah mengalami perubahan dan pengolahan lebih lanjut, sehingga tidak terasa asing lagi. Hal ini disebabkan oleh proses adaptasi karena perubahan zaman. Menurut Moens Zoeb, orang Jawa bukan saja telah mengambil mitos-mitos dari India, melainkan juga telah mengadopsi dewa-dewi Hindu sebagai dewa-dewi Jawa. Bahkan orang Jawa pun percaya bahwa mitos-mitos tersebut terjadi di Jawa. Di Jawa Timur misalnya, Gunung Semeru dianggap oleh orang Hindu Jawa dan Bali sebagai Gunung Suci Mahameru atau sedikitnya sebagai Puncak Mahameru yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa.

Adapun yang dilombakan adalah:

(1)  Bagaimana kita menciptakan mitologi-mitologi baru. Misalnya kita telah mengenal Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Akan tetapi kita hampir tidak mengenal dewi jagung, dewi ketela pohon, atau dewi gandum, dewa para penambang, dan lain-lain.

(2)  Bagaimana kita menulis versi-versi baru dari mitologi yang pernah ada. Misalnya di Jawa dunia diciptakan oleh Sang Hyang Wenang lalu diberikan kepada Semar, Togog, dan Bathara Guru. Jangan-jangan ada versi lain?  Kreativitas menciptakan versi baru akan sangat dihargai dalam lomba ini.

(3)  Kisah asal mula sesuatu juga belum dieksplorasi. Kita  sering mengenal asal mula dunia. Akan tetapi kita jarang mengenal asal mula keong, asal mula bebek, atau asal mula batu raksasa disuatu tempat. Menuliskan mitologi baru semacam ini jelas merupakan tantangan yang akan sangat dihargai.

(4) Penulisan kisah makhluk supranatural juga masih sedikit. Jangan-jangan Anda bisa mendeskripsikan makhluk supranatural baru untuk memperkaya mitologi Indonesia.

KETENTUAN UMUM

  1. Tiap peserta boleh mengirimkan paling banyak tiga naskah.
  2. Naskah belum pernah dipublikasikan baik sebagian maupun seluruhnya.
  3. Naskah tidak sedang diikutkan dalam lomba serupa.
  4. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  5. Tema bebas.
  6. Naskah merupakan karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan baik sebagian atau seluruhnya, dibuktikan dengan surat pernyataan diatas materai Rp.6000,00.

KETENTUAN KHUSUS

  1. Peserta merupakan warga negara Indonesi
    • Kategori pelajar: peserta berstatus siswa SMA/SMK/MA atau sederajat.
    • Kategori umum: peserta non pelajar
  2. Panjang karya 9.000-15.000 karakter, halaman A4, spasi 1,5, huruf  Times New Roman ukuran 12.
  3. Berkas yang berisi:
    • Salinan tanda pengenal (KTP/Kartu OSIS)
    • Surat pernyataan naskah asli/tidak plagiasi bermaterai (format unduh disini)
    • Biodata penulis (format bebas)
    • Empat salinan naskah (hard copy)
  4. Naskah diterima panitia paling lambat 31 Maret 2018 (cap pos atau diantar langsung).

dikirim ke:

Panitia Sayembara Nasional “Penulisan Cerpen Mitologi” IKIP Veteran Semarang 2017
Gedung C lantai 1 Jl. Pawiyatan Luhur IV No.17 Bendan Dhuwur -Gajah Mungkur  Semarang, Kode pos 50233  
(024) 8316118, 085800008145, 082242081375

DEWAN JURI

  1. Triyanto Triwikromo, pemeroleh penghargaan dari Majalah Temposebagai Tokoh Seni 2015 untuk bidang puisi. Ia juga mendapat Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa dan Kesetiaan Berkarya 2017 dari Kompas. Pada 2017 pria yang bekerja sebagai wartawan di Harian Umum Suara Merdeka dan mengajar Penulisan Kreatif di Fakultas Ilmu Budaya Undip ini memperoleh beasiswa unggulan dari Kemdikbud untuk residensi sastra ke Jerman selama tiga bulan.
  2. Putu Fajar Arcana, redaktur sastra Kompas di Jakarta. Ia juga menjadi editor untuk beberapa buku terbitan Penerbit Buku Kompas. Atas dedikasinya yang besar dalam dunia sastra, ia tercatat pernah beberapa kali meraih penghargaan diantaranya: mendapatkan penghargaan Widya Pataka untuk bukunya Manusia Gilimanuk dari Pemerintah Daerah Bali (2012). Naskah monolognya berjudul Pidato termaktub dalam 12 naskah terbaik dalam lomba Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi 2004.
  3. Arief Santoso, pernah kuliah di Fakultas Sastra UGM. Ia redaktur sastra dan redaktur pelaksana Jawa Pos. Sebagai jurnalis, ia telah keliling dunia dan menulis reportase-reportase penting dan menjadi juri aneka budaya.

HADIAH & PENGHARGAAN

Kategori UMUM

  • Juara I : Rp 5.000.000,00 + Trofi + Sertifikat
  • Juara II : Rp 3.000.000,00 + Trofi + Sertifikat
  • Juara III : Rp 2.500.000,00 + Trofi + Sertifikat
  • 10 naskah terpilih @Rp 1.000.000,00

Kategori Pelajar

  • Juara I : Rp 3.500.000,00 + Trofi + Sertifikat
  • Juara II : Rp 2.500.000,00 + Trofi + Sertifikat
  • Juara III : 500.000,00 + Trofi + Sertifikat
  • 10 naskah terpilih @Rp 500.000,00

Naskah pemenang dari semua kategori akan diterbitkan dalam buku  “Karya Terbaik Sayembara Nasional Penulisan Cerpen Mitologi” .

Surat Anton Chekov kepada Kakaknya, Nikolai Chekov

Suatu kali, pengarang besar Rusia Anton Chekov (1860-1904) menulis sepucuk surat untuk kakaknya, Nikolai Chekov, seorang pelukis sekaligus pemabuk ulung. Konon ia beberapa kali minum sampai tertidur di jalanan. Surat ini ditulis Anton sebagai nasihat penuh kasih untuk Nikolai.

Moscow, 1886.

.. Kau acapkali mengeluh, orang tak memahamimu. Goethe atau Newton tak pernah meratapi hal serupa. Hanya Yesus yang bilang begitu, itu pun Dia bicara tentang ajaran-Nya, bukan diri-Nya sendiri. Orang mengerti dirimu dengan baik. Dan jika kau tak memahami dirimu sendiri, itu bukan salah mereka.

Kuyakinkan, sebagai adik dan sahabat, aku sepenuh hati memahami dan menerimamu. Aku kenal kau seperti aku hafal kelima jari tanganku sendiri. Kalau kau mau, sebagai bukti, aku bisa beberkan sifat-sifat luhurmu. Menurutku kau baik, murah hati, tak egois, selalu siap membantu orang lain meski dengan sekeping uang terakhirmu; tak pernah iri atau benci, sederhana, belas kasih pada semua makhluk; bisa dipercaya, tanpa ragu, dan tak mendendam… Kau punya berkah yang tak dimiliki orang lain: bakat. Ini menempatkanmu di atas jutaan manusia, karena di muka bumi ini hanya satu dari dua juta orang adalah seniman. Bakat membuatmu istimewa: andai kau katak atau tarantula pun, orang akan tetap menghargaimu. Asal ada bakat, segalanya termaafkan.

Kau hanya punya satu kekurangan, dan segala keresahan dan ketidakbahagiaanmu bersumber dari situ. Kau kurang berbudaya. Maafkan aku, tapi veritas magis amictiate… kau tahu, hidup punya aturannya sendiri. Agar bisa nyaman berada di antara orang terdidik, dan bahagia bersama mereka, seseorang harus berbudaya sampai pada taraf tertentu. Bakat telah membawamu ke lingkaran itu, .. tapi kau terpisah dari sana, terombang-ambing antara dua dunia yang berlawanan.

Orang berbudaya harus, dalam pendapatku, memiliki karakter berikut:

1. Menghormati kepribadian manusia, dan karena itu selalu bersikap baik, lembut, sopan, dan mengalah pada orang lain. Mereka tidak memusingkan hal-hal kecil; kalau mereka tinggal dengan orang lain, mereka tidak menganggap itu sebagai pertolongan dan, kalau harus pergi, mereka tidak berkata “tak ada yang sanggup tinggal denganmu”. Mereka memaklumi kebisingan dan cuaca dingin dan daging yang dimasak terlalu kering dan gurauan dan kehadiran orang asing di rumah mereka.

2. Mereka punya belas kasih, bukan hanya kepada pengemis dan kucing. Hati mereka tersentuh oleh sesuatu yang tak terlihat oleh mata. Mereka begadang semalaman untuk menolong P… untuk membayari kuliah saudara-saudaranya, dan membelikan baju untuk ibu mereka.


3. Mereka menghargai milik orang lain, dan karena itu selalu melunasi utang.


4. Mereka tulus, dan menjauhi kebohongan. Mereka bahkan tidak bohong untuk hal-hal kecil. Kebohongan adalah penghinaan untuk yang mendengar, dan menempatkannya di posisi yang lebih rendah dari si pembohong. Mereka tidak berlagak, mereka bersikap di luar rumah sama seperti ketika di dalam rumah, dan mereka tidak pamer di depan orang-orang yang kekurangan. Mereka tidak suka mengoceh dan mempertontonkan kesombongan di depan orang lain. Untuk menghormati hak orang lain, mereka lebih suka diam daripada bicara.


5. Mereka tidak cari simpati. Mereka tidak bilang “Tak ada yang memahamiku,” atau “Aku dinomorduakan,” karena segala penyataan itu cara murahan untuk mendapatkan perhatian, dan itu adalah vulgar, basi, dan salah…


6. Mereka tak memiliki kesombongan yang dangkal. Mereka tak peduli pada hal-hal yang tampak berkilauan tapi palsu, seperti kenal banyak pesohor, bersalaman dengan si P [catatan penerjemah sebelumnya: kemungkinan inisial P merujuk pada penyair Palmin] yang mabuk, mendengarkan pujian para pengagum yang terpesona, duduk di kedai dan menjadi terkenal… Kalau mereka melakukan sesuatu, mereka tidak membesar-besarkannya, dan tidak menyombongkan diri bisa masuk ke tempat-tempat yang tertutup untuk orang lain… Orang yang benar-benar berbakat tidak menonjolkan diri di tengah keramaian, sejauh mungkin dari reklame. Bahkan Krylov berkata, gaung tong kosong lebih nyaring dari yang berisi.


7. Jika mereka memiliki bakat, mereka menghormatinya. Mereka mengorbankan istirahat, perempuan, anggur, kesombongan… Mereka bangga pada bakat mereka. Lagipula, mereka orangnya pilih-pilih.


8. Mereka mengembangkan perasaan estetik dalam diri mereka sendiri. Mereka tak bisa pergi tidur dengan berpakaian lengkap, melihat retakan di tembok dipenuhi serangga, menghirup udara kotor, berjalan di lantai bekas diludahi, memasak di kompor minyak. Sebisa mungkin mereka menahan diri dan memuliakan insting seksual… Apa yang mereka inginkan dalam diri perempuan bukan sekadar teman tidur.. Mereka tidak menginginkan kecerdasan yang muncul dari kebohongan terus menerus. Mereka tidak minum vodka sepanjang hari. Mereka minum ketika mereka bebas, atau untuk merayakan sesuatu… Karena mereka ingin mens sana in corpore sano [jiwa kuat dalam tubuh sehat].


Dan seterusnya. Seperti itulah orang yang berbudaya. Untuk menjadi berbudaya dan tidak berada satu tingkat di bawah lingkunganmu, tak cukup hanya membaca “The Pickwick Papers” dan belajar monolog dari “Faust.”…

Yang dibutuhkan adalah usaha terus menerus, siang malam, terus membaca, belajar, berkeinginan.. Setiap jam berharga… Datanglah pada kami, hancurkan botol vodka itu, berbaringlah dan membaca.. Turgenev, kalau kausuka, yang memang belum pernah kaubaca.

Kau harus berhenti bersikap sombong, kau bukan anak kecil… sebentar lagi umurmu tiga puluh.

Sudah waktunya!

Aku mengharapkan kedatanganmu. Kami semua begitu.


Versi terjemahan bahasa Inggris dari surat ini bisa kaubaca di situs terbaik di dunia ini.

Begitu membaca surat ini, aku langsung ingin menerjemahkannya, sebagian karena apa yang ditulis Anton Chekov (selanjutnya akan kusebut Anton saja, untuk membedakannya dari Nikolai) bicara banyak untuk jiwa-jiwa muda yang tersesat (cie). Surat ini ditulis Anton dalam usia 26 tahun, dan Nikolai 28 tahun. Umurku juga 28 tahun sekarang dan aku seperti bisa merasakan apa yang bergejolak dalam diri Nikolai saat itu.

Menjelang 30 tahun adalah usia yang rawan. Kau sedang bersiap-siap jadi orang dewasa sungguhan. Kau harus menentukan posisimu di dunia ini, apa yang mau kaulakukan sampai kau mati, bagaimana cara memaknai hidupmu, nilai-nilai apa yang akan kaupegang dan kauturunkan ke anak-anakmu, dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau kau merasa memiliki bakat seni, kau harus lebih berhati-hati. Orang akan memandangmu istimewa karena kau berbakat, kau akan dipuji (dan dicaci) sedemikian rupa, padahal pujian (dan cacian) itu tidak mendefinisikan siapa dirimu. Dua hal saja yang perlu kaulakukan: hidup dengan baik, dan terus berupaya mengeksplorasi bakatmu.

Hanya itu.

Kurasa itu yang dimaksud Anton ketika menasihati Nikolai soal ‘hidup berbudaya’. Turunan dari nasihat itu bisa banyak: berhenti mabuk-mabukan, selesaikan sekolah, melukis setiap hari, banyak membaca, dan seterusnya. Tak kalah penting: menghargai orang lain. Dengan cara itu, kau akan berhenti menganggap hanya dirimu yang punya masalah di dunia ini. Anton seperti ingin bilang pada Nikolai: “Get your shit together, Bro. Hargailah bakatmu, dan jangan cengeng.”

Tiga tahun setelah Anton menulis surat ini, Nikolai meninggal dunia karena tuberkolosis.

 

Sumber:

http://www.andinadwifatma.com/2015/05/surat-anton-chekov-kepada-nikolai-chekov.html

Cerpen| Dua Kelopak Krisan

 

Yang mungkin kuingat hanyalah derai hujan malam minggu itu, yang terdengar  seperti detik jam dinding yang jatuh satu persatu dari langit, berusaha menyerang kita –seperti kesepian.

Aku tak sanggup membaui pohon-pohon bintaro (yang konon beracun) yang berbaris rapi, menghormat dengan tegap dan gagah, tapi bau dan embusan napasmu yang terasa karib, tangan yang kokoh yang memayungi aku, membiarkan tubuhmu sendiri dihujani air-air sulfat itu-entahlah, seperti cinta saja yang nyata-nyata telah mematahkan hatiku (bukan karenamu, tapi dia).

Sengaja aku menerima tawaranmu untuk singgah di Jurangmangu. Hanya alasan ketika kukatakan aku takut pulang sendirian ke Serpong, kereta sudah tak lewat, bus-bus biasanya sepi penumpang dan memungkinkan perempuan sepertiku ‘dijahili’ meski tanpa rok mini. Kau dengan cekatan segera mengatakan “Tidur saja di tempat temanku. Perempuan. Nanti aku minta izin ke mereka..”

Aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku yang ingin rebah di dadamu bukan karena cinta atau kekasih, tapi kau seperti pelabuhan dan dia seolah menara. Kau tak marah melihat aku acap kali gelisah menekan tombol keypad ponselku dan suara laki-laki (aku yakin kau mendengarnya disebabkan kemampuan auditori itu) menyambutku dengan ketus, “Jangan telepon aku sekarang. Mas sedang memanjat tower!” Hanya karena sebuah menara (dan dia memang menara), aku seperti wisatawan yang baru pertama datang ke Paris menyaksikan Eiffel menjulang angkuh di antara kerumunan orang-orang. Bingung. Tak bias berbahasa Prancis, memakai ransel ala backpacker, memegang peta dan menengok ke segala penjuru seolah ingin memastikan, Hei Menara, apa kau melihatku di sini?

Pelan-pelan, dan sengaja memang kupelankan, aku ingin kau saja yang menyatakan cinta kepadaku kali ini. Kau, penyair, pencinta hujan, momen mana lagi yang paling romantis selain saat ini, selain kecupan yang kau daratkan dengan tiba-tiba (meski aku akan menyadarinya), lalu memintaku jadi pacarnya. Aku akan emnjawab “Ya” tanpa koma, melingkarkan kedua tanganku di pinggangmu dan tak peduli bilapun seluruh daun, seluruh hujan, seluruh udara mala mini cemburu. Pelabuhanku. Pelarianku. Sebuah kapal yang tertambat di sana, aku tak peduli jikapun kau hanya sekoci, kemudian membawaku pergi ke samudra lain, ke pulau lain, ke pemandangan yang menawarkan camar-camar lain, lumba-lumba lain yang tak akan sanggup menumbangkan laju biduk cinta milik kita.

Tapi kau selalu diam, seperti tak ada kata yang sanggup mengungkapkan perasaan yang ah, sudahlah, perempuan mana yang tak bias mengetahui laki-laki yang jatuh cinta dan mencintainya? Aku sudah sejak dulu tahu, kau menaruh hati kepadaku. Kau yang lebih sering mendengarkan telepon-teleponku berjam-jam lamanya, menjemputku di BSD menemani setiap acara sastra yangmelibatkanku sebagai pembaca puisi. Aku tak pernah menyaksikanmu membaca puisi, tapi aku tahu kau menyukai pembacaanku.

Jurangmangu. Pukul 11 malam. Tapi tak ada pelukan.

Kau malah menunjuk ke Santiago Berdebu (lapangan sepak bola di depan Mesjid yang tak pernah ditumbuhi rumput, dan bila dimainkan debu-debu akan beterbangan seiring langkah-langkah yang ditapakkan), kemudian bercerita nyaris setiap malam ada berpasang kekasih yang memadu cinta di sekitarnya. Bahkan, katamu lagi, pernah ada yang gelap-gelapan bercumbu atau malah bercinta di sana. “Tapi jelas tak mungkin dalam ekadaan hujan begini,” kau menambahkan sambil menatap mataku dalam. Ayolah, cium aku saat ini. Cium aku agar aku dapat melupakan lelaki itu, lelaki yang jelas-jelas telah memiliki perempuan lain namun mengatakan cinta padaku. Bodohnya aku seperti mangsa yang terjerat di jarring laba-laba menunggu dia melahapku. Pasrah

Hanya kau barangkali, yang kukenal karib, seperti tanpa pamrih mendekatiku dengan hati-hati, enggan menyentuhku, bahkan menggenggam tanganku erat pun tak pernah.

“Aku menyukai perempuan yang tak memiliki bekas bibir orang lain di bibirnya.”

“Kau menyukai Hamsad Rangkuti? Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?”

“Ya. Dan tidak.”

“Maksudmu?”

“Aku menyukai Bibir dalam Pispot sebagai sebuah fiksi. Tapi, aku tak menyukai perempuan yang pernah berciuman dengan laki-laki lain.”

“Lalu menurutmu apa aku sudah pernah memiliki bekas bibir lelaki di bibirku?” aku bertanya memancing.

Kau diam sebentar sebelum balik bertanya,”Lalu bagaimana rasanya?”

“Aku masih 18 tahun.”

“Aku juga 19 tahun.”

“Aku tidak bertanya umurmu. Aku hanya bermaksud mengatakan perempuan mana yang sudah berciuman di usianya yang ke-18?”

“Tapi rata-rata kita ingin mendapatkan ciuman pertamanya di usia ke-17”

“Kamu sendiri?”

“Menurutmu?”

Apa rata-rata mahasiswa STAN sepintar dirimu, terutama dalam memutarbalikkan perasaan?

Aku bukan perempuan bodoh. Tapi, setiap berbicara denganmu aku merasa bodoh. Aku bukan perempuan manja. Tapi, setiap berhadapan denganmu aku selalu ingin menyandarkan diri ke dadamu yang bidang. Dan merasakan seberapa cepat detak jantungmu berderap di telingaku. Aku ingin memilikimu, tapi aku tak mencintaimu. Aku ingin kau selalu ada di sampingku, hanya milikku.

“Krisandi…”

Hanya kau yang memanggilku dengan nama depan. “Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?”

“Krisanthemum.”

“Krisanthemum?”

“Dalam bahasa Yunani, krisanthemum berarti bunga emas. Yang tertua dari mereka adalah krisanthemum Cina, agak mirip dengan Daisy. Bunga ini telah dikultivasikan 2500 tahun sebelum diperkenalkan ke Eropa dan sekarang telah banyak ditanam di mana-mana, bahkan krisan juga diangkat menjadi bunga nasional Negara Jepang. Sebagai bunga potong, ia bias bertahan sampai lebih dari 2 minggu. Dan seperti kelahiranmu, bunga krisan dijadikan sebagai bunga November, seperti batu topaz. Menurut ilmu feng shui, krisan dapat membawa kebahagiaan dan tawa di dalam keluarga. Ia juga bias berarti keceriaan, pesona, optimis, kelimpahan , keberuntungan, persahabatan dan cinta rahasia.”

“Wow, apa ada yang tidak kau tahu?”

“Ada.”

“Apa?”

“Adakah yang lebih pedih dari Sysyphus?”

“Sysyphus?”

“Sysyphus barangkali adalah manusia yang paling menanggung kepedihan di dalam hidupnya.”

Teruskan.

“Jika atas nama dosa dan pengorbanan, ia harus mendorong sebongkah batu ke atas bukit, menggelinding dan mendorong lagi sepanjang hayatnya, apakah mencintai juga harus sebegitu menderitanya?”

Aku tak paham.

“Aku begitu mudah jatuh cinta. Tapi aku tak pernah mencintai.”

Memang tak pernah mudah mencernamu. Atas nama Hegel yang sering kau dengung-dengungkan, aku hanya butuh tatapan milikmu itu hanya ditujukan kepadaku. Sudahlah, tak usah banyak berfikir tentang masa lalumu, yang sering kau singgung begitu penuh luka. Hidupku juga penuh luka.

Aku mulai mengerti ayahku tak pernah menyentuh ibuku lagi sejak aku tahu apa itu suami-istri. Dan ketika teman-temanku mulai mengejekku karena ibuku adalah istri kedua dari ketiga istri ayahku, aku memutuskan untuk tidak pernah lagi berairmata. Bahkan bias dihitung dengan jari berapa kali aku berbicara dengan ayah. Sementara ibuku, mengulum senyumnya (yang aku tahu palsu) setiap aku menyebut kata “ayah”.

Kau juga tidak tahu, kalau kehidupanku tidak seberuntung dirimu yang mampu lulus STAN dan SPMB sekaligus. Aku tak lulus keduanya. Padahal, sekali lagi, aku bukan perempuan bodoh. Dalam 3 tahun pendidikan SMA, setidaknya tak pernah sekali pun aku keluar dari 10 besar, dibandingkan dirimu yang pernah menduduki ranking 24 ketika kelas 1 SMA. Aku hanya sial. Tidak beruntung. Ketika teman-temanku yang sama nasibnya mulai menjajaki pendidikan swasta di universitas, aku memutuskan pergi sendiri ke Jakarta (dari Yogyakarta), berbekal alamat kakak sepupu. Dan bekerja.

Yang pasti, aku tak ingin bernasib sama dengan ibuku. Aku tak mau diduakan. Begitu tega Tuhan yuang berkuasa membolak-balikkan hati manusia, membuatku mencintai dia. Jika manusia berkuasa mengubah nasibnya sendiri, izinkan aku dicintai olehmu. Biar nanti, aku tahu aku akan bahagia bila hidup denganmu.

“Sebentar lagi akan sampai…”

                  Secepat itu?

“Rumahnya ada di belakang mesjid ini.”

Ponselku bergetar lagi. Dia. Dewi,Mas kedinginan. Sebuah pesan singkat yang benar-benar singkat. Bahkan tak ada pertanyaan darinya sedang apa aku sekarang, bersama siapa, dan apakah aku juga kedinginan? Tak ada. Kenapa aku emncintai laki-laki seegois dia. Kenapa harus dia yang datang mengisi kekosongan itu?

Aku menatapmu. Aku membayangkannya. Kalian berdua sama-sama menyukai Hegel, membicarakan Descartes, membandingkan Goenawan Muhammad dan Saut Situmorang, atau membanggakan Umbu Landu Paranggi yang bahkan belum pernah kalian temui. Kau pelabuhan dan dia menara. Kau bertindak begitu hati-hati, terlampau hati-hati. Dia berani mengatakan apa-apa yang dia rasakan, melakukan apa-apa yang dia yakini.

“Jo?”

Tentu kau mengenalnya. Kau bahkan pernah bilang cinta kami platonic. Tapi, kau juga tidak mengakui bahwa cintamu kepadaku platonic. Love does not consist in gazing at each other but in looking outward in the same direction. Kau diam, lalu seperti mengguman. Aku tak mau dikutuk sumpahi Eros.

“Kau tahu hal apa yang paling membahagiakan sekaligus paling menyakitkan di dunia ini, Krisandi?”

Aku menggeleng.

“Mencintai.”

“Mencintai?”

‘Ya mencintai, sementara kau tahu orang yang kau cintai telah emncintai orang lain.” Hujan berhenti. Langkahmu juga terhenti

“Kita sampai…”

Aku ingin menjawab, tapi kau buru-buru memalingkan muka. Memencet bel. Dan dua orang temanmu yang berjilbab lebar keluar, membukakan pintu dan pagar. Kalian berbincang sebentar. Kau bilang menitipkanku semalam. Lalu berpamitan.

Aku seharusnya tahu ketika malam itu kau berpaling, kemudian berlari-lari kecil menghindari genangan air di sepanjang jalan, tanpa memlukku, mengelus kepalaku, atau bahkan menyalami telapak tanganku, kau telah tak lagi bersikap sama. Pelan-pelan menghindar dan membiarkan cinta yang tak sempat kau ucapkan itu menguap, gugur seperti kelopak-kelopak krisan yang layu di hatiku.

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Story dan juga menjadi salah satu cerita di dalam Kumpulan Cerita Simbiosa Alina (Gramedia, 2013).