Puisi T.E. Hulme: Trenches: St. Eloi diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Di atas lereng gunung Eloi

Karung-karung pasir bertumpuk bak sebuah dinding besar.

Malam,

Di dalam kesunyian, pria-pria yang tak kenal lelah

Memadamkan unggun kecil, membuang sisa kaleng bir:

Ke sana ke mari, dari garis itu.

Para pria berjalan seolah-olah berada di Piccadilly1,

Menggambar takdir di dalam kegelapan,

Melalui kuda-kuda mati yang bergelimpangan

Di atas perut Belgia yang binasa

 

Orang Jerman punya roket. Orang Inggris tak punya roket.

Meriam bersembunyi, berbaring beberapa mil di belakang garis

Di hadapannya, kekacauan:

 

Pikiranku adalah sebuah koridor. Pikiran-pikiran tentangku juga koridor.

Tak ada saran apa pun. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan, kecuali maju!

 

1Piccadilly adalah nama jalan di pusat kota London.

 

Trenches: St. Eloi

Over the flat slopes of St Eloi
A wide wall of sand bags.
Night,
In the silence desultory men
Pottering over small fires, cleaning their mess- tins:
To and fro, from the lines,
Men walk as on Piccadilly,
Making paths in the dark,
Through scattered dead horses,
Over a dead Belgian’s belly.

The Germans have rockets. The English have no rockets.
Behind the line, cannon, hidden, lying back miles.
Beyond the line, chaos:

My mind is a corridor. The minds about me are corridors.
Nothing suggests itself. There is nothing to do but keep on.

Kebijakan Tol yang Melanggar UU Mata Uang

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Mata sudah berjuang melawan kantuk. Setelah berulang kali gagal memesan taksi online karena alasan ada banyak razia (nanti akan ditulis dalam topik tersendiri), aku pun memutuskan naik taksi biasa menuju rumah.

Sengaja tak naik Damri ke Depok karena batre hape sudah sekarat. Dari Depok ke rumah, aku harus menempuh jarak 14 km lagi. Tidak bisa pesan taksi online. Tidak berani menunggu taksi biasa malam-malam di Margonda.

Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Sang sopir bertanya, “Apakah Bapak punya kartu tol?” Saya jawab tidak punya. Saya baru tahu kalau semua gerbang tol mengharuskan pemakaian uang elektronik yang sudah terintegrasi dengan sistem. E-tol, Mandiri, Brizi, semacam itu.

Batin saya terusik. Gelisah. Struktur berpikir saya yang terbiasa dengan metodologi ilmiah tergelitik. Pemaksaan penggunaan uang elektronik dengan menihilkan peran uang tunai adalah suatu bentuk pelanggaran kedaultan rakyat, pelanggaran terhadap undang-undang.

Nyatanya, UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang masih berlaku. Uang kertas tetaplah mata uang yang boleh dipakai di republik ini. E-toll dan kawan-kawan boleh dioperasikan, tetapi pihak tol harus tetap menyediakan gerbang tunai, menerima uang tunai.

Kemudian, jalan tol bukanlah barang privat.   Ia barang semi publik. Ada juga yang menyebutnya barang publik congestible yang berhubungan dengan sifat konsumsi barang publik yang nonrival jika penggunaannya wajar tetapi menjadi tidak lancar dalam penggunaan yang berlebihan. Artinya, punya swasta yang boleh arogan saja masih menerima uang tunai,  apalagi kalau barang semi publik yang sifat kerjasamanya PPP (Public Private Partnership).

Motif Uang Elektronik Sesungguhnya

Seorang teman pernah menulis tentang cashless society dengan contoh Swedia yang penggunaan uang tunainya hanya 2%. Argumennya bisa diterima. Ada banyak kemudahan dalam penggunaan uang elektronik sebenarnya.

Dalam konteks tol, benarkah penggunaan e-toll murni untuk mengurangi kemacetan? Saya pikir tidak.

Taksi yang saya tumpangi tiba-tiba melambat. Ada kemacetan menuju gerbang tol kedua. Jaraknya masih lebih dari 500 m di depan. Sudah operasikan e-toll saja. Tapi masih macet. Kenapa?

Menurut sopir, gerbang tol tersebut perlu dikaji keberadaannya. Pertama, jarak dari gerbang tol pertama terlalu dekat. Kedua, jarak dari pertemuan dengan dua jalur pun terlalu dekat. Seharusnya, tidak perlu ada gerbang tol itu.

Ilustrasi ini untuk menggambarkan bahwa ketidaktepatan dalam perencanaan tata jalan adalah salah satu penyebab kemacetan. Masih ingat dengan tragedi Brexit kan?

Yang kedua adalah mobil. Namanya macet ya karena terlalu banyak mobil. Maka, mobil yang harus dikurangi. Tapi siapa yang berani melawan arus geng otomotif di republik ini? Pertumbuhan mobil yang terlalu banyak, yang ngutang sebagian besarnya, malah diamini sebagai bentuk pertumbuhan ekonomi.

Satu-satunya motif yang masuk akal bagiku adalah profit. Gencarnya penggunaan uang elektronik ini dengan manajemen kas yang baik, akan mendatangkan profit. Treasury agent akan mudah memperkirakan idle cash harian untuk investasi jangka pendek.

Tak heran sekarang para pemain besar datang ke Indonesia untuk mengembangkan bisnis uang elektronik ini. Gojek bahkan menjadi terbesar keempat dan membuat seorang taipan menanamkan uangnya besar-besaran.

Ironi Uang Tunai, Ironi Inovasi

Keberadaan uang tunai pun adalah sebuah ironi. Uang tunai yang kita pegang sekarang sebenarnya punya sejarah panjang yang ironis. Tak ada lagi penjaminnya selain hanya kepercayaan terhadap pemerintah.

Waktu berlalu, teknologi berkembang. Kita punya kartu ATM, bisa ambil uang tunai di mana-mana, bisa jadi kartu debit untuk transaksi. Tapi lalu ada uang elektronik?

Apa coba kelebihan dari uang elektronik ini selain kita ga perlu jadi nasabah bank tersebut? Nggak ada. Yang dilakukan seharusnya adalah perluasan fungsi kartu debit, baik dari penggunaannya, kemudahannya, maupun keamanannya. Kartu ATM bisa dipakai buat e-toll dll dengan jaminan keamanan mumpuni. Dengan begitu, kita nggak perlu repot-repot punya banyak kartu.

Ironis kan? Setelah kalah gengsi dengan kartu kredit (kartu utang) yang banyak diberi fasilitas diskon dan kemudahan untuk memilikinya, kini kartu ATM juga kalah gengsi dengan kartu-kartu uang elektronik, yang kalau hilang…. gimana coba cara klaimnya, kalau nggak lebih ribet dari mau bikin SIM ke Polisi?

Puisi Seorang Jenderal

Seorang jenderal besar lupa

kata-kata lebih berbahaya

daripada lima ribu senjata

 

Kata-kata tak punya mata, mereka

bebas membunuh siapa saja

yang sengaja atau tidak sengaja membaca.

Membaca tak lagi jendela dunia

tetapi bisa pula pintu gerbang kematian.

Kata-kata tak punya telinga, tak peduli

pada suara lain di luar sana

yang gaduh dan lebih gaduh

dari demonstrasi kenaikan upah buruh.

 

Wajah Muram Kepulauan Riau

Bila bisa menangis, mungkin Kepulauan Riau tengah menangis saat ini. Pembangunan yang seyogyanya terus berlangsung malah menerima kabar duka. Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau menjadi yang terburuk di Sumatra dan nomor dua terburuk secara nasional. Nilai 1,52% tentu jauh di bawah 5,01% nilai nasional.

Apa artinya angka pertumbuhan ekonomi 1,52% (c-to-c) bagi masyarakat?

Secara sederhana, pertumbuhan ekonomi bisa dipandang sebagai kemampuan faktor-faktor produksi milik warga (domestik maupun asing) di wilayah tersebut untuk memproduksi barang dan jasa. Misalnya, Kepri lekat dengan budaya minum kopi. Kita bisa melihat situasi warung kopi di Kepri untuk meraba pertumbuhan ekonomi. Apakah jumlah warung kopi meningkat ataukah banyak warung kopi yang tutup? Apakah jumlah penjualan gelas kopinya meningkat ataukah justru menurun?

Kepulauan Riau terdiri tujuh Kota/Kabupaten. Ada Batam, Tanjung Pinang, Bintan, Anambas, Lingga, Natuna dan Karimun.

Tiap wilayah tentunya memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dari sektor yang memiliki kontribusi terhadap perekonomian. Batam adalah kota industri, sedangkan Anambas dan Natuna adalah wilayah migas. Tanjung Pinang dijadikan kota administratif, pusat pemerintahan, sedangkan Lingga bisa jadi kuat di sektor makanan pokok.

Kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kepri secara sektoral ada di sektor industri. Porsinya mencapai 36,62% terhadap PDRB Kepri. Sektor terbesar kedua adalah sektor konstruksi dengan porsi 17,70%. Sektor terbesar ketiga adalah sektor pertambangan dengan porsi 14,36%.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Kepri terjadi karena adanya penurunan pada sektor tersebut. Penurunan terjadi terutama pada sektor pertambangan dan sektor industri. Sektor pertambangan turun -4,32%, sedangkan sektor industri turun -0,44%.

Dari sisi pendekatan pengeluaran, tiga komponen terbesar pembentuk PDRB Kepri adalah Investasi (PMTB), Konsumsi RT, dan disusul oleh Net Ekspor yang masing-masing berporsi 42,47%, 40,01%, dan 14,78%. Porsi ini berbeda dengan porsi nasional yang didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan kebergantungan Kepri pada investasi sehingga kebijakan pemerintah diarahkan sebaiknya pro investasi.

Data-data di atas menunjukkan hal lain, yakni dominasi Batam pada pertumbuhan Kepulauan Riau. Kalau Batam lesu, Kepri akan ikut lesu. Implikasinya adalah pemerintah daerah harus menjaga agar Batam tidak lesu, atau melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Batam. Caranya bisa dengan menumbuhkan potensi perekonomian yang lain atau mendistribusikan sektor industri ke daerah lain dengan cara pembangunan infrastruktur yang terintegrasi.

Bicara investasi (PMTB) bukan berarti hanya kontribusi swasta di dalamnya, melainkan juga peran belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah. Tahun 2017, 54,91% alokasi infrastruktur berada di Batam. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah cenderung menjaga agar Batam tidak lesu ketimbang melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Batam.

Pemilihan infrastruktur yang tepat sebenarnya bisa menjadi solusi penggerak pertumbuhan ekonomi. Misalnya, pembangunan jembatan antara Batam ke pulau Bintan harus segera direalisasikan, dengan catatan memang ada kajian yang bisa dipertanggungjawabkan. Metode yang sering digunakan untuk menghitung manfaat dari pembangunan infrastruktur adalah capital budgeting dengan cost benefit analysis.

Yang bisa dilakukan Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagai representasi Kementerian Keuangan di daerah adalah mendorong satuan kerja untuk segera merealisasikan belanja modalnya, terutama jika ada infrastruktur strategis seperti jalan dan jembatan. Kelambatan dalam melakukan realisasi belanja modal ini tidak akan memberikan sumbangsih pada perekonomian tahun berjalan.

Masalah Batam juga perlu dicari solusinya. Jangan-jangan trigger-nya bukan dari sisi spending/ belanja. Isu-isu lain yang tengah semarak di Batam perlu ditanggapi serius. Misalnya, ada faktor lambatnya transformasi KEK Batam, kenaikan upah buruh di Batam, serta keterbatasan persediaan lahan industri di Batam.

Distribusi perekonomian juga akan berpengaruh pada distribusi penduduk. Orang tidak tumpah ruah di Batam. Pembangunan yang merata di berbagai Kabupaten/Kota akan menarik orang ke wilayah-wilayah tersebut. Kemudian, dengan sendirinya mereka akan membangun wilayah itu dengan konsumsi dan produksi yang mereka lakukan.

Ironisnya, hal itu belum terjadi saat ini. Bahkan, Tanjung Pinang sebagai ibukota provinsi malah terkategori ke dalam kuadran IV melalui analisis Tipologi Klassen, atau daerah tertinggal, bersama Kabupaten Bintan. Padahal, Tanjung Pinang adalah kota administratif, p usat pemerintahan, yang seharusnya penerima gaji melakukan belanja di Tanjung Pinang. Namun sepertinya itu tidak terjadi karena warga masih memilih berbelanja di Batam. Begitu pun Kabupaten Bintan dengan potensi pariwisatanya seperti Lagoi dan Trikora, bisa didorong untuk megembangkan pariwisatanya.

Jangan sampai hanya ada satu gula besar di suatu provinsi. Semut-semut berkerumun tanpa tahu ada gula lain yang tersebar dan masih tersembunyi di wilayah itu.

 

Menghadiahi Diri Sendiri

Seberapa dekat kita dengan diri kita sendiri? Sejauh mana kita mengenal binatang macam apa kita? Pertanyaan itu sangat penting untuk menemukan konsep diri kita yang utuh.

Setiap ada yang berulang tahun, kita kerap memikirkan kado yang cocok untuk diberikan. Termasuk bila kita yang berulang tahun atau berprestasi, kita menanti-nanti pemberian hadiah dari orang lain yang dekat dengan kita. Saya sudah lama berhenti mengharapkan hal semacam itu—kecuali dari kekasih tercinta. Saya lebih sering menghadiahi diri sendiri jika ada hal spesial yang telah saya jalani.

Sebenarnya saya seseorang yang sensitif. Saya terbiasa membaca raut wajah orang ketika memandang saya. Saya memiliki persepsi yang mendalam terhadap cara orang lain memandang saya. Saya tahu jika ada orang yang menghargai saya. Saya tahu jika ada orang yang tidak suka saya. Bahkan, kata-kata yang ditujukan untuk bercanda, saya cerna baik-baik. Bercanda adalah hal paling serius yang dilakukan manusia.

Dalam dua minggu ini, saya mendapat tugas mengajar ilmiah populer. Minggu lalu saya pergi ke Kepulauan Riau. Minggu ini saya pergi ke Aceh. Ada beberapa rekan saya yang memandang saya dengan pandangan berbeda. Mereka pikir saya diistimewakan oleh atasan saya.

Yang terjadi sebenarnya, penugasan saya awalnya tidak ada hubungannya dengan atasan saya. Saya dihubungi oleh bagian pengembangan. Beliau bertanya apakah saya mau mengajar. Saya jawab saya bersedia selama diizinkan oleh atasan. Tentu, saya katakan seperti itu karena saya menghormati posisi saya di bagian saya berada.

Kebetulan, atasan saya itu juga sering menulis. Seorang doktor. Maka, ia diminta mengajar pula. Jadilah dua orang dari satu bagian yang mengajar. Bukan atasan saya yang mengajak saya. Malah atasan saya itu mengurangi jatah mengajar saya dari 6 kali menjadi 3 kali dan melimpahkannya ke orang lain, agar saya bisa mengerjakan tugas kantor.

Apakah saya marah dan kecewa jatah mengajar saya dikurangi? Tidak. Sama sekali tidak. Karena mengajar itu bukan hal yang mudah. Tanggung jawabnya pun berat.

Bayangkan saja, dari pukul delapan pagi sampai pukul lima sore, saya berdiri di depan kelas, membagi ilmu, dan berhati-hati agar penyampaian saya dapat diterima. Saya berkeliling ke tiap peserta mengecek tulisan mereka. Setiap malam, saya membaca tulisan mereka lagi, membaca KFR agar saya makin mengerti substansi objek/bahan tulisan. Apakah itu adalah tindakan senang-senang?

Selama hari mengajar saya akan menjaga kondisi tubuh saya. Saya tidak makan aneh-aneh. Saya juga tidak berjalan-jalan. Saya hanya ke kantor, balik ke hotel, dan pergi cari makan kalau malam. Sudah, begitu saja.

Orang kemudian hanya melihat sisi selanjutnya ketika saya memposting foto saya yang tengah bersenang-senang. Saya memang suka traveling dan saya lakukan itu pada hari Sabtu setelah semua proses mengajar selesai. Saya baru bisa berbahagia ketika tanggung jawab saya selesai.

Itulah cara saya memberi hadiah kepada diri saya sendiri. Dengan begitu, saya akan merasa segalanya menarik dan menyenangkan. Saya pun jadi mencintai hidup yang saya jalani.