Seberapa Pancasila Kami?

Jangan kau tanya lagi, seberapa Pancasila kami
Ketika kami menjadi yang terakhir bertahan
saat Timor Timur hendak melepaskan diri
Dan kami pula yang pertama memulai
Saat Aceh terkena bencana tsunami

Kami berdiri menjadi perwakilan negara
yang hadir untuk menyuntik tenaga pembangunan
Memulihkan bagian tubuh bangsa yang terluka

Persatuan Indonesia sudah mendarah di tubuh kami
Orang Aceh ditempatkan di Jakarta
Orang Batak ditempatkan di Biak
Orang Palembang terbuang di Sumbawa
Orang Jawa ada di mana-mana
Orang Sulawesi hingga Papua pun mengenal Sumatra
Kami selalu siap mengabdi di mana saja
Bahkan kadang harus rela meninggalkan keluarga
Akibat pilihan hidup yang sudah fitrah

Jarang yang tahu, seberapa cinta kami pada Indonesia
berinteraksi dengan segenap suku dan budaya yang beraneka
Berusaha selalu muwujudkan keadilan sosial
dalam penyaluran belanja pemerintah
Tak peduli di mana saja, kami akan memamerkan senyuman
seakan jawaban kenapa Tuhan ciptakan kebahagiaan
Pelayanan prima, kecepatan dan ketepatan
adalah janji bagi setiap insan Perbendaharaan

Jangan kau tanya lagi, seberapa Pancasila kami
meski kami bukanlah sayap-sayap Garuda
yang bisa membuatmu mengepak tinggi
Tapi kami adalah cakar sang burung negeri
Yang mencengkeram erat kesatuan bumi pertiwi

Puisi Insan Perbendaharaan di atas ditulis pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni lalu dilatarbelakangi oleh pertanyaan seberapa Pancasilakah saya.

Sebagai pegawai Kementerian Keuangan, sudah menjadi pilihan dan jalan hidup, penempatan bisa di mana saja di seluruh Indonesia. Penempatan pertama saya di Sumbawa, jauh dari kampung halaman saya di Palembang. Selama bertugas, saya pun beberapa kali mengunjungi kota-kota di Indonesia seperti Makassar, Bali, Lombok, Kupang, hingga ke Alor. Keberagaman dapat kita lihat dan pertanyaan-pertanyaan tentang pemerataan pembangunan kerap kita temukan ketika hidup di tengah atau timur Indonesia.

Pancasila, dalam sila kelima, menyebutkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila ini paling bermakna dalam bagi saya pribadi karena saya kerap melihat paradoks dalam potret pembangunan kita. Paling sederhana, pergilah ke Ciwalk. Dari Ciwalk kita bisa melihat pemukiman kumuh di sebelahnya. Itukah keadilan sosial?

Bahkan hal ini pernah dijadikan materi oleh komika asal Bandung, Kamaludin, yang mengatakan betapa sulitnya mencari air bersih di kawasan itu, sehingga ia kadang-kadang pergi ke mal… untuk mandi!

Persoalan air ini pun ditemukan di daerah semakin ke timur Indonesia. Air bersih adalah soal langka. Apalagi hal-hal lain. Jadi, patutkah kita mengaku Pancasilais ketika pemerataan pembangunan dan upaya mengatasi disparitas sosial belum terlaksana?

Baru-baru ini (1 Juni), pemerintah membentuk Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila, atau UKP-PIP. Di zaman Orde Baru, kita mengenal BP7. Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, yang hobinya bikin penataran-penataran.

Saya tidak begitu paham seperti apa beda dalam praktiknya. Acara Pancasila Sumber Inspirasi Maju oleh UKP PIP yang dilaksanakan di JHCC Jakarta pada Selasa tanggal 22 Agustus 2017. Karena itulah saya mencoba memahami UKP-PIP dengan mengikuti media sosial mereka di:

FB Page https://www.facebook.com/GenPancasila/

Twitter https://twitter.com/ukp_pancasila

Instagram https://www.instagram.com/ukp_pancasila

Saya membayangkan ke depannya UKP-PIP sekalian saja diiringi dengan wajib militer seperti di Korea Selatan. Mendidik setiap elemen bangsa untuk jadi Pancasilais di era digital tentu harus meniru resep rumah makan tradisional melalui metode kuno seperti wajib militer beneran. Toh, undang-undang memperbolehkannya. Setiap rakyat adalah tentara cadangan. Kalau isinya hanyalah pelajaran, sejujurnya, saya tidak begitu percaya pada sistem yang ada saat ini.

Menggali nilai-nilai Pancasila, Pancasila Sumber Inspirasi Maju, tentu harus juga dengan merumuskan kembali teks pelajaran di sekolah kita, terutama yang berkaitan dengan sejarah bangsa. Bangsa yang basar adalah bangsa yang paham identitas dirinya. Karena itu, dengan jujur, pemerintah harus menggunakan strategi kebudayaan untuk mencari dan membangun identitas bangsa. Biar nggak kebarat-baratan, kekorea-koreaan, juga kearab-araban. Indonesia itu apa sih? Semua rakyat harus bisa menjawabnya.

Kira-kira begitu.

Cerpen Haruki Murakami: Lenyapnya Si Gajah

Cerita yang ditulis Haruki Murakami berjudul “The Elephant Vanishes” ini dimuat di The New Yorker, 18 November 1991, sepanjang sembilan halaman.
Lenyapnya Si Gajah

Aku membaca perihal si gajah yang lenyap dari kandangnya di surat kabar. Jam weker membangunkan aku hari itu, seperti biasanya, pada pukul 6:13. Aku beranjak menuju dapur, menyiapkan kopi dan roti panggang, menyalakan radio, membuka lebar-lebar lembaran surat kabar di atas meja dapur. Lalu seraya mengunyah, aku teruskan membaca. Aku adalah salah satu dari orang-orang yang biasa membaca surat kabar dari depan ke belakang, secara berurutan. Karena itu, butuh waktu yang lama hingga akhirnya aku membaca berita tentang si gajah yang lenyap. Halaman utama surat kabar dipenuhi oleh berita tentang SDI dan sengketa dagang dengan Amerika. Setelahnya aku menyelisik berita nasional, politik internasional, ekonomi, surat pembaca, ulasan buku, iklan perumahan, laporan olahraga, dan akhirnya berita daerah.

 

Artikel mengenai si gajah adalah tajuk utama di bagian berita daerah. Judul yang ditulis besar-besar- tidak seperti biasanya- menarik perhatianku: GAJAH HILANG DI PINGGIRAN KOTA TOKYO, dan di bawahnya, diketik dalam huruf berukuran lebih kecil, Ketakutan Warga Meningkat, Sejumlah Pihak Melakukan Pencarian. Terdapat foto beberapa polisi tampak memeriksa kandang gajah yang kosong. Tanpa gajah, tempat itu terlihat ganjil. Terlihat lebih besar daripada yang seharusnya, hampa dan kosong seperti raksasa kerontang yang baru saja dicabut isi tubuhnya.

Sambil menyeka remah roti, aku terus mempelajari setiap baris dari artikel itu. Hilangnya si gajah pertama kali diketahui pada tanggal 18 Mei, pukul dua siang, -kemarin- ketika pekerja perusahaan katering sekolah mengantar truk berisi makanan seperti biasanya (si gajah seringnya menyantap sisa makan siang murid-murid sekolah dasar setempat). Di atas tanah, masih terkunci, belenggu baja yang digunakan untuk mengekang kaki belakang si gajah tergeletak, seolah si gajah meloloskan dirinya begitu saja. Si gajah bukanlah satu-satunya yang lenyap. Turut lenyap bersamanya, seorang pawang, lelaki yang selama ini bertanggung jawab atas si gajah.

Menurut artikel yang kubaca, terakhir kali si gajah dan pawangnya terlihat sekitar pukul lima pada hari sebelumnya (17 Mei) oleh beberapa murid sekolah dasar setempat yang tengah mengunjungi si gajah untuk menggambar sketsanya dengan krayon. Murid-murid ini adalah saksi terakhir yang melihat si gajah, menurut surat kabar, karena si pawang selalu menutup gerbang kandang gajah setiap sirene pukul enam berbunyi.

Baik si gajah maupun pawangnya tak menampakkan gelagat yang aneh, menurut kesaksian seorang murid yang tak disebutkan namanya. Si gajah tampak berdiri di tempat biasa, di tengah-tengah kandang, kadangkala menggoyangkan belalainya ke kiri dan ke kanan atau menyipitkan sepasang matanya yang keriput. Si gajah telah teramat tua sehingga setiap gerakan yang dilakukannya tampak memerlukan usaha yang luar biasa- terlalu tua dan rapuh sehingga orang-orang yang baru melihatnya untuk pertama kali bisa jadi merasa takut kalau-kalau si gajah akan tumbang dan mengembuskan napas terakhirnya.

Usia si gajah yang menyebabkan kota ini mengadopsinya setahun yang lalu. Ketika kesulitan keuangan memaksa kebun binatang swasta kecil di pinggir kota untuk menutup pintu usahanya, seorang agen satwa liar berkeliling ke penjuru negeri mencari tempat bagi hewan-hewan penghuni kebun binatang yang terancam tak berumah. Tetapi sepertinya semua kebun binatang telah memiliki banyak gajah, dan tak satupun bersedia menampung benda tua lemah yang kapan saja bisa mati akibat serangan jantung tiba-tiba itu. Dan lalu, setelah teman-temannya pergi, si gajah tetap tinggal sendirian di kebun binatang yang perlahan melapuk hingga kira-kira empat bulan lamanya tanpa ada hal berarti yang bisa dilakukannya- memang sih dari dulu juga si gajah tak melakukan apa-apa.

Kejadian ini menyebabkan banyak kesulitan, baik bagi pihak kebun binatang maupun pemerintah kota. Kebun binatang telah menjual tanahnya kepada pengembang yang memiliki rencana untuk membangun gedung kondominium yang menjulang, dan pemerintah kota telah mengeluarkan ijin. Semakin lama masalah si gajah ini dibiarkan tanpa penyelesaian, semakin besar jumlah pajak sia-sia yang harus dibayar oleh pihak pengembang. Meski begitu, membunuh si gajah sama sekali bukan pilihan. Mungkin saja, jika yang sedang dibicarakan ini adalah seekor monyet atau kelelawar, tetapi pembunuhan seekor gajah akan terlalu sulit untuk ditutup-tutupi, dan kalau sampai ketahuan, dampaknya akan sangat luar biasa. Setelah beragam pihak bertemu untuk membicarakan masalah ini, mereka merumuskan sebuah kesepakatan disposisi bagi si gajah tua:

  1. Pihak kota akan mengambil alih hak kepemilikan si gajah tanpa ongkos apapun.
  2. Pihak pengembang akan, tanpa kompensasi, menyediakan lahan bagi kandang si gajah.
  3. Bekas pemilik kebun binatang akan bertanggung jawab atas gaji pawang gajah.

Dari awal, aku telah menaruh perhatian pada masalah si gajah ini, dan aku menyimpan sebuah buku berisi kliping setiap pemberitaan yang bisa kutemukan. Bahkan, aku mengikuti debat dewan kota atas masalah ini. Maka dari itu, aku dapat memberikan informasi penuh dan akurat mengenai kejadian ini. Dan meskipun catatanku ini sepertinya cukup panjang, aku memilih untuk menuliskannya di sini, mungkin saja penanganan masalah si gajah sebelumnya ternyata berkaitan langsung dengan peristiwa lenyapnya si gajah.

Ketika negosiasi yang dilakukan oleh walikota telah mencapai kesepakatan- dengan keputusan bahwa pihak kota akan bertanggung jawab atas si gajah- gerakan perlawanan bergejolak dari dalam jajaran partai oposisi (yang keberadaannya tak pernah aku ketahui hingga saat itu). “Mengapa pihak kota harus mengambil alih hak kepemilikan gajah itu?” tanya mereka pada walikota, dan mereka mengajukan beberapa pokok tuntutan (aku mohon maaf atas daftar ini, tetapi aku membuatnya agar lebih mudah dimengerti):

  1. Masalah mengenai gajah adalah urusan pihak pengusaha swasta- kebun binatang dan pengembang; tidak ada alasan bagi pihak kota untuk ikut campur.
  2. Biaya perawatan dan makan akan sangat tinggi.
  3. Apa yang akan walikota lakukan terkait dengan masalah keamanan?
  4. Apa keuntungan yang akan didapatkan jika kota ini memiliki gajah sendiri?

“Kota ini telah memiliki banyak sekali tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum menambahinya dengan memelihara seekor gajah- perbaikan selokan, pembelian mobil pemadam kebakaran yang baru, dan lain-lain,” ujar kelompok oposisi, dan meskipun tidak secara terang-terangan menyatakannya, mereka memberi isyarat bahwa kemungkinan telah terjadi semacam kesepakatan rahasia antara walikota dan pihak pengembang.

Sebagai balasannya, walikota menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jika pihak kota mengijinkan pembangunan kondominium mewah, pendapatan kota dari pajak akan meningkat secara dramatis sehingga biaya pemeliharaan seekor gajah tidak perlu dirisaukan; maka dari itu sangatlah masuk akal bahwa pihak kota memutuskan untuk memelihara sang gajah.
  2. Sang gajah sudah sangat tua sehingga kemungkinan besar ia tidak akan makan banyak dan tidak akan membahayakan orang.
  3. Jika sang gajah mati, pihak kota memiliki hak penuh atas kepemilikan tanah yang telah disumbangkan oleh pihak pengembang.
  4. Sang gajah bisa menjadi simbol kota.

Debat panjang itu akhirnya mencapai kesimpulan bahwa pihak kota akan bertanggung jawab atas si gajah. Sebagai sebuah wilayah pemukiman yang telah mapan, kota ini dapat dengan mudah membangga-banggakan taraf hidup masyarakatnya yang relatif makmur, dan juga pijakan ekonomi yang aman. Mengadopsi seekor gajah tunawisma adalah sebuah langkah yang dapat diterima oleh masyarakat dengan senang hati. Orang-orang lebih menyukai seekor gajah tua ketimbang selokan dan mobil pemadam kebakaran.

Aku sendiri mendukung keputusan kota untuk merawat si gajah. Memang benar, aku mulai muak dengan kondominium yang menjulang tinggi, tetapi aku menyukai ide sebuah kota yang memiliki seekor gajah.

Sebuah wilayah yang ditumbuhi pohon-pohon serupa hutan kecil dibersihkan, dan bangunan pusat kebugaran sekolah dasar yang mulai usang dipindahkan ke sana lalu berubah fungsi menjadi kandang si gajah. Lelaki yang telah bertugas merawat si gajah selama bertahun-tahun ikut tinggal di sana. Sisa makan siang murid-murid sekolah menjadi makanan si gajah. Akhirnya, si gajah itu sendiri dipindahkan menggunakan mobil karavan ke rumah barunya, di sana ia akan melanjutkan hidupnya.

Aku berada di sana, di tengah kerumunan orang-orang, pada saat upacara peresmian kandang si gajah. Berdiri di hadapan si gajah, walikota memberikan pidatonya (mengenai pembangunan kota dan peningkatan fasilitas budayanya); seorang anak, sebagai wakil dari murid-murid sekolah dasar, berdiri membacakan sebuah puisi (“Semoga panjang umur dan sehat selalu, Tuan Gajah”); sebuah kontes menggambar diadakan (menggambar sketsa si gajah kemudian menjadi bagian dari kurikulum pendidikan seni sekolah dasar); dan dua perempuan dalam balutan gaun yang melambai (kedua-keduanya tidak ada yang cantik) memberi makan si gajah dengan setumpuk buah pisang. Si gajah melewati semua formalitas tak berarti itu (untuk si gajah memang semua ini tak ada artinya sama sekali) tanpa berkedip sekalipun, ia mengunyah buah pisang dengan tatapan kosong. Ketika ia selesai melahap buah pisang, semua orang bertepuk tangan.

Pada kaki belakang sebelah kanan, si gajah memakai belenggu baja yang terlihat kokoh dan berat. Dari belenggu itu, rantai tebal dengan panjang kira-kira tiga puluh kaki terentang, terikat kencang pada sebuah lempengan beton. Siapapun bisa melihat jangkar kokoh semacam apa yang menahan raksasa itu: Meski si gajah berjuang mati-matian selama seratus tahun untuk melepaskan diri, ia tak akan pernah bisa merusak benda yang berada di kakinya itu.

Aku tidak bisa memastikan apakah si gajah terganggu oleh belenggu itu. Setidaknya dari apa yang bisa kulihat, tampaknya ia tak menyadari ada sebuah potongan besar logam melilit kakinya. Si gajah terus menatap kosong ke titik yang entah ada di mana, sesekali telinganya melambai lembut, dan beberapa helai rambut putih di tubuhnya bergerak tertiup angin sepoi-sepoi.

Pawang si gajah adalah seorang lelaki tua yang kecil dan kurus. Sulit menebak usianya; mungkin saja ia baru memasuki usia enam puluh atau di ambang akhir tujuh puluh. Penampilannya tak lagi dipengaruhi oleh usia. Warna kulitnya gelap kemerahan seperti terbakar oleh matahari, tak peduli musim panas atau musim dingin, rambut pendeknya kaku, matanya kecil. Wajahnya tidak memiliki karakter khusus, tetapi ia memiliki sepasang telinga yang hampir-hampir bulat sempurna mencuat di kedua sisi wajahnya, terlihat sungguh mengganggu.

Bisa dibilang, ia cukup ramah. Jika seseorang berbicara padanya, ia akan menjawab dengan jelas. Kalau saja ia mau, ia bisa saja mempesona- walaupun semua orang tahu ia agak canggung. Secara umum, ia pendiam, seorang lelaki yang tampak kesepian. Agaknya, ia menyukai anak-anak yang mengunjungi kandang si gajah, dan ia berusaha untuk bersikap baik kepada mereka, tetapi anak-anak itu tak pernah benar-benar balas menyukainya.

Satu-satunya yang tulus menyukainya adalah si gajah. Si pawang menempati sebuah kamar kecil yang menempel pada kandang gajah, dan sepanjang hari ia tinggal dengan si gajah, mencukupi kebutuhan si gajah. Mereka telah hidup bersama selama lebih dari sepuluh tahun, dan semua orang bisa merasakan kedekatan mereka berdua dari setiap gerakan dan cara mereka saling memandang. Setiap kali si gajah berdiri di tengah-tengah kandangnya dengan tatapan kosong dan si pawang menginginkannya untuk bergerak, yang harus ia lakukan hanyalah berdiri di samping si gajah, menepuk kaki depannya, dan membisikkan sesuatu di telinganya. Lalu, bergeraklah si gajah sesuai kehendak si pawang, mengambil posisi baru, dan meneruskan tatapan kosongnya yang tertunda.

Pada akhir pekan, biasanya aku berkunjung ke kandang si gajah dan mempelajari kebiasaan mereka berdua tetapi aku tidak pernah bisa mengetahui prinsip dasar komunikasi antara si pawang dan si gajah. Mungkin si gajah mengerti beberapa kata sederhana (dipikir-pikir, ia memang sudah hidup dalam waktu yang amat lama untuk mengerti sedikit bahasa manusia), atau mungkin si gajah menerima informasi dari variasi tepukan di kakinya. Atau bisa jadi si gajah memiliki kemampuan khusus semacam telepati mental dan bisa membaca pikiran si pawang. Sekali waktu aku pernah bertanya pada si pawang mengenai bagaimana cara ia memberi perintah pada si gajah, tetapi lelaki tua itu hanya tersenyum dan berkata, “Kami sudah hidup bersama-sama sejak lama”

Dan lalu setahun telah berlalu. Kemudian, tanpa peringatan apa-apa, si gajah lenyap. Hari ini ia ada di sana, keesokannya ia lenyap tak berbekas.

Aku menuang kopi cangkir kedua dan membaca ulang berita itu dari awal hingga akhir. Sebenarnya, artikel itu cukup aneh- cukup aneh hingga bisa membangkitkan semangat Sherlock Holmes. “Lihat ini, Watson,” sang detektif berkata seraya menepuk pipa cerutunya. “Artikel yang sangat menarik. Sangat amat menarik.”

Hal yang menambah keganjilan dari artikel tersebut adalah kebingungan wartawan yang jelas-jelas terbaca dari tulisannya. Dan kebingungan ini nampaknya berasal dari absurditas situasi itu sendiri. Kau bisa melihat bagaimana si wartawan berjuang untuk menemukan cara yang cerdas dalam menuliskan situasi ganjil ini agar menjadi sebuah artikel yang “normal”. Tetapi perjuangannya sia-sia, ia bahkan mengubah keadaan dari sekedar kebingungan menjadi keputusasaan yang luar biasa. Sebagai contoh, artikel tersebut menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “gajah melarikan diri,” tetapi jika kau telah membaca keseluruhan tulisan jelas sekali bahwa tidak mungkin si gajah bisa “melarikan diri.” Si gajah telah lenyap, hilang tertelan udara. Si wartawan menunjukkan konflik yang berkecamuk dalam pikirannya sendiri dengan mengatakan bahwa beberapa “detail tidak jelas,” tetapi aku rasa fenomena semacam ini tidak bisa dikecilkan maknanya dengan menggunakan terminologi awam seperti “detail tidak jelas.”

Pertama, masalah terletak pada belenggu baja yang terikat kencang pada kaki si gajah. Benda ini ditemukan masih terkunci. Penjelasan yang paling masuk akal adalah si pawang telah membuka kunci belenggu, melepaskannya dari kaki si gajah, mengunci kembali belenggu tersebut, dan kabur bersama si gajah- hipotesis yang dengan gigih dipertahankan oleh surat kabar tetapi pada kenyataannya si pawang tidak memiliki kunci! Hanya ada dua kunci, dan keduanya, atas nama keamanan, disimpan di lemari besi, satu berada di kantor polisi dan satu lagi berada di kantor pemadam kebakaran, dua-duanya berada di luar jangkauan si pawang- atau orang lain jika ada yang berniat mencurinya. Dan meskipun seseorang telah berhasil mencuri kunci-kunci tersebut, tentu ia tak perlu repot-repot mengembalikan setelah menggunakannya. Namun esok harinya, kedua kunci tersebut ditemukan tergeletak dengan aman di lemari besi masing-masing- di kantor polisi dan kantor pemadam kebakaran. Kesimpulan yang bisa diambil adalah si gajah menarik keluar kakinya dari belenggu baja yang kokoh itu tanpa bantuan kunci- sebuah kemustahilan kecuali seseorang telah menggergaji kaki gajah tersebut hingga putus.

Masalah kedua adalah rute pelarian. Kandang si gajah dikelilingi oleh pagar besar setinggi hampir sepuluh kaki. Persoalan keamanan telah diperdebatkan dengan sangat sengit di dewan kota, dan pihak kota telah menetapkan sebuah sistem  keamanan yang bisa dibilang cukup berlebihan untuk menjaga seekor gajah tua. Jeruji besi yang berat ditancapkan pada pondasi beton yang tebal (biaya produksi pagar ditanggung oleh pihak pengembang), dan hanya ada satu pintu masuk, yang pada saat peristiwa lenyapnya si gajah terjadi ditemukan dalam keadaan terkunci dari dalam. Tidak mungkin si gajah bisa melarikan diri dari kandang serupa benteng ini.

Masalah ketiga adalah jejak. Tepat di belakang kandang si gajah ada sebuah bukit curam, tidak mungkin binatang itu mampu menaikinya, anggap  saja si gajah berhasil menarik keluar kakinya dari belenggu baja dan melompati pagar setinggi sepuluh kaki, ia tetap harus melewati jalan yang berada di depan kandang, dan tidak ditemukan satupun jejak kaki gajah pada tanah basah di jalan tersebut.

Dengan semua pernyataan tak masuk akal dan kebingungan yang jelas-jelas ditunjukkan, hanya ada satu kesimpulan dari artikel di surat kabar tersebut: Si gajah tidak melarikan diri. Si gajah lenyap.

Akan tetapi, baik surat kabar maupun kepolisian tidak bersedia mengakui- paling tidak, secara terbuka- bahwa si gajah telah lenyap. Polisi meneruskan penyelidikan, juru bicara mereka menyatakan bahwa hanya ada dua kemungkinan, si gajah “diambil atau dibiarkan melarikan diri dengan langkah-langkah yang telah diperhitungkan secara seksama. Akan tetapi karena menyembunyikan seekor gajah adalah pekerjaan yang sulit, tunggu saja, kami akan segera menyelesaikan kasus ini.” Pernyataan penuh optimisme ini ditambah dengan rencana pencarian di area hutan dengan bantuan klub pemburu lokal dan penembak jitu dari Tentara Pertahanan Nasional.

Walikota telah mengadakan konferensi pers, ia meminta maaf atas kurangnya sumber daya manusia di pihak kepolisian. Pada saat yang sama, ia menyatakan, “Sistem keamanan gajah kota ini tidak kalah dengan fasilitas serupa di setiap kebun binatang di negara ini. Tidak diragukan lagi, sistem ini jauh lebih kuat dan aman daripada kandang umumnya.” Ia juga menambahkan, “Tindakan berbahaya dan tidak masuk di akal ini tidak boleh kita biarkan begitu saja tanpa mendapatkan hukuman yang setimpal.”

Seperti yang terjadi setahun lalu, anggota partai oposisi kembali menyatakan tuduhan, “Kami ingin melihat tanggung jawab politik dari walikota; ia telah melakukan kolusi dengan perusahaan swasta dengan cara menjual warga kota sebagai solusi dari masalah gajah ini.”

Seorang ibu yang “tampak khawatir”, tiga puluh tujuh tahun, diwawancarai oleh surat kabar. “Sekarang saya takut untuk membiarkan anak-anak saya bermain di luar,” katanya.

Pemberitaan di surat kabar mencakup ringkasan rinci mengenai langkah-langkah yang mengarah pada keputusan kota untuk mengadopsi si gajah, sketsa kandang gajah, dan sejarah singkat si gajah dan si pawang yang ikut lenyap bersamanya. Lelaki itu, Noboru Watanabe, enam puluh tiga tahun, berasal dari Tateyama, di Prefektur Chiba. Ia telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai pawang di bagian hewan mamalia di kebun binatang, dan “telah dipercaya secara penuh oleh pihak kebun binatang, baik karena pengetahuannya yang mendalam tentang hewan maupun karena kepribadiannya yang tulus dan hangat.” Si gajah dikirim dari Afrika Timur dua puluh dua tahun yang lalu, tetapi tidak ada yang bisa memastikan usia si gajah yang sebenarnya juga bagaimana kepribadiannya. Laporan itu diakhiri dengan permintaan dari pihak kepolisian kepada warga kota untuk terus memberikan informasi yang mereka ketahui berkenaan dengan si gajah.

Aku memikirkan permintaan dari pihak kepolisian seraya meneguk kopi dari cangkir kedua, tetapi aku memutuskan untuk tidak menelepon polisi- baik karena aku tidak ingin berhubungan langsung dengan pihak kepolisian juga karena aku merasa polisi tidak akan mempercayai perkataanku. Apa gunanya berbicara dengan orang-orang seperti itu, yang bahkan tidak mempertimbangkan adanya kemungkinan bahwa si gajah telah lenyap begitu saja.

Aku mengambil buku catatanku dari atas rak, menggunting artikel si gajah, dan menempelkannya di sana. Lalu aku mencuci piring dan berangkat ke kantor.

Aku menonton berita pukul tujuh malam mengenai pencarian si gajah di televisi. Ada pemburu membawa senapan besar yang diisi penuh panah bius, Tentara Pertahanan Nasional, polisi, dan pemadam kebakaran menyisiri tiap inci hutan dan bukit di area sekitar sementara helikopter berputar-putar di atas mereka. Tentu saja, kita sedang membicarakan jenis “hutan” dan “bukit” yang bisa ditemukan di daerah pinggiran kota Tokyo, sehingga area yang harus ditelusuri tidaklah terlalu luas. Dengan banyaknya orang yang terlibat, seharusnya satu hari lebih dari cukup untuk melakukan pekerjaan itu. Dan lagi, mereka bukannya mencari seorang pembunuh maniak berukuran kecil: Mereka mencari seekor gajah Afrika raksasa. Si gajah hanya dapat bersembunyi di beberapa tempat tertentu. Tetapi tetap saja mereka gagal menemukannya. Kepala polisi muncul di layar televisi dan berkata, “Kami bermaksud untuk meneruskan pencarian.” Dan penyiar berita menyimpulkan laporan, “Siapa yang telah membebaskan gajah tersebut dan bagaimanakah caranya? Di mana mereka menyembunyikannya? Apakah motivasi mereka? Semuanya masih terselubung dalam misteri.”

Pencarian berlangsung selama beberapa hari, tetapi pihak yang berwenang tidak menemukan satupun petunjuk mengenai keberadaan si gajah. Aku mempelajari laporan-laporan di surat kabar, memotong semuanya, dan menempel klipingnya di buku catatanku- termasuk kartun editorial mengenai masalah ini. Buku catatanku segera habis, dan aku harus membeli buku yang baru. Meskipun sudah banyak kliping yang kukumpulkan, tidak ada satupun memuat fakta yang aku cari. Laporan-laporan itu sia-sia saja: GAJAH MASIH HILANG, MENDUNG MENEBAL DI PUSAT PENCARIAN, MAFIA DI BALIK HILANGNYA GAJAH? Setelah seminggu berlalu, artikel-artikel semacam ini semakin jarang dimuat hingga akhirnya tak ada sama sekali. Beberapa majalah mingguan memuat cerita sensasional- bahkan ada satu majalah yang menyewa cenayang- tetapi tidak satu artikel pun yang benar-benar berisi kecuali judul-judul luar biasa yang menarik perhatian saja. Tampaknya orang-orang mulai menggolongkan kasus si gajah sebagai “misteri tak terpecahkan.” Lenyapnya seekor gajah tua dan seorang pawang tua tidak akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Bumi akan terus berputar secara monoton pada rotasinya, politisi akan terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, orang-orang akan terus mengantuk dalam perjalanan mereka menuju ke kantor, anak-anak akan terus belajar untuk ujian masuk kuliah.

Di tengah gelombang pasang surut kehidupan sehari-hari yang tak ada habisnya, perhatian terhadap hilangnya gajah tak akan bertahan selamanya. Dan lalu, bulan demi bulan yang biasa-biasa saja berlalu, seperti pasukan tentara yang letih berbaris melewati jendela.

Tiap kali aku memiliki waktu luang, aku akan mengunjungi kandang gajah yang kosong. Sebuah rantai tebal mengikat jeruji besi pagar untuk mencegah orang-orang yang datang memasuki kandang. Mengintip ke dalam, aku bisa melihat pintu kandang gajah juga telah dikunci dengan rantai, seolah-olah pihak kepolisian tengah menebus kesalahan mereka dengan cara meningkatkan keamanan hingga berlapis-lapis atas kandang gajah yang sekarang kosong.

Area itu sekarang dilupakan, kerumunan orang sekarang berganti dengan kawanan merpati yang beristirahat di atas atap. Tidak ada yang merawat tanah di sekitar kandang, dan rumput musim panas yang berwarna hijau tumbuh dengan lebat di sana seakan-akan mereka telah menunggu kesempatan ini sejak lama. Rantai yang melingkar di pintu kandang gajah mengingatkan aku pada seekor ular raksasa yang menjaga puing-puing istana di sebuah hutan rimba. Beberapa bulan tanpa kehadiran si gajah, tempat itu seakan digelayuti mendung kesedihan yang tebal.

Aku bertemu dengannya di akhir bulan September. Saat itu, hujan turun seharian, dari pagi hingga malam- hujan berkabut yang kerap turun di waktu-waktu yang sama setiap tahunnya, sedikit demi sedikit membasuh kenangan musim panas yang membakar bumi. Mengalir turun sepanjang selokan, semua kenangan mengalir ke parit dan sungai, terbawa ke laut yang dalam dan gelap.

Kami berkenalan di sebuah pesta peluncuran kampanye iklan paling mutakhir yang diselenggarakan oleh perusahaanku. Aku bekerja di bagian PR sebuah produsen utama peralatan elektronik, dan pada saat itu aku bertanggungjawab atas publisitas lini peralatan dapur, yang dijadwalkan akan diluncurkan ke pasar pada musim semi (masa-masa saat banyak pernikahan dilaksanakan) dan musim dingin (masa-masa saat banyak kado dibeli dan bonus diberikan). Tugasku untuk bernegosiasi dengan beberapa majalah wanita agar memuat artikel mengenai produk perusahaan kami- memang bukan pekerjaan yang memerlukan tingkat intelektual yang tinggi, tetapi aku harus memastikan artikel yang mereka tulis tidak berseberangan dengan iklan kami. Tiap publisitas yang diberikan oleh majalah akan kami hargai dengan menempatkan iklan di halaman mereka. Mereka menggaruk punggung kami, kami menggaruk punggung mereka.

Sebagai seorang editor majalah yang menyasar ibu-ibu muda, ia datang ke pesta seraya membawa materi untuk salah satu “artikel.” Kebetulan, aku yang bertanggungjawab mengajaknya berkeliling, menunjukkan kelebihan dari kulkas berwarna-warni dan mesin pembuat kopi dan oven yang dikerjakan khusus oleh perancang terkenal dari Italia.

“Yang terpenting adalah kesatuan,” jelasku. “Bahkan peralatan dengan desain paling cantik akan mati jika tidak seimbang dengan lingkungannya. Kesatuan desain, kesatuan warna, kesatuan fungsi: Semua ini sangat diperlukan oleh peralatan kit-chin. Riset menyatakan bahwa ibu rumah tangga menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka di kitchin. Kit-chin adalah ruang kerja, ruang belajar, ruang keluarga mereka. Maka dari itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan lingkungan kit-chin yang nyaman. Seberapa luas kitchin tidaklah menjadi persoalan penting. Apakah kit-chin itu besar atau kecil, prinsip dasar sebuah kit-chin yang sempurna adalah kesatuan. Inilah konsep yang menggarisbawahi desain dari seri terbaru kami. Lihatlah kompor ini, contohnya…”

Ia mengangguk dan menulis beberapa hal di buku catatan kecil, tetapi jelas sekali ia tak terlalu tertarik dengan materi artikel, aku pun tak punya kepentingan pribadi atas kompor seri terbaru itu. Baik aku maupun dirinya hanyalah menjalankan pekerjaan kami.

“Kau tahu banyak tentang dapur,” katanya ketika aku selesai berbicara. Ia menggunakan kata ‘dapur’ dalam bahasa Jepang, tanpa menyinggung pilihan kataku ‘kit-chin.

“Itulah mata pencaharianku,” aku menjawab seraya menyungging senyum profesional.

“Selain itu, aku memang suka memasak. Bukan masakan yang mewah, hanya saja aku memasak untuk diriku sendiri setiap hari.”

“Namun, aku ragu kesatuan adalah hal yang paling penting untuk sebuah dapur.”

“Kami menyebutnya ‘kit-chin,’” saranku. “Bukan masalah besar, tetapi perusahaan menginginkan kami untuk menggunakan bahasa Inggris.”

“Oh. Maaf. Namun, aku masih ragu. Apakah kesatuan sangatlah penting bagi sebuah kit-chin? Bagaimana menurutmu?”

“Pendapat pribadiku? Tidak akan ada pendapat pribadi sampai aku melepas dasi,” ucapku seraya menyeringai. “Tetapi hari ini aku akan membuat pengecualian. Sebuah dapur mungkin saja membutuhkan hal-hal lainnya lebih dari sekadar kesatuan. Tetapi elemen-elemen lainnya itu tidak bisa dijual. Di dunia pragmatis yang kita huni ini, hal-hal yang tidak bisa dijual menjadi tidak penting.”

“Apakah dunia ini adalah tempat yang pragmatis?”

Aku mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.

“Aku tidak tahu- kata-kata itu muncul begitu saja,” ujarku. “Tetapi itu menjelaskan banyak hal. Membuat pekerjaan menjadi lebih mudah juga. Kau dapat bermain-main dengan hal itu, menciptakan pernyataan semacam: ‘pada dasarnya pragmatis,’ atau ‘pragmatis dalam esensinya.’ Jika kau melihat dari sudut pandang itu, kau bisa menghindari masalah-masalah rumit.”

“Pandangan yang sungguh menarik!”

“Tidak juga. Semua orang berpikir serupa. Oh, ngomong-ngomong, kami punya sampanye yang cukup enak. Mau mencobanya?”

“Terima kasih. Aku mau mencobanya.”

Sembari meneguk sampanye, kami berbincang-bincang. Ternyata kami memiliki beberapa kenalan yang sama. Jika diandaikan sebagai sebuah kolam, dunia bisnis yang kami geluti bukanlah sebuah kolam yang besar, sehingga jika beberapa kelereng dilemparkan ke dalamnya, mungkin saja satu atau dua saling mengenai satu sama lain. Selain itu, ia dan anak kakak perempuanku kebetulan lulus dari universitas yang sama. Akibat kebetulan-kebetulan itu, obrolan kami berjalan dengan mulus.

Dia tidak menikah, aku juga. Dia berusia dua puluh enam, aku berusia tiga puluh satu. Dia menggunakan lensa kontak, aku memakai kacamata. Dia memuji dasiku, dan aku memuji jaketnya. Kami saling membandingkan rumah kontrakan dan saling mengeluh mengenai pekerjaan dan gaji. Dengan kata lain, kami mulai menyukai satu sama lain. Dia adalah wanita yang menarik, dan tidak suka memaksa. Aku berdiri di hadapannya seraya menghabiskan waktu selama dua puluh menit untuk mengobrol, gagal menemukan satupun alasan untuk tidak menyukainya. Setelah pesta selesai, aku mengundang dia untuk menemaniku minum di lounge hotel, kami meneruskan perbincangan di sana. Hujan yang senyap turun di luar jendela, lampu-lampu kota mengirimkan pesan yang mengabur lewat kabut. Keheningan yang basah tercipta di lounge yang hampir kosong. Dia memesan frozen daiquiri dan aku memesan scotch on the rocks.

Sambil menyesap minuman, kami terbawa percakapan layaknya sepasang lelaki dan perempuan yang baru saja bertemu di sebuah bar dan mulai menyukai satu sama lain. Kami membicarakan masa-masa kuliah, selera musik, olahraga, dan kegiatan sehari-hari.

Lalu aku menyinggung perihal si gajah. Bagaimana mulanya, aku tak ingat. Mungkin kami tengah berbicara mengenai sesuatu yang ada hubungannya dengan hewan, mungkin itulah awal mulanya. Atau mungkin, tanpa aku sadari, aku telah lama berharap ada seseorang- seorang pendengar yang baik- yang dapat kuberitahu tentang pendapatku sendiri mengenai masalah lenyapnya si gajah. Atau, mungkin saja, pengaruh minuman keraslah yang membuatku berbicara.

Apapun itu, begitu kata-kata meluncur dari bibirku, aku menyadari bahwa aku telah menyinggung topik yang tidak cocok. Tidak, seharusnya aku tidak menyebut perihal si gajah. Topik ini- apa, ya?- terlalu kompleks, terlalu rahasia.

Aku mencoba mengubah arah pembicaraan, tetapi nasib berkata lain, dia lebih tertarik pada kasus lenyapnya si gajah, dan setelah aku mengakui bahwa aku sering melihat si gajah, dia menghujaniku dengan berbagai pertanyaan- apa jenis gajah itu, menurutku bagaimana gajah itu bisa meloloskan diri, apa yang dimakan gajah itu, apakah lenyapnya gajah itu dapat membahayakan masyarakat, dan seterusnya.

Apa yang kukatakan padanya tak lebih dari apa yang telah diberitakan sebelumnya, tetapi tampaknya dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari nada suaraku. Memang, aku bukan pembohong yang baik.

Seolah-olah tak menyadari perilaku anehku, ia menyesap gelas daiquiri kedua dan bertanya, “Tidakkah kau terkejut ketika gajah itu lenyap? Siapa yang menduga hal semacam ini bisa terjadi.”

“Tidak, mungkin tidak ada yang bisa menduganya,” ucapku. Aku mengambil pretzel dari dalam piring kaca di atas meja kami, mematahkannya menjadi dua, dan memakan setengahnya. Pelayan mengganti asbak kami dengan asbak kosong.

Dia menatapku penuh harap. Aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Aku berhenti merokok tiga tahun yang lalu, tetapi mulai merokok lagi semenjak si gajah lenyap.

“Mengapa ‘mungkin tidak ada yang bisa menduganya’? Mengapa ‘mungkin’? Apakah maksudmu kau bisa saja telah menduganya?”

“Tidak, tentu aku tidak bisa menduganya,” ucapku seraya tersenyum. “Seekor gajah tiba-tiba lenyap pada suatu hari- tentu tidak bisa diduga akan terjadi. Sungguh tidak masuk di akal.”

“Tetapi jawabanmu terdengar sungguh aneh. Ketika aku berkata, ‘Siapa yang menduga hal semacam ini bisa terjadi,’ kau menjawab, ‘Tidak, mungkin tidak ada yang bisa menduganya.’ Kebanyakan orang akan menjawab ‘Kau benar,’ atau ‘Yah, ini aneh sekali,’ atau jawaban lain semacam itu. Kau mengerti maksudku?”

Aku mengangguk sekilas dan mengangkat tanganku untuk memanggil pelayan. Keheningan yang tak pasti terjadi sementara aku menunggu pelayan membawakan scotch untukku.

“Aku sulit memahami semua ini,” ujarnya lembut. “Obrolan kita berdua benar-benar normal hingga beberapa menit yang lalu- setidaknya hingga topik pembicaraan mengenai gajah itu muncul. Lalu sesuatu yang lucu terjadi. Aku tidak mengerti dirimu lagi. Ada sesuatu yang salah. Apakah gajah itu? Atau telingaku sedang melakukan tipu daya padaku?”

“Tidak ada yang salah dengan telingamu,” ucapku.

“Jadi masalahnya ada di dirimu.”

Aku mengaduk es di dalam gelas minuman dengan ujung jariku. Aku suka suara es di dalam gelas.

“Aku tidak akan menyebutnya ‘masalah’. Bukan hal yang besar. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Hanya saja, aku tak yakin bisa membicarakannya secara jelas, jadi aku berusaha tidak mengatakan apapun. Tetapi kau benar- hal ini memanglah aneh.”

“Apa maksudmu?”

Tidak ada gunanya: aku harus menceritakannya. Satu tegukan wiski dan aku memulainya.

“Begini, mungkin saja akulah orang terakhir yang melihat si gajah sebelum ia lenyap. Aku melihatnya setelah pukul tujuh malam pada tanggal tujuh belas Mei, dan mereka menyadari hilangnya si gajah pada sore hari tanggal delapan belas. Karena mereka mengunci kandang gajah pada pukul enam, tidak ada yang melihat si gajah semenjak itu.”

“Aku tak mengerti. Jika mereka mengunci kandang pada pukul enam, bagaimana bisa kau melihatnya pada pukul tujuh?”

“Ada semacam tebing di belakang kandang gajah. Sebuah bukit curam di area properti pribadi seseorang, tanpa akses jalan. Ada satu titik, di belakang bukit, kau bisa melihat ke arah kandang gajah dari sana. Mungkin, aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui tempat itu.”

Aku menemukan tempat itu secara tidak sengaja. Suatu hari, Minggu sore tepatnya, ketika tengah berjalan-jalan di sekitar situ, tiba-tiba saja aku tersesat dan sampai di puncak tebing. Ada sepetak tanah datar di sana, cukup besar untuk satu orang, dan saat aku melihat ke arah bawah melewati semak-semak, tampaklah atap kandang gajah.

Di bawah tepi atap terdapat sebuah ventilasi yang cukup besar, dan melalui itu aku bisa melihat dengan jelas bagian dalam kandang gajah.

Setelahnya aku menjadi terbiasa, sesekali berkunjung ke tempat itu untuk melihat apakah si gajah ada di kandangnya atau tidak. Jika ada orang yang bertanya mengapa aku rela bersusah payah melakukan hal semacam itu, sesungguhnya aku tidak memiliki jawaban yang bagus. Hanya saja, aku menikmatinya, memerhatikan si gajah selama ia sendirian saja. Tidak lebih dari itu.

Aku tidak bisa melihat si gajah ketika hari telah gelap, tentu saja, tetapi saat malam masih muda, si pawang biasanya menyalakan lampu sembari ia menunaikan kewajibannya untuk merawat si gajah.Oleh karena itu, aku bisa mempelajari situasi secara rinci.

Apa yang menarik perhatianku adalah kasih sayang yang sungguh nyata ditunjukkan oleh si gajah dan si pawang ketika mereka hanya tinggal berdua, mereka benar-benar menyukai satu sama lain- hal ini tak pernah mereka tunjukkan di hadapan publik. Rasa kasih dan sayang mereka jelas tergambar dari tiap gerakan. Seolah-olah, di siang hari mereka menyimpan seluruh emosi yang ada untuk dikeluarkan di malam harinya.

Sebenarnya mereka tidak melakukan hal-hal yang berbeda ketika mereka hanya berdua saja di dalam kandang. Si gajah hanya berdiri di tempatnya, menatap kosong seperti biasa, dan si pawang akan mengerjakan tugas-tugas yang umumnya dikerjakan oleh seorang pawang: menggosok bagian bawah si gajah dengan sapu, memungut kotoran si gajah yang ukurannya sungguh besar, membersihkan bekas makan si gajah. Tetapi tidak salah lagi, terlihat ada semacam kehangatan yang istimewa, rasa saling memercayai, di antara mereka berdua.

Sementara si pawang menyapu lantai, si gajah akan melambaikan belalainya dan menepuk-nepuk pelan punggung si pawang. Aku suka melihat si gajah melakukan hal itu.

“Apakah kau selalu menyukai gajah?” dia bertanya. “Maksudku gajah pada umumnya?”

“Hmm… kalau dipikir-pikir, aku memang suka gajah,” jawabku. “Ada sesuatu pada gajah yang membuatku bergairah. Kurasa, aku selalu menyukai mereka. Tidak tahu kenapa.”

“Dan hari itu, hari lenyapnya gajah itu, setelah matahari terbenam, kau ada di atas bukit sendirian, untuk melihat si gajah. Mei- tanggal berapa, ya?”

“Tujuh belas. Tujuh belas Mei, pukul tujuh malam. Hari telah gelap saat itu, langit berwarna kemerahan, tetapi lampu di kandang gajah masih menyala.”

“Apakah ada sesuatu yang aneh dengan gajah itu atau pawangnya?”

“Ya, ada dan tidak ada. Aku tak bisa mengatakannya secara pasti. Mereka kan tidak benar-benar berdiri di hadapanku. Aku mungkin bukanlah saksi yang bisa diandalkan.”

“Apa yang terjadi, tepatnya?”

Aku meneguk scotch, es di dalamnya sudah mencair. Di luar jendela, hujan masih turun, tidak menderas dan tidak pula mereda, bagaikan elemen statis dari sebuah lanskap yang tidak akan pernah berubah.

“Sebenarnya tidak ada yang terjadi. Si gajah dan si pawang menyelesaikan rutinitas yang selalu mereka lakukan: bersih-bersih, makan, bermain-main berdua. Semuanya sama saja. Tetapi mereka memang terlihat berbeda. Ada sesuatu mengenai keseimbangan di antara mereka.”

“Keseimbangan?”

“Pada ukuran. Tubuh mereka berdua. Tubuh si gajah dan si pawang. Keseimbangan antara mereka berdua berubah. Aku merasa, hingga batas tertentu, perbedaan di antara mereka berdua telah menyusut.”

Sesaat, dia menatap lekat-lekat gelas berisi daiquiri di tangannya. Aku bisa melihat es di dalam gelas itu telah mencair dan air seolah berjuang keras melewati minuman di dalamnya seperti arus laut kecil.

“Artinya gajah itu mengecil?”

“Atau si pawang yang membesar. Atau kedua-duanya berubah ukuran secara bersamaan.”

“Dan kau tidak mengatakan hal ini kepada pihak kepolisian?”

“Tidak, tentu saja tidak,” ucapku. “Aku yakin mereka tidak akan percaya padaku. Dan jika kukatakan pada mereka bahwa aku diam-diam menyaksikan si gajah dari atas bukit di malam hari, mungkin saja aku akan menjadi tersangka nomor satu.”

“Namun, apakah kamu benar-benar yakin bahwa keseimbangan ukuran tubuh mereka berubah?”

“Mungkin. Aku hanya bisa berkata ‘mungkin.’ Aku tidak punya bukti, dan seperti yang telah aku katakan, aku menyaksikan mereka lewat lubang ventilasi udara. Tetapi aku telah melihat mereka berdua berkali-kali, sehingga rasanya tidak mungkin aku membuat kesalahan mengenai sesuatu yang amat mendasar seperti ukuran tubuh mereka.”

Kenyataannya, pada saat itu aku bertanya-tanya, apakah mataku telah menipuku. Aku berusaha menutup dan membuka mataku dan menggeleng-gelengkan kepalaku, tetapi ukuran si gajah tetap sama. Jelas, tampak seolah-olah ia telah menyusut- sangat menyusut hingga pada awalnya kukira pihak kota telah memiliki seekor gajah baru yang berukuran lebih kecil.

Tetapi aku tidak mendengar apa-apa tentang hal tersebut, dan aku tidak pernah melewatkan pemberitaan mengenai si gajah. Jika ini bukan gajah yang baru, satu-satunya kesimpulan yang mungkin diambil adalah bahwa si gajah tua telah, oleh karena sesuatu hal dan lainnya, menyusut. Semakin lama aku melihat kejadian tersebut, semakin jelas bahwa gajah yang lebih kecil ini memiliki gerakan-gerakan serupa gajah yang lama.

Saat dimandikan, gajah ini akan menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah dengan senangnya, dan dengan belalainya yang tampak mengecil ia menepuk-nepuk punggung si pawang.

Sungguh pemandangan yang misterius. Melalui lubang ventilasi udara, aku merasa, waktu yang berbeda telah mengalir melewati kandang gajah- hanya di kandang si gajah dan tidak di tempat lainnya. Dan bagiku, tampaknya si gajah dan si pawang dengan senang hati menyerahkan diri kepada tatanan baru yang mencoba menyelimuti mereka- atau yang sebagian telah berhasil menyelimuti mereka. Secara keseluruhan, aku mungkin menyaksikan adegan di kandang si gajah itu selama kurang dari setengah jam. Lampu dipadamkan pada pukul tujuh lewat tiga puluh menit- lebih awal dari biasanya- dan semenjak itu segalanya terbungkus kegelapan.

Itulah kali terakhir aku melihat si gajah.

“Jadi, kalau begitu, kau percaya bahwa si gajah terus menerus mengecil hingga ukuran tubunya cukup untuk meloloskan diri melewati jeruji besi kandang, ataukah ia akhirnya larut ke dalam kehampaan. Begitukah?”

“Aku tidak tahu,” ujarku. “Yang aku coba lakukan hanyalah mengingat-ingat apa yang telah aku saksikan dengan kedua mataku sendiri, seakurat mungkin. Aku tidak berpikir mengenai apa yang terjadi setelahnya. Citra visual dalam ingatanku begitu kuat, sehingga jujur saja, aku tidak bisa membayangkan hal-hal lain di luar itu.”

Hanya itu yang bisa kukatakan mengenai lenyapnya si gajah. Dan seperti yang kutakutkan sebelumnya, cerita mengenai si gajah ini terlalu istimewa, terlalu kompleks, untuk ukuran topik pembicaraan antara seorang lelaki dan seorang perempuan yang baru saja bertemu.

Keheningan turun di atas kami berdua setelah aku menyelesaikan kisahku.

Obrolan apa yang mungkin kami angkat setelah cerita tentang seekor gajah yang lenyap- sebuah cerita yang tak menawarkan apapun sebagai bahan diskusi lebih lanjut?

Dia menelusuri bibir gelas dengan ujung jarinya, dan aku duduk di sana membaca dan membaca ulang tulisan yang dicetak pada tatakan gelasku. Seharusnya, aku tak perlu menceritakan perihal si gajah padanya. Memang bukan jenis cerita yang bisa diceritakan secara sembarangan pada semua orang.

“Ketika aku masih kecil, kucingku lenyap,” ujarnya memecah keheningan yang panjang. “Tetapi, tetap saja, mudah sekali bagi seekor kucing untuk lenyap, sementara bagi seekor gajah untuk lenyap- keduanya adalah cerita yang berbeda.”

“Ya, benar. Tidak bisa dibandingkan. Mengingat perbedaan tubuh mereka.”

Tiga puluh menit kemudian, kami saling berpamitan di luar hotel. Tiba-tiba dia teringat bahwa payung yang dibawanya tertinggal di lounge, maka aku kembali naik ke atas menggunakan elevator dan membawakan payung itu untuknya. Sebuah payung berwarna merah bata dengan pegangan yang tebal.

“Terima kasih,” katanya.

“Selamat malam,” ucapku.

Itulah kali terakhir aku bertemu dengannya. Kami mengobrol melalui telepon setelahnya, berkaitan dengan artikel pesanan perusahaanku yang tengah dia tulis. Ketika kami berbicara, aku benar-benar berpikir untuk mengundangnya makan malam, tetapi akhirnya tidak kulakukan. Segalanya tampak tak penting.

Aku seringkali merasakan hal semacam ini sejak pengalamanku menyaksikan lenyapnya si gajah. Aku mulai berpikir, mungkin saja aku ingin melakukan sesuatu, tetapi kemudian aku tak dapat menemukan perbedaan yang berarti jika aku melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Seringkali, aku merasa bahwa benda-benda di sekelilingku telah kehilangan keseimbangan, meskipun mungkin saja persepsiku telah memperdayaku. Keseimbangan di dalam diriku telah hancur semenjak urusan gajah itu terjadi, dan mungkin menyebabkan cara pandangku berubah, aku memandang fenomena di luar keberadaanku secara aneh. Mungkin saja ada sesuatu di dalam diriku.

Aku terus menjual kulkas dan oven dan mesin pembuat kopi di dunia yang pragmatis, berdasakan sensasi atas citra visual yang tertinggal dalam kenangan yang aku pertahankan dari dunia itu. Semakin aku mencoba menjadi lebih pragmatis, semakin sukses penjualanku- kampanye iklan kami telah berhasil melampaui prediksi paling optimis yang kami perkirakan sebelumnya- dan semakin berhasil aku menjual diriku sendiri kepada lebih banyak orang. Hal ini mungkin terjadi karena orang mencari semacam kesatuan pada dunia yang serupa kit-chin ini. Kesatuan desain. Kesatuan warna. Kesatuan fungsi.

Surat kabar hampir tak pernah lagi memberitakan apapun berkenaan dengan si gajah. Tampaknya, orang-orang telah melupakan bahwa pernah ada suatu masa ketika kota yang mereka huni memiliki seekor gajah. Rumput yang tumbuh mengambil alih kandang si gajah telah layu sekarang, dan nuansa musim dingin telah mendatangi tempat itu.

Si gajah dan si pawang telah lenyap sama sekali. Mereka tak akan pernah kembali.

—diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jay Rubin. Bahasa Indonesia oleh Amalia Achmad.

Ai Lemak, Satu Titik Keindahan Bawah Laut Sumbawa

Semakin ke Timur, laut Indonesia semakin indah. Tak perlu terlalu jauh hingga ke Raja Ampat, Sumbawa memiliki banyak spot menarik yang memiliki keindahan bawah laut tak terperanai. Salah satunya Ai Lemak, di Tanjung Manangis.

FB_IMG_1502159257051

Untuk menuju spot ini, kita bisa melewati Labuan Sumbawa, menggunakan boat sekitar 20-30 menit. Bila hendak melalui darat, kita bisa lewat Brang Biji dengan jarak tempuh 30 menit. Jarak dari bibir pantai untuk melihat keindahan alami laut hanya sekitar 50-100 m dengan kedalaman 5-7 m.

FB_IMG_1502159253108

FB_IMG_1502159265115

Spot Ai Lemak memiliki karakteristik lokasi dangkalan dan wall. Jadi, lokasi ini cocok baik untk diving maupun hanya snorkeling. Jenis biota lautnya pun beraham. Penyu juga sering terlihat muncul di lokasi. Terumbunya ada soft coral dan hard coral. Visibility atau jarak pandangnya lebih dari 15 meter menunjukkan kondisi laut yang masih begitu alami, belum tercemar. Spot ini pun tidak terlalu berarus dan berombak, kecuali mulai Desember, Januari, dan Februari yang memang musim badai di utara Sumbawa. Bulan-bulan setelahnya sangat nyaman untuk melakukan eksplorasi.

Ai Lemak, Tanjung Menangis
Ai Lemak

Keindahan ini bukan tanpa ancaman. Eksploitasi laut secara berlebihan seperti pengeboman, penggunaan potassium hingga penangkapan dengan menggunakan trawl mengancak kerusakan Ai Lemak. Spot lain di Dangar Ode misalnya, sudah banyak yang rusak karena tindakan serupa.

Oleh karena itu, Adventurous Sumbawa (AS) sebagai Komunitas Pemerhati Pariwisata Sumbawa melalui divisi Konservasi Lingkungan berkomitmen bukan hanya menjaga terumbu karang di Ai Lemak dan di lokasi lain di Sumbawa. Tetapi juga mengambil langkah dengan menginisiasi program transplantasi terumbu karang, yang bukan hanya demi tujuan pariwisata, melainkan juga fokus pada pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati laut-laut Sumbawa. Terumbu karang yang terawat pun akan menjadi habitat yang baik buat ikan-ikan sehingga nantinya ikan-ikan tetap berkembang biak di perairan Sumbawa. Tetapi juga fokus pada pelestarian lingkungan.

Pemenang Lomba Menulis Surat Cinta

Lomba Menulis Surat Cinta sudah ditutup sejak 14 Juli lalu, dan tak mudah menentukan pemenangnya. Sejumlah surat masuk (lebih dari 30 surat), kubaca, dan kuakui kejujuran hati para penulis surat cinta ini. Beberapa cerita saya yakin potensial untuk dijadikan cerpen atau novel.

Kenapa Surat? Apakah mudah menulis surat? Jawabannya, tidak mudah menulis surat, karena surat memiliki tujuan dan pada saat menulisnya, kita harus betul-betul memikirkan orang yang kita tuju. Bila kita terfokus pada diri sendiri, surat itu akan hambar. Surat yang egois.

Surat juga harus memiliki kedalaman. Dulu, orang sulit sekali berkomunikasi sebelum ada telepon. Orang-orang menulis surat dan tidak bisa setiap saat menulis surat. Maka sebuah surat ditulis dengan masak-masak biar perasaan sesungguhnya bisa terbaca.

Ketiga, bahasa surat adalah bahasa yang intim, tidak berindah-indah. Berindah-indah itu tidak indah.

Atas hal-hal tersebut di atas, saya terpaksa memilih satu, dan jatuh kepada Alice dengan judul Surat Ketiga. Surat bisa dibaca di sini http://menatapmu.tumblr.com/post/162819279600/surat-ketiga

Selamat, Alice! Dan terima kasih sekali lagi buat semua yang sudah berpartisipasi. Semoga tidak kapok. Nanti ada bagi-bagi buku berikutnya, ya?

 

Beropini Tanpa Menyimak?

Bermain Opini Lewat OPINI

Sering saya katakan, dan tak bosan-bosan, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Idealnya, kita punya keempat kemampuan tersebut yang harus dikuasai secara berurutan, dimulai dari menyimak.

Masalah bangsa yang sedemikian banyak ini, kuyakini berawal dari permasalahan literasi. Permasalahan literasi ini bukan cuma soal minat baca yang rendah lho ya.

Sebelum Indonesia merdeka, membaca dan menulis adalah sesuatu yang eksklusif, yang tidak bisa semua orang lakukan (tidak mudah didapatkan juga). Hal ini terjadi karena strategi dari penjajah yang sengaja membuat masyarakat bodoh. Kebodohan membuat orang mudah dijajah. Maka, jangan sampai membuat rakyat jadi pintar.

Usaha untuk membuat rakyat bodoh itu juga masih terus berlangsung setelah kemerdekaan sebagai bagian dari strategi politik. Coba tengok di zaman Orde Baru, banyak buku dilarang beredar, banyak sastrawan juga diawasi. Rakyat dilarang memiliki kekayaan berpikir karena kekayaan berpikir subversif, berbahaya!

Namun, ada satu hal baik yang masih bertahan: menyimak. Rakyat Indonesia adalah penyimak yang baik. Ketika Soekarno berpidato, rakyat berbondong-bondong mendengarkannya. Ketika pemerintah Orde Baru berkata melalui Menteri Penerangannya, rakyat juga masih mau mendengarkan, meski mungkin alasannya adalah tekanan.

Ketika Orde Baru tumbang, reformasi, kanal yang tersumbat itu mengeluarkan segala macam hal yang tertahan selama ini. Orang jadi bebas melakukan apa saja, berbicara apa saja. Dan kemampuan berbahasa itu terbalik, ya berbicara menjadi dasar. Orang-orang berbicara tanpa banyak membaca. Orang-orang berbicara tanpa tahu pentingnya menulis dengan struktur berpikir yang tepat. Dan orang-orang, karena berebut ingin bicara… kehilangan kemauan untuk menyimak!

Kemampuan berbahasa sesungguhnya erat dengan struktur berpikir dan teori kepribadian. Terutama menyangkut ego. Orang yang mampu menyimak akan jauh lebih toleran terhadap perbedaan pemikiran. Dia tidak memaksakan kebenaran versinya sendiri, dia menghargai kebenaran versi orang lain. Berbeda boleh, goblok jangan.

Tentu, usaha untuk mengembalikan hal yang benar itu tidak mudah. Semua orang beropini dan mau di dengar. Tapi, sebagagai seseorang yang peduli, hal yang tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin.

Saat ini ada portal-portal untuk mengembalikan minat baca dan minat menulis seperti Kompasiana dan Opini. Banyak juga yang lain dengan masing-masing kelebihannya. Opini.id sedikit lebih menarik karena penyajian opini disajikan dalam bentuk listicle yang secara tampilan unggul bila dilihat lewat mobile. Generasi muda saat ini memang lebih senang membaca versi mobile ketimbang membaca versi panjang-panjang. Ini adalah sebuah pendekatan yang patut dipuji.

Saya tidak tahu seberapa panjang jalan untuk menaikkan kemampuan literasi bangsa kita. Tapi saya yakin, pelan-pelan hal itu bisa terwujud.

Tips Memilih Jurusan Kuliah

Hal tersulit sesudah lulus SMA adalah memilih jurusan kuliah. Ada banyak kepentingan yang membuat sulit dalam pengambilan keputusan.

Saat itu, 2005, saya ikut bimbingan belajar Nurul Fikri. Saya katakan, Nurul Fikri adalah bimbingan belajar terbaik yang pernah saya ikuti. Siswanya tidak diajak berpikir pragmatis, tapi memahami suatu filosofi ilmu. Terbukti, murid-murid Nurul Fikri di masa saya menguasi 10 besar try out-try out publik di Kota Palembang saat itu.

Saya tidak termasuk ke sepuluh besar. Tapi, dalam beberapa kali kesempatan, nilai saya tak memalukan dan diprediksi mampu menembus Kedokteran UNSRI dan ITB kecuali Informatika dan Elektro. Ibu saya sih yang kepengen ada anaknya yang jadi dokter. Makanya, sekali kesempatan, saya mengisi Fakultas Kedokteran, lulus, dan hasil itu dikirimkan ke rumah. Ibu jadi menggebu-gebu meminta saya memilih kedokteran. Tapi saya justru mengisi Matematika ITB di SPMB.

Apa sih yang jadi pertimbangan?

  1. Pilihlah Bidang yang Kamu Sukai. Mau tidak mau, paling utama adalah dengarkan kata hatimu. Bidang apa yang kamu sukai. Bidang apa yang kamu kuasai. Kuliah di bidang itu, akan membuatnya seperti hiburan.
  2. Perhatikan Biaya Semesteran di Universitas Tersebut. Nah ini penting. Kuliah itu nggak murah. Kamu juga harus memperhatikan biayanya, konsultasikan ke keluargamu. Jangan sampai kamu terlalu membebani keluargamu.
  3. Cari info lapangan kerja yang berasal dari jurusan itu. Kita juga harus realistis. Kita harus memproyeksikan 4 tahun ke depan apakah lulusan jurusan A masih dibutuhkan di lapangan kerja.
  4. Lihat prediksi skor nasional/passing grade bila kamu ikut seleksi nasional, dan sesuaikan dengan kapasitasmu. Jangan gegabah memilih jurusan dengan nilai tertinggi padahal nilaimu setengahnya. Itu bunuh diri. Pilihan pertama, bolehlah memilih jurusan yang nilainya kirakira- 25% lebih tinggi dari ukuranmu. Pilihan kedua, zona aman. Keberuntungan nggak pernah begitu drastis pengaruhnya.
  5. Konsultasikan ke orang tuamu. Toh, doa orang tua itu penting. Jangan lupa untuk bicara ke mereka meski pendapat mereka ga sesuai kata hatimu. Minimal iya-iyain saja.

Kira-kira itu saja lima pertimbangan yang bisa membuat kita mantap memilih jurusan kuliah. Semoga berhasil.