Lomba Puisi untuk Indonesia, DL 8 September 2017

Lomba puisi ini akan memilih 100 puisi untuk dibukukan. Tentu, juara I, II, III, Harapan I, II dan III, dan 15 puisi pilihan lainnya akan mendapatkan hadiah lain yang menarik.

Temanya adalah UNTUK INDONESIA dengan subtema:

  • Wajah Indonesia Hari Ini
  • Merawat Indonesia
  • Merayakan Keragaman
  • Membangun Jiwa Nasionalis Religius
  • Peduli dan Beri Solusi adalah Kita

Puisi dikirimkan paling telat 8 September 2017, dikirimkan ke puisidemokrat@gmail.com

Informasi lain bisa dibaca di poster atau tanyakan ke CP yang tersedia.

Menguak Arti Pertumbuhan Ekonomi

Sering kita dengar, pemerintah membangga-banggakan capaian pertumbuhan ekonomi yang positif sebagai bentuk prestasi. Tapi tahukah kamu, juga selalu positif. Hanya ketika krisis keuangan tahun 1997, pertumbuhan ekonomi kita jatuh. Bahkan Pelita II berhasil menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7%!

Sebelum terlalu jauh, kita kudu tahu dulu nih, apa sih sebenarnya pertumbuhan ekonomi itu?

Bolton and Khaw (2006) menyatakan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator fundamental bagi kesehatan perekonomian. Tingkat pertumbuhan PDB suatu negara itulah pertumbuhan ekonomi yang menurut Mankiw (2010), menjadi alasan suatu negara menjadi lebih kaya dan meningkatkan standar kehidupannya. Model paling familiar adalah Y = C + I + G + (X-M) atau PDB merupakan fungsi dari konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan net ekspor (ekspor dikurangi impor).

Saat ini, pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama kesejahteraan masyarakat banyak mendapat kritikan. Alasan pertama adalah pertumbuhan ekonomi tidak mewakili rakyat secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi tumbuh ya, tapi siapa yang tumbuh? Orang miskin yang menjadi kaya atau orang kaya yang semakin kaya?

Tak semua manfaat pertumbuhan ekonomi terdistribusi secara merata. Pertumbuhan GDP riil seringkali disertai dengan melebarnya gap pendapatan dan ketidakadilan dalam kesejahteraan di masyarakat, dicerminkan oleh bertambahnya kemiskinan (baik rakyat miskin atau juga hampir miskin).

Koefisien gini adalah salah satu cara untuk mengukur pemerataan tersebut. Semakin besar angka koefisien gini, maka semakin besar pula ketidakmerataannya. Dua negara yang menjadi contoh adalah China dan India. Di antara 1990-2012, China mengalami tingkat pertumbuhan 10,2% dan dalam periode yang sama ketidakmerataan tersebut meningkat 1,6% (koefisien gini) per tahun. Dalam periode itu, India mengalami pertumbuhan 6,6%, namun koefisien gininya semula 0,325 pada 1993 menjadi 0,37 pada 2010.

Hal ini terjadi karena ada pemisahan yang jelas antara perkotaan dan pedesaan. Di banyak negara berkembang, ada dua struktur ekonomi yang terbangun. Ekonomi perkotaan didasarkan pada modernisasi manufaktur dan jasa, dan pedesaan yang didominasi oleh cara-cara tradisional.

Hal yang sama juga dialami oleh Indonesia. Perkotaan, Jawa dan Sumatra, menyumbang kontribusi 58,65% dan 21,69% PDB semester I 2017. Hal ini mencerminkan betapa tidak meratanya perekonomian Indonesia dilihat dari regionalnya saja. Hampir 80% PDB hanya ada di 2 pulau.

Dilihat dari pengeluaran, pertumbuhan ekonomi 5,01% pada semester I 2017 disumbang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 2,65% dan konsumsi pemerintah 1,69%. Ini menunjukkan bahwa arah fiskal kita berada di sisi konsumsi/permintaan.

Ada argumen bilang, tidak meratanya distribusi PDB (kaya makin kaya) itu tidak apa-apa juga, karena si kaya akan makin banyak membayar pajak yang kemudian menjadi belanja pemerintah untuk membangun infrastruktur dan pelayanan umum. Argumen kedua bilang, pertumbuhan dengan kontribusi konsumsi itu tidak apa-apa juga, karena konsumsi mencerminkan daya beli masyarakat yang tinggi.

Argumen-argumen seperti ini sepintas benar, namun pada kenyataannya, berbahaya. Seperti ucapan mantan ketua Bappenas yang bilang tidak apa-apa harga naik, asal daya beli meningkat. Ini artinya, inflasilah yang terjadi. Saya tadinya bergaji 1 juta bisa buat beli permen 100. Harga permen naik 3 kali lipat, sehingga saya butuh 3 juta. Gaji saya naik 3 juta, tetap bisa beli permen 100. Apakah pertumbuhan ekonomi terjadi? Ya. Tapi pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi seperti ini tidak ada gunanya, bukan?

If demand races ahead of aggregate supply the scene is set for rising prices – many of the faster-growing countries have seen a trend rise in inflation – this is known as structural inflation

Lalu siapa yang menderita jika ini terjadi? Orang menengah ke bawah yang peningkatan daya belinya berada di bawah angka inflasi atau bahkan nggak bisa meningkatkan harkat daya belinya. Sehingga hasilnya, pasti kemiskinan akan meningkat.

Hal kedua, pertumbuhan ekonomi adalah hasil dari kapitalisme. Ada praktik kanibal di sana. Globalisasi yang tadinya menguntungkan negara maju kini berbalik memakan negara maju. Kita bisa lihat hal ini dari angka pertumbuhan ekonomi negara maju yang relatively berada di bawah 2% sementara negara berkembang dan emerging countries berada di angka 4-6%. Kenapa ini bisa terjadi?

Untuk dapat angka pertumbuhan ekonomi yang bagus, sebuah negara harus terus membangun. Pertumbuhan ekonomi tidak mengenal efisiensi. Kalau pemerintah berhemat atau berhenti membangun, maka kontribusi ke G (atau ke konsumsi pemerintah dan PMTB) akan berkurang.

Bumerang globalisasi tadi pun terjadi karena dulu negara-negara maju yang mampu menginvasi perdagangan di negara berkembang. Sekarang, sebaliknya, negara berkembang yang mengekspor komoditas dan mampu memproduksi barang-barang karena tenaga kerja yang lebih murah dan sumber daya alam yang memadai, membuat secara biaya, barang-barang dari negara-negara yang tadinya berkembang jauh lebih murah dan diterima oleh konsumen.

Kanibalisme pertumbuhan ekonomi adalah kanibalisme perdagangan internasional sehingga siapa yang mampu merebut konsumen suatu negara akan tinggi pertumbuhan ekonominya. Makanya, Donald Trump menyadari hal itu dan membuat tren proteksionisme negara dari perdagangan, karena bila sudah terperosok menjadi konsumen, maka suatu negara akan menjadi konsumen selamanya. Susah untuk bangkit kembali.

Dengan fakta-fakta itu, sebenarnya tak salah jika kita bilang, pertumbuhan ekonomi sudah masa lalu atau cuma angka makroekonomi saja. Pertumbuhan ekonomi tak pernah menggambarkan secara riil keadaan rakyat.

Tabik.

 

 

Memahami Nota Keuangan RAPBN 2018

Asumsi Dasar Makro Ekonomi 2018

Nota keuangan menjadi gambaran mengenai prospek ekonomi tahun depan. Dalam Nota Keuangan mencakup target pertumbuhan ekonomi, sasaran inflasi, proyeksi nila tukar, dan proyeksi harga minyak dunia. pemerintah juga menjabarkan mengenai target penerimaan perpajakan serta indikator lainnya.

Belanja Negara

Rancangan APBN 2018 masih bersifat ekspansif. Simpelnya, belanja dianggarkan lebih besar dari tahun sebelumnya sebagai stimulus fiskal untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%. Angka 5,4% ini sebenarnya dinilai ambisius, mengingat ketidakpastian global masih menghantui perekonomian. Sebagai perbandingan, realisasi pertumbuhan ekonomi semester pertama saja hanya 5,01%. Ketidakpastian global ini akan memicu volatilitas harga komoditas yang menjadi bagian ekspor terbesar kita. Jika harga komoditas turun, dipastikan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan akan sulit dicapai.

Anggaran belanja pemerintah pusat menurut fungsinya pada RAPBN 2018 naik ~100 triliun sebesar menjadi Rp1.443,2 triliun dari APBN 2017 sebesar Rp 1.343,0 triliun. Alokasi anggaran pemerintah pusat yang terbesar adalah fungsi pelayanan umum yaitu 30,3% dari total anggaran fungsi. Sisanya sekitar 69,7% tersebar pada fungsi-fungsi lainnya, yakni pertahanan, ketertiban dan keamanan, ekonomi, perlindungan lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata, agama, pendidikan dan perlindungan sosial.

Peningkatan signifikan terjadi di fungsi pelayanan umum, pariwisata dan ekonomi. Dalam RAPBN 2018, anggaran untuk fungsi layanan umum naik dari Rp347,4 triliun menjadi Rp437,9 triliun pada tahun depan. Anggaran belanja pariwisata tercatat meningkat dari Rp3,34 triliun menjadi Rp7,45 trilun. Sementara itu, anggaran belanja pemerintah pusat untuk fungsi ekonomi naik menjadi Rp344,4 triliun dari APBN 2017 sebesar Rp323,4 triliun.

Pendapatan Negara yang Realistis?

Realisasi penerimaan pajak semester I 2017 sebesar Rp482,6 triliun atau 37,95 persen dari target. Realisasi ini naik 8,2% dari tahun lalu. Tapi kenaikan ini juga karena ada faktor Tax Amnesty tahap III di awal tahun.

Dalam RAPBN 2018, pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp1.878,4 triliun, terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.609,4 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp267,9 Triliun dan penerimaan hibah sebesar Rp1,1 triliun.

Dalam APBN-P, target penerimaan pajak hanya sebesar 1472,7 T. Penambahan target 9,7% ini, saya tidak tahu apakah feasible atau tidak. Ataukah justru kita akan memulai lagi perhitungan shortfall kita tahun demi tahun.

Pengelolaan pembiayaan yang terukur dan terjaga

Poin ini juga sangat penting. Dalam RAPBN tahun 2018 defisit diperkirakan mencapai Rp325,9 triliun (2,19 persen PDB) atau turun dibandingkan outlook APBN Perubahan tahun 2017 sebesar 2,67 persen terhadap PDB.

Hal yang perlu dilihat bukan hanya angka defisit dalam satu tahun berjalan, tetapi defisit hariannya yang memungkinkan pembiayaan meleset jauh dari defisit satu tahun. Sebagai contoh, selisih antara pembiayaan dan defisit anggaran pada tahun 2016 saja mencapai 30 triliun. Artinya, kita melakukan pembiayaan lebih dari defisit/utang yang dibutuhkan yang diakibatkan oleh pengelolaan yang kurang baik.

 

Puisi | Membaca Koran

Ketika kubaca koran pagi ini, kutemukan tubuhmu terpanggang

di sebuah halaman. Aku tak sanggup terlalu lama memandang

jasadmu yang hangus itu.

Aku hanya bisa menunggu pemadam datang,

memadamkan api yang masih menyala-nyala, dan menghindari orang-orang

yang setia menjadi penonton.

Aku bukanlah seorang penonton yang baik.

Aku tak bisa menangis, tertawa, atau juga bertepuk tangan.

Setelah api bersedia pergi, kau telah sulit dikenali.

Bahkan tanda pengenalmu, yang hanya berupa kertas dilaminating

juga ikut terbakar. Sidik jarimu–

upaya sia-sia untuk mengetahui identitas. Tinggal nanti,

pasti ada yang datang menangis, meraung-raung

menyebut cinta dan harapan yang pernah kau titipkan itu

tidak pernah lebih khianat dari negara yang mengkhianati bangsanya.

 

Ketika kubaca koran pagi ini, aku belum tahu di mana

nanti kau akan dimakamkan.

Barangkali orang-orang yang mengenalmu ingin Kalibata.

Tapi, bahkan tanah pemakaman di Jakarta sulit terbeli.

 

Bukan Mahasiswa Saya, Cerpen Budi Darma

SAYA yakin tidak pernah mempunyai mahasiswa bernama Abidin. Karena itu, setelah sekian kali Abidin menghubungi saya melalui HP, disusul SMS, dan akhirnya disusul WA, saya tetap yakin orang yang menamakan diri Abidin ini tidak pernah menjadi mahasiswa saya. Tapi, setelah dia nekat menelepon dengan video call, barulah saya ingat bahwa wajah ini pernah saya kenal entah kapan dan entah di mana.
Pada suatu hari Minggu, ketika saya biasanya bangun lebih siang daripada biasanya, orang yang menamakan diri Abidin ini menelepon saya dengan video call lagi.
’’Maaf, Pak, sekarang saya di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Sebentar lagi saya akan terbang ke Surabaya, khusus untuk menemui Bapak.’’ Suara Abidin ditimpali pengumuman penggawa bandara agar semua penumpang segera masuk ke pesawat.
Dalam keadaan masih mengantuk, saya segera mandi.
Satu setengah jam kemudian ada taksi datang, dan turunlah Abidin dari taksi. Dengan sikap sangat sopan dan hormat, dia memohon maaf karena telah berkalikali menghubungi saya dan mengaku-aku sebagai bekas mahasiswa saya.
Setelah berbasa-basi sebentar dia mengaku bahwa dia memang bukan mahasiswa saya. Dengan permohonan maaf dia menyatakan bahwa dahulu sebetulnya dia mahasiswa MIPA jurusan matematika. Dan, karena dia tertarik sastra, khususnya sastra dunia, dia sering menyelundup ke kelas saya. Setiap kali menyelundup dia memilih deretan tempat duduk di belakang, selalu menunduk, supaya bisa memberi kesan bahwa dia tidak ada.
Waktu itu saya mengajar di S-1, mahasiswanya banyak, dan ruangan kelasnya terbatas. Karena itu, dua kelas mahasiswa kadang-kadang harus dijejal dalam satu ruangan kelas besar. Kehadiran Abidin, dengan demikian, tidak saya ketahui.
Lalu, dengan agak mewek-mewek karena terharu, dia mengatakan bahwa dia sudah lulus S-2 matematika di Kanada, dan juga sudah lulus S-3 matematika di Jerman. Dengan gaya sangat tawaduk dia mengatakan, baik di S-2 maupun di S-3 dia lulus dengan predikat cum laude. Setelah lulus S-3 dia bekerja di Jerman, kemudian pindah ke Belanda, dan akhirnya memutuskan untuk bekerja di Jakarta.
Selama bekerja di Jakarta dia sering mendapat tugas untuk bepergian ke luar negeri, tapi dia tetap memakai SIM card Indonesia. Karena itulah, semua pesan kepada saya tidak tampak tanda-tanda dia sedang di Vietnam, India, Brussel, Amsterdam, Paris, dan entah mana lagi.
Hari itu juga, Minggu, dia khusus datang ke Surabaya untuk menemui saya, sebab malam nanti, hari Minggu itu juga, dia akan terbang ke Amerika.
Setelah mengucapkan permohonan maaf dan terima kasih berkali-kali sampai saya agak risi, dia bertanya, ’’Mohon maaf, Pak, apakah Bapak pernah mendengar nama Maryam Mirzakhani?”
’’Perempuan kelahiran Iran, hijrah ke Amerika, pemenang fields medal mathematics?”
’’Ya.’’
Fields medal mathematics setara dengan nobel prize untuk fisika, ilmu kedokteran, ekonomi, kimia, fisika, perdamaian, dan sastra. Nobel prize diberikan setiap tahun, sedangkan fields medal mathematics diberikan manakala ada pakar matematika yang benar-benar menonjol. Kalau perlu, selama beberapa tahun tidak ada satu orang pun yang dianggap layak menerima fields medal mathematics.
Pada waktu sekolah, Maryam dibenci guru-gurunya karena dia tampak bodoh, dungu, goblok, dan agak terbelakang. Setiap kali mengerjakan apa pun dia pasti terlambat. Berbeda dengan teman-temannya, dia suka menyendiri, melukis, membaca puisi, dan membaca novel.
’’Maaf, Pak, pada waktu saya menyelundup ke kuliah-kuliah Bapak, saya tidak mengenal nama Maryam, tapi kemudian saya sadar, seperti Maryam, saya suka menggambar, membaca puisi, dan membaca novel. Karena itulah saya sering menyelundup ke kelas Bapak. Sebetulnya saya ingin juga menyelundup ke kelas seni rupa, tapi saya selalu diusir. Maklumlah, mahasiswa seni rupa kan banyak praktik, kalau saya menyelundup, pasti ketahuan.’’
Lalu dia mengaku, andaikata dulu tidak menyelundup ke kelas saya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Ketika dia kuliah S-2 di Kanada, dia sering teringat kuliah-kuliah saya. Demikian juga ketika dia menyelesaikan S-3 di Jerman. Mengapa dia dapat dengan mudah memenangkan beasiswa S-2 dan S-3, tidak lain, kata dia, karena dia sering teringat kuliah-kuliah saya.
Bukan hanya itu. Kuliah-kuliah saya dulu, kata dia, juga memperlancar pekerjaannya, dan karena itulah dia sering mendapat promosi dan tempat-tempat yang bagus. Dia masih ingat, dalam kuliah, saya sering menekankan hubungan erat antara sastra, estetika, dan psikologi. Barang siapa banyak membaca karya-karya besar sastra, dengan sendirinya akan memiliki insting untuk mengetahui masalah kejiwaan lawan bicaranya. Meskipun saya mengajarkan sastra dunia dengan bahasa Inggris, kadang-kadang saya juga membicarakan beberapa nilai filsafat Indonesia, antara lain kemampuan meramal Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam tembang-tembangnya, dan pendirian Ki Ageng Suryomentaram mengenai seni kebahagiaan hidup.
Setelah mengobrol tentang pengalamannya menyelundup di kelas saya, dengan nada ragu-ragu dia bertanya, ’’Maaf, Bapak, bolehkah saya mengeluarkan pendapat saya? Tapi saya malu. Saya takut pendapat saya ngawur.’’ Dia menyatakan, sastra yang dianggap sebagai sastra dunia sekarang sangat mengecewakan. Sastra dunia, itulah salah satu mata kuliah saya dulu. Ada beberapa contoh, misalnya, kata dia, novel Orhan Pamuk, novel Najib Mahfudz, novel Adiga, novel Khaled Hosseini, dan yang terbaru novel Han Kang. Novel Orhan Pamuk, setidaknya yang pernah dia baca, terlalu berbelit-belit. Novel Najib Mahfudz yang pernah dia baca, yaitu Pencopet dan Para Begundal, mirip novel thriller. Daripada membaca Pencopet dan Para Begundal, kata dia, lebih baik membaca novel-novel Sidney Sheldon sekalian. Sidney Sheldon tahu bahwa dia tidak lain adalah pengarang thriller, karena itu Sidney Sheldon, kata Abidin pula, tidak perlu berpura-pura menulis novel sastra kelas atas. Dalam novel Adiga, kata Abidin, tokoh sentralnya sadar bahwa dia korban kemiskinan, dan karena itulah dia membenci kelas atas, apalagi yang sombong, sampai akhirnya dia membunuh juragannya. Itulah napas novel Adiga, White Tiger.
Andaikata tidak ada Taliban di Afghanistan, Hosseini tidak mungkin mampu menulis novel The Kite Runner. Situasi yang sangat buruk dan penderitaan tanpa tara di Afghanistan akibat ulah Taliban dimanfaatkan oleh Hosseini.
Perempuan dalam novel Han Kang The Vegetarian menjadi sinting, atau tambah sinting, karena ayahnya, veteran perang Vietnam, suka menyiksa, kasar, dan kata-katanya juga jorok dan menjijikkan. Andaikata ayahnya tidak begitu, mungkin tokoh utamanya hidup normal
’’Maaf, Bapak, saya bukan siapa-siapa. Dan saya hanya membaca satu novel karya mereka. Mungkin kebetulan yang saya baca bukan novel terbaik mereka. Tapi novel terburuk mereka yang punya nama besar itu.’’
’’Lalu, novel siapa yang baik?’’ tanya saya. ’
’Novel yang tidak menyalahkan siapa-siapa. Tokoh utama Dostoevsky dalam Notes from Underground sinting karena memang dia sinting. Dia tidak menuduh siapa pun sebagai kambing hitam kesintingannya. ’’Cerpen Edgar Allan Poe The Tell-Tale Heart bercerita tentang kekejian ’aku’ karena ’aku’ sendiri, tanpa kambing hitam kehidupan keluarganya, kemelaratannya, dan entah apa lagi. Dalam noveletnya Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue, tokoh bernama Dupin jatuh miskin juga karena dia jatuh miskin, tanpa menyalahkan siapa pun. Hidupnya biasa-biasa saja, pikirannya tetap cemerlang, tanpa kambing hitam kemiskinan.’’
Didahuluinya dengan ’’maaf, saya bukan siapa-siapa,’’ Abidin memberi banyak contoh lain. Dengan permintaan maaf, saya tidak bisa memberi pendapat mengenai pendapatnya. Perhatian saya lebih tertarik pada Abidin sebagai pakar matematika, bukan Abidin sebagai pembaca sastra kelas atas. Dan lebih dari itu, saya lebih tertarik pada Abidin sebagai manusia. Saya teringat zaman Pak Harto masih berkuasa. Selama menjadi presiden dalam jangka waktu tiga puluh dua tahun, adalah masuk akal apabila Pak Harto sering mengganti pejabat-pejabat tinggi negara. Salah satu jaksa agung dalam pemerintahan Pak Harto, saya ingat, bernama Sukarton, lengkapnya Sukarton Marmosujono SH. Ketika masih menjadi mahasiswa fakultas hukum Universitas Gadjah Mada, Sukarton sering kelayapan ke kampus lain, yaitu ke fakultas sastra dan kebudayaan. Mengapa? Karena dia jatuh cinta pada Lastri Fardani, mahasiswa sastra barat fakultas sastra dan kebudayaan. Akhirnya Sukarton berhasil menikah dengan Lastri Fardani, dan Lastri Fardani juga bisa menyalurkan kegemarannya menulis untuk majalah wanita. Tidak lama setelah lulus S-1 Sukarton menikah, sementara Abidin sampai sekarang masih jomblo. Dan seperti tokoh dalam novel-novel yang dia kagumi, dia jomblo tanpa menyalahkan siapa pun. Kalau jomblo dianggap sebagai kesalahan, maka kesalahan itu terletak pada dirinya sendiri. Tampak Abidin ingin mengemukakan sesuatu, tapi dapat menahan diri. Akhirnya dia saya ajak ke mall untuk makan, dan sesudah makan dia saya antar ke Bandara Juanda. Ketika semua penumpang diminta untuk masuk paling lama sepuluh menit lagi, Abidin tampak ingin menangis menahan perasaan haru.
’’Abidin, kamu memendam rahasia. Katakan apa yang kamu ingin katakan.’’
’’Bapak tahu di mana Maryam Mirzakhani bekerja?’’
’’Stanford University di California, Amerika.”
’’Saya mendapat pekerjaan di sana, Bapak.”
’’Selamat, Abidin. Tidak semua orang bisa menjadi dosen dan peneliti di Stanford.’’
Stanford adalah nama orang kaya, murah hati, dan gaya hidupnya sangat sederhana. Bersama istrinya, Stanford mendatangi sebuah universitas tua dan terkenal, yaitu Harvard University di New England, untuk memberi donasi dalam jumlah besar. Tapi karena penampilannya seperti orang melarat, dia dan istrinya diusir. Tidak ada satu orang pun yang percaya bahwa Stanford dan istrinya benar-benar kaya. Meskipun dihina, hati mereka tetap mulia. Mereka ingin melihat anak-anak muda mendapat pendidikan yang baik, dan karena itulah akhirnya mendirikan sebuah universitas, Stanford University di California, sebuah negara bagian yang jauh letaknya dari New England.
’’Apakah Bapak tahu keadaan Maryam Mirzakhani?’’
’’Sudah lama dia berjuang melawan kanker,’’ kata saya.
Waktu sudah habis, dan Abidin terpaksa meninggalkan saya. Setelah saya yakin pesawat Abidin sudah terbang, saya masuk ke kedai, memesan teh. Saya membuka HP, langsung menuju ke Fox News. Berita terbaru: Maryam Mirzakhani, empat puluh tahun, dalam keadaan kritis. Malam harinya saya membuka Fox News lagi, dan dari berita inilah saya tahu bahwa Maryam Mirzakhani, tokoh matematika yang sangat terkemuka, sudah meninggalkan dunia fana. ***
Budi Darma, sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya. Karyanya, antara lain, Olenka (novel) dan Orang-Orang Bloomington (kumpulan cerpen).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Darma
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu  20 Agustus 2017

Tarom, Cerpen Budi Darma

AGEN saya tahu, setiap kali saya pergi ke Frankfurt, Jerman, saya tidak mau transit di bandara mana pun, selain bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ada dua teman di bandara ini, yaitu Manfred pemilik restoran dan Gertrude, pramugari darat.
Pada waktu saya berkunjung ke restoran Manfred untuk pertama kali beberapa tahun lalu, dia mengajak saya bersalaman erat, lalu berbisik: ”Ibu kamu pasti orang Jerman. Ayah kamu pasti orang Asia Tenggara.”

Laki-laki anak ibu Jerman dan ayah Asia Tenggara pasti mirip ibunya, sedangkan anak perempuan pasti mirip ayahnya. Dan memang, kulit saya putih, mata saya biru, dan setiap kali saya ke Jerman, kebanyakan orang menganggap saya orang Jerman.

Karena saya tidak membantah, maka setiap kali saya singgah di restorannya, pasti dia memberi sauerkraut, salad khas Jerman, gratis. Setelah mengetahui nama saya Tarom Wibowo, wajahnya berbinar-binar, lalu mengajak saya masuk ke ruang kecil di bagian belakang restoran.

”Lihat, Tarom, saya punya buku kamu.”

Dia mengambil buku New Paradigm of Psycho-Hatred, buku saya mengenai lika-liku kejiwaan tokoh-tokoh besar, dengan data dari berbagai negara, termasuk Jerman.

”Buku hebat,” katanya. ”Maaf, saya belum pernah membaca novel kamu.”

Setelah mengobrol sebentar, dia berbisik: ”Di sini ada gadis Jerman, Gertrude namanya. Pramugari darat. Kalau mau dia bisa menjadi pramugari udara. Terbang ke mana-mana. Seperti saya, dia malu jadi orang Jerman.”

Dia berbisik lagi: ”Kamu pasti suka Gertrude. Cantik. Dan ingat, dia pengagum penulis hebat bernama Tarom Wibowo. Dia tahu kamu bukan psikolog. Tapi, insting psikologimu benar-benar hebat.”

Begitu dipertemukan dengan Gertrude, saya agak gemetar, agak bingung, karena itu memilih untuk diam, dan tampaknya perasaan Gertrude sama. Kami berjabat tangan sampai lama, telapak tangan dia dan telapak tangan saya sama-sama berkeringat dan sama-sama malas untuk saling melepaskan pegangan. Tapi, perasaan aneh merambat perlahan-lahan dari tangan dia, menyusupi tangan saya. Hawa panas bercampur hawa dingin. Dan begitu saya menatap wajahnya, saya agak merinding, lalu dia menunduk, tampak malu.

Perasaan saya tidak enak, dan saya putuskan untuk tidak bertemu dengan dia lagi. Ternyata, begitu saya masuk ke ruang tunggu penumpang, pesan dia melalui WA masuk. Begitu membuka telepon genggam setelah saya mendarat di Frankfurt, pesan dia masuk lagi, bukan hanya satu, tapi beberapa. Selama beberapa hari saya di Frankfurt untuk mengurus jual beli hak cipta sekian banyak pengarang dari berbagai negara, pesan Gertrude datang bagaikan banjir.

Dan ketika pesawat saya transit lagi di Abu Dhabi untuk kemudian disambung penerbangan ke Surabaya, Gertrude sudah menunggu, lalu mengajak saya ke ruang tunggu khusus.Perhatian dia lebih tertarik pada Berlin sebagaimana yang saya gambarkan dalam beberapa buku saya dibanding dengan cerita saya mengenai Frankfurt.

”Kalau kamu ke Berlin, ajaklah saya. Tunjukkanlah tempat-tempat yang kamu tulis dalam buku-buku kamu. Dan kalau kamu pulang, saya ikut ke Surabaya.”

Selanjutnya pesan demi pesan berdatangan terus, disertai kutipan lirik lagu ”Imagine” The Beatles, ”You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one.

***

SEPERTI biasa, ketika akan ke Frankfurt lagi, agen saya tidak pernah bertanya saya ingin naik pesawat maskapai apa asalkan singgah di Abu Dhabi.

Agen saya memilih Angel Air, sebuah maskapai penerbangan baru, berdiri sekitar tiga tahun lalu. Semua orang penting di Angel Air perempuan, sisanya, pekerjaan kasar, diserahkan kepada laki-laki. Mungkin Angel Air percaya, perempuan punya otak dan modal laki-laki hanyalah otot.

Nama pilot dan kopilot sudah beberapa kali saya simak melalui berbagai media. Saya belum pernah bertemu mereka, tapi andaikata bertemu, pasti saya mengenal mereka. Pilot bernama Awilia, ayahnya dokter umum dan ibunya dokter mata terkenal, kopilot bernama Azanil, ayahnya dokter umum dan ibunya dokter jantung terkenal. Sejak zaman mahasiswa, empat calon dokter ini sudah bersahabat, dan ketika sudah menjadi dokter mereka bekerja di rumah sakit yang sama.

Awilia lahir jam 10:15, Azanil lahir pada hari dan tanggal sama, jam 10:18, di rumah sakit yang sama pula. Umur mereka terpaut tiga menit, dan setelah besar Awilia memperlakukan Azanil sebagai sahabat muda, dan Azanil selalu ingin dijadikan nomor dua. Sejak TK sampai dengan SMA mereka selalu bersama-sama, dan setelah lulus SMA mereka sama-sama menentang keinginan orangtua mereka untuk menjadi dokter. Alasan mereka sama: pada zaman dahulu kala, terceritalah ada dua sahabat karib, yang laki-laki genius tapi homo bernama Leonardo da Vinci, dan yang perempuan luar biasa cantik, Monalisa namanya. Sambil melihat burung-burung beterbangan, berkatalah Leonardo: ”Monalisa, lihatlah burung-burung itu. Pada suatu saat, manusia pasti bisa terbang seperti burung.” Monalisa tidak percaya, tersenyum, tanpa berkata apa-apa.
Awilia dan Azanil sama-sama mengirim lamaran ke Akademi Penerbangan Airbus di Toulouse, Perancis, sama-sama diterima, dan lulus juga bersama-sama, masing-masing dengan nilai tinggi. Setiap terbang mereka tidak mau dipisah, dan meskipun Awilia ingin gantian menjadi kopilot, Azanil selalu menolak. ”Yang muda harus menghargai yang tua,” katanya bergurau.

Setelah pesawat mencapai 15.000 kaki, seorang pramugari memberi saya kertas kecil.

”Selamat terbang bersama kami pengarang Tarom Wibowo. Kita nanti bertemu di Abu Dhabi.”

Saya tidak tahan menahan kantuk. Ada banyak kontrak dan jual beli hak cipta dari sekian banyak pengarang dan penerbit yang harus saya urus di Frankfurt nanti, dan ada banyak pula buku yang harus saya baca, khususnya buku Rochus Misch, bekas pengawal pribadi Hitler, mengenai kematian Hitler. Saya tertidur.

Buah tidur adalah mimpi: ibu saya bercerita mengenai bangsa Jerman dan bangsa Jepang, dua bangsa besar dan sama-sama tololnya. Bangsa Jerman sangat setia kepada manusia bernama Hitler, dan bangsa Jepang sangat patuh pada keturunan Dewi Matahari, yaitu Kaisar Hirohito. Karena ketololannya, atas hasutan Hitler, bangsa Jerman dengan penuh semangat merusak dunia, demikian pula bangsa Jepang, bukan oleh hasutan manusia.

Ingat, kata ibu saya, dalam PD I Jerman dikalahkan oleh Jepang, dan semua tawanan perang Jerman diperlakukan dengan sangat baik oleh Jepang, bahkan lebih baik daripada serdadu Jepang sendiri.

Perang antara Jerman dan Jepang dalam PD I mirip dengan perang antara Indonesia dan Malaysia di perbatasan dua negara di Kalimantan setelah Bung Karno menyatakan perang melawan Malaysia dengan semboyan ”Ganyang Malaysia”. Serdadu Indonesia dan serdadu Malaysia pura-pura saling tembak, kemudian lari-lari menuju musuh, berangkulan erat, bertukar rokok, kemudian bergurau. Karena hanya pura-pura, perang ini dengan mudah diakhiri dengan perdamaian. Jepang dan Jerman pura-pura bertempur, tidak lain karena mereka bersiap-siap bersekutu untuk menghancurkan dunia dalam PD II.
Karena bangsa Jerman setia kepada manusia dan bangsa Jepang setia bukan kepada manusia, kesetiaan mereka berbeda. Dalam mimpi ini pula ibu saya membanggakan kesetiaannya kepada keluarganya, lalu meminta saya membaca majalah Femina tahun 1980-an, mengenai kesetiaan istri Jepang terhadap suami orang Indonesia. Istri Jepang sangat setia kepada suami, dan begitu anak dia sudah bisa dibawa lari, dia akan lari bersama anaknya, kembali ke Jepang, disembunyikan oleh keluarganya di Jepang. Ibu saya berbicara mengenai dua bangsa ini karena dia tahu saya pernah jatuh cinta kepada gadis Jepang dan sekarang mungkin kepada gadis Jerman.
Setelah terbangun, saya ingat cerita ibu saya mengenai pertemuan antara orangtua saya sebelum menikah. Hati ibu saya berkata, ayah saya mempunyai kemampuan terpendam, dan ternyata benar: begitu tahu ada pabrik akan bangkrut, ayah saya membelinya, memperbaikinya, kemudian menjualnya. Terakhir dia membeli pabrik smelting yang hampir bangkrut di Gresik, selama satu tahun memperbaikinya, kemudian menjualnya kepada orang India.
Sebelum menikah, ayah saya juga yakin, ibu saya mempunyai kekuatan terpendam: lidahnya tajam, begitu ada makanan masuk ke mulutnya, dia tahu rahasia pembuatannya. Buku masakan ibu saya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, dan dia sering diundang ke mana-mana, termasuk luar negeri, untuk berbicara mengenai masakan.
Ketika iseng mengambil majalah, saya terkejut: foto Gertrude terpampang di kulit sebuah majalah, dan di berbagai halaman di majalah-majalah lain. Dia dinobatkan sebagai pramugari darat terbaik di Negara-negara Teluk setelah juri dari berbagai negara menyimak bandara di Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, dan Qatar. Gertrude pemalu, pemilihan pramugari terbaik dan pemasangan fotonya pasti di luar kemauan dia.
Setelah menyimak fotonya, hati saya berkata, Gertrude pasti mempunyai rahasia terpendam, dan ada kesamaan antara Mandred dan Gertude. Menurut Gertude, Manfred keturunan serdadu Jerman yang suka menyiksa, merampok, dan memerkosa di negara-negara jajahan Hitler selama PD II. Dia malu menjadi orang Jerman, tapi kadang-kadang harus kembali ke Jerman karena ibunya di Jerman sering sakit.

Begitu turun dari pesawat, Amilia dan Azanil menemui saya, minta tanda tangan buku-buku saya, buku yang, kata mereka, menemani mereka dari bandara satu ke bandara lain. Dengan membaca novel-novel saya, terasa mereka bisa mengamat-amati lika-liku jiwa mereka sendiri.

Mereka mengajak saya ke ruang tunggu khusus, dan di sana Gertrude sudah menunggu. Dengan nada bercanda mereka mengatakan, sebagai pengarang hebat, pasti saya mampu mengangkat gejolak jiwa Gertrude dalam novel.

Setelah mereka pergi, dengan sangat hati-hati saya berkata kepada Gertrude mengenai kisah kematian Hitler. Setelah Hitler yakin kalah, dia dan banyak pengikut setianya bertekad bunuh diri bersama Hitler. Pada saat itulah, salah satu arsitek holocaust yang sangat keji dan seharusnya ikut bunuh diri bersama keluarganya melarikan diri.
Gertrude menunduk, lalu berkata: ”Saya tahu siapa dia. Martin Bormann namanya. Darah saya kotor. Saya keturunan Bormann.”

Pikiran saya melayang ke ibu saya. ***

Budi Darma, sehari-harinya bekerja sebagai Guru Besar Universitas Negeri Surabaya. Ia menerbitkan beberapa kumpulan esai, cerpen, novel, dan pernah mendapat penghargaan antara lain dari Balai Pustaka, Kompas, SEA-Write Award (Bangkok), Anugerah Seni Pemerintah RI, Satya Lencana dari Presiden Republik Indonesia. Karyanya yang masyhur dan banyak mendapat pujian adalah kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dan novel Olenka.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Darma
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 20 Agustus 2017