Puisi Pringadi Abdi Surya di Lombok Post, 30 Juli 2017

Sajak Pi

 

aku ingin belajar mencintaimu, tetapi tidak di

kehidupan ini

karena Waktu datang begitu terlambat

untuk mengenali betapa Cinta adalah dirimu;

 

sebuah Trans-Jakarta lewat, aku berharap Kau

menempuh jalan yang sama denganku, hanya

Kau diam, aku diam, mencoba menatapmu lebih dalam

 

aku tidak mencoba ke mana-mana, tetapi Kau pun

tidak mencoba ke dadaku, “Cinta mungkinlah

sebuah lelucon,” begitu pikiranku berkata sementara

 

aku telah kehabisan kata-kata meski sekadar

mengatakan aku telah jatuh cinta kepadamu.

 

 

***

 

dua hal yang aku sadari semenjak saat itu:

 

Perasaan adalah gerimis terakhir yang turun

sore hari, dan orang-orang menggerutu, membicarakan

api tanpa tungku, bulan biru, dirimu.

 

dan aku pelan-pelan berharap, di kehidupan yang lain

bus yang sama akan lewat, dan aku sempat

menggenggam tanganmu–dengan sangat erat.

 

 

 

 

 

Hujan dalam Sebuah Ingatan, 11

 

Hujan begitu deras dan telah mencapai mata kaki.

Aku menantang diriMu yang luluh oleh kesepian. Sementara

orang-orang telah lebih dulu membenci keramaian.

 

Ia yang berdiri di halte, membawa masa lalu di ranselnya.

Aku tak pernah membawa apa pun, Kau lah yang berpura-pura

memberikan aku sebuah dada yang tidak mampu memiliki

apa-apa. Kecuali air mata yang mengalir tanpa alasan.

 

 

Hujan dalam Sebuah Ingatan, 8

 

Aku memanggilmu, Kawan, ketika pada akhirnya gerimis itu

patah, mayat-mayat bergelimpangan di badan

jalan dan seorang lelaki menari telanjang, memamerkan dadanya

yang berlubang. “Inilah peluru akibat diriku yang terlalu setia

padaMu.”

Dan dia terbaring, tetapi bukan tidur, Kawan;*

 

Aku menantikan seseorang berteriak, memaki, memukul-mukul

kepalanya sendiri, tetapi begitu lengang hari itu,

dan pintu-pintu tak ada yang mengenali, jendela bertirai

Mereka yang terkulai seperti sampah yang dilempar

dari kaca mobil, melaju dengan kecepatan sedang di jalan tol itu;

 

Aspal merah. Pasti gerimis yang berdarah.

 

*Toto Sudarto Bachtiar, Pahlawan Tak Dikenal

 

 

 

 

 

Bom, Tuan Malna

: ulil

 

Tuhan belum mau kamu mati hari ini

karena Tuan Malna tidak mencintai kebebasan;

 

Hari itu, Tuan Malna sedang belajar merakit bom, “Ini

bom untuk orang munafik.” Ia menyobek kalender

dan menggunting lanskap langit yang cengeng.

 

Orang-orang cengeng sesungguhnya akan berlindung

di ketiak kekuasaan. Orang-orang munafik sesungguhnya

akan menggunakan kebebasan sebagai alasan.

 

Jam berdentang dua kali dan pintu diketuk,

Tuan Malna masih duduk memikirkan cara yang tepat

untuk meledakkan kepala Ulil.

 

“Mana yang lebih Tuan benci: polisi atau politisi?”

Sang Tamu bertanya limbung, Tuan Malna juga bingung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mary Tinggal di Luar Rumah Saban Malam

: moon geun young

 

Sebuah rumah tanpa ibu membuat ia harus menghitung

sampai sepuluh. Ia terbiasa berpura-pura tidak punya air mata

dan memamerkan kelerengnya yang tinggal dua butir. Setiap

malam, ia menunggu ketukan pintu dan seorang pemusik

akan meniupkan seruling tanpa berbasa-basi.

Hidup seperti drama. Hidup seperti televisi 14 inchi. Hidup

tidak mungkin sebuah kenyataan. Ia meyakini itu dan terus

berpura-pura memiliki suami, memiliki cinta, dan mampu

membohongi siapa saja. Termasuk Tuhan yang bersembunyi

di dalam cermin.

:

Sebuah rumah tanpa ibu membuatnya memilih tinggal di

luar setiap malam dan menyembunyikan kunci rumahnya

di bawah pot bunga yang tak pernah lagi disirami.

 

 

Kondisi Bila Indonesia Tidak Berutang

Viral tentang Indonesia Darurat Utang ini sebenarnya harus dihadapi dengan terbuka. Tidak mudah memang memberikan pemahaman bagi masyarakat umum tentang utang dari sudut pandang manajemen keuangan publik. Tulisan ini adalah versi beta dari versi lengkap di kemudian hari, tentang bagaimana sih kondisi Indonesia jika tidak berutang? Bisa nggak sih Indonesia lepas dari utang?

Asumsi yang saya gunakan dalam simulasi ini adalah outlook realisasi APBN 2017, ceteris paribus, semua asumsi terpenuhi, meski pada kenyataannya dalam beberapa tahun terakhir penerimaan pajak selalu shortfall.

Outlook defisit anggaran kita adalah 2,67% terhadap PDB atau sekitar 362,9 T, meski dalam RAPBN-P asumsi defisit mencapat 2,92% atau sekitar 397,2 T dan realisasi pembiayaan > realisasi defisit, yang artinya, kita berutang lebih banyak dari defisit yang terjadi akibat adanya selisih antara penerimaan dan pendapatan per harinya.

Karena kita tidak berutang, kita buang angka 362,9 T tersebut. Tersisalah pendapatan negara dan penerimaan hibah sebesar total 1717,2 T.

Bisa apa kita dengan 1717,2 T?

Total belanja kita adalah 2111,4 Triliun dalam APBN-P 2017 dengan outlook 2077,0 setelah penghematan belanja. Rencana belanja infrastruktur (belanja modal fisik) adalah sekitar 378 T. Jika dikurangkan angka itu dari belanja, sisanya 1699 T.

Artinya, setelah melunasi semua belanja, dari belanja pegawai, belanja barang, bantuan sosial, dll… hanya tersisa uang 18,2 Triliun untuk ruang fiskal (dalam hal ini infrastruktur).

Jadi sebagai rakyat, kita tak boleh kelewatan banyak menuntut karena 18,2 T paling bisa untuk membuat 1 proyek infrastruktur yang besar, atau beberapa proyek skala menengah saja.

Siapkah kita hidup qonaah, bebas utang, bebas riba?

(Eh jangan lupa, dalam 1717,2 T itu, kita harus melunasi cicilan bunga utang 250 T per tahun. Terus yang dikorupsi berapa?)

 

Gaes, jadi pemerintah itu nggak mudah. Susah banget memilih kebijakan buat memuaskan semua rakyat.

 

 

Kereta Pagi

Tahukah kau apa yang lebih menyeramkan dari sekawanan pemabuk yang baru saja kehilangan kerabatnya yang terbunuh karena mempertahankan tanah tempat ia berpijak? Aku akan bilang, para binatang pekerja yang berumah di sekitar Bogor dan bekerja di Jakarta, yang antre menunggu kereta datang, lebih tak berprikemanusiaan dibandingkan mereka.

Setiap pagi pada hari kerja, aku harus menghadapi bahaya itu. Bahaya yang lebih mengancam bukanlah pada saat berebut naik kereta, namun pada saat berada di dalam kereta, ketika para binatang di stasiun berikutnya mendesak masuk ke dalam gerbong yang sudah penuh. Kadang kubayangkan akan ada bunyi kraak yang dramatis yang berasal dari patahnya tulang seseorang, meski paling sering hanya bunyi desahan orang-orang yang mengeluh menghadapi situasi sesulit itu.

Kereta berjalan, sebagian besar orang menunduk sambil melihat layar ponsel pintar yang membuat orang-orang semakin bodoh. Yang duduk, pura-pura tertidur, agar nanti jika ada orang tua, perempuan hamil, mereka tak jadi orang pertama yang diminta berdiri menyerahkan tempat duduknya. Tempat duduk itu sudah seperti kursi kekuasaan yang berat sekali untuk dilepaskan. Aku pikir orang-orang seperti itu pernah mencalonkan diri menjadi anggota dewan, namun tak kesampaian.

Aku adalah seekor binatang pekerja. Hidup seperti ini, aku tak tahu, apa yang sebenarnya kuharapkan? Tapi itulah bedanya binatang dengan manusia. Binatang tak punya akal budi. Aku tak ingin memikirkan semua itu karena hanya dengan demikianlah perutku terisi.

 

 

Cerpen Haruki Murakami: Kucing Pemakan Manusia

Oleh Haruki Murakami

Cerpen Haruki Murakami

Aku membeli koran di pelabuhan dan menemukan sebuah artikel tentang seorang wanita tua yang dimakan kucing. Ia berusia tujuh puluh tahun dan tinggal sendirian di kota kecil pinggiran Athena—semacam kehidupan yang tenang, hanya ia dan tiga ekor kucing dalam sebuah apartemen kecil. Suatu hari, ia tiba-tiba jatuh pingsan dengan posisi tertelungkup di sofa—serangan jantung, kemungkinan besar. Tak ada yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga ia meninggal dunia setelah pingsan. Wanita tua itu tidak memiliki kerabat atau teman yang mengunjunginya secara teratur, dan diperlukan satu minggu sebelum tubuhnya ditemukan. Jendela dan pintu ditutup, dan kucing terjebak. Tak ada makanan di dalam apartemen itu. Memang, mungkin ada sesuatu di lemari es, namun kucing tidak berevolusi sampai titik di mana mereka bisa membuka lemari es sendiri. Di ambang kelaparan, mereka akhirnya melahap daging tuan mereka.

Aku membaca artikel ini untuk Izumi, yang duduk di depanku. Pada hari-hari cerah, kami biasanya berjalan ke pelabuhan, membeli salinan koran Athena yang berbahasa Inggris, memesan kopi di kafe sebelah kantor pajak, dan setelah itu aku akan meringkas dalam bahasa Jepang sesuatu yang menarik yang mungkin kutemukan. Sejauh ini, itulah jadwal rutin kami sehari-hari di pulau. Jika ada sesuatu di artikel khusus yang menarik minat kami, kami akan berdiskusi santai sejenak tentang artikel itu. Bahasa Inggris Izumi cukup bagus, dan sesungguhnya ia bisa dengan mudah membaca artikel sendiri. Tapi aku tidak pernah sekalipun melihat ia membeli koran.

“Aku ingin memiliki seseorang yang membacakannya untukku,” jelasnya. “Itu mimpiku sejak masih kecil—duduk di tempat yang cerah, memandangi langit atau laut, dan memiliki seseorang yang membaca keras-keras untukku. Aku enggak peduli apa yang mereka baca—koran, buku pelajaran, novel. Bukan masalah.  Tapi belum pernah ada seorang pun yang membaca untukku. Jadi, kukira, itu artinya kamu diciptakan untuk semua kesempatan yang hilang itu. Dan selain itu, aku suka suaramu.”

Yah, ada langit dan laut di hadapan kami. Dan aku senang membaca keras-keras. Saat tinggal di Jepang, aku biasa membacakan buku-buku bergambar dengan lantang untuk anak lelakiku. Membaca dengan suara lantang berbeda dengan hanya mengikuti kalimat dengan sepasang matamu. Sesuatu yang sungguh tak terduga mengalir di dalam pikiranmu, semacam resonansi tak terlukiskan yang tidak mungkin dilawan.

Sambil sesekali menyesap kopi, aku membaca artikel dengan perlahan-lahan. Aku lebih dulu membaca beberapa baris untuk diriku sendiri, merenungkan bagaimana memasukkannya ke dalam bahasa Jepang, kemudian menerjemahkannya dengan suara keras. Beberapa lebah muncul dari suatu tempat untuk menjilat selai sisa pelanggan sebelumnya yang tumpah di atas meja. Sesaat lebah-lebah itu menjilatinya, lalu, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, terbang ke udara dengan dengung yang seperti upacara, mengitari meja beberapa kali, dan kemudian—lagi-lagi seolah sesuatu membangkitkan ingatan mereka—menetap sekali lagi di atas meja. Setelah aku selesai membaca seluruh artikel, Izumi duduk di sana, tak bergerak, dengan siku bertumpu di atas meja. Ia mempertemukan ujung jemari kanan dengan ujung jemari kirinya. Aku meletakkan koran di atas pangkuan dan menatap jemari rampingnya. Ia menatapku melalui ruang antara jemarinya.

“Lalu, apa yang terjadi?” tanyanya.

“Cuma begitu saja,” jawabku, dan melipat koran. Aku mengambil sapu tangan dari dalam saku dan menyeka bintik-bintik ampas kopi dari bibirku. “Setidaknya, hanya itulah yang diwartakan.”

“Tapi apa yang terjadi dengan kucing-kucingnya?”

Aku memasukkan saputangan kembali ke dalam saku. “Entahlah. Enggak dibahas lebih lanjut.”

Izumi mengerutkan bibirnya ke satu sisi, kebiasaan kecilnya. Setiap kali ia hendak melontarkan pendapat—yang kerap berbentuk seperti deklarasi kecil— ia mengerutkan bibir seperti itu, seolah tengah menyentak sprei untuk merapikan kerutan-kerutan liar. Ketika pertama kali bertemu dengannya, kebiasaan itu cukup memikatku.

“Koran itu semua sama saja, ke mana pun kamu pergi,” ia akhirnya melanjutkan. “Koran-koran itu enggak pernah memberitahu apa yang benar-benar ingin kautahu.”

Izumi mengeluarkan sebatang rokok Salem dari kotaknya, meletakkannya di mulut, dan menggesek korek api. Setiap hari, ia menghabiskan sebungkus rokok Salem—tidak kurang, tidak lebih. Ia membuka bungkus baru di pagi hari dan menghabiskan rokok itu hingga hari berakhir. Aku tidak merokok. Istriku membuatku berhenti, lima tahun yang lalu, saat ia hamil.

“Apa yang aku benar-benar ingin tahu,” Izumi memulai, asap dari rokoknya bergelung tanpa suara di udara, “Adalah apa yang terjadi dengan para kucing setelahnya. Apakah pihak berwajib membunuh mereka karena mereka makan daging manusia? Ataukah mereka bilang, ‘kalian sudah melawati masa-masa sulit,’ lantas memberi mereka tepukan di kepala, dan membiarkan mereka pergi? Menurutmu bagaimana?”

Aku memandangi lebah yang melayang di atas meja dan berpikir tentang pertanyaan itu. Lebah-lebah kecil yang gelisah menjilati selai dan tiga kucing yang melahap daging wanita tua itu menjadi satu dalam benakku. Jeritan burung-burung camar di kejauhan berkelindan dengan dengung lebah, dan sepersekian detik kesadaranku tersesat di ambang batas kenyataan dan ilusi. Di manakah aku? Apa yang sedang kulakukan di sini? Aku kehilangan tumpuan dalam situasi seperti ini. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap ke langit, dan berpaling ke Izumi.

“Aku enggak tahu.”

“Coba pikirkan ini. Jika kamu adalah seorang walikota atau kepala polisi, apa yang akan kamu lakukan dengan kucing-kucing itu?”

“Bagaimana kalau menempatkan mereka dalam sebuah institusi untuk mereformasi mereka?” kataku. “Ubah mereka jadi vegetarian.”

Izumi tidak tertawa. Ia menghisap rokok dan mengeluarkan asapnya dengan sangat perlahan. “Cerita itu mengingatkanku pada sebuah ceramah yang kudengar saat baru masuk di SMP Katolik. Eh, apa aku sudah bilang aku pernah bersekolah di sekolah Katolik yang sangat ketat? Sesaat setelah upacara masuk, salah satu suster kepala menyuruh kami semua berkumpul di auditorium, dan kemudian dia naik ke podium dan memberikan ceramah tentang ajaran Katolik. Ia berbicara banyak hal, tapi yang paling kuingat—sebenarnya, satu-satunya hal yang kuingat—adalah cerita yang ia tuturkan kepada kami tentang terdampar di sebuah pulau terpencil bersama seekor kucing.”

“Kedengarannya menarik,” ujarku.

“’Kalian berada dalam kecelakaan kapal,’ katanya kepada kami. ‘Satu-satunya yang ada di sekoci hanya kalian dan kucing. Kalian terdampar di salah satu pulau terpencil tak bernama, dan di sana tidak ada satu pun untuk dimakan. Yang kalian miliki hanya air secukupnya dan biskuit kering untuk menopang hidup satu orang selama sekitar sepuluh hari.’ Ujarnya, ‘Baiklah, semuanya, saya ingin kalian membayangkan diri dalam situasi ini. Tutup mata kalian dan cobalah membayangkannya. Kalian sendirian di pulau terpencil, hanya kalian dan seekor kucing. Kalian hampir tidak memiliki makanan sama sekali. Kalian paham? Kalian lapar, haus, dan akhirnya kalian akan mati. Apa yang harus kalian lakukan? Haruskah kalian berbagi simpanan makanan dengan kucing? Tidak, kalian tidak harus melakukannya. Itu merupakan suatu kesalahan. Kalian semua adalah makhluk mulia, makhluk pilihan  Tuhan, dan kucing bukan. Itulah mengapa kalian harus makan semua makanan itu sendiri.’ suster itu memandangi kami dengan tatapan yang amat serius. Aku sedikit terkejut. Apa gerangan tujuannya bercerita seperti itu kepada anak-anak yang baru saja masuk sekolah? Aku berpikir, wah, tempat macam apa yang aku masuki ini?”

Cerpen Haruki Murakami

Izumi dan aku tinggal di sebuah apartemen sederhana di salah satu pulau kecil Yunani. Saat ini bukanlah musim liburan, dan pulau ini tidak memiliki terlalu banyak tempat wisata, jadi harga sewanya murah. Sebelumnya, tak satu pun dari kami pernah mendengar tentang pulau ini. Terletak dekat perbatasan Turki, dan pada hari-hari yang cerah kau bisa melihat pegunungan Turki yang kehijauan. Ada guyonan setempat yang mengatakan bahwa di hari-hari berangin, kau bisa menghirup aroma shish kebab. Lelucon lainnya, pulau itu bahkan lebih dekat ke pantai Turki daripada pulau Yunani terdekat. Dan di sana—nampak samar tepat di hadapan kami—adalah Asia Kecil.

Di alun-alun kota terdapat patung pahlawan kemerdekaan Yunani. Ia memimpin insureksi di daratan Yunani dan merencanakan pemberontakan melawan Turki, yang kala itu menguasai pulau itu. Tapi Turki menangkap dan membunuhnya. Mereka mendirikan tiang pancang berujung runcing di alun-alun dekat pelabuhan, melucuti sang pahlawan malang hingga telanjang, dan menusukkannya ke tiang pancang itu. Berat tubuhnya mendorong ujung runcing pancang melewati anusnya dan lalu seluruh tubuhnya—dengan amat-sangat perlahan—hingga akhirnya keluar dari mulut, cara mati yang mengerikan. Patung itu didirikan di titik yang diperkirakan adalah tempat peristiwa itu berlangsung. Saat kali pertama dibangun, pasti sangat mengesankan, namun kini, akibat ulah angin laut, debu, dan kotoran burung camar, kau bahkan nyaris tidak bisa melihat wajah pria itu. Penduduk lokal hanya melihat patung lusuh itu sekilas lalu, dan kini pahlawan itu tampak seolah-olah tengah memunggungi orang-orang, pulau itu, memunggungi dunia.

Saat Izumi dan aku duduk di bagian luar kafe, minum kopi atau bir, menatap tanpa tujuan ke kapal yang bersandar di pelabuhan, burung-burung camar, dan bukit-bukit Turki yang jauh, kami sesungguhnya tengah duduk di tepian Eropa. Angin yang berhembus adalah angin di tepian dunia. Tak terhindarkan lagi, aura retro memenuhi tempat itu. Keadaan itu membuatku merasa seakan sedang diam-diam ditelan oleh kenyataan ganjil, sesuatu yang asing dan tak terjamah, samar-samar namun lembut menyapaku dengan cara yang tak lazim. Dan bayangan dari substansi itu mewarnai roman muka, mata, dan kulit orang-orang yang berkumpul di pelabuhan.

Kadang kala aku tidak bisa memahami fakta bahwa aku adalah bagian dari pemandangan ini. Berapa kali pun aku memandangi panorama di sekitarku, sebanyak apa pun udara yang kuhirup, tetap saja tak kutemukan hubungan yang padu antara aku dan semua ini.

Dua bulan yang lalu, aku tinggal bersama istri dan anak lelaki kami yang berusia empat tahun di sebuah apartemen tiga kamar di Unoki, di Tokyo. Bukan tempat yang luas, akan tetapi cukup menopang hidupmu, sebuah apartemen yang fungsional. Aku dan istriku menempati kamar tidur kami sendiri, begitu pula anak kami, dan ruang yang tersisa menjadi ruang belajarku. Apartemen itu tenang, dengan pemandangan yang bagus. Pada akhir pekan, kami bertiga akan berjalan-jalan di sepanjang tepi Sungai Tama. Pada musim semi, pohon-pohon ceri di sepanjang tepi sungai bermekaran, aku biasanya naik sepeda memboncengi anakku dan kami pergi menonton pelatihan musim semi tim Giants’ Triple A.

Aku bekerja di sebuah perusahaan desain skala menengah yang khusus menangani buku dan layout majalah. Menyebutku seorang ‘desainer’ akan membuat pekerjaanku terdengar lebih menarik dari kenyataannya, karena pekerjaan itu sendiri nyaris ‘tak bisa diapa-apakan lagi’. Tak ada kemewahan, dan tak bisa dibayangkan lebih. Seringnya, jadwal kami agak terlalu sibuk, dan beberapa kali dalam sebulan aku harus lembur di kantor. Beberapa pekerjaannya amat-sangat membosankan sampai-sampai membuatku ingin menangis. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya, dan perusahaannya sendiri tempat yang santai. Dengan senioritasku, aku bisa memilih sendiri pekerjaanku, dan cukup bebas berkata apa pun yang aku mau. Atasanku baik, dan aku bisa membaur dengan rekan kerja yang lain. Dan gajiku tidak terlalu buruk. Jadi jika tidak ada halangan, aku mungkin akan menetap di perusahaan itu hingga masa mendatang. Dan hidupku, seperti Sungai Moldau—lebih tepatnya sekumpulan air tanpa nama yang membentuk Sungai Moldau—akan terus mengalir, dengan cepat, menuju laut.

Tapi di tengah perjalanan aku bertemu Izumi.

*

Izumi sepuluh tahun lebih muda dariku. Kami bertemu di sebuah pertemuan bisnis. Sesuatu yang ‘klik’ terjadi antara kami saat pertama kali mata kami beradu-pandang. Bukanlah hal yang sering terjadi. Setelah itu, kami bertemu beberapa kali untuk membahas rincian proyek kerja sama itu. Aku pergi ke kantornya, atau dia mampir ke kantorku. Pertemuan kami selalu singkat, melibatkan orang lain, dan hanya membahas soal bisnis. Ketika proyek kami selesai, entah bagaimana, kesepian yang dahsyat menerpaku, seolah-olah sesuatu yang sangat penting telah direnggut paksa dari genggamanku. Bertahun-tahun aku tak pernah merasa seperti itu. Dan, kupikir, ia merasakan hal yang sama.

Seminggu kemudian ia menelepon kantorku membicarakan tentang beberapa hal kecil dan kami mengobrol sebentar. Aku sedikit berkelakar, dan ia tertawa. “Mau pergi minum?” Tanyaku. Kami pergi ke sebuah bar kecil dan memesan beberapa minuman. Aku tak ingat persis apa yang kami bicarakan, tapi kami menemukan jutaan topik dan bisa berbicara selamanya. Dengan kejelasan serupa sinar laser, aku bisa memahami segala sesuatu yang ia katakan. Dan ia bisa mengerti hal-hal yang tak bisa kujelaskan dengan baik kepada orang lain, dengan ketepatan yang membuatku sendiri terkejut. Kami berdua sudah menikah, dan tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Kami mencintai pasangan kami, dan menghormati mereka. Bagaimana pun, ini termasuk dalam urutan keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup—secara kebetulan bertemu orang lain yang bisa sepenuhnya mengekspresikan perasaanmu dengan begitu jelas. Kebanyakan orang melalui seluruh hidup mereka tanpa pernah bertemu dengan orang seperti itu. Salah besar jika melabeli ini ‘cinta’, hubungan seperti ini lebih seperti memberikan empati secara total.

Kami mulai berkencan secara teratur. Pekerjaan suaminya membuatnya pulang terlambat, jadi Izumi bebas untuk pulang dan pergi sesuka hatinya. Ketika kami bersama, waktu rasanya cepat berlalu. Kami melihat jam tangan dan ternyata kami nyaris saja ketinggalan kereta terakhir. Sangat berat mengucapkan salam perpisahan. Masih terlalu banyak yang ingin kami bicarakan.

Tak satu pun dari kami merayu untuk tidur bersama, tapi kami mulai melakukannya. Kami berdua masih setia kepada pasangan masing-masing sampai saat itu, tapi entah bagaimana kami tidak merasa bersalah karena telah tidur bersama, alasannya sederhana; kami memang harus melakukannya. Menelanjanginya, menyentuh lembut kulitnya, memeluknya erat, meluncur ke dalam tubuhnya, ejakulasi—semua itu hanya kelanjutan alamiah dari percakapan kami. Jadi wajar kalau percintaan kami bukanlah sumber kesenangan fisik yang mampu membuat terluka; hanya semacam ketenangan batin, tindakan yang menyenangkan, melucuti segala kepura-puraan. Yang terbaik dari semua itu adalah percakapan sunyi kami setelah berhubungan seks. Aku memeluk erat tubuh telanjangnya, dan ia meringkuk dalam pelukanku dan kami akan saling membisikkan rahasia dalam bahasa khusus yang kami buat sendiri.

Kami bertemu hanya jika situasinya memungkinkan. Anehnya, atau mungkin tak begitu aneh, kami benar-benar yakin bahwa hubungan kami bisa berlangsung selamanya, kehidupan pernikahan kami di satu sisi, dan hubungan kami sendiri di sisi lain, dengan tanpa masalah yang muncul. Kami yakin hubungan kami tidak akan pernah terungkap. Benar kami melakukan hubungan seks, tapi bagaimana bisa hal itu menyakiti orang lain? Di malam saat aku tidur dengan Izumi, aku pulang terlambat dan harus membuat beberapa kebohongan kepada istriku, dan aku merasa sedih, tapi hal itu tidak nampak seperti pengkhianatan yang sebenarnya. Hubunganku dan Izumi belum bisa dikategorikan sebagai hubungan yang intim.

Dan, jika tak ada halangan, mungkin kami akan melanjutkan hidup seperti itu selamanya, menyesap vodka dan tonik, menyelinap di antara selimut jika memang perlu. Atau mungkin kami kelak akan bosan berbohong kepada pasangan kami dan memutuskan untuk membiarkan perselingkuhan ini mati secara alami sehingga kami bisa kembali ke gaya hidup kecil yang nyaman. Dengan kata lain, aku tidak pernah berpikir segalanya akan menjadi buruk. Aku memang tidak bisa membuktikannya; aku hanya mampu merasakannya saja. Tapi tangan-tangan takdir—tak dapat dipungkiri—ikut campur, dan suami Izumi mengendus perselingkuhan kami. Setelah memaksa Izumi bicara, ia menerobos masuk ke rumahku, benar-benar di luar kendali. Seolah sudah digariskan, istriku sedang sendiri di rumah pada waktu itu, dan segalanya menjadi buruk. Ketika aku sampai rumah, ia menuntut agar aku menjelaskan apa yang sedang terjadi. Izumi sudah mengakui semuanya, jadi aku tak bisa mengarang cerita. Aku mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi. “Ini bukan jatuh cinta,” jelasku. “Ini hubungan spesial, tapi benar-benar berbeda dengan apa yang kurasakan kepadamu, seperti siang dan malam. Kamu bahkan enggak bisa mendeteksi hubungan kami, kan? Itu bukti kalau ini bukan jenis perselingkuhan seperti yang kamu bayangkan. ”

Tapi istriku tak mau mendengar. Ia terguncang, membisu, dan benar-benar tidak mengatakan apa pun. Keesokan harinya, ia membereskan semua barang-barangnya ke dalam mobil dan pergi ke tempat orangtuanya, di Chigasaki, membawa serta anak lelaki kami. Aku menelepon beberapa kali, namun ia tak mau menjawab teleponku dan sebagai gantinya, ayahnya yang menjawab. “Saya enggak mau dengar alasanmu yang menyedihkan,” ia memperingatkan,“Dan saya enggak akan membiarkan anak saya kembali ke bajingan sepertimu.” Ia memang sudah sangat menentang pernikahan kami dari awal, dan dari nada bicaranya ia seolah mengatakan bahwa akhirnya ia terbukti benar.

Di masa-masa sedih itu, aku mengambil cuti beberapa hari dan hanya berbaring nelangsa di atas ranjang. Izumi meneleponku. Ia juga kesepian. Suaminya juga meninggalkannya, setelah menamparnya. Suaminya mengguntingi setiap pakaian milik Izumi. Dari mantel hingga celana dalamnya, semua compang-camping. Ia tidak tahu suaminya pergi ke mana. “Aku lelah,” ujarnya. “Aku enggak tahu apa yang harus kulakukan. Semuanya hancur, dan enggak akan pernah sama lagi. Dia enggak akan kembali.” Ia terisak selama di telepon. Bagaimana pun, ia dan suaminya berpacaran sejak SMA. Aku ingin sekali menenangkannya, tapi apa yang harus kukatakan?

“Pergi minum, yuk?” ia akhirnya memberi usul. Kami pergi ke Shibuya dan minum hingga fajar di bar yang buka semalaman. Aku minum vodka gimlet, ia daiquiris. Aku lupa berapa banyak minum yang kami habiskan. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kami tidak banyak bicara. Menjelang fajar kami meredakan pengaruh minuman dengan berjalan menuju Harajuku, kemudian singgah di Denny’s untuk minum kopi dan sarapan. Saat itulah ia melontarkan gagasan pergi ke Yunani.

“Yunani?” tanyaku.

“Kita sudah enggak bisa tinggal dengan nyaman di Jepang,” katanya, sambil menatap mataku dalam-dalam.

Aku memunculkan gagasan ke dalam benakku. Yunani? Otakku yang terendam alkohol tidak bisa berpikir logis.

“Aku selalu kepingin pergi ke Yunani,” ujarnya. “Itu impianku. Waktu itu aku ingin kami berbulan madu ke Yunani, tapi kami enggak punya cukup uang. Jadi, ayo pergi—kita berdua. Tinggal di sana, kamu tahu, tanpa mencemaskan apa pun. Menetap di Jepang hanya akan membuat kita murung saja, dan enggak akan ada hal-hal baik yang muncul.”

Aku tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap Yunani, tetapi aku harus setuju dengannya. Kami menghitung berapa banyak uang yang kami miliki. Tabungannya dua setengah juta yen, sementara aku hanya satu setengah juta. Jika disatukan sekitar empat juta yen—sekitar empat puluh ribu dolar.

“Empat puluh ribu dolar seharusnya cukup untuk bertahan beberapa tahun di pedesaan Yunani,” kata Izumi. Harga tiket pesawat diskon sekitar empat ribu. Sisanya tiga puluh enam ribu. Rencanakan seribu dolar per bulan, uang segitu cukup untuk tiga tahun. Dua setengah tahun, untuk amannya. Menurutmu bagaimana? Ayo kita pergi. Hal-hal lain kita bisa pikirkan nanti.”

Aku memandang sekitar. Restoran Denny’s pagi hari penuh dengan pasangan muda. Kami adalah satu-satunya pasangan yang berusia di atas tiga puluh tahun. Dan tentu hanya satu-satunya pasangan yang tengah mendiskusikan untuk mengumpulkan semua uang yang dimiliki dan terbang ke Yunani setelah bencana perselingkuhan. Kacau sekali, pikirku. Aku menatap telapak tangan untuk waktu yang lama. Seperti inikah hidupku seharusnya?

“Baiklah,” akhirnya aku berkata. “Ayo kita lakukan.

 

Di tempat kerja keesokan harinya aku menyerahkan surat pengunduran diri. Atasanku sudah mendengar rumor dan menegaskan lebih baik mengambil cuti saja sementara waktu. Rekan-rekan kerjaku terkejut mendengar bahwa aku ingin berhenti, namun tak satu pun berusaha keras membujukku untuk tidak melakukannya. Berhenti bekerja ternyata tak terlalu sulit. Setelah kau memutuskan untuk membebaskan dirimu dari sesuatu, hanya sedikit yang tidak bisa kau singkirkan. Bukan—bukan sedikit. Setelah kau memutuskan sesuatu, tidak ada yang tidak bisa kau singkirkan. Dan setelah kau mulai menyingkirkan sesuatu, kau akan memiliki kenginginan untuk menyingkirkan segala hal. Seolah-olah kau akan mempertaruhkan hampir semua uangmu dan mengambil keputusan. Persetan, aku akan pertaruhkan semuanya. Tak perlu disisakan, aku sudah pusing.

Aku mengemas semua yang kupikir akan kubutuhkan menjadi satu dalam koper Samsonite biru ukuran medium. Izumi melakukan hal yang sama.

Ketika kami terbang melintasi Mesir, tiba-tiba saja aku dicekam ketakutan yang teramat jika seseorang secara tak sengaja mengambil koperku. Di dunia ini, pastilah ada puluhan ribu koper Samsonite biru yang sama dengan milikku. Mungkin saat aku tiba di Yunani, membuka koper, dan menemukan koper itu berisi benda-benda milik orang lain. Serangan kecemasan yang parah menerpaku. Jika koperku hilang, maka tak akan ada satu pun yang tersisa bagiku untuk menyambung hidupku—hanya Izumi. Tiba-tiba aku merasa seakan aku telah lenyap. Sensasi yang sangat aneh. Aku merasa orang yang tengah duduk di dalam pesawat itu bukanlah aku. Otakku keliru mengikatkan dirinya pada ‘kemasan’ yang terlihat sepertiku. Kekacauan total melanda pikiranku. Aku harus kembali ke Jepang untuk kembali ke dalam tubuhku. Namun saat ini aku berada di dalam pesawat, terbang melintasi Mesir, dan tak ada jalan untuk kembali. Di saat seperti ini, dagingku rasanya seolah terbuat dari plester. Jika aku menggaruknya, ia akan terkelupas. Tubuhku gemetar tak terkendali. Aku tahu jika guncangan ini berlangsung lebih lama lagi tubuhku akan pecah dan menjadi debu. Meski pesawat terbang difasilitasi pendingin ruangan, tubuhku dibanjiri keringat. Bajuku menempel di kulit. Bau yang mengerikan menyeruak dari tubuhku. Sementara itu, Izumi menggenggam tanganku erat-erat dan memelukku sesekali. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi ia tahu apa yang sedang kurasakan. Guncangan ini berlangsung selama setengah jam. Aku ingin mati—menempelkan moncong revolver di telingaku dan menarik pelatuknya, sehingga baik pikiran maupun tubuhku akan meledak menjadi debu.

Setelah guncangan mereda, aku tiba-tiba merasa lebih ringan. Kukendurkan bahu yang tegang dan menyerahkan diri ke aliran waktu. Aku jatuh ter tidur, dan, ketika mataku terbuka, di bawahku terhampar perairan nilakandi Aegean.

*

Masalah terbesar yang kami hadapi di pulau itu adalah nyaris tidak adanya hal yang harus dilakukan. Kami tidak bekerja, dan tidak memiliki teman. Pulau ini tidak memiliki bioskop atau lapangan tenis atau buku untuk dibaca. Kami telah meninggalkan Jepang dengan sangat mendadak hingga aku benar-benar lupa untuk membawa buku. Aku membaca dua novel yang kubeli di bandara, dan salinan tragedi Aeschylus yang dibawa Izumi. Aku membaca semuanya dua kali. Untuk melayani wisatawan, kios di pelabuhan menyediakan beberapa paperback berbahasa Inggris, tapi tidak ada satu pun yang menarik mataku. Membaca adalah kegemaranku, dan aku selalu memimpikan jika aku memiliki banyak waktu luang aku akan berenang dalam tumpukan buku, namun ironisnya, di sinilah aku—dengan sangat banyak waktu luang dan tak ada yang bisa dibaca.

Izumi mulai belajar bahasa Yunani. Ia selalu membawa buku pelajaran ahasa Yunani, dan membuat catatan berisi daftar konjugasi kata kerja yang selalu ia bawa ke mana-mana, melafalkan kata kerja keras-keras seperti mantra. Ia sudah sampai ke titik di mana ia mampu berbicara dengan pemilik toko meski masih kacau, dan kepada pelayan saat kami singgah di kafe, sehingga kami berhasil memiliki beberapa kenalan. Tak mau kalah, aku pun memperbaiki bahasa Perancisku. Kupikir suatu hari akan berguna, tetapi di pulau kecil yang kumuh ini aku tak pernah bertemu seseorang yang berbicara bahasa Perancis. Di kota, kami mampu bertahan dengan bahasa Inggris. Beberapa orang tua mengerti bahasa Jerman atau Italia. Bahasa Perancis, nyatanya, sungguh tidak berguna.

Karena tak ada banyak hal yang bisa dilakukan, kami berjalan-jalan ke mana pun. Kami mencoba memancing di pelabuhan tapi tidak mendapatkan apa-apa. Bukan karena ikannya sedikit; tapi karena airnya terlalu jernih. Ikan-ikan bisa melihat dengan jelas dari mulai kail hingga wajah orang yang mencoba menangkap mereka. Hanya ikan yang benar-benar bodoh saja yang bisa tersangkut mata kail. Aku membeli buku sketsa dan cat air di toko lokal dan berjalan kaki mengelilingi pulau untuk melukis pemandangan dan orang-orang. Izumi duduk di sisiku, melihat lukisanku sambil menghafal konjugasi Yunani-nya. Orang-orang setempat sering datang dan melihatku melukis. Untuk membunuh waktu, aku melukis wajah mereka, yang tampaknya cukup memuaskan. Jika aku memberikan lukisan itu kepada mereka, seringnya mereka mentraktir kami bir. Sekali waktu, seorang nelayan memberi kami seluruh gurita tangkapannya.

“Kamu bisa hidup dengan melukis,” kata Izumi. “Kamu berbakat, dan bisa membuat usaha kecil dengan itu. Bilang saja kamu adalah seniman dari Jepang, di sini pasti sangat jarang.”

Aku tertawa, tapi Izumi memasang wajah serius. Kubayangkan diriku mengelilingi kepulauan Yunani, meluangkan waktu senggangku dengan menggambar wajah orang, menikmati bir gratis sesekali.

Bukan ide yang buruk, simpulku.

“Dan aku akan menjadi koordinator tur untuk turis Jepang,” Izumi melanjutkan. “Seiring berjalannya waktu mereka pasti akan berdatangan ke sini, dan tentu pekerjaan itu akan sangat dibutuhkan. Tentu saja itu artinya aku harus mulai serius belajar bahasa Yunani.”

“Apakah kamu sungguh-sungguh berpikir kita bisa menghabiskan dua setengah tahun tanpa melakukan apa pun?” tanyaku.

“Yah, selama kita enggak kerampokan atau sakit atau sesuatu seperti itu. Kalau enggak ada hal-hal yang enggak terduga, kita seharusnya bisa bertahan. Namun, tak ada salahnya mempersiapkan untuk hal-hal yang tak terduga.”

Hingga saat itu aku nyaris belum pernah ke dokter, ujarku padanya.

Izumi menatap lurus ke arahku, mengerutkan bibirnya, dan menariknya ke satu sisi.

“Katakanlah aku hamil,” mulainya. “Apa yang akan kamu lakukan? Ya, kamu memang menjaga dirimu dengan baik, tapi manusia selalu berbuat salah. Dan jika itu terjadi, uang kita akan terkuras dengan cepat.”

“Jika hal itu terjadi, kita mungkin harus kembali ke jepang,” kataku.

“Kamu enggak ngerti, ya?” katanya pelan. “Kita enggak akan pernah bisa kembali ke Jepang.”

*

Izumi melanjutkan studi bahasa Yunani-nya, dan aku lanjut menggambar. Ini adalah waktu terdamai sepanjang hidupku. Kami makan seadanya dan menyesap anggur termurah. Setiap hari, kami mendaki bukit terdekat. Ada desa kecil di puncaknya, dan dari sana kami bisa melihat pulau lain nun jauh di sana. Berkat udara segar yang melimpah dan olah raga ringan menaiki bukit, bentuk tubuhku jadi bagus. Setelah matahari terbenam di pulau itu, tak ada satu pun suara yang bisa kau dengar. Dan dalam keheningan itu Izumi dan aku bercinta dengan tenang dan berbicara tentang apa saja. Tak perlu lagi mengkhawatirkan kereta terakhir, atau pulang dengan membawa kebohongan untuk pasangan kami. Ini hal luar biasa yang bahkan melampaui anggapan kami. Musim gugur menua sedikit demi sedikit, dan awal musim dingin pun datang. Angin bertiup, dan ombak berbuih di lautan.

Di saat seperti itulah kami membaca cerita di koran tentang kucing pemakan manusia. Di koran yang sama, terdapat berita mengenai kondisi kaisar Jepang yang memburuk, tapi kami membeli koran itu hanya untuk memeriksa nilai tukar mata uang. Nilai Yen terus menguat terhadap Drachma. Ini sangat penting bagi kami; semakin kuat nilai yen, semakin banyak uang yang kami punya.

“Omong-omong soal kucing,” beberapa hari setelah kami membaca artikel. “Waktu masih kecil aku punya kucing yang menghilang dengan cara yang sangat aneh.”

Izumi terlihat ingin tahu lebih banyak. Ia mengangkat wajahnya dari daftar konjugasi dan melihat ke arahku. “Kok bisa begitu?”

“Aku masih kelas dua, atau mungkin kelas tiga. Kami tinggal di rumah dinas dengan taman yang luas. Ada sebuah pohon pinus tua di sana, yang saking tingginya kamu hampir tidak bisa melihat puncaknya. Suatu hari, aku duduk di teras belakang membaca buku sedangkan kucing kampung bercorak kuning hitam peliharaan kami sedang bermain di taman. Kucing itu melompat-lompat sendirian, yah, hal yang lazimnya dilakukan seekor kucing. Semakin lama ia kelihatan semakin bersemangat melompat-lompat seperti itu, ia benar-benar enggak sadar kalau aku sebenarnya sedang memperhatikan. Semakin lama aku memperhatikannya, aku jadi semakin takut. Kucing itu macam kesurupan saja, melompat-lompat tak terkendali sampai bulu-bulunya bergidik. Seakan-akan ia melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat. Akhirnya, ia berlari mengitari pohon pinus seperti macan dalam cerita Little Black Sambo. Kemudian ia mencengkram tanah untuk berhenti mendadak dan memanjat pohon hingga ke cabang tertinggi. Aku hanya mampu melihat wajah kecilnya di atas cabang itu. Kucing itu masih terlihat semangat dan gelisah. Ia bersembunyi di balik cabang pohon, memandangi sesuatu. Aku berteriak memanggil namanya, tapi ia bertingkah seolah ia tidak mendengarku.”

“Siapa nama kucing itu?” Izumi bertanya.

“Aku lupa,” jawabku. “Malam berangsur datang, wajahnya terlihat semakin gelap. Aku khawatir dan menunggu kucing itu turun. Akhirnya ia benar-benar ditelan kegelapan. Dan kami enggak pernah melihat kucing itu lagi.”

“Enggak terlalu luar biasa, sih,” ujar Izumi. “Kucing-kucing memang sering lenyap kayak gitu. Apalagi kalau mereka sedang bersemangat. Mereka terlalu girang sampai-sampai tidak ingat jalan pulang. Kucingmu pasti turun dari pohon pinus dan pergi ke suatu tempat ketika kamu sudah tidak melihatnya.”

“Kukira juga begitu,” kataku. “Tapi saat itu aku masih kecil, aku berpikiran positif saja bahwa kucing itu telah memutuskan untuk tinggal di atas pohon. Pasti ada beberapa alasan mengapa ia enggak mau turun. Setiap hari, aku duduk di teras dan melihat ke arah pohon pinus, berharap melihat kucing itu sedang mengintip melalui celah-celah cabang.”

Izumi tampaknya telah kehilangan minat. Ia menyalakan Salem kedua, kemudian mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Apakah kamu terkadang memikirkan anakmu?” tanyanya.

Aku tidak tahu bagaimana menanggapinya. “Yah, kadang-kadang.” Aku menjawab jujur. “Tapi enggak terlalu sering. Adakalanya sesuatu mengingatkanku.”

“Apa enggak kepingin melihat dia?”

“Sesekali, ya,” ujarku. Tapi itu bohong. Aku hanya berpikir itulah yang seharusnya kurasakan. Sewaktu masih tinggal dengan anakku, aku pikir dia adalah makhluk paling menggemaskan yang pernah kulihat. Setiap kali aku pulang terlambat, aku selalu lebih dulu masuk ke kamar anakku untuk melihat wajahnya saat tertidur. Saking gemasnya, terkadang muncul hasrat untuk memeluknya kuat-kuat hingga ia hancur. Saat ini semua tentangnya—wajahnya, suaranya, tingkah lakunya—berada di negeri yang jauh. Yang bisa kuingat dengan jelas hanyalah wangi sabunnya. Aku suka mandi bersama dan menggosoki tubuhnya. Kulitnya sangat sensitif, karena itu istriku selalu membeli sabun khusus untuknya. Yang paling kuingat dengan jelas dari anakku hanyalah wangi sabunnya.

“Kalau kamu ingin kembali ke Jepang, pulanglah,” ujar Izumi. “Jangan mengkhawatirkan aku, aku bisa mengatasi semuanya.”

Aku mengangguk. Tapi aku tahu itu tidak mungkin terjadi.

“Aku membayangkan anakmu kelak berpikir kamu juga seperti itu,” kata Izumi. “Seperti kucing yang lenyap di atas pohon.”

Aku tertawa. “Bisa jadi,” kataku.

Izumi mematikan rokoknya di asbak dan mendesah pelan. “Ayo kita pulang dan bercinta.”

“Ini kan masih pagi,” ujarku.

“Lantas kenapa?”

“Ya, enggak apa-apa, sih.”

*

Kemudian, ketika aku terbangun di tengah malam, Izumi tidak ada di sisiku. Kulihat jam tangan yang kuletakkan di dekat ranjang. Dua belas tiga puluh. Aku meraba-raba mencari lampu, menyalakannya, dan menyapu pandangan ke seluruh kamar. Segalanya nampak tenang seolah-olah seseorang menyelinap selagi aku tertidur dan menebarkan debu-debu kesunyian di dalam kamar. Dua putung Salem meringkuk di dalam asbak, kotak rokok kosong yang diremas berada di sisinya. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang tamu. Izumi tak ada di sana. Ia tidak ada di dapur maupun di kamar mandi. Kubuka pintu dan memandangi pekarangan. Hanya ada sepasang kursi vinyl, berkilauan dimandikan cahaya bulan. “Izumi,” panggilku dengan suara pelan. Tak ada jawaban. Aku memanggilnya lagi, kali ini dengan suara lebih keras. Jantungku berdegup kencang. Benarkah ini suaraku? Terdengar kelewat keras, tidak alamiah. Tetap tak ada jawaban. Angin lemah dari laut mendesau ujung-ujung rumput pampas. Aku menutup pintu, kembali ke dapur, dan menuang setengah gelas anggur untuk menenangkan diri.

Pancaran sinar bulan masuk melalui jendela dapur, membuat bayangan aneh di dinding dan lantai. Segala hal nampak seperti kumpulan simbol dalam permainan avant-garde. Seketika aku ingat: keadaan malam saat kucing itu lenyap di atas pohon pinus sama dengan malam ini, malam purnama tanpa satu pun gumpalan awan di langit. Setelah makan malam, aku pergi ke teras lagi untuk melihat kucing itu. Malam telah larut, bulan sudah bercahaya. Untuk beberapa alasan yang tak bisa dijelaskan, aku tak bisa memalingkan mataku dari pohon pinus. Waktu berlalu, aku yakin aku melihat sepasang mata kucing, berkilau di antara cabang-cabang pohon. Tapi itu hanya ilusi.

Aku mengambil sweater tebal dan celana jeans, menyambar koin di atas meja , mengantunginya, dan pergi ke luar. Izumi pasti sulit tidur lantas memutuskan untuk berjalan-jalan. Pastilah seperti itu.
Angin telah benar-benar mereda. Yang bisa kudengar hanya suara sepatu tenisku berderak sepanjang jalan berbatu, seperti lagu latar sebuah film yang berlebihan. Izumi pastilah pergi ke pelabuhan, pikirku. Ia tak memiliki tempat lain yang dituju. Hanya ada satu jalan menuju pelabuhan, jadi tidak mungkin aku tidak berpapasan dengannya. Lampu-lampu rumah sepanjang jalan padam, sinar bulan keperakkan mewarnai tanah sehingga membuatnya nampak seperti dasar laut.

Ditengah jalan menuju pelabuhan, aku mendengar suara musik samar dan tersendat-sendat. Awalnya kupikir itu halusinasi—seperti perubahan tekanan udara yang membuat telingamu berdenging. Tapi, jika didengarkan dengan seksama, aku bisa mendengar sebuah melodi. Aku menahan napas dan berusaha mendengarkan sebisaku. Seperti menenggelamkan diri dalam kegelapan di dalam tubuhku sendiri. Tak pelak lagi, itu adalah musik. Seseorang sedang bermain alat musik. Secara langsung, tanpa bantuan pengeras suara. Tapi alat musik macam apa itu? Alat musik mirip mandolin yang Anthony Quinn mainkan di Zorba the Greek? Bouzouki? Namun siapa gerangan yang memainkan bouzouki di tengah malam? Dan di mana?

*

Musik itu tampaknya berasal dari desa di puncak bukit yang kami naiki setiap hari untuk melemaskan badan. Aku berdiri di persimpangan jalan, bertanya-tanya apa yang harus dilakukan, dan arah mana yang harus diambil. Izumi seharusnya mendengar musik yang sama di titik ini. Dan aku merasa yakin ia akan menuju tempat itu.

Aku mengambil risiko dan berbelok ke kanan di persimpangan, jalan menuju lereng ini yang aku tahu dengan baik. Tak ada pohon di sisi jalan, hanya semak berduri setinggi lutut yang tersembunyi dalam bayang-bayang tebing. Semakin jauh aku berjalan, semakin keras dan jelaslah musik itu terdengar. Aku juga bisa menangkap melodinya lebih jernih lagi. Ada semacam kegembiraan yang amat mencolok dalam melodinya. Kubayangkan desa di puncak bukit itu tengah mengadakan semacam kenduri. Lalu aku teringat di hari sebelumnya, di pelabuhan, kami melihat prosesi pernikahan secara langsung. Tentu musik ini berasal dari kenduri pernikahan yang diselenggarakan malam hari.

Saat itu—tanpa peringatan terlebih dahulu—aku lenyap.

Mungkin karena cahaya bulan, atau karena musik itu. Setiap kali aku melangkahkan kaki, aku merasa diriku tenggelam lebih dalam ke dalam pasir hisap yang melenyapkan identitasku; perasaan yang sama seperti saat aku berada dalam pesawat melintasi mesir. Bukan aku yang berjalan di bawah sinar bulan. Ini bukan aku, tapi pemeran pengganti, yang terbuat dari plester. Aku mengusap wajahku dengan telapak tangan. Tapi ini bukan wajahku. Dan ini bukan telapak tanganku. Jantungku berdegup keras, mengirimkan darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan yang sinting. Tubuh ini adalah orang-orangan dari plester, boneka voodoo yang ditiupkan nyawa oleh seorang penyihir. Cahaya dari kehidupan nyata telah hilang. Pemeran penggantiku, kumpulan otot palsu yang bergerak tanpa kukehendaki. Aku hanya boneka yang digunakan untuk ritual pengorbanan.

Jadi, di manakah ‘aku’ yang sebenarnya? Aku bertanya-tanya.

Tiba-tiba suara Izumi muncul entah dari mana. Dirimu yang sebenarnya sudah dimakan para kucing. Sementara kamu berdiri di sini, kucing-kucing lapar itu sudah melahapmu—memakan seluruh tubuhmu. Dan yang tersisa hanyalah belulang.

Kupandangi sekitar. Itu hanya ilusi, tentu saja. Yang bisa kulihat hanyalah tanah yang dipenuhi bebatuan, semak-semak rendah, dan bayangan kecil mereka. Suara itu ada dalam kepalaku.

Berhentilah memikirkan kegelapan seperti itu, aku menasihati diri sendiri. Seolah berusaha menghindari ombak yang amat besar, aku berpegang erat pada batu besar di gigir pantai dan menghela nafas. Ombak itu pasti akan berlalu. Kau hanya kelelahan, ujarku pada diri sendiri, dan terlalu tegang. Berpeganganlah pada sesuatu yang nyata. Tak jadi soal apa pun itu—yang penting nyata. Aku merogoh saku untuk menggenggam koin. Koin-koin itu berkeringat di telapak tanganku.

Aku berusaha keras memikirkan hal lain. Apartemenku yang hangat di Unoki. Koleksi rekaman yang kutinggalkan di sana. Koleksi jazz-ku yang meski sedikit tapi menyenangkan. Secara khusus, aku menyukai pianis jazz berkulit putih era lima puluh dan enam puluhan. Lennie Tristano, Al Haig, Claude Williamson, Lou Levy, Russ Freeman. Kebanyakan sudah tidak diproduksi lagi, dan aku menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mengoleksi mereka. Aku rajin berkeliling toko-toko musik, tukar-menukar barang dengan kolektor lain, dan perlahan memperkaya kintakaku sendiri. Sebagian besar kualitas pertunjukkan koleksiku bukanlah sesuatu yang sering kausebut ‘kelas satu’. Tapi aku menyukai keunikannya, suasana intim yang disampaikan oleh rekaman tua dan apak itu. Dunia akan menjadi tempat yang sangat membosankan jika hanya diisi oleh produk kelas satu, bukan? Saat ini, aku merasakan kembali setiap detail dari sampul rekaman lawas itu—berat dan bobot dari album itu ada di tanganku.

Namun kini, kenyataannya, semua itu sudah lenyap untuk selamanya. Dan aku sendirilah yang melenyapkan mereka. Tak akan pernah lagi aku mendengar rekaman-rekaman itu di sisa hidupku.

Aku mengingat aroma tembakau saat aku mencium Izumi. Rasa bibir dan lidahnya. Kututup mataku. Aku ingin ia ada di sisiku. Aku ingin ia menggenggam tanganku, seperti yang ia lakukan saat kami terbang melintasi mesir, dan takkan lepas.

Ombak itu akhirnya menghantamku dan pergi begitu saja, dan pula musik itu.

Apakah mereka berhenti bermain? Mungkin saja begitu. Lagipula, ini sudah hampir pukul satu. Atau mungkin sebenarnya musik itu tidak pernah dimainkan. Itu pun sangat mungkin. Aku sudah tak memercayai pendengaranku. Aku memejamkan mata lagi dan tenggelam ke dalam kesadaranku—menurunkan suara, membiarkan segalanya tenggelam ke dalam kegelapan itu. Tapi aku tidak mendengar suara apa pun. Tak ada gema.

Aku melihat jam tangan. Dan baru menyadari aku bahkan tak mengenakannya. Sambil mendesah, aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Aku tidak terlalu peduli soal waktu. Kupandangi langit. Bulan mengambang seperti karang yang dingin, kulitnya habis digerogoti waktu yang tak kenal kasihan. Bayang-bayang di permukaannya seperti kanker yang tengah memperluas wilayahnya. Cahaya bulan memperdaya pikiran manusia. Melenyapkan kucing. Dan ia juga melenyapkan Izumi. Mungkin kejadian malam ini sudah disusun dengan hati-hati, dimulai dari malam saat kucing itu menghilang.

Aku menggeliat, melemaskan lenganku, jemariku. Haruskah kulanjutkan, atau kembali dengan cara yang sama seperti aku datang? Kemanakah Izumi pergi? Tanpanya, bagaimana aku bisa terus bertahan hidup, sendirian di pulau terpencil ini? Ia satu-satunya hal yang menyatukan kerapuhan, kelabilanku.

Aku terus menanjak ke atas bukit. Aku sudah datang sejauh ini dan lebih baik sampai ke puncak. Benarkah ada musik di sana? Aku harus memastikannya sendiri, bahkan meski hanya tersisa sedikit bukti. Dalam lima menit, aku telah mencapai puncak. Di sebelah selatan, bukit melandai ke laut, pelabuhan, dan kota yang terlelap. Lampu-lampu jalan menghiasi jalan raya sepanjang pantai. Sisi lain bukit terbungkus kegelapan. Tak ada indikasi apa pun yang menunjukan bahwa pesta pernikahan baru saja di gelar di sana beberapa saat lalu.

Aku kembali ke apartemen dan menenggak segelas brandy. Berusaha tidur, namun tak bisa. Hingga cahaya muncul di ufuk timur, aku masih berada dalam cengkraman rembulan. Lalu tiba-tiba saja, aku membayangkan tiga kucing itu, nyaris mati kelaparan di dalam apartemen yang terkunci. Aku—yang benar-benar aku—sudah mati, dan kucing-kucing itu hidup, menyantap dagingku, menggigit jantungku, menghisap darahku, melahap penisku. Samar-samar, aku dengar suara mereka menjilat menjilati otakku. Seperti penyihir dalam Macbeth, tiga kucing lincah mengelilingi kepalaku yang hancur, menyeruput sup kental di dalamnya. Ujung lidah mereka yang kasar menjilat lipatan-lipatan pikiranku yang lunak. Dan tiap jilatan mereka membuat kesadaranku berkedip-kedip seperti lidah api dan memudar.

Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen ketiga Haruki MurakamiBlind Willow, Sleeping Women; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh admin Agraria dari terjemahan bahasa Inggris oleh Philip Gabriel.

Penerjemah Sabda Armandio https://agrariafolks.wordpress.com

 

Narasi Asura, Narasi Kebangsaan dalam Novel Rahwana

Siapa saja yang pernah menyimak Ramayana seharusnya memiliki pertanyaan, jika Rahwana sebegitu kejam dan tidak bermoralnya, kenapa ia sama sekali tidak menyentuh Shinta? Dan jika Rama sebegitu baik dan bermoralnya, kenapa ia membiarkan Shinta dilalap api untuk membuktikan kesuciannya setelah Alengka dihancurkan? Tak sampai di situ, setelah Shinta dibuang ke hutan, mengandung hingga melahirkan sendirian, dengan ditemani seorang begawan suci… ketika ingin kembali ke pelukan Rama, Rama justru tak bisa menolak prasangkaan para brahmana bahwa mungkin Shinta sudah diapa-apakan oleh sang begawan dan disuruh melakukan pembuktian sekali lagi, yang menyebabkan akhirnya Shinta bunuh diri?

Rahwana, Novel Sejarah

Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut tersaji dalam novel Rahwana, sebuah kisah rahasia, yang ditulis oleh Anand Neelakantan. Novel ini merupakan narasi subversif dari sisi bangsa Asura yang kalah dalam peperangan tersebut.

Sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang. Dan yang kalah juga membuat versi sejarah lain yang biasanya berbeda oleh pemenangnya. Mana kebenaran, kita sendiri yang memilih untuk meyakini yang mana.

Hal hebat dari novel ini ialah menyajikan Asura, Dewa, dan Wanara sebagai makhluk biasa (“manusia”) yang berbeda ras dan agama. Ramayana adalah kisah pertarungan antara bangsa Asura dan bangsa Dewa, dengan suku Wanara di tengah-tengahnya. Bangsa Asura sering disebut sebagai Raksasa karena perawakannya yang besar dan hitam dengan rambut keriting. Bangsa Asura ini adalah bangsa penganut Siwa, pengikut asli Siwa yang sempat berjaya sekian lama, mencapai puncak peradaban yang agung sebelum bangsa Dewa (bangsa yang berkulit cerah) dengan cerdik menghancurkan kekuasaan Asura. Kemenangan bangsa Dewa dipimpin oleh Wisnu, dengan panglimanya bernama Indra, yang atas kejayaan itu Wisnu kemudian dituhankan, begitu juga Indra. Sementara itu, suku Wanara adalah suku campuran. Wanara berarti kera. Namun ini adalah metafora untuk ejekan bagi mereka, karena Wanara adalah suku campuran antara bangsa Asura dengan bangsa Dewa. Mereka dikucilkan dari Asura maupun Dewa dan akhirnya membentuk kelompok sendiri di hutan-hutan dan kemudian menjadi penting karena kepemimpinan Subali.

Lalu siapa Rahwana?

Rahwana terlahir dari ayah Brahmana dan ibu Asura. Ia begitu jengah dengan kehidupan bangsa Dewa dengan sistem kastanya dan kehancuran bangsa Asura yang disebabkan oleh tidak adanya persatuan bangsa Asura. Ia ingin membawa kejayaan Asura sekali lagi. Dan takdir mempertemukannya dengan Mahabali, Maharaja terakhir Asura yang sudah terasing. Mahabali menjadi guru bagi Rahwana. Namun ada satu hal yang ditolak Rahwana dari Mahabali, yakni ketika Rahwana diminta untuk menanggalkan 9 sifat alami manusia, dan menyisakan satu saja, yakni akal budi.

Rahwana mempertahankan kesepuluh sifat alami itu (salah satunya cinta) karena itulah yang membuat dirinya hidup sebagai manusia. Ia tidak menghilangkan sifat-sifat itu. Karena itulah, ia disebut Dasamuka.

Dengan segala permasalahannya, kemudian Rahwana pelan-pelan berhasil membangun kejayaan Asura. Dari kerajaan kecil, Alengka mencapai puncak peradabannya.

Shinta dan Rahwana

Bangsa Asura sangat percaya pada ramalan. Ketika anak pertama Rahwana lahir, ia mendapat ramalan anak perempuannya akan membawa kehancuran bagi bangsa Asura. Karena itu, dalam suatu kesempatan, ketika Rahwana ditangkap Arjuna Wiwaha, para pengikut Rahwana memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh anak Rahwana. Bhadra, orang kepercayaan Rahwana ditugasi untuk membuang anak itu ke jurang. Namun, Bhadra yang tahu junjungannya sangat mencintai anaknya tak sampai hati membunuh anak itu. Di hutan, ia malah mendengar derap pasukan bangsa Dewa dan meninggalkan anak itu. Ia memanjat pohon dan tetap mengawasi apa yang terjadi. Anak itu dipungut oleh seorang raja bangsa Dewa. Dan nama anak itu Shinta.

Setelah Rahwana ditebus, dan mengetahui kenyataan anaknya menghilang, ia begitu marah. Ia tahu pengikutnyalah yang melenyapkan anaknya. Ia mencari Bhadra, dan mengetahui kenyataan Shinta tidak mati. Ia justru membiarkan Shinta diasuh bangsa Dewa daripada akan dibunuh lagi oleh pengikutnya.

Namun seorang ayah tetaplah seorang ayah. Ketika sayembara pernikahan Shinta, ia datang dan menyaksikan Rama, seorang pangeran Ayodya yang terbuang, dianggap memenangkan sayembara meski sebenarnya Rama tak benar-benar berhasil menarik busur panah.

Pernikahan Rama dan Shinta terjadi. Dan amarah Rahwana bergejolak manakala Laksmana memotong payudara Sarpakenaka, adiknya. Ia juga mendengar kelicikan Rama yang memanah Subali ketika Sugriwa mengudeta kakaknya itu. Ia tidak ingin Shinta bersama seseorang yang licik seperti mereka. Rahwana pun menculik Shinta bersama Marica yang menyamar menjadi kijang kencana untuk mengalihkan perhatian Rama. Marica, paman Rahwana, gugur saat itu.

Narasi Kebangsaan

Hal menarik lainnya dari cerita ini adalah pelajaran kebangsaan yang disadari Rahwana. Kejatuhan Asura adalah buah keteledoran Asura. Mereka tidak pernah menyangka Wisnu dengan kelompok yang sedikit berhasil menjatuhkan Asura.

Hal itu dimulai dengan masuknya para brahmana ke Asura, meminta izin untuk melakukan pengajaran. Ternyata pengaruh brahmana dengan sistem kastanya dengan cepat mempengaruhi bangsa Asura yang pro-kesetaraaan.

Hal yang sama juga terjadi berabad-abad kemudian dalam cerita kejatuhan Cordova. Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, maka infiltrasi/susupi dulu keyakinan, cara hidup, dan kebudayaannya. Kejayaan Islam di Eropa itu jatuh manakala anak mudanya mulai terpengaruh cara hidup barat dan tidak peduli pada identitasnya sendiri. Ketika sudah lemah pertahanan kebudayaannya, itulah saat yang tepat untuk penyerangan militer.

Situasi itu juga patut dijadikan pelajaran bagi bangsa kita karena penulis sekarang melihat banyak upaya testing the water dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa kita.

Kedua, akan selalu ada pihak yang berkhianat. Sebuah bangsa jatuh bukan cuma karena kuatnya pihak lawan, tetapi karena ada rongrongan pengkhianat dari dalam. Dalam agama, umat tidak akan hancur oleh kafir, melainkan oleh para munafik.

Situasi itu dialami oleh Rahwana. Wibisana, adiknya sendiri, mengkhianati Rahwana karena Wibisana percaya pada sistem yang dibangun Wisnu. Baruna, sang panglima angkatan lautnya, juga menyeberang ke pihak Rama karena ia adalah orang yang pragmatis. Lankini yang menjaga hutan selatan Alengka juga membiarkan para Wanara mengambil tanaman obat untuk mengobati Rama yang terluka parah karena pertarungan dengan Indrajit (anak Rahwana), dan peristiwa ini menewaskan Prahasta, sang Mahapatih.

Prahasta, sang Mahapatih juga sempat memberikan pelajaran berharga manakala pasukan Rahwana hendak menerobos istana Yama untuk membebaskan Kumbakarna. Pengkhianat dari istana Yama yang membocorkan jalan rahasia adalah orang pertama yang ditusuk Prahasta, karena pengkhianatan adalah karakter. Sekali berkhianat, ia akan seterusnya berkhianat.

Rahwana pun akhirnya kalah dari Rama dalam peperangan tersebut.

Lalu bagaimana nasib Rama?

Dalam Ramayana, tidak banyak yang mengetahui sampai akhir nasib sang penakluk Maharaja Alengka tersebut. Rama justru menderita setelah kehilangan Shinta, dan hanya menyisakan sang adik, Laksmana di sisinya. Ia dikelilingi oleh para brahmana yang ternyata ingin menancapkan kekuasaan penuh pada Rama.

Sang adik dijebak dan kemudian dihukum mati. Rama tak bisa melakukan apa-apa karena alasannya adalah aturan Wisnu.

Hikmah penting di sini adalah, waspadailah jika ada agamawan yang masuk ke kekuasaan. Agamawan yang sudah dimabuk kekuasaan justru memiliki potensi bahaya yang mahadahsyat.

novel Rahwana, Anand Neelakanta

 

Haruki Murakami: Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa

cerpen haruki murakami

Aku sedang di dapur memasak spaghetti saat wanita itu menelepon. Beberapa saat sebelum spaghetti matang; di sanalah aku, menyiulkan awalan dari La Gazza Ladra-nya Rossini yang sedang diputar radio FM. Sungguh sempurna memasak spaghetti diiringi musik yang pas.

Aku mendengar dering telepon tapi membatin, Acuhkan saja. Biarkan spaghetti matang dulu. Hampir beres, dan di samping itu, Claudio Abbado bersama London Symphony Orchestra akan memasuki crescendo. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk mengecilkan api dan pergi menuju ruang tengah, dengan sumpit yang dipakai menggoreng masih di tangan, mengangkat gagang telepon. Mungkin telepon dari teman, terpikir olehku, mengabarkan kalau ada tawaran kerja.

“Aku minta sepuluh menit,” ujug-ujug terdengar suara seorang wanita.

“Maaf?” aku berseru balik tanpa berpikir, “Dengan siapa ya?”

“Sepuluh menit saja, hanya ini yang kuminta,” ulang si wanita.

Aku benar-benar tak punya ingatan pernah mendengar suara wanita ini sebelumnya. Dan aku sangat yakin dengan kemampuan pendengaranku, jadi tak akan salah. Ini suara wanita yang tidak kukenal. Suara lembut, rendah, yang tak mencolok.

“Maaf, bisa tahu dengan siapa ini?” Aku mematut-matut sesopan mungkin.

“Tak penting. Yang kumau cuma sepuluh menit saja. Sepuluh menit agar kita saling memahami satu sama lain.” Dia menyampaikan dengan cepat namun teratur.

“Saling memahami satu sama lain?”

“Tentang perasaan kita,” ringkasnya.

Aku menengok ke belakang melhat pintu terbuka menuju dapur. Kepulan asap putih keluar dari panci spaghetti, dan Abbado masih menggiringkan Gazza-nya.

“Jika kau tak keberatan, aku sedang masak spaghetti saat ini. Sudah hampir matang, dan bakal kacau kalau aku bicara untuk sepuluh menit. Jadi gimana kalau telepon lagi nanti?”

“Spaghetti?” dia menggerutu tak percaya. “Ini masih setengah sepuluh pagi. Apa yang kau lakukan dengan masak spaghetti pukul setengah sepuluh pagi? Aneh, kan?”

“Aneh atau tidak, bukan urusanmu kan?” tegasku. “Aku belum sarapan, jadi aku lapar saat ini. Dan selama aku yang memasaknya, kapan dan apa yang aku makan itu urusanku, iya kan?”

“Baik, terserah kau. Sudahi dulu berarti,” ucap wanita itu dengan suara culas. Suara yang garib. Sedikit saja tercipta pergeseran emosi dan nada suaranya berubah. “Aku akan telepon lagi nanti.”

“Tunggu sebentar,” aku tergagap-gagap. “Jika kau hendak jualan, lupakan saja soal menelepon kembali. Aku pengangguran sekarang dan nggak mampu beli apapun.”

“Aku sudah tahu itu, jangan dipikirkan.” ucap wanita itu.

“Kamu sudah tahu? Tahu apaan?”

“Kalau kau pengangguran, tentu. Aku sudah tahu. Jadi teruskan masak spaghetti-mu dan jangan pikirkan itu, oke?”

“Hey, siapa-” aku meluncurkan pertanyaan, namun sambungan putus tiba-tiba. Memotong sambunganku. Untuk bisa memutus secepat itu; dia pasti langsung menekan tombol dengan jarinya.

Aku ditinggal menggantung. Dalam diam aku menatap gagang telepon yang masih dalam genggaman tanganku dan sejurus kemudian teringat akan spaghetti. Aku meletakan gagang telepon dan balik ke dapur. Mematikan kompor, meniriskan spaghetti ke saringan, melumerinya dengan saus tomat. Aku memanaskannya dalam panci, kemudian memakannya. Ini terlalu matang, semua berkat panggilan telepon tak berarti tadi. Bagaimanapun susahnya, atau karena aku sedang tidak dalam suasana hati untuk meributkan perkara memasak spaghetti – aku terlalu lapar. Aku hanya mendengar radio yang sedang mengudara memainkan musik untuk dua ratus gram spaghetti yang aku kunyah dengan lahap tiap helainya menuju ke dalam perut.

Aku mencuci piring dan penggorengan sementara memanaskan secerek air, lalu menuangkannya untuk secangkir kantong teh. Saat menyesap tehku, aku memikirkan panggilan telepon tadi.

Agar kita bisa saling memahami satu sama lain?

Apa yang dimaksud wanita itu, dengan meneleponku seperti itu? Dan siapa pula dia?

Semuanya masih misteri. Aku tak bisa mengingat wanita manapun yang pernah meneleponku tanpa memberi nama terlebih dahulu, atau aku tak punya petunjuk soal apa yang ingin dia bicarakan.

Bodo amat, aku membatin, kenapa aku harus peduli soal saling memahami perasaaan dengan seorang wanita aneh? Hal baik apa yang bakal terjadi? Yang paling penting sekarang adalah aku bisa dapat pekerjaan. Kemudian aku bisa membentuk siklus hidup yang baru.

Meski aku telah kembali ke sofa untuk melanjutkan membaca novel Len Deighton yang aku pinjam dari perpustakaan, pandangan sekilas dari sudut mataku ke telepon membuat kembali memikirkannya. Apa sih perasaan yang perlu dipahami dalam sepuluh menit itu? Maksudku, sungguh, sepuluh menit untuk saling memahami perasaan satu sama lain?

Pikirkan, wanita itu dengan spesifik meminta waktu sepuluh menit sedari awal. Terlihat kalau dia sangat yakin dengan waktu yang dibutuhkan. Seakan-akan sembilan menit itu terlalu singkat, sedangkan sebelas menit terlalu lama. Seperti ketika membuat spaghetti yang matang dengan pas harus dilakukan dalam waktu tertentu secara tepat.

Pikiran ini berkecamuk di kepalaku, aku kehilangan fokus pada alur novel yang kubaca. Jadi aku memutuskan untuk melakukan beberapa aktivitas ringan, mungkin menyetrika satu atau dua baju. Ketika sedang kisruh, aku selalu menyetrika baju. Kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Aku membagi proses menyetrika baju menjadi dua belas langkah: dari (1) kerah <bagian luar>, sampai (12) pergelangan tangan <sebelah kiri>. Urutannya tak pernah berubah. Satu demi satu, aku menghitung tiap langkah. Penyetrikaan tak akan benar kalau aku tak melakukan ini.

Jadi di sinilah aku, menyetrika baju ketiga, menikmati desisan uap setrika dan harum khas kain yang panas, memeriksa apakah ada kerutan sebelum menggantung tiap baju di lemari. Aku mematikan setrika dan menyimpannya di kabinet beserta papan setrikanya.

Aku merasa haus dan bergerak menuju dapur untuk mengambil air yang bersamaan dengan ini telepon berdering. Dia lagi, pikirku. Dan untuk beberapa saat aku berpikir apakah aku harus mengacuhkannya dan tetap menuju dapur. Tapi aku tak pernah tahu, aku berbalik ke ruang tengah dan mengangkat telepon. Jika ini si wanita itu lagi, aku akan berkata kalau aku sedang menyetrika dan segera kututup telepon ini.

Yang menelepon, bagaimanapun, adalah istriku. Melihat jam di atas TV, sudah pukul setengah duabelas.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Baik,” jawabku, merasa lega.

“Apa yang sedang kau kerjakan?”

“Menyetrika.”

“Ada masalah?” tanya istriku. Ada nada tegang dalam suaranya. Dia tahu kalau aku menyetrika pasti ada sesuatu yang tak beres.

“Enggak ada. Aku hanya pengen nyetrika saja. Nggak ada alasan apapun,” jawabku, memindahkan gagang telepon dari tangan kanan ke tangan kiri dan duduk di kursi. “Jadi, ada yang ingin kau sampaikan untukku?”

“Ya, ini soal pekerjaan. Ada kesempatan kerja nih.”

“Ya, ya.” timpalku.

“Kau bisa nulis puisi?”

“Puisi?” aku membalas dengan terkejut. Ada apa dengan puisi?

“Redaksi majalah tempat kenalanku bekerja membuat rubrik fiksi populer bulanan untuk cewek-cewek remaja dan mereka sedang mencari seseorang untuk dipilih membikin puisi. Mereka ingin ada puisi untuk tiap bulannya sebagai permulaan. Kerjaannya gampang dan gaji nggak terlalu buruk lah. Tentu ini hanya kerja sambilan, tapi ada kemungkinan mereka akan mengikatmu untuk urusan redaksional dan-”

“Gampang?” tukasku. “Tunggu sebentar. Aku mencari posisi di bidang hukum. Apa yang membuatmu membawa-bawa puisi segala?”

“Oke, bukankah kau bilang kau sering menulis saat masih SMA?”

“Untuk koran memang. Koran sekolah. Tim ini memenangkan pertandingan sepakbola; guru olahraga jatuh dari tangga dan harus dibawa ke rumah sakit. Hanya artikel bodoh seperti itu yang kutulis. Bukan puisi. Aku nggak bisa bikin puisi.”

“Bukan puisi betulan, semacam puisi buat cewek-cewek SMA baca. Nggak perlu bagus-bagus amat. Mereka nggak terlalu peduli apakah kau bisa menulis kayak Allen Ginsberg. Tulis saja yang kau bisa.”

“Aku juga nggak bisa bikin puisi macam begitu.” gertakku.

“Hmm,” cibir istriku. “Ini pekerjaan halal, bagaimanapun. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?”

“Beberapa kesempatan kerja sedang menantiku. Keputusan akhirnya akan muncul beberapa minggu lagi. Jika itu gagal, maka aku akan memikirkan soal ini.”

“Oh? Terserah kau berarti. Coba katakan, hari apa sekarang?”

“Selasa,” aku berpikir sepersekian detik.

“Oke, jadi, bisakah kau pergi ke bank untuk membayar tagihan gas dan telepon?”

“Tentu. Aku kebetulan mau pergi belanja untuk makan malam nanti. Akan aku urus.”

“Dan apa makan malam kita?”

“Hmm, kupikir dulu,” ucapku. “Belum kepikiran. Aku rasa aku akan putuskan saat belanja nanti.”

“Kau tahu,” istriku berkata dengan nada suara baru. “Aku telah memikirkan ini. Mungkin kau nggak perlu buru-buru mencari kerja lagi.”

“Kenapa emangnya?” keluhku. Kejutan lain? Apakah tiap wanita di dunia ini mencoba membuatku senewen lewat telepon? “Kenapa aku nggak boleh mencari pekerjaan? Tiga bulan lagi kompensasi pemberhentian pekerjaanku akan ludes. Nggak ada waktu buat malas-malasan.”

“Gajiku naik, dan kerja sambilanku berjalan baik, tanpa menyebut kalau kita punya tabungan berlebih. Jadi jika kita nggak terlalu menginginkan barang mewah, kita bisa tetap makan.”

“Dan aku yang mengerjakan pekerjaan rumah?”

“Ada yang salah?”

“Aku nggak tahu,” ucapku jujur. Aku benar-benar tak tahu. “Aku harus memikirkan soal ini.”

“Coba pikir ulang saja,” yakin istriku. “Oh, ngomong-ngomong, apakah si kucing sudah balik?”

“Kucing?” Aku tertangkap basah, lalu aku sadar aku lupa sepenuhnya soal kucing sejak pagi tadi. “Nggak, belum kelihatan.”

“Bisakah kau mencari lebih jauh di sekitar perumahan? Dia sudah hilang empat hari loh.”

Aku membalas, mengalihkan gagang telepon kembali ke tangan kananku.

“Dugaanku kucing itu ada di halaman rumah kosong di ujung gang. Halaman yang ada patung kecil burung dari batu. Aku sering melihatnya di sana. Kau tahu yang kumaksud?”

“Nggak, aku enggak pernah lihat,” ucapku. “Dan sejak kapan kau keluyuran di sekitar gang itu? Belum pernah kau bilang-”

“Maaf nih, mesti udahan. Harus kerja lagi. Jangan lupa soal kucingnya, ya.”

Dan sambungan telepon terputus.

Aku masih duduk sambil menatap gagang telepon layaknya orang dungu sebelum menaruh kembali di tempatnya.

Kenapa istriku bisa tahu banyak soal gang itu? Aku tak habis pikir. Dia harus memanjat tembok batako tinggi untuk bisa sampai ke sana dari halaman kami, dan apa alasan masuk akal yang membuat dia susah-susah menuju ke sana?

Aku pergi ke dapur untuk segelar air, menyalakan radio FM, lalu memotong kukuku. Mereka sedang memainkan album baru Robert Plan. Aku mendengarkan dua lagu yang membuat kupingku panas dan segera mematikannya. Aku menuju beranda untuk mengecek wadah makan kucing; ikan kering yang kusimpan malam sebelumnya masih tak tersentuh. Menandakan kalau kucing belum kembali.

Tetap berdiri di beranda, aku menatap matahari musim semi yang terang menyoroti halaman mungil kami. Sangat susah membayangkan halaman yang tak menarik ini. Matahari menyinari halaman ini hanya beberapa saat, jadi tanahnya selalu gelap dan lembab. Tak banyak tanaman: hanya beberapa bunga biasa-biasa saja. Dan aku tak terlalu memikirkan bunga-bunga ini.

Dari cabang pohon terdekat terdengar bunyi kreaak-kreaak burung secara berkala, tajam seperti mengeratkan musim semi. “Burung Nejimaki”, kami menyebutnya. Istriku yang menamainya. Aku tak tahu disebut apa burung itu. Atau bagaimana bentuknya. Meski begitu, burung nejimaki ini selalu hinggap tiap pagi di atas pohon sekitar perumahan untuk menyambut. Untuk kami, dunia kecil kami yang sunyi, semuanya.

Saat mendengarkan bunyi burung nejimaki itu, aku berpikir. Kenapa harus susah-susah mencari kucing itu? Dan intinya, jika aku menemukannya, apa yang selanjutnya harus kulakukan? Menyeretnya pulang lalu menceramahinya? Mohon dengan sangat – Dengar, kau sudah membuat khawatir semua orang, jadi kenapa kau tak kembali pulang?

Hebat, pikirku. Sungguh hebat. Apa yang salah dengan membiarkan kucing pergi ke tempat yang ia inginkan dan melakukan apa yang ia suka? Inilah aku, umur tiga puluh, dan apa yang kukerjakan? Mencuci baju, menyiapkan makan malam, mencari kucing.

Belum begitu lama, kupikir, aku masih seorang lelaki pada umumnya. Selalu bersemangat penuh ambisi. Saat SMA, aku membaca autobiografi Clarence Darrow dan memutuskan untuk menjadi pengacara. Nilai-nilaiku juga tak terlalu buruk. Dan di tahun-tahun terakhir aku dipilih teman-teman sekelasku sebagai nominasi kedua “Calon Orang Sukses.” Aku bahkan diterima di fakultas hukum universitas ternama. Jadi kenapa aku jadi kacau begini?

Aku menempatkan sikuku di meja dapur, menopang daguku, dan berpikir: Sejak kapan jarum kompas jadi rusak dan arah hidupku kesasar begini? Tak ada yang bisa kugambarkan dengan jelas. Tak ada hambatan dengan kebijakan kampus, tak ada kekecewaan pada universitas, tak pernah sekalipun terlibat masalah dengan perempuan. Sejauh yang kuingat, aku punya kehidupan yang sangat normal. Sampai satu hari, ketika mendekati waktu kelulusan, aku tiba-tiba berpikir aku bukan lagi seorang yang sama.

Kemungkinan besar, benih-benih keretakan sudah ada sejak itu, meski masih sangat kecil. Tapi seiring waktu makin membesar saja, alhasil membawaku makin jauh pada diriku yang sebenarnya. Kalau diibaratkan dengan sistem tata surya, ini pun kalau bisa, aku sekarang berada di antah berantah antara Saturnus dan Uranus. Sedikit lebih jauh dan aku bisa dengan jelas melihat Pluto. Dan lebih jauh dari itu – lihat – apa ada ya setelah itu?

Di awal Februari, aku keluar dari pekerjaanku di firma hukum. Dan tanpa alasan jelas. Bukan karena aku jemu dengan pekerjaannya. Kuakui, pekerjaannya memang tak bisa dibilang sesuatu yang menyenangkan, tapi gajinya tak terlalu buruk dan atmosfer kantor cukup bersahabat.

Tugasku di kantor adalah orang kantoran penuh waktu.

Meski memang aku percaya aku telah mendapat pekerjaan yang baik, menurut standarku. Sangat aneh karena ini datang dari mulutku sendiri, aku menemukan aku sangat cekatan ketika menerima tugas segera di kantor itu. Aku mengerti dengan cepat, bekerja secara metodis, berpikir praktis, tak mengeluh apapun. Inilah mengapa, ketika aku memberitahu rekan seniorku bahwa aku ingin keluar, pria tua itu – pemimpin dari “- dan Anak, Pengacara Hukum” – sampai menawarkan kenaikan gaji jika aku terus bertahan bekerja.

Tapi aku sudah tak tahan. Aku tak tahu pasti mengapa aku keluar. Tak ada tujuan jelas atau apakah ada kesempatan kerja lainnya jika sudah keluar. Bayangan masa depan buruk dan pikiran untuk mencoba kembali saat berada di palang pemeriksaan sangat menakutkan. Dan di samping itu, aku sudah tidak terlalu ingin jadi seorang pengacara saat itu.

Ketika aku pulang dan memberitahu istriku saat makan malam bahwa aku berpikir untuk berhenti bekerja, yang dia katakan cuma “Tak apa.” Apa maksud dari “Tak apa” itu, aku tak tahu. Tapi hanya sampai sejauh itu saja; dia tidak menambahkan kata-kata lain lagi.

Saat aku terdiam, dia bicara. “Jika kau ingin berhenti, kenapa kau tak berhenti saja? Itu hidupmu, kau jalani seperti yang kau mau.” Ucapnya lalu menulangi ikan di piringnya dengan sumpitnya.

Istriku bekerja kantoran di sekolah desain dan itu gajinya lumayan. Beberapa kali ia mendapat tugas ilustrasi dari teman redakturnya, dan bayarannya cukup masuk akal, bagaimanapun. Aku, di bagianku, punya uang kompensasi pemberhentian yang akan cukup untuk keperluan enam bulan ke depan. Jadi jika aku tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan rumah setiap harinya, kami tetap bisa makan dan mencuci sendiri, dan siklus hidup kami tak akan terlalu berubah dibanding ketika aku masih bekerja dan punya penghasilan.

Jadi begitulah aku memutuskan berhenti bekerja.

*

Setengah satu siang aku pergi belanja seperti biasa, tas kanvas besar tersampir di pundakku. Pertama aku menuju bak untuk membayar tagihan gas dan telepon, lalu aku belanja untuk kebutuhan makan malam di supermarket, kemudian aku memesan cheeseburger dan kopi di McDonald’s.

Aku pulang dan menyimpan bahan makanan ke dalam kulkas saat kemudian telepon berdering. Terdengar sesuatu yang akan menyakiti, lewat dering yang seperti itu. Aku meninggalkan kemasan plastik tahu yang terbuka setengah di meja, menuju ruang tengah, dan mengangkat telepon.

“Selesai dengan spaghetti-nya?” Si wanita itu lagi.

“Yah, sudah beres,” ucapku. “Tapi sekarang aku harus mencari kucing.”

“Tak bisakah menunggu sepuluh menit? Cuma mencari kucing!”

“Baik, sepuluh menit, ya.”

Apa yang kulakukan? pikirku. Kenapa aku mau saja memberikan sepuluh menit waktuku untuk seorang wanita aneh?

“Sekarang, tentu saja, kita bisa saling memahami satu sama lain,” sebut wanita itu, halus dan tenang. Dari suaranya, wanita ini – siapapun dia – pasti sedang selonjoran di kursi, dengan kaki bersilang.

“Hmm, aku enggak tahu sih,” ucapku. “Beberapa orang, yang sudah sepuluh tahun bersama dan mereka masih belum bisa saling memahami satu sama lain.”

“Berani mencoba?” goda wanita itu.

Aku melepas jam tangan dan menyalakan mode stopwatch, lalu memijit tombol start.

“Kenapa harus aku?” tanyaku. “Kenapa tak menelepon orang lain saja?”

“Aku punya alasannya,” wanita itu melafalkan perlahan, seakan-akan sedang mengunyah remah-remah makanan secara terukur. “Aku tahu segalanya tentangmu.”

“Dimana? Kapan?”

“Suatu saat, di suatu tempat,” ucap wanita itu. “Tapi kenapa itu begitu penting? Yang penting itu saat ini. Benar kan? Perlu apalagi, membicarakan soal itu hanya menyia-nyiakan waktu kita. Aku tak punya banyak waktu, kau tahu.

“Beri aku bukti. Bukti kalau kau kenal aku.”

“Misalnya.”

“Berapa umurku?”

“Tiga puluh,” wanita itu menjawab dengan tepat. “Tiga puluh lebih dua bulan. Sudah puas?”

Itu membuatku tak bisa berkata-kata. Wanita itu benar-benar mengenalku. Masih memeras otakku, aku tak bisa mengenali suaranya. Aku sungguh tak bisa melupakan atau mengelirukan suara seseorang. Wajah, nama – mungkin lupa – tapi suara, tak pernah.

“Baik, sekarang, giliranmu untuk menebak yang bisa kau tahu,” usulnya. “Apa yang bisa kau bayangkan dari suaraku? Wanita seperti apa aku ini? Bisakah kau membayangkan aku? Bukankah ini keahlian khususmu?”

“Oke, kau benar,” sergahku.

“Ayo, coba dong,” desak wanita itu.

Aku menatap jam tanganku. Belum sampai semenit setengah. Aku menghela napas. Kelihatannya aku sudah memanas-manasinya, dan saat tantangan sudah diterima, tak ada jalan balik. Aku memang jago dalam permainan tebak-tebakan.

“Akhir duapuluhan, lulusan universitas, asli Tokyo, dari keluarga kelas menengah ke atas,” berondongku.

“Bukan main,” puji wanita itu, terdengar jentikan korek rokok dari telepon. Korek Cartier, terdengar dari suaranya. “Teruskan.”

“Cukup cantik. Setidaknya, menurutmu begitu. Tapi ada sesuatu yang kompleks. Kau terlalu pendek atau dadamu terlalu kecil atau semacam itu.”

“Hampir mendekati,” wanita itu cekikikan.

“Kau sudah menikah. Tapi itu tak selancar yang kau bayangkan. Ada masalah. Nggak ada wanita tanpa masalah yang bakal menelepon seorang pria dan tanpa mengenalkan nama terlebih dulu. Meski aku tak kenal kau. Setidaknya aku belum pernah ngobrol denganmu sebelumnya. Ini hanya bayang-bayangku, aku masih tak tahu siapa kau.”

“Oh, benarkah?” Ucap wanita itu dalam diam yang terukur seakan-akan hendak melancarkan ganjalan pada tengkorakku. “Kenapa kau bisa begitu yakin tentang dirimu? Mungkin ada titik buta yang fatal di suatu tempat? Jika tidak, apakah kau tak berpikir kalau kau sedang memaksa dirimu melangkah lebih jauh dari seharusnya? Seseorang dengan otak dan keahlian sepertimu.”

“Kau terlalu berharap lebih,” ucapku. “Aku enggak tahu siapa kamu, tapi aku harus katakan bahwa aku bukan manusia sempurna yang seperti kau bayangkan. Aku tak mampu menyelesaikan apapun. Yang kulakukan hanya terus memintasi jalan memutar satu dan yang lainnya.”

“Tetap saja, aku punya sesuatu untukmu. Beberapa waktu kebelakang.”

“Beberapa waktu kebelakang, katamu,” aku mendesak.

Dua menit lima puluh detik.

“Belum begitu lama. Kita tak sedang membicarakan sejarah.”

“Ya, kita sedang membicarakan sejarah,” tegasku.

Titik buta, eh? Baik, wanita itu memang benar. Di suatu tempat, di kepalaku, dalam tubuhku, dalam eksistensiku saat ini, ada semacam elemen bawah tanah yang panjang dan terlupakan yang membuatku hidupku sedikit demi sedikit keluar batas.

Bukan, tak seperti itu. Bukan lagi sedikit – tapi jauh melewati batas. Sudah tak dapat ditembus.

“Aku sedang di atas kasur sekarang,” wanita itu berkata. “Aku baru beres mandi dan tak mengenakan apapun saat ini.”

Jadi seperti itu, pikirku. Tak mengenakan apapun? Mulai terasa seperti adegan video porno saja.

“Atau kau ingin aku memakai celana dalam? Bagaimana kalau kaos kaki? Apa yang kau mau?”

“Apapun boleh. Lakukan yang kau suka,” ucapku. “Tapi jika kau tak keberatan, aku bukan jenis pria macam gitu, nggak suka hal-hal beginian lewat telepon.”

“Hanya sepuluh menit. Tak lebih dari sepuluh menit. Bukan suatu kehilangan yang harus disesalkan, kan? Aku tak butuh yang lain kok. Ini hanya itikad baik biasa. Apapun itu, jawab pertanyaan tadi. Kau ingin aku bugil saja? Atau haruskah aku mengenakan sesuatu? Aku punya segala jenis barang. Suspender dan…”

Suspender? Aku gila. Apa yang dipikirkan wanita untuk memiliki semacam suspender begitu di masa sekarang? Model untuk rumah bordil, mungkin.

“Bugil enggak apa. Dan kau nggak usah bergerak,” ucapku.

Empat menit telah berlalu.

“Bulu pubisku masih basah,” ucap wanita itu. “Aku tak mengeringkannya dengan benar. Jadi masih basah. Hangat dan oh sangat basah.”

“Dengar, jika kau tak keberatan-”

“Dan di bawah sana, sangat hangat. Seperti lelehan mentega panas. Oh sangat panas. Tak bohong. Coba tebak sedang dalam posisi apa aku sekarang? Aku mengangkat lututku dan kaki kiriku mengangkang. Membentuk pukul 10:05 jika diibaratkan aku sebuah jam.”

Aku bisa bilang dari caranya bicara bahwa dia tidak sedang mengada-ada. Dia benar-benar mengangkangkan kakinya membentuk pukul 10:05, bahwa vaginanya hangat dan basah.

“Cumbu dengan bibir. Secara lembut, dan perlahan. Lalu buka. Perlahan, ya seperti itu. Sekarang cumbu dengan lembut oleh jarimu. Oh, ya, perlahan… perlahan. Sekarang biarkan satu tanganmu meremas dada sebelah kiriku, dari bawah, angkat dengan lembut, cubit saja putingnya. Lagi dan lagi. Sampai aku bisa-”

Aku menutup telepon tanpa basa-basi. Kemudian aku merebahkan diri di atas sofa, menyalakan rokok, dan menatap langit-langit, stopwatch menunjukan lima menit dua puluh tiga detik.

Aku menutup mataku dan kegelapan pun singgah, kegelapan yang buta namun berwarna.

Apa barusan? Kenapa orang-orang tak bisa meninggalkanku sendirian dalam ketenangan?

Belum sampai sepuluh menit, telepon berdering lagi, tapi kali ini aku tak mengangkatnya. Lima belas kali berdering dan kemudian berhenti. Aku membiarkannya mati, dan gravitasi serasa runtuh berganti keheningan mendalam. Keheningan yang begitu dingin itu membatu dalam bekuan gletser lima puluh ribu tahun yang lampau. Lima belas dering telepon itu telah mengubah kualitas udara di sekitarku.

ada bola yang super keras, bagaimana menurut Anda?”

Gadis itu batuk-batuk pendek.

“Belakangan ini, aku sering memikirkan ini. Mungkin karena aku punya banyak waktu luang setiap hari. Tapi memang, aku memikirkan ini. Jika aku tak melakukan apa-apa, pikiranku selalu mengawang-awang jauh. Aku jatuh dalam pikiranku, sulit untuk mencari jalan kembali.”

Sekarang, gadis itu melepaskan jarinya dari pergelangan tanganku untuk meminum sisa minuman sodanya. Aku bisa tahu dari bunyi es dalam gelas kosong itu.

“Tenang saja. Aku terus mengawasi kucing itu. Jangan khawatir. Segera saat aku melihat Noboru Watanabe, aku akan memberitahumu. Jadi kau bisa menutup matamu. Noboru Watanabe pasti lewat sini beberapa menit lagi. Maksudku, semua kucing punya jalur yang sama, jadi dia bakal muncul. Mari membayangkan saat kita menunggunya. Seperti, Noboru Watanabe mendekat, makin dekat. Dia muncul dari balik semak-semak, menyelinap di bawah tembok, berhenti lalu membaui bunga-bunga, makin dekat setiap menitnya. Coba dan bayangkan dia.”

Aku mengikutinya dan mencoba melihat kucing itu dalam mata batinku, tapi semua yang bisa kucapai hanya gambaran kucing yang sangat kabur. Benderang matahari membakar melalui pelupuk mataku, memencarkan area gelap pada citraanku; di samping itu, bagaimana pun aku mencoba aku tak bisa mengingat wajah mungil berbulu itu seakurat mungkin. Noboru Watanabe yang kubayangkan adalah citraan yang gagal, bisa dibilang menyimpang dan tak wajar. Hanya suaranya saja; yang lain-lain tak ada. Aku bahkan tak ingat bagaimana cara dia berjalan.

Gadis itu meletakan kembali jarinya di pergelangan tanganku sekali lagi dan kali ini menggambar suatu pola. Diagram aneh tentang bentuk tak tentu. Saat dia menggambari bagan di pergelangan tanganku, bersamaan dengan itu aku merasakan sepenuhnya beragam kegelapan menyusup ke kesadaranku. Aku pasti jatuh tertidur, pikirku. Bukan karena aku mengantuk, tapi sesuatu memberitahuku bahwa aku tak bisa mengelak dari sesuatu ini. Tubuhku terasa berat di atas lengkungan kanvas kursi.

Di tengah-tengah naungan kegelapan ini, sebuah gambaran jelas dari keempat kaki Noboru Watanabe muncul di kepalaku. Empat cakar coklat mungil dengan bantalan empuk pada telapaknya. Tanpa bersuara, dia berjalan dengan lesu di sebuah tanah lapang.

Tanah lapang apa? Dimana?

Aku tak bisa membayangkannya.

Kemungkinan besar kau punya sebuah titik buta di suatu tempat? ucap wanita itu lembut.

*

Aku terbangun dan mendapati diriku sendirian. Yang pergi adalah gadis itu yang berbaring di kursi di sampingku. Handuk dan rokok juga majalah-majalah masih ada di tempat, tapi minuman soda dan radio pemutar kaset sudah tak ada.

Matahari sudah condong di barat dan diriku sampai pergelangan kakiku berada dalam bayang-bayang pohon pinus. Tulisan di jam tanganku menunjukan pukul 3:40. Aku menggeleng kepalaku beberapa kali seakan menggoyang-goyang kaleng kosong, bangkit dari kursi, dan melihat ke sekeliling. Semuanya masih sama seperti saat aku pertama melihatnya. Halaman rumput yang lebar, kolam yang mengering, pagar, patung burung, bunga-bunga kecil, antena TV, tak ada kucing. Tak ada si gadis.

Aku mengempaskan diriku ke atas rumput yang terbayangi dan melarikan tanganku ke rumput hijau, sebelah mata melihat jalur kucing, sementara aku menunggu gadis itu untuk kembali. Sepuluh menit kemudian, masih tak ada tanda baik dari kucing atau gadis itu. Bahkan tak ada sesuatu yang beranjak. Aku dibuat bingung untuk melakukan apa selanjutnya. Aku merasa aku sudah melakukan sesuatu yang buruk saat tidur tadi.

Aku berdiri lagi dan menatap rumah itu. Tapi masih tak ada tanda siapa pun di sana. Hanya sinar matahari dari barat yang menyinari jendela. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menerobos lagi ke gang dan mengikuti jalan pulang. Jadi aku tidak menemukan kucingnya. Baiklah, setidaknya aku sudah mencoba.

*

Kembali di rumah. Aku membawa masuk cucian kering dan melempar semuanya lalu membuat makanan sederhana. Kemudian aku merebahkan diriku di atas lantai ruang tengah, punggungku bersandar di tembok, untuk membaca koran siang. Pukul 5:30, telepon berdering dua belas kali, tapi aku tidak mengangkatnya. Setelah dering berhenti, kekosongan berkepanjangan melayang-layang dalam ruang gelap debu yang mengambang. Jam dinding di atas TV mencoreng panel tak terlihat dalam ruang dengan cakar rapuhnya. Dunia ini hanyalah mainan yang diputar, pikirku. Sekali tiap hari burung nejimaki akan muncul dan memutar pegas dunia ini. Sendiri dalam rumah menyenangkan ini, tempat aku menua ini, sebuah bola pucat kematian mengembang di dalam diriku. Meski aku tidur di antah berantah antara Saturnus dan Uranus sekali pun, burung nejimaki di mana pun terus sibuk memenuhi tugasnya.

Aku mempertimbangkan untuk menulis puisi tentang burung nejimaki ini. Tapi tidak ada baris pertama yang terpikirkan. Di samping itu, aku ragu kalau anak-anak perempuan SMA akan tertarik untuk membaca puisi tentang burung nejimaki. Mereka bahkan tak tahu kalau burung nejimaki itu sungguh ada.

*

Sudah pukul tujuh tiga puluh ketika istriku pulang.

“Maaf, aku pulang telat,” dia meminta maaf. “Aku harus mati-matian mengurus catatan kuliah seorang murid. Perempuan yang kerja sampingan itu sungguh lelet, sehingga aku yang kena getahnya.”

“Jangan dipikirkan,” kataku. Lalu aku melangkah menuju dapur, memasak sepotong ikan dengan mentega, dan menyiapkan salad dan sup miso. Sementara itu, istriku membaca koran sore di meja dapur.

“Kau tidak di rumah jam setengah enam ya?” tanyanya. “Aku mencoba menghubungimu untuk bilang kalau aku bakal telat.”

“Aku kehabisan mentega jadi aku keluar untuk membeli,” aku berbohong.

“Kau ingat untuk pergi ke bank?”

“Tentu lah,” jawabku.

“Kalau soal kucing?”

“Belum ketemu.”

“Oh,” timpal istriku.

*

Aku menyembul keluar sehabis mandi setelah makan malam dan mendapati istriku duduk sendirian di ruang tengah yang gelap. Aku memakai kaos abu-abu dan meraba-raba dalam gelap agar bisa sampai di tempat istriku teronggok seperti barang-barang. Dia terlihat seperti seorang yang sangat kehilangan. Jika saja mereka menempatkannya di tempat lain, mungkin saja dia bisa terlihat sedikit bahagia.

Mengeringkan rambutku dengan handuk, aku duduk di sofa di seberangnya.

“Ada masalah apa?” tanyaku.

“Kucing itu sudah mati, aku tahu,” ucap istriku.

“Ayolah,” protesku. “Kucing itu cuma mau jalan-jalan. Sebentar lagi juga dia bakal lapar dan kembali pulang. Hal ini pernah terjadi sebelumnya, kau ingat kan? Saat kita masih tinggal di Koenji-”

“Kali ini berbeda. Aku bisa merasakannya. Kucing itu mati dan membusuk di rerumputan. Kau mencarinya di halaman rumah kosong itu kan?”

“Hey, hentikan. Itu memang rumah kosong, tapi itu tetap rumah orang. Aku enggak mau masuk tanpa izin.”

“Kau membunuhnya!” tuduh istriku.

Aku menghela nafas dan menyeka kepalaku dengan handuk.

“Kau membunuhnya dengan tatapanmu itu!” dia mengulang dalam kegelapan.

“Bagaimana bisa?” belaku. “Kucing itu menghilang karena keinginannya. Bukan salahku. Kau harus tahu itu.”

“Kau! Kau gak pernah suka kucing itu!”

“Oke, memang iya,” aku mengaku. “Setidaknya aku enggak segila kau terhadap kucing. Tetap, aku ga bakal menyiksanya. Aku kasih makan tiap hari. Meski aku gak terpikat dengan si mungil celaka itu, bukan berarti aku akan membunuhnya. Berkata seperti ini dan aku jadi ingin membunuh setengah umat manusia di bumi ini.”

“Baik, memang kau,” istriku memberi vonis. “Memang kamu. Selalu, selalu seperti ini. Kau membunuh semuanya tanpa perlu mengayunkan tanganmu.”

Aku akan balas menghardik tapi dia mulai menangis. Aku menghentikan ucapanku dan melempar handuk ke keranjang kamar mandi, pergi ke dapur, mengambil bir dari kulkas, dan menyesapnya. Hari yang begitu tak masuk akal! Satu hari yang tak masuk akal, dari bulan yang tak masuk akal, dalam tahun yang tak masuk akal.

Noboru Watanabe, pergi kemana kau?, pikirku. Apakah burung nejimaki memutar pegasmu?

Ini hanya sebuah puisi biasa:

 Noboru Watanabe

Kemana kau pergi?

Apakah burung nejimaki

Memutar pegasmu?

Aku belum menghabiskan setengah birku saat telepon mulai berdering.

“Bisakah kau mengangkatnya?” aku berteriak ke kegelapan ruang tengah.

“Tak mau! Angkat saja sendiri,” balas istriku.

“Aku enggak mau mengangkatnya,” kataku.

Tak ada yang membalasnya, dan telepon terus berdering. Dering itu menggegerkan debu yang menempel sehingga bertebaran di dalam gelap. Baik aku atau istriku tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku meminum birku, istriku terus tersedu-sedu. Sudah dua puluh kali berdering sampai aku berhenti menghitung dan membiarkan telepon tetap berdering. Kau tak bisa terus menghitung selamanya.

***

NB: Penerjemah (Arif Abdurrahman) menggunakan istilah “Burung Nejimaki” untuk “Wind-Up Bird”, yang berarti burung mainan yang ada motor pegas pemutar di bagian belakangnya.

Diterjemahkan dari “Wind-Up Bird and Tuesday’s Women” yang ada dalam kumcer The Elephant Vanished. Cerpen Haruki Murakami yang kemudian menjadi bab pertama dari novel The Wind-Up Bird Chronicle.

Sumber: https://yeaharip.com

Cerpen Haruki Murakami yang lain bisa dibaca di sini.