Cerpen Haruki Murakami: Manusia Es

Manusia Es, Terjemahan Ucu Agustin
AKU menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya.

“Lihat! Itu si Manusia Es,” bisik temanku.

Waktu itu, aku sungguh tak tahu makhluk apa itu Manusia Es. Temanku juga. “Dia pasti terbuat dari es. Itu sebabnya orang-orang menyebutnya Manusia Es.” Temanku mengatakan hal tersebut dalam nada serius seolah dia sedang membicarakan hantu atau seseorang dengan penyakit menular.

Manusia Es tinggi, tampak muda, tegap, sedikit bagian rambutnya tampak putih seperti segenggam salju yang tak meleleh. Tulang pipinya tajam meninggi seperti batu yang beku, dan jarinya embun beku putih yang seolah abadi. Namun begitu, Manusia Es terlihat seperti manusia normal. Dia tidak seperti lelaki yang bisa kau sebut tampan memang, tapi dia terlihat begitu menarik—tergantung dari bagaimana kau melihatnya. Dalam suatu kesempatan, sesuatu tentang dia menusukku sampai ke hati. Aku merasakan hal tersebut terutama saat memandang matanya. Tatapannya senyap dan transparan seperti serpih cahaya dalam untaian tetes salju di pagi musim dingin. Seperti kilatan kehidupan dalam tubuh makhluk buatan.

Aku berdiri beberapa saat memperhatikan si Manusia Es dalam jarak dekat. Dia tak menoleh. Dia hanya duduk diam, tak bergerak. Membaca bukunya seakan tiada seorang pun yang ada di sana selain dirinya….

Keesokan paginya, Manusia Es masih berada di tempat yang sama, membaca buku dengan cara yang persis sama. Ketika aku melangkah ke ruang makan untuk makan siang, dan ketika aku kembali dari bermain ski dengan teman-teman pada malam tersebut, dia masih ada di sana, mengarahkan tatapan yang sama pada halaman-halaman buku yang sama. Hal serupa terjadi sehari setelah itu. Bahkan ketika matahari tenggelam rendah, dan jam terlambat tumbuh, ia duduk di kursinya, setenang adegan musim dingin di luar jendela.

Pada sore di hari keempat, aku me-reka berbagai alasan supaya bisa tidak turut keluar menelusur lereng. Aku tinggal di hotel sendiri dan mondar-mandir di lobi yang sekosong kota hantu. Udara di lobi terasa hangat dan lembab, dan ruangan itu memiliki bau aneh yang sedih mematahkan hati—bau salju yang terlacak di dalam sol sepatu yang sekarang tengah mencair di depan perapian.

Aku menatap keluar jendela, berdesir saat melihat halaman-halaman surat kabar, dan sekonyong mendekat ke Manusia Es, mengumpulkan keberaniann untuk berbicara.

Aku cenderung pemalu dengan orang asing, kecuali memiliki alasan yang sangat bagus, aku biasanya tak mudah berbicara dengan orang yang tak kukenal. Tapi dengan Manusia Es aku merasa memiliki dorongan untuk berbincang, tak peduli tentang apa pun itu. Ini malam terakhirku di hotel tersebut, dan jika kubiarkan kesempatan ini pergi, aku takut aku takkan punya kesempatan lagi untuk bisa berbicara dengan dia: pria es, si Manusia Es itu….

“Nggak main ski?” tanyaku padanya, sesantai mungkin.

Dia memalingkan wajah perlahan seolah mendengar suara di kejauhan. Dia menatapku, lalu dengan tenang menggeleng. “Aku tidak bermain ski,” ucapnya. “Hanya ingin duduk di sini, membaca dan melihat salju.”

Kata-katanya membentuk awan putih di atas kepala, seperti balon-balon kata keterangan di komik strip. Aku benar-benar bisa melihat kata-kata itu mengambang di udara, sampai ia menggosok mereka pergi dengan jarinya yang beku. Aku tak tahu lagi apa yang harus dikatakan selanjutnya. Aku hanya tersipu dan berdiri di sana.

Manusia Es menatap mataku dan tampak sedikit tersenyum. “Mau duduk?” tanyanya. “Kau tertarik padaku, kan? Ingin tahu apa itu Manusia Es?” Ia tertawa. “Tenang, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Nggak akan pilek kok kalau cuma bicara denganku….”

Kami duduk berdampingan di sofa di sudut lobi dan menyaksikan butiran-butiran salju menari di luar jendela. Aku memesan cokelat panas dan meminumnya, sedang Manusia Es tidak memimun apa-apa. Rupanya dia tidak lebih jago dalam bercakap-cakap dari aku. Dan bukan hanya itu, kami juga tak memiliki kesamaan apa pun untuk dijadikan bahan obrolan. Awalnya, kami berbincang tentang cuaca. Lalu kami ngobrol tentang hotel.

“Anda di sini sendirian?” tanyaku pada si Manusia Es.

“Ya,” jawabnya.

Dia bertanya, apakah aku suka main ski? “Nggak terlalu,” kataku. “Aku hanya datang karena teman-temanku ngotot mengajakku. Sesungguhnya aku benar-benar jarang main ski….”

Ada banyak hal yang sebenarnya sangat ingin aku tahu dari Manusia Es. Benarkan tubuhnya sungguh-sungguh terbuat dari es? Apa yang dia makan? Di mana dia tinggal di musim panas? Apakah dia punya keluarga? Ya, hal-hal semacam itulah. Tetapi Manusia Es tidak bicara tentang dirinya, dan itu membuatku menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Sebaliknya, Manusia Es malah berbicara tentang aku. Rasanya sulit dipercaya, tetapi entah bagaimana ia tahu semuanya. Dia tahu anggota keluargaku, dia tahu umurku, tahu apa yang kusuka dan yang tidak, tahu keadaan kesehatanku, tahu sekolah yang kumasuki dan tahu juga teman-teman yang biasa kukunjungi. Dia bahkan tahu hal-hal yang telah terjadi begitu jauh di masa lalu yang aku sendiri telah lupa.

“Saya tak mengerti,” kataku, bingung. Aku merasa seakan-akan aku telanjang di depan orang asing. “Bagaimana kamu bisa tahu begitu banyak tentang saya? Bisa baca pikiran orang ya…?”

“Nggak, saya nggak bisa baca pikiran atau apa pun yang semacam itu. Cuma tahu saja,” ucap si Manusia Es. “Saya tahu begitu saja. Seakan-akan saya jauh melihat ke dalam es, dan, ketika saya melihat Anda seperti ini, hal-hal tentang Anda menjadi terlihat begitu jelas bagi saya.”

Lalu aku bertanya, “Bisakah kamu melihat masa depan?”

“Saya nggak bisa melihat masa depan,” kata Manusia Es perlahan. “Saya sama sekali nggak mampu mengambil keuntungan dari masa depan. Lebih tepatnya…, saya nggak punya konsep masa depan karena es tak memiliki masa depan. Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-olah masih hidup, meskipun itu masa lalu. Itulah esensi es,” terangnya.

“Itu bagus,” ucapku sambil tersenyum. “Benar-benar lega mendengarnya. Setelah ini… aku pun sungguh-sungguh tak ingin tahu bagaimana masa depanku.”

***

Kami bertemu lagi beberapa kali setelah aku kembali ke kota. Akhirnya, kami mulai berkencan. Kami tidak pergi ke bioskop, atau ke café. Kami bahkan tidak pergi ke restoran. Manusia Es jarang makan. Kita paling sering duduk-duduk di bangku taman dan berbincang tentang banyak hal selain tentang Manusia Es sendiri.

“Kenapa begitu?” Sekali aku pernah bertanya. “Mengapa kamu tidak mau bicara tentang dirimu? Aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Di manakah kamu dilahirkan? Seperti apa rupa orang tuamu? Bagaimana ceritanya hingga kamu menjadi Manusia Es?”

Manusia Es menatapku sekejap lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” katanya pelan dan jelas, mengembuskan embusan gelembung kata putih ke udara. “Aku tahu banyak tentang masa lalu hal-hal lain, tapi aku sendiri tidak punya masa lalu. Aku tidak tahu di mana aku lahir, atau seperti apa orang tuaku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku memiliki orang tua. Aku juga tidak tahu berapa umurku, dan bahkan aku tidak tahu apakah aku memiliki umur.” Manusia Es ternyata sesepi gunung es di malam muram….

***

Aku serius jatuh cinta pada Manusia Es. Manusia Es pun mencintaiku apa adanya—di masa kini, tanpa masa depan. Pada gilirannya aku pun mencintai Manusia Es apa adanya—di masa sekarang, tanpa masa lalu. Kami bahkan mulai berbicara tentang pernikahan.

Aku baru berusia dua puluh, dan Manusia Es adalah lelaki pertama yang benar-benar kucintai. Saat itu, aku tidak bisa membayangkan apa artinya mencintai seorang Manusia Es. Tapi bahkan jika aku jatuh cinta pada pria normal sekalipun, aku ragu akankah aku bisa memiliki ide yang jelas tentang cinta?

Ibu dan kakak perempuanku tentu saja menentang ide menikahi Manusia Es.

“Kamu terlalu muda untuk menikah,” kata mereka. “Selain itu, kamu juga tidak tahu apa-apa tentang latar belakangnya. Kamu bahkan tidak tahu di mana Manusia Es dilahirkan dan kapan ia lahir. Bagaimana mungkin kita bisa bilang ke saudara dan kerabat kita kalau kamu menikahi orang semacam itu? Lagi pula, yang kita bicarakan ini Manusia Es! Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ia mencair, hah? Kamu nggak paham kalau pernikahan itu memerlukan komitmen yang ‘riil’?!”

Biar bagaimanapun, kekhawatiran mereka tidak beralasan. Karena pada akhirnya, Manusia Es tidak pernah benar-benar terbuat dari es….

***

Dia tidak akan meleleh, tak peduli betapa hangat kondisi sekitar di mana ia berada. Dia disebut Manusia Es karena tubuhnya sedingin es, tapi apa yang membuatnya begitu, jelas bukan es. Itu bukan jenis dingin yang bisa menghapus panas orang lain. Jadi… kami menikah.

Tidak ada yang memberkati pernikahan itu. Tidak ada teman atau kerabat yang berbahagia untuk kami. Kami tidak mengadakan upacara, dan, ketika datang waktunya bagiku untuk memiliki nama keluarga yang terdaftar, Manusia Es tak memilikinya. Kami hanya memutuskan bahwa kami berdua menikah. Kami membeli kue kecil dan makan bersama, dan itulah pernikahan kami yang sederhana.

Kami menyewa subuah apartemen kecil, dan Manusia Es mencari nafkah dengan bekerja di sebuah fasilitas penyimpanan daging dingin. Dia bisa mengambil sejumlah rasa dingin dari sana, dan tak pernah merasa lelah tak peduli seberapa keras ia bekerja. Majikan suamiku sangat menyukainya, dan membayar gaji Manusia Es lebih tinggi dari karyawan lain.

Kami berdua hidup bahagia tanpa mengganggu atau diganggu siapa pun. Ketika kami bercinta dan Manusia Es menggumuliku, aku melihat dalam pikiranku, sepotong es yang kuyakin ada di suatu tempat di kesendirian yang tenang.

Kupikir Manusia Es mungkin tahu di mana es tersebut berada. Es yang dingin, beku, dan keras, sebegitu kerasnya hingga kupikir tidak ada yang bisa melebihi kekerasannya. Itulah lempengan es terbesar di dunia. Terletak di suatu tempat yang sangat jauh, dan rupanya manusia Es tengah membagikan kenangan tersebut padaku dan pada dunia.

Awalnya, aku kerap bingung bila Manusia Es mengajak bercinta. Tapi, setelah beberapa waktu, aku menjadi terbiasa. Aku bahkan mulai menyukai bercinta dengan Manusia Es.

Pada malam hari, diam-diam kami berbagi potongan es terbesar di dunia, di mana ratusan juta tahun masa lalu dunia, tersimpan di dalamnya.

***

Dalam kehidupan pernikahan kami, tidak ada masalah untuk “berbicara”. Kami saling mencintai begitu dalam, dan tak ada yang lebih penting dari itu.

Kami ingin punya anak, tapi itu tampaknya tak mungkin. Ini lebih karena, mungkin… gen manusia dan gen Manusia Es tidak bisa digabungkan dengan mudah. Dalam kasus semacam ini, karena kami tidak memiliki anak, aku memiliki lebih banyak waktu.

Aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah di pagi hari, dan kemudian tidak ada lagi yang bisa kukerjakan. Aku tidak punya teman untuk bicara atau pergi bersama, dan aku tak memiliki banyak hal yang bisa dilakukan dengan para tetangga. Ibu dan kakak perempuanku masih marah dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bertemu denganku lagi. Dan meskipun bulan-bulan berlalu, dan orang-orang di sekitar kami mulai berbicara dengan Manusia Es, jauh di dalam hati, mereka masih belum bisa menerima keberadaan Manusia Es atau aku—yang telah menikahinya. Kami berbeda dari mereka, dan tak ada jumlah waktu yang dapat menjembatani kesenjangan itu. Jadi, sementara suamiku Manusia Es bekerja, aku tinggal sendiri di rumah, membaca buku dan mendengarkan musik.

Biar bagaimanapun aku cnderung lebih suka tinggal di rumah dan aku tak keberatan sendirian. Hanya saja aku masih muda, dan melakukan hal yang sama hari demi hari akhirnya mulai terasa mengganggu. Bukan kebosanan yang menyakitkan, tapi pengulangan. Itu sebabnya suatu hari aku berkata pada suamiku, “Bagaimana kalau kita pergi berdua? Sebuah perjalanan. Untuk ganti suasana saja….”

“Sebuah perjalanan?” tukas Manusia Es. Dia menyipitkan mata dan menatapku. “Untuk apa kita melakukan perjalanan? Tidakkah kau bahagia di sini bersamaku?”

“Bukan itu,” kataku. “Tentu saja aku senang bersamamu, tapi aku bosan. Aku merasa ingin pergi ke suatu tempat yang jauh dan melihat hal-hal yang belum pernah kulihat. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menghirup udara baru. Kamu mengerti kan maksudku? Lagi pula… kita belum berbulan madu. Kita punya tabungan dan kamu punya hari libur yang harus kamu isi. Bukankah ini cuma masalah waktu saja? Kita akan pergi ke suatu tempat, dan segalanya akan mudah serta menyenangkan.”

Manusia Es menghela napas bekunya dalam-dalam. Napas beku yang mengkristal di udara diiringi sedikit suara gemerincing. Dia menyusurkan jejarinya yang panjang bersama-sama di lutut. “Baiklah, jika kamu benar-benar ingin melakukan perjalanan, aku tak keberatan. Aku akan turut pergi ke mana pun kamu pergi andai itu membuatmu bahagia. Tapi, kamu tahu ke mana kamu mau pergi?”

“Bagaimana kalau kita mengunjungi Kutub Selatan?” kataku. Kupilih Kutub Selatan karena aku yakin bahwa Manusia Es akan tertarik pergi ke suatu tempat yang dingin. Dan, jujur saja, aku memang selalu ingin melakukan perjalanan ke sana. Aku ingin mengenakan mantel bulu yang bertopi indah, aku ingin melihat aurora australis dan juga kawanan penguin yang sibuk bermain. Namun, saat kukatakan hal tersebut, suamiku menatapku lekat, tanpa berkedip, dan aku merasa seolah-olah sebongkoah es menusukku, menembus bagian belakang kepalaku.

Manusia Es diam sejenak, dan akhirnya berkata dengan suara yang seperti salju berdentingan, “Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Mari kita pergi ke Kutub Selatan…. Kau sungguh-sungguh yakin ini yang kau inginkan?”

Entah kenapa aku tak bisa segera menjawab. Suamiku, Manusia Es, menatapku begitu lama, sedang di dalam kepalaku, aku seperti mati rasa. Lalu aku mengangguk.

***

Seiring waktu berlalu, aku mulai menyesali gagasan pergi ke Kutub Selatan. Aku tak tahu persisnya kenapa, tapi begitu aku mengucapkan kata “Kutub Selatan”, sesuatu berubah dalam diri suamiku. Matanya menjadi lebih tajam, napas yang keluar jadi lebih putih, dan jejarinya terlihat semakin beku. Setelah itu dia tak berbicara padaku lagi dan ia juga berhenti makan sepenuhnya. Semua itu tentu saja membuatku merasa sangat tidak nyaman.

Lima hari sebelum waktu berangkat, kubangun keberanian dan kukatakan pada suamiku, “Mari kita lupakan Kutub Selatan. Ketika kupikir hal itu sekarang, aku sadar kalau saat ini akan menjadi sangat dingin di sana, dan itu tidak bagus untuk kesehatanku. Jadi aku mulai berpikir mungkin lebih baik kalau kita pergi ke suatu tempat yang lebih biasa. Bagaimana kalau Eropa? Mari kita liburan di Spanyol. Kita bisa minum anggur, makan paella, dan melihat adu banteng atau sesuatu yang….”

Tapi suamiku tak menaruh perhatian, ia menatap angkasa beberapa lama lalu berkata, “Tidak, aku tidak terlalu ingin pergi ke Spanyol. Spanyol terlalu panas bagiku dan kotanya terlalu berdebu. Makanannya terlalu pedas. Selain itu, kita sudah membeli tiket ke Kutub Selatan. Dan kita punya mantel bulu, dan sepatu boot berbulumu sudah berbaris. Tak mungkin kita membuangnya ke tempat sampah. Sekarang kita sudah sejauh ini, kita tidak bisa tidak pergi….”

Alasan sesungguhnya aku mengajukan ide Eropa adalah bahwa sebenarnya aku takut. Aku memiliki firasat bahwa jika kami pergi ke Kutub Selatan sesuatu akan terjadi, dan sesuatu itu tak akan mungkin bisa di-undo. Tidak bisa diulang-kembalikan lagi.

Belakangan aku mengalami mimpi buruk, dan itu terjadi berulang-ulang. Selalu mimpi yang sama. Aku keluar berjalan-jalan sendiri lalu terjatuh begitu saja ke jurang yang dalam. Jurang terbuka di dasar tanah. Tak seorang pun menemukanku. Aku membeku di bawah sana. Diam dalam es, menatap nyalang ke langit di atas permukaan. Aku sadar, tapi aku tidak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan jari pun aku tak mampu. Dari waktu ke waktu aku sadar aku telah menjadi masa lalu. Aku seolah ada dalam adegan yang bergerak mundur, menjauh dari mereka; orang-orang tersebut. Lalu sekonyong aku terbangun, dan saat terbangun, aku menemukan Manusia Es terbaring tidur di sampingku.

Suamiku, Manusia Es yang selalu tidur tanpa bernapas, Manusia Es yang seperti manusia mati….

***

Kini aku merindukan Manusia Es yang dulu pernah kutemui di ski resort. Di sini tak mungkin lagi keberadaannya menjadi perhatian siapa pun. Semua orang di Kutub Selatan menyukai Manusia Es, dan anehnya, orang-orang itu tak mengerti sepenggal pun kata yang kuucapkan. Sambil menguapkan napas putih mereka, mereka akan saling menceritakan lelucon dan berdebat serta menyanyikan lagu dalam bahasa mereka yang tak kumengerti, sementara aku duduk sendirian di kamar kami, memandang langit abu-abu yang sepertinya tak mungkin akan menjadi cerah dalam beberapa bulan mendatang. Pesawat terbang yang membawa kami ke sana sudah lama hilang, dan landasan pesawat kini tertutup lapisan es keras, sekeras hatiku.

“Musim dingin telah datang,” ujar suamiku. “Ini akan menjadi musim dingin yang sangat panjang. Takkan lagi ada pesawat atau kapal. Semuanya telah membeku. Kelihatannya kita harus tinggal di sini sampai musim semi berikutnya,” begitu ucapnya.

Sekitar tiga bulan setelah kami tiba di Kutub Selatan, aku baru sadar kalau aku hamil. Anak yang akan kulahirkan pastilah Manusia Es kecil, si junior—aku tahu itu! Rahimku sudah beku dan cairan ketubanku adalah lumpur es. Aku bisa merasakan dingin dalam diriku. Anakku akan menjadi seperti ayahnya, memiliki mata seperti tetesan air beku dan jejari yang juga kaku beku. Keluarga baru kami tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di luar Kutub Selatan.

O, aku baru tersadar. Masa lalu abadi, teramat berat dan melampaui semua pemahaman, mencengkeram begitu erat. Kita tak akan mampu mengguncangnya.

Sekarang… hampir tak ada hati tertinggal padaku. Kehangatanku telah pergi teramat jauh, dan terkadang aku bahkan lupa kalau kehangatan itu pernah ada. Di tempat ini, aku lebih kesepian dari siapa pun di dunia. Dan ketika aku menangis, suamiku sang Manusia Es akan mendekat dan mencium pipiku. Mengubah air mataku menjadi es. Dan dengan lembut dia akan mengambil air mata yang membeku di tangannya itu dan meletakkannya di ujung lidah, “Lihat betapa aku mencintaimu,” katanya.

Dia mengatakan hal yang sesungguhnya, tapi angin menyapunya ke ketiadaan, meniupkan kata-kata putihnya kembali dan kembali ke masa lalu…. (*)

(Hadiah ultah ke-25 untuk seseorang….)

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Richard L. Peterson. Lalu, diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Ucu Agustin.

Pempek Palembang: Sejarah dan Jenis-Jenis Pempek

Siapa yang tak kenal pempek? Makanan yang terbuat dari sagu dan ikan ini begitu terkenal seantero nusantara. Siapa saja yang datang ke Palembang wajib menjadikannya oleh-oleh. Warung pempek pun menjamur di kota-kota lain selain Palembang. Nikmatnya memakan pempek dengan cuka adalah sebuah keniscayaan.

Pempek adalah makanan asli Palembang. Memang sih, ada yang bilang pempek ini tak ubahnya dumpling, makanan Cina, dijual oleh orang Cina yang pada abad itu banyak berada di Palembang yang merupakan kota perdagangan. Tapi, pempek murni dari Palembang lho. Hanya saja dulu namanya bukan pempek, melainkan kelesan. Di masa Kesultanan Palembang, kelesan adalah panganan adat di dalam Rumah Limas yang mengandung sifat dan kegunaan tertentu. Dinamakan kelesan juga karena makanan ini dikeles atau tahan disimpan lama.

Kelesan mulai dijual komersial pada zaman kolonialisme Belanda. Saat itu, orang Cina yang menguasai perdagangan. Termasuk penjual kelesan juga orang Cina. Satu versi mengatakan, karena yang menjual adalah orang Cina, maka ketika pembeli datang, mereka memanggil “Pek, Apek” (sebutan untuk pria tua Cina). “Pek, Apek” inilah yang kemudian berubah menjadi pempek. Namun, versi budayawan Palembang mengatakan, penjual kelesan dulu dipanggil Empek. Setiap kali hendak membeli, pembeli memanggil “Pek, Empek”. Jadilah pempek.

Pada awalnya pempek palembang dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih. Karena ikan gabus juga mahal, kini digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Tapi yang lebih marak digunakan adalah jenis ikan laut seperti Tenggiri.

Ada banyak jenis pempek di Palembang. Baru-baru ini populer jenis baru, pempek beranak, yang diadaptasi dari bakso beranak. Nah, berikut nama pempek yang perlu kamu tahu dan wajib kamu coba:

1. Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam

Pempek kapal salam adalah jenis pempek yang paling populer. Bentuknya dibuat mirip kapal selam tempo dulu. Pempek ini berisi satu telor utuh. Juga sering disebut pempek telok besak.

2. Pempek Lenjer

Pempek lenjer adalah pempek yang berbentuk silinder, panjang. Dari bentuk panjang ini, kemudian dipotong jadi beberapa bagian. Pempek lenjer juga ada lagunya lho, dan lagunya menjadi salah satu lagu daerah di Palembang. Potongan liriknya: pempek lenjer, pempek lenjer, makan sikok pacak kelenger.

3. Pempek Pistel

Pempek pistel ini juga dibuat dari adonan lenjer, dan berbentuk seperti telor kecil. Bedanya adalah pada penutup bagian atas, pempek pistel ditutup dengan motif pistel. Isi Pempek pistel adalah parutan pepaya muda yang dimasak dengan santan. Di palembang pempek ini juga dikenal dengan nama pempek kates. Kates adalah sebutan masyarakat Palembang untuk buah pepaya.

4. Pempek Adaaan

Pempek ini bentuknya bulat. Adonannya beda dengan pempek lain. Proses pembuatannya juga sangat berbeda. Kalau semua pempek lain melalui proses perebusan, maka adaan hanya melalui proses penggorengan saja. Konon, ide pempek adaan muncul dari sisa bahan pempek lenjer. Bahan yang belum direbus itu kemudian dikreasi kembali.

5. Pempek Keriting

Sering juga disebut pempek kerupuk. Dibuat dengan menggunakan alat khusus. Alat yang digunakan biasa disebut ‘pirikan’ oleh warga Palembang. Oleh karena membuat pempek keriting ini membutuhkan tenaga ekstra dan tidak mudah, maka sebagian orang menggunakan penggiling daging untuk membuat bentuk helaian keriting itu.

6. Pempek Kulit

Pempek Kulit dibuat menggunakan adonan kulit ikan. Adonan kulit ini hanya khusus untuk membuat pempek kulit saja dan tidak bisa digunakan untuk membuat pempek lainnya. Sama seperti adaan, pempek kulit tidak melalui proses perebusan. Adonan kulit yang sudah dibentuk bundar dan pipih langsung dimasukkan ke dalam penggorengan.

7. Pempek Tahu

Pempek ini dibuat menggunakan adonan adaan. Tahu yang digunakan adalah tahu cina. Ingat, tahunya bukan digunakan buat isi pempek. Tapi ada keseimbangan bentuk tahu, yang terselimuti adonan pempeknya.

8. Pempek Lenggang

Pempek ini dipanggang dan dibungkus daun pisang. Telor ayam, biasanya 2 butir, dikocok seperti akan membuat telor dadar. Lalu dituang ke dalam wadah persegi yang terbuat dari daun pisang. Tidak ketinggalan juga adonan lenjer yang sudah dicubit kecil2, ditebar ke dalam wadah berisi telor tersebut sebelum dipanggang. Setelah bagian bawahnya matang, lenggang akan dibalik ke dalam wadah persegi daun pisang lainnya. Ada juga yang membuatnya dengan digoreng. Kalau digoreng pembuatannya sama seperti membuat telor dadar. Setelah benar2 matang, lenggang biasa dinikmati dengan cuko, ditambah ketimun dan ebi.

9. Pempek Panggang

Yang ini juga tidak direbus, dan tidak digoreng. Dari namanya saja kita sudah tahu kalau pempek ini dipanggang. Adonan yang digunakan adalah adonan lenjer. Adonan lenjer dibentuk bulat pipih dan dipanggang di atas bara arang seperti proses barbeque. Proses pemanggangan memakan waktu sekitar 15-20 menit hingga bagian tengahnya matang sempurna. Setelah matang, pempek ini bisa dinikmati dengan cuko seperti biasanya, atau dibelah bagian sampingnya dan diisi udang kering atau ebi dan ditambah kecap manis dan sambal cabe hijau.

10. Pempek Cucuk

Pempek ini juga berbeda. Pempek ini dikukus, lalu tidak dimakan dengan cuka. Pempek yang berbentuk pipih ini langsung dilumuri dengan sambal merah, kemudian makannya ditusuk dengan menggunakan lidi. Pedasnya mantab.

Selain kesepuluh jenis pempek itu, sebenarnya masih ada pempek yang lain. Seperti misalnya pempek telok kecik, lenjer kecik, pempek dos, atau varian baru seperti pempek keju dan pempek sosis. Yang penting sih, cobalah dulu kesepuluh pempek tersebut. Dijamin, nagih!

Kalkulus dalam Hidupku

Adakah buku yang tebalnya melebihi buku-buku kalkulus?

Bahkan Hitler akan mencukur kumisnya dengan buru-buru sejak mula ia membaca halaman depan sebuah buku kalkulus yang diwariskan kakak tingkatnya yang juga warisan dari kakak-kakak tingkatnya. Bukan. Bukan karena ketebalannya yang menyebabkan buku kalkulus abadi, dikenang, diwariskan tujuh turunan dan selalu menempati rak bagian depan di setiap kamar mahasiswa tingkat I. Namun, tahukah kamu fungsi buku kalkulus sejatinya?

Ada banyak hal yang menjadikan kalkulus begitu berkenang di hatiku. Meski, takdir mengatakan, aku harus terdrop out dari Matematika ITB dan selama tiga tahun di tempat perkuliahan baru, tak sekali pun kutemukan pelajaran yang sama. Hanya ada akuntansi dan tetek-asmanya. Keseimbangan antara debit dan kredit sekaligus pertanyaan, jika seseorang memiliki pahala dan dosa yang sama banyaknya, di manakah ia akan ditempatkan? Surga? Neraka? Tetapi, kenyataan paling menyedihkan dalam akuntansi bukanlah hal itu. Melainkan kenyataan bahwa jika sisi debit dan kredit tidak seimbang, itu pasti sebuah kesalahan, dan bila pun terjadi keseimbangan, itu belum tentu sebuah kebenaran. Hal inilah yang menyakitkan karena hidup barangkali juga benar demikian.

Di kelas kalkulus inilah, kali pertama aku melihat Zane. Perempuan atau bidadari, aku tak paham. Dia masuk dari pintu itu, GKU Barat itu, mengenakan baju krem, berkacamata, tas biru dongker yang seakan bisa memuat semesta, di tangannya ada buku kalkulus. Teman, inilah pemandangan paling artistik yang pernah kulihat selama hidupku. Bahkan bila sebuah sepatu menempel di wajah Bush, atau kemben yang dikenakan Pamela Duo Serigala tiba-tiba melorot di ruang yang sama, pandanganku tak akan bisa teralihkan. Cinta ternyata benar, bisa datang kapan pun, di mana pun, dalam keadaan bagaimana pun tanpa bisa kita tahu.

Dalam tahun-tahun ke depan itu, otomatis, kelas kalkulus adalah salah satu dari sedikit kelas kami bisa bersama. Zane jurusan Fisika. Kelas TPB hanya 1 tahun, tentu aku harus merekam baik-baik setiap waktu keberadaannya.

Tiga orang lain kemudian kukenal dari kalkulus. Tiga orang yang sangat menginspirasiku. Rene Descartes, Leonhard Euler, dan Carl Friedrich Gauss.

Je pense donc je suis. Aku berpikir maka aku ada. Inilah pernyataan beliau yang paling terkenal. Sedikitnya ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa: (a) pandangan mekanisnya mengenai alam semesta; (b) sikapnya yang positif terhadap penjajakan ilmiah; (c) tekanan yang, diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan; (d) pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptis; dan (e) penitikpusatan perhatian terhadap epistemologi.

Keren kan? Pak Rene ini juga orang yang menemukan koordinat kartesius lho. Hidup kita itu bagai berada pada sebuah titik pada koordinat kartesius itu. Lalu bergerak ke titik yang lain. Membentuk sebuah kurva. Aku juga membayangkan aku dan Zane adalah dua titik yang jauh. Untuk berpindah menuju satu sama lain, diperlukan sebuah energi yang besar. Kau bayangkan, beginilah kira-kira kisah cinta ini dimulai, semua hal yang kukenal di kelas, menjadi tentang dia. Bahkan daun gugur pun tidak hanya daun gugur. Dia bisa gravitasi. Dia bisa apel Newton. Dia bisa jatuh cinta.

Euler. Sebenarnya dia lebih populer ketika hadir di komik QED dengan rumus euler yang dianggap paling misterius dalam jagad matematika. Menelisik aliran filsafat dan kepercayaan Euler pun sangat menarik. Ada satu legenda yang terkenal, terinspirasi dari argumen Euler kepada filsuf duniawi lintas agama, yang berlatar selama tugas kedua Euler di Akademi St. Petersburg. Filsuf Perancis Denis Diderot berkunjung ke Rusia atas undangan Catherine Yang Agung. Sang Permaisuri telah diperingatkan bahwa ateisme yang dibawa filsuf tersebut telah mempengaruhi anggota sidangnya, hingga Euler diminta untuk menghadapi pria Perancis tersebut. Diderot kemudian diberitahu bahwa seorang matematikawan terpelajar telah membuat bukti akan keberadaan Tuhan: dia berkenan untuk menyaksikan bukti tersebut yang dipresentasikan dalam sidang. Diderot, yang menurutnya matematika itu omong kosong (ini jelas tidak benar, karena Diderot sendiri membuat riset dalam matematika), dia mau saja memperhatikan (presentasi bukti tersebut) dengan (pura-pura) tercengang karena (dia tahu bahwa) suara gemuruh tawa akan meledak di persidangan.

Nama dosenku juga Gauss. Gauss terkenal sebagai Pangeran Matematika. Waktu masih SD, gurunya menyuruh menghitung jumlah dari bilangan 1 sampai 100. Dalam hitungan detik, dia bisa menyelesaikan soal tersebut? Mau tahu caranya? Dia membuat dua baris yang saling berpasangan, antara angka 1 dan 100, 2 dan 99, 3 dan 98, dst yang dia tahu jumlahnya bakal ada 50 pasang. Tiap sepasang jumlahnya adalah 101, lalu ia kalikan 50, dan hasilnya 5050. Kalau nggak percaya hitung sendiri sampai keriting ya?

Gauss memberikan beragam kontribusi yang variatif pada bidang matematika. Bidang analisis dan geometri mengandung banyak sekali sumbangan-sumbangan pikiran Gauss, ide geometri non Euclidis ia garap pada 1797. Tahun 1799 menyumbangkan tesis doktornya mengenai Teorema Dasar Aljabar. Pada 1800 berhasil menciptakan metode kuadrat terkecil . Dan pada 1801 berhasil menjawab pertanyaan yang berusia 2000 tahun dengan membuat polygon 17 sisi memakai penggaris dan kompas. Di tahun ini juga menerbitkan Disquisitiones Arithmeticae, sebuah karya klasik tentang teori bilangan yang paling berpengaruh sepanjang masa. Gauss menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Gottingen dan meninggal di sana juga.

Betapa mengagumkannya orang-orang itu sejak usia mudanya. Aku, kamu, apa yang dilakukan ketika muda?

Membayangkan lagi masa-masa belajar kalkulus itu sama saja ingin kembali ke masa muda. Sudah dua belas tahun berlalu sejak saat itu, dan untuk menjawab pertanyaan di kalimat pertama dan kalimat terakhir dari paragraf berikutnya masih sangat rancu.

Adakah buku yang tebalnya melebihi buku-buku kalkulus? Adakah yang tahu fungsi sejatinya buku kalkulus itu?

Tidak salah mungkin, jika aku menjawab, buku kalkulus berfungsi untuk melempar anjing seperti halnya arti kalkulus itu sendiri yakni batu kerikil!

Kuliner Khas Palembang yang Wajib Kamu Coba

Sering aku ditanya, setiap saat ada teman atau kenalan sedang berkunjung ke Palembang, makanan apa yang harus dicoba. Pempek sudah terlalu mainstream. Pempek sendiri sebenarnya banyak jenisnya (nanti akan kutulis dalam postingan terpisah). Padahal, banyak makanan/kuliner lain yang kujamin bakal menggoyang lidah.

Tentu selera akan berpengaruh bila aku diminta menyusun daftar makanan yang harus dicoba kalau kamu ke Palembang. Ini adalah makanan-makanan yang pasti aku cari, dan kuurutkan berdasarkan prioritas, bila aku sedang pulang ke Palembang.

1. Martabak HAR
Martabak Har
HAR sebenarnya sebuah merk. Martabak HAR adalah martabak telur. Ada dua jenis telur yang digunakan, telur ayam dan telur bebek. Kamu bisa pilih salah satunya. Yang pasti, telur bebek kadar kolesterolnya akan lebih tinggi, namun terasa lebih enak. Berbeda dengan martabak telur di daerah lain, martabak HAR tidak ada sayurannya, kulitnya renyah, dan disiram dengan kuah kari ayam dan kentang. Lalu dicampur cuka dan irisan cabe rawit sedikit saja akan lebih mentap rasanya.

Salah satu warung martabak HAR (asli) ada di Simpang Sekip. Namun, banyak juga warung martabak ini yang bukan bermerk HAR, namun sama enaknya. Harga seporsi Rp10.000,- sd Rp25.000,-. Menjadi prioritas utamaku karena ada banyak kenangan makan martabak ini setelah pulang sekolah pada masa SMA. Hehe.

2. Tekwan
Nikmatnya tekwan
Apakah tekwan adalah varian pempek? Aku pikir tidak. Namun, bahan dasarnya serupa, yakni ikan dan sagu.

Bedanya, tekwan disajikan berkuah kaldu udang yang lezat. Bentuknya bulat kecil seperti bakso ikan (namun, perbandingan ikan dan sagunya seimbang 1:1). Kuah itu pun dilengkapi dengan bihun, jamur kuping, dan irisan bengkoang. Tekwan adalah makanan paling enak yang dimakan saat hujan turun, dan dimakan panas-panas.

3. Model
Model yang sudah dipotong
Bulat seperti bakso, namun isinya tahu. Model lalu diiris-iris dan disajikan dengan kuah yang sama dengan kuah tekwan.

4.Laksan

Laksan juga terbuat dari tepung sagu dan ikan. Hanya saja laksan ini merupakan pempek lenjer tebal yang dipotong tebal melintang dan dimakan dengan kuah santan.

5. Celimpungan
celimpungan dengan kuah opor
Sekilas mirip dengan laksan, yang membedakannya adalah bentuknya bulat pipih lebih besar dari tekwan. Disajikan dengan kuah santan yang dicampur dengan bawang putih, kunyit, bawang merah, garam, daun salam, dan lada, sehingga kuah santan yang berwarna kekuningan terasa nikmat seperti kuah opor.

6. Burgo
Burgo
Burgo terbuat dari tepung beras. Sebenarnya jika irisannya lebih kecil, burgo menjelma menjadi kwetiau. Hanya saja burgo ini dinikmati bersama dengan kuah santan pedas. Sangat cocok jika dinikmati dengan Laksan dan ditambah telur ayam rebus.

7. Berbagai Macam Kerupuk dan Kemplang
Kemplang ikan

Banyak orang yang salah mengartikan kemplang dan kerupuk. Perbedaan kemplang dan kerupuk yaitu pada proses pembuatannya. Kerupuk melalui proses penggorengan. Sedangkan kemplang dibakar. Biasanya kemplang dinikmati dengan saos cabe merah. Kemplang sendiri ada 2 jenis, yaitu kemplang ikan dan kemplang sagu. Kemplang ikan biasanya bertekstur lebih padat dibandingkan dengan kemplang sagu.

8. Pindang Ikan dan Pindang Tulang
pindang ikan
Makanan ini mahal. Tapi enak. Di Palembang sendiri, ada pindang ikan dan pindang tulang. Pindang ikan yang terkenal adalah pindang patin, namun juga ada pindang baung. Jika kamu mampir ke restoran pindang di Palembang, kamu akan disuguhi pilihan menu pindang patin bagian kepala, badan atau ekor. Sedangkan pindang tulang isinya iga sapi yang disajikan dengan kuah pindang. Oh ya, bagi kamu yang tidak suka pedas jangan dicoba ya. Karena tak ada pindang yang tak pedas. Paling enak disantap dengan nasi putih, lalapan, dan sambal tempoyak atau sambal mangga.

9. Rujak Mie

Rujak mie adalah mie kuning dicampur dengan kecambah, lalu ditambahkan kerupuk merah. Mie ini kemudian disiram dengan cuka. Rujak mie biasanya disajikan saat ada acara keluarga atau acara adat.

Sebenarnya masih banyak makanan lain di Palembang. Kue-kue juga banyak seperti kue srikayo, kue gandus, dan kue lumpang. Juga ada tempoyak yang begitu terkenal. Tapi aku tak doyan, tempoyak adalah durian busuk (durian yang sudah difermentasikan), biasa digunakan menjadi sambal. Tapi jika ingin wisata kuliner, aku pikir cukuplah kamu mencoba 9 menu di atas. Dijamin tak akan menyesal!

Cerpen| Gadis Jepang

Pernah aku berkhayal, suatu saat nanti aku akan ke Jepang dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri gadis-gadis muda berpakaian pelaut dengan rok yang jauh di atas lutut. Nyatanya, kali pertama aku melihat gadis Jepang justru ketika aku liburan ke Bali. Gadis-gadis itu sedang menikmati pantai yang sama denganku, memakai bikini berwarna cerah yang kepayahan menutupi payudara mereka yang menonjol, dan mendadak bayangan adegan demi adegan film dewasa Jepang yang selalu kutonton diam-diam berkelebat di kepalaku.

Aku menyadari hal di atas terjadi hampir sepuluh tahun silam, dan selama itu pula aku masih menyimpan harapanku dalam-dalam. Jepang masih menjadi tujuan yang terasa amat jauh bagiku. Aku bahkan belum pernah keluar negeri, meski aku memiliki paspor yang masa berlakunya tersisa 2 bulan lagi. Paspor yang menampakkan foto pipiku yang belum bertelur itu memiliki tatapan yang meledek karena aku malah berkawan dengan kolesterol dalam beberapa tahun terakhir.

Tentu dua paragraf di atas tak pernah kuungkapkan kepada Akina. Ia akan memanggilku cowok mesum kalau sampai tahu aku demikian. Meski sebenarnya aku tak berkeberatan disebut mesum, karena mesum itu bukan dosa. Mesum boleh-boleh saja, goblok yang jangan. Itu prinsipku.

“Aku sering membaca Murakami…” kumulai pembicaraan dalam bahasa Inggris yang pas-pasan.
“Murakami?”
“Haruki Murakami,” jelasku. “Kalau Ryu Murakami, aku baru baca 2 judul, Coin Locker Babies dan In The Miso Soup. Kamu baca juga?”
“Aku baca Haruki, Ryu belum pernah. Wow, aku tidak menyangka kamu membaca mereka berdua.”
“Aku juga banyak membaca yang lain, seperti Akutagawa, Natsuo Kirino, dan tentu saja komik-komik Jepang. Kamu suka baca komik nggak?”
“Tentu, tentu… kamu lagi baca apa?”
“Shingeki No Kyojin… aku suka sekali. Menonton para raksasa memangsa manusia, dan manusia berusaha bertahan hidup dan membasmi para raksasa itu membuatku berpikir ulang mengenai kemanusiaan. Aku juga baca One Punch Man, sebuah komik satir yang menyinggung tokoh-tokoh Shonen.”
“Aku sebagai Jepang jadi minder bicara dengan kamu. Sepertinya kamu tahu jauh lebih banyak tentang itu daripada aku….”
Tentu saja, Akina. Aku harus tampak mengagumkan dan berpengetahuan di hadapanmu. Dengan begitu, kamu baru akan memperhatikan aku, bukan?

Para pembaca sekalian pasti bertanya-tanya di mana dan bagaimana aku bertemu Akina, bagaimana perawakan Akina, atau ciri khas yang mungkin dia miliki. Dialog di atas terlalu tiba-tiba untuk pembukaan cerita sehingga menuduhku hanya seorang penulis amatir yang picisan yang setiap hari hanya bisa melamun.

Pelan-pelan dong! Lagian tidak ada salahnya juga melamun. Melamunnya seorang penulis berbeda dengan melamunnya orang biasa sama halnya tak dapat kalian samakan dengan melamunnya ilmuwan. Einstein juga hobinya melamun, dan dalam sebuah lamunannya, ia tak mempercayai adanya gravitasi. Fisika menyaratkan ada aksi, ada reaksi. Benda bergerak karena ada gaya dorong, bukan gaya tarik. Jika ada gaya tarik, maka harus ada exit door energi pada suatu tempat. Pada itu, Einstein berpendapat, gaya tarik itu tidak ada. Alam semesta (ruang dan waktu) ini melengkung sehingga planet-planet mengeliling matahari, sama sekali bukan karena gaya tarik matahari.

Akina juga mungkin sebenarnya tidak memiliki gaya tarik. Akulah yang terkena gaya dorong sesuatu bernama hasrat ketika kudengar suaranya yang nyaring, aku malah membayangkan bagaimana caranya dia mendesah. Matanya tentu sipit, giginya tak rata, pipinya juga bulat dan kalau ia merasa malu atau kepanasan, pipi itu akan bersemu merah. Keterbatasan bahasa membuat dia sering melongo bila ia menemukan kalimat yang tak ia mengerti dari anak-anak yang mengerumuninya. Akina tampak disukai anak-anak, dan tentu saja sebagian besar anak lelaki. Aku yakin anak-anak lelaki itu sudah nonton film dewasa Jepang.

Kami bertemu dalam sebuah program residensi penulis-penulis ASEAN. Jepang tentu saja bukan ASEAN. Jepang hanyalah negara yang pernah menjajah beberapa negara di kasawan Asia Tenggara dan mungkin karena merasa bersalah, mereka rajin berkomunikasi dengan mereka. Termasuk dalam acara ini, Jepang menjadi salah satu sponsor. Dan Akina, seorang editor dan penulis buku-buku literatur pelajaran Bahasa Inggris, mewakili mereka.

Sejujurnya, hampir sebagian hariku di rumah residensi kuhabiskan dengan memperhatikan Akina. Dalam sebuah sesi diskusi tentang keberagaman dan marjinalitas, aku bertanya pada Akina, “Kamu membaca IQ84? Aku penasaran dengan maksud orang kecil dan fenomena aliran kepercayaan yang dipeluk sebagian masyarakat Jepang, yang entah kenapa ditulis Murakami: mereka berprofesi sebagai petani? Selain mim dengan Orwell, 1984, yang kupikir sebuah propaganda anti komunisme, apakah kelas-kelas pekerja di Jepang juga telah menjadi sebuah struktur manusia?”

“Saya belum membaca novel itu sih, tapi bagaimana ya aku menjelaskannya…”

Akina mulai mengucapkan beberapa hal. Tentu saja aku tidak peduli pada apa yang dia katakan. Aku hanya ingin mendengar suaranya, memperhatikan setiap ekspresi yang keluar dari wajahnya. Aku suka dia bermimik muka serius menanggapi pertanyaanku itu.

“Kamu menulis apa?” Tanyanya pada suatu kesempatan.
“Menurutmu?”
“Novel? Cerita pendek?”
“Puisi,” jawabku singkat.
“Berarti kamu pria yang manis.”
“Apa di Jepang, setiap pria yang menulis puisi, kamu anggap manis?”
“Tidak mudah menulis puisi, bukan? Mereka biasanya pendiam.”
“Aku tak tahu banyak tentang puisi Jepang. Aku hanya tahu Basho…” kataku sambil mengingat haiku-haiku yang pernah ditulisnya. “Puisiku tak seperti puisi Basho….”
“Seperti apa?”
“Kamu ingin mendengarnya?”

Akina mengangguk. Tak ada puisiku dalam bahasa Inggris. Aku meminta waktu sebentar untuk menerjemahkan
puisiku.

Kau adalah rahasia yang tak pernah diucapkan musim semi
Setelah setiap helai daun yang pernah mukim di bumi gugur
Tak ada pengetahuan yang dapat kucerna, meski
Terkadang cinta datang sebelum pengetahuan

Kubacakan lirik itu dengan pelan dengan kepala tertunduk. Aku tak bisa membaca puisi seperti gaya ala deklamasi puisi, bersuara lantang atau berteriak penuh semangat. Aku membaca puisi seperti aku membaca segala hal.
Aku tak tahu bagaimana perasaan Akina setelah mendengarku.

“Sudah kuduga…” katanya.
“Apa?”
“Kamu romantis.”
“Lalu apa kamu suka pria romantis?”

Tiba-tiba saja kuucapkan pertanyaan itu. Pipi Akina yang putih tiba-tiba seperti terlalu banyak dipakaikan make up. Dia tidak menjawabku sama sekali. Dia malah mengipasi tubunya dengan kencang. Akina pernah bilang Jakarta begitu panas. Setiap hari yang sudah dia jalani seperti musim panas di Jepang.

Namun pikiranku malah melayang ke adegan-adegan berbikini. Musim panas adalah surga bagi pria Jepang, karena mereka akan berlibur ke pantai, dan di sanalah, para gadis akan memakai bikini…two pieces…yang dengan sempurna akan menampakkan perut langsing mereka.

Kutatap Akina, dan aku terpaksa meneguk ludah.

Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Hingga tujuh hari berlalu, tetapi tak pernah ada waktu untuk mengobrol berdua dengan Akina. Para gadis tidur di lantai atas. Kami tidak punya banyak waktu berinteraksi selain saat sarapan, atau sesi-sesi diskusi yang harus kami ikuti. Waktu kami hampir habis.

Akina turun dari tangga. Ia suka sekali memakai kaos putih dipadukan dengan celana pendek. Rambutnya basah. Tidak perlu kujelaskan kalau ia pasti habis mandi.

Aku menatapnya lebih lama dari biasanya. Aku tak tahu apa ia sadar aku menatapnya. Semua pria di ruangan langsung menggodanya. Terutama seorang pria dari Palembang, yang rajin sekali menggombalinya. Padahal dia sudah punya istri—ah, sungguh tak tahu malu. Pria dari Filipina bahkan terang-terangan menyebut nama-nama seperti Sora Aoi, Miyabi, dan Akina hanya tertawa mendengar mereka semua.

Aku menyukai tawa itu. Aku ingin memiliki tawa itu.

Yang tak kusangka kemudian adalah Akina malah berjalan mendekati aku.

“Hei, kamu!” sapanya. “Melamunkan apa?”
“Negara. Percaya?” jawabku sekenanya.
“Mana yang lebih rumit, negara atau perempuan?” tanyanya.
“Menurutmu, dirimu rumit?”

Akina hanya menaikkan bahunya. Lalu pandangan kami bertemu untuk pertama kali sebelum matanya melarikan diri beberapa detik kemudian.

“Akina…”
“Ya?”
“Jika tahu, besok adalah akhir dari dunia ini, dengan siapa kamu ingin menghabiskan hari ini?”
“Kamu sendiri? Mau dengan siapa?”
“Aku tak pernah menyukai perempuan…”

Dengan cepat Akina memotong kalimatku. “Jadi, kamu menyukai lelaki?”
“Sampai aku bertemu denganmu.”
Pipinya memerah lagi.
“Kamu manis sekali, ya…tapi…”
“Tapi?”
“Aku minta maaf, aku baru menanyakan ini sekarang.”
“Apa?”
“Namamu siapa? Aku lupa.” Akina menyengir.
“Ah… Aku Rio… Rio Johan,” jawabku sambil mengulurkan tangan.

Tapi, uluran tanganku itu hanya menemu udara kosong.

(2017)

Puisi: Donquixote

trully, aku bukan bagian donquixote family
yang kehilangan ibu di umur delapan
lalu membunuh ayahnya di umur sembilan
benang-benang yang tak dapat ditebas pedang
mengurung kebahagiaan
seperti sebuah sangkar burung yang memerangkap
nyanyian merdu nuri
segala hal, dari kacamata doflamingo adalah
ketidakadilan dari keadilan. anak-anak yatim piatu
karena perang, anak-anak kelaparan karena
pemerintahan, dan anak-anak yang lebih memilih
belajar menembakkan senjata ketimbang pena
ini semua hanyalah permainan mencari raja
menjadi cinta damai tapi lemah atau bahagia
karena kekuatan buah setan semakna khuldi
yang memunculkan pengetahuan terlarang
agar bagaimana bisa menjadi tuhan
lalu semuanya bagaikan isshou yang meragukan
segala yang dilihat, menutup mata dan menempuh
keadilan buta sebagai perintah, benar dan salah
gravitasi yang memanggil meteor-meteor dari langit
tapi benang-benang tak dapat ditebas pedang
batu-batu menjadi pasir dan debu
lalu aku, trully, bukan bagian donquixote family
meski tak menertawakan suara tinggi peeka
tapi menertawakan hidupku sendiri
sebagai seekor burung yang tak mengerti
indahnya bertengger di sebuah pohon eva