Utang Indonesia

Total utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD316 miliar atau setara Rp4.205 triliun per November 2016. Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri bertambah USD5,7 miliar atau setara Rp75,8 triliun (kurs rata-rata: Rp13.307) sepanjang Januari-November 2016. Utang luar negeri didominasi sektor swasta sebesar USD161,5 miliar dan sisanya sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar USD154,5 miliar. Ini artinya, sebesar 51,1 persen utang luar negeri Indonesia merupakan milik swasta.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2016 tumbuh 3,6% (yoy), lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan Oktober 2016 sebesar 6,5% (yoy).  Pihak BI mengungkapkan, perlambatan pertumbuhan ini didorong oleh perlambatan ULN sektor publik dan penurunan ULN sektor swasta. Perlambatan pertumbuhan ULN terjadi baik pada ULN berjangka panjang maupun ULN berjangka pendek.

ULN sektor publik tumbuh melambat menjadi 12,1% (yoy) dari 17,0% (yoy) pada bulan Oktober 2016. Selain itu, ULN sektor swasta turun 3,4% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada Oktober 2016 yang sebesar 2,0% (yoy). Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN berjangka panjang (86,7% dari total ULN). ULN berjangka panjang pada November 2016 mencapai USD 274,1 miliar, terdiri dari ULN sektor publik sebesar USD 153,7 miliar (56,1% dari total ULN jangka panjang) dan ULN sektor swasta sebesar USD 120,4 miliar (43,9% dari total ULN jangka panjang).

Sementara itu, ULN berjangka pendek sebesar USD 42,0 miliar (13,3% dari total ULN), terdiri dari ULN sektor swasta sebesar USD 41,2 miliar (98,1% dari total ULN jangka pendek) dan ULN sektor publik sebesar USD 0,8 miliar (1,9% dari total ULN jangka pendek). ULN berjangka panjang tumbuh 3,1% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan Oktober 2016 yang sebesar 6,2% (yoy), sementara ULN berjangka pendek tumbuh 7,1% (yoy), juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Oktober 2016 sebesar 8,3% (yoy).

Menurut sektor ekonomi, ULN swasta pada akhir November 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,8%.  Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ULN sektor keuangan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih pada November 2016 mencatat pertumbuhan tahunan yang negatif, sementara ULN sektor industri pengolahan tumbuh melambat.

Utang pemerintah Indonesia tercatat Rp3.485,36 triliun sampai dengan November 2016. Jumlah itu bertambah Rp45,58 triliun ketimbang utang pada Oktober 2016 sebesar Rp3.439,78 triliun. jumlah utang Rp3.485,36 triliun adalah 25% dari PDB. Hal ini masih jauh di bawah batas yang ditetapkan undang-undang, yakni 60% dari PDB.

Adapun 10 negara pemasok utang bilateral Indonesia yang mencapai Rp326,59 triliun per November 2016, meliputi: 1. Jepang dengan pinjaman Rp209,62 triliun, 2. Prancis Rp23,96 triliun, 3. Jerman Rp22,79 triliun, 4. Korea Selatan Rp20,29 triliun, 5. China Rp12,80 triliun, 6. Amerika Serikat Rp9,64 triliun, 7. Australia Rp7,51 triliun, 8. Spanyol Rp3,58 triliun, 9. Rusia Rp3,49 triliun, 10. Inggris Rp2,28 triliun, 11. Negara lain Rp10,64 triliun.

Sedangkan pinjaman multilateral senilai Rp365,99 triliun oleh pemerintah Indonesia berasal dari 6 lembaga keuangan dunia, yakni: 1. The World Bank dengan kucuran pinjaman Rp233,53 triliun, 2. Asian Development Bank (ADB) Rp120,44 triliun, 3. Islamic Development Bank (IDB) Rp9,30 triliun, 4. International Fund for Agricultural Development (IFAD) Rp2,21 triliun, 5. Bank Investasi Eropa (EIB) Rp0,34 triliun, 6. Nordick Investment Bank (NIB) Rp0,17 triliun.  Utang yang berasal dari komersial bank senilai Rp46,60 triliun, antara lain: 1. Amerika Serikat (AS) senilai Rp10,29 triliun, 2. Singapura Rp7,75 triliun, 3. Prancis Rp8,45 triliun, 4. Belanda Rp6,24 triliun, 5. Austria Rp4,79 triliun, 6. Rusia Rp4,78 triliun, 7. Inggris Rp0,82 triliun, 8. Jepang Rp0,58 triliun, 9. Taiwan Rp0,62 triliun, 10. Jerman Rp0,56 triliun, 11. Negara lain Rp1,71 triliun.

Saat ini kebanyakan masyarakat memandang negatif terhadap utang negara. Akan tetapi, dibalik utang itu ada tujuan yang dapat dicapai. Pada negara berkembang, negara membutuhkan berbagai pembangunan untuk sarana dan prasarana bagi seluruh rakyatnya. Sebagai kebijakan yang tepat, jalan pintas dan jalan tercepat bagi negara untuk segera membangun negaranya adalah dengan meminjam dana kepada negara tetangga yang memang memiliki dana yang cukup. Beberapa negara atau lembaga keuangan siap menyediakan pinjaman untuk suatu negara atau perorangan tentunya dengan bunga yang telah ditetapkan dan sesuai dengan standar yang ada. Bukan hanya negara berkembang, negara-negara maju juga berutang dengan rasio yang jauh lebih besar.

Adapun fungsi utang negara bisa untuk menutupi kekurangan anggaran, seperti kas jangka pendek dalam belanja yang tidak dapat ditunda, solusi mengurangi beban belanja untuk membiayai utang dalam APBN tahun berikutnya. Kemudian ada juga yang menyebutkan utang negara ini dapat menyelesaikan masalah tanpa membuat masalah baru, tentunya jika dikelola dengan baik oleh yang bersangkutan.

Utang luar negeri sama halnya seperti modal pembangunan. Untuk dampak positifnya, negara dapat membangun infrastruktur dengan modal yang cepat. Uang yang negara pinjam akan digunakan untuk membangun infrastruktur, fasilitas, dan subsidi dalam program pemerintah. Selain itu, uang yang didapat ini tidak sembarangan digunakan meski untuk kepentingan bangsa, dengan penggunaan yang sesuai dengan porsinya.

Selain itu, utang juga menjadi alat untuk menjalin hubungan bilateral. Utang luar negeri dapat membantu merekatkan hubungan dari kedua negara. Indonesia yang berhutang dengan negara lain ataupun dengan lembaga keuangan internasional, dapat membuat hubungan bilateral dan multilateral antara indonesia dengan negara lain agar dapat memiliki hubungan yang lebih baik. Kondisi ini cukup baik, karena di era modern ini setiap negara tentu bergantung satu sama lainnya untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya. Mendapatkan pinjaman luar negeri dari negara lain tidaklah mudah. Kita perlu meyakinkan bahwa kita memiliki sumber daya yang mampu untuk dikembangkan dan mengembalikan pinjaman beserta bunganya dengan pasti. Kesepakatan pemberian pinjaman dari luar negeri menunjukkan pengakuan dari negara lain bahwa Indonesia termasuk negara berkembang yang akan terus bisa tumbuh dari waktu ke waktu.

 

Peringkat Pemberi Utang Indonesia (Swasta maupun Publik)

1. Singapura

Sebanyak USD54,1 miliar atau sekitar Rp728 triliun digelontorkan ke Indonesia. 

 2. Jepang

Negeri Matahari Terbit ini memberikan utang sejumlah USD32,9 miliar atau sekitar Rp442,8 triliun.

 3. Bank Dunia

Bank Dunia (the World Bank) merupakan lembaga keuangan nomor 1 yang memberikan utang ke Indonesia. Lembaga ini memberikan USD17,2 miliar atau sekitar Rp231,5 triliun.

 4. China

Negeri Tirai Bambu ini menggelontorkan pinjaman hingga 14,3 miliar atau sekitar Rp192,5 triliun. Pinjaman dari Cina ini meningkat sekitar 1800% dari 10 tahun lalu.

 5. Amerika Serikat

Negeri Paman Sam ini menduduki peringkat kelima, setelah China sebagai negara dan lembaga internasional pemberi utang terbesar ke Indonesia. Amerika meminjamkan uang sebanyak USD10,3 miliar atau sekitar Rp138,6 triliun. 

6. Belanda

Belanda memberikan utangnya ke Indonesia USD9,3 miliar atau sekitar Rp125,1 triliun. 

7. Asian Development Bank

ADB menggelontorkan uang USD9 miliar atau sekitar Rp121,1 triliun. 

Global Issues: Davos (dimuat dalam Indonesian Treasury Update Vol 2 No. 2 2017, 11-24 Januari 2017)

Pekan ini, 3.000 politisi, pemimpin bisnis, ekonom, pengusaha, hingga selebritis akan menghadiri World Economic Forum (WEF) untuk mendiskusikan keadaan dunia saat ini. Di dalam pertemuan itu, setidaknya ada beberapa tema penting yang akan dibahas. Tema utama dari forum tahun ini adalah kepemimpinan yang responsif dan bertanggung jawab. Tema ini dimunculkan akibat terpilihnya Donald Trump sebagai presiden US. Ia dianggap sebagai antithesis dari semangat WEF yang percaya bahwa segala masalah harus diselesaikan dengan solusi bersama, ketimbang dengan kebijakan proteksi maupun isolasi. WEF menginginkan pemimpin juga merespon masyarakat dunia dengan segala kompleksitas masalahnya.

Para pemimpin bisnis kini tengah merasa gusar tentang perdagangan global. enam dari sepuluh CEO global mencemaskan kebijakan proteksionisme dan melonjaknya hambatan dalam berbisnis karena faktor Trump. Donald Trump baru saja mengancam memberlakukan tarif impor 35 % untuk mobil-mobil buatan perusahaan Jerman karena tidak membuka pabrik di US. Rencana itu memicu balasan kecaman keras dari Berlin dan memukul jatuh saham otomotif Jerman. Trump juga mengancam Toyota asal Jepang jika perusahaan itu membuka pabrik Corolla di Meksiko.

Sejumlah agenda ekonomi dan ekspansi fiskal Trump,  disebut dengan Trumponomics, berupa pemangkasan pajak serta peningkatan belanja infrastruktur dapat memicu inflasi di AS. Namun, jika inflasi di AS melonjak, salah satu cara yang bisa dilakukan The Fed untuk menngontrol inflasi adalah menaikkan suku bunga. Apabila suku bunga meningkat, nilai tukar dollar bakal semakin perkasa terhadap mata uang utama dunia lainnya. Jika dollar menguat, yang terjadi adalah ekspor asal AS bakal terkendala karena kalah bersaing dengan produk dari negara lain. Defisit neraca perdagangan AS pun bakal semakin dalam. Bila itu terjadi, maka AS akan lebih memproteksi industri dalam negerinya. Demikian juga dengan negara-negara lainnya. Jika sudah demikian, semua negara di dunia hanya akan memperoleh dampak negatif.

 

Aktivitas bisnis global di seluruh sektor industri sedikit berkembang, mengindikasikan bahwa perekonomian global juga demikian. Headline Sales Managers Index menunujukkan angka 53,6 pada Januari 2017—yang mengindikasikan perekonomian global tumbuh pelan namun konsisten. Sementara itu, Sales Growth Index mencapai angka 55,9 yang merupakan angka tertinggi dalam 15 bulan terakhir.

Delapan tahun setelah krisis finansial, Davos menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk memperbaiki masalah dunia. WEF berpendapat bahwa menumbuhkan mood bagi masyarakat yang anti-pembangunan juga sama pentingnya, yakni dengan mereformasi kapitalisme/pasar bebas.

  Juli Agustus September Oktober November Desember
Jepang -0,4% -0.5% -0,5% 0,1% 0,5% 0,5%
Zona Euro 0,2% 0,2% 0,4% 0,5% 0,6% 1,1%
US 0,8% 1,1% 1,5% 1,6% 1,7% 2,2%
Cina 1,8% 1,3% 1,9% 2,1% 2,3% 2,1%
Laju Inflasi Semester II Tahun 2016

Sejak krisis keuangan 2008/2009, sejumlah negara ekonomi utama dunia memilih untuk mengadopsi suku bunga rendah demi melawan tren deflasi berkepanjangan. Tahun lalu Bank Sentral Jepang (BOJ) dan Bank Sentral Eropa (ECB) memilih untuk mengadopsi suku bunga negatif. Lonjakan laju inflasi di berbagai negara ekonomi utama dunia pada akhir 2016, membawa harapan baru bahwa tren deflasi berkepanjangan berpotensi berakhir dan akhirnya berpeluang membawa kebangkitan bagi ekonomi dunia.

Isu lingkungan juga akan dibahas di Davos. Salah satu kekhawatiran yang ada yakni pasca terpilihnya Trump, komitmen US untuk turut mengurangi pemanasan global juga berubah. Selain itu, perkembangan dunia robot, yang disebut sebagai revolusi industri yang keempat sekali lagi akan menjadi tema kunci pada pertemuan Davos tahun ini. Fokusnya adalah pada masalah yang diciptakan teknologi seperti robot pintar dan mobil-mobil yang bias dioperasikan tanpa pengemedi. WEF akan menilai seberapa banyak inovasi ini akan mempengaruhi ketersediaan lapangan kerja. Davos juga mempertimbangkan apakah peningkatan penggunaan kecerdasan buatan dan segala hal yang berbau internet justru malah akan menambah ancaman keamanan siber.

Tak ada yang membayangkan UK akan keluar dari Uni Eropa. Topik ini juga akan menjadi tema penting di Davos. WEF akan menyusun outline bagaimana seharusnya hubungan UK dan Uni Eropa di masa yang akan dating, yang tentu akan berimplikasi mulai dari soal investasi hingga masalah sosial kependudukan. Terakhir, lebih dari setengah sesi di Davos adalah tentang social inclusion and development, sebagai komitmen WEF untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan penduduk dunia.

Ketidakhadiran Donald Trump di Davos, akan “digantikan” oleh Xi Jinping. Xi Jinping akan memberikan kuliah umum mengenai globalisasi yang inklusif. Xi Jinping akan menjadi presiden Cina pertama yang datang ke Davos, dan dalam kuliah umum tersebut Xi Jinping direncanakan akan menyampaikan beberapa hal seperti memperingatkan negara-negara yang menerapkan proteksi dan isolasi akan menghadapi konfrontasi, kemiskinan, dan bahkan perang. Trump yang dengan tegas tidak menyetujui TPP dan lebih memilih kerja sama bilateral, justru memberikan peluang bagi Xi untuk menciptakan kerja sama perdagangan dengan Beijing sebagai sentral.

Catatan Pria Kontrakan

Saya rasa setiap orang harus pernah mengalami perasaan terusir setidaknya satu kali di dalam hidupnya. Dengan begitu, kita akan memahami bagaimana rasanya orang-orang yang tergusur, kehilangan tempat tinggal, yang masih haknya. Misalnya, kasus penggusuran warga di Bukit Duri yang secara putusan hukum belum final (bahkan menang sementara) tapi sudah digusur.

Saya baru saja mengalami perasaan seperti itu. Tidak digusur, tapi merasa terusir dari rumah kontrakan.

September 2016 lalu, saya mendapat SK Mutasi. Ke Jakarta Pusat. Tinggal di Jakarta adalah pilihan yang tidak bijaksana, karena biaya hidup yang mahal, ditambah lingkungan yang tidak kondusif untuk perkembangan anak. Jadinya, saya pun memutuskan untuk mencari tempat tingggal, menjauh dari Jakarta, ke arah Citayam–yang meski macet, tapi punya harga lebih rendah dibanding kawasan Depok lainnya atau Cibinong.

Saya memutuskan untuk membeli sebuah rumah, namun harus menunggu selesai jadi. Estimasinya 3 bulan. Menunggu jadi, saya memutuskan mengontrak di Permata Depok Citayam. Tak sampai 2 km dari stasiun. Alamatnya di Sektor Mirah 2, Blok L21/22. Saya melihat iklan rumahnya dari OLX, dan mencari rumah yang sudah berisi perabotan. Rumah 1,5 lantai itu dikontrakkan dengan harga 15 juta/tahun. Saya mengontrak setengah tahun, karena tak mungkin juga buru-buru pindah mengangkat semua barang, mengingat kondisi istri sedang akan hamil besar nanti.

Pak Tikno namanya. Kami bertemu pada minggu ketiga September. Orangnya kalem, pendiam. Ketika saya menjenguk rumahnya, rumah itu dalam keadaan berantakan. Dia bilang keluarganya baru pindah ke apartemen di bilangan Margonda. Beberapa barang katanya sengaja ditinggal. Nanti, semua barang yang ditinggalkan akan ditaruh di koridor lantai atas, di pojokan, tidak akan banyak mengganggu.

Saya bilang, saya ingin pindah pada minggu terakhir bulan September. Saya minta siapkan rumahnya lebih bersih dan memperbaiki yang bocor. Dia minta uang down payment, 2 juta, katanya untuk memperbaiki atap yang bocor. Saya setuju.

Kami datang pada hari Minggu terakhir bulan September. Pindahan dari Bandung. Kekagetan pertama saya adalah rumah bisa dikatakan belum siap. Pak Tikno baru selesai mengepel lantai, dan baru memulai membereskan lantai atas. Sampai hampir jam 9 malam, kondisi begitu awkward karena Pak Tikno masih memberesi rumah. Kami sangat lelah, butuh istirahat karena baru dari Bandung dan macet pula. Setelah selesai, untung ada hiburannya, salah satu motornya, yang mati pajak dan tampak tak pernah diurus ditinggal di rumah. Katanya, silakan dipakai saja.

Istri saya yang perfeksionis cemberut malam itu, dan sampai seminggu setelahnya pun. Kondisi rumah sebenarnya sangat sangat butuh dibersihkan ulang. Kelihatan rumah ini sudah lama ditinggal, karena debunya sangat tebal. Bekas-bekas bumbu masak pemilik sebelumnya masih banyak, bekas sabun, sikat gigi dan peralatan mandi juga demikian. Dan ya, bocornya belum diperbaiki. Hujan turun, dan tetesan air terdengar. Kamar atas, naudzubillah, tidak layak ditempati. Saya pikir kemasnya akan rapi, tapi ternyata plastik-plastik hitam bertumpuk begitu saja. Kamar mandi atas kotor banget. Kamar pun, selain bocor, juga berdebu. Bapak saya yang turut datang mencoba tidur di atas, tapi langsung turun karena tidak tahan debu dan gatalnya. Beliau tidur di sofa bawah malam itu.

IMG_20170205_090700

Selama beberapa hari saya diomeli kenapa memilih rumah ini. Saya bilang karena buru-buru dan butuh, toh, sudah ada kasurnya dan ada ac di kamar. Syukuri saja. Tapi, saya yang cuek ini tetap saja diomeli hingga lahirlah pertengkaran-pertengkaran kecil di masa-masa awal kami mengontrak.

Waktu berlalu, rumah pun jadi. Kami sudah menyusun rencana pindah sejak minggu ketiga Desember. Tapi, kami adalah tipe yang ketika sok merencanakan, malah sulit terealisasi. Kami pun mendadak buru-buru pindah pada minggu terakhir Januari, mengangkat yang penting-penting dan yang ternotice butuh dipindahkan segara.

Hal ini terjadi karena dua minggu sebelumnya, ada orang datang ke rumah dan bertanya rumah ini mau dikontrakkan. Saya kaget, karena de jure, saya habis masa kontrak tanggal 25 Maret. Kalau dihitung dari kontak pertama, 23 Maret. Yang bertanya juga heran, karena rumah ini sudah diiklankan oleh yang punya.

Kenapa ini bisa terjadi? Saya menduga karena beberapa hari sebelumnya Ibu Nova, yang punya kontrakan datang ke rumah. Dia beberapa kali datang (dan mau datang) ke rumah. Pertama, mau cari rapor anaknya (bayangkan kamu ngontrak di rumah yang isi lemarinya masih barang dia semua). Kedua, bilang mau ambil motor yang dipinjamkan, tapi saya tunggu sampai malam tak datang juga (dia nggak tahu apa waktu liburku berharga). Ketiga, bilang mau ambil jemuran (bahkan jemuran yang tadinya fasilitas rumah, mau diambil, tapi tidak jadi diambil, cuma dimasukkan ke dalam sebuah wadah dan diletakkan di teras–katanya susah membawanya ke apartemen). Nah, pada inilah istri saya bercerita kalau rumah sudah jadi dan akan mulai pindah akhir Januari atau awal Februari… pindah santai.

Frase “mulai pindah” dan “pindah santai” inilah yang mungkin diartikan sebagai “serah terima kunci”. Ibu Nova mulai sering mengirim WA ke istri saya. Sampai pernah bilang kalau harus segera pindah karena pertengahan Februari habis masa kontraknya. Dia bilang September dihitung satu bulanlah. Setelah ditegaskan kontrak habis minggu ketiga Maret, baru dia bilang lupa, benar kalau Maret habis kontrak. Lagi-lagi secara de jure, masih hak kami untuk pindah pelan-pelan, menyisakan barang, mengangtanya sedikit demi sedikit, plus Firstmedia saya dilanggan masih sampai akhir Februari. Jadi meski sudah tidur di rumah sendiri, saya kerap datang ke kontrakan untuk download drama Korea.

Ketika istri curhat, ia merasa tertekan dengan WA Bu Nova, saya masih mengabaikan dia, dan menganggap itu cuma perasaannya saja. Perempuan memang terkadang lebih sensitif, bukan? Apalagi dia sedang hamil 6 bulan. Saya pikir terlalu awal untuk berpendapat seperti itu. Tapi, ketika dia menunjukkan WA terakhir… yang isinya blablabla mengenai bagaimana jam waker anaknya, alarmnya, kursi pinknya yang berbentuk jari, sofanya, dindingnya, semua barangnya yang ditinggalkan di rumah itu yang sebagian besar bahkan tak pernah kami sentuh, saya jadi paham, istri saya benar. Bu Nova ini cemekekan dan getabasah. Setelah membalas pesan itu, yang isinya mohon jangan menekan saya lagi, saya pinta istri saya untuk memblokir dia.

Kami pun pergi ke ITC Margonda pada Sabtu siang untuk menemani Hanna main di playground. Siang itu, saat lagi makan, giliran WA saya yang dikirimi pesan oleh Bu Nova. Dia bertanya saya di mana. Saya seorang penulis. Saya paham tentang cara kerja manusia yang manipulatif. Dia mengirim WA kepada saya karena merasa tidak puas bercocot ria ke istri saya. Apalagi diblokir. Pasti dia dongkol. Saya tahu dia cuma basa-basi saja. Jadi WA setelah itu tidak saya gubris. Toh, saya orang yang pemalas dalam hal meladeni orang lain.

Saya pulang dan tidur cepat. Pukul dua dini hari saya terbangun dan ada notifikasi WA. Ibu Nova kembali mengirimi saya pesan. Dia bertanya ke mana motornya, kenapa dipakai. Artinya Sabtu itu dia datang ke kontrakan dan melihat motor nggak ada. Saya yang sudah cuek, dan berusaha bersikap tenang pun mengirim pesan ke Bapak Tikno. Dengan bahasa yang amat formal.

Inti pesan saya adalah, perjanjian kontrak terjadi antara saya dengan Bapak Tikno, tidak melibatkan para istri. Termasuk saya jelaskan soal motor yang secara lisan diucapkan Pak Tikno. Dan saya bilang, salah satu kesalahan saya adalah tidak membuat perjanjian ini hitam di atas putih. Karena itu, saya bilang besok malam (Minggu malam) saya akan kembalikan semuanya, termasuk serah terima kunci.

Pagi sekitar jam 7 pesan itu dibalasnya, katanya tinggalkan saja kuncinya di dalam rumah, beserta beberapa hinaan.

Saya tidak tidur lagi sejam jam 2 itu dan memburu istri saya untuk segera bersiap-siap, saya mau beresin rumah kontrakan, mengemas segala yang bisa dikemas. Dia bilang jadwal yoganya jam sembilan, sekalian saja. Akhirnya sekitar jam sembilan saya datang ke kontrakan. Istri saya bilang, kejahatan nggak boleh dibalas dengan kejahatan. Saya harus tetap menelepon dan bicara dengan Pak Tikno, menyerahkan kunci rumah secara langsung ke beliau, karena seperti itulah seharusnya laki-laki. Masalah tidak boleh dihindari, tapi harus diselesaikan.

IMG_20170205_091223

Ketika saya membuka pagar, saya amat terkejut. Di teras rumah ada tumpukan sampah. Di dalamnya ada dasi saya, ikat pinggang, dan bahkan celana dalam saya. Dokumen-dokumen saya pun berserakan. Satu hal, plakat wisuda saya pun ada di sana. Saya begitu emosi. Saya ambil pigura foto dan hampir saya banting, namun nggak jadi. Saya cuma menaruhnya di tumpukan sampah itu.

Saya masuk rumah dan lebih terkejut karena rumah sudah bersih. Ketika saya datang, bahkan rumah tidak sebersih ini. Tidak tersisa apapun. Atau saya tak berminat mencari apa-apa lagi di dalam rumah, cuma kamera xiaoyi saya yang saya ambil. Lalu saya mencari di antara tumpukan sampah, hal-hal yang masih pantas diselamatkan. Beberapa buku memang ditumpuk begitu saja di luar. Namun, ada buku Briliant Yotenaga dengan tanda tangannya, berada dalam tumpukan sampah itu. Dalam keadaan seperti itu, saya beri tahu istri dan bilang, saya tidak akan melakukan nasihatnya. Saya lebih baik tidak berurusan dengan orang-orang ini lagi, daripada saya emosi.

Saya pun meninggalkan kunci seperti yang Bu Nova sarankan.

Saya pikir masalah selesai di situ. Minggu siang, saya menerima pesan kembali. Saya dilecehkan sedemikian rupa. Dia bilang rumahnya saya jadikan tempat sampah lah, saya nggak ada etika lah. Pesan itu kemudian saya balas panjang lebar. Evil saya keluar sedikit. Dengan bercampur bahasa Palembang, saya balas… Ayuk ini didiamke malah melunjak, getabasah kau, Yuk! Terakhir saya doakan dia diberi kelapangan rezeki dan kebahagiaan supaya tidak mendzalimi orang lain lagi. Saya paham orang-orang seperti itu ada karena mereka nggak bahagia dengan hidupnya.

Setelah muncul centang dua biru, saya blokir juga dia dan Pak Tikno.

Saya menulis ini supaya teman-teman lebih berhati-hati. Ada baiknya bila ingin mengontrak, ada perjanjian hitam di atas putihnya. Dan jangan membocorkan informasi pribadi yang bisa jadi dalih dia menyerang kondisi kita.

 

 

Bioskop Velvet dan Pengalaman Nonton Bioskop

Bioskop Velvet

Pertama kali saya menonton bioskop adalah ketika SMP. Saat itu ada film Petualangan Sherina. Saya menonton bersama hampir seluruh keluarga, meski awalnya rencana nonton bareng itu ditentang oleh Bapak. Menurut Bapak, bioskop adalah tempat maksiat. Hal ini tidak terlepas dari zaman sebelum ada revolusi film di Indonesia, yang banyak menampilkan film esek-esek semata. Bukan hanya itu, bioskop yang gelap jadi tempat potensial untuk melakukan hal-hal yang diinginkan.

Waktu berlalu, zaman berubah. Era XXI dimulai. Bakda Petualangan Sherina, saya baru ke bioskop lagi justru ketika kelas 3 SMA, dengan penyertaan yang berbeda. Ya, saya menonton bersama perempuan.

Kala itu, ke bioskop saja rasanya takut-takut. Saya bertanya pada dia, “Apakah nanti akan ada pengecekan KTP?” Sebab isunya adalah, anak berseragam sekolah, dan di bawah 17 tahun dilarang masuk bioskop. Tapi, ternyata kami diperbolehkan masuk. Dan menonton bioskop bersama keluarga dengan menonton bioskop bersama teman perempuan itu berbeda.

Sekitar 6 tahun kemudian, saya juga punya teman dekat perempuan yang berbeda. Teman saya ini punya keistimewaan, yakni mata batinnya terbuka. Salah satu kemampuannya adalah bisa melihat makhluk halus. Dia bilang ke saya, “Tahu nggak, Mas, di mana tempat yang paling banyak hantunya selain kuburan?” Aku menjawab kamar mandi. Dia menggeleng. Dia bilang bioskoplah sarang dari hantu-hantu yang kuat. Ketika kami menonton berdua–aku ingat kami menonton New Moon, dia bercerita tentang adanya genderuwo di dalam bioskop.

Mungkin ini intermezzo yang terlalu banyak untuk sebuah hal yang ramai dibicarakan netizen baru-baru ini. Yakni mengenai keberadaan bioskop velvet di Palembang yang tidak diperbolehkan oleh wakil walikota Palembang. Alasannya berpotensi menjadi tempat mesum. Bioskop velvet sederhananya adalah bioskop dengan fasilitas yang lebih nyaman dari bioskop pada umumnya, kursinya seperti sofa malas yang bisa buat tiduran.

Terlepas dari kesalahan urutan pelarangan, yang seharusnya dilarang sejak perizinan (bioskop velvet belum dibuat), saya setuju dengan argumen pendapat wakil walikota tersebut kalau sebenarnya bioskop berpotensi menjadi tempat mesum.

Sudah rahasia umum, ada ungkapan, ketika ke bioskop, kamu sebenarnya ingin menonton film atau “membuat film”? Ungkapan ini saya dengar ketika kelas 3 SMP. Maklum, saya punya seorang teman yang agak gaul, yang bahkan menceritakan ciuman pertamanya terjadi di bioskop. Jangan tanya, pipi atau bibir, ya?

Ketika kelas 1 SMA, teman saya bahkan bercerita, ia menyaksikan orang bercumbu dengan panasnya di bioskop, sehingga dengan segera ia mengosongkan botol aqua yang dibawanya, lalu ia kencingi botol aqua itu, dan ia lempar ke arah orang bercumbu tadi.

KAN ADA CCTV?

Dalih yang sering digunakan adalah kan di bioskop ada kamera pengawas. Kamera pengawas ini sebenarnya digunakan untuk mendeteksi bila ada yang merekam film yang sedang tayang di bioskop. Saya belum pernah mendengar, ada aksi yang dilakukan pihak bioskop yang menggerebek orang berbuat mesum di bioskop. Tapi, apa berarti tidak ada yang berbuat mesum?

Saya menduga, hal ini terjadi karena ada perbedaan definisi maksiat/mesum. Anggapan masyarakat sekarang, kebanyakan, adalah yang penting tidak ML/bercinta. Selain hal itu, boleh-boleh saja. Pacaran, yang penting jangan ML. Pegangan tangan, pelukan, ciuman, bercumbu, grepe-grepe… boleh-boleh saja dan tidak termasuk dalam kategori mesum.

Tentu, jika ada yang berargumen, tidak percaya banyak orang berciuman di bioskop, saya pikir terlalu… terlalu dungunya.

Saya termasuk orang yang Kepo. Setiap saya nonton, saya paling suka mengamati sekitar. Seorang teman, sebut saja G, pernah heran dengan tingkah saya ketika saya menonton bersamanya (bisa dikonfirmasi). “Kenapa kamu cerudikan sih?” Maksudnya, saya menoleh kemana-mana. Saya pun menunjuk ke beberapa arah, dan saya katakan kepadanya, “Mereka sedang berciuman.” Bahkan, ketika di Bandung, pernah terjadi persis di sebelah saya, saya yakin mereka masih SMA, dan ketika saya menolehkan kepala, si lelaki kepalanya sudah berada di kursi sebelahnya (tafsirkan sendiri).

Sebagian besar lagi dari para pelaku kemesuman di bioskop adalah remaja. Pasalnya, remaja agak susah mau menyewa hotel, belum berani ngajak ke kos, dan rasa penasarannya tinggi. Selain itu juga ada, sebab sensasi yang ditimbulkan dengan bercumbu di tempat umum itu rasanya berbeda.

Saya pernah tanya seorang kenalan yang bekerja di bioskop, yang kerjanya mengawasi CCTV. Dia mengakui percumbuan itu terjadi dan menjadi tontonan gratis saja buat dia. Tidak ada tindakan lebih lanjut.

Bayangkan, itu terjadi dengan bentuk kursi yang ada sekat-sekatnya, dan lebih terasa publiknya. Bagaimana dengan velvet yang bentuk kursinya sangat…ah…didesain untuk berdua-duaan, tinggal pakai selimut, tanggalkan pakaian dalam sebelum masuk bioskop, buka resleting begitu lampu dipadamkan, dan Anda bisa bercinta dengan pura-pura hanya pelukan?

Tentu, tidak semuanya begitu. Bagi pencinta film, yang khusuk menonton film, velvet adalah sebuah kemewahan. Kalau sudah melewati masa-masa penasaran, ke bioskop memang hiburan tersendiri. Apalagi untuk film-film tertentu, kenikmatannya akan lebih wow bila ditonton di bioskop ketimbang mendownload dan menontonnya di laptop.

Lepas dari ocehan netizen, kita jujur-jujuran saja, mana yang lebih baik…mencegah atau mengobati? Saya yang sudah banyak ubannya, dan ingin menjadi manusia yang lebih baik, menganggap mending tidak usah ada velvet, kalau pun ada syarat masuknya diperketat, ndak boleh bila bukan pasangan sah misalnya. Kecuali Anda sudah tidak peduli….

 

 

Ukuran Kebahagiaan

Apakah kebahagiaan itu? Kenapa Tuhan menciptakan kebahagiaan?

Saya kadang tak percaya kalau mengingat masa-masa saya bekerja di Sumbawa. Umur saya 23 tahun saat itu. Saya menikah. Penghasilan saya sekitar 4 juta sebulan, sudah ditambah honor dan uang makan. Dan saya bahagia.

Padahal hidup yang saya jalani amatlah sederhana. Biaya yang kami habiskan berdua tidak sampai 2 juta per bulan. Itu artinya kami bisa menabung lebih dari 50% penghasilan. Bahkan dengan kondisi demikian, kami merasa lebih dari cukup. Bayangkan, saya selalu bisa makan pakai nasi, sambal, sayur, dan ikan. Ikannya juga ikan-ikan yang terkenal enak seperti kakap, kerapu, kuwe. Seminggu sekali kami makan di luar rumah. Kadang-kadang kami juga jajan roti, bakso, dan mi ayam. Bila perlu hiburan, kami cukup ke pantai yang jaraknya tak jauh dari rumah, dan menikmati pemandangan mewah berupa ombak dan matahari terbenam.

Dalam periode itu, kami tak punya banyak keinginan untuk memiliki sesuatu. Hidup kami begitu sederhana. Di situlah, saya memahami arti kebahagiaan sesungguhnya. Kebahagiaan datang bukan dari pemenuhan keinginan. Keinginan justru bisa semakin tak terbatas. Kebahagiaan justru adalah ketika kita tidak punya banyak keinginan, dan merasa cukup atas apa yang kita miliki.